Tampilkan postingan dengan label Duta Muslim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Duta Muslim. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 November 2016

Antara Penemuan Teknologi dan Penemuan Logo Palu Arit di Uang Kertas

KARTANU - Peneliti Indonesia yang berhasil menemukan produk bermanfaat serta pemikiran berdaya guna bagi umat manusia jumlahnya sangat banyak. Namun bangsa kita juga ternyata banyak menemukan kejanggalan-kejanggalan yang hanya bikin gaduh.

Mulyoto Pangestu

Adalah penemu teknik pengeringan sperma yang disebut sebagai evaporative drying. Penemuan Mulyoto sangat berguna bagi para ilmuwan dan dokter di negara sedang berkembang yang kekurangan biaya untuk mengadakan peralatan pendingin.

Prof. Dr. Ir. Sedijatmo

Sedijatmo dikenal karena menemukan “Konstruksi Cakar Ayam” pada tahun 1962. Teknologi ini ditemukan oleh Prof. Dr. Ir. Sedijatmo ketika ia sebagai pejabat PLN diminta mendirikan 7 menara listrik tegangan tinggi di daerah rawa-rawa Ancol, Jakarta. Pondasi yang dibuatnya ternyata mampu mengurangi hingga 75% tekanan pada permukaan tanah di bawahnya dibandingkan dengan pondasi biasa.

Dr. Eng. Khoirul Anwar

Ia dikenal sebagai pemilik paten teknologi 4G berbasis OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing). Ia menemukan teknik transmisi wireless dengan dua buah fast fourirer transform (FFT), yaitu FFT kecil dan FFT besar (dua pada transmitter dan dua pada receiver). Teknik ini mendapatkan penghargaan pada Januari 2006 dari IEEE Radio and Wireless Symposium (RWS) tahun 2006, di California dan menjadi standard international telecommunication union (ITU), ITU-R S.1878, dan ITU-R S.2173.

Prof. Dr. Rahmiana Zein
Ia merupakan penemu teknik kromatografi tercepat di dunia. Kromatografi adalah teknik pemisahan senyawa kimia memanfaatkan interaksi antara pelarut, sampel yang akan dipisahkan, fase diam (stationary phase), dan fase bergerak (mobile phase).

Warsito Taruno

Adalah seorang penemu teknologi Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT). Teknologi temuan Dr. Warsito mengungguli kemampuan CT Scan dan MRI. Teknologi pemindai 4D pertama di dunia itu kemudian dipatenkan

Dr. Joe Hin Tjio

Melalui penelitian di laboratorium Institute of Genetics of Sweden’s University of Lund, ia berhasil mematahkan keyakinan para ahli genetika selama ini bahwa jumlah kromosom adalah 24 buah. Ia menemukan fakta bahwa kromosom manusia sebenarnya berjumlah 23 buah. Dr. Joe berhasil menghitung jumlah kromosom dengan tepat setelah menyempurnakan teknik pemisahan kromosom manusia pada preparat gelas yang dikembangkan Dr. T.C. Hsu di Texas University, AS. 

Antara Penemuan Teknologi dan Penemuan Logo Palu Arit di Uang Kertas - KARTANU
Antara Penemuan Teknologi dan Penemuan Logo Palu Arit di Uang Kertas - KARTANU


Antara Penemuan Teknologi dan Penemuan Logo Palu Arit di Uang Kertas

Sekarang sedang heboh hasil penelitian tentang penemuan lambang palu arit pada lembaran uang keluaran BI, dilanjutkan berkembangnya penelitian fenomena kehidupan bangsa yang selalu kaget dan langsung demo ketika menemukan ada imam besar yang dikriminalisasi.

Sekarang juga marak penemuan-penemuan, ketemu, langsung tuduh kafir, ketemu, langsung tuduh munafiq jika tidak mendukung imam besar. Itulah Indonesia. Mau sampai kapan? Apa Anda mau menghargai ilmuan yang menemukan lambang-lambang tak tentu benar itu? [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/antara-penemuan-teknologi-dan-penemuan-logo-palu-arit-di-uang-kertas.html

Senin, 11 April 2016

Membaca Keprihatinan Gus Mus Tentang Salah Kaprah Kembali ke Al-Quran

KARTANU - Dalam sebuah wawancara khusus oleh Koran Tempo dengan Kiai Mustofa Bisri pada Kamis, 5 Januari 2017, Gus Mus, sebagaimana beliau akrap dipanggil, menuturkan,"Al-Quran itu tidak bisa diterjemahkan, apalagi diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia yang kosa katanya masih miskin."

Beliau menjelaskan bahwa bangunan kata antara Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia tidaklah sama. Al-Qur’an yang diturunkan Alloh SWT di Arab, ungkap Gus Mus, mengandung banyak nuansa sastrawi. Maka, jika Al-Quran diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, nuansa itu akan hilang.

Penuturan di atas perlu dibaca sebagai bentuk keprihatinan Sang Kiai atas fenomena semakin maraknya perselisihan yang berujung pada pertengkaran antara sesama umat Islam sebagai akibat dari perbedaan memaknai dan memahami ayat-ayat Al-Quran, terutama yang terjadi akhir-akhir ini. Sebagaimana kita ketahui, masih ada sebagian orang Islam yang menempatkan produk terjemahan Al-Quran sama persis atau, minimal, sejajar dengan Al-Quran dalam bahasa aslinya, Arab.

Saya percaya bahwa Kiai, dalam hal ini, tidak bermaksud melarang penerjemahan Al-Quran dalam Bahasa Indonesia, karena, bagaimanapun juga, ini adalah salah satu bentuk ikhtiyar untuk menyampaikan pesan-pesan Al-Quran kepada masyarakat Indonesia yang ‘ajam, bukan Arab. Pun, penerjemahan al-Quran di Indonesia telah berlangsung selama berpuluh-puluh tahun yang lalu.

Yang menjadi persoalan adalah ketika seseorang mulai meyakini makna terjemahan sebagai satu-satunya makna yang harus digunakan, dan menutup kemungkinan munculnya makna lain. Ini bukan berarti kita tidak mempercayai kemampuan tim penerjemah, tetapi lebih kepada masalah atau faktor alamiah yang melekat pada bahasa yang berbeda.

Bahasa Arab adalah bahasa yang kaya. Setiap kata dalam Bahasa Arab memiliki banyak nuansa makna. Maka, seringkali satu kata tertentu dalam Bahasa Arab memerlukan penjelasan panjang-lebar dalam bahasa sasaran (target language), Indonesia.

Penjelasan yang bertele-tele ini tentu saja akan mengurangi kesan bahasa Al-Quran yang meski sekilas nampak sederhana, namun sebenarnya sangat mendalam. Apalagi saat kita dihadapkan dengan bahasa-bahasa kiasan, maka situasi ini akan menambah kerumitan dalam memahami kedalaman makna al-Quran.

Al-Quran akan selamanya tertulis dalam Bahasa Arab, sejak awal diwahyukan hingga akhir zaman. Demikian ini adalah jaminan langsung dari Allah SWT. Oleh karena itu, usaha alih-bahasa dari bahasa asal (Arab) ke bahasa apapun tidak akan menjadikan produk alih-bahasa tersebut setara dengan Al-Quran dalam bahasa aslinya.

Alih bahasa tetaplah alih bahasa atau terjemahan, bukan Al-Quran. Dalam hal ini, penerjemahan mesti dipahami sebagai upaya memperkirakan makna yang tepat dari bahasa asal ke dalam bahasa sasaran. Penerjemahan tetaplah sebatas upaya mengira-ngira makna saja. Karena perbedaan bahasa, suatu kata dan gagasan tidak memungkinkan terwakili secara sempurna.

Memahami pesan-pesan Al-Quran melalui terjemahan tidaklah salah, tidak juga dilarang. Hanya saja, pemahaman tersebut tidak boleh diklaim sebagai satu-satunya kebenaran, menutup kebenaran pemahaman versi yang lain. Seseorang mesti tahu diri bahwa ia sebatas membaca bahan terjemahan, bukan al-Quran versi bahasa aslinya yang memiliki kedalaman makna yang tinggi di setiap sudut kata.

Dr. Abdullah Darraz, seorang penggagas tafsir tematik dari Mesir, mengatakan,"Apabila Anda membaca Al-Qur’an, maknanya akan jelas di hadapan Anda. Tetapi, apabila Anda membacanya sekali lagi, Anda akan menemukan pula makna-makna lain yang berbeda dengan makna sebelumnya. Demikian seterusnya, sampai-sampai Anda dapat menemukan kata atau kalimat yang mempunyai arti bermacam-macam, yang semuanya benar atau mungkin benar. Ayat-ayat Al-Quran bagaikan intan: setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dengan apa yang terpancar dari sudut-sudut lainnya. Dan tidak mustahil, jika Anda mempersilakan orang lain memandangnya, ia akan melihat lebih banyak ketimbang yang Anda lihat."

Memahami Al-Quran tidaklah sesederhana membaca terjemahan. Ia memerlukan banyak perangkat ilmu bahasa dan kebersihan hati. Oleh karenanya, Gus Mus juga berpesan, semangat kembali ke Al-Qur’an mestinya dipahami sebagai semangat mendalami pemahaman terhadap Al-Quran, bukan semangat kembali ke Al-Qur’an terjemahan Kementerian Agama semata. Allahu A’lam. [KARTANU]

Muhammad Jauhari Sofi, santri di Pesantren Fathul Huda, Karanggawang

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/membaca-keprihatinan-gus-mus-tentang-salah-kaprah-kembali-ke-alquran.html

Sabtu, 05 Juli 2014

IPNU Prihatin Publik Figur Terjerat Narkoba

Jakarta, KARTANU. Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) prihatin kepada para publik figur yang tidak memberikan teladan kepada masyarakat. Terutama yang terjerat penyalahgunaan Narkoba dan sejenisnya.

Ketua Umum PP IPPNU Khairul Anam HS mengatakan, seharusnya mereka memberikan contoh yang baik kepada masyarakat, apalagi publik figur yang sedang digandrungi anak muda, terutama kalangan pelajar.

IPNU Prihatin Publik Figur Terjerat Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Prihatin Publik Figur Terjerat Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)


IPNU Prihatin Publik Figur Terjerat Narkoba

Khawatirnya, dan itu sangat mungkin, prilaku buruk publik figur ditiru fans-nya, katanya di sekretariat PP IPNU, gedung PBNU, Jakarta, Rabu, (20/2).

Ia juga menyoroti media massa yang memberitakan prilaku buruk publik figur tersebut. Meskipun tugas media massa demikian, tapi jika diberitakan terus-menerus, bisa menjadi hal yang lumrah.

KARTANU

Media seharusnya memberikan pesan moral dengan melakukan kanalisasi berita, supaya jangan tidak mempengaruhi prilaku fans-nya.

Khairul Anam juga menyesalkan publik figur lain yang tidak memberikan contoh yang baik bagi kalangan pelajar seperti politikus, aktivis, agamawan dan lain-lain.

KARTANU

Sebagai sebuah organisasi penyiapan kader penerus bangsa yang memusuhi Narkoba, IPNU membentuk relawan Satria Anti-Narkoba di Gumiarti Camp, Bogor, pada tanggal 20 Mei 2012 lalu. Angkatan pertama berasal dari Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, dan Jawa Tengah.

Untuk memantapkan pemahaman dan seluk-beluk Narkoba, IPNU bekerjasama Badan Narkotika Nasional, mengumpulkan mereka di gedung PBNU, Jakarta, Rabu (20/2) dan Kamis (21/2). Mereka mendapat pengetahuan Sosialisasi pencegahan dan penyalahgunaan Narkoba, dan Peran teman sebaya dalam pencegahan penyalahgunaan Narkoba. Juga pengetahuan tes urine, strategi penyuluhan.

Penulis: Abdullah Alawi

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/42656/ipnu-prihatin-publik-figur-terjerat-narkoba

KARTANU

Rabu, 21 Agustus 2013

Egyptian who carried elderly Haji on back becomes a Twitter

Mina, KARTANU. An Egyptian pilgrim carried an elderly fellow pilgrims on his back in a genuine display of Islamic brotherhood and solidarity during this Haj season.

This is not my father, the pilgrim told photographer Emad Al-Husseini when the latter congratulated him for having gotten an opportunity to serve who he thought was his old man.

Egyptian who carried elderly Haji on back becomes a Twitter (Sumber Gambar : Nu Online)
Egyptian who carried elderly Haji on back becomes a Twitter (Sumber Gambar : Nu Online)


Egyptian who carried elderly Haji on back becomes a Twitter

I wish it was my father, the Egyptian said. His picture, carrying the elderly Haji, was tweeted by Al-Husseini and retweeted at least 10,000 times by people impressed by the mans exemplary act.

KARTANU

The Egyptian who carried that the stranger on his back has become a hero on Twitter and many people around the world have lauded his kindness and prayed for him.

Editing by Sudarto Murtaufiq

Dari (International) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/54975/egyptian-who-carried-elderly-haji-on-back-becomes-a-twitter

KARTANU

KARTANU

Senin, 20 Februari 2012

KH Nur Iskandar Sakit, Sumbu Pendek: Kualat Karena Bela Ahok, Segera Tobat!

Semua yang sakit, dikumpulkan fotonya, lalu disebarkan karena bela Ahok. Ente waras akhi? KARTANU - KH Nur Iskandar, beberapa hari terakhir dikabarkan sakit hingga harus menggunakan alat bantu optimal di RS Siloam, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Setelah Gus Nadirsyah Hosen meminta doa atas kesembuhan kiai di akun twitternya, ternyata hal itu, menurut tim Cyber NU Jatim, membuat para alumni 212 menggunakan kesempatan dalam kesempitan.

Mumpung sakit, ujar salah satu tim Cyber kepada KARTANU, KH Nur Iskandar digunakan sebagai alat untuk kamapanye anti Ahok. Secara beruntun mereka kemudian membuat broadcast yang isinya antara lain: kualat karena dukung Ahok dan segera tobat agar tidak meninggal dunia alam keadaan masih membela Ahok seperti Sarlito Wirawan, yang meninggal 14 November 2016. Ya Allah, separah inikah jenis mulim Indonesia kita saat ini?

KH Nur Iskandar Sakit, Sumbu Pendek: Kualat Karena Bela Ahok, Segera Tobat! - KARTANU
KH Nur Iskandar Sakit, Sumbu Pendek: Kualat Karena Bela Ahok, Segera Tobat! - KARTANU


KH Nur Iskandar Sakit, Sumbu Pendek: Kualat Karena Bela Ahok, Segera Tobat!

Glorifikasi sakit yang dikaitkan dengan laknat tersebut karena Kiai Iskandar dianggap oleh mereka sebagai pendukung demo tandingan anti 212 yang dilaksanakan pada 412. "Ia juga yang membacakan doa untuk Ahok saat mengadakan acara tandingan 412," tulis pemilik akun Facebook Baim Montana, alumnus Universitas Negeri Jakarta. Ini statusnya lengkapnya, dicopy-kan KARTANU.

--------------

KARTANU

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun..

Setelah pembela ahok, dr. Sarlito wirawan meninggal dunia 14 November 2016 lalu, dalam keadaan masih membela ahok..

KARTANU

Kini, KH Nur Muhammad iskandar, SQ, Kyai haji, pemilik pesantren Asshiddiqiyah, Kebon Jeruk, Jakarta, dengan titel Sarjana Quran, yg juga adalah salah seorang pembela AHOK & sangat menjunjung AHOK, suka mengecilkan umat islam sendiri. Dan ia juga yg membacakan doa utk AHOK saat mengadakan acara tandingan 412.

Saat ini dalam keadaan sekarat di RS Siloam, Kebon Jeruk, Jakbar.

Saat ini beliau tidak bisa bergerak. Selang dimana-mana. Kita tidak tahu apakah beliau sdh bertaubat atau belum. Kita doakan saja beliau agar mendapat hidayah & sudah bertaubat, serta mendapatkan nikmat kesembuhan dari Allah Ta'ala, aamiin.

Allah jadikan ini sebagai contoh untuk para ulama kebelinger lainnya. Semoga ulama para pembela ahok cepat bertaubat.

Azab Allah itu pasti

“Wahai Rasulullah, apa yang lebih engkau takutkan atas umatmu daripada Dajjal". Beliau menjawab, “Para pemimpin yang mudhillin (menyesatkan)”.

(HR. Ahmad)

AL-AIMMAH AL-MUDHILLIN (para pemimpin penyesat umat) = termasuk di dalamnya para umara (pemimpin pemerintahan), ulama, dan ahli ibadah. Para umara tersebut adalah mereka yang menerapkan hukum dengan selain hukum Islam, bertindak dzalim, dictator dan kejam, dan tidak menunaikan hak-hak rakyat.

Para ulama yang menjadi pemimpin menyesatkan, karena mereka menyembunyikan ilmu dan merubah-rubahnya. Suka mengakali dalil untuk kepentingan syahwatnya atau kepentingan para pemimpinnya.

----------------

Perang statemen masih berlanjut antar grup. Di salah satu grup pendukung demo anti Ahokk, terdapat broadcast yang tidak jelas ditulis penulisnya. Katanya, KH Nur Iskandar sebetulnya bukan pendukung Ahok. Ia hanya dijebak oleh Djian Farid (PPP) untuk dimanfaatkan agar datang ke demo 412 bersama partai lain.

Selain melakukan klarifikasi, broadcast tersebut juga menggoreng opini menyudutkan Ketum PBNU pula. Padahal, tidak ada hubungannya. Megawati juga disebut-sebut. Hahahaha. Ya Allah Gustiii, separah inikah kebencian kaum muslimin kita? Bacalah BC sumbu pendek yang tersebar, lengkap dengan foto yang disebar juga, di bawah ini.

---------------

selesai sidang hari ini, saya jenguk sekaligus tabayyun kepada KH Noer Iskandar di Rumah Sakit.. dan menurut beliau dan Istrinya.. bahwa ketika datang ke lokasi tandingan beliau dijebak dan manfaatkan oleh djen farid karena memang sdh setahun ini beliau sdh sangat udzur syar'i (maaf.. pikun).. keterbatasan kesehatan itulah yg dimanfaatkan oleh group pendukung penista agama..

dan Beliau dan Istrinya menyatakan sangat mendukung apa yg dilakukan oleh FPI dan Ummat Islam utk memenjarakan sipenista agama. Wallahu A'lam.

Kalau Aqil siraj, saya sdh sangat yakin kalau dia syiah.. karena berita itu sdh saya dapat sekitar 10tahun yll dari langsung org syiah.

Semoga megawati tidak termasuk org Kafir..

Pria ini disebut yang tabayun ngawur di atas --------------

Hanya ada satu cara untuk melakukan klarifikasi. Yakni keluarga. KARTANU sudah melakukan tabayyun langsung ke putra KH Nur Iskandar, Gus Mahrus. Pada Rabu (28/12/2016) pagi, lewat pesan WA yang dikirimkan redaksi, Gus Mahrus mengatakan kalau kondisi abahnya sudah sehat, "Alhamdlh mpun waras sehat," balasnya. Ia juga mengatakan kalau foto yang beredar selama ini adalah foto lama yang disebar pihak-pihak tidak bertanggungjawab.

Menurut keterangan Gus Mahrus, Abah sakit sebenarnya karena telat cuci darah dan capek setelah acara dari Jogja. Soal foto yang beredar, jelas bukan foto terakhir. "Berat Abah naik drastis, bukan malah kurus seperti di photo yang beredar sekarang," terangnya kepada KARTANU.

Hoax komentar sumbu pendek Ngeri melihat komen-komen para sumbu pendek yang banyak diantaranya bergelar sarjana, magister, doktor, juga ustadz. Ada yang kemudian panas adem minta hapus foto Yusuf Mansur jenguk KH Nur Iskandar karena dianggap akan menimbulkan fitnah. Lha wong silaturrahim tanda kasih sayang kok ya tidak boleh, ya ampyun, kalian ini makhluk planet mana sih. Ini fotonya, silakan disimpan.

Foto Ustadz Yusuf Mansur ketika menjenguk KH Nur Iskandar Semoga doa-doa bernada laknat kepada kiai NU tersebut bisa menjadi maghfirah (ampunan) untuk semua dosa-dosa beliau yang selama ini terus mengabdi di bidang pendidikan. Alfatihah. Syafahullah. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/kh-nur-iskandar-sakit-sumbu-pendek-kualat-karena-bela-ahok.html

Rabu, 14 Desember 2011

RMI Jateng Adakan Raker dan Halaqah Pesantren

Semarang, KARTANU. Pengurus Wilayah Rabithah Maahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) Jawa Tengah, Sabtu (18/1), mengadakan acara halaqah dan rapat kerja (raker). Kegiatan yang digelar di Semarang tersebut diikuti oleh pengurus RMI Jateng, baik di tingkat wilayah maupun cabang, serta perwakilan dari sejumlah pesantren dan Kemenag Jateng.

Ketua PW RMI Jateng KH Abdul Ghaffar Rozin, dalam sambutannya menyatakan komitmen RMI untuk ikut membangun dan memajukan pesantren. Seluruh pengurus RMI akan bekerja keras untuk mengangkat harkat martabat pondok pesantren tradisional, tegas putera KH Sahal Mahfudz itu.

RMI Jateng Adakan Raker dan Halaqah Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
RMI Jateng Adakan Raker dan Halaqah Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)


RMI Jateng Adakan Raker dan Halaqah Pesantren

Selain itu, kiai yang acap disapa Gus Rozin tersebut juga meneanan dua hal. Pertama, RMI secara formal independen alias tidak banyak tergantung pihak luar, baik secara finansial dan politik. Kedua, PW RMI Jateng mesti menjunjung tinggi prinsip akuntabilitas, agar mudah dipertanggungjawabkan dan dibaca paling tidak pleh pengurus cabang dan masyarakat tiap tahunnya.

KARTANU

Gus Rozin mengatakan, selain menyepakati susunan program kerja, rakerwil kali ini juga menentukan program prioritas dari keseluruhan rumusan yang ada. Ia juga menekankan tentang perlunya komunikasi lebih intensif kepada beberapa pesantren.

KARTANU

Dalam acara halaqah turut mengisi pengasuh Asrama Perguruan Islam Pondok Pesantren Salafiyah Tegalrejo KH Muh. Yusuf Chudlori. Raker ini menjadi salah satu indikator berjalannya organisasi, katanya. (M Zulfa/Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/49555/rmi-jateng-adakan-raker-dan-halaqah-pesantren

KARTANU

Rabu, 24 Agustus 2011

Miris, 45 Persen Teroris Melakukan Teror Karena Motivasi Jihad

KARTANU - Beberapa hari belakangan, kita dikejutkan oleh pemberitaan media yang memberitakan soal tewasnya salah satu teroris di Poso yang menjadi target penyergapan setelah terjadi kontak senjata dengan pihak kepolisian dan TNI.

Tentu dalam status ini, saya tidak akan panjang lebar berkomentar mengenai bagaimana pihak aparat yang berhasil melumpuhkan kelompok yang dipimpin oleh Santoso tersebut. Namun, dari sisi akademik saya akan berbicara mengenai apa gerangan yang menyebabkan aksi terorisme tersebut marak dan bahkan digandrungi oleh sebagian kecil masyarakat di Indonesia.

Miris, 45 Persen Teroris Melakukan Teror Karena Motivasi Jihad - KARTANU
Miris, 45 Persen Teroris Melakukan Teror Karena Motivasi Jihad - KARTANU


Miris, 45 Persen Teroris Melakukan Teror Karena Motivasi Jihad

Pertanyaan penting yang patut kita garisbawahi terkait aksi terorisme tersebut, apakah berlatar belakang ekonomi, politik, budaya, atau karena faktor pemahaman keagaman? Pertanyaan semacam ini saya kira perlu untuk ditindaklanjuti dengan mengadakan riset lebih mendalam oleh beberapa lembaga riset bekerjasama dengan beberapa universitas dan perguruan tinggi.

Tujuannya adalah untuk menghindari klaim-klaim yang tak mendasar. Karena belakangan ini jamak diberitakan bahwa mereka yang terlibat aksi teror kerap dianggap sebagai mujahid dan syuhada'. Sungguh miris!

KARTANU

Banyaknya aktivitas yang dilakukan oleh aktivis teror, baik yang dilakukan oleh individu, kelompok, atau bahkan organisasi tertentu seakan memperlihatkan bahwa dunia, atau mungkin manusia saat ini sedang mengalami rasa sakit. Dunia seolah-oleh begitu sempit untuk dijadikan sebagai tempat hidup damai dan rukun tanpa adanya aksi teror.

KARTANU

Tak salah jika seorang Mahatma Ghandi menyatakan: "Bumi ini sangat cukup untuk menghidupi penghuninya, tetapi menjadi cukup atau bahkan sempit karena kerakusan oleh segelintir orang".

Buku ini "Profil Keagamaan Terpidana Terorisme di Indonesia" adalah hasil penelitian Tim Peneliti Badan Puslitbang dan Diklat Kementerian Agama RI yang membicarakan sebab dan tujuan dari aksi terorisme di Indonesia.

Secara khusus, fokus kajian dalam buku ini adalah soal pemahaman keliru terhadap ajaran keagamaan tertentu yang mana dalam perjalanannya telah mampu mendorong para aktivis dan calon-calon aktivisnya untuk melakukan teror atas nama agama.

Dari penjelasan di atas setidaknya ada dua poin besar yang melatarbelakangi para teroris tersebut. Pertama, ideologi teror. Menurut para pakar, ideologi teror ini muncul sebagai intermediate cause (penyebab dasar) dari lahirnya embrio terorisme sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap sesuatu yang dialami oleh individu tertentu.

Kedua, motiv teror. Menurut penelitian INSEP (Indonesia Institute for Society Empowerment) tahun 2011-2012 menunjukkan bahwa rata-rata mereka yang tertarik untuk bergabung dengan kelompok teroris adalah para pemuda yang berusia 29 tahun dengan latar belakang pendidikan Sekolah Lanjutan Atas (SLTA), baik dari sekolah negeri atau swasta dengan kecenderungan mayoritas berpendidikan umum. Mereka melakukan aksi teorisme tersebut dengan motivasi ideologi keagamaan (45,5%), solidaritas komunal (20%) dan separatisme (34,5%).

Dari pemaparan di atas, motivasi terbanyak yang melatarbelakangi mereka adalah ideologi keagamaan yang di dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah Jihad. Sangat miris bukan? Ini fakta. Itulah pentingnya kita memahami makna jihad ini secara komprehensif agar tidak salah memahaminya. Ataukah mungkin ke depan kita mempertimbangkan kembali makna jihad dengan konteks kekinian yang lebih humanis? [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/miris-45-persen-teroris-melakukan-teror-karena-motivasi-jihad.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KARTANU sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KARTANU. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KARTANU dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock