Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 April 2017

Perlu Pahami Islam Secara Lentur

Jakarta, KARTANU. Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Saifuddin Amsir mengajarkan kelenturan dalam memahami dan menjalankan ajaran Islam. Kitab fiqih dan tasawuf yang dibacanya di majelis taklim cukup efektif mendidik perbedaan pandangan keagamaan yang ada.

Selain kitab Arrisalah Alqusyairiyah, KH Saifuddin mengajar kitab Rahmatul Ummah Fikhtilafil Aimmah. Kitab itu memaparkan pandangan fiqih dari pandangan empat mazhab.

Perlu Pahami Islam Secara Lentur (Sumber Gambar : Nu Online)
Perlu Pahami Islam Secara Lentur (Sumber Gambar : Nu Online)


Perlu Pahami Islam Secara Lentur

Kitab itu mengajarkan para pelajar agar mereka mengerti bahwa di kalangan ulama terjadi perbedaan pandangan, kata KH Saifuddin di kediamannya di bilangan Cipinang Melayu kecamatan Makassar Jakarta Timur, Selasa, (24/9) malam.

KARTANU

Kitab ini menanamkan kesadaran bahwa pemikiran-pemikiran itu pada dasarnya merupakan rahmat dari Allah. rahmat Allah ini tidak bisa dipungkiri.

Bayangkan saja kalau hanya ada satu pandangan keagamaan tanpa alternatif, bisa celaka kita semua. Kita akan menjadi susah karenanya, tegasnya.

KARTANU

Hadis Rasulullah SAW yang berbunyi Ikhtilafu ummati rahmah perbedaan umatku meruapakan sebuah rahmat, dapat dilihat kebenarannya secara nuraniyah. Bukti-bukti dari kebenarannya sudah jelas.

"Kita tidak bisa memaksakan kebenaran perihal peribatan kita kepada orang lain. Karena, mereka juga mengkuti mazhab yang diakui ulama. Kearifan ulama ini patut menjadi bahan pelajaran bagi umat Islam."

"Saya menyayangkan fenomena umat Islam belakangan ini yang cenderung menjadi kaku dalam beragama. Karenanya, saya anjurkan masyarakat untuk mengkaji lagi sebanyak-banyak kitab kuning. Darinya kita dapat petunjuk-petunjuk keagamaan secara matang," tutup KH Saifuddin. (Alhafiz Kurniawan)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/47259/perlu-pahami-islam-secara-lentur

KARTANU

Kamis, 22 Desember 2016

Imam Condro, Pejuang dari Pekalongan yang Anti Bom Belanda

KARTANU - Di Desa Rowokembu, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan, dulu ada seorang pejuang kemerdekaan sekaligus bernama Imam Condro, komandan brigade Samber Nyawa. Lahir pada tahun 1926 dan wafat pada tahun 1966.

Imam Condro, Pejuang dari Pekalongan yang Anti Bom Belanda - KARTANU
Imam Condro, Pejuang dari Pekalongan yang Anti Bom Belanda - KARTANU


Imam Condro, Pejuang dari Pekalongan yang Anti Bom Belanda

Imam Condro merupakan anak pertama dari 14 bersaudara. Sejak kecil dikenal memiliki kelebihan dibandingkan anak sebayanya. Adiknya, Kolonel Syamsul Hadi mengisahkan, semasa kecilnya, Imam Condro gemar mencari ikan dan ular.

"Suatu saat beliau Imam Condro mencari ular dan digigit, namun gigitan itu tidak membekas di tubuhnya dan justru ular itu dapat dilumpuhkan," ujar Syamsul berkisah kehebatan kakaknya itu.

Pada masa perjuangan, atas perintah Pemerintah Indonesia waktu itu, Imam Condro diangkat menjadi seorang Brigadir dan membentuk pasukan dengan nama Brigade Samber Nyowo, yang berhasil mengusir kolonial Belanda dari wilayahnya.

"Namun setiap Imam Condro berjuang, ayahanda selalu ditangkap dan dimasukan ke penjara Kedungwuni masa itu," ungkap Syamsul Hadi.

“Belanda menangkap dan memenjarakan ayahanda karena ingin agar Imam Condro menyerahkan diri. Namun Imam Condro seperti yang pernah diamanatkan oleh ayahanda, agar tetap berjuang membela tanah air, apapun yang terjadi," kenang Syamsul Hadi dengan meneteskan air mata.

Atas pesan tersebut, Imam Condro tegar tidak mau menyerahkan diri ke penjajah walau apapun yang akan terjadi, termasuk soal keselamatan ayahnya. Justru yang terjadi, kata Syamsul, Imam Condro semakin ganas mengusir penjajah Belanda dari tanah air tercinta.

Suatu ketika Brigade Samber Nyowo dibombardir oleh Belanda. Saat itu anak buahnya kocar-kacir dan lari tunggang langgang. Namun dengan keberanian dan kelebihan yang dimilikinya, Imam Condro justru maju ke arah tentara Belanda yang membombardir dengan mortir, dan Imam Condro memegang mortir itu agar tidak mengenai anak buahnya.

"Dan aneh tapi nyata, mortir itu meledak digenggaman Imam Condro, pakaiannya compang-camping akibat ledakan mortir tersebut, namun badan Imam Condro tidak terluka sedikitpun," tandas Syamsul Hadi. "Sejak kejadian itu Imam Condro ditakuti oleh pasukan Belanda," imbuhnya.

Kolonel Syamsul Hadi juga mengatakan bahwa Imam Condro meninggal dunia pada tahun 1966. Disaksikan oleh seluruh keluarga, Imam Condro menghembuskan nafas terakhir pada saat berzikir setelah selesai sholat.

Imam Condro meninggalnya seperti ayahanda yang juga wafat kala sedang melakukan ibadah sholat. Bedanya, kalau ayahanda saat itu meninggal pada rakaat terakhir pada waktu sholat. [KARTANU]

Source: Kisah di atas disadur KARTANU dari tulisan Ustadz Amin Nur, santri senior PP. Attaufiqy Wonopringgo, Pekalongan, Jateng.

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/imam-condro-pejuang-dari-pekalongan-yang-anti-bom-belanda.html

Jumat, 02 Agustus 2013

Pemuda Islam dan Komitmen Kebangsaan

Oleh: A Muchlishon Rochmat

Tahun 2011, Survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) mengeluarkan data yang cukup mencengangkan. Disebutkan bahwa 25% siswa dan 21% guru menyatakan bahwa Pancasila sudah tidak relevan lagi. Bahkan, 84,8% siswa dan 76,2% guru setuju dan mendukung untuk mendirikan negara yang berdasarkan syariat Islam di Indonesia.

Pemuda Islam dan Komitmen Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemuda Islam dan Komitmen Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)


Pemuda Islam dan Komitmen Kebangsaan

Di tahun yang sama, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) juga merilis sebuah penelitian tentang radikalisme di kampus-kampus besar Indonesia. Di situ disebutkan bahwa ada peningkatan paham radikalisme di universitas-universitas elit Indonesia seperti UGM, UI, IPB, Undip, dan Unair. Tahun 2013, penelitian yang dilakukan oleh Maarif Institute juga menunjukkan bahwa meluasnya paham radikal di kampus berdampak pada meningkatnya gerakan untuk mendirikan negara Islam di Indonesia.

Sementara tahun 2015, Pew Research Center menyebutkan bahwa 4% atau setara dengan 10 juta penduduk Indonesia setuju dan mendukung pandangan dan gerakan yang dilakukan oleh ISIS termasuk diantaranya adalah mendirikan negara khilafah Islam di Indonesia. Ironisnya, mayoritas dari empat persen itu adalah pemuda Islam yang berada dalam usia produktif.

KARTANU

Kalau kita simak pemberitaan yang tersebar di media massa akhir-akhir ini, gerakan-gerakan untuk mendirikan khilafah seperti pawai, seminar, penerbitan buku, menyebarkan propaganda dengan selebaran di masjid-masjid, dan konferensi nasional bahkan internasional- begitu marak dan masif dilaksanakan di berbagai daerah di Indonesia. Lagi-lagi mayoritas pelakunya adalah pemuda dan pemudi Islam.

KARTANU

Meski gerakan-gerakan khilafah tersebut mendapatkan penolakan dan kecaman dari berbagai pihak seperti Banser GP Ansor, kepolisian, pimpinan kampus, pejabat, pimpinan beberapa ormas Islam yang moderat, beberapa pejabat negara, dan masyarakat, namun mereka seolah-olah tidak kapok dan tidak berhenti untuk mendengungkan konsep khilafah sampai apa yang mereka cita-citakan itu terwujud.

Bahkan, mereka menawarkan sistem negara khilafah yang berdasarkan syariat Islam dan menghujat Negara Indonesia yang berlandaskan Pancasila secara terang-terangan (tanpo tedeng aling-aling). Mereka tidak lagi sembunyi-sembunyi dalam berdakwah sebagaimana yang mereka lakukan pada beberapa tahun yang lalu. Menariknya, pemerintah pun menganggap enteng dan terkesan lamban dalam membendung segala macam aktifitas dan kegiatan yang dilakukan oleh gerakan pengusung khilafah itu.

Meneguhkan Komitmen Kebangsaan

Berdasarkan hasil penelitian yang ada, memang masih banyak yang mendukung Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila jika dibandingkan dengan mereka yang mendukung khilafah. Tetapi, hasil survei di atas tidak bisa dianggap enteng. Apalagi yang disasar adalah remaja dan pemuda Islam utamanya yang berada di sekolah dan kampus umum. Saya rasa mereka itu seperti virus. Sekarang kelihatan kecil, tetapi kalau tidak ditangani dengan serius maka mereka akan menyebar dan mempengaruhi organ masyarakat yang lainnya.

Kita tidak bisa terus menerus menunggu datangnya bola, yakni dengan terus melakukan penolakan atas kegiatan yang mereka gelar di berbagai tempat. Saya yakin, mereka akan terus melakukan propaganda-propaganda, baik ke lapisan atas maupun ke masyarakat tingkat bawah (grassroot).

Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk menjaga dan meneguhkan eksistensi Indonesia? Setidaknya ada dua hal yang bisa dilakukan untuk meredam gerakan pengusung khilafah. Pertama, ketegasan pemerintah. Di beberapa Negara Islam seperti Arab Saudi, Tunisia, Turki, Libya, Yordanis, Mesir, Syuriah, Malaysia, dan lainnya melarang gerakan pengusung khilafah. Mereka tidak diizinkan masuk dan beranak-pinak di negara-negara tersebut.

Dalam hal ini, pemerintah Indonesia terlihat tidak memiliki ketegasan dalam melarang gerakan-gerakan khilafah. Mereka seakan-akan dibiarkan tumbuh subur dan menggerogoti pondasi kebangsaan kita.

Kedua, memasifkan gerakan Islam kebangsaan (nasionalisme). Indonesia dibangun dengan semangat kebangsaan dan keberagamaan. Indonesia ada karena adanya perbedaan agama, suku, budaya, dan bahasa. Sedangkan Pancasila adalah pemersatunya (kalimatun sawa). Sedangkan Islam -sebagai agama mayoritas- menjadi ruh dan semangat dalam menjalankan pemerintahan, bukan menggantikan Pancasila sebagai konsesi bersama. Kalau seandainya Dasar Negara Indonesia berdasarkan golongan tertentu, maka tentu golongan yang lain tidak akan mau menerimanya.

Harus kita akui, Islam yang berkembang di sebagian sekolah-sekolah dan kampus-kampus kita itu adalah Islam yang normatif dan tidak memiliki dimensi komitmen kebangsaan. Komitmen untuk menjaga keutuhan dan persatuan NKRI. Maka tidak mengherankan jika gerakan-gerakan pengusung khilafah itu tumbuh subur di lorong-lorong kampus sebagaimana yang disebutkan oleh LIPI di atas. Lagi-lagi, sasarannya adalah pemuda-pemudi Islam yang sedang studi di kampus-kampus besar itu.

Saya rasa mereka nihil akan Islam kebangsaan karena mereka tidak memahami secara holistik sejarah perkembangan umat Islam di Nusantara ini. Maka dari itu, menjadi tugas kita semua untuk memasifkan gerakan Islam kebangsaan. Yaitu dengan memberikan pemahaman secara intensif kepada mereka tentang wawasan Islam kebangsaan. Islam yang mengedepankan keutuhan dan persatuan bangsa Indonesia. Bukan malah mencerai-beraikan dan memonopoli bangsa ini.

Walhasil, sembari mendorong pemerintah untuk berlaku tegas kepada kelompok-kelompok pengusung khilafah, kita masifkan dan teguhkan komitmen kebangsaan pemuda-pemudi Islam kita agar mereka tidak tergiur dengan dagangan khilafah.

Penulis adalah Wasekjen Majelis Pemuda Islam Indonesia (MPII) Pusat

Dari (Opini) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/77770/pemuda-islam-dan-komitmen-kebangsaan

KARTANU

Jumat, 09 November 2012

Menyerang Tokoh Moderat Adalah Ciri Ashabul Fitnah [Seperti di Suriah]

KARTANU - Ketika baru-baru ini seorang ‘ustadz’ di laman facebooknya memosting gambar Imam Besar Universitas Al-Azhar sedang berciuman dengan Paus Fransiskus, banyak orang langsung menuduh bahwa sang ustadz sedang menyebar fitnah. Baca beritanya: Abu Aqila, Pemfitnah Grand Syeikh Al-Azhar Mesir.

Setelah dilaporkan ke polisi atas tuduhan mencemarkan nama baik, sang ustadz tidak bisa mengelak; seakan mengakui telah menyebar foto palsu ia segera menghapus alat fitnah tersebut dari laman facebooknya. Baca berita KARTANU: Alumni Al-Azhar Laporkan Abu Aqila ke Polisi

Menyerang Tokoh Moderat Adalah Ciri Ashabul Fitnah [Seperti di Suriah] - KARTANU
Menyerang Tokoh Moderat Adalah Ciri Ashabul Fitnah [Seperti di Suriah] - KARTANU


Menyerang Tokoh Moderat Adalah Ciri Ashabul Fitnah [Seperti di Suriah]

Tapi ironisnya, ia tidak mengakui kesalahannya, tetapi justru menyampaikan bahwa ia memosting foto tersebut dengan ‘niat baik’ mengingatkan umat Islam agar menolak upaya berdamai dengan penganut Syiah sebagaimana pesan Sang Imam.

Apa yang dilakukan sang ustadz bukanlah kejadian yang baru dan jarang terjadi. Belakangan media sosial seakan penuh sesak dengan berita dan tulisan-tulisan yang didasarkan pada fakta palsu dan disinformasi. Apa yang sedang terjadi? Apakah penyebaran fitnah hanyalah ekspresi kebencian dan kemarahan yang tidak terkendali dari orang-orang yang merasa keyakinanya terganggu?

KARTANU

Seorang ulama yang juga Professor di Universitas Damaskus Suriah, baru-baru ini berkeliling memberi ceramah di sejumlah universitas di Indonesia. Di Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Taufiq Al-Buthi yang merupakan putra dari almarhum Syaikh Ramadhan Al-Buthi, ulama Suriah yang meninggal karena dibunuh pada Malam Jum’at (21/3/2013) saat sedang mengajar/ceramah di masjid Al-Iman Damaskus, memberi pesan berharga bagi Indonesia.

Mengacu pada pengalaman Suriah, negara yang kini hancur oleh perang, Al-Buthi menekankan pentingnya mewaspadai bahaya fitnah bagi keberlangsungan sebuah bangsa. Kelompok ekstrim, menurut Al-Buthi menggunakan fitnah sebagai senjata utama untuk merongrong fondasi sebuah bangsa.

KARTANU

Fitnah dianggap mempunyai kekuatan untuk menciptakan jurang yang membelah kekuatan-kekuatan sosial-politik penopang keutuhan bangsa. Ia mendorong posisi ekstrim dan pada akhirnya menggoyah pondasi bangsa. Dalam situasi ini, kelompok ekstrim yang pada umumnya adalah kelompok kecil akan memetik keuntungan karena bisa memainkan peran kunci. Keberadaannya dianggap penting oleh masyarakat luar sebagai alat koreksi.

Jadi, fitnah bukanlah sekedar ekspresi kemarahan dan kebencian buta, tetapi lebih dari itu, ia adalah sebuah strategi yang didasarkan pada kesadaran taktis.

Karakteristik Ashabul Fitnah Dalam Bahasa Arab, Al-Buthi menyebut kelompok ekstrim yang menggunakan strategi fitnah sebagai Ashabul Fitnah. Ada tiga karakter yang menandai kelompok ini.

Pertama, mudah mengafirkan kelompok yang berseberangan baik secara agama dan politik. Dalam Islam, tindakan mengafirkan muslim lain sangat dilarang; bahkan secara keras Nabi Muhammad pernah mengingatkan bahwa barang siapa mengafirkan muslim lain, maka tuduhan itu bisa berbalik pada dirinya sendiri. Mereka yang suka mengafirkan bisa jadi dia sendirilah yang kafir.

Kedua, sifat takfiri ini berkaitan dengan dengan karakter kedua yakni kecenderungan untuk menciptakan polarisasi berdasarkan aliran (mazhab) dan identitas keagamaan. Polarisasi ini dianggap penting karena pada umumnya tidak ada bangsa yang sepenuhnya homogen.

Sejarah sebuah bangsa biasanya dibentuk oleh proses negosiasi dan kompromi di antara kekuatan-kekuatan sosial politik yang berbeda. Dengan demikian dimungkinkan terjadinya koeksistensi damai antar masyarakat yang berbeda identitas dan keyakinan. Di Suriah, menurut Al-Buthi, relasi antar warga tidak dipengaruhi oleh perbedaan agama dan aliran. Adalah hal yang biasa bahwa satu apartemen menjadi tempat tinggal bersama warga yang berbeda keyakinan.

Ashabul Fitnah menyadari pentingnya legasi koeksistensi ini bagi keberlangsungan sebuah bangsa. Karena itu, mereka menyasar pondasi ini dengan menyebarkan rumor dan cara pandang sempit untuk membangun tembok yang membelah masyarakat berdasarkan perbedaan agama dan aliran.

Ketiga, tantangan utama kelompok ekstrim dalam menciptakan polarisasi adalah tokoh atau ulama moderat. Ulama moderat menjadi kekuatan penting karena merekalah yang memberikan basis legitimasi bagi koeksistensi damai. Dalam teori perdamaian, tokoh moderat mewakili salah satu prasyarat koeksistensi damai yang disebut“critical mass of peace enhancing leaders.”

Dalam sebuah masyarakat multikultur, selalu ada kekuatan yang kritis dan ekstrim. Tokoh pembawa damai dalam jumlah yang cukup kuat (critical mass) menjadi kunci keberlangsungan pluralitas dalam masyarakat tersebut karena merekalah yang bisa membendung rumor dan agitasi yang mengancam kemapanan basis koesistensi.

Karena itu, ashabul fitnah menjadikan tokoh moderat sebagai sasaran. Dalam situasi ekstrim seperti Suriah upaya ini bisa dilakukan dengan membunuh ulama-ulama moderat; tetapi di negara di mana kekerasan fisik beresiko secara hukum, upaya menyerang tokoh moderat bisa dilakukan dengan membunuh karakter mereka misalnya dengan memberikan label-label antagonis seperti liberal, syiah, dan sekuler.

Anti-Virus Fitnah Fitnah layaknya sebuah virus yang menyerang sendi-sendi utama yang menopang sebuah tubuh. Virus tidak berbentuk luka pada bagian luar tubuh yang nampak secara nyata dan karena itu memicu reaksi cepat. Karena tidak nampak virus seringkali diremehkan, sebelum ia tumbuh berkembang dan menciptakan rasa sakit yang mengganggu gerak tubuh.

Kesadaran tentang ancaman fitnah sudah mulai menguat belakangan; bisa jadi karena ibarat virus fitnah sudah tumbuh berkembang dan mulai mengganggu gerak maju bangsa. Contoh paling nyata adalah Surat Edaran yang dikeluarkan Kapolri pada tahun 2015 yang menginstruksikan aparat kepolisian untuk mengambil tindakan terhadap apa yang disebut dengan istilah ujaran kebencian (hate speech).

Surat Edaran ini tidak serta-merta membuat polisi menangkap para pengujar kebencian yang memang tidak mudah dihentikan. Tetapi paling tidak kita melihat langkah maju untuk menghambat persebaran virus fitnah. Situs-situs dan media sosial yang menjadi arena pertempuran ashabul fitnah sedikit-demi sedikit mulai dibatasi.

Kementerian Komunikasi dan Informasi mulai bertindak menutup situs-situs ekstrim. Selain itu, kesadaran publik terhadap ancaman fitnah juga mulai muncul. Inisiatif untuk melaporkan fitnah berupa gambar Imam Al-Azhar berciuman dengan Paus adalah contoh nyata yang patut diikuti.

Langkah-langkah seperti di atas adalah anti-virus fitnah yang perlu diperkuat. Kini banyak orang baik bahkan tokoh moderat yang ikut larut dalam arus taktik ashabul fitnah. Hal ini bisa dilihat dari masuknya tema-tema sektarian di kalangan masyarakat yang pada dasarnya moderat.

Kekhawatiran dan ketakutan yang terbangun terhadap isu-isu keagamaan seperti ‘bahaya’ Syi’ah, aliran sesat Kristenisasi dan Islamisasi tidak bisa dipungkiri sangat menguntungkan agenda ashabul fitnah untuk menciptakan polarasi sektarian di negeri ini.

Anti-virus fitnah lain yang ditegaskan oleh Al-Buthi adalah tashih berita atau kesadaran tentang pentingnya menerima berita secara kritis. Dalam ilmu studi perdamaian, anti-virus ini disebut “membunuh rumor.” Istilah membunuh mungkin terasa keras tetapi ini merefleksikan pentingnya merespon dengan tegas persebaran fitnah dan berita palsu yang bertujuan untuk menciptakan kebencian dan polarisasi komunal.

Langkah “membunuh rumor” tidak harus dilakukan dengan melarang aktivitas penyebar rumor, tetapi dengan menyediakan alternatif informasi yang bisa menguji keabsahan rumor. Di sejumlah negara, langkah ini diwakili misalnya oleh keberadaan sejumlah lembaga ‘Fact Check” yang bisa menangkal disinformasi.

Pesan penting yang disampaikan Taufiq Al-Buthi di atas seperti menohok jantung sumber ancaman terhadap keutuhan Indonesia sebagai negara kesatuan yang sejak berdiri begitu bangga dengan identitas Bhineka Tunggal Ika.

Tentu ada yang patut menjadi catatan kritis dari ceramah Al-Buthi yang menjadi inspirasi tulisan ini. Catatan khususnya terkait dengan posisi politik Al-Bouthi yang tampak mengesampingkan pelanggaran HAM pemerintahan Bashar Al-Asad.

Al-Bouthi kerap memberikan argumen yang sepenuhnya negatif terhadap negara-negara Barat, seakan fitnah dan kehancuran yang terjadi di Suriah adalah sepenuhnya ulah “konspirasi Barat.” Cara pandang esensialis demikian mengesampingkan keragaman dari apa yang secara sederhana disebut “Barat” dan “Islam”.

Terlepas dari itu, pengalaman Suriah sebagai sebuah bangsa yang hancur karena polarisasi sektarian patut menjadi pelajaran berharga agar Indonesia tetap utuh.” [KARTANU]

M. Iqbal Ahnaf, pengajar di Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), UGM.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/menyerang-tokoh-moderat-adalah-ciri-ashabul-fitnah.html

Senin, 07 Mei 2012

Jasa Shooting dan Live Streaming Pengajian Paling Murah

KARTANU - Zaman modern saat ini semua pondok pesantren sedang gencar-gencarnya menyebarkan syiar islam ke dunia maya, pasti dibutuhkan Jasa Shooting dan Live Streaming Pengajian Paling Murah di daerah anda. Untuk itu silahkan simak video shooting yang memberikan pelayanan paling bagus.

Mungkin anda sering menyaksikan acara bersholawat bersama habib syech, atau sholawat bersama gus ali gondrong mafiasholawat, atau ulama besar lainnya di internet atau langsung hadir di tempat. Pasti di acara tersebut ada layar besar yang menayangkan VT atau siaran langsung di acara pengajian bersholawat tersebut. Berapa biaya untuk sewa video shooting?

Pertanyaan umum yang ditanyakan setiap orang yang akan mengadakan sebuah acara (pengajian akbar, khaul, promosi, ziareah, dll) yaitu berapa biaya untuk sewa video shooting? Sebelum kita masuk membahas harga, perlu anda ketahui bahwa Pasti.In Video Shooting memberikan Jasa Fotografi dan Video Shooting Tegal Semua Moment dengan harga paling murah se Tegal.

Jasa Shooting dan Live Streaming Pengajian Paling Murah - KARTANU
Jasa Shooting dan Live Streaming Pengajian Paling Murah - KARTANU


Jasa Shooting dan Live Streaming Pengajian Paling Murah

Jangan langsung berfikiran bahwa murah tapi tidak berkualitas, karena itu salah besar.

Dalam kenyataannya, Video Shooting Tegal ini mampu bersaing dengan shootingan yang ada di semarang atau jakarta. Karena tim dari Pasti.In sudah berpengalaman dalam mengelola acara dan sangat baik dalam Teknik dan Peralatan Studio Shooting. Jadi [Namamedia] bisa pastikan bahwa Pasti.In Video Shooting itu Murah Berkualitas.

Arif Lukman Hakim Pasti.In Video Shooting

Arif Lukman Hakim Pasti.In Video Shooting


KARTANU

Cakupan wilayah Pastiin Shooting tidak hanya di dalam kota Tegal, tapi juga ke berbagai kota, diantaranya Brebes, Pemalang, Pekalongan dan sekitarnya. Dan produk hasil dari shootingan tegal ini juga tidak sedikit, sudah banyak yang menggunakan jasa video shooting slawi ini, tinggal anda yang belum menggunakan pelayanan jasa rekam acara ini.

Video Shooting Tegal

Seputar info tegal mengenai jasa video dan fotografi tegal murah sudah bukan rahasia lagi, karena peralatan editing video dan live streaming lengkap harga murah cuma pastiin saja. Komputer video live streaming atau siaran langsung menggunakan V-mix seri terbaru dengan lisensi legal alias bukan bajakan, dan juga anda dapat mengadakan siaran langsung live melalui internet dan bisa tayang di Youtube, Facebook, dll.

Anda dapat mengunjungi website resmi Pasti.in di www.pasti.in

Memang sangat aneh dan sangat tidak familiar sekali nama website dengan akhiran .in karena domain tersebut berasal dari india. Namun menurut Arif, itu sengaja untuk memudahkan dan sebagai brand Pasti.In itu sendiri.

Studio Pasti.In Video Shooting

KARTANU

Studio Pasti.In Video Shooting


Pastiin video shooting sangat dipercaya untuk handle acara seperti pengajian pondok pesantren, acara ngaji rutin, pertemuan di gedung, birthday party, wedding / pernikahan, sholawat dan masih banyak lagi.

Tunggu apa lagi, cari :

Video Shooting Tegal Murah Berkualitas? Pasti.In Dulu

Jasa Fotografi Tegal Murah Professional? Pasti.In Dulu

Informasi lebih lanjut, kunjungi website WWW.PASTI.IN

Facebook : https://www.facebook.com/ariepsetoe

No HP : 0878-3000-1575

Arif Lukman Hakim

Dari : http://bangroyhan.pasti.in

Rabu, 24 Agustus 2011

Miris, 45 Persen Teroris Melakukan Teror Karena Motivasi Jihad

KARTANU - Beberapa hari belakangan, kita dikejutkan oleh pemberitaan media yang memberitakan soal tewasnya salah satu teroris di Poso yang menjadi target penyergapan setelah terjadi kontak senjata dengan pihak kepolisian dan TNI.

Tentu dalam status ini, saya tidak akan panjang lebar berkomentar mengenai bagaimana pihak aparat yang berhasil melumpuhkan kelompok yang dipimpin oleh Santoso tersebut. Namun, dari sisi akademik saya akan berbicara mengenai apa gerangan yang menyebabkan aksi terorisme tersebut marak dan bahkan digandrungi oleh sebagian kecil masyarakat di Indonesia.

Miris, 45 Persen Teroris Melakukan Teror Karena Motivasi Jihad - KARTANU
Miris, 45 Persen Teroris Melakukan Teror Karena Motivasi Jihad - KARTANU


Miris, 45 Persen Teroris Melakukan Teror Karena Motivasi Jihad

Pertanyaan penting yang patut kita garisbawahi terkait aksi terorisme tersebut, apakah berlatar belakang ekonomi, politik, budaya, atau karena faktor pemahaman keagaman? Pertanyaan semacam ini saya kira perlu untuk ditindaklanjuti dengan mengadakan riset lebih mendalam oleh beberapa lembaga riset bekerjasama dengan beberapa universitas dan perguruan tinggi.

Tujuannya adalah untuk menghindari klaim-klaim yang tak mendasar. Karena belakangan ini jamak diberitakan bahwa mereka yang terlibat aksi teror kerap dianggap sebagai mujahid dan syuhada'. Sungguh miris!

KARTANU

Banyaknya aktivitas yang dilakukan oleh aktivis teror, baik yang dilakukan oleh individu, kelompok, atau bahkan organisasi tertentu seakan memperlihatkan bahwa dunia, atau mungkin manusia saat ini sedang mengalami rasa sakit. Dunia seolah-oleh begitu sempit untuk dijadikan sebagai tempat hidup damai dan rukun tanpa adanya aksi teror.

KARTANU

Tak salah jika seorang Mahatma Ghandi menyatakan: "Bumi ini sangat cukup untuk menghidupi penghuninya, tetapi menjadi cukup atau bahkan sempit karena kerakusan oleh segelintir orang".

Buku ini "Profil Keagamaan Terpidana Terorisme di Indonesia" adalah hasil penelitian Tim Peneliti Badan Puslitbang dan Diklat Kementerian Agama RI yang membicarakan sebab dan tujuan dari aksi terorisme di Indonesia.

Secara khusus, fokus kajian dalam buku ini adalah soal pemahaman keliru terhadap ajaran keagamaan tertentu yang mana dalam perjalanannya telah mampu mendorong para aktivis dan calon-calon aktivisnya untuk melakukan teror atas nama agama.

Dari penjelasan di atas setidaknya ada dua poin besar yang melatarbelakangi para teroris tersebut. Pertama, ideologi teror. Menurut para pakar, ideologi teror ini muncul sebagai intermediate cause (penyebab dasar) dari lahirnya embrio terorisme sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap sesuatu yang dialami oleh individu tertentu.

Kedua, motiv teror. Menurut penelitian INSEP (Indonesia Institute for Society Empowerment) tahun 2011-2012 menunjukkan bahwa rata-rata mereka yang tertarik untuk bergabung dengan kelompok teroris adalah para pemuda yang berusia 29 tahun dengan latar belakang pendidikan Sekolah Lanjutan Atas (SLTA), baik dari sekolah negeri atau swasta dengan kecenderungan mayoritas berpendidikan umum. Mereka melakukan aksi teorisme tersebut dengan motivasi ideologi keagamaan (45,5%), solidaritas komunal (20%) dan separatisme (34,5%).

Dari pemaparan di atas, motivasi terbanyak yang melatarbelakangi mereka adalah ideologi keagamaan yang di dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah Jihad. Sangat miris bukan? Ini fakta. Itulah pentingnya kita memahami makna jihad ini secara komprehensif agar tidak salah memahaminya. Ataukah mungkin ke depan kita mempertimbangkan kembali makna jihad dengan konteks kekinian yang lebih humanis? [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/miris-45-persen-teroris-melakukan-teror-karena-motivasi-jihad.html

Rabu, 03 Agustus 2011

Idul Adha Berdarah di Istana Negara 1962

KARTANU - KH Zainul Arifin waktu itu belum genap dua tahun menjabat Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong yang dibentuk Presiden Soekarno. KH Idham Chalid sudah 5 tahun memimpin Nahdlatul Ulama. Sementara KH Saifuddin Zuhri baru 12 hari dilantik menjadi Menteri Agama RI.

Pada tahun 1962, tepatnya hari Rabu 14 Mei pagi, Kiai Zainul Arifin yang juga Panglima Hizbullah pada masa Revolusi Fisik itu pergi ke masjid Baiturrahim di Istana Negara, Jakarta, untuk mendirikan Shalat Idul Adha bersama Presiden Soekarno.

Pada Shalat Idul Adha waktu itu, Ketua PBNU KH Idham Chalid bertindak sebagai imam, sementara khotibnya Wakil Menteri Pertama Bidang Pertahanan dan Keamanan/KSAD Abdul Harris Nasution.

Idul Adha Berdarah di Istana Negara 1962 - KARTANU
Idul Adha Berdarah di Istana Negara 1962 - KARTANU


Idul Adha Berdarah di Istana Negara 1962

Ketika mendirikan Shalat Id yang dimulai sekitar pukul 7.50 WIB tersebut, Soekarno berada di barisan terdepan jamaah. Di sebelah kirinya ada Abdul Harris Nasution. Di Samping Nasution ada KH Zainul Arifin. Di Samping Kiai Zainul ada KH Saifuddin Zuhri. Shalat Id berlangsung aman hingga memasuki rakaat kedua.

KARTANU

Cucu KH Zainul Arifin, Ario Helmy, dalam catatannya menggambarkan seperti berikut: Keheningan khusuk berlangsung khidmat melingkupi umat memuji Sang Maha Agung dalam ruku’ mereka pada rakaat kedua Idul Adha tersebut.

KARTANU

"Sami'allahu liman hamidah," ucap imam KH Idham Chalid. Belum sempat jamaah menyahuti seruan imam dengan "rabbana wa lakal hamdu," dari barisan ketiga jamaah bagian kiri, tiba-tiba pecah teriakan lantang seorang jamaah, "Allahu Akbar...!", seraya tangannya mengacungkan pistol yang diambil dari betis kanannya.

Ia adalah seorang penembak tepat, mestinya sasaran tembaknya tidak bakal luput dari muntahan pelurunya, namun anggota pengawal presiden berhasil menepiskan tangan pembokong itu dengan sigap hingga senjata api sang penembak gelap melenceng ke sisi kiri target yang ditujunya, Soekarno! "Dor...!" peluru menyalak nyaring.

Orang-orang, termasuk imam bertiarap. Lalu suasana berubah kacau balau.

KH Zainul Arifin dalam upayanya merebahkan diri di atas sajadah, malah jatuh tersungkur. Bahu kirinya terasa basah. Ketika dia mencoba meraba bagian tubuhnya yang terasa hangat, didapatinya buhul dasinya sampai terputus. Darah segar merembesi kemeja putih hingga ke jas luarnya. Sedikit lagi peluru bisa mengenai jantungnya.

"Saya kena...," desah tokoh NU tersebut pasrah, di antara kekacauan di sekelilingnya.

"La haula wa la quwwata illa billahil aliyyil adzim," begitu ucap kiai bermarga Pohan asal Barus tersebut. Matanya mulai berkunang-kunang. Ia terus berdzikir, bertasbih. Menyeru-nyeru tuhannya Yang Maha Kuat...

Empat jamaah lainnya juga turut terluka, KH Idham Chalid, Pengawal Presiden Ipda Darjat, Pengawal Presiden Brigadir Susilo dan pegawai istana Momahad Noer.

Belakangan, diketahui pelakunya adalah orang yang berafiliasi dengan kelompok DI/TII. Target utamanya adalah Soekarno.

Sejak itu, KH Zainul Arifin, berkali-kali keluar masuk rumah sakit. Sepuluh bulan kemudian, tepatnya 2 Maret 1963, akhirnya meninggal dunia setelah mengalami koma selama beberapa hari sebelumnya karena berbagai komplikasi. Keesokan harinya ia dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata di Jakarta. [dutaislam/abdullah alawi/ab]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/idul-adha-berdarah-di-istana-negara-1962.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KARTANU sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KARTANU. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KARTANU dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock