Tampilkan postingan dengan label Nu Online. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nu Online. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Juni 2017

SMA NU Gratiskan SPP untuk Hafizh-hafizhoh

Malang, KARTANU. Para pelajar SMA yang hafal Al-Quran mendapat perhatian khusus di SMA NU, Pakis, Malang. siswa-siswi yang berprestasi akan mendapatkan keringanan membayar Sumbangan Penyelenggaraan Pendidikan (SPP), khusus siswa/i yang hafal al-Quran, mendapatkan beasiswa penuh, tanpa membayar SPP.

Diantara siswa-siswi yang berprestasi, selain pelajar yang hapal Al-Quran adalah pelajar yang mendapatkan peringkat satu, dua hingga tiga.

SMA NU Gratiskan SPP untuk Hafizh-hafizhoh (Sumber Gambar : Nu Online)
SMA NU Gratiskan SPP untuk Hafizh-hafizhoh (Sumber Gambar : Nu Online)


SMA NU Gratiskan SPP untuk Hafizh-hafizhoh

Selain untuk memprosikan Sekolah SMA NU, saya pikir sangat penting untuk memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya untuk para hafizh-hafizhoh, kita tidak dapat mepungkiri jika semua ilmu datangnya dari Al-Quran, ungkap Nanik Nurhayati, kepala SMA NU pada KARTANU, Senin (29/04).

Pengratisan SPP akan berlaku selama siswa masuk tahun ajaran pertama hingga lulus. Selain itu, Sekolah yang bertempat di Jalan Haji Mustofa 108, Malang ini memiliki 80 gedung dan Laboratorium IPA. Letaknya yang strategis dari pondok sekitarnya memudahkan para santri di pondok tersebut untuk sekolah di SMA NU.

KARTANU

Selain mencerdaskan dengan ilmu-ilmu pengetahuan yang kami bidik secara serius, kami juga ingin menanamkan aswaja pada generasi bangsa yang sangat perlu untuk kehidupan mereka kelak paparnya.

Tidak hanya proses belajar mengajar, beberapa ekskul (kkstrakurikuler) seperti Mading, al-Banjari, Thetre, Pencak silat juga digalakkan, Kami ingin mencetak Islam yang kompetitif, beraliran ahlussunnah, unggul dan profesional, imbuhnya lagi.

KARTANU

Redaktur : A. Khoirul Anam

Kontributor: Diana Manzila

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/44119/sma-nu-gratiskan-spp-untuk-hafizh-hafizhoh

KARTANU

Senin, 10 April 2017

Perlu Pahami Islam Secara Lentur

Jakarta, KARTANU. Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Saifuddin Amsir mengajarkan kelenturan dalam memahami dan menjalankan ajaran Islam. Kitab fiqih dan tasawuf yang dibacanya di majelis taklim cukup efektif mendidik perbedaan pandangan keagamaan yang ada.

Selain kitab Arrisalah Alqusyairiyah, KH Saifuddin mengajar kitab Rahmatul Ummah Fikhtilafil Aimmah. Kitab itu memaparkan pandangan fiqih dari pandangan empat mazhab.

Perlu Pahami Islam Secara Lentur (Sumber Gambar : Nu Online)
Perlu Pahami Islam Secara Lentur (Sumber Gambar : Nu Online)


Perlu Pahami Islam Secara Lentur

Kitab itu mengajarkan para pelajar agar mereka mengerti bahwa di kalangan ulama terjadi perbedaan pandangan, kata KH Saifuddin di kediamannya di bilangan Cipinang Melayu kecamatan Makassar Jakarta Timur, Selasa, (24/9) malam.

KARTANU

Kitab ini menanamkan kesadaran bahwa pemikiran-pemikiran itu pada dasarnya merupakan rahmat dari Allah. rahmat Allah ini tidak bisa dipungkiri.

Bayangkan saja kalau hanya ada satu pandangan keagamaan tanpa alternatif, bisa celaka kita semua. Kita akan menjadi susah karenanya, tegasnya.

KARTANU

Hadis Rasulullah SAW yang berbunyi Ikhtilafu ummati rahmah perbedaan umatku meruapakan sebuah rahmat, dapat dilihat kebenarannya secara nuraniyah. Bukti-bukti dari kebenarannya sudah jelas.

"Kita tidak bisa memaksakan kebenaran perihal peribatan kita kepada orang lain. Karena, mereka juga mengkuti mazhab yang diakui ulama. Kearifan ulama ini patut menjadi bahan pelajaran bagi umat Islam."

"Saya menyayangkan fenomena umat Islam belakangan ini yang cenderung menjadi kaku dalam beragama. Karenanya, saya anjurkan masyarakat untuk mengkaji lagi sebanyak-banyak kitab kuning. Darinya kita dapat petunjuk-petunjuk keagamaan secara matang," tutup KH Saifuddin. (Alhafiz Kurniawan)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/47259/perlu-pahami-islam-secara-lentur

KARTANU

Rabu, 22 Maret 2017

Banser Sawangan Jingkang Bantu Korban Rumah Roboh

Banyumas, KARTANU. Sainah (54) janda 3 anak itu hanya bisa pasrah, melihat rumahnya di RT 01/5 Desa Jingkang Kecamatan Ajibarang porak-poranda diterpa angin kencang yang menerpa desa Jingkang Senin (21/3). Seketika itu juga, puluhan anggota banser dari ranting Sawangan dan Jingkang langsung terjun kelokasi kejadian.

Banser dibantu warga bahu membahu membereskan rumah Sainah yang hancur tersebut. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, karena saat kejadian Sainah sedang tidak rumah.

Banser Sawangan Jingkang Bantu Korban Rumah Roboh (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Sawangan Jingkang Bantu Korban Rumah Roboh (Sumber Gambar : Nu Online)


Banser Sawangan Jingkang Bantu Korban Rumah Roboh

"Saat kejadian, saya sedang berada di sawah, tiba-tiba tetanga saya ngabarin kalo rumah saya roboh," tutur Sainah dengan wajah sedih.

"Dua anak saya sedang sekolah, dan yang paling kecil ikut saya ke sawah," lanjutnya.

KARTANU

KARTANU

Puluhan personil Banser dari Sawangan dan Jingkang yang dihubungi lewat telefon langsung terjun ke lokasi kejadian.

"Saya di telepon sahabat Tarno, lalu saya langsung menghubungi yang lain juga," kata Pujianto

"Kami semua datang sekitar jam 13:00, dan langsung bergerak memberskan puing-puing yang berserakan," lanjutnya.

Jafar, ketua RW setempat mengungkapkan bahwa rumah Sainah memang sudah rusak berat, kayu-kayunya banyak yang keropos.

Banser juga langsung membuatkan gubug sementara untuk keluarga sainah tinggal. (Kifayatul Akhyar/Mukafi Niam)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/76380/banser-sawangan-jingkang-bantu-korban-rumah-roboh

KARTANU

Kamis, 23 Februari 2017

Habib Luthfi Hadiri Maulid Akbar Hari Jadi Wonogiri

Wonogiri, KARTANU. Maulid Akbar membuka perayaan Hari Jadi Kabupaten Wonogiri yang ke -272 yang digelar semalam (4/5) di Alun-alun Giri Kridha Bhakti Wonogiri.

Pengajian Akbar tersebut dihadiri Rais Aam Jamiyyah Ahlith Thoriqah Al Mutabaroh An Nahdliyyah (JATMAN), Habib Muhammad Luthfi bin Yahya.

Habib Luthfi Hadiri Maulid Akbar Hari Jadi Wonogiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi Hadiri Maulid Akbar Hari Jadi Wonogiri (Sumber Gambar : Nu Online)


Habib Luthfi Hadiri Maulid Akbar Hari Jadi Wonogiri

Ribuan jamaah yang hadir memadati lapangan lokasi pengajian. Mereka hadir dari berbagai daerah.

KARTANU

Selain maulid akbar, berbagai rangkaian acara juga diselenggarakan guna menyambut Hari Jadi Kota Gaplek itu, diantaranya Napak Tilas Pangeran Sambernyawa di Monumen Watu Gilang, Tasyarub Gerakan 1 Miliar untuk anak yatim, dan Doa syukur antar umat beragama.

Hari Jadi Wonogiri sendiri sebetulnya baru akan jatuh pada tanggal 19 Mei nanti. Bupati Wonogiri Danar Rahmanto, dalam sambutannya mengatakan,ia berharap dengan momentum ini segenap unsur dapat membantu untuk mewujudkan keadaan masyarakat berdasarkan semboyan SUKSES.

KARTANU

SUKSES sebagai kepanjangan Stabilitas, Undang-undang, Koordinasi, Sasaran, Evaluasi, Semangat. Berarti pula upaya mewujudkan keadaan masyarakat yang penuh semangat dan bekerja bersama segenap elemen berdasarkan rel regulasi agar tujuan kesejahteraan dan kemakmuran dapat tercapai dengan kestabilan, ujarnya.

Redaktur : Mukafi Niam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/44238/habib-luthfi-hadiri-maulid-akbar-hari-jadi-wonogiri

KARTANU

Sabtu, 18 Februari 2017

Sambut Resolusi Jihad, NU Jatim Adakan Lomba Sastra

Surabaya, KARTANU. Sejumlah lomba dalam rangkaian Hari Santri sekaligus peringatan Resolusi Jihad pada 22 Oktober mendatang akan digelar oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur.

"Lomba yang dapat diikuti adalah cipta dan baca puisi, cipta dan baca pantun serta penulisan esai kebudayaan," kata Ketua Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) PWNU Jatim Nonot Sukrasmono, Rabu (12/10). Sedangkan tema besar lomba adalah "Merajut Kebhinnekaan, Menjaga Kedaulatan Indonesia".

Sambut Resolusi Jihad, NU Jatim Adakan Lomba Sastra (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Resolusi Jihad, NU Jatim Adakan Lomba Sastra (Sumber Gambar : Nu Online)


Sambut Resolusi Jihad, NU Jatim Adakan Lomba Sastra

Dalam penjelasannya, lomba ini akan melewati sejumlah tahapan. "Tahap penyisihan dilaksanakan di 4 zona," terang Nonot, sapaan akrabnya. Zona 1 dipusatkan di PCNU Kabupaten Situbondo dengan tanggal pelaksanaan 13 Oktober.

"Untuk zona 2 akan dipusatkan di PCNU Kabupaten Malang dan dilaksanakan 16 Oktober," jelasnya. Sedangkan zona 3 akan dilaksanakan di PCNU Kota Kediri, bersamaan dengan pelaksanaan di zona 2. Dan untuk zona 4 dilaksanakan 20 Oktober di PCNU Kab Bangkalan.

KARTANU

KARTANU

"Nantinya, tiga peserta terbaik untuk setiap lomba dari masing-masing zona berhak mengikuti babak final yang akan digelar Sabtu, 22 Oktober 2016 di Kantor PWNU Jawa Timur," katanya.

Lebih lanjut, Nonot menjelaskan bahwa para peminat lomba harus mengetahui aturan yang ditentukan panitia. "Yang pasti, seluruh karya yang diikutkan lomba adalah buatan sendiri bukan jiplakan," katanya. Untuk pantun minimal 9 bait, dan puisi minimal 45 kata. Nantinya, pantun dan puisi dibuat dan dibaca sendiri, lanjutnya.

Untuk lomba esai, panjang tulisan antara 800 hingga 1000 karakter. "Sedangkan untuk lomba orasi kebangsaan, peserta harus menyerahkan abstraksi pokok pikiran sebanyak 2 paragraf," jelasnya.

"Ini saatnya mengekspresikan kesantrian sekaligus membuktikan nasionalisme," katanya. Karenanya peserta dapat segera mendaftar melalui PCNU terdekat di wilayah Jatim. "Nantinya peserta akan memperebutkan hadiah menarik dari PWNU dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur," pungkasnya. Informasi lebih lengkap dapat menghubungi call center panitia, di nomor 0822 3202 0447. (Ibnu Nawawi/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/71943/sambut-resolusi-jihad-nu-jatim-adakan-lomba-sastra

KARTANU

Sabtu, 15 Oktober 2016

Adakah Kelompok Aswaja di Luar NU?

Mojokerto, KARTANU. Buku Khazanah Aswaja dibedah di kampus Institut Pesantren KH Abdul Chalim (IKHAC) Pacet, Mojokerto, Jawa Timur. Buku itu dibedah tiga narasumber yaitu Ustadz Fathul Qadir dan Ustadz Yusuf Suharto. Keduanya adalah tim penulis buku itu. Sementara sebagai pembedah utama dan pembanding, adalah Pengurus Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Dr. Rudolf. Acara ini dibuka oleh Dr. Sukadir, dekanat yang mewakili Rektor.

Di hadapan peserta, Yusuf Suharto yang tampil pertama, menyatakan, buku Khazanah Aswaja terdiri dari enam bab itu bisa menjadi buku pegangan para mahasiwa di perguruan tinggi NU maupun kampus berbasis pesantren.

Adakah Kelompok Aswaja di Luar NU? (Sumber Gambar : Nu Online)
Adakah Kelompok Aswaja di Luar NU? (Sumber Gambar : Nu Online)


Adakah Kelompok Aswaja di Luar NU?

"Buku ini terdiri dari enam bab dan ini seperti kebutuhan akan mata kuliah Aswaja yang di kampus NU dan juga di kampus IKHAC diterapkan selama enam semester," ujarnya diamini para narasumber pada bedah buku yang berlangsung pada Ahad (22/1).

KARTANU

Di buku ini, lanjutnya, ada bab tentang aliran dan kelompok di luar NU. Aliran klasik bukan bagian dari Aswaja yang disebut di buku ini antara lain Mutazilah, Syiah, dan Khawarij. Sementara itu ada kelompok-kelompok umat Islam yang juga dibahas di buku ini. Kelompok di luar NU ini ada yang Aswaja dan ada yang tidak.

KARTANU

Sementara Ustadz Fathul Qodir mengatakan, Aswaja itu salah satu cirinya adalah tidak mudah mengkafirkan dan tidak mudah membidahkan sesama umat Islam.

Karena untuk mengkategorikan itu harus pakai kaidah-kaidah, tidak bisa serampangan," ungkap tim penulis yang kerap muncul di TV 9.

Ustadz Rudolf mengapresiasi buku ini. "Buku ini enak dibaca. Ini saya rekomendasikan agar dibaca. Kalau bisa, jumlah oplah cetaknya diperbanyak sehingga semakin banyak orang yang bisa membacanya. Namun saya memberi masukan, agar tim 8 ini ditambah satu lagi menjadi tim 9," ujar pria yang mengaku sebagai Aswaja dari Jember ini.

Di akhir acara, Ustadz Fathul Qodir menyerukan kepada para peserta bedah buku untuk mantap dengan NU, sembari dikutipnya kata pengantar dari Rais Aam PBNU KH Maruf Amin di buku ini.

"Hadirnya buku Khazanah Aswaja yang mengulas seluruh aspek Aswaja, sejarah, akidah, fikih, tasawuf, dan implementasinyadi lingkungan NU, secara konkret membuktikan konsistensi Aswaja NU Center PWNU Jatim dalam mengemban amanah ilmiah untuk menghadapi tantangan kekinian. Harapannya, kehadiran buku ini menjadi langkah strategis dan secara substansif dapat diserap oleh NU di seluruh level secara nasional, sesuai kondisi dan tantangan yang dihadapi," demikian kutipan sambutan Rais Aam. (Red: Abdullah Alawi)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/74863/adakah-kelompok-aswaja-di-luar-nu

KARTANU

Selasa, 06 September 2016

Ekonomi Ditata dari Orientasinya

Oleh KH Abdurrahman Wahid

Sejak kemerdekaan di tahun 1945, orientasi ekonomi kita banyak ditekankan pada kepentingan para pengusaha besar dan modern. Di tahun 1950-an, dilakukan kebijakan Benteng, dengan para pengusaha pribumi atau nasional memperoleh hampir seluruh lisensi, kredit dan pelayanan pemerintah untuk mengangkat mereka. Hasilnya adalah lahir perusahaan Ali-Baba , yaitu dengan mayoritas pemilikan ada di tangan para pengusaha pribumi (Ali) dan pelaksana perusahaan seperti itu dipimpin oleh keturunan Tionghoa (Baba). Ternyata, kebijakan itu gagal. Si Baba atau pengusaha keturunan Tionghoa, karena ketekunan dan kesungguhannya mulai menguasai dunia usaha, baik yang bersifat peredaran/perdagangan barang-barang maupun pembuatan/produksinya, walau adanya pembatasan ruang gerak warga negara keturunan Tionghoa, untuk tidak aktif/memimpin di bidang-bidang selain perdagangan.

Demikian pula dengan sistem quota dalam pendidikan, mau tidak mau mempengaruhi ruang gerak warga negara keturunan Tionghoa di bidang perdagangan saja. Mereka dengan segera memanfaatkan kelebihan uang mereka, untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka di luar negeri. Karena tidak terikat dengan sistem beasiswa yang disediakan pemerintah untuk berbagai bidang studi, mereka lalu memanfaatkan pendidikan luar negeri yang memberikan perhatian lebih besar kepada pendidikan berbagai bidang seperti, teknologi, produksi, kimia, komunikasi terapan, kemasan (package), pemasaran, penciptaan jaringan (networking) dan permodalan. Di tahun-tahun terakhir ini, para pengusaha keturunan Tionghoa itu bahkan sudah mencapai tingkatan kesempurnaan (excellence) dalam bidang-bidang tersebut, seperti terbukti dari hasil-hasil yang dicapai anak-anak mereka di luar negeri.

Ekonomi Ditata dari Orientasinya (Sumber Gambar : Nu Online)
Ekonomi Ditata dari Orientasinya (Sumber Gambar : Nu Online)


Ekonomi Ditata dari Orientasinya

Karena itu tidaklah mengherankan, jika lalu dunia usaha (bisnis) mereka kuasai. Para manager/pimpinan usaha ada di tangan mereka, bahkan hal itu terasa pada tingkat usaha di bidang keuangan/finansial. Bahkan Bulog dan Dolog hampir seluruhnya berhutang uang pada mereka. Sehingga praktis merekalah yang menentukan jalannya kebijakan teknis, dalam hal-hal yang menyangkut sembilan macam kebutuhan pokok bangsa. Tidak mengherankan jika lalu ada pihak yang merasa, ekonomi negeri kita dikuasai oleh keturunan Tionghoa. Itu wajar saja. Bahkan lontaran emosional itu akan menjadi sangat berbahaya, jika ditutup- tutupi oleh pemerintah dan media dalam negeri. Namun, harus segera ditemukan sebuah kerangka lain, untuk menghindarkan lontaran-lontaran perasaan yang emosional seperti itu. Janganlah berbagai reaksi itu, lalu berkembang karena dipercaya oleh orang banyak.

KARTANU

Kesenjangan kaya-miskin yang terus menjadi besar dalam kenyataan, maka diperlukan sebuah penataan ekonomi bangsa kita. Bagaimanapun juga harus diakui, bahwa apa-apa yang terbaik di negeri kita, dikuasai/dimiliki oleh mereka yang kaya, baik golongan pribumi maupun golongan keturunan Tionghoa. Namun untuk menyelamatkan diri dari kemarahan orang melarat, baik yang merasa miskin ataupun yang memang benar-benar tidak menguasai/memiliki apa-apa, maka elite ekonomi/orang kaya kalangan pribumi selalu meniup-niupkan bahwa perekonomian nasional kita dikuasai/dimiliki para pengusaha golongan keturunan Tionghoa. Karena memang selama ini media nasional dan kekuasaan politik selalu berada di tangan mereka, dengan mudah saja pendapat umum dibentuk dengan menganggap golongan keturunan Tionghoa, yang lazim disebut golongan non-pribumi, sebagai penguasa perekonomian bangsa kita.

Kesan salah itu dapat segera dibetulkan dengan sebuah koreksi total atas jalannya orientasi perekonomian kita sendiri. Koreksi total itu harus dilakukan. Orientasi yang lebih mementingkan pelayanan kepada pengusaha besar dan raksasa, apapun alasannya, termasuk klaim pertolongan kepada pengusaha nasional pribumi, haruslah disudahi. Sebenarnya yang harus ditolong adalah pengusaha kecil dan menengah, seperti yang diinginkan oleh Undang-undang Dasar kita, maupun berbagai peraturan yang lain. Dengan demikian tidaklah tepat mempersoalkan pribumi dan non-pribumi, karena persoalannya bukan terletak di situ, masalahnya adalah kesenjangan antara kaya dan miskin.

KARTANU

Jadi, yang harus dibenahi, adalah orientasi yang terlalu melayani kepentingan orang-orang kaya, atas kerugian orang miskin. Kita harus jeli melihat masalah ini dengan kacamata yang jernih. Perubahan orientasi itu terletak pada dua bidang utama, yaitu pertolongan kepada UKM, Usaha Kecil dan Menengah dan upaya mengatasi kemiskinan. Kedua langkah itu harus disertai pengawasan yang ketat, disamping liku-liku birokrasi, yang memang merupakan hambatan tersendiri bagi upaya memberikan kredit murah kepada UKM. Padahal saat ini, apapun upaya yang dilakukan untuk menolong UKM, selalu menghadapi hambatan. Jadi, haruslah dirumuskan kerangka yang tepat untuk tujuan ini. Dan tentu saja, upaya mengatasi kemiskinan menghadapi begitu banyak rintangan dan hambatan, terutama dari lingkungan birokrasi sendiri.

***

Padahal tujuan pemerintah dan kepemimpinan dalam pandangan Islam adalah maslahah mmah, yang secara sederhana diterjemahkan dengan kata kesejahteraan. Kata kesejahteraan ini, dalam Undang-undang Dasar kita, dinamakan keadilan dan kemakmuran. Sekaligus dalam pembukaan UUD 1945 diterangkan, bahwa tujuan bernegara bagi kita semua diibaratkan menegakkan masyarakat yang adil dan makmur. Ini juga menjadi sasaran dari ketentuan Islam itu, dengan pengungkapan kebijakan dan tindakan seorang pemimpin atas rakyat yang dipimpinnya, terkait langsung dengan kepentingan rakyat yang dipimpinnya (tasharruful imm alr-raiyyah manthun bil- mashlahah).

Dalam bahasa sekarang, sikap agama seperti itu dirumuskan sebagai titik yang menentukan bagi orientasi kerakyataan. Itulah yang seharusnya menjadi arah kita dalam menyelenggarakan perekonomian nasional. Bukannya mempersoalkan asli dan tidak dengan latar belakang seorang pengusaha. Pandangan picik seperti itu, sudah seharusnya digantikan oleh orientasi perekonomian nasional kita yang lebih sesuai dengan kebutuhan mayoritas bangsa.

Masalahnya sekarang, perekonomian nasional kita terkait sepenuhnya dengan persaingan bebas, keikutsertaan dalam perdagangan internasional yang bebas dan mengutamakan efisiensi rasional. Karenanya orientasi ekonomi rakyat harus difokuskan kepada prinsip menjaga dan mendorong UKM. Namun sebelumnya dalam hal ini adalah, keharusan merubah orientasi perekonomian nasional itu sendiri.

*) Diambil dari Abdurrahman Wahid, Islamku Islam Anda Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi, 2006 (Jakarta: The Wahid Institute). Tulisan ini pernah dimuat di Memorandum, 3 Januari 2003.

Dari (Taushiyah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/52751/ekonomi-ditata-dari-orientasinya

KARTANU

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KARTANU sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KARTANU. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KARTANU dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock