Tampilkan postingan dengan label Pustaka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pustaka. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Mei 2015

PWNU Sumut: Jaga Kesucian Ramadhan

Medan, KARTANU. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Propinsi Sumatera Utara (Sumut) mengimbau masyarakat menjaga kesucian dan kedamaian bulan Ramadhan, sehingga umat Islam dapat menjalankan ibadahnya dengan baik.

Imbauan itu disampaikan Rais Syuriyah PWNU Sumut Syekh H Mahmuddin Pasaribu dan Ketua Tanfidziyah PWNU Sumut H Ashari Tambunan, seusai memimpin rapat pembekalan tim Tim Safari Ramadhan PWNU Sumut, di kantor ormas Islam itu, Jalan Sei Batanghari Medan, Rabu (18/7) sore, sehubungan umat Islam akan melaksanakan puasa Ramadhan mulai 21 Juli.

PWNU Sumut: Jaga Kesucian Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Sumut: Jaga Kesucian Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)


PWNU Sumut: Jaga Kesucian Ramadhan

Hadir dalam rapat pembekalan itu, Sekretaris Tanfidziyah PWNU Sumut Drs H Misran Sihaloho, MPd, Wakil Sekretaris Drs H Khairuddin Hutasuhut, Katib Drs H Musaddad Lubis, MAg, Wakil Katib Abror M Dawud Faza MA, Ketua Lembaga Dakwah (LD) PWNU H Sori Monang Rangkuty MTh. Juga hadir sejumlah anggota Tim Safari Ramadhan PWNU di antaranya KH Asnan Ritonga MA, Drs H Adlin Damanik MAP, Prof Dr Katimin MAg, Drs H Abdullah Nasution, H Usman Lubis, Prof Dr H Pagar Hasibuan MA, H Syahrial Ams SH, MHum, Emir El Zuhdi Batubara, Dr H Hasan Mansur Nasution MA, H Darman Harahap dan anggota tim lainnya.

Syekh H Mahmuddin yang juga Tuan Guru di Ponpes Musthafawiyah Purba Baru Mandailing Natal (Madina) kemudian mengimbau umat Islam memanfaatkan Ramadhan seoptimal mungkin untuk melaksanakan ibadah, baik dari segi kuantitas maupun kualitas.

KARTANU

Umat Islam hendaknya dapat melakukan berbagai ibadah sunnah seperti yang dipraktekkan Rasulullah SAW dan sahabatnya, seperti itikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, berdoa qunut pada salat witir mulai tanggal 16 Ramadhan hingga akhir Ramadhan, tuturnya.

Kepada tim safari Ramadhan PWNU Sumut, Rais Syuriyah mengharapkan agar mlaksanakan tugasnya dengan baik, terutama memberi penjelasan menyangkut persoalan-persoalan Ramadhan yang dihadapi masyarakat sehari-hari, misalnya tata cara doa berbuka yang dilakukan setelah puasa dibatalkan terlebih dahulu.

KARTANU

Tingkatkan Kesalehan Sosial

Dalam kesempatan itu, Ketua Tanfidziyah PWNU Sumut H Ashari Tambunan meminta kepada Tim Safari Ramadhan PWNU agar mubalig NU yang tergabung dalam Tim Safari Ramadhan PWNU tidak semata-mata menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan persoalan ibadah, tapi juga menyampaikan pesan-pesan agama terhadap peningkatan kesalehan sosial umat Islam, misalnya tolong menolong dan kepedulian terhadap kesulitan sesama.

Mubalig NU harus mampu mengetuk hati umat Islam agar peduli sesama. Misalnya, jangan ada umat Islam yang kekenyangan saat makan sahur, sementara tetangganya tidak bisa makan sahur karena kemiskinan, ucap Ashari seraya menambahkan, mubalig NU harus menjadi lokomotif peningkatan ibadah sosial umat Islam.

Selain itu, Ashari mengingatkan, mubalig NU tidak berkutat pada persoalan ibadah yang mengandung khilafiyah, namun memberikan penjelasan yang mendamaikan dan mempererat ukhuwah islamiyah. Untuk itu, dia berharap program Ramadhan PWNU tahun ini lebih baik dan lebih bermanfaat bagi masyarakat.

Wakil Sekretars PWNU Sumut, Khairuddin Hutasuhut mengatakan, PWNU telah membentuk Tim Safari Ramadhan yang terbagi dalam tujuh zona. Yakni zona I Langkat Binjai dan Medan. Zona II Deli Serdang, Tebing Tinggi, dan Serdang Bedagai. Zona III Tanjung Balai, Asahan dan Batubara. Zona IV Paluta, Palas dan Labuhan Batu. Zona V Madina, P Sidimpuan, dan Tapsel. Zona VI P Siantar dan Simalungun, zonz VII Tapteng dan Sibolga.

Redaktur : Mukafi Niam

Kontributor: Hamdani Nasution

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/38840/pwnu-sumut-jaga-kesucian-ramadhan

KARTANU

Kamis, 09 Januari 2014

Menengok Kesiapan Pesantren Tebuireng untuk Muktamar

Jombang, KARTANU. Terpilihnya kota Jombang sebagai tuan rumah Muktamar ke-33 NU pada 1-5 Agustus mendatang merupakan suatu keistimewaan tersendiri. Lebih-lebih bagi Pesantren Tebuireng, pesantren rintisan pendiri NU, Hadratussyaikh KH M Hasyim Asyari.

Panitia dari Pesantren Tebuireng sendiri sudah memulai mempersiapkan diri khususnya dari segi infrastruktur untuk menyukseskan acara lima tahunan tersebut. Pelaksanaan Muktamar yang digelar di empat pesantren tersebut akan berbarengan dengan masa liburan santri.

Menengok Kesiapan Pesantren Tebuireng untuk Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)
Menengok Kesiapan Pesantren Tebuireng untuk Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)


Menengok Kesiapan Pesantren Tebuireng untuk Muktamar

Kita akan mempersiapkan sembilan asrama yang ada di Pesantren Tebuireng dan Madrasatul Quran, terang Ketua Panitia Lokal Pesantren Tebuireng H Abdul Ghofar ketika ditemui di kantor Yayasan Hasyim Asyari, Rabu (18/03).

Sekertaris Pesantren Tebuireng ini, juga menuturkan, lokasi salah satu sidang komisi pada Muktamar nanti akan dipusatkan di Gedung Yusuf Hasyim. Sarana MCK (mandi, cuci, dan kakus) juga sudah dipersiapkan.

KARTANU

KARTANU

Alhamdulillah di Pesantren Tebuireng, MCK juga memadahi. Jadi rata-ratanya satu kamar mandi untuk enam orang. Kalau di pesantren lain, sedang dibangun kamar mandi untuk memenuhi target kebutuhan MCK, ujarnya.

Jumlah Muktamirin yang menginap di Pesantren Tebuireng diperkirakan mencapai 1400 orang. Untuk itu, panitia lokal akan menyediakan relawan pemandu yang bertugas menjemput dan mengarahkan para muktamirin dari tempat pembukaan ke tempat penginapan. Mereka akan memandu para muktamirin dari awal kegiatan hingga usai.

Seperti direncanakan, Muktamar ke-33 NU akan dilaksanakan di lima titik lokasi, yaitu Alun-alun Kota Jombang dan empat pesantren besar, yakni di Tebuireng, Tambak Beras, Rejoso, dan Denanyar. Empat pesantren tersebut akan menjadi tempat penginapan muktamirin sekaligus lokasi sidang komisi dilaksanakan. Sedangkan Alun-alun Kota akan digunakan sebagai pusat kegiatan dan tempat pelaksanaan pembukaan, pleno, dan penutupan.

Kami belum bisa memastikan Tebuireng akan mendapatkan jatah komisi apa. Namun, informasi sementara adalah komisi rekomendasi. Sekali lagi itu masih belum pasti, ujar Gus Ghofar, sapaan akrabnya.

Panitia lokal akan terus berkordinasi dengan panitia daerah dan pantia pusat agar Muktamar NU ini berjalan dengan lancar. (Abror/Mahbib)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/58296/menengok-kesiapan-pesantren-tebuireng-untuk-muktamar

KARTANU

Kamis, 21 November 2013

Sutisna Senjaya, Tokoh Pers dari NU Jabar

Raden Sutisna Sendjaya lahir di Wanaraja, Garut, pada 27 Oktober tahun 1890 M dan wafat di Bandung pada 11 Desember tahun 1961. Selain sebagai tokoh NU, ia sangat dikenal sebagai tokoh pers di Jawa Barat.

Ia dikenal sebagai Pemimpin Redaksi Majalah al-Mawaidz; Pangrodjong Nahdlatoel Oelama yang diterbitkan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Tasikmalaya pada bulan Agustus 1933. Pengabdiannya di NU, ia lanjutkan hingga tingkat wilayah. Tahun 1948 menjadi ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Barat. Selain aktif di NU, ia juga salah seorang tokoh pergerakan di Paguyuban Pasundan.

Sutisna Senjaya, Tokoh Pers dari NU Jabar (Sumber Gambar : Nu Online)
Sutisna Senjaya, Tokoh Pers dari NU Jabar (Sumber Gambar : Nu Online)


Sutisna Senjaya, Tokoh Pers dari NU Jabar

Dalam dunia jurnalistik, selain di Al-Mawaidz, ia pernah menjadi redaktur di beberapa surat kabar pada masa penjajahan Belanda seperti Silliwangi (1921-1922). Aktif menulis di surat kabar Sipatahoenan (1923). Dalam menulis, ia sering menggunakan inisial Sutsen.

Pendidikan Sutsen ditempuh di Sakola Raja (KweekSchool) di Bandung pada tahun 1911. Sutsen pernah mengajar di HIS Banten kemudian di HIS Bandung. Kemudian ia melanjutkan belajar ke HKS, dan kemudian melanjutkan kembali kegiatan mengajar di HIS Pasundan 1 Tasikmalaya.

KARTANU

Pada zaman penjajahan Jepang, ia menjadi anggota Chuo Sangi in. Kemudian menjadi koordinator pergerakan perjuangan rakyat pada zaman revolusi fisik dan anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) Tasikmalaya.

Pada zaman penjajahan Belanda, Sutsen bersama pengurus NU Tasikmalaya seperti KH Ruhiat (ayah dari Rais Aam PBNU KH Ilyah Ruhiat), berpandangan, gelar ulil amri bagi pemerintah kolonial harus dipandang sebagai suatu siyasi (politik). Pemerintah Hindia Belanda sebagai pemerintahan yang sah, tetapi statusnya tetaplah penguasa asing yang hanya berkuasa secara politik.

KARTANU

Dengan demikian, pemerintah hanya berwenang mengatur masyarakat berkaitan urusan politik. Masalah lain seperti keagamaan, sejatinya diserahkan sepenuhnya kepada para ulama yang menjadi panutan rakyat.

Zaman kemerdekaan, pada tahun 1952, Sutsen menjadi Kepala Kantor Urusan Agama di Jakarta. Setelah pensiun pada tahun 1954, ia bergabung dengan Daya Sunda. Kemudian bersama teman-temannya kembali aktif dalam jurnalistik. Ia menerbitkan mingguan berbahasa Sunda Kalawarta Kudjang (1956) dan bertindak sebagai pemimpin redaksi. (Abdullah Alawi, dari berbagai sumber)

Dari (Tokoh) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/62679/sutisna-senjaya-tokoh-pers-dari-nu-jabar

KARTANU

Selasa, 19 November 2013

Habib Husain Muthohhar, Penyelamat Sang Saka Merah Putih

KARTANU - HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2016, tinggal menghitung hari. Terkait HUT RI, ada satu hal yang menjadi momen “suci” bangsa Indonesia, khususnya di saat detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI, yakni pengibaran bendera pusaka Sang Saka Merah Putih oleh Pasukan Pengibar Bendera Pusaka atau Paskibraka.

Sang Saka Merah Putih sebagai bendera pusaka ternyata mempunyai catatan sejarah yang cukup heroik sehingga harus diselamatkan dari penjajahan Belanda saat itu. Jika tidak, mungkin anak cucu keturunan bangsa Indonesia sekarang ini tidak dapat menyaksikan bendera pusaka sebagai salah satu bukti sejarah kemerdekaan Indonesia.

Habib Husain Muthohhar, Penyelamat Sang Saka Merah Putih - KARTANU
Habib Husain Muthohhar, Penyelamat Sang Saka Merah Putih - KARTANU


Habib Husain Muthohhar, Penyelamat Sang Saka Merah Putih

Tahukah Anda bahwa sang penyelamat bendera pusaka dari tangan penjajah saat itu adalah seorang habib, yang mempunyai darah pertalian keturunan dengan Sayyidina Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa alihi wa shohbihi wa sallam?

Sayyidil Habib Muhammad Husein Muthahar, beliau lah sang penyelamat bendera pusaka Sang Saka Merah Putih dari tangan penjajah. Tanpa jasa beliau, bangsa Indonesia sekarang mungkin sudah tidak dapat melihat lagi bendera pusaka yang dijahit oleh istri Presiden Soekarno, Ibu Fatmawati.

KARTANU

Saat itu, Presiden Soekarno menugaskan Habib Muhammad Husein Muthahar yang berpangkat mayor untuk menjaga dan menyelamatkan bendera pusaka dari tangan penjajahan Belanda meski harus dengan mengorbankan nyawanya. Amanah “menjaga bendera pusaka dengan nyawa” ini pun berhasil dilaksanakan dengan penuh perjuangan.

Inilah pesan Presiden Soekarno kepada Sang Habib: “Apa yang terjadi terhadap diriku, aku sendiri tidak tahu. Dengan ini aku memberikan tugas kepadamu pribadi. Dalam keadaan apapun juga, aku memerintahkan kepadamu untuk menjaga bendera kita dengan nyawamu. Ini tidak boleh jatuh ke tangan musuh. Di satu waktu, jika Tuhan mengizinkannya engkau mengembalikannya kepadaku sendiri dan tidak kepada siapa pun kecuali kepada orang yang menggantikanku sekiranya umurku pendek. Andaikata engkau gugur dalam menyelamatkan bendera ini, percayakanlah tugasmu kepada orang lain dan dia harus menyerahkannya ke tanganku sendiri sebagaimana engkau mengerjakannya.”

KARTANU

KH Achmad Chalwani Nawawi, pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan, Gebang, Purworejo yang juga Mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah menuturkan bahwa Habib Muhammad Husein Muthahar yang merupakan penyelamat bendera pusaka ini adalah paman dari Habib Umar Muthohar Semarang.

Kisah heroik sejarah penyelamatan bendera pusaka oleh Habib Muhammad Husein Muthahar ini mesti diketahui oleh bangsa Indonesia khsusunya umat Islam agar tahu bagaimana perjuangan para pendahulu bangsa ini dalam mempertahankan kemerdekan Republik Indonesia. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/habib-husain-muthohhar-penyelamat-sang-saka-merah-putih.html

Sabtu, 06 Juli 2013

Puisi Terakhir WS Rendra Bikin Merinding Baca Wasiatnya

KARTANU - Sastrawan WS Rendra telah meninggal tahun 2009 lalu (semoga Alloh merahmatinya). Namun sebelum meninggal dan saat terbaring sakit, beliau sempat menulis sebuah puisi.

Puisi ini sangat dalam maknanya. Bahwa sesungguhnya hidup ini adalah amanah, dan apa yang ada pada diri kita adalah titipan semata. Maka tidak boleh ada yang disombongkan sedikitpun dari kita, karena semua itu hanyalah titipan. Yang suatu saat akan diambil kembali oleh Nya. Hanya saja kita tidak pernah tahu, kapan Dia akan mengambilnya.

Puisi ini juga mengingatkan akan pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian. Seperti sabda Nabi “Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan, yakni kematian”.[HR. At-Tirmidziy (no. 2307), An-Nasa'iy (1824) dan Ibnu Majah (no. 4258). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Al-Irwa' (no. 682)].

Puisi Terakhir WS Rendra Bikin Merinding Baca Wasiatnya - KARTANU
Puisi Terakhir WS Rendra Bikin Merinding Baca Wasiatnya - KARTANU


Puisi Terakhir WS Rendra Bikin Merinding Baca Wasiatnya

Al-Imam Ath-Thibiy -rahimahullah- berkata, “Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- menyerupakan segala kelezatan yang fana dan segala keinginan duniawi dan kehancurannya dengan sebuah bangunan yang menjulang. Bangunan itu akan runtuh oleh berbagai goncangan hebat. Lalu Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- memerintahkan orang yang terlena dengan dunia untuk mengingat penghancur kelezatan tersebut (yakni, maut) agar ia tak terus-menerus condong kepadanya, (sehingga) ia pun menyibukkan diri dengan sesuatu yang wajib atas dirinya berupa penghadapan diri kepada kampung abadi (yaitu, akhirat)”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (6/92)]

KARTANU

Berikut adalah puisi terakhir dari WS Rendra, semoga bisa menjadi renungan dan peringatan:

KARTANU

Hidup itu seperti uap,

yang sebentar saja kelihatan, lalu lenyap!

Ketika orang memuji milikku,

aku berkata bahwa ini hanya titipan saja.

Bahwa mobilku adalah titipan-Nya,

Bahwa rumahku adalah titipan-Nya,

Bahwa hartaku adalah titipan-Nya,

Bahwa putra-putriku hanyalah titipan-Nya ...

Tapi mengapa aku tidak pernah bertanya,

"Mengapa Dia menitipkannya kepadaku?"

"Untuk apa Dia menitipkan semuanya kepadaku?"

Dan kalau bukan milikku, apa yang seharusnya aku lakukan untuk milik-Nya ini?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya? Malahan ketika diminta kembali,

kusebut itu musibah,

kusebut itu ujian,

kusebut itu petaka,

kusebut itu apa saja ...

Untuk melukiskan, bahwa semua itu adalah derita ...

Ketika aku berdo'a, kuminta titipan yang cocok dengan kebutuhan duniawi,

Aku ingin lebih banyak harta,

Aku ingin lebih banyak mobil,

Aku ingin lebih banyak rumah,

Aku ingin lebih banyak popularitas,

Dan kutolak sakit,

Kutolak kemiskinan,

Seolah semua derita adalah hukuman bagiku. Seolah keadilan dan kasih-Nya, harus berjalan seperti penyelesaian matematika dan sesuai dengan kehendakku.

Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita itu menjauh dariku,

Dan nikmat dunia seharusnya kerap menghampiriku ... Betapa curangnya aku,

Kuperlakukan Dia seolah "Mitra Dagang" ku dan bukan sebagai "Kekasih"!

Kuminta DIA membalas “perlakuan baikku” dan menolak keputusan-Nya yang tidak sesuai dengan keinginanku ...

Duh Allah ...

Padahal setiap hari kuucapkan,

“Hidup dan Matiku, Hanyalah untukMu ya Allah, ampuni aku, ya Allah ... Mulai hari ini, ajari aku agar menjadi pribadi yang selalu bersyukur dalam setiap keadaan dan menjadi bijaksana, mau menuruti kehendakmu saja ya Allah ...

Sebab aku yakin Engkau akan memberikan anugerah dalam hidupku .. Kehendakmu adalah yang terbaik bagiku ...

Semoga manfaat

Sahabatmu...

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/04/puisi-terakhir-ws-rendra-bikin-merinding-baca-wasiatnya.html

Jumat, 21 Desember 2012

Doktrin Sufi Revolusioner

Fenomena historis, simbol-simbol ritual keagamaan dan norma-norma konseptual ajaran agama mengandung pesan-pesan etika pembebasan bagi kehidupan manusia. Ruh agama mengajarkan perlawanan baik dalam bentuk perlawanan kultural, perlawanan politis, perlawanan psikologis, dan segala perlawan lainnya.

Fungsi agama adalah sebagai pembebas yakni wahana pemberontakan manusia dari berbagai ketertindasan karena pemberontakan adalah penolakan terhadap otoritas. Terkadang pemberontakan terjadi karena pergolakan sosial yang mendapatkan legitimasi keagamaan. Buku ini menjadi bukti bahwa agama tampil sebagai mozaik etis pembebasan dalam pemberontakan petani Banten pada 9 Juli 1888.

Doktrin Sufi Revolusioner (Sumber Gambar : Nu Online)
Doktrin Sufi Revolusioner (Sumber Gambar : Nu Online)


Doktrin Sufi Revolusioner

Dalam altar tahun 1870 hingga 1888, rakyat Banten tunduk dalam kuasa pamong pemerintahan. Para pamong praja menjadi agen-agen kolonial sebagai pemungut pajak rakyat Banten. Petani Banten tercekik karena kewajiban membayar pajak dan harus menjual hasil pertaniannya dengan harga yang rendah. Ditambah lagi wabah penyakit dan bencana alam yang semuanya berkelit kelindan menjadi sebuah penderitaan yang kompleks. Hal ini ikut mendorong para petani untuk mengakhiri segala penderitaannya dengan memberontak dan melawan pemerintahan yang berafiliasi dengan pejabat-pejabat Belanda.

KARTANU

Realitanya, walaupun rakyat Banten memiliki tradisi memberontak namun mereka tunduk oleh kedigdayaan pemerintah. Keresahan sosial memuncak tapi tak bergeming. Pemberontakan mulai muncul dari kalangan elite agama dan kaum aristokrat yang juga diperkuat oleh kebencian religius mereka terhadap kekuasaan orang-orang kafir (halaman 9).

Hendri F Isnaeni dalam buku ini dengan narasi hidup yang dingin, lebih berwarna dan tentu meyakinkan, mampu mengurai benang merah doktrin agama yang dijadikan legitimasi dalam pemberontakan petani Banten. Dalam penelitiannya, Hendri mengungkap fakta-fakta penting yang tak diketahui sebelumnya termasuk tokoh penting dalam pemberontakan petani Banten yaitu Syekh Abd al-Karim al-Bantani. Syekh Abdul Karim adalah seorang ulama tarekat Qadiriyyah Naqsyabandiyyah yang berperan penting menjadi perumus dan penyedia ideologi revolusi (halaman 22).

Ruh agama ditafsirkan secara imajinatif dan kreatif serta revolusioner yang diracik menjadi sebuah gugus ideologi perlawanan terhadap kolonial. Racikan ideologi itu menjelma menjadi doktrin sufi dalam gerakan revolusioner yang membangkitkan jiwa-jiwa masyarakat Banten untuk berdiri tegak menantang imperialis Belanda.

KARTANU

Doktrin-doktrin keagamaan yang disampaikan Syekh Abd al-Karim al-Bantani yaitu kedatangan Imam Mahdi, peringatan terakhir Nabi Muhammad, mendirikan negara Islam (dar al-Islam), dan Perang Sabil (Jihad fi sabilillah), yang kemudian disemaikan oleh murid-muridnya seperti Haji Marjuki, Haji Tubagus Ismail, dan Haji Wasid, telah menjadi landasan rasional untuk melakukan pemberontakaan. Doktrin keagamaan tersebut menjadi sangkakala Syekh Abd al-Karim dalam menginspirasi rakyat Banten untuk melakukan pemberontakan.

Yang menarik, Hendri menafsirkan maksud dari doktrin kedatangan Imam Mahdi yaitu ramalah seorang tokoh penyelamat yang akan muncul menyelamatkan dunia dari segala macam dosa. Rupanya hal itu menjadi sebuah misi dalam rangka menyebarkan ketakutan bagi penguasa Belanda (halaman 66).

Buku ini dengan sangat brilian menggambarkan pola-pola pemberantakan petani Banten yang berawal dari konsilidasi yang berkedok pertemuan-pertemuan seperti pesta, pesta perkawinan atau pesta sunatan. Pertemuan-pertemuan yang lebih kecil menggunakan kedok pertemuan zikir. Yang terjadi, pihak pamong praja serta pada pejabat-pejabat Eropa sama sekali tidak melihat sebuah kegiatan yang mencurigakan atau membahayakan.

Membaca buku ini akan disuguhkan dengan kenyataan sejarah bahwa kebangkitan agama telah menjadi gerakan revolusioner yang dibawa oleh para ulama dan para petani yang tertindas dalam kuasa pemerintahan Eropa dan pamong praja Banten. Sebuah buku yang ditulis oleh sejarawan muda yang prolifik turut mengungkap sejarah khazanah intelektual Islam nusantara dengan narasi yang brilian dan teori yang kokoh.

Judul : Doktrin Agama Syekh Abd Karim Al-Bantani Dalam Pemberontakan Petani Banten 1888

Penulis : Hendri F Isnaeni

Penerbit : Kreasi Cendikia Pustaka

Cetakan : I, September 2012

Tebal : x + 118 halaman

Peresensi: Wildani Hefni, Peneliti di Lembaga Kajian Pendidikan, Keislaman, dan Sosial (LekDiS), Jakarta

Dari (Pustaka) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/45505/doktrin-sufi-revolusioner

Selasa, 11 Oktober 2011

Kiai Said: NU Gerak Cepat Membangun Jejaring Bisnis

KARTANU - Nahdlatul Ulama (NU) harus terus berusaha mencari terobosan membantu ekonomi masyarakat. Meskipun bidang ekonomi ini sulit diwujudkan keberhasilannya, NU harus tetap optimis dan tidak boleh putus asa.

"Sebelum bekerja, lakukan identifikasi serta pemetaan program dan kegiatan yang sesuai dengan amanat Muktamar NU ke-33 Jombang," kata Ketum PBNU, Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, MA dalam sambutannya saat membuka Rapat Kerja (Raker) Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Jum'at (17/02/2017).

Kiai Said Aqil menegaskan, LPNU juga perlu secepatnya menindaklanjuti jejaring bisnis yang sudah terbentuk pasca NU-Expo di Surabaya bulan lalu dan expo-expo sebelumnya.

Kiai Said: NU Gerak Cepat Membangun Jejaring Bisnis - KARTANU
Kiai Said: NU Gerak Cepat Membangun Jejaring Bisnis - KARTANU


Kiai Said: NU Gerak Cepat Membangun Jejaring Bisnis

Untuk wilayah Kalimantan misalnya, potensi apa yang bisa diangkat hingga dapat meningkatkan daya ekonomi masyarakat. "Silakan bersinergi dengan pemerintah, saya siap menjembatani," kata kiai asal Cirebon ini.

KARTANU

Sementara, Ketua LPNU, Dr. H. Abidin HH akan menata dan mengevaluasi kinerja lembaganya.

KARTANU

"Kita akan evaluasi seluruhnya dan kita rencanakan untuk tahun mendatang terutama menentukan skala prioritas," kata H. Abidin dalam arahannya kepada peserta Raker.

Masih kata Abidin, potensi setiap daerah berbeda-beda, namun bukan berarti skala prioritas itu mengorbankan daerah tertentu. Skala prioritas didasarkan pada yang paling mungkin dan mendesak untuk dilakukan mulai tahun ini.

"Semua bisa dilakukan hanya saya akan fokus untuk kerja satu tahun mendatang," kata Abidin.[KARTANU/ anw/ksf/dan]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/kiai-said-nu-gerak-cepat-membangun-jejaring-bisnis.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KARTANU sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KARTANU. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KARTANU dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock