Tampilkan postingan dengan label Merdeka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Merdeka. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Februari 2013

Adakah Hafidz Quran yang Berprofesi Tukang Sapu Rendahan?

KARTANU - Sekitar empat tahun yang lalu tepatnya di awal Ramadhan 1433 H, saya mengikuti kuliah subuh di Masjid dekat rumah. Ustadz yang berceramah menceritakan kisah nyata dari seorang rektor salah satu perguruan tinggi swasta di Indonesia yang sedang mencari sistem pendidikan terbaik yang dapat menghasilkan dan mencetak generasi yang cerdas, bermartabat dan bisa bermanfaat bagi bangsa dan agama.

Untuk mencari sistem pendidikan terbaik, rektor tersebut pergi ke Timur Tengah untuk meminta nasihat dari seorang ulama terkemuka di sana.

Adakah Hafidz Quran yang Berprofesi Tukang Sapu Rendahan? - KARTANU
Adakah Hafidz Quran yang Berprofesi Tukang Sapu Rendahan? - KARTANU


Adakah Hafidz Quran yang Berprofesi Tukang Sapu Rendahan?

Ketika bertemu dengan ulama yang ingin ditemuinya, lalu dia menyampaikan maksudnya untuk meminta saran bagaimana menciptakan sistem pendidikan terbaik untuk kampus yang dipimpinnya saat ini.

Sebelum menjawab pertanyaan dari rektor, ulama tersebut bertanya bagaimana sistem pendidikan saat ini di Indonesia mulai dari tingkat bawah sampai paling atas?

Rektor menjawab, "paling bawah mulai dari SD selama 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, D3 3 tahun atau S1 4 tahun, S2 sekitar 1.5 - 2 tahun, dan setelah itu S3 untuk yang paling tinggi."

KARTANU

"Jadi untuk sampai S2 saja butuh waktu sekitar 18 tahun ya?" Tanya Sang Ulama.

KARTANU

"Iya,", jawab rektor tersebut.

"Lalu bagaimana jika hanya lulus sampai di SD saja selama 6 tahun, pekerjaan apa yang akan bisa didapat?"

"Kalau hanya SD paling hanya buruh lepas atau tukang sapu jalanan, tukang kebun dan pekerjaan sejenisnya."

" Tidak ada pekerjaan yang bisa diharapkan jika hanya lulus SD di negeri Kami." Jawab si rektor. "Jika Lulus SMP bagaimana?"

"Untuk SMP mungkin jadi office boy (OB) atau cleaning service," jawab kembali si rektor.

"Kalau SMA bagaimana?"

"Kalau lulus SMA masih agak mending pekerjaan nya di negeri Kami, bisa sebagai operator di perusahaan-perusahaan," lanjut rektor.

"Kalau lulus D3 atau S1 bagaimana?"

"Klo lulus D3 atau S1 bisa sebagai staff di kantor dan S2 bisa langsung jadi manager di sebuah perusahaan"

"Berarti untuk mendapatkan pekerjaan yang enak di negeri Anda minimal harus lulus D3/S1 atau menempuh pendidikan selama kurang lebih 15-16 tahun ya?"

"Iya betul"

"Sekarang coba bandingkan dengan pendidikan yang Islam ajarkan."

"Misal selama 6 tahun pertama (SD) hanya mempelajari dan menghapal Al-Qur'an, apakah bisa hapal 30 juz?"

"In shaa Alloh bisa" jawab si rektor dengan yakin.

"Apakah ada hafidz Qur'an di negeri Anda yang bekerja sebagai buruh lepas atau tukang sapu seperti yang Anda sebutkan tadi untuk orang yang hanya Lulus SD?"

"Tidak ada", jawab si rektor.

"Jika dilanjut 3 tahun berikutnya mempelajari dan menghapal hadis apakah bisa menghapal ratusan hadis selama 3 tahun?"

"Bisa."

"Apakah ada di negara Anda orang yang hapal Al-Qur'an 30 juz dan ratusan hadis menjadi OB atau cleaning service?"

"Tidak ada."

"Lanjut 3 tahun setelah itu mempelajari tafsir Al-Qur'an, apakah ada di negara Anda orang yang hafidz Qur'an, hapal hadis dan bisa menguasai tafsir yang kerjanya sebagai operator di pabrik?" Tanya kembali ulama tersebut.

"Tidak ada."

Rektor tersebut mengangguk mulai mengerti maksud sang ulama. "Anda mulai paham maksud Saya?"

" Ya".

"Berapa lama pelajaran agama yang diberikan dalam seminggu?"

" Kurang lebih 2-3 jam."

Sang ulama melanjutkan pesannya kepada si rektor, "jika Anda ingin mencetak generasi yang cerdas, bermartabat, bermanfaat bagi bangsa dan agama, serta mendapatkan pekerjaan yang layak setelah lulus nanti, Anda harus merubah sistem pendidikan Anda dari orientasi dunia menjadi mengutamakan orientasi akhirat karena jika Kita berfokus pada akhirat inshaa Alloh dunia akan didapat. Tapi jika sistem pendidikan Anda hanya berorientasi pada dunia, maka dunia dan akhirat belum tentu akan didapat. Pelajari Al-Qur'an karena orang yang mempelajari Al-Qur'an, Alloh akan meninggikan derajat orang tersebut di mata hamba-hambaNya."

"Itulah sebabnya Anda tidak akan menemukan orang yang hafidz Qur'an di negara Anda atau di negara manapun yang berprofesi sebagai tukang sapu atau buruh lepas walaupun orang tersebut tidak belajar sampai ke jenjang pendidikan yang tinggi karena Alloh yang memberikan pekerjaan langsung untuk para hafidz Qur'an.Hafidz Qur'an adalah salah satu karyawan Alloh dan Alloh sayang sama mereka dan akan menggajinya lewat cara-cara yang menakjubkan."

"Tidak perlu gaji bulanan tapi hidup berkecukupan."

Semoga bermanfaat, dan dapat dijadikan rujukan bagi guru dan orang tua kaum muslimin. Silahkan dishare agar semakin banyak yang terinspirasi untuk mempelajari dan menghapal Al-Qur'an dan as sunnah. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/adakah-hafidz-quran-yang-berprofesi-tukang-sapu-rendahan.html

Selasa, 16 Oktober 2012

Cara Mbah Sholeh Darat Mendidik Orang Awam

KARTANU - Membincang figur KH Sholeh bin Umar bin Sholeh as Samarani (dikenal Mbah Sholeh Darat) tidak akan selesai dalam satu dua bulan. Banyak sisi menarik dari sosok pejuang ilmu dan Grand Syaikh ulama Jawa ini. Apalagi jika mendiskusikan karya-karya yang telah dicetak sebagai peninggalan pemikirannya.

Dari sisi ketokohan, Mbah Sholeh Darat bukan ulama biasa. Ia tergolong luar biasa karena merasakan betapa hidupnya diabadikan untuk dunia ilmu dan kebangsaan.

Cara Mbah Sholeh Darat Mendidik Orang Awam - KARTANU
Cara Mbah Sholeh Darat Mendidik Orang Awam - KARTANU


Cara Mbah Sholeh Darat Mendidik Orang Awam

Dalam dunia ilmu, Mbah Sholeh dikenal sebagai sosok yang konsisten dalam mencari ilmu dari ulama yang sangat otoritatif memiliki sanad ilmu yang bersambung hingga Rasulullah. Gurunya yang ada di Jawa dan Makkah juga bukan ulama biasa, melainkan ulama besar yang memiliki kapasitas keilmuan yang luar biasa.

Dari sisi kebangsaan, sosok Mbah Sholeh Darat hadir memberikan contoh dalam menghadang kolonisasi. Itu dilakukan karena ayah Mbah Sholeh adalah pasukan perang Diponegoro yang berjuang bersama dengan Kyai Darda' dan Kyai Sada'. Jika ayahnya melawan penjajah, Kyai Sholeh melawan penjajah dengan keilmuan.

KARTANU

Nalar keilmuan dan kebangsaan Mbah Sholeh menyatu menjadi keteguhan dalam membela masyarakat awam untuk tetap teguh berilmu dan berani menentang penjajah.

Meniru gaya pakaian penjajah saja bagi Mbah Sholeh itu haram. Maka para murid beliau KHR Asnawi Kudus dan KH Hasyim Asy'ari juga ikut menggelorakan haramnya memakai dasi, celana dan pakaian yang menyamai Belanda.

Dalam 13 naskah karya yang ditinggalkan Mbah Sholeh Darat yang saya miliki, semuanya disusun dengan bahasa Jawa dan huruf pegon (almarikiyyah). Secara tegas Mbah Sholeh menyatakan bahwa dengan bahasa Jawa itu akan mudah dipahami oleh orang awam.

KARTANU

Inilah yang menjadikan tanda nyata bahwa Mbah Sholeh hadir sebagai gurunya orang Jawa karena kitabnya dihadirkan dengan bahasa orang Jawa. Namun Mbah Sholeh masih tetap menuliskan kalimat-kalimat awalnya berasal dari bahasa Arab.

Jadi dapat diambil benang merah bahwa Mbah Sholeh masih konsisten menjaga originalitas bahasa Arab dan kemudian menerjemahkan dengan bahasa Jawa yang mudah dimengerti oleh orang awam. Dalam kondisi penjajahan Belanda saat itu, Mbah Sholeh dengan gigihnya menerjemahkan al-Qur'an, fiqh, tauhid, tasawwuf dan lainnya. Dan ini cukup kuat meyakinkan bahwa masyarakat Jawa didorong untuk kuat dalam menguasai ilmu-ilmu agama.

Mendidik orang awam memang butuh menggunakan bahasa orang awam. Begitu pula cara Mbah Sholeh Darat mendidik orang Jawa juga dengan bahasa Jawa.

Mbah Sholeh Darat sukses menjawakan al-Qur'an dalam karyanya Tafsir Faidlu al Rahman, dengan tetap menjaga dan mencantumkan ayat al Qur'an yang aslinya berbahasa Arab. Terjemahan al Qur'an karya Mbah Sholeh juga terdapat di dalam Kitab Fashalatan yang menjelaskan ayat-ayat juz 30 untuk bacaan shalat.

Betapa indah pilihan bahasa yang dipakai oleh Mbah Sholeh dalam mendidik dan menjelaskan pada orang awam. Tidak nampak sedikitpun cara ia mendikte orang awam, karena dengan ketawadlua'annya Mbah Sholeh menyebut dirinya juga sebagai orang awam.

Cukup kita tegaskan bahwa Mbah Sholeh Darat adalah guru sejati bagi orang awam. Guru yang ingin memandaikan orang-orang di kampung agar paham agama. Ilmu yang mendalam darinya dimanfaatkan untuk mencerdaskan orang awam.

Semoga kita semua bisa meneladani dan mampu membaca karya-karya yang ditinggalkan Mbah Sholeh Darat. KARTANU

Oleh M Rikza Chamami, dosen dan mahasiswa Program Doktor UIN Walisongo. Dapat dihubungi via email: rikzakudus@gmail.com

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/02/cara-mbah-sholeh-darat-mendidik-orang-awam-di-masa-kolonial.html

Minggu, 02 Oktober 2011

Kader NU Pimpin Shalat Tentara di Laut Lebanon

Beirut, KARTANU. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Lebanon dipercaya menjadi khatib dan imam Shalat Jumat di KRI Bung Tomo 357 Jumat (6/1) lalu.

Ustadz Dhiya Fakhri Abidin, Koordinator Lembaga Dakwah dan M. Audy Prasetyawan, Lajnah Nasyr wat Talif memimpin Shalat Jumat pasukan Garuda di atas kapal perang Indonesia di Lebanon. Pasukan tersebut tergabung dalam MTF UNIFIL yang bertugas menjaga wilayah perbatasan perairan Lebanon.

Kader NU Pimpin Shalat Tentara di Laut Lebanon (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader NU Pimpin Shalat Tentara di Laut Lebanon (Sumber Gambar : Nu Online)


Kader NU Pimpin Shalat Tentara di Laut Lebanon

Cuaca dingin yang sedang menyelimuti kota Beirut sehingga tidak memungkinkan melaksanakan Shalat Jumat di bagian dek kapal. Akhirnya Shalat Jumat dilaksanakan di lorong-lorong kapal yang membentuk satu barisan memanjang.

KARTANU

Ini kali pertama PCINU Lebanon mendapat kepercayaan untuk menyampaikan khutbah Jumat sekaligus mengimami pasukan garuda dibawah komando Kolonel Laut (P) Heri Triwibowo.

Ketua PCINU Lebanon Ustadz Rahmat Ilahi bangga atas perhatian Komandan KRI pada pelaksanaan ibadah para prajurit. Rahmat juga merasa terhormat PCINU Lebanon dipercaya menjadi imam dan khatib tersebut.

KARTANU

"Ini merupakan kehormatan sekaligus kesempatan kami untuk mengamalkan ilmu yang diajarkan ulama dan kiai-kiai kita, untuk bekerja sama dengan TNI atau pasukan perdamaian Garuda menjaga keamanan dunia," ungkapnya.

Warga NU, kata dia, mendoakan agar tugas para pasukan TNI di kapal tersebut selalu sukses dan berkah. (Red: Abdullah Alawi)

Dari (Internasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/74556/kader-nu-pimpin-shalat-tentara-di-laut-lebanon

KARTANU

Senin, 06 Juni 2011

Andai Saja Santri-Santri NU Mudah Dihasut dan Gampang Murka

KARTANU - Andai saja santri-santri NU gampang murka, mudah dihasut untuk melakukan massa aksi, waktu itu seluruhnya pasti akan turun ke jalan untuk menggugat yang menghina Kiai Said Agil, Gus Mus, dan Mbah Maimun.

Tapi rupanya, masalah ini cukupdiselesaikan dengan cara mengajak si 'penghina' sowan, bertabayyun, saling memaafkan, selesai perkara! Kini giliran Mbah Ma'ruf Amin, tokoh NU yang sangat dihormati, yang katanya diejek dan diancam.

Andai Saja Santri-Santri NU Mudah Dihasut dan Gampang Murka - KARTANU
Andai Saja Santri-Santri NU Mudah Dihasut dan Gampang Murka - KARTANU


Andai Saja Santri-Santri NU Mudah Dihasut dan Gampang Murka

Melihat berbagai berita di media sosial, saya tak mengendus bahwa penyelesaian masalah ini akan dilakukan seperti sebelumnya: sowan, tabayyun, saling memaafkan, selesai perkara! Bahkan yang jadi lucu, Kang Felix Shiaw saja tiba-tiba merasa terluka atas apa yang terjadi pada Mbah Ma'ruf.

KARTANU

Bung Jonru pun demikian, Aa Gym juga demikian, Zaitun Rasmin dan kawan-kawannyapun gak kalah berlagak menangis, bicara panjang lebar tentang Mbah Ma'ruf. Kemana mereka saat Gus Mus, Kiai Said dan Mbah Maimun dihina?

Apa mereka menulis juga bahwa 'Terkutuklah para penghina ulama'? Apa mereka menulis juga bahwa 'melecehkan ulama adalah melecehkan Islam' seperti kasus Mbah Ma'ruf? Tidak, bukan?

Coba lihat gambar yang bertebaran, tulisan yang berserakan, ada aroma bahkan hasutan bahwa dalam kasus ini, para santri NU tak boleh lagi tinggal diam, jangan lagi lemah lembut, jangan lagi memperlihatkan akhlak baik seperti sebelumnya. Apa karena yang mengejek itu si Ahok? Bukan orang-orang biasa seperti yang mengejek Kiai sepuh dulu?

Dikabarkan Mbah Ma'ruf sudah memaafkan atas apa yang terjadi padanya, tapi propaganda itu tak juga reda. "Ayo bela ulama! Ayo bela Kiai Ma'ruf! Ayo turun ke jalan! Ayo ganyang si penista agama yang melecehkan muruahnya kyai! Ayo kita siaga untuk berdemo!" kata beberapa tulisan.

KARTANU

Seharusnya yang fair dong, misal, ayo ganyang si penghina Gus Dur, ayo adili si penista Kiai Said Aqil, gitu baru Pembela Ulama Sejati. [KARTANU/ab]

Ditulis oleh Abdul Khamid, Pekalongan

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/andai-saja-santri-santri-nu-mudah-dihasut-dan-gampang-murka.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KARTANU sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KARTANU. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KARTANU dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock