Tampilkan postingan dengan label Hadis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hadis. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Juli 2016

Kenapa Bung Karno Diziarahi Kirab Resolusi Jihad NU?

Jakarta, KARTANU. PBNU menggelar Kirab Resolusi Jihad NU 2016 untuk memperingati Hari Santri Nasional pada bulan Oktober nanti. Kirab yang akan dimulai dari Banyuwangi (Jawa Timur) sampai Cilegon (Banten) tersebut diperkirakan akan menempuh jarak 2000 km.

Peserta kirab akan berziarah ke makam wali, kiai, bersilaturahim ke pesantren dan pengurus NU. Salah satu destinasi Kirab Resolusi Jihad NU 2016 adalah makam Prklamator Kemerdekaan RI Soekarno di Blitar, Jawa Timur.

Kenapa Bung Karno Diziarahi Kirab Resolusi Jihad NU? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenapa Bung Karno Diziarahi Kirab Resolusi Jihad NU? (Sumber Gambar : Nu Online)


Kenapa Bung Karno Diziarahi Kirab Resolusi Jihad NU?

Bung Karno merepresentasikan tokoh nasionalis, kata Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Ishfah Abidal Aziz ketika ditanya alasan kenapa makam Bung Karno diziarahi, di gedung PBNU, Jakarta Senin (19/9).

KARTANU

Menurut dia, di Indonesia, kalangan nasionalis dan agamis berkaitan erat, bisa bekerja sama. Dan itu terbukti dalam sejarah ketika Soekrno menjadi presiden, ulama-ulama dekat dengannya. Bahkan jauh sebelum ia menjadi presiden.

KARTANU

Islam di Indonesia, sebagaimana tercermin dalam tokoh utama NU, Hadrotusyekh KH Hasyim Asyari, bisa memadukan agama dan nasionalisme.

Lebih lanjut, alasan menziarahinya karena Resolusi Jihad itu bermula dari pertanyaan Soekarno, bagaimana hukumnya membela tanah air. Maka NU mengumpulkan kiai se-Jawa dan Madura. Hasilnya keluarlah Resolusi Jihad yang menyebutkan bahwa membela tanah air itu wajib bagi umat Islam. (Abdullah Alawi)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/71389/kenapa-bung-karno-diziarahi-kirab-resolusi-jihad-nu-

Jumat, 10 Juni 2016

Pelajar NU Gandrungmangu Isi Pesantren Ramadhan dengan Lakmud

Cilacap, KARTANU. Sebanyak 125 pelajar mengikuti pelatihan kader muda (Lakmud) yang diselenggarakan IPNU-IPPNU Gandrungmangu di MI Maarif NU 1 Layansari kecamatan Gandrungmangu kabupaten Cilacap. Pelatihan selama dua hari, Sabtu-Ahad (5-6/7) ini, mempersiapkan peserta menjadi kader NU berwawasan Aswaja.

Peserta Lakmud yang dimulai Sabtu (5/7) pagi ini ialah utusan dari empat belas ranting dan enam komisariat IPNU-IPPNU sekecamatan. Mereka juga mempelajari sejumlah keterampilan dalam kaderisasi ini seperti pelatihan Jurnalistik, seminar Kepemimpinan Masa Depan, dan praktik amaliyah Ramadhan.

Pelajar NU Gandrungmangu Isi Pesantren Ramadhan dengan Lakmud (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Gandrungmangu Isi Pesantren Ramadhan dengan Lakmud (Sumber Gambar : Nu Online)


Pelajar NU Gandrungmangu Isi Pesantren Ramadhan dengan Lakmud

Keluar dari sini, peserta harus sudah siap menjadi pemimpin dan pelopor masa depan pada masing-masing ranting dan komisariat, kata Ketua IPNU Gandrungmangu, Ali Mahfudz.

KARTANU

Kaderisasi ini berakhir Ahad (6/7) petang. Kegiatan yang diakhiri doa bersama dengan pengurus MWCNU Gandrungmangu beserta lembaga dan banom NU, menutup rangkaian kegiatan pesantren Ramadhan. (Ulun Najah-Amaliyatun Khofifah/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/53122/pelajar-nu-gandrungmangu-isi-pesantren-ramadhan-dengan-lakmud

KARTANU

KARTANU

Sabtu, 04 Juli 2015

Kader PMII UMI Pimpin KNPI Sulsel

Makassar, KARTANU. Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Selawesi Selatan menggelar Musyawarah Daerah yang diikuti puluhan organisasi kepemudaan yang tegabung dalam KNPI Sulsel. Dalam musyawarah tersebut Yasir Mahmud terpilih menjadi pemimpin.

Yasir Mahmud merupakan salah satu Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) komisariat UMI dari Fakultas Ekonomi UMI.

Kader PMII UMI Pimpin KNPI Sulsel (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader PMII UMI Pimpin KNPI Sulsel (Sumber Gambar : Nu Online)


Kader PMII UMI Pimpin KNPI Sulsel

Ketua PMII Komisariat UMI Cabang Makassar Fajar Rakasiwi mengucapkan selamat atas kemenangan tersebut. "Semoga dengan terpilihnya beliau dapat membawa perubahan di dunia pemuda khususnya di Sulsel," ujarnya.

KARTANU

Lanjut Fajar, kami yakin sahabat Yasir Mahmud dapat mempersatukan pemuda Sulawesi Selatan guna dapat berkonstribusi dalam pengawalan kebijakan di daerah. Kami dari PMII UMI siap mengawal sahabat Yasir Mahmud, tegas Fajar.

Dalam musyawarah di Hotel Clarion Rabu (14/12) tersebut, terdapat 4 kandidat calon ketua. Mereka diantaranya Arsoni, Yasir Mahmud, Ramanda Manji, dan Mujiburrahman.

Yasir Mahmud terpilih secara aklamasi kerena ketiga kandidat mengundurkan diri saat musyawarah berlangsung. "Semoga kepemimpinan Yasir Mahmud dapat mendapatkan legalitas secepatnya agar dapat menjalankan kepengurusan KNPI Sulsel," jelas Fajar. (Muhammad Aras Prabowo/Abdullah Alawi)

KARTANU

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/73871/kader-pmii-umi-pimpin-knpi-sulsel

KARTANU

Jumat, 23 November 2012

Ijazah Sholawat Agar Sanad Guru Sambung ke Rasulullah

KARTANU - Sholawat mulia ini telah diijazahkan oleh Habib Quraisy Baharun untuk setiap muslimin yang mau mengamalkannya. Beliau mendapatkan ijazah langsung dari Guru Mulia Maulana Habib Umar bin Hafidz.

Silahkan dishare dan diamalkan, dan komen di bawah ini: "Qabiltu Ijazataha" (saya terima ijazahnya).

Ijazah Sholawat Agar Sanad Guru Sambung ke Rasulullah - KARTANU
Ijazah Sholawat Agar Sanad Guru Sambung ke Rasulullah - KARTANU


Ijazah Sholawat Agar Sanad Guru Sambung ke Rasulullah

اللهم صل على سيدنا محمد النبي الأمي و على آله بعدد علمك

Cara bacanya: "Allahumma Sholli ala Sayyidina Muhammadinin Nabiyyil Ummiyyi wa Ala Alihi Biadadi Ilmik"

Aturannya: Dibaca 10.000 kali selama bulan Dzulhijjah.

KARTANU

Di luar bulan Dzulhijjah di baca 100 kali. Ketika di tanah Haram, Habib Umar mengatakan tentang sholawat ini, "Barang siapa mengamalkannya maka sanad gurunya adalah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam".

Hendaknya sholawat ini bisa dijadikan wirid harian. Sholawat yang kita baca akan sampai kepada Rasulullah. dan sekaligus bagian dari kita untuk bertawassul kepada Baginda Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wa sallam. [KARTANU]

KARTANU

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/ijazah-sholawat-agar-sanad-guru-sambung-ke-rasulullah.html

Selasa, 16 Oktober 2012

Cara Mbah Sholeh Darat Mendidik Orang Awam

KARTANU - Membincang figur KH Sholeh bin Umar bin Sholeh as Samarani (dikenal Mbah Sholeh Darat) tidak akan selesai dalam satu dua bulan. Banyak sisi menarik dari sosok pejuang ilmu dan Grand Syaikh ulama Jawa ini. Apalagi jika mendiskusikan karya-karya yang telah dicetak sebagai peninggalan pemikirannya.

Dari sisi ketokohan, Mbah Sholeh Darat bukan ulama biasa. Ia tergolong luar biasa karena merasakan betapa hidupnya diabadikan untuk dunia ilmu dan kebangsaan.

Cara Mbah Sholeh Darat Mendidik Orang Awam - KARTANU
Cara Mbah Sholeh Darat Mendidik Orang Awam - KARTANU


Cara Mbah Sholeh Darat Mendidik Orang Awam

Dalam dunia ilmu, Mbah Sholeh dikenal sebagai sosok yang konsisten dalam mencari ilmu dari ulama yang sangat otoritatif memiliki sanad ilmu yang bersambung hingga Rasulullah. Gurunya yang ada di Jawa dan Makkah juga bukan ulama biasa, melainkan ulama besar yang memiliki kapasitas keilmuan yang luar biasa.

Dari sisi kebangsaan, sosok Mbah Sholeh Darat hadir memberikan contoh dalam menghadang kolonisasi. Itu dilakukan karena ayah Mbah Sholeh adalah pasukan perang Diponegoro yang berjuang bersama dengan Kyai Darda' dan Kyai Sada'. Jika ayahnya melawan penjajah, Kyai Sholeh melawan penjajah dengan keilmuan.

KARTANU

Nalar keilmuan dan kebangsaan Mbah Sholeh menyatu menjadi keteguhan dalam membela masyarakat awam untuk tetap teguh berilmu dan berani menentang penjajah.

Meniru gaya pakaian penjajah saja bagi Mbah Sholeh itu haram. Maka para murid beliau KHR Asnawi Kudus dan KH Hasyim Asy'ari juga ikut menggelorakan haramnya memakai dasi, celana dan pakaian yang menyamai Belanda.

Dalam 13 naskah karya yang ditinggalkan Mbah Sholeh Darat yang saya miliki, semuanya disusun dengan bahasa Jawa dan huruf pegon (almarikiyyah). Secara tegas Mbah Sholeh menyatakan bahwa dengan bahasa Jawa itu akan mudah dipahami oleh orang awam.

KARTANU

Inilah yang menjadikan tanda nyata bahwa Mbah Sholeh hadir sebagai gurunya orang Jawa karena kitabnya dihadirkan dengan bahasa orang Jawa. Namun Mbah Sholeh masih tetap menuliskan kalimat-kalimat awalnya berasal dari bahasa Arab.

Jadi dapat diambil benang merah bahwa Mbah Sholeh masih konsisten menjaga originalitas bahasa Arab dan kemudian menerjemahkan dengan bahasa Jawa yang mudah dimengerti oleh orang awam. Dalam kondisi penjajahan Belanda saat itu, Mbah Sholeh dengan gigihnya menerjemahkan al-Qur'an, fiqh, tauhid, tasawwuf dan lainnya. Dan ini cukup kuat meyakinkan bahwa masyarakat Jawa didorong untuk kuat dalam menguasai ilmu-ilmu agama.

Mendidik orang awam memang butuh menggunakan bahasa orang awam. Begitu pula cara Mbah Sholeh Darat mendidik orang Jawa juga dengan bahasa Jawa.

Mbah Sholeh Darat sukses menjawakan al-Qur'an dalam karyanya Tafsir Faidlu al Rahman, dengan tetap menjaga dan mencantumkan ayat al Qur'an yang aslinya berbahasa Arab. Terjemahan al Qur'an karya Mbah Sholeh juga terdapat di dalam Kitab Fashalatan yang menjelaskan ayat-ayat juz 30 untuk bacaan shalat.

Betapa indah pilihan bahasa yang dipakai oleh Mbah Sholeh dalam mendidik dan menjelaskan pada orang awam. Tidak nampak sedikitpun cara ia mendikte orang awam, karena dengan ketawadlua'annya Mbah Sholeh menyebut dirinya juga sebagai orang awam.

Cukup kita tegaskan bahwa Mbah Sholeh Darat adalah guru sejati bagi orang awam. Guru yang ingin memandaikan orang-orang di kampung agar paham agama. Ilmu yang mendalam darinya dimanfaatkan untuk mencerdaskan orang awam.

Semoga kita semua bisa meneladani dan mampu membaca karya-karya yang ditinggalkan Mbah Sholeh Darat. KARTANU

Oleh M Rikza Chamami, dosen dan mahasiswa Program Doktor UIN Walisongo. Dapat dihubungi via email: rikzakudus@gmail.com

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/02/cara-mbah-sholeh-darat-mendidik-orang-awam-di-masa-kolonial.html

Senin, 16 Januari 2012

Sahabat Nabi Tidak Rayakan Maulid, Bidah Dong!

KARTANU - Umat Islam yakin seyakin-yakinnya bahwa para sahabat adalah sekelompok manusia mulia yang tidak diragukan kadar cinta mereka kepada Nabi Muhammad SAW. Pertanyaan muncul, mengapa kita saat ini melakukan Maulid Nabi, padahal sahabat tidak melakukannya. (Silakan dikorekasi jika ternyata ada riwayat sahabat merayakan maulid Nabi).

Apakah peringatan maulid yang dilakukan umat Islam saat ini bisa jadi tolak ukur cintanya kepada Nabi Muhammad? Bahkan ditanyakan juga, apakah cinta sebagian umat Islam yang ikut memeringati Maulid Nabi saat ini melebihi cinta para sahabat yang pernah hidup bersama Nabi, hanya karena umat saat ini memperingati kelahiran Nabi, sedang sahabat tidak?

Sahabat Nabi Tidak Rayakan Maulid, Bidah Dong! - KARTANU
Sahabat Nabi Tidak Rayakan Maulid, Bidah Dong! - KARTANU


Sahabat Nabi Tidak Rayakan Maulid, Bidah Dong!

Jawabannya, justru karena umat saat ini yang tak pernah berjumpa dengan Nabi itulah yang seharusnya memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dengan cara membaca kembali kisah hidup perjuangan beliau, sejak lahir hingga wafat.

Apakah salah kita membaca kisah hidup sang Nabi akhir zaman kekasih Allah ini? Harusnya, kita wajib membaca dan mempelajari sejarah hidup Nabi Muhamad SAW, agar tumbuh cinta dan sayang kapada Nabi.

KARTANU

Bukankah peribahasa mengatakan, tak kenal maka tak sayang? Lalu dengan cara apa lagi kita bisa mengenal Nabi jika tidak pernah membaca sejarah hidup beliau, akhi? Maka sangat patut dan harus membacanya, sebagaimana banyak ditulis oleh para ulama dalam berbagai kitab sirah dan kitab maulid seperti Simtud Duror karangan Assayyidil Habib Ali bin Muhammad Alhabsy, Barzanji, Addiba’i dan juga Qashidah Burdah karya Assyekh Abi Abdillah Muhammad Albushiry.

Kita yang tidak pernah hidup dan melihat langsung Nabi Muhammad Saw. inilah yang harus dibangkitkan cintanya. Adapun para sahabat Nabi adalah saksi yang melihat langsung bagaimana Nabi Muhammad SAW berjuang dan berdakwah, sehingga tidak diragukan lagi rasa cintanya kepada Nabi.

Disamping itu, buku-buku tentang kisah hidup Nabi ditulis jauh masanya setelah para sahabat meninggal. Bahkan buku-buku kisah Nabi itu bersumber dari keterangan lisan para sahabat yang kemudian ditulis oleh para ulama.

KARTANU

Allah juga memerintahkan kepada kita untuk mempelajari kisah hidup para Nabi sebelum Nabi Muhammad SAW, sebagaimana ayat-ayat berikut ini:

1. Surat Maryam ayat 41:  “Ceritakanlah (Hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al-Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi.”

2. Surat Maryam ayat 51: Dan ceritakanlah (Hai Muhammad kepada mereka), kisah Musa di dalam Al-Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang dipilih dan seorang rasul dan nabi.

3. Surat Maryam ayat 54: Dan ceritakanlah (Hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi.

4. Surat Maryam ayat 56: Dan ceritakanlah (Hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi.

Coba perhatikan ayat-ayat di atas, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk menceritakan kisah para Nabi terdahulu dalam rangka menguatkan iman dan islamnya para sahabat ketika itu. Mengapa? Karena para sahabat tidak pernah tahu apalagi melihat langsung kehidupan Nabi terdahulu.

Karena itulah kisah hidup perjuangan Nabi Muhammad SAW patut juga kita pelajari dan baca kembali, melalui berbagai media apapun, termasuk dengan cara membaca Kitab Maulid seperti sudah disebutkan di atas.

Jika masih ada saja yang membenci perayaan maulid Nabi, melarangnya, bahkan mensyirikkannya, maka firman Allah di bawah ini rasanya tepat dijadikan jawaban,

Artinya: "Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: "Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil". (QS. al-Qoshos: 55). Wallahu’alam. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/sahabat-nabi-tidak-rayakan-maulid-bidah-dong.html

Minggu, 06 November 2011

Masjid adalah Pusat Peradaban

Semarang, KARTANU. Masjid adalah pusat peradaban. Bukan semata tempat sholat berjamaah atau ibadah ritual semata. Dari masjidlah peradaban Islam dibangun dan dikembangkan.

Dalam sejarahnya, masjid pertama yang didirikan oleh Nabi Muhammad, yaitu Masjid Quba, difungsikan sebagai tempat bermusyawarah untuk membahas soal ekonomi, masalah masyarakat, strategi perang dan sebagainya. Juga masjid kedua, yaitu Masjid Nabawi di Madinah, juga berfungsi luas. Semua persoalan umat dirembug di masjid oleh Nabi dan para sahabatnya.

Masjid adalah Pusat Peradaban (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid adalah Pusat Peradaban (Sumber Gambar : Nu Online)


Masjid adalah Pusat Peradaban

Hal itu disampaikan pengasuh Ponpes Al-Fadlu wal Fadilah Kaliwungu Kendal, KH Dimyati Rois, dalam Peringatan Tahun Baru Hijriyah 1433 di Masjid Agung Jawa Tengah, Senin (6/12) malam.

Acara dihadiri ketua BP MAJT Ali Mufiz dan jajarannya, Kepala Biro Bintal Pemprov Jateng Sunarto, ketua Takmis Masjid Agung Semarang KH Hanief Ismail, anggota DPRD Jateng Gatyt Sari Chotijah, serta ratusan kaum muslimin dan tamu undangan.

KARTANU

Islam itu agama universal. Mencakup semua aspek kehidupan. Pusatnya ada di masjid. Dari masjidlah peradaban Islam dibangun dan dikembangkan, tutur Kiai Dimyati.

KARTANU

Dikatakannya, masjid besar seperti MAJT harus bisa meniru masjid buatan Rasul. Yaitu menjadi pusat dakwah, pusat pendidikan, serta pusat membangun peradaban Islam. Tidak boleh tabu membahas soal ekonomi, politik, dan lainnya.

Ia juga mengingatkan bahwa tidak ada urusan yang tidak wajib dalam Islam. Ada yang fardhu ain (semua orang wajib menguasainya), ada pula fardhu kifayah (cukup dikuasai oleh para ahli).

Mengutip Imam Al-Ghazali Mbah Dim menjelaskan, sudah lebih dari seribu tahun lalu, saat sebelum orang Eropa mengenal industri, Imam Ghazali sudah mengajarkan bahwa umat Islam harus menguasai industri dan teknologi. Dan ilmu itu diolah dan diajarkan di dalam masjid.

Semua urusan umat harus diurus oleh Islam, melalui pusatnya yaitu masjid. Industri dan teknologi sudah diajarkan Imam Ghazali lebih seribu tahun lalu, ujarnya.

Mbah Dim, panggilan akrabnya, juga menguraikan sejarah hijrah Nabi Muhammad. Dia sebutkan, sebelum Nabi mendirikan Masjid Nabawi, di tengah antara Quba dan Yatsrib (sekarang Madinah), Nabi menunaikan sholat Jumat di tanah lapang di sebuah lembah bernama Ranunah. Dari tempat itulah Bani Sulaim yang menghuni kawasan situ mendirikan masjid yang kemudian disebut Masjid Jumah.

Kepala Biro Bintal pemprov Jateng Sunarto yang membacakan sambutan gubernur menyampaikan, pengajian ini dapat memberikan pencerahan bagi jamaah tentang makna tahun baru Islam. Dia mengharapkan momentum itu membuat kondisi Jawa Tengah yang aman, tentram dan berkah.

Redaktur : Mukafi Niam

Kontributor: Muhammad Ichwan

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/35172/masjid-adalah-pusat-peradaban

KARTANU

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KARTANU sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KARTANU. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KARTANU dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock