Tampilkan postingan dengan label NetizenNu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NetizenNu. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 November 2015

Pagar Nusa Jember Bina 400 Pelajar di Pesantren

Jember, KARTANU. Aktivitas pencak silat Pagar Nusa Kabupaten Jember, Jawa Timur, terus bergeliat. Badan Otonom NU yang membidangi olah raga bela diri ini terus menyemai bibit baru pesilat, utamanya di kalangan para pelajar.

Sejak Sabtu (15/2) kemarin, sekitar 400 pelajar mengikuti pembinaan pencak silat yang dipusatkan di Pesantren Nurul Qarnain Kecamatan Sukowono, Jember.

Pagar Nusa Jember Bina 400 Pelajar di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Jember Bina 400 Pelajar di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)


Pagar Nusa Jember Bina 400 Pelajar di Pesantren

Ini sebenarnya realisasi hasil keputusan rapat beberapa hari lalu di kantor NU, bahwa kami akan memberi pembinaan bagi kader-kader NU yang cinta pencak silat, khususnya Jember bagian utara-timur, jelas Wakil Ketua Pimpinan Cabang Pencak Silat NU Pagar Nusa Kabupaten Jember H Fathurrosi kepada KARTANU.

KARTANU

Menurut alumni Pesantren Salafiyah-Syafiiyah Sukorejo, Situbondo, itu, ratusan pelajar tersebut akan dilatih silat minimal dua kali dalam seminggu. Tujuannya adalah untuk mencari bibit-bibit baru, yang diharapkan kelak menjadi kader NU yang tangguh baik secara psikis maupun fisik. Ini juga bisa jadi syiar dakwah Islam, tuturnya.

Selain itu, PC Pagar Nusa Kabupaten Jember saat ini juga tengah menggembleng 15 santri, yang latihannya dipusatkan di Pesantren Darussholah. Mereka dilatih tiap setelah jam pelajaran berakhir. Tiga di antara mereka dipersiapkan untuk mengikuti Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Jember. (Aryudi A Razaq/Mahbib)

KARTANU

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/50209/pagar-nusa-jember-bina-400-pelajar-di-pesantren

KARTANU

Senin, 20 Juli 2015

Akibat Durhaka Kepada Kiai, Santri Ini Tak Punya Taji

KARTANU - Dikisahkan, belasan tahun lalu seorang santri jenius yang mondok di Rubath Tarim yang saat itu diasuh Habib Abdullah bin Umar Assyathiri. Di sana, ia dikenal sebagai santri yang sangat alim hingga mampu menghafal kitab Tuhfatul Muhtaj 4 jilid. Siapa tak kenal dia? Semua pun tahu bahwa ia sangat alim, bahkan diprediksi kelak akan menjadi ulama besar.

Akibat Durhaka Kepada Kiai, Santri Ini Tak Punya Taji - KARTANU
Akibat Durhaka Kepada Kiai, Santri Ini Tak Punya Taji - KARTANU


Akibat Durhaka Kepada Kiai, Santri Ini Tak Punya Taji

Nah, suatu hari di saat Habib Abdullah mengisi pengajian rutin di pondok, tiba tiba Sang Habib pengasuh pondok tersebut bertanya tentang santri yang sangat terkenal alim itu, "kemana si Fulan?", semua santri bingung tak bisa menjawab pertanyaan sang guru.

Ternyata santri yang alim tadi tidak ada di pondok. Ia keluar berniat mengisi pengajian di sebuah kota yang bernama Mukalla. Tapi ia keluar tanpa izin. Akhirnya, Habib Abdullah Asysyathiri yang kondang allamah (sangat alim) dan kewaliannya itu berkata, "baiklah, orangnya boleh keluar tanpa izin, tapi ilmunya tetap di sini!".

Di kota Mukalla, santri yang alim tersebut sangat dinanti-nantikan oleh para pecinta ilmu untuk mengisi pengajian di Masjid Omar Mukalla. Singkat cerita, si santri ini pun maju ke depan dan mulai membuka ceramahnya dengan salam dan muqaddimah pendek.

Subhanallah, ternyata setelah membaca amma ba'du, si alim ini tak mampu berkata sama sekali, bahkan untuk menerangkan kitab paling tipis sekelas Safinah sedikit pun tak mampu ia ingat. Sontak dia tertunduk dan menangis. Para hadirin pun heran, "ada apa ini?" Akhirnya Salah satu ulama kota Mukalla menghapirinya dan bertanya, "saudara mengapa begini? Apa yang saudara lakukan sebelumnya?"

Dia menjawab, "aku keluar tanpa izin guruku di pesantren." Dia terus menangis, dan beberapa orang menyarankan agar ia meminta maaf kepada Habib Abdullah Asysyathiri. Namun dengan sombongnya ia tidak mau meminta maaf.

Kesombongannya ini membuat semua orang menjauhinya, dan tidak ada satupun yang peduli padanya, bahkan setelah itu hidupnya sangat miskin dan terlunta lunta. Sehingga ia bisa bekerja apapun kecuali hanya dengan menjual daging ikan kering.

Dan di saat ia meninggal, dia mati dalam keadaan miskin bahkan kain kafannya pun tak mampu dibeli dan akhirnya diberi oleh seseorang. ***

"Santri yang ilmunya berkah bukanlah yang paling banyak hafalannya, yang paling bagus dalam membaca kitabnya, yang selalu juara kelas. Tapi santri yang berkah dan bermanfaat adalah yang paling hormat dan taat kepada gurunya. Dan menganggap dirinya bukan siapa-siapa di hadapan Gurunya."

Di Hari Santri ini, mudah-mudahan dapat mengingatkan kita kembali akan pentingnya mendapatkan ilmu yang berkah, bukan sekadar pintar. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/akibat-durhaka-kepada-kiai-santri-ini-tak-punya-taji.html

Sabtu, 21 September 2013

Pengelanaan dan Karya Kiai Ihsan Jampes

Syahdan, tidak lama dari mimpinya yang monumental itu, untuk pertama kali dalam hidupnya, Bakri keluar dari pesantren ayahnya untuk melanglang buana mencari ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain.

Beberapa pesantren yang sempat disinggahi Kiai Ihsan kecil adalah Pesantren Bendo Pare Kediri asuhan KH. Khozin (paman Bakri sendiri), Pondok Pesantren Jamseran Solo, Pondok Pesantren asuhan KH. Dahlan Semarang, Pondok Pesantren Mangkang Semarang, Pondok Pesantren Punduh Magelang, Pondok Pesantren Gondanglegi Nganjuk, dan Pondok Pesantren Bangkalan Madura asuhan KH. Kholil, sang Guru Para Ulama.

Dari rihlah ilmiah-nya, ada satu kebiasaan yang sering dilakukan Bakri, yakni ia tidak pernah menghabiskan banyak waktu di pesantren-pesantren tersebut. Misalnya, untuk belajar Alfiah Ibnu Malik yang berisi seribu bait tentang rumus dan teori Gramatika Arab (Nahwu dan Sharf) Bakri belajar dari KH. Kholil Bangkalan dan hanya menghabiskan waktu dua bulan; belajar ilmu falak (astronomi) kepada KH. Dahlan Semarang dan hanya tinggal di pesantrennya selama 20 hari; sedangkan di Pesantren Jamsaran Kediri ia hanya tinggal selama satu bulan. Namun demikian, ia selalu berhasil menguasai dan memboyong ilmu para gurunya tersebut dengan kemampuan di atas rata-rata.

Keunikan lainnya yang dapat disimak yaitu di setiap pesantren yang ia singgahi, Bakri selalu menyamar. Ia tidak mau dikenal sebagai gus (sebutan anak kiai); tidak ingin diketahui identitas aslinya sebagai putra kiai tersohor, KH. Dahlan Jampes. Bahkan, setiap kali kedoknya terbuka sehingga santri-santri tahu bahwa ia adalah gus dari Jampes, dengan serta merta ia akan segera pergi, menghilang dari pesantren tersebut untuk pindah pesantren lain. Alih-alih kebiasaan atau tradisi di dunia pesantren yang sering kali mengelu-elukan dan memanjakan para gus, anak kiai, seringkali memabukkan dan membius para gus, mereka kebal hukum dan peraturan pesantren, dan berujung pada ketidak seriusan belajar. Dan tradisi itulah yang hendak dihindari oleh Bakri, lantaran di mata Bakri tradisi itu tidak kondusif dalam proses belajar dan sering kali membentuk karakteristik feodal yang tidak baik.

Pengelanaan dan Karya Kiai Ihsan Jampes (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengelanaan dan Karya Kiai Ihsan Jampes (Sumber Gambar : Nu Online)


Pengelanaan dan Karya Kiai Ihsan Jampes

Pada tahun 1932, setelah selesai melalui tour ilmiyah itu, Bakri inobatkan menjadi pengasuh atau pemimpin Pondok Pesantren Jampes, Kediri. Sejak saat itulah Bakri terkenal sebagai pengasuh Pesantren Jampes. Ada banyak perkembangan yang signifikan di Pesantren Jampes setelah Syekh Ihsan diangkat sebagai pengasuh. Secara kuantitas, misalnya, jumlah santri terus bertambah dengan pesat dari tahun ke tahun, semula sekitar 150 santri menjadi sekitar 1000 santri lebih, sehingga Pesantren Jampes harus diperluas hingga memerlukan 1,5 hektar tanah. Secara kualitas, materi pelajaran juga semakin terkonsep dan terjadwal dengan didirikannya Madrasah Diniyah Mafatihul Huda pada 1942.

Sebagai seorang kiai, Syekh Ihsan mengerahkan seluruh perhatian, pikiran dan segenap tenaganya untuk diabdikan kepada santri dan pesantren. Hari-harinya hanya dipenuhi aktivitas spiritual dan intelektual; mengajar santri (ngaji), shalat jamaah, shalat malam, mutholaah (mengkaji) kitab, ataupun menulis kitab. Meskipun seluruh waktunya didesikannya untuk santri, Syekh Ihsan tidak melupakan masyarakat umum. Syekh Ihsan dikenal memiliki ilmu hikmah dan menguasai ketabiban. Hampir setiap hari, di sela-sela kesibukannya mengajar santri, Syekh Ihsan masih sempat menerima tamu dari berbagai daerah dan kalangan yang meminta bantuannya. Keilmuan hikmah yang dimilikinya ini berkat penguasaannya yang baik terhadap kitab-kitab hikmah seperti Syamsul-Maarif karya al-Buni, Mamba Ushul al-Hikmah, Kitab al-Aufaq karya Imam al-Ghazali, dan lain-lain. Bahkan keilmuan hikmah ini ia integrasikan dan kolaborasikan dengan ilmu falak yang telah difahaminya secara mendalam.

KARTANU

Pada masa revolusi fisik 1945, Syekh Ihsan juga memiliki andil penting dalam perjuangan bangsa. Pesantren Jampes selalu menjadi tempat transit para pejuang dan gerilyawan republik yang hendak menyerang Belanda. Di Pesantren Jampes, mereka meminta doa restu Syekh Ihsan sebelum melanjutkan perjalanan. Bahkan, beberapa kali Syekh Ihsan turut mengirim santri-santrinya untuk ikut berjuang di garis depan. Jika desa-desa di sekitar pesantren menjadi ajang pertempuran, penduduk yang mengungsi akan memilih Pesantren Jampes sebagai lokasi teraman, sementara Syekh Ihsan membuka gerbang pesantrennya lebar-lebar.

Sumbangan Syekh Ihsan yang sangat besar adalah karya-karya yang ditinggalkannya bagi masyarakat muslim Indonesia, bahkan umat Islam seluruh dunia. Sudah banyak pakar yang mengakui dan mengagumi kedalaman karya-karya Syekh Ihsan, khususnya karya magnum opus-nya, kitab yang berjudul Sirojut-Tholibin, kitab syarah (penjelasan) dari kitab Minhajul-Abidin karya Imam al-Ghazali, terbit pertama kali pada 1932 setebal sekitar 800 halaman. Kitab ini mengulas tasawuf. Syekh Ihsan mendapatkan penghargaan dan legitimasi ilmiyahnya di mata dunia Islam, ketika kitab tersebut diterbitkan oleh sebuah penerbit besar di Mesir, Musthafa al-Bab al-Halab, sebuah penerbit yang berorientasi menerbitkan kitab-kitab kuning (turats), yang sampai saat ini masih eksis. Di antara kitab tasawuf yang ditulis syekh Ihsan adalah kitab Manahijul-Imdad , sebuah syarah (penjelasan) dari kitab Irsyadul-Ibad karya Syekh Zainudin al-Malibari, terbit pertama kalinya pada tahun 1940 setebal sekitar 1088 halaman, mengulas tasawuf secara luas dan mendalam.

KARTANU

Sebelum menulis tentang tasawuf, syekh Ihsan berkelana mengelilingi tanah Jawa. Sebuah perjalanan apostolik sebagaimana tradisi para sufi darwis. Dalam perjalanan apostoliknya, ia menjumpai dan berdialog sekaligus menimba ilmu secara singkat dari hampir seluruh ulama tasawuf, mursid tharekat, dan para kiai yang terkenal keilmuan dan kezuhudannya. Bahkan, ia pun menjumpai para tokoh kejawen, pengikut kepercayaan, dan mengajak mendiskusikan secara mendalam persoalan filsafat, spiritual, dan pandangan-pandangan spiritual.

Lebih menakjubkan lagi, ia pun menjumpai para dukun dari berbagai jenisnya, lantaran para dukun dianggap memiliki pandangan dunianya sendiri yang harus diselami. Dari pengalaman perjalanan spiritualnya yang telah menggondol segudang informasi dan ilmu itu menjadi salah satu modal dalam mengkonsepsikan pandangan tasawufnya yang dielaborasikan dengan mengikutsertakan pengalaman pribadi, eksperimentasi spiritual, ritual, pandangan pewayangan, dan pentakwilan atas segenap teks normatif Islam, al-Quran dan hadits.

Pada saat-saat menulis karya-karyanya tersebut, syekh Ikhsan dengan tekun menuliskannya yang tak kenal lelah, tak kenal waktu, bergadang, malam yang hening dilaluinya dengan ditemani segelas kopi dan berbatang-batang rokok. Karena memiliki kebiasaan meminum kopi dan menghisap rokok, akhirnya menginspirasikan lahirnya sebuah kitab yang ditulisnya dengan judul kitab Irsyadul-Ikhwan fi Bayani Hukmi Syurbil-Qohwah wad-Dukhon. Kitab ini diadaptasi dari kitab kumpulan syair-syair atau puisi dari kitab Tadzkiratul-Ikhwan fi Bayanil-Qahwah wad-Dukhan karya KH. Ahmad Dahlan Semarang, yang kemudian diberi penjelasan (syarh), tebalnya 50 halaman. Buku ini berbicara tentang polemik hukum merokok dan minum kopi.

Disamping dikenal sebagai pakar tasawuf, syekh Ihsan juga merupakan ulama dan masuk dalam deretan nama pakar ilmu falak (astronomi). Salah satu karya akademik di bidang ini adalah kitab Tashrihl-Ibarot, syarah (penjelasan) dari kitab Natijatul-Miqot karya KH. Ahmad Dahlan Semarang, terbit pertama kali pada 1930, setebal 48 halaman.

Seorang sufi yang juga penuh karya akademiknya ini akhirnya pada Senin, 25 Dzul-Hijjah 1371 H. atau September 1952, dipanggil oleh Allah SWT. Usianya yang baru melewati setengan abad ini, 51 tahun, meninggalkan ribuan santri, seorang istri dan delapan putra-puteri. Kuburannya hingga saat ini ramai dikunjungi oleh para peziarah, khususnya dari warga NU.

Tak ada warisan yang terlalu berarti dibandingkan dengan ilmu yang telah dia tebarkan, baik ilmu yang kemudian tersimpan dalam korpus kitab-kitab karyanya yang abadi maupun yang terrekam dan tersimpan di dalam hati para murid-muridnya. Beberapa murid Syekh Ihsan yang mewarisi dan meneruskan perjuangannya dalam berdakwah melalui pesantren adalah Kiai Soim pengasuh pesantren di Tanggir Tuban, KH. Zubaidi di Mantenan Blitar, KH. Mustholih di Kesugihan Cilacap, KH. Busyairi di Sampang Madura, K. Hambali di Plumbon Cirebon, K. Khazin di Tegal, dan lain-lain.

Setahun yang lalu, penulis berziarah kemakamnya dan ke pesantren peninggalannya yang bersahaja dengan disambut oleh KH. Busyro, pengasuh pesantren peninggalan sang sufi kita. Kami berbincang-bincang di rumah KH. Busyro seputar karya-karya sang sufi. Beliau bercerita bahwa sejatinya Gus Dur, panggilan akrab mendiang KH. Abdurrahman Wahid, pernah ingin memperjuangkan salah satu naskah sang sufi yang belum sempat tersebar ke penjuru dunia Islam, yaitu kitab Manahijul -Imdad. Gus Dur meng-copy manuskrip (makhthuthat) kitab tersebut dan diserahkan ke Syekh Sayyed al-Maliki, dengan harapan mendapatkan tashih atau tahqiq dan diterbitkan di Arab. Akan tetapi dalam penantian yang panjang, kitab tidak kunjung diterbitkan. Akhirnya atas dasar inisiatif KH. Busyro sekeluarga, kitab tersebut telah diterbitkan oleh keluarga kiai Ihsan dengan dicetak cukup sederhana dan dalam jumlah terbatas. Tanpa disangka dan diduga, kitab tersebut dalam waktu singkat ludes dipasaran. Karena, rupa-rupanya para kiai dan santri betul-betul menanti-nantikan karya syekh Ihsan itu. Akhirnya ketika sudah ada di depan mata, mereka memburu dan berebut untuk mendapatkannya. Penulis sendiri pada waktu keliling pesantren salaf, tidak mendapatkan kitab tersebut. Dan penulis sempat mensarankan pada KH. Busyro agar kitab tersebut dicetak kembali.

Karya-karya syekh Ihsan sebagian besar telah dikaji dan dibaca oleh para kiai dan santri di pesantren salaf-tradisional. Khususnya kitab magnum opusnya, yaitu Sirojut-Tholibin. Bahkan sebagian kiai Lirboyo-Kediri membacanya setiap tahun sebagai ritual pengajian sehari-hari. Tidak diragukan lagi jika paradigma sufistiknya yang bernuansa Ghazalian yang mengusung perkawinan tasawuf dan syariah telah berpengaruh besar terhadap paradigma nalar sufisme kaum santri yang berbasis NU (Nahdlatul Ulama).

Mukti Ali

Program Officer Manuskrip Nusantara & Peneliti Rumah Kitab

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/48472/pengelanaan-dan-karya-kiai-ihsan-jampes

Rabu, 19 Juni 2013

Habibie Persilakan Pasien Miskin Berobat Gratis di Rumah Sakit Khusus Ginjal

KARTANU - Mantan Presiden RI ke-3, BJ Habibie, meresmikan gedung baru Rumah Sakit Khusus Ginjal (RSKG) Ny RA Habibie, Senin (8/8/2016). Menurut Habibie, pasien miskin yang datang ke rumah sakitnya bisa berobat gratis. "Kalau memang tidak mampu membiayai, dia dapat dengan cuma-cuma. Ya, memang persyaratan gitu. Itu persyaratan dari ibu saya dan yang meneruskan adik kandung saya," ujar Habibie kepada wartawan, Senin (8/8/2016).

Menurut Habibie, masyarakat yang tak punya apa-apa, silakan datang dan diperiksa.‬ Harapannya, RS Ginjal tersebut bisa benar-benar membantu sumber daya manusia Indonesia agar kesehatannya baik. "Dan bisa benar-benar bekerja produktif dan jadi unggul," katanya.‬

Habibie Persilakan Pasien Miskin Berobat Gratis di Rumah Sakit Khusus Ginjal - KARTANU
Habibie Persilakan Pasien Miskin Berobat Gratis di Rumah Sakit Khusus Ginjal - KARTANU


Habibie Persilakan Pasien Miskin Berobat Gratis di Rumah Sakit Khusus Ginjal

Habibie menjelaskan, sebenarnya yang mahal dalam proses cuci darah adalah cairannya. RS Ny RA Habibie, sudah memiliki teknologi untuk membuat cairan sendiri. Bahkan, pihaknya sudah membantu beberapa kabupaten yang secara statistik di daerah tersebut banyak menderita gagal ginjal.

"Dikasih mesinnya cuma-cuma dan dikasih cairannya, tapi datang kesini, diambil," katanya.

KARTANU

Bahkan, dia mengatakan kalau ada petugas di daerah yang harus dididik, rumah sakitnya siap memberikan pelatihan. "Kita didik di sini‬. Kalau antar (cairannya, red) kita enggak kuat," katanya.

KARTANU

RS Ginjal ini, Habibie mengatakan ada dua yang besar yakni di Bandung dan Batam. Sekarang, yang ketiga masih dalam proses pembuatan dengan mengambil lokasi di Gorontalo. "Ada juga untuk mata, di Bogor. Kita bantu keluarga di Indonesia sebagai mata air," katanya.

Habibie mengatakan, dia ingin menyumbangkan karya nyata untuk pembangunan bangsanya. Semua orang pun, harus berusaha menjadi mata air. "Kalau setiap keluarga jadi mata air Indonesia akan semakin tenteram," katanya.

Habibie mengatakan, jangan menyerahkan semua persoalan pada pemerintah. Karena, masyarakat justru bisa lebih kuat jika saling membantu.

Dalam acara peresmian rumah sakit tersebut, selain dihibur musisi Chakra Khan dan hidangan lezat sate maranggi, acara seremonial ini juga ditandai dengan pemotongan tumpeng. Habibie memberikan potongan tumpengnya pada Bupati Purwakarta yang juga Ketua DPD Golkar Jabar, Dedi Mulyadi.

Habibie beberapa kali mengucapkan terima kasih pada Dedi yang sudah berkontribusi pada keberadaan rumah sakit khusus tersebut. Habibie juga memuji Dedi yang bisa mensinergikan antara agama, budaya dan iptek dalam membangun Purwakarta. "Saya mengucapkan terima kasih pada Pak Bupati yang sejauh ini sudah banyak berkontribusi dan bersinergi untuk kebaikan negeri ini," katanya.

RSKG Ny RA Habibie merupakan rumah sakit khusus tipe C dengan pelayanan hemodialisis yang dilengkapi 60 mesin. Rumah sakit berkapasita 360 pasien ini melayani peserta BPJS sekitar 97 persen. Usai peresmian gedung baru ini, RSKG Ny RA Habibie akan mampu mengoperasikan 100 mesin dengan kapasitas 600 pasien. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/habibie-persilakan-pasien-miskin-berobat-gratis-di-rumah-sakit-khusus-ginjal.html

Kamis, 15 Desember 2011

Pelajar NU Sidoarjo Gelar Maulid Diba wa Talim

Sidoarjo, KARTANU. Pelajar NU Sidoarjo kembali menggelar acara rutinan setiap bulan sekali yakni Maulid Diba wa Talim yang ke XI di Masjid Maslakhul Huda Desa Wonoayu pada Ahad, 15 November 2015. Acara ini dihadiri oleh PAC/PKPT IPNU-IPPNU se-kabupaten Sidoarjo.

Gema sholawat berkumandang dengan merdunya sejak acara dimulai pada pukul 08.00-11.30.

Pelajar NU Sidoarjo Gelar Maulid Diba wa Talim (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Sidoarjo Gelar Maulid Diba wa Talim (Sumber Gambar : Nu Online)


Pelajar NU Sidoarjo Gelar Maulid Diba wa Talim

"Acara ini merupakan momentum untuk menjaga budaya shalawat tetap terjaga di kalangan pelajar Nahdliyin," tutur Mohammad Hendra selaku ketua PAC IPNU-IPPNU dalam sambutannya.

KH Ahmad Imam Jazuly dalam mauidhoh hasanah mengajak hadirin untuk mempertahankan tradisi dan amaliyah yang baik agar mendapat manfaat yang baik (Zamroni/Mukafi Niam)

KARTANU

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/63665/pelajar-nu-sidoarjo-gelar-maulid-dibarsquo-wa-tarsquolim

KARTANU

KARTANU

Minggu, 02 Oktober 2011

Kader NU Pimpin Shalat Tentara di Laut Lebanon

Beirut, KARTANU. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Lebanon dipercaya menjadi khatib dan imam Shalat Jumat di KRI Bung Tomo 357 Jumat (6/1) lalu.

Ustadz Dhiya Fakhri Abidin, Koordinator Lembaga Dakwah dan M. Audy Prasetyawan, Lajnah Nasyr wat Talif memimpin Shalat Jumat pasukan Garuda di atas kapal perang Indonesia di Lebanon. Pasukan tersebut tergabung dalam MTF UNIFIL yang bertugas menjaga wilayah perbatasan perairan Lebanon.

Kader NU Pimpin Shalat Tentara di Laut Lebanon (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader NU Pimpin Shalat Tentara di Laut Lebanon (Sumber Gambar : Nu Online)


Kader NU Pimpin Shalat Tentara di Laut Lebanon

Cuaca dingin yang sedang menyelimuti kota Beirut sehingga tidak memungkinkan melaksanakan Shalat Jumat di bagian dek kapal. Akhirnya Shalat Jumat dilaksanakan di lorong-lorong kapal yang membentuk satu barisan memanjang.

KARTANU

Ini kali pertama PCINU Lebanon mendapat kepercayaan untuk menyampaikan khutbah Jumat sekaligus mengimami pasukan garuda dibawah komando Kolonel Laut (P) Heri Triwibowo.

Ketua PCINU Lebanon Ustadz Rahmat Ilahi bangga atas perhatian Komandan KRI pada pelaksanaan ibadah para prajurit. Rahmat juga merasa terhormat PCINU Lebanon dipercaya menjadi imam dan khatib tersebut.

KARTANU

"Ini merupakan kehormatan sekaligus kesempatan kami untuk mengamalkan ilmu yang diajarkan ulama dan kiai-kiai kita, untuk bekerja sama dengan TNI atau pasukan perdamaian Garuda menjaga keamanan dunia," ungkapnya.

Warga NU, kata dia, mendoakan agar tugas para pasukan TNI di kapal tersebut selalu sukses dan berkah. (Red: Abdullah Alawi)

Dari (Internasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/74556/kader-nu-pimpin-shalat-tentara-di-laut-lebanon

KARTANU

Sabtu, 21 Mei 2011

Cut Meutia Tidak Dijilbabi Pada Uang Kertas 1000, Itu Tidak Masuk Akal

KARTANU - Beredarnya uang baru Rp 1000 dengan gambar Pahlawan Aceh Cut Nyak Meutia memicu debat di kalangan publik Aceh. Ada yang berpendapat, Cut Nyak Meutia memang tidak memakai jilbab, apalagi model jilbab seperti model sekarang ini. Sebaliknya, ada yang berpendapat bahwa perempuan Aceh khususnya dari kalangan pejuang sesungguhnya pribadi yang syar’i dan karenanya sudah pasti berjilbab atau berhijab.

Bagi yang yakin bahwa Cut Nyak Meutia tidak berjilbab mengacu kepada dokumen-dokumen dan lukisan yang pernah ada, dan memang Cut Nyak Meutia tidak berjilbab. Beberapa foto yang dimiliki oleh Belanda dan kini bisa diakses oleh publik juga tidak berjilbab atau tidak menggunakan penutup kepala.

Cut Meutia Tidak Dijilbabi Pada Uang Kertas 1000, Itu Tidak Masuk Akal - KARTANU
Cut Meutia Tidak Dijilbabi Pada Uang Kertas 1000, Itu Tidak Masuk Akal - KARTANU


Cut Meutia Tidak Dijilbabi Pada Uang Kertas 1000, Itu Tidak Masuk Akal

Sebaliknya, bagi yang yakin perempuan Aceh memakai penutup rambut atau jilbab, berargumen dokumen yang beredar bukanlah cermin perempuan Aceh. Itu bagian dari propaganda Belanda untuk merusak citra perempuan Aceh.

KARTANU

Tuanku Warul Waliddin, keturunan dari Sultan Aceh terakhir meyakini bahwa perempuan Aceh sesunguhnya, khususnya perempuan pahlawan dari keturunan bangsawan, adalah pribadi yang syar’i dan karenanya berhijab. Berikut pandangannya yang ditulis di dinding facebook:

“Seorang Bangsawan sejatinya memiliki identitas diri yang membedakan antara dirinya dengan kelas dibawahnya (terutama Pada masa itu). cara bertutur kata hingga berbusana adalah menentukan siapa dirinya dan latar belakangnya. pada photo ini, Yang berdiri ditengah adalah Teungku Putro Gamba Gadeng bin Tuanku Abdul Madjid yang merupakan Permaisuri Sultan Alaidin Muhammad Daudsyah (Sultan Aceh Terakhir). Ibunda daripada Tuanku Raja Ibrahim. disamping kiri kanan beliau adalah para dedayang istana (lamiet). mengacu kepada trending topic mengenai kontroversi bagaimana seorang Cut Meutia dan Cut Nyak dhien yang notabene seorang keturunan bangsawan pada masanya seharusnya berbusana dapat dilihat pada photo ini. dayang berbusana tanpak rambut kepala meskipun badan tertutup rapi, dan seorang Permaisuri menutup aurat dari kepala hingga Ujung kaki. semoga memberi pencerahan.”

Status Warul Waliddin Sebelumnya, Warul Waliddin juga pernah menggalang gerakan menghijabkan perempuan pejuang Aceh yang selama ini selalu ditampilkan tanpa hijab. "Jangan pernah lagi gambar Cut Nyak Dhien dan para syuhada perempuan kita ditampilkan tanpa hijab, sebagaimana keyakinan mereka," tandas Tuanku Warul Walidin, sebagaimana pernah dilansir sejumlah media.

Menurut Warul Waliddin, perempuan pejuang dari kalangan bangsawan Aceh adalah perempuan yang memiliki pemahaman keagamaan yang kuat sehingga berani terjun berjuang. "Dengan bekal pemahaman keagamaan itu maka tidak mungkin jika perempuan Aceh mengabaikan pakaian yang syar’i, tidak masuk akal," pungkasnya.

KARTANU

Tuanku Warul Walidin yang akrab disapa Raja Ubit itu menghimbau pemerintah untuk mau menggelar musyawarah terlebih dahulu manakala ingin menampilkan sosok pejuang Aceh khususnya pejuang perempuan. "Tidak berat untuk bertanya pada sejarawan Aceh dan pihak lainnya di Aceh agar hasilnya tidak malah melukai rakyat Aceh, atau menimbulkan kontroversi sesama rakyat di Aceh," pungkasnya. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/cut-meutia-tidak-dijilbabi-pada-uang-kertas-1000-rupiah.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KARTANU sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KARTANU. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KARTANU dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock