Tampilkan postingan dengan label Muslim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muslim. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Juli 2016

Meriahnya Festival Tongtek, dari Kentongan sampai Kaleng Biskuit

Kudus, KARTANUFestival Tongtek yang diselenggarakan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor-Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah berlangsung sangat meriah. Kegiatan yang baru dihelat kali pertama ini diikuti 33 kontingen dari berbagai kecamatan se-Kabupaten Kudus.

Di sepanjang jalan dari start Lapangan Kongsi Desa Loram hingga Masjid Wali, mereka Sabtu (25/6) malam itu memainkan musik kentongan yang dipadukan alat-alat seadanya lainya seperti galon, kaleng biskuit, tong, dan lainnya. Dengan berjalan kaki, tetabuhan musik kentongan ini mengiringi lagu-lagu religi yang mereka nyanyikan.

Festival yang dimulai selepas tarawih ini mendapat sambutan warga dan tokoh masyarakat desa setempat. Ratusan masyarakat berjajar di pinggir jalan menanti kontingen tongtek melewati jalan raya Desa Loram.

Meriahnya Festival Tongtek, dari Kentongan sampai Kaleng Biskuit (Sumber Gambar : Nu Online)
Meriahnya Festival Tongtek, dari Kentongan sampai Kaleng Biskuit (Sumber Gambar : Nu Online)


Meriahnya Festival Tongtek, dari Kentongan sampai Kaleng Biskuit

Ketua panitia Syaifuddin Najib mengatakan, kegiatan ini merupakan upaya melestarikan musik kentongan yang belakangan ini hampir punah. Musik kentongan, katanya, memiliki manfaat sebagai perangkat untuk kepentingan patroli (ronda) malam menjaga keamanan desa.

KARTANU

"Ansor ingin mencoba menumbuhkan kembali melalui lomba tongtek sehingga musik tradisional tetap lestari. Apalagi selama Ramadhan seringkali dimanfaatkan untuk membangunkan orang sahur puasa," katanya.

Melihat antusiasme warga dan peserta, kata dia, kegiatan festival tongtek menunjukkan adanya respon positif. Karenanya, kegiatan ini akan menjadi kegiatan budaya yang diagendakan rutin setiap tahun. "Kita akan melanjutkan festival tongtek ini sebagai kegiatan rutin setiap tahun di Kecamatan Jati," tutur Najib.

KARTANU

Pembina Banser Kudus H.Akhwan Sukandar mengapresiasi kegiatan bernuansa seni tradisional ini. Menurutnya, kesenian tongtek sudah berlangsung lama muncul di lingkungan masyarakat pedesaan sebagai musik ronda. Namun belakangan musik seperti ini hampir hilang.

"Kegiatan festival tongktek patut didukung sehingga musik tradisional ini tetap lestari," ujar Akhwan yang juga mantan Komandan Satkorcab Banser Kudus ini.

Pernyataan senada juga disampaikan Kapolsek Jati yang hadir mulai awal hingga selesainya acara pukul 24.00 WIB. Dikatakan, sejarah musik tongtek berawal dari cerita adanya orang bermain judi gaple. Karena judi mengganggu masyarakat, akhirnya para pemainnya diusir oleh para pemain tongtek.

"Oleh karena itu saya sangat berharap kegiatan tongtek tetap dilaksanakan dengan kemeriahan," katanya seraya meminta masyarakat menjaga lingkungan sekitarnya.

Festival tongtek ini diikuti 33 kontingen yang berasal dari 6 kecamatan yakni Gebog, Jati, Bae, Kaliwungu, Mejobo dan Undaan. Dari hasil penilaian juri terpilih kontingen terbaik masing-masing juara 1 grup dari Kaliwungu, Juara 2 (Jepang Pakis, Jati), Juara 3 (Payaman, Mejobo), Juara harapan 1 dan 2 adalah Loram Wetan dan Undaan Lor. Masing-masing juara mendapat penghargaan piala dan uang pembinaan yang nilainya beragam. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/69322/meriahnya-festival-tongtek-dari-kentongan-sampai-kaleng-biskuit

KARTANU

Jumat, 04 September 2015

Radio Pesantren Tak Mesti Siarkan Pengajian Melulu

Cirebon, KARTANU. Sebagian pesantren di Indonesia telah dilengkapi dengan teknologi komunikasi perangkat siar radio. Fungsinya adalah agar gerakan dakwah yang dilakukan mampu mencapai titik terluar pesantren dan masyarakat di sekitarnya.

Ketua Radio Komunitas (Rakom) Buntet Pesantren (Best FM) Ahmad Rovahan menilai radio pesantren merupakan media yang cukup strategis. Ia berpendapat, meski dari pesantren, siaran radio tidak mesti harus memutar pengajian dan ceramah keagamaan.

Radio Pesantren Tak Mesti Siarkan Pengajian Melulu (Sumber Gambar : Nu Online)
Radio Pesantren Tak Mesti Siarkan Pengajian Melulu (Sumber Gambar : Nu Online)


Radio Pesantren Tak Mesti Siarkan Pengajian Melulu

Pemutaran pengajian berupa ceramah dan pembacaan Al-Quran tentu baik, tapi hal ini jangan sampai dianggap sebagai cara tunggal untuk menyiarkan prinsip kepesantrenan secara lebih mengena kepada masyarakat luar, katanya saat dihubungi KARTANU melalui telepon.

Menurut Rovahan, banyak cara dilakukan untuk mengenalkan pesantren tidak dengan cara yang monoton. Di antaranya adalah membongkar kesan ketertutupan pesantren melalui pembacaan selera pendengar.

KARTANU

Kita tidak perlu antipati dengan karya seni yang lebih umum. Contoh pemutaran musik yang sedang marak di tengah masyarakat. Yang terpenting adalah sebisa mungkin para penggiat radio di dalamnya mampu mengemasnya seusai dengan prinsip-prinsip kepesantrenan, katanya.

KARTANU

Selain membuka diri dengan kegemaran masyarakat dengan tujuan membentengi mereka dengan prinsip-prinsip kepesantrenan, lanjut Rovahan, radio pesantren juga sebenarnya memiliki peluang untuk menggawangi pesan-pesan yang dibutuhkan bagi masyarakat. Misalnya, pembuatan Iklan Layanan Masyarakat (ILM) bertema kebhinekaan, anti korupsi, kenakalan remaja dan lain-lain.

Syaratnya hanya satu, prinsip kepesantrenan dan syiar Islam tersebut tidak dikemas dengan cara yang kaku. Bahkan, boleh juga diimbuhi nuansa guyon sesuai dengan adat pesantren dan masyarakat nahdliyin, pungkasnya.

Best FM meraih penghargaan membanggakan dengan mengalahkan ratusan radio lainnya. Radio tersebut juara 1 lomba pembuatan feature audio bertema Anti Korupsi yang diselenggarakan Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia (KPK RI) bekerja sama dengan Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI). Hadiah dianugerahkan di Museum Fatahilla, Kota Tua, Jakarta, Ahad (17/8).

Sebagai juara 2 diraih Taraktak FM Sumatera Barat, Wijaya FM Yogyakarta dan K-FM Magelang. Pemenang lomba mendapatkan hadiah berupa peralatan siar radio yang diserahkan langsung oleh para Pimpinan KPK diantaranya Ketua KPK Abraham Samad, Bambang Widjayanto, Adnan Pandu Praja, dan Juru Bicara KPK Johan Budi. (Sobih Adnan/Abdullah Alawi)

Dari (Pesantren) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/53897/radio-pesantren-tak-mesti-siarkan-pengajian-melulu

KARTANU

Rabu, 04 Desember 2013

Ciri Santri Itu Tidak Kagetan

KARTANU - Kalau kita kaya wawasan, tidak akan gumunan atau kagetan. Itulah salah satu ciri santri yang diutarakan oleh Nur Said, M. Ag dalam bedah buku Santri Membaca Zaman yang diselenggarakan oleh PC IPNU Pati di aula Institut Pesantren Mathaliul Falah (IPMAFA), Pati, Sabtu (24/09/2016) pagi.

Ciri Santri Itu Tidak Kagetan - KARTANU
Ciri Santri Itu Tidak Kagetan - KARTANU


Ciri Santri Itu Tidak Kagetan

Diskusi bedah buku dalam rangka memperingati 1000 hari wafatnya KH Sahal Mahfudz tersebut menghadirkan KH Abdul Ghoffar Rozin (Rektor IPMAFA), H. Nur Said, M.Ag (Penulis buku), Hasan Habibie, S.T, MSi (Pustekkom Kemendikbud RI) dan A. Dimyati, M. Ag.

Dalam diskusi ihwal konten buku, Nur Said sebagai penulis menjelaskan singkat latar belakang terbitnya buku yang ditulis keroyokan 25 penulis alumni Madarasah Tsyawiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus itu. “Hanya lewat wahtsapp, dalam waktu sekitar 2 minggu terkumpul 25 tulisan, langsung edit, layout dan terbit,” terang Said.

Ia juga menyebut bahwa hadirnya buku yang dibidani oleh SantriMenara.Com tersebut memberikan efek akademis dan intelektual bagi kalangan pesantren karena dengan buku, akan hadir dunia pembaca, ruang diskusi dan dinamika pemikiran. “Adanya buku, melahirkan ruang diskusi bahkan sampai kapanpun,” katanya.

Intinya, dalam buku yang dilaunching berberengan dengan Ngaji Bareng Masyayikh Madrasah TBS beberapa waktu lalu itu berisi kegelisahan para penulis santri atas apa yang mereka lihat pasca mondok dan boyong dari pesantren.

Diungkapan oleh Said, buku Santri Membaca Zaman adalah ruang para santri melakukan counter culture kepada paham-paham ideologis Islam puritan dan radikal yang selama ini sering mengganggu muslimin ahlus sunnah wal jama’ah.

“Teman-teman yang menulis ternyata sudah mulai prihatin batas gerakan wahabi yang puritan dan radikal,” ungkap Said. Buku yang dibedah itu, lanjutnya, adalah bagian cara para santri memperteguh semangat dan kekuatan santri.

“Tidak ada motivasi apa-apa, hanya ungkapan cinta kepada masyayikh dan semangat iqra’ dalam momentum harlah madrasah kemarin,” tambah Said. Nampak dalam buku ini, ujarnya, ciri-ciri santri, antara lain “santri itu teguh memegang akidah aswaja, toleran, dan kaya sudut pandang,” tandasnya di forum.

Keterangan tentang sejarah terbitnya buku tersebut ditanggapai positif oleh reviewer buku pertama, yakni Hasan Chabibie. Mantan Ketua IPNU Jawa Tengah ini berharap buku terbitan para Santri Menara ini paling tidak bisa menyumbang peningkatan literasi masyarakat kita yang masih lemah, peringkat ke 60 dari negara-negara yang disurvei. “Masyarakat kita sering tidak lengkap membaca konflik,” jelas Hasan.

Ia juga mengingatkan kalau literasi teknologi komunikasi dan informasi dunia santri dan pesantren saat ini sudah bergerak luar biasa sejak 10 tahun. “Orang mulai bangga memposting foto-foto di pesantren. Orang mulai bangga mempublikasi nadzom-nadzom yang dibaca di bilik-bilik kecil di pesantren,” terang Hasan berharap buku Santri Membaca Zaman bisa meneguhkan kebanggaan identitas santri seperti bangganya pemilik akun instagram santri memposting kegiatan mereka di pondok pesantren.

Meski begitu, A Dimyati, M.Ag, Rektor 1 IPMAFA yang menjadi pengulas kedua menyebut bahwa judul buku yang lebih pas adalah “Santri di Pusaran Zaman.” Alasannya, para santri di buku tersebut gelisah atas apa yang ia baca dan ditafsirkan setelah jadi alumni pondok. Itu kritik pertama dari Dimyati.

Menurut Dimyati, santri selama ini mengalami kesenjangan dengan realitas. Seakan-akan santri terpisah dari dunia nyata. Ia juga mengkritik cara berpikir santri yang mudah menerima tanpa kritis karena kagetan dan mudah kagum.

Selain itu, kesenjangan eknomi ternyata tidak membuat santri gelisah dan bergerak secara makro dan tersistem. Sistem ekonomi yang menidas pada kenyataannya memang tidak membuat para santri merasa terancam.

Ini karena di kalangan para santri masih belum ada kesadaran massif untuk melakukan perubahan sosial. Padahal, dalam sejarahnya, santri zaman dulu adalah penggerak masyarakat sehingga menjadi berdaya.

“Santri itu tidak cukup hanya pintar, sholih dan jadug. Santri juga harus ada yang punya kemampuan untuk mengorganisir, mengonsolidasi untuk menggerakkan masyarakat,” kata Dimyati.

“Terus santri itu tugasnya apa sih sebetulnya, kok semuanya kayaknya dibebankan kepada santri semua seperti di buku ini?” tanya Gus Rozin, reviewer terakhir dari buku yang disebut Dimyati sebagai otokritik dari alumni kepada santri, pesantren dan sistem pendidikan di dalamnya itu. Duh. Berat juga jadi santri. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/ciri-santri-itu-tidak-kagetan.html

Sabtu, 21 September 2013

Pengelanaan dan Karya Kiai Ihsan Jampes

Syahdan, tidak lama dari mimpinya yang monumental itu, untuk pertama kali dalam hidupnya, Bakri keluar dari pesantren ayahnya untuk melanglang buana mencari ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain.

Beberapa pesantren yang sempat disinggahi Kiai Ihsan kecil adalah Pesantren Bendo Pare Kediri asuhan KH. Khozin (paman Bakri sendiri), Pondok Pesantren Jamseran Solo, Pondok Pesantren asuhan KH. Dahlan Semarang, Pondok Pesantren Mangkang Semarang, Pondok Pesantren Punduh Magelang, Pondok Pesantren Gondanglegi Nganjuk, dan Pondok Pesantren Bangkalan Madura asuhan KH. Kholil, sang Guru Para Ulama.

Dari rihlah ilmiah-nya, ada satu kebiasaan yang sering dilakukan Bakri, yakni ia tidak pernah menghabiskan banyak waktu di pesantren-pesantren tersebut. Misalnya, untuk belajar Alfiah Ibnu Malik yang berisi seribu bait tentang rumus dan teori Gramatika Arab (Nahwu dan Sharf) Bakri belajar dari KH. Kholil Bangkalan dan hanya menghabiskan waktu dua bulan; belajar ilmu falak (astronomi) kepada KH. Dahlan Semarang dan hanya tinggal di pesantrennya selama 20 hari; sedangkan di Pesantren Jamsaran Kediri ia hanya tinggal selama satu bulan. Namun demikian, ia selalu berhasil menguasai dan memboyong ilmu para gurunya tersebut dengan kemampuan di atas rata-rata.

Keunikan lainnya yang dapat disimak yaitu di setiap pesantren yang ia singgahi, Bakri selalu menyamar. Ia tidak mau dikenal sebagai gus (sebutan anak kiai); tidak ingin diketahui identitas aslinya sebagai putra kiai tersohor, KH. Dahlan Jampes. Bahkan, setiap kali kedoknya terbuka sehingga santri-santri tahu bahwa ia adalah gus dari Jampes, dengan serta merta ia akan segera pergi, menghilang dari pesantren tersebut untuk pindah pesantren lain. Alih-alih kebiasaan atau tradisi di dunia pesantren yang sering kali mengelu-elukan dan memanjakan para gus, anak kiai, seringkali memabukkan dan membius para gus, mereka kebal hukum dan peraturan pesantren, dan berujung pada ketidak seriusan belajar. Dan tradisi itulah yang hendak dihindari oleh Bakri, lantaran di mata Bakri tradisi itu tidak kondusif dalam proses belajar dan sering kali membentuk karakteristik feodal yang tidak baik.

Pengelanaan dan Karya Kiai Ihsan Jampes (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengelanaan dan Karya Kiai Ihsan Jampes (Sumber Gambar : Nu Online)


Pengelanaan dan Karya Kiai Ihsan Jampes

Pada tahun 1932, setelah selesai melalui tour ilmiyah itu, Bakri inobatkan menjadi pengasuh atau pemimpin Pondok Pesantren Jampes, Kediri. Sejak saat itulah Bakri terkenal sebagai pengasuh Pesantren Jampes. Ada banyak perkembangan yang signifikan di Pesantren Jampes setelah Syekh Ihsan diangkat sebagai pengasuh. Secara kuantitas, misalnya, jumlah santri terus bertambah dengan pesat dari tahun ke tahun, semula sekitar 150 santri menjadi sekitar 1000 santri lebih, sehingga Pesantren Jampes harus diperluas hingga memerlukan 1,5 hektar tanah. Secara kualitas, materi pelajaran juga semakin terkonsep dan terjadwal dengan didirikannya Madrasah Diniyah Mafatihul Huda pada 1942.

Sebagai seorang kiai, Syekh Ihsan mengerahkan seluruh perhatian, pikiran dan segenap tenaganya untuk diabdikan kepada santri dan pesantren. Hari-harinya hanya dipenuhi aktivitas spiritual dan intelektual; mengajar santri (ngaji), shalat jamaah, shalat malam, mutholaah (mengkaji) kitab, ataupun menulis kitab. Meskipun seluruh waktunya didesikannya untuk santri, Syekh Ihsan tidak melupakan masyarakat umum. Syekh Ihsan dikenal memiliki ilmu hikmah dan menguasai ketabiban. Hampir setiap hari, di sela-sela kesibukannya mengajar santri, Syekh Ihsan masih sempat menerima tamu dari berbagai daerah dan kalangan yang meminta bantuannya. Keilmuan hikmah yang dimilikinya ini berkat penguasaannya yang baik terhadap kitab-kitab hikmah seperti Syamsul-Maarif karya al-Buni, Mamba Ushul al-Hikmah, Kitab al-Aufaq karya Imam al-Ghazali, dan lain-lain. Bahkan keilmuan hikmah ini ia integrasikan dan kolaborasikan dengan ilmu falak yang telah difahaminya secara mendalam.

KARTANU

Pada masa revolusi fisik 1945, Syekh Ihsan juga memiliki andil penting dalam perjuangan bangsa. Pesantren Jampes selalu menjadi tempat transit para pejuang dan gerilyawan republik yang hendak menyerang Belanda. Di Pesantren Jampes, mereka meminta doa restu Syekh Ihsan sebelum melanjutkan perjalanan. Bahkan, beberapa kali Syekh Ihsan turut mengirim santri-santrinya untuk ikut berjuang di garis depan. Jika desa-desa di sekitar pesantren menjadi ajang pertempuran, penduduk yang mengungsi akan memilih Pesantren Jampes sebagai lokasi teraman, sementara Syekh Ihsan membuka gerbang pesantrennya lebar-lebar.

Sumbangan Syekh Ihsan yang sangat besar adalah karya-karya yang ditinggalkannya bagi masyarakat muslim Indonesia, bahkan umat Islam seluruh dunia. Sudah banyak pakar yang mengakui dan mengagumi kedalaman karya-karya Syekh Ihsan, khususnya karya magnum opus-nya, kitab yang berjudul Sirojut-Tholibin, kitab syarah (penjelasan) dari kitab Minhajul-Abidin karya Imam al-Ghazali, terbit pertama kali pada 1932 setebal sekitar 800 halaman. Kitab ini mengulas tasawuf. Syekh Ihsan mendapatkan penghargaan dan legitimasi ilmiyahnya di mata dunia Islam, ketika kitab tersebut diterbitkan oleh sebuah penerbit besar di Mesir, Musthafa al-Bab al-Halab, sebuah penerbit yang berorientasi menerbitkan kitab-kitab kuning (turats), yang sampai saat ini masih eksis. Di antara kitab tasawuf yang ditulis syekh Ihsan adalah kitab Manahijul-Imdad , sebuah syarah (penjelasan) dari kitab Irsyadul-Ibad karya Syekh Zainudin al-Malibari, terbit pertama kalinya pada tahun 1940 setebal sekitar 1088 halaman, mengulas tasawuf secara luas dan mendalam.

KARTANU

Sebelum menulis tentang tasawuf, syekh Ihsan berkelana mengelilingi tanah Jawa. Sebuah perjalanan apostolik sebagaimana tradisi para sufi darwis. Dalam perjalanan apostoliknya, ia menjumpai dan berdialog sekaligus menimba ilmu secara singkat dari hampir seluruh ulama tasawuf, mursid tharekat, dan para kiai yang terkenal keilmuan dan kezuhudannya. Bahkan, ia pun menjumpai para tokoh kejawen, pengikut kepercayaan, dan mengajak mendiskusikan secara mendalam persoalan filsafat, spiritual, dan pandangan-pandangan spiritual.

Lebih menakjubkan lagi, ia pun menjumpai para dukun dari berbagai jenisnya, lantaran para dukun dianggap memiliki pandangan dunianya sendiri yang harus diselami. Dari pengalaman perjalanan spiritualnya yang telah menggondol segudang informasi dan ilmu itu menjadi salah satu modal dalam mengkonsepsikan pandangan tasawufnya yang dielaborasikan dengan mengikutsertakan pengalaman pribadi, eksperimentasi spiritual, ritual, pandangan pewayangan, dan pentakwilan atas segenap teks normatif Islam, al-Quran dan hadits.

Pada saat-saat menulis karya-karyanya tersebut, syekh Ikhsan dengan tekun menuliskannya yang tak kenal lelah, tak kenal waktu, bergadang, malam yang hening dilaluinya dengan ditemani segelas kopi dan berbatang-batang rokok. Karena memiliki kebiasaan meminum kopi dan menghisap rokok, akhirnya menginspirasikan lahirnya sebuah kitab yang ditulisnya dengan judul kitab Irsyadul-Ikhwan fi Bayani Hukmi Syurbil-Qohwah wad-Dukhon. Kitab ini diadaptasi dari kitab kumpulan syair-syair atau puisi dari kitab Tadzkiratul-Ikhwan fi Bayanil-Qahwah wad-Dukhan karya KH. Ahmad Dahlan Semarang, yang kemudian diberi penjelasan (syarh), tebalnya 50 halaman. Buku ini berbicara tentang polemik hukum merokok dan minum kopi.

Disamping dikenal sebagai pakar tasawuf, syekh Ihsan juga merupakan ulama dan masuk dalam deretan nama pakar ilmu falak (astronomi). Salah satu karya akademik di bidang ini adalah kitab Tashrihl-Ibarot, syarah (penjelasan) dari kitab Natijatul-Miqot karya KH. Ahmad Dahlan Semarang, terbit pertama kali pada 1930, setebal 48 halaman.

Seorang sufi yang juga penuh karya akademiknya ini akhirnya pada Senin, 25 Dzul-Hijjah 1371 H. atau September 1952, dipanggil oleh Allah SWT. Usianya yang baru melewati setengan abad ini, 51 tahun, meninggalkan ribuan santri, seorang istri dan delapan putra-puteri. Kuburannya hingga saat ini ramai dikunjungi oleh para peziarah, khususnya dari warga NU.

Tak ada warisan yang terlalu berarti dibandingkan dengan ilmu yang telah dia tebarkan, baik ilmu yang kemudian tersimpan dalam korpus kitab-kitab karyanya yang abadi maupun yang terrekam dan tersimpan di dalam hati para murid-muridnya. Beberapa murid Syekh Ihsan yang mewarisi dan meneruskan perjuangannya dalam berdakwah melalui pesantren adalah Kiai Soim pengasuh pesantren di Tanggir Tuban, KH. Zubaidi di Mantenan Blitar, KH. Mustholih di Kesugihan Cilacap, KH. Busyairi di Sampang Madura, K. Hambali di Plumbon Cirebon, K. Khazin di Tegal, dan lain-lain.

Setahun yang lalu, penulis berziarah kemakamnya dan ke pesantren peninggalannya yang bersahaja dengan disambut oleh KH. Busyro, pengasuh pesantren peninggalan sang sufi kita. Kami berbincang-bincang di rumah KH. Busyro seputar karya-karya sang sufi. Beliau bercerita bahwa sejatinya Gus Dur, panggilan akrab mendiang KH. Abdurrahman Wahid, pernah ingin memperjuangkan salah satu naskah sang sufi yang belum sempat tersebar ke penjuru dunia Islam, yaitu kitab Manahijul -Imdad. Gus Dur meng-copy manuskrip (makhthuthat) kitab tersebut dan diserahkan ke Syekh Sayyed al-Maliki, dengan harapan mendapatkan tashih atau tahqiq dan diterbitkan di Arab. Akan tetapi dalam penantian yang panjang, kitab tidak kunjung diterbitkan. Akhirnya atas dasar inisiatif KH. Busyro sekeluarga, kitab tersebut telah diterbitkan oleh keluarga kiai Ihsan dengan dicetak cukup sederhana dan dalam jumlah terbatas. Tanpa disangka dan diduga, kitab tersebut dalam waktu singkat ludes dipasaran. Karena, rupa-rupanya para kiai dan santri betul-betul menanti-nantikan karya syekh Ihsan itu. Akhirnya ketika sudah ada di depan mata, mereka memburu dan berebut untuk mendapatkannya. Penulis sendiri pada waktu keliling pesantren salaf, tidak mendapatkan kitab tersebut. Dan penulis sempat mensarankan pada KH. Busyro agar kitab tersebut dicetak kembali.

Karya-karya syekh Ihsan sebagian besar telah dikaji dan dibaca oleh para kiai dan santri di pesantren salaf-tradisional. Khususnya kitab magnum opusnya, yaitu Sirojut-Tholibin. Bahkan sebagian kiai Lirboyo-Kediri membacanya setiap tahun sebagai ritual pengajian sehari-hari. Tidak diragukan lagi jika paradigma sufistiknya yang bernuansa Ghazalian yang mengusung perkawinan tasawuf dan syariah telah berpengaruh besar terhadap paradigma nalar sufisme kaum santri yang berbasis NU (Nahdlatul Ulama).

Mukti Ali

Program Officer Manuskrip Nusantara & Peneliti Rumah Kitab

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/48472/pengelanaan-dan-karya-kiai-ihsan-jampes

Jumat, 02 Agustus 2013

Pemuda Islam dan Komitmen Kebangsaan

Oleh: A Muchlishon Rochmat

Tahun 2011, Survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) mengeluarkan data yang cukup mencengangkan. Disebutkan bahwa 25% siswa dan 21% guru menyatakan bahwa Pancasila sudah tidak relevan lagi. Bahkan, 84,8% siswa dan 76,2% guru setuju dan mendukung untuk mendirikan negara yang berdasarkan syariat Islam di Indonesia.

Pemuda Islam dan Komitmen Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemuda Islam dan Komitmen Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)


Pemuda Islam dan Komitmen Kebangsaan

Di tahun yang sama, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) juga merilis sebuah penelitian tentang radikalisme di kampus-kampus besar Indonesia. Di situ disebutkan bahwa ada peningkatan paham radikalisme di universitas-universitas elit Indonesia seperti UGM, UI, IPB, Undip, dan Unair. Tahun 2013, penelitian yang dilakukan oleh Maarif Institute juga menunjukkan bahwa meluasnya paham radikal di kampus berdampak pada meningkatnya gerakan untuk mendirikan negara Islam di Indonesia.

Sementara tahun 2015, Pew Research Center menyebutkan bahwa 4% atau setara dengan 10 juta penduduk Indonesia setuju dan mendukung pandangan dan gerakan yang dilakukan oleh ISIS termasuk diantaranya adalah mendirikan negara khilafah Islam di Indonesia. Ironisnya, mayoritas dari empat persen itu adalah pemuda Islam yang berada dalam usia produktif.

KARTANU

Kalau kita simak pemberitaan yang tersebar di media massa akhir-akhir ini, gerakan-gerakan untuk mendirikan khilafah seperti pawai, seminar, penerbitan buku, menyebarkan propaganda dengan selebaran di masjid-masjid, dan konferensi nasional bahkan internasional- begitu marak dan masif dilaksanakan di berbagai daerah di Indonesia. Lagi-lagi mayoritas pelakunya adalah pemuda dan pemudi Islam.

KARTANU

Meski gerakan-gerakan khilafah tersebut mendapatkan penolakan dan kecaman dari berbagai pihak seperti Banser GP Ansor, kepolisian, pimpinan kampus, pejabat, pimpinan beberapa ormas Islam yang moderat, beberapa pejabat negara, dan masyarakat, namun mereka seolah-olah tidak kapok dan tidak berhenti untuk mendengungkan konsep khilafah sampai apa yang mereka cita-citakan itu terwujud.

Bahkan, mereka menawarkan sistem negara khilafah yang berdasarkan syariat Islam dan menghujat Negara Indonesia yang berlandaskan Pancasila secara terang-terangan (tanpo tedeng aling-aling). Mereka tidak lagi sembunyi-sembunyi dalam berdakwah sebagaimana yang mereka lakukan pada beberapa tahun yang lalu. Menariknya, pemerintah pun menganggap enteng dan terkesan lamban dalam membendung segala macam aktifitas dan kegiatan yang dilakukan oleh gerakan pengusung khilafah itu.

Meneguhkan Komitmen Kebangsaan

Berdasarkan hasil penelitian yang ada, memang masih banyak yang mendukung Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila jika dibandingkan dengan mereka yang mendukung khilafah. Tetapi, hasil survei di atas tidak bisa dianggap enteng. Apalagi yang disasar adalah remaja dan pemuda Islam utamanya yang berada di sekolah dan kampus umum. Saya rasa mereka itu seperti virus. Sekarang kelihatan kecil, tetapi kalau tidak ditangani dengan serius maka mereka akan menyebar dan mempengaruhi organ masyarakat yang lainnya.

Kita tidak bisa terus menerus menunggu datangnya bola, yakni dengan terus melakukan penolakan atas kegiatan yang mereka gelar di berbagai tempat. Saya yakin, mereka akan terus melakukan propaganda-propaganda, baik ke lapisan atas maupun ke masyarakat tingkat bawah (grassroot).

Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk menjaga dan meneguhkan eksistensi Indonesia? Setidaknya ada dua hal yang bisa dilakukan untuk meredam gerakan pengusung khilafah. Pertama, ketegasan pemerintah. Di beberapa Negara Islam seperti Arab Saudi, Tunisia, Turki, Libya, Yordanis, Mesir, Syuriah, Malaysia, dan lainnya melarang gerakan pengusung khilafah. Mereka tidak diizinkan masuk dan beranak-pinak di negara-negara tersebut.

Dalam hal ini, pemerintah Indonesia terlihat tidak memiliki ketegasan dalam melarang gerakan-gerakan khilafah. Mereka seakan-akan dibiarkan tumbuh subur dan menggerogoti pondasi kebangsaan kita.

Kedua, memasifkan gerakan Islam kebangsaan (nasionalisme). Indonesia dibangun dengan semangat kebangsaan dan keberagamaan. Indonesia ada karena adanya perbedaan agama, suku, budaya, dan bahasa. Sedangkan Pancasila adalah pemersatunya (kalimatun sawa). Sedangkan Islam -sebagai agama mayoritas- menjadi ruh dan semangat dalam menjalankan pemerintahan, bukan menggantikan Pancasila sebagai konsesi bersama. Kalau seandainya Dasar Negara Indonesia berdasarkan golongan tertentu, maka tentu golongan yang lain tidak akan mau menerimanya.

Harus kita akui, Islam yang berkembang di sebagian sekolah-sekolah dan kampus-kampus kita itu adalah Islam yang normatif dan tidak memiliki dimensi komitmen kebangsaan. Komitmen untuk menjaga keutuhan dan persatuan NKRI. Maka tidak mengherankan jika gerakan-gerakan pengusung khilafah itu tumbuh subur di lorong-lorong kampus sebagaimana yang disebutkan oleh LIPI di atas. Lagi-lagi, sasarannya adalah pemuda-pemudi Islam yang sedang studi di kampus-kampus besar itu.

Saya rasa mereka nihil akan Islam kebangsaan karena mereka tidak memahami secara holistik sejarah perkembangan umat Islam di Nusantara ini. Maka dari itu, menjadi tugas kita semua untuk memasifkan gerakan Islam kebangsaan. Yaitu dengan memberikan pemahaman secara intensif kepada mereka tentang wawasan Islam kebangsaan. Islam yang mengedepankan keutuhan dan persatuan bangsa Indonesia. Bukan malah mencerai-beraikan dan memonopoli bangsa ini.

Walhasil, sembari mendorong pemerintah untuk berlaku tegas kepada kelompok-kelompok pengusung khilafah, kita masifkan dan teguhkan komitmen kebangsaan pemuda-pemudi Islam kita agar mereka tidak tergiur dengan dagangan khilafah.

Penulis adalah Wasekjen Majelis Pemuda Islam Indonesia (MPII) Pusat

Dari (Opini) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/77770/pemuda-islam-dan-komitmen-kebangsaan

KARTANU

Rabu, 06 Februari 2013

Adakah Hafidz Quran yang Berprofesi Tukang Sapu Rendahan?

KARTANU - Sekitar empat tahun yang lalu tepatnya di awal Ramadhan 1433 H, saya mengikuti kuliah subuh di Masjid dekat rumah. Ustadz yang berceramah menceritakan kisah nyata dari seorang rektor salah satu perguruan tinggi swasta di Indonesia yang sedang mencari sistem pendidikan terbaik yang dapat menghasilkan dan mencetak generasi yang cerdas, bermartabat dan bisa bermanfaat bagi bangsa dan agama.

Untuk mencari sistem pendidikan terbaik, rektor tersebut pergi ke Timur Tengah untuk meminta nasihat dari seorang ulama terkemuka di sana.

Adakah Hafidz Quran yang Berprofesi Tukang Sapu Rendahan? - KARTANU
Adakah Hafidz Quran yang Berprofesi Tukang Sapu Rendahan? - KARTANU


Adakah Hafidz Quran yang Berprofesi Tukang Sapu Rendahan?

Ketika bertemu dengan ulama yang ingin ditemuinya, lalu dia menyampaikan maksudnya untuk meminta saran bagaimana menciptakan sistem pendidikan terbaik untuk kampus yang dipimpinnya saat ini.

Sebelum menjawab pertanyaan dari rektor, ulama tersebut bertanya bagaimana sistem pendidikan saat ini di Indonesia mulai dari tingkat bawah sampai paling atas?

Rektor menjawab, "paling bawah mulai dari SD selama 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, D3 3 tahun atau S1 4 tahun, S2 sekitar 1.5 - 2 tahun, dan setelah itu S3 untuk yang paling tinggi."

KARTANU

"Jadi untuk sampai S2 saja butuh waktu sekitar 18 tahun ya?" Tanya Sang Ulama.

KARTANU

"Iya,", jawab rektor tersebut.

"Lalu bagaimana jika hanya lulus sampai di SD saja selama 6 tahun, pekerjaan apa yang akan bisa didapat?"

"Kalau hanya SD paling hanya buruh lepas atau tukang sapu jalanan, tukang kebun dan pekerjaan sejenisnya."

" Tidak ada pekerjaan yang bisa diharapkan jika hanya lulus SD di negeri Kami." Jawab si rektor. "Jika Lulus SMP bagaimana?"

"Untuk SMP mungkin jadi office boy (OB) atau cleaning service," jawab kembali si rektor.

"Kalau SMA bagaimana?"

"Kalau lulus SMA masih agak mending pekerjaan nya di negeri Kami, bisa sebagai operator di perusahaan-perusahaan," lanjut rektor.

"Kalau lulus D3 atau S1 bagaimana?"

"Klo lulus D3 atau S1 bisa sebagai staff di kantor dan S2 bisa langsung jadi manager di sebuah perusahaan"

"Berarti untuk mendapatkan pekerjaan yang enak di negeri Anda minimal harus lulus D3/S1 atau menempuh pendidikan selama kurang lebih 15-16 tahun ya?"

"Iya betul"

"Sekarang coba bandingkan dengan pendidikan yang Islam ajarkan."

"Misal selama 6 tahun pertama (SD) hanya mempelajari dan menghapal Al-Qur'an, apakah bisa hapal 30 juz?"

"In shaa Alloh bisa" jawab si rektor dengan yakin.

"Apakah ada hafidz Qur'an di negeri Anda yang bekerja sebagai buruh lepas atau tukang sapu seperti yang Anda sebutkan tadi untuk orang yang hanya Lulus SD?"

"Tidak ada", jawab si rektor.

"Jika dilanjut 3 tahun berikutnya mempelajari dan menghapal hadis apakah bisa menghapal ratusan hadis selama 3 tahun?"

"Bisa."

"Apakah ada di negara Anda orang yang hapal Al-Qur'an 30 juz dan ratusan hadis menjadi OB atau cleaning service?"

"Tidak ada."

"Lanjut 3 tahun setelah itu mempelajari tafsir Al-Qur'an, apakah ada di negara Anda orang yang hafidz Qur'an, hapal hadis dan bisa menguasai tafsir yang kerjanya sebagai operator di pabrik?" Tanya kembali ulama tersebut.

"Tidak ada."

Rektor tersebut mengangguk mulai mengerti maksud sang ulama. "Anda mulai paham maksud Saya?"

" Ya".

"Berapa lama pelajaran agama yang diberikan dalam seminggu?"

" Kurang lebih 2-3 jam."

Sang ulama melanjutkan pesannya kepada si rektor, "jika Anda ingin mencetak generasi yang cerdas, bermartabat, bermanfaat bagi bangsa dan agama, serta mendapatkan pekerjaan yang layak setelah lulus nanti, Anda harus merubah sistem pendidikan Anda dari orientasi dunia menjadi mengutamakan orientasi akhirat karena jika Kita berfokus pada akhirat inshaa Alloh dunia akan didapat. Tapi jika sistem pendidikan Anda hanya berorientasi pada dunia, maka dunia dan akhirat belum tentu akan didapat. Pelajari Al-Qur'an karena orang yang mempelajari Al-Qur'an, Alloh akan meninggikan derajat orang tersebut di mata hamba-hambaNya."

"Itulah sebabnya Anda tidak akan menemukan orang yang hafidz Qur'an di negara Anda atau di negara manapun yang berprofesi sebagai tukang sapu atau buruh lepas walaupun orang tersebut tidak belajar sampai ke jenjang pendidikan yang tinggi karena Alloh yang memberikan pekerjaan langsung untuk para hafidz Qur'an.Hafidz Qur'an adalah salah satu karyawan Alloh dan Alloh sayang sama mereka dan akan menggajinya lewat cara-cara yang menakjubkan."

"Tidak perlu gaji bulanan tapi hidup berkecukupan."

Semoga bermanfaat, dan dapat dijadikan rujukan bagi guru dan orang tua kaum muslimin. Silahkan dishare agar semakin banyak yang terinspirasi untuk mempelajari dan menghapal Al-Qur'an dan as sunnah. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/adakah-hafidz-quran-yang-berprofesi-tukang-sapu-rendahan.html

Sabtu, 16 Juni 2012

Pekalongan Dibanjiri Ulama Peserta Konferensi Internasional Belanegara

KARTANU - Para tamu dari berbagai daerah telah sampai di Pekalongan untuk mengikuti berbagai rangkaian acara Konferensi Internasional Bela Negara. Nampak di antara para tamu tersebut ialah ulama sepuh kharismatis, KH Maimun Zubair, pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang.

Para tamu siang ini sudah mulai melakukan registrasi dan mendapat ID Card resmi untuk mengikuti Konferensi Internasional Bela Negara yang akan digelar pada 27-29 Juli 2016 di kota Pekalongan. Menurut salah satu panitia, Dani, pada siang hari ini registrasi peserta dilakukan di dua tempat.

Pekalongan Dibanjiri Ulama Peserta Konferensi Internasional Belanegara - KARTANU
Pekalongan Dibanjiri Ulama Peserta Konferensi Internasional Belanegara - KARTANU


Pekalongan Dibanjiri Ulama Peserta Konferensi Internasional Belanegara

“Hari ini, registrasi peserta konferensi dilaksanakan di dua tempat, sebagian tamu melakukan registrasi di Hotel Santika, sedangkan sebagian lagi melakukan registrasi di Gedung Kanzus Sholawat,” ujarnya.

KARTANU

Untuk peserta yang sudah melakukan registrasi di antaranya peserta dari Jakarta, Banten, Papua, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat. Untuk wilayah Bali, Maluku , dan lain-lain diperkirakam akan sampai sore ini.

Sebelumnya, panitia Konferensi Internasional Bela Negara mengirim undangan acara kepada para ulama, mursyid, muqoddam, khalifah, pengasuh pesantren, pengurus JATMAN, TNI, POLRI, dan tokoh masyarakat dari dalam maupun luar negeri.

KARTANU

Ada beberapa persyaratan yang harus diserahkan oleh para tamu untuk melakukan registrasi. Di antaranya, harus membawa surat mandat dari panitia. Menurut Nala Riskiati, salah satu panitia registrasi, setelah melakukan registrasi peserta akan diantar ke penginapan.

Lokasi acara registrasi cukup kondusif dan aman. Bapak Sugianto, salah satu personil Polsek Pekalongan Timur, menyatakan telah menerjunkan 15 personil untuk membantu kelancaran registrasi di Gedung Kanzus Sholawat. Sementara di Hotel Santika, pengamanan tak kalah ketat. Nampak belasan personil polisi dan jibom yang diturunkan untuk mengamankan lokasi.

KH. Dr. Hamdani, pengurus JATMAN yang ikut mengawasi proses registrasi, sangat antusias atas acara yang digagas oleh Al-Habib Lutfi Bin Yahya ini.

“Saya pikir ini adalah sejarah, sehingga thariqah tidak hanya dikonotasikan sebagai orang-orang yang ahli dzikir, tetapi juga memiliki komitmen nasionalisme. Bahkan ini mendunia! Dengan acara Konferensi Internasional Ulama Thariqah sedunia ini menunjukan bahwa ahli thariqah itu juga berkontribusi kepada dunia dalam hal peradaban, dan kemanusiaan yang berdasarkan atas perdamaian dunia. Dan itu adalah suatu sejarah yang mungkin belum terjadi sebelumnya. Kita patut mengapresiasi kegiatan ini, terutama kepada Habib Lutfi sebagai Rais ‘Aam JATMAN yang memelopori dan menggagas acara ini. Patut kita syukuri dan teladani," ujarnya.

Ia juga berharap, acara ini bisa ditindaklanjuti dari apa yang dibahas dalam konfrensi. “Harapan saya, kita bisa melanjutkan dan menindaklanjuti acara semacam ini, sebagaimana dhawuh Habib Lutfi, bahwa thariqah harus memberikan keteladanan di tengah konflik yang banyak terjadi saat ini,” pungkasnya.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/07/pekalongan-dibanjiri-ulama-peserta-konferensi-internasional-bela-negara.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KARTANU sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KARTANU. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KARTANU dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock