Tampilkan postingan dengan label Habaib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Habaib. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Desember 2015

People told not to use Quran to justify disgraceful actions

Jakarta, KARTANU. The people should not use the Quran for justifying disgraceful actions similar to those done by the supporters of ISIS, urged Indonesian Religious Affairs Minister Lukman Hakim Saifuddin as reported by republika.co.id.

"Do not use the Quran to justify radical actions alike those done by the ISIS group," he stated while opening the 18th anniversary commemoration of Bayt Alquran and Istiqlal Museum at the Indonesia in Miniature Garden (TMII) here on Wednesday (6/5).

People told not to use Quran to justify disgraceful actions (Sumber Gambar : Nu Online)
People told not to use Quran to justify disgraceful actions (Sumber Gambar : Nu Online)


People told not to use Quran to justify disgraceful actions

He noted that the Quran actually serves as a reference for Muslims to determine laws to settle various problems.

The holy Quran is also a reference for Muslims of various schools and sects, he pointed out.

KARTANU

The minister affirmed that a radical movement would only hurt Islam, adding that Islam is a civilized religion, and hence, any radical response to any act of provocation would not be recommended.

KARTANU

He lauded the graceful response by Muslims to a provocative Prophet Muhammad cartoon contest in the United States recently.

"Muslims must not be overly provoked to commit violence in response to such activities. That is not an Islamic teaching," he emphasized.

He noted that if Muslims wanted to protest against such an activity, they should do it in a civil manner.

"Muslims could launch a protest in a civil manner and not through violence or other forms of disgraceful acts," he remarked.

The minister affirmed that they could launch a protest through a dialog with the organizing committee of the activity to explain about the issue and why Muslims have deplored the activity.

Editing by Sudarto Murtaufiq

Dari (National) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/59428/people-told-not-to-use-quran-to-justify-disgraceful-actions

KARTANU

Rabu, 11 September 2013

Tak Hanya Mengamankan, Tentara Pun Ikut Menyapu Area Munas

Jakarta, KARTANU. Ada pemandangan unik di Kompleks Pondok Pesantren Kempek Cirebon, Jumat (14/9) pagi. Bersama para santri setempat, puluhan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari Komando Distrik Militer (Kodim) Kabupaten Cirebon dengan semangat menyapu seluruh halaman yang menjadi lokasi Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2012.

Ini merupakan tanggung jawab kami dari daerah, kata Kapten ARH Sudaryanto saat memimpin tugas kebersihan di Pesantren seluas 20 hektar ini.

Tak Hanya Mengamankan, Tentara Pun Ikut Menyapu Area Munas (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Hanya Mengamankan, Tentara Pun Ikut Menyapu Area Munas (Sumber Gambar : Nu Online)


Tak Hanya Mengamankan, Tentara Pun Ikut Menyapu Area Munas

Menurutnya, kegiatan ini merupakan wujud kepedulian TNI terhadap kelancaran Munas dan Konbes NU. Menyapu hanya salah satu dari sejumlah kegiatan-kegiatan lain seperti memasak di dapur umum, memasang umbul-umbul, meratakan tanah, menggali parit, dan tentunya mengamankan acara.

Ia mengaku bangga dapat berpartisipasi dalam hajatan besar NU ini. Selama ini, khususnya di lingkungan Kempek, tentara memang sering dilibatkan pada berbagai acara. Pastinya puas bisa turut membantu NU untuk keseksesan Munas, ujarnya.

KARTANU

Saat dikonfirmasi, pengasuh pesantren, KH Jafar Aqil Siroj membenarkan pihaknya cukup akrab dengan kalangan tentara di kawasan Cirebon. Sikap ini ditunjukkan untuk merangkul segenap elemen masyarakat guna kemaslahatan bersama.

KARTANU

Redaktur : Mukafi Niam

Penulis : Mahbib Khoiron

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/39701/tak-hanya-mengamankan-tentara-pun-ikut-menyapu-area-munas

Kamis, 11 Juli 2013

KH Maimoen Zubair: Baru 4 Tahun Berdiri, NU Berani Ngeluruk ke Sarang Komunis

KARTANU - Momentum pelaksanaan silaturahim bertajuk "Ngumpulke Balung Pisah" yang berlangsung di Fakultas Kedokteran Univeraitas Wahid Hasyim Semarang hari ini Minggu (17/7/2016), bagi KH Maemun Zubair sangat berkesan.

Hal itu, menurut Mbah Moen, dikarenakan Semarang pernah menjadi tempat Muktamar ke-4 Tahun 1929 di mana ketika itu Semarang adalah pusat pergerakan Sarekat Islam dan buruh. "Sejak Muktamar Semarang, NU menjadi organisasi modern yang mempunyai struktur wilayah, cabang, MWC, dan ranting," kenangnya.

Selain itu, Muktamar Semarang ketika juga upaya merespon perkembangan politik nasional selain membahas lazimnya Muktamar NU (sosial keagamaan).

KH Maimoen Zubair: Baru 4 Tahun Berdiri, NU Berani Ngeluruk ke Sarang Komunis - KARTANU
KH Maimoen Zubair: Baru 4 Tahun Berdiri, NU Berani Ngeluruk ke Sarang Komunis - KARTANU


KH Maimoen Zubair: Baru 4 Tahun Berdiri, NU Berani Ngeluruk ke Sarang Komunis

KARTANU

"Waktu itu sedang terjadi perpecahan ditubuh Sarekat Islam (SI). Sehingga ada dua kubu yakni SI Merah dipimpin Semaon dari kelompok Komunis dan SI Putih dipimpin HOS Cokroaminoto dan HA Salim," katanya.

Oleh karena itu, terang Mbah Moen, mau tidak mau NU harus sangat peduli terhadap persoalan bangsa. Sebagaimana dahulu dicontohkan waktu Muktamar Semarang yang tidak lain sebagai dukungan moral terhadap SI Putih agar tetap jaya.

"Kalau dulu NU yang baru empat tahun berdiri berani ngeluruk ke sarang kaum komunis militan seperti Semaon, Mas Marco, Siti Sundari termasuk Snevliet. NU Sekarang musti bisa berbuat lebih," paparnya.

"Terus terang saya sangat mendambakan kejayaan dan kehebatan NU seperti masa lalu. Tapi manusia yang kita hadapi sekarang jelas beda dengan dulu karakternya juga lain," katanya

KARTANU

Lebih lanjut Mbah Moen berpesan supaya NU saat ini jangan hanya berpikir romantis sementara kesadaran kolektifnya rendah. NU musti harus selalu menatap kedepan. Jangan terlalu lama menengok ke belakang.

"Secara historis NU dilahirkan oleh orang-orang kaya yang diridloi para kiai. Juga dari SDM yang sangat mumpuni dan tidak diragukan lagi," pungkasnya. [KARTANU/ haris]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/07/kh-maimoen-zubair-baru-4-tahun-berdiri-nu-berani-ngeluruk-ke-sarang-komunis.html

Minggu, 17 Maret 2013

Gus Sholah: Yang Memadukan Islam dan Indonesia Adalah Mbah Hasyim

KARTANU - Didorong oleh keprihatinan melihat perkembangan situasi kebangsaan, Pesantren Tebuireng mendirikan Pusat Kajian Pemikiran KH Hasyim Asy'ari. Lahirnya pusat kajian yang bernaung di bawah Universitas Hasyim Asy'ari (Unhasy) ini juga dimaksudkan untuk melestarikan dan mengembangkan pemikiran pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yang saat ini mulai dilupakan.

Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) mengungkapkan, sekitar 20 tahun lalu, ada tokoh NU yang menilai pemikiran KHM Hasyim Asy'ari telah kadaluarsa alias out of date dan dianggap terlalu sederhana. "Waktu itu saya menjawab, Mbah Hasyim membuat rumusan Ahlussunnah wal Jamaah untuk konsumsi masyarakat. Jadi dibuat sangat sederhana, supaya mudah dipahami. Dan, alhamdulillah, itu mudah dipahami," ungkapnya saat meresmikan pendirian pusat kajian tersebut, Sabtu (05/02/2017).

Fakta bahwa pemikiran Mbah Hasyim mudah diterima, menurut Gus Sholah, dibuktikan dengan jumlah anggota NU yang sangat besar. "Jadi, dari segi ilmu komunikasi, rumusan yang sederhana itu justru suatu keunggulan," tegas kiai yang juga menjabat Rektor Unhasy Tebuireng itu.

Gus Sholah: Yang Memadukan Islam dan Indonesia Adalah Mbah Hasyim - KARTANU
Gus Sholah: Yang Memadukan Islam dan Indonesia Adalah Mbah Hasyim - KARTANU


Gus Sholah: Yang Memadukan Islam dan Indonesia Adalah Mbah Hasyim

Jasa Mbah Hasyim yang mulai dilupakan, terutama terkait dengan proses memadukan keislaman dan keindonesiaan. Baik pada proses penyusunan rumusan dasar negara, pembentukan Kementerian Agama, hingga sinkronisasi pendidikan nasional dan pendidikan Islam. "Pak Wahid Hasyim yang berperan dalam proses-proses itu, adalah mewakili pemikiran Mbah Hasyim," ungkap salah satu putra KHA Wahid Hasyim ini.

Gus Sholah menambahkan, sikap NU sebagai ormas Islam pertama yang menerima Pancasila secara resmi pada 1984 juga bagian dari sentuhan dan jasa Mbah Hasyim. Sebab, sikap NU itu didasarkan pada dokumen tentang hubungan Islam dan Pancasila yang ditulis oleh KH Ahmad Siddiq, yang merupakan salah satu murid Mbah Hasyim.

KARTANU

Lebih lanjut, Gus Sholah menuturkan bahwa proses akomodasi substansi syariah Islam ke dalam sejumlah UU, seperti UU Perkawinan dan UU Peradilan Agama, yang dipelopori oleh KH Bisri Syansuri dan KH Wahab Chasbullah, juga tidak bisa dilepaskan dari peran Mbah Hasyim. Sebab, keduanya juga murid beliau.

KARTANU

"Jadi, saya mengambil kesimpulan bahwa yang memadukan Islam dan Indonesia adalah Mbah Hasyim. Seandainya Kiai Ahmad Siddiq, Kiai Bisri Syansuri dan Kiai Wahab Chasbullah bukan murid Mbah Hasyim, mungkin akan lain ceritanya," tandasnya.

Perpaduan Islam dan Indonesia itu, menurut Gus Sholah, saat ini sedang ada yang coba merenggangkannya. "Kalau sampai upaya untuk melonggarkan sendi-sendi itu terjadi, saya khawatir bangsa kita akan mengalami lagi turbulensi," ungkapnya.

Untuk itulah, peresmian pusat kajian ini juga diisi dengan penyampaian Pesan Kebangsaan Pesantren Tebuireng. Dokumen berisi enam poin penting itu dibacakan langsung oleh Gus Sholah di akhir acara.

Hadir dalam acara tersebut, mantan Menteri Agama KH Tolchah Hasan, mantan Rektor UIN Jakarta Masykuri Abdillah. Juga wakil Rektor Unhasy Haris Supratno dan wakil pengasuh Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz. [KARTANU/ day]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/gus-sholah-yang-memadukan-islam-dan-indonesia-adalah-mbah-hasyim.html

Senin, 19 November 2012

Kalau Hanya Belajar Islam, Ngapain ke Timur Tengah?

KARTANU - Dengan ini saya anjurkan kepada para bapak dan ibu kaum muslim/ muslimah di Indonesia tidak perlu repot-repot menyekolahkan anak-anaknya ke negara-negara Arab kalau tujuannya hanya sekedar untuk mempelajari Islam, belajar Bahasa Arab atau mengaji kitab-kitab keislaman.

Sekali lagi, kalau tujuannya hanya untuk belajar masalah ini (kalau punya tujuan lain ya lain lagi persoalannya), di Indonesia saja sudah cukup. Pondok-pondok pesantren, khususnya milik Nahdlatul Ulama (NU) sudah melimpah-ruah di kota maupun desa. Indonesia kini juga sudah surplus kiai, baik tua maupun muda, yang sangat mumpuni dalam masalah ini.

Kalau Hanya Belajar Islam, Ngapain ke Timur Tengah? - KARTANU
Kalau Hanya Belajar Islam, Ngapain ke Timur Tengah? - KARTANU


Kalau Hanya Belajar Islam, Ngapain ke Timur Tengah?

Lagi pula, untuk apa menyekolahkan anak jauh-jauh ke Arab untuk "belajar Islam" kalau pada akhirnya kelak ketika selesai sekolah malah menjadi "malin kundang" yang, atas nama "kemurnian Islam" dan "tegaknya tauhid", berani melawan orang tua, mengafirsesatkan mereka, membidahkan amalan-amalan keagamaan mereka dan seterusnya. Nanti Anda sendiri yang akan kerepotan loh: mau dibiarkan kurang ajar, mau digampar itu anak sendiri. Repot kan?

Bukan hanya melawan orang tua saja loh. Para ulama dan kiai yang kebetulan berbeda pemikiran juga dikapir-kapirkan oleh "anak kemarin sore" yang baru sunat ini. Tidak sebatas itu. Sebagian mereka bahkan tega untuk mengpitnah dan mengungkapkan kata-kata kotor dengan beliau-beliau. Padahal beliau-beliau itu masya Allah ulama yang sangat rendah hati, alim dan saleh dalam segala hal. Kok tega ya mereka melakukan itu?

KARTANU

Terus? Sudah jauh-jauh sekolah dan "menuntut ilmu keislaman", pulang-pulang malah menjadi "provokator kebencian" yang anti-pati terhadap tetangga, non-muslim dan bahkan terhadap sesama muslim itu sendiri yang hanya secara kebetulan berbeda mazhab, pandangan, pemikiran, dan praktek keagamaan dengan mereka. Repot kan? Hidup di dunia yang warna-warni kok "kaku-regeng" kayak tiang listrik, tidak mau toleran dengan keragaman. Emang bumi ini milik engkong mereka apa?

Sudah cukup? Belum. Mereka juga mengharamkan bendera merah-putih, memusyrikkan penghormatan terhadapnya, mengthogutkan Pancasila dan Konstitusi, "menerakakan" para pejuang dan pahlawan bangsa. Wis embuh lah. Banyak pokoknya yang aneh-aneh dan "unyu-unyu" dari tingkah-polah mereka. Tapi sebagian loh, tidak semua alumni Timur Tengah yang belajar Islam bersikap seperti ini. Entar ada yang ngamuk-ngamuk lagi.

KARTANU

Nah, kalau mondok di pesantren-pesantren NU, nanti akan lain ceritanya. Anak-anak nanti diajari untuk mencitai ulama, mencintai bangsa, negara dan Tanah Air, menghormati orang tua, toleran terhadap sesama manusia, ramah terhadap tetangga, mencitai tradisi dan budaya bangsa. Pokoknya banyak deh yang baek-baek.

Dan sudah barang tentu, para santri akan mendapatkan pelajaran-pelajaran keislaman yang "yahud" (tanpa "i"), keislaman yang ramah dan respek dengan kemajemukan pemikiran, keragaman mazhab, dan perbedaan pendapat. Yuk, kita semarakkan gerakan cinta Pokemon (Pokoke Mondok). [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/kalau-hanya-belajar-islam-ngapain-ke-timur-tengah.html

Rabu, 18 April 2012

Prodi Kedokteran UIN Jakarta Luncurkan Program Dokter Santri

Tangerang Selatan, KARTANU. Mahasiswa Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menginisiasi program yang mereka sebut dengan Program Dokter Santri Cerdas. Program ini merujuk pada kepeloporan kesehatan masyarakat berbasis pesantren yang ada di Indonesia.

Ketua Program Studi Pendidikan Dokter UIN Syarif Hidayatullah dr. Ahmad Zaki menyatakan, perlu format institusi pendidikan kedokteran yang lebih akomodatif dan representatif untuk dapat mengakomodasi semua masalah dan tantangan terutama di era Masyarakat Ekonomi ASEAN ini.

Prodi Kedokteran UIN Jakarta Luncurkan Program Dokter Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Prodi Kedokteran UIN Jakarta Luncurkan Program Dokter Santri (Sumber Gambar : Nu Online)


Prodi Kedokteran UIN Jakarta Luncurkan Program Dokter Santri

Prodi Pendidikan Dokter UIN Jakarta yang mengedepankan integrasi ilmu kedokteran, keislaman, dan keindonesiaan dalam sistem kurikulumnya, menggagas program Dokter Santri Cerdas, kata dr Zaki pada seminar terkait dunia kedokteran menghadapi tantangan Masyarakat Ekonomi ASEAN di auditorium utama Harun Nasution kampus setempat, Rabu (2/12).

Program Dokter Santri Cerdas (DSC) ini merupakan kegiatan yang diinisiasi oleh mahasiswa kedokteran UIN Jakarta. Program sebenarnya telah dilaksanakan di sejumlah pesantren di Jawa Barat antara lain pesantren Internasional Jagat Arsy Tangerang, pesantren Suryalaya Ciamis, pesantren Babakan Ciwaringin, dan Buntet Pesantren di Cirebon.

KARTANU

Hal ini diamini oleh dua inisiator program DSC Aditya Adji dan Jiddi Adibia, yang menghadirkan santri dari Pesantren Jagat Arsy sebagai pihak yang mengawali program tersebut.

Kami berharap program ini menjadi program nasional, dan mampu menaungi seluruh pesantren di Indonesia, ujar Jiddi, mahasiswa kedokteran UIN Jakarta angkatan 2010.

KARTANU

Seminar nasional dan peluncuran program Dokter Santri Cerdas ini mengundang pembicara pakar bisnis dari ITB Prof Rahardjo Ramelan, Sekretaris Jenderal PB Ikatan Dokter Indonesia dr Adib Khumaedi Sp.OT, serta pakar hukum internasional dari Universitas Indonesia Prof Hikmahanto Juwana.

Dalam seminar ini mereka membahas langkah-langkah penting seorang pemuda juga tantangan dokter dalam persaingan dengan tenaga kerja dari negara-negara di ASEAN.

Rahardjo Ramelan dalam materinya menyebutkan, Dalam menghadapi MEA yang penuh tantangan ini, semangat bangkit dan berkembang harus mulai dari diri pemuda itu sendiri. (M Iqbal Syauki/Alhafiz K)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/64066/prodi-kedokteran-uin-jakarta-luncurkan-program-dokter-santri

Jumat, 09 Maret 2012

Penyebar Berita Kebencian Itu Mestinya Lebih Rajin Jalan-Jalan ke Luar Negeri Biar Tidak Cengeng

Oleh Rhenald Kasali KARTANU - Dalam perjalanan pulang ke Jakarta dari Frankfurt, duduk di sebelah saya salah seorang CEO perusahaan terkemuka Indonesia. Pria berkebangsaan India yang sangat berpendidikan itu bercerita tentang karir dan perusahannya.

Gerakan keduanya (karir dan perusahaannya) begitu lincah. Tidak seperti kita, yang masih rigid, terperangkap pola lama, seakan-akan semua layak dipagari, dibuat sulit. Perusahaan sulit bergerak, impor-ekspor bergerak lambat, dwelling time tidak konsisten. Sama seperti karier sebagian kita, terkunci di tempat. Akhirnya hanya bisa mengeluh.

Penyebar Berita Kebencian Itu Mestinya Lebih Rajin Jalan-Jalan ke Luar Negeri Biar Tidak Cengeng - KARTANU
Penyebar Berita Kebencian Itu Mestinya Lebih Rajin Jalan-Jalan ke Luar Negeri Biar Tidak Cengeng - KARTANU


Penyebar Berita Kebencian Itu Mestinya Lebih Rajin Jalan-Jalan ke Luar Negeri Biar Tidak Cengeng

Pria itu dibesarkan di India, kuliah S-1 sampai selesai di sana, menjadi alumni Fullbright, mengambil S-2 di Amerika Serikat, lalu berkarir di India sampai usia 45 tahun. Setelah itu menjadi CEO di perusahaan multinasional dari Indonesia.

Perusahaannya baru saja mengambil alih sebuah pabrik besar di Frankfurt. Namun karena orang di Frankfurt masih kurang yakin dipimpin eksekutif dari emerging countries, ia membujuk pemasoknya dari Italia agar ikut memiliki saham minoritas di Frankfurt. Dengan kepemilikan itu, pabrik di Frankfurt dikelola eksekutif dari Eropa (Italia).

KARTANU

Solved!

KARTANU

Itu adalah gambaran dari agility. Kelincahan bergerak yang lahir dari fenomena borderles world. Anehnya juga kita mendengar begitu banyak orang yang cemas menghadapi perubahan. Dunia sudah lebih terbuka, mengapa harus terus merasa sulit? Susah di sini, bisa bergeser ke benua lain. Tak ada lagi yang sulit. Ini tentu harus disyukuri.

Serangan Tenaga Kerja

Belum lama ini kita membaca berita tentang kegusaran seseorang yang tulisannya diforward kemana-mana melalui media sosial. Mulai dari berkurang agresifnya angka pertumbuhan, sampai serangan tenaga kerja dari China.

Berita itu di-forward kesana – kemari, sehingga seakan-akan tak ada lagi masa depan di sini. Yang mengherankan saya, mengapa ia tidak pindah saja bekerja dan berimigrasi ke negara yang dipikirnya hebat itu?

Bekerja atau berkarir di luar negri tentu akan menguntungkan bangsa ini. Pertama, Anda akan memberi kesempatan kerja pada orang lain yang kurang beruntung. Dan kedua, Anda akan mendapatkan wisdom, bahwa hal serupa, komplain yang sama ternyata juga ada di luar negri.

Rekan saya, CEO yang saya temui di pesawat Lufthansa tadi mengeluhkan tentang negerinya. “Orang Indonesia baik-baik, bekerja di Indonesia menyenangkan. Kalau diajari sedikit, bangsa Anda cepat belajar. Pikiran dan tindakannya terstruktur. India tidak! Di India politisi selalu mengganggu pemerintah. Irama kerja buruh tidak terstruktur. Pertumbuhan ekonomi terlalu cepat, membuat persaingan menggila. Rakyatnya makin konsumtif dan materialistis.” Kalimat itu ia ucapkan berkali-kali.

Susah? Kerja Lebih Profesional!

Di Italia, guide saya, seorang kepala keluarga berusia muda mengantar saya melewati ladang-ladang anggur di Tuscany, menolak menemani makan siang yang disajikan mitra kerja Rumah Perubahan di rumahnya yang indah. “Biarkan saya hanya makan salad di luar. Saya dilarang makan enak saat mengemudi,” ujarnya.

Kepada putra saya ia mengajari. "Saat bekerja kita harus bekerja, harus profesional, gesit dan disiplin. Cari kerja itu sulit, mempertahankannya jauh lebih sulit. Kita harus lebih kompetitif dari orang lain kalau tetap ingin bekerja," ujarnya.

Di dalam vineyard-nya yang indah, rekan saya menyajikan aneka makanan Italia yang lezat, lengkap dengan demo masak dan ritual mencicipi wine yang dianggap sakral. Di situ mereka berkeluh kesah tentang perekonomian Eropa yang terganggu Yunani belakangan ini. Dan lagi-lagi mereka menyebutkan kehidupan yang nyaman itu ada di Pulau Dewata, Bali dan Pulau Jawa.

Ketika saya ceritakan bahwa kami di Indonesia juga sedang susah, dia mendengarkan baik-baik. “Dari dulu kalian terlalu rendah hati, selalu merasa paling miskin dan paling susah. Ketika kalian sudah menjadi bangsa yang kaya, tetap merasa miskin. Tetapi, saya tak pernah melihat bangsa yang lebih kaya, lebih merdeka, lebih bahagia, dari pada Indonesia.” Saya pun terdiam.

Di Singapura, saya mengirim berita tentang komplain terhadap masalah dollar AS dan ancaman kesulitan pada rekan lain yang sudah lima tahun ini berkarir di sana. Ia pun menjawab ringan, “Suruh orang-orang itu kerja di sini saja.”

Tak lama kemudian ia pun meneruskan. “Kalau sudah kerja di sini baru tahu apa artinya kerja keras dan hidup yang fragile.”

Saya jadi teringat curhat habis-habisan yang ia utarakan saat saya berobat ke negeri itu. “Mana bisa konkow-konkow, main Facebook, nge-tweet di jam kerja? Semua harus disiplin, berani maju, kompetitif, dan siap diberhentikan kalau hasil kerja buruk. Di negeri kita (Indonesia), saya masih bisa bersantai-santai, karyawan banyak, hasil kerja tidak penting, yang penting bos tidak marah saja,” ujarnya.

Saat itu ia tengah menghadapi masa probation atau percobaan. Sungguh khawatir kursinya akan direbut pekerja lain dari India, Turki, dan Prancis yang bahasa Inggrisnya lebih bagus, dan ritme kerjanya lebih cepat. Ternyata bekerja di negeri yang perekonomiannya bagus itu juga tidak mudah. Padahal di sana mereka lihat kerja yang enak itu ya di sini.

Bangsa Merdeka Jangan Cengeng

Saya makin terkekeh membaca berita yang disebarluaskan para haters melalui grup-grup WA, bahwa pemerintah sekarang tidak perform, membiarkan sepuluh ribuan buruh dari China merangsek masuk ke negeri ini. Sungguh, saya tak gusar dengan serangan tenaga kerja itu. Yang membuat saya gusar adalah kalau hal serupa dilakukan bangsa-bangsa lain terhadap tenaga kerja asal Indonesia di luar negeri.

Penyebar berita kebencian itu mestinya lebih rajin jalan-jalan ke luar negeri. Bukankah dunia sudah borderless, tiket pesawat juga sudah jauh lebih murah. Cara menginap juga sangat mudah dan murah. Kalau saja ia rajin, maka ia akan menemukan fakta-fakta ini: Sebanyak 300.000 orang tenaga kerja Indonesia bekerja di Taiwan. 250.000 lainnya di Hongkong. Lebih dari 100.000 orang ada di Malaysia. Selain itu, perusahaan-perusahaan kita sudah mulai mengepung Nigeria, Myanmar, dan Brazil. Bahkan juga canada dan Amerika.

Jadi bagaimana ya? Kok baru dikepung 10.000 saja kita sudah rasis? Ini tentu mengerikan. Lalu dari grup WA para alumnus sekolah, belakangan ini saja juga mendapat kiriman teman-teman yang kini berkarir di manca negara. Delapan keluarga teman kuliah saya ada di Kanada, beberapa di Jerman dan Eropa, puluhan di Amerika Serikat, dan yang terbanyak tentu saja di Jakarta. Semakin banyak orang kita yang berkarier bebas di mancanegara. Karir mereka tidak rigid.

Jadi, janganlah kita cengeng. Beraninya hanya curhat dan komplain, tapi tak berbuat apa-apa. Bahkan beraninya hanya menyuarakan kebencian. Atau paling-paling cuma mengajak berantem dan membuat akun palsu bertebaran. Kita juga jangan mudah berprasangka.

Syukuri yang sudah didapat, hanya mungkin diatasi dengan berkomitmen untuk bekerja lebih jujur, lebih keras, lebih respek, lebih profesional, dan memberi lebih.

Kalau Anda merasa Indonesia sudah “berbahaya” ya belain dong. Kalau Anda merasa tak senang dengan orang lain, ya sudah, pindah saja ke luar negri. Mudah kok. Di sana Anda akan mendapatkan wisdom, atas kata-kata dan perbuatan sendiri. Di sana kita baru bisa merasakan kayanya Indonesia. Di sana kita baru tahu bahwa tak ada hidup yang mudah.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/penyebar-berita-kebencian-itu-mestinya-lebih-sering-jalan-ke-luar-negeri.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KARTANU sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KARTANU. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KARTANU dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock