Tampilkan postingan dengan label Risalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Risalah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Desember 2016

Imam Condro, Pejuang dari Pekalongan yang Anti Bom Belanda

KARTANU - Di Desa Rowokembu, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan, dulu ada seorang pejuang kemerdekaan sekaligus bernama Imam Condro, komandan brigade Samber Nyawa. Lahir pada tahun 1926 dan wafat pada tahun 1966.

Imam Condro, Pejuang dari Pekalongan yang Anti Bom Belanda - KARTANU
Imam Condro, Pejuang dari Pekalongan yang Anti Bom Belanda - KARTANU


Imam Condro, Pejuang dari Pekalongan yang Anti Bom Belanda

Imam Condro merupakan anak pertama dari 14 bersaudara. Sejak kecil dikenal memiliki kelebihan dibandingkan anak sebayanya. Adiknya, Kolonel Syamsul Hadi mengisahkan, semasa kecilnya, Imam Condro gemar mencari ikan dan ular.

"Suatu saat beliau Imam Condro mencari ular dan digigit, namun gigitan itu tidak membekas di tubuhnya dan justru ular itu dapat dilumpuhkan," ujar Syamsul berkisah kehebatan kakaknya itu.

Pada masa perjuangan, atas perintah Pemerintah Indonesia waktu itu, Imam Condro diangkat menjadi seorang Brigadir dan membentuk pasukan dengan nama Brigade Samber Nyowo, yang berhasil mengusir kolonial Belanda dari wilayahnya.

"Namun setiap Imam Condro berjuang, ayahanda selalu ditangkap dan dimasukan ke penjara Kedungwuni masa itu," ungkap Syamsul Hadi.

“Belanda menangkap dan memenjarakan ayahanda karena ingin agar Imam Condro menyerahkan diri. Namun Imam Condro seperti yang pernah diamanatkan oleh ayahanda, agar tetap berjuang membela tanah air, apapun yang terjadi," kenang Syamsul Hadi dengan meneteskan air mata.

Atas pesan tersebut, Imam Condro tegar tidak mau menyerahkan diri ke penjajah walau apapun yang akan terjadi, termasuk soal keselamatan ayahnya. Justru yang terjadi, kata Syamsul, Imam Condro semakin ganas mengusir penjajah Belanda dari tanah air tercinta.

Suatu ketika Brigade Samber Nyowo dibombardir oleh Belanda. Saat itu anak buahnya kocar-kacir dan lari tunggang langgang. Namun dengan keberanian dan kelebihan yang dimilikinya, Imam Condro justru maju ke arah tentara Belanda yang membombardir dengan mortir, dan Imam Condro memegang mortir itu agar tidak mengenai anak buahnya.

"Dan aneh tapi nyata, mortir itu meledak digenggaman Imam Condro, pakaiannya compang-camping akibat ledakan mortir tersebut, namun badan Imam Condro tidak terluka sedikitpun," tandas Syamsul Hadi. "Sejak kejadian itu Imam Condro ditakuti oleh pasukan Belanda," imbuhnya.

Kolonel Syamsul Hadi juga mengatakan bahwa Imam Condro meninggal dunia pada tahun 1966. Disaksikan oleh seluruh keluarga, Imam Condro menghembuskan nafas terakhir pada saat berzikir setelah selesai sholat.

Imam Condro meninggalnya seperti ayahanda yang juga wafat kala sedang melakukan ibadah sholat. Bedanya, kalau ayahanda saat itu meninggal pada rakaat terakhir pada waktu sholat. [KARTANU]

Source: Kisah di atas disadur KARTANU dari tulisan Ustadz Amin Nur, santri senior PP. Attaufiqy Wonopringgo, Pekalongan, Jateng.

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/imam-condro-pejuang-dari-pekalongan-yang-anti-bom-belanda.html

Kamis, 22 Mei 2014

Bocor, Percakapan Grup Garis Lurus Penuh Bahasa Binatang

KARTANU – Situs nu garis lurus itu penuh konten beracun. Mengganggap sebelah mata dan menyebutnya guyon atau semacam mencari perhatian lebih kepada khalayak agar dianggap sebagai kelompok alumni pondok pesantren –sebagaimana selama ini diucapkan oleh pendukungnya, paling lurus menegakkan ahlussunnah, itu salah besar.

Bocor, Percakapan Grup Garis Lurus Penuh Bahasa Binatang - KARTANU
Bocor, Percakapan Grup Garis Lurus Penuh Bahasa Binatang - KARTANU


Bocor, Percakapan Grup Garis Lurus Penuh Bahasa Binatang

Di Pontianak, ketika KH Ma’ruf Khozin melaksanakan safari dakwah, hadirin dalam acara sering ada yang mengangkat tangan menanyakan apa dan siapa itu nu garus lurus (selanjutnya kami sebut GGL: Gerombolan Garis Lurus, agar tidak mencatut nama NU). Demikian keterangan yang didapatkan Duta Islam.

Apa artinya? Nama GGL sudah masuk dalam alam pikiran banyak orang dan menjadi semacam noktah hitam bagi NU secara jamiyyah dan struktural. Hadirnya GGL di dunia maya yang enteng menyebarkan propaganda untuk menjauhkan warga nahdliyyin dari ulama dan habaib NU tanpa membuka identitas mereka kepada publik, jelas merupakan cara-cara culas yang biasa dilakukan oleh kalangan teroris ISIS.

Perlu diketahui, cara ISIS menyebarkan propagandanya bukan melalui masjid, lembaga pendidikan atau titik-titik startegis yang biasa dikunjungi banyak orang. Website dan media sosial dijadikan alat propaganda paling efektif karena mampu menyebar tanpa batas dan berbiaya murah. Selain tentu karena ISIS tidak punya basis massa yang diakui oleh negara. Modal sosial mereka memang media sosial. 

Langkah yang ditempuh ISIS inilah yang dikloning oleh GGL. Kalau mengaku pejuang aswaja yang paling lurus sedunia, mereka tak perlu malu-malu kucing menampakkan diri. Justru transparansi identitas itulah yang tidak akan membuat banyak orang bertanya, sebagaimana terjadi di beberapa daerah laiknya di Pontianak tadi.

Berawal dari Grup Caci Maki Serapat apapun bangkai ditutup, akan tercium juga. GGL pun gerah setelah ada salah seorang bernama Moch Zainul Abidin As-Syuja'i membongkar data admin pasca digelar sebuah acara di Cirebon, yang mengatasnamakan aktivis Aswaja. Dalam acar itu, para aktivis mulai terang-terangan berani membeberkan nama-nama yang selama ini dikenal Zain, panggilan Zainul Abidin As-Sujai’i, sebagai admin grup Brigade Aswaja, yakni grup WhatsApp para pengelola dan muqollidin situs nu garis lurus.

Kepada KARTANU, Zain tidak mengenal sama sekali orang-orang di grup tersebut. Dia mengaku nomornya diseret masuk tanpa konfirmasi kepadanya. Sudah sejak lama Zain nongkrong di grup yang menurutnya penuh dengan caci-maki kepada kyai dan ulama di Nahdlatul Ulama.

Bahkan, pasca publikasi identitas admin, Zain Suja’i dibully dalam grup. . KARTANU mendapatkan screen shoot caci maki anggota GGL ini. Oleh Syaraf, salah satu anggota grup, Zain disebut ngegustad, pura-pura jadi gus dan ustadz.

“Ilmunya mentok ke nasi goreng. Malam jadi germo di WhastApp saling kirim-kiriman gambar telanjang nggak pantes. Siang ceramah di WhatsApp sok suci dan sok ngustadz. Tulisannya belepotan jauh dari ranah ilmu. Jamane wong munafik bertopeng di dunia maya. Di dunia nyata, gorengan nggak laku-laku,” tulis Syaraf. (Kami simpan foto si Syaraf ini).

Soal Zain adalah tukang nasi goreng memang diakui. Ia berjualan di Jakarta Barat. Tapi kalau menuduh ilmunya Zain hanya sampai nasi goreng dan munafik serta menyerapahi gorengan tidak laku-laku apalagi menyebut germo, baginya itu sudah keterlaluan, tidak nyambung dan lepas dari etika santri.

Dalam percakapan grup khusus mencaci Zain itu, admin lain ada yang menyebut “asu”, “babi”, “monyet”, “najis”, dan lainnya. Adam, admin grup, pendiri Grup Brigade Aswaja, menanyakan di grup: “Sebenarnya dia itu siapa sih? Asu atau monyet? Saya bingung sendiri,” tulis Adam.

Dengan enteng, pertanyaan itu dijawab oleh Naquib, anggota lain di grup: “Babi mas.” Naquib ini yang menulis: “Waduh…dia sibuk cari tulang ke SAS (Said Aqil Siraj, red) nggak sempet ganti nama. Ya…namanya juga asuuuu….”.

Anggota itu gayeng dan terkesan senang membully Zain di grup karena di sana nama Zain diganti Asu Pa’i. “Makanya, rupa, nama dan hatinya sama (anjing, asu, red). Ngalah-ngalahi assu,” tulis Naguib, yang langsung ditanggapi oleh Faiz, anggota GGL lain yang ikutan mencaci: “Masih ada waktu untuk tobat. Daripada jadi assu,” tulisnya.

Menanggapi percakapan penuh caci maki itu, seorang aktivis Aswaja NU, Arief, mengaku miris. “Wah, ini lebih mirip grup kumpulnya para begundal daripada grup santri. Nggak pantes blas kelompok ini namanya disandarkan dengan nama besar NU. Su'ul adab semua,” tulisnya, dikutip KARTANU (17/04).

Kelimpungan, anggota grup tersebut kembali melancarkan fitnah dengan meme. Status David Fuadi, seorang yang dulu pernah menghidupkan situs sarkub.com, dijadikan bahan mementahkan Zain as-Suja’i. Menurut orang yang di kalangan GGL dipanggil KH David Fuadi itu, Zain adalah orang yang tidak punya ilmu agama.

Ustadz Hasbullah, dalam meme yang beredar itu juga menulis kalau tulisan-tulisan Sujai’i itu bukan dari tulisannya sendiri. “Bisa jadi syujai hanya atas nama saja. Sebab saya segrup dengan Syujai. Kerjaanya hanya kirim gambar porno,” tuduh ustadz.

Tuduhan-tuduhan semacam ini, menurut Zain, mudah keluar di grup yang ia sebut kenthir (kemayu) itu. “Ada Group kenthir khusus para Admin Group WA Aswaja. Di sana memang kalau kenthir suka selingan kirim Gambar Porno. Nah dari sanalah Fitnah ini beredar,” jelas Zain.

Jika Anda berakal sehat, etika macam apakah yang layak disematkan kepada kelompok GGL itu? Bahasa apakah yang mudah keluar dari “santri” GGL itu? Bahasa pondok pesantren mana yang menghalalkan saudaranya sendiri disebut anjing, babi, monyet, najis, germo dan munafik? Ajaran Qanun Asasi NU sebelah mana yang memerintahkan umat Islam mencaci maki dengan sebutan binatang untuk saudaranya muslim?

Kepada KARTANU, Zain memang jualan nasi goreng. Tapi ia juga santri di sebuah majelis ta’lim yang banyak orang tahu. Ia menunjukkan bukti bahwa dia rutin di majelis ta’lim. Namun tidak berkenan ditulis.

Yang pasti, kelompok GGL memasukkan nomornya ke grup karena nomor yang ia pegang ada dimana-mana. Dikenal sebagai penggerak aswaja. Duta Islam menyimpan buktinya. Zain As-Suja’i itu orang biasa yang dicaci-maki oleh kelompok yang mengaku santri di ujung sana. Duh Gusti... [KARTANU/luqman segaf]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/04/bocor-percakapan-grup-garis-lurus-penuh-bahasa-binatang.html

Minggu, 22 September 2013

Norma Agama dan Tradisi Berdamai dalam Adat

Pohuwato, KARTANU. Selain tampilan yang serba Muslim, toleransi adalah salah satu ciri khas kawasan santri. Toleransi ini menjadi salah satu syarat dalam menjaga perdamaian dan perayaan serta peraturan-peraturan agama.

"Agama-agama bersatu dalam tradisi dan norma-norma sosial yang disepakati tanpa perjanjian tertulis. Inilah yang disebut sebagai adat, yang menjamin terciptanya kerukunan dalam masyarakat yang heterogen," tutur Abu Bakar Polutu, salah seorang Imam Wilayah di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, Kamis (5/4).

Norma Agama dan Tradisi Berdamai dalam Adat (Sumber Gambar : Nu Online)
Norma Agama dan Tradisi Berdamai dalam Adat (Sumber Gambar : Nu Online)


Norma Agama dan Tradisi Berdamai dalam Adat

Menurut Abu Bakar, masyarakat Pohuwato sadar bahwa ajaran-ajaran agama harus dijalankan dengan tidak mengganggu umat yang beragama lain. Lebih dari itu, para pemeluk agama harus tetap saling membantu dalam kehidupan sosial keseharian, meskipun mereka menganut agama yang berbeda-beda.

"Tradisi saling membantu inilah yang disebut sebagai adat. Meski mungkin saja, saling membantu adalah ajaran di masing-masing agama, namun Adat menjadikan masyarakat yang homogen sebagai benar-benar saudara," tutur pria berusia 81 tahun ini.

KARTANU

Lebih lanjut Abu Bakar menjelaskan, sebagai seorang Imam, dirinya berkewajiban untuk memimpin umat Islam dalam beribadah. Namun ada beberapa ritual ibadah yang pelaksanaannya telah menjadi bagian dari tradisi, karenanya perayaan tersebut dipimpin oleh seorang tokoh adat.

KARTANU

"Ritual-ritual keagamaan yang telah menjadi tradisi, seperti perayaan maulid Nabi, maka tidak bisa hanya dipimpin oleh seorang imam. Perayaan maulid dipimpin oleh tokoh adat karena melibatkan berbagai simbol lokal dan berbagai aspek kehidupan," tandasnya.

Di Gorontalo, Masyarakat Muslim dipimpin oleh para imam yang menjadi pemimpin ibadah di setiap level. Setiap Jamaah memiliki Imam, jamaah bisa terdiri dari jamaah musholla atau Masjid. Para imam jamaah ini dipimpin oleh seorang Imam Kelurahan. Para imam kelurahan di pimpin oleh Imam Kecamatan. Para imam kecamatan dipimpin oleh seorang Imam kabupaten dan para imam kabupaten dipimpin oleh seorang imam di tingkat provinsi.

Seorang Imam Jamaah bertanggungjawab sepenuhnya untuk memimpin pelaksanaan ibadah jamaahnya, termasuk memimpin sholat lima waktu. Imam jamaah diangkat oleh jamaahnya masing-masing, imam kelurahan, kecamatan, kabupaten dan provinsi diangkat oleh masing-masing level pejabat.

Khusus pada tingkat kabupaten dan provinsi, selain terdapat seorang imam, juga memiliki seorang kadi yang bertugas untuk menyelesaikan masalah-masalah yang menyangkut keagamaan di masyarakat.

Dalam setiap pelaksanaan ritual adat, para pemimpin adat akan selalu berkonsultasi dan berdampingan dengan imam dalam memimpin ritual. Demikian sebaliknya, bila para imam jamaah menggelar acara-acara hari besar keagamaan, mereka pun akan selalu berdampingan dengan para pemimpin adat.

Penulis : Syaifullah Amin

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/37328/norma-agama-dan-tradisi-berdamai-dalam-adat

KARTANU

Minggu, 17 Februari 2013

Ini Akhir Perdebatan Maulid Nabi Bidah

KARTANU - Dari dahulu sejak Ibnu Al-Haj dan ulama lainnya yang tidak setuju dengan Maulid Nabi -sebagaimana dilakukan oleh banyak umat Islam Sunni,- berargumen karena Maulid Nabi tidak dilakukan oleh Nabi, para Sahabat maupun Tabiin. Para ulama ahli hadis yang beristinbath dengan hadist bahwa Nabi berpuasa di hari Senin karena di hari itu beliau dilahirkan [HR Muslim], masih juga belum diterima.

Al-Hafidz Ibnu Hajar dan ahli hadist lainnya pun juga beristinbath dengan pelbagai hadist, namum masih belum memuaskan diri mereka yang memang tidak mau dengan Maulid. Di bawah ini dijelaskan dua hal yang tidak dilakukan Nabi, tapi oleh muslimin dunia dan sahabat Nabi.

Ini Akhir Perdebatan Maulid Nabi Bidah - KARTANU
Ini Akhir Perdebatan Maulid Nabi Bidah - KARTANU


Ini Akhir Perdebatan Maulid Nabi Bidah

- Masa Pelaksanaan Umrah yang Tidak Dilakukan Nabi

Jalan fikiran Anti Maulid adalah karena tidak ada contoh dari Nabi. Kalau memang demikian semestinya umat Islam meniru Nabi melakukan Umrah di bulan Dzulqa'dah saja, sebab Nabi melaksanakan Umrah di bulan tersebut:

KARTANU

ﻋﻦ ﻗﺘﺎﺩﺓ، ﺃﻥ ﺃﻧﺴﺎ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ، ﺃﺧﺒﺮﻩ ﻗﺎﻝ: " اﻋﺘﻤﺮ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﺭﺑﻊ ﻋﻤﺮ، ﻛﻠﻬﻦ ﻓﻲ ﺫﻱ اﻟﻘﻌﺪﺓ، ﺇﻻ اﻟﺘﻲ ﻛﺎﻧﺖ ﻣﻊ ﺣﺠﺘﻪ . رواه البخاري

Artinya:

KARTANU

"Dari Anas bahwa Nabi melakukan Umrah 4 kali, semuanya di bulan Dzulhijjah, kecuali Umrah yang bersamaan dengan Haji Nabi [haji wada']" (HR al-Bukhari)

Mestinya, menurut mereka, Umrah di bulan Muharram, Shafar dan lainnya juga bid'ah dengan alasan Nabi tidak pernah melakukan. Tapi nyatanya, hingga saat ini umat Islam sepakat membolehkan Umrah sepanjang tahun.

- Mengumpulkan Al-Quran

"Itu, Demi Allah, adalah baik", adalah sebuah penggalan kalimat dari Sayyidina Umar untuk meyakinkan Sayyidina Abu Bakar agar mau melakukan pembukuan Al-Quran yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi (HR Al-Bukhari)

Sayyidina Abu Bakar lalu menunjuk Zaid bin Tsabit untuk membukukan Al-Quran;

ﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ: ﺇﻧﻚ ﺭﺟﻞ ﺷﺎﺏ ﻋﺎﻗﻞ ﻻ ﻧﺘﻬﻤﻚ، ﻭﻗﺪ ﻛﻨﺖ ﺗﻜﺘﺐ اﻟﻮﺣﻲ ﻟﺮﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻓﺘﺘﺒﻊ اﻟﻘﺮﺁﻥ ﻓﺎﺟﻤﻌﻪ

Artinya:

"Abu Bakar berkata: "Engkau (Zaid) adalah pemuda cerdas, kami tidak menaruh prasangka buruk padamu. Engkau juga mencatat wahyu bagi Nabi. Maka telitilah Al-Quran lalu kumpulkan""

Zaid berkata:

«ﻓﻮاﻟﻠﻪ ﻟﻮ ﻛﻠﻔﻮﻧﻲ ﻧﻘﻞ ﺟﺒﻞ ﻣﻦ اﻟﺠﺒﺎﻝ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﺃﺛﻘﻞ ﻋﻠﻲ ﻣﻤﺎ ﺃﻣﺮﻧﻲ ﺑﻪ ﻣﻦ ﺟﻤﻊ اﻟﻘﺮﺁﻥ»،

Artinya:

"Demi Allah, andai mereka memaksaku memindah gunung tidaklah lebih berat bagiku dari pada perintah Abu Bakar untuk mengumpulkan Al-Quran"

Zaid kemudian menjawab:

ﻗﻠﺖ: «ﻛﻴﻒ ﺗﻔﻌﻠﻮﻥ ﺷﻴﺌﺎ ﻟﻢ ﻳﻔﻌﻠﻪ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ؟»، ﻗﺎﻝ: ﻫﻮ ﻭاﻟﻠﻪ ﺧﻴﺮ، "

Artinya:

"Bagaimana kalian melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallama? Abu Bakar menjawab: "Itu, demi Allah, adalah baik" (HR Al-Bukhari)

Amaliah dalam Maulid adalah membaca shalawat, menyampaikan sejarah keteladanan Nabi dan sedekah. Hanya ini saja, dan tidak ada kemungkaran. Rangkaian yang ada dalam Maulid ini sangat baik semua, seperti halnya kalimat 'Baik' menjadi dalil bagi para Sahabat untuk melakukan sesuatu yang tidak ada di masa Nabi. Dan Allah berfirman:

وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya:

"... dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan." (Al-Haj: 77). [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/ini-akhir-perdebatan-maulid-nabi-bidah.html

Senin, 19 November 2012

Kalau Hanya Belajar Islam, Ngapain ke Timur Tengah?

KARTANU - Dengan ini saya anjurkan kepada para bapak dan ibu kaum muslim/ muslimah di Indonesia tidak perlu repot-repot menyekolahkan anak-anaknya ke negara-negara Arab kalau tujuannya hanya sekedar untuk mempelajari Islam, belajar Bahasa Arab atau mengaji kitab-kitab keislaman.

Sekali lagi, kalau tujuannya hanya untuk belajar masalah ini (kalau punya tujuan lain ya lain lagi persoalannya), di Indonesia saja sudah cukup. Pondok-pondok pesantren, khususnya milik Nahdlatul Ulama (NU) sudah melimpah-ruah di kota maupun desa. Indonesia kini juga sudah surplus kiai, baik tua maupun muda, yang sangat mumpuni dalam masalah ini.

Kalau Hanya Belajar Islam, Ngapain ke Timur Tengah? - KARTANU
Kalau Hanya Belajar Islam, Ngapain ke Timur Tengah? - KARTANU


Kalau Hanya Belajar Islam, Ngapain ke Timur Tengah?

Lagi pula, untuk apa menyekolahkan anak jauh-jauh ke Arab untuk "belajar Islam" kalau pada akhirnya kelak ketika selesai sekolah malah menjadi "malin kundang" yang, atas nama "kemurnian Islam" dan "tegaknya tauhid", berani melawan orang tua, mengafirsesatkan mereka, membidahkan amalan-amalan keagamaan mereka dan seterusnya. Nanti Anda sendiri yang akan kerepotan loh: mau dibiarkan kurang ajar, mau digampar itu anak sendiri. Repot kan?

Bukan hanya melawan orang tua saja loh. Para ulama dan kiai yang kebetulan berbeda pemikiran juga dikapir-kapirkan oleh "anak kemarin sore" yang baru sunat ini. Tidak sebatas itu. Sebagian mereka bahkan tega untuk mengpitnah dan mengungkapkan kata-kata kotor dengan beliau-beliau. Padahal beliau-beliau itu masya Allah ulama yang sangat rendah hati, alim dan saleh dalam segala hal. Kok tega ya mereka melakukan itu?

KARTANU

Terus? Sudah jauh-jauh sekolah dan "menuntut ilmu keislaman", pulang-pulang malah menjadi "provokator kebencian" yang anti-pati terhadap tetangga, non-muslim dan bahkan terhadap sesama muslim itu sendiri yang hanya secara kebetulan berbeda mazhab, pandangan, pemikiran, dan praktek keagamaan dengan mereka. Repot kan? Hidup di dunia yang warna-warni kok "kaku-regeng" kayak tiang listrik, tidak mau toleran dengan keragaman. Emang bumi ini milik engkong mereka apa?

Sudah cukup? Belum. Mereka juga mengharamkan bendera merah-putih, memusyrikkan penghormatan terhadapnya, mengthogutkan Pancasila dan Konstitusi, "menerakakan" para pejuang dan pahlawan bangsa. Wis embuh lah. Banyak pokoknya yang aneh-aneh dan "unyu-unyu" dari tingkah-polah mereka. Tapi sebagian loh, tidak semua alumni Timur Tengah yang belajar Islam bersikap seperti ini. Entar ada yang ngamuk-ngamuk lagi.

KARTANU

Nah, kalau mondok di pesantren-pesantren NU, nanti akan lain ceritanya. Anak-anak nanti diajari untuk mencitai ulama, mencintai bangsa, negara dan Tanah Air, menghormati orang tua, toleran terhadap sesama manusia, ramah terhadap tetangga, mencitai tradisi dan budaya bangsa. Pokoknya banyak deh yang baek-baek.

Dan sudah barang tentu, para santri akan mendapatkan pelajaran-pelajaran keislaman yang "yahud" (tanpa "i"), keislaman yang ramah dan respek dengan kemajemukan pemikiran, keragaman mazhab, dan perbedaan pendapat. Yuk, kita semarakkan gerakan cinta Pokemon (Pokoke Mondok). [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/kalau-hanya-belajar-islam-ngapain-ke-timur-tengah.html

Jumat, 05 Oktober 2012

Kata Ustadz, Lima Hal Ini Bisa Menjadikan Orang Muslim Auto Kafir

KARTANU - Sudah tiga bulan ini ada seorang yang menurut saya aneh. Beliau tidak saya kenal di dunia nyata. Hanya karena sama-sama anggota sebuah grup WA, beliau hampir tiap hari mengirimi pesan pribadi ke saya.

Saya sendiri diseret masuk grup itu tanpa meminta kesediaan. Hanya karena nama saya mengandung istilah Arab, dan sy diketahui beragama Islam, maka saya pun dimasukkan grup tersebut. Serta dikirimi pesan pribadi beliau.

Di grup, beliau ini dipanggil Ustad, bahkan kyai. Saya sangat jarang membuka grup tersebut karena tidak punya waktu. Kesibukan saya jelas menghalangi saya membuka grup tersebut maupun grup lain. Mungkin perlu saya beritahukan, saya tergabung dalam 34 grup WA. Itupun sudah saya kurangi (saya left) dari sebelumnya 44 grup.

Kata Ustadz, Lima Hal Ini Bisa Menjadikan Orang Muslim Auto Kafir - KARTANU
Kata Ustadz, Lima Hal Ini Bisa Menjadikan Orang Muslim Auto Kafir - KARTANU


Kata Ustadz, Lima Hal Ini Bisa Menjadikan Orang Muslim Auto Kafir

Beliau yang njapri saya itu selalu mengirimkan tulisan dari entah siapa saja, yang isinya pada pokoknya adalah Islam itu banyak musuh. Islam dalam bahaya besar. Umat Islam berada dalam kondisi sangat bahaya. Bahkan mungkin darurat. Siapa yang membahayakan Islam dan umat Islam itu? Pokoknya siapa saja dan apa saja. Saya bisa sebutkan satu persatu kiriman beliau:

KARTANU

1. Calon gubernur DKI beragama non Islam itu musuh, membahayakan aqidah umat Islam. Umat Islam harus waspada, jangan sampai memilih calon gubernur tersebut. Haram memilih si calon. Barangsiapa mengaku muslim tapi memilih si cagub itu, maka rusak akidahnya, batal imannya. Munafiq minimalnya. Dasarnya ada di Al-Qur'an. Yaitu adanya larangan memilih orang Nasrani sebagai pemimpin.

Saya tidak ahli agama, maka saya hanya bisa bertanya kepada beliau. "Ya Ustad, apakah calon gubernur di Propinsi Papua, Papua Barat, Sulawesi Utara, Kalimatan Barat, Kalimantan Tengah, NTT, atau juga Walikota Solo yang jelas-jelas beragama Kristen, itu tidak pemimpin? Kenapa tidak ditolak juga? Apakah ayat Al-Qur'an hanya berlaku di Jakarta?"

KARTANU

Lha partai-partai Islam yang mendukung FX Hadi Rudyatmo si Katholik sebagi walikota Solo, itu hukumnya bagaimana? Sayang sekali, beliau tidak menjawab, sehingga saya masih tetap bodoh tidak tahu apa-apa tentang agama.

2. Syiah itu sesat, Syiah itu jahat. Said Aqil Siradj itu Syiah, maka NU harus dibersihkan dari Said Aqil dan orang syiah lainnya. Jika NU tidak mau dibersihkan, berarti NU itu organisasinya orang sesat karena dipimpin orang Syiah. Kata beliau, MUI pernah mengeluarkan fatwa bahwa Syiah itu sesat. (tapi saya sendiri belum baca fatwa MUI itu ada atau tidak).

Saya hanya bisa bertanya. "Ya Ustadz. Apa kriteria atau parameter seseorang bisa disebut Syiah? Dan bagaimana mengetahui bahwa Syiah itu sesat? Lalu, mengapa vonis Syiah sesat itu baru ada semenjak Israel dan Saudi bersekutu memusuhi Iran? Padahal Syiah sudah ada sejak ratusan tahun, dan bahkan di Indonesia sudah ada puluhan tahun lalu?" Sayang sekali beliau tidak menjawab.

3. Kristen itu musuh. Kristen itu kafir. Maka meniru segala atribut yang dipakai orang Kristen itu haram. Itu membahayakan aqidah, merusak iman. Dasarnya hadis: barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka termasuk kaum tersebut. MUI, kata beliau, sudah mengeluarkan fatwa yang tegas bahwa memakai topi Santa Klaus itu haram.

Saya tambah bingung. Lalu bertanya: Pelajaran tauhid darimana, ajaran dari imam siapa yang menyebut Nasrani atau Kristen sebagai kafir? Sedangkan kafir sendiri ada yang dzimmi dan harby?

Kali ini, beliau tidak menjawab. Pertanyaan saya ganti yang mudah, apakah topi Santa Klaus itu artibut ritual? Apakah orang memakai topi Santa sudah pasti berniat meniru dan menyetujui keimanan orang Kristen? Bukankah yang disebut menyerupai itu berarti sengaja mengidentifikasi diri dengan orang kafir dengan maksud mengidolakan dan menjadikan sebagai pedoman perilaku dalam beragama? Bukankah topi Santa itu hanya produk budaya, bukan atribut keagamaan seperti Salib?

Tidak dijawab juga. Saya tambah mumet bin bingung. Lalu, pertanyaan saya ganti dengan lontaran diskusi saja, "Ya Ustadzi rohimakallah, kalau setiap orang yang memakai atribut budaya tertentu yang dianggap bukan budaya Islam, dan itu divonis meniru kaum kafir, lantas dihukumi haram, lalu bagaimana dengan perbuatan Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, yang memakai udheng dan pakaian yang biasa dipakai orang Hindu?

Bahkan para wali zaman itu juga membangun menara masjid persis seperti Pura milik orang Hindu? Apakah beliau itu wali yang sesat dan menyesatkan? Juga akan masuk neraka karena telah melanggar melakukan perbuatan haram sebagaimana difatwakan oleh MUI tersebut?" Lagi-lagi tidak dijawab.

4. Merayakan malam tahun baru masehi itu haram, bahkan merusak akidah. Hilang Iman. Perbuatan itu mengikuti Yahudi, Nasrani dan Majusi sekaligus. Kafir kuadrat jadinya. Dikatakan, meniup terompet adalah perbuatan orang Yahudi, menyalakan kembang api adalah perbuatan orang Majusi, membunyikan lonceng atau klakson adalah perbuatan orang Nasrani. Lengkap sudah kerusakan akidahnya.

Saya bengong. Karena orang awam tak tahu apa-apa soal agama, ya hanya mampu bertanya, "Ya Ustad, apakah semua orang yang melakukan perbuatan tersebut sudah pasti berniat meniru dan menjadikan orang Majusi, Yahudi dan Nasrani sebagai panutan dalam beragama? Apakah Malaikat Isrofil nanti juga akan langsung auto kafir karena beliau dapat tugas menirup terompet?

Apakah sopir bus yang membunyikan klakson juga auto kafir jika memencet bel telolet? Apakah seluruh ulama dan kaum muslim di Kota Semarang juga akan auto kafir atau auto murtad setiap menjelang Ramadhan, karena mereka selalu membunyikan meriam berbunyi Dheer, yakni tradisi Dugder, menabuh bedug dan menyalakan meriam? Bukankah meriam itu lebih besar apinya ketimbang kembang api? Bagaimana cara tobatnya kaum muslimin Semarang ya, Ustadz?" Sampai sekarang saya masih menunggu jawabannya.

5. Ada teman yang memprotes status saya yang dia anggap mendukung kaum kafir. Yaitu tidak ikut menolak pemakaian topi Santa Klaus dan tidak ikut menolak kegembiraan malam tahun baru. Kata dia, saya orang liberal dan tidak patuh pada ulama, yaitu MUI.

Saya jawab, "sy orang bodoh, jahil dalam agama. Makanya tidak tahu mana yang haram dan yang halal. Saya awam dalam ilmu kalam, maka tidak mengerti mana yang merusak akidah dan mana yang tidak. Maka mohon beritahu saya. Tunjukkanlah saya ke jalan yang benar. Mohon beritahu saya, apakah semua yang menyerupai itu neniru, dan apakah tasyabbuh itu dalam segala hal, lantas dinilai sebagai tindakan toleransi yang kebablasan, lalu diharamkan?

Kalau memakai topi Santa adalah tasyabuh dan itu dihukumi haram, lantas bagaimana dengan Rasulullah Muhammad SAW yang memakai jubah dan sorban, sedangkan semua orang kafir Arab waktu itu menyembah berhala memakai busana itu? Nabi Muhammad mengajarkan toleransi yang kebablasan? Melanggar fatwa MUI? Di mana beda antara budaya dan agama? Mengapa segala yang berbau budaya dimusuhi oleh Islam Anda? [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/kata-ustadz-empat-hal-ini-bisa-menjadikan-orang-islam-auto-kafir.html

Senin, 08 Agustus 2011

Terbitkan Buku, Habib Luthfi Apresiasi Ketua Lesbumi Tegal

Tegal, KARTANU. Kerja kreatif Ketua Lembaga Seni Budaya Indonesia (Lesbumi) PCNU Kota Tegal, Jawa Tengah, Drs Atmo Tan Sidik dengan menerbitkan buku karyanya mendapat apresiasi dari Rais Aam Idarah Aliah Jamiyyah Ahlit Thariqah al-Mutabarah an-Nahdliyah (Jatman) Habib Muhammad Luthfi bin Yahya.

Lanjutkan, Bang Atmo, dengan buku-buku lainnya, pesan Habib saat menerima silaturahmi Atmo ke kediaman Habib di Pekalongan Ahad (24/2).

Terbitkan Buku, Habib Luthfi Apresiasi Ketua Lesbumi Tegal (Sumber Gambar : Nu Online)
Terbitkan Buku, Habib Luthfi Apresiasi Ketua Lesbumi Tegal (Sumber Gambar : Nu Online)


Terbitkan Buku, Habib Luthfi Apresiasi Ketua Lesbumi Tegal

Habib Luthfi memberikan pujian kepada Atmo tentang konsistensinya pada dunia kebudayaan Pantura. Termasuk membukukan hasil pemikirannya dalam sebuah buku. Apalagi dengan menggunakan bahasa Brebesan yang menyentuh masyarakat.

Buku berjudul Dikendangi Wong Edan, Aja Njoged diluncurkan di Kampung Seni kawasan Pantai Alam Indah (PAI) Kota Tegal, Jumat (21/2). Menurut Atmo, buku tersebut sengaja dirilis pada 21 Februari, karena bertepatan dengan peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional.

KARTANU

Buku Dikendangi Wong Edan, Aja Njoged berisi kumpulan kolom tulisan lama Atmo yang pernah diterbit di berbagai media dan majalah. Buku ini berisi esai-esai dalam bahasa brebes-tegal yang menyinggung kehidupan sosial kemasyarakatan, termasuk sentilan-sentilan politik.

KARTANU

Budayawan Pantura ini sudah lama malang melintang di dunia penulisan, termasuk mengasuh Lha Kiyeh, kolom berbahasa brebes-tegal yang terbit secara reguler di majalah Berita Berhias milik Pemkab Brebes.

Buku berisi 38 kolom dengan 180 halaman ini mencantumkan komentar sederet tokoh, mulai dari nama ulama kharismatik, Habib Lutfi bin Yahya dari Pekalongan; musisi sekaligus budayawan, Emha Ainun Najib; sastrawan Ahmad Tohari; hingga penulis sekaligus pengasuh pesantren, Hj. Masriyah Amva.

Saat luncuran buku tersebut, turut hadir Wali Kota Tegal Ikmal Jaya, Wakil Bupati Tegal Hj Umi Azizah, Budayawan Internasional Ahmad Tohari, Ketua PCNU Kota Tegal Abdal Hakim dan sejumlah pegiat seni dan budaya Brebes Tegal Slawi serta undangan lainnya. (Wasdiun/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/50379/terbitkan-buku-habib-luthfi-apresiasi-ketua-lesbumi-tegal

KARTANU

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KARTANU sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KARTANU. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KARTANU dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock