Tampilkan postingan dengan label Media Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Media Sosial. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 September 2013

Tak Hanya Mengamankan, Tentara Pun Ikut Menyapu Area Munas

Jakarta, KARTANU. Ada pemandangan unik di Kompleks Pondok Pesantren Kempek Cirebon, Jumat (14/9) pagi. Bersama para santri setempat, puluhan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari Komando Distrik Militer (Kodim) Kabupaten Cirebon dengan semangat menyapu seluruh halaman yang menjadi lokasi Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2012.

Ini merupakan tanggung jawab kami dari daerah, kata Kapten ARH Sudaryanto saat memimpin tugas kebersihan di Pesantren seluas 20 hektar ini.

Tak Hanya Mengamankan, Tentara Pun Ikut Menyapu Area Munas (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Hanya Mengamankan, Tentara Pun Ikut Menyapu Area Munas (Sumber Gambar : Nu Online)


Tak Hanya Mengamankan, Tentara Pun Ikut Menyapu Area Munas

Menurutnya, kegiatan ini merupakan wujud kepedulian TNI terhadap kelancaran Munas dan Konbes NU. Menyapu hanya salah satu dari sejumlah kegiatan-kegiatan lain seperti memasak di dapur umum, memasang umbul-umbul, meratakan tanah, menggali parit, dan tentunya mengamankan acara.

Ia mengaku bangga dapat berpartisipasi dalam hajatan besar NU ini. Selama ini, khususnya di lingkungan Kempek, tentara memang sering dilibatkan pada berbagai acara. Pastinya puas bisa turut membantu NU untuk keseksesan Munas, ujarnya.

KARTANU

Saat dikonfirmasi, pengasuh pesantren, KH Jafar Aqil Siroj membenarkan pihaknya cukup akrab dengan kalangan tentara di kawasan Cirebon. Sikap ini ditunjukkan untuk merangkul segenap elemen masyarakat guna kemaslahatan bersama.

KARTANU

Redaktur : Mukafi Niam

Penulis : Mahbib Khoiron

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/39701/tak-hanya-mengamankan-tentara-pun-ikut-menyapu-area-munas

Minggu, 14 Agustus 2011

Senjata Teroris Bukan Lagi AK 47, Melainkan Media Massa

Media massa dinilai memiliki peran strategis untuk menjadi sarana pencegahan terorisme. Akan tetapi fungsi sebaliknya disebut juga menonjol. Ini disampaikan Anggota Dewan Pers, Jimmy Silalahi, saat menjadi narasumber dalam Media Visit Badan Nasional Penangulangan Terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalimantan Barat di TVRI Stasiun Regional Kalimantan Barat, Rabu (1/6/2016).

"AK 47, M 15 itu senjata konvensional teroris. Sekarang mereka memiliki senjata yang terbaru, lebih dalam penetrasinya dan lebih cepat tersebar, yaitu media massa," kata Jimmy.

Senjata Teroris Bukan Lagi AK 47, Melainkan Media Massa - KARTANU
Senjata Teroris Bukan Lagi AK 47, Melainkan Media Massa - KARTANU


Senjata Teroris Bukan Lagi AK 47, Melainkan Media Massa

Jimmy menambahkan, tujuan utama dari pelaku teror selain menciptakan kerusakan juga untuk menimbulkan ketakutan yang akut di masyarakat. "Dan itu bisa tercapai dengan cepat melalui media massa. Semakin masive pemberitaan terhadap peristiwa teror, maka semakin menang pelaku teror," tambahnya.

Untuk menghindari kemenangan pelaku teror tersebut, Jimmy mengajak media massa untuk memberitakan sisi positif dari kejadian teror.

KARTANU

"Media bisa lebih memberitakan kelompok penyintas, mereka yang yang menjadi korban dan bertahan hidup dengan segala perjuangannya. Yang seperti itu lebih menyentuh dan menggugah kesadaran kita bersama bahwa terorisme mengakibatkan kerusakan dan harus bersama-sama kita perangi. Tidak hanya BNPT, Polri, atau TNI, tapi kita semua warga masyarakat," tandas Jimmy.

Media Visit adalah bagian dari program Pelibatan Media Massa dalam Pencegahan Terorisme yang dilaksanakan BNPT dengan menggandeng FKPT. Satu kegiatan lain di program ini adalah Diseminasi Pedoman Peliputan Terorisme dan Peningkatan Profesionalisme Media Massa Pers dalam Meliput Isu-isu Terorisme. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/06/senjata-teroris-bukan-lagi-ak-47-melainkan-media-massa.html

KARTANU

Sabtu, 21 Mei 2011

Cut Meutia Tidak Dijilbabi Pada Uang Kertas 1000, Itu Tidak Masuk Akal

KARTANU - Beredarnya uang baru Rp 1000 dengan gambar Pahlawan Aceh Cut Nyak Meutia memicu debat di kalangan publik Aceh. Ada yang berpendapat, Cut Nyak Meutia memang tidak memakai jilbab, apalagi model jilbab seperti model sekarang ini. Sebaliknya, ada yang berpendapat bahwa perempuan Aceh khususnya dari kalangan pejuang sesungguhnya pribadi yang syar’i dan karenanya sudah pasti berjilbab atau berhijab.

Bagi yang yakin bahwa Cut Nyak Meutia tidak berjilbab mengacu kepada dokumen-dokumen dan lukisan yang pernah ada, dan memang Cut Nyak Meutia tidak berjilbab. Beberapa foto yang dimiliki oleh Belanda dan kini bisa diakses oleh publik juga tidak berjilbab atau tidak menggunakan penutup kepala.

Cut Meutia Tidak Dijilbabi Pada Uang Kertas 1000, Itu Tidak Masuk Akal - KARTANU
Cut Meutia Tidak Dijilbabi Pada Uang Kertas 1000, Itu Tidak Masuk Akal - KARTANU


Cut Meutia Tidak Dijilbabi Pada Uang Kertas 1000, Itu Tidak Masuk Akal

Sebaliknya, bagi yang yakin perempuan Aceh memakai penutup rambut atau jilbab, berargumen dokumen yang beredar bukanlah cermin perempuan Aceh. Itu bagian dari propaganda Belanda untuk merusak citra perempuan Aceh.

KARTANU

Tuanku Warul Waliddin, keturunan dari Sultan Aceh terakhir meyakini bahwa perempuan Aceh sesunguhnya, khususnya perempuan pahlawan dari keturunan bangsawan, adalah pribadi yang syar’i dan karenanya berhijab. Berikut pandangannya yang ditulis di dinding facebook:

“Seorang Bangsawan sejatinya memiliki identitas diri yang membedakan antara dirinya dengan kelas dibawahnya (terutama Pada masa itu). cara bertutur kata hingga berbusana adalah menentukan siapa dirinya dan latar belakangnya. pada photo ini, Yang berdiri ditengah adalah Teungku Putro Gamba Gadeng bin Tuanku Abdul Madjid yang merupakan Permaisuri Sultan Alaidin Muhammad Daudsyah (Sultan Aceh Terakhir). Ibunda daripada Tuanku Raja Ibrahim. disamping kiri kanan beliau adalah para dedayang istana (lamiet). mengacu kepada trending topic mengenai kontroversi bagaimana seorang Cut Meutia dan Cut Nyak dhien yang notabene seorang keturunan bangsawan pada masanya seharusnya berbusana dapat dilihat pada photo ini. dayang berbusana tanpak rambut kepala meskipun badan tertutup rapi, dan seorang Permaisuri menutup aurat dari kepala hingga Ujung kaki. semoga memberi pencerahan.”

Status Warul Waliddin Sebelumnya, Warul Waliddin juga pernah menggalang gerakan menghijabkan perempuan pejuang Aceh yang selama ini selalu ditampilkan tanpa hijab. "Jangan pernah lagi gambar Cut Nyak Dhien dan para syuhada perempuan kita ditampilkan tanpa hijab, sebagaimana keyakinan mereka," tandas Tuanku Warul Walidin, sebagaimana pernah dilansir sejumlah media.

Menurut Warul Waliddin, perempuan pejuang dari kalangan bangsawan Aceh adalah perempuan yang memiliki pemahaman keagamaan yang kuat sehingga berani terjun berjuang. "Dengan bekal pemahaman keagamaan itu maka tidak mungkin jika perempuan Aceh mengabaikan pakaian yang syar’i, tidak masuk akal," pungkasnya.

KARTANU

Tuanku Warul Walidin yang akrab disapa Raja Ubit itu menghimbau pemerintah untuk mau menggelar musyawarah terlebih dahulu manakala ingin menampilkan sosok pejuang Aceh khususnya pejuang perempuan. "Tidak berat untuk bertanya pada sejarawan Aceh dan pihak lainnya di Aceh agar hasilnya tidak malah melukai rakyat Aceh, atau menimbulkan kontroversi sesama rakyat di Aceh," pungkasnya. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/cut-meutia-tidak-dijilbabi-pada-uang-kertas-1000-rupiah.html

Rabu, 11 Mei 2011

Inilah Akhlaq: Presiden yang Mendatangi Ulama, Bukan Sebaliknya

KARTANU - Sebuah pemandangan penuh adab ini ada dalam video KARTANU yang didapatkan dari seorang kolega. Dalam video tersebut, seorang umaro' (pejabat) yang justru tawadlu' kepada ulama (ahli ilmu pewaris Nabi), bukan sebaliknya.

Adalah Ramzan Kadyrov, presiden Chechnya yang ketika datang dalam majelis ilmu Habib Ali Al Jufri langsung bersalaman dan tidak meminta Habib (ulama') untuk berdiri, hanya ingin menghormati kehadiran dirinya atas nama umaro'. Subhanallah. Tonton video kedua tokoh Aswaja ini.

Inilah Akhlaq: Presiden yang Mendatangi Ulama, Bukan Sebaliknya - KARTANU
Inilah Akhlaq: Presiden yang Mendatangi Ulama, Bukan Sebaliknya - KARTANU


Inilah Akhlaq: Presiden yang Mendatangi Ulama, Bukan Sebaliknya

Setelah itu, sang presiden langsung mundur, dan merapat ke barisan jama'ah pengajian yang lain. Lesehan. Masyaallah. Inilah harusnya sikap umaro' kepada ulama. Harusnya pula, ulama tidak perlu mendatangi umaro' hanya untuk mengurus dirinya. Ulama' lah yang harus disowani (ditamu) oleh penguasa.

Jika Habib Ali Al Jufri adalah ulama' yang takut umaro' karena alasan kuasa, dunia atau pengaruhnya, tentu ia yang akan lebih dulu menyambut Presiden Ramzan Kadyrov. Tapi ternyata tidak. Ini tanda tak terbantah kalau Habib Ali Al Jufri adalah ulamaul khoir dan ulama akhirat, bukan ulama dunia, apalagi ulama politik.

KARTANU

Beliau adalah contoh ulama akhirat, bukan ulama penjilat yang bisa dibungkam dengan uang dan jabatan serta mencari muka di hadapan pejabat dengan menjual agama dengan dunia yang hina ini.

Pemandangan tersebut hanya bisa kita temui dalam literatur kitab-kitab salaf berbasis ahlus sunnah wal jamaah yang menceritakan bagaimana seorang pemimpin negara yang tawadhu' mau mendatangi ulama.

Kita tidak terlalu mengaharap hadirnya pemimpin yang selalu disebut-sebut seperti Sayyidina Umar bin Abdul Aziz. Itu hampir ibarat mimpi dan tamnni. Paling tidak, kita mengharapkan tumbuhnya pemimpin yang menghargai dan menghormati ulama, dan juga mengharapkan hadirnya ulama yang tidak mudah dibeli umaro' su'. [KARTANU/ab]

KARTANU

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/inilah-akhlaq-presiden-yang-mendatangi-ulama-bukan-sebaliknya.html

Selasa, 07 Desember 2010

Jika Saling Menghormati Perbedaan, Masyarakat Sejahtera

KARTANU - Andai Tuhan berkehendak, niscaya Tuhan akan menjadikan umat manusia bersatu. Andai Tuhan berkehendak, Tuhan bisa menjadikan semua umat manusia sama agamanya, Nashrani semua, Islam semua, Sedulur Sikep semua.

Hal itu disampaikan Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah Dr KH Mohamad Arja Imroni saat memberikan ceramah dalam acara “Panggung Rakyat, Ngaji Kebangsaan & Deklarasi Desa Inklusif” yang diselenggarakan Pemerintah Desa Karangrowo bekerjasama dengan Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) di Halaman Balai Desa Karangrowo Kecamatan Undaan Kabupaten Kudus, Sabtu (20/08) malam.

Jika Saling Menghormati Perbedaan, Masyarakat Sejahtera - KARTANU
Jika Saling Menghormati Perbedaan, Masyarakat Sejahtera - KARTANU


Jika Saling Menghormati Perbedaan, Masyarakat Sejahtera

Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang itu menjelaskan bahwa keberagaman agama bagian dari kehendak Tuhan yang harus dikelola dengan baik supaya tidak terjadi konflik.

“Sejarah umat manusia sudah membuktikan bahwa keberadan agama bisa menjadi sumber perdamaian, juga bisa menjadi sumber pertengkaran. Terkadang antar pemeluk agama tertentu bermusuhan dengan pemeluk agama lainnya, bahkan penganut agama yang sama hanya karena beda pemahaman juga terkadang bermusuhan, hingga menjadi peperangan. Dulu ada perang Salib, di Timur Tengah juga banyak konflik yang disebabkan perbedaan agama. Karena itu jika kita tidak ingin berada dalam situasi perang, maka kita harus menjaga perdamaian dengan menghargai perbedaan yang ada,” paparnya.

Dalam ceramahnya di hapan ribuan pengunjung dari lintas agama itu, Kiai Arja menghimbau supaya masyarakat Kudus dan Indonesia pada umumnya untuk mengedepankan toleransi dalam menghadapi keragaman.

KARTANU

KARTANU

“Orang-orang Islam harus menghormati orang Nashrani, Sedulur Sikep. Begitu juga sebaliknya. Sesungguhnya semua agama mengajarkan kebaikan, agama apapun melarang mabuk-mabukan, judi, dan tindakan jahat. Jadi semua pemeluk agama harus mengedepankan toleransi, saling menghormati dan menghargai,” jelasnya.

Masyarakat Sejahtera

Kiai Arja menambahkan, bahwa toleransi di Kabupaten Kudus perlu dijadikan percontohan bagi wilayah-wilayah lain, terutama wilayah yang kerap menjadikan peredaan agama sebagai sebab konflik.

“Di Kudus sejak dahulu sangat menjunjung tinggi toleransi. Warisan toleransi yang diajarkan Sunan Kudus hinga sekarang masih kita rasakan. Sunan Kudus tidak menyembelih sapi demi menghormati pemeluk agama Hindu yang mengkultuskan sapi. Sunan Kudus bukan berarti mengharamkan sapi. Secara teologis Sunan Kudus menganggap sapi halal, tapi demi menghormati orang-orang Hindu Sunan Kudus tidak memperbolehkan menyembelih sapi. Inilah toleransi,” katanya.

Jika masyarakat dapat menghargai keberagaman, menjaga kerukunan, menjunjung tinggi perdamaian, maka masyarakat akan sejahtera. “Jadi, kalau masyarakatnya sudah menghormati perbedaan, saling tolong menolong, maka dalam waktu yang cepat masyarakat ini akan sejahtera, akan makmur,” terangnya. [KARTANU/ ubedKARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/jika-saling-menghormati-perbedaan-masyarakat-sejahtera.html

Selasa, 06 April 2010

Pola Dakwah Wali Songo Perlu Diteladani

Blitar, KARTANU. Pola dakwah wali Sembilan (wali songo) perlu diteladani oleh para kader dan penerus NU. Karena, pola yang dijalankan oleh para wali sederhana. Namun mengandung hikmah dan motivasi yang sangat tinggi.

Dalam berdakwah para wali ini tidak terlalu muluk-muluk dalam penyampaian. Namun, dinamis dalam pelaksanaannya," ujar Wakil Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Blitar, KH Noer Hidaytulloh Dawami kepada NU Onlie tadi pagi (10/1), usai melakukan ziarah makam dan pendiri NU di Jatim, tadi pagi.

Pola Dakwah Wali Songo Perlu Diteladani (Sumber Gambar : Nu Online)
Pola Dakwah Wali Songo Perlu Diteladani (Sumber Gambar : Nu Online)


Pola Dakwah Wali Songo Perlu Diteladani

Sitem dakwah para wali, lanjut Kiai Noer, tidak macem-macem. Baik pola maupun bahasanya. Sehingga masyarakat luas mudah menerima apa yang disampaikan.

KARTANU

Para wali itu semua hafal Quran dan hadits. Tapi mereka tidak banyak mengunakan dalil-dalil itu untuk disampaikan ke umatnya. Namun kandungannya yang dijlentrehkan berfaedah. Misalnya kenduri. Dulu kenduri itu bentuknya sesaji kepada mahluk gaib. Namun oleh wali diluruskan bahwa kenduri itu bagian dari shodaqoh. La shodaqoh itu bagian dari li dafil balak (menjauhkan dari mara bahaya)," ungkap Kiai Noer yang juga pengasuh pesantren Darur Roja Selokajang ini.

Jadi dakwahnya sangat sederhana. Namun mengena. Para wali tahu ini Jawa bukan Arab. Sehingga melalui tradisi dan buya itulah para wali bisa menyebarkan Islam di Jawa secara damai. Ini yang perlu diteladani," tambahnya.

KARTANU

Sebagimana diketahui, sukses pelaksanaan dan hasil dalam konfercab NU Kabupaten Blitar. Panitia konfercab, melakukan safari ziarah wali dan pendiri NU di Jatim. Acara dilaksanakan, 8-9 Januari 2013 kemarin. Ziarah yang diikuti anggota panitia berjumlah sekitar 55 orang itu mengambil rute, Tuban, Lamongan, Gresik, Bangkalan, Surabaya dan Jombang.

Ziarah kita mulai dari Tuban, lalu ke Lamongan, terus Gresik. Tiba di Gresik pas waktu subuh. Habis Subuhan, kita ziarah ke makam Sunan Giri. Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Bangkalan untuk ziarah ke makam Syakhona Cholil. Usai dari Bangkalan, rombongan menuju ke Ampel Surabaya, jelas Masduki, ketua panitia.

Tiba di Ampel, lanjut Masduki, waktu sudah menunjukkan pukul 14.00. Padahal, rombongan masih belum ke Troloyo Mojokerto dan Tebuireng Jombang. Karena waktunya mepet, maka perjalanan dilanjutkan ke Jombang. Untuk ziarah ke makam KH Hasyim Asyari, KH Wahid Hasyim dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Namun sayang, tiba di Tebuireng waktu sudah menunjukkan pukul 17.15 menit. Pintu gerbang pesarehan sudah tutup. Yak arena tutup kit abaca tahlil di depan pintu masuk di sebelah barat. Toh hal ini tidak mengurangi pahala tahlil," ujar Masduki menghibur. Setelah itu, rombongan pulang ke Blitar melalui jalur Pare dan Kediri. Tadi malam sekitar jam 22.00 kita sampai di Blitar," tambahnya.

Redaktur : Hamzah Sahal

Kontributor : Imam Kusnin

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/41694/pola-dakwah-wali-songo-perlu-diteladani

KARTANU

Rabu, 31 Maret 2010

Awas, Meletakkan Al-Quran di Lantai Bisa Murtad

KARTANU - Al-Quran adalah Kalamullah, maka setiap mukmin wajib memuliakan Kalamullah. Allah Ta'ala mewahyukan: "Demikianlah (perintah Allah). dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, Maka Sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati." (QS. al-Hajj, 22:32). Dan juga pada ayat "Sesungguhnya Al-Quran Ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada Kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan." (QS. al-Waqia'ah, 56:77-79).

Awas, Meletakkan Al-Quran di Lantai Bisa Murtad - KARTANU
Awas, Meletakkan Al-Quran di Lantai Bisa Murtad - KARTANU


Awas, Meletakkan Al-Quran di Lantai Bisa Murtad

Memuliakan dan mengagungkan Mushaf Al-Quran merupakan salah satu bentuk pengagungan terhadap syiar-syiar Allah, dan sekaligus bukti keimanan dan ketakwaan seseorang. Oleh karena itu, kita wajib memperlakukan Mushaf Al-Quran dengan penuh adab, sopan santun yang tinggi.

Dan hendaknya kita juga mendidik anak-anak kita agar tidak meletakkan AlQuran secara langsung di lantai tanpa alas apa pun yang mengangkatnya agak tinggi dari atas lantai. Karena, barang siapa meletakkan Mushaf secara langsung di lantai dengan niat untuk menghinakannya, maka dia menjadi murtad dan kufur, keluar dari Islam, semoga Allah melindungi kita semua dari perbuatan semacam ini.

Dan jika seseorang meletakkan Mushaf Al-Quran di lantai secara langsung tanpa niat menghinakan Al-Quran, kendati tidak menjadi murtad, akan tetapi ia sangat tidak beradab kepada Al-Qur'an, telah memperlakukan Kitabullah dengan sangat buruk. (Diasarikan dari Fatwa Habib Umar bin Hafidz).

Syaikh Sulaiman bin Muhammad Al-Bujairimi dalam kitab Tuhfatul Habib menyatakan:

وَ يَحْرُمُ وَضْعُ الْمُصْحَفِ عَلَى اْلأَرْضِ بَلْ لاَ بُدَّ مِنْ رَفْعِهِ عُرْفاً وَلَوْ قَلِيْلاً

"Haram hukumnya meletakkan mushaf di lantai, harusnya mushaf tersebut harus diangkat, meskipun hanya sedikit."

Rasulullah saw tidak pernah meletakkan lembaran-lembaran mushaf di lantai, bahkan ketika sejumlah Yahudi memberikan kepada beliau kitab Taurat, Rasulullah saw meletakkan Taurat tersebut di atas bantal.

أَتَى نَفْرٌ مِنْ يَهُودَ فَدَعُوا رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلّم إلَى الْقُفِّ، فأتَاهُمْ في بَيْتِ المِدْرَاسِ، فقالُوا: يَا أبَا الْقَاسِمِ إنَّ رَجُلاً مِنَّا زَنَى بامْرَأَةٍ فاحْكُمْ بَيْنَهُمْ، فَوَضَعُوا لِرَسُولِ الله صلى الله عليه وسلّم وِسَادَةً فَجَلَسَ عَلَيْهَا ثُمَّ قالَ: ائْتُونِي بالتَّوْرَاةِ، فأُتِيَ بِهَا، فَنَزَعَ الْوِسَادَةَ مِنْ تَحْتِهِ وَوَضَعَ التَّوْرَاةَ عَلَيْهَا وقالَ: آمَنْتُ بِكَ وَبِمَنْ أنْزَلَكَ.....

"Beberapa orang Yahudi datang dan mengundang Rasulullah saw untuk hadir ke Quff (tempat dekat Madinah), lalu beliau mendatangi mereka di tempat yang biasa mereka gunakan untuk mengaji. Mereka berkata, "Wahai Abul Qasim, seorang laki-laki di antara kami berzina dengan seorang wanita, maka tetapkanlah hukum bagi mereka." Mereka lantas memberi bantal Rasulullah saw untuk digunakan duduk, beliau pun duduk. Kemudian beliau minta diambilkan Taurat, naskah Taurat itu lalu diberikan kepada beliau. Beliau menarik bantal yang didudukinya dan meletakkan Taurat tersebut di atasnya seraya bersabda: "Aku beriman kepadamu dan kepada Dzat Yang menurunkanmu....." (Sunan Abu Dawud, no.4443)

Hadits di atas secara jelas memperlihatkan bagaimana Rasulullah saw memperlakukan kitab Taurat yang telah diubah oleh orang Yahudi tersebut di atas bantal, tentunya Al-Qur'an lebih utama untuk diperlakukan seperti itu. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/06/awas-meletakkan-al-quran-di-lantai-bisa-murtad.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KARTANU sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KARTANU. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KARTANU dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock