Tampilkan postingan dengan label Warta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warta. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Juni 2016

STAINU Malang Ingin Santri Bisa Kuliah

Malang, KARTANU. Menyertakan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai bagian dari nama perguruan tinggi mungkin dianggap dapat membatasi ruang karena seakan hanya spesifik bagi kalangan NU dan pondok pesantren. Namun bagi Rais Syuriyah Pengurus Cabang NU Kabupaten Malang, KH Muh. Mansjur, pemberian nama NU didasari cita-cita ingin membantu para santri atau alumni pondok pesantren yang ingin menempuh jalur pendidikan tinggi. Maka sekolah tinggi yang didirikannya di daerah Karangploso, Malang, dinamai Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Malang.

Hampir semua sekolah NU baik di tingkat dasar, menengah maupun tinggi tidak mau memakai nama NU. Mungkin ini karena persaingan. Pemberian nama NU seakan-sekan-akan sekolah itu hanya spesifik untuk kalangan NU saja. Namun kata Kiai (KH Muh. Mansjur), kita tetap pakai nama NU, demikian disampaikan Pujiono Pembantu Ketua III, kepada KARTANU di kampus STAINU Malang, Ahad (5/2).

STAINU Malang Ingin Santri Bisa Kuliah (Sumber Gambar : Nu Online)
STAINU Malang Ingin Santri Bisa Kuliah (Sumber Gambar : Nu Online)


STAINU Malang Ingin Santri Bisa Kuliah

STAINU Malang baru berdiri pada 2010 lalu dengan membuka dua jurusan, yakni Ekonomi Syariah (Fak. Syariah) dan Manajemen Pendidikan Islam (Fak. Tarbiyah), dua jurusan yang saat ini diminati dan diharapkan dapat meningkatkan peran para alumni pesantren. Namun sebenarnya proses perkuliahan sudah dimulai pada 2003, bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Tarbiyah (STIT) Raden Rahmat, Kepanjen, Malang.

Selama dua tahun berjalan, dari 160 mahasiswa yang terdaftar di dua angkatan ini banyak juga mahasiswa yang berasal dari kalangan luar NU atau pesantren, bahkan ada yang lulusan dari sekolah Muhammdiyah. Jadi anggapan bahwa STAINU hanya diminati kalangan NU ternyata tidak sepenuhnya benar, dan STAINU akan terus berbenah dalam rangka meningkatkan kualitas di ri di tengah persaingan.

KARTANU

Di luar urusan persaingan, pemberian nama STAINU juga ada untungnya. Dengan memakai nama NU, STAINU Malang lebih bisa bekerjasama dengan pondok-pondok pesantren di Malang dan sekitarnya.

Kami sering bersilaturahmi dan bersosialisasi ke pondok-pondok pesantren di Malang dan kami disambut baik, karena sangat jelas identitas ke-NU-annya. Banyak pengasuh pesantren dan orang tua santri yang khawatir jika ke-NU-an anaknya hilang ketika masuk perguruan tinggi lain, kata Pujiono.

KARTANU

Selain materi-materi perkuliahan pada umumnya, di STAINU ini ada materi khusus mengenai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) atau ke-NU-an yang rencananya akan diajarkan sampai sampai tiga kali, yakni Aswaja 1, 2 dan 3 pada semester II, IV dan VI.

Saat ini STAINU Malang juga berkerjasama dengan Pondok Pesantren Al-Yasini Pasuruan. Pesantren ini mengirimkan 48 mahasiswanya karena izin pendirian perguaruan tinggi yang diajukan hingga saat ini belum keluar, sementara perkuliahan sudah berlangsung dua tahun ini.

STAINU Malang berdekatan dengan Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan salah satu universitas NU yang sudah lebih dulu berdiri yakni Universitas Islam Malang (Unisma). Namun secara geografis STAINU terletak di posisi yang cukup strategi di jalan utama dari arah Surabaya atau Malang Kota ke Batu dan Kediri. STAINU berharap diminati oleh para calon mahasiswa dari Kota Batu.

Di Batu jarang ada madrasah Aliyah (MA), sementara program Paket C digalakkan di sana. Namun yang lebih penting kami ingin memfasilitasi para alumni pesantren di eilayah Batu dan sekitarnya. Banyak alumni pesantren yang tersandung persoalan formalitas, kata Pujiono.

Menurut Puji, salah satu keinginan STAINU adalah memfasilitasi alumni pesantren yang hanya punya ijazah paket C. Dari seluruh mahasiswa yang terdaftar, sekitar 10 persennya berijazah Paket C. Intinya kami ingin santri kuliah, kata Puji.

Para alumni pesantren atau para siswa yang menempuh Paket C umumnya tidak terlalu akrab dengan materi-materi umum, namun para lulusan pesantren mempunyai kemampuan pemahaman ilmu-ilmu keislaman dengan sangat baik, terutama yang berasal dari literatur Arab. Singkatnya, STAINU ini dimaksudkan untuk membebaskan santri dari belenggu formalitas pendidikan.

Penulis : A. Khoirul Anam

STAINU Malang Berharap Santri Bisa Kuliah

Malang, KARTANU. Menyertakan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai bagian dari nama perguruan tinggi mungkin dianggap

dapat membatasi ruang karena hanya spesifik bagi kalangan NU dan pondok pesantren. Namun

bagi Rais Syuriyah Pengurus Cabang NU Kabupaten Malang, KH Muh. Mansjur, pemberian nama NU

didasari cita-cita ingin membantu para santri atau alumni pondok pesantren yang ingin

menempuh jalur pendidikan tinggi. Maka sekolah tinggi yang didirikannya di daerah

Karangploso, Malang, dinamai Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Malang.

Hampir semua sekolah NU baik di tingkat dasar, menengah maupun tinggi tidak mau memakai

nama NU. Mungkin ini karena persaingan. Pemberian nama NU seakan-sekan-akan sekolah itu

hanya spesifik untuk kalangan NU saja. Namun kata Kiai kita tetap pakai nama NU, kata

Pujiono Pembantu Ketua III, kepada KARTANU di kampus STAINU, Malang, Ahad (5/2).

STAINU Malang baru berdiri pada 2010 lalu dengan membuka dua jurusan, yakni Ekonomi Islam

dan Manajemen Pendidikan Islam, dua jurusan yang saat in diminati dan diharapkan dapat

meningkatkan peran para alumni pesantren. Namun sebenarnya proses perkuliahan sudah dimulai

pada 2003, bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Tarbiyah (STIT) Raden Rahmat, Kepanjen, Malang.

Dari 160 mahasiswa yang terdaftar di dua angkatan ini banyak juga mahasiswa yang berasal

dari kalangan luar NU atau pesantren, bahkan ada yang lulusan dari sekolah Muhammdiyah. Jadi

anggapan bahwa STAINU hanya diminati kalangan NU ternyata tidak sepenuhnya benar, dan STAINU

akan terus berbenah dalam rangka meningkatkan kualitas di ri di tengah persaingan.

Di luar urusan persaingan, pemberian nama juga ada untungnya. Dengan memakai nama NU, STAINU

Malang lebih bisa bekerjasama dengan pondok-pondok pesantren di Malang dan sekitarnya.

Kami sering bersilaturahmi dan bersosialisasi ke pondok-pondok pesantren di Malang dan kami

disambut baik karena mungkin sangat jelas identitas ke-NU-annya. Banyak pengasuh pesantren

dan orang tua santri yang khawatir jika ke-NU-an anaknya hilang ketika masuk perguruan

tinggi lain, kata Pujiono.

Selain materi-materi perkuliahan pada umumnya, di STAINU ini ada materi khusus mengenai

Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) atau ke-NU-an yang rencananya akan diajarkan sampai sampai

tiga kali, yakni Aswaja 1, 2 dan 3 pada semester II, IV dan VI.

Saat ini STAINU Malang juga berkerjasama dengan Pondok Pesantren Al-Yasini Pasuruan.

Pesantren ini mengirimkan 48 mahasiswanya karena izin pendirian perguaruan tinggi yang

diajukan hingga saat ini belum keluar, sementara perkuliahan sudah berlangsung dua tahun

ini.

STAINU Malang berdekatan dengan Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Universitas

Muhammadiyah Malang (UMM) dan salah satu universitas NU yang sudah lebih dulu berdiri yakni

Universitas Islam Malang (Unisma). Namun secara geografis STAINU terletak di posisi yang

cukup strategi di jalan utama dari arah Surabaya atau Malang Kota ke Batu dan Kediri. STAINU

berharap diminati oleh para calon mahasiswa dari Kota Batu.

Di Batu jarang ada madrasah Aliyah (MA), namun program Paket C digalakkan di sana. Namun

yang lebih penting kami ingin memfasilitasi para alumni pesantren di eilayah Batu dan

sekitarnya. Banyak alumni pesantren yang tersandung persoalan formalitas , kata Pujiono.

Menurut Puji, salah satu keinginan STAINU adalah memfasilitasi alumni pesantren yang hanya

punya ijazah paket C. Dari seluruh mahasiswa yang terdaftar, sekitar 10 persennya berijazah

Paket C. Intinya kami ingin santri kuliah, kata Puji.

Para alumni pesantren atau para siswa yang menempuh PC umumnya tidak terlalu akrab dengan

materi-materi umum, namun para lulusan pesantren mempunyai kemampuan pemahaman ilmu-ilmu

keislaman dengan sangat baik, terutama yang berasal dari literatur Arab. Singkatnya, dengan

STAINU ini dimaksudkan untuk membebaskan santri dari belenggu formalitas.

Penulis : A. Khoirul Anam

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/36202/stainu-malang-ingin-santri-bisa-kuliah

Rabu, 06 Mei 2015

NU Tetap Tunggu Rukyatul Hilal

Jakarta, KARTANU. Meskipun secara hisab kepastian hari raya Idul Fithri sudah bisa dipastikan, namun NU baru akan memutuskan kapan jatuhnya 1 Syawal setelah mengadakan Rukyatul hilal.

"Secara hisab memang 1 Syawal jatuh pada 3 Nopember, dan berdasarkan perhitungan itu, Insya Allah tidak ada perbedaan soal penetapan Idul Fithri, namun sikap NU tetap menunggu rukyatul hilal yang di gelar oleh cabang Falakiyah di seluruh Indonesia," ungkap Ketua Lembaga Falakiyah NU, KH.Gojali Masruri kepada KARTANU, Jumat (29/10).

Memang, lanjutnya berdasarkan hitungan hisab ijtima terjadi pada hari Rabu, 2 Nopember jam 8.16, 49 detik dan matahari terbenam ketika tinggi hilal berada pada 0,3 derajat 18 menit 29 detik, letak matahari terbenam di sebelah selatan titik barat pada 14 derajat, 57 menit, 55 detik, sedangkan kedudukan hilal sebelah selatan matahari pada, 0,3 derajat, 39 menit, 28 detik. Sedangkan keadaan hilal posisinya miring ke selatan dan lama hilal di atas wukuf 15 menit, 38 detik.

"Meskipun sudah ada perhitungan seperti itu, kedudukan hisab bukan sebagai penentu awal Idul Fithri. Hisab hanyalah sebagai pendukung rukyah, dengan lain perkataan hisab sebagai karya ilmiah itu perlu dikontrol tingkat akurasinya dengan observasi di lapangan yang dalam bahasa Nahdlatul Ulama disebut dengan rukyatul hilal," kata kyai lulusan Krapyak ini.

NU Tetap Tunggu Rukyatul Hilal (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Tetap Tunggu Rukyatul Hilal (Sumber Gambar : Nu Online)


NU Tetap Tunggu Rukyatul Hilal

Jadi, kalau rukyah berhasil, berdasarkan perhitungan hisab tersebut, Kamis sudah masuk Idul Fithri, kalau rukyah gagal karena mendung, kabut, dan sebab lainnya maka hitungan bulan digenapkan atau istikmal, jadi Idul Fithri jatuh pada hari Jumat. "Namun, meski hisabnya sudah ada, tetapi itu tidak digunakan, karena NU dalam menetapkan 1 Syawal tetap menunggu rukyah," tandasnya.

Ia menjelaskan Rasululah sendiri tidak pernah meramal jauh-jauh hari, tapi kalau sekadar ramalan jangankan besok, 10 tahun yang akan datang kapan hari raya juga bisa. Dalam konteks ini NU mempunyai azaz di dalam mengamalkan agama itu selalu mendahulukan azaz taabud (ketundukan, ketaatan dan penghambaan) artinya taat, lalu barulah taaqul (rasionalisasi) penggunaan rasio, rasio tidak boleh didahulukan, kalau Mutazilah kan rasio dulu. setelah itu baru kalau akalnya menerima barulah dia menyerahkan pilihan keputusan. "kalau NU tidak, kita taati dulu ajaran alquran dan sunnah untuk menyempurnakannya itu barulah akal kita mendasarkan pada akal supaya lebih sempurna ibadahnya," tegasnya.

Sedangkan ketika ditanyakan mengenai patokan dasar yang dapat dijadikan pijakan apakah NU sudah menetapkan, ia menjawab NU mendasarkan pada rukyatul bil fili sesuai dengan tuntutan rasullulah, yang menjelaskan tidak kurang ada 23 hadist yang menyuruh berpuasa ataupun berhari raya dengan terlebih dahulu melihat rukyatul hilal.

KARTANU

Lebih jauh ia mengatakan, sesuai dengan paham yang diyakini NU bahwa melakukan rukyah itu suatu kewajiban ibadah. "Jadi itu fardu kifayah, orang melihat bulan lalu berpuasa, kalau kewajiban berpuasa atau berhari raya menjadi keputusan pemerintah maka, harus berdasarkan pada rukyah," katanya. Dan kalau pemerintah memutuskan tidak berdasarkan pada rukyah NU pasti menolak dengan cara membuat siaran sendiri kepada seluruh wilayah dan cabang-cabangnya diseluruh Indonesia.

Dan hal itu, katanya pernah terjadi pada tahun 1984 dan tahun 1993, ketika itu NU berbeda dalam penentuan 1 Syawal dengan organisasai lain dan terjadi perbenturan yang sangat keras di tingkatan grass root karena pada saat itu kental nuansa politisnya, setalah NU kembali ke khittah. "NU berharap 1 Syawal bisa bersama, tetapi jika terjadi perbedaan harus disikapi secara wajar dan mengedepankan ukhuwah Islamiyah," paparnya.

Sementara itu, informasi yang dihimpun dari Humas Departemen Agama menyebutkan, Sidang Itsbath penetapan 1 Syawal akan dilakukan pada Rabu (2 Nopember) mulai jam 17.30 WIB, yang akan dihadiri MUI dan seluruh Ormas Islam.Seperti tahun-tahun sebelumnya, Sidang Istinbath akan didahului dengan "rukyatul hilal" (melihat bulan baru) yang dilakukan di 323 Pengadilan Agama dan 25 Pengadilan Tinggi Agama di seluruh Indonesia. (Cih)

KARTANU

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/3719/nu-tetap-tunggu-ampquotrukyatul-hilalampquot

KARTANU

Kamis, 16 April 2015

Visualisasi Sejarah yang Coba Mengangkat Citra NU

Pemahaman yang mudah dicerna oleh siapa pun, baik anak-anak maupun orang dewasa dengan tanpa celah, melahirkan pikiran untuk memvisualisasikan sejarah dalam bentuk sesuatu yang disenangi. Jadilah, komik berjudul: NU You Know? Cikal Bakal dan Kelahiran.

Seperti apakah Nahdlatul Ulama (NU) itu? Sosok Lolo yang orang kota mencoba menggambarkannya. NU itu hebat ya, tidak hanya menembus dinding asrama saja, melainkan juga pesantren. Selain itu, orang-orang NU itu sangat dihormati dan disegani siapa saja, paparnya.

Lolo adalah salah satu tokoh utama dalam serial komik sejarah NU terbitan Bedug Aswaja. Ia diceritakan pergi ke Bali dan mendapat masalah sewaktu menabrak ayam di sekitar pesantren.

Visualisasi Sejarah yang Coba Mengangkat Citra NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Visualisasi Sejarah yang Coba Mengangkat Citra NU (Sumber Gambar : Nu Online)


Visualisasi Sejarah yang Coba Mengangkat Citra NU

Selain Lolo, ada tokoh lain dalam serial komik berjudul, NU You Know ? Cikal Bakal dan Kelahiran. Komik ini mengupas secara detil cikal bakal dan kelahiran NU, yakni Lola Acun, anak Kiai Tabrani di salah satu Pondok Pesantren.

Contoh-contoh itu mengilhami tokoh muda NU, yang dimotori oleh Arif Junaidi selaku Ketua Dewan Pembina Bedug Aswaja, untuk memberitahukan tentang NU secara utuh kepada generasi muda.

"Masyarakat dan anak-anak Indonesia umumnya dan Jawa Timur (Jatim) khususnya, yang dengan mudah mencerna, memahami, dan menyukai sesuatu ketika diwujudkan secara visual," ungkap Arif Junaidi di sela peluncuran komik sejarah NU di Gedung Museum NU, Jalan Gayungsari Timur, Surabaya, Minggu (17/9) lalu.

Visualisasi itu sekaligus menepis citra bahwa masyarakat NU itu tradisional, yang secara gaya berpikir kalah atau tertinggal dibanding kelompok lain. Bersama enam orang lainnya, terdiri dari tiga peneliti dan pengumpul data, satu komikus, satu penulis narasi dan satu bagian umum, mereka mulai mencetuskan ide pada bulan Agustus 2004.

KARTANU

Banyak buku-buku tentang NU di pasaran yang bahasanya sulit dicerna masyarakat umum. Untuk itu, kami bekerja keras dan berpikir untuk membuat sebuah bacaan tentang NU yang digambarkan melalui media komik. Ini supaya mudah dipahami, baik dari kalangan muda maupun tua, ujar Arif mengisahkan awal mula dibuatnya komik tersebut.

KARTANU

Tidak terlalu mudah untuk menuangkan gagasan cemerlang tersebut. Kendala pun mulai datang, seperti bagaimana memvisualisasikan sejarah dari perkataaan satu tokoh dengan tokoh lainnya. Rentang masa yang sangat jauh, antara pembuatan komik dengan sejarah yang diangkat juga menjadi masalah berikutnya yang cukup serius.

Hal tersulit yang dihadapi tim adalah proses penggambaran suasana pondok pesantren dan visualisasi Mekah sebelum tahun 1926. Tim pembuat komik rela duduk berjam-jam dan berhari-hari di beberapa Ponpes di Jombang. Ponpes Tebuireng, Tambak Beras, Denanyar, sehingga bisa menggambarkan suasana pada masa itu. Sedangkan untuk kondisi Mekah didapat dari Habaib di Surabaya yang punya gambar Mekah tahun 1900-an, lanjut Arif yang juga anggota DPRD Jatim.

Ia menambahkan, komik hasil karya Media Komunikasi Nahdliyin yang tergabung dalam Bedug Aswaja ini tidak seperti komik pada umumnya yang banyak menonjolkan khayalan. Komik NU justru membutuhkan data, referensi yang valid dan interview berbagai tokoh NU.

Komik NU ini bukan sembarang komik. Sebab proses pembuatannya membutuhkan waktu yang cukup panjang dan membutuhkan data, referensi yang valid. Bahkan untuk literaturnya saja banyaknya sa-gledekan. Selain itu, data juga diperkuat dengan interview dengan tokoh NU dan keturunan Hadratus Syekh KH Hasyim Asyari, yakni Pak Ud, terangnya.

Untuk komik edisi pertama, pihaknya mengetengahkan tentang cerita sejarah NU mulai sebelum berdiri hingga kemerdekaan. "Edisi kedua, kami mengangkat NU pada masa kemerdekaan sampai NU menjadi partai tahun 1952," terang Arif yang tengah menyiapkan seri komik tersebut hingga edisi keenam, sampai NU kembali ke khittah. (bersambung/Arief Hidayat)

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/5333/visualisasi-sejarah-yang-coba-mengangkat-citra-nu

KARTANU

Kamis, 26 Maret 2015

Umat Islam Harus Bisa Memanfaatkan Waktu

Menado, KARTANU. Ketua Pengurus Wilayah Nahdahtul Ulama Sulawesi Utara (Sulut) H Iskandar Gobel mengatakan, umat Islam di daerah tersebut harus dapat memanfaatkan waktu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Waktu akan mengajarkan dan mendewasakan kita, serta seharusnya kita berada dalam koridor yang menempatkan waktu sebagai sebuat kemewahan dan mensyukurinya dengan memanfaatkan sebaik-baiknya," kata Gobel dalam perayaan 1 Muharam 1426 Hijriyah yang dilaksanakan Pengurus Hari Besar Islam (PHBI) Kota Manado, Kamis.

Gobel mengatakan, pergantian Hijriyah dari 1425 Hijriyah ke 1426 Hijriyah merupakan sebuah momentum waktu yang harus dimanfaatkan untuk sebuah perubahan. Dalam kehidupan sehari-hari, umat Islam harus menjaga ketertiban, memperkuat kerukunan umat beragama serta semangat persatuan dan kesatuan dalam membangun bangsa, kata Gobel.

Sementara Walikota Manado Wempie Frederik mengatakan, esensi dari perayaan pergantian tahun hijriyah ini adalah perpindahan dari situasi kondisi yang kurang baik menjadi baik.

Umat Islam Harus Bisa Memanfaatkan Waktu (Sumber Gambar : Nu Online)
Umat Islam Harus Bisa Memanfaatkan Waktu (Sumber Gambar : Nu Online)


Umat Islam Harus Bisa Memanfaatkan Waktu

Umat Islam diharapkan dapat terus memupuk rasa kebersamaan dan memperkokoh Uhkuwah Islamiah serta memantapkan kerukunan antar umat beragama.

Perayaan tersebut antara lain dihadiori Ketua Majelis Ulama Indonesia Sulut KH. Fauzi Nuraini, Kakanwil Depag Sulut H M Jusuf Otoluwo, dan Ketua PHBI Kota Manado Abdul Hamid.(an/mkf)

KARTANU

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/2720/umat-islam-harus-bisa-memanfaatkan-waktu

KARTANU

Minggu, 06 November 2011

Masjid adalah Pusat Peradaban

Semarang, KARTANU. Masjid adalah pusat peradaban. Bukan semata tempat sholat berjamaah atau ibadah ritual semata. Dari masjidlah peradaban Islam dibangun dan dikembangkan.

Dalam sejarahnya, masjid pertama yang didirikan oleh Nabi Muhammad, yaitu Masjid Quba, difungsikan sebagai tempat bermusyawarah untuk membahas soal ekonomi, masalah masyarakat, strategi perang dan sebagainya. Juga masjid kedua, yaitu Masjid Nabawi di Madinah, juga berfungsi luas. Semua persoalan umat dirembug di masjid oleh Nabi dan para sahabatnya.

Masjid adalah Pusat Peradaban (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid adalah Pusat Peradaban (Sumber Gambar : Nu Online)


Masjid adalah Pusat Peradaban

Hal itu disampaikan pengasuh Ponpes Al-Fadlu wal Fadilah Kaliwungu Kendal, KH Dimyati Rois, dalam Peringatan Tahun Baru Hijriyah 1433 di Masjid Agung Jawa Tengah, Senin (6/12) malam.

Acara dihadiri ketua BP MAJT Ali Mufiz dan jajarannya, Kepala Biro Bintal Pemprov Jateng Sunarto, ketua Takmis Masjid Agung Semarang KH Hanief Ismail, anggota DPRD Jateng Gatyt Sari Chotijah, serta ratusan kaum muslimin dan tamu undangan.

KARTANU

Islam itu agama universal. Mencakup semua aspek kehidupan. Pusatnya ada di masjid. Dari masjidlah peradaban Islam dibangun dan dikembangkan, tutur Kiai Dimyati.

KARTANU

Dikatakannya, masjid besar seperti MAJT harus bisa meniru masjid buatan Rasul. Yaitu menjadi pusat dakwah, pusat pendidikan, serta pusat membangun peradaban Islam. Tidak boleh tabu membahas soal ekonomi, politik, dan lainnya.

Ia juga mengingatkan bahwa tidak ada urusan yang tidak wajib dalam Islam. Ada yang fardhu ain (semua orang wajib menguasainya), ada pula fardhu kifayah (cukup dikuasai oleh para ahli).

Mengutip Imam Al-Ghazali Mbah Dim menjelaskan, sudah lebih dari seribu tahun lalu, saat sebelum orang Eropa mengenal industri, Imam Ghazali sudah mengajarkan bahwa umat Islam harus menguasai industri dan teknologi. Dan ilmu itu diolah dan diajarkan di dalam masjid.

Semua urusan umat harus diurus oleh Islam, melalui pusatnya yaitu masjid. Industri dan teknologi sudah diajarkan Imam Ghazali lebih seribu tahun lalu, ujarnya.

Mbah Dim, panggilan akrabnya, juga menguraikan sejarah hijrah Nabi Muhammad. Dia sebutkan, sebelum Nabi mendirikan Masjid Nabawi, di tengah antara Quba dan Yatsrib (sekarang Madinah), Nabi menunaikan sholat Jumat di tanah lapang di sebuah lembah bernama Ranunah. Dari tempat itulah Bani Sulaim yang menghuni kawasan situ mendirikan masjid yang kemudian disebut Masjid Jumah.

Kepala Biro Bintal pemprov Jateng Sunarto yang membacakan sambutan gubernur menyampaikan, pengajian ini dapat memberikan pencerahan bagi jamaah tentang makna tahun baru Islam. Dia mengharapkan momentum itu membuat kondisi Jawa Tengah yang aman, tentram dan berkah.

Redaktur : Mukafi Niam

Kontributor: Muhammad Ichwan

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/35172/masjid-adalah-pusat-peradaban

KARTANU

Senin, 31 Oktober 2011

Pak Ud Dianugerahi Gelar Pahlawan Kemerdekaan

Jombang, KARTANU. Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) menganugerahi gelar pahlawan kemerdekaan kepada mantan pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, Jombang, KH Yusuf Hasyim atau Pak Ud.

Penganugerahan tersebut, dilakukan dengan upacara pemberian tonggak bambu runcing di atas pusara Pak Ud yang berada di belakang kompleks Ponpes Tebuireng, Cukir, Jombang, Jawa Timur, Kamis.

Selain Pak Ud, penganugerahan gelar pahlawan kemerdekaan juga diberikan kepada KH Wahid Hasyim, saudara tua Pak Ud yang pernah menjabat Menteri Agama di era Kabinet M Hatta dan Kabinet M Natsir.

Pak Ud Dianugerahi Gelar Pahlawan Kemerdekaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pak Ud Dianugerahi Gelar Pahlawan Kemerdekaan (Sumber Gambar : Nu Online)


Pak Ud Dianugerahi Gelar Pahlawan Kemerdekaan

"Pak Ud sangat layak mendapatkan gelar ini, karena perjuangannya melawan penjajah semasa mudanya dulu," ujar Ketua Markas LVRI Cabang Jombang Mayor (Purn) Djumaali dalam sambutan pemberian anugerah pahlawan kemerdekaan di Makam Pak Ud.

Menurut dia, Pak Ud sangat layak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP). Namun karena permintaan keluargalah putra pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratus Syekh Hasyim Asyari itu, dikebumikan di makam keluarga besar Tebuireng setelah wafat di RSUD dr Soetomo Surabaya di usia ke-77, akibat penyakit phenoumonia pada 15 Pebruari 2007 lalu.

LVRI mencatat Pak Ud yang juga paman Gus Dur ini, sebagai anggota Laskar Hizbullah pada 1944 lalu setahun kemudian diangkat menjadi Komandan Kompi Hizbullah.

KARTANU

Saat menjadi Komandan Kompi Hizbullah, Pak Ud turut memimpin pasukan pejuang melawan tentara Belanda yang membonceng pasukan NICA dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

Kemudian pada 1947, Pak Ud terdaftar sebagai anggota TNI dan pada 1948 tergabung dalam Batalyon XXXIX Pasukan Ganyang PKI di Madiun. Namun setelah 1949, aktif mengajar di pondok pesantren yang didirikan ayahandanya itu.

Lalu pada tahun 1960-an Pak Ud bersama Barisan Ansor Serba Guna (Banser) kembali mengangkat senjata untuk memerangi pasukan PKI di Kanigoro, Kediri dan di kawasan Blitar Selatan.

Pangkat terakhir Pak Ud di militer sebagai Letnan Satu (TNI) dan sempat menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal LVRI Pusat.

KARTANU

Sementara KH Wahid Hasyim diberikan anugerah pahlawan, karena perjuangannya membangun negeri ini sejak 1945 sampai 1951. KH Wahid Hasyim meninggal dalam kecelakaan lalu lintas saat perjalanan dinas dari Jakarta menuju Bandung pada 18 April 1953.

Pengasuh Ponpes Tebuireng KH Shalahuddin Wahid (Gus Sholah) mengaku, terharu dengan penghargaan gelar pahlawan yang diberikan LVRI tersebut.

"Setidaknya masih ada yang menghargai perjuangan beliau semasa hidupnya itu," ujar putra KH Wahid Hasyim yang menerima tugas sebagai pengasuh Ponpes Tebuireng dari Pak Ud sejak Juni 2006 lalu itu.

Menurut dia, di Jombang sendiri masih banyak ulama yang seharusnya mendapatkan gelar pahlawan, seperti KH Wahab Chasbullah dan KH Bisyri Syamsuri. (ant/mad)

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/8430/pak-ud-dianugerahi-gelar-pahlawan-kemerdekaan

KARTANU

Senin, 02 Agustus 2010

Secara Ilmiah Idul Adha 17 November

Jakarta, KARTANU. Hari Raya Idul Adha tahun 2010 ini kembali berbeda. Namun berdasarkan perhitungan ilmiah seharusnya memang jatuh pada Rabu (17/11). Karena, tidak mungkin ada rukyat hilal di Indonesia maupun Saudi pada 6 November. Sehingga 1 Dzulhijjah bertepatan dengan 8 November dan Idul Adha jatuh pada Rabu, 17 November 2010 ini.

Saya memilih Idul Adha Rabu, 17 November berdasarkan sidang isbat dan memiliki dasar ilmiah paling kuat,tutur peneliti senior astronomi dan astrofisika di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin, Senin (15/11).

Secara Ilmiah Idul Adha 17 November (Sumber Gambar : Nu Online)
Secara Ilmiah Idul Adha 17 November (Sumber Gambar : Nu Online)


Secara Ilmiah Idul Adha 17 November

Mengapa? Tidak adanya sistem penanggalan yang disepakati secara internasional, serta banyaknya kepentingan, menyebabkan perbedaan jatuhnya tanggal Hari Raya itu terjadi.

Muhammadiyah, mereka ini menggunakan kriteria wujud hilal. Asal bulan sudah berwujud maka positif. Namun NU, mereka didasarkan inkanur rukyiat atau kemungkinan bisa dirukyat dengan ketinggian bulan minimal dua derajat.

KARTANU

Karena itu ketika posisi bulan positif, tapi kurang dari dua derajat, seperti awal Zulhijjah sekarang maka sudah pasti terjadi perbedaan saat ada ketinggian bulan yang kritis.

KARTANU

Yang pasti secara astronomi, dua-duanya punya kelemahan. Baik wujud hilal dan ketinggian dua derajat. Terlalu rendah sehingga tidak bisa dirukyat. Ketinggian bulan minimal itu 4 derajat. Jarak bulan dan matahari lebih dari 6,4 derajat.

Tapi, yang benar adalah Rabu, 17 November berdasarkan sidang isbat dan memiliki dasar ilmiah paling kuat. Secara ilmiah misalnya, tidak mungkin ada rukyat hilal di Indonesia maupun Arab Saudi pada 6 November. Sehingga 1 Dzulhijjah bertepatan pada 8 November dan Idul Adha bertepatan pada 17 November 2010. (amf/ini)

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/25542/secara-ilmiah-idul-adha-17-november

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KARTANU sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KARTANU. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KARTANU dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock