Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 April 2015

Makna Haji Mabrur dan Kesalehan Sosial Kita

Oleh Chepry Hutabarat

Tidak ada balasan bagi Haji Mabrur kecuali Surga. (Muttafaqun Alaih)

Makna Haji Mabrur dan Kesalehan Sosial Kita (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna Haji Mabrur dan Kesalehan Sosial Kita (Sumber Gambar : Nu Online)


Makna Haji Mabrur dan Kesalehan Sosial Kita

Pada hakikatnya seluruh ibadah-ibadah yang diwajibkan atas manusia oleh Allah SWT adalah sebuah sarana untuk melatih kepekaan manusia atas keadaan di lingkungan sosialnya. Seperti shalat misalnya, dalam anjuran shalat berjamaah terkandung sebuah makna tentang bagaimana sikap seorang pemimpin (imam) dan orang yang dipimpin (makmum). Begitu pun ibadah zakat dan berpuasa, di dalamnya sarat dengan kandungan moral sosial. Puasa dan zakat adalah sarana untuk melatih dan membangun kepekaan sosial kita selaku umat Muslim atas apa yang dirasakan oleh mereka yang kehidupannya kurang beruntung. Lantas timbul pertanyaan, bagaimana dengan ibadah haji?

Seperti ibadah-ibadah lainnya, ibadah haji juga adalah sebuah praktik olahraga dan olah spiritual guna menjadikan kita melek atas kenyataan sehari-hari yang kita alami di sekitar kita selama hidup. Haji merupakan ibadah yang sangat penting bagi umat Muslim sedunia. Keutamaan ibadah haji salah satunya tercermin dari sabda Rasulullah, Sebaik-baik amal ialah; Iman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, kemudian jihad fi sabilillah, kemudian haji mabrur. Keberadaan haji sebagai ritual keagamaan pada akhirnya bertujuan untuk membuang sifat kebinatangan yang ada di dalam diri manusia, setelah melaksanakan haji diharapkan manusia menjadi lebih bersih dan suci.

KARTANU

Makna dari kata hilangnya sifat kebinatangan di dalam diri manusia dan menjadi pribadi yang lebih baik dan bersih inilah yang disebut sebagai mabrur dalam terminologi haji. Dilihat dari akar katanya, kata mabrur berasal dari kata barra yang berarti berbuat baik dan patuh. Dari kata barra ini kita bisa mendapatkan kata birrun, al-birru yang artinya kebaikan. Berangkat dari pemahaman ini, kita seharusnya menyadari dengan penuh, bahwasannya ibadah haji merupakan momentum bagi setiap pribadi Muslim untuk lebih meningkatkan kepedulian mereka atas lingkungan sekitarnya. Hal ini juga berarti, jika setelah melaksanakan ibadah haji seseorang tidak meningkat kesalehan sosialnya, maka dapat dikatakan bahwa ibadah haji yang telah dilaksanakanya belum berhasil atau haji yang mardud (ditolak).

KARTANU

Ibadah haji oleh para ulama ditempatkan sebagai rukun Islam yang kelima. Haji menjadi rukun terakhir ibadah seorang hamba pada Tuhan. Ibadah haji yang dilaksanakan atas dasar istithaah (mampu) ini jangan direduksi maknanya. Kata mampu (istithaah) bagi sebagian besar umat Muslim (di Indonesia khususnya), hanya diartikan sebagai kemampuan secara materi. Kita cenderung menghilangkan bahwa kata mampu juga bermakna kemampuan kita secara spiritual. Pemahaman yang parsial inilah yang menyebabkan ibadah haji seperti hilang hakikat spiritual dan fungsi sosialnya. Mereka yang berangkat haji, hanya menjadikan kemampuan materi sebagai standar untuk menjalankan ibadah haji. (Taufik Abdullah:1989)

Wajar jika di negeri ini banyak koruptor yang menggunakan uang hasil korupsinya untuk berhaji, dan hasilnya adalah tidak ada kesinambungan batiniyah yang berakibat langsung pada kehidupan sosial pasca mereka pulang dari berhaji. Sejatinya, sebagai rukun Islam terakhir, haji menjadi semacam perayaan dari perjalanan ruhaniah yang begitu panjang, yang dilakukan oleh umat Muslim. Ini menekankan kepada kita bahwa ibadah haji merupakan tahap akhir sekaligus titik awal bagi diri kita (kesalehan individual) menuju pribadi Muslim yang lebih baik sekaligus mampu memberikan kebaikan kepada orang lain (kesalehan sosial). (Amirul Ulum: 2015)

Kesalehan Sosial

Terdapat sebuah kisah tentang makna sosial haji yang terkenal dalam tradisi sufi. Alkisah ketika sedang menjalankan ibadah haji, ada seseorang yang tertidur ketika sedang melakukan wukuf di tengah panasnya padang Arafah. Dalam tidurnya seseorang itu kemudian bermimpi berjumpa dengan Rasulullah SAW. Menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan kekasih Allah SWT yang tidak tiap orang dapat menjumpainya, ia kemudian memberanikan diri bertanya kepada Rasulullah. Wahai kekasih Allah SWT, siapakah di antara kami semua yang sedang melaksanakan haji ini, diterima ibadahnya dan menjadi haji yang mabrur oleh Allah SWT? Rasulullah SAW kemudian dengan nada berat menjawab Tak seorang pun dari kalian yang diterima hajinya, kecuali seorang tukang cukur tetanggamu. Mendengar jawaban dari Baginda Rasululah SAW, orang tersebut termenung, betapa tidak, ia sadar bahwa tukang cukur yang dimaksud adalah tetangganya yang miskin dan tidak pergi berhaji saat ini.

Tak lama kemudian ia terbangun, dan dengan perasaan gundah gulana, ia merenung mencari makna di balik mimpi yang dialaminya itu. Sekembali dari Mekkah, segera ia menemui tukang cukur yang dimaksud Rasulullah SAW dalam mimpinya itu. Ia menceritakan segala pengalaman selama berhaji dan pengalaman spiritual lewat mimpi yang dialaminya itu. Lantas ia akhirnya bertanya pada tukang cukur itu, Amalan dan ibadah apakah yang telah anda lakukan, sehingga Baginda Rasulullah SAW mengatakan bahwa anda telah menjadi haji yang mabrur?

Mendapati cerita dan pertanyaan dari tetangganya itu, si tukang cukur kemudian terharu dan sujud syukur, kemudian dia menjelaskan bahwa sebenarnya ia telah lama mengidamkan untuk menunaikan ibadah haji. Bertahun-tahun ia menabung guna mewujudkan cita-citanya itu, dan pada saat tabungannya telah cukup untuk berangkat haji, bersiap-siaplah ia untuk berangkat melaksanakan haji. Tapi kemudian, belum lagi ia berangkat, ia mendapat kabar bahwa salah seorang tetangganya tertimpa musibah: seorang anak yatim sedang sangat membutuhkan pertolongan guna pengobatan atas sakit parah yang dialaminya. Mendapati kenyataan tersebut, ia kemudian mengurungkan niatnya untuk haji, dan menyumbangkan seluruh tabungannya guna menyelamatkan anak yatim tetangganya itu. (Said Agil Siroj: 2015)

Mendengar cerita si tukang cukur itu, orang yang baru selesai melaksanakan haji itu kemudian tertunduk malu. Ia sadar, kita kadang begitu mengebu-gebu dalam mencari ridha Allah SWT, dan karenanya menutup mata kita atas apa yang terjadi atas diri orang lain. Ibadah-ibadah kita kemudian menjadi tidak suci lagi, karena di dalamnya tersemat egoisme, ditumpangi nafsu dan jauh dari hakikat ibadah itu sendiri, yaitu rahmatan lilalamin.

Berangkat dari cerita di atas, kita seharusnya belajar, untuk kembali memaknai ibadah haji yang selama ini kita pahami. Ibadah haji dalam konteks hari ini, sangat naf jika hanya dipandang sebagai ritual keagamaan yang sifatnya individual, kita harus juga mampu menjadikan haji sebagai ibadah sosial. Di dalam ritual haji, semua umat Muslim menjadi sama, tidak ada yang membedakan secara tampilan fisik satu sama lain. Hal ini mengajarkan pada kita bahwa kita sebagai umat manusia pada satu titik adalah satu. Ke-satu-an di tengah pluralitas inilah yang seharusnya kita maknai untuk saling peduli dan memperhatikan satu sama lain. Pernahkah kita terpikir, di saat ratusan ribu umat Muslim di negeri ini melaksanakan ibadah haji, di sisi yang lain kebodohan dan kemiskinan masih juga menjadi masalah terbesar di republik ini. Terlebih kepada mereka yang melaksanakan haji lebih dari sekali, hal ini sungguh memilukan. Alangkah zalimmnya perbuatan tersebut. Di tengah krisis perekonomian negeri ini, masih begitu banyak yang umat Muslim yang tertutup pintu hatinya, semata hanya mengejar derajat kesalehan individualnya semata dengan berangkat berhaji. Alangkah bijak dan mabrurnya mereka yang menunda ritual haji mereka, kemudian menyumbangkan uang dan bekal untuk berhaji mereka guna kemaslahatan orang banyak.

Pada akhirnya penulis berharap agar kita terus memaknai keberadaan kita sebagai khalifah di muka bumi ini. Semoga dengan adanya ibadah haji yang tiap tahun dilaksanakan ini, mengajarkan kepada kita untuk terus meningkatkan kesalehan individual kita menuju kesalehan sosial, karena sebaik-baiknya manusia, adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain. Wallahualam.

Referensi

Shahih at-Targhib, No. 1096

Taufik Abdullah, Islam Dan Pembentukan Tradisi di Asia Tenggara, Jakarta: LP3ES, 1989, Cet. I, hlm. 58.

Amirul Ulum, Muassis Nahdhatul Ulama, Yogyakarta: Pustaka Musi, 2015, Cet I, hlm 45.

Baca KH said Agil Siroj, Urgensi Kajian Islam Nusantara dalam Harianto Oghie dan Fatkhu Yasik (ed.), Islam Nusantara: Meluruskan Kesalahpahaman, Jakarta: LP Maarif Pusat, 2015, Cet. I, hlm. 29.

* Penulis adalah Founder #PoskoNoesantara; tinggal di Sukarame, Bandarlampung

Dari (Opini) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/70473/makna-haji-mabrur-dan-kesalehan-sosial-kita

KARTANU

Jumat, 02 Agustus 2013

Pemuda Islam dan Komitmen Kebangsaan

Oleh: A Muchlishon Rochmat

Tahun 2011, Survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) mengeluarkan data yang cukup mencengangkan. Disebutkan bahwa 25% siswa dan 21% guru menyatakan bahwa Pancasila sudah tidak relevan lagi. Bahkan, 84,8% siswa dan 76,2% guru setuju dan mendukung untuk mendirikan negara yang berdasarkan syariat Islam di Indonesia.

Pemuda Islam dan Komitmen Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemuda Islam dan Komitmen Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)


Pemuda Islam dan Komitmen Kebangsaan

Di tahun yang sama, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) juga merilis sebuah penelitian tentang radikalisme di kampus-kampus besar Indonesia. Di situ disebutkan bahwa ada peningkatan paham radikalisme di universitas-universitas elit Indonesia seperti UGM, UI, IPB, Undip, dan Unair. Tahun 2013, penelitian yang dilakukan oleh Maarif Institute juga menunjukkan bahwa meluasnya paham radikal di kampus berdampak pada meningkatnya gerakan untuk mendirikan negara Islam di Indonesia.

Sementara tahun 2015, Pew Research Center menyebutkan bahwa 4% atau setara dengan 10 juta penduduk Indonesia setuju dan mendukung pandangan dan gerakan yang dilakukan oleh ISIS termasuk diantaranya adalah mendirikan negara khilafah Islam di Indonesia. Ironisnya, mayoritas dari empat persen itu adalah pemuda Islam yang berada dalam usia produktif.

KARTANU

Kalau kita simak pemberitaan yang tersebar di media massa akhir-akhir ini, gerakan-gerakan untuk mendirikan khilafah seperti pawai, seminar, penerbitan buku, menyebarkan propaganda dengan selebaran di masjid-masjid, dan konferensi nasional bahkan internasional- begitu marak dan masif dilaksanakan di berbagai daerah di Indonesia. Lagi-lagi mayoritas pelakunya adalah pemuda dan pemudi Islam.

KARTANU

Meski gerakan-gerakan khilafah tersebut mendapatkan penolakan dan kecaman dari berbagai pihak seperti Banser GP Ansor, kepolisian, pimpinan kampus, pejabat, pimpinan beberapa ormas Islam yang moderat, beberapa pejabat negara, dan masyarakat, namun mereka seolah-olah tidak kapok dan tidak berhenti untuk mendengungkan konsep khilafah sampai apa yang mereka cita-citakan itu terwujud.

Bahkan, mereka menawarkan sistem negara khilafah yang berdasarkan syariat Islam dan menghujat Negara Indonesia yang berlandaskan Pancasila secara terang-terangan (tanpo tedeng aling-aling). Mereka tidak lagi sembunyi-sembunyi dalam berdakwah sebagaimana yang mereka lakukan pada beberapa tahun yang lalu. Menariknya, pemerintah pun menganggap enteng dan terkesan lamban dalam membendung segala macam aktifitas dan kegiatan yang dilakukan oleh gerakan pengusung khilafah itu.

Meneguhkan Komitmen Kebangsaan

Berdasarkan hasil penelitian yang ada, memang masih banyak yang mendukung Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila jika dibandingkan dengan mereka yang mendukung khilafah. Tetapi, hasil survei di atas tidak bisa dianggap enteng. Apalagi yang disasar adalah remaja dan pemuda Islam utamanya yang berada di sekolah dan kampus umum. Saya rasa mereka itu seperti virus. Sekarang kelihatan kecil, tetapi kalau tidak ditangani dengan serius maka mereka akan menyebar dan mempengaruhi organ masyarakat yang lainnya.

Kita tidak bisa terus menerus menunggu datangnya bola, yakni dengan terus melakukan penolakan atas kegiatan yang mereka gelar di berbagai tempat. Saya yakin, mereka akan terus melakukan propaganda-propaganda, baik ke lapisan atas maupun ke masyarakat tingkat bawah (grassroot).

Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk menjaga dan meneguhkan eksistensi Indonesia? Setidaknya ada dua hal yang bisa dilakukan untuk meredam gerakan pengusung khilafah. Pertama, ketegasan pemerintah. Di beberapa Negara Islam seperti Arab Saudi, Tunisia, Turki, Libya, Yordanis, Mesir, Syuriah, Malaysia, dan lainnya melarang gerakan pengusung khilafah. Mereka tidak diizinkan masuk dan beranak-pinak di negara-negara tersebut.

Dalam hal ini, pemerintah Indonesia terlihat tidak memiliki ketegasan dalam melarang gerakan-gerakan khilafah. Mereka seakan-akan dibiarkan tumbuh subur dan menggerogoti pondasi kebangsaan kita.

Kedua, memasifkan gerakan Islam kebangsaan (nasionalisme). Indonesia dibangun dengan semangat kebangsaan dan keberagamaan. Indonesia ada karena adanya perbedaan agama, suku, budaya, dan bahasa. Sedangkan Pancasila adalah pemersatunya (kalimatun sawa). Sedangkan Islam -sebagai agama mayoritas- menjadi ruh dan semangat dalam menjalankan pemerintahan, bukan menggantikan Pancasila sebagai konsesi bersama. Kalau seandainya Dasar Negara Indonesia berdasarkan golongan tertentu, maka tentu golongan yang lain tidak akan mau menerimanya.

Harus kita akui, Islam yang berkembang di sebagian sekolah-sekolah dan kampus-kampus kita itu adalah Islam yang normatif dan tidak memiliki dimensi komitmen kebangsaan. Komitmen untuk menjaga keutuhan dan persatuan NKRI. Maka tidak mengherankan jika gerakan-gerakan pengusung khilafah itu tumbuh subur di lorong-lorong kampus sebagaimana yang disebutkan oleh LIPI di atas. Lagi-lagi, sasarannya adalah pemuda-pemudi Islam yang sedang studi di kampus-kampus besar itu.

Saya rasa mereka nihil akan Islam kebangsaan karena mereka tidak memahami secara holistik sejarah perkembangan umat Islam di Nusantara ini. Maka dari itu, menjadi tugas kita semua untuk memasifkan gerakan Islam kebangsaan. Yaitu dengan memberikan pemahaman secara intensif kepada mereka tentang wawasan Islam kebangsaan. Islam yang mengedepankan keutuhan dan persatuan bangsa Indonesia. Bukan malah mencerai-beraikan dan memonopoli bangsa ini.

Walhasil, sembari mendorong pemerintah untuk berlaku tegas kepada kelompok-kelompok pengusung khilafah, kita masifkan dan teguhkan komitmen kebangsaan pemuda-pemudi Islam kita agar mereka tidak tergiur dengan dagangan khilafah.

Penulis adalah Wasekjen Majelis Pemuda Islam Indonesia (MPII) Pusat

Dari (Opini) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/77770/pemuda-islam-dan-komitmen-kebangsaan

KARTANU

Kamis, 09 Juli 2009

Kewajiban Ulama dan Fitnah Dunia Islam

Oleh: Syekh Taufiq Ramadhan al-Buthi

Muncul pada hari-hari ini di Timur Tengah sejumlah gerakan berturut-turut dimulai dari Tunisia yang menyebabkan jatuhnya sang presiden, lalu di Mesir dan tumbangnya presiden, kemudian terjadi di Yaman yang memakan waktu lama sehingga menyebabkan intervensi negara-negara kerjasama teluk, dan kemudian disepakati pengunduran diri presiden dan kekuasaan dilanjutkan oleh Presiden al Hadi.

Kewajiban Ulama dan Fitnah Dunia Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Kewajiban Ulama dan Fitnah Dunia Islam (Sumber Gambar : Nu Online)


Kewajiban Ulama dan Fitnah Dunia Islam

Di Libya, yang kasusnya juga berlarut-larut, dan saat itu menjadi bahan ejekan dan hasutan dari Presiden Muammar Gaddafi serta intervensi dari Barat dan Qatar dan negara-negara lain, dan gerakan itu menjalar ke tempat lain sampai ke Syria apa yang mereka sebut dengan Musim Semi Arab (Arab Spring), lalu Gaddafi pun terbunuh. Namun hal ini tidaklah mengakhiri masalah bahkan menjadi lebih buruk dan terus memburuk meninggalkan banyak orang mati dan pengungsi, ditambah lagi kehancuran massal dan tersebarnya rasa kebencian.

Dari hal di atas kita mencatat dua hal: Hal pertama menyangkut peran media, terutama sekali stasiun televisi Al-Jazeera dan al Arabiyyah, di mana peran mereka tidak terbatas pada penyebaran fakta-fakta apa yang terjadi, bahkan beralih perannya untuk mengarahkan dan menciptakan peristiwa, dan mengharuskan stasiun televisi dan saluran-saluran yang mengikutinya untuk menguasai seni berbohong, berlebihan dalam menyampaikan serta fabrikasi berita.

KARTANU

Dan peran dua saluran televisi berubah menjadi industri berita. Yang membuat orang Arab dan mereka yang mengikuti saluran ini terpengaruh terhadap apa yang disampaikan oleh saluran-saluran itu. Tampaknya pihak-pihak yang dimaksud telah mempercayakan kepada dua saluran ini untuk memimpin gerakan tersebut atas nama media tertentu.

Hal kedua adalah bahwa sebahagian tokoh-tokoh agama sebelumnya telah banyak disorot dan diberi posisi istimewa, ditambah pula orang-orang yang menempuh cara ini dari para sheikh/tetua (saya tidak mengatakan ilmuwan) berkontribusi dalam mempengaruhi publik dan mengarahkan peristiwa-peristiwa tersebut. Bahkan salah satu dari mereka meneriakkan hasutan untuk membunuhnya; dan mengeluarkan fatwa untuk membunuh orang lain. Apa yang terjadi sebagai akibat dari itu?

KARTANU

Para Pemberontak itu tidak mencapai tujuan mereka, akan tetapi mereka yang telah merancang hal tersebut telah mendapatkan sebagian target yang mereka tuju. Yaitu terjadinya kekacauan di wilayah ini dan menjadi rebutan dan santapan lezat mereka yang rakus dan tamak.

Saya berdiri disini bukan untuk menceritakan tragedi yang menyedihkan/memilukan. Saya hanya ingin -melalui keterangan ini- menjelaskan tanggungjawab seorang Aalim yang bertaqwa kepada Allah Taala dan sikapnya terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi. Terutama sekali ketika ia melihat pertumpahan darah dan kerusakan yang luas, dan perpindahan jutaan orang dari rumah dan desa mereka, serta mereka kehilangan tempat tinggal, makanan, minuman dan pakaian. Lalu dirampas rasa aman dari mereka. Ditambah lagi penistaan kehormatan dan harga diri serta eksploitasi kebutuhan oleh orang-orang yang tidak bermoral dan tidak memeiliki hati nurani dan bersukacita dalam kubangan fitnah ini.

Sungguh, beberapa tokoh ilmu kebanggaan umat telah jatuh ke dalam fitnah ini, menjadi penyebab banyak masyarakat tersesat jalan. Dan mereka ikut menjadi sebab terjadinya kekacauan ini yang mereka sebut sebagai jihad, padahal mereka adalah korban yang disebabkan kesesatan dan ketertipuan mereka sendiri.

Agar mereka bisa menempuh cara tersebut, mereka melandaskannya kepada beberapa hal. Pertama, mengkafirkan orang-orang yang berbeda (pendapat) dengan mereka, sebagaimana kaum khawarij mengkafirkan orang banyak dan menghalalkan darah mereka.

Kedua, menghembuskan problem pemilahan sectarian, yang juga berakhir dengan pengkafiran sekte yang berbeda. Kemudian seruan untuk memerangi mereka yang akan mengakibatkan perang saudara yang memanas.

Ketiga, dalam rangka untuk mencari jalan pintas dan mencari sutradara pertikaian ini, mereka menuduh para ulama yang konsisten (istiqomah) dengan berbagai macam tuduhan keji agar umat hilang kepercayaan. Dan mereka tidak ragu-ragu untuk memfitnah mereka dengan banyak kebohongan, dan mengejek mereka sebagai bentuk penghancuran karakter dan figur yang bisa mengembalikan situasi kepada takarannya dan dapat mengklarifikasi fakta.

Hal ini sengaja dibuat agar umat kehilangan kepercayaan terhadap ulamanya dan hilang pula sopan santun terhadap para pemimpin dan orang-orang sholeh. Menjadikan mereka semakin jauh dari sisi kebenaran ditengah-tengah badai perbedaan yang menghantam. Bahkan, mereka ikut menghasut untuk membunuh para ulama tersebut.

Peran institusi dan ilmuwan di tengah perselisihan

Jika sebahagian ilmuwan kebanggaan merupakan bagian dari provokator dan promotor yang telah menyesatkan banyak masyarakat, maka para ulama yang mukhlishin yang harus meluruskan, dan menjaga agar tidak terjadi pertumpahan darah, dan mengawal rambu-rambu kebenaran.

Saya ingin katakan: seluruh Ulama memiliki tanggung jawab menjelaskan dan memunculkan kebenaran, dan memberikan nasehat kepada umat serta menjelaskan hukum serta sikap yang benar terhadap setiap peristiwa dan kejadian. Dan jangan ragu untuk memikul tanggung jawab ini, karena ancaman terhadap kehancuran bangsa dan membuat agama yang benar ini menjadi jelek dan terdistorsi merupakan hal yang sudah dirancang oleh musuh-musuh Islam, dan mereka memperalat para ilmuwan untuk mencapai tujuannya.

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran: (Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul dan para pemimpin di antara kalian. Dan jika kalian berselisih paham akan suatu hal, maka kembalikanlah (merujuklah) kepada Allah dan Rasul-Nya, jika Anda beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu (adalah) lebih baik dan sebaik-baik tempat kembali) An-Nisa: 59 , yakni Allah Taala telah memerintahkan kita -ketika terjadi perbedaan- untuk kembali kepada apa yang telah dijelaskan di dalam Quran dan Nabi Muhammad SAW yang mulia dalam sunnahnya. Dan Dia Allah tidak pernah menyerahkan (penyelesaiannya) kepada hawa nafsu dan fanatisme buta.

Sesungguhnya Fenomena yang disebut (Arab Spring/Musim Semi Arab) tidak lain hanyalah membuka jalan bagi munculnya kelompok-kelompok radikal yang menebar teror pembunuhan dan perusakan atas nama Islam.

Oleh karena itu, pengakuan beberapa pihak yang mengatakan bahwa mereka berjuang memerangi kelompok-kelompok teroris, bagi saya merupakan sikap bersikeras untuk tetap pada kesalahan pertama, dengan cara menyulut api fitnah dan memancing kekacauan, sebagai bentuk pelaksanaan langkah-langkah Free Masonry Internasional/Global, yang disebut oleh Rice dengan kekacauan kreatif.

Situasi ini mengharuskan para ilmuwan untuk melakukan peran dan tanggungjawab yang telah dipercayakan Allah Taala kepada mereka, baik dari sisi amar maruf nahyi munkar, atau dari sisi dakwah kepada Allah dengan cara yang bijaksana dan nasihat yang baik, atau dari sisi menjelaskan kebenaran dan menghapus kebingungan/kecauan pikiran yang menimpa pikiran orang-orang yang mengetahuinya.

Sungguh diamnya seorang Aalim atas apa yang terjadi merupakan suatu kekurangan dan menyembunyikan kebenaran, dan merupakan salah satu sebab terus berlakunya kebathilan. Dan hal itu tidak pantas terjadi kecuali jika seseorang itu takut untuk melawan kebathilan. Atau barangkali dia termasuk orang-orang yang disifati oleh Allah SWT dalam firman-Nya: {dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; Maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam Keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. rugilah ia di dunia dan di akhirat. yang demikian itu adalah kerugian yang nyata} al-Hajj: 11.

Dan selayaknyalah seorang Aalim memiliki sifat sebagaimana firman-Nya: (... dan akan Allah datangkan kaum yang Dia cinta mereka dan mereka juga mencintai-NYA. Mereka lemah lembut terhadap orang mukmin dan keras terhadap orang kafir. Mereka berjuang di jalan Allah dan tidak takut siapa pun yang mencela mereka. Demikian itulah karunia Allah yang Dia berikan kepada siapa saja yang IA kehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberiannya) lagi Maha Mengetahui} al-Maaidah: 54.

Seorang Aalim harus cemburu jika hilang rambu-rambu kebenaran dan khawatir jika umat tersesat. takut jika terjadi perselisihan dan konsekuensinya ... dari pertumpahan darah, kehancuran, dan perpindahan. Bukan ini yang telah terjadi??

Ini merupakan perbuatan dari sekelompok pemilik ilmu serta para ilmuwan yang rela menjadi alat menebar fitnah dan menjadi pengawalnya karena rakus dengan godaan keserakahan atau dengki pada orang-orang yang melihat mereka sebagai pesaing bagi mereka atau iri atas apa yang mereka dapatkan dari penerimaan di seluruh bumi.

Sesungguhnya hal yang lebih berbahaya dan lebih mengkhawatirkan lagi yaitu merajalelanya hawa nafsu pribadi di tengah-tengah masyarakat. Ini terkait dengan masa depan bangsa dan pernyataan kebenaran yang telah ternoda oleh gerakan-gerakan ini ...Ini juga terkait dengan kewajiban untuk menjelaskan dan tidak menyembunyikan kebenaran.

Bukan kah Allah telah berfiman dalam kitab-Nya: dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): "Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya," lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima) Ali Imran: 187. Dan bukan kah Allah telah mengingatkan para ulama tentang menyembunyikan kebenaran dengan firman-Nya: ((Sesungguhnya orang-orang yang Menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilanati Allah dan dilanati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melanati)) al-Baqarah: 159.

Penulis adalah Ketua Persatuan Ulama Suriah, Dekan Fakultas Syariah Universitas Damaskus, Putra Sayyid Muhammad Said Ramadhan al-Buthi.

*) Makalah ini disampaikan dalam Seminar Internasional Peran Ulama dalam Meredam Krisis Politik dan Ideologi di Timur Tengah yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Suriah Indonesia (Al-Syami), Kamis (10/3/2016) di Gedung Pascasarjana UI Salemba Jakarta.

Dari (Opini) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/66458/kewajiban-ulama-dan-fitnah-dunia-islam

KARTANU

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KARTANU sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KARTANU. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KARTANU dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock