Tampilkan postingan dengan label Pondok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pondok. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Juli 2016

Sembilan Perguruan Tinggi Islam Sepakat Tolak Kegiatan Anti-Pancasila dan NKRI

Jember, KARTANU. Sembilan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) sepakat menolak kegiatan-kegiatan yang bernada anti-Pancasila dan anti-NKRI diselenggarakan di kampus mereka. Kesepakatan tersebut termaktub dalam salah satu poin Piagam Sunan Ampel yang ditandatangani PTKIN Persemakmuran Sunan Ampil di IAIN Tulungagung, belum lama ini.

Kesembilan PTKIN tersebut adalah perguruan tinggi itu berdiri dari pengembangan IAIN Sunan Ampel. Perguruan tinggi itu adalah IAIN Tulungagung, UIN Sunan Ampel Surabaya, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Mataram, IAIN Jember, IAIN Ponorogo, IAIN Samarinda, STAIN Pamekasan dan STAIN Kediri.

Sembilan Perguruan Tinggi Islam Sepakat Tolak Kegiatan Anti-Pancasila dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Sembilan Perguruan Tinggi Islam Sepakat Tolak Kegiatan Anti-Pancasila dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)


Sembilan Perguruan Tinggi Islam Sepakat Tolak Kegiatan Anti-Pancasila dan NKRI

Menurut Rektor IAIN Jember Babun Suharto, dalam pertemuan tahunan tersebut disepakati tiga poin. Dua diantaranya adalah kesepakatan untuk membangun academic branding dengan penguatan Tridharma perguruan tinggi yang prima masing-masing PTKIN Persemakmuran Sunan Ampel sebagai tawaran alternatif guna menjawab tuntutan dan ekspektasi masyarakat Indonesia dan dunia.

Poin terakhir, lanjutnya, adalah melakukan sinergitas antar-PTKIN Persemakmuran Sunan Ampel dalam upaya pengembangan kelembagaan maupun mengampanyekan Islam Rahmatan Lil Alamin.

KARTANU

Babun menambahkan, dalam upaya membendung radikalisme dan terorisme PTKIN Persemakmuran Sunan Ampel sepakat agar segala kegiatan atau pendirian personal maupun kelompok yang anti-Pancasila dan anti-NKRI harus dibasmi. Jika tidak, dikhawatirkan akan memunculkan gerakan-gerakan perpecahan bangsa. Sikap itu diambil sebagai jawaban atas maraknya gerakan-gerakan yang tidak mau menjadikan Pancasila sebagai ideologi dan mau mengganti NKRI dengan model-model yang lain.

"Kita sepakat dan tegas dengan hal-hal semacam ini. Karena jika diberi ruang akan membahayakan negara ini. Untuk itu, PTKIN Persemakmuran Sunan Ampel sepakat juga mengawasi tiap sudut kampus terhadap potensi munculnya gerakan-gerakan anti-Pancasila dan anti-NKRI," ungkap Guru Besar Ekonomi Islam ini kepada KARTANU di Jember, Rabu (12/4).(Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

KARTANU

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/76990/sembilan-perguruan-tinggi-islam-sepakat-tolak-kegiatan-anti-pancasila-dan-nkri

KARTANU

Sabtu, 28 Mei 2016

Ibu Sinta hosts interfaith sahur

Jakarta, KARTANU. Sinta Nuriyah Wahid, well-known as Ibu Sinta former first lady of Indonesia, is determined to carry on the legacy of her late husband, Abdurrahman Wahid, popularly known as Gus Dur.

The longtime Nahdlatul Ulama leader, who served as Indonesias president from 1999 to 2001, is regarded as a father of pluralism and democracy, and a strong advocate of religious tolerance.

Ibu Sinta hosts interfaith sahur (Sumber Gambar : Nu Online)
Ibu Sinta hosts interfaith sahur (Sumber Gambar : Nu Online)


Ibu Sinta hosts interfaith sahur

Keeping his spirit alive, Sinta hosted a pre-dawn Ramadhan meal and dialogue to promote interfaith understanding at Pesantren Al Ghazaly in Bogor on July 11th.

"We always conducted similar activities when my husband was the president. Ramadan is a time when everyone gets together. I would like to continue these activities," Sinta said as quoted by Khabar Southeast Asia.

KARTANU

"We would like to interact with people from various backgrounds as a reminder that we are living among those with different faiths and ethnicities. We need to provide an example for our community that everyone can get together in peace regardless of our differences," she added.

The lessons of Ramadhan

KARTANU

About 300 people attended the pre-dawn meal, known as Sahur. Among them was Fransiscus Hari, who spoke with Khabar Southeast Asia a day after the event.

"I am really fortunate that I had an opportunity to attend this forum. Even though I am not a Muslim, everyone was friendly and greeted me warmly," he said. "We had good dialogues among followers of different religions. We forgot what conflicts had occurred [in West Java]. The event gave us a lot of room to learn from each other."

According to the former first lady, fasting teaches patience and the ability to withstand thirst, hunger and lust. "Various actions of corruption have been caused by an eroding faith, and now it is a time to leave any bad behaviours behind. We need to move forward," Sinta added.

She also asked everyone to embrace tolerance and peace, and to help those in need, including street children and the homeless.

The head of the Pesantren Al Ghazaly, Mustafa bin Abdullah bin Nuh, called for bringing all religious followers together as one nation.

"Islam is the religion of the majority in our country and in the past Islam was able to unite Indonesia under the Pancasila, the five philosophical pillars of Indonesia, and under the Indonesian constitution of 1945," he said.

"And I am sure it still does," he added.

Prophet teaches love, respect and harmony

Bogor city community leader Dody Rosadi praised the gathering as a positive development. "We need many more similar events in Bogor and other places, especially when the community has various religious followers," he told Khabar.

"We have to use the life of our Prophet as guidance for living. He teaches us love, respect, and harmony," he said. "Do not just perform acts of worship and religious rituals we must change our attitude and behaviour to be better."

Muhammad Akbar, an Al Ghazaly student, admitted that he became more open and tolerant after attending the event.

"Before attending this event, I only focused on Islam and was not very open to other religions. I just thought we are different. But with this event, I can see tolerance in practice," he said.

Alex Paul, a member of the GKI Yasmin church in Bogor, said such moments of togetherness are what Indonesia needs. "Events like this tear down the differences in society. Hopefully, this will be followed by other communities," Alex told Khabar.

John Naidoo, one of the interfaith leaders at the event, said that the religious differences in Indonesia are Gods beautiful creation, and that Indonesians must remember the national motto Bhinneka Tunggal Ika (unity in diversity).

"It is a powerful motto. It is telling you about Indonesia, and it is our identity," he said.

Editing by Sudarto Murtaufiq

Dari (National) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/46372/ibu-sinta-hosts-interfaith-sahur

KARTANU

Kamis, 10 Desember 2015

Dayah MUDI Tarik Minat Santri Baru Lewat Youtube

Bireuen, KARTANU. Dayah MUDI (Mahadal Ulum Diniyah Islamiah) Mesjid Raya Samalanga, Bireuen, Aceh, semakin diminati. Hal ini dapat dilihat dari kian banyaknya orang tua yang mendaftarkan putra-putri mereka di dayah yang berlokasi di Desa Mideun Jok Kemukiman Mesjid Raya ini.

Cara para wali santri mengenal dayah ini cukup bervariasi, salah satunya melalui informasi dari internet. Senin (11/8), ada seorang wali santri dari Banten mengantar anaknya ke Dayah MUDI lantaran tertarik setelah menonton video Pengajian Tastafi (Tasawuf, Tauhid dan Fiqih) melalui situs Youtube. Pengajian ini digelar bulanan di Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

Dayah MUDI Tarik Minat Santri Baru Lewat Youtube (Sumber Gambar : Nu Online)
Dayah MUDI Tarik Minat Santri Baru Lewat Youtube (Sumber Gambar : Nu Online)


Dayah MUDI Tarik Minat Santri Baru Lewat Youtube

Menurut Tgk. Mustafa, salah seorang staff Lajanah Pengembangan Dakwah MUDI Mesra (LPDM), video pengajian Tastafi di Mesjid Raya Baiturrahman yang diasuh oleh Abu MUDI telah tersebar dalam 55 website lebih.

KARTANU

Saat ini, tercatat lebih dari enam ribu santriwan dan santriwati yang menetap di Dayah MUDI baik dari Aceh maupun luar Aceh. Santri luar Aceh umumnya berasal dari Sumatera Utara, Jambi dan Malaysia. Bahkan, saat ini seorang santri dari Australia dan dua santriwati asal Norwegia juga sedang belajar di MUDI.

Selain dari Youtube, motivasi belajar di lembaga pendidikan ini juga ada yang karena mengenal MUDI lewat VCD Dalael dan Zikir, media online, forum pengajian Tastafi (tasawuf, tauhid, fiqih), dan ada juga karena orang tuanya adalah seorang alumni dari Dayah MUDI sendiri.

KARTANU

Saat ini, Dayah MUDI semakin dikenal seiring dengan kontribusi santri, alumni, LBM dan LPDM yang bekerja ektra keras dalam memperkenalkan MUDI kepada masyarakat. Hadirnya website mudimesra.com juga membuat akses Informasi tentang MUDI semakin meluas. (Iqbal Jalil/Mahbib)

Dari (Pesantren) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/53762/dayah-mudi-tarik-minat-santri-baru-lewat-youtube

KARTANU

Senin, 13 April 2015

Makna Haji Mabrur dan Kesalehan Sosial Kita

Oleh Chepry Hutabarat

Tidak ada balasan bagi Haji Mabrur kecuali Surga. (Muttafaqun Alaih)

Makna Haji Mabrur dan Kesalehan Sosial Kita (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna Haji Mabrur dan Kesalehan Sosial Kita (Sumber Gambar : Nu Online)


Makna Haji Mabrur dan Kesalehan Sosial Kita

Pada hakikatnya seluruh ibadah-ibadah yang diwajibkan atas manusia oleh Allah SWT adalah sebuah sarana untuk melatih kepekaan manusia atas keadaan di lingkungan sosialnya. Seperti shalat misalnya, dalam anjuran shalat berjamaah terkandung sebuah makna tentang bagaimana sikap seorang pemimpin (imam) dan orang yang dipimpin (makmum). Begitu pun ibadah zakat dan berpuasa, di dalamnya sarat dengan kandungan moral sosial. Puasa dan zakat adalah sarana untuk melatih dan membangun kepekaan sosial kita selaku umat Muslim atas apa yang dirasakan oleh mereka yang kehidupannya kurang beruntung. Lantas timbul pertanyaan, bagaimana dengan ibadah haji?

Seperti ibadah-ibadah lainnya, ibadah haji juga adalah sebuah praktik olahraga dan olah spiritual guna menjadikan kita melek atas kenyataan sehari-hari yang kita alami di sekitar kita selama hidup. Haji merupakan ibadah yang sangat penting bagi umat Muslim sedunia. Keutamaan ibadah haji salah satunya tercermin dari sabda Rasulullah, Sebaik-baik amal ialah; Iman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, kemudian jihad fi sabilillah, kemudian haji mabrur. Keberadaan haji sebagai ritual keagamaan pada akhirnya bertujuan untuk membuang sifat kebinatangan yang ada di dalam diri manusia, setelah melaksanakan haji diharapkan manusia menjadi lebih bersih dan suci.

KARTANU

Makna dari kata hilangnya sifat kebinatangan di dalam diri manusia dan menjadi pribadi yang lebih baik dan bersih inilah yang disebut sebagai mabrur dalam terminologi haji. Dilihat dari akar katanya, kata mabrur berasal dari kata barra yang berarti berbuat baik dan patuh. Dari kata barra ini kita bisa mendapatkan kata birrun, al-birru yang artinya kebaikan. Berangkat dari pemahaman ini, kita seharusnya menyadari dengan penuh, bahwasannya ibadah haji merupakan momentum bagi setiap pribadi Muslim untuk lebih meningkatkan kepedulian mereka atas lingkungan sekitarnya. Hal ini juga berarti, jika setelah melaksanakan ibadah haji seseorang tidak meningkat kesalehan sosialnya, maka dapat dikatakan bahwa ibadah haji yang telah dilaksanakanya belum berhasil atau haji yang mardud (ditolak).

KARTANU

Ibadah haji oleh para ulama ditempatkan sebagai rukun Islam yang kelima. Haji menjadi rukun terakhir ibadah seorang hamba pada Tuhan. Ibadah haji yang dilaksanakan atas dasar istithaah (mampu) ini jangan direduksi maknanya. Kata mampu (istithaah) bagi sebagian besar umat Muslim (di Indonesia khususnya), hanya diartikan sebagai kemampuan secara materi. Kita cenderung menghilangkan bahwa kata mampu juga bermakna kemampuan kita secara spiritual. Pemahaman yang parsial inilah yang menyebabkan ibadah haji seperti hilang hakikat spiritual dan fungsi sosialnya. Mereka yang berangkat haji, hanya menjadikan kemampuan materi sebagai standar untuk menjalankan ibadah haji. (Taufik Abdullah:1989)

Wajar jika di negeri ini banyak koruptor yang menggunakan uang hasil korupsinya untuk berhaji, dan hasilnya adalah tidak ada kesinambungan batiniyah yang berakibat langsung pada kehidupan sosial pasca mereka pulang dari berhaji. Sejatinya, sebagai rukun Islam terakhir, haji menjadi semacam perayaan dari perjalanan ruhaniah yang begitu panjang, yang dilakukan oleh umat Muslim. Ini menekankan kepada kita bahwa ibadah haji merupakan tahap akhir sekaligus titik awal bagi diri kita (kesalehan individual) menuju pribadi Muslim yang lebih baik sekaligus mampu memberikan kebaikan kepada orang lain (kesalehan sosial). (Amirul Ulum: 2015)

Kesalehan Sosial

Terdapat sebuah kisah tentang makna sosial haji yang terkenal dalam tradisi sufi. Alkisah ketika sedang menjalankan ibadah haji, ada seseorang yang tertidur ketika sedang melakukan wukuf di tengah panasnya padang Arafah. Dalam tidurnya seseorang itu kemudian bermimpi berjumpa dengan Rasulullah SAW. Menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan kekasih Allah SWT yang tidak tiap orang dapat menjumpainya, ia kemudian memberanikan diri bertanya kepada Rasulullah. Wahai kekasih Allah SWT, siapakah di antara kami semua yang sedang melaksanakan haji ini, diterima ibadahnya dan menjadi haji yang mabrur oleh Allah SWT? Rasulullah SAW kemudian dengan nada berat menjawab Tak seorang pun dari kalian yang diterima hajinya, kecuali seorang tukang cukur tetanggamu. Mendengar jawaban dari Baginda Rasululah SAW, orang tersebut termenung, betapa tidak, ia sadar bahwa tukang cukur yang dimaksud adalah tetangganya yang miskin dan tidak pergi berhaji saat ini.

Tak lama kemudian ia terbangun, dan dengan perasaan gundah gulana, ia merenung mencari makna di balik mimpi yang dialaminya itu. Sekembali dari Mekkah, segera ia menemui tukang cukur yang dimaksud Rasulullah SAW dalam mimpinya itu. Ia menceritakan segala pengalaman selama berhaji dan pengalaman spiritual lewat mimpi yang dialaminya itu. Lantas ia akhirnya bertanya pada tukang cukur itu, Amalan dan ibadah apakah yang telah anda lakukan, sehingga Baginda Rasulullah SAW mengatakan bahwa anda telah menjadi haji yang mabrur?

Mendapati cerita dan pertanyaan dari tetangganya itu, si tukang cukur kemudian terharu dan sujud syukur, kemudian dia menjelaskan bahwa sebenarnya ia telah lama mengidamkan untuk menunaikan ibadah haji. Bertahun-tahun ia menabung guna mewujudkan cita-citanya itu, dan pada saat tabungannya telah cukup untuk berangkat haji, bersiap-siaplah ia untuk berangkat melaksanakan haji. Tapi kemudian, belum lagi ia berangkat, ia mendapat kabar bahwa salah seorang tetangganya tertimpa musibah: seorang anak yatim sedang sangat membutuhkan pertolongan guna pengobatan atas sakit parah yang dialaminya. Mendapati kenyataan tersebut, ia kemudian mengurungkan niatnya untuk haji, dan menyumbangkan seluruh tabungannya guna menyelamatkan anak yatim tetangganya itu. (Said Agil Siroj: 2015)

Mendengar cerita si tukang cukur itu, orang yang baru selesai melaksanakan haji itu kemudian tertunduk malu. Ia sadar, kita kadang begitu mengebu-gebu dalam mencari ridha Allah SWT, dan karenanya menutup mata kita atas apa yang terjadi atas diri orang lain. Ibadah-ibadah kita kemudian menjadi tidak suci lagi, karena di dalamnya tersemat egoisme, ditumpangi nafsu dan jauh dari hakikat ibadah itu sendiri, yaitu rahmatan lilalamin.

Berangkat dari cerita di atas, kita seharusnya belajar, untuk kembali memaknai ibadah haji yang selama ini kita pahami. Ibadah haji dalam konteks hari ini, sangat naf jika hanya dipandang sebagai ritual keagamaan yang sifatnya individual, kita harus juga mampu menjadikan haji sebagai ibadah sosial. Di dalam ritual haji, semua umat Muslim menjadi sama, tidak ada yang membedakan secara tampilan fisik satu sama lain. Hal ini mengajarkan pada kita bahwa kita sebagai umat manusia pada satu titik adalah satu. Ke-satu-an di tengah pluralitas inilah yang seharusnya kita maknai untuk saling peduli dan memperhatikan satu sama lain. Pernahkah kita terpikir, di saat ratusan ribu umat Muslim di negeri ini melaksanakan ibadah haji, di sisi yang lain kebodohan dan kemiskinan masih juga menjadi masalah terbesar di republik ini. Terlebih kepada mereka yang melaksanakan haji lebih dari sekali, hal ini sungguh memilukan. Alangkah zalimmnya perbuatan tersebut. Di tengah krisis perekonomian negeri ini, masih begitu banyak yang umat Muslim yang tertutup pintu hatinya, semata hanya mengejar derajat kesalehan individualnya semata dengan berangkat berhaji. Alangkah bijak dan mabrurnya mereka yang menunda ritual haji mereka, kemudian menyumbangkan uang dan bekal untuk berhaji mereka guna kemaslahatan orang banyak.

Pada akhirnya penulis berharap agar kita terus memaknai keberadaan kita sebagai khalifah di muka bumi ini. Semoga dengan adanya ibadah haji yang tiap tahun dilaksanakan ini, mengajarkan kepada kita untuk terus meningkatkan kesalehan individual kita menuju kesalehan sosial, karena sebaik-baiknya manusia, adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain. Wallahualam.

Referensi

Shahih at-Targhib, No. 1096

Taufik Abdullah, Islam Dan Pembentukan Tradisi di Asia Tenggara, Jakarta: LP3ES, 1989, Cet. I, hlm. 58.

Amirul Ulum, Muassis Nahdhatul Ulama, Yogyakarta: Pustaka Musi, 2015, Cet I, hlm 45.

Baca KH said Agil Siroj, Urgensi Kajian Islam Nusantara dalam Harianto Oghie dan Fatkhu Yasik (ed.), Islam Nusantara: Meluruskan Kesalahpahaman, Jakarta: LP Maarif Pusat, 2015, Cet. I, hlm. 29.

* Penulis adalah Founder #PoskoNoesantara; tinggal di Sukarame, Bandarlampung

Dari (Opini) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/70473/makna-haji-mabrur-dan-kesalehan-sosial-kita

KARTANU

Sabtu, 21 September 2013

Pengelanaan dan Karya Kiai Ihsan Jampes

Syahdan, tidak lama dari mimpinya yang monumental itu, untuk pertama kali dalam hidupnya, Bakri keluar dari pesantren ayahnya untuk melanglang buana mencari ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain.

Beberapa pesantren yang sempat disinggahi Kiai Ihsan kecil adalah Pesantren Bendo Pare Kediri asuhan KH. Khozin (paman Bakri sendiri), Pondok Pesantren Jamseran Solo, Pondok Pesantren asuhan KH. Dahlan Semarang, Pondok Pesantren Mangkang Semarang, Pondok Pesantren Punduh Magelang, Pondok Pesantren Gondanglegi Nganjuk, dan Pondok Pesantren Bangkalan Madura asuhan KH. Kholil, sang Guru Para Ulama.

Dari rihlah ilmiah-nya, ada satu kebiasaan yang sering dilakukan Bakri, yakni ia tidak pernah menghabiskan banyak waktu di pesantren-pesantren tersebut. Misalnya, untuk belajar Alfiah Ibnu Malik yang berisi seribu bait tentang rumus dan teori Gramatika Arab (Nahwu dan Sharf) Bakri belajar dari KH. Kholil Bangkalan dan hanya menghabiskan waktu dua bulan; belajar ilmu falak (astronomi) kepada KH. Dahlan Semarang dan hanya tinggal di pesantrennya selama 20 hari; sedangkan di Pesantren Jamsaran Kediri ia hanya tinggal selama satu bulan. Namun demikian, ia selalu berhasil menguasai dan memboyong ilmu para gurunya tersebut dengan kemampuan di atas rata-rata.

Keunikan lainnya yang dapat disimak yaitu di setiap pesantren yang ia singgahi, Bakri selalu menyamar. Ia tidak mau dikenal sebagai gus (sebutan anak kiai); tidak ingin diketahui identitas aslinya sebagai putra kiai tersohor, KH. Dahlan Jampes. Bahkan, setiap kali kedoknya terbuka sehingga santri-santri tahu bahwa ia adalah gus dari Jampes, dengan serta merta ia akan segera pergi, menghilang dari pesantren tersebut untuk pindah pesantren lain. Alih-alih kebiasaan atau tradisi di dunia pesantren yang sering kali mengelu-elukan dan memanjakan para gus, anak kiai, seringkali memabukkan dan membius para gus, mereka kebal hukum dan peraturan pesantren, dan berujung pada ketidak seriusan belajar. Dan tradisi itulah yang hendak dihindari oleh Bakri, lantaran di mata Bakri tradisi itu tidak kondusif dalam proses belajar dan sering kali membentuk karakteristik feodal yang tidak baik.

Pengelanaan dan Karya Kiai Ihsan Jampes (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengelanaan dan Karya Kiai Ihsan Jampes (Sumber Gambar : Nu Online)


Pengelanaan dan Karya Kiai Ihsan Jampes

Pada tahun 1932, setelah selesai melalui tour ilmiyah itu, Bakri inobatkan menjadi pengasuh atau pemimpin Pondok Pesantren Jampes, Kediri. Sejak saat itulah Bakri terkenal sebagai pengasuh Pesantren Jampes. Ada banyak perkembangan yang signifikan di Pesantren Jampes setelah Syekh Ihsan diangkat sebagai pengasuh. Secara kuantitas, misalnya, jumlah santri terus bertambah dengan pesat dari tahun ke tahun, semula sekitar 150 santri menjadi sekitar 1000 santri lebih, sehingga Pesantren Jampes harus diperluas hingga memerlukan 1,5 hektar tanah. Secara kualitas, materi pelajaran juga semakin terkonsep dan terjadwal dengan didirikannya Madrasah Diniyah Mafatihul Huda pada 1942.

Sebagai seorang kiai, Syekh Ihsan mengerahkan seluruh perhatian, pikiran dan segenap tenaganya untuk diabdikan kepada santri dan pesantren. Hari-harinya hanya dipenuhi aktivitas spiritual dan intelektual; mengajar santri (ngaji), shalat jamaah, shalat malam, mutholaah (mengkaji) kitab, ataupun menulis kitab. Meskipun seluruh waktunya didesikannya untuk santri, Syekh Ihsan tidak melupakan masyarakat umum. Syekh Ihsan dikenal memiliki ilmu hikmah dan menguasai ketabiban. Hampir setiap hari, di sela-sela kesibukannya mengajar santri, Syekh Ihsan masih sempat menerima tamu dari berbagai daerah dan kalangan yang meminta bantuannya. Keilmuan hikmah yang dimilikinya ini berkat penguasaannya yang baik terhadap kitab-kitab hikmah seperti Syamsul-Maarif karya al-Buni, Mamba Ushul al-Hikmah, Kitab al-Aufaq karya Imam al-Ghazali, dan lain-lain. Bahkan keilmuan hikmah ini ia integrasikan dan kolaborasikan dengan ilmu falak yang telah difahaminya secara mendalam.

KARTANU

Pada masa revolusi fisik 1945, Syekh Ihsan juga memiliki andil penting dalam perjuangan bangsa. Pesantren Jampes selalu menjadi tempat transit para pejuang dan gerilyawan republik yang hendak menyerang Belanda. Di Pesantren Jampes, mereka meminta doa restu Syekh Ihsan sebelum melanjutkan perjalanan. Bahkan, beberapa kali Syekh Ihsan turut mengirim santri-santrinya untuk ikut berjuang di garis depan. Jika desa-desa di sekitar pesantren menjadi ajang pertempuran, penduduk yang mengungsi akan memilih Pesantren Jampes sebagai lokasi teraman, sementara Syekh Ihsan membuka gerbang pesantrennya lebar-lebar.

Sumbangan Syekh Ihsan yang sangat besar adalah karya-karya yang ditinggalkannya bagi masyarakat muslim Indonesia, bahkan umat Islam seluruh dunia. Sudah banyak pakar yang mengakui dan mengagumi kedalaman karya-karya Syekh Ihsan, khususnya karya magnum opus-nya, kitab yang berjudul Sirojut-Tholibin, kitab syarah (penjelasan) dari kitab Minhajul-Abidin karya Imam al-Ghazali, terbit pertama kali pada 1932 setebal sekitar 800 halaman. Kitab ini mengulas tasawuf. Syekh Ihsan mendapatkan penghargaan dan legitimasi ilmiyahnya di mata dunia Islam, ketika kitab tersebut diterbitkan oleh sebuah penerbit besar di Mesir, Musthafa al-Bab al-Halab, sebuah penerbit yang berorientasi menerbitkan kitab-kitab kuning (turats), yang sampai saat ini masih eksis. Di antara kitab tasawuf yang ditulis syekh Ihsan adalah kitab Manahijul-Imdad , sebuah syarah (penjelasan) dari kitab Irsyadul-Ibad karya Syekh Zainudin al-Malibari, terbit pertama kalinya pada tahun 1940 setebal sekitar 1088 halaman, mengulas tasawuf secara luas dan mendalam.

KARTANU

Sebelum menulis tentang tasawuf, syekh Ihsan berkelana mengelilingi tanah Jawa. Sebuah perjalanan apostolik sebagaimana tradisi para sufi darwis. Dalam perjalanan apostoliknya, ia menjumpai dan berdialog sekaligus menimba ilmu secara singkat dari hampir seluruh ulama tasawuf, mursid tharekat, dan para kiai yang terkenal keilmuan dan kezuhudannya. Bahkan, ia pun menjumpai para tokoh kejawen, pengikut kepercayaan, dan mengajak mendiskusikan secara mendalam persoalan filsafat, spiritual, dan pandangan-pandangan spiritual.

Lebih menakjubkan lagi, ia pun menjumpai para dukun dari berbagai jenisnya, lantaran para dukun dianggap memiliki pandangan dunianya sendiri yang harus diselami. Dari pengalaman perjalanan spiritualnya yang telah menggondol segudang informasi dan ilmu itu menjadi salah satu modal dalam mengkonsepsikan pandangan tasawufnya yang dielaborasikan dengan mengikutsertakan pengalaman pribadi, eksperimentasi spiritual, ritual, pandangan pewayangan, dan pentakwilan atas segenap teks normatif Islam, al-Quran dan hadits.

Pada saat-saat menulis karya-karyanya tersebut, syekh Ikhsan dengan tekun menuliskannya yang tak kenal lelah, tak kenal waktu, bergadang, malam yang hening dilaluinya dengan ditemani segelas kopi dan berbatang-batang rokok. Karena memiliki kebiasaan meminum kopi dan menghisap rokok, akhirnya menginspirasikan lahirnya sebuah kitab yang ditulisnya dengan judul kitab Irsyadul-Ikhwan fi Bayani Hukmi Syurbil-Qohwah wad-Dukhon. Kitab ini diadaptasi dari kitab kumpulan syair-syair atau puisi dari kitab Tadzkiratul-Ikhwan fi Bayanil-Qahwah wad-Dukhan karya KH. Ahmad Dahlan Semarang, yang kemudian diberi penjelasan (syarh), tebalnya 50 halaman. Buku ini berbicara tentang polemik hukum merokok dan minum kopi.

Disamping dikenal sebagai pakar tasawuf, syekh Ihsan juga merupakan ulama dan masuk dalam deretan nama pakar ilmu falak (astronomi). Salah satu karya akademik di bidang ini adalah kitab Tashrihl-Ibarot, syarah (penjelasan) dari kitab Natijatul-Miqot karya KH. Ahmad Dahlan Semarang, terbit pertama kali pada 1930, setebal 48 halaman.

Seorang sufi yang juga penuh karya akademiknya ini akhirnya pada Senin, 25 Dzul-Hijjah 1371 H. atau September 1952, dipanggil oleh Allah SWT. Usianya yang baru melewati setengan abad ini, 51 tahun, meninggalkan ribuan santri, seorang istri dan delapan putra-puteri. Kuburannya hingga saat ini ramai dikunjungi oleh para peziarah, khususnya dari warga NU.

Tak ada warisan yang terlalu berarti dibandingkan dengan ilmu yang telah dia tebarkan, baik ilmu yang kemudian tersimpan dalam korpus kitab-kitab karyanya yang abadi maupun yang terrekam dan tersimpan di dalam hati para murid-muridnya. Beberapa murid Syekh Ihsan yang mewarisi dan meneruskan perjuangannya dalam berdakwah melalui pesantren adalah Kiai Soim pengasuh pesantren di Tanggir Tuban, KH. Zubaidi di Mantenan Blitar, KH. Mustholih di Kesugihan Cilacap, KH. Busyairi di Sampang Madura, K. Hambali di Plumbon Cirebon, K. Khazin di Tegal, dan lain-lain.

Setahun yang lalu, penulis berziarah kemakamnya dan ke pesantren peninggalannya yang bersahaja dengan disambut oleh KH. Busyro, pengasuh pesantren peninggalan sang sufi kita. Kami berbincang-bincang di rumah KH. Busyro seputar karya-karya sang sufi. Beliau bercerita bahwa sejatinya Gus Dur, panggilan akrab mendiang KH. Abdurrahman Wahid, pernah ingin memperjuangkan salah satu naskah sang sufi yang belum sempat tersebar ke penjuru dunia Islam, yaitu kitab Manahijul -Imdad. Gus Dur meng-copy manuskrip (makhthuthat) kitab tersebut dan diserahkan ke Syekh Sayyed al-Maliki, dengan harapan mendapatkan tashih atau tahqiq dan diterbitkan di Arab. Akan tetapi dalam penantian yang panjang, kitab tidak kunjung diterbitkan. Akhirnya atas dasar inisiatif KH. Busyro sekeluarga, kitab tersebut telah diterbitkan oleh keluarga kiai Ihsan dengan dicetak cukup sederhana dan dalam jumlah terbatas. Tanpa disangka dan diduga, kitab tersebut dalam waktu singkat ludes dipasaran. Karena, rupa-rupanya para kiai dan santri betul-betul menanti-nantikan karya syekh Ihsan itu. Akhirnya ketika sudah ada di depan mata, mereka memburu dan berebut untuk mendapatkannya. Penulis sendiri pada waktu keliling pesantren salaf, tidak mendapatkan kitab tersebut. Dan penulis sempat mensarankan pada KH. Busyro agar kitab tersebut dicetak kembali.

Karya-karya syekh Ihsan sebagian besar telah dikaji dan dibaca oleh para kiai dan santri di pesantren salaf-tradisional. Khususnya kitab magnum opusnya, yaitu Sirojut-Tholibin. Bahkan sebagian kiai Lirboyo-Kediri membacanya setiap tahun sebagai ritual pengajian sehari-hari. Tidak diragukan lagi jika paradigma sufistiknya yang bernuansa Ghazalian yang mengusung perkawinan tasawuf dan syariah telah berpengaruh besar terhadap paradigma nalar sufisme kaum santri yang berbasis NU (Nahdlatul Ulama).

Mukti Ali

Program Officer Manuskrip Nusantara & Peneliti Rumah Kitab

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/48472/pengelanaan-dan-karya-kiai-ihsan-jampes

Selasa, 27 Agustus 2013

Stop Share Video Percakapan Habib Rizieq yang Sangat Tidak Pantas Dibaca

KARTANU - Beredarnya video yang mencatut nama imam besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab (HRS) terkait berita miring (perselingkuhan?) yang sangat tidak pantas dibaca dan ditonton oleh pembaca KARTANU, sungguh memprihatinkan.

Netizen NU yang selama ini sering melakukan counter kelompok radikal menghimbau kepada masyarakat luas, utamanya nahdliyyin, agar tidak ikut terlarut dalam arena yang dibuat kelompok-kelompok yang pada dasarnya tidak peduli NU, apalagi peduli kesatuan bangsa.

"Kita kritik FPI, tapi kita tidak anti Wan Rizieq. Kita tetap wajib menghormati beliau sebagai dzurriyah Nabi. Warga NU tetap wajib menahan diri untuk tidak terjebak ke dalam arena perang pembunuhan karakter," kata Zain, salah satu Netizen NU, Ahad (29/01/2017) di Jakarta.

Zain yang selama ini juga getol melakukan kritik dakwah ala FPI pun menyangsikan orisinalistas percakapan WhatsApp antara HRS dan Firza Husen (FH), Ketua Yayasan Solidaritas Keluarga Cendana.

Menurutnya, pengunggah video percakapan yang mengarah kepada perz1na4n tersebut mengajak pembaca untuk melakukan tabayun (klarifikasi) kepada pihak terkait, tapi lucunya, nomor berakhiran 770 yang ada di screenshoot chatingan sudah diberi nama terang Habib Rizieq.

"Yang nyecreenshoot kurang canggih. Harusnya dihapus dulu nama kontaknya," tandas Zain. Ia meyakini kalau hape yang digunakan upaya screenshoot percakapan itu hanya satu, "menunjukkan kalau ini 60% hoax," imbuhnya kepada KARTANU.

Netizen NU yang lain juga menyangsikan keaslian percakapan yang menghebohkan tersebut, "screen shoot percakapan WA itu mudah sekali dibuat. Jangan mudah percaya screen shoot yang tampak asli," ujar Ali, yang juga menyarankan agar aktivis dumay nahdliyyin tidak ikut menyebarkan video kurang ajar tersebut.

Walaupun tidak setuju dengan FPI dan HRS, walaupun HRS juga pernah menghina Gus Dur sebagai buta mata dan buta hati serta menyebut Islam Nusantara dengan akronim jelek "Anus", namun cara menghadapinya harus menggunakan etika agar tidak kebablasan kepada fitnah dan pembunuhan karakter.

"Walaupun saya tidak setuju sama HRS dan marah atas perbuatannya selama ini, termasuk hinaan HRS pada Gus Dur, menyebar video ini malah membuat khawatir kalau mereka juga akan membalas dengan memfitnah kiai-kiai NU dengan cara keji," tutur Okan, Netizen NU juga.

Kalaupun berita miring tentang HRS dan FH itu benar, pembaca juga tidak selayaknya ikut menyebarluaskan, "yang bisa negur dzurriyah Nabi ya dzurriyah Nabi sendiri," jelas Netizen NU lainnya, yang juga ustadz.

Kata ustadz tersebut, dulu pernah diceritakan ada seorang ustadz di Jakarta Timur yang marah kepada Habib Rizieq karena menghina Gus Dur, "tetapi oleh Gus Dur ya ditahan, karena darahnya Habib Rizieq harus dihormati, sedangkan Habib Mahdi keras mengkritisi Habib Rizieq," terang. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/stop-share-video-percakapan-habib-rizieq.html

Rabu, 23 Januari 2013

Santunan Yatim Piatu Sertai PKD Ansor Genuk

Semarang, KARTANU. Ada beragam cara untuk mengisi bulan Ramadhan. Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Genuk, Kota Semarang memilih kegiatan kaderisasi untuk mengisi bulan suci ini. Melalui Perkaderan Tingkat Dasar (PKD) diharapkan akan lahir para kader yang berkualitas.

PKD yang digelar Sabtu (19/7) malam di kecamatan setempat itu diikuti seluruh utusan dari Pimpinan Ranting GP Ansor se-Kecamatan Genuk. Selain PKD bertajuk Militansi dalam Berorganisasi, GP Ansor Genuk juga menyelenggarakan buka puasa bersama dan santunan yatim piatu dan dhuafa.

Santunan Yatim Piatu Sertai PKD Ansor Genuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Santunan Yatim Piatu Sertai PKD Ansor Genuk (Sumber Gambar : Nu Online)


Santunan Yatim Piatu Sertai PKD Ansor Genuk

Ketua PAC GP Ansor Genuk Muslimin mengatakan, saat ini kita membutuhkan kader yang memiliki militansi tinggi, menyadari akan kediriannya dan perannya khususnya sebagai kader Nahdliyin.

Apalah arti sebagai mayoritas warga NU namun jika tidak memiliki keberpihakan kepada NU. Maka saatnya membangun kedirian salah satunya dengan mengikuti Perkaderan Tingkat Dasar, jelasnya

KARTANU

M. Afdlori, SH, MH salah satu mengatakan, pemimpin tidak ditemukan di sekolahan, kampus, universitas maupun yang memiliki gelar sarjana, tapi pemimpin lahir dari perjalanan. Ketika lahir ia memiliki kelebihan, mampu menggerakkan, kuat manajemennya dan mempu menjembatani.

Pemimpin dalam organisasi di lingkungan NU lebih tepatnya disebut Khodimul Umat yakni sebagai pelayan, tuturnya.

KARTANU

Pemimpin adalah pelayan sehingga ia melayani terhadap umatnya sehingga mengandung makna luas kalau sudah ditunjuk sebagai pemimpin harus mendengar, mengerti, dan melangkah lalu berbuat terhadap keberadaan jamaahnya, lanjutnya. (Lukni Maulana/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/53410/santunan-yatim-piatu-sertai-pkd-ansor-genuk

KARTANU

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KARTANU sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KARTANU. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KARTANU dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock