Tampilkan postingan dengan label Sanad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sanad. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 November 2016

Ketum PBNU Tidak Tahu dan Tidak Hadir Acara Istighatsah dengan Ahok Malam Ini

KARTANU - Pada caption liputan Metro TV petang Ahad, 5 Februari 2017, disampaikan bahwa Ketum PBNU KH Said Aqil Siraj akan menghadiri sebuah acara istighatsah dimana Ahok juga hadir. Metro TV sempat membuat caption "Ketua Umum PBNU dan Ahok Direncanakan Hadir". Ini bukti caption hoax liputan Metro TV.

Ketum PBNU Tidak Tahu dan Tidak Hadir Acara Istighatsah dengan Ahok Malam Ini - KARTANU
Ketum PBNU Tidak Tahu dan Tidak Hadir Acara Istighatsah dengan Ahok Malam Ini - KARTANU


Ketum PBNU Tidak Tahu dan Tidak Hadir Acara Istighatsah dengan Ahok Malam Ini

Caption liputan yang membuat Ketum PBNU tidak nyaman Berita di atas cukup membuat tidak nyaman PBNU di tengah hiruk pikuk politik menjelang puncak hari Pilkada DKI beberapa hari mendatang, di mana NU memang dituntut netral kepada semua kandidat, apalagi memperhatikan kasus-kasus yang menyibukkan kandidat, NU memang harus netral agar tidak mudah dipolitisir untuk mendulang suara.

Ketum PBNU Tidak Tahu dan Tidak Hadir Acara Istighatsah dengan Ahok Malam Ini - KARTANU
Ketum PBNU Tidak Tahu dan Tidak Hadir Acara Istighatsah dengan Ahok Malam Ini - KARTANU


Ketum PBNU Tidak Tahu dan Tidak Hadir Acara Istighatsah dengan Ahok Malam Ini

Dalam berita yang dimuat Detikcom, foto acara "politis" bertajuk "Istigosah Kebangsaan Warga Nahdliyyin DKI Jakarta" yang digelar di Rumah Djian Farid (PPP) Jalan Talang, Jakarta Pusat (Ahad, 05/02/2017) itu, logo NU juga dibentang besar sebagai background.

Istigosah Kebangsaan Warga Nahdliyyin DKI Jakarta Memperhatikan perihal di atas, Ketum PBNU KH Said Aqiel Siraj melalui Ketua PBNU Bidang Hukum, KH Robikin menyampaikan bahwa Ketum PBNU tidak menghadiri acara tersebut dan PBNU tidak mengetahui atau terlibat dalam acara tersebut.

Demikian klarifikasi terhadap pemberitaan Metro TV, semoga memberikan kepahaman kepada masyarakat dengan jelas. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/ketum-pbnu-tidak-tahu-dan-tidak-hadir-acara-istighatsah-dengan-ahok.html

Jumat, 04 September 2015

Radio Pesantren Tak Mesti Siarkan Pengajian Melulu

Cirebon, KARTANU. Sebagian pesantren di Indonesia telah dilengkapi dengan teknologi komunikasi perangkat siar radio. Fungsinya adalah agar gerakan dakwah yang dilakukan mampu mencapai titik terluar pesantren dan masyarakat di sekitarnya.

Ketua Radio Komunitas (Rakom) Buntet Pesantren (Best FM) Ahmad Rovahan menilai radio pesantren merupakan media yang cukup strategis. Ia berpendapat, meski dari pesantren, siaran radio tidak mesti harus memutar pengajian dan ceramah keagamaan.

Radio Pesantren Tak Mesti Siarkan Pengajian Melulu (Sumber Gambar : Nu Online)
Radio Pesantren Tak Mesti Siarkan Pengajian Melulu (Sumber Gambar : Nu Online)


Radio Pesantren Tak Mesti Siarkan Pengajian Melulu

Pemutaran pengajian berupa ceramah dan pembacaan Al-Quran tentu baik, tapi hal ini jangan sampai dianggap sebagai cara tunggal untuk menyiarkan prinsip kepesantrenan secara lebih mengena kepada masyarakat luar, katanya saat dihubungi KARTANU melalui telepon.

Menurut Rovahan, banyak cara dilakukan untuk mengenalkan pesantren tidak dengan cara yang monoton. Di antaranya adalah membongkar kesan ketertutupan pesantren melalui pembacaan selera pendengar.

KARTANU

Kita tidak perlu antipati dengan karya seni yang lebih umum. Contoh pemutaran musik yang sedang marak di tengah masyarakat. Yang terpenting adalah sebisa mungkin para penggiat radio di dalamnya mampu mengemasnya seusai dengan prinsip-prinsip kepesantrenan, katanya.

KARTANU

Selain membuka diri dengan kegemaran masyarakat dengan tujuan membentengi mereka dengan prinsip-prinsip kepesantrenan, lanjut Rovahan, radio pesantren juga sebenarnya memiliki peluang untuk menggawangi pesan-pesan yang dibutuhkan bagi masyarakat. Misalnya, pembuatan Iklan Layanan Masyarakat (ILM) bertema kebhinekaan, anti korupsi, kenakalan remaja dan lain-lain.

Syaratnya hanya satu, prinsip kepesantrenan dan syiar Islam tersebut tidak dikemas dengan cara yang kaku. Bahkan, boleh juga diimbuhi nuansa guyon sesuai dengan adat pesantren dan masyarakat nahdliyin, pungkasnya.

Best FM meraih penghargaan membanggakan dengan mengalahkan ratusan radio lainnya. Radio tersebut juara 1 lomba pembuatan feature audio bertema Anti Korupsi yang diselenggarakan Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia (KPK RI) bekerja sama dengan Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI). Hadiah dianugerahkan di Museum Fatahilla, Kota Tua, Jakarta, Ahad (17/8).

Sebagai juara 2 diraih Taraktak FM Sumatera Barat, Wijaya FM Yogyakarta dan K-FM Magelang. Pemenang lomba mendapatkan hadiah berupa peralatan siar radio yang diserahkan langsung oleh para Pimpinan KPK diantaranya Ketua KPK Abraham Samad, Bambang Widjayanto, Adnan Pandu Praja, dan Juru Bicara KPK Johan Budi. (Sobih Adnan/Abdullah Alawi)

Dari (Pesantren) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/53897/radio-pesantren-tak-mesti-siarkan-pengajian-melulu

KARTANU

Rabu, 06 Mei 2015

NU Tetap Tunggu Rukyatul Hilal

Jakarta, KARTANU. Meskipun secara hisab kepastian hari raya Idul Fithri sudah bisa dipastikan, namun NU baru akan memutuskan kapan jatuhnya 1 Syawal setelah mengadakan Rukyatul hilal.

"Secara hisab memang 1 Syawal jatuh pada 3 Nopember, dan berdasarkan perhitungan itu, Insya Allah tidak ada perbedaan soal penetapan Idul Fithri, namun sikap NU tetap menunggu rukyatul hilal yang di gelar oleh cabang Falakiyah di seluruh Indonesia," ungkap Ketua Lembaga Falakiyah NU, KH.Gojali Masruri kepada KARTANU, Jumat (29/10).

Memang, lanjutnya berdasarkan hitungan hisab ijtima terjadi pada hari Rabu, 2 Nopember jam 8.16, 49 detik dan matahari terbenam ketika tinggi hilal berada pada 0,3 derajat 18 menit 29 detik, letak matahari terbenam di sebelah selatan titik barat pada 14 derajat, 57 menit, 55 detik, sedangkan kedudukan hilal sebelah selatan matahari pada, 0,3 derajat, 39 menit, 28 detik. Sedangkan keadaan hilal posisinya miring ke selatan dan lama hilal di atas wukuf 15 menit, 38 detik.

"Meskipun sudah ada perhitungan seperti itu, kedudukan hisab bukan sebagai penentu awal Idul Fithri. Hisab hanyalah sebagai pendukung rukyah, dengan lain perkataan hisab sebagai karya ilmiah itu perlu dikontrol tingkat akurasinya dengan observasi di lapangan yang dalam bahasa Nahdlatul Ulama disebut dengan rukyatul hilal," kata kyai lulusan Krapyak ini.

NU Tetap Tunggu Rukyatul Hilal (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Tetap Tunggu Rukyatul Hilal (Sumber Gambar : Nu Online)


NU Tetap Tunggu Rukyatul Hilal

Jadi, kalau rukyah berhasil, berdasarkan perhitungan hisab tersebut, Kamis sudah masuk Idul Fithri, kalau rukyah gagal karena mendung, kabut, dan sebab lainnya maka hitungan bulan digenapkan atau istikmal, jadi Idul Fithri jatuh pada hari Jumat. "Namun, meski hisabnya sudah ada, tetapi itu tidak digunakan, karena NU dalam menetapkan 1 Syawal tetap menunggu rukyah," tandasnya.

Ia menjelaskan Rasululah sendiri tidak pernah meramal jauh-jauh hari, tapi kalau sekadar ramalan jangankan besok, 10 tahun yang akan datang kapan hari raya juga bisa. Dalam konteks ini NU mempunyai azaz di dalam mengamalkan agama itu selalu mendahulukan azaz taabud (ketundukan, ketaatan dan penghambaan) artinya taat, lalu barulah taaqul (rasionalisasi) penggunaan rasio, rasio tidak boleh didahulukan, kalau Mutazilah kan rasio dulu. setelah itu baru kalau akalnya menerima barulah dia menyerahkan pilihan keputusan. "kalau NU tidak, kita taati dulu ajaran alquran dan sunnah untuk menyempurnakannya itu barulah akal kita mendasarkan pada akal supaya lebih sempurna ibadahnya," tegasnya.

Sedangkan ketika ditanyakan mengenai patokan dasar yang dapat dijadikan pijakan apakah NU sudah menetapkan, ia menjawab NU mendasarkan pada rukyatul bil fili sesuai dengan tuntutan rasullulah, yang menjelaskan tidak kurang ada 23 hadist yang menyuruh berpuasa ataupun berhari raya dengan terlebih dahulu melihat rukyatul hilal.

KARTANU

Lebih jauh ia mengatakan, sesuai dengan paham yang diyakini NU bahwa melakukan rukyah itu suatu kewajiban ibadah. "Jadi itu fardu kifayah, orang melihat bulan lalu berpuasa, kalau kewajiban berpuasa atau berhari raya menjadi keputusan pemerintah maka, harus berdasarkan pada rukyah," katanya. Dan kalau pemerintah memutuskan tidak berdasarkan pada rukyah NU pasti menolak dengan cara membuat siaran sendiri kepada seluruh wilayah dan cabang-cabangnya diseluruh Indonesia.

Dan hal itu, katanya pernah terjadi pada tahun 1984 dan tahun 1993, ketika itu NU berbeda dalam penentuan 1 Syawal dengan organisasai lain dan terjadi perbenturan yang sangat keras di tingkatan grass root karena pada saat itu kental nuansa politisnya, setalah NU kembali ke khittah. "NU berharap 1 Syawal bisa bersama, tetapi jika terjadi perbedaan harus disikapi secara wajar dan mengedepankan ukhuwah Islamiyah," paparnya.

Sementara itu, informasi yang dihimpun dari Humas Departemen Agama menyebutkan, Sidang Itsbath penetapan 1 Syawal akan dilakukan pada Rabu (2 Nopember) mulai jam 17.30 WIB, yang akan dihadiri MUI dan seluruh Ormas Islam.Seperti tahun-tahun sebelumnya, Sidang Istinbath akan didahului dengan "rukyatul hilal" (melihat bulan baru) yang dilakukan di 323 Pengadilan Agama dan 25 Pengadilan Tinggi Agama di seluruh Indonesia. (Cih)

KARTANU

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/3719/nu-tetap-tunggu-ampquotrukyatul-hilalampquot

KARTANU

Selasa, 03 Februari 2015

Awas, Setelah Usir Sinta Nuriyah, FPI Semarang Akan Sasar Diskusi di Ungaran

KARTANU - Sikap penolakan Front Pembela Islam (FPI) Jawa Tengah kepada Ibu Sinta Nuriyah Wahid (istri Gus Dur) pada acara buka puasa bersama di Gereja Kristus Raja Ungaran yang kemudian digeser ke Gereja Yakobus Pudak Payung Semarang pada Kamis (16 Juni 2016) sore tadi, adalah berlebihan.

Awas, Setelah Usir Sinta Nuriyah, FPI Semarang Akan Sasar Diskusi di Ungaran - KARTANU
Awas, Setelah Usir Sinta Nuriyah, FPI Semarang Akan Sasar Diskusi di Ungaran - KARTANU


Awas, Setelah Usir Sinta Nuriyah, FPI Semarang Akan Sasar Diskusi di Ungaran

Hanya dengan alasan khawatir terjadi gangguan keamanan karena menolak doa bersama lintas agama, FPI hendak melakukan kontrol tanpa wewenang di Semarang hingga mengusir tamu kehormatan yang diundang. Demikian dikatakan oleh Ubbadul Adzkiya’, aktivis Lembaga Studi Sosial dan Agama (Elsa) Semarang, sore tadi.

Bahkan, FPI Ungaran juga mengancam akan membubarkan diskusi dalam nobar “Pulau Buru Tanah Air Beta” dan lounching buku karya Tsabit Azinar Ahmad berjudul “Sejarah Kontroversial dalam Perspektif Pendidikan” yang rencananya akan diselenggarakan di Rumah Simpul Buku, Sekarang, Semarang pada 17-18 Juni 2016 besok.

Bukan tidak mungkin, setelah mengusir Sinta Nuriyah, FPI akan memblokir jalan dan mengancam acara diskusi. “Bedah buku Tan Malaka juga ditolak oleh FPI Semarang karena dianggap buku komunis padahal mereka tidak membaca,” kata Nafiul Haris, jurnalis, kepada KARTANU.

Sementara itu, Banser Jateng menyatakan tetap mengawal Ibu Sinta Nuriyah hingga aman dari makar FPI. “Di mana pun tempatnya, apa pun bentuknya, dan kapan pun waktunya, dalam rangka untuk mengawal Ibu Nyai Shinta Nuriyah, istri guru kita, kyai kita, Kyai Abdurrahman Wahid, silaturrahim keilmuan, ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah basyariyah,” kata Hasyim As’ary, Kasatkorwil Banser Jawa Tengah. [KARTANU/ m abdullah badri]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/06/awas-setelah-usir-sinta-nuriyah-fpi-semarang-akan-sasar-diskusi-di-ungaran.html

Kamis, 01 Januari 2015

NU to hold national congress in Jombang in August

Surabaya, KARTANU. Nahdlatul Ulama (NU) chairman Saifullah Yusuf, popularly known as Gus Ipul, said that the NUs 2015 muktamar (national congress) would be held in Jombang, East Java, from Aug.1 to 7.

We have prepared four pesantren [Islamic boarding schools], namely Cukir, Petorangan, Tambakberas and Tebuireng, to be used to accommodate the muktamar NU participants, said Saifullah, who is also East Java deputy governor, on Monday (26/01).

NU to hold national congress in Jombang in August (Sumber Gambar : Nu Online)
NU to hold national congress in Jombang in August (Sumber Gambar : Nu Online)


NU to hold national congress in Jombang in August

He said the 33th muktamar would take place at the Alun-alun Jombang, where the organizing committee would set up giant tents to accommodate thousands of participants attending the opening session, meetings and plenary sessions, NU chair election and closing ceremony.

For this years muktamar, especially in the election of the rois aam [law-making body leader], we will use the so-called ahlul hall wal aqdi election system. This method is used to differentiate the election of NU general chairman of lawmaking council (rais aam) and NU general chairman of executive council, said Saifullah.

KARTANU

KARTANU

In the ahlul hall wal aqdi election system, the rois aam will be elected by representatives of senior Islamic teachers so that fights between supporters of candidates can be avoided. Meanwhile, the election of the PBNU chair will be conducted via a direct election, said Saifullah.

Ahead of the muktamar, several people have been touted as PBNU chairman candidates. They include incumbent candidate KH Said Aqil Siroj and KH Sholahuddin Wahid or Gus Sholah, who reportedly will run for the NU chairmanship.

KH Mustofa Bisri or Gus Mus and KH Hasyim Muzadi, who is also former PBNU chairman, are considered strong candidates for rois aam.

NU Rais Syuriah (supreme council chairman) KH Mas Subadar said the Jombang muktamar was an important event as it would be used as to return to the true spirit of the NU, which celebrates its 100-year anniversary this year.

The participants can also make a devotional visit to the graves of NU founders and leaders such, as former president KH Abdurrahman Wahid or Gus Dur, he said.

Editing by Sudarto Murtaufiq

Dari (National) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/57370/nu-to-hold-national-congress-in-jombang-in-august

KARTANU

Minggu, 16 November 2014

Yenny Wahid: Jangan Jadikan NU sebagai Batu Loncatan Politik

Jombang, KARTANU. Memimpin organisasi sebesar Nahdlatul Ulama, tidak boleh asal-asalan. Apalagi hanya menjadikannya sebagai batu loncatan politik, harus dihindari oleh siapapun yang aktif di ormas keagamaan ini.

Hal tersebut dikatakan Zannuba Arifah Chafsoh (Yenny Wahid) usai berziarah di makam ayahnya, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di komplek Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur, Jumat (31/7) sore. Yenny didampingi suaminya, Dhohir Farisi.

Yenny Wahid: Jangan Jadikan NU sebagai Batu Loncatan Politik (Sumber Gambar : Nu Online)
Yenny Wahid: Jangan Jadikan NU sebagai Batu Loncatan Politik (Sumber Gambar : Nu Online)


Yenny Wahid: Jangan Jadikan NU sebagai Batu Loncatan Politik

Mimpin NU jangan sampai sebagai batu loncatan saja. Apalagi batu loncatan politik. Naudzubillah min dzalik, ujar putri kedua almarhum Gus Dur ini.

Menurut Yenny, NU rentan terhadap politik uang (money politics). Memang NU juga tidak lepas dari fenomena yang menjangkiti seluruh bangsa, yaitu soal politik uang. Harus ada mekanisme yang menjawab itu, tegasnya.

KARTANU

KARTANU

Disinggung soal pencalonan pamannya, KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah), Yenny tidak menyatakan mendukung atau menolak. Bagi kami, silakan saja. Siapapun berhak maju. Tapi persoalan tadi harus dijawab. Politik uang yang sudah menjangkiti warga NU harus dituntaskan, tandasnya.

Yenny menambahkan, jika NU sendiri dalam bermuktamar dan dalam pemilihannya cenderung pragmatis, masih juga tergiur dengan iming-iming pragmatisme dan uang, tentu sulit untuk membantu dalam pemberantasan korupsi.

Bagaimana bisa mendandani moral masyarakat, bagaimana mampu melawan korupsi di republik ini jika kita sendiri masih begitu, ujar Direktur The Wahid Institute Jakarta ini.

Ditanya tentang pro-kontra masalah mekanisme pemilihan melalui Ahlul Halli Wal Aqdi, Yenny memberi ruang para muktamirin untuk menentukannya. Soal itu, terserah mekanismenya seperti apa, ujarnya diplomatis. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/61209/yenny-wahid-jangan-jadikan-nu-sebagai-batu-loncatan-politik

KARTANU

Rabu, 13 Maret 2013

GP Ansor Pamekasan Ikuti Deklarasi Akbar Cinta Damai

Pamekasan, KARTANUGerakan Pemuda Ansor Kabupaten Pamekasan turut mewarnai deklarasi akbar kebhinekaan cinta damai yang digelar Forum Pimpinan Daerah (Forpimda) Pamekasan, Selasa (15/11). Bertempat di area monumen Arek Lancor, acara tersebut diikuti pengurus PAC GP Ansor di 13 kecamatan, Banser, Badan Ansor Anti Narkoba (Baanar), MDS Rijalul Ansor, Bupati Achmad Syafii, Kapolres, dan Dandim Pamekasan.

Ketua PC GP Ansor Pamekasan Dr Fathorrahman menegaskan, sehari sebelumnya, pihaknya sudah menginstruksikan kepada seluruh pengurus dan anggota GP Ansor sekabupaten untuk turut serta dalam deklarasi cinta damai tersebut. Pihaknya bersyukur instruksi tersebut dijalankan dengan baik.

GP Ansor Pamekasan Ikuti Deklarasi Akbar Cinta Damai (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Pamekasan Ikuti Deklarasi Akbar Cinta Damai (Sumber Gambar : Nu Online)


GP Ansor Pamekasan Ikuti Deklarasi Akbar Cinta Damai

"Saya bangga sahabat-sahabat tetap semangat meneguhkan perdamaian di negeri ini. Deklrasi ini sebagai wujud komitmen kita untuk terus menjaga kedaulatan bangsa," tegas Fathorrahman.

KARTANU

Dosen Universitas Madura tersebut menambahkan, kedaulatan bangsa dapat tercapai bilamana persatuan dan kesatuan dipelihara dan dipupuk dengan baik. Itu bisa terlaksana dengan mantap ketika cinta damai melekat dalam kehidupan masyarakat secara menyeluruh.

"Deklarasi ini mungkin memang terkesan seremonial. Kami berharap bisa lebih dari itu, takni menjadi pelecut semua lapisan masyarakat, utamanya GP Ansor untuk terus menjaga keutuhan NKRI," lanjutnya.

KARTANU

Dalam sambutannya, Bupati Achmad Syafii menyatakan sangat berterima kasih kepada semua elemen masyarakat yang masih setia menjaga kenyamanan dan keamanan di Kabupaten Pamekasan. Baginya, itu sudah wujud nyata betapa masyarakat Madura, khususnya di Kabupaten Pamekasan, sudah dewasa dalam berbangsa dan bernegara.

"Kedewasaan itu juga tercermin dari kelegowoan dalam menerima perbedaan. Itulah pengamalan dari Bhinneka Tunggal Ika," tukasnya. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/72937/gp-ansor-pamekasan-ikuti-deklarasi-akbar-cinta-damai

KARTANU

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KARTANU sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KARTANU. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KARTANU dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock