Tampilkan postingan dengan label Bahtsul Masail. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahtsul Masail. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Juni 2016

Pelajar NU Gandrungmangu Isi Pesantren Ramadhan dengan Lakmud

Cilacap, KARTANU. Sebanyak 125 pelajar mengikuti pelatihan kader muda (Lakmud) yang diselenggarakan IPNU-IPPNU Gandrungmangu di MI Maarif NU 1 Layansari kecamatan Gandrungmangu kabupaten Cilacap. Pelatihan selama dua hari, Sabtu-Ahad (5-6/7) ini, mempersiapkan peserta menjadi kader NU berwawasan Aswaja.

Peserta Lakmud yang dimulai Sabtu (5/7) pagi ini ialah utusan dari empat belas ranting dan enam komisariat IPNU-IPPNU sekecamatan. Mereka juga mempelajari sejumlah keterampilan dalam kaderisasi ini seperti pelatihan Jurnalistik, seminar Kepemimpinan Masa Depan, dan praktik amaliyah Ramadhan.

Pelajar NU Gandrungmangu Isi Pesantren Ramadhan dengan Lakmud (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Gandrungmangu Isi Pesantren Ramadhan dengan Lakmud (Sumber Gambar : Nu Online)


Pelajar NU Gandrungmangu Isi Pesantren Ramadhan dengan Lakmud

Keluar dari sini, peserta harus sudah siap menjadi pemimpin dan pelopor masa depan pada masing-masing ranting dan komisariat, kata Ketua IPNU Gandrungmangu, Ali Mahfudz.

KARTANU

Kaderisasi ini berakhir Ahad (6/7) petang. Kegiatan yang diakhiri doa bersama dengan pengurus MWCNU Gandrungmangu beserta lembaga dan banom NU, menutup rangkaian kegiatan pesantren Ramadhan. (Ulun Najah-Amaliyatun Khofifah/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/53122/pelajar-nu-gandrungmangu-isi-pesantren-ramadhan-dengan-lakmud

KARTANU

KARTANU

Jumat, 04 September 2015

Radio Pesantren Tak Mesti Siarkan Pengajian Melulu

Cirebon, KARTANU. Sebagian pesantren di Indonesia telah dilengkapi dengan teknologi komunikasi perangkat siar radio. Fungsinya adalah agar gerakan dakwah yang dilakukan mampu mencapai titik terluar pesantren dan masyarakat di sekitarnya.

Ketua Radio Komunitas (Rakom) Buntet Pesantren (Best FM) Ahmad Rovahan menilai radio pesantren merupakan media yang cukup strategis. Ia berpendapat, meski dari pesantren, siaran radio tidak mesti harus memutar pengajian dan ceramah keagamaan.

Radio Pesantren Tak Mesti Siarkan Pengajian Melulu (Sumber Gambar : Nu Online)
Radio Pesantren Tak Mesti Siarkan Pengajian Melulu (Sumber Gambar : Nu Online)


Radio Pesantren Tak Mesti Siarkan Pengajian Melulu

Pemutaran pengajian berupa ceramah dan pembacaan Al-Quran tentu baik, tapi hal ini jangan sampai dianggap sebagai cara tunggal untuk menyiarkan prinsip kepesantrenan secara lebih mengena kepada masyarakat luar, katanya saat dihubungi KARTANU melalui telepon.

Menurut Rovahan, banyak cara dilakukan untuk mengenalkan pesantren tidak dengan cara yang monoton. Di antaranya adalah membongkar kesan ketertutupan pesantren melalui pembacaan selera pendengar.

KARTANU

Kita tidak perlu antipati dengan karya seni yang lebih umum. Contoh pemutaran musik yang sedang marak di tengah masyarakat. Yang terpenting adalah sebisa mungkin para penggiat radio di dalamnya mampu mengemasnya seusai dengan prinsip-prinsip kepesantrenan, katanya.

KARTANU

Selain membuka diri dengan kegemaran masyarakat dengan tujuan membentengi mereka dengan prinsip-prinsip kepesantrenan, lanjut Rovahan, radio pesantren juga sebenarnya memiliki peluang untuk menggawangi pesan-pesan yang dibutuhkan bagi masyarakat. Misalnya, pembuatan Iklan Layanan Masyarakat (ILM) bertema kebhinekaan, anti korupsi, kenakalan remaja dan lain-lain.

Syaratnya hanya satu, prinsip kepesantrenan dan syiar Islam tersebut tidak dikemas dengan cara yang kaku. Bahkan, boleh juga diimbuhi nuansa guyon sesuai dengan adat pesantren dan masyarakat nahdliyin, pungkasnya.

Best FM meraih penghargaan membanggakan dengan mengalahkan ratusan radio lainnya. Radio tersebut juara 1 lomba pembuatan feature audio bertema Anti Korupsi yang diselenggarakan Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia (KPK RI) bekerja sama dengan Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI). Hadiah dianugerahkan di Museum Fatahilla, Kota Tua, Jakarta, Ahad (17/8).

Sebagai juara 2 diraih Taraktak FM Sumatera Barat, Wijaya FM Yogyakarta dan K-FM Magelang. Pemenang lomba mendapatkan hadiah berupa peralatan siar radio yang diserahkan langsung oleh para Pimpinan KPK diantaranya Ketua KPK Abraham Samad, Bambang Widjayanto, Adnan Pandu Praja, dan Juru Bicara KPK Johan Budi. (Sobih Adnan/Abdullah Alawi)

Dari (Pesantren) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/53897/radio-pesantren-tak-mesti-siarkan-pengajian-melulu

KARTANU

Senin, 10 Desember 2012

Kisah Betapa Hati-hatinya Para Ulama Salaf terhadap Harta

Imam Ahmad bin Hanbal suatu hari menggadaikan sebuah timba miliknya kepada seorang tukang sayur di kota Makkah. Hingga ketika sudah merasa mampu untuk membayar hutangnya, beliau pun pergi ke kota suci itu untuk menebus kembali timba yang ia gadaikan itu.

Tapi di luar dugaan Imam Ahmad, setelah keduanya bertemu, penjual sayur itu mengeluarkan dua buah timba yang sama seraya berkata kepada Imam Ahmad, "Ambil saja salah satu dari kedua timba ini, terserah mau pilih yang mana yang anda suka," kata penjual sayur.

Kisah Betapa Hati-hatinya Para Ulama Salaf terhadap Harta (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Betapa Hati-hatinya Para Ulama Salaf terhadap Harta (Sumber Gambar : Nu Online)


Kisah Betapa Hati-hatinya Para Ulama Salaf terhadap Harta

"Aku jadi bingung mana dari dua buah timba ini yang merupakan milik saya. Ambil saja timba itu dan ini uang dirham untuk membayar hutangku," jawab Imam Ahmad bin Hanbal.

KARTANU

Begitulah kehati-hatian (wirai) sikap Imam Ahmad, rela tak mengambil barang yang sebenarnya menjadi haknya karena sebab kemiripan tersebut, khawatir jangan-jangan timba yang akan dipilihnya ternyata bukan miliknya.

KARTANU

Dikisahkan pula, Malik bin Dinar selama empat puluh tahun berdomisili di kota Bashrah (Irak) tidak pernah sama sekali makan buah korma yang tumbuh dari tanah kota itu. Ia bergembira jika musim kurma telah berlalu.

"Wahai penduduk Bashrah, ini aku Malik bin Dinar, perutku tidak membesar karena mengonsumsi buah kurma yang kalian tanam dan juga tidak berubah menyusut karena tidak memakannya," katanya.

Suatu hari Ibrahim bin Adham ditanya oleh seseorang, "Kenapa Tuan tidak ikut minum air zamzam?

"Seandainya aku membawa timba sendiri, niscaya aku akan menimba dan meminumnya", jawab Ibrahim bin Adham.

Lagi-lagi Ibrahim bin Adham meski mengetahui bahwa meminum air zamzam adalah juga sesuatu yang dianjurkan oleh syariat, tapi lantaran Ia belum mengetahui secara jelas siapa pemilik timba yang akan digunakan untuk mengambil air zamzam tersebut, maka Ibrahim bin Adham lebih memilih untuk tidak meminumnya. (M. Haromain)

Disarikan dari kirab "Kifayatul Adzkiya" karya Sayyid abi Bakr Al-Makky, hal. 10

Dari (Hikmah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/75879/kisah-betapa-hati-hatinya-para-ulama-salaf-terhadap-harta

KARTANU

Jumat, 23 November 2012

Ijazah Sholawat Agar Sanad Guru Sambung ke Rasulullah

KARTANU - Sholawat mulia ini telah diijazahkan oleh Habib Quraisy Baharun untuk setiap muslimin yang mau mengamalkannya. Beliau mendapatkan ijazah langsung dari Guru Mulia Maulana Habib Umar bin Hafidz.

Silahkan dishare dan diamalkan, dan komen di bawah ini: "Qabiltu Ijazataha" (saya terima ijazahnya).

Ijazah Sholawat Agar Sanad Guru Sambung ke Rasulullah - KARTANU
Ijazah Sholawat Agar Sanad Guru Sambung ke Rasulullah - KARTANU


Ijazah Sholawat Agar Sanad Guru Sambung ke Rasulullah

اللهم صل على سيدنا محمد النبي الأمي و على آله بعدد علمك

Cara bacanya: "Allahumma Sholli ala Sayyidina Muhammadinin Nabiyyil Ummiyyi wa Ala Alihi Biadadi Ilmik"

Aturannya: Dibaca 10.000 kali selama bulan Dzulhijjah.

KARTANU

Di luar bulan Dzulhijjah di baca 100 kali. Ketika di tanah Haram, Habib Umar mengatakan tentang sholawat ini, "Barang siapa mengamalkannya maka sanad gurunya adalah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam".

Hendaknya sholawat ini bisa dijadikan wirid harian. Sholawat yang kita baca akan sampai kepada Rasulullah. dan sekaligus bagian dari kita untuk bertawassul kepada Baginda Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wa sallam. [KARTANU]

KARTANU

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/ijazah-sholawat-agar-sanad-guru-sambung-ke-rasulullah.html

Minggu, 06 November 2011

Masjid adalah Pusat Peradaban

Semarang, KARTANU. Masjid adalah pusat peradaban. Bukan semata tempat sholat berjamaah atau ibadah ritual semata. Dari masjidlah peradaban Islam dibangun dan dikembangkan.

Dalam sejarahnya, masjid pertama yang didirikan oleh Nabi Muhammad, yaitu Masjid Quba, difungsikan sebagai tempat bermusyawarah untuk membahas soal ekonomi, masalah masyarakat, strategi perang dan sebagainya. Juga masjid kedua, yaitu Masjid Nabawi di Madinah, juga berfungsi luas. Semua persoalan umat dirembug di masjid oleh Nabi dan para sahabatnya.

Masjid adalah Pusat Peradaban (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid adalah Pusat Peradaban (Sumber Gambar : Nu Online)


Masjid adalah Pusat Peradaban

Hal itu disampaikan pengasuh Ponpes Al-Fadlu wal Fadilah Kaliwungu Kendal, KH Dimyati Rois, dalam Peringatan Tahun Baru Hijriyah 1433 di Masjid Agung Jawa Tengah, Senin (6/12) malam.

Acara dihadiri ketua BP MAJT Ali Mufiz dan jajarannya, Kepala Biro Bintal Pemprov Jateng Sunarto, ketua Takmis Masjid Agung Semarang KH Hanief Ismail, anggota DPRD Jateng Gatyt Sari Chotijah, serta ratusan kaum muslimin dan tamu undangan.

KARTANU

Islam itu agama universal. Mencakup semua aspek kehidupan. Pusatnya ada di masjid. Dari masjidlah peradaban Islam dibangun dan dikembangkan, tutur Kiai Dimyati.

KARTANU

Dikatakannya, masjid besar seperti MAJT harus bisa meniru masjid buatan Rasul. Yaitu menjadi pusat dakwah, pusat pendidikan, serta pusat membangun peradaban Islam. Tidak boleh tabu membahas soal ekonomi, politik, dan lainnya.

Ia juga mengingatkan bahwa tidak ada urusan yang tidak wajib dalam Islam. Ada yang fardhu ain (semua orang wajib menguasainya), ada pula fardhu kifayah (cukup dikuasai oleh para ahli).

Mengutip Imam Al-Ghazali Mbah Dim menjelaskan, sudah lebih dari seribu tahun lalu, saat sebelum orang Eropa mengenal industri, Imam Ghazali sudah mengajarkan bahwa umat Islam harus menguasai industri dan teknologi. Dan ilmu itu diolah dan diajarkan di dalam masjid.

Semua urusan umat harus diurus oleh Islam, melalui pusatnya yaitu masjid. Industri dan teknologi sudah diajarkan Imam Ghazali lebih seribu tahun lalu, ujarnya.

Mbah Dim, panggilan akrabnya, juga menguraikan sejarah hijrah Nabi Muhammad. Dia sebutkan, sebelum Nabi mendirikan Masjid Nabawi, di tengah antara Quba dan Yatsrib (sekarang Madinah), Nabi menunaikan sholat Jumat di tanah lapang di sebuah lembah bernama Ranunah. Dari tempat itulah Bani Sulaim yang menghuni kawasan situ mendirikan masjid yang kemudian disebut Masjid Jumah.

Kepala Biro Bintal pemprov Jateng Sunarto yang membacakan sambutan gubernur menyampaikan, pengajian ini dapat memberikan pencerahan bagi jamaah tentang makna tahun baru Islam. Dia mengharapkan momentum itu membuat kondisi Jawa Tengah yang aman, tentram dan berkah.

Redaktur : Mukafi Niam

Kontributor: Muhammad Ichwan

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/35172/masjid-adalah-pusat-peradaban

KARTANU

Jumat, 07 Oktober 2011

Rasullullah Sangat Mencintai Bangsa Indonesia

KARTANU - Ketika Syeikh Muhammad Alawi al-Maliki al-Hasani dan rombongan ulama lainnya berziarah ke Makam Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau diberikan kassyaf (penglihatan) oleh Allah bisa bertemu dengan Nabi Muhammad SAW. Di belakang Nabi Muhammad SAW, terlihat banyak sekali orang-orang yang berkerumun.

Ketika ditanya oleh Syeikh Maliki, "Ya Rasulullah, siapakah orang-orang itu?", Rasulullah menjawab, "mereka adalah umatku yang aku sangat cintai." Terlihat, diantara sekumpulan orang yang banyak itu, ada sebagian kelompok yang sangat banyak jumlahnya.

Kemudian Syeikh Maliki bertanya, "Ya Rasulullah, siapakah mereka yang berkelompok sangat banyak itu?". Rasul menjawab, "mereka adalah Bangsa Indonesia yang sangat banyak mencintaiku dan aku cintai mereka."

Rasullullah Sangat Mencintai Bangsa Indonesia - KARTANU
Rasullullah Sangat Mencintai Bangsa Indonesia - KARTANU


Rasullullah Sangat Mencintai Bangsa Indonesia

Baca juga: Rasulullah Mengatakan, Tolong Islam Aswaja ini Baca Hijrah ke Indonesia

Syeikh Maliki menangis dan terkejut, lalu keluar dan bertanya kepada Jamaah, "mana orang Indonesia? Aku sangat cinta kepada Indonesia." Shollu 'alan Nabiy Muhammad! Banggalah jadi umat Rasul dari Indonesia. Jangan peduli mereka yang menyebutnya bid'ah atas maulid. [KARTANU]

KARTANU

KARTANU

Keterangan: dikutip dari ceramah Prof. KH Syekh Muhyidin Abdul Qadir al-Manafy

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/rasullullah-sangat-mencintai-bangsa-indonesia.html

Rabu, 03 Agustus 2011

Idul Adha Berdarah di Istana Negara 1962

KARTANU - KH Zainul Arifin waktu itu belum genap dua tahun menjabat Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong yang dibentuk Presiden Soekarno. KH Idham Chalid sudah 5 tahun memimpin Nahdlatul Ulama. Sementara KH Saifuddin Zuhri baru 12 hari dilantik menjadi Menteri Agama RI.

Pada tahun 1962, tepatnya hari Rabu 14 Mei pagi, Kiai Zainul Arifin yang juga Panglima Hizbullah pada masa Revolusi Fisik itu pergi ke masjid Baiturrahim di Istana Negara, Jakarta, untuk mendirikan Shalat Idul Adha bersama Presiden Soekarno.

Pada Shalat Idul Adha waktu itu, Ketua PBNU KH Idham Chalid bertindak sebagai imam, sementara khotibnya Wakil Menteri Pertama Bidang Pertahanan dan Keamanan/KSAD Abdul Harris Nasution.

Idul Adha Berdarah di Istana Negara 1962 - KARTANU
Idul Adha Berdarah di Istana Negara 1962 - KARTANU


Idul Adha Berdarah di Istana Negara 1962

Ketika mendirikan Shalat Id yang dimulai sekitar pukul 7.50 WIB tersebut, Soekarno berada di barisan terdepan jamaah. Di sebelah kirinya ada Abdul Harris Nasution. Di Samping Nasution ada KH Zainul Arifin. Di Samping Kiai Zainul ada KH Saifuddin Zuhri. Shalat Id berlangsung aman hingga memasuki rakaat kedua.

KARTANU

Cucu KH Zainul Arifin, Ario Helmy, dalam catatannya menggambarkan seperti berikut: Keheningan khusuk berlangsung khidmat melingkupi umat memuji Sang Maha Agung dalam ruku’ mereka pada rakaat kedua Idul Adha tersebut.

KARTANU

"Sami'allahu liman hamidah," ucap imam KH Idham Chalid. Belum sempat jamaah menyahuti seruan imam dengan "rabbana wa lakal hamdu," dari barisan ketiga jamaah bagian kiri, tiba-tiba pecah teriakan lantang seorang jamaah, "Allahu Akbar...!", seraya tangannya mengacungkan pistol yang diambil dari betis kanannya.

Ia adalah seorang penembak tepat, mestinya sasaran tembaknya tidak bakal luput dari muntahan pelurunya, namun anggota pengawal presiden berhasil menepiskan tangan pembokong itu dengan sigap hingga senjata api sang penembak gelap melenceng ke sisi kiri target yang ditujunya, Soekarno! "Dor...!" peluru menyalak nyaring.

Orang-orang, termasuk imam bertiarap. Lalu suasana berubah kacau balau.

KH Zainul Arifin dalam upayanya merebahkan diri di atas sajadah, malah jatuh tersungkur. Bahu kirinya terasa basah. Ketika dia mencoba meraba bagian tubuhnya yang terasa hangat, didapatinya buhul dasinya sampai terputus. Darah segar merembesi kemeja putih hingga ke jas luarnya. Sedikit lagi peluru bisa mengenai jantungnya.

"Saya kena...," desah tokoh NU tersebut pasrah, di antara kekacauan di sekelilingnya.

"La haula wa la quwwata illa billahil aliyyil adzim," begitu ucap kiai bermarga Pohan asal Barus tersebut. Matanya mulai berkunang-kunang. Ia terus berdzikir, bertasbih. Menyeru-nyeru tuhannya Yang Maha Kuat...

Empat jamaah lainnya juga turut terluka, KH Idham Chalid, Pengawal Presiden Ipda Darjat, Pengawal Presiden Brigadir Susilo dan pegawai istana Momahad Noer.

Belakangan, diketahui pelakunya adalah orang yang berafiliasi dengan kelompok DI/TII. Target utamanya adalah Soekarno.

Sejak itu, KH Zainul Arifin, berkali-kali keluar masuk rumah sakit. Sepuluh bulan kemudian, tepatnya 2 Maret 1963, akhirnya meninggal dunia setelah mengalami koma selama beberapa hari sebelumnya karena berbagai komplikasi. Keesokan harinya ia dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata di Jakarta. [dutaislam/abdullah alawi/ab]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/idul-adha-berdarah-di-istana-negara-1962.html

Minggu, 26 Desember 2010

Gus Mus: Pemimpin Mesti Mencintai dan Dicintai Rakyat

Rembang, KARTANU. Wakil Rais Aam PBNU KH Musthofa Bisri membeberkan keriteria pemimpin yang sangat dibutuhkan bangsa Indonesia saat ini. Menurut pengasuh Pesantren Raudlotul Tholibien ini, pemimpin yang dibutuhkan adalah mereka yang bisa dicintai dan mengayomi rakyatnmya.

Kiai yang akrab dipanggil Gus Mus itu menjelaskan, pemimpin harus mencintai dan dicintai masyarakatnya. Ia tidak menyebut kandidat atau calon pemimpin tertentu. Yang jelas pemimpin itu harus amanah, dapat dipercaya dan kuat.

Gus Mus: Pemimpin Mesti Mencintai dan Dicintai Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Pemimpin Mesti Mencintai dan Dicintai Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)


Gus Mus: Pemimpin Mesti Mencintai dan Dicintai Rakyat

Hal tersebut dikatakan kepada sejumlah awak media di sela sela menerima kedatangan Anies Baswedan di kediamanya di Jalan Bisri Musthofa Leteh, Rembang, Jawa Tengah, Selasa (24/12).

KARTANU

Gus Mus menambahkan, pemimpin yang cinta terhadap rakyat pastilah mau melakukan apa saja untuk yang mereka cintai (rakyatnya). Dan kecintaan rakyat terhadap pemimpinya merupakan dukungan yang mampu membuat seorang pemimpin kuat dalam menghadapi segala hal.

Terlepas dari keriteria seorang pemimpin yang seperti itu, Gus Mus menyebut Anies Baswedan mewakili generasi muda. Dirinya mengaku mendukung peremajaan pemimpin di Indonesia. Gus Mus sangat setuju jika ada orang muda yang maju untuk sesuatu yang baik. Para pemuda dinilai bisa memberi angin segar bagi dalam roda pemerintahan, pasalnya energi yang dimiliki masih belum tercemar.

Tetapi, menurut ulama yang juga sastrawan itu, ada yang sedikit payah belakangan ini. Mereka yang sudah duduk di pemerintahan seringkali ingin bertahan lama menduduki kursi jabatannya meski usia dan tenaga sudah renta.

KARTANU

Gus Mus juga menyebut warga negara Indonesia termasuk warga yang paling baik. Mayoritas dari mereka masih mau membayar pajak, menaati peraturan, dan datang mencoblos dalam setiap musim pemilu. Seorang pemimpin menjadi wajib, dengan membalas kebaikan rakyatnya dengan sebaik baiknya.

Dalam kesepatan itu, Gus Mus juga mengajak kepada seluruh elemen bangsa agar menanamkan pola hidup sederhana. Sebab, jelasnya, kecintaan terhadap materi secara berlebihan bisa membuat seseorang nekat melakukan kejahatan, termasuk perampokan uang rakyatnya. (Ahmad Asmui/Mahbib)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/48989/gus-mus-pemimpin-mesti-mencintai-dan-dicintai-rakyat

KARTANU

Selasa, 27 Mei 2008

Pilkada Datang, Muncul Politisi Bermodal Banner Mimpikan Kekuasaan

Pringsewu, KARTANUFenomena munculnya beberapa orang yang tidak dikenal masyarakat dan secara tiba-memasang banner atau spanduk untuk berkompetisi dalam Pilkada mendapat perhatian dari kiai asal Pringsewu, Lampung, yang juga Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin.

Fenomena ini juga terlihat di Kabupaten Pringsewu, Lampung yang pada 2017 akan menggelar pesta demokrasi Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati untuk 5 tahun ke depan. Berdasarkan pengamatan di jalan raya di Kabupaten Pringsewu, sudah banyak para "kontestan" yang memasang banner bergambar wajah mereka.

Pilkada Datang, Muncul Politisi Bermodal Banner Mimpikan Kekuasaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pilkada Datang, Muncul Politisi Bermodal Banner Mimpikan Kekuasaan (Sumber Gambar : Nu Online)


Pilkada Datang, Muncul Politisi Bermodal Banner Mimpikan Kekuasaan

Menurut Gus Ishom, sapaan akrabnya, setiap orang sebenarnya memerlukan kekuasaan, oleh karena itu kekuasaan selalu dicarinya, bahkan diperebutkan. Kompetisi dalam rangka perebutan kekuasaan di negeri ini terlihat jelas dari sebaran banner kampanye dari setiap bakal calon kepala daerah jauh-jauh hari sebelum pesta demokrasi itu sendiri dilangsungkan.

KARTANU

"Banyaknya orang yang menginginkan atau berebut jabatan itu tentulah karena kedahagaannya akan kekuasaan. Hanya dengan kekuasaan seseorang dapat melakukan perubahan dan bahkan mewujudkan cita-cita mulianya atau obsesi tersembunyinya," jelasnya, Rabu (30/3).

Dilihat dari sisi positif, katanya, semakin banyak mereka yang berkompetisi dalam perebutan kekuasaan, dapat berarti bahwa kita tidak akan pernah kehabisan kader-kader yang "mampu" memimpin dan membawa rakyat ke arah perubahan yang lebih baik.

KARTANU

Namun, tambahnya, dilihat dari sisi lainnya bisa berarti semakin banyak orang yang "sakit jiwa" karena terobsesi dan tertipu oleh perasaannya sendiri yang terjangkiti penyakit panjang angan-angan, yakni berkompetisi tanpa perhitungan yang matang alias bermodal banner dan nekad saja.

"Kekuasaan yang banyak diperebutkan itu merupakan sesuatu yang abstrak, tidak kasat mata, karena itu hanya dampaknya saja yang bisa dirasakan, misalnya berpengaruh positif atau tidak, apakah menyejahterakan atau tidak," terangnya.

Oleh karena itu, sarannya, setiap kompetisi perebutan kekuasaan itu idealnya hanya diikuti oleh orang-orang yang telah benar benar melakukan persiapan, punya kapasitas, kapabilitas dan sudah terbukti berpengaruh terhadap orang lain dalam hal yang tujuannya diinginkan atau tidak.

Selain itu, jelas wawasan dan etika politik sangatlah diperlukan. Bahkan bukan hanya itu saja, kompetisi tersebut sangat mungkin menguras modal finansial yang tidak sedikit dan modal sosial berupa jaringan yang kokoh demi merawat, meraih dan menjaga keutuhan suara dari para pendukungnya.

"Terjun ke dunia politik untuk tujuan meraih kekuasaan tanpa persiapan yang memadai alias bermodal nekat dengan hanya bermodal banner misalnya, hanyalah dilakukan oleh politisi gadungan, bukan politisi sungguhan. Perlu tekad yang kuat, perencanaan yang matang dan kalkulasi dukungan rill, bukannya klaim potensi dukungan, jika ingin menang dalam setiap kompetisi dan pertarungan meraih kekuasaan," ingatnya.

Menurutnya, meraih suara terbanyak adalah pekerjaan berat yang mustahil dikerjakan sendiri, tetapi untuk itu perlu jaringan berbasis massa yang solid dan kuat, memanfaatkan jaringan media massa dan meningkatkan intensitas komunikasi yang efektif dengan setiap orang yang nyata-nyata berpengaruh untuk konsolidasi dan menggalang dukungan.

"Terjun berkompetisi ke dunia politik tanpa persiapan untuk meraih kekuasaan hanyalah menimbulkan kegaduhan dan berujung pada penyesalan. Bukankah jika tidak kuat melawan, sebaiknya bergabung saja?," ajaknya kepada para politikus untuk instropeksi diri. (Muhammad Faizin/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/66936/pilkada-datang-muncul-politisi-bermodal-banner-mimpikan-kekuasaan

KARTANU

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KARTANU sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KARTANU. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KARTANU dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock