Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Mei 2016

Awas Penipuan Donasi ke Suriah

KARTANU - Sudah sejak lama saya memperhatikan lembaga-lembaga donasi yang mengatas-namakan Suriah. Tanpa disadari oleh para donatur yang ikhlas, beberapa lembaga amal menjual Suriah untuk mengumpulkan dana dari masyarakat Indonesia, mengatas-namakan Islam dan negara, tetapi sumbangan disalurkan ke pihak yang salah.

Awas Penipuan Donasi ke Suriah - KARTANU
Awas Penipuan Donasi ke Suriah - KARTANU


Awas Penipuan Donasi ke Suriah

Ciri-ciri mereka adalah menjual kepedihan rakyat Suriah. Foto-foto anak kecil yang kelaparan, korban-korban tewas dan sebagainya adalah jualan mereka. Memang banyak orang kelaparan dan korban tewas di Suriah, tapi masalahnya itu korban siapa?

Menyumbang ke Suriah harus paham dulu perang Suriah

Perang Suriah dimulai ketika ada pemberontakan yang diprakarsai Al-Qaeda dengan banyak nama. Dan yang terkenal adalah FSA atau Free Syrian Army. FSA ini bertujuan mengganti pemerintahan Suriah yang dikuasai pemerintahan yang sah yaitu Bashar Assad.

Bashar Assad ingin di Khaddafi-kan seiring bergolaknya Arab Spring di Timur Tengah. Para pemberontak bahkan membuat bendera sendiri dan susunan pemerintahan sendiri, lalu mereka keliling dunia mencari donasi untuk kegiatan mereka, bukan untuk membantu warga Suriah yang menjadi korban perang. (Apakah Bashar Asad Syiah? Baca Beritanya)

Caranya adalah dengan menjual kepedihan rakyat Suriah yang menjadi korban. Dibuatlah cerita seolah-olah Bashar Assad lah yang tokoh keji, padahal yang keji adalah mereka.

Kedok para pemberontak terbongkar luas ketika Aleppo dibebaskan dari mereka. Rakyat Suriah menyambut gembira pembebasan Aleppo oleh tentara resmi Suriah. Jadi disini bisa dilihat, rakyat berpihak pada siapa? Pada para pemberontak atau tentara Suriah?

Sudah sejak lama donasi dari Indonesia mengalir ke tangan pemberontak Suriah, melalui badan amal di Indonesia yang bekerjasama dengan badan amal luar negeri yang mendukung pemberontak.

Tanpa disadari banyak orang di Indonesia, donasi yang mereka salurkan untuk kemanusiaan ternyata malah disalurkan untuk mendukung supply makanan pemberontak. Bukti ini terlihat ketika Aleppo bebas dan rakyat Suriah menyerbu gudang makanan pemberontak yang penuh dengan bantuan dari Indonesia..

Inilah yang menjadi masalah, seolah-olah rakyat Indonesia mendukung pemberontakan dan kekejian di Suriah. Tidak banyak yang tahu situasi ini karena memang sengaja ditutupi rapat-rapat.

Bahkan, menurut sebuah sumber, donasi itu juga dikumpulkan dengan di mall-mall, di jalan-jalan dengan nama yayasan yatim piatu. Hasilnya disalurkan ke penadah dan disalurkan ke Suriah untuk mendukung pemberontak. Pantas saja para pemberontak itu bertahan sekian lama dengan bantuan senjata dari negara barat dan supply makanan dari donatur yang memang perduli pada kemanusiaan.

Ini memang kerja berat untuk institusi Polri mengejar dan membuka topeng mereka. Harus ada audit independen kemana dana itu disalurkan. Karena mendukung pemberontak adalah hal yang salah.

Situasi ini bisa saja terjadi di negara kita, ketika dana-dana disalurkan dengan nama kemanusiaan dari seluruh dunia, tetapi digunakan sepenuhnya untuk mengkudeta pemerintahan Jokowi. Arus balik ini tercipta ketika ada simbiosis mutualisma antara pemberontak dan penyalur donasi.

Perhatikan saja, mana mungkin teroris Suriah kenal dengan Ahok sehingga mereka harus membuat pamflet di Suriah dengan tulisan "Tangkap Ahok". Jelas ada hubungan terkait antara teroris Suriah dengan penyalur donasi disini..

Segera sertifikasi dengan benar lembaga-lembaga donasi itu dibawah pemerintah Indonesia, karena dari merekalah keuangan teroris dan radikalis beredar.

Jika pemerintah dan Polri tidak bertindak mulai sekarang, niscaya satu waktu kita akan minum kopi pahit seperti Suriah. Percayalah. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/tipu-tipu-donasi-ke-suriah.html

Kamis, 22 Mei 2014

Bocor, Percakapan Grup Garis Lurus Penuh Bahasa Binatang

KARTANU – Situs nu garis lurus itu penuh konten beracun. Mengganggap sebelah mata dan menyebutnya guyon atau semacam mencari perhatian lebih kepada khalayak agar dianggap sebagai kelompok alumni pondok pesantren –sebagaimana selama ini diucapkan oleh pendukungnya, paling lurus menegakkan ahlussunnah, itu salah besar.

Bocor, Percakapan Grup Garis Lurus Penuh Bahasa Binatang - KARTANU
Bocor, Percakapan Grup Garis Lurus Penuh Bahasa Binatang - KARTANU


Bocor, Percakapan Grup Garis Lurus Penuh Bahasa Binatang

Di Pontianak, ketika KH Ma’ruf Khozin melaksanakan safari dakwah, hadirin dalam acara sering ada yang mengangkat tangan menanyakan apa dan siapa itu nu garus lurus (selanjutnya kami sebut GGL: Gerombolan Garis Lurus, agar tidak mencatut nama NU). Demikian keterangan yang didapatkan Duta Islam.

Apa artinya? Nama GGL sudah masuk dalam alam pikiran banyak orang dan menjadi semacam noktah hitam bagi NU secara jamiyyah dan struktural. Hadirnya GGL di dunia maya yang enteng menyebarkan propaganda untuk menjauhkan warga nahdliyyin dari ulama dan habaib NU tanpa membuka identitas mereka kepada publik, jelas merupakan cara-cara culas yang biasa dilakukan oleh kalangan teroris ISIS.

Perlu diketahui, cara ISIS menyebarkan propagandanya bukan melalui masjid, lembaga pendidikan atau titik-titik startegis yang biasa dikunjungi banyak orang. Website dan media sosial dijadikan alat propaganda paling efektif karena mampu menyebar tanpa batas dan berbiaya murah. Selain tentu karena ISIS tidak punya basis massa yang diakui oleh negara. Modal sosial mereka memang media sosial. 

Langkah yang ditempuh ISIS inilah yang dikloning oleh GGL. Kalau mengaku pejuang aswaja yang paling lurus sedunia, mereka tak perlu malu-malu kucing menampakkan diri. Justru transparansi identitas itulah yang tidak akan membuat banyak orang bertanya, sebagaimana terjadi di beberapa daerah laiknya di Pontianak tadi.

Berawal dari Grup Caci Maki Serapat apapun bangkai ditutup, akan tercium juga. GGL pun gerah setelah ada salah seorang bernama Moch Zainul Abidin As-Syuja'i membongkar data admin pasca digelar sebuah acara di Cirebon, yang mengatasnamakan aktivis Aswaja. Dalam acar itu, para aktivis mulai terang-terangan berani membeberkan nama-nama yang selama ini dikenal Zain, panggilan Zainul Abidin As-Sujai’i, sebagai admin grup Brigade Aswaja, yakni grup WhatsApp para pengelola dan muqollidin situs nu garis lurus.

Kepada KARTANU, Zain tidak mengenal sama sekali orang-orang di grup tersebut. Dia mengaku nomornya diseret masuk tanpa konfirmasi kepadanya. Sudah sejak lama Zain nongkrong di grup yang menurutnya penuh dengan caci-maki kepada kyai dan ulama di Nahdlatul Ulama.

Bahkan, pasca publikasi identitas admin, Zain Suja’i dibully dalam grup. . KARTANU mendapatkan screen shoot caci maki anggota GGL ini. Oleh Syaraf, salah satu anggota grup, Zain disebut ngegustad, pura-pura jadi gus dan ustadz.

“Ilmunya mentok ke nasi goreng. Malam jadi germo di WhastApp saling kirim-kiriman gambar telanjang nggak pantes. Siang ceramah di WhatsApp sok suci dan sok ngustadz. Tulisannya belepotan jauh dari ranah ilmu. Jamane wong munafik bertopeng di dunia maya. Di dunia nyata, gorengan nggak laku-laku,” tulis Syaraf. (Kami simpan foto si Syaraf ini).

Soal Zain adalah tukang nasi goreng memang diakui. Ia berjualan di Jakarta Barat. Tapi kalau menuduh ilmunya Zain hanya sampai nasi goreng dan munafik serta menyerapahi gorengan tidak laku-laku apalagi menyebut germo, baginya itu sudah keterlaluan, tidak nyambung dan lepas dari etika santri.

Dalam percakapan grup khusus mencaci Zain itu, admin lain ada yang menyebut “asu”, “babi”, “monyet”, “najis”, dan lainnya. Adam, admin grup, pendiri Grup Brigade Aswaja, menanyakan di grup: “Sebenarnya dia itu siapa sih? Asu atau monyet? Saya bingung sendiri,” tulis Adam.

Dengan enteng, pertanyaan itu dijawab oleh Naquib, anggota lain di grup: “Babi mas.” Naquib ini yang menulis: “Waduh…dia sibuk cari tulang ke SAS (Said Aqil Siraj, red) nggak sempet ganti nama. Ya…namanya juga asuuuu….”.

Anggota itu gayeng dan terkesan senang membully Zain di grup karena di sana nama Zain diganti Asu Pa’i. “Makanya, rupa, nama dan hatinya sama (anjing, asu, red). Ngalah-ngalahi assu,” tulis Naguib, yang langsung ditanggapi oleh Faiz, anggota GGL lain yang ikutan mencaci: “Masih ada waktu untuk tobat. Daripada jadi assu,” tulisnya.

Menanggapi percakapan penuh caci maki itu, seorang aktivis Aswaja NU, Arief, mengaku miris. “Wah, ini lebih mirip grup kumpulnya para begundal daripada grup santri. Nggak pantes blas kelompok ini namanya disandarkan dengan nama besar NU. Su'ul adab semua,” tulisnya, dikutip KARTANU (17/04).

Kelimpungan, anggota grup tersebut kembali melancarkan fitnah dengan meme. Status David Fuadi, seorang yang dulu pernah menghidupkan situs sarkub.com, dijadikan bahan mementahkan Zain as-Suja’i. Menurut orang yang di kalangan GGL dipanggil KH David Fuadi itu, Zain adalah orang yang tidak punya ilmu agama.

Ustadz Hasbullah, dalam meme yang beredar itu juga menulis kalau tulisan-tulisan Sujai’i itu bukan dari tulisannya sendiri. “Bisa jadi syujai hanya atas nama saja. Sebab saya segrup dengan Syujai. Kerjaanya hanya kirim gambar porno,” tuduh ustadz.

Tuduhan-tuduhan semacam ini, menurut Zain, mudah keluar di grup yang ia sebut kenthir (kemayu) itu. “Ada Group kenthir khusus para Admin Group WA Aswaja. Di sana memang kalau kenthir suka selingan kirim Gambar Porno. Nah dari sanalah Fitnah ini beredar,” jelas Zain.

Jika Anda berakal sehat, etika macam apakah yang layak disematkan kepada kelompok GGL itu? Bahasa apakah yang mudah keluar dari “santri” GGL itu? Bahasa pondok pesantren mana yang menghalalkan saudaranya sendiri disebut anjing, babi, monyet, najis, germo dan munafik? Ajaran Qanun Asasi NU sebelah mana yang memerintahkan umat Islam mencaci maki dengan sebutan binatang untuk saudaranya muslim?

Kepada KARTANU, Zain memang jualan nasi goreng. Tapi ia juga santri di sebuah majelis ta’lim yang banyak orang tahu. Ia menunjukkan bukti bahwa dia rutin di majelis ta’lim. Namun tidak berkenan ditulis.

Yang pasti, kelompok GGL memasukkan nomornya ke grup karena nomor yang ia pegang ada dimana-mana. Dikenal sebagai penggerak aswaja. Duta Islam menyimpan buktinya. Zain As-Suja’i itu orang biasa yang dicaci-maki oleh kelompok yang mengaku santri di ujung sana. Duh Gusti... [KARTANU/luqman segaf]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/04/bocor-percakapan-grup-garis-lurus-penuh-bahasa-binatang.html

Jumat, 12 April 2013

Ketum PBNU Dianggap Tidak Tegas oleh ICMI dalam Kasus Ahok-Kiai Maruf, Ente Umat Kompor?

KARTANU - Muhammad Nasih, doktor pengajar Ilmu Politik di Universitas Indonesia Jakarta menyebut kalau jamaah NU di semua tingkatan marah atas sikap Ahok yang menyerang Ketua Umum MUI KH Ma'ruf Amin di persidangan.

Karena itulah, Nasih yang bicara atas nama anggota Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) itu, menyayangkan sikap Ketum PBNU KH Said Aqil Siraj yang dianggapnya diam, bungkam.

Ketum PBNU Dianggap Tidak Tegas oleh ICMI dalam Kasus Ahok-Kiai Maruf, Ente Umat Kompor? - KARTANU
Ketum PBNU Dianggap Tidak Tegas oleh ICMI dalam Kasus Ahok-Kiai Maruf, Ente Umat Kompor? - KARTANU


Ketum PBNU Dianggap Tidak Tegas oleh ICMI dalam Kasus Ahok-Kiai Maruf, Ente Umat Kompor?

"Yang dilakukan Ahok itu jelas-jelas melakukan penistaan. Mestinya, Ketua Umum PBNU mengambil sikap yang tegas terhadap Ahok," tuduh Nasih, sebagaimana dimuat situs kanigoro.com, dengan judul "Tokoh ICMI Ini Sayangkan Sikap Ketum PBNU yang Bungkam Sikapi Ahok vs Ma’ruf Amin", Kamis (02/02/2017).

"PBNU sudah bersikap kok," bantah Agus, pengurus LTN PBNU, atas kompor komentar tokoh ICMI muda pendiri Monas Institute Semarang itu, Kamis (02/02/2017) petang. Cara yang dilakukan Ketum PBNU untuk mengatasi masalah kecil soal Ahok, katanya, tidak pakai pengerahan massa seperti FPI tentunya.

KARTANU

Cara seorang tokoh yang paham politik semacam Kiai Said adalah menginisiasi silaturrahim antara Menko Kemaritiman Luhut B Pandjaitan, Kapolda Metro Jaya Irjen M Iriawan, dan Pangdam Jaya Mayjen TNI Teddy Lhaksmana dengan Ma'ruf Amin.

KARTANU

"Kita menyayangkan, kita sangat menyayangkan kiai sepuh, simbol NU simbol ulama Indonesia, kedatangan jadi saksi harus kita hargai," kata Kiai Said, sebagaimana dimuat Detikcom, Kamis (02/02/2017).

Sekjend PBNU Helmy Faishal juga melakukan langkah yang sama. Dalam kasus ini, banyak pihak menyayangkan sikap-sikap kompor yang sengaja disulut untuk memancing amarah nahdliyyin. Berita pertemuan antar tokoh yang diinisiasi Kiai Said pun digoreng situs kompor abadkini.com dengan judul, "Apa Pangkat Ahok Sehingga Tiga Jenderal Mewakilinya Minta Maaf ke KH Ma’ruf?".

Umat kompor sebelah, kata Abdullah Hamid, Netizen NU di Surabaya, selalu membuat gaduh tiap langkah PBNU yang dianggap kurang tegas seperti tuduhan tokoh muda ICMI itu. "Gus Dur pernah bilang, wala ta'awanu alal ICMI wal udwan/ jangan saling tolong menolong atas perbuatan (dosa) ICMI dan permusuhan," katanya kepada KARTANU, Kamis (02/02/2017) petang. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/ketum-pbnu-dianggap-tidak-tegas-oleh-icmi-dalam-kasus-ahok-kiai-maruf.html

Selasa, 20 Desember 2011

Ramalan Gus Dur Tentang Fitnah Kepada NU di Zaman Kiai Said Agil Ketum

KARTANU - Kepada KH. Sa'id Agil Siradj (Ketua Umum PBNU sekarang), dulu KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah berkata, "Pak Said, sampeyan besok akan menjadi Ketua Umum PBNU. Tapi pada saat kepemimpinan sampeyan, NU akan mengalami badai fitnah yang besar, bahkan dahsyat."

Gus Dur terdiam sambil memandang ke Pak Said yang juga terdiam mendengar wejangan Gus Dur tersebut yang sebelumnya tidak disangka sama sekali. "Tapi sampeyan tidak usah khawatir karena fitnah itu cuman sebentar dan NU akan menemukan lagi kejayaannya," sambung Gus Dur yang disambut tawa keduanya.

Sekarang ini bisa kita lihat kebenaran dari ucapan-ucapan Gus Dur. Nyatanya, Pak Said jadi Ketua Umum PBNU dan juga terkena fitnah yang terus-menerus dilancarkan ke NU. Mulai dari tuduhan syirik, liberal, kafir, bid'ah, syiah, sampai sebutan setan.

Ramalan Gus Dur Tentang Fitnah Kepada NU di Zaman Kiai Said Agil Ketum - KARTANU
Ramalan Gus Dur Tentang Fitnah Kepada NU di Zaman Kiai Said Agil Ketum - KARTANU


Ramalan Gus Dur Tentang Fitnah Kepada NU di Zaman Kiai Said Agil Ketum

Ada yang diutarakan secara nyata dan kasar, ada juga yang melalui kiasan-kiasan. Yang dahsyat adalah fitnah dan tuduhan keji dari dalam dalam tubuh NU sendiri, yakni orang-orang yang mengaku NU tapi sejatinya mereka merusak NU. Naudzubillah.

KARTANU

Pada zaman Kiai Said inilah, NU hidup dalam zaman yang disebut Nabi Muhammad sebagai katsural qalam (banyak pena) sehingga banyak juga kalam (ucapan) yang mudah ditulis dan disebar tanpa tanggungjawab. Kiai dihina, orang tua kanjeng Nabi disebut masuk neraka, amalan ulama sholihin disebut syirik, orang NU kembali disebut ahli bid'ah dan quburiyyun.

Fitnah zaman netizen mirip zaman NU di tahun awal-awal berdiri. Banyak musuh sana-sini. Terutama mereka yang suka mengafirkan yang menghardik umat islam ahlus sunnnah wal jamaah, bukan ahlus sunnah saja. Utamanya lagi, mereka yang ingin merongrong kedaulatan NKRI.

KARTANU

Tapi yakinlah bahwa fitnah yang menimpa NU hanya sesaat. Dan akan menemukan kembali sejarah terangnya, sebagaimana dikatakan Gus Dur. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/prediksi-gus-dur-tentang-fitnah-kepada-nu-di-zaman-kiai-said-jadi-ketum.html

Kamis, 25 Agustus 2011

Dilinggis Hingga Roboh di Tengah Ceramah, Ini yang Dikatakan KH Ali Makshum Krapyak

KARTANU - Pada Malam Jumat Kliwon, 08 Desember 1989, seiring matahari tenggelam di ufuk barat, KH. Ali Maksum menghadap kepada Sang Kholiq, innalillahi wainna ilahi roojiun.

Beliau adalah Putra Mbah KH Makshum Lasem yang pernah menjabat Rais Aam PBNU satu periode (1980-1984).

KH Ali Makshum adalah kepemimpinan Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, peninggalan pendirinya, almaghfurlahu waliyullah Simbah KH. Munawwir Krapyak, guru KH Arwani Amin Kudus. Banyak teladan kisah yang bisa dijadikan ibrah (cermin sejarah) untuk kita, terutama di tengah makin mudahnya umat Islam tersulut amarah dan kebencian.

Dilinggis Hingga Roboh di Tengah Ceramah, Ini yang Dikatakan KH Ali Makshum Krapyak - KARTANU
Dilinggis Hingga Roboh di Tengah Ceramah, Ini yang Dikatakan KH Ali Makshum Krapyak - KARTANU


Dilinggis Hingga Roboh di Tengah Ceramah, Ini yang Dikatakan KH Ali Makshum Krapyak

Selain alim dan keramat, Kiai Ali Makshum dikenal sangat dermawan. Beliau mengikhlaskan semua barang-barangnya yang pernah diambil oleh para santri. Suatu kali, Kiai Ali Makshum dawuh begini, "Semua barangku yang diambil oleh santri, saya halalkan. Asalkan tidak ketahuan". Dawuh ini diriwayatkan dari Sakhowatin Nafsi, santriwati.

KH Ali Maksum ini lebih suka dipanggil Pak Ali daripada Mbah Yai, sebagaimana lazimnya di tradisi penghormatan santri kepada pengasuh pesantren. Beliau tidak berjumawa sebagai kiai besar yang punya posisi paling terhormat di Nahdlatul Ulama (NU), sebagai Rais Aam. Dan semua santri memang memanggilnya "Pak Ali" karena beliau lebih suka dianggap sebagai orang tua oleh santrinya. Sangat rendah hati sekali.

KARTANU

Kata santri-santri, beliau ini disebut kiai yang "m-bapak-i" (berperan laiknya bapak) dan tidak "ngiyaini" (menganggap dirinya kiai). Singkatnya, beliau adalah sosok kiai yang bersedia mendengar dan selalu melakukan tabayun ketika ada persoalan umat, Jarang sekali beliau menghakimi orang dari jarak jauh, Selalu melakukan tabayyun (klarifikasi) atas kabar yang diterima. Bijak dan tidak gegabah.

KARTANU

Dilinggis

Ketika KH Ali Makshum ceramah dalam sebuah acara haul, tiba-tiba muncul orang yang membawa sesuatu dibungkus kain surban berwarna putih. Ia naik ke panggung. Secara cepat pula, orang tersebut langsung memukulkan benda itu ke Kiai Ali membabi buta, ba bi bu!

Kiai Ali pun roboh karena benda tersebut sangat tajam dan berat, linggis. Sempat rawat inap di rumah sakit hingga dua bulan lamanya. Sungguh perbuatan yang tidak bisa dimaafkan. Beliau rubuh karena bukan pendekar sakti yang mudah pemer kekebalan.

Para santri pun marah tak karuan. Menurut mereka, laki-laki itu sudah layak dipenjara karena perbuatannya sangat sadis dan keterlaluan. Namun kiai meredam amarah para santrinya itu, "kabeh anak-anak ku lan santriku ora keno dendam lan ora keno anyel/ semua anakku dan para santriku, tidak boleh dendam dan benci," begitu pesan luhurnya.

Kekuatan sabar, meredam amarah dan tidak mendendam itulah yang nampaknya justru terlihat lebih sakti daripada kanuragan dan kekebalan. Beliau memaafkan pelaku pemukulan dengan linggis tersebut, tanpa balasan, tanpa dendam. Subhanallah bukan main sabarnya kiai kita ini. [KARTANU/ab]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/dilinggis-hingga-roboh-di-tengah-ceramah-ini-yang-dikatakan-kh-ali-makshum-krapyak.html

Senin, 18 Juli 2011

Dari Pesantren, Revolusi Sepakbola Dimulai

KARTANU - Dari Pesantren untuk Timnas Indonesia yang lebih baik, ya kalimat itu mungkin terlalu mengada-ada tapi ini menjadi mungkin ketika kita benar-benar meyakinininya seperti halnya sebuah doa. Ketika yakin dengan doa yang kita panjatkan, maka Allah akan mengabulkan doa kita.

Liga Santri di Jateng sudah mulai menggeliat. Ratusan pesantren ikut ambil bagian dalam ajang Liga Santri Nusantara 2016. Selama dua bulan bergelut mengurusi liga santri ini, ada harapan besar dipundak para Santri mendatang akan mengambil bagian kostum Timnas Garuda Muda. Begitu bangganya kita melihat mereka bisa berlaga di ajang sepakbola nasional dan international.

Dari Pesantren, Revolusi Sepakbola Dimulai - KARTANU
Dari Pesantren, Revolusi Sepakbola Dimulai - KARTANU


Dari Pesantren, Revolusi Sepakbola Dimulai

Mimpi itu semakin di depan mata ketika melihat semangat para santri berlatih sepakbola, meski tanpa sepatu dan kaos kaki. Mereka memiliki impian untuk menjadi pemain profesional seperti Bambang Pamungkas misalnya. Kegembiraan santri menendang bola terpancar sebuah harapan dari kaki merekalah nantie kejayaan sepakbola Indonesia itu berkibar.

Sepekan setelah lebaran kemarin ketika para santri kembali ke pesantren, langsung merumput. Bukan ngarit cari rumput, tapi ini benar-benar merumput, main sepakbola tanpa sepatu tanpa kostum. Ya begitu memang alamiyah tak takut ada paku atau pecahan kaca di lapangan, langsung tancap gas menendang bola.

KARTANU

Tanpa sepatu, ada saja keajaiban yang datang. Mereka akhirnya bisa bersepatu, berkaos kaki dan pakai kaos tim. Itulah keadilan Tuhan yang sesungguhnya ada kemurahan bagi mereka yang bersabar.

Misalnya saja API Tegalrejo FC, awalnya nyeker (tanpa sepatu), akhirnya mereka jadi keren pakai kostum sepakbola lengkap. Tak tanggung-tanggung, tim ini diampu pelatih senior berlabel bayak prestasi nasional dan international, namanya Edi Prayitno, biasa disapa Coach EP, mantan pelatih PPLP Salatiga Diklat Salatiga yang menjuarai liga antar PPLP se Indonosia dua kali berturut-turut. Dia juga membawa Timnas Pelajar Kemenpora meraih juara 2 di tingkat Asia.

Ini sebuah kegilaan pada bola, bukan lagi sebuah rutinitas agenda Liga Santri yang sudah bergulir 2015 dan 2016. Manajer tim nya adalah M Yusuf Chudlory, kyai muda yang gila bola, CEO PPSM Magelang, klub profesional yang merumput di Divisi Utama. Gus Yusuflah yang berani memegang tim PPSM ketika tidak lagi dibiyayai APBD (revolusi sepakbola). Dari 80 santri API itu, disaring lagi menjadi 20 pemain yang memiliki talenta bola di atas rata-rata menurut pilihan Coach EP.

KARTANU

Jika memang di Magelang kiyainya asli gila bola, apakah di pesantren lain juga demikian? Mereka semangat dan antusias ternyata. Misalnya saja di Pesantren Khozainatul Ulum, pengelola timnya Gus Zaki Muharror yang memiliki semangat luar biasa. Ketika Panpel Liga Santri sowan ke sana, dia menceritakan kegembiraannya menyambut liga ini.

Hampir semua peserta LSN ini menyambut positif liga, semua larut dalam kegembiraan bersepakbola. [KARTANU]

Sholahuddin Al-Ahmadi, Ketua Panpel Liga Santri Reg 2 Jateng

(Sampai artikel ini diturunkan terdapat 27 club yang bersedia untuk mengikuti LSN zona Jateng region 2; semoga tak ada yang gugur dipertengahan jalan hingga kick off berlangsung)

Oleh Sholahuddin Al-Ahmadi

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/dari-pesantren-revolusi-sepakbola-dimulai.html

Kamis, 03 Juni 2010

Nyata: Gus Dur Mengislamkan 100 Romo Katolik Sebulan

KARTANU - Ini adalah catatan Dr Syaltout, dosen Universitas Indonesia dalam sekolah Ansos yang pernah diadakan pada tahun 1997 silam. Tentang dakwah Romo Mangun dan KH Abdurrahman Wahid dalam merancang startegi masing-masing melakukan misionarisasi, baik Kristen maupun Islam.

Untuk memberikan keterangan kepada hadirin, Romo Mangun mengutip ayat Qur'an Ali Imran ayat 110 dan menginterpretasinya. Ini bunyi ayat tersebut:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آَمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Nyata: Gus Dur Mengislamkan 100 Romo Katolik Sebulan - KARTANU
Nyata: Gus Dur Mengislamkan 100 Romo Katolik Sebulan - KARTANU


Nyata: Gus Dur Mengislamkan 100 Romo Katolik Sebulan

Artinya: Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Ali Imran: 110)

KARTANU

Ayat di atas biasanya dipahami cukup chauvinis (kesetiaan ekstrim tanpa mau melihat pandangan alternatif lain) di sebagian besar Islam.

Dalam kesempatan tersebut, Romo Mangun memberikan pengantar tentang pola "dakwah" nya yang terinspirasi dari Ali Imran 110 itu. Di situ ada alur logika yang imanen dan ilahiyah tentang bagaimana melakukan advokasi yang baik. Berikut ada 4 tahapan dakwah yang diulas Romo Mangun dari ayat di atas:

1). Kuntum khoira ummah (kamu adalah ummat terbaik). Yakni, umat harus disapa pertama kali dengan mentalitas superior (percaya diri), bukan inferior. Inferiority complex itu bahaya. Dendam, butuh pengakuan, butuh pujian itu tidak sehat.

KARTANU

Dalam tradisi Katolik, sapaan awal "mentalitas superior" ini dimulai dengan kalimat "saudara-saudaraku terkasih dosa kalian sudah ditebus Tuhan Yesus". Perasaan bebas dari dosa dan salah bisa menciptakan mentalitas superior itu.

2. Ta'muruna bil ma'ruf (mengajak berbuat baik). Dan logisnya, sebelum mengajak tentu harus berbuat baik dulu. Saat umat lapar, kita beri makan. Kita buat mereka kenyang. Saat umat butuh tempat bernaung, kita buatkan tempat itu. Kita cukupi kebutuhan mereka. Kita jadikan diri kita sebagai teladan bagi umat. Dengan begitu, umat jadi ikut, mau diajak dan kemudian juga mengajak yang lain untuk berbuat kebaikan.

3. Tanhauna 'anil munkar (cegah kerusakan atau perbuatan yang tidak pinter, tidak bener, dan tidak pener), yang logisnya tentu kita kasih teladan dulu bahwa kita tidak berbuat buruk, tidak berbuat yang tidak pinter, tidak bener dan tidak pener. Dengan demikian, sistem dan ekosistem yang sudah baik (karena sudah melewati tahap 1 dan 2) bisa terjaga dari pengaruh yang buruk.

4. Yu'minuna billah (beriman kepada Allah, percaya kepada Tuhan Yang Maha Kasih - atau dalam bahasa Romo Mangun "tahap penginjilan" - percaya pada kristus).

Menurut Romo Mangun, banyak dakwah atau advokasi gagal karena nalarnya loncat. Kalau buru-buru masuk tahap 4, tentu yang ada ialah perang. Jika masuk tahapan ke-3, tanpa melalui tahapan ke-1 dan ke-2, tentu yang terjadi adalah kekerasan.

Ini adalah kritik terhadap gerakan-gerakan dakwah "nahi munkar" yang menumbuhkan bibit kekersaan ala FPI. Termasuk kritik terhadap saran almarhum KH. Zaunuddin MZ yang pernah melarang dakwah terhadap orang beragama, melarang umat Islam yang miskin diberi Indomie, beras dan kebutuhan harian lainnya.

Yang menarik adalah tahapan dakwah antara Romo Mangun dan Gus Dur. Mereka ini sudah pada tahapan dakwah dengan dialog dan bercanda lintas iman. Akhirnya, semua bisa disampaikan secara baik-baik.

Gus Dur bertanya kepada Romo Mangun, dengan cara menerapkan Qur'an seperti itu (4 tahapan dakwah dari surat Ali Imron 110), Romo berhasil menginjilkan berapa orang?

Romo Mangun menjawab, "sekitar 30-50 orang per bulan, mereka umat yang miskin, yang teraniaya, lapar, tinggal di bantaran kali, dan hampir terlupakan," katanya.

Mendengar jawaban tersebut, beberapa kawan NU ada yang sempat emosi. Mereka kemudian bertanya kepada Gus Dur terkait "kristenisasi" Romo Mangun itu.

"Alhamdulillah mereka masih pindah agama, daripada mereka pindah ke alam baka," jawab Gus Dur selengekan. Hadirin tertawa tapi tetap masih resah.

Saat semua grundel, Gus Dur melanjutkan, "saya senang ayat Qur'an dipakai Romo, daripada nganggur. Ya, saya mirip Romo juga sebenarnya. Saya bisa mengislamkan 30-50 bahkan pernah 100 orang dalam sebulan. Tapiii... itu Romo semua!".

Semua hadirin tertawa, Romo Mangun dan Gus Dur berpelukan hangat. Ah, jadi kangen Gus Dur yang selalu punya cara unik menyelesaikan masalah tanpa basi-basi. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/rahasia-gus-dur-mengislamkan-100-romo-katolik-sebulan.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KARTANU sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KARTANU. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KARTANU dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock