Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Juni 2016

STAINU Malang Ingin Santri Bisa Kuliah

Malang, KARTANU. Menyertakan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai bagian dari nama perguruan tinggi mungkin dianggap dapat membatasi ruang karena seakan hanya spesifik bagi kalangan NU dan pondok pesantren. Namun bagi Rais Syuriyah Pengurus Cabang NU Kabupaten Malang, KH Muh. Mansjur, pemberian nama NU didasari cita-cita ingin membantu para santri atau alumni pondok pesantren yang ingin menempuh jalur pendidikan tinggi. Maka sekolah tinggi yang didirikannya di daerah Karangploso, Malang, dinamai Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Malang.

Hampir semua sekolah NU baik di tingkat dasar, menengah maupun tinggi tidak mau memakai nama NU. Mungkin ini karena persaingan. Pemberian nama NU seakan-sekan-akan sekolah itu hanya spesifik untuk kalangan NU saja. Namun kata Kiai (KH Muh. Mansjur), kita tetap pakai nama NU, demikian disampaikan Pujiono Pembantu Ketua III, kepada KARTANU di kampus STAINU Malang, Ahad (5/2).

STAINU Malang Ingin Santri Bisa Kuliah (Sumber Gambar : Nu Online)
STAINU Malang Ingin Santri Bisa Kuliah (Sumber Gambar : Nu Online)


STAINU Malang Ingin Santri Bisa Kuliah

STAINU Malang baru berdiri pada 2010 lalu dengan membuka dua jurusan, yakni Ekonomi Syariah (Fak. Syariah) dan Manajemen Pendidikan Islam (Fak. Tarbiyah), dua jurusan yang saat ini diminati dan diharapkan dapat meningkatkan peran para alumni pesantren. Namun sebenarnya proses perkuliahan sudah dimulai pada 2003, bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Tarbiyah (STIT) Raden Rahmat, Kepanjen, Malang.

Selama dua tahun berjalan, dari 160 mahasiswa yang terdaftar di dua angkatan ini banyak juga mahasiswa yang berasal dari kalangan luar NU atau pesantren, bahkan ada yang lulusan dari sekolah Muhammdiyah. Jadi anggapan bahwa STAINU hanya diminati kalangan NU ternyata tidak sepenuhnya benar, dan STAINU akan terus berbenah dalam rangka meningkatkan kualitas di ri di tengah persaingan.

KARTANU

Di luar urusan persaingan, pemberian nama STAINU juga ada untungnya. Dengan memakai nama NU, STAINU Malang lebih bisa bekerjasama dengan pondok-pondok pesantren di Malang dan sekitarnya.

Kami sering bersilaturahmi dan bersosialisasi ke pondok-pondok pesantren di Malang dan kami disambut baik, karena sangat jelas identitas ke-NU-annya. Banyak pengasuh pesantren dan orang tua santri yang khawatir jika ke-NU-an anaknya hilang ketika masuk perguruan tinggi lain, kata Pujiono.

KARTANU

Selain materi-materi perkuliahan pada umumnya, di STAINU ini ada materi khusus mengenai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) atau ke-NU-an yang rencananya akan diajarkan sampai sampai tiga kali, yakni Aswaja 1, 2 dan 3 pada semester II, IV dan VI.

Saat ini STAINU Malang juga berkerjasama dengan Pondok Pesantren Al-Yasini Pasuruan. Pesantren ini mengirimkan 48 mahasiswanya karena izin pendirian perguaruan tinggi yang diajukan hingga saat ini belum keluar, sementara perkuliahan sudah berlangsung dua tahun ini.

STAINU Malang berdekatan dengan Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan salah satu universitas NU yang sudah lebih dulu berdiri yakni Universitas Islam Malang (Unisma). Namun secara geografis STAINU terletak di posisi yang cukup strategi di jalan utama dari arah Surabaya atau Malang Kota ke Batu dan Kediri. STAINU berharap diminati oleh para calon mahasiswa dari Kota Batu.

Di Batu jarang ada madrasah Aliyah (MA), sementara program Paket C digalakkan di sana. Namun yang lebih penting kami ingin memfasilitasi para alumni pesantren di eilayah Batu dan sekitarnya. Banyak alumni pesantren yang tersandung persoalan formalitas, kata Pujiono.

Menurut Puji, salah satu keinginan STAINU adalah memfasilitasi alumni pesantren yang hanya punya ijazah paket C. Dari seluruh mahasiswa yang terdaftar, sekitar 10 persennya berijazah Paket C. Intinya kami ingin santri kuliah, kata Puji.

Para alumni pesantren atau para siswa yang menempuh Paket C umumnya tidak terlalu akrab dengan materi-materi umum, namun para lulusan pesantren mempunyai kemampuan pemahaman ilmu-ilmu keislaman dengan sangat baik, terutama yang berasal dari literatur Arab. Singkatnya, STAINU ini dimaksudkan untuk membebaskan santri dari belenggu formalitas pendidikan.

Penulis : A. Khoirul Anam

STAINU Malang Berharap Santri Bisa Kuliah

Malang, KARTANU. Menyertakan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai bagian dari nama perguruan tinggi mungkin dianggap

dapat membatasi ruang karena hanya spesifik bagi kalangan NU dan pondok pesantren. Namun

bagi Rais Syuriyah Pengurus Cabang NU Kabupaten Malang, KH Muh. Mansjur, pemberian nama NU

didasari cita-cita ingin membantu para santri atau alumni pondok pesantren yang ingin

menempuh jalur pendidikan tinggi. Maka sekolah tinggi yang didirikannya di daerah

Karangploso, Malang, dinamai Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Malang.

Hampir semua sekolah NU baik di tingkat dasar, menengah maupun tinggi tidak mau memakai

nama NU. Mungkin ini karena persaingan. Pemberian nama NU seakan-sekan-akan sekolah itu

hanya spesifik untuk kalangan NU saja. Namun kata Kiai kita tetap pakai nama NU, kata

Pujiono Pembantu Ketua III, kepada KARTANU di kampus STAINU, Malang, Ahad (5/2).

STAINU Malang baru berdiri pada 2010 lalu dengan membuka dua jurusan, yakni Ekonomi Islam

dan Manajemen Pendidikan Islam, dua jurusan yang saat in diminati dan diharapkan dapat

meningkatkan peran para alumni pesantren. Namun sebenarnya proses perkuliahan sudah dimulai

pada 2003, bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Tarbiyah (STIT) Raden Rahmat, Kepanjen, Malang.

Dari 160 mahasiswa yang terdaftar di dua angkatan ini banyak juga mahasiswa yang berasal

dari kalangan luar NU atau pesantren, bahkan ada yang lulusan dari sekolah Muhammdiyah. Jadi

anggapan bahwa STAINU hanya diminati kalangan NU ternyata tidak sepenuhnya benar, dan STAINU

akan terus berbenah dalam rangka meningkatkan kualitas di ri di tengah persaingan.

Di luar urusan persaingan, pemberian nama juga ada untungnya. Dengan memakai nama NU, STAINU

Malang lebih bisa bekerjasama dengan pondok-pondok pesantren di Malang dan sekitarnya.

Kami sering bersilaturahmi dan bersosialisasi ke pondok-pondok pesantren di Malang dan kami

disambut baik karena mungkin sangat jelas identitas ke-NU-annya. Banyak pengasuh pesantren

dan orang tua santri yang khawatir jika ke-NU-an anaknya hilang ketika masuk perguruan

tinggi lain, kata Pujiono.

Selain materi-materi perkuliahan pada umumnya, di STAINU ini ada materi khusus mengenai

Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) atau ke-NU-an yang rencananya akan diajarkan sampai sampai

tiga kali, yakni Aswaja 1, 2 dan 3 pada semester II, IV dan VI.

Saat ini STAINU Malang juga berkerjasama dengan Pondok Pesantren Al-Yasini Pasuruan.

Pesantren ini mengirimkan 48 mahasiswanya karena izin pendirian perguaruan tinggi yang

diajukan hingga saat ini belum keluar, sementara perkuliahan sudah berlangsung dua tahun

ini.

STAINU Malang berdekatan dengan Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Universitas

Muhammadiyah Malang (UMM) dan salah satu universitas NU yang sudah lebih dulu berdiri yakni

Universitas Islam Malang (Unisma). Namun secara geografis STAINU terletak di posisi yang

cukup strategi di jalan utama dari arah Surabaya atau Malang Kota ke Batu dan Kediri. STAINU

berharap diminati oleh para calon mahasiswa dari Kota Batu.

Di Batu jarang ada madrasah Aliyah (MA), namun program Paket C digalakkan di sana. Namun

yang lebih penting kami ingin memfasilitasi para alumni pesantren di eilayah Batu dan

sekitarnya. Banyak alumni pesantren yang tersandung persoalan formalitas , kata Pujiono.

Menurut Puji, salah satu keinginan STAINU adalah memfasilitasi alumni pesantren yang hanya

punya ijazah paket C. Dari seluruh mahasiswa yang terdaftar, sekitar 10 persennya berijazah

Paket C. Intinya kami ingin santri kuliah, kata Puji.

Para alumni pesantren atau para siswa yang menempuh PC umumnya tidak terlalu akrab dengan

materi-materi umum, namun para lulusan pesantren mempunyai kemampuan pemahaman ilmu-ilmu

keislaman dengan sangat baik, terutama yang berasal dari literatur Arab. Singkatnya, dengan

STAINU ini dimaksudkan untuk membebaskan santri dari belenggu formalitas.

Penulis : A. Khoirul Anam

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/36202/stainu-malang-ingin-santri-bisa-kuliah

Kamis, 25 Februari 2016

Cinta Lingkungan, Madrasah NU Wonosobo Tanam 1000 Pohon

Wonosobo, KARTANU. Cara sekolah mengajarkan sesuatu pada muridnya tak mesti dilaksanakan di kelas. Madrasah Tsanawiyah (MTs) Maarif NU Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, melatih siswa-siswinya secara rutin melakukan aksi tanam 1000 pohon di Desa Kreo, Kecamatan Kejajar.

Kegiatan ini guna menanamkan jiwa cinta terhadap lingkungan dan juga merawat lingkungan. Harapan kami agar para siswa cinta terhadap lingkungan, terang Supriyadi, pembina Pramuka MTs Maarif NU Kejajar kepada KARTANU, Kamis (13/11).

Cinta Lingkungan, Madrasah NU Wonosobo Tanam 1000 Pohon (Sumber Gambar : Nu Online)
Cinta Lingkungan, Madrasah NU Wonosobo Tanam 1000 Pohon (Sumber Gambar : Nu Online)


Cinta Lingkungan, Madrasah NU Wonosobo Tanam 1000 Pohon

Disebutkan pula, 1000 pohon yang ditanam itu merupakan hasil dari pembibitan di sekolah. Setelah tumbuh agak besar, ditanamlah di beberapa lokasi di Desa Kreo. Semoga saja setelah ditanam, nantinya bisa dirawat hingga tumbuh dan hidup menjadi lebih besar serta bermanfaat, jelasnya.

Aksi tanam pohon ini terangkai dalam agenda rutin Perkemahan Sabtu-Minggu (Persami). Secara rutin MTs Maarif Kejajar melakukan Persami. Namun, Persami kali ini berbeda dengan persami sebelumnya. Persami kali ini para melakukan aksi tanam 1000 pohon di desa Kreo Kecamatan Kejajar, tambah Supriyadi.

KARTANU

KARTANU

Pihak sekolah berharap, aksi yang diikuti sekitar 250 siswa dari kelas VII sampai IX ini berlanjut hingga ke tingkat perawatan dan penjagaan sehingga jerih payah peserta dalam gerakan cinta lingkungan tidak sia-sia. (Fathul Jamil/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/48191/cinta-lingkungan-madrasah-nu-wonosobo-tanam-1000-pohon

KARTANU

Selasa, 12 Mei 2015

Kiai Said: Nasionalisme Mbah Hasyim Beda dari Nasionalisme Sekuler Arab

KH Said Aqil Siraj dan Sultan Jogja bersalaman kepada pengurus PWNU yang baru dilantik, Kamis (26/01/2017) KARTANU - Dalam acara pelantikan PWNU DIY masa bakti 2017-2022 yang diselenggarakan di Gedung Multi Perpust (MP) UIN Sunan Kalijaga, Kamis (26/01/2017), Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj mengingatkan kembali jargon penting hubbul wathan minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman).

Ungkapan tersebut muncul pertama dan dipopulerkan oleh pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari. Karena saking polulernya di seluruh dunia, kata Kiai Said, ungkapan itu dianggap sebagai hadits. Padahal bukan.

Kiai Said: Nasionalisme Mbah Hasyim Beda dari Nasionalisme Sekuler Arab - KARTANU
Kiai Said: Nasionalisme Mbah Hasyim Beda dari Nasionalisme Sekuler Arab - KARTANU


Kiai Said: Nasionalisme Mbah Hasyim Beda dari Nasionalisme Sekuler Arab

Menurut Kiai Said, tidak ada ulama besar di dunia ini yang berani menyatakan hubbul wathan minal iman. Namun KH Hasyim Asy'ari berani mengungkapkannya. "Nasionalisme KH Hasyim Asy'ari berbeda dengan nasionalisme sekuler Arab," ujar Kiai Said.

Menurut Kiai Said, lahirnya ungkapan hubbul wathan minal iman ini tidak lepas dari konsep Islam Nusantara yang telah berhasil mengawinkan antara nasionalisme dan Islam di Indonesia. Ini berbeda dengan di beberapa negara Timur Tengah yang mempunyai kesulitan dalam menyatukan keduanya.

Karenanya, warisan KH. Hasyim Asyari berupa konsep Islam Nusantara ini harus senantiada kita rawat dan jaga, demi tetap tegaknya Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD '45 di bumi nusantara tercinta.

Kiai Said juga berharap agar PWNU DIY yang baru dilantik tetap istiqomah dalam mengawal dan menjaga NKRI dan paham ahlussunah wal-Jamah an-Nahdiyah di Indonesia. Hadir dalam kesempatan tersebut, Sri Sultan Hamengku Buwono Yogyakarta X. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/kiai-said-nasionalisme-mbah-hasyim-beda-dari-nasionalisme-sekuler-arab.html

Kamis, 22 Mei 2014

Bocor, Percakapan Grup Garis Lurus Penuh Bahasa Binatang

KARTANU – Situs nu garis lurus itu penuh konten beracun. Mengganggap sebelah mata dan menyebutnya guyon atau semacam mencari perhatian lebih kepada khalayak agar dianggap sebagai kelompok alumni pondok pesantren –sebagaimana selama ini diucapkan oleh pendukungnya, paling lurus menegakkan ahlussunnah, itu salah besar.

Bocor, Percakapan Grup Garis Lurus Penuh Bahasa Binatang - KARTANU
Bocor, Percakapan Grup Garis Lurus Penuh Bahasa Binatang - KARTANU


Bocor, Percakapan Grup Garis Lurus Penuh Bahasa Binatang

Di Pontianak, ketika KH Ma’ruf Khozin melaksanakan safari dakwah, hadirin dalam acara sering ada yang mengangkat tangan menanyakan apa dan siapa itu nu garus lurus (selanjutnya kami sebut GGL: Gerombolan Garis Lurus, agar tidak mencatut nama NU). Demikian keterangan yang didapatkan Duta Islam.

Apa artinya? Nama GGL sudah masuk dalam alam pikiran banyak orang dan menjadi semacam noktah hitam bagi NU secara jamiyyah dan struktural. Hadirnya GGL di dunia maya yang enteng menyebarkan propaganda untuk menjauhkan warga nahdliyyin dari ulama dan habaib NU tanpa membuka identitas mereka kepada publik, jelas merupakan cara-cara culas yang biasa dilakukan oleh kalangan teroris ISIS.

Perlu diketahui, cara ISIS menyebarkan propagandanya bukan melalui masjid, lembaga pendidikan atau titik-titik startegis yang biasa dikunjungi banyak orang. Website dan media sosial dijadikan alat propaganda paling efektif karena mampu menyebar tanpa batas dan berbiaya murah. Selain tentu karena ISIS tidak punya basis massa yang diakui oleh negara. Modal sosial mereka memang media sosial. 

Langkah yang ditempuh ISIS inilah yang dikloning oleh GGL. Kalau mengaku pejuang aswaja yang paling lurus sedunia, mereka tak perlu malu-malu kucing menampakkan diri. Justru transparansi identitas itulah yang tidak akan membuat banyak orang bertanya, sebagaimana terjadi di beberapa daerah laiknya di Pontianak tadi.

Berawal dari Grup Caci Maki Serapat apapun bangkai ditutup, akan tercium juga. GGL pun gerah setelah ada salah seorang bernama Moch Zainul Abidin As-Syuja'i membongkar data admin pasca digelar sebuah acara di Cirebon, yang mengatasnamakan aktivis Aswaja. Dalam acar itu, para aktivis mulai terang-terangan berani membeberkan nama-nama yang selama ini dikenal Zain, panggilan Zainul Abidin As-Sujai’i, sebagai admin grup Brigade Aswaja, yakni grup WhatsApp para pengelola dan muqollidin situs nu garis lurus.

Kepada KARTANU, Zain tidak mengenal sama sekali orang-orang di grup tersebut. Dia mengaku nomornya diseret masuk tanpa konfirmasi kepadanya. Sudah sejak lama Zain nongkrong di grup yang menurutnya penuh dengan caci-maki kepada kyai dan ulama di Nahdlatul Ulama.

Bahkan, pasca publikasi identitas admin, Zain Suja’i dibully dalam grup. . KARTANU mendapatkan screen shoot caci maki anggota GGL ini. Oleh Syaraf, salah satu anggota grup, Zain disebut ngegustad, pura-pura jadi gus dan ustadz.

“Ilmunya mentok ke nasi goreng. Malam jadi germo di WhastApp saling kirim-kiriman gambar telanjang nggak pantes. Siang ceramah di WhatsApp sok suci dan sok ngustadz. Tulisannya belepotan jauh dari ranah ilmu. Jamane wong munafik bertopeng di dunia maya. Di dunia nyata, gorengan nggak laku-laku,” tulis Syaraf. (Kami simpan foto si Syaraf ini).

Soal Zain adalah tukang nasi goreng memang diakui. Ia berjualan di Jakarta Barat. Tapi kalau menuduh ilmunya Zain hanya sampai nasi goreng dan munafik serta menyerapahi gorengan tidak laku-laku apalagi menyebut germo, baginya itu sudah keterlaluan, tidak nyambung dan lepas dari etika santri.

Dalam percakapan grup khusus mencaci Zain itu, admin lain ada yang menyebut “asu”, “babi”, “monyet”, “najis”, dan lainnya. Adam, admin grup, pendiri Grup Brigade Aswaja, menanyakan di grup: “Sebenarnya dia itu siapa sih? Asu atau monyet? Saya bingung sendiri,” tulis Adam.

Dengan enteng, pertanyaan itu dijawab oleh Naquib, anggota lain di grup: “Babi mas.” Naquib ini yang menulis: “Waduh…dia sibuk cari tulang ke SAS (Said Aqil Siraj, red) nggak sempet ganti nama. Ya…namanya juga asuuuu….”.

Anggota itu gayeng dan terkesan senang membully Zain di grup karena di sana nama Zain diganti Asu Pa’i. “Makanya, rupa, nama dan hatinya sama (anjing, asu, red). Ngalah-ngalahi assu,” tulis Naguib, yang langsung ditanggapi oleh Faiz, anggota GGL lain yang ikutan mencaci: “Masih ada waktu untuk tobat. Daripada jadi assu,” tulisnya.

Menanggapi percakapan penuh caci maki itu, seorang aktivis Aswaja NU, Arief, mengaku miris. “Wah, ini lebih mirip grup kumpulnya para begundal daripada grup santri. Nggak pantes blas kelompok ini namanya disandarkan dengan nama besar NU. Su'ul adab semua,” tulisnya, dikutip KARTANU (17/04).

Kelimpungan, anggota grup tersebut kembali melancarkan fitnah dengan meme. Status David Fuadi, seorang yang dulu pernah menghidupkan situs sarkub.com, dijadikan bahan mementahkan Zain as-Suja’i. Menurut orang yang di kalangan GGL dipanggil KH David Fuadi itu, Zain adalah orang yang tidak punya ilmu agama.

Ustadz Hasbullah, dalam meme yang beredar itu juga menulis kalau tulisan-tulisan Sujai’i itu bukan dari tulisannya sendiri. “Bisa jadi syujai hanya atas nama saja. Sebab saya segrup dengan Syujai. Kerjaanya hanya kirim gambar porno,” tuduh ustadz.

Tuduhan-tuduhan semacam ini, menurut Zain, mudah keluar di grup yang ia sebut kenthir (kemayu) itu. “Ada Group kenthir khusus para Admin Group WA Aswaja. Di sana memang kalau kenthir suka selingan kirim Gambar Porno. Nah dari sanalah Fitnah ini beredar,” jelas Zain.

Jika Anda berakal sehat, etika macam apakah yang layak disematkan kepada kelompok GGL itu? Bahasa apakah yang mudah keluar dari “santri” GGL itu? Bahasa pondok pesantren mana yang menghalalkan saudaranya sendiri disebut anjing, babi, monyet, najis, germo dan munafik? Ajaran Qanun Asasi NU sebelah mana yang memerintahkan umat Islam mencaci maki dengan sebutan binatang untuk saudaranya muslim?

Kepada KARTANU, Zain memang jualan nasi goreng. Tapi ia juga santri di sebuah majelis ta’lim yang banyak orang tahu. Ia menunjukkan bukti bahwa dia rutin di majelis ta’lim. Namun tidak berkenan ditulis.

Yang pasti, kelompok GGL memasukkan nomornya ke grup karena nomor yang ia pegang ada dimana-mana. Dikenal sebagai penggerak aswaja. Duta Islam menyimpan buktinya. Zain As-Suja’i itu orang biasa yang dicaci-maki oleh kelompok yang mengaku santri di ujung sana. Duh Gusti... [KARTANU/luqman segaf]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/04/bocor-percakapan-grup-garis-lurus-penuh-bahasa-binatang.html

Selasa, 06 Agustus 2013

Gus Mus Ingatkan Para Kiai Tak Terjebak Pilkada

Yogyakarta, KARTANU. Wakil Rais Aam PBNU KH A Mustofa Bisri mengingatkan kalangan kiai dan pesantren agar memainkan peran sebagai penjaga akhlak bangsa, dan tidak terjebak dalam peran-peran instrumental, seperti turut menjadi tim sukses calon dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada).

Kiai yang akrab disapa Gus Mus ini menyampaikan hal tersebut pada pembukaan sarasehan Pesantren dan Krisis Akhlak Bangsa yang diselenggarakan Komunitas Majma Buhust An-Nahdliyyah di Magelang, Jawa Tengah, Ahad, (19/10) lalu.

Di tengah merebaknya korupsi oleh para pejabat, peran kiai sebagai penjaga moralitas ditunggu sekaligus layak dipertanyakan secara kritis, apakah menjadi solusi atau justru bagian dari masalah bangsa.

Gus Mus Ingatkan Para Kiai Tak Terjebak Pilkada (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus Ingatkan Para Kiai Tak Terjebak Pilkada (Sumber Gambar : Nu Online)


Gus Mus Ingatkan Para Kiai Tak Terjebak Pilkada

Menurut Gus Mus, situasi kebangsaan saat ini benar-benar telah krisis. Korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan bukan saja melanda kalangan eksekutif dan legislatif namun juga Yudikatif. Penyelewengan penegak hukum merupakan pertanda masyarakat sedang menyongsong masa kehancuran. Berbagai kasus yang mencuat saat ini, bagi Gus Mus, juga mengindikasikan adanya upaya menghabisi orang-orang baik di negeri ini.

KARTANU

Dalam sarasehan tersebut dibahas berbagai persoalan kebangsaan, kepesantrenan, dan ke-NU-an. Forum ini dihadiri sekitar 40 kiai dari DI Yogyakarta dan Karesidenan Kedu, Jawa Tengah. Majma Buhust An-Nahdiyyah adalah forum diskusi yang didirikan KH Mustofa Bisri (Rembang) dan KH Mahfudz Ridwan (Salatiga), yang aktif mengkaji berbagai topik ke-NU-an, kepesantrenan, dan kebangsaan.

Turut hadir KH Abdul Ghofur Maimun dari Sarang, KH Yahya Cholil Tsaquf (Rembang), KH Mahfudz (Maron), dan KH Muadz Thohir (Pati). Hadir pula kiai dari Magelang, yaitu KH Said, KH Aziz, dan Dr Thonthowi. Sedangkan dari Yogyakarta, tampak KH Asyhari Abta, KH Mutashim Billah, Dr Waryono Abdul Ghofur, Dr Sahiron, dan Kiai Jadul Maula.

KARTANU

KH Muzammil (Bantul), KH Masduqi Mahfudz, KH Dr Tamyiz Mukharrom, KH Abdullah Hasan (Sleman), KH Munir (Kota Gede), Muhammad Mustafied (Mlangi), dan puluhan Kiai muda lainnya juga turut serta dalam kegiatan tersebut. (Dwi Khoirotun Nisa/Mahbib)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/47779/gus-mus-ingatkan-para-kiai-tak-terjebak-pilkada

KARTANU

Sabtu, 01 Juni 2013

Belajar Peduli Lingkungan Bersama GP Ansor Way Kanan

Way Kanan, KARTANU. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Way Kanan Provinsi Lampung merampungkan amanah menggelar Pesantren Kilat Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (Sanlat BPUN) 2016 di Pesantren Assiddiqiyah 11 asuhan Kiai Imam Suyuthi Murtadlo di Labuhan Jaya, Gunung Labuhan. Sejumlah peserta mengapresiasi positif program filantropi edukasi yang dinilai banyak kelebihan tersebut.

"BPUN tidak hanya mengajarkan materi akademik dan agama saja, bahkan kami diajarkan untuk peduli lingkungan dan memanfaatkan sampah plastik yang masih bisa digunakan menjadi bantal," ujar alumni BPUN Way Kanan 2016 Mese Arsela dari SMAN 1 Baradatu di Blambangan Umpu, Ahad (29/5).

Belajar Peduli Lingkungan Bersama GP Ansor Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar Peduli Lingkungan Bersama GP Ansor Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)


Belajar Peduli Lingkungan Bersama GP Ansor Way Kanan

Plastik merupakan salah satu hasil penemuan manusia yang paling banyak digunakan pada saat ini. Jika sampah plastik ditimbun selama bertahun-tahun dapat menimbulkan pencemaraan lingkungan, terutama pada tanah.

KARTANU

Dan jika sampah plastik dibakar dapat menghasilkan senyawa gas yang membahayakan sistem pernafasan pada manusia. Selain dapat membahayakan sistem pernafasan pada manusia, sampah plastik pun dapat membuat lingkungan menjadi rusak dan menganggu keseimbangan biologis dan kimiawi dalam lingkungan.

Lingkungan yang rusak dapat mengalami penurunan tingkat penggunaan lahan, punahnya hewan dan tumbuhan yang ada dilingkungan sekitar kita sehingga lingkungan sulit diolah oleh manusia disebabkan karena zat kimia dalam tanah berkembang pesat.

KARTANU

"Saat ini banyak terbuat kerajian tangan dari daur ulang sampah plastik dikarenakan dengan cara mengolah sampah plastik tersebut dapat mengurangi pencemaran lingkungan kita. Maka dari itu kita dapat mengolahnya seperti membuatnya menjadi bantal plastik. Ayo kita manfaatkan sampah plastik disekitar kita," ujar Mese. (Syuhud Tsaqafi/Fathoni)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/68618/belajar-peduli-lingkungan-bersama-gp-ansor-way-kanan

KARTANU

Rabu, 16 September 2009

Mbah Sabilan, Dzurriyah Rasul ke-29 yang Berjuang Semasa Untung Suropati

KARTANU - Berawal dari keinginan warga Demaan, Jepara Kota, agar panitia menelusuri silsilah Mbah Sabilan, Habib Abu Bakar Assegaf, juru kunci makam, berniat melakukan sesuatu. Tapi apa yang harus diperbuat, ia tidak tahu. Menelusuri nasab bagi Bang Abu, sapaan akrabnya, bukan perkara mudah. Yang selama dipercaya masyarakat bisa menemukan nasab dan bahkan makam tua para wali adalah Habib Luthfi bin Yahya, Pekalongan. Tapi untuk langsung menghadirkan Habib Luthfi bukan perkara gampang.

Mbah Sabilan, Dzurriyah Rasul ke-29 yang Berjuang Semasa Untung Suropati - KARTANU
Mbah Sabilan, Dzurriyah Rasul ke-29 yang Berjuang Semasa Untung Suropati - KARTANU


Mbah Sabilan, Dzurriyah Rasul ke-29 yang Berjuang Semasa Untung Suropati

Buntu menemukan jalan tercepat menjawab keinginan warga yang ingin mengetahui nasab leluhurnya itu, Bang Abu datang sedirian ke makam Mbah Sabilan. Siang itu tidak ada orang ziarah. Juru kunci makam tersebut di sana bukan membaca tahlil dan wirid. Yang dilakukan justru meluapkan emosinya. Pintu makam digedor sekuat tenaga. Batu nisan makam Mbah Sabilan diokak-okak.

“Kamu ini siapa sih mbah kok bikin tugas berat menelusuri nasab. Saya tidak sanggup. Tapi kok ditunjuk juru makam, kenapa? Ini tugas berat yang bikin saya pusing, mbah!” katanya di makam.

Pulang ke rumah, ia merasa ringan. Hanya berharap semoga kelak dapat jawaban. Bagi Bang Abu, wali itu sangat welas asih kepada warga. Kemarahan yang kemarin dilakukan tidak akan dibalas kemarahan yang sama oleh Mbah Sabilan. “Wali itu memiliki mata kasih,” ujarnya kepada KARTANU, Kamis (13/04/2016), di rumahnya, Jl. Pesajen, Demaan, Jepara.

Sebelum membakar ikan, Bang Abu kirim Fatihah khusus kepada Mbah Sabilan. Kamis (17/03/2016) pagi itu, bau ikan laut yang dibakar menyengat hidung kemana-mana. Hendak disajikan bersama keluarga, seorang pengurus NU Jepara menelpon jika posisi Habib Luthfi sedang ada di makam Mbah Daeng, Krapyak, Jepara, sedang ziarah.

Seketika langsung menuju posisi Habib Luthfi yang kebetulan memang hanya berjarak 5 kilo dari tempat tinggal Bang Abu. Kepada angota Banser yang nderekke Habib Luthfi, ia tanya agenda habib setelah ziarah Mbah Daeng. Sedikit kecewa karena Habib Luthfi ternyata tidak ada rencana ziarah ke makam Mbah Sabilan.

Sebelum niat ketemu Habib Luthfi, Bang Abu sudah ziarah ke makam Mbah Sabilan. Kali ini tidak marah-marah di makam, tetapi tawassulan dan kirim doa. Saking semangatnya, Bang Abu ingin langsung menemui Habib Luthfi yang sedang di makam Mbah Daeng. Namun, sebelum keluar dari kompleks makam, seekor belalang menclok ke bahu kanan, lalu terbang lari ke arah makam Abah-nya yang bersebelahan dengan Makam Mbah Daeng, Krapyak. “Ya, Allah, saya ziarah ke Mbah Sabilan tapi belum ziarah maqbarah orang tua,” ungkapnya dalam hati.

Baginya, belalang adalah tanda agar sebelum ketemu Habib Luthfi, harus ziarah dulu kepada orang tua sebagai bentuk birrul walidain. Kebetulan hari Kamis memang sudah biasa ziarah orang tua. Beberapa saat ziarah dilakukan ke pusara Habib Sagaf, abah Bang Abu.

“Kalau Habib Luthfi memang kassyaf, dia pasti tahu krentek saya habis marah-marah di makam Mbah Sabilan kemarin karena harus menemukan nasabnya,” tutur Bang Abu menjelaskan maksud tawassul-nya tadi.

Sementara itu, keterangan yang didapat, sekeluarnya Habib Luthfi dari makam Mbah Daeng, ternyata tidak langsung jalan ke sebuah makam di Mlonggo sebagaimana agenda rombongan

yang nderekaken. Kata Bang Abu, Habib Luthfi justru ingin ziarah ke makam Sayyid Abdurrahman. Rombongan banyak yang bertanya: “Dimana itu, Bib?”

Bang Abu yang sudah di kompleks makam Mbah Daeng langsung mendekat, menyalami Habib Luthfi dan bersiap mengantarkan ke Makam Mbah Daeng ketika itu juga. “Alhamdulillah, Habib Luthfi kasyyaf,

tahu keinginan saya. Mungkin Mbah Sabilan bilang langsung ke Abah Luthfi kalau saya habis marah-marah tidak karuan di makamnya kemarin,” tuturnya.

Dalam ziarah pertama Habib Luthfi ke makam Mbah Sabilan itu, apa yang selama ini digelisahkan Bang Abu terjawab dengan mudah. Tanpa tirakat panjang, nasab itu diserahkan terbuka kepada Bang Abu dari Habib Luhti, dicatat Kyai Masduki, Sowan, Kedung, Jepara.

Nama asli Mbah Sabilan adalah Habib Abdurrahman Basyaiban. Sabilan adalah nama samaran yang digunakan untuk menghindari tekanan politik Belanda, yang berarti jalan. Ketika itu, keturunan Arab dianggap penjajah sebagai orang yang suka “meracuni” umat Islam. Penamaan tersebut terkait tentang apa, belum diketahui jelas. Yang pasti, Mbah Sabilan hidup 350 tahun lalu ketika Pahlawan Nasional yang legendaries bernama Untung Suropati masih hidup (1660-1706 M).

Silsilah lengkapnya: Abdurrahman bin Abdurrahim bin Abdullah bin Umar bin Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar, yang dikenal sebagai datuk marga Basyaiban. Habib Abu Bakar Basyaiban ini adalah putra dari Muhammad As’adillah bin Hasan Atturabi bin Ali bin Muhammad al-faqih Muqaddam bin Ali bin Muhammad Sahib Murbad bin Ali Khala’ Ghasam bin Alwi bin Muhammad bin Ali Alawiyyin bin Ubaidillah bin

Ahmad al-Muhajir bin Isa Arrumi bin Muhammad An-Nagieb bin Ali Uraidli bin Ja’far Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin al-Imam Husain bin Fatimah Zahra (zaujah Ali bin Abi thalib) binti Muhammad Rasulullah shallahu alaihi wa sallam. Ini peta makam Mbah Sabilan:

Menurut salah satu pembaca kami, keturunan Mbah Sabilan Abdurrahman ada yang tinggal di Desa Babalan, Kec. Wedung, Kab. Demak. Namanya adalah Kiai Ismail bin Umar Hamdan Basyaiban. Keterangan ini dikirim via email redaksidutaislam@gmail.com pada 6 Juli 2016.

Watu Bobot Jika diruntut, Mbah Sabilan adalah keturunan ke 29 dari Rasulullah. Menurut Habib Luthfi, Mbah Sabilan berasal dari Cirebon. Karena itulah, Bang Abu mengaku belum mengetahui makam ayahanda beliau, yakni Habib Abdurrahim Basyaiban. “Saya belum klarifikasi ke Rabithah (organisasi penashih jalur keturunan Rasulullah). Namun keturunannya ada banyak yang mukim di Magelang, Jawa Tengah,” kata Bang Abu.

Cerita yang beredar, dulu di makam Mbah Sabilan ada batu keramat yang disebut watu bobot. Yakni dua batu dengan berat yang sulit diangkat oleh perorangan jika ia tidak punya hajat. Panjanganya sekitar 40 cm dengan lebar 50 cm dan tinggi 60 cm. Dua batu itu, masing-masing disebut wadah kitab dan wadah gaman.

Bagi pezirah yang ingin tawassul agar pendidikannya lancar, ia bisa mengangkat wadah kitab. Jika kuat mengangakat, maka itu isyarah bahwa keinginnannya akan dikabulkan oleh Allah di kemudian hari. Jika tidak kuat mengangkat, maka tanda harus lebih bekerja keras lagi agar mendapatkan rejeki banyak. Ini untuk watu bobot wadah gaman.

Kini, batu itu sudah tidak ditemukan di kawasan makam. Bukan raib, tapi dicuri orang. Menurut Bang Abu, watu bobot itu ada di sebuah museum di Semarang. Walaupun begitu, Mbah Sabilan tetap masih diingat warga sebagai waliyullah penyebar agama Islam tiap minggu akhir bulan Rajab. Pada tahun ini, jatuh pada 1 Mei 2016. [KARTANU/ab]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/04/mbah-sabilan-dzurriyah-rasul-ke-29-yang-berjuang-semasa-untung-suropati.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KARTANU sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KARTANU. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KARTANU dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock