Tampilkan postingan dengan label Dalil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dalil. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Juli 2013

Abbas Undang Paus Ke Yerussalem

Vatikan, KARTANU. Presiden Palestina Mahmoud Abbas pada Kamis (17/10), mengundang Paus Francis untuk mengunjungi tanah suci Yerussalem, katanya selama audiensi di Vatikan, seperti dilaporkan oleh AFP dan dilansir oleh al arabiya.

Abbas berbicara dengan pejabat hubungan luar negeri Vatikan Dominique Mambert setelah audiensi dan mengatakan, merupakan kehormatan untuk mengundang beliau di tanah suci.

Abbas Undang Paus Ke Yerussalem (Sumber Gambar : Nu Online)
Abbas Undang Paus Ke Yerussalem (Sumber Gambar : Nu Online)


Abbas Undang Paus Ke Yerussalem

Dalam kunjungan yang dilakukan oleh Presiden Israel Simon Peres April lalu, ia juga mengundang Paus untuk berkunjung ke Yerussalem.

KARTANU

Francis telah mengatakan, dia berkeinginan untuk melakukan perjalanan ke Yerussalem, tetapi Vatikan belum mengkonfirmasikan rencana perjalanan tersebut, meskipun TV Israel Channel 2 melaporkan kunjungan tersebut akan dilakukan pada Maret.

KARTANU

Francis telah mengatakan dia ingin berkunjung dengan patriark Konstantinopel Bartholomew I, pemimpin spiritual Kristen Ortodoks.

Abbas merupakan pemimpin Timur Tengah keempat yang bertemu dengan Paus Francis setelah Peres, presiden Lebanon Michel Suleiman dan Raja Abdullah dari Yordania.

Dalam pertemuan tersebut Abbas dan Francis membahas perang sipil di Suriah dan prospek perdamaian antara Palestina dan Isreal, kata sumber dari Vatikan seperti dikutip oleh Arabnews.

Vatikan mendesak kedua belah pihak untuk membuat keputusan lebih berani dan lebih dekat menuju perdamaian, dengan bantuan komunitas internasional. (Mukafi Niam)

Foto: AP

Dari (Internasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/47694/abbas-undang-paus-ke-yerussalem

KARTANU

Jumat, 12 April 2013

Ketum PBNU Dianggap Tidak Tegas oleh ICMI dalam Kasus Ahok-Kiai Maruf, Ente Umat Kompor?

KARTANU - Muhammad Nasih, doktor pengajar Ilmu Politik di Universitas Indonesia Jakarta menyebut kalau jamaah NU di semua tingkatan marah atas sikap Ahok yang menyerang Ketua Umum MUI KH Ma'ruf Amin di persidangan.

Karena itulah, Nasih yang bicara atas nama anggota Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) itu, menyayangkan sikap Ketum PBNU KH Said Aqil Siraj yang dianggapnya diam, bungkam.

Ketum PBNU Dianggap Tidak Tegas oleh ICMI dalam Kasus Ahok-Kiai Maruf, Ente Umat Kompor? - KARTANU
Ketum PBNU Dianggap Tidak Tegas oleh ICMI dalam Kasus Ahok-Kiai Maruf, Ente Umat Kompor? - KARTANU


Ketum PBNU Dianggap Tidak Tegas oleh ICMI dalam Kasus Ahok-Kiai Maruf, Ente Umat Kompor?

"Yang dilakukan Ahok itu jelas-jelas melakukan penistaan. Mestinya, Ketua Umum PBNU mengambil sikap yang tegas terhadap Ahok," tuduh Nasih, sebagaimana dimuat situs kanigoro.com, dengan judul "Tokoh ICMI Ini Sayangkan Sikap Ketum PBNU yang Bungkam Sikapi Ahok vs Ma’ruf Amin", Kamis (02/02/2017).

"PBNU sudah bersikap kok," bantah Agus, pengurus LTN PBNU, atas kompor komentar tokoh ICMI muda pendiri Monas Institute Semarang itu, Kamis (02/02/2017) petang. Cara yang dilakukan Ketum PBNU untuk mengatasi masalah kecil soal Ahok, katanya, tidak pakai pengerahan massa seperti FPI tentunya.

KARTANU

Cara seorang tokoh yang paham politik semacam Kiai Said adalah menginisiasi silaturrahim antara Menko Kemaritiman Luhut B Pandjaitan, Kapolda Metro Jaya Irjen M Iriawan, dan Pangdam Jaya Mayjen TNI Teddy Lhaksmana dengan Ma'ruf Amin.

KARTANU

"Kita menyayangkan, kita sangat menyayangkan kiai sepuh, simbol NU simbol ulama Indonesia, kedatangan jadi saksi harus kita hargai," kata Kiai Said, sebagaimana dimuat Detikcom, Kamis (02/02/2017).

Sekjend PBNU Helmy Faishal juga melakukan langkah yang sama. Dalam kasus ini, banyak pihak menyayangkan sikap-sikap kompor yang sengaja disulut untuk memancing amarah nahdliyyin. Berita pertemuan antar tokoh yang diinisiasi Kiai Said pun digoreng situs kompor abadkini.com dengan judul, "Apa Pangkat Ahok Sehingga Tiga Jenderal Mewakilinya Minta Maaf ke KH Ma’ruf?".

Umat kompor sebelah, kata Abdullah Hamid, Netizen NU di Surabaya, selalu membuat gaduh tiap langkah PBNU yang dianggap kurang tegas seperti tuduhan tokoh muda ICMI itu. "Gus Dur pernah bilang, wala ta'awanu alal ICMI wal udwan/ jangan saling tolong menolong atas perbuatan (dosa) ICMI dan permusuhan," katanya kepada KARTANU, Kamis (02/02/2017) petang. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/ketum-pbnu-dianggap-tidak-tegas-oleh-icmi-dalam-kasus-ahok-kiai-maruf.html

Sabtu, 16 Februari 2013

Nahdliyin told to be brilliant in dealing with the nations situation

Blitar, KARTANU. The Jihad resolution issued by Nahdlatul Ulama (NU), the countrys largest Muslim organization, on October 22, 1945, was a significant contribution of NU Muslim scholars (ulema) in dealing with the nations situation in the time. The NUs success should inspire all of the NU followers (Nahdliyin) to be capable of reading the current situation.

According to Ach. Dofir Zuhri that all NU cadres must restore their critical reasoning in reading the nations situation, since challenges faced by NU and the nation are highly complex such as economic, cultural, political, and so forth.

Nahdliyin told to be brilliant in dealing with the nations situation (Sumber Gambar : Nu Online)
Nahdliyin told to be brilliant in dealing with the nations situation (Sumber Gambar : Nu Online)


Nahdliyin told to be brilliant in dealing with the nations situation

"For that reason, restoring the critical reasoning is essential in todays conditions, namely the cold war or a war of ideology," he said at a meeting held by Lakpesdam NU of Blitar here on Saturday (26/10).

Meanwhile, Syaiful Maarif speaking at the forum said that now NU had not had ulema whose charisma and sufi attributes such as wara (scrupulous abstinence) are the same as such NU ulema as KH Hasyim Asyari, KH Wahab Hasbullah and KH Wahid Hasyim.

KARTANU

"Thats why, NU cadres, especially todays clerics must reflect and imitate the ulema personalities," he explained.

KARTANU

The Secretary Lakpesdam NU of Blitar Gigih Wardana said the commemoration of the NU jihad resolution should be annual agenda.

"The commemoration is a reflection momentum for NU cadres to continue the ulema and pesantren struggle in fighting for the Indonesian independence," he said.

As we know, the founder of Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asyari issued the jihad resolution for supporting and encouraging Muslims to join the battle and fight against the reoccupation of Indonesia by foreign troops.

The fatwa followed a meeting of ulema from Java and Madura in Surabaya to respond to the proclamation of Indonesias independence by Sukarno and Mohammad Hatta in Jakarta on Aug. 17, 1945.

The fatwa was written in pegon, an Arabic script but in Indonesian or Javanese (Amiq, 1998; 88). It says, among other things, that there is an obligation (fardlu ain) for Muslims to fight against infidels (the Dutch) in order to defend Indonesian independence, that those who died during the fight against NICA (Netherland Indies Civil Administration) would be considered martyrs and the killing of those who undermine the movement and break national unity is legitimate. This fatwa later on became well-known as the Jihad Resolution.

Naturally, the issuance of the fatwa stimulated fighters to stream into Surabaya and fight the Allied troops. The fighters included followers of the Hizbullah and Sabilillah groups from Surabaya and the surrounding cities such as Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Jombang and others.

Reporting by Imam Kusnin; Editing by Sudarto Murtaufiq

Dari (Regional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/47874/nahdliyin-told-to-039be-brilliant-in-dealing-with-the-nation039s-situation039

KARTANU

Sabtu, 16 Juni 2012

Pekalongan Dibanjiri Ulama Peserta Konferensi Internasional Belanegara

KARTANU - Para tamu dari berbagai daerah telah sampai di Pekalongan untuk mengikuti berbagai rangkaian acara Konferensi Internasional Bela Negara. Nampak di antara para tamu tersebut ialah ulama sepuh kharismatis, KH Maimun Zubair, pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang.

Para tamu siang ini sudah mulai melakukan registrasi dan mendapat ID Card resmi untuk mengikuti Konferensi Internasional Bela Negara yang akan digelar pada 27-29 Juli 2016 di kota Pekalongan. Menurut salah satu panitia, Dani, pada siang hari ini registrasi peserta dilakukan di dua tempat.

Pekalongan Dibanjiri Ulama Peserta Konferensi Internasional Belanegara - KARTANU
Pekalongan Dibanjiri Ulama Peserta Konferensi Internasional Belanegara - KARTANU


Pekalongan Dibanjiri Ulama Peserta Konferensi Internasional Belanegara

“Hari ini, registrasi peserta konferensi dilaksanakan di dua tempat, sebagian tamu melakukan registrasi di Hotel Santika, sedangkan sebagian lagi melakukan registrasi di Gedung Kanzus Sholawat,” ujarnya.

KARTANU

Untuk peserta yang sudah melakukan registrasi di antaranya peserta dari Jakarta, Banten, Papua, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat. Untuk wilayah Bali, Maluku , dan lain-lain diperkirakam akan sampai sore ini.

Sebelumnya, panitia Konferensi Internasional Bela Negara mengirim undangan acara kepada para ulama, mursyid, muqoddam, khalifah, pengasuh pesantren, pengurus JATMAN, TNI, POLRI, dan tokoh masyarakat dari dalam maupun luar negeri.

KARTANU

Ada beberapa persyaratan yang harus diserahkan oleh para tamu untuk melakukan registrasi. Di antaranya, harus membawa surat mandat dari panitia. Menurut Nala Riskiati, salah satu panitia registrasi, setelah melakukan registrasi peserta akan diantar ke penginapan.

Lokasi acara registrasi cukup kondusif dan aman. Bapak Sugianto, salah satu personil Polsek Pekalongan Timur, menyatakan telah menerjunkan 15 personil untuk membantu kelancaran registrasi di Gedung Kanzus Sholawat. Sementara di Hotel Santika, pengamanan tak kalah ketat. Nampak belasan personil polisi dan jibom yang diturunkan untuk mengamankan lokasi.

KH. Dr. Hamdani, pengurus JATMAN yang ikut mengawasi proses registrasi, sangat antusias atas acara yang digagas oleh Al-Habib Lutfi Bin Yahya ini.

“Saya pikir ini adalah sejarah, sehingga thariqah tidak hanya dikonotasikan sebagai orang-orang yang ahli dzikir, tetapi juga memiliki komitmen nasionalisme. Bahkan ini mendunia! Dengan acara Konferensi Internasional Ulama Thariqah sedunia ini menunjukan bahwa ahli thariqah itu juga berkontribusi kepada dunia dalam hal peradaban, dan kemanusiaan yang berdasarkan atas perdamaian dunia. Dan itu adalah suatu sejarah yang mungkin belum terjadi sebelumnya. Kita patut mengapresiasi kegiatan ini, terutama kepada Habib Lutfi sebagai Rais ‘Aam JATMAN yang memelopori dan menggagas acara ini. Patut kita syukuri dan teladani," ujarnya.

Ia juga berharap, acara ini bisa ditindaklanjuti dari apa yang dibahas dalam konfrensi. “Harapan saya, kita bisa melanjutkan dan menindaklanjuti acara semacam ini, sebagaimana dhawuh Habib Lutfi, bahwa thariqah harus memberikan keteladanan di tengah konflik yang banyak terjadi saat ini,” pungkasnya.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/07/pekalongan-dibanjiri-ulama-peserta-konferensi-internasional-bela-negara.html

Rabu, 28 Desember 2011

Penting bagi Guru PAI Perkuat Paham Islam Moderat

Jakarta, KARTANU. Saat ini radikalisme sudah pada taraf menyasar anak-anak usia sekolah. Hal ini memberikan konsekuensi kepada guru PAI agar lebih memperkuat dan membekali diri dengan pemahaman Islam moderat atau Al-Wasathiyah.

Hal ini disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam KH Hasyim Muzadi dalam kegiatan Sarasehan Nasional bertajuk Potensi Pendidikan Islam menjadi Rujukan Pendidikan Moderat Dunia, Senin (13/6) di Hotel Mercure Ancol, Jakarta Utara yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama.

Penting bagi Guru PAI Perkuat Paham Islam Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)
Penting bagi Guru PAI Perkuat Paham Islam Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)


Penting bagi Guru PAI Perkuat Paham Islam Moderat

Kiai Hasyim menjelaskan bahwa istilah moderat jika merujuk kepada Hadis yaitu Al-Hanifiyah Samhah. Istilah ini bisa diartikan sebagai agama yang baik dan lurus namun tidak meninggalkan identitas dan menolak tradisi.

KARTANU

Rasulullah SAW diutus untuk membawa agama yang Al-Hanifiyah Samhah. Hal ini dipraktikkan oleh sahabat dan ulama-ulama terdahulu. Ulama dulu sangat Hanif, mendalam agamanya tetapi moderat dalam berdakwah, jelas Kiai Hasyim ini di hadapan sekitar 400 instruktur PAI nasional.

Para ulama terdahulu, lanjut Hasyim, dalam berdakwah sangat terbuka. Jika ada perbedaan pendapat, mereka menyikapinya dengan arif dan bijak. Mereka melakukan dakwah dengan ramah dan sejuk, tidak memaksakan kehendak dalam masalah agama.

KARTANU

Jika bisa ditarik syukur, tapi kalau tidak bisa ya tidak memaksakan kehendak. Jadi ulama zaman dulu itu banyak mengislamkan orang kafir dengan dakwah ramahnya. Tapi zaman sekarang kebalik, kelompok Islam tertentu malah mengafirkan sesama Islam. Inilah bedanya Waliyullah dengan Wali Jenggot, ucap Hasyim diikuti riuh tawa peserta.

Lebih jauh, Ketua Umum PBNU periode 2000-2010 ini mendorong kepada seluruh instruktur PAI, baik dari unsur guru, kepala sekolah, dan pengawas untuk memperkuat paradigma Al-Hanifiyah Samhah ini.

Hal ini, kata Hasyim, mengingat paham radikal telah sampai pada taraf aksi bukan lagi wacana. Dalam hal inilah menurutnya, guru harus mampu menjadi jembatan untuk para generasi muda untuk menyambungkan sumber-sumber hukum Islam dengan realitas zaman yang selalu berubah dengan tidak meninggalkan tradisi. (Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/68962/kiai-hasyim-penting-bagi-guru-pai-perkuat-paham-islam-moderat

KARTANU

Selasa, 15 November 2011

Akhirnya Habib Rizieq Ditetapkan Tersangka Penodaan Pancasila oleh Polda Jabar

KARTANU - Polda Jabar menetapkan imam besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab (HRS) sebagai tersangka kasus dugaan penodaan Pancasila. Penetapan HRS sebagai tersangka berdasarkan hasil rangkaian gelar perkara tahap penyidikan yang dilakukan tim penyidik Ditreskrimum Polda Jabar.

Akhirnya Habib Rizieq Ditetapkan Tersangka Penodaan Pancasila oleh Polda Jabar - KARTANU
Akhirnya Habib Rizieq Ditetapkan Tersangka Penodaan Pancasila oleh Polda Jabar - KARTANU


Akhirnya Habib Rizieq Ditetapkan Tersangka Penodaan Pancasila oleh Polda Jabar

"Penyidik meningkatkan status Rizieq Syihab dari saksi terlapor menjadi tersangka," kata Kabidhumas Polda Jabar Kombes Yusri Yunus di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Senin (30/1/2017), sebagaimana diberitakan Detikcom.

Gelar perkara ketiga ini berlangsung hari ini selama tujuh jam atau sejak pukul 11.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB. Sebelumnya, pagi hari tadi, penyidik minta keterangan tambahan kepada satu saksi ahli. Tercatat, menurut Yusri, sebanyak 18 saksi sudah didengarkan keterangannya oleh penyidik berkaitan dengan kasus tersebut.

Yusri menjelaskan pihak penyidik Ditreskrimum Polda Jabar melakukan analisis dan evaluasi dalam gelar perkara. Tim penyidik, lanjut Yusri, bekerja mengumpulkan keterangan saksi-saksi dan alat bukti untuk menguatkan sangkaan terhadap HRS.

HRS disangkakan melanggar Pasal 154 a KUHP tentang Penodaan terhadap Lambang Negara dan Pasal 320 KUHP tentang Pencemaran terhadap Orang yang Sudah Meninggal. "Perkara penistaan Pancasila dan pencemaran proklamator ini seluruhnya sudah masuk unsur dan alat bukti yang cukup," tutur Yusri.

Kasus yang menjerat Rizieq merupakan buntut dari pelaporan Sukmawati Soekarnoputri. Ketua Partai Nasional Indonesia (PNI) Marhaenisme tersebut menganggap Rizieq melakukan penodaan terhadap lambang dan dasar negara Pancasila serta menghina kehormatan martabat Sukarno selaku proklamator kemerdekaan Indonesia dan presiden pertama Indonesia.

Bareskrim Mabes Polri semula menerima laporan Sukmawati, lalu melimpahkan perkara tersebut kepada Polda Jabar. Alasannya, tempat kejadian atau area ceramah HRS yang dianggap melecehkan Pancasila ini berlokasi di Lapangan Gasibu, Kota Bandung, atau masuk wilayah hukum Polda Jabar. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/akhirnya-habib-rizieq-ditetapkan-tersangka-penodaan-pancasila-oleh-polda-jabar.html

Minggu, 06 November 2011

Gus Mus: Kalau Mau Bicara Islam, ya Mengaji, Jangan dari Buku Terjemahan

KARTANU - Pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak baru akan berlangsung 15 Februari mendatang. Akan tetapi, iklim politik sudah mulai memanas. Potensi penggunaan isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) dalam pilkada pun telah bermunculan. Salah satunya, meruaknya kontroversi terkait pidato Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Kepulauan Seribu beberapa waktu lalu.

Ahok pun belakangan dituduh menistakan agama Islam. KH Mustofa Bisri, pengasuh Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin atau Taman Pelajar Islam, Desa Leteh, Rembang, Jateng, yang karib disapa Gus Mus, melihat fenomena itu akibat kondisi masyarakat yang belum siap menerima perbedaan.

Gus Mus: Kalau Mau Bicara Islam, ya Mengaji, Jangan dari Buku Terjemahan - KARTANU
Gus Mus: Kalau Mau Bicara Islam, ya Mengaji, Jangan dari Buku Terjemahan - KARTANU


Gus Mus: Kalau Mau Bicara Islam, ya Mengaji, Jangan dari Buku Terjemahan

Untuk mengetahui lebih jauh pandangan Gus Mus, wartawan KARTANU, Furqon Ulya Himawan, mewawancarai kiai karismatik itu, Jumat (14/10). Berikut petikan wawancara, yang disajikan Duta Islam untuk memberikan pencerahan kepada umat Islam.

KARTANU: Kasus intoleransi kerap berlangsung. Apa yang salah?

Ahmad Mustofa Bisri: Menurut saya, itu akibat dari masa lalu yang tidak kunjung direformasi. Reformasi itu kan islah, ndandani kalau dalam bahasa Jawa. Ndandani atau memperbaiki itu harusnya dicari masalah-masalahmana yang rusak, yang diperbaiki itu mana, akar masalahnya apa, harus diteliti dulu baru direformasi.

Namun, sekarang yang terjadi, hiruk-pikuk reformasi itu ternyata melahirkan orang-orang yang seharusnya direformasi justru malah berteriak paling reformis. Jadi sebetulnya kan masalah itu terjadi pada saat dulu, yang akan kita reformasi.

KARTANU: Contohnya, Gus?

Ahmad Mustofa Bisri: Dulu ada kecenderungan zaman Orde Baru untuk menyeragamkan semua. Bukan hanya pakaian seragam, menanam padi, sampai-sampai mengecat pagar rumah sendiri juga harus seragam. Bahkan masjid pun diseragamkan semua, dengan alasan harmonis. Akibatnya, masyarakat tidak bisa berbeda karena terlalu lama diseragamkan, akhirnya masyarakat kita kaget-kaget kalau ada perbedaan.

KARTANU: Dampaknya terhadap keberagaman dan kebinekaan?

Ahmad Mustofa Bisri: Pertama, masyarakat kita susah menerima perbedaan. Beda sedikit marah, beda sedikit marah. Itu akibat menyeragamkan semua hal dan itu melawan fitrah. Padahal, Tuhan menciptakan alam semesta termasuk kita semua itu dalam kondisi berbeda-beda, jadi tidak akan bisa kalau memang mau disatukan atau diseragamkan.

Kedua, seperti burung yang lama dikurung dalam sangkar, ketika sangkar dibuka, dia malah kebingungan, nabrak sana-sini karena sudah lama tidak merasakan kebebasan. Ketika keran kebebasan dibuka, malah bingung. Padahal, dulu itu teriak saja susah, selalu bunyinya satu, setuju. DPR itu dulu kalau teriak ya setuju, apa saja pokoknya setuju. Sampai-sampai ada ledekan: ada kucing masuk parlemen, ngeong, langsung serempak setuju.

Setelah sekian lamanya hanya bisa bilang setuju, sampai saya bikin sajak 'Negeri Ya, Ya'. Terus sekarang, DPR isinya interupsi semua, ngomong semua, seperti burung yang baru dikeluarkan. Terus yang dulunya tiarap-tiarap, sekarang muncul semua. Ini gara-gara berbagai macam permasalahan islah yang masih belum dilakukan. Jadi banyak persoalan ini yang sumbernya dari reformasi yang tidak sungguh-sungguh.

KARTANU: Sekarang banyak yang bertindak intoleran, menganggap diri paling benar. Ada pula yang mengatasnamakan Islam. Menurut Gus Mus?

Ahmad Mustofa Bisri: Saya selalu mengatakan, harus terus belajar dan jangan berhenti belajar. Orang kalau mau terus belajar, nanti akan mengerti dan memahami apa-apa yang sebelumnya belum dimengerti dan dipahami. Namun, ini payahnya, orang berhenti belajar karena dia merasa sudah mengerti dan memahami. Padahal, sama sekali belum mengerti apa-apa, malah kadang-kadang sudah berfatwa ke sana kemari.

KARTANU: Caranya belajar?

Ahmad Mustofa Bisri: Ya, ini jadi harus terus belajar. Belajarlah supaya mengerti yang menyeluruh, kalau mau bicara Islam, ya mengaji, jangan mengambil Islam dari buku-buku terjemahan, Al-Quran terjemahan, hadis terjemahan. Ini tidak mungkin. Terus kadang orang bilang kembali ke Al-Quran dan Hadist, tapi orang salah memaknai maksud itu.

KARTANU: Maksudnya?

Ahmad Mustofa Bisri: Orang mengatakan kembali ke Al-Quran dan sunah Rasul itu kok malah maknanya kembali ke Al-Quran dan hadis terjemahan Depag, itu bagaimana, itu kacau! Orang bisa membaca terjemahan Depag asal dia bisa baca Latin, dan dikiranya kebenaran yang dibaca dan dipelajarinya itu kebenaran mutlak. Ia tidak tahu bahwa bahasa Arab Al-Quran tidak sama.

Jadi teruslah belajar bahasa Arab, harus belajar ilmu Balagoh, ilmu Badi' dan Bayan karena Al-Quran itu mengandung itu semua, sastranya tinggi sekali. Jadi, kalau orang hanya membaca terjemahan tidak tahu sastra ya tidak mungkin, tidak bisa, harus mengaji.

Jadi silakan mengatakan kembali ke Al-Quran dan hadist itu dijadikan semboyan, tapi ya kembali itu belajar dan terus belajar, harus mengaji. Tidak diartikan bacalah terjemahan Al-Quran, atau 40 hadist di buku-buku mutiara hadis, itu ngacau!

KARTANU: Menjelang pilkada, banyak konflik yang mengancam keberagaman dan berpotensi memecah kebinekaan. MUI sampai mengeluarkan fatwa. Menurut Gus Mus?

Ahmad Mustofa Bisri: Kita sekarang lupa, bahwa yang menentukan orang menjadi kaya, menjadi miskin, menang dan kalah, memiliki kekuasaan atau kehilangan kekuasaan, dan menjadi penguasa atau tidak, menjadi pangkat atau tidak, itu semua Allah Subhanahu wata'ala. Disangka kalau kita ngotot, berarti pasti jadi?!

KARTANU: Bagaimana agar tidak terjadi perpecahan di pilkada, Gus?

Ahmad Mustofa Bisri: Saya selalu mengatakan janganlah berlebih-lebihan dalam segala hal. Itu di Islam tidak boleh! Wala tusrifu, (jangan berlebihan), atau Ghuluw, banyak dalam ayat-ayat Al-Quran dan Sabda Rasullullah Sallahhu Alaihi Wassalam menyatakan tidak boleh, alguluw fiddin (berlebihan dalam agama), berlebih-lebihan itu tidak boleh. Karena berlebih-lebihan itu akibatnya orang tidak bisa berpikir adil, tidak bisa istiqomah, tidak bisa objektif.

Jadi, kalau selama kita masih bersikap berlebih-lebihan dalam segala aspek kehidupan kita, sangat sulit kita untuk berpikir jernih, tidak bisa. Sebab adil itu jejek (Gus Mus mengisyaratkan tangannya berdiri tegak, lurus), sedangkan berlebih-lebihan itu begini (Gus Mus mengisyaratkan tangannya berdiri condong ke kanan), atau begini (Gus Mus mengisyaratkan tangannya berdiri condong ke kiri), tidak bisa. Karena apa pun nanti akan dijadikan alasan untuk berkelahi.

Jadi, kalau kita misalnya senang berlebih-lebihan, benci berlebih-lebihan, senang dunia berlebihan, senang kekuasaan berlebihan, senang pangkat berlebihan, senang kedudukan berlebihan, apa pun itu yang berlebihan, itu semua sumber malapetaka. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/gus-mus-kalau-mau-bicara-islam-ya-mengaji.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KARTANU sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KARTANU. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KARTANU dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock