Tampilkan postingan dengan label Santri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Santri. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Juni 2016

STAINU Malang Ingin Santri Bisa Kuliah

Malang, KARTANU. Menyertakan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai bagian dari nama perguruan tinggi mungkin dianggap dapat membatasi ruang karena seakan hanya spesifik bagi kalangan NU dan pondok pesantren. Namun bagi Rais Syuriyah Pengurus Cabang NU Kabupaten Malang, KH Muh. Mansjur, pemberian nama NU didasari cita-cita ingin membantu para santri atau alumni pondok pesantren yang ingin menempuh jalur pendidikan tinggi. Maka sekolah tinggi yang didirikannya di daerah Karangploso, Malang, dinamai Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Malang.

Hampir semua sekolah NU baik di tingkat dasar, menengah maupun tinggi tidak mau memakai nama NU. Mungkin ini karena persaingan. Pemberian nama NU seakan-sekan-akan sekolah itu hanya spesifik untuk kalangan NU saja. Namun kata Kiai (KH Muh. Mansjur), kita tetap pakai nama NU, demikian disampaikan Pujiono Pembantu Ketua III, kepada KARTANU di kampus STAINU Malang, Ahad (5/2).

STAINU Malang Ingin Santri Bisa Kuliah (Sumber Gambar : Nu Online)
STAINU Malang Ingin Santri Bisa Kuliah (Sumber Gambar : Nu Online)


STAINU Malang Ingin Santri Bisa Kuliah

STAINU Malang baru berdiri pada 2010 lalu dengan membuka dua jurusan, yakni Ekonomi Syariah (Fak. Syariah) dan Manajemen Pendidikan Islam (Fak. Tarbiyah), dua jurusan yang saat ini diminati dan diharapkan dapat meningkatkan peran para alumni pesantren. Namun sebenarnya proses perkuliahan sudah dimulai pada 2003, bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Tarbiyah (STIT) Raden Rahmat, Kepanjen, Malang.

Selama dua tahun berjalan, dari 160 mahasiswa yang terdaftar di dua angkatan ini banyak juga mahasiswa yang berasal dari kalangan luar NU atau pesantren, bahkan ada yang lulusan dari sekolah Muhammdiyah. Jadi anggapan bahwa STAINU hanya diminati kalangan NU ternyata tidak sepenuhnya benar, dan STAINU akan terus berbenah dalam rangka meningkatkan kualitas di ri di tengah persaingan.

KARTANU

Di luar urusan persaingan, pemberian nama STAINU juga ada untungnya. Dengan memakai nama NU, STAINU Malang lebih bisa bekerjasama dengan pondok-pondok pesantren di Malang dan sekitarnya.

Kami sering bersilaturahmi dan bersosialisasi ke pondok-pondok pesantren di Malang dan kami disambut baik, karena sangat jelas identitas ke-NU-annya. Banyak pengasuh pesantren dan orang tua santri yang khawatir jika ke-NU-an anaknya hilang ketika masuk perguruan tinggi lain, kata Pujiono.

KARTANU

Selain materi-materi perkuliahan pada umumnya, di STAINU ini ada materi khusus mengenai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) atau ke-NU-an yang rencananya akan diajarkan sampai sampai tiga kali, yakni Aswaja 1, 2 dan 3 pada semester II, IV dan VI.

Saat ini STAINU Malang juga berkerjasama dengan Pondok Pesantren Al-Yasini Pasuruan. Pesantren ini mengirimkan 48 mahasiswanya karena izin pendirian perguaruan tinggi yang diajukan hingga saat ini belum keluar, sementara perkuliahan sudah berlangsung dua tahun ini.

STAINU Malang berdekatan dengan Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan salah satu universitas NU yang sudah lebih dulu berdiri yakni Universitas Islam Malang (Unisma). Namun secara geografis STAINU terletak di posisi yang cukup strategi di jalan utama dari arah Surabaya atau Malang Kota ke Batu dan Kediri. STAINU berharap diminati oleh para calon mahasiswa dari Kota Batu.

Di Batu jarang ada madrasah Aliyah (MA), sementara program Paket C digalakkan di sana. Namun yang lebih penting kami ingin memfasilitasi para alumni pesantren di eilayah Batu dan sekitarnya. Banyak alumni pesantren yang tersandung persoalan formalitas, kata Pujiono.

Menurut Puji, salah satu keinginan STAINU adalah memfasilitasi alumni pesantren yang hanya punya ijazah paket C. Dari seluruh mahasiswa yang terdaftar, sekitar 10 persennya berijazah Paket C. Intinya kami ingin santri kuliah, kata Puji.

Para alumni pesantren atau para siswa yang menempuh Paket C umumnya tidak terlalu akrab dengan materi-materi umum, namun para lulusan pesantren mempunyai kemampuan pemahaman ilmu-ilmu keislaman dengan sangat baik, terutama yang berasal dari literatur Arab. Singkatnya, STAINU ini dimaksudkan untuk membebaskan santri dari belenggu formalitas pendidikan.

Penulis : A. Khoirul Anam

STAINU Malang Berharap Santri Bisa Kuliah

Malang, KARTANU. Menyertakan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai bagian dari nama perguruan tinggi mungkin dianggap

dapat membatasi ruang karena hanya spesifik bagi kalangan NU dan pondok pesantren. Namun

bagi Rais Syuriyah Pengurus Cabang NU Kabupaten Malang, KH Muh. Mansjur, pemberian nama NU

didasari cita-cita ingin membantu para santri atau alumni pondok pesantren yang ingin

menempuh jalur pendidikan tinggi. Maka sekolah tinggi yang didirikannya di daerah

Karangploso, Malang, dinamai Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Malang.

Hampir semua sekolah NU baik di tingkat dasar, menengah maupun tinggi tidak mau memakai

nama NU. Mungkin ini karena persaingan. Pemberian nama NU seakan-sekan-akan sekolah itu

hanya spesifik untuk kalangan NU saja. Namun kata Kiai kita tetap pakai nama NU, kata

Pujiono Pembantu Ketua III, kepada KARTANU di kampus STAINU, Malang, Ahad (5/2).

STAINU Malang baru berdiri pada 2010 lalu dengan membuka dua jurusan, yakni Ekonomi Islam

dan Manajemen Pendidikan Islam, dua jurusan yang saat in diminati dan diharapkan dapat

meningkatkan peran para alumni pesantren. Namun sebenarnya proses perkuliahan sudah dimulai

pada 2003, bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Tarbiyah (STIT) Raden Rahmat, Kepanjen, Malang.

Dari 160 mahasiswa yang terdaftar di dua angkatan ini banyak juga mahasiswa yang berasal

dari kalangan luar NU atau pesantren, bahkan ada yang lulusan dari sekolah Muhammdiyah. Jadi

anggapan bahwa STAINU hanya diminati kalangan NU ternyata tidak sepenuhnya benar, dan STAINU

akan terus berbenah dalam rangka meningkatkan kualitas di ri di tengah persaingan.

Di luar urusan persaingan, pemberian nama juga ada untungnya. Dengan memakai nama NU, STAINU

Malang lebih bisa bekerjasama dengan pondok-pondok pesantren di Malang dan sekitarnya.

Kami sering bersilaturahmi dan bersosialisasi ke pondok-pondok pesantren di Malang dan kami

disambut baik karena mungkin sangat jelas identitas ke-NU-annya. Banyak pengasuh pesantren

dan orang tua santri yang khawatir jika ke-NU-an anaknya hilang ketika masuk perguruan

tinggi lain, kata Pujiono.

Selain materi-materi perkuliahan pada umumnya, di STAINU ini ada materi khusus mengenai

Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) atau ke-NU-an yang rencananya akan diajarkan sampai sampai

tiga kali, yakni Aswaja 1, 2 dan 3 pada semester II, IV dan VI.

Saat ini STAINU Malang juga berkerjasama dengan Pondok Pesantren Al-Yasini Pasuruan.

Pesantren ini mengirimkan 48 mahasiswanya karena izin pendirian perguaruan tinggi yang

diajukan hingga saat ini belum keluar, sementara perkuliahan sudah berlangsung dua tahun

ini.

STAINU Malang berdekatan dengan Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Universitas

Muhammadiyah Malang (UMM) dan salah satu universitas NU yang sudah lebih dulu berdiri yakni

Universitas Islam Malang (Unisma). Namun secara geografis STAINU terletak di posisi yang

cukup strategi di jalan utama dari arah Surabaya atau Malang Kota ke Batu dan Kediri. STAINU

berharap diminati oleh para calon mahasiswa dari Kota Batu.

Di Batu jarang ada madrasah Aliyah (MA), namun program Paket C digalakkan di sana. Namun

yang lebih penting kami ingin memfasilitasi para alumni pesantren di eilayah Batu dan

sekitarnya. Banyak alumni pesantren yang tersandung persoalan formalitas , kata Pujiono.

Menurut Puji, salah satu keinginan STAINU adalah memfasilitasi alumni pesantren yang hanya

punya ijazah paket C. Dari seluruh mahasiswa yang terdaftar, sekitar 10 persennya berijazah

Paket C. Intinya kami ingin santri kuliah, kata Puji.

Para alumni pesantren atau para siswa yang menempuh PC umumnya tidak terlalu akrab dengan

materi-materi umum, namun para lulusan pesantren mempunyai kemampuan pemahaman ilmu-ilmu

keislaman dengan sangat baik, terutama yang berasal dari literatur Arab. Singkatnya, dengan

STAINU ini dimaksudkan untuk membebaskan santri dari belenggu formalitas.

Penulis : A. Khoirul Anam

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/36202/stainu-malang-ingin-santri-bisa-kuliah

Selasa, 14 Januari 2014

Orang Wahabi Ini Tidak Mau Naik Mobil Karena Bidah

KARTANU - Foto di atas adalah penampakan seorang wahabi di Kota Paris, Perancis yang sedang mengendarai keledai di tengah padatnya lalu lintas mobil di sekitarnya, (31/04/2016) pagi, ketika menuju tempat kerja.

Alasan yang digunakan agar nyaman mengendarai keledai adalah untuk menjaga kemurnian akidahnya dari tindakan menyerupai orang kafir. Kata lelaki bernama Wahab Asani Khan itu, menumpang mobil tidak ada di zaman Rasulullah. Karena itulah, ia menganggapnya bid'ah.

Orang Wahabi Ini Tidak Mau Naik Mobil Karena Bidah - KARTANU
Orang Wahabi Ini Tidak Mau Naik Mobil Karena Bidah - KARTANU


Orang Wahabi Ini Tidak Mau Naik Mobil Karena Bidah

Jika mobil yang menciptakan adalah orang kafir, maka mobil identik dengan orang kafir sehingga menumpang produk orang kafir adalah tasyabbuh bil kuffar, yang artinya sama dengan mereka, kafir juga.

Ia memilih menunggang keledai karena hal itu adalah syariat yang dilakukan di masa Nabi Muhammad SAW masih hidup. Sayangnya, ia masih menggunakan sepatu dan tas ransel untuk membawa keperluannya. Duh.

KARTANU

Padahal, jika dia benar-benar murni, ia bisa dapat predikat orang wahabi aliran Najed yang patut ditiru oleh muslimin wahabi lainnya di muka bumi. Benar ingin murni atau marni sih tuh orang? [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/wow-orang-wahabi-ini-tidak-mau-naik-mobil-karena-bidah.html

KARTANU

Rabu, 25 Desember 2013

Sambut Tahun Hijriyah, JQH NU Pringsewu Semaan Al-Quran

Pringsewu, KARTANU. Jamiyyatul Quro wal Hufadz (JQH NU) Kabupaten Pringsewu, Lampung, menggelar semaan Al-Quran di Pendopo Kabupaten Pringsewu pada Senin (4/11). Kegiatan kerja sama Pemerintah Daerah Kabupaten Pringsewu rutin digelar tiap menyambut tahun baru Hijriyah.

Bupati Pringsewu Sujadi Saddad pada kesempatan yang dihadiri warga dan para santri, serta para penghafal Al-Quran NU itu berharap, kegiatan tersebut dapat menjadi momentum untuk saling memaafkan.

Sambut Tahun Hijriyah, JQH NU Pringsewu Semaan Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Tahun Hijriyah, JQH NU Pringsewu Semaan Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)


Sambut Tahun Hijriyah, JQH NU Pringsewu Semaan Al-Quran

Sujadi yang juga Mustasyar PCNU Kabupaten Prinsewu tersebut berdoa supaya seluruh warga Kabupaten Pringsewu selalu diberi kemudahan dalam beribadah dan mendapatkan keberkahan dalam hidup sehingga akan tercipta Pringsewu yang agamis.

KARTANU

Tampak pada kesempatan itu sejumlah Kepala Dinas, Ketua MUI Kabupaten Pringsewu KH. Hambali.

Pada kesempatan itu, MUI memberikan selebaran makalah tentang fadilah bulan Muharam kepada para jamaah. Makalah tersebut dilengkapi dengan doa awal dan akhir tahun serta amaliyah amaliyah yang dapat dilakukan di bulan Muharram disertai dalil dalilnya. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

KARTANU

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/48021/sambut-tahun-hijriyah-jqh-nu-pringsewu-semaan-al-quran

KARTANU

Selasa, 08 Oktober 2013

Biografi Sanad Syeikh Zaini Dahlan

Ibnu Sa’ad dan Mala meriwayatkan di dalam sirahnya bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: "Pada setiap generasi umatku terdapat manusia-manusia adil dari kalangan Ahlul Baitku, yang menyingkirkan dari agama ini segala bentuk penyimpangan orang-orang yang sesat, pemalsuan orang-orang yang batil, dan petakwilan orang-orang yang bodoh."

Di kalangan dunia penuntut ilmu di pondok-pondok pesantren, nama Sayyid Ahmad Zaini Dahlan sudah tidak asing lagi. Namanya harum dan masyhur di kalangan mereka karena sebagian besar sanad keilmuan para ulama Nusantara (Indonesia, Malaysia dan Pathani) bersambung kepada ulama besar ini. Beliau sangat terkenal sebagai seorang ulama pembela Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam menentang faham Wahabi, sehingga ulama besar ini sangat dibenci dan amat dimusuhi oleh golongan wahabi. Maka, banyak fitnah yang ditaburkan terhadap beliau. Tujuannya tidak lain agar umat Islam yang tidak tahu yang sebenarnya, menjauh.

Biografi Sanad Syeikh Zaini Dahlan - KARTANU
Biografi Sanad Syeikh Zaini Dahlan - KARTANU


Biografi Sanad Syeikh Zaini Dahlan

Menurut riwayat, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan lahir di Makkah pada 1232H /1816M. Selesai menimba ilmu di kota kelahirannya, ia lantas dilantik menjadi mufti Mazhab Syafi'i, merangkap “Syeikhul Harom”, suatu pangkat ulama tertinggi saat itu yang mengajar di Masjidil Harom yang diangkat oleh Syeikhul Islam yang berkedudukan di Istanbul, Turki.

Ulama besar inilah yang telah memberi perlindungan kepada Syaikh Rahmatullah bin Kholilurrohman al-Kironawi al-Hindi al-Utsmani ( lahir 1226H /1811M, riwayat lain lahir Jumadil Awwal 1233H /9 Maret 1818M, wafat malam Jum`at, 22 Ramadan 1308H /2 Mei 1891M) ketika diburu oleh penjajah Inggris bahkan beliau memperkenalkannya kepada pemerintah Makkah. Sehingga Syeikh Rahmatullah mendapat izin untuk membuka Madrasah Shoulatiyah.

KARTANU

Sayyid Ahmad Zaini Dahlan merupakan seorang Syeikhul Islam, Mufti Haromain dan Pembela Ahlus Sunnah Wal Jama`ah. Berasal dari keturunan yang mulia, ahlul bait Rosulullah Saw. Silsilah beliau bersambung kepada Sayyidina Hasan, cucu kesayangan Rasulullah SAW. Berdasarkan kitab Taajul-A`raas, Juz 2, halaman 702 karya al-Imam al-A`llaamah al-Bahr al-Fahhamah al-Habib A`li bin Husain bin Muhammad bin Husain bin Ja`far al-A`ththoos disebutkan urutan nasabnya seperti berikut: Al-Imam al-Ajal wal-Bahrul Akmal Faridu ‘Ashrihi wa Aawaanihi Syaikhul-Ilm wa Haamilu liwaaihi wa Hafidzu Haditsin Nabi S.a.w. wa Kawakibu Sama-ihi, Ka’batul Muriidin wa Murabbis Saalikiin asy-Sayyid Ahmad

bin Zaini Dahlan

bin Ahmad Dahlan

bin ‘Utsman Dahlan

KARTANU

bin Ni’matUllah

bin ‘Abdur Rahman

bin Muhammad

bin ‘Abdullah

bin ‘Utsman

bin ‘Athoya

bin Faaris

bin Musthofa

bin Muhammad

bin Ahmad

bin Zaini

bin Qaadir

bin ‘Abdul Wahhaab

bin Muhammad

bin ‘Abdur Razzaaq

bin ‘Ali

bin Ahmad

bin Ahmad (Mutsanna)

bin Muhammad

bin Zakariyya

bin Yahya

bin Muhammad

bin Abi ‘Abdillah

bin al-Hasan

bin Sayyidina ‘Abdul Qaadir al-Jilani, Sulthanul Awliya

bin Abi Sholeh

bin Musa

bin Janki Dausat Haq

bin Yahya az-Zaahid

bin Muhammad

bin Daud

bin Muusa al-Juun

bin ‘Abdullah al-Mahd

bin al-Hasan al-Mutsanna

bin al-Hasan as-Sibth

bin Sayyidinal-Imam ‘Ali & Sayyidatina Fathimah al-Batuul rodliyallahu ‘anhuma wa `anhum ajma`in.

Murid-muridnya: Diantara murid-murid beliau yang terkenal ialah Sayyid Abu Bakar Syatho ad-Dimyathi, pengarang “I’anathuth-Tholibin Syarh Fath al-Mu’in karya al-Malibary” yang masyhur, Sayyidil Quthub al-Habib Ahmad bin Hasan al-Aththas, Sayyid Abdullah az-Zawawi Mufti Syafi`iyyah, Mekah. Sayyid Abu Bakar Syatho ad-Dimyathi telah mengarang kitab bernama “Nafahatur Rohman” yang merupakan manaqib atau biografi kebesaran gurunya Sayyid Ahmad.

Adapun ulama-ulama Nusantara yang pernah berguru dengan ulama besar ini ialah:- Syeikh Nawawi bin Umar Al-Jawi Al-Bantani (Jawa Barat)

Syeikh Abdul Hamid Kudus (Jawa Timur)

Syeikh Muhammad Khalil al-Maduri (Jawa Timur)

Syeikh Muhammad Saleh bin Umar, Darat (Semarang)

Syeikh Ahmad Khatib bin Abdul Latif bin Abdullah al-Minankabawi (Sumatra Barat)

Syeikh Hasyim Asy’ari Jombang (Jawa Timur)

Sayyid Utsman bin ‘aqil bin Yahya Betawi (DKI Jakarta)

Syeikh Arsyad Thawil al-Bantani (Jawa Barat)

Tuan guru Kisa-i Minankabawi [atau namanya Syeikh Muhammad Amrullah Tuanku Abdullah Saleh. Beliau inilah yang melahirkan dua orang tokoh besar di dunia Melayu. Satu, putra beliau sendiri, Dr. Syeikh Haji Abdul Karim Amrullah. Kedua, cucu beliau, Syeikh Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA)

Syeikh Muhammad bin Abdullah as-Shuhaimi

Syeikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathoni

Tuan Hussin Kedah (Malaysia)

Syeikh Ahmad Yunus Lingga,

Datuk Hj Ahmad (Ulama Brunei Dar as-Salam)

Tok Wan Din, nama lengkapnya Syeikh Wan Muhammad Zainal Abidin al-Fathoni,

Syeikh Abdul Qadir al-Fathoni (Tok Bendang Daya II),

Haji Utsman bin Abdullah al-Minankabawi, Imam, Khatib dan Kadi Kuala Lumpur yang pertama,

Syeikh Muhammad al-Fathoni bin Syeikh `Abdul Qadir bin `Abdur Rahman bin `Utsman al-Fathoni

Sayyid `Abdur Rahman al-Aidrus (Tok Ku Paloh)

Syeikh `Utsman Sarawak

Syeikh Abdul Wahab Rokan

Dan lain-lain.

Para ulama banyak memberikan gelar kepada beliau antara lain sebagai al-Imam al-Ajal (Imam pada waktunya), Bahrul Akmal (Lautan Kesempurnaan), Faridu ‘Ashrihi wa Aawaanihi (Ketunggalan masa dan waktunya), Syaikhul-Ilm wa Haamilu liwaaihi (Syaikh Ilmu dan Pembawa benderanya) Hafidzu Haditsin Nabi SAW wa Kawakibu Sama-ihi (Penghafal Hadits Nabi SAW. dan Bintang-bintang langitnya), Ka’batul Muriidin wa Murabbis Saalikiin (Tumpuan para murid dan Pendidik para salik), dan lain-lain.

Inilah orang yang difitnah dan dituduh oleh gembong-gembong wahabi sebagai tukang fitnah. Ketahuilah bahwa orang yang pertama kali memfitnah Sayyid Ahmad Zaini Dahlan adalah Rasyid Ridha murid Muhammad Abduh yang mengarang “Tafsir al-Manar” rujukan kaum Wahabi. Tujuan mereka memfitnah Sayyid Ahmad adalah untuk memusnahkan ilmu dan pengetahuan yang sebenarnya, agar kebatilan mereka diterima. Sesungguhnya Sayyid Ahmad bersih dari tuduhan musuh-musuhnya tersebut, beliau adalah ulama yang tsiqat (yang bisa dipercaya).

Sayyid Abu Bakar Syatho ad-Dimyathi dalam “Nafahatur Rohman” antara lain menulis:- “Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan r.a. hafal al-Qur`an dengan baik dan menguasai 7 cara bacaan Qur`an (Qiroatus Sab`ah). Beliau juga hafal kitab “asy-Syaathibiyyah” dan “al-Jazariyyah”, dua kitab yang sangat bermanfaat bagi pelajar yang hendak mempelajari qiroah sab`ah. Karena cinta dan perhatiannya pada al-Qur`an, beliau memerintahkan sejumlah qori untuk mengajar ilmu ini, beliau kawatir ilmu ini akan hilang jika tidak diajarkan terus.”

Sayyid Ahmad Zaini Dahlan al-Hasany kembali ke rahmatullah pada tahun 1304 H /1886 M setelah menghabiskan usianya di jalan Allah berkhidmat untuk agama-Nya. Beliau dimaqamkan di Madinah al-Munawwarah. Sangat amat besar jasa ulama ini dalam mempertahankan pegangan Ahlus Sunnah wal Jama`ah sehingga beliau dijadikan tempat gembong-gembong wahabi ahlul bughoh melepas geram dengan berbagai fitnah dan cacian.

Sayyid Ahmad Zaini Dahlan adalah seorang ulama yang produktif. Selain melahirkan para ulama beliau juga menghasilkan karangan yang sangat banyak, diantaranya adalah: 1. Al-Futuhatul Islamiyyah;

2. Tarikh Duwalul Islamiyyah;

3. Khulasatul Kalam fi Umuri Baladil Haram;

4. Al-Fathul Mubin fi Fadhoil Khulafa ar-Rasyidin;

5. Ad-Durarus Saniyyah fi raddi ‘alal Wahhabiyyah;

6. Asnal Matholib fi Najati Abi Tholib;

7. Tanbihul Ghafilin Mukhtasar Minhajul ‘Abidin;

8. Hasyiah Matan Samarqandi;

9. Risalah al-Isti`araat;

10. Risalah I’raab Ja-a Zaidun;

11. Risalah al-Bayyinaat;

12. Risalah fi Fadhoilis Sholah;

13. Shirathun Nabawiyyah;

14. Syarah Ajrumiyyah;

15. Fathul Jawad al-Mannan;

16. Al-Fawaiduz Zainiyyah Syarah Alfiyyah as-Sayuthi;

17. Manhalul ‘Athsyaan; dll.

“ad-Durarus Saniyyah fir raddi alal Wahhabiyyah” (Mutiara-mutiara yang amat berharga untuk menolak faham Wahhabi). Inilah diantara kitab karangan Panutan kita Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan al-Hasany. Kitab inilah yang menyebabkan gerombolan wahabi marah dan murka dengan Sayyid Ahmad. Diantara isi kitab ini ialah penjelasan mengenai hukum ziarah ke maqbaroh Nabi Muhammad SAW, hukum tawassul, hukum istighotsah, hukum tabarruk (ngalap berkah), kesesatan wahabi, penolakan ulama terhadap Muhammad bin Abdul Wahhab dan sejarah muncul dan perlakuan Muhammad bin Abdul Wahhab dan pengikutnya.

Sayyid Ahmad Zaini Dahlan mengatakan: "Abd al-Wahhab, bapak Muhammad bin abdul wahab adalah seorang yang salih dan merupakan seorang tokoh ahli ilmu, begitu juga dengan al-Syaikh Sulaiman. Al-Syaikh `Abd al-Wahhab dan al-Syaikh Sulaiman, keduanya dari awal ketika Muhammad mengikuti pengajarannya di Madinah al-Munawwarah telah mengetahui pendapat dan pemikiran Muhammad yang meragukan. Keduanya telah mengkritik dan mencela pendapatnya dan mereka berdua turut memperingatkan orang ramai mengenai bahayanya pemikiran Muhammad. [ tuqilan Sayyid Zaini Dahlan, al-Futuhat al-Islamiyah, Vol. 2, hlm. 357].

Sayyid Ahmad Zaini Dahlan Dalam keterangan beliau yang lain dikatakan bahwa bapaknya `Abd al-Wahhab, saudaranya Sulaiman dan guru-gurunya telah dapat mengenali tanda-tanda penyelewengan agama (ilhad) dalam diri Muhammad yang didasarkan kepada perkataan, perbuatan dan tentangan Muhammad bin Abdul Wahhab terhadap banyak persoalan agama. [Zaini Dahlan, al-Futuhat al-Islamiyah, Vol. 2, hlm. 357].

Dari Kitab ad-Durarus Saniyyah fir raddi alal Wahhabiyyah, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan Asy-Syafi’i menulis: "Diantara sifat-sifat wahabi yang tercela ialah kebusukan dan kekejiannya dalam melarang orang berziarah ke makam dan membaca sholawat atas Nabi SAW, bahkan dia (Muhammad bin Abdul Wahhab) sampai menyakiti orang yang hanya sekedar mendengarkan bacaan sholawat dan yang membacanya di malam Jum’at serta yang mengeraskan bacaannya di atas menara-menara dengan siksaan yang amat pedih.

Pernah suatu ketika salah seorang lelaki buta yang memiliki suara yang bagus bertugas sebagai muadzin, dia telah dilarang mengucapkan shalawat di atas menara, namun lelaki itu selesai melakukan adzan membaca shalawat, maka langsung seketika itu pula dia diperintahkan untuk dibunuh, kemudian dibunuhlah dia, setelah itu Muhammad bin Abdul Wahhab berkata: “Perempuan-perempuan yang berzina di rumah pelacuran adalah lebih sedikit dosanya daripada para muadzin yang melakukan adzan di menara-menara dengan membaca shalawat atas Nabi. Kemudian dia memberitahukan kepada sahabat-sahabatnya bahwa apa yang dilakukan itu adalah untuk memelihara kemurnian tauhid (kayaknya orang ini maniak atau menderita sindrom tertentu -red). Maka betapa kejinya apa yang diucapkannya dan betapa jahatnya apa yang dilakukanya ( mirip revolusi komunisme -red)."

Tidak hanya itu saja, bahkan diapun membakar kitab Dalailul Khairat (Kitab ini yang dibaca para pejuang Afghanistan sehingga mampu mengusir Uni Sovyet/Rusia, namun kemudian Wahabi mengirim Taliban yang akan membakar kitab itu -red.) dan juga kitab-kitab lainnya yang memuat bacaan-bacaan shalawat serta keutamaan membacanya ikut dibakar, sambil berkata apa yang dilakukan ini semata-mata untuk memelihara kemurnian tauhid.

Muhammad bin Abdul Wahhab juga melarang para pengikutnya membaca kitab-kitab fiqih, tafsir dan hadits serta membakar sebagian besar kitab-kitab tersebut, karena dianggap susunan dan karangan orang-orang kafir. Kemudian menyarankan kepada para pengikutnya untuk menafsirkan Al Qur’an sesuai dengan kadar kemampuannya, sehingga para pengikutnya menjadi biadab dan masing-masing menafsirkan Al Qur’an sesuai dengan kadar kemampuannya, sekalipun tidak secuil-pun dari ayat Al Qur’an yang dihafalnya.

Lalu ada seseorang dari mereka berkata kepada seseorang: “Bacalah ayat Al Qur’an kepadaku, aku akan menafsirkanya untukmu, dan apabila telah dibacakannya kepadanya maka dia menafsirkan dengan pendapatnya sendiri. Dia memerintahkan kepada mereka untuk mengamalkan dan menetapkan hukum sesuai dengan apa yang mereka fahami serta memperioritaskan kehendaknya di atas kitab-kitab ilmu dan nash-nash para ulama, dia mengatakan bahwa sebagian besar pendapat para imam keempat madzhab itu tidak ada apa-apanya.

Sekali waktu, kadang memang dia menutupinya dengan mengatakan bahwa para imam ke empat madzhab Ahlussunnah adalah benar, namun dia juga mencela orang-orang yang sesat lagi menyesatkan. Dan di lain waktu dia mengatakan bahwa syari’at itu sebenarnya hanyalah satu, namun mengapa mereka (para imam madzhab) menjadikan empat madzhab. Ini adalah kitab Allah dan sunnah Rasul, kami tidak akan beramal kecuali dengan berdasar kepada keduanya dan kami sekali-kali tidak akan mengikuti pendapat orang-orang Mesir, Syam dan India. Yang dimaksud adalah pendapat tokoh-tokoh ulama Hambaliyyah dan lainnya dari ulama-ulama yang menyusun buku-buku yang menyerang fahamnya.

Dan, dialah orang yang mengurangi keagungan Rasulullah SAW atas dasar memelihara kemurnian tauhid. Dia mengatakan bahwa Nabi SAW itu tak ubahnya :”Thorisy”. Thorisy adalah istilah kaum orientalis yang berarti seseorang yang diutus dari suatu kaum kepada kaum yang lain. Artinya, bahwa Nabi SAW itu adalah pembawa kitab, yakni puncak kerasulan beliau itu seperti “Thorisy” yang diperintah seorang amir atau yang lain dalam suatu masalah untuk manusia agar disampaikannya kepada mereka, kemudian sesudah itu berpaling (atau tak ubahnya seorang tukang pos yang bertugas menyampaikan surat kepada orang yang namanya tercantum dalam sampul surat, kemudian sesudah menyampaikannya kepada yang bersangkutan, maka pergilah dia. Dengan ini maka jelaslah bahwa kaum Wahabi hanya mengambil al Qur’an sebagian dan sebagian dia tinggalkan).

Diantara cara dia mengurangi ke-agungan Rasulullah SAW, ia pernah mengatakan : “AKU MELIHAT KISAH PERJANJIAN HUDAIBIYAH, MAKA AKU DAPATI SEMESTINYA BEGINI DAN BEGINI”, dengan maksud menghina dan mendustakan Nabi SAW (seolah-olah mereka tahu waktu Nabi SAW membuat perjanjian itu –pen.) dan seterusnya masih banyak lagi nada-nada yang serupa yang dia ucapkan, sehingga para pengikutnya pun melakukan seperti apa yang dilakukannya dan berkata seperti apa yang diucapkannya itu.

Sehingga ada sebagian pengikutnya yang berkata : “SESUNGGUHNYA TONGKATKU INI LEBIH BERGUNA DARIPADA MUHAMMAD, KARENA TONGKATKU INI BISA AKU PAKAI UNTUK MEMUKUL ULAR, SEDANG MUHAMMAD SETELAH MATI TIDAK ADA SEDIKITPUN KEMANFA’ATAN YANG TERSISA DARINYA, KARENA DIA (RASULULLAH S A W) ADALAH SEORANG THORISY DAN SEKARANG SUDAH BERLALU”.

Sebagian ulama’ yang menyusun buku guna menolak faham ini mengatakan bahwa ucapan-ucapan seperti itu adalah “KUFUR” menurut ke empat madzhab, bahkan kufur menurut pandangan seluruh para ahli Islam.

Peringatan

Berhati-hatilah dengan fitnah yang dihembuskan oleh orang-orang Wahabi kepada al-Allamah Sayyid Ahmad Zaini Dahlan. Mereka menuduh al-`Allamah Sayyid Ahmad Zaini Dahlan sebagai tukang buat fitnah, rafidhi dan lain-lain lagi. Na’udzubillah. Apa yang mereka lakukan merupakan jarum halus musuh untuk menghancurkan kebenaran. Tujuan mereka menghembuskan fitnah atas Sayyid Ahmad Zaini Dahlan al-Hasany adalah semata-mata untuk meruntuhkan sanad keilmuan dan pengetahuan para ulama kita bahkan ulama seluruh dunia, agar kebathilan mereka [Wahabi] diterima.

Apakah terbesit kita mengatakan para ulama kita seperti Syeikh Nawawi al-Bantani, syeikh Hasyim Asy’ari, Syeikh Muhammad Kholil (Mbah Khalil), Sayyid Utsman bin Yahya, Syeikh Utsman Sarawak, Syeikh Abdul Wahab Rokan, Syeikh Abdul Qadir al-Fathoni Syeikh Ahmad al-Fathoni, dan lain-lainnya itu berguru kepada seorang tukang fitnah?

Ingatlah dan renungkan dalam hati sanubari kita, apa jasa Muhammad bin Abdul Wahhab dengan kita atau dengan nenek datuk kita dibandingkan dengan jasa Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dan para ulama Nusantara kita terdahulu.

Dari : http://www.dutaislam.com/2015/11/biografi-sanad-syeikh-zaini-dahlan.html

Selasa, 27 Agustus 2013

Stop Share Video Percakapan Habib Rizieq yang Sangat Tidak Pantas Dibaca

KARTANU - Beredarnya video yang mencatut nama imam besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab (HRS) terkait berita miring (perselingkuhan?) yang sangat tidak pantas dibaca dan ditonton oleh pembaca KARTANU, sungguh memprihatinkan.

Netizen NU yang selama ini sering melakukan counter kelompok radikal menghimbau kepada masyarakat luas, utamanya nahdliyyin, agar tidak ikut terlarut dalam arena yang dibuat kelompok-kelompok yang pada dasarnya tidak peduli NU, apalagi peduli kesatuan bangsa.

"Kita kritik FPI, tapi kita tidak anti Wan Rizieq. Kita tetap wajib menghormati beliau sebagai dzurriyah Nabi. Warga NU tetap wajib menahan diri untuk tidak terjebak ke dalam arena perang pembunuhan karakter," kata Zain, salah satu Netizen NU, Ahad (29/01/2017) di Jakarta.

Zain yang selama ini juga getol melakukan kritik dakwah ala FPI pun menyangsikan orisinalistas percakapan WhatsApp antara HRS dan Firza Husen (FH), Ketua Yayasan Solidaritas Keluarga Cendana.

Menurutnya, pengunggah video percakapan yang mengarah kepada perz1na4n tersebut mengajak pembaca untuk melakukan tabayun (klarifikasi) kepada pihak terkait, tapi lucunya, nomor berakhiran 770 yang ada di screenshoot chatingan sudah diberi nama terang Habib Rizieq.

"Yang nyecreenshoot kurang canggih. Harusnya dihapus dulu nama kontaknya," tandas Zain. Ia meyakini kalau hape yang digunakan upaya screenshoot percakapan itu hanya satu, "menunjukkan kalau ini 60% hoax," imbuhnya kepada KARTANU.

Netizen NU yang lain juga menyangsikan keaslian percakapan yang menghebohkan tersebut, "screen shoot percakapan WA itu mudah sekali dibuat. Jangan mudah percaya screen shoot yang tampak asli," ujar Ali, yang juga menyarankan agar aktivis dumay nahdliyyin tidak ikut menyebarkan video kurang ajar tersebut.

Walaupun tidak setuju dengan FPI dan HRS, walaupun HRS juga pernah menghina Gus Dur sebagai buta mata dan buta hati serta menyebut Islam Nusantara dengan akronim jelek "Anus", namun cara menghadapinya harus menggunakan etika agar tidak kebablasan kepada fitnah dan pembunuhan karakter.

"Walaupun saya tidak setuju sama HRS dan marah atas perbuatannya selama ini, termasuk hinaan HRS pada Gus Dur, menyebar video ini malah membuat khawatir kalau mereka juga akan membalas dengan memfitnah kiai-kiai NU dengan cara keji," tutur Okan, Netizen NU juga.

Kalaupun berita miring tentang HRS dan FH itu benar, pembaca juga tidak selayaknya ikut menyebarluaskan, "yang bisa negur dzurriyah Nabi ya dzurriyah Nabi sendiri," jelas Netizen NU lainnya, yang juga ustadz.

Kata ustadz tersebut, dulu pernah diceritakan ada seorang ustadz di Jakarta Timur yang marah kepada Habib Rizieq karena menghina Gus Dur, "tetapi oleh Gus Dur ya ditahan, karena darahnya Habib Rizieq harus dihormati, sedangkan Habib Mahdi keras mengkritisi Habib Rizieq," terang. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/stop-share-video-percakapan-habib-rizieq.html

Kamis, 26 April 2012

Ini Pernyataan Sikap LP Maarif NU di Hari Pendidikan Nasional

Jakarta, KARTANU. Pengurus Pusat Lembaga Pendidikan Maarif Nahdlatul Ulama (PP LP Maarif NU) melayangkan sejumlah rekomendasi untuk khususnya Kemenag RI dan Kemendikbud RI sebagai penyelenggara pendidikan nasional. Catatan ini dibuat bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional 2016 untuk dunia pendidikan Indonesia yang lebih baik ke depan.

Mereka meminta dua kementerian negaraini untuk memberikan perhatian yang adil dan tidak diskriminatif dalam penyelenggaraan pendidikan, terutama dalam hal mendistribusikan anggaran negara/daerah terkait bantuan peningkatan sarana dan prasarana pendidikan.

Ini Pernyataan Sikap LP Maarif NU di Hari Pendidikan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Pernyataan Sikap LP Maarif NU di Hari Pendidikan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)


Ini Pernyataan Sikap LP Maarif NU di Hari Pendidikan Nasional

Pemerintah, kata Ketua PP LP Maarif NU H Z Arifin Junaidi, diharapkan memerhatikan terhadap keseimbangan pendapatan antara gaji guru negeri dan swasta.

Menurut Arifin Junaidi, rendahnya kesejahteraan guru akan berdampak pada rendahnya mutu para pendidiknya.

KARTANU

Dua kementerian ini diminta untuk memberikan akses dan kesempatan yang sama terhadap para pendidik di sekolah/madrasah untuk mengikuti pelbagai pendidikan dan pelatihan, baik guru negeri maupun swasta.

KARTANU

Pemerintah, menurutnya, mesti memberikan perhatian khusus kepada lembaga-lembaga pendidikan di daerah-daerah pedesaan, wilayah pinggiran, wilayah perbatasan, dan daerah-daerah di Indonesia yang masuk dalam kategori daerah tertinggal.

LP Maarif NU mendesak pemerintah dan parlemen untuk segera merevisi UU 20/2003 tentang sistem pendidikan nasional, terutama terkait Pasal 9 yang berbunyi masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumberdaya dalam penyelenggaraan pendidikan.

Kata wajib dalam pasal tersebut perlu diganti dengan kata dapat sehingga ada kepastian ketersediaan layanan pendidikan bermutu bagi seluruh warga Negara Indonesia di manapun berada. Persoalan ketidakhadiran pemerintah di beberapa daerah pinggiran dalam memberikan layanan pendidikan bermutu dinilai akibat dari ketergantungan pemerintah terhadap masyarakat setempat.

Negara mesti lebih serius memberi tekanan pada pendidikan karakter, kata H Arifin Junaidi yang disampaikannya dalam rangka peringatan Hardiknas 2016 di Jakarta, Senin (2/5) malam. (Alhafiz K)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/67857/ini-pernyataan-sikap-lp-maarif-nu-di-hari-pendidikan-nasional

KARTANU

Minggu, 11 Maret 2012

Semar Mencari Rejeki Halal dengan Mantra Mbergegeg

KARTANU - Kiai Lurah Semar Badranaya adalah nama tokoh punakawan paling utama dalam pewayangan Jawa dan Sunda. Tokoh ini dikisahkan sebagai pengasuh sekaligus penasihat para kesatria dalam pementasan kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana.

Tentu saja nama Semar tidak ditemukan dalam naskah asli kedua wiracarita tersebut yang berbahasa Sanskerta, karena tokoh ini merupakan asli ciptaan pujangga Jawa. (Sumber:Wikipedia)

Semar Mencari Rejeki Halal dengan Mantra Mbergegeg - KARTANU
Semar Mencari Rejeki Halal dengan Mantra Mbergegeg - KARTANU


Semar Mencari Rejeki Halal dengan Mantra Mbergegeg

Sebagai penjelmaan dewa, Semar dikenal juga sangat arif dan bijaksana. Bisa bergaul dengan siapa saja, baik dengan kalangan atas maupun kalangan bawah. Selain itu juga, ia tanggap terhadap perubahan jaman. Akan tetapi jika menemukan ketidakadilan dan tindakan sewenang-wenang, maka Semar akan dengan tegas melakukan tindakan preventif, persuasif dan represif. Bisa dikatakan kalau Semar ini rela mempertaruhkan segalanya demi amanat yang diterimanya dari Sang Maha Kuasa.

Sering dikisahkan juga bahwa senjata Semar adalah kentut. Konon kentut Semar ini bisa membuat pusing para punggawa keraton yang tidak menjalankan tugasnya sesuai ketentuan yang berlaku.

Bila kita cermati ucapan Semar setiap kali mengawali dialog: “mbergegeg, ugeg-ugeg, hmel-hmel, sak dulito, langgeng…” Yang artinya diam, bergerak atau berusaha, makan, walaupun sedikit, abadi, yang kira-kira maksudnya begini, "daripada diam (mbergegeg) lebih baik berusaha untuk lepas (ugeg-ugeg) dan mencari makan (hmel-hmel) walaupun hasilnya sedikit (sak ndulit) tapi akan terasa abadi (langgeng).

KARTANU

Benar-benar sebuah pesan moral yang sangat dalam agar kita selalu bekerja keras untuk mencari nafkah, walaupun hasilnya hanya cukup untuk makan namun kepuasan yang didapat, -karena mau berusaha,- akan abadi.

Rasul SAW jauh-jauh hari bersabda yang Artinya: "Sungguh sebaik-baik rizki yang dimakan oleh seorang laki-laki adalah dari usahanya sendiri".

KARTANU

Tuhan sang pencipta alam sendiri pun berfirman didalam al Qur'an, agar hambanya selepas melaksanakan ibadah di perintah untuk mencari reziki yang halal.

"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi (untuk mencari rezki dan usaha yang halal) dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung". (QS al-Jumu’ah: 10).

Karena itulah, tetaplah "mbergegeg, ugeg-ugeg, hmel-hmel, sak dulito, langgeng…". Bahasa gampangnya, sing penting barokah. [KARTANU]

Ahmad Zain Bad

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/semar-mencari-rejeki-halal-dengan-mantra-mbergegeg.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KARTANU sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KARTANU. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KARTANU dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock