Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Mei 2015

Ke PBNU, Jokowi Diminta Sabar dan Tawakal

Jakarta, KARTANU. Calon presiden H Joko Widodo bersilaturrahim ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jalan Kramat Raya No 164 Jakarta Pusat, Jumat (11/7) siang. Kehadiran Jokowi disambut hangat oleh Wakil Ketua Umum PBNU H Asad Said Ali bersama beberapa pengurus lainnya.

Pertemuan berlangsung tertutup di ruang rapat lantai 3 kantor PBNU selama sekitar setengah jam. Usai pertemuan Jokowi langsung berpamitan pulang. Wakil Ketua Umum PBNU H Asad Ali bersama Ketua PP LAZISNU KH Masyhuri Malik mengantar Jokowi sampai ke pintu keluar lantai dasar dan mereka langsung diserbu puluhan wartawan.

Ke PBNU, Jokowi Diminta Sabar dan Tawakal (Sumber Gambar : Nu Online)
Ke PBNU, Jokowi Diminta Sabar dan Tawakal (Sumber Gambar : Nu Online)


Ke PBNU, Jokowi Diminta Sabar dan Tawakal

Kepada wartawan, Asad mengatakan, PBNU berharap Jokowi bersabar dan tawakkal menunggu penetapan hasil Pilpres oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 22 Juli mendatang.

KARTANU

Kami menyampaikan pesan Rais Aam KH Mustofa Bisri (Gus Mus) agar Bapak Jokowi sabar dan tawakkal menunggu penetapan KPU, kata Asad.

KARTANU

Beberapa wartawan meminta Asad menanggapi hasil hitung cepat (quick count). Ada dua hasil penghitungan cepat yang berbeda di mana sebagian besar mengunggulkan pasangan Jokowi-Kalla. Kata Asad, hitung cepat itu didasarkan pada metode ilmiah tertentu dan hasilnya tergantung pada metode yang dipakai.

Para ahli survei dan quick count itu lebih bisa menjelaskan hasilnya, kata asad. Wartawan terus mendesak, PBNU mendukung hasil survei yang mana? Ya yang terbanyak lah, katanya.

Jokowi sendiri tidak memberikan banyak komentar terkait hasil quick count dan soal kunjungannya ke PBNU. Ya kita bersilaturrahim sambil menunggu tanggal 22 Juli, katanya singkat. (anam)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/53203/ke-pbnu-jokowi-diminta-sabar-dan-tawakal

KARTANU

Sabtu, 01 November 2014

Dishub-IPNU Jatim Deklarasi Pelajar Pelopor Tertib Lalu Lintas

Surabaya, KARTANUDinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jawa Timur bersama Pengurus Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Timur melakukan deklarasi pelajar pelopor tertib lalu lintas, Rabu (25/5) di Sport Center Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya.

Kepala Dishub Jatim Wahid Wahyudi mengatakan, berdasarkan data yang dihimpun dari lapangan, setiap hari di Jawa Timur terjadi sebanyak 57 kecelakaan. Faktanya dari jumlah kecelakaan tersebut didominasi oleh usia produktif yakni pemuda dan pelajar.

Dishub-IPNU Jatim Deklarasi Pelajar Pelopor Tertib Lalu Lintas (Sumber Gambar : Nu Online)
Dishub-IPNU Jatim Deklarasi Pelajar Pelopor Tertib Lalu Lintas (Sumber Gambar : Nu Online)


Dishub-IPNU Jatim Deklarasi Pelajar Pelopor Tertib Lalu Lintas

Sebanyak 81 persen dari 57 kecelakaan lalu lintas perhari itu pemuda dan pelajar. Yang mengagetkan tercatat 15 korban tewas, sehingga setahun bisa mencapai 5.475 korban tewas di jalanan, katanya ditemui usai Deklarasi Pelajar Pelopor Tertib Lalu Lintas.

Lebih lanjut, Wahid menjelaskan faktor penyebab kecelakaan didominasi faktor manusia. Bahkan angkanya mencapai sebanyak 96 persen. Menurutnya, kecelakaan yang jumlahnya cukup banyak diawali oleh pelanggaran kecepatan, rambu lalu lintas dan sebab lain. Maka melalui deklarasi ini kita harapkan IPNU Jatim dapat menjadi mitra untuk mengampanyekan tertib lalu lintas. Artinya, muncul kesadaran dari dalam diri agar berkendara dengan baik, terangnya.

KARTANU

Menurutnya, peran pendidikan memiliki posisi strategis dalam mencetak generasi cerdas dan melahirkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkarakter. Dia optimis apabila para pemuda dan pelajar dapat menyalurkan potensi dengan baik maka bukan sesuatu yang sulit mewujudkan Jawa Timur yang sejahtera dan makmur.

KARTANU

Ketua PW IPNU Jatim, Haikal Atiq Zamzami mengatakan pihaknya telah menyiapkan konsep sosialisasi dan gerakan bersama untuk mengampanyekan tertib lalu lintas. Dalam waktu dekat, IPNU Jatim akan masuk ke sekolah-sekolah untuk memberi pemahaman bahwa berkendara di jalan raya tidak hanya persoalan keselamatan pribadi namun juga orang lain.

Memang sepertinya sepele, tapi faktanya angka kecelakaan itu membuat kita prihatin. IPNU Jatim memiliki inisiatif melakukan kerjasama pelajar pelopor tertib lalu lintas sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan kepedulian, tandas Haikal.

Selain dialog publik, acara lain yang turut meramaikan yakni photography contest dan video selfie pendidikan. Hadir Pula dalam kesempatan ini Rektor UIN Sunan Ampel Prof Abd Ala, Guru Besar Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Prof Murtadlo, Mantan anggota DPR RI dan Guru Besar UIN Sunan Ampel, Prof Ali Maschan Moesa, Pakar Pendidikan, Prof Zainuddin Maliki dan sebagai moderator, Dosen Ilmu Komunikasi Unair, Suko Widodo. (Red: Mahbib)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/68507/dishub-ipnu-jatim-deklarasi-pelajar-pelopor-tertib-lalu-lintas

KARTANU

Kamis, 23 Agustus 2012

Rudi Tri Wahid Pimpin Ansor Jatim 2013-2017

Lamongan, KARTANU. Mantan Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Ngawi, Rudi Tri Wahid, memimpin Ansor periode 2013-2017 setelah unggul dalam pemilihan suara terbanyak pada Konferensi Wilayah yang digelar di Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan, Ahad dini hari.

"Calonnya ada dua, yakni Rudi Tri Wahid yang memperolah 348 suara dan calon lainnya, Sholahul am Notobuwono hanya meraup 225 suara," ujar Ketua Panitia Konferwil, Abdussalam, kepada wartawan.

Rudi Tri Wahid Pimpin Ansor Jatim 2013-2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
Rudi Tri Wahid Pimpin Ansor Jatim 2013-2017 (Sumber Gambar : Nu Online)


Rudi Tri Wahid Pimpin Ansor Jatim 2013-2017

Dalam pemungutan suara yang diikuti 573 pemilih tersebut terdapat tiga suara yang tidak sah. Sedangkan, selisih keduanya terpaut 123 suara. Dengan demikian, periode empat tahun mendatang dipercayakan kepada Rudi Tri Wahid sebagai pengganti Alfa Isnaeni.

KARTANU

Sebelum dilakukan pemungutan suara, sempat terjadi perdebatan sengit saat membahas peraturan tata tertib pemilihan serta verifikasi calon ketua. Tim dari kedua calon silih berganti beradu argumen demi memuluskan calonnya melenggang.

Hanya saja, sidang yang dipimpin langsung oleh Pengurus Pusat GP Ansor dan mendapat pantauan langsung oleh Ketua Umum PP GP Ansor Nusron Wahid tersebut bisa dikendalikan dan peserta konferwil menerima keputusan pemilihan diikuti oleh dua calon.

KARTANU

Keikutsertaan Rudi Tri Wahid menjadi calon ketua sempat diprotes karena yang bersangkutan belum memiliki sertifikat Pelatihan Kadet Nasional (PKN). Namun, karena testimoni PP GP Ansor periode sebelumnya yang dikuatkan dengan surat pernyataan Rudi untuk mengikuti PKN setelah terpilih membuat namanya berhak menjadi salah satu calon.

"Kalau Rudi tidak mengikuti PKN paling lama sebulan setelah terpilih maka akan dilepas mandatnya sebagai Ketua PW GP Ansor Jatim. Bahkan, jika dia mengikuti dan dinyatakan tidak lulus maka Ansor Pusat tetap mencabut mandatnya," kata Nusron Wahid.

Sebenarnya, jumlah suara yang mengikuti pemilihan sebanyak 666 suara dari PC maupun PAC se-Jatim. Hanya saja, setelah dilakukan verifikasi maka yang berhak memilih hanya 573 suara.

Sementara itu, sebelum konferwil digelar sudah muncul dugaan kemenangan Rudi Tri Wahid. Tokoh muda yang digadang-gadang jago Wakil Gubernur Jatim, Saifullah Yusuf, itu diperkirakan unggul telak karena telah mengantongi banyak rekomendasi dari PC maupun PAC.

Bahkan, Rudi mengaku sudah berusaha keras menggalang dukungan dari PC-PC dan PAC-PAC. Hal itu bisa dibuktikan saat memenuhi persyaratan pendaftaran calon dengan modal dukungan 30 PC dan ratusan PAC.

"Saya sudah berusaha yang terbaik sehingga tinggal pasrah kepada takdir," kata alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Di lain pihak, Sholihul Amanullah Notobuwono atau akrab disapa Gus Aam mengaku juga optimistis bakal menang. Kendati demikian, cucu pendiri GP Ansor, KH Wahab Chasbullah tersebut tetap memberikan selamat kepada kompetitornya dalam konferwil. (antara/mukafi niam)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/48927/rudi-tri-wahid-pimpin-ansor-jatim-2013-2017

KARTANU

Jumat, 04 Mei 2012

ISNU chairman could garner lots of votes

Jakarta, KARTANU. Chairman of a reliable survey organization Polcomm Institute Heri Budianto said that the Nahdlatul Ulama Scholars Association (ISNU) chairman Ali Masykur Musa could compete with Jakarta Governor Joko "Jokowi" Widodo in the 2014 presidential election.

Heri said that Musas popularity had increased as respondents considered that he had greater support from the Nahdliyin (the faithful members of NU) and interfaith organizations and activists.

ISNU chairman could garner lots of votes (Sumber Gambar : Nu Online)
ISNU chairman could garner lots of votes (Sumber Gambar : Nu Online)


ISNU chairman could garner lots of votes

As a member who was born from and plays an active role in NU, its normal if Ali Masykur receives greater supports from NU members. Although he ranks third, he has the potential to garner lots of votes, said Heri.

KARTANU

He further said that Ali Masykur had also been deemed successful in carrying out his duties as a BPK member, especially when it came to handling environment and food security issues.

KARTANU

A political expert from the University of Padjadjaran, Lely Arrianie, said if Ali Masykur could approach young people and capitalize on their supports, he would get an even higher electability rating.

Editing by Sudarto Murtaufiq

Dari (National) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/50705/isnu-chairman-could-garner-lots-of-votes

KARTANU

Minggu, 11 Maret 2012

Semar Mencari Rejeki Halal dengan Mantra Mbergegeg

KARTANU - Kiai Lurah Semar Badranaya adalah nama tokoh punakawan paling utama dalam pewayangan Jawa dan Sunda. Tokoh ini dikisahkan sebagai pengasuh sekaligus penasihat para kesatria dalam pementasan kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana.

Tentu saja nama Semar tidak ditemukan dalam naskah asli kedua wiracarita tersebut yang berbahasa Sanskerta, karena tokoh ini merupakan asli ciptaan pujangga Jawa. (Sumber:Wikipedia)

Semar Mencari Rejeki Halal dengan Mantra Mbergegeg - KARTANU
Semar Mencari Rejeki Halal dengan Mantra Mbergegeg - KARTANU


Semar Mencari Rejeki Halal dengan Mantra Mbergegeg

Sebagai penjelmaan dewa, Semar dikenal juga sangat arif dan bijaksana. Bisa bergaul dengan siapa saja, baik dengan kalangan atas maupun kalangan bawah. Selain itu juga, ia tanggap terhadap perubahan jaman. Akan tetapi jika menemukan ketidakadilan dan tindakan sewenang-wenang, maka Semar akan dengan tegas melakukan tindakan preventif, persuasif dan represif. Bisa dikatakan kalau Semar ini rela mempertaruhkan segalanya demi amanat yang diterimanya dari Sang Maha Kuasa.

Sering dikisahkan juga bahwa senjata Semar adalah kentut. Konon kentut Semar ini bisa membuat pusing para punggawa keraton yang tidak menjalankan tugasnya sesuai ketentuan yang berlaku.

Bila kita cermati ucapan Semar setiap kali mengawali dialog: “mbergegeg, ugeg-ugeg, hmel-hmel, sak dulito, langgeng…” Yang artinya diam, bergerak atau berusaha, makan, walaupun sedikit, abadi, yang kira-kira maksudnya begini, "daripada diam (mbergegeg) lebih baik berusaha untuk lepas (ugeg-ugeg) dan mencari makan (hmel-hmel) walaupun hasilnya sedikit (sak ndulit) tapi akan terasa abadi (langgeng).

KARTANU

Benar-benar sebuah pesan moral yang sangat dalam agar kita selalu bekerja keras untuk mencari nafkah, walaupun hasilnya hanya cukup untuk makan namun kepuasan yang didapat, -karena mau berusaha,- akan abadi.

Rasul SAW jauh-jauh hari bersabda yang Artinya: "Sungguh sebaik-baik rizki yang dimakan oleh seorang laki-laki adalah dari usahanya sendiri".

KARTANU

Tuhan sang pencipta alam sendiri pun berfirman didalam al Qur'an, agar hambanya selepas melaksanakan ibadah di perintah untuk mencari reziki yang halal.

"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi (untuk mencari rezki dan usaha yang halal) dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung". (QS al-Jumu’ah: 10).

Karena itulah, tetaplah "mbergegeg, ugeg-ugeg, hmel-hmel, sak dulito, langgeng…". Bahasa gampangnya, sing penting barokah. [KARTANU]

Ahmad Zain Bad

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/semar-mencari-rejeki-halal-dengan-mantra-mbergegeg.html

Rabu, 28 Desember 2011

Penting bagi Guru PAI Perkuat Paham Islam Moderat

Jakarta, KARTANU. Saat ini radikalisme sudah pada taraf menyasar anak-anak usia sekolah. Hal ini memberikan konsekuensi kepada guru PAI agar lebih memperkuat dan membekali diri dengan pemahaman Islam moderat atau Al-Wasathiyah.

Hal ini disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam KH Hasyim Muzadi dalam kegiatan Sarasehan Nasional bertajuk Potensi Pendidikan Islam menjadi Rujukan Pendidikan Moderat Dunia, Senin (13/6) di Hotel Mercure Ancol, Jakarta Utara yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama.

Penting bagi Guru PAI Perkuat Paham Islam Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)
Penting bagi Guru PAI Perkuat Paham Islam Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)


Penting bagi Guru PAI Perkuat Paham Islam Moderat

Kiai Hasyim menjelaskan bahwa istilah moderat jika merujuk kepada Hadis yaitu Al-Hanifiyah Samhah. Istilah ini bisa diartikan sebagai agama yang baik dan lurus namun tidak meninggalkan identitas dan menolak tradisi.

KARTANU

Rasulullah SAW diutus untuk membawa agama yang Al-Hanifiyah Samhah. Hal ini dipraktikkan oleh sahabat dan ulama-ulama terdahulu. Ulama dulu sangat Hanif, mendalam agamanya tetapi moderat dalam berdakwah, jelas Kiai Hasyim ini di hadapan sekitar 400 instruktur PAI nasional.

Para ulama terdahulu, lanjut Hasyim, dalam berdakwah sangat terbuka. Jika ada perbedaan pendapat, mereka menyikapinya dengan arif dan bijak. Mereka melakukan dakwah dengan ramah dan sejuk, tidak memaksakan kehendak dalam masalah agama.

KARTANU

Jika bisa ditarik syukur, tapi kalau tidak bisa ya tidak memaksakan kehendak. Jadi ulama zaman dulu itu banyak mengislamkan orang kafir dengan dakwah ramahnya. Tapi zaman sekarang kebalik, kelompok Islam tertentu malah mengafirkan sesama Islam. Inilah bedanya Waliyullah dengan Wali Jenggot, ucap Hasyim diikuti riuh tawa peserta.

Lebih jauh, Ketua Umum PBNU periode 2000-2010 ini mendorong kepada seluruh instruktur PAI, baik dari unsur guru, kepala sekolah, dan pengawas untuk memperkuat paradigma Al-Hanifiyah Samhah ini.

Hal ini, kata Hasyim, mengingat paham radikal telah sampai pada taraf aksi bukan lagi wacana. Dalam hal inilah menurutnya, guru harus mampu menjadi jembatan untuk para generasi muda untuk menyambungkan sumber-sumber hukum Islam dengan realitas zaman yang selalu berubah dengan tidak meninggalkan tradisi. (Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/68962/kiai-hasyim-penting-bagi-guru-pai-perkuat-paham-islam-moderat

KARTANU

Selasa, 23 Februari 2010

Al Maidah Ayat 51 Menurut Pakar Tafsir Quraish Shihab

KARTANU - Seperti diketahui, ayat dari Surah Al-Maidah yang kerap disebut sebagai dalil menolak ‘pemimpin kafir’ itu ialah:

Al Maidah Ayat 51 Menurut Pakar Tafsir Quraish Shihab - KARTANU
Al Maidah Ayat 51 Menurut Pakar Tafsir Quraish Shihab - KARTANU


Al Maidah Ayat 51 Menurut Pakar Tafsir Quraish Shihab

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi ‘awliya’; sebahagian mereka adalah awliya bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi wali, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al-Maidah: 51).

Benarkah ayat di atas menyerukan penolakan “pemimpin kafir”? Menurut pakar tafsir Al-Qur’an Prof. Quraish Shihab, ayat di atas tidaklah berdiri sendiri, namun memiliki kaitan dengan ayat-ayat sebelumnya. Hanya memenggal satu ayat dan melepaskan ayat lain berimplikasi pada kesimpulan akhir. Padahal, Al-Maidah ayat 51 merupakan kelanjutan atau konsekuensi dari petunjuk-petunjuk sebelumnya.

“Konsekuensi dari sikap orang yang memusuhi Al-Qur’an, enggan mengikuti tuntunannya…”

Pada ayat sebelumnya, Al-Qur’an diturunkan untuk meluruskan apa yang keliru dari kitab Taurat dan Injil akibat ulah kaum-kaum sebelumnya. Jika mereka – Yahudi dan Nasrani, enggan mengikuti tuntunan Al-Qu’ran, maka mereka berarti memberi ‘peluang’ pada Allah untuk menjatuhkan siksa terhadap mereka karena dosa-dosa yang mereka lakukan.

“Jadi, mereka dinilai enggan mengikuti tuntunan Tuhan tapi senang mengikuti tuntunan jahiliyah,” kata Quraish Shihab dalam pengajian Tafsir Al-Qur’an di salah satu stasiun TV swasta.

Lalu, dilanjutkan oleh ayat 51 surat Al-Maidah. Kalau memang seperti itu sikap orang-orang Yahudi dan Nasrani – mengubah kitab suci mereka, enggan mengikuti Al-Qur’an, keinginannya mengikuti jahiliyah, – “Maka wahai orang-orang beriman janganlah engkau menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagaiawliya.”

Bagi Quraish Shihab, hubungan ayat ini dan ayat sebelumnya sangat ketat. “Kalau begitu sifat-sifatnya, jangan jadikan mereka awliya. Nah, awliya itu apa?,” tanya Quraish memantik diskusi sebelum mengkaji lebih dalam.

‘Awliya’ ialah jamak atau bentuk plural dari ‘wali’. Di Indonesia, kata ini populer sehingga ada kata wali-kota, wali-nikah dan seterusnya. Wali ialah, kata penulis Tafsir Al Misbah ini, pada mulanya berarti “yang dekat”. Karena itu,waliyullah juga bisa diartikan orang yang dekat dengan Allah.

“Wali kota itu berarti yang mestinya paling dekat dengan masyarakat. Orang yang paling cepat membantu Anda, ialah orang yang paling dekat membantu Anda. Nah, dari sini lantas dikatakan bahwa wali itu pemimpin atau penolong.”

Adapun wali dalam pernikahan – apalagi terhadap anak gadis – sebenarnya fungsinya melindungi anak gadis itu dari pria yang hanya ingin ‘iseng’ padanya. Seseorang yang dekat pada yang lain, berarti ia senang padanya. Karena itu, iblis jauh dari kebaikan karena ia tidak senang. “Dari sini, kata ‘wali’ yang jamaknya ‘awliya’ memiliki makna bermacam-macam.”

Yang jelas, kata jebolan Al Azhar Mesir ini, kalau ia dalam konteks hubungan antar manusia, berarti persahabatan yang begitu kental. Sedemikan hingga tidak ada lagi rahasia di antara mereka. Demikian pula hubungan suami-istri yang dileburkan oleh cinta.

“Dalam ayat ini, jangan angkat mereka –Yahudi dan Nasrani- yang sifatnya seperti dikemukakan pada ayat sebelumnya menjadi wali atau orang dekatmu. Sehingga engkau membocorkan rahasia kepada mereka.”

Dengan demikian, ‘awliya’ bukan sebatas bermakna pemimpin, kata Quraish Shihab. “Itu pun, sekali lagi, jika mereka enggan mengikuti tuntunan Allah dan hanya mau mengikuti tuntunan Jahiliyah seperti ayat yang lain.”

Contohnya, jika mereka juga menginginkan kemaslahatan untuk kita, boleh tidak kita bersahabat? Quraish Shihab kembali bertanya, jika ada pilihan antara pilot pesawat yang pandai namun kafir dan pilot kurang pandai yang muslim, “pilih mana?” sontak jamaah yang hadir pun tertawa.

Atau, pilihan antara dokter kafir yang kaya pengalaman dan dokter muslim tapi minim pengalaman. Dalam konteks seperti ini, bagi Quraish Shihab, tidak dilarang. Yang terlarang ialah melebur sehingga tidak ada lagi perbedaan termasuk dalam kepribadian dan keyakinan. Karena tidak ada lagi batas, kita menyampaikan hal-hal yang berupa rahasia pada mereka. “Itu yang terlarang,” tegasnya.

Namun, kalau pergaulan sehari-hari, dagang, membeli barang dari tokonya dan sebagainya, tidaklah dilarang. Selanjutnya, ayat ini berbicara tentang sebagian mereka adalah awliya bagi sebagian yang lain. Artinya, sebagian orang Yahudi bekerjasama dengan orang Nasrani yang walaupun keduanya beda agama namun kepentingannya sama, yaitu mencederai kalian.

Oleh sebab itu, Al-Qur’an berpesan, “Siapa yang menjadikan mereka itu orang yang dekat, yaitu meleburkan kepribadiannya sebagai muslim sehingga sama keadaannya (sifat-sifatnya) dengan mereka, oleh ayat ini diaggap sama dengan mereka,” jelas Quraish.

Terakhir, Allah tidak memberi petunjuk pada orang-orang zalim. Menurut Quraish Shihab, petunjuk ada dua macam; umum dan khusus. Petunjuk khusus itu, memberi tahu dan mengantar. Allah memberi tahu kepada semua manusia tentang ini baik dan itu buruk tapi tidak semua diantar oleh-Nya.

Di sisi lain, ada yang tidak sekedar diberitahu jalan baik, namun juga diantar jika orang itu menginginkan. Meski demikian, Allah tidak memberi petunjuk khusus mereka yang tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/al-maidah-ayat-51-menurut-pakar-tafsir-quraish-shihab.html

Sabtu, 26 September 2009

MTs Maarif NU 08 Panican Gandeng Polisi Sosialisasikan Bahaya Narkoba dan Miras

Purbalingga, KARTANU. Dalam kegiatan Masa Orientasi Peserta Didik MTs Maarif NU 08 Panican, Panitia Mopdik menggandeng Kepolisian sektor Kemangkon untuk memberikan penyuluhan bahaya penggunaan Narkoba dan minuman keras. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Selasa, 13 Juli 2011.

Kegiatan ini bertujuan untuk antisipasi dini dengan memberikan pengertian kepada peserta didik agar terhindar dari kenakalan-kenakalan yang melebihi batas dengan terjerumus dalam perilaku minum-minuman keras dan Narkoba.

MTs Maarif NU 08 Panican Gandeng Polisi Sosialisasikan Bahaya Narkoba dan Miras (Sumber Gambar : Nu Online)
MTs Maarif NU 08 Panican Gandeng Polisi Sosialisasikan Bahaya Narkoba dan Miras (Sumber Gambar : Nu Online)


MTs Maarif NU 08 Panican Gandeng Polisi Sosialisasikan Bahaya Narkoba dan Miras

Dalam hal ini dari Kepolisian yang hadir dan memberikan materinya adalah Riyanto S.IP selaku Kanit Bimas dan Sumardi Kasi Humas Polsek Kemangkon. Dalam materinya dijelaskan bahwa menggunakan zat adiktif semacam narkoba sungguh teramat berbahaya bagi kesehatan, baik kesehatan Jasmani dan lebih parah lagi dapat merusak fungsi jiwa atau rohani. Selain mengancam fisik dan non fisik manusia secara kesehatan, bagi pelaku juga dapat dijerat hukuman pidana yang dengan minimal hukuman 1 tahun dan paling berat adalah hukuman mati.

Selain memberikan sosialisasi narkoba, polisi juga memberikan materi tentang bahaya minuman keras karena di jaman seperti ini banyak sekali anak-anak yang sudah mengkonsumsi miras, padahal penggunaan miras sangat berbahaya karena maut mengancam melalui miras.

KARTANU

Banyak sekali kejadian tewasnya beberapa orang akibat minum-minuman keras oplosan seperti baru-baru ini terjadi di Cirebon. Untuk itu jangan dekati miras walau setetespun, katanya.

KARTANU

Ia menyatakan apresiasinya kepada MTs Maarif NU 08 Panican yang telah 4 tahun ini bekerja sama dengan kepolisian Sektor Kemangkon, sehingga setiap tahun ajaran baru khususnya kegiatan Mopdik selalu mengundang pihak kepolisian untuk memberikan sosialisasi bahaya narkoba dan miras dan berharap kerjasama ini terus berlanjut.

Menurut catatan kepolisian tidak ada kejadian-kejadian yang berhubungan dengan perilaku-perilaku nakal dari murid-murid di madrasah ini sehingga menunjukan bahwa madrasah ini sangat bagus dalam mendidik dan membina akhlak para peserta didik

Orang tua tidak ragu lagi untuk memilih madrasah sebagai lembaga pendidikan yang tepat bagi anak-anaknya, tandasnya.

Redaktur : Mukafi Niam

Kontributor: Torik Jahidin

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/32949/mts-ma039arif-nu-08-panican-gandeng-polisi-sosialisasikan-bahaya-narkoba-dan-miras

KARTANU

Selasa, 11 Agustus 2009

Enam Nama Kiai Dahlan dan Pentingnya Thabaqah Ulama Nusantara

Kita beruntung hidup di masa sekarang, setelah ulama di masa lalu menulis thabaqah berdasarkan corak madzhab maupun bidang keilmuan para ulama salaf. Untuk melihat klasifikasi ulama madzhab Hanabilah, sudah disediakan Thabaqah Hanabilah karya Imam Ibnu Abi Yala al-Farra al-Hanbali. Untuk Syafiiyah telah tersedia Thabaqah Syafiiyah (Shughra) karya Imam Jamaluddin Abdurrahim al-Asnawi (w. 772 H), dan Thabaqah Syafiiyah Kubra karya Imam Tajuddin As-Subki.

Sedangkan di bidang tafsir, Imam As-Suyuthi sudah menulis Thabaqah al-Mufassirin. Selain itu, masih banyak kitab thabaqat berdasarkan klasifikasi bidang keilmuan maupun berdasarkan madzhab. Melalui thabaqah ini kita bisa melacak nama-nama ulama berdasarkan biografi, karakteristik, dan karya masing-masing ulama.

Enam Nama Kiai Dahlan dan Pentingnya Thabaqah Ulama Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Enam Nama Kiai Dahlan dan Pentingnya Thabaqah Ulama Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)


Enam Nama Kiai Dahlan dan Pentingnya Thabaqah Ulama Nusantara

Dengan adanya semacam indeks nama disertai riwayat hidup sekilas ini, kita bisa dengan cermat meneliti nama-nama ulama dan menghindari kesalahpahaman terhadap nama ulama yang mirip maupun hampir mirip. Misalnya banyak ulama yang menisbatkan nama dengan daerah kelahirannya, Ray, Persia, yang kemudian disebut Ar-Razi. Ada banyak Ar-Razi dalam sejarah keilmuan Islam. Ada juga beberapa Isfirayini dan Al-Isfihani. Selain itu ada juga penisbatan asal daerah yang mirip, seperti mufassir Imam At-Thabari (w. 310 H) yang berasal dari Thabaristan, di sekitar Laut Kaspia, dengan muhaddits Imam Al-Thabrani (w. 360 H.) yang lahir di Thabriyah, Palestina.

KARTANU

Pertama Thabaristan, yang kedua Thabriyah. Nyaris identik. Ini belum mengulas antara Ibnu Arabi dan Ibnu al-Arabi, antara Ibul Qayyim al-Jauzi dengan Ibnul Jauzi, serta duet mantap duo ayah anak: Taqiyyuddin dan Tajuddin As-Subki. Juga antara Ibnu Rusyd al-Jadd (qadli), Ibnu Rusyd al-Ab (qadli) dengan Ibnu Rusyd al-Ashghar sang filosof, dokter, sekaligus faqih jempolan. Ibnu Rusyd: satu nama yang dipakai bapak, anak, dan cucu. Nama sama, tapi dengan kiprah yang berbeda. Yang paling masyhur adalah yang Ibnu Rusyd al-Asghar yang menulis Bidayat al-Mujtahid.

Ada juga trio al-Bulqini. Ini tiga ulama jempolan asal Mesir di mana matarantai intelektual, khususnya fiqh, mayoritas ulama Nusantara menyambung melalui jalur ini. Sirajuddin al-Bulqini (724-805 H./ 1324-1403 M), yang juga disebut sebagai mujaddid, adalah ayah dari dua al-Bulqini lainnya: Jalaluddin al-Bulqini (763-824 H./1362-1421 M) dan adiknya, Alamuddin al-Bulqini (791-868 H./1388-1464 M.)

KARTANU

Selain itu, ada juga dua Abu Bakar al-Qaffal (berdasarkan namanya, beliau di masa muda adalah perajin gembok): Imam Abu Bakar Abdullah bin Ahmad bin Abdullah al-Qaffal As-Shaghir (417 H.) dan Imam Abu Bakar Muhammad bin Ali Asy-Syasi al-Qaffal al-Kabir (w. 365 H). Nama pertama berasal dari Khurasan, yang kedua lebih senior berasal dari Syasyi (Tashkent, Ibukota Uzbekistan). As-Shaghir kondang dengan keilmuan fiqh, sedangkan al-Kabir masyhur dengan penguasaanya di bidang ushul fiqh. Makam Imam Syasyi al-Kabir berada di samping makam Imam Bukhari di Tashkent.

Dalam wujud perdebatan, antara kelompok Aswaja dengan Wahhabi mengenai penisbatan nama Wahhabi juga memantik perdebatan. Kubu Aswaja menisbatkan nama madzhab ini dengan Muhammad bin Abdul Wahab, ideolog Wahhabi modern, sebagaimana identifikasi ini dilakukan oleh ulama Syafiiyah yang hidup pada saat kelompok Wahhabi mulai mendominasi aliran keagamaan di Haramain. Misalnya, Mufti Syafiiyah, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dengan tulisannya yang bagus, al-Fitnah al-Wahhabiyah.

Sampai sekarang, sebutan Wahhabiyah ini masih dipakai oleh kalangan ahlussunnah wal jamaah untuk mengidentifikasi sebuah aliran keagamaan. Sebaliknya kubu Wahhabi tidak terima. Mereka beranggapan apabila sebutan sinis Wahhabiyah adalah propaganda murahan di mana sebelumnya sebutan ini dinisbatkan kepada aliran sempalan bercorak Khawarij yang dipimpin oleh Abdul Wahab Rustum (w. 211 H.), yang hidup beberapa abad sebelum Muhammad bin Abdul Wahab (w. 1206 H.).

Di Indonesia, bagaimana?

Di Indonesia, dalam contoh paling sederhana saja, masih ada beberapa orang yang salah mengutip nama ulama. Misalnya (Abu Zakariya) Imam an-Nawawi (631-676 H/1233-1277 M), fuqaha sekaligus ahli hadis kenamaan kelahiran Damaskus, yang namanya sama dengan Syaikh Nawawi (al-Bantani), mahaguru ulama Nusantara (1230-1314 H/ 1813-1897 M). Bahkan, seorang cendekiawan terkemuka di Indonesia sempat keliru menyebut Arbain An-Nawawiyyah sebagai karya Syaikh Nawawi, padahal karya di bidang hadis ini adalah buah pikiran Imam An-Nawawi. Perbedaannya hanyalah sebutan Imam dan Syekh, tapi butuh kejelian untuk mengenalinya. Demikian pula tampaknya ada kekeliruan mengenai karamah Imam Nawawi Ad-Dimasyqi yang dinisbatkan kepada Syaikh Nawawi al-Bantani.

Di lain pihak, dalam tradisi kitab kuning yang kuat mengakar dalam tradisi Islam Nusantara, ada nama yang cukup melegenda: Syaikh Zainuddin al-Malibari (w. 987 H./1579 M). Beliau adalah ulama fiqh madzhab Syafii kelahiran Malabar, India yang juga disebut sebagai Zainuddin Ats-Tsani, karena kakeknya juga bernama Zainuddin. Zainuddin Ats-Tsani ini adalah penulis Fathul Muin yang merupakan syarah atas karyanya sendiri, Qurratul Ain bi Muhimmatid Din. Isryadul Ibad ila Sabil Ar-Rasyad adalah karya lainnya.

Sedangkan kakeknya, Zainuddin bin Ali bin Ahmad al-Malibari juga merupakan pakar fiqh Syafiiyah yang lahir di Malibar/Malabar pada tahun 872 H/1467 M dan wafat di Ponani (Fanan) pada 928 H./ 1521 M. Karya sang kakek yang cukup populer di Indonesia adalah kitab tasawuf Hidayatul Adzkiya Ila Thariqil Auliya.

Zainuddin al-Malibari pertama ini juga dikenal dengan nama Zainuddin al-Fanani, dinisbatkan pada nama tempat wafatnya. Kitab Hidayatul Adzkiya Ila Thariqil Auliya ini adalah salah satu kitab tasawuf yang paling populer di awal abad ke XX, dimana ulama sekaliber KH. Sholeh Darat memberi syarah kitab ini dengan judul Minhaj al-Atqiya fi Syarh Hidayatul Adzkiya Ila Thariqil Auliya.

Bahkan, saya menduga, KH. Santoso Anom Besari, keturunan Kiai Hasan Besari Tegalsari Ponorogo, adalah pengagum kitab Hidayatul Adzkiya Ila Thariqil Auliya sehingga menamakan putranya dengan tabarrukan dengan nama Zainuddin al-Malibari al-Fanani ini, hingga kelak putranya, KH> Zainuddin Fanani, menjadi salah satu pendiri Pesantren Darussalam Gontor bersama saudara-saudaranya.

Kembali ke bahasan awal. Selain salah sangka di atas, ada banyak nama ulama Indonesia yang mirip. Di kurun awal, ada Syaikh Khatib As-Sambasi (1217 H./ 1803 M-1875 M) ) dan Syaikh Khatib al-Minangkabawi. Syaikh Khatib Sambas adalah ulama tarekat yang menggabungkan dua aliran besar: Qadiriyah dan Naqsyabandiyah, di mana melalui ijtihad ruhaniahnya beliau menggabungkannya menjadi Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang memiliki jutaan pengamal di kawasan Asia Tenggara.

Sama dengan Syaikh Khatib Sambas yang juga banyak menghabiskan waktu mengajar di Makkah hingga wafat di kota suci ini, Syaikh Khatib yang kedua, al-Minangkabawi (1860-1916), adalah ulama fiqh dan menjadi guru bagi para ulama Nusantara di awal abad ke-20. Dua muridnya, KH. Ahmad Dahlan, KH M. Hasyim Asyari, dan KH Abdul Halim Majalengka kelak menjadi penggerak kemajuan pendidikan dan berorganisasi di tanah air melalui masing-masing organisasi yang mereka dirikan (Muhammadiyah, NU, dan PUI).

Selepas era ini ada juga beberapa nama yang, mirip, misalnya antara Buya Hamka dan ayahnya. Haji Karim Amrullah (1879-1945), adalah penggerak pendidikan Islam di Sumatera Barat melalui Sumatera Thawalib, sekolah Islam modern pertama di zaman pergerakan. Sedangkan anaknya, Haji Abdul Malik Karim Amrullah alias Buya Hamka (1908-1981), adalah sastrawan, mufassir, ahli fiqh, dan ulama Muhammadiyah yang berpengaruh.

Selain itu, di kalangan kaum muslim tradisionalis, ada dua nama KH. Abdul Halim yang sama-sama berasal dari Majalengka. Nama pertama, KH. Abdul Halim alias KH Muhammad Syathori (Otong Satori) yang lahir pada 26 Juni 1887. Beliau diangkat sebagai pahlawan nasional pada tahun 2008. Ajengan Halim adalah pendiri Perserikatan Ulama Indonesia (PUI) maupun Persatuan Umat Islam. Di dalam konteks kenegaraan, beliau aktif sebagai anggota di BPUPKI, bahkan setelah kemerdekaan sempat menjadi Bupati Majalengka, dan aktif menentang DI/TII sampai akhir hayatnya di tahun 1962.

Sedangkan KH Abdul Halim berikutnya adalah KH. Abdul Halim dari Nahdlatul Ulama. Beberapa blog dan website saya cek banyak yang tertukar menempatkan fotonya. Foto Ajengan Halim PUI disebut sebagai foto Kiai Halim NU, demikian pula sebaliknya. KH. Abdul Halim yang kedua ini juga terkenal dengan sebutan Kiai Halim Leuwimunding (salah satu daerah Majalengka). Pria kelahiran 1898 ini adalah salah satu kader KH Abdul Wahab Chasbullah saat belajar di Makkah, yang kemudian rela berjalan kaki dari Majalengka ke Surabaya untuk bergabung dengan Nahdlatul Ulama yang baru berdiri.

Santri Tebuireng angkatan pertama ini juga terlibat dalam kepengurusan NU generasi awal. Putranya, KH Asep Saifuddin Halim, yang pernah menjabat sebagai Ketua PCNU Kota Surabaya, saat ini mengasuh Ponpes Amanatul Ummah di Surabaya dan di Pacet Mojokerto dan sekaligus mengabadikan nama KH. Abdul Halim yang wafat pada 1972 ini sebagai nama sekolah tinggi di Mojokerto.

Di antara kebingungan lain yang dialami oleh beberapa penelusur sejarah adalah nama Kiai Dahlan. Dalam penelusuran penulis, ada beberapa nama Kiai Dahlan yang populer dan sempat terjadi kerancuan. Nama pertama tentu saja KH Ahmad Dahlan alias Muhammad Darwis, pendiri Persyarikatan Muhammadiyah. Cendekiawan Deliar Noer, dalam salah satu karyanya, menyebut apabila Kiai Ahmad Dahlan ini juga ikut memprakarsai berdirinya Majelis Islam Ala Indonesia alias MIAI, pada tahun 1937. Padahal apabila ditelisik, Kiai Dahlan Muhammadiyah wafat pada tahun 1923, jauh sebelum berdirinya MIAI. Lantas siapa sebenarnya Kiai Dahlan pendiri MIAI ini?

Nama lengkapnya KH Ahmad Dahlan bin KH Muhammad Achyad, dari Kebondalem Surabaya. Beliau adalah aktivis pergerakan yang membidani beberapa embiro NU, seperti Tashwirul Afkar, dan kemudian terlibat penuh dalam pendirian organisasi NU, 1926, sebagai Wakil Rais Akbar. Ulama kelahiran 30 Oktober 1885 ini juga menulis beberapa risalah yang mengkonter perdebatan furuiyah antara kaum pembaru dan kaum tradisionalis yang meruncing di era 1920-an tersebut. Sahabat penulis, Dr Wasid Mansyur menuliskan biografi Kiai Dahlan Kebondalem ini dengan judul Kiai Ahmad Dahlan: Aktivis Pergerakan dan Pembela Ajaran Aswaja (Surabaya: Pustaka Idea, 2015).

Sebelum era Kiai Dahlan Muhammadiyah dan Kiai Dahlan MIAI, ada juga era keemasan Kiai Dahlan Falak. Siapa beliau ini? Nama lengkapnya KH Dahlan bin Abdullah Attarmasi Assamarani. Beliau pakar falak yang kemudian diambil menantu oleh KH. Saleh Darat. Penulis Natijatul Miqat yang juga adik kandung Syaikh Mahfudz Attarmasi ini adalah salah seorang ulama Nusantara yang diakui kepakarannya di bidang falak.

Dalam buku Materpiece Islam Nusantara: Sanad dan Jejaring Ulama-Santri 1830-1945 karya Zainul Milal Bizawie disebutkan bahwa KH Ahmad Dahlan dan sahabatnya, Syaikh Muhammad Hasan Asyari al-Baweyani, berangkat menuju beberapa wilayah Arab dan menuju ke Al Azhar Kairo. Di Kairo keduanya berjumpa dengan dua ulama Nusantara: Syaikh Jamil Djambek dan Syaikh Ahmad Thahir Jalaludin. Selama di Kairo keduanya mengkhatamkan kitab induk ilmu falak karya Syaikh Husain Zaid Al Mishri, Al Mathla fi Al Said fi Hisabi al Kawakib ala Rashdi al Jadid yang ditulis awal abad 19. Sepulang dari rihlah ilmiah ini, beliau mengembangkan kajian keilmuannya di Semarang. Kiai Dahlan Falak ini lahir di Pacitan, 1862, dan wafat di Semarang, 1911. Makamnya bersebelahan dengan mertuanya, KH Sholeh Darat.

Sedangkan Kiai Dahlan selanjutnya adalah KH Dahlan Abdul Qahar, salah seorang ulama asal Kertosono Nganjuk yang ikut membidani kelahiran NU. Karib KH Abdul Wahab Chasbullah ini bersama Syaikh Ghanaim al-Mishri ikut melakukan negosiasi ke Raja Arab Saudi, Ibnu Suud, mengenai kebebasan menjalankan madzhab dan beberapa tuntutan lain melalui wadah Komite Hijaz, beberapa saat sebelum NU berdiri.

Adapun Kiai Dahlan berikutnya juga berasal dari NU. Lahir di Pasuruan, 1909, dengan nama Muhamamd Dahlan, beliau tercatat sebagai penggerak (muharrik) Ansor NU di awal berdirinya bersama KH. Abdullah Ubaid. Di kemudian hari, aktivis yang dianugerahi suara merdu ini juga menjabat sebagai Ketua PBNU, lalu menjadi Menteri Agama (menggantikan KH. Saifuddin Zuhri) di awal Orde Baru. Kiprah yang paling menonjol adalah merintis Musaqabah Tilawatil Quran (MTQ), dan bersama KH Ibrahim Hosen, Prof Mukti Ali, KH Zaini Miftah, dan KH Ali Masyhar merintis berdirinya Perguruan Tinggi Ilmu Quran. Pengamal Dalail Khairat hingga akhir hayatnya ini dimakamkan di TMP Kalibata, pada 1 Februari 1977.

Kiai Dahlan yang paling terakhir adalah KH Dahlan Salim Zarkasyi atau yang masyhur dengan sebutan Kiai Dahlan Qiraati. Beliau turut andil dalam pengembangan ilmu al-Quran di Indonesia dengan metodenya, Qiraati. Hamilul Quran yang lahir pada 1928 ini dikenal sebagai sosok yang mencintai anak-anak dan di sisi lain berusaha menanamkan kecintaan al-Quran kepada mereka. Hingga akhirnya dengan metode Qiraati, beliau ikut turut serta mengembangkan kajian keilmuan al-Quran dan membantu masyarakat awam dalam belajar membaca al-Quran.

Kiai Dahlan mungkin tidak pernah menyangka metode hasil karyanya akan bisa sepopuler seperti sekarang ini. Bermula dari pengajian di sebuah teras rumah di Jalan MT. Haryono, Kampung Kebonarum, Semarang, kini Qiraati telah dimanfaatkan dan dipelajari oleh puluhan ribu masyarakat di berbagai pelosok nusantara. Bahkan, saat ini Qiraati juga telah merambah hingga ke beberapa negeri jiran. Namun sayang, beliau tidak sempat ikut menyaksikan kemanfaatan Qiraati yang dulu beliau rintis, sebab KH. Dahlan Salim Zarkasyi telah wafat pada tanggal 20 Januari 2001 yang lalu.

***

Berdasarkan pemaparan di atas, dan mengingat pentingnya penelusuran data secara komprehensif agar tidak terjadi silangsengkarut sejarah ulama kita, maka penyusunan Thabaqat Ulama Nusantara penulis kira menjadi langkah paling tepat. KH Ahmad Musthofa Bisri (Gus Mus) pernah menyatakan apabila Syaikh Yasin bin Isa al-Fadani, salah seorang muhaddits keturunan Indonesia yang bermukim di Makkah, pernah menyatakan cita-citanya menulis Thabaqat Ulama Indonesia. Tujuannya, kata Gus Mus mengutip pendapat Syaikh Yasin, agar kiprah ulama Indonesia bisa mendunia. Namun sayangnya, hingga kini cita-cita Syaikh Yasin belum ada yang melanjutkan. Wallahu Alam Bisshawab.

Rijal Mumazziq Z, Ketua Lembaga Talif wa Nasyr (LTN) PCNU Kota Surabaya.

Dari (Fragmen) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/75428/enam-nama-kiai-dahlan-dan-pentingnya-thabaqah-ulama-nusantara

KARTANU

Minggu, 26 April 2009

Ini Jawaban Untuk Mereka yang Anti Madzhab

KARTANU - Assalamu 'alaikum wr. wb. Mohon izin bertanya terkait dengan mazhab-mazhab, ustadz. Sebenarnya mazhab itu apa sih? Dan mengapa kita harus bermazhab, bukankah sudah cukup kita berpegang kepada Al-Quran dan As-Sunnah? Bukankah mazhab itu hanya pendapat dan perkataan manusia yang bisa benar dan bisa salah. Kenapa harus dipegang dan dirujuk? Mohon maaf kalau redaksi saya agak kurang baik dalam bertanya. Sebelumnya terima kasih atas penjelasan ustadz. Wassalam

Jawaban:

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Sebelum kita bahas pertanyaan ini lebih lanjut, ada baiknya kita sepakati terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan 'mazhab' dan istilah 'bermazhab'. Sebab jangan-jangan kita tidak sepakat tentang pengertiannya, tetapi sudah terlanjur perang opini.

Ini Jawaban Untuk Mereka yang Anti Madzhab - KARTANU
Ini Jawaban Untuk Mereka yang Anti Madzhab - KARTANU


Ini Jawaban Untuk Mereka yang Anti Madzhab

KARTANU

A. Mazhab adalah penjelasan paling sah atas isi Al-Quran dan as-Sunnah Yang kita sepakati dari istilah mazhab adalah penjelasan yang asli, otentik, baku dan ilmiyah tentang kandungan hukum Allah yang tertuang di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Ternyata Al-Quran dan As-Sunnah yang kita warisi dari Rasulullah SAW itu masih harus dijelaskan dulu sebelum kita laksanakan.

Kenapa harus ada penjelasan? Bukankah Al-Quran dan hadits itu sendiri sudah merupakan penjelasan buat orang yang bertaqwa?

Pertanyaan agak-agak lugu tapi polos ini mungkin sering kita dengar dari mulut saudara-saudara kita yang sedang belajar ilmu agama. Tidak apa-apa, namanya saja masih belajar. Wajarlah kalau pertanyaannya agak polos.

KARTANU

Jawabannya adalah bahwa orang-orang terbaik dari generasi terbaik saja masih bermazhab dan tidak sok tahu menafsir-nafsirkan ayat-ayat Allah SWT dengan akal pikiran dan nalar mereka sendiri. Mereka masih tetap bertanya tentang Al-Quran, as-Sunnah dan hukum-hukum syariah kepada Rasulullah SAW.

1. Shahabat masih harus minta penjelasan Al-Quran dari Rasulullah SAW Pertanyaannya, mereke orang sekelas shahabat itu masih harus bertanya tentang Al-Quran, padahal mereka mengalami turunnya Al-Quran. Dan bahkan Al-Quran turun dalam bahasa mereka, yaitu bahasa Arab?

a. Kendala Bahasa dan Istilah Memang benar ayat-ayat Al-Quran turun dalam bahasa Arab yang khas di masa Nabi SAW. Namun yang harus diketahui dengan kualitas level bahasa yang teramat tinggi sastranya. Sehingga terkadang tidak semua shahabat mampu memahami kata per kata, kalimat per kalimat serta redaksi-redaksi di ayat Al-Quran itu sendiri.

Seringkali mereka harus bertanya lagi kepada Rasulullah SAW tentang apa maksud suatu ayat. Jadi Al-Quran itu tidak otomatis jelas dan mudah dipahami, bahkan oleh mereka yang selevel para shahabat sekalipun. Tetap saja mereka masih harus mendapatkan penjelasan dulu dari Rasulullah SAW.

Bayangkan kalau sekelas shahabat saja masih harus bertanya tentang isi Al-Quran dan kandungan hukumnya, bagaimana mungkin orang di masa kini 15 abad setelah turunnya Al-Quran, tidak paham bahasa Arab, tidak tahu asal muasal turunnya ayat, tidak tahu jeluntrungannya, tiba-tiba mereka berhak untuk menafsirkan sendiri? Lalu bikin fatwa aneh-aneh sambil melarang orang bertanya kepada sumber rujukan aslinya, yaitu para shahabat? Sungguh aneh dan tidak masuk akal, bukan?

b. Nasikh Wal Mansukh Syariat Islam di dalam Al-Quran tidak turun sekaligus, tetapi berproses. Berproses di sini bukan sekedar ayat turun satu persatu, tetapi lebih dari itu, kadang ada proses perubahan hukum seiring dengan semakin banyaknya turun ayat.

Hukum yang sudah ditetapkan pada satu ayat bisa saja dianulir dan diubah menjadi hukum yang lain oleh ayat yang turun kemudian. Keharaman yang dibawa oleh suatu ayat bisa diubah menjadi kehalalan oleh turunnya ayat berikutnya. Sebaliknya, kehalalan yang didasarkan pada satu ayat, kemudian diharamkan oleh ayat yang turun kemudian.

Banyak sekali orang awam di masa kini yang sama sekali tidak tahu adanya ayat yang dinasakh atau dibatalkan hukumnya. Dengan segala keluguannya mereka mengira semua ayat itu berlaku hukumnya sama rata. Mereka tentu harus bertanya dulu kepada sumber rujukan utama yaitu para shahabat. Tidak boleh asal main keluarkan fatwa dan hukum seenaknya.

c. Tidak semua shahabat merupakan ahli hukum Satu hal lagi yang harus dicatat juga bahwa tidak semua shahabat itu ahli dalam hukum agama, meskipun mereka hidup bersama Rasulullah SAW. Ibnul Qayyim Al-Jauziyah di dalam kitab I'lamul Muwaqqi'in memperkirakan hanya sekitar 130-an orang saja dari para shahabat yang punya kapasitas dalam mengistimbath hukum.

Padahal kita tahu bahwa jumlah shahabat itu mencapai angka 124 ribu orang. Dibandingkan yang ahli dalam istinbath hukum, ternyata jauh lebih banyak mereka yang bukan ahlinya.

Oleh karena itu, tidak bisa kita pungkiri bahwa sesungguhnya para shahabat itu meski bisa bahasa Arab, mengalami proses turunnya Al-Quran, bahkan menjadi tokoh langsung di dalam ayat yang diturunkan, namun tetap tetap saja mereka harus bertanya kepada Rasulullah SAW atau kepada shahabat senior yang sudah berlevel ahli istimbath hukum. Maksudnya tetap harus bertanya kepada ahlinya tentang isi kandungan hukum di dalam Al-Quran. Dan proses bertanya itu yang kita sebut bermazhab.

Mereka yang hidup bersama Rasulullah SAW saja masih harus bermazhab, bagaimana mungkin orang di zaman sekarang merasa sudah pintar dan mereka berhak menafsir-nafsirkan ayat Al-Quran seenaknya? Apakah mereka merasa lebih pintar dan lebih tinggi ilmunya dari para shahabat?

2. Para shahabat mendapat legalisasi dari Rasulullah SAW untuk berfatwa Menarik untuk dicermati, para sebagian shahabat yang memang telah mendapatkan pendididukan khusus untuk menjadi ahli istimbath hukum ini kemudian mendapatkan legalitas dari Rasulullah SAW. Tentu tidak semua mereka mendapatkannya, melainkan hanya yang sudah mencapai derajat ilmunya. 

Wajiblah atas kalian untuk berpegang pada sunnahku dan sunnah para penggantiku yang lurus. Pegang erat sunnah itu dan gigitlah dengan geraham. (HR. Ahmad)

Dengan hadits ini maka para shahabat ahli istimbath hukum itu telah menjadi juru fatwa resmi yang telah menandatangani 'kontrak' sebagai wakil Allah di muka bumi. Jabatannya tentu bukan sebagai pembawa wahyu tetapi sebagai juru tafsir resmi dari Al-Quran dan As-Sunnah.

Siapa saja yang mencoba menafsir-nafsirkan ayat Al-Quran ataupun sunnah Rasulullah SAW semata-mata hanya lewat akalnya sendiri, maka sudah dipastikan sesat, keliru dan tidak bisa diterima. Anehnya di zaman sekarang bisa-bisanya ada orang yang tidak mengerti Al-Quran dan As-Sunnah, tetapi malah mengaku-ngaku sebagai ahli fatwa, lalu bikin fatwa seenaknya. Lucunya sampai bilang begini:

"Tinggalkan semua perkataan manusia dan cukup Al-Quran dan As-Sunnah saja yang kita pegang. Tidak usah merujuk kepada shahabat, tabi'in atau fuqaha, karena mereka manusia dan sangat mungkin mengalami kesalahan".

Ungkapan ini kelihatannya benar, tetapi sekaligus juga banyak pesan menyesatkan tersirat di dalamnya. Di antarnya kesesatannya adalah sebagai berikut:

a. Sama saja mendustai kenabian Muhammad SAW Dengan mencoret peran para shahabat, tabi'in dan para fuqaha, otomatis kita menutup penjelasan, ilmu dan pesan-pesan penting dari Rasulullah SAW yang dititipkan kepada mereka. Dan itu berarti sama saja kita mendustakan kenabian Muhammad SAW.

b. Bikin agama baru mendompleng agama Islam Bila kita perpegang pada Al-Quran dan Sunnah, lalu kita tafsiri sendiri semua isi kandungannya, seenak kita dan sesuai dengan selera kita sendiri, maka sesungguhnya kita telah menciptakan agama baru. Agama itu sama sekali bukan agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW, tetapi kita cuma mendompleng saja, sementara isi dan ajarannya 100% buatan akal kita sendiri.

3. Para Shahabat Boleh Berbeda Pendapat Dan yang sangat menarik adalah meski sudah sah menjadi juru tafsir resmi Al-Quran dan As-Sunnah oleh Rasulullah SAW, namun para shahabat ahli istimbath hukum tetap diberi 'kebebasan' untuk saling berbeda pendapat.

Dan sudah pasti bahwa perbedaan pendapat di tengah para shahabat tentu tidak datang dari hawa nafsu pribadi, atau kepentingan kelompok tertentu, atau motivasi uang, jabatan, kekayaan, popularitas dan hal-hal rendah lainnya. Tentu saja mereka suci dari semua tuduhan itu. Sebab Allah SWT menjamin bahwa mereka itu mendapat ridha dari Allah SWT dan dalam hadits yang shahih mereka 100% dipastikan masuk surga.

Dari Said bin Zaid bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Ada sepuluh orang di dalam surga : Abu Bakar di dalam surga, Umar di dalam surga, Utsman di dalam surga, Ali di dalam surga, Thalhah di dalam surga, Az-Zubair di dalam surga, Abdurrahman bin Auf di dalam surga, Said bin Malik di dalam surga, Abu Ubaidah Ibnul Jarrah di dalam surga, kemudian Said terdiam. Orang-orang bertanya,”Siapa yang kesepuluh?”. Said menjawab,”Said bin Zaid”- yaitu dirinya sendiri. (HR. Ahmad dan Abu Daud)

4. Boleh memilih mazhab shahabat yang mana saja Ketika para shahabat yang sudah menjadi derajat ahli istimbath hukum ini punya pendapat yang berbeda satu dengan yang lainnya, maka para shahabat yang lain boleh memilih pendapat yang mana saja dari mereka.

Para shahabatku bagaikan gemintang di langit. Pendapat siapapun yang kamu ambil tetap dapat petunjuk. Perbedaan pendapat mereka jadi rahmat bagi kamu. (HR. Al-Baihaqi)

Dalam kenyataannya ada mazhab Abu Bakar, mazhab Umar, mazhab Ustman, mazhab Ali, mazhab Ibnu Abbas, mazhab Ibnu Umar, mazhab Ibnu Mas'ud, mazhab Aisyah, mazhab Ummu Salamah dan lainnya. Mereka bisa saja berbeda pendapatnya, namun semuanya berada di dalam wilayah kebenaran dan petunjuk dari Rasulullah SAW.

Maka kepada pendapat, fatwa serta mazhab para shahabat itulah kita wajib berpegang-teguh. Sebab pada hakikatnya kita sedang kembali kepada Al-Quran. KARTANU

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/03/ini-jawaban-untuk-mereka-yang-anti-mazhab.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KARTANU sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KARTANU. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KARTANU dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock