Tampilkan postingan dengan label Toleransi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Toleransi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Juni 2016

STAINU Malang Ingin Santri Bisa Kuliah

Malang, KARTANU. Menyertakan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai bagian dari nama perguruan tinggi mungkin dianggap dapat membatasi ruang karena seakan hanya spesifik bagi kalangan NU dan pondok pesantren. Namun bagi Rais Syuriyah Pengurus Cabang NU Kabupaten Malang, KH Muh. Mansjur, pemberian nama NU didasari cita-cita ingin membantu para santri atau alumni pondok pesantren yang ingin menempuh jalur pendidikan tinggi. Maka sekolah tinggi yang didirikannya di daerah Karangploso, Malang, dinamai Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Malang.

Hampir semua sekolah NU baik di tingkat dasar, menengah maupun tinggi tidak mau memakai nama NU. Mungkin ini karena persaingan. Pemberian nama NU seakan-sekan-akan sekolah itu hanya spesifik untuk kalangan NU saja. Namun kata Kiai (KH Muh. Mansjur), kita tetap pakai nama NU, demikian disampaikan Pujiono Pembantu Ketua III, kepada KARTANU di kampus STAINU Malang, Ahad (5/2).

STAINU Malang Ingin Santri Bisa Kuliah (Sumber Gambar : Nu Online)
STAINU Malang Ingin Santri Bisa Kuliah (Sumber Gambar : Nu Online)


STAINU Malang Ingin Santri Bisa Kuliah

STAINU Malang baru berdiri pada 2010 lalu dengan membuka dua jurusan, yakni Ekonomi Syariah (Fak. Syariah) dan Manajemen Pendidikan Islam (Fak. Tarbiyah), dua jurusan yang saat ini diminati dan diharapkan dapat meningkatkan peran para alumni pesantren. Namun sebenarnya proses perkuliahan sudah dimulai pada 2003, bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Tarbiyah (STIT) Raden Rahmat, Kepanjen, Malang.

Selama dua tahun berjalan, dari 160 mahasiswa yang terdaftar di dua angkatan ini banyak juga mahasiswa yang berasal dari kalangan luar NU atau pesantren, bahkan ada yang lulusan dari sekolah Muhammdiyah. Jadi anggapan bahwa STAINU hanya diminati kalangan NU ternyata tidak sepenuhnya benar, dan STAINU akan terus berbenah dalam rangka meningkatkan kualitas di ri di tengah persaingan.

KARTANU

Di luar urusan persaingan, pemberian nama STAINU juga ada untungnya. Dengan memakai nama NU, STAINU Malang lebih bisa bekerjasama dengan pondok-pondok pesantren di Malang dan sekitarnya.

Kami sering bersilaturahmi dan bersosialisasi ke pondok-pondok pesantren di Malang dan kami disambut baik, karena sangat jelas identitas ke-NU-annya. Banyak pengasuh pesantren dan orang tua santri yang khawatir jika ke-NU-an anaknya hilang ketika masuk perguruan tinggi lain, kata Pujiono.

KARTANU

Selain materi-materi perkuliahan pada umumnya, di STAINU ini ada materi khusus mengenai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) atau ke-NU-an yang rencananya akan diajarkan sampai sampai tiga kali, yakni Aswaja 1, 2 dan 3 pada semester II, IV dan VI.

Saat ini STAINU Malang juga berkerjasama dengan Pondok Pesantren Al-Yasini Pasuruan. Pesantren ini mengirimkan 48 mahasiswanya karena izin pendirian perguaruan tinggi yang diajukan hingga saat ini belum keluar, sementara perkuliahan sudah berlangsung dua tahun ini.

STAINU Malang berdekatan dengan Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan salah satu universitas NU yang sudah lebih dulu berdiri yakni Universitas Islam Malang (Unisma). Namun secara geografis STAINU terletak di posisi yang cukup strategi di jalan utama dari arah Surabaya atau Malang Kota ke Batu dan Kediri. STAINU berharap diminati oleh para calon mahasiswa dari Kota Batu.

Di Batu jarang ada madrasah Aliyah (MA), sementara program Paket C digalakkan di sana. Namun yang lebih penting kami ingin memfasilitasi para alumni pesantren di eilayah Batu dan sekitarnya. Banyak alumni pesantren yang tersandung persoalan formalitas, kata Pujiono.

Menurut Puji, salah satu keinginan STAINU adalah memfasilitasi alumni pesantren yang hanya punya ijazah paket C. Dari seluruh mahasiswa yang terdaftar, sekitar 10 persennya berijazah Paket C. Intinya kami ingin santri kuliah, kata Puji.

Para alumni pesantren atau para siswa yang menempuh Paket C umumnya tidak terlalu akrab dengan materi-materi umum, namun para lulusan pesantren mempunyai kemampuan pemahaman ilmu-ilmu keislaman dengan sangat baik, terutama yang berasal dari literatur Arab. Singkatnya, STAINU ini dimaksudkan untuk membebaskan santri dari belenggu formalitas pendidikan.

Penulis : A. Khoirul Anam

STAINU Malang Berharap Santri Bisa Kuliah

Malang, KARTANU. Menyertakan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai bagian dari nama perguruan tinggi mungkin dianggap

dapat membatasi ruang karena hanya spesifik bagi kalangan NU dan pondok pesantren. Namun

bagi Rais Syuriyah Pengurus Cabang NU Kabupaten Malang, KH Muh. Mansjur, pemberian nama NU

didasari cita-cita ingin membantu para santri atau alumni pondok pesantren yang ingin

menempuh jalur pendidikan tinggi. Maka sekolah tinggi yang didirikannya di daerah

Karangploso, Malang, dinamai Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Malang.

Hampir semua sekolah NU baik di tingkat dasar, menengah maupun tinggi tidak mau memakai

nama NU. Mungkin ini karena persaingan. Pemberian nama NU seakan-sekan-akan sekolah itu

hanya spesifik untuk kalangan NU saja. Namun kata Kiai kita tetap pakai nama NU, kata

Pujiono Pembantu Ketua III, kepada KARTANU di kampus STAINU, Malang, Ahad (5/2).

STAINU Malang baru berdiri pada 2010 lalu dengan membuka dua jurusan, yakni Ekonomi Islam

dan Manajemen Pendidikan Islam, dua jurusan yang saat in diminati dan diharapkan dapat

meningkatkan peran para alumni pesantren. Namun sebenarnya proses perkuliahan sudah dimulai

pada 2003, bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Tarbiyah (STIT) Raden Rahmat, Kepanjen, Malang.

Dari 160 mahasiswa yang terdaftar di dua angkatan ini banyak juga mahasiswa yang berasal

dari kalangan luar NU atau pesantren, bahkan ada yang lulusan dari sekolah Muhammdiyah. Jadi

anggapan bahwa STAINU hanya diminati kalangan NU ternyata tidak sepenuhnya benar, dan STAINU

akan terus berbenah dalam rangka meningkatkan kualitas di ri di tengah persaingan.

Di luar urusan persaingan, pemberian nama juga ada untungnya. Dengan memakai nama NU, STAINU

Malang lebih bisa bekerjasama dengan pondok-pondok pesantren di Malang dan sekitarnya.

Kami sering bersilaturahmi dan bersosialisasi ke pondok-pondok pesantren di Malang dan kami

disambut baik karena mungkin sangat jelas identitas ke-NU-annya. Banyak pengasuh pesantren

dan orang tua santri yang khawatir jika ke-NU-an anaknya hilang ketika masuk perguruan

tinggi lain, kata Pujiono.

Selain materi-materi perkuliahan pada umumnya, di STAINU ini ada materi khusus mengenai

Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) atau ke-NU-an yang rencananya akan diajarkan sampai sampai

tiga kali, yakni Aswaja 1, 2 dan 3 pada semester II, IV dan VI.

Saat ini STAINU Malang juga berkerjasama dengan Pondok Pesantren Al-Yasini Pasuruan.

Pesantren ini mengirimkan 48 mahasiswanya karena izin pendirian perguaruan tinggi yang

diajukan hingga saat ini belum keluar, sementara perkuliahan sudah berlangsung dua tahun

ini.

STAINU Malang berdekatan dengan Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Universitas

Muhammadiyah Malang (UMM) dan salah satu universitas NU yang sudah lebih dulu berdiri yakni

Universitas Islam Malang (Unisma). Namun secara geografis STAINU terletak di posisi yang

cukup strategi di jalan utama dari arah Surabaya atau Malang Kota ke Batu dan Kediri. STAINU

berharap diminati oleh para calon mahasiswa dari Kota Batu.

Di Batu jarang ada madrasah Aliyah (MA), namun program Paket C digalakkan di sana. Namun

yang lebih penting kami ingin memfasilitasi para alumni pesantren di eilayah Batu dan

sekitarnya. Banyak alumni pesantren yang tersandung persoalan formalitas , kata Pujiono.

Menurut Puji, salah satu keinginan STAINU adalah memfasilitasi alumni pesantren yang hanya

punya ijazah paket C. Dari seluruh mahasiswa yang terdaftar, sekitar 10 persennya berijazah

Paket C. Intinya kami ingin santri kuliah, kata Puji.

Para alumni pesantren atau para siswa yang menempuh PC umumnya tidak terlalu akrab dengan

materi-materi umum, namun para lulusan pesantren mempunyai kemampuan pemahaman ilmu-ilmu

keislaman dengan sangat baik, terutama yang berasal dari literatur Arab. Singkatnya, dengan

STAINU ini dimaksudkan untuk membebaskan santri dari belenggu formalitas.

Penulis : A. Khoirul Anam

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/36202/stainu-malang-ingin-santri-bisa-kuliah

Rabu, 15 Februari 2012

Kader NU Harus Mampu Memimpin Diri Sendiri

Kebumen, KARTANU. Sebagai generasi penerus Nahdlatul Ulama dan bangsa, kader IPNU-IPPNU diharapkan mampu memimpin diri sendiri, sebelum memimpin orang lain. Demikian diungkapan Hasan Asyari, dalam Talkshow Kepemimpinan Aswaja yang digelar oleh PC IPNU-IPPNU Kebumen, Jumat (10/2).

"Dalam Al-Quran surah Al-Baqarah, Tuhan sudah menegaskan: inni jaailun fil ardli khalifah. Jadi, setiap diri kita adalah pemimpin," ungkap anggota DPRD Jateng ini di depan puluhan kader muda NU.

Kader NU Harus Mampu Memimpin Diri Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader NU Harus Mampu Memimpin Diri Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)


Kader NU Harus Mampu Memimpin Diri Sendiri

Kang Hasan, begitu ia biasa disapa, juga mencontohkan orang yang gagal dalam memimpin diri sendiri. "Jika bangun pagi kalian selalu telat, adalah bukti kalian belum mampu memimpin diri sendiri," terangnya.

Dalam acara yang digelar di Auditorium Gedung Muslimat NU Kebumen tersebut, Kang Hasan juga berharap agar kader IPNU-IPPNU Kebumen memiliki cita-cita di masa depan.

KARTANU

"Cita-cita harus realistis. Harus bisa melihat potensi sekeliling dan lingkungan kita. Misalnya, di Kebumen atau desa yang kalian tempati mayoritas petani atau nelayan, cita-citanya jangan jauh-jauh dari itu. Kuliahlah di jurusan pertanian, peternakan atau perikanan," katanya memberi arahan.

"Anak petani dan nelayan harus bangga. Sebisa mungkin, jangan ambil jalur yang tidak ada kaitannya dengan potensi lingkungan kita tinggal, meski itu juga tidak apa-apa," terang Kang Hasan, diikuti pemaparan peta-potensi Kebumen yang kaya sumber daya alamnya.

KARTANU

Dalam acara ini, hadir Muhammad Hidayatullah mewakili ketua PW IPNU Jateng. Ketua PW IPPNU Jateng Sri Nur Ainingsih hadir memberi sambutan. Dalam pada itu, ia berharap melalui talkshow ini mampu menggugah mental dan membangkitkan jiwa kepemimpinan.

Berdasarkan pantauan KARTANU, peserta tampak antusias mengikuti materi. Banyak pertanyaan yang diajukan kepada pemateri. Sebagai penghargaan, panitia juga memberi doorprize berupa kaos eksklusif kepada para penanya.

Acara berjalan lancar sejak pukul 09.00-11.30 WIB. Di akhir sesi, Istiqamah, selaku ketua panitia memberikan cinderamata kepada narasumber. Kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama. (Ahmad Naufa/Fathoni)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/75342/kader-nu-harus-mampu-memimpin-diri-sendiri

KARTANU

Rabu, 13 Oktober 2010

Gus Dur Menemukan Makam Syeikh Abdullah Qutbuddin Wonosobo

KARTANU - Di Desa Candirejo Kecamatan Mojotengah Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah terdapat sebuah makam kuno. Konon, makam tersebut bersemayam jasad seorang tokoh pembawa alirah Tarekat Naqsbandiyah pertama kali di tanah Jawa. Syekh Abdullah Qutbudin namanya. Dia berasal dari Iran. Menyebarkan Islam dengan membawa bendera tarekat yang kemudian menyatu dengan kehidupan masyarakat Jawa. Bahkan diyakini, Candirejo sendiri merupakan desa Islam pertama di Jawa karena kedatangan Syekh Abdullah Qutbudin ini.

Belum ada penelitian ilmiah yang mengupas Syekh Abdullah Qutbudin ini. Siapa dirinya, bagaimana sepak terjangnya dalam menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa, khususnya di Wonosobo. Hingga kini, cerita tentang tokoh tersebut masih dari mulut ke mulut.

Gus Dur Menemukan Makam Syeikh Abdullah Qutbuddin Wonosobo - KARTANU
Gus Dur Menemukan Makam Syeikh Abdullah Qutbuddin Wonosobo - KARTANU


Gus Dur Menemukan Makam Syeikh Abdullah Qutbuddin Wonosobo



Gus Dur Menemukan Makam Syeikh Abdullah Qutbuddin Wonosobo - KARTANU
Gus Dur Menemukan Makam Syeikh Abdullah Qutbuddin Wonosobo - KARTANU


Gus Dur Menemukan Makam Syeikh Abdullah Qutbuddin Wonosobo

Sejak dikunjungi Gus Dur, makam Syekh Abdullah Qutbudin mulai ramai peziarah. Gus Dur yang menemukan makam tokoh yang bersejarah dalam perkembangan Islam di Jawa ini. Menurut cerita KH Chabibullah Idris, ulama terkenal di Wonosobo, Gus Dur tahun 1994 meminta dirinya untuk menemani mencari makam Syekh Abdullah Qutbudin yang berada di Candi.

Peristiwa itu jauh sebelum Gus Dur menjadi Presiden RI. Tokoh kharismatik ini memang memiliki kepedulian tinggi terhadap peninggalan bersejarah. Termasuk mencari makam-makam yang memiliki nilai sejarah tinggi. Seperti halnya makam Syekh Abdullah Selomanik di Dusun Kalilembu, Dieng Wetan yang merupakan tokoh religius juga. Tak peduli di tengah hutan atau di atas gunung, jika ada makam wali, Gus Dur akan berusaha menziarahinya. Sekalipun dengan segala keterbatasan fisik yang dialaminya. Dengan tekad kuatnya tersebut, segala rintangan dapat dilaluinya.

Diungkapkan Edi dan Afif Mustofa, tokoh pemuda Candirejo. Sebelumnya masyarakat tidak mengetahui siapa yang dikuburkan di makam tersebut. Sehingga makam tersebut dibiarkan saja. Sampai akhirnya pada tahun 1994, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur datang ke Desa Candirejo mengunjungi makam.

“Kami tidak tahu ada makam tokoh terkenal Islam. Karena makamnya tidak sendirian, tapi menjadi satu dengan kuburan masyarakat desa. Tidak seperti tokoh-tokoh lain, yang makamnya berada di ketinggian atau sendirian. Makam Syekh Qutbudin ini campur dengan makam desa,” ungkap pemuda lulusan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang itu.

Dirinya tidak paham betul, yang dimaksud candi itu nama desa atau kawasan candi di Dataran Tinggi Dieng. “Kata Gus Dur, Islam pertama kali masuk ke Jawa di candi. Kita ini tidak tahu candi itu mana, apakah komplek candi Dieng atau di mana. Beliau datang ke Wonosobo. Saya diminta menemaninya mencari makam tokoh Islam ini,” jelasnya.

KH Chabibullah Idris bersama kru Gus Dur memburu makam kuna tersebut. KH Chabib ditemani anaknya mengendarai sepeda motor dini hari. Sementara rombongan Gus Dur berangkat sendiri. Mereka berpencar.

“Akhirnya sampai di Desa Candirejo. Saya tanya apakah ada makam kuna di desa itu. Kata warga memang ada, tapi tidak jelas makam siapa. Letak makam di tengah-tengah sawah. Tidak ada akses jalan ke sana. Hanya jalan setapak, bisa dikatakan jalan lembu. Wong blekuk-blekuk susah sekali. Saya berharap, Gus Dur jangan sampai ke situ karena jalannya mengerikan kayak gitu. Begitu saya sampai di lokasi, mencari mana yang dimaksud makam tua. Eh ternyata Gus Dur lebih dulu tiba di makam,” jelasnya panjang lebar.

Menurut keterangan Sastro Al Ngatawi, mantan asisten pribadi Gus Dur menuturkan, bersama Gus Dur, ketika mereka sampai di Wonosobo hampir Subuh, lalu mampir di salah satu pesantren (Ponpes Al-Asy’ariyyah) di kota tersebut. Ditemani beberapa Gus (putra kiai), mereka berangkat ke sebuah daerah yang diyakini masyarakat menjadi makam wali tersebut, posisinya tepat di bawah sebuah pohon besar, tetapi Gus Dur tak menghiraukannya.

Lalu mereka segera berjalan menuju lokasi lain. Di tengah-tengah perjalanan tersebut, rombongan tersebut bertemu dengan orang tua. Dalam suasana yang masih sepi tersebut, mereka mengamati orang tua yang terus berjalan di tengah-tengah sawah. Tiba-tiba saja, ketika di tengah sawah itu orang tua tersebut menghilang. Gur Dur pun berujar, “Ya itu tadi Syeikh Hubbuddin dan di tengah-tengah sawah tadi makamnya,” katanya.

Lanjut KH Chabib, begitu sampai ke makam yang dituju, mendadak Gus Dur jatuh terduduk. Dhalab. Menyatu dengan arwah dan mengucapkan istigfar seperti tanpa sadar. Mengetahui itu, para pengikut segera merubungnya. Ternyata makam kuna yang sebelumnya tidak dikenal, merupakan tempat bersemayam Syekh Abdullah Qutbudin.

“Menurut cerita Gus Dur, Syekh Abdullah ini mendirikan pesantren di Desa Candirejo. Karena tidak memiliki keturunan, lama-kelamaan pesantrennya hancur. Ini bisa dilihat dari banyaknya batu-batu candi yang berada di sekitar makam,”tutur Ketua Majelis Ulama Indonesia Jateng tersebut.

Diawali dari kedatangan Gus Dur itulah, makam akhirnya banyak diziarahi masyarakat. Terutama kalangan pondok pesantren. Dikatakan KH Chabib, mengutip pengakuan warga Candirejo, bertahun-tahun lalu, makam itu pernah didatangi orang asing. Tampaknya dia adalah seorang antropolog dari Eropa yang tengah mengadakan penelitian.

Orang Eropa heran dengan keberadaan Islam di Indonesia. Disebarkan sekian ratus tahun, tapi sampai saat ini tidak bisa hilang, bahkan semakin berkembang. Karena penyebaran agama Islam salah satu caranya dengan tarekat. Sebuah metode yang mengedepankan keimanan. Hal-hal keduniawian ditinggalkan. Hal inilah yang membuat Islam mendapat tempat di hati masyarakat.

Muncul Cahaya di Atas Makam Desa Candirejo Kecamatan Mojotengah tidak terlalu jauh dari Kota Wonosobo. Hanya sekitar 8 kilometer, dapat ditempuh dengan mobil maupun kendaraan roda dua. Jalan menuju desa tersebut cukup bagus, sudah beraspal meskipun tidak terlalu lebar.

Namun ada sebagian jalan desa yang masih berbatu-batu. Makam Syekh Abdullah Qutbudin sendiri berada agak jauh dari desa. Lokasinya di tengah-tengah areal persawahan bercampur dengan makam umum warga setempat.

Jalan menuju makam belum bagus, berupa batu-batu. Bahkan sebelumnya, kata Edi, jalan tersebut berupa setapak. Sejak Gus Dur kerap mendatangi makam, dibuat jalan lebar. Meskipun berbatu-batu namun dapat dilewati sepeda motor. Letak makam dari perkampungan Candirejo sekitar 1 kilometer. Sepanjang jalan menuju makam, disuguhi pemandangan hamparan tanah pertanian. Tanaman kol, padi dan jagung. Banyak juga pohon-pohon albasia yang tumbuh subur.

Di dekat makam terdapat sumber air yang sangat jernih. Airnya begitu dingin. Mengalir sepanjang waktu, tak pernah kering meskipun musim kemarau. Memasuki makam terkesan dingin dan sunyi. Maklum saja, komplek tersebut termasuk makam kuna. Ditumbuhi banyak pohon-pohon besar berusia ratusan tahun. Akar serabutnya menjalar ke mana-mana memenuhi makam. Sedangkan makam Syekh Abdullah Qutbudin berada persis di sebelah kiri pintu masuk. Berada di tengah-tengah akar yang bertonjolan. Sangat sederhana. Tidak ada cungkup atau kijing mewah. Berupa gundukan tanah yang pinggir-pinggirnya diberi batu-batu. Terdapat dua batu nisan berukir di kanan dan kirinya. Ada dua makam di situ yang berdampingan. Menurut warga, satunya adalah makam istri Syekh Abdullah Qutbudin.

Di sekitarnya, berserakan batu-batu tua berbentuk persegi panjang seperti bata. Diyakini batu tersebut adalah bekas bangunan pondok pesantren milik Syekh Abdullah. Konon, Syekh Abdullah tidak mau makamnya dibangun mewah. Dia memilih apa adanya berupa batu nisan yang berbentuk seperti candi.

“Masyarakat sini sering melihat ada cahaya yang muncul dari makam. Pernah petani cabe menunggui tanamannya, tiba-tiba ada cahaya terbang dari makam. Pernah juga ada seorang pimpinan pondok pesantren bersama 12 santrinya berziarah. Lalu hujan sangat deras. Anehnya, mereka tidak kehujanan sama sekali,” imbuh KH Chabibullah Idris.

Kini makam mulai ramai pengunjung. Sebelum Lebaran kemarin, ada sekitar 13 mobil yang datang berziarah. Mereka berasal dari Wonosobo. Kadang, peziarah memilih waktu malam hari, agar tak banyak orang tahu. Dan lebih khusuk berdoa. Suasana alami ini sangat mendukung peziarah religius.

Jalan menuju makam akan diaspal. Agar memudahkan peziarah datang ke makam. Sekaligus didirikan tempat representatif. Apabila mulai ramai, diharapkan direspon warga dengan mendirikan tempat berjualan baik makanan maupun suvenir. Tidak ketinggalan dibangun juga tempat parkir yang memadai. Pemerintah Kabupaten Wonosobo saat ini berusaha mengembangkan wisata religius dengan mengangkat potensi lokal setempat.

Sekilas Tentang Syekh Qutbudin Syaikh Qutbudin yang asli Persia itu dimakamkan di Desa Candirejo, Kecamatam Mojotengah, Wonosobo. Kondisi makam yang terletak di pinggir desa itu terkesan wingit karena ditumbuhi pepohonan yang umurnya mencapai ratusan tahun. Di sebelah makam terdapat sumber air yang sangat jernih. Mata air tersebut mengalir sepanjang tahun, tidak peduli musim kemarau panjang.

Di sekitar makam terdapat bebatuan kuno persegi dengan ukuran tertentu. Menurut penelitian tim sejarah Wonosobo yang berkunjung ke makam tersebut pertengahan September 2007 lalu, batu tersebut diduga merupakan reruntuhan candi atau tempat ibadah lainya.

Menurut Edi Masrukhin SAg, tokoh agama Desa Candirejo, makam tua tersebut telah lama dikunjungi orang. Bahkan pernah menjadi objek penelitian dua orang antropolog dari Eropa. Namun warga tidak mengetahui kalau makam tersebut merupakan salah satu tokoh penting dalam penyebaran agama Islam di Jawa. Masyarakat baru mengerti setelah KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) berziarah pada tahun 1994.

“Kami kira hanya makam kuno biasa. Tetapi setelah Gus Dur datang kami menjadi tahu kalau makam tersebut cukup bersejarah dalam penyebaran ajaran Islam di Jawa,” ujar Edi Masrukhin.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Dur menjelaskan riwayat Syaikh Qutbudin. Menurut Gus Dur, Islam yang pertama kali datang ke Indonesia beraliran thoriqoh yang lebih mudah beradaptasi dengan budaya masyarakat setempat dari pada aliran fiqh yang cenderung lebih kaku.

Setelah berdakwah di banyak tempat, Syaikh Qutbudin bermukim (tinggal) dan membuat pesantren di Desa Candirejo. Karena tidak ada anak turun yang meneruskan, setelah ratusan tahun pesantren itu hilang dan tinggal puing-puing. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/05/gus-dur-menemukan-makam-syeikh-abdullah-qutbuddin-wonosobo.html

Senin, 02 Agustus 2010

Secara Ilmiah Idul Adha 17 November

Jakarta, KARTANU. Hari Raya Idul Adha tahun 2010 ini kembali berbeda. Namun berdasarkan perhitungan ilmiah seharusnya memang jatuh pada Rabu (17/11). Karena, tidak mungkin ada rukyat hilal di Indonesia maupun Saudi pada 6 November. Sehingga 1 Dzulhijjah bertepatan dengan 8 November dan Idul Adha jatuh pada Rabu, 17 November 2010 ini.

Saya memilih Idul Adha Rabu, 17 November berdasarkan sidang isbat dan memiliki dasar ilmiah paling kuat,tutur peneliti senior astronomi dan astrofisika di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin, Senin (15/11).

Secara Ilmiah Idul Adha 17 November (Sumber Gambar : Nu Online)
Secara Ilmiah Idul Adha 17 November (Sumber Gambar : Nu Online)


Secara Ilmiah Idul Adha 17 November

Mengapa? Tidak adanya sistem penanggalan yang disepakati secara internasional, serta banyaknya kepentingan, menyebabkan perbedaan jatuhnya tanggal Hari Raya itu terjadi.

Muhammadiyah, mereka ini menggunakan kriteria wujud hilal. Asal bulan sudah berwujud maka positif. Namun NU, mereka didasarkan inkanur rukyiat atau kemungkinan bisa dirukyat dengan ketinggian bulan minimal dua derajat.

KARTANU

Karena itu ketika posisi bulan positif, tapi kurang dari dua derajat, seperti awal Zulhijjah sekarang maka sudah pasti terjadi perbedaan saat ada ketinggian bulan yang kritis.

KARTANU

Yang pasti secara astronomi, dua-duanya punya kelemahan. Baik wujud hilal dan ketinggian dua derajat. Terlalu rendah sehingga tidak bisa dirukyat. Ketinggian bulan minimal itu 4 derajat. Jarak bulan dan matahari lebih dari 6,4 derajat.

Tapi, yang benar adalah Rabu, 17 November berdasarkan sidang isbat dan memiliki dasar ilmiah paling kuat. Secara ilmiah misalnya, tidak mungkin ada rukyat hilal di Indonesia maupun Arab Saudi pada 6 November. Sehingga 1 Dzulhijjah bertepatan pada 8 November dan Idul Adha bertepatan pada 17 November 2010. (amf/ini)

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/25542/secara-ilmiah-idul-adha-17-november

Minggu, 11 April 2010

Ternyata Nyamuk Memiliki 100 Mata dan 3 Jantung

KARTANU - Seekor nyamuk diletakkan di bawah mikroskop, diperbesar 400 kali! Apa yang nampak? Ternyata, di kepalanya terdapat 100 mata. Padahal berat nyamuk itu hanya ada 0,001 gram. Subhanallah.

Di mulut nyamuk ada 48 gigi. Di dadanya pula terdapat tiga buah jantung yang pada tiap-tiap jantung ada dua atrium, dua bilik jantung serta dua katup jantung untuk bernafas. Sekecil apa ukuran jantung makhluk Allah Swt bernama nyamuk ini?

Selain itu, untuk mempertahankan diri, nyamuk dilengkapi oleh Allah Swt dengan alat pendeteksi panas. Nyamuk bisa mendeteksi lingkungan dan segala sesuatunya dengan pendeteksi panas tersebut.

Nyamuk juga memiliki alat pencair darah karena darah manusia itu terlalu kasar baginya. Darah dicairkan agar bisa mengalir ke belalai nyamuk. Nyamuk mengambil contoh darah manusia terlebih dahulu dengan mulai menggigit kita, manusia.

Indahnya lagi, nyamuk ternyata memiliki alat pembius sehingga orang yang diambil darahnya tidak selalu merasa sakit saat proses pengambilan darah. Beberapa detik kemudian, barulah efek bius itu hilang. Dan, kita seperti tercubit.

Jumlah belalai nyamuk ada 6 buah, semua berbetuk pisau. Empat buah pisau belalai nyamuk digunakan untuk membuat luka berbentuk segi empat ketika menggigit. Sedangkan dua pisau lainnya membentuk lubang sesuai besaran tabung penghisap darah.

Agar mengena korbannyya, di kaki nyamuk terdapat cakar. Di sana terdapat alat seperti bekam sehingga dapat menempel di tempat yang licin. Ajib.

MasyaAllah, semoga nyamuk yang kecil ini bisa menambah keimanan kita kepada penciptanya Allah Subhanahu wa ta'ala, walau kadang membuat kita sakit karena tidak mau bersih-bersih rutin.

Dalam Al-Qur'an, Allah Swt berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka tahu bahwa itu kebenaran dari Maha Pencipta. Tetapi mereka yang kafir berkata, "apa maksud Allah dengan perumpamaan ini? Dengan perumpamaan itu, banyak orang yang dibiarkan-nya sesat dan dengan itu banyak pula orang yang diberi-nya petunjuk. Tetapi tidak ada yang dia sesatkan dengan perumpamaan itu selain orang-orang fasik". (QS. al-Baqarah: 26)

MasyaAllah. Nyamuk adalah bukti bahwa Allah tidak pernah mendzolimi mahluknya. Di balik senjata nyamuk untuk menghisap darah, Allah memberi obat bius untuk menjaga supaya manusia tidak merasa sakit karena Allah Maha Tahu bahwa manusia sulit sekali menghindar dari gigitan nyamuk. Berbeda dengan hewan lainnya, di mana manusia masih bisa menghindar dari gigitan, misalnya kalajengking, ular dan lainnya. Wallahu a'lam. [KARTANU/ syaiful rosyid]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/menyibak-kebesaran-allah-lewat-nyamuk-yang-memiliki-100-mata-dan-bius.html

Jumat, 07 September 2007

JQH IAIN Surakarta Kembangkan Tradisi Sholawat

Sukoharjo, KARTANU. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Jamiyyah Al-Qurra Wa Al-Huffazh (JQH) Al-Wustha IAIN Surakarta membentuk divisi khusus sholawat yang bertujuan untuk mengembangkan minat dan bakat mahasiswa terutama dalam bidang seni Islam.

Mulai berdirinya sekitar satu tahun yang lalu, UKM ini sudah mengambil peran dalam mengembangkan ilmu keIslaman tidak hanya dari segi keilmuan murni namun juga dari sisi seni Islam itu sendiri.

JQH IAIN Surakarta Kembangkan Tradisi Sholawat (Sumber Gambar : Nu Online)
JQH IAIN Surakarta Kembangkan Tradisi Sholawat (Sumber Gambar : Nu Online)


JQH IAIN Surakarta Kembangkan Tradisi Sholawat

Sejak awal JQH memang sebagai media untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa yang mencintai seni selawat, seni membaca Al-Quran seperti Qiraah, kegiatan hafalan Al-Quran dan berbagai kegiatan lainnya," ujar Imah salah satu pengurus UKM JQH, Sabtu (27/12).

Ia mengatakan, ada lima devisi kegiatan yang dapat dipilih oleh anggota baru, diantaranya divisi sholawat, divisi kaligrafi, divisi tafsir, divisi tahfidz, dan divisi tilawah," jelasnya.

KARTANU

Bahkan beberapa waktu yang lalu kami baru saja mengadakan diklat di Pesantren Al Hikam Boyolali dan materi yang diberikan meliputi tiga materi pokok diantaranya adalah, ke-JQH-an, seni dan Islam, serta materi aswaja. Ketiganya perlu diberikan kepada mahasiswa sebagai pengetahuan awal mengikuti kegiatan JQH, terangnya.-

Diharapkan dengan hadirnya JQH Al Wustha ini dapat melestarikan dan mengembangkan kesenian Islam yang mulai redup terutama dikalangan mahasiswa. (ahmad rosidi/mukafi niam)

KARTANU

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/49052/jqh-iain-surakarta-kembangkan-tradisi-sholawat

KARTANU

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KARTANU sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KARTANU. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KARTANU dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock