Tampilkan postingan dengan label NetizenNu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NetizenNu. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 November 2015

Pagar Nusa Jember Bina 400 Pelajar di Pesantren

Jember, KARTANU. Aktivitas pencak silat Pagar Nusa Kabupaten Jember, Jawa Timur, terus bergeliat. Badan Otonom NU yang membidangi olah raga bela diri ini terus menyemai bibit baru pesilat, utamanya di kalangan para pelajar.

Sejak Sabtu (15/2) kemarin, sekitar 400 pelajar mengikuti pembinaan pencak silat yang dipusatkan di Pesantren Nurul Qarnain Kecamatan Sukowono, Jember.

Pagar Nusa Jember Bina 400 Pelajar di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Jember Bina 400 Pelajar di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)


Pagar Nusa Jember Bina 400 Pelajar di Pesantren

Ini sebenarnya realisasi hasil keputusan rapat beberapa hari lalu di kantor NU, bahwa kami akan memberi pembinaan bagi kader-kader NU yang cinta pencak silat, khususnya Jember bagian utara-timur, jelas Wakil Ketua Pimpinan Cabang Pencak Silat NU Pagar Nusa Kabupaten Jember H Fathurrosi kepada KARTANU.

KARTANU

Menurut alumni Pesantren Salafiyah-Syafiiyah Sukorejo, Situbondo, itu, ratusan pelajar tersebut akan dilatih silat minimal dua kali dalam seminggu. Tujuannya adalah untuk mencari bibit-bibit baru, yang diharapkan kelak menjadi kader NU yang tangguh baik secara psikis maupun fisik. Ini juga bisa jadi syiar dakwah Islam, tuturnya.

Selain itu, PC Pagar Nusa Kabupaten Jember saat ini juga tengah menggembleng 15 santri, yang latihannya dipusatkan di Pesantren Darussholah. Mereka dilatih tiap setelah jam pelajaran berakhir. Tiga di antara mereka dipersiapkan untuk mengikuti Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Jember. (Aryudi A Razaq/Mahbib)

KARTANU

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/50209/pagar-nusa-jember-bina-400-pelajar-di-pesantren

KARTANU

Senin, 20 Juli 2015

Akibat Durhaka Kepada Kiai, Santri Ini Tak Punya Taji

KARTANU - Dikisahkan, belasan tahun lalu seorang santri jenius yang mondok di Rubath Tarim yang saat itu diasuh Habib Abdullah bin Umar Assyathiri. Di sana, ia dikenal sebagai santri yang sangat alim hingga mampu menghafal kitab Tuhfatul Muhtaj 4 jilid. Siapa tak kenal dia? Semua pun tahu bahwa ia sangat alim, bahkan diprediksi kelak akan menjadi ulama besar.

Akibat Durhaka Kepada Kiai, Santri Ini Tak Punya Taji - KARTANU
Akibat Durhaka Kepada Kiai, Santri Ini Tak Punya Taji - KARTANU


Akibat Durhaka Kepada Kiai, Santri Ini Tak Punya Taji

Nah, suatu hari di saat Habib Abdullah mengisi pengajian rutin di pondok, tiba tiba Sang Habib pengasuh pondok tersebut bertanya tentang santri yang sangat terkenal alim itu, "kemana si Fulan?", semua santri bingung tak bisa menjawab pertanyaan sang guru.

Ternyata santri yang alim tadi tidak ada di pondok. Ia keluar berniat mengisi pengajian di sebuah kota yang bernama Mukalla. Tapi ia keluar tanpa izin. Akhirnya, Habib Abdullah Asysyathiri yang kondang allamah (sangat alim) dan kewaliannya itu berkata, "baiklah, orangnya boleh keluar tanpa izin, tapi ilmunya tetap di sini!".

Di kota Mukalla, santri yang alim tersebut sangat dinanti-nantikan oleh para pecinta ilmu untuk mengisi pengajian di Masjid Omar Mukalla. Singkat cerita, si santri ini pun maju ke depan dan mulai membuka ceramahnya dengan salam dan muqaddimah pendek.

Subhanallah, ternyata setelah membaca amma ba'du, si alim ini tak mampu berkata sama sekali, bahkan untuk menerangkan kitab paling tipis sekelas Safinah sedikit pun tak mampu ia ingat. Sontak dia tertunduk dan menangis. Para hadirin pun heran, "ada apa ini?" Akhirnya Salah satu ulama kota Mukalla menghapirinya dan bertanya, "saudara mengapa begini? Apa yang saudara lakukan sebelumnya?"

Dia menjawab, "aku keluar tanpa izin guruku di pesantren." Dia terus menangis, dan beberapa orang menyarankan agar ia meminta maaf kepada Habib Abdullah Asysyathiri. Namun dengan sombongnya ia tidak mau meminta maaf.

Kesombongannya ini membuat semua orang menjauhinya, dan tidak ada satupun yang peduli padanya, bahkan setelah itu hidupnya sangat miskin dan terlunta lunta. Sehingga ia bisa bekerja apapun kecuali hanya dengan menjual daging ikan kering.

Dan di saat ia meninggal, dia mati dalam keadaan miskin bahkan kain kafannya pun tak mampu dibeli dan akhirnya diberi oleh seseorang. ***

"Santri yang ilmunya berkah bukanlah yang paling banyak hafalannya, yang paling bagus dalam membaca kitabnya, yang selalu juara kelas. Tapi santri yang berkah dan bermanfaat adalah yang paling hormat dan taat kepada gurunya. Dan menganggap dirinya bukan siapa-siapa di hadapan Gurunya."

Di Hari Santri ini, mudah-mudahan dapat mengingatkan kita kembali akan pentingnya mendapatkan ilmu yang berkah, bukan sekadar pintar. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/akibat-durhaka-kepada-kiai-santri-ini-tak-punya-taji.html

Sabtu, 21 September 2013

Pengelanaan dan Karya Kiai Ihsan Jampes

Syahdan, tidak lama dari mimpinya yang monumental itu, untuk pertama kali dalam hidupnya, Bakri keluar dari pesantren ayahnya untuk melanglang buana mencari ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain.

Beberapa pesantren yang sempat disinggahi Kiai Ihsan kecil adalah Pesantren Bendo Pare Kediri asuhan KH. Khozin (paman Bakri sendiri), Pondok Pesantren Jamseran Solo, Pondok Pesantren asuhan KH. Dahlan Semarang, Pondok Pesantren Mangkang Semarang, Pondok Pesantren Punduh Magelang, Pondok Pesantren Gondanglegi Nganjuk, dan Pondok Pesantren Bangkalan Madura asuhan KH. Kholil, sang Guru Para Ulama.

Dari rihlah ilmiah-nya, ada satu kebiasaan yang sering dilakukan Bakri, yakni ia tidak pernah menghabiskan banyak waktu di pesantren-pesantren tersebut. Misalnya, untuk belajar Alfiah Ibnu Malik yang berisi seribu bait tentang rumus dan teori Gramatika Arab (Nahwu dan Sharf) Bakri belajar dari KH. Kholil Bangkalan dan hanya menghabiskan waktu dua bulan; belajar ilmu falak (astronomi) kepada KH. Dahlan Semarang dan hanya tinggal di pesantrennya selama 20 hari; sedangkan di Pesantren Jamsaran Kediri ia hanya tinggal selama satu bulan. Namun demikian, ia selalu berhasil menguasai dan memboyong ilmu para gurunya tersebut dengan kemampuan di atas rata-rata.

Keunikan lainnya yang dapat disimak yaitu di setiap pesantren yang ia singgahi, Bakri selalu menyamar. Ia tidak mau dikenal sebagai gus (sebutan anak kiai); tidak ingin diketahui identitas aslinya sebagai putra kiai tersohor, KH. Dahlan Jampes. Bahkan, setiap kali kedoknya terbuka sehingga santri-santri tahu bahwa ia adalah gus dari Jampes, dengan serta merta ia akan segera pergi, menghilang dari pesantren tersebut untuk pindah pesantren lain. Alih-alih kebiasaan atau tradisi di dunia pesantren yang sering kali mengelu-elukan dan memanjakan para gus, anak kiai, seringkali memabukkan dan membius para gus, mereka kebal hukum dan peraturan pesantren, dan berujung pada ketidak seriusan belajar. Dan tradisi itulah yang hendak dihindari oleh Bakri, lantaran di mata Bakri tradisi itu tidak kondusif dalam proses belajar dan sering kali membentuk karakteristik feodal yang tidak baik.

Pengelanaan dan Karya Kiai Ihsan Jampes (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengelanaan dan Karya Kiai Ihsan Jampes (Sumber Gambar : Nu Online)


Pengelanaan dan Karya Kiai Ihsan Jampes

Pada tahun 1932, setelah selesai melalui tour ilmiyah itu, Bakri inobatkan menjadi pengasuh atau pemimpin Pondok Pesantren Jampes, Kediri. Sejak saat itulah Bakri terkenal sebagai pengasuh Pesantren Jampes. Ada banyak perkembangan yang signifikan di Pesantren Jampes setelah Syekh Ihsan diangkat sebagai pengasuh. Secara kuantitas, misalnya, jumlah santri terus bertambah dengan pesat dari tahun ke tahun, semula sekitar 150 santri menjadi sekitar 1000 santri lebih, sehingga Pesantren Jampes harus diperluas hingga memerlukan 1,5 hektar tanah. Secara kualitas, materi pelajaran juga semakin terkonsep dan terjadwal dengan didirikannya Madrasah Diniyah Mafatihul Huda pada 1942.

Sebagai seorang kiai, Syekh Ihsan mengerahkan seluruh perhatian, pikiran dan segenap tenaganya untuk diabdikan kepada santri dan pesantren. Hari-harinya hanya dipenuhi aktivitas spiritual dan intelektual; mengajar santri (ngaji), shalat jamaah, shalat malam, mutholaah (mengkaji) kitab, ataupun menulis kitab. Meskipun seluruh waktunya didesikannya untuk santri, Syekh Ihsan tidak melupakan masyarakat umum. Syekh Ihsan dikenal memiliki ilmu hikmah dan menguasai ketabiban. Hampir setiap hari, di sela-sela kesibukannya mengajar santri, Syekh Ihsan masih sempat menerima tamu dari berbagai daerah dan kalangan yang meminta bantuannya. Keilmuan hikmah yang dimilikinya ini berkat penguasaannya yang baik terhadap kitab-kitab hikmah seperti Syamsul-Maarif karya al-Buni, Mamba Ushul al-Hikmah, Kitab al-Aufaq karya Imam al-Ghazali, dan lain-lain. Bahkan keilmuan hikmah ini ia integrasikan dan kolaborasikan dengan ilmu falak yang telah difahaminya secara mendalam.

KARTANU

Pada masa revolusi fisik 1945, Syekh Ihsan juga memiliki andil penting dalam perjuangan bangsa. Pesantren Jampes selalu menjadi tempat transit para pejuang dan gerilyawan republik yang hendak menyerang Belanda. Di Pesantren Jampes, mereka meminta doa restu Syekh Ihsan sebelum melanjutkan perjalanan. Bahkan, beberapa kali Syekh Ihsan turut mengirim santri-santrinya untuk ikut berjuang di garis depan. Jika desa-desa di sekitar pesantren menjadi ajang pertempuran, penduduk yang mengungsi akan memilih Pesantren Jampes sebagai lokasi teraman, sementara Syekh Ihsan membuka gerbang pesantrennya lebar-lebar.

Sumbangan Syekh Ihsan yang sangat besar adalah karya-karya yang ditinggalkannya bagi masyarakat muslim Indonesia, bahkan umat Islam seluruh dunia. Sudah banyak pakar yang mengakui dan mengagumi kedalaman karya-karya Syekh Ihsan, khususnya karya magnum opus-nya, kitab yang berjudul Sirojut-Tholibin, kitab syarah (penjelasan) dari kitab Minhajul-Abidin karya Imam al-Ghazali, terbit pertama kali pada 1932 setebal sekitar 800 halaman. Kitab ini mengulas tasawuf. Syekh Ihsan mendapatkan penghargaan dan legitimasi ilmiyahnya di mata dunia Islam, ketika kitab tersebut diterbitkan oleh sebuah penerbit besar di Mesir, Musthafa al-Bab al-Halab, sebuah penerbit yang berorientasi menerbitkan kitab-kitab kuning (turats), yang sampai saat ini masih eksis. Di antara kitab tasawuf yang ditulis syekh Ihsan adalah kitab Manahijul-Imdad , sebuah syarah (penjelasan) dari kitab Irsyadul-Ibad karya Syekh Zainudin al-Malibari, terbit pertama kalinya pada tahun 1940 setebal sekitar 1088 halaman, mengulas tasawuf secara luas dan mendalam.

KARTANU

Sebelum menulis tentang tasawuf, syekh Ihsan berkelana mengelilingi tanah Jawa. Sebuah perjalanan apostolik sebagaimana tradisi para sufi darwis. Dalam perjalanan apostoliknya, ia menjumpai dan berdialog sekaligus menimba ilmu secara singkat dari hampir seluruh ulama tasawuf, mursid tharekat, dan para kiai yang terkenal keilmuan dan kezuhudannya. Bahkan, ia pun menjumpai para tokoh kejawen, pengikut kepercayaan, dan mengajak mendiskusikan secara mendalam persoalan filsafat, spiritual, dan pandangan-pandangan spiritual.

Lebih menakjubkan lagi, ia pun menjumpai para dukun dari berbagai jenisnya, lantaran para dukun dianggap memiliki pandangan dunianya sendiri yang harus diselami. Dari pengalaman perjalanan spiritualnya yang telah menggondol segudang informasi dan ilmu itu menjadi salah satu modal dalam mengkonsepsikan pandangan tasawufnya yang dielaborasikan dengan mengikutsertakan pengalaman pribadi, eksperimentasi spiritual, ritual, pandangan pewayangan, dan pentakwilan atas segenap teks normatif Islam, al-Quran dan hadits.

Pada saat-saat menulis karya-karyanya tersebut, syekh Ikhsan dengan tekun menuliskannya yang tak kenal lelah, tak kenal waktu, bergadang, malam yang hening dilaluinya dengan ditemani segelas kopi dan berbatang-batang rokok. Karena memiliki kebiasaan meminum kopi dan menghisap rokok, akhirnya menginspirasikan lahirnya sebuah kitab yang ditulisnya dengan judul kitab Irsyadul-Ikhwan fi Bayani Hukmi Syurbil-Qohwah wad-Dukhon. Kitab ini diadaptasi dari kitab kumpulan syair-syair atau puisi dari kitab Tadzkiratul-Ikhwan fi Bayanil-Qahwah wad-Dukhan karya KH. Ahmad Dahlan Semarang, yang kemudian diberi penjelasan (syarh), tebalnya 50 halaman. Buku ini berbicara tentang polemik hukum merokok dan minum kopi.

Disamping dikenal sebagai pakar tasawuf, syekh Ihsan juga merupakan ulama dan masuk dalam deretan nama pakar ilmu falak (astronomi). Salah satu karya akademik di bidang ini adalah kitab Tashrihl-Ibarot, syarah (penjelasan) dari kitab Natijatul-Miqot karya KH. Ahmad Dahlan Semarang, terbit pertama kali pada 1930, setebal 48 halaman.

Seorang sufi yang juga penuh karya akademiknya ini akhirnya pada Senin, 25 Dzul-Hijjah 1371 H. atau September 1952, dipanggil oleh Allah SWT. Usianya yang baru melewati setengan abad ini, 51 tahun, meninggalkan ribuan santri, seorang istri dan delapan putra-puteri. Kuburannya hingga saat ini ramai dikunjungi oleh para peziarah, khususnya dari warga NU.

Tak ada warisan yang terlalu berarti dibandingkan dengan ilmu yang telah dia tebarkan, baik ilmu yang kemudian tersimpan dalam korpus kitab-kitab karyanya yang abadi maupun yang terrekam dan tersimpan di dalam hati para murid-muridnya. Beberapa murid Syekh Ihsan yang mewarisi dan meneruskan perjuangannya dalam berdakwah melalui pesantren adalah Kiai Soim pengasuh pesantren di Tanggir Tuban, KH. Zubaidi di Mantenan Blitar, KH. Mustholih di Kesugihan Cilacap, KH. Busyairi di Sampang Madura, K. Hambali di Plumbon Cirebon, K. Khazin di Tegal, dan lain-lain.

Setahun yang lalu, penulis berziarah kemakamnya dan ke pesantren peninggalannya yang bersahaja dengan disambut oleh KH. Busyro, pengasuh pesantren peninggalan sang sufi kita. Kami berbincang-bincang di rumah KH. Busyro seputar karya-karya sang sufi. Beliau bercerita bahwa sejatinya Gus Dur, panggilan akrab mendiang KH. Abdurrahman Wahid, pernah ingin memperjuangkan salah satu naskah sang sufi yang belum sempat tersebar ke penjuru dunia Islam, yaitu kitab Manahijul -Imdad. Gus Dur meng-copy manuskrip (makhthuthat) kitab tersebut dan diserahkan ke Syekh Sayyed al-Maliki, dengan harapan mendapatkan tashih atau tahqiq dan diterbitkan di Arab. Akan tetapi dalam penantian yang panjang, kitab tidak kunjung diterbitkan. Akhirnya atas dasar inisiatif KH. Busyro sekeluarga, kitab tersebut telah diterbitkan oleh keluarga kiai Ihsan dengan dicetak cukup sederhana dan dalam jumlah terbatas. Tanpa disangka dan diduga, kitab tersebut dalam waktu singkat ludes dipasaran. Karena, rupa-rupanya para kiai dan santri betul-betul menanti-nantikan karya syekh Ihsan itu. Akhirnya ketika sudah ada di depan mata, mereka memburu dan berebut untuk mendapatkannya. Penulis sendiri pada waktu keliling pesantren salaf, tidak mendapatkan kitab tersebut. Dan penulis sempat mensarankan pada KH. Busyro agar kitab tersebut dicetak kembali.

Karya-karya syekh Ihsan sebagian besar telah dikaji dan dibaca oleh para kiai dan santri di pesantren salaf-tradisional. Khususnya kitab magnum opusnya, yaitu Sirojut-Tholibin. Bahkan sebagian kiai Lirboyo-Kediri membacanya setiap tahun sebagai ritual pengajian sehari-hari. Tidak diragukan lagi jika paradigma sufistiknya yang bernuansa Ghazalian yang mengusung perkawinan tasawuf dan syariah telah berpengaruh besar terhadap paradigma nalar sufisme kaum santri yang berbasis NU (Nahdlatul Ulama).

Mukti Ali

Program Officer Manuskrip Nusantara & Peneliti Rumah Kitab

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/48472/pengelanaan-dan-karya-kiai-ihsan-jampes

Rabu, 19 Juni 2013

Habibie Persilakan Pasien Miskin Berobat Gratis di Rumah Sakit Khusus Ginjal

KARTANU - Mantan Presiden RI ke-3, BJ Habibie, meresmikan gedung baru Rumah Sakit Khusus Ginjal (RSKG) Ny RA Habibie, Senin (8/8/2016). Menurut Habibie, pasien miskin yang datang ke rumah sakitnya bisa berobat gratis. "Kalau memang tidak mampu membiayai, dia dapat dengan cuma-cuma. Ya, memang persyaratan gitu. Itu persyaratan dari ibu saya dan yang meneruskan adik kandung saya," ujar Habibie kepada wartawan, Senin (8/8/2016).

Menurut Habibie, masyarakat yang tak punya apa-apa, silakan datang dan diperiksa.‬ Harapannya, RS Ginjal tersebut bisa benar-benar membantu sumber daya manusia Indonesia agar kesehatannya baik. "Dan bisa benar-benar bekerja produktif dan jadi unggul," katanya.‬

Habibie Persilakan Pasien Miskin Berobat Gratis di Rumah Sakit Khusus Ginjal - KARTANU
Habibie Persilakan Pasien Miskin Berobat Gratis di Rumah Sakit Khusus Ginjal - KARTANU


Habibie Persilakan Pasien Miskin Berobat Gratis di Rumah Sakit Khusus Ginjal

Habibie menjelaskan, sebenarnya yang mahal dalam proses cuci darah adalah cairannya. RS Ny RA Habibie, sudah memiliki teknologi untuk membuat cairan sendiri. Bahkan, pihaknya sudah membantu beberapa kabupaten yang secara statistik di daerah tersebut banyak menderita gagal ginjal.

"Dikasih mesinnya cuma-cuma dan dikasih cairannya, tapi datang kesini, diambil," katanya.

KARTANU

Bahkan, dia mengatakan kalau ada petugas di daerah yang harus dididik, rumah sakitnya siap memberikan pelatihan. "Kita didik di sini‬. Kalau antar (cairannya, red) kita enggak kuat," katanya.

KARTANU

RS Ginjal ini, Habibie mengatakan ada dua yang besar yakni di Bandung dan Batam. Sekarang, yang ketiga masih dalam proses pembuatan dengan mengambil lokasi di Gorontalo. "Ada juga untuk mata, di Bogor. Kita bantu keluarga di Indonesia sebagai mata air," katanya.

Habibie mengatakan, dia ingin menyumbangkan karya nyata untuk pembangunan bangsanya. Semua orang pun, harus berusaha menjadi mata air. "Kalau setiap keluarga jadi mata air Indonesia akan semakin tenteram," katanya.

Habibie mengatakan, jangan menyerahkan semua persoalan pada pemerintah. Karena, masyarakat justru bisa lebih kuat jika saling membantu.

Dalam acara peresmian rumah sakit tersebut, selain dihibur musisi Chakra Khan dan hidangan lezat sate maranggi, acara seremonial ini juga ditandai dengan pemotongan tumpeng. Habibie memberikan potongan tumpengnya pada Bupati Purwakarta yang juga Ketua DPD Golkar Jabar, Dedi Mulyadi.

Habibie beberapa kali mengucapkan terima kasih pada Dedi yang sudah berkontribusi pada keberadaan rumah sakit khusus tersebut. Habibie juga memuji Dedi yang bisa mensinergikan antara agama, budaya dan iptek dalam membangun Purwakarta. "Saya mengucapkan terima kasih pada Pak Bupati yang sejauh ini sudah banyak berkontribusi dan bersinergi untuk kebaikan negeri ini," katanya.

RSKG Ny RA Habibie merupakan rumah sakit khusus tipe C dengan pelayanan hemodialisis yang dilengkapi 60 mesin. Rumah sakit berkapasita 360 pasien ini melayani peserta BPJS sekitar 97 persen. Usai peresmian gedung baru ini, RSKG Ny RA Habibie akan mampu mengoperasikan 100 mesin dengan kapasitas 600 pasien. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/habibie-persilakan-pasien-miskin-berobat-gratis-di-rumah-sakit-khusus-ginjal.html

Kamis, 15 Desember 2011

Pelajar NU Sidoarjo Gelar Maulid Diba wa Talim

Sidoarjo, KARTANU. Pelajar NU Sidoarjo kembali menggelar acara rutinan setiap bulan sekali yakni Maulid Diba wa Talim yang ke XI di Masjid Maslakhul Huda Desa Wonoayu pada Ahad, 15 November 2015. Acara ini dihadiri oleh PAC/PKPT IPNU-IPPNU se-kabupaten Sidoarjo.

Gema sholawat berkumandang dengan merdunya sejak acara dimulai pada pukul 08.00-11.30.

Pelajar NU Sidoarjo Gelar Maulid Diba wa Talim (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Sidoarjo Gelar Maulid Diba wa Talim (Sumber Gambar : Nu Online)


Pelajar NU Sidoarjo Gelar Maulid Diba wa Talim

"Acara ini merupakan momentum untuk menjaga budaya shalawat tetap terjaga di kalangan pelajar Nahdliyin," tutur Mohammad Hendra selaku ketua PAC IPNU-IPPNU dalam sambutannya.

KH Ahmad Imam Jazuly dalam mauidhoh hasanah mengajak hadirin untuk mempertahankan tradisi dan amaliyah yang baik agar mendapat manfaat yang baik (Zamroni/Mukafi Niam)

KARTANU

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/63665/pelajar-nu-sidoarjo-gelar-maulid-dibarsquo-wa-tarsquolim

KARTANU

KARTANU

Minggu, 02 Oktober 2011

Kader NU Pimpin Shalat Tentara di Laut Lebanon

Beirut, KARTANU. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Lebanon dipercaya menjadi khatib dan imam Shalat Jumat di KRI Bung Tomo 357 Jumat (6/1) lalu.

Ustadz Dhiya Fakhri Abidin, Koordinator Lembaga Dakwah dan M. Audy Prasetyawan, Lajnah Nasyr wat Talif memimpin Shalat Jumat pasukan Garuda di atas kapal perang Indonesia di Lebanon. Pasukan tersebut tergabung dalam MTF UNIFIL yang bertugas menjaga wilayah perbatasan perairan Lebanon.

Kader NU Pimpin Shalat Tentara di Laut Lebanon (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader NU Pimpin Shalat Tentara di Laut Lebanon (Sumber Gambar : Nu Online)


Kader NU Pimpin Shalat Tentara di Laut Lebanon

Cuaca dingin yang sedang menyelimuti kota Beirut sehingga tidak memungkinkan melaksanakan Shalat Jumat di bagian dek kapal. Akhirnya Shalat Jumat dilaksanakan di lorong-lorong kapal yang membentuk satu barisan memanjang.

KARTANU

Ini kali pertama PCINU Lebanon mendapat kepercayaan untuk menyampaikan khutbah Jumat sekaligus mengimami pasukan garuda dibawah komando Kolonel Laut (P) Heri Triwibowo.

Ketua PCINU Lebanon Ustadz Rahmat Ilahi bangga atas perhatian Komandan KRI pada pelaksanaan ibadah para prajurit. Rahmat juga merasa terhormat PCINU Lebanon dipercaya menjadi imam dan khatib tersebut.

KARTANU

"Ini merupakan kehormatan sekaligus kesempatan kami untuk mengamalkan ilmu yang diajarkan ulama dan kiai-kiai kita, untuk bekerja sama dengan TNI atau pasukan perdamaian Garuda menjaga keamanan dunia," ungkapnya.

Warga NU, kata dia, mendoakan agar tugas para pasukan TNI di kapal tersebut selalu sukses dan berkah. (Red: Abdullah Alawi)

Dari (Internasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/74556/kader-nu-pimpin-shalat-tentara-di-laut-lebanon

KARTANU

Sabtu, 21 Mei 2011

Cut Meutia Tidak Dijilbabi Pada Uang Kertas 1000, Itu Tidak Masuk Akal

KARTANU - Beredarnya uang baru Rp 1000 dengan gambar Pahlawan Aceh Cut Nyak Meutia memicu debat di kalangan publik Aceh. Ada yang berpendapat, Cut Nyak Meutia memang tidak memakai jilbab, apalagi model jilbab seperti model sekarang ini. Sebaliknya, ada yang berpendapat bahwa perempuan Aceh khususnya dari kalangan pejuang sesungguhnya pribadi yang syar’i dan karenanya sudah pasti berjilbab atau berhijab.

Bagi yang yakin bahwa Cut Nyak Meutia tidak berjilbab mengacu kepada dokumen-dokumen dan lukisan yang pernah ada, dan memang Cut Nyak Meutia tidak berjilbab. Beberapa foto yang dimiliki oleh Belanda dan kini bisa diakses oleh publik juga tidak berjilbab atau tidak menggunakan penutup kepala.

Cut Meutia Tidak Dijilbabi Pada Uang Kertas 1000, Itu Tidak Masuk Akal - KARTANU
Cut Meutia Tidak Dijilbabi Pada Uang Kertas 1000, Itu Tidak Masuk Akal - KARTANU


Cut Meutia Tidak Dijilbabi Pada Uang Kertas 1000, Itu Tidak Masuk Akal

Sebaliknya, bagi yang yakin perempuan Aceh memakai penutup rambut atau jilbab, berargumen dokumen yang beredar bukanlah cermin perempuan Aceh. Itu bagian dari propaganda Belanda untuk merusak citra perempuan Aceh.

KARTANU

Tuanku Warul Waliddin, keturunan dari Sultan Aceh terakhir meyakini bahwa perempuan Aceh sesunguhnya, khususnya perempuan pahlawan dari keturunan bangsawan, adalah pribadi yang syar’i dan karenanya berhijab. Berikut pandangannya yang ditulis di dinding facebook:

“Seorang Bangsawan sejatinya memiliki identitas diri yang membedakan antara dirinya dengan kelas dibawahnya (terutama Pada masa itu). cara bertutur kata hingga berbusana adalah menentukan siapa dirinya dan latar belakangnya. pada photo ini, Yang berdiri ditengah adalah Teungku Putro Gamba Gadeng bin Tuanku Abdul Madjid yang merupakan Permaisuri Sultan Alaidin Muhammad Daudsyah (Sultan Aceh Terakhir). Ibunda daripada Tuanku Raja Ibrahim. disamping kiri kanan beliau adalah para dedayang istana (lamiet). mengacu kepada trending topic mengenai kontroversi bagaimana seorang Cut Meutia dan Cut Nyak dhien yang notabene seorang keturunan bangsawan pada masanya seharusnya berbusana dapat dilihat pada photo ini. dayang berbusana tanpak rambut kepala meskipun badan tertutup rapi, dan seorang Permaisuri menutup aurat dari kepala hingga Ujung kaki. semoga memberi pencerahan.”

Status Warul Waliddin Sebelumnya, Warul Waliddin juga pernah menggalang gerakan menghijabkan perempuan pejuang Aceh yang selama ini selalu ditampilkan tanpa hijab. "Jangan pernah lagi gambar Cut Nyak Dhien dan para syuhada perempuan kita ditampilkan tanpa hijab, sebagaimana keyakinan mereka," tandas Tuanku Warul Walidin, sebagaimana pernah dilansir sejumlah media.

Menurut Warul Waliddin, perempuan pejuang dari kalangan bangsawan Aceh adalah perempuan yang memiliki pemahaman keagamaan yang kuat sehingga berani terjun berjuang. "Dengan bekal pemahaman keagamaan itu maka tidak mungkin jika perempuan Aceh mengabaikan pakaian yang syar’i, tidak masuk akal," pungkasnya.

KARTANU

Tuanku Warul Walidin yang akrab disapa Raja Ubit itu menghimbau pemerintah untuk mau menggelar musyawarah terlebih dahulu manakala ingin menampilkan sosok pejuang Aceh khususnya pejuang perempuan. "Tidak berat untuk bertanya pada sejarawan Aceh dan pihak lainnya di Aceh agar hasilnya tidak malah melukai rakyat Aceh, atau menimbulkan kontroversi sesama rakyat di Aceh," pungkasnya. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/cut-meutia-tidak-dijilbabi-pada-uang-kertas-1000-rupiah.html

Selasa, 17 Agustus 2010

Hal-Hal yang Tidak Disadari oleh Habib Rizieq Ketika Mengendarai FPI

KARTANU - Pertama kali saya tahu nama beliau pada tahun 1996 di salah satu Masjid di Kawasan Roxy. Beberapa kali saya melihat nama beliau terpasang di spanduk acara-acara keislaman di Kawasan Petojo dan Roxy. Pada waktu itu, nama beliau belumlah setenar sekarang. Ceramah-ceramah beliau masih kalah pamor dibandingkan ceramah da'i sejuta umat, alm KH Zainuddin MZ, yang memang mendominasi di mana-mana.

Saya sering bertanya kepada kawan yang tinggal di Kawasan Petojo perihal nama Habib Rizieq, siapa beliau dan bagaimana penyampaian ceramah beliau. Beberapa kawan yang berlatar belakang Persis menganggap bahwa ceramah Habib Rizieq agak berbeda dengan kebanyakan habib di Jakarta, yang lebih suka mengangkat persoalan fadhoil (keutamaan ibadah) dibandingkan persoalan umat.

Hal-Hal yang Tidak Disadari oleh Habib Rizieq Ketika Mengendarai FPI - KARTANU
Hal-Hal yang Tidak Disadari oleh Habib Rizieq Ketika Mengendarai FPI - KARTANU


Hal-Hal yang Tidak Disadari oleh Habib Rizieq Ketika Mengendarai FPI

Sementara itu, beberapa lagi berpendapat bahwa isi ceramah Habib Rizieq tidak berbeda dengan Habib Alwi Jamalullail atau puteranya Habib Idrus Jamalul Lail.

Memang pada masa-masa itu nama Habib Rizieq belum dikenal luas, di samping karena beliau juga baru kembali dari menuntut ilmu di Riyadh Saudi Arabia. Pasca lengsernya Soeharto dari kekuasaan, tepatnya pada tahun 1998, nama Habib Rizieq mulai muncul ke permukaan.

KARTANU

Naiknya nama beliau menyertai beberapa isu, di antaranya adalah dibentuknya organisasi milisi oleh salah seorang petinggi ABRI ketika itu, yang diberi nama PAM SWAKARSA, isu Rusuh AMBON dan terakhir berdirinya FPI yang menjadi "kendaraan politik"--jika boleh dikatakan begitu--Habib Rizieq.

KARTANU

Ingatan ini masih menyimpan informasi bahwa kemunculan nama beliau terkait dengan peristiwa pembunuhan di Cawang dan bentrokan massa di Tugu Proklamasi berkaitan dengan akan diadakannya Sidang Istimewa MPR 1998.

Momentum-momentum itu yang "memaksa" Habib Rizieq tampil ke gelanggang politik massa untuk pertama kalinya. Bisa dikatakan bahwa Habib Rizieq ketika itu "dipaksa matang" untuk berpolitik. Tanpa bekal pengalaman politik yang mapan, Habib Rizieq seakan harus muncul untuk memperjuangkan kepentingan politik yang dihubungkan dengan kepentingan umat Islam.

Pada saat yang bersamaan, di sisi lain Poros Tengah yang dikomando oleh Amien Rais, Akbar Tanjung, dan Hamzah Haz juga sedang memainkan nama yang sama untuk menjegal Megawati dan kawan-kawan menempati kursi kekuasaan.

Saya bukan pakar politik atau pengamat politik, tapi secara pribadi saya merasakan betapa panasnya situasi saat itu, sehingga berita bentrokan massa hampir setiap hari menghiasi headline media cetak atau elektronik.

Tanpa bekal jam terbang yang cukup, publik bertanya-tanya atas dukungan siapa Habib Rizieq tampil ke gelanggang politik pada waktu itu? Apakah ada korelasi antara manuver yang dilakukan Habib Rizieq dengan manuver yang dilakukan poros tengah di parlemen? Banyak spekulasi bermunculan.

Tapi, yang pasti ketika Poros Tengah berhasil menjegal Megawati dan kawan-kawan untuk menduduki kursi kekuasaan, padahal PDIP adalah pemenang PEMILU 1999, Habib Rizieq tidak mendapatkan bagian apapun dari manuver yang pernah dilakukannya.

Pasca perhelatan Sidang Istimewa MPR yang menghantarkan Gus Dur sebagai Presiden RI, nama Habib Rizieq mulai jarang muncul. Namun gosip tentang beliau pun terus beredar di tengah masyarakat. Ada yang mengatakan bahwa Habib Rizieq memberi support kepada Ust. Ja'far Umar Thalib yang membentuk Laskar Ahlussunnah wal Jama'ah, untuk "berjihad" di Ambon dan sekitarnya.

Ada pula yang mengatakan bahwa Habib Rizieq kembali ke aktivitas sebelumnya, yaitu berdakwah dan menyampaikan ta'lim di masjid-masjid. Bisa dikatakan, dalam kurun waktu satu atau dua tahun (1999-2000) nama Habib Rizieq jarang tampil di media.

Namun demikian, spanduk, baliho dan plang bertuliskan FPI menjamur di beberapa kantong jamaah para habib di kota Jakarta. Agaknya, media tidak begitu tertarik untuk memberitakan konsolidasi internal Habib Rizieq di beberapa tempat di ibu kota. Karena memang pada saat itu, fokus pemberitaan media lebih banyak menyoroti persoalan komposisi kabinet dan peta politik yang riuh oleh manuver Gus Dur sebagai Presiden RI yang keempat.

Setelah Era Gus Dur Sempat luput dari pemberitaan media, nama Habib Rizieq dan FPI kembali muncul. Kali ini bukan karena isu politik, tapi karena persoalan sosial, yaitu razia miras dan pelacuran. Media massa memberitakan kegiatan laskar FPI yang memburu peredaran miras di beberapa titik di Ibu Kota dan daerah penyangga, mulai dari Mangga Besar dan Depok.

Dari berbagai liputan media yang memberitakan bentrok antara FPI dengan beberapa preman diskotik, berita penyerangan FPI di Kemang pada tahun 2001, mungkin yang paling heboh. Apa pasal? Selama masa Orde Baru Kemang dianggap sebagai daerah elit yang "untouchable". Bukan rahasia lagi, jika peredaran narkoba dan miras di Kemang berlangsung aman-aman saja tanpa ada aparat yang berani menghentikannya. Kedatangan laskar FPI melabrak kawasan Kemang tentu mengagetkan banyak orang.

Berbagai spekulasi pun bermunculan. Habib Rizieq dianggap sedang melakukan testing the water dengan membidik Kemang sebagai garapan gerakan Nahyu Munkar-nya. Di sinilah kemudian, Habib Rizieq mulai berhadap-hadapan dengan kalangan elit, yang menganggapnya sebagai ancaman.

Cukup banyak pemberitaan yang disajikan tentang Habib Rizieq. Dan bisa dikatakan semua pemberitaan tentang beliau berwarna kontraproduktif. Secara pribadi saya pun terbawa oleh atmosfer yang dibangun oleh media massa ketika itu.

Beberapa pertanyaan muncul di benak ini, untuk apa FPI melakukan tindakan-tindakan extra law seperti itu? Kenapa Habib Rizieq dan FPI tidak berkoordinasi dengan pihak kepolisian sekiranya memang ingin membantu aparat di dalam melaksanakan penegakkan hukum? Kenapa pula FPI memainkan peran seperti FBI yang memang bekerja sebagai penegak hukum? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang muncul di benak ini, sebagai usaha saya untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi di belakang Habib Rizieq.

Secara jujur saya sempat surprised dengan Habib Rizieq. Secara nasabiah, beliau memang keturunan Sayyidina Husain, yang berarti juga keturunan Baginda Rasulullah, Nabi yang diimani oleh semua umat Islam.

Dalam sebuah obrolan dengan seorang teman, saya pernah ditanya kenapa tidak ada seorang Habib yang berpikiran revolusioner seperti datuk mereka Rasulullah? Kenapa para Habib lebih suka memainkan posisi safety player, padahal dahulu datuk mereka Rasulullah adalah pribadi yang berani menghadapi risiko dan tidak risih berada di stretch zone (zona tegang). Ketika pertama kali melihat Habib Rizieq ceramah, saya berpikir mungkin ini dzurriyyah yang ditanyakan oleh teman saya tempo hari.

Namun, dengan tidak mengurangi sikap hormat kepada beliau, sebagai dzurriyatur rasul, perkenankan saya ingin memberi catatan terhadap Habib Rizieq:

1. Beliau bertolak dari garis start yang keliru ketika mengusung ide-ide revolusionernya. Berbeda dengan Rasulullah yang selalu menolak afiliasi politik sejak awal membangun gerakan dakwahnya, Habib Rizieq justru memulai gerakan dakwahnya dengan dibalut oleh pertanyaan-pertanyaan politis.

Sebagai contoh, hingga saat ini Sang Habib tidak pernah menjawab dengan tuntas pertanyaan tentang kedekatan beliau dengan beberapa bintang ABRI pada masa awal reformasi, yang dianggap menjadi preseden berdirinya FPI. Pertanyaan ini semakin carut marut setelah Habib Husein al-Habsyi pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin Indonesia pernah menyebut kedekatan Habib Rizieq dengan salah satu elit tentara.

2. Jika Rasulullah berdakwah melawan totalitarianisme dengan menumbuhkan semangat egalitarianisme, semangat ini agak sulit untuk dijumpai dari isi pidato yang sering disampaikan oleh Habib Rizieq. Saya tidak mengatakan bahwa Habib Rizieq adalah pribadi yang "kasar". Beliau adalah pribadi yang tegas. Bahwa kualitas ketegasan tiap orang itu berbeda-beda karena perbedaan gen dan lingkungan tempat dibesarkan, itu adalah sesuatu yang sifatnya alamiah (nature).

Namun, ketika persoalan kasar dan halus itu dibawa ke ranah ide atau isu, saya kira di sini kita semua bisa membaca dari gesture penyampaiannya. Barangkali ini disebabkan oleh dorongan politik yang memang dipaksakan di bagian awal. Seperti sangat mudah terbaca bahwa FPI berdiri tanpa kesiapan dan kematangan ideologi. Seakan persoalan ideologi bisa dibenahi sambil organisasi ini berjalan.

3. Saya agak tidak sepakat jika dikatakan bahwa Habib Rizieq mengikuti pola Umar ibnu al-Khatthab atau seputar sahabat agung tersebut, hanya karena ketegasan dan keberanian beliau berbicara di hadapan para penguasa. Ketidaksepakatan saya itu didasarkan kepada hal-hal berikut:

a. Bahwa karakter keras Umar ibnu al-Khatthab adalah karakter bawaan orang Arab yang memang "dipaksa" keras oleh situasi dan kondisi di mana mereka tinggal.

b. Bahwa sikap keras Umar ibnu al-Khatthab selalu dikaitkan dengan kewenangan yang beliau miliki sebagai utusan Rasulullah dan sebagai pemegang kekuasaan tertinggi pemerintahan.

c. Bahwa Umar ibnu al-Khatthab di dalam memperjuangkan cita-cita politik mengutamakan pendekatan ilmu, dibandingkan pendekatan kekuasaan. Ini misalnya bisa kita baca dari pernyataan beliau:

"Dalamilah dulu pemahaman (ilmu) sebelum kalian memimpin."

juga pernyataan yang lain:

"Tidak ada Islam kecuali dengan berjamaah dan tidak ada jamaah kecuali dengan kepemimpinan."

Dari pernyataan-pernyataan yang disampaikannya, dapat terbaca bahwa Umar bukan semata-mata orang yang katakanlah "keras" tanpa konsep. Ucapannya tentang relasi Islam dan jama'ah serta kepemimpinan, menunjukkan bahwa Umar adalah seorang perencana yang sangat matang dan cermat di dalam melihat masalah. Seakan Sayyidina Umar ingin mengatakan bahwa perjuangan Islam ini tidak akan menghasilkan apa-apa jika tidak diawali dengan penguatan kohesi sosial di antara umat Islam itu sendiri

Tanpa kohesi di antara sesama umat Islam, perjuangan politik hanya akan berujung kepada perebutan kekuasaan politik di antara elemen-elemen pendukungnya. Saya tidak mengerti apakah ini disadari atau tidak oleh Habib Rizieq.

Setidaknya Habib Rizieq telah membuang kesempatan emas yang pernah ada dihadapannya untuk membangun kohesi di antara umat Islam, yaitu ketika memperjuangkan Gus Dur sebagai presiden untuk menjegal Megawati dan ketika umat Islam mau berkumpul dalam jumlah yang sangat fantastis--meskipun ini diragukan oleh beberapa media--pada bulan Desember yang lalu.

Mungkin akan berbeda ceritanya, ketika di dalam aksi 212 kemarin, Habib Rizieq mengakui kekhilafannya bertahan di Istana Merdeka hingga melewati batas jam malam yang ditentukan Kapolri pada aksi 411 beberapa waktu yang lalu. Jika opini saya ini dianggap sebagai bentuk ketakutan terhadap rezim berkuasa, saya hanya ingin bertanya pula apakah kepatuhan Rasulullah terhadap Perjanjian Hudaibiyyah yang melarangnya masuk ke Makkah itu, juga merupakan bentuk ketakutan Rasulullah terhadap penguasa Makkah?

4. Siapa yang tidak setuju dengan perjuangan mempertahankan kemuliaan ajaran Islam? Saya kira semua umat Islam setuju. Namun, dalam kaitannya dengan perjuangan tersebut, perlu pula diperhatikan beberapa irisan yang sangat sensitif dan berpotensi merusak elan perjuangan politik itu sendiri. Perjuangan mempertahankan kemuliaan ajaran Islam, khususnya di Indonesia, beririsan dengan isu nasionalisme, demokrasi, dan cita kestabilan politik yang kini tampaknya tengah diupayakan untuk mengejar ketertinggalan di bidang ekonomi.

Menyikapi irisan-irisan tersebut, dibutuhkan kecermatan, ketelitian dan kehati-hatian. Secara teoritis, saya mengakui setiap perjuangan politik mempunyai cita, manuver dan gestur gerakan yang sifat khas dan membedakan satu gerakan politik dengan gerakan politik lainnya. Namun, yang menjadi pertanyaan bagaimana ketika itu dinisbahkan kepada perjuangan politik Islam? Jawabannya tidak mudah.

Penggunaan nama Islam pada masa sekarang, berbeda dengan penggunaan nama Islam pada masa Nabi atau pada masa sahabat. Pada masa keemasan itu, penggunaan nama Islam bersifat tunggal. Dalam arti, yang dinamakan Islam itu adalah kelompok yang mengikuti Nabi Muhammad dan para sahabatnya secara definitif yang tinggal di Madinah--sebagai pusat kekuasaan--, Makkah, Yaman, Mesir, Syam, dan Irak.

Di luar wilayah-wilayah itu, agak sulit--bukan tidak ada--menjumpai komunitas Islam sebagaimana yang dimaksud di atas. Sehingga dengan begitu, penggunaan nama Islam berikut derivaat-nya tidak akan menimbulkan masalah dan pertanyaan sebagaimana terjadi hari ini.

Dalam konteks sekarang, penggunaan nama Islam tidak lagi bersifat monolitik. Pasca perang antara Ali ibnu Abu Thalib dan Mu'awiyah penggunaan nama Islam menjadi bersifat pluralistik. Artinya setiap faksi umat Islam merasa mempunyai hak untuk menggunakan klaim Islam untuk menamakan pemikiran atau perjuangan politiknya. Kondisi seperti itu yang kini sedang dan mungkin akan terus berlangsung di Indonesia.

Masalah penggunaan nama Islam akan semakin meruncing ketika tiap-tiap faksi umat Islam merasa tidak terwakili oleh perjuangan politik yang mengatasnamakan Islam oleh kelompok lain. Sebagai contoh, ketika PKS memposisikan diri sebagai Partai Dakwah, tidak semua umat Islam merasa menjadi bagian dari perjuangan dakwah PKS.

Pun begitu juga ketika PKB dan NU mengangkat tema Islam Nusantara sebagai identitas keislaman di Indonesia, semua simpatisan PKS, warga Muhammadiyah, apalagi jamaah Wahabi merasa tidak terwakili dengan identitas Islam yang diusung NU tersebut.

Masalah fragmentasi di tubuh umat Islam, sebagai konsekuensi dari tumbuh berkembangnya ragam penafsiran ini, yang sepertinya tidak begitu dicermati oleh Habib Rizieq. Seruan-seruan Habib Rizieq tentang perjuangan politik Islam, seperti menisbikan fenomena fragmentasi dan menafikan realitas multitafsir tentang Islam yang sudah ada di tengah-tengah umat Islam tersebut.

Ditambah lagi dengan belum terlihatnya di hadapan publik, usaha Habib Rizieq membangun komunikasi dengan ormas-ormas Islam, terutama NU dalam rangka membangun saling pemahaman terhadap tafsir yang digunakan di masing-masing organisasi.

Kondisi seperti itu diperparah lagi dengan sikap Habib Rizieq yang seperti "memusuhi" Ketua Tanfidziyah NU, yang merupakan simbol kehormatan warga NU. Bisa jadi, Habib Rizieq lupa bahwa kultur Islam tradisional lebih bercorak patronisme dibandingkan dengan kultur Islam moderen yang cenderung egaliter dan bebas. Padahal, jika kita lihat dari dekat kultur seperti NU pun juga berkembang di lingkungan FPI.

Tulisan ini saya coba sajikan secara obyektif, dengan tidak bermaksud men-diskredit-kan al-Mukarram Habib Rizieq Shihab. Terlepas dari kontroversi yang muncul dari manuver politik beliau, saya tetap menaruh hormat kepada beliau. Doa saya yang terbaik semoga Allah selalu menjaga dan melindungi beliau. Semoga Allah membuka pintu kebaikan bagi umat ini. [KARTANU] َ KH. Abdi Kurnia Djohan, MA, Pengurus LD NU Pusat, Pengasuh Ponpes Al-Hikam Depok dan Dosen Pasca Sarjana UI.

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/hal-hal-yang-tidak-disadari-oleh-habib-rizieq-ketika-mengendarai-fpi.html

Jumat, 07 Agustus 2009

PCNU Pringsewu Minta Pengurus NU Tidak Berhenti Ngaji

Pringsewu, KARTANU. Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu H Taufiqurrohim (Mas Taufiq) berpesan kepada seluruh pengurus untuk senantiasa memperdalam keilmuan khususnya di bidang agama. Untuk itu para pengurus NU diharapkan untuk gemar menghadiri majelis taklim para kiai.

"Sebelum mengajak orang lain hendaknya kita harus memperdalam ilmu agama dan juga dapat menjadi suri teladan yang baik," kata Mas Taufiq saat melantik kepengurusan Ranting NU Desa Ganjaran Kecamatan Pagelaran, Pringsewu, Selasa (20/12).

PCNU Pringsewu Minta Pengurus NU Tidak Berhenti Ngaji (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Pringsewu Minta Pengurus NU Tidak Berhenti Ngaji (Sumber Gambar : Nu Online)


PCNU Pringsewu Minta Pengurus NU Tidak Berhenti Ngaji

Menurutnya, memperdalam ilmu agama di era sekarang ini sangat penting sebagai modal menghadapi era globalisasi dan semakin banyaknya aliran-aliran agama transnasional dengan ajaran yang aneh-aneh.

"Mari memperdalam ilmu keagamaan. Karena menuntut ilmu bukan hanya di sekolah dan pesantren. Bukan hanya waktu muda. Tapi setiap saat mari mengaji, mengaji, dan mengaji," kata Mas Taufiq pada pelantikan yang digelar di Masjid Nurul Iman Ganjaran.

KARTANU

Salah satu majelis yang bisa meningkatkan kemampuan agama adalah Ngaji Ahad pagi atau Jihad pagi yang rutin dilaksanakan setiap pekan. "Mari bersama-sama hadir di Jihad pagi. Kita akan mendapat berbagai macam keilmuan agama pada majelis tersebut," ajaknya kepada warga dan pengurus NU Desa Ganjaran yang lokasinya sangat dekat dengan Gedung NU Kabupaten Pringsewu.

KARTANU

Di akhir pengarahannya, Mas Taufiq mengingatkan pesan Pendiri NU Hadratus Syekh KH Hasyim Asyari yang sangat masyhur bahwa siapa saja mengurusi NU maka ia menjadi santri beliau. Siapa saja santrinya didoakan memiliki kehidupan yang berkah, keturunan saleh dan salehah serta dipanggil Allah dalam keadaan husnul khatimah.

Kepengurusan Ranting NU Desa Ganjaran yang dilantik akan melaksanakan tugas jamiyyah selama 5 tahun 2016-2021. Kepengurusan yang disahkan berdasarkan SK PCNU Nomor 70/PC/A.II/013/IV/2016 tersebut dinakhodai oleh Rais Syuriyah Ustadz Nur Huda dan Ketua Pengurus Ranting NU Akhya Syaikhuddin. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/73944/pcnu-pringsewu-minta-pengurus-nu-tidak-berhenti-ngaji

Jumat, 13 Juni 2008

Gus Mus: Ciri Waliyullah itu Tidak Takut dan Susah

Solo, KARTANU. Ribuan orang ikut menghadiri acara peringatan Haul KH Siradj yang digelar di dekat Pesantren As-Siradj, Jalan Honggowongso, Panularan, Solo, Jawa Tengah, Kamis (27/10) malam. Kiai Siradj merupakan salah satu tokoh perintis Nahdlatul Ulama (NU) di Kota Solo.

KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), yang memberikan mauidhah hasanah menjelaskan, Kiai Siraj selain memiliki akhlak yang mulia, juga diketahui khalayak karena memiliki beberapa karomah. Hal ini membuatnya dianggap banyak orang sebagai salah satu waliyullah.

Gus Mus: Ciri Waliyullah itu Tidak Takut dan Susah (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Ciri Waliyullah itu Tidak Takut dan Susah (Sumber Gambar : Nu Online)


Gus Mus: Ciri Waliyullah itu Tidak Takut dan Susah

Adapun ciri yang lain, seorang wali, menurut Gus Mus, yakni tidak memiliki rasa takut dan rasa susah. Ciri wali, balane Gusti Allah, kuwi ora duwe wedi ora duwe susah, koyo Mbah Siradj (Ciri seorang wali, temannya Allah, itu tidak memiliki rasa takut dan rasa susah, seperti Mbah Siradj ini, tuturnya.

KARTANU

Dalam kesempatan tersebut, turut hadir tokoh NU dari Kabupaten Semarang, KH Muromi yang membacakan riwayat hidup Kiai Siradj, antara lain tentang masa ketika Kiai Siraj tengah mencari ilmu.

Mbah Siraj ini pernah berguru ke berbagai ulama, antara lain Kiai Soleh Darat Semarang dan Kiai Dimyati Tremas Pacitan, ungkapnya.

KARTANU

Lebih lanjut dipaparkan mengenai pribadi Kiai Siradj yang juga dikenal sebagai salah satu mursyid thariqah Naqsabandiyah Qadiriyah. Beliau mengajarkan kepada kita untuk senantiasa menghormati kepada siapa pun, bahkan kepada orang non-muslim sekalipun, tuturnya.

Acara peringatan haul Kiai Siraj ini sekaligus untuk memperingati haul beberapa anak keturunannya, antara lain Kiai Shoimuri (pernah menjadi Rais Syuriyah PCNU Boyolali), dan Kiai Mubin Shoimuri (Ketua PCNU Kota Solo). (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/72526/gus-mus-ciri-waliyullah-itu-tidak-takut-dan-susah

KARTANU

Kamis, 06 April 2006

Santri di Wilayah Semarang dan Demak Ikuti Kursus Jurnalistik

Semarang, KARTANU. Kasi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kantor Wilayah Kementeriana Agama Provinsi Jawa Tengah menyelenggarakan kegiatan Shortcuorse (kursus singkat) Jurnalistik Pondok Pesantren, Jumat (09/10). Acara ini diikuti oleh sekitar 100 santri dari berbagai pondok pesantren yang ada di wilayah Semarang dan Demak.

Acara tersebut dilaksanakan di Pondok Pesantren Al-Hikmah Pedurungan, Semarang, Jawa Tengah dengan agenda acara meliputi, pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya, sambutan-sambutan, pengarahan sekaligus membuka acara oleh Kabid PD Pontren Jawa Tengah, Bapak Sholihin, serta ditutup dengan doa.

Santri di Wilayah Semarang dan Demak Ikuti Kursus Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri di Wilayah Semarang dan Demak Ikuti Kursus Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)


Santri di Wilayah Semarang dan Demak Ikuti Kursus Jurnalistik

Dalam sambutannya, Sholihin menyampaikan, kegiatan semacam ini penting dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan santri dalam dunia tulis menulis, baik menulis berita maupun tulisan dalam bentuk yang lain.

Dia juga mengatakan, santri jangan hanya mampu memahami kitab saja, tetapi juga paham tentang keterampilan, begitu juga dengan tulis-menulis.

KARTANU

KARTANU

Setelah selesai kegiatan ini para santri dapat mengembangkan diri dalam hal tulis menulis, syukur dapat menjadi penulis yang terkenal, harapnya.

Pelatihan ini dibimbing langsung oleh wartawan sekaligus redaktur senior Suara Merdeka, yaitu Saronji dan Hasan Hamid. (Abdus Shomad/Fathoni)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/62690/santri-di-wilayah-semarang-dan-demak-ikuti-kursus-jurnalistik

KARTANU

Rabu, 15 Juni 2005

GP Ansor Sukabumi Selenggarakan PKD Kelima

Sukabumi, KARTANU. Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Sukabumi menggelar Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) yang kelima. Kegiatan bertema "Penguatan ideologi Ahlussunnah wal-Jamaah untuk mewujudkan visi dan misi organisasi" ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Baitul Abror, Kp. Cibadak, Desa Curug Kembar, Kecamatan Curug Kembar.

Acara yang berlangsung (9-10/4) tersebut dibuka Sekertaris Pengurus Wilayah (PW) Gerakan Pemuda GP Ansor Ahmad Deni Haidar. Menurut Deni, Ansor harus bisa memposisikan diri di struktur sesuai teritorial, dari mulai ranting (desa) PAC (kecamatan) samapai PC (kabupaten).

GP Ansor Sukabumi Selenggarakan PKD Kelima (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Sukabumi Selenggarakan PKD Kelima (Sumber Gambar : Nu Online)


GP Ansor Sukabumi Selenggarakan PKD Kelima

Lebih lanjut ia menegaskan, Gerakan Pemuda Ansor adalah organisasi berdiri sebelum Indonesia merdeka. Kemudian turut serta dalam memperjuangkan kemerdekaan NKRI ini.

KARTANU

Untuk mengisi kemerdekaan ini, sambung dia, GP Ansor harus bisa bekerja sama dan sama-sama bekerja, baik bersama pemerintah maupun masyarakat, dan organisasi lain.

Sementara PC GP Ansor Kabupaten Sukabumi Muchtar Taufiq mengatakan, dengan diadakannya PKD Ansor ini diharapkan peserta dapat memahami pokok-pokok ajaran Islam Ahlusunnah wal-Jamaah serta asas-asas hidup bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

Di antara yang harus dipahami PKD yang diikuti 60 peserta ini, jelas dia, adalah memahami visi misi dan kepemimpinan berorganisasi di GP Ansor. Tak hanya itu memiliki keterampilan berdiskusi, berkomunikasi dan merencanakan tugas administrasi.

KARTANU

Seluruh peserta mampu konsen dan berkomitmen dalam mengawal, mengembangkan serta merefleksikan nilai-nilai ajaran Islam Ahlusunnah wal-Jamaah serta mampu memelihara, melestarikan konsep Islam Nusantara sebagai perwujudan Islam rahmatan lil alamin, harapnya.

Ia juga berharap agar peserta menjadi garda terdepan dalam mengawal keindonesiaan dari rongrongan kelompok radikal yang berusaha mengikis pilar-pilar kebangsaan. (Sofyan Syarif/Abdullah Alawi)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/67254/gp-ansor-sukabumi-selenggarakan-pkd-kelima

KARTANU

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KARTANU sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KARTANU. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KARTANU dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock