Tampilkan postingan dengan label Habaib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Habaib. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Desember 2015

People told not to use Quran to justify disgraceful actions

Jakarta, KARTANU. The people should not use the Quran for justifying disgraceful actions similar to those done by the supporters of ISIS, urged Indonesian Religious Affairs Minister Lukman Hakim Saifuddin as reported by republika.co.id.

"Do not use the Quran to justify radical actions alike those done by the ISIS group," he stated while opening the 18th anniversary commemoration of Bayt Alquran and Istiqlal Museum at the Indonesia in Miniature Garden (TMII) here on Wednesday (6/5).

People told not to use Quran to justify disgraceful actions (Sumber Gambar : Nu Online)
People told not to use Quran to justify disgraceful actions (Sumber Gambar : Nu Online)


People told not to use Quran to justify disgraceful actions

He noted that the Quran actually serves as a reference for Muslims to determine laws to settle various problems.

The holy Quran is also a reference for Muslims of various schools and sects, he pointed out.

KARTANU

The minister affirmed that a radical movement would only hurt Islam, adding that Islam is a civilized religion, and hence, any radical response to any act of provocation would not be recommended.

KARTANU

He lauded the graceful response by Muslims to a provocative Prophet Muhammad cartoon contest in the United States recently.

"Muslims must not be overly provoked to commit violence in response to such activities. That is not an Islamic teaching," he emphasized.

He noted that if Muslims wanted to protest against such an activity, they should do it in a civil manner.

"Muslims could launch a protest in a civil manner and not through violence or other forms of disgraceful acts," he remarked.

The minister affirmed that they could launch a protest through a dialog with the organizing committee of the activity to explain about the issue and why Muslims have deplored the activity.

Editing by Sudarto Murtaufiq

Dari (National) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/59428/people-told-not-to-use-quran-to-justify-disgraceful-actions

KARTANU

Rabu, 11 September 2013

Tak Hanya Mengamankan, Tentara Pun Ikut Menyapu Area Munas

Jakarta, KARTANU. Ada pemandangan unik di Kompleks Pondok Pesantren Kempek Cirebon, Jumat (14/9) pagi. Bersama para santri setempat, puluhan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari Komando Distrik Militer (Kodim) Kabupaten Cirebon dengan semangat menyapu seluruh halaman yang menjadi lokasi Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2012.

Ini merupakan tanggung jawab kami dari daerah, kata Kapten ARH Sudaryanto saat memimpin tugas kebersihan di Pesantren seluas 20 hektar ini.

Tak Hanya Mengamankan, Tentara Pun Ikut Menyapu Area Munas (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Hanya Mengamankan, Tentara Pun Ikut Menyapu Area Munas (Sumber Gambar : Nu Online)


Tak Hanya Mengamankan, Tentara Pun Ikut Menyapu Area Munas

Menurutnya, kegiatan ini merupakan wujud kepedulian TNI terhadap kelancaran Munas dan Konbes NU. Menyapu hanya salah satu dari sejumlah kegiatan-kegiatan lain seperti memasak di dapur umum, memasang umbul-umbul, meratakan tanah, menggali parit, dan tentunya mengamankan acara.

Ia mengaku bangga dapat berpartisipasi dalam hajatan besar NU ini. Selama ini, khususnya di lingkungan Kempek, tentara memang sering dilibatkan pada berbagai acara. Pastinya puas bisa turut membantu NU untuk keseksesan Munas, ujarnya.

KARTANU

Saat dikonfirmasi, pengasuh pesantren, KH Jafar Aqil Siroj membenarkan pihaknya cukup akrab dengan kalangan tentara di kawasan Cirebon. Sikap ini ditunjukkan untuk merangkul segenap elemen masyarakat guna kemaslahatan bersama.

KARTANU

Redaktur : Mukafi Niam

Penulis : Mahbib Khoiron

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/39701/tak-hanya-mengamankan-tentara-pun-ikut-menyapu-area-munas

Kamis, 11 Juli 2013

KH Maimoen Zubair: Baru 4 Tahun Berdiri, NU Berani Ngeluruk ke Sarang Komunis

KARTANU - Momentum pelaksanaan silaturahim bertajuk "Ngumpulke Balung Pisah" yang berlangsung di Fakultas Kedokteran Univeraitas Wahid Hasyim Semarang hari ini Minggu (17/7/2016), bagi KH Maemun Zubair sangat berkesan.

Hal itu, menurut Mbah Moen, dikarenakan Semarang pernah menjadi tempat Muktamar ke-4 Tahun 1929 di mana ketika itu Semarang adalah pusat pergerakan Sarekat Islam dan buruh. "Sejak Muktamar Semarang, NU menjadi organisasi modern yang mempunyai struktur wilayah, cabang, MWC, dan ranting," kenangnya.

Selain itu, Muktamar Semarang ketika juga upaya merespon perkembangan politik nasional selain membahas lazimnya Muktamar NU (sosial keagamaan).

KH Maimoen Zubair: Baru 4 Tahun Berdiri, NU Berani Ngeluruk ke Sarang Komunis - KARTANU
KH Maimoen Zubair: Baru 4 Tahun Berdiri, NU Berani Ngeluruk ke Sarang Komunis - KARTANU


KH Maimoen Zubair: Baru 4 Tahun Berdiri, NU Berani Ngeluruk ke Sarang Komunis

KARTANU

"Waktu itu sedang terjadi perpecahan ditubuh Sarekat Islam (SI). Sehingga ada dua kubu yakni SI Merah dipimpin Semaon dari kelompok Komunis dan SI Putih dipimpin HOS Cokroaminoto dan HA Salim," katanya.

Oleh karena itu, terang Mbah Moen, mau tidak mau NU harus sangat peduli terhadap persoalan bangsa. Sebagaimana dahulu dicontohkan waktu Muktamar Semarang yang tidak lain sebagai dukungan moral terhadap SI Putih agar tetap jaya.

"Kalau dulu NU yang baru empat tahun berdiri berani ngeluruk ke sarang kaum komunis militan seperti Semaon, Mas Marco, Siti Sundari termasuk Snevliet. NU Sekarang musti bisa berbuat lebih," paparnya.

"Terus terang saya sangat mendambakan kejayaan dan kehebatan NU seperti masa lalu. Tapi manusia yang kita hadapi sekarang jelas beda dengan dulu karakternya juga lain," katanya

KARTANU

Lebih lanjut Mbah Moen berpesan supaya NU saat ini jangan hanya berpikir romantis sementara kesadaran kolektifnya rendah. NU musti harus selalu menatap kedepan. Jangan terlalu lama menengok ke belakang.

"Secara historis NU dilahirkan oleh orang-orang kaya yang diridloi para kiai. Juga dari SDM yang sangat mumpuni dan tidak diragukan lagi," pungkasnya. [KARTANU/ haris]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/07/kh-maimoen-zubair-baru-4-tahun-berdiri-nu-berani-ngeluruk-ke-sarang-komunis.html

Minggu, 17 Maret 2013

Gus Sholah: Yang Memadukan Islam dan Indonesia Adalah Mbah Hasyim

KARTANU - Didorong oleh keprihatinan melihat perkembangan situasi kebangsaan, Pesantren Tebuireng mendirikan Pusat Kajian Pemikiran KH Hasyim Asy'ari. Lahirnya pusat kajian yang bernaung di bawah Universitas Hasyim Asy'ari (Unhasy) ini juga dimaksudkan untuk melestarikan dan mengembangkan pemikiran pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yang saat ini mulai dilupakan.

Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) mengungkapkan, sekitar 20 tahun lalu, ada tokoh NU yang menilai pemikiran KHM Hasyim Asy'ari telah kadaluarsa alias out of date dan dianggap terlalu sederhana. "Waktu itu saya menjawab, Mbah Hasyim membuat rumusan Ahlussunnah wal Jamaah untuk konsumsi masyarakat. Jadi dibuat sangat sederhana, supaya mudah dipahami. Dan, alhamdulillah, itu mudah dipahami," ungkapnya saat meresmikan pendirian pusat kajian tersebut, Sabtu (05/02/2017).

Fakta bahwa pemikiran Mbah Hasyim mudah diterima, menurut Gus Sholah, dibuktikan dengan jumlah anggota NU yang sangat besar. "Jadi, dari segi ilmu komunikasi, rumusan yang sederhana itu justru suatu keunggulan," tegas kiai yang juga menjabat Rektor Unhasy Tebuireng itu.

Gus Sholah: Yang Memadukan Islam dan Indonesia Adalah Mbah Hasyim - KARTANU
Gus Sholah: Yang Memadukan Islam dan Indonesia Adalah Mbah Hasyim - KARTANU


Gus Sholah: Yang Memadukan Islam dan Indonesia Adalah Mbah Hasyim

Jasa Mbah Hasyim yang mulai dilupakan, terutama terkait dengan proses memadukan keislaman dan keindonesiaan. Baik pada proses penyusunan rumusan dasar negara, pembentukan Kementerian Agama, hingga sinkronisasi pendidikan nasional dan pendidikan Islam. "Pak Wahid Hasyim yang berperan dalam proses-proses itu, adalah mewakili pemikiran Mbah Hasyim," ungkap salah satu putra KHA Wahid Hasyim ini.

Gus Sholah menambahkan, sikap NU sebagai ormas Islam pertama yang menerima Pancasila secara resmi pada 1984 juga bagian dari sentuhan dan jasa Mbah Hasyim. Sebab, sikap NU itu didasarkan pada dokumen tentang hubungan Islam dan Pancasila yang ditulis oleh KH Ahmad Siddiq, yang merupakan salah satu murid Mbah Hasyim.

KARTANU

Lebih lanjut, Gus Sholah menuturkan bahwa proses akomodasi substansi syariah Islam ke dalam sejumlah UU, seperti UU Perkawinan dan UU Peradilan Agama, yang dipelopori oleh KH Bisri Syansuri dan KH Wahab Chasbullah, juga tidak bisa dilepaskan dari peran Mbah Hasyim. Sebab, keduanya juga murid beliau.

KARTANU

"Jadi, saya mengambil kesimpulan bahwa yang memadukan Islam dan Indonesia adalah Mbah Hasyim. Seandainya Kiai Ahmad Siddiq, Kiai Bisri Syansuri dan Kiai Wahab Chasbullah bukan murid Mbah Hasyim, mungkin akan lain ceritanya," tandasnya.

Perpaduan Islam dan Indonesia itu, menurut Gus Sholah, saat ini sedang ada yang coba merenggangkannya. "Kalau sampai upaya untuk melonggarkan sendi-sendi itu terjadi, saya khawatir bangsa kita akan mengalami lagi turbulensi," ungkapnya.

Untuk itulah, peresmian pusat kajian ini juga diisi dengan penyampaian Pesan Kebangsaan Pesantren Tebuireng. Dokumen berisi enam poin penting itu dibacakan langsung oleh Gus Sholah di akhir acara.

Hadir dalam acara tersebut, mantan Menteri Agama KH Tolchah Hasan, mantan Rektor UIN Jakarta Masykuri Abdillah. Juga wakil Rektor Unhasy Haris Supratno dan wakil pengasuh Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz. [KARTANU/ day]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/gus-sholah-yang-memadukan-islam-dan-indonesia-adalah-mbah-hasyim.html

Senin, 19 November 2012

Kalau Hanya Belajar Islam, Ngapain ke Timur Tengah?

KARTANU - Dengan ini saya anjurkan kepada para bapak dan ibu kaum muslim/ muslimah di Indonesia tidak perlu repot-repot menyekolahkan anak-anaknya ke negara-negara Arab kalau tujuannya hanya sekedar untuk mempelajari Islam, belajar Bahasa Arab atau mengaji kitab-kitab keislaman.

Sekali lagi, kalau tujuannya hanya untuk belajar masalah ini (kalau punya tujuan lain ya lain lagi persoalannya), di Indonesia saja sudah cukup. Pondok-pondok pesantren, khususnya milik Nahdlatul Ulama (NU) sudah melimpah-ruah di kota maupun desa. Indonesia kini juga sudah surplus kiai, baik tua maupun muda, yang sangat mumpuni dalam masalah ini.

Kalau Hanya Belajar Islam, Ngapain ke Timur Tengah? - KARTANU
Kalau Hanya Belajar Islam, Ngapain ke Timur Tengah? - KARTANU


Kalau Hanya Belajar Islam, Ngapain ke Timur Tengah?

Lagi pula, untuk apa menyekolahkan anak jauh-jauh ke Arab untuk "belajar Islam" kalau pada akhirnya kelak ketika selesai sekolah malah menjadi "malin kundang" yang, atas nama "kemurnian Islam" dan "tegaknya tauhid", berani melawan orang tua, mengafirsesatkan mereka, membidahkan amalan-amalan keagamaan mereka dan seterusnya. Nanti Anda sendiri yang akan kerepotan loh: mau dibiarkan kurang ajar, mau digampar itu anak sendiri. Repot kan?

Bukan hanya melawan orang tua saja loh. Para ulama dan kiai yang kebetulan berbeda pemikiran juga dikapir-kapirkan oleh "anak kemarin sore" yang baru sunat ini. Tidak sebatas itu. Sebagian mereka bahkan tega untuk mengpitnah dan mengungkapkan kata-kata kotor dengan beliau-beliau. Padahal beliau-beliau itu masya Allah ulama yang sangat rendah hati, alim dan saleh dalam segala hal. Kok tega ya mereka melakukan itu?

KARTANU

Terus? Sudah jauh-jauh sekolah dan "menuntut ilmu keislaman", pulang-pulang malah menjadi "provokator kebencian" yang anti-pati terhadap tetangga, non-muslim dan bahkan terhadap sesama muslim itu sendiri yang hanya secara kebetulan berbeda mazhab, pandangan, pemikiran, dan praktek keagamaan dengan mereka. Repot kan? Hidup di dunia yang warna-warni kok "kaku-regeng" kayak tiang listrik, tidak mau toleran dengan keragaman. Emang bumi ini milik engkong mereka apa?

Sudah cukup? Belum. Mereka juga mengharamkan bendera merah-putih, memusyrikkan penghormatan terhadapnya, mengthogutkan Pancasila dan Konstitusi, "menerakakan" para pejuang dan pahlawan bangsa. Wis embuh lah. Banyak pokoknya yang aneh-aneh dan "unyu-unyu" dari tingkah-polah mereka. Tapi sebagian loh, tidak semua alumni Timur Tengah yang belajar Islam bersikap seperti ini. Entar ada yang ngamuk-ngamuk lagi.

KARTANU

Nah, kalau mondok di pesantren-pesantren NU, nanti akan lain ceritanya. Anak-anak nanti diajari untuk mencitai ulama, mencintai bangsa, negara dan Tanah Air, menghormati orang tua, toleran terhadap sesama manusia, ramah terhadap tetangga, mencitai tradisi dan budaya bangsa. Pokoknya banyak deh yang baek-baek.

Dan sudah barang tentu, para santri akan mendapatkan pelajaran-pelajaran keislaman yang "yahud" (tanpa "i"), keislaman yang ramah dan respek dengan kemajemukan pemikiran, keragaman mazhab, dan perbedaan pendapat. Yuk, kita semarakkan gerakan cinta Pokemon (Pokoke Mondok). [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/kalau-hanya-belajar-islam-ngapain-ke-timur-tengah.html

Rabu, 18 April 2012

Prodi Kedokteran UIN Jakarta Luncurkan Program Dokter Santri

Tangerang Selatan, KARTANU. Mahasiswa Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menginisiasi program yang mereka sebut dengan Program Dokter Santri Cerdas. Program ini merujuk pada kepeloporan kesehatan masyarakat berbasis pesantren yang ada di Indonesia.

Ketua Program Studi Pendidikan Dokter UIN Syarif Hidayatullah dr. Ahmad Zaki menyatakan, perlu format institusi pendidikan kedokteran yang lebih akomodatif dan representatif untuk dapat mengakomodasi semua masalah dan tantangan terutama di era Masyarakat Ekonomi ASEAN ini.

Prodi Kedokteran UIN Jakarta Luncurkan Program Dokter Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Prodi Kedokteran UIN Jakarta Luncurkan Program Dokter Santri (Sumber Gambar : Nu Online)


Prodi Kedokteran UIN Jakarta Luncurkan Program Dokter Santri

Prodi Pendidikan Dokter UIN Jakarta yang mengedepankan integrasi ilmu kedokteran, keislaman, dan keindonesiaan dalam sistem kurikulumnya, menggagas program Dokter Santri Cerdas, kata dr Zaki pada seminar terkait dunia kedokteran menghadapi tantangan Masyarakat Ekonomi ASEAN di auditorium utama Harun Nasution kampus setempat, Rabu (2/12).

Program Dokter Santri Cerdas (DSC) ini merupakan kegiatan yang diinisiasi oleh mahasiswa kedokteran UIN Jakarta. Program sebenarnya telah dilaksanakan di sejumlah pesantren di Jawa Barat antara lain pesantren Internasional Jagat Arsy Tangerang, pesantren Suryalaya Ciamis, pesantren Babakan Ciwaringin, dan Buntet Pesantren di Cirebon.

KARTANU

Hal ini diamini oleh dua inisiator program DSC Aditya Adji dan Jiddi Adibia, yang menghadirkan santri dari Pesantren Jagat Arsy sebagai pihak yang mengawali program tersebut.

Kami berharap program ini menjadi program nasional, dan mampu menaungi seluruh pesantren di Indonesia, ujar Jiddi, mahasiswa kedokteran UIN Jakarta angkatan 2010.

KARTANU

Seminar nasional dan peluncuran program Dokter Santri Cerdas ini mengundang pembicara pakar bisnis dari ITB Prof Rahardjo Ramelan, Sekretaris Jenderal PB Ikatan Dokter Indonesia dr Adib Khumaedi Sp.OT, serta pakar hukum internasional dari Universitas Indonesia Prof Hikmahanto Juwana.

Dalam seminar ini mereka membahas langkah-langkah penting seorang pemuda juga tantangan dokter dalam persaingan dengan tenaga kerja dari negara-negara di ASEAN.

Rahardjo Ramelan dalam materinya menyebutkan, Dalam menghadapi MEA yang penuh tantangan ini, semangat bangkit dan berkembang harus mulai dari diri pemuda itu sendiri. (M Iqbal Syauki/Alhafiz K)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/64066/prodi-kedokteran-uin-jakarta-luncurkan-program-dokter-santri

Jumat, 09 Maret 2012

Penyebar Berita Kebencian Itu Mestinya Lebih Rajin Jalan-Jalan ke Luar Negeri Biar Tidak Cengeng

Oleh Rhenald Kasali KARTANU - Dalam perjalanan pulang ke Jakarta dari Frankfurt, duduk di sebelah saya salah seorang CEO perusahaan terkemuka Indonesia. Pria berkebangsaan India yang sangat berpendidikan itu bercerita tentang karir dan perusahannya.

Gerakan keduanya (karir dan perusahaannya) begitu lincah. Tidak seperti kita, yang masih rigid, terperangkap pola lama, seakan-akan semua layak dipagari, dibuat sulit. Perusahaan sulit bergerak, impor-ekspor bergerak lambat, dwelling time tidak konsisten. Sama seperti karier sebagian kita, terkunci di tempat. Akhirnya hanya bisa mengeluh.

Penyebar Berita Kebencian Itu Mestinya Lebih Rajin Jalan-Jalan ke Luar Negeri Biar Tidak Cengeng - KARTANU
Penyebar Berita Kebencian Itu Mestinya Lebih Rajin Jalan-Jalan ke Luar Negeri Biar Tidak Cengeng - KARTANU


Penyebar Berita Kebencian Itu Mestinya Lebih Rajin Jalan-Jalan ke Luar Negeri Biar Tidak Cengeng

Pria itu dibesarkan di India, kuliah S-1 sampai selesai di sana, menjadi alumni Fullbright, mengambil S-2 di Amerika Serikat, lalu berkarir di India sampai usia 45 tahun. Setelah itu menjadi CEO di perusahaan multinasional dari Indonesia.

Perusahaannya baru saja mengambil alih sebuah pabrik besar di Frankfurt. Namun karena orang di Frankfurt masih kurang yakin dipimpin eksekutif dari emerging countries, ia membujuk pemasoknya dari Italia agar ikut memiliki saham minoritas di Frankfurt. Dengan kepemilikan itu, pabrik di Frankfurt dikelola eksekutif dari Eropa (Italia).

KARTANU

Solved!

KARTANU

Itu adalah gambaran dari agility. Kelincahan bergerak yang lahir dari fenomena borderles world. Anehnya juga kita mendengar begitu banyak orang yang cemas menghadapi perubahan. Dunia sudah lebih terbuka, mengapa harus terus merasa sulit? Susah di sini, bisa bergeser ke benua lain. Tak ada lagi yang sulit. Ini tentu harus disyukuri.

Serangan Tenaga Kerja

Belum lama ini kita membaca berita tentang kegusaran seseorang yang tulisannya diforward kemana-mana melalui media sosial. Mulai dari berkurang agresifnya angka pertumbuhan, sampai serangan tenaga kerja dari China.

Berita itu di-forward kesana – kemari, sehingga seakan-akan tak ada lagi masa depan di sini. Yang mengherankan saya, mengapa ia tidak pindah saja bekerja dan berimigrasi ke negara yang dipikirnya hebat itu?

Bekerja atau berkarir di luar negri tentu akan menguntungkan bangsa ini. Pertama, Anda akan memberi kesempatan kerja pada orang lain yang kurang beruntung. Dan kedua, Anda akan mendapatkan wisdom, bahwa hal serupa, komplain yang sama ternyata juga ada di luar negri.

Rekan saya, CEO yang saya temui di pesawat Lufthansa tadi mengeluhkan tentang negerinya. “Orang Indonesia baik-baik, bekerja di Indonesia menyenangkan. Kalau diajari sedikit, bangsa Anda cepat belajar. Pikiran dan tindakannya terstruktur. India tidak! Di India politisi selalu mengganggu pemerintah. Irama kerja buruh tidak terstruktur. Pertumbuhan ekonomi terlalu cepat, membuat persaingan menggila. Rakyatnya makin konsumtif dan materialistis.” Kalimat itu ia ucapkan berkali-kali.

Susah? Kerja Lebih Profesional!

Di Italia, guide saya, seorang kepala keluarga berusia muda mengantar saya melewati ladang-ladang anggur di Tuscany, menolak menemani makan siang yang disajikan mitra kerja Rumah Perubahan di rumahnya yang indah. “Biarkan saya hanya makan salad di luar. Saya dilarang makan enak saat mengemudi,” ujarnya.

Kepada putra saya ia mengajari. "Saat bekerja kita harus bekerja, harus profesional, gesit dan disiplin. Cari kerja itu sulit, mempertahankannya jauh lebih sulit. Kita harus lebih kompetitif dari orang lain kalau tetap ingin bekerja," ujarnya.

Di dalam vineyard-nya yang indah, rekan saya menyajikan aneka makanan Italia yang lezat, lengkap dengan demo masak dan ritual mencicipi wine yang dianggap sakral. Di situ mereka berkeluh kesah tentang perekonomian Eropa yang terganggu Yunani belakangan ini. Dan lagi-lagi mereka menyebutkan kehidupan yang nyaman itu ada di Pulau Dewata, Bali dan Pulau Jawa.

Ketika saya ceritakan bahwa kami di Indonesia juga sedang susah, dia mendengarkan baik-baik. “Dari dulu kalian terlalu rendah hati, selalu merasa paling miskin dan paling susah. Ketika kalian sudah menjadi bangsa yang kaya, tetap merasa miskin. Tetapi, saya tak pernah melihat bangsa yang lebih kaya, lebih merdeka, lebih bahagia, dari pada Indonesia.” Saya pun terdiam.

Di Singapura, saya mengirim berita tentang komplain terhadap masalah dollar AS dan ancaman kesulitan pada rekan lain yang sudah lima tahun ini berkarir di sana. Ia pun menjawab ringan, “Suruh orang-orang itu kerja di sini saja.”

Tak lama kemudian ia pun meneruskan. “Kalau sudah kerja di sini baru tahu apa artinya kerja keras dan hidup yang fragile.”

Saya jadi teringat curhat habis-habisan yang ia utarakan saat saya berobat ke negeri itu. “Mana bisa konkow-konkow, main Facebook, nge-tweet di jam kerja? Semua harus disiplin, berani maju, kompetitif, dan siap diberhentikan kalau hasil kerja buruk. Di negeri kita (Indonesia), saya masih bisa bersantai-santai, karyawan banyak, hasil kerja tidak penting, yang penting bos tidak marah saja,” ujarnya.

Saat itu ia tengah menghadapi masa probation atau percobaan. Sungguh khawatir kursinya akan direbut pekerja lain dari India, Turki, dan Prancis yang bahasa Inggrisnya lebih bagus, dan ritme kerjanya lebih cepat. Ternyata bekerja di negeri yang perekonomiannya bagus itu juga tidak mudah. Padahal di sana mereka lihat kerja yang enak itu ya di sini.

Bangsa Merdeka Jangan Cengeng

Saya makin terkekeh membaca berita yang disebarluaskan para haters melalui grup-grup WA, bahwa pemerintah sekarang tidak perform, membiarkan sepuluh ribuan buruh dari China merangsek masuk ke negeri ini. Sungguh, saya tak gusar dengan serangan tenaga kerja itu. Yang membuat saya gusar adalah kalau hal serupa dilakukan bangsa-bangsa lain terhadap tenaga kerja asal Indonesia di luar negeri.

Penyebar berita kebencian itu mestinya lebih rajin jalan-jalan ke luar negeri. Bukankah dunia sudah borderless, tiket pesawat juga sudah jauh lebih murah. Cara menginap juga sangat mudah dan murah. Kalau saja ia rajin, maka ia akan menemukan fakta-fakta ini: Sebanyak 300.000 orang tenaga kerja Indonesia bekerja di Taiwan. 250.000 lainnya di Hongkong. Lebih dari 100.000 orang ada di Malaysia. Selain itu, perusahaan-perusahaan kita sudah mulai mengepung Nigeria, Myanmar, dan Brazil. Bahkan juga canada dan Amerika.

Jadi bagaimana ya? Kok baru dikepung 10.000 saja kita sudah rasis? Ini tentu mengerikan. Lalu dari grup WA para alumnus sekolah, belakangan ini saja juga mendapat kiriman teman-teman yang kini berkarir di manca negara. Delapan keluarga teman kuliah saya ada di Kanada, beberapa di Jerman dan Eropa, puluhan di Amerika Serikat, dan yang terbanyak tentu saja di Jakarta. Semakin banyak orang kita yang berkarier bebas di mancanegara. Karir mereka tidak rigid.

Jadi, janganlah kita cengeng. Beraninya hanya curhat dan komplain, tapi tak berbuat apa-apa. Bahkan beraninya hanya menyuarakan kebencian. Atau paling-paling cuma mengajak berantem dan membuat akun palsu bertebaran. Kita juga jangan mudah berprasangka.

Syukuri yang sudah didapat, hanya mungkin diatasi dengan berkomitmen untuk bekerja lebih jujur, lebih keras, lebih respek, lebih profesional, dan memberi lebih.

Kalau Anda merasa Indonesia sudah “berbahaya” ya belain dong. Kalau Anda merasa tak senang dengan orang lain, ya sudah, pindah saja ke luar negri. Mudah kok. Di sana Anda akan mendapatkan wisdom, atas kata-kata dan perbuatan sendiri. Di sana kita baru bisa merasakan kayanya Indonesia. Di sana kita baru tahu bahwa tak ada hidup yang mudah.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/penyebar-berita-kebencian-itu-mestinya-lebih-sering-jalan-ke-luar-negeri.html

Minggu, 06 November 2011

Gus Mus: Kalau Mau Bicara Islam, ya Mengaji, Jangan dari Buku Terjemahan

KARTANU - Pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak baru akan berlangsung 15 Februari mendatang. Akan tetapi, iklim politik sudah mulai memanas. Potensi penggunaan isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) dalam pilkada pun telah bermunculan. Salah satunya, meruaknya kontroversi terkait pidato Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Kepulauan Seribu beberapa waktu lalu.

Ahok pun belakangan dituduh menistakan agama Islam. KH Mustofa Bisri, pengasuh Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin atau Taman Pelajar Islam, Desa Leteh, Rembang, Jateng, yang karib disapa Gus Mus, melihat fenomena itu akibat kondisi masyarakat yang belum siap menerima perbedaan.

Gus Mus: Kalau Mau Bicara Islam, ya Mengaji, Jangan dari Buku Terjemahan - KARTANU
Gus Mus: Kalau Mau Bicara Islam, ya Mengaji, Jangan dari Buku Terjemahan - KARTANU


Gus Mus: Kalau Mau Bicara Islam, ya Mengaji, Jangan dari Buku Terjemahan

Untuk mengetahui lebih jauh pandangan Gus Mus, wartawan KARTANU, Furqon Ulya Himawan, mewawancarai kiai karismatik itu, Jumat (14/10). Berikut petikan wawancara, yang disajikan Duta Islam untuk memberikan pencerahan kepada umat Islam.

KARTANU: Kasus intoleransi kerap berlangsung. Apa yang salah?

Ahmad Mustofa Bisri: Menurut saya, itu akibat dari masa lalu yang tidak kunjung direformasi. Reformasi itu kan islah, ndandani kalau dalam bahasa Jawa. Ndandani atau memperbaiki itu harusnya dicari masalah-masalahmana yang rusak, yang diperbaiki itu mana, akar masalahnya apa, harus diteliti dulu baru direformasi.

Namun, sekarang yang terjadi, hiruk-pikuk reformasi itu ternyata melahirkan orang-orang yang seharusnya direformasi justru malah berteriak paling reformis. Jadi sebetulnya kan masalah itu terjadi pada saat dulu, yang akan kita reformasi.

KARTANU: Contohnya, Gus?

Ahmad Mustofa Bisri: Dulu ada kecenderungan zaman Orde Baru untuk menyeragamkan semua. Bukan hanya pakaian seragam, menanam padi, sampai-sampai mengecat pagar rumah sendiri juga harus seragam. Bahkan masjid pun diseragamkan semua, dengan alasan harmonis. Akibatnya, masyarakat tidak bisa berbeda karena terlalu lama diseragamkan, akhirnya masyarakat kita kaget-kaget kalau ada perbedaan.

KARTANU: Dampaknya terhadap keberagaman dan kebinekaan?

Ahmad Mustofa Bisri: Pertama, masyarakat kita susah menerima perbedaan. Beda sedikit marah, beda sedikit marah. Itu akibat menyeragamkan semua hal dan itu melawan fitrah. Padahal, Tuhan menciptakan alam semesta termasuk kita semua itu dalam kondisi berbeda-beda, jadi tidak akan bisa kalau memang mau disatukan atau diseragamkan.

Kedua, seperti burung yang lama dikurung dalam sangkar, ketika sangkar dibuka, dia malah kebingungan, nabrak sana-sini karena sudah lama tidak merasakan kebebasan. Ketika keran kebebasan dibuka, malah bingung. Padahal, dulu itu teriak saja susah, selalu bunyinya satu, setuju. DPR itu dulu kalau teriak ya setuju, apa saja pokoknya setuju. Sampai-sampai ada ledekan: ada kucing masuk parlemen, ngeong, langsung serempak setuju.

Setelah sekian lamanya hanya bisa bilang setuju, sampai saya bikin sajak 'Negeri Ya, Ya'. Terus sekarang, DPR isinya interupsi semua, ngomong semua, seperti burung yang baru dikeluarkan. Terus yang dulunya tiarap-tiarap, sekarang muncul semua. Ini gara-gara berbagai macam permasalahan islah yang masih belum dilakukan. Jadi banyak persoalan ini yang sumbernya dari reformasi yang tidak sungguh-sungguh.

KARTANU: Sekarang banyak yang bertindak intoleran, menganggap diri paling benar. Ada pula yang mengatasnamakan Islam. Menurut Gus Mus?

Ahmad Mustofa Bisri: Saya selalu mengatakan, harus terus belajar dan jangan berhenti belajar. Orang kalau mau terus belajar, nanti akan mengerti dan memahami apa-apa yang sebelumnya belum dimengerti dan dipahami. Namun, ini payahnya, orang berhenti belajar karena dia merasa sudah mengerti dan memahami. Padahal, sama sekali belum mengerti apa-apa, malah kadang-kadang sudah berfatwa ke sana kemari.

KARTANU: Caranya belajar?

Ahmad Mustofa Bisri: Ya, ini jadi harus terus belajar. Belajarlah supaya mengerti yang menyeluruh, kalau mau bicara Islam, ya mengaji, jangan mengambil Islam dari buku-buku terjemahan, Al-Quran terjemahan, hadis terjemahan. Ini tidak mungkin. Terus kadang orang bilang kembali ke Al-Quran dan Hadist, tapi orang salah memaknai maksud itu.

KARTANU: Maksudnya?

Ahmad Mustofa Bisri: Orang mengatakan kembali ke Al-Quran dan sunah Rasul itu kok malah maknanya kembali ke Al-Quran dan hadis terjemahan Depag, itu bagaimana, itu kacau! Orang bisa membaca terjemahan Depag asal dia bisa baca Latin, dan dikiranya kebenaran yang dibaca dan dipelajarinya itu kebenaran mutlak. Ia tidak tahu bahwa bahasa Arab Al-Quran tidak sama.

Jadi teruslah belajar bahasa Arab, harus belajar ilmu Balagoh, ilmu Badi' dan Bayan karena Al-Quran itu mengandung itu semua, sastranya tinggi sekali. Jadi, kalau orang hanya membaca terjemahan tidak tahu sastra ya tidak mungkin, tidak bisa, harus mengaji.

Jadi silakan mengatakan kembali ke Al-Quran dan hadist itu dijadikan semboyan, tapi ya kembali itu belajar dan terus belajar, harus mengaji. Tidak diartikan bacalah terjemahan Al-Quran, atau 40 hadist di buku-buku mutiara hadis, itu ngacau!

KARTANU: Menjelang pilkada, banyak konflik yang mengancam keberagaman dan berpotensi memecah kebinekaan. MUI sampai mengeluarkan fatwa. Menurut Gus Mus?

Ahmad Mustofa Bisri: Kita sekarang lupa, bahwa yang menentukan orang menjadi kaya, menjadi miskin, menang dan kalah, memiliki kekuasaan atau kehilangan kekuasaan, dan menjadi penguasa atau tidak, menjadi pangkat atau tidak, itu semua Allah Subhanahu wata'ala. Disangka kalau kita ngotot, berarti pasti jadi?!

KARTANU: Bagaimana agar tidak terjadi perpecahan di pilkada, Gus?

Ahmad Mustofa Bisri: Saya selalu mengatakan janganlah berlebih-lebihan dalam segala hal. Itu di Islam tidak boleh! Wala tusrifu, (jangan berlebihan), atau Ghuluw, banyak dalam ayat-ayat Al-Quran dan Sabda Rasullullah Sallahhu Alaihi Wassalam menyatakan tidak boleh, alguluw fiddin (berlebihan dalam agama), berlebih-lebihan itu tidak boleh. Karena berlebih-lebihan itu akibatnya orang tidak bisa berpikir adil, tidak bisa istiqomah, tidak bisa objektif.

Jadi, kalau selama kita masih bersikap berlebih-lebihan dalam segala aspek kehidupan kita, sangat sulit kita untuk berpikir jernih, tidak bisa. Sebab adil itu jejek (Gus Mus mengisyaratkan tangannya berdiri tegak, lurus), sedangkan berlebih-lebihan itu begini (Gus Mus mengisyaratkan tangannya berdiri condong ke kanan), atau begini (Gus Mus mengisyaratkan tangannya berdiri condong ke kiri), tidak bisa. Karena apa pun nanti akan dijadikan alasan untuk berkelahi.

Jadi, kalau kita misalnya senang berlebih-lebihan, benci berlebih-lebihan, senang dunia berlebihan, senang kekuasaan berlebihan, senang pangkat berlebihan, senang kedudukan berlebihan, apa pun itu yang berlebihan, itu semua sumber malapetaka. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/gus-mus-kalau-mau-bicara-islam-ya-mengaji.html

Sabtu, 24 Juli 2010

Gelar Sanlat, IPNU-IPPNU Bimbing Pelajar Sukses SMBPTN

Kudus, KARTANU. Sebanyak 63 pelajar MA/SMA/SMK mengikuti kegiatan Bimbingan Pasca Ujian Nasional (BPUN) yang diselenggarakan Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Kudus. Jumat (8/5) kemarin, kegiatan BPUN yang dikemas pesantren kilat (sanlat) ini secara resmi dibuka di Pondok Pesantren Zainal Husain Desa Golantepus Mejobo Kudus.

Ketua panitia Abu Hasan Asyari menjelaskan, peserta BPUN 2015 ini tidak hanya diikuti pelajar Kudus saja tetapi beberapa dari Purwodadi, Sragen, Rembang dan Pati. Mereka akan mendapat bimbingan belajar menuju sukses Seleksi Masuk Bersama Perguruan Tinggi Negeri (SMBPTN) selama satu bulan.

Gelar Sanlat, IPNU-IPPNU Bimbing Pelajar Sukses SMBPTN (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Sanlat, IPNU-IPPNU Bimbing Pelajar Sukses SMBPTN (Sumber Gambar : Nu Online)


Gelar Sanlat, IPNU-IPPNU Bimbing Pelajar Sukses SMBPTN

"Program BPUN sudah berlangsung sejak 2007 hingga sekarang bertujuan membimbing, mendampingi dan mengawal kesuksesan pelajar meraih mimpinya masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN)," kata Abu Hasan.

KARTANU

Ia menambahkan, kegiatan ini juga akan mendorong pelajar lebih semangat ikhtiar belajar dan berdoa. "Jadwal kegiatannya, pagi bimbel, malam harinya pengajian agama, motivasi dan penambahan skill. Intinya belajar juga berdoa dengan melakukan riyadhoh," imbuh Abu.

Pengurus Wilayah IPNU Jateng Dwi Syaifullah yang turut hadir menyambut baik program BPUN ini. Menurutnya, program ini sangat bermanfaat menopang kebutuhan pelajar yang mempunyai cita-cita masuk PTN.

KARTANU

"IPNU-IPPNU mendampingi pelajar supaya menuntut ilmu menjadi bermanfaat dan berkah. Sebab, ilmu yang tidak berkah, tidak ada gunanya,"tandasnya.

Karenanya, Ia mengajak semua peserta BPUN bisa belajar memadukan ilmu umum dan agama guna meraih kesuksesan dunia dan akhirat. "Dan yang lebih penting juga, membahagiakan orang tua kalian," katanya dihadapan peserta BPUN.

Hal senada disampaikan Sekretaris PCNU Kudus Agus Hari Ageng saat membuka secara resmi kegiatan hasil kerjasama IPNU-IPPNU Kudus dengan Yayasan Mata Air Jakarta ini. Ia mengajak pelajar untuk belajar dengan tujuan mendapatkan keberkahan ilmu.

"Jangan punya pikiran belajar nanti menjadi apa? Tetapi tuntutlah ilmu yang manfaat," katanya memotivasi.

Ia menandaskan cita-cita mencari ilmu jangan berorientasikan dengan menjadi sosok di masa depan. Sebab, manakala tidak kesampaian akan mengalami kekecewaan.

"Selain dibekali sukses PTN, program yang akan menjaga keseimbangan rohani dan jasmani ini tidak dilakukan kelompok lain," ujarnya.

Dalam kegiatan bertema Today Student, Leader Tomorrow ini, peserta akan didampingi para mentor yang kompeten sesuai mapel yang diujikan dalam SMBPTN. Selain itu, pada malam hari diisi kegiatan keagamaan mengaji yang diasuh oleh pengasuh pesantren Zainal Hasan dan beberapa aktivis IPNU-IPPNU Kudus. (Qomarul Adib/Fathoni)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/59399/gelar-sanlat-ipnu-ippnu-bimbing-pelajar-sukses-smbptn

KARTANU

Rabu, 26 Mei 2010

Jebakan Batman Freeport, Akankah Jatuh ke Raja Salman dan Al-Abraj?

KARTANU - Kalau pemerintah memutus kontrak dengan Freeport (PTFI), Indonesia kalah. Freeport pasti mengambil pasal 340 WTO. Dengan demikian, pemerintah harus mengembalikan investasinya, ditambah denda dan kerugian (termasuk saham-sahamnya yang fall).

Bangkrut APBN untuk bayar itu. Makanya Freeport cuma psywar agar Indonesia menerbitkan pemutusan kontrak dengan alasan tak memenuhi perjanjian tambahan, pelepasan 51% sahamnya, tak bikin smelter, dua syarat yang membutuhkan persetujuan stake holder, dan melanggar UU Minerba.

Jebakan Batman Freeport, Akankah Jatuh ke Raja Salman dan Al-Abraj? - KARTANU
Jebakan Batman Freeport, Akankah Jatuh ke Raja Salman dan Al-Abraj? - KARTANU


Jebakan Batman Freeport, Akankah Jatuh ke Raja Salman dan Al-Abraj?

Maka saya yakin, sikap PTFI kini adalah sikap stake holder. Kalau sahamnya didivestasi hingga 51%, kepemilikannya sudah beralih ke pihak lain. Hanya orang dungu saja yang mau melakukannya. Sudah diambil alih, disuruh lagi bikin smelter yang biayanya tak tanggung-tanggung. Anda mau tidak dibegitukan? Jika tidak, pilih opsi kedua maju ke Panel WTO. Setidaknya lolos dari perampokan.

KARTANU

Mengubah KK menjadi IUPK adalah melanggar kontrak perdata sekaligus pidana. Sebab, KK itu dikunci pula dengan pasal pidana, pengubahnya diancam hukuman 5 tahun penjara, kejahatan berat. Yang dilewatkan awam, seolah UU Minerba lebih tinggi daripada Aggreement (perjanjian, termasuk KK). Salah berat, aggreement lebih tinggi derajatnya daripada hukum positif (UU).

Opini yang berkembang, seolah kebijakan pemerintah dapat mengatasi aggreement KK Freeport vs Indonesia karena kacamatanya bukan hukum. Jika bisa diubah, sudah dilakukan oleh Sudirman Said, Men ESDM sebelum Jonan.

Tak bisa menggunakan hukum kekuasaan (souvereignity law) dalam hal ini hukum publik, yaitu UU Minerba untuk membypass hukum kontrak perdata dengan cara memutus kontrak, sementara pemerintah adalah para pihak langsung.

KARTANU

Beda masalah jika berangkat dari hukum pidana yang ada dalam klausul kontrak. Mestinya jika ingin memutus kontrak, berangkat dari issu kasus pidana "papa minta saham" dan lain sebagainya.

Tambang Irian Barat itu adalah tambang emas dan uranium terbesar dunia. Dulu Freeport semasa bernama Freeport Sulphur, perannya mondial di era perang bintang Uni Soviet (Blok Timur) versus Blok Barat yang dipimpin Amerika dalam perlombaan senjata nuklir yang butuh uranium di mana Freeport Indonesia menjadi sarang CIA.

Setelah Perang Bintang berlalu 1989, harga zirkonium dan emas jatuh, CIA hengkang, perannya mengecil. Kini, saham Freeport Amerika jatuh, harga komoditas tambang turun, ditambah ketidakpastian Pemerintahan Trump dengan American First, hambatan oleh problem UU Minerba, social cost yang tinggi, smelter lokal yang membuatnya tak bisa mendulang bahan strategis (seperti uranium), kian tak jelas masa depan Freeport. Jauh lebih menguntungkan menangguk hasil berperkara di WTO yang jelas jelas menangnya.

Desain kini dari Menko Maritim, Luhut Binsar Pandjaitan (LBP) kontrak diputus dengan Freeport untuk diserahkan kepada perusahaan grup China Resources Limited. Tampaknya oke. Namun hitung dulu costing penalti Panel WTO seperti saya kemukakan tadi. Saya kok yakin, LBP tak berani. LBP terlalu licin untuk dijebak.

Kehebatan Archandra Tahar mana? Katanya pelobi Barat yang hebat. Lebih cocok jadi ustadz. Men ESDM Ignatius Jonan yang direkom Vatikan, mana pula lobi Baratnya? Sri Mulyani yang orangnya globalis Freemason Barat, mana pula?

Kalau mau dijual jangan ke Cina, lebih berbahaya. Sudah pasti manajemen dan buruh Freeport yang 132.000 diimpor dari Cina Daratan dan menjadi kaukus politik proxy war Hoaqiau dan OBOR Cina. Jual ke Al Abradj saja lebih aman sekaligus untuk melebarkan sayap Freemason Asia itu di Indonesia. Mumpung Raja Salman, pentolan Al Abradj, akan anjangsana ke Ibukota bulan ini. Saya dengar cuma Rp 500 triliun. Pasti punyalah Al Abradj kalau cuma Rp 1 biliun.

Tapi kalau ganti rugi tanpa melalui Panel WTO, niscaya Freeport tak akan mau. Saya tak yakin pernyataan bahwa mereka menerima ganti rugi. Mereka mestinya maunya lewat putusan hukum. Sebab, hengkangnya PTFI dari Indonesia mendatangkan klaim hukum dari partner dan nasabahmya di luar negeri. Kalau via putusan hukum, Freeport tak menanggung resiko klaim hukum. [KARTANU]

Djoko Edhi Abdurrahman, mantan anggota Komisi Hukum DPR

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/jebakan-batman-freeport-akankah-jatuh-ke-raja-salman-dan-al-abraj.html

Sabtu, 26 September 2009

MTs Maarif NU 08 Panican Gandeng Polisi Sosialisasikan Bahaya Narkoba dan Miras

Purbalingga, KARTANU. Dalam kegiatan Masa Orientasi Peserta Didik MTs Maarif NU 08 Panican, Panitia Mopdik menggandeng Kepolisian sektor Kemangkon untuk memberikan penyuluhan bahaya penggunaan Narkoba dan minuman keras. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Selasa, 13 Juli 2011.

Kegiatan ini bertujuan untuk antisipasi dini dengan memberikan pengertian kepada peserta didik agar terhindar dari kenakalan-kenakalan yang melebihi batas dengan terjerumus dalam perilaku minum-minuman keras dan Narkoba.

MTs Maarif NU 08 Panican Gandeng Polisi Sosialisasikan Bahaya Narkoba dan Miras (Sumber Gambar : Nu Online)
MTs Maarif NU 08 Panican Gandeng Polisi Sosialisasikan Bahaya Narkoba dan Miras (Sumber Gambar : Nu Online)


MTs Maarif NU 08 Panican Gandeng Polisi Sosialisasikan Bahaya Narkoba dan Miras

Dalam hal ini dari Kepolisian yang hadir dan memberikan materinya adalah Riyanto S.IP selaku Kanit Bimas dan Sumardi Kasi Humas Polsek Kemangkon. Dalam materinya dijelaskan bahwa menggunakan zat adiktif semacam narkoba sungguh teramat berbahaya bagi kesehatan, baik kesehatan Jasmani dan lebih parah lagi dapat merusak fungsi jiwa atau rohani. Selain mengancam fisik dan non fisik manusia secara kesehatan, bagi pelaku juga dapat dijerat hukuman pidana yang dengan minimal hukuman 1 tahun dan paling berat adalah hukuman mati.

Selain memberikan sosialisasi narkoba, polisi juga memberikan materi tentang bahaya minuman keras karena di jaman seperti ini banyak sekali anak-anak yang sudah mengkonsumsi miras, padahal penggunaan miras sangat berbahaya karena maut mengancam melalui miras.

KARTANU

Banyak sekali kejadian tewasnya beberapa orang akibat minum-minuman keras oplosan seperti baru-baru ini terjadi di Cirebon. Untuk itu jangan dekati miras walau setetespun, katanya.

KARTANU

Ia menyatakan apresiasinya kepada MTs Maarif NU 08 Panican yang telah 4 tahun ini bekerja sama dengan kepolisian Sektor Kemangkon, sehingga setiap tahun ajaran baru khususnya kegiatan Mopdik selalu mengundang pihak kepolisian untuk memberikan sosialisasi bahaya narkoba dan miras dan berharap kerjasama ini terus berlanjut.

Menurut catatan kepolisian tidak ada kejadian-kejadian yang berhubungan dengan perilaku-perilaku nakal dari murid-murid di madrasah ini sehingga menunjukan bahwa madrasah ini sangat bagus dalam mendidik dan membina akhlak para peserta didik

Orang tua tidak ragu lagi untuk memilih madrasah sebagai lembaga pendidikan yang tepat bagi anak-anaknya, tandasnya.

Redaktur : Mukafi Niam

Kontributor: Torik Jahidin

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/32949/mts-ma039arif-nu-08-panican-gandeng-polisi-sosialisasikan-bahaya-narkoba-dan-miras

KARTANU

Senin, 02 Maret 2009

Doa Rutin Setelah Sholat yang Dibidahkan Wahabi

KARTANU - Setelah Ustadz Idrus Romli menulis bantaham ilmiah terhadap Wahabi tentang dzikir bersama dan Tahlilan, ada seorang Wahabi menulis komentar, dengan mengutip dari fatwa Ibnu Taimiyah, fatwa Imam Ahmad bin Hanbal dan pernyataan al-Syathibi dalam al-I’tisham.

Doa Rutin Setelah Sholat yang Dibidahkan Wahabi - KARTANU
Doa Rutin Setelah Sholat yang Dibidahkan Wahabi - KARTANU


Doa Rutin Setelah Sholat yang Dibidahkan Wahabi

Hanya saja, si Wahabi tersebut hanya mengutip pernyataan Ibnu Taimiyah yang disukainya, dan membuang pernyataan Ibnu Taimiyah yang tidak sesuai dengan selera Wahabi masa sekarang. Berikut ulasannya.

Doa Rutin Setelah Sholat yang Dibidahkan Wahabi - KARTANU
Doa Rutin Setelah Sholat yang Dibidahkan Wahabi - KARTANU


Doa Rutin Setelah Sholat yang Dibidahkan Wahabi



Doa Rutin Setelah Sholat yang Dibidahkan Wahabi - KARTANU
Doa Rutin Setelah Sholat yang Dibidahkan Wahabi - KARTANU


Doa Rutin Setelah Sholat yang Dibidahkan Wahabi

Baca KARTANU: Bacaan Dzikir Setelah Sholat Fardlu

Ibnu Taimiyah berkata:

وأما دعاء الإمام والمأمومين بعد الصلاة جميعا رافعين أصواتهم أو غير رافعين فهذا ليس من سنة الصلاة الراتبة لم يكن يفعله النبي صلى الله عليه وسلم وقد استحسنه طائفة من العلماء من أصحاب الشافعي وأحمد في وقت صلاة الفجر وصلاة العصر لأنه لا صلاة بعدها.

Adapun doa imam bersama makmum setelah shalat lima waktu secara berjamaah dengan mengeraskan suara atau boleh jadi suaranya tidak dikeraskan, maka ini bukanlah sunnahnya shalat yang dirutinkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah sama sekali melakukan seperti itu. Sebagian ulama dari kalangan Syafi’iyah dan Hanbali memang menganjurkan yang demikian, namun itu hanya di waktu shalat Shubuh dan Ashar karena setelah itu tidak ada lagi shalat. [Al Majmu’atul ‘Aliyyah min Kutub wa Rosail wa Fatawa Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, Dar Ibnil Jauzi, hal. 134-135]

Tanggapan: Pernyataan Ibnu Taimiyah di atas menafikan beberapa hal: Berdoa setelah shalat maktubah, bukan termasuk sunnah rutin dan tidak perlah dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Menolak membaca doa tersebut secara bersama-sama Tentu fatwa Ibnu Taimiyah di atas sangat tertolak dengan hadits-hadits shahih, antara lain: 1) Hadits Sayyidina Mu’adz bin Jabal radhiyallaahu ‘anhu

عن معاذ بن جبل ان النبي صلى الله عليه و سلم قال له يا معاذ اني والله لاحبك فلا تدع دبر كل صلاة ان تقول اَللّهمَّ اَعِنِّيْ عَلىَ ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ أَخْرَجَهُ أَبُو داود والنسائي وصححه ابن حبان والحاكم

“Dari Mu’adz bin Jabal, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Wahai Mu’adz, demi Allah aku benar-benar mencintaimu. Maka janganlah kamu tinggalkan setiap selesai shalat untuk berkata: “Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur dan beribadah dengan baik kepada-Mu.” (HR. Abu Dawud 2/115, al-Nasa’i 3/53 dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban 5/364-366 dan al-Hakim 1/273 dan 3/273).

Dalam hadits di atas jelas sekali ada perintah membaca doa tersebut setiap selesai shalat maktubah secara rutin.

2) Hadits Sayyidina Abu Bakrah radhiyallaahu ‘anhu

عن مسلم بن أبي بكرة - رحمه الله - : قال : «كانَ أبي يقولُ في دُبُرِ الصلاةِ : اللهم إني أَعوذُ بك من الكُفْرِ والفَقْرِ وعذابِ القَبرِ ، فكنتُ أقُولُهنَّ ، فقال : أي بُنيَّ، عَمَّنْ أَخَذْتَ هذا ؟ قُلْتُ : عنك ،قال:إنَّ رسولَ الله -صلى الله عليه وسلم- كانَ يقولُهُنَّ في دُبُرِ الصلاةِ فَالزَمهنَّ يا بُنيَّ». أخرجه احمد والترمذي والنسائي وصححه الحاكم

Dari Muslim bin Abi Bakrah rahimahullaah, berkata: “Ayahku selalu berkata setelah selesai shalat: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran, kefakiran dan azab kubur.” Maka akupun selalu membacanya. Lalu ayah berkata: “Wahai anakku, dari siapa bacaanmu kamu peroleh?” Aku menjawab: “Darimu.” Ia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mengucapkannya setelah selesai shalat. Maka rutinkanlah wahai anakku.” (HR. Ahmad 5/39, al-Tirmidzi, al-Nasa’i 3/73, dan dishahihkan oleh al-Hakim 1/252-253).

3) Hadits Sayyidina Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallaahu ‘anhu

وَعَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ - رضي الله عنه - قَالَ : - إِنَّ رَسُولَ اَللهِ - صلى الله عليه وسلم - كَانَ يَتَعَوَّذُ بِهِنَّ دُبُرَ اَلصَّلاةِ : " اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ اَلْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ اَلْجُبْنِ , وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ اَلْعُمُرِ , وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ اَلدُّنْيَا , وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ اَلْقَبْرِ - رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ

“Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu memohon perlindungan dari beberapa perkara setelah selesai shalat: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut, aku berlindung kepada-Mu dari dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia dan aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur.” (HR al-Bukhari 11/174 dan 178).

4) Hadits Sayyidina Zaid bin Arqam radhiyallaahu ‘anhu

عن زيد بن أرقم قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يدعو في دبر الصلاة يقول اللهم ربنا ورب كل شيء انا شهيد أنك الرب وحدك لا شريك لك.. الحديث أخرجه أحمد وأبو داود والنسائي

Zaid bin Arqam berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa setelah selesai shalat, seraya berkata: “Ya Allah, Tuhan kami dan Tuhan segala-galanya. Aku bersaksi bahwa Engkau-lah Tuhan semata, tidak ada sekutu bagi-Mu….” (HR. Ahmad, Abu Dawud 2/111, dan al-Nasa’i).

5) Hadits Sayyidina Shuhaib radhiyallaahu ‘anhu

عن صهيب أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان ينصرف بهذا الدعاء من صلاته: اللهم أصلح لي ديني الذي جعلته عصمة أمري وأصلح لي دنياي الذي جعلت فيها معاشي اللهم إني أعوذ برضاك من سخطك وأعوذ بعفوك من نقمتك وأعوذ بك منك لا مانع لما أعطيت ولا معطي لما منعت ولا ينفع ذا الجد منك جده أخرجه النسائي وصححه ابن حبان

“Dari Shuhaib, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selesai dengan doa berikut ini dari shalatnya: “Ya Allah, perbaikilah agamaku bagiku yang merupakan pelindung urusanku. Perbaikilah duniaku yang Engkau jadikan tempat kehidupanku. Ya Allah, aku berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu. Aku berlindung dengan ampunan-Mu dari siksa-Mu. Aku berlindung dari kepada-Mu dari-Mu. Tidak ada yang dapat menolak apa yang Engkau berikan. Tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau cegah. Tidak akan bermanfaat kesungguhan seseorang pada dirinya dari-Mu.” (HR al-Nasa’i 3/73 dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban 5/373).

Hadits-hadits di atas menjelaskan tentang doa-doa yang dibaca dan dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setiap selesai shalat lima waktu. Demikian yang kami kutip dari al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari. Sementara itu, kesunnahan doa rutin setiap selesai shalat, juga diterangkan dalam hadits-hadits lain, misalnya:

6) Hadits Sayyidina Abu Umamah radhiyallaahu ‘anhu

عن أبي أمامة قال قلت : يا رسول الله أي الدعاء أسمع قال جوف الليل الآخر ودبر الصلوات المكتوبات أخرجه الترمذي والنسائي

“Abu Umamah berkata: “Aku berkata: “Wahai Rasulullah, di mana doa itu paling cepat dikabulkan?” Beliau menjawab: “Doa pada waktu tengah malam, dan setelah selesai menunaikan shalat maktubah.” (HR. al-Tirmidzi 5/188, dan al-Nasa’i).

Hadits di atas memberikan kesimpulan tentang anjuran berdoa pada waktu tengah malam dan setiap selesai shalat lima waktu.

7) Hadits Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallaahu wajhah

عَنْ عَلِىِّ بْنِ أَبِى طَالِبٍ قَالَ كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا سَلَّمَ مِنَ الصَّلاَةِ قَالَ « اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَسْرَفْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ». رواه أبو داود

Ali bin Abi Thalib berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila mengucapkan salam dari shalat, maka berdoa: “Ya Allah ampunilah bagiku, apa yang telah aku kerjakan, apa yang akan aku kerjakan, apa yang aku sembunyikan, apa yang aku lakukan terang-terangan, apa yang aku lakukan berlebih-lebihan, dan apa yang Engkau lebih tahu dariku. Engkau lah yang Maha Mendahulukan dan Maha Mengakhirkan. Tidak ada tuhan melainkan Engkau.” (HR. Abu Dawud 2/111).

Hadits-hadits di atas, sangat tegas memberikan penjelasan bahwa setiap selesai shalat maktubah, terdapat doa-doa ratibah (yang dianjurkan dibaca secara rutin). Umat Islam tidap perlu terpengaruh dengan fatwa Ibnu Taimiyah yang sangat mudah menafikan hadits-hadits shahih dan sangat popular di kalangan para ulama dan penuntut ilmu.

Memang Ibnu Taimiyah, dan diikuti oleh kaum Wahabi dewasa ini sering menafikan hadits-hadits shahih yang telah diamalkan secara rutin oleh umat Islam. Lalu dengan ulah tersebut, Wahabi membid’ahkan umat Islam yang senang berdzikir setiap selesai shalat. Mereka malas berdzikir, malah membid’ahkan orang yang berdzikir dan mengamalkan sunnah.

Sedangkan hukum membaca doa secara bersama-sama dengan mengeraskan suara, atau dipimpin oleh seorang imam, yang sepertinya dinafikan dalam fatwa Ibnu Taimiyah di atas, Anda bisa baca di postingan berjudul: Dalil Dzikir Berjamaah Setelah Sholat. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/doa-rutin-setelah-sholat-yang-dibidahkan-wahabi.html

Kamis, 29 Mei 2008

NU Jatim Ajak Pesantren Waspadai Peredaran Narkoba

Surabaya, KARTANU. Kalangan pesantren digoncangkan dengan kabar bahwa ada santri yang menggunakan narkotika dan obat/bahan berbahaya (narkoba) jenis ekstasi agar kuat berdzikir. Tak tanggung-tanggung, pernyataan tersebut disampaikan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komisaris Jenderal Budi Waseso. Dan secara terbuka, ia menyebut kasus tersebut ada di Jawa Timur.

"Pernyataan Budi Waseso mungkin ada benarnya. Itu sebagai peringatan bagi kita bahwa pengedar berusaha masuk ke segala lini, termasuk pesantren dengan segala cara," kata Ketua PWNU Jatim, KH Muhammad Hasan Mutawakkil Alallah, Sabtu (5/3).

NU Jatim Ajak Pesantren Waspadai Peredaran Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Jatim Ajak Pesantren Waspadai Peredaran Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)


NU Jatim Ajak Pesantren Waspadai Peredaran Narkoba

Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo ini mengaku bahwa dirinya hingga kini belum mendapatkan laporan dari pemangku pesantren di Jatim kalau ada santri yang mengonsumsi narkotik untuk memacu stamina agar kuat berzikir dalam waktu lama. "Saya tidak tahu kalau soal itu," kata Kiai Mutawakkil, sapaan akrabnya.

Kiai Mutawakkil justru mengkhawatirkan bahwa para pengedar bahan berbahaya tersebut memanfaatkan oknum santri yang mantan pecandu, agar memasukkan barang itu dan mengenalkannya kepada teman santri lain. "Misalnya, ada lulusan SMP yang biasa memakai narkoba, lalu SMA atau MA-nya diteruskan di pesantren. Kemungkinan dari situ narkoba bisa masuk pesantren," terangnya.

KARTANU

Kendati demikian, Ketua PWNU Jatim dua periode ini berharap bahwa kalangan pesantren untuk meningkatkan kewaspadaan. Apa yang disampaikan Budi Waseso tersebut sebagai peringatan kepada para pengasuh pesantren agar waspada terhadap peredaran narkotika. Dan Kiai Mutawakkil juga meminta BNN dapat menginstruksikan kepada jajaran di daerah agar menindak tegas jika ada anggota masyarakat yang mengedarkan barang haram tersebut di sekitar pesantren.

Sebagai langkah antisipasi, Kiai Mutawakkil berharap agar pesantren menerapkan aturan yang ketat terhadap para santri. "Yang rawan kan pesantren-pesantren yang tidak terlalu menerapkan peraturan ketat," pungkasnya.

KARTANU

Seperti yang beredar di sejumlah media, Kabid Pemberantasan dan Penindakan BNN Jatim, AKBP Bagijo Hadi Kurnijanto mengaku mengungkap kasus narkotika yang kebetulan melibatkan anak seorang kiai di Sumenep, Madura, Jatim.

"Itu hanya oknum yang kebetulan berada di lingkungan masyarakat pesantren," kata Bagijo, kala itu. Dia sendiri mengaku bahwa BNN belum menemukan bukti narkotik masuk pesantren. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/66288/nu-jatim-ajak-pesantren-waspadai-peredaran-narkoba

KARTANU

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KARTANU sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KARTANU. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KARTANU dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock