Tampilkan postingan dengan label Madrasah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Madrasah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Maret 2015

Umat Islam Harus Bisa Memanfaatkan Waktu

Menado, KARTANU. Ketua Pengurus Wilayah Nahdahtul Ulama Sulawesi Utara (Sulut) H Iskandar Gobel mengatakan, umat Islam di daerah tersebut harus dapat memanfaatkan waktu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Waktu akan mengajarkan dan mendewasakan kita, serta seharusnya kita berada dalam koridor yang menempatkan waktu sebagai sebuat kemewahan dan mensyukurinya dengan memanfaatkan sebaik-baiknya," kata Gobel dalam perayaan 1 Muharam 1426 Hijriyah yang dilaksanakan Pengurus Hari Besar Islam (PHBI) Kota Manado, Kamis.

Gobel mengatakan, pergantian Hijriyah dari 1425 Hijriyah ke 1426 Hijriyah merupakan sebuah momentum waktu yang harus dimanfaatkan untuk sebuah perubahan. Dalam kehidupan sehari-hari, umat Islam harus menjaga ketertiban, memperkuat kerukunan umat beragama serta semangat persatuan dan kesatuan dalam membangun bangsa, kata Gobel.

Sementara Walikota Manado Wempie Frederik mengatakan, esensi dari perayaan pergantian tahun hijriyah ini adalah perpindahan dari situasi kondisi yang kurang baik menjadi baik.

Umat Islam Harus Bisa Memanfaatkan Waktu (Sumber Gambar : Nu Online)
Umat Islam Harus Bisa Memanfaatkan Waktu (Sumber Gambar : Nu Online)


Umat Islam Harus Bisa Memanfaatkan Waktu

Umat Islam diharapkan dapat terus memupuk rasa kebersamaan dan memperkokoh Uhkuwah Islamiah serta memantapkan kerukunan antar umat beragama.

Perayaan tersebut antara lain dihadiori Ketua Majelis Ulama Indonesia Sulut KH. Fauzi Nuraini, Kakanwil Depag Sulut H M Jusuf Otoluwo, dan Ketua PHBI Kota Manado Abdul Hamid.(an/mkf)

KARTANU

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/2720/umat-islam-harus-bisa-memanfaatkan-waktu

KARTANU

Jumat, 09 Mei 2014

Jariyah untuk NU, IPNU-IPPNU Banyuwangi Bekali Kader Kemampuan Riset

Banyuwangi, KARTANU. Pengurus Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Banyuwangi menggelar kegiatan bertajuk Ngaji Riset di Aula Institut Agama Islam (IAI) Darussalam, Karangdoro, Tegalsari.

Menurut Ketua PC IPNU Banyuwangi Yahya Muzakki, kegiatan berlangsung Sabtu (26/11) sore tersebut diikuti peserta yang telah mengikuti jenjang Latihan Kader Muda (Lakmud) se-kabupaten Banyuwangi.

Jariyah untuk NU, IPNU-IPPNU Banyuwangi Bekali Kader Kemampuan Riset (Sumber Gambar : Nu Online)
Jariyah untuk NU, IPNU-IPPNU Banyuwangi Bekali Kader Kemampuan Riset (Sumber Gambar : Nu Online)


Jariyah untuk NU, IPNU-IPPNU Banyuwangi Bekali Kader Kemampuan Riset

Kegiatan tersebut, kata dia, dilakukan sebagai terobosan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) kader NU Banyuwangi ke depan.

KARTANU

Di tahun 2045 mendatang, negara kita akan mengalami bonus demografi. Sebagai langkah konkrit kita sebagai kader NU, perlu kiranya mempertajam kemampuan riset. Dengan bekal ini, kader-kader kita mampu memberikan pengaruh posisi terpenting di tahun mendatang, bukan hanya dipengaruhi oleh orang-orang lain, ungkapnya.

Direktur Student Research Center (SRC) PW IPNU Jatim Ahmad Ainun Najib mengatakan, pembekalan riset kepada seluruh alumni peserta Lakmud sebagai langkah konkrit jariyah kita kepada NU.

Manifestasi jariyah konkrit IPNU IPPNU kepada NU adalah menggerakkan roda kaderisasi serta mendidik para kader, ujarnya.

KARTANU

Ia menegaskan, tak menutup kemungkinan dalam waktu dekat, akan membentuk Lembaga SRC di PC IPNU IPPNU Banyuwangi. Karena melihat potret generasi tua yang cerdas itu biasa, tapi sangat luar biasa jika generasi muda yang tampil cerdas dan jenius.

Hal itu pula disampaikan Ketua IPPNU Banyuwangi Halimah. Tak menutup kemungkinan dengan langkah ini mengantarkan organisasi kita ke depan menjadi lebih baik, harapnya.

Ngaji Riset, menurut Wakil ketua Departemen Dakwah H. Khotibul Umam merupakan upaya untuk memperkaya metode dakwah. Saat ini berdakwah harus mengalami modifikasi untuk memancing generasi muda NU lebih baik. (M. Sholeh kurniawan/Abdullah Alawi)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/73312/jariyah-untuk-nu-ipnu-ippnu-banyuwangi-bekali-kader-kemampuan-riset-

KARTANU

Jumat, 02 Agustus 2013

Pemuda Islam dan Komitmen Kebangsaan

Oleh: A Muchlishon Rochmat

Tahun 2011, Survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) mengeluarkan data yang cukup mencengangkan. Disebutkan bahwa 25% siswa dan 21% guru menyatakan bahwa Pancasila sudah tidak relevan lagi. Bahkan, 84,8% siswa dan 76,2% guru setuju dan mendukung untuk mendirikan negara yang berdasarkan syariat Islam di Indonesia.

Pemuda Islam dan Komitmen Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemuda Islam dan Komitmen Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)


Pemuda Islam dan Komitmen Kebangsaan

Di tahun yang sama, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) juga merilis sebuah penelitian tentang radikalisme di kampus-kampus besar Indonesia. Di situ disebutkan bahwa ada peningkatan paham radikalisme di universitas-universitas elit Indonesia seperti UGM, UI, IPB, Undip, dan Unair. Tahun 2013, penelitian yang dilakukan oleh Maarif Institute juga menunjukkan bahwa meluasnya paham radikal di kampus berdampak pada meningkatnya gerakan untuk mendirikan negara Islam di Indonesia.

Sementara tahun 2015, Pew Research Center menyebutkan bahwa 4% atau setara dengan 10 juta penduduk Indonesia setuju dan mendukung pandangan dan gerakan yang dilakukan oleh ISIS termasuk diantaranya adalah mendirikan negara khilafah Islam di Indonesia. Ironisnya, mayoritas dari empat persen itu adalah pemuda Islam yang berada dalam usia produktif.

KARTANU

Kalau kita simak pemberitaan yang tersebar di media massa akhir-akhir ini, gerakan-gerakan untuk mendirikan khilafah seperti pawai, seminar, penerbitan buku, menyebarkan propaganda dengan selebaran di masjid-masjid, dan konferensi nasional bahkan internasional- begitu marak dan masif dilaksanakan di berbagai daerah di Indonesia. Lagi-lagi mayoritas pelakunya adalah pemuda dan pemudi Islam.

KARTANU

Meski gerakan-gerakan khilafah tersebut mendapatkan penolakan dan kecaman dari berbagai pihak seperti Banser GP Ansor, kepolisian, pimpinan kampus, pejabat, pimpinan beberapa ormas Islam yang moderat, beberapa pejabat negara, dan masyarakat, namun mereka seolah-olah tidak kapok dan tidak berhenti untuk mendengungkan konsep khilafah sampai apa yang mereka cita-citakan itu terwujud.

Bahkan, mereka menawarkan sistem negara khilafah yang berdasarkan syariat Islam dan menghujat Negara Indonesia yang berlandaskan Pancasila secara terang-terangan (tanpo tedeng aling-aling). Mereka tidak lagi sembunyi-sembunyi dalam berdakwah sebagaimana yang mereka lakukan pada beberapa tahun yang lalu. Menariknya, pemerintah pun menganggap enteng dan terkesan lamban dalam membendung segala macam aktifitas dan kegiatan yang dilakukan oleh gerakan pengusung khilafah itu.

Meneguhkan Komitmen Kebangsaan

Berdasarkan hasil penelitian yang ada, memang masih banyak yang mendukung Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila jika dibandingkan dengan mereka yang mendukung khilafah. Tetapi, hasil survei di atas tidak bisa dianggap enteng. Apalagi yang disasar adalah remaja dan pemuda Islam utamanya yang berada di sekolah dan kampus umum. Saya rasa mereka itu seperti virus. Sekarang kelihatan kecil, tetapi kalau tidak ditangani dengan serius maka mereka akan menyebar dan mempengaruhi organ masyarakat yang lainnya.

Kita tidak bisa terus menerus menunggu datangnya bola, yakni dengan terus melakukan penolakan atas kegiatan yang mereka gelar di berbagai tempat. Saya yakin, mereka akan terus melakukan propaganda-propaganda, baik ke lapisan atas maupun ke masyarakat tingkat bawah (grassroot).

Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk menjaga dan meneguhkan eksistensi Indonesia? Setidaknya ada dua hal yang bisa dilakukan untuk meredam gerakan pengusung khilafah. Pertama, ketegasan pemerintah. Di beberapa Negara Islam seperti Arab Saudi, Tunisia, Turki, Libya, Yordanis, Mesir, Syuriah, Malaysia, dan lainnya melarang gerakan pengusung khilafah. Mereka tidak diizinkan masuk dan beranak-pinak di negara-negara tersebut.

Dalam hal ini, pemerintah Indonesia terlihat tidak memiliki ketegasan dalam melarang gerakan-gerakan khilafah. Mereka seakan-akan dibiarkan tumbuh subur dan menggerogoti pondasi kebangsaan kita.

Kedua, memasifkan gerakan Islam kebangsaan (nasionalisme). Indonesia dibangun dengan semangat kebangsaan dan keberagamaan. Indonesia ada karena adanya perbedaan agama, suku, budaya, dan bahasa. Sedangkan Pancasila adalah pemersatunya (kalimatun sawa). Sedangkan Islam -sebagai agama mayoritas- menjadi ruh dan semangat dalam menjalankan pemerintahan, bukan menggantikan Pancasila sebagai konsesi bersama. Kalau seandainya Dasar Negara Indonesia berdasarkan golongan tertentu, maka tentu golongan yang lain tidak akan mau menerimanya.

Harus kita akui, Islam yang berkembang di sebagian sekolah-sekolah dan kampus-kampus kita itu adalah Islam yang normatif dan tidak memiliki dimensi komitmen kebangsaan. Komitmen untuk menjaga keutuhan dan persatuan NKRI. Maka tidak mengherankan jika gerakan-gerakan pengusung khilafah itu tumbuh subur di lorong-lorong kampus sebagaimana yang disebutkan oleh LIPI di atas. Lagi-lagi, sasarannya adalah pemuda-pemudi Islam yang sedang studi di kampus-kampus besar itu.

Saya rasa mereka nihil akan Islam kebangsaan karena mereka tidak memahami secara holistik sejarah perkembangan umat Islam di Nusantara ini. Maka dari itu, menjadi tugas kita semua untuk memasifkan gerakan Islam kebangsaan. Yaitu dengan memberikan pemahaman secara intensif kepada mereka tentang wawasan Islam kebangsaan. Islam yang mengedepankan keutuhan dan persatuan bangsa Indonesia. Bukan malah mencerai-beraikan dan memonopoli bangsa ini.

Walhasil, sembari mendorong pemerintah untuk berlaku tegas kepada kelompok-kelompok pengusung khilafah, kita masifkan dan teguhkan komitmen kebangsaan pemuda-pemudi Islam kita agar mereka tidak tergiur dengan dagangan khilafah.

Penulis adalah Wasekjen Majelis Pemuda Islam Indonesia (MPII) Pusat

Dari (Opini) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/77770/pemuda-islam-dan-komitmen-kebangsaan

KARTANU

Sabtu, 31 Januari 2009

Penyebar Propaganda Radikalisme Adalah Musuh dalam Selimut

Jakarta, KARTANU. Akademisi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta Dr Waryono Abdul Ghofur menyebut warga negara Indonesia yang menjadi penyebar propaganda radikalisme dan pelaku teror sebagai "musuh dalam selimut".

"Musuh dalam selimut seperti itu justru lebih repot. Mereka seolah-olah bertindak atas nama negara dan agama, padahal tindakan mereka justru ingin menghancurkan agama dan negara," kata Waryono dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Jumat.

Penyebar Propaganda Radikalisme Adalah Musuh dalam Selimut (Sumber Gambar : Nu Online)
Penyebar Propaganda Radikalisme Adalah Musuh dalam Selimut (Sumber Gambar : Nu Online)


Penyebar Propaganda Radikalisme Adalah Musuh dalam Selimut

Dikatakannya, orang-orang yang terkena paham radikalisme dan terorisme perlu disadarkan. Mereka harus tahu bahwa paham itu salah.

"Mereka juga harus tahu tindakannya itu untuk membela siapa. Kalau mereka mengaku WNI, konsekuensinya mereka harus berperan menjaga keutuhan bangsa. Tapi sebaliknya, bila justru ingin menghancurkan NKRI, mereka jelas bukan orang Indonesia," tandas Waryono.

KARTANU

Ia menyayangkan adanya orang Indonesia yang menjadi pengikut ISIS, bahkan mereka rela melakukan tindakan-tindakan kekerasan, termasuk bom bunuh diri, yang korbannya justru saudara sesama bangsa Indonesia.

Menurut dia, tindakan itu jelas-jelas bertentangan dengan kewajiban sebagai warga negara dalam melindungi negaranya.

KARTANU

"Tugas warga negara itu membela negaranya agar tetap utuh dan tidak terganggu dengan berbagai hal yang membuat negara itu hancur," katanya.

Ia mengatakan bahwa Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi perbedaan dan menghormati kemajemukan suku dan budaya sesuai dengan ideologi Pancasila.

Oleh karena itu, semua warga negara Indonesia wajib saling menghormati serta menjaga keutuhan NKRI dari berbagai gangguan, baik dari dalam maupun dari luar negeri.

"Tidak hanya pengaruh dari luar seperti ISIS, pengaruh dari dalam pun juga harus diantisipasi," kata dia.

Sebagai orang yang setiap hari bergelut dengan bidang agama Islam, Waryono mengajak semua pihak, terutama bagi para pendidik, untuk menyebarkan pemahaman agama yang benar.

Pembantu Rektor II UIN Sunan Kalijaga itu menegaskan bahwa tidak ada satu pun agama yang mengajarkan kekerasan.

"Untuk dunia pendidikan, harus dibuat kurikulum mulai dari tingkat paling bawah sampai atas, tentang cinta tanah air, bangsa, dan agama. Semua itu untuk keutuhan dan perdamaian dan kesejahteraan NKRI," kata dia. (Antara/Mukafi Niam)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/67531/penyebar-propaganda-radikalisme-adalah-musuh-dalam-selimut-

KARTANU

Kamis, 06 November 2008

Muslims declare support for Ahok

Jakarta, KARTANU. Prior to his inauguration as new Jakarta governor, acting governor Basuki Ahok Tjahaja Purnama, has received support from various Muslim communities online and offline despite his minority status.

A movement expressing support for Ahok, I am Muslim and I support Ahok has circulated on social media, in an apparent effort to counter the anti-Ahok movement launched by hard-line group the Islam Defenders Front (FPI).

Muslims declare support for Ahok (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslims declare support for Ahok (Sumber Gambar : Nu Online)


Muslims declare support for Ahok

Over the weekend a group calling itself the Indonesia Volunteers Front unfolded a giant banner at the car-free day at the Hotel Indonesia traffic circle and invited Jakarta residents to sign the banner, showing support for Ahok. Hundreds of signatures were collected on the day.

On Monday, representatives of an Islamic group, Dzikrul Ghofilin, which claims to have thousands of followers, came to meet Ahok and directly conveyed their support for Ahok, a Christian of Chinese descent. Group representative Muhammad Subchi said the group had decided to stand up and directly convey their support out of fears that the anti-Ahok movement would tarnish the image of Islam.

KARTANU

The media has focused on the anti-Ahok movement launched by the FPI. It has tarnished Islam and is very bothering. Islam loves and teaches peace. I think I also have the right to explain about peaceful Islam so people wont be confused, he told reporters upon arrival at City Hall.

KARTANU

He said the group opposed the FPIs stance, saying that the latter had violated the Constitution. We have to abide by the rules in managing the state, he said, adding that the state guaranteed each citizens rights regardless of religious background.

Later in the day, Ahok attended a meeting at Uhamka University in East Jakarta and was deliberately invited as a keynote speaker.

However, he declined to deliver a speech and instead asked the forum to ask him questions. Hundreds of audience members were enthusiastic, asking him various questions on leadership, corruption and politics.

A female student from Depok, West Java, for example, asked him how the younger generation could contribute to society amid growing political indifference caused by rampant corruption involving politicians. Ahok used the occasion to persuade the students to consider entering politics.

I was also skeptical at first. But history has shown that everywhere in the world including in Indonesia, the youth were the ones who brought about changes. I am here today, partly because I want to persuade you to enter politics in the future. We need young politicians who are clean and honest to make changes. We cant continue to help the underprivileged by ourselves because we have limited resources, he said, adding that Indonesia needed good leaders.

He also impressed the audience by asking thought-provoking questions regarding the Prophet Muhammads sayings and even citing Koranic verses occasionally while explaining his political philosophy.

He also highlighted the fact that he enrolled in Islamic schools and learned about Islam from a local religious leader back in his hometown of East Belitung, Bangka Belitung, a predominantly Muslim province.

People say that I am a lot like a Muslim. What I lack is merely hidayah [the calling], he said, to which several members of the audience responded by asking why he had not already converted.

Ahok calmly answered, even the Prophet Muhammad wept as he himself was unable to convert his uncle Abu Tholib until his death, this was followed by Allah saying the calling is all Mine, he said, to which the audience responded with applause.

Raja Juli Antoni, who led the forum, said the enthusiasm expressed by the audience was a sign that society longed for honest leaders, regardless of their religious backgrounds.

Editing by Sudarto Murtaufiq

Dari (National) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/55825/muslims-declare-support-for-ahok

KARTANU

Jumat, 13 Juni 2008

Gus Mus: Ciri Waliyullah itu Tidak Takut dan Susah

Solo, KARTANU. Ribuan orang ikut menghadiri acara peringatan Haul KH Siradj yang digelar di dekat Pesantren As-Siradj, Jalan Honggowongso, Panularan, Solo, Jawa Tengah, Kamis (27/10) malam. Kiai Siradj merupakan salah satu tokoh perintis Nahdlatul Ulama (NU) di Kota Solo.

KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), yang memberikan mauidhah hasanah menjelaskan, Kiai Siraj selain memiliki akhlak yang mulia, juga diketahui khalayak karena memiliki beberapa karomah. Hal ini membuatnya dianggap banyak orang sebagai salah satu waliyullah.

Gus Mus: Ciri Waliyullah itu Tidak Takut dan Susah (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Ciri Waliyullah itu Tidak Takut dan Susah (Sumber Gambar : Nu Online)


Gus Mus: Ciri Waliyullah itu Tidak Takut dan Susah

Adapun ciri yang lain, seorang wali, menurut Gus Mus, yakni tidak memiliki rasa takut dan rasa susah. Ciri wali, balane Gusti Allah, kuwi ora duwe wedi ora duwe susah, koyo Mbah Siradj (Ciri seorang wali, temannya Allah, itu tidak memiliki rasa takut dan rasa susah, seperti Mbah Siradj ini, tuturnya.

KARTANU

Dalam kesempatan tersebut, turut hadir tokoh NU dari Kabupaten Semarang, KH Muromi yang membacakan riwayat hidup Kiai Siradj, antara lain tentang masa ketika Kiai Siraj tengah mencari ilmu.

Mbah Siraj ini pernah berguru ke berbagai ulama, antara lain Kiai Soleh Darat Semarang dan Kiai Dimyati Tremas Pacitan, ungkapnya.

KARTANU

Lebih lanjut dipaparkan mengenai pribadi Kiai Siradj yang juga dikenal sebagai salah satu mursyid thariqah Naqsabandiyah Qadiriyah. Beliau mengajarkan kepada kita untuk senantiasa menghormati kepada siapa pun, bahkan kepada orang non-muslim sekalipun, tuturnya.

Acara peringatan haul Kiai Siraj ini sekaligus untuk memperingati haul beberapa anak keturunannya, antara lain Kiai Shoimuri (pernah menjadi Rais Syuriyah PCNU Boyolali), dan Kiai Mubin Shoimuri (Ketua PCNU Kota Solo). (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/72526/gus-mus-ciri-waliyullah-itu-tidak-takut-dan-susah

KARTANU

Kamis, 17 Mei 2007

Sambut Hari Santri, Pawai Budaya Religi Pacitan Diikuti Ribuan Orang

Pacitan, KARTANU. Semarak peringatan Hari Santri Nasional 22 Oktober mulai terasa di beberapa daerah di Indonesia. Di Pacitan, Jawa Timur, ribuan warga NU mengawali rangkaian peringatan Hari Santri dengan melakukan Pawai Budaya Religi, Ahad (16/10).

Pelepasan pawai dilakukan pada pukul 08.00 di halaman Pesantren Nahdlatussubban, Arjowinangun. Rombongan pawai dilepas Ketua DPRD Jawa Timur H Halim Iskandar disaksikan jajaran pengurus PCNU Pacitan.

Sambut Hari Santri, Pawai Budaya Religi Pacitan Diikuti Ribuan Orang (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Hari Santri, Pawai Budaya Religi Pacitan Diikuti Ribuan Orang (Sumber Gambar : Nu Online)


Sambut Hari Santri, Pawai Budaya Religi Pacitan Diikuti Ribuan Orang

Rombongan pawai melewati jalan protokol menuju alun-alun Pacitan. Ribuan massa yang terdiri dari Pengurus PCNU, Badan otonom NU, MWCNU se-Pacitan, anggota Banser (Barisan Ansor Serbaguna) dan siswa siswi Madrasah Maarif se-Pacitan dengan semangat melantunkan shalawat dan sesekali meneriakkan yel-yel, seperti "Dari Santri untuk negeri", "Siapa Kita, Warga NU", "NKRI Harga Mati" "Pancasila Jaya", Ulama Santri, Pejuang Sejati".

KARTANU

Personel keamanan Polres Pacitan dibantu anggota Banser terpaksa melakukan sistem buka tutup kendaraan, pada jalur yang dilalui peserta pawai. Sepanjang jalan yang dilalui peserta pawai, masyarakat Pacitan tampak antusias menyambutnya hingga rombongan sampai alun-alun kota 1001 goa ini. Sesampainya di alun-alun, peserta pawai disuguhi penampilan kesenian reyog ponorogo dan pencak silat Pagar Nusa.

Sesampainya di alun-alun pacitan, selanjutnya dilakukan penyerahan pataka NU oleh Ketua DPRD Jawa Timur H Halim Iskandar, kepada ketua Hari Santri Pacitan Gus Muad Harits Dimyathi. Sebelumnya Pataka NU tersebut telah dikirab dari Pesantren Mambaul Maarif Denanyar Jombang menuju Pacitan pada Sabtu (15/10) malam. Selanjutnya, Pataka NU akan dikirabkan kembali dalam kegiatan Kirab Resolusi Jihad NU dari Pesantren Tremas menuju Alun-Alun Pacitan pada puncak peringatan Hari Santri 22 Oktober nanti.

KARTANU

Ketua DPRD Jawa Timur, H. Halim Iskandar, mengingatkan kembali tentang kronologis kenapa terjadi hari santri. Menurutnya, hari santri lahir dari semangat resolusi jihad NU yang dicetuskan oleh Hadratusyyekh Hasyim Asari pada tahun 1945. Resolusi jihad NU akhirnya menggerakkan ribuan santri, khususnya di Jawa Timur untuk maju ke medan pertempuran dalam rangka melawan penjajahan.

"Oleh karena itu, wajib bagi kita sebagai warga negara Indonesia utamanya warga Nahdlatul Ulama untuk terus mengingat sejarah ini. Karena bagaimanapun tidak akan ada perang 10 November 1945, kalau tidak ada Resolusi Jihad NU, jelas pria yang akrab disapa Pak Halim itu.

Perjuangan warga NU ke depan, imbuhnya, masih sangat panjang. Perjuangan menjaga dan mempertahankan keutuhan Negara kesatuan Republik Indonesia jauh lebih berat. Indonesia saat ini sedang diancam oleh kelompok-kelompok anti-Pancasila yang ingin merombak NKRI. Namun demikian, warga NU tidak boleh gentar. Siapa pun yang ingin merombak negara kesatuan Republik Indonesai yang sudah diperjuangkan oleh para ulama dan santri akan berhadapan dengan kader kader NU, tandasnya.

Sementara itu, selain pawai budaya religi, selama sepekan ke depan panitia hari santri nasional Kabupaten Pacitan juga menyiapkan berbagai bentuk kegiatan, seperti Bazar UMKM warga nahdliyin, aksi sosial donor darah, panggung budaya religi soko papat, lomba kajian kitab kuning, lomba cipta puisi dan esai.

Selain itu, pada puncak peringatan Hari Santri Nasional 22 Oktober akan digelar kirab resolusi jihad NU yang dilakukan dengan dengan jalan kaki dari Pesantren Tremas menuju alun-alun Pacitan, kemudaian ada Pembacaan 1 Miliar kali shalawat nariyah di seluruh pesantren dan MWCNU se-Pacitan, apel dan kirab hari santri serta pagelaran wayang kulit bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kata Ketua Hari Santri Pacitan Gus Muadz Harits Dimyathi. (Zaenal Faizin/Abdullah Alawi)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/72061/sambut-hari-santri-pawai-budaya-religi-pacitan-diikuti-ribuan-orang-

KARTANU

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KARTANU sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KARTANU. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KARTANU dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock