Tampilkan postingan dengan label Netizen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Netizen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Januari 2014

Orang Wahabi Ini Tidak Mau Naik Mobil Karena Bidah

KARTANU - Foto di atas adalah penampakan seorang wahabi di Kota Paris, Perancis yang sedang mengendarai keledai di tengah padatnya lalu lintas mobil di sekitarnya, (31/04/2016) pagi, ketika menuju tempat kerja.

Alasan yang digunakan agar nyaman mengendarai keledai adalah untuk menjaga kemurnian akidahnya dari tindakan menyerupai orang kafir. Kata lelaki bernama Wahab Asani Khan itu, menumpang mobil tidak ada di zaman Rasulullah. Karena itulah, ia menganggapnya bid'ah.

Orang Wahabi Ini Tidak Mau Naik Mobil Karena Bidah - KARTANU
Orang Wahabi Ini Tidak Mau Naik Mobil Karena Bidah - KARTANU


Orang Wahabi Ini Tidak Mau Naik Mobil Karena Bidah

Jika mobil yang menciptakan adalah orang kafir, maka mobil identik dengan orang kafir sehingga menumpang produk orang kafir adalah tasyabbuh bil kuffar, yang artinya sama dengan mereka, kafir juga.

Ia memilih menunggang keledai karena hal itu adalah syariat yang dilakukan di masa Nabi Muhammad SAW masih hidup. Sayangnya, ia masih menggunakan sepatu dan tas ransel untuk membawa keperluannya. Duh.

KARTANU

Padahal, jika dia benar-benar murni, ia bisa dapat predikat orang wahabi aliran Najed yang patut ditiru oleh muslimin wahabi lainnya di muka bumi. Benar ingin murni atau marni sih tuh orang? [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/wow-orang-wahabi-ini-tidak-mau-naik-mobil-karena-bidah.html

KARTANU

Kamis, 21 November 2013

Sutisna Senjaya, Tokoh Pers dari NU Jabar

Raden Sutisna Sendjaya lahir di Wanaraja, Garut, pada 27 Oktober tahun 1890 M dan wafat di Bandung pada 11 Desember tahun 1961. Selain sebagai tokoh NU, ia sangat dikenal sebagai tokoh pers di Jawa Barat.

Ia dikenal sebagai Pemimpin Redaksi Majalah al-Mawaidz; Pangrodjong Nahdlatoel Oelama yang diterbitkan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Tasikmalaya pada bulan Agustus 1933. Pengabdiannya di NU, ia lanjutkan hingga tingkat wilayah. Tahun 1948 menjadi ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Barat. Selain aktif di NU, ia juga salah seorang tokoh pergerakan di Paguyuban Pasundan.

Sutisna Senjaya, Tokoh Pers dari NU Jabar (Sumber Gambar : Nu Online)
Sutisna Senjaya, Tokoh Pers dari NU Jabar (Sumber Gambar : Nu Online)


Sutisna Senjaya, Tokoh Pers dari NU Jabar

Dalam dunia jurnalistik, selain di Al-Mawaidz, ia pernah menjadi redaktur di beberapa surat kabar pada masa penjajahan Belanda seperti Silliwangi (1921-1922). Aktif menulis di surat kabar Sipatahoenan (1923). Dalam menulis, ia sering menggunakan inisial Sutsen.

Pendidikan Sutsen ditempuh di Sakola Raja (KweekSchool) di Bandung pada tahun 1911. Sutsen pernah mengajar di HIS Banten kemudian di HIS Bandung. Kemudian ia melanjutkan belajar ke HKS, dan kemudian melanjutkan kembali kegiatan mengajar di HIS Pasundan 1 Tasikmalaya.

KARTANU

Pada zaman penjajahan Jepang, ia menjadi anggota Chuo Sangi in. Kemudian menjadi koordinator pergerakan perjuangan rakyat pada zaman revolusi fisik dan anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) Tasikmalaya.

Pada zaman penjajahan Belanda, Sutsen bersama pengurus NU Tasikmalaya seperti KH Ruhiat (ayah dari Rais Aam PBNU KH Ilyah Ruhiat), berpandangan, gelar ulil amri bagi pemerintah kolonial harus dipandang sebagai suatu siyasi (politik). Pemerintah Hindia Belanda sebagai pemerintahan yang sah, tetapi statusnya tetaplah penguasa asing yang hanya berkuasa secara politik.

KARTANU

Dengan demikian, pemerintah hanya berwenang mengatur masyarakat berkaitan urusan politik. Masalah lain seperti keagamaan, sejatinya diserahkan sepenuhnya kepada para ulama yang menjadi panutan rakyat.

Zaman kemerdekaan, pada tahun 1952, Sutsen menjadi Kepala Kantor Urusan Agama di Jakarta. Setelah pensiun pada tahun 1954, ia bergabung dengan Daya Sunda. Kemudian bersama teman-temannya kembali aktif dalam jurnalistik. Ia menerbitkan mingguan berbahasa Sunda Kalawarta Kudjang (1956) dan bertindak sebagai pemimpin redaksi. (Abdullah Alawi, dari berbagai sumber)

Dari (Tokoh) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/62679/sutisna-senjaya-tokoh-pers-dari-nu-jabar

KARTANU

Jumat, 23 November 2012

Ijazah Sholawat Agar Sanad Guru Sambung ke Rasulullah

KARTANU - Sholawat mulia ini telah diijazahkan oleh Habib Quraisy Baharun untuk setiap muslimin yang mau mengamalkannya. Beliau mendapatkan ijazah langsung dari Guru Mulia Maulana Habib Umar bin Hafidz.

Silahkan dishare dan diamalkan, dan komen di bawah ini: "Qabiltu Ijazataha" (saya terima ijazahnya).

Ijazah Sholawat Agar Sanad Guru Sambung ke Rasulullah - KARTANU
Ijazah Sholawat Agar Sanad Guru Sambung ke Rasulullah - KARTANU


Ijazah Sholawat Agar Sanad Guru Sambung ke Rasulullah

اللهم صل على سيدنا محمد النبي الأمي و على آله بعدد علمك

Cara bacanya: "Allahumma Sholli ala Sayyidina Muhammadinin Nabiyyil Ummiyyi wa Ala Alihi Biadadi Ilmik"

Aturannya: Dibaca 10.000 kali selama bulan Dzulhijjah.

KARTANU

Di luar bulan Dzulhijjah di baca 100 kali. Ketika di tanah Haram, Habib Umar mengatakan tentang sholawat ini, "Barang siapa mengamalkannya maka sanad gurunya adalah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam".

Hendaknya sholawat ini bisa dijadikan wirid harian. Sholawat yang kita baca akan sampai kepada Rasulullah. dan sekaligus bagian dari kita untuk bertawassul kepada Baginda Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wa sallam. [KARTANU]

KARTANU

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/ijazah-sholawat-agar-sanad-guru-sambung-ke-rasulullah.html

Jumat, 09 November 2012

Menyerang Tokoh Moderat Adalah Ciri Ashabul Fitnah [Seperti di Suriah]

KARTANU - Ketika baru-baru ini seorang ‘ustadz’ di laman facebooknya memosting gambar Imam Besar Universitas Al-Azhar sedang berciuman dengan Paus Fransiskus, banyak orang langsung menuduh bahwa sang ustadz sedang menyebar fitnah. Baca beritanya: Abu Aqila, Pemfitnah Grand Syeikh Al-Azhar Mesir.

Setelah dilaporkan ke polisi atas tuduhan mencemarkan nama baik, sang ustadz tidak bisa mengelak; seakan mengakui telah menyebar foto palsu ia segera menghapus alat fitnah tersebut dari laman facebooknya. Baca berita KARTANU: Alumni Al-Azhar Laporkan Abu Aqila ke Polisi

Menyerang Tokoh Moderat Adalah Ciri Ashabul Fitnah [Seperti di Suriah] - KARTANU
Menyerang Tokoh Moderat Adalah Ciri Ashabul Fitnah [Seperti di Suriah] - KARTANU


Menyerang Tokoh Moderat Adalah Ciri Ashabul Fitnah [Seperti di Suriah]

Tapi ironisnya, ia tidak mengakui kesalahannya, tetapi justru menyampaikan bahwa ia memosting foto tersebut dengan ‘niat baik’ mengingatkan umat Islam agar menolak upaya berdamai dengan penganut Syiah sebagaimana pesan Sang Imam.

Apa yang dilakukan sang ustadz bukanlah kejadian yang baru dan jarang terjadi. Belakangan media sosial seakan penuh sesak dengan berita dan tulisan-tulisan yang didasarkan pada fakta palsu dan disinformasi. Apa yang sedang terjadi? Apakah penyebaran fitnah hanyalah ekspresi kebencian dan kemarahan yang tidak terkendali dari orang-orang yang merasa keyakinanya terganggu?

KARTANU

Seorang ulama yang juga Professor di Universitas Damaskus Suriah, baru-baru ini berkeliling memberi ceramah di sejumlah universitas di Indonesia. Di Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Taufiq Al-Buthi yang merupakan putra dari almarhum Syaikh Ramadhan Al-Buthi, ulama Suriah yang meninggal karena dibunuh pada Malam Jum’at (21/3/2013) saat sedang mengajar/ceramah di masjid Al-Iman Damaskus, memberi pesan berharga bagi Indonesia.

Mengacu pada pengalaman Suriah, negara yang kini hancur oleh perang, Al-Buthi menekankan pentingnya mewaspadai bahaya fitnah bagi keberlangsungan sebuah bangsa. Kelompok ekstrim, menurut Al-Buthi menggunakan fitnah sebagai senjata utama untuk merongrong fondasi sebuah bangsa.

KARTANU

Fitnah dianggap mempunyai kekuatan untuk menciptakan jurang yang membelah kekuatan-kekuatan sosial-politik penopang keutuhan bangsa. Ia mendorong posisi ekstrim dan pada akhirnya menggoyah pondasi bangsa. Dalam situasi ini, kelompok ekstrim yang pada umumnya adalah kelompok kecil akan memetik keuntungan karena bisa memainkan peran kunci. Keberadaannya dianggap penting oleh masyarakat luar sebagai alat koreksi.

Jadi, fitnah bukanlah sekedar ekspresi kemarahan dan kebencian buta, tetapi lebih dari itu, ia adalah sebuah strategi yang didasarkan pada kesadaran taktis.

Karakteristik Ashabul Fitnah Dalam Bahasa Arab, Al-Buthi menyebut kelompok ekstrim yang menggunakan strategi fitnah sebagai Ashabul Fitnah. Ada tiga karakter yang menandai kelompok ini.

Pertama, mudah mengafirkan kelompok yang berseberangan baik secara agama dan politik. Dalam Islam, tindakan mengafirkan muslim lain sangat dilarang; bahkan secara keras Nabi Muhammad pernah mengingatkan bahwa barang siapa mengafirkan muslim lain, maka tuduhan itu bisa berbalik pada dirinya sendiri. Mereka yang suka mengafirkan bisa jadi dia sendirilah yang kafir.

Kedua, sifat takfiri ini berkaitan dengan dengan karakter kedua yakni kecenderungan untuk menciptakan polarisasi berdasarkan aliran (mazhab) dan identitas keagamaan. Polarisasi ini dianggap penting karena pada umumnya tidak ada bangsa yang sepenuhnya homogen.

Sejarah sebuah bangsa biasanya dibentuk oleh proses negosiasi dan kompromi di antara kekuatan-kekuatan sosial politik yang berbeda. Dengan demikian dimungkinkan terjadinya koeksistensi damai antar masyarakat yang berbeda identitas dan keyakinan. Di Suriah, menurut Al-Buthi, relasi antar warga tidak dipengaruhi oleh perbedaan agama dan aliran. Adalah hal yang biasa bahwa satu apartemen menjadi tempat tinggal bersama warga yang berbeda keyakinan.

Ashabul Fitnah menyadari pentingnya legasi koeksistensi ini bagi keberlangsungan sebuah bangsa. Karena itu, mereka menyasar pondasi ini dengan menyebarkan rumor dan cara pandang sempit untuk membangun tembok yang membelah masyarakat berdasarkan perbedaan agama dan aliran.

Ketiga, tantangan utama kelompok ekstrim dalam menciptakan polarisasi adalah tokoh atau ulama moderat. Ulama moderat menjadi kekuatan penting karena merekalah yang memberikan basis legitimasi bagi koeksistensi damai. Dalam teori perdamaian, tokoh moderat mewakili salah satu prasyarat koeksistensi damai yang disebut“critical mass of peace enhancing leaders.”

Dalam sebuah masyarakat multikultur, selalu ada kekuatan yang kritis dan ekstrim. Tokoh pembawa damai dalam jumlah yang cukup kuat (critical mass) menjadi kunci keberlangsungan pluralitas dalam masyarakat tersebut karena merekalah yang bisa membendung rumor dan agitasi yang mengancam kemapanan basis koesistensi.

Karena itu, ashabul fitnah menjadikan tokoh moderat sebagai sasaran. Dalam situasi ekstrim seperti Suriah upaya ini bisa dilakukan dengan membunuh ulama-ulama moderat; tetapi di negara di mana kekerasan fisik beresiko secara hukum, upaya menyerang tokoh moderat bisa dilakukan dengan membunuh karakter mereka misalnya dengan memberikan label-label antagonis seperti liberal, syiah, dan sekuler.

Anti-Virus Fitnah Fitnah layaknya sebuah virus yang menyerang sendi-sendi utama yang menopang sebuah tubuh. Virus tidak berbentuk luka pada bagian luar tubuh yang nampak secara nyata dan karena itu memicu reaksi cepat. Karena tidak nampak virus seringkali diremehkan, sebelum ia tumbuh berkembang dan menciptakan rasa sakit yang mengganggu gerak tubuh.

Kesadaran tentang ancaman fitnah sudah mulai menguat belakangan; bisa jadi karena ibarat virus fitnah sudah tumbuh berkembang dan mulai mengganggu gerak maju bangsa. Contoh paling nyata adalah Surat Edaran yang dikeluarkan Kapolri pada tahun 2015 yang menginstruksikan aparat kepolisian untuk mengambil tindakan terhadap apa yang disebut dengan istilah ujaran kebencian (hate speech).

Surat Edaran ini tidak serta-merta membuat polisi menangkap para pengujar kebencian yang memang tidak mudah dihentikan. Tetapi paling tidak kita melihat langkah maju untuk menghambat persebaran virus fitnah. Situs-situs dan media sosial yang menjadi arena pertempuran ashabul fitnah sedikit-demi sedikit mulai dibatasi.

Kementerian Komunikasi dan Informasi mulai bertindak menutup situs-situs ekstrim. Selain itu, kesadaran publik terhadap ancaman fitnah juga mulai muncul. Inisiatif untuk melaporkan fitnah berupa gambar Imam Al-Azhar berciuman dengan Paus adalah contoh nyata yang patut diikuti.

Langkah-langkah seperti di atas adalah anti-virus fitnah yang perlu diperkuat. Kini banyak orang baik bahkan tokoh moderat yang ikut larut dalam arus taktik ashabul fitnah. Hal ini bisa dilihat dari masuknya tema-tema sektarian di kalangan masyarakat yang pada dasarnya moderat.

Kekhawatiran dan ketakutan yang terbangun terhadap isu-isu keagamaan seperti ‘bahaya’ Syi’ah, aliran sesat Kristenisasi dan Islamisasi tidak bisa dipungkiri sangat menguntungkan agenda ashabul fitnah untuk menciptakan polarasi sektarian di negeri ini.

Anti-virus fitnah lain yang ditegaskan oleh Al-Buthi adalah tashih berita atau kesadaran tentang pentingnya menerima berita secara kritis. Dalam ilmu studi perdamaian, anti-virus ini disebut “membunuh rumor.” Istilah membunuh mungkin terasa keras tetapi ini merefleksikan pentingnya merespon dengan tegas persebaran fitnah dan berita palsu yang bertujuan untuk menciptakan kebencian dan polarisasi komunal.

Langkah “membunuh rumor” tidak harus dilakukan dengan melarang aktivitas penyebar rumor, tetapi dengan menyediakan alternatif informasi yang bisa menguji keabsahan rumor. Di sejumlah negara, langkah ini diwakili misalnya oleh keberadaan sejumlah lembaga ‘Fact Check” yang bisa menangkal disinformasi.

Pesan penting yang disampaikan Taufiq Al-Buthi di atas seperti menohok jantung sumber ancaman terhadap keutuhan Indonesia sebagai negara kesatuan yang sejak berdiri begitu bangga dengan identitas Bhineka Tunggal Ika.

Tentu ada yang patut menjadi catatan kritis dari ceramah Al-Buthi yang menjadi inspirasi tulisan ini. Catatan khususnya terkait dengan posisi politik Al-Bouthi yang tampak mengesampingkan pelanggaran HAM pemerintahan Bashar Al-Asad.

Al-Bouthi kerap memberikan argumen yang sepenuhnya negatif terhadap negara-negara Barat, seakan fitnah dan kehancuran yang terjadi di Suriah adalah sepenuhnya ulah “konspirasi Barat.” Cara pandang esensialis demikian mengesampingkan keragaman dari apa yang secara sederhana disebut “Barat” dan “Islam”.

Terlepas dari itu, pengalaman Suriah sebagai sebuah bangsa yang hancur karena polarisasi sektarian patut menjadi pelajaran berharga agar Indonesia tetap utuh.” [KARTANU]

M. Iqbal Ahnaf, pengajar di Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), UGM.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/menyerang-tokoh-moderat-adalah-ciri-ashabul-fitnah.html

Selasa, 06 November 2012

Ini Khutbah Menakjubkan, Berbahasa Arab Tanpa Huruf Alif Satupun

KARTANU - Khutbah ini dinamakan khotbah muniqah (menakjubkan), yang telah diriwayatkan dari Kalbi, dari Abu Saleh, dari Babuwaih atau juga dengan silsilah sanadnya dari Sayyidina Ridha as. Biasanya, dalam khotbah, huruf alif banyak dipakai. Tapi dengan secara mengejutkan Sayyidina Ali as melontarkan khotbahnya dengan 'tanpa huruf alif''. Dalam al-Misbah, Kafa'mi meriwayatkan sebagai berikut,

Ini Khutbah Menakjubkan, Berbahasa Arab Tanpa Huruf Alif Satupun - KARTANU
Ini Khutbah Menakjubkan, Berbahasa Arab Tanpa Huruf Alif Satupun - KARTANU


Ini Khutbah Menakjubkan, Berbahasa Arab Tanpa Huruf Alif Satupun

"Suatu hari, Rasulullah saw sedang duduk berkumpul dengan sahabat-sahabatnya,mereka membicarkan tentang huruf-huruf yang sangat sering dan biasa dipergunakan dalam percakapan sehari-hari. Di tengah-tengah pertemuan itu, Ali as tampak sedang berfikir keras dan secara tiba-tiba mulai melontarkan khotbahnya yang kosong dari huruf alif dengan fasih, yang kemudian dikenal dengan khotbah 'muniqah'. Berikut khutbahnya:

حمدت وعظمت من عظمت منته , وسبغت نعمته , وسبقت غضبه رحمته , وتمت كلمته , ونفذت مشيئته , وبلغت قضيته . حمدته حمد مقر بتوحيده , ومؤمن من ربه مغفرة تنجيه , يوم يشغل عن فصيلته وبنيه . ونستعينه ونسترشده ونشهد به , ونؤمن به , ونتوكل عليه , ونشهد له تشهد مخلص موقن , وتفريد ممتن , ونوحده توحيد عبد مذعن , ليس له شريك في ملكه , ولم يكن له ولي في صنعه , جل عن وزير ومشير , وعون ومعين ونظير , علم فستر , ونظر فجبر , وملك فقهر , وعصي فغفر, وحكم فعدل , لم يزل ولم يزول , ليس كمثله شئ , وهو قبل كل شئ , وبعد كل شئ , رب متفرد بعزته , متمكن بقوته , متقدس بعلوه , متكبر بسموه , ليس يدركه بصر , وليس يحيطه نظر , قوي منيع , رؤوف رحيم , عجز عن وصفه من يصفه , وصل به من نعمته من يعرفه , قرب فبعد , وبعد فقرب , مجيب دعوة من يدعوه , ويرزقه ويحبوه , ذو لطف خفي , وبطش قوي , ورحمته موسعه , وعقوبته موجعة , رحمته جنة عريضة مونقة , وعقوبته جحيم ممدودة موثقة . وشهدت ببعث محمد عبده ورسوله , وصفيه ونبيه وحبيبه وخليله , صلة تحظيه , وتزلفه وتعليه , وتقربه وتدنيه , بعثه في خير عصر , وحين فترة كفر, رحمة لعبيده , ومنة لمزيده , ختم به نبوته , ووضح به حجته فوعظ ونصح , وبلغ وكدح , رؤوف بكل مؤمن رحيم , رضي ولي زكي عليه رحمة وتسليم , وبركة وتكريم , من رب رؤوف رحيم , قريب مجيب . موصيكم جميع من حضر , بوصية ربكم , ومذكركم بسنة نبيكم , فعليكم برهبة تسكن قلوبكم ,وخشية تذرف دموعكم وتنجيكم , قبل يوم تذهلكم وتبلدكم , يوم يفوز فيه من ثقل وزن حسنته , وخف وزن سيئته , وليكن سؤلكم سؤل ذلة وخضوع , وشكر وخشوع , وتوبة ونزوع , وندم ورجوع , وليغتنم كل مغتنم منكم صحته قبل سقمه , وشبيبته قبل هرمه فكبره ومرضه , وسعته وفرغته قبل شغله وثروته قبل فقره , وحضره قبل سفره , من قبل يكبر ويهرم ويمرض ويسقم ويمله طبيبه ويعرض عنه حبيبه , وينقطع عمره ويتغير عقله . قبل قولهم هو معلوم , وجسمه مكهول , وقبل وجوده في نزع شديد , وحضور كل قريب وبعيد , وقلب شخوص بصره , وطموح نظره , ورشح جبينه , وخطف عرينه , وسكون حنينه , وحديث نفسه , وحفر رمسه , وبكي عرسه , ويتم منه ولده , وتفرق عنه عدوه وصديقه , وقسم جمعه , وذهب بصره وسمعه , ولقي ومدد , ووجه وجرد , وعري وغسل , وجفف وسجى , وبسط له وهيئ , ونشر عليه كفنه , وشد منه ذقنه , وقبض وودع وسلم عليه , وحمل فوق سريره وصلي عليه , ونقل من دور مزخرفة وقصور مشيدة , وحجر متحدة , فجعل في طريح ملحود , ضيق موصود , بلبن منضود , مسعف بجلمود , وهيل عليه عفره , وحشي عليه مدره , وتخفق صدره , ونسي خبره , ورجع عنه وليه وصفيه ونديمه ونسيبه , وتبدل به قريبه وحبيبه , فهو حشو قبر , ورهين قفر , يسعى في جسمه دود قبره , ويسيل صديده على صدره ونحره , يسحق تربه لحمه , وينشف دمه ويرم عظمه , حتى يوم محشرة ونشره , فينشر من قبره وينفخ في صوره , ويدعى لحشره ونشوره , فتلم بعزه قبور , وتحصل سريرة صدور , وجئ بكل صديق , وشهيد ونطيق , وقعد للفصل قدير , بعبده خبير بصير , فكم من زفرة تعنيه , وحسرة تقصيه في موقف مهيل ومشهد جليل بين يدي ملك عظيم بكل صغيرة وكبيرة عليم , حينئذ يجمعه عرفه ومصيره , قلعة عبرته غير مرحومة , وصرخته غير مسموعة , وحجته غير مقبولة , تنشر صحيفته , وتبين جريرته , حين نطر في سور عمله , وشهدت عينه بنظره , ويده ببطشه , ورجله بخطوه , وفرجه بلمسه , وجلده بمسه , وشهد منكر ونكير , وكشف له من حيث يصير , وغلل ملكه يده , وسيق وسحب وحده , فورد جهنم بكرب وشده , فظل يعذب في جحيم , ويسقى شربة من حميم , يشوى وجهه , ويسلخ جلده , ويضربه زبينه بمقمعة من حديد , يعود جلده بعد نضجه وهو جلد جديد , يستغيث فيعرض عنه خزنة جهنم , ويستصرخ فلم يجده ندم , ولم ينفعه حينئذ ندمه . نعوذ برب قدير من شر كل مضير , ونطلب منه عفو من رضي عنه , ومغفرة من قبل منه , فهو ولي سؤلي , ومنجح طلبتي , فمن زحزح عن تعذيب ربه , جعل في جنة قربه , خلد في قصور مشيده , وملك حور عين وعده , وطيف عليه بكؤوس , وسكن في جنة فردوس , وتقلب في نعيم , وسقي من تسنيم , وشرب من عين سلسبيل قد مزج بزنجبيل , ختم بمسك , مستديم للملك , مستشعر بسرور , يشرب من خمور , في روض مغدق , ليس يبرق , فهذه منزلة من خشي ربه , وحذر ذنبه ونفسه , قوله قول فصل , وحكمه حكم عدل , قص قصص , ووعظ نص , بتنزيل من حكيم حميد , نزل به روح قدس متين , مبين من عند رب كريم , على نبي مهدي رحمة للمؤمنين , وسيد حلت عليه سفره ,مكرمون برره , وعذت برب عليم حكيم , قدير رحيم , من شر عدو ولعين رجيم , يتضرع متضرع كل .منكم , ويبتهل مبتهلكم , ويستغفر رب كل مذنوب لي ولكم

Artinya:

"Aku mengucapkan rasa syukur kepada-Nya atas anugrah berbagai kenikmatan. Rahmat-Nya meliputi segala sesuatu, kalimat-Nya yang telah sempurna, keinginan-Nya yang berpengaruh, hujjah-Nya yang sempurna dan hikmah-Nya yang adil. Aku mengucapkan rasa syukur kepada-Nya atas umat yang telah menetapkan Dia sebagai Pengatur alam, yang tunduk dengan penghambaan kepada-Nya, meminta ampun dosa-dosanya, menetapkan ketauhidan dan keesaan-Nya , berlindung kepada-Nya atas balasan dosa dan mengharapkan pengampunan dari-Nya. Mengharapkan bahwa Dia akan memberikan keselamatan di hari kesulitan yang memisahkan mereka, meminta dari-Nya pertolongan dan kepada-Nya kita beriman dan bertawakal.

Aku bersaksi kepadanya dengan kesaksian hamba yang ikhlas dan yakin dan mengenal keesaan-Nya, seperti halnya seorang mukmin yang teguh imannya dan mempercayai keesaan-Nya. Aku mengenal keesaan-Nya seorang hamba yang tidak menyekutukan-Nya, kepemilikan dan kekuasaan-Nya. Tidak ada wakil dalam ciptaan-Nya. Lebih besar bagi-Nya untuk mengambil seorang untuk bermusyawarah dan wakil. Suci dari permisalan dan persamaan, bagi-Nya ilmu lahir dan batin, memberitakan sesuatu yang lahir dan batin. Pemilik dan Penguasa dikarenakan Dia akan memberikan balasan siksa orang berbuat maksiat, memberikan pahala kebaikan kepada orang yang beribadah kepada-Nya,ketika menghukum, Dia menghukum dengan keadilan-Nya, memberikan belas-kasih dan kemurahan-Nya, Dia tidak sama dengan sesuatu, Dia akan selalu ada sebelum dan sesudah segala sesuatu.

Tuhan Yang kemulian-Nya adalah Esa dan dengan kuasa-Nya adalah Penguasa. Dengan kemampuan dan kekuatan-Nya menutupi segala keaiban. Yang Maha besar. Tidak ada satu makhluk pun yang dapat melihat-Nya, tidaklah ada sesuatu yang melampaui pandangan-Nya, keekuatan-Nya. Pengasih, Kemampuan dan Alim. Lemah dalam penyifatan atas diri-Nya atas orang yang menyifati-Nya dan menyimpang dari penyifatan atas diri-Nya bagi seseorang yang telah mencapai makrifat-Nya. Pada kejauhan-Nya, Dia dekat pada kedekatan-Nya Dia jauh. Setiap orang yang memohon kepada-Nya maka Dia akan mengabulkan, memberikan rezeki kepadanya, mengasihinya sebagai Pemilik kasih-sayang yang tersembunyi dan siksaan yang pedih. Rahmat-Nya yang luas dan azab-Nya yang pedih. Sebuah rahmat yang seperti halnya suatu surga yang luas dan menakjubkan dan suatu siksa yang merupakan ganjarannya adalah neraka yang memiliki berbagai tingkatan yang memcelakakan.

Aku bersaksi atas pengangkatan Muhammad sebagai hamba dan Rasul-Nya, Nabi-Nya, yang terpilih dan kekasih serta utusan-Nya, yang terbaik di zamannya. Dikarenakan pada masa sebelumnya, tidaklah diutus nabi yang meliputu seluruh alam. Nabi inilah merupakan sebuah rahmat bagi hamba-Nya dan Allah menambahkan anugrah(taufik-Nya) kepada mereka. Kenabian berakhir dengannya dan hujjah-Nya kokoh dengan diutusnya beliau saw.

Adapun dia adalah seorang nabi dengan berbagai kesulitan memberikan peringatan, nasihat dan tablignya untuk setiap Mukmin yang memiliki kasih-sayang, belas kasih, penuh cinta, dan murah hati sehingga mereka akan menerima ajakannya. Rahmat, keselamatan, keberkahan, keagungan dan kasih-sayang Allah yang memberikan pengampunan dan mengabulkan permohonan hamba-Nya.

Aku memberikan nasihat kepada kalian, agar menjaga kesucian jiwa terhadap perkara-perkara yang dilarang Allah, mengikuti ajakan para nabi yang diutus-Nya. Dan saya ingatkan pada kalian, "Sebuah ketakutan yang akan menambah ketenangan jiwa anda dan yang mengalirkan air mata kalian. Ketakwaan yang akan menyelamatkan kalian di hari yang akan melupakan dan menjadi musibah bagi kalian. Adalah suatu hati yang akan memperoleh kemenangan yang besar atas timbangan yang berat karena kebaikannya dan timbangan yang ringan atas kejelekannya. Harus bagi kalian memohon kepada Tuhan kalian dengan kehinaan, ketundukan, dan kekhusyukan. Seperti halnya orang yang bertaubat dan menghalau segala dosanya dan setelah itu tela merasa optimis.

Oleh karena itu, setiap anugrah nikmat kepada kalian kesehatan merupakan anugrah-Nya, keselamatan sebelum mengalami sakit, mudanya sebelum masa tuanya dan keluasan rezeki sebelum kefakirannya. Ketenangan atau kedamaian kalian sebelum masa kesulitan kalian. Kesempatan kalian sebelum hilang masa kesempatan ini. Keselamatan atau kesehatan diri kalian sebelum masa uzur , sakit dan lemah. Kesehatannya, sebelum dokter tidak mampu mengobatinya, teman-temannya yang akan meninggalkannya, terputus umurnya, berubah akalya. Orang-orang di sekitarnya mengatakan, "Tidak dapat lagi untuk bergerak, tubuhnya kurus dan merasa sangat sakit pada badannya".

Dalam keadaan ini, setiap kerabat jauh dan dekat akan hadir di samping tempat tidurnya. Namun, keadaan matanya tidak mampu berkedip dan keringatnya mengalir di keningnya, detak jantungnya berhenti dan sekujur tubuhnya merasa sakit sedang istrinya menangisinya. Mereka mempersiapka penggalian kuburnya, anak-anaknya menjadi yatim,orang-orang dekatnya akan meninggalkannya, hartanya akan dibagikan. Padahal penglihatannya, pendengarannya telah hilang dan kain kafannya telah disiapkan, tangan dan kakinya ditarik, menghadap kiblat, pakaiannya akan dilepas dan dia akan telanjang, tubuhnya yang telah dimandikan akan dikeringkan. Ketika itu, tempat (kuburan) telah dipersiapkan dan kafannya akan dibuka. Dagunya akan tertutup dengan kain (kafan) yang dipakainya, diletakka lilitan sal (imamah) di kepalanya, yang terakhir kain kafan akan dililitkan pada tubuhnya, kalimat perpisahan darinya, diletakkan dalam peti, dishalatkan, dibangun kuburannya dan istana yang kokoh dan bertingkat dipindahkan ke pekuburannya, yang berada di lubang bumi, suatu tempat yang sempit dan pengap, yang ditutupi oleh tanah dan pasir diletakkan berbatuan di atasnya. Sesuatu yang menyebabkan dirinya merasa takut, akan segera datang.

Teman-temannya, orang-orang yang berduka cita dengan kepergiannya dan para kerabatnya serta para penolongnya telah meninggalkannya. Istrinya yang telah ditinggalkannya akan memilih pasangan lain. Di dunia, dia telah memiliki teman dekatnya, memulai lagi kehidupan tanpa orang lain disampingnya dan hidup di alam kubur dengan kesendirian yang sengsara.

Panasnya bumi menyerang tubuhnya. Hidung, mulutnya, kotoran dan darahnya akan keluar. Pakaian dan daging tubuhnya akan membusuk, darahnya akan menghilang, jasadnya mongering dan tulang-tulangnya akan keropos.

Dalam keadaan ini mereka akan menetap, hingga di hari kebangkitan akan kembali dari tempat pemakaman mereka, suatu hari ditiupkan kembali arwah mereka untuk dibangkitkan. Suatu hari kuburan mereka akan terbuka, rahasia di hati-hati mereka akan dimunculkan. Suatu hari setiap nabi akan hadir memberikan kesaksian secara benar, berbicara, kuasa terhadap hukum, menghakimi perbuatan dan perilaku para hamba yang melihat dan buta atas nama Maha Penguasa Hukum (Tuhan).

Maka, bagaimana pun akan muncul rintihan-rintihan hati yang tergores dan keinginan-keinginan yang suram dikarenakan mereka terjaga di tempat yang penuh dengan kesengsaraan yang besar, di hadapan Sang Penguasa Yang Pemurah, Yang mengetahui segala sesuatu yang kecil dan besar, yang ketika itu, kerungat akan mengalir, kegoncangan yang dahsyat akan terjadi, mata-mata akan menangis. Akan tetapi, tak seorang pun akan megasihani dan tidak menjawab seruannya, hujahnya tidak diterima dan dibukakan catatan amal buruknya serta akan ditampakkan segala bentuk penyelewengannya.

Ketika itu, segala anggota tubuhnya akan bersaksi dan mengkhabarkan perbuatan buruknya. Matanya akan memberikan kesaksian terhadap apa yang telah dilihatnya. Tangan akan memberikan kesaksian atas apa yang telah diberikannya, kaki akan memberikan kesaksian atas langkahnya, kulit akan memberikan kesaksian atas apa yang telah disentuhnya, alat kelamin akan memberikan kesksian atas apa yang telah dirasakannya, malaikat Munkar dan Nakir akan mengancamnya yang menjadikannya rasa takut dan segala kejelekan perangainya akan tampak.

Hingga tali rantai akan dililitkan di lehernya, tangan-tangannya dalam keadaan belenggu, dia pun diseret dan dimasukkan ke dalam neraka, api neraka pun akan membakarnya, dia merasakan lahar yang panas dan membakarnya, kulit badannya detelah terbakar akan menjadi kulit yang lain. Meminta pertolongan, namun penjaga jahannam tidak menjawabnya. Apa pun yang dia teriakkan maka tak seorang pun dapat mendengarnya yang menyebabkan dirinya akan mengalami penyesalan, kami berlindung dengan nama Tuhan yang berkuasa atas segala kejelekkan yang telah dilakukan dan meminta maaf kepada seseorang dan menginginkan keridhaannya serta meminta ampun dari sisi-Nya sebagai Sang Pemilik nikmat, keinginan-keinginan dan Yang memenuhi segala kebutuhan.

Maka sesorang yang selamat dari azab Ilahi, dia mendapatkan kedudukan kedekatan (di sisi-Nya), dia akan tinggal di dalam surga dan menempati istana yang kokoh lagi kekal. Juga terdapat para bidadari sebagai pelayan surga, menyiapkan cangkir-cangkir minuman untuknya dan menempati Firdaus yang tinggi, bersenang-senang dalam kenikmatan dan meminum air penghilang dahaga yang bercampur dengan wewangian. Nikmat-nikmat selalu menyertainya dan hidup dalam kebahagiaan. Menikmati minuman-minuman di taman-taman surga yang terang dan penuh cahaya dan air selalu mengalir di taman-taman tersebut. Minuman yang menghilangkan rasa sakit yang tidak memabukkan. Kedudukan ini diperoleh oleh hamba-hamba-Nya yang takut pada Allah dan menjaga kesucian jiwanya.

Balasan terhadap orang-orang yang berbuat maksiat dan mudah baginya untuk berbuat maksiat. Baginya perkataan yang jelas dan hokum yang adil, paling bagusnya kisah-kisah yang telah dinukil dan paling indahnya nasihat-nasihat yang telah disarankan kepadanya, telah diturunkan kepadanya hokum terpuji dan Jibril membawa petunjuk kepada Nabi saw, yang menurunkan pemilik kekuasaan dan kedudukan. Seorang utusan diperintahkan untuk menyampaikan ucapan selamat kita kepada beliau saw.

Aku berlindung kepada Allah Yang Pengasih dari setiap kejelekkan yang telah ditunggangi orang-orang yang menyesatkan, maka sudah seharusnyalah kita tunduk seperti orang-orang yang tunduk dan menangis seperti orang-orang yang menangis.

Pada akhirnya, aku dan anda sekalian meminta pengampunan dari Tuhan Pemberi Petunjuk dan hidayah bagi hamba-Nya.” [KARTANU] 

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/ini-khutbah-menakjubkan-berbahasa-arab-tanpa-huruf-alif-satupun.html

Minggu, 27 Mei 2012

KHR. Asad Syamsul Arifin, Mengomando Jawara di Kawasan Tapal Kuda

KARTANU - Kiai Raden As'ad Syamsul Arifin lahir pada 1897 M/1315 H di Syi'ib Ali, Makkah dari pasangan Raden Ibrahim dan Siti Maemunah. Ketika As'ad kecil lahir, oleh ayahnya, bayi mungil itu langsung dipeluk untuk dibawa menuju Ka'bah. Jarak sejauh 200 meter antara Syi'ib Ali dan Ka'bah tidak menjadi halangan untuk membawa bayi ini mendekat ke pusaran suci umat muslim. Raden Ibrahim kemudian membisikkan adzan dan memberi bayi itu nama As'ad.

Ketika berusia 13 tahun, As'ad kecil mondok di Banyuanyar di bawah asuhan Kiai Abdul Majid dan KH. Abdul Hamid. Pada usia 16 tahun, As'ad dikirim ayahandanya mengaji ke Makkah, tanah suci di mana ia dilahirkan. Ia belajar di Madrasah Shaulatiyyah. Selain itu, ia juga berguru kepada Sayyid Abbas al-Maliki, Syekh Hasan al-Yamani, Syekh Hasan Masyath, Syekh Bakir dan Syekh Syarif asy-Syinqithi. Ketika belajar di Makkah, As'ad bersama kawan-kawannya yang berasal dari Nusantara, di antaranya: KH. Zaini Mun'im, KH. Ahmad Thoha, KH. Baidhawi Banyuanyar Pameksaan dan beberapa santri lainnya.

KHR. Asad Syamsul Arifin, Mengomando Jawara di Kawasan Tapal Kuda - KARTANU
KHR. Asad Syamsul Arifin, Mengomando Jawara di Kawasan Tapal Kuda - KARTANU


KHR. Asad Syamsul Arifin, Mengomando Jawara di Kawasan Tapal Kuda

Pada tahun 1924, setelah bertahun-tahun belajar di Makkah, As'ad kembali ke kampung halaman. Ia merasa masih belum memiliki keilmuan yang cukup, meski keahlian ilmu agamanya sudah tidak diragukan. Sebagaimana tradisi santri Nusantara, As'ad kemudian meneruskan langkahnya untuk melakukan perjalanan ilmiah (rihlah ilmiyyah) sebagai santri petualang ilmu, dari pesantren satu ke pesantren lainnya. Kiai As'ad mengaji tabarrukan di beberapa pesantren di tanah Jawa dan Madura, antara lain: Pesantren Sidogiri Pasuruan (asuhan KH. Nawawi), pesantren Siwalan Panji Buduran Sidoarjo (asuhan KH. Khazin), Pesantren an-Nuqayah Guluk-Guluk Sumenep Madura, Pesantren Kademangan Bangkalan (KH. Muhammad Cholil) dan Pesantren Tebu Ireng Jombang.

KARTANU

Pengalaman mengaji di Makkah dan beberapa pesantren di Jawa-Madura membuat karakter pribadi serta keilmuan Kiai As'ad menjadi mendalam. Akan tetapi, Pesantren Tebu Ireng lah yang paling membentuk kepribadian Kiai As'ad. Ketika menyebut Kiai Hasyim As'ari (1875-1947) dan Pesantren Tebu Ireng, Kiai As'ad menunjukkan ta'dzim yang sangat tinggi.

Di bawah asuhan Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari, Kiai As'ad menemukan karakter, wawasan, perspektif hingga semangat perjuangan untuk kemerdekaan. Di Tebu Ireng, Kiai As'ad berkawan dengan para santri pejuang, yang kelak menjadi garda depan Nahdlatul Ulama dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Di antaranya, yakni KH. Wahab Chasbullah (1888-1971), KH. Bisri Syansuri (1886-1980), KH. Abbas Buntet (1879-1946), KH. Wahid Hasyim, dan beberapa kiai lainnya.

Mediator Berdirinya NU

KARTANU

Dalam proses pendirian Nahdlatul Ulama, peran Kiai As'ad Syamsul Arifin sangat besar. Hal ini, karena beliaulah yang menjadi mediator antara Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari dan Syaichona Chalil Bangkalan. Pada masa menjelang berdirinya NU, Kiai Chalil Bangkalan mengutus Kiai As'ad ke Tebu Ireng, untuk menemui Kiai Hasyim Asy'ari.

Pesan Syaichona Chalil kepada Kiai Hasyim Asy'ari berwujud perlambang-perlambang yang menggambarkan konteks dan filosofi di balik pentingnya kesatuan ulama. Kiai As'ad diutus oleh Syaichona Chalil untuk menyampaikan sebuah tasbih dan ucapan surat Thaha (17-23), yang menceritakan mukjizat Nabi Musa dan tongkatnya—kepada Kiai Hasyim Asy'ari.

Kemudian, peristiwa ini terulang kembali, ketika Syaichona Chalil mengirim Kiai As'ad ke Tebu Ireng, untuk menyampaikan pesan berupa wirid "Ya Jabbar Ya Qahhar". Pesan simbolik berupa tasbih, surah Thaha dan wirid-wirid tersebut mengandung maksud bahwa Syaichona Chalil merestui pendirian Nahdlatul Ulama dan Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari menjadi pemimpin spritual ulama Nusantara. Peran penting Kiai As'ad, menjadikan beliau sering disebut sebagai mediator berdirinya Nahdlatul Ulama.

Kiai As'ad juga mengomando Laskar Sabilillah dan Hizbullah. Sosok Kiai As'ad sangat disegani oleh ketiga laskar di kawasan Tapal Kuda, yakni anggota Laskar Sabilillah, Hizbullah dan Pelopor. Kharisma Kiai As'ad menjadikan para kiai yang tergabung dalam barisan Laskar Sabilillah mendengarkan seluruh nasihat, wejangan dan komando Kiai As'ad.

Para santri dan pemuda yang tergabung dalam barisan Laskar Hizbullah juga setia pada strategi dan komando yang diberikan Kiai As'ad. Bahkan, para band1t yang bergerak dalam Barisan Laskar Pelopor juga sendika dawuh (tunduk) dengan perintah Kiai As'ad. Kombinasi ketiga laskar inilah yang menjadi senjata ampuh untuk melawan penjajah di kawasan Tapal Kuda.

Kiai As'ad bersama Kiai Abdus Shomad (sepupunya, pemimpin Seinin dan Keibodan), pada zaman Jepang, pernah mendapat kursus militer di Jember. Teknik dasar militer inilah yang menjadi pondasi strategi Kiai As'ad dan beberapa kiai lainnya, dalam menyusun rencana perjuangan militer yang dipadukan dengan kekuatan santri (Hasan, 2003: 82-84).

Berjuang Mengawal Negeri

Sosok Kiai As'ad Syamsul Arifin menjadi inspirasi bagi santri masa kini. Beliau memiliki keilmuan, kemampuan dan visi perjuangan yang lengkap. Kiai As'ad memiliki kedalaman ilmu agama yang tidak diragukan, mengusai ilmu militer dan bela diri, serta berhasil mengomando para b4ndit agar membantu perjuangan santri dalam mengawal kemerdekaan Indonesia.

Dalam catatan Syamsul A Hasan (2003), salah satu kecerdikan Kiai As'ad adalah kemampuannya dalam mengorganisir para jawara yang sebagian besar berasal dari kawasan Tapal Kuda. Para b4ndit dan jawara dari Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Probolinggo, Jember, Lumajang dan Pasuruan dikumpulkan untuk diajak berjuang melawan penjajah Belanda.

Barisan band!t ini, kemudian dihimpun sebagai dengan satu nama: "Pelopor". Barisan Pelopor ini, sering berpakaian serba hitam, mulai dari baju, celana, hingga tutup kepala. Mereka menggunakan senjata celurit, rotan dan keris. Uniknya, para jawara yang berada di barisan Pelopor ini, tunduk dan setia pada komando Kiai As'ad Syamsul Arifin.

Kiai As'ad memerintahkan para pejuang Pelopor bagian logistik untuk mengirim pejuang yang berada di hutan. Pasukan Pelopor, Sabilillah, Hizbullah, dan pasukan lain berjuang dengan strategi gerilya. Mereka masuk gunung dan keluar gunung, untuk menyerang pasukan Belanda, lalu mengamankan diri. Mereka menggunakan taktik: "serang dan lari"! Strategi ini dilakukan oleh para santri yang tergabung dalam pelbagai laskar, hingga Negara Republik Indonesia diakui kedaulatannya oleh Belanda, pada Desember 1949.

Kiai As'ad mengutus beberapa anggota pasukan Pelopor dan Sabilillah untuk mengambil senjata milik pasukan Belanda. Di kawasan Situbondo, tugas ini dikomando oleh Mawie dan Hamid, barisan Sabilillah. Menariknya, mereka merekrut para brandal yang siap berjuang untuk negara Indonesia. Pada malam hari, para brandal dan preman ini, mengambil senjata-senjata milik Belanda di beberapa Pabrik Gula (PG) kawasan Situbondo.

Pada masa penjajahan, Pabrik Gula memegang peran vital sebagai lumbung ekonomi Belanda, hingga mendapat akses langsung ke birokrasi pusat. Di PG, para pekerja keamanan diberi fasilitas senjata. Setelah senjata terkumpul, kemudian dibagikan kepada anggota Pelopor, Sabilillah, Hizbullah, dan pejuang-pejuang lainnya.

Jaringan pejuang di kawasan Bondowoso dan Jember juga melakukan hal yang sama, merebut senjata dari pasukan Belanda. Para anggota Pelopor mengirim senjata ke markas pejuang Kiai As'ad, dengan melewati hutan belantara. Strategi ini, agar misi ini tidak diketahui oleh pasukan Belanda. Setelah sampai di Sukorejo, senjata-senjata ini dikumpulkan, disimpan di bawah lumbung padi, dipendam di masjid, atau ditanam di kuburan (Hasan, 2003: 131-134).

Salah satu motivasi dan petuah penting Kiai As'ad tentang perjuangan adalah bagaimana niat menjadi utama: "Perang itu harus niat menegakkan agama dan 'arebbuk negere (merebut negara), jangan hanya 'arebbuk negere! Kalau hanya 'arebbuk negere, hanya mengejar dunia, akhiratnya hilang! Niatlah menegakkan agama dan membela negara sehingga kalau kalian mati, akan mati syahid dan masuk surga!" (Rahman, 2015: 138).

Pemikiran, strategi dan teladan yang diwariskan oleh Kiai As'ad Syamsul Arifin harus menjadi semangat bagi santri masa kini. Apa yang bisa dipetik dari kisah Kiai As'ad? Bahwa santri harus tetap menjaga jalur pengetahuan (sanad) dengan para kiai, mendalami ilmu-ilmu agama yang menjadi benteng kokohnya Islam, merawat Nahdlatul Ulama, serta membela negeri ini kelompok yang ingin merusaknya. Semangat KH. Raden As'ad Syamsul Arifin dapat menjadi pedoman bagi santri untuk menjaga negeri, mengawal kesatuan bangsa ini. [KARTANU].

Munawir Aziz, periset Islam Nusantara, Wakil Sekretaris LTN PBNU

Referensi:

- Ahmad Sufiatur Rahman. KH. R. As'ad Syamsul Arifin, Ksatria Kuda Putih Pejuang Negeri. Solo: Tinta Medina. 2015.

- Syamsul A Hasan. Kharisma Kiai As'ad di Mata Umat. Yogyakarta: PP Salafiyyah Syafi'yyah dan LKIS. 2003.

- M. Hasan Basri dan Chairul Anam. KH.R As'ad Syamsul Arifin: Riwayat Hidup dan Perjuangannya. Sahabat Ilmu. 1994.

KH. Abdul Aziz Masyhuri. 99 Kiai Kharismatik Indonesia: Riwayat, Perjuangan dan Doa. Yogyakarta: Kutub. 2008.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/khr-asad-syamsul-arifin-mengomando-para-jawara-kawasan-tapal-kuda.html

Selasa, 17 Agustus 2010

Hal-Hal yang Tidak Disadari oleh Habib Rizieq Ketika Mengendarai FPI

KARTANU - Pertama kali saya tahu nama beliau pada tahun 1996 di salah satu Masjid di Kawasan Roxy. Beberapa kali saya melihat nama beliau terpasang di spanduk acara-acara keislaman di Kawasan Petojo dan Roxy. Pada waktu itu, nama beliau belumlah setenar sekarang. Ceramah-ceramah beliau masih kalah pamor dibandingkan ceramah da'i sejuta umat, alm KH Zainuddin MZ, yang memang mendominasi di mana-mana.

Saya sering bertanya kepada kawan yang tinggal di Kawasan Petojo perihal nama Habib Rizieq, siapa beliau dan bagaimana penyampaian ceramah beliau. Beberapa kawan yang berlatar belakang Persis menganggap bahwa ceramah Habib Rizieq agak berbeda dengan kebanyakan habib di Jakarta, yang lebih suka mengangkat persoalan fadhoil (keutamaan ibadah) dibandingkan persoalan umat.

Hal-Hal yang Tidak Disadari oleh Habib Rizieq Ketika Mengendarai FPI - KARTANU
Hal-Hal yang Tidak Disadari oleh Habib Rizieq Ketika Mengendarai FPI - KARTANU


Hal-Hal yang Tidak Disadari oleh Habib Rizieq Ketika Mengendarai FPI

Sementara itu, beberapa lagi berpendapat bahwa isi ceramah Habib Rizieq tidak berbeda dengan Habib Alwi Jamalullail atau puteranya Habib Idrus Jamalul Lail.

Memang pada masa-masa itu nama Habib Rizieq belum dikenal luas, di samping karena beliau juga baru kembali dari menuntut ilmu di Riyadh Saudi Arabia. Pasca lengsernya Soeharto dari kekuasaan, tepatnya pada tahun 1998, nama Habib Rizieq mulai muncul ke permukaan.

KARTANU

Naiknya nama beliau menyertai beberapa isu, di antaranya adalah dibentuknya organisasi milisi oleh salah seorang petinggi ABRI ketika itu, yang diberi nama PAM SWAKARSA, isu Rusuh AMBON dan terakhir berdirinya FPI yang menjadi "kendaraan politik"--jika boleh dikatakan begitu--Habib Rizieq.

KARTANU

Ingatan ini masih menyimpan informasi bahwa kemunculan nama beliau terkait dengan peristiwa pembunuhan di Cawang dan bentrokan massa di Tugu Proklamasi berkaitan dengan akan diadakannya Sidang Istimewa MPR 1998.

Momentum-momentum itu yang "memaksa" Habib Rizieq tampil ke gelanggang politik massa untuk pertama kalinya. Bisa dikatakan bahwa Habib Rizieq ketika itu "dipaksa matang" untuk berpolitik. Tanpa bekal pengalaman politik yang mapan, Habib Rizieq seakan harus muncul untuk memperjuangkan kepentingan politik yang dihubungkan dengan kepentingan umat Islam.

Pada saat yang bersamaan, di sisi lain Poros Tengah yang dikomando oleh Amien Rais, Akbar Tanjung, dan Hamzah Haz juga sedang memainkan nama yang sama untuk menjegal Megawati dan kawan-kawan menempati kursi kekuasaan.

Saya bukan pakar politik atau pengamat politik, tapi secara pribadi saya merasakan betapa panasnya situasi saat itu, sehingga berita bentrokan massa hampir setiap hari menghiasi headline media cetak atau elektronik.

Tanpa bekal jam terbang yang cukup, publik bertanya-tanya atas dukungan siapa Habib Rizieq tampil ke gelanggang politik pada waktu itu? Apakah ada korelasi antara manuver yang dilakukan Habib Rizieq dengan manuver yang dilakukan poros tengah di parlemen? Banyak spekulasi bermunculan.

Tapi, yang pasti ketika Poros Tengah berhasil menjegal Megawati dan kawan-kawan untuk menduduki kursi kekuasaan, padahal PDIP adalah pemenang PEMILU 1999, Habib Rizieq tidak mendapatkan bagian apapun dari manuver yang pernah dilakukannya.

Pasca perhelatan Sidang Istimewa MPR yang menghantarkan Gus Dur sebagai Presiden RI, nama Habib Rizieq mulai jarang muncul. Namun gosip tentang beliau pun terus beredar di tengah masyarakat. Ada yang mengatakan bahwa Habib Rizieq memberi support kepada Ust. Ja'far Umar Thalib yang membentuk Laskar Ahlussunnah wal Jama'ah, untuk "berjihad" di Ambon dan sekitarnya.

Ada pula yang mengatakan bahwa Habib Rizieq kembali ke aktivitas sebelumnya, yaitu berdakwah dan menyampaikan ta'lim di masjid-masjid. Bisa dikatakan, dalam kurun waktu satu atau dua tahun (1999-2000) nama Habib Rizieq jarang tampil di media.

Namun demikian, spanduk, baliho dan plang bertuliskan FPI menjamur di beberapa kantong jamaah para habib di kota Jakarta. Agaknya, media tidak begitu tertarik untuk memberitakan konsolidasi internal Habib Rizieq di beberapa tempat di ibu kota. Karena memang pada saat itu, fokus pemberitaan media lebih banyak menyoroti persoalan komposisi kabinet dan peta politik yang riuh oleh manuver Gus Dur sebagai Presiden RI yang keempat.

Setelah Era Gus Dur Sempat luput dari pemberitaan media, nama Habib Rizieq dan FPI kembali muncul. Kali ini bukan karena isu politik, tapi karena persoalan sosial, yaitu razia miras dan pelacuran. Media massa memberitakan kegiatan laskar FPI yang memburu peredaran miras di beberapa titik di Ibu Kota dan daerah penyangga, mulai dari Mangga Besar dan Depok.

Dari berbagai liputan media yang memberitakan bentrok antara FPI dengan beberapa preman diskotik, berita penyerangan FPI di Kemang pada tahun 2001, mungkin yang paling heboh. Apa pasal? Selama masa Orde Baru Kemang dianggap sebagai daerah elit yang "untouchable". Bukan rahasia lagi, jika peredaran narkoba dan miras di Kemang berlangsung aman-aman saja tanpa ada aparat yang berani menghentikannya. Kedatangan laskar FPI melabrak kawasan Kemang tentu mengagetkan banyak orang.

Berbagai spekulasi pun bermunculan. Habib Rizieq dianggap sedang melakukan testing the water dengan membidik Kemang sebagai garapan gerakan Nahyu Munkar-nya. Di sinilah kemudian, Habib Rizieq mulai berhadap-hadapan dengan kalangan elit, yang menganggapnya sebagai ancaman.

Cukup banyak pemberitaan yang disajikan tentang Habib Rizieq. Dan bisa dikatakan semua pemberitaan tentang beliau berwarna kontraproduktif. Secara pribadi saya pun terbawa oleh atmosfer yang dibangun oleh media massa ketika itu.

Beberapa pertanyaan muncul di benak ini, untuk apa FPI melakukan tindakan-tindakan extra law seperti itu? Kenapa Habib Rizieq dan FPI tidak berkoordinasi dengan pihak kepolisian sekiranya memang ingin membantu aparat di dalam melaksanakan penegakkan hukum? Kenapa pula FPI memainkan peran seperti FBI yang memang bekerja sebagai penegak hukum? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang muncul di benak ini, sebagai usaha saya untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi di belakang Habib Rizieq.

Secara jujur saya sempat surprised dengan Habib Rizieq. Secara nasabiah, beliau memang keturunan Sayyidina Husain, yang berarti juga keturunan Baginda Rasulullah, Nabi yang diimani oleh semua umat Islam.

Dalam sebuah obrolan dengan seorang teman, saya pernah ditanya kenapa tidak ada seorang Habib yang berpikiran revolusioner seperti datuk mereka Rasulullah? Kenapa para Habib lebih suka memainkan posisi safety player, padahal dahulu datuk mereka Rasulullah adalah pribadi yang berani menghadapi risiko dan tidak risih berada di stretch zone (zona tegang). Ketika pertama kali melihat Habib Rizieq ceramah, saya berpikir mungkin ini dzurriyyah yang ditanyakan oleh teman saya tempo hari.

Namun, dengan tidak mengurangi sikap hormat kepada beliau, sebagai dzurriyatur rasul, perkenankan saya ingin memberi catatan terhadap Habib Rizieq:

1. Beliau bertolak dari garis start yang keliru ketika mengusung ide-ide revolusionernya. Berbeda dengan Rasulullah yang selalu menolak afiliasi politik sejak awal membangun gerakan dakwahnya, Habib Rizieq justru memulai gerakan dakwahnya dengan dibalut oleh pertanyaan-pertanyaan politis.

Sebagai contoh, hingga saat ini Sang Habib tidak pernah menjawab dengan tuntas pertanyaan tentang kedekatan beliau dengan beberapa bintang ABRI pada masa awal reformasi, yang dianggap menjadi preseden berdirinya FPI. Pertanyaan ini semakin carut marut setelah Habib Husein al-Habsyi pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin Indonesia pernah menyebut kedekatan Habib Rizieq dengan salah satu elit tentara.

2. Jika Rasulullah berdakwah melawan totalitarianisme dengan menumbuhkan semangat egalitarianisme, semangat ini agak sulit untuk dijumpai dari isi pidato yang sering disampaikan oleh Habib Rizieq. Saya tidak mengatakan bahwa Habib Rizieq adalah pribadi yang "kasar". Beliau adalah pribadi yang tegas. Bahwa kualitas ketegasan tiap orang itu berbeda-beda karena perbedaan gen dan lingkungan tempat dibesarkan, itu adalah sesuatu yang sifatnya alamiah (nature).

Namun, ketika persoalan kasar dan halus itu dibawa ke ranah ide atau isu, saya kira di sini kita semua bisa membaca dari gesture penyampaiannya. Barangkali ini disebabkan oleh dorongan politik yang memang dipaksakan di bagian awal. Seperti sangat mudah terbaca bahwa FPI berdiri tanpa kesiapan dan kematangan ideologi. Seakan persoalan ideologi bisa dibenahi sambil organisasi ini berjalan.

3. Saya agak tidak sepakat jika dikatakan bahwa Habib Rizieq mengikuti pola Umar ibnu al-Khatthab atau seputar sahabat agung tersebut, hanya karena ketegasan dan keberanian beliau berbicara di hadapan para penguasa. Ketidaksepakatan saya itu didasarkan kepada hal-hal berikut:

a. Bahwa karakter keras Umar ibnu al-Khatthab adalah karakter bawaan orang Arab yang memang "dipaksa" keras oleh situasi dan kondisi di mana mereka tinggal.

b. Bahwa sikap keras Umar ibnu al-Khatthab selalu dikaitkan dengan kewenangan yang beliau miliki sebagai utusan Rasulullah dan sebagai pemegang kekuasaan tertinggi pemerintahan.

c. Bahwa Umar ibnu al-Khatthab di dalam memperjuangkan cita-cita politik mengutamakan pendekatan ilmu, dibandingkan pendekatan kekuasaan. Ini misalnya bisa kita baca dari pernyataan beliau:

"Dalamilah dulu pemahaman (ilmu) sebelum kalian memimpin."

juga pernyataan yang lain:

"Tidak ada Islam kecuali dengan berjamaah dan tidak ada jamaah kecuali dengan kepemimpinan."

Dari pernyataan-pernyataan yang disampaikannya, dapat terbaca bahwa Umar bukan semata-mata orang yang katakanlah "keras" tanpa konsep. Ucapannya tentang relasi Islam dan jama'ah serta kepemimpinan, menunjukkan bahwa Umar adalah seorang perencana yang sangat matang dan cermat di dalam melihat masalah. Seakan Sayyidina Umar ingin mengatakan bahwa perjuangan Islam ini tidak akan menghasilkan apa-apa jika tidak diawali dengan penguatan kohesi sosial di antara umat Islam itu sendiri

Tanpa kohesi di antara sesama umat Islam, perjuangan politik hanya akan berujung kepada perebutan kekuasaan politik di antara elemen-elemen pendukungnya. Saya tidak mengerti apakah ini disadari atau tidak oleh Habib Rizieq.

Setidaknya Habib Rizieq telah membuang kesempatan emas yang pernah ada dihadapannya untuk membangun kohesi di antara umat Islam, yaitu ketika memperjuangkan Gus Dur sebagai presiden untuk menjegal Megawati dan ketika umat Islam mau berkumpul dalam jumlah yang sangat fantastis--meskipun ini diragukan oleh beberapa media--pada bulan Desember yang lalu.

Mungkin akan berbeda ceritanya, ketika di dalam aksi 212 kemarin, Habib Rizieq mengakui kekhilafannya bertahan di Istana Merdeka hingga melewati batas jam malam yang ditentukan Kapolri pada aksi 411 beberapa waktu yang lalu. Jika opini saya ini dianggap sebagai bentuk ketakutan terhadap rezim berkuasa, saya hanya ingin bertanya pula apakah kepatuhan Rasulullah terhadap Perjanjian Hudaibiyyah yang melarangnya masuk ke Makkah itu, juga merupakan bentuk ketakutan Rasulullah terhadap penguasa Makkah?

4. Siapa yang tidak setuju dengan perjuangan mempertahankan kemuliaan ajaran Islam? Saya kira semua umat Islam setuju. Namun, dalam kaitannya dengan perjuangan tersebut, perlu pula diperhatikan beberapa irisan yang sangat sensitif dan berpotensi merusak elan perjuangan politik itu sendiri. Perjuangan mempertahankan kemuliaan ajaran Islam, khususnya di Indonesia, beririsan dengan isu nasionalisme, demokrasi, dan cita kestabilan politik yang kini tampaknya tengah diupayakan untuk mengejar ketertinggalan di bidang ekonomi.

Menyikapi irisan-irisan tersebut, dibutuhkan kecermatan, ketelitian dan kehati-hatian. Secara teoritis, saya mengakui setiap perjuangan politik mempunyai cita, manuver dan gestur gerakan yang sifat khas dan membedakan satu gerakan politik dengan gerakan politik lainnya. Namun, yang menjadi pertanyaan bagaimana ketika itu dinisbahkan kepada perjuangan politik Islam? Jawabannya tidak mudah.

Penggunaan nama Islam pada masa sekarang, berbeda dengan penggunaan nama Islam pada masa Nabi atau pada masa sahabat. Pada masa keemasan itu, penggunaan nama Islam bersifat tunggal. Dalam arti, yang dinamakan Islam itu adalah kelompok yang mengikuti Nabi Muhammad dan para sahabatnya secara definitif yang tinggal di Madinah--sebagai pusat kekuasaan--, Makkah, Yaman, Mesir, Syam, dan Irak.

Di luar wilayah-wilayah itu, agak sulit--bukan tidak ada--menjumpai komunitas Islam sebagaimana yang dimaksud di atas. Sehingga dengan begitu, penggunaan nama Islam berikut derivaat-nya tidak akan menimbulkan masalah dan pertanyaan sebagaimana terjadi hari ini.

Dalam konteks sekarang, penggunaan nama Islam tidak lagi bersifat monolitik. Pasca perang antara Ali ibnu Abu Thalib dan Mu'awiyah penggunaan nama Islam menjadi bersifat pluralistik. Artinya setiap faksi umat Islam merasa mempunyai hak untuk menggunakan klaim Islam untuk menamakan pemikiran atau perjuangan politiknya. Kondisi seperti itu yang kini sedang dan mungkin akan terus berlangsung di Indonesia.

Masalah penggunaan nama Islam akan semakin meruncing ketika tiap-tiap faksi umat Islam merasa tidak terwakili oleh perjuangan politik yang mengatasnamakan Islam oleh kelompok lain. Sebagai contoh, ketika PKS memposisikan diri sebagai Partai Dakwah, tidak semua umat Islam merasa menjadi bagian dari perjuangan dakwah PKS.

Pun begitu juga ketika PKB dan NU mengangkat tema Islam Nusantara sebagai identitas keislaman di Indonesia, semua simpatisan PKS, warga Muhammadiyah, apalagi jamaah Wahabi merasa tidak terwakili dengan identitas Islam yang diusung NU tersebut.

Masalah fragmentasi di tubuh umat Islam, sebagai konsekuensi dari tumbuh berkembangnya ragam penafsiran ini, yang sepertinya tidak begitu dicermati oleh Habib Rizieq. Seruan-seruan Habib Rizieq tentang perjuangan politik Islam, seperti menisbikan fenomena fragmentasi dan menafikan realitas multitafsir tentang Islam yang sudah ada di tengah-tengah umat Islam tersebut.

Ditambah lagi dengan belum terlihatnya di hadapan publik, usaha Habib Rizieq membangun komunikasi dengan ormas-ormas Islam, terutama NU dalam rangka membangun saling pemahaman terhadap tafsir yang digunakan di masing-masing organisasi.

Kondisi seperti itu diperparah lagi dengan sikap Habib Rizieq yang seperti "memusuhi" Ketua Tanfidziyah NU, yang merupakan simbol kehormatan warga NU. Bisa jadi, Habib Rizieq lupa bahwa kultur Islam tradisional lebih bercorak patronisme dibandingkan dengan kultur Islam moderen yang cenderung egaliter dan bebas. Padahal, jika kita lihat dari dekat kultur seperti NU pun juga berkembang di lingkungan FPI.

Tulisan ini saya coba sajikan secara obyektif, dengan tidak bermaksud men-diskredit-kan al-Mukarram Habib Rizieq Shihab. Terlepas dari kontroversi yang muncul dari manuver politik beliau, saya tetap menaruh hormat kepada beliau. Doa saya yang terbaik semoga Allah selalu menjaga dan melindungi beliau. Semoga Allah membuka pintu kebaikan bagi umat ini. [KARTANU] َ KH. Abdi Kurnia Djohan, MA, Pengurus LD NU Pusat, Pengasuh Ponpes Al-Hikam Depok dan Dosen Pasca Sarjana UI.

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/hal-hal-yang-tidak-disadari-oleh-habib-rizieq-ketika-mengendarai-fpi.html

Rabu, 09 September 2009

PCNU Surabaya Haramkan Memilih Pemimpin Non Muslim

KARTANU - Hukum memilih pemimpin non muslim untuk menjadi bupati, gubernur maupun presiden, hingga kini masih menjadi isu menarik di kalangan pesantren dan umat Islam pada umumnya. Bertahun-tahun lamanya, isu pemimpin non muslim dijadikan perdebatan wacana maupun praksis.

Termasuk oleh PCNU Surabaya beberapa waktu lalu. Untuk menjawab pertanyaan seputar pemimpin non muslim yang jadi penguasa, agenda bahtsul masail diselenggarakan. Meskipun hasilnya bukan merupakan sebuah fatwa yang mengikat, namun sangat menarik untuk diulas. Berikut ini adalah hasilnya.

PCNU Surabaya Haramkan Memilih Pemimpin Non Muslim - KARTANU
PCNU Surabaya Haramkan Memilih Pemimpin Non Muslim - KARTANU


PCNU Surabaya Haramkan Memilih Pemimpin Non Muslim

Deskripsi Masalah:

Sistem demokrasi dan pemilihan langsung yang berlaku di Indonesia memungkinkan semua orang berkompetisi menjadi kandidat pimpinan baik di tingkat pusat maupun daerah, sehingga terurailah monopoli etnik, ras maupun agama untuk menduduki tampuk kepempimpinan.

KARTANU

Namun demikian, secara riil hal ini memunculkan problem tersendiri dan menjadi perbincangan hangat ketika ci suatu daerah yang mayoritas masyarakatnya menganut agama atau merupakan suku/ras tertentu, sementara bakal calon pemimpin yang ada dan berkemungkinan memenangkan suksesi justru dari penganut agama atau suku/ras lainnya.

Semisal daerah mayoritas muslim, justru yang kuat ternyata dari non muslim. Selain itu, adapula seorang muslim yang munkin saja secara politik lebih dekat dengan non muslim sehingga menjadi tim suksesnya.

KARTANU

Pertanyaan:

1. Apakah seorang muslim boleh memilih kandidat pemimpin non muslim, baik di tingkat daerah seperti Bupati/Walikota/Wakil, maupun di tingkat yang lebih tinggi seperti Gubernur/Wakil Gubernur dan Presiden/Wakil Presiden?

2. Apakah hukum memilih calon wakil rakyat (DPRD/DPR, DPD) sama hukumnya dengan memilih kandidat pemimpin non muslim?

3. Apakah seorang muslim dibenarkan menjadi tim sukses calon pemimpin/wakil rakyat non muslim (eksekutif dan legislatif), karena kedekatan politik dan pertimbangan politik lain yang terkadang tidak dipahami oleh masyarakat pada umumnya?

Mukadimah:

Pembahasan permasalahan ini tidak dimaksudkan untuk menebarkan isu SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan) dan merusak hubungan lahiriah (muamalah zhahirah) yang telah terjalin secara baik antara muslim dan non muslim di Indonesia. Namun benar-benar dimaksudkan sebagai petunjuk (irsyad) bagi kaum muslimin dalam berpartisipasi membangun negeri sesuai ajaran agama yang diyakininya.

Pembahasan serupa pernah diselenggarakan dalam Muktamar NU Ke-30 di PP Lirboyo Kota Kediri Jawa Timur, 21-27 November 1999. Namun keputusan tersebut tidak secara terang-terangan mencantumkan, bahwa non muslim yang menangani urusan kaum muslimin dalam kondisi darurat wajib harus dicegah agar tidak sampai menguasai dan mendominasi (istila) satu orang pun dari kaum muslimin. Sebab itu, keputusan dalam pembahasan ini secara prinsip tidak bertentangan dengan keputusan Muktamar NU tersebut.

Jawaban No. 1:

Hukum memilih pemimpin non muslim seperti Bupati/Walikota dan Wakil Bupati/Wakil Walikota, Gubernur/Wakil Gubernur dan Presiden/Wakil Presiden adalah haram. Sebab, memilihnya berarti mengangkatnya sebagai pemimpin dan menjadikan kaum muslimin di bawah kekuasaan, dominasi dan superioritasnya. Hal ini juga selaras dengan firman Allah:

“Wahai orang-orang yang beriman, jangan kalian jadikan kaum Yahudi dan Nasrani sebagai penolong/penguasa. Sebagian mereka menjadi penolong sebagian yang lain. Orang dari kalian yang menolong mereka, maka ia termasuk bagian darinya. Sungguh Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS. al-Maidah: 51)

“Wahai orang-orang yang beriman, jangan kalian jadikan orang-orang yang menjadikan agama kalian sebagai gurauan dan permainan dari golongan ahli kitab dari sebelum kalian dan orang-orang kafir sebagai penolong/penguasa. Bertakwalah kalian kepada Allah jikan kalian adalah orang-orang yang beriman. (QS. al-Maidah: 51)

Beberapa Pertimbangan:

Dalam kebanyakan kasus yang dikaji kitab-kitab fikih, hukum menguasakan non muslim untuk menangani urusan kaum muslimin adalah haram. Seperti keharaman meminta tolong non muslim untuk memerangi pemberontak, menjadikannya sebagai eksekutor hukuman mati dan semisalnya, mengangkatnya sebagai pegawai bait al-mal dan penarik kharraj (semacam pajak), menjadikannya sebagai wazir at-tanfidz (semacam tim pelaksana dalam kementerian di sistem ketatanegaraan Islam klasik), serta mengurus urusan kaum muslimin secara umum.

Meskipun ada pendapat ulama (Syaikh Ali Syibramalisi) yang mengecualikan keharaman dalam bidang-bidang tertentu yang dari sisi kemaslahatan penangannya harus diserahkan kepada non muslim―baik karena tidak adanya muslim yang mampu menanganinya atau karena tampaknya pengkhianatan darinya―, namun pendapat tersebut tidak bisa digunakan untuk melegitimasi kebolehan memilih pemimpin non muslim.

Sebab kekuasaan, dominasi, dan superioritasnya baik dalam ucapan maupun perbuatan terhadap rakyat yang muslim sangat besar dan tidak terhindarkan. Selain itu, kewajiban adanya kontrol yang efektif pun tidak mungkin terpenuhi, yaitu mengawasi dan mencegahnya agar tidak menguasai dan mendominasi satu orang pun dari kaum muslimin.

Meskipun dalam beberapa kasus yang disebutkan pada poin; 1) terdapat khilaf, seperti menjadikan non muslim sebagai wazir at-tanfidz dan menjadikannya sebagai petugas penarik pajak. Namun pendapat yang lemah yang membolehkannya ini tidak bisa dijadikan dasar untuk membolehkan memilih pemimpin non muslim.

Sebab unsur kekuasaan, dominasi dan superioritas non muslim atas kaum muslimin dalam kasus-kasus tersebut sangat kecil atau bahkan tidak ada. Tidak sebagaimana dalam kasus pemimpin non muslim menjadi Bupati/Walikota dan Wakil Bupati/Walikota, Gubernur/Wakil Gubernur, dan Presiden/Wakil Presiden, yang meskipun secara legal formal sistem tata negara modern merupakan lembaga eksekutif atau pelaksana saja, namun pada kenyataannya unsur kekuasaan, dominasi dan superioritasnya terhadap rakyat muslim sangat besar.

Selain itu, kewenangannya dalam mengambil berbagai kebijakan juga sangat besar, berbeda dengan wazir at-tanfidz maupun petugas penarik pajak yang hanya murni sebagai pelaksana saja.

Sistem trias politica yang membagi kekuasaan dalam lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif, yang diterapkan di Indonesia tidak dapat menafikan unsur dominasi dan superioritas masing-masing lembaga terhadap rakyat.

Karena itu, asumsi bahwa rumusan hukum fikih mazhab sama sekali tidak bisa diterapkan dalam konteks perpolitikan sekarang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Asumsi memilih pemimpin non muslim sebagai strategi politik untuk mencapai kepentingan yang lebih besar bagi kaum muslimin juga tidak dapat dibenarkan. Sebab hal ini secara nyata justru membahayakan kaum muslimin.

Pendapat ulama yang terkesan lebih mengutamakan kekuasaan sekuler yang adil daripada kekuasaan Islam yang zalim dan jargon "pemimpin kafir yang adil lebih baik daripada pemimpin muslim yang zalim," harus dipahami dalam konteks menyampaikan urgensitas keadilan bagi suatu pemerintahan, sebagaimana pendapat ulama Ahlussunnah wal Jamaah, bukan dalam konteks melegitimasi kebolehan memilih pemimpin non muslim.

Asumsi bahwa penafsiran kata auliya dengan makna pemimpin/penguasa dalam beberapa ayat yang menyinggung hubungan muslim dan non muslim, semisal QS. al-Maidah: 51 dan 57—adalah penafsiran yang salah, sehingga digunakan untuk melegitimasi bolehnya memilih pemimpin non muslim, tidak sepenuhnya benar.

Ayat-ayat tersebut oleh sebagian ulama juga digunakan sebagai landasan ketidakbolehan menguasakan urusan ketatanegaraan kaum muslimin kepada non muslim, seperti Khalifah Sayyidina Umar bin al-Khattab ra dan Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra sebagaimana dikutip dalam berbagai kitab fikih siyasah. Seperti dalam Husn as-Suluk al-Hafizh Daulah al-Muluk (h. 161) karya Muhammad bin Muhammad al-Mushili as-Syafii, Maalim al-Qurbah fi Thalab al-Hisbah (h. 44) karya Ibn al-Ukhuwwah al-Qurasyi as-Syafi’i, dan Siraj al-Muluk (h. 111) karya Muhamad bin al-Walid at-Tharthusyi al-Maliki.

Jawaban 2:

Hukum memilih calon wakil rakyat non muslim (DPRD/DPR—yang memiliki fungsi legislasi, fungsi anggaran dan fungsi pengawasan—, dan DPD—yang memiliki fungsi legislasi, pertimbangan dan pengawasan—) sama dengan hukum memilih pemimpin non muslim yaitu haram, karena termasuk memberi kuasa non muslim atas kaum muslimin dan pemilih tidak mampu mencegahnya dari mengkhianati kepentingan kaum muslimin.

Jawaban 3:

Orang Islam tidak dibenarkan (haram) menjadi tim sukses calon pemimpin/wakil rakyat non muslim, sebab termasuk menolong kemungkaran dan menjalin hubungan sosial dengan non muslim yang diharamkan.

Hasil Bahtsul Masail di dilaksanakan oleh PCNU Kota Surabaya Periode 2015-2020 M di Masjid Sabil al-Mutathahhirin Barata Jaya Surabaya, Ahad 25 September 2016 dengan tim Musahhih (penashih) terdiri atas KH. Mas Sulaiman, KH. Mas Mahfudz, KH. Ahmad Asyhar Shofwan M.Pd.I., KH. Farohi Haroen dan KH. M. Ali Maghfur Syadzili Iskandar. S.Pd.I

Adapun tim perumus dalam agenda tersebut adalah K. Makruf Khozin, KH. Sholihin Hasan, M.H.I., K. Luqmanul Hakim, S.Pd.I dan K. Mas Gholib Basyaiban yang dimoderatori oleh Ahmad Muntaha AM dengan notulen KH. Muhammad Muhgits dan K. Nur Hadi, S.H.I. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/pcnu-surabaya-haramkan-memilih-pemimpin-non-muslim.html

Senin, 10 Agustus 2009

Sebut Pancasila Soekarno Ketuhanan Ada di Pantat, Habib Rizieq Dipolisikan Sukma

KARTANU – Puteri Proklamator Bung Karno Sukmawati Soekarnoputri melaporkan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq ke Bareskrim Polri atas tuduhan pelecehan Pancasila.‎ Dugaan pelecehan terhadap Pancasila dilakukan Habib Rizieq saat‎ gelaran Tabligh Akbar FPI.

“Saya datang sebagai ketua umum PNI Marhaenisme melaporkan Habib Rizieq perihal penodaan terhadap lambang dan dasar negara Pancasila. Serta menghina kehormatan martabat Dr. Ir Soekarno sebagai proklamator kemerdekaan Indonesia dan presiden pertama Republik Indonesia,” jelas Sukma di Gedung KKP Bahari II Bareskrim, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta, Kamis (27/10/2016).

Sebut Pancasila Soekarno Ketuhanan Ada di Pantat, Habib Rizieq Dipolisikan Sukma - KARTANU
Sebut Pancasila Soekarno Ketuhanan Ada di Pantat, Habib Rizieq Dipolisikan Sukma - KARTANU


Sebut Pancasila Soekarno Ketuhanan Ada di Pantat, Habib Rizieq Dipolisikan Sukma

Sebuah rekaman video berisi pernyataan Habib Rizieq yang menyebut ‘Pancasila Soekarno ketuhanan ada di pantat, sedangkan pancasila Piagam Jakarta ketuhanan ada di kepala’ menjadi barang bukti yang diajukan Sukma ke polisi.

Video Habib Rizieq

KARTANU

Rekaman itu sebenarnya sudah beredar sejak dua tahun lalu, namun Sukma mengaku baru melihatnya pada Juni 2016 lalu‎ atau tepat saat peringatan Hari Lahir Pancasila.

“Ya, saya baru terima di bulan Juni ketika itu bulan lahir Pancasila. Saat itu, teman saya teringat rekaman tentang komentar atau pernyataan Rizieq tentang Pancasila tersebut yang terkait dengan Proklamator Bung Karno,” tutur Sukma.

KARTANU

“Sebagai anak saya marah sekali. Tersinggung karena kata-katanya sangat tidak santun, tidak hormat sebagai pimpinan ormas FPI,” jelas puteri ketiga Bung Karno itu.

‎Untuk itu, Sukma mendesak kepolisian segera memanggil Habib Rizieq agar pentolan FPI itu bisa memberikan klarifikasi kepada masyarakat. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/sebut-pancasila-soekarno-ketuhanan-ada-di-pantat-habib-rizieq-dipolisikan.html

Jumat, 24 Juli 2009

Sebut Pahlawan Kafir Penghianat, Dwi Estiningsih Kader PKS Raih Gelar Ratu Hoax

KARTANU - Dwi Estiningsih (38), kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang pernah mencalon diri sebagai anggota legislatif DPRD Yogyakarta 2014-2019 menjadi tokoh yang layak mendapatkan gelar ratu hoax. Pasalnya, tweetnya di akun @estiningsihdwi, sungguh menyayat hati kebhinnekaan masyarakat Indonesia.

Pada Senin (19/12/2016) lalu, ia membuat pernyataan kontroversial atas terbitnya mata uang rupiah terbaru yang dianggap luar biasa karena hanya mencantumkan 5 nama pahlawan muslim, padahal muslim di Indonesia adalah mayoritas, "luar biasa negeri yg mayoritas Islam ini. Dari ratusan pahlawan, terpilih 5 dari 11 adalah pahlawan kafir," cuit Dwi. Simak tweetnya:

Tweet SARA Dwi Estiningsih Bukan hanya itu, ia juga menyatakan kalau mayoritas pahlawan non muslim adalah penghianat, "iya sebagian kecil dari non muslim berjuang, mayoritas pengkhianat. Untung sy belajar #sejarah," tulisnya, membalas akun Firdaus Amri yang menulis, "kan pahlawan yg berjuang untuk NKRI gak cuma dari kalangan muslim, Bu".

Sebut Pahlawan Kafir Penghianat, Dwi Estiningsih Kader PKS Raih Gelar Ratu Hoax - KARTANU
Sebut Pahlawan Kafir Penghianat, Dwi Estiningsih Kader PKS Raih Gelar Ratu Hoax - KARTANU


Sebut Pahlawan Kafir Penghianat, Dwi Estiningsih Kader PKS Raih Gelar Ratu Hoax

Sebut Pahlawan Nasional Sebagai Kafir

Kalau hanya mempertanyakan pemuatan tokoh muslim di uang kertas saja tidak masalah, namun jika sudah menyebut para pahlawan itu sebagai penghianat, tentu Dwi Estiningsih yang lulusan sarjana psikologi tersebut membuat blunder.

KARTANU

Penghianat adalah kalimat antagonis yang menjadi lawan istilah pahlawan. Tidak ada tokoh yang diberi gelar pahlawan jika rekam jejaknya terbukti berkhianat kepada negara. Sekali terbongkar, gelar pahlawan langsung dicabut.

KARTANU

Bukan kali ini saja Dwi Estiningsih membuat kontroversi di media sosial. Penelusuran KARTANU menemukan kalau muslimah cantik bergelar master ini sudah pernah membuat heboh jagad maya sejak 2014 silam.

Dwi Estiningsih pernah menyebar selebaran berisi isu SARA tentang "larangan pegawai BUMN menggunakan jilbab". Ini terjadi tahun 2014. Pada November 2016, sebulan lalu, ia juga membuat postingan hoax tentang "lambang PKI di uang pecahan 100.000," yang langsung dibantah oleh pihak Bank Indonesia. Ini buktinya:

Kader PKS Suka Buat Hoax

Hoax lambang PKI di pecahan 100.000 Sungguh luar biasa prestasi perempuan yang gagal nyaleg ini. Maka, KARTANU dengan senang hati memberikan gelar kepada Dwi Esti sebagai ratu hoax tahun ini. Selamat! [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/sebut-pahlawan-kafir-penghianat-dwi-estiningsih-kader-pks-dapat-gelar-ratu-hoax.html

Kamis, 29 Mei 2008

NU Jatim Ajak Pesantren Waspadai Peredaran Narkoba

Surabaya, KARTANU. Kalangan pesantren digoncangkan dengan kabar bahwa ada santri yang menggunakan narkotika dan obat/bahan berbahaya (narkoba) jenis ekstasi agar kuat berdzikir. Tak tanggung-tanggung, pernyataan tersebut disampaikan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komisaris Jenderal Budi Waseso. Dan secara terbuka, ia menyebut kasus tersebut ada di Jawa Timur.

"Pernyataan Budi Waseso mungkin ada benarnya. Itu sebagai peringatan bagi kita bahwa pengedar berusaha masuk ke segala lini, termasuk pesantren dengan segala cara," kata Ketua PWNU Jatim, KH Muhammad Hasan Mutawakkil Alallah, Sabtu (5/3).

NU Jatim Ajak Pesantren Waspadai Peredaran Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Jatim Ajak Pesantren Waspadai Peredaran Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)


NU Jatim Ajak Pesantren Waspadai Peredaran Narkoba

Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo ini mengaku bahwa dirinya hingga kini belum mendapatkan laporan dari pemangku pesantren di Jatim kalau ada santri yang mengonsumsi narkotik untuk memacu stamina agar kuat berzikir dalam waktu lama. "Saya tidak tahu kalau soal itu," kata Kiai Mutawakkil, sapaan akrabnya.

Kiai Mutawakkil justru mengkhawatirkan bahwa para pengedar bahan berbahaya tersebut memanfaatkan oknum santri yang mantan pecandu, agar memasukkan barang itu dan mengenalkannya kepada teman santri lain. "Misalnya, ada lulusan SMP yang biasa memakai narkoba, lalu SMA atau MA-nya diteruskan di pesantren. Kemungkinan dari situ narkoba bisa masuk pesantren," terangnya.

KARTANU

Kendati demikian, Ketua PWNU Jatim dua periode ini berharap bahwa kalangan pesantren untuk meningkatkan kewaspadaan. Apa yang disampaikan Budi Waseso tersebut sebagai peringatan kepada para pengasuh pesantren agar waspada terhadap peredaran narkotika. Dan Kiai Mutawakkil juga meminta BNN dapat menginstruksikan kepada jajaran di daerah agar menindak tegas jika ada anggota masyarakat yang mengedarkan barang haram tersebut di sekitar pesantren.

Sebagai langkah antisipasi, Kiai Mutawakkil berharap agar pesantren menerapkan aturan yang ketat terhadap para santri. "Yang rawan kan pesantren-pesantren yang tidak terlalu menerapkan peraturan ketat," pungkasnya.

KARTANU

Seperti yang beredar di sejumlah media, Kabid Pemberantasan dan Penindakan BNN Jatim, AKBP Bagijo Hadi Kurnijanto mengaku mengungkap kasus narkotika yang kebetulan melibatkan anak seorang kiai di Sumenep, Madura, Jatim.

"Itu hanya oknum yang kebetulan berada di lingkungan masyarakat pesantren," kata Bagijo, kala itu. Dia sendiri mengaku bahwa BNN belum menemukan bukti narkotik masuk pesantren. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/66288/nu-jatim-ajak-pesantren-waspadai-peredaran-narkoba

KARTANU

Selasa, 14 Agustus 2007

GP Ansor Pringsewu Fokuskan Pemberdayaan Ekonomi Organisasi

Pringsewu, KARTANU. Dalam rangka memaksimalkan roda organisasi, pemberdayaan ekonomi merupakan salah satu hal yang paling krusial untuk ditata ulang. Sebab suksesnya perekonomian suatu organisasi maka akan menjadi pemicu suksesnya program-program yang akan dikerjakan. Bahkan dalam lingkup negara, roda pemerintahan akan dikatakan berjalan dengan baik jika perekonomiannya berjalan dengan baik juga.

Memandang hal itu, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Pringsewu mulai memfokuskan diri menata ulang program pemberdayaan ekonomi organisasi.

GP Ansor Pringsewu Fokuskan Pemberdayaan Ekonomi Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Pringsewu Fokuskan Pemberdayaan Ekonomi Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)


GP Ansor Pringsewu Fokuskan Pemberdayaan Ekonomi Organisasi

Ditemui di kediamannya, Selasa sore (2/1/2016), Ketua PC GP Ansor Kabupaten Pringsewu, M Sofyan mengatakan bahwa salah satu pekerjaan rumah (PR) yang sampai dengan saat ini belum ada solusi yang tepat terkait masalah pemberdayaan ekonomi organisasi.

KARTANU

Ia menambahkan bahwa organisasi di bawah kepemimpinannya ini telah berupaya keras untuk mencari, menggali, dan menindaklanjuti segala kemungkinan yang bisa dijadikan solusi untuk mengatasi problematika perekonomian anggotanya, namun hasilnya belum maksimal.

"Kami sudah berupaya keras mencari solusi agar bagaimana pemberdayaan ekonomi di Ansor Kabupaten Pringsewu ini bisa optimal. Oleh karena itulah, saya beserta sahabat-sahabat yang lain mencoba untuk melakukan pendataan kualifikasi anggota sehingga nantinya dapat kami carikan solusinya terkait tingkat kualifikasi yang mereka miliki," ujar Sofyan.

KARTANU

Beberapa bentuk nyata yang sudah dilakukan GP Ansor Pringsewu dalam rangka mengoptimalkan pemberdayaan anggotanya adalah melalui bidang pendidikan, yaitu dengan cara membuka Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Bela Bangsa. Para anggota yang mempunyai kualitas dan kapasitas di bidang pendidikan, dapat dioptimalkan untuk mengelola LKP tersebut.

Selanjutnya di Bidang Keagamaan, Seni dan Budaya, mereka yang mempunyai kemampuan dalam berdakwah, bersyiar dan suka dengan musik hadroh, dioptimalkan melalui Majelis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor.

Dibidang kaderisasi, para anggota juga dioptimalkan melalui pelatihan-pelatihan baik yang bersifat keorganisasian maupun kewirausahaan sebagai modal ilmu untuk mereka melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat mendatangkan keuntungan bagi organisasi.

Yang paling terbaru adalah rencana pembukaan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Mini bernama PERTAMINU. Saat dikonfirmasi mengenai hal tersebut, M Sofyan membenarkan perihal pembukaan SPBU Mini dan sudah membahasnya dengan beberapa pengurus yang lain terkait hal tersebut.

"Dibidang Ekonomi, saat ini kami sedang mengkaji rencana pembukaan SPBU Mini yang akan kami buka di Kecamatan Ambarawa sebagai percontohan. Percontohan di sini maksudnya adalah kami akan menjadi Kecamatan Ambarawa sebagai barometer layak dan tidaknya untuk membuka SPBU Mini ini," tuturnya.

Kebetulan disana (Kecamatan Ambarawa), imbuhnya, sudah ada lokasi dan petugas yang nanti kami siapkan untuk mengelolanya. Sekarang tinggal mengkaji besaran pengadaan alat, sistem pengelolaan dan lain-lain. Jika prospeknya bagus, maka tidak menutup kemungkinan akan kami upayakan untuk dibuka di Kecamatan-Kecamatan yang lain sehingga setiap PAC nantinya akan mengelola satu SPBU Mini.

M Sofyan berharap dengan adanya SPBU Mini tersebut, program pemberdayaan ekonomi anggota dapat teratasi sehingga mereka dapat bersemangat dalam berjuang dan berkhidmat di Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Pringsewu. (Henudin/Fathoni)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/65497/gp-ansor-pringsewu-fokuskan-pemberdayaan-ekonomi-organisasi

KARTANU

Kamis, 04 Januari 2007

Harlah ke-58, IPPNU Gelar Tahlilan dan Istighotsah Serentak

Jakarta, KARTANU. Pimpinan Pusat IPPNU menginstruksikan kader IPPNU untuk menggelar tahlilan dan istighotsah dalam memperingati harlah ke-58 IPPNU. Instruksi ditujukan kepada pengurus IPPNU mulai dari tingkat pusat, wilayah, cabang hingga anak ranting.

Demikian disampaikan oleh Ketua Bidang Keorganisasian PP IPPNU Dewi Chandra kepada KARTANU di ruang sekretariat PP IPPNU, Kantor PBNU lantai enam, Jakarta Pusat, Senin (18/2) malam.

Rangkaian pembacaan tahlil akan secara khusus diarahkan untuk Ketua Umum Pertama PP IPPNU alm. Umroh Mahfudzoh dan pengurus lain IPPNU yang telah wafat, kata Dewi Chandra.

Dewi Chandra menambahkan, tahlilan dan istighotsah dilaksanakan dalam rangka mengenang jasa para pendiri IPPNU. Mengambil momentum harlah ke-58, IPPNU di setiap tingkat kepengurusan turut melestarikan tradisi NU dengan tahlil dan istighotsah.

Harlah ke-58, IPPNU Gelar Tahlilan dan Istighotsah Serentak (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah ke-58, IPPNU Gelar Tahlilan dan Istighotsah Serentak (Sumber Gambar : Nu Online)


Harlah ke-58, IPPNU Gelar Tahlilan dan Istighotsah Serentak

Dengan menggelar keduanya, IPPNU menegaskan kembali komitmen keaswajaan sesuai dengan paham NU. Keduanya diangkat ke muka dalam peringatan harlah ke-58 IPPNU sebagai wujud tanggung jawab kader muda NU ke depan, tambah Dewi Chandra.

Dewi Chandra yang ditemani beberapa pengurus PP IPPNU yang tengah mempersiapkan pelantikan PP IPPNU awal Maret nanti mengingatkan, hari lahir IPPNU jatuh pada tanggal 2 Maret 1955, setahun lebih muda dari tahun kelahiran IPNU.

KARTANU

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/42629/harlah-ke-58-ippnu-gelar-tahlilan-dan-istighotsah-serentak

KARTANU

KARTANU

Minggu, 15 Oktober 2006

BMTNU Jombang Optimalkan Pendirian Sejumlah Cabang

Jombang, KARTANU. Baitul Maal wat Tamwil (BMTNU) Jombang pusat terus mengoptimalkan pendirian-pendirian cabang BMTNU di sejumlah kecamatan di Jombang. Hal ini merupakn upaya warga nahdliyin setempat untuk menjembatani perekonomian masyarakat.Gambar sisip 1

Sebelumnya, 2 cabang BMTNU sudah berdiri dan beroperasi di masing-masing kantor Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) terkait. Yaitu di Kecamatan Bareng sebagai cabang perdana BMTNU Jombang, kemudian disusul Kecamatan Kesamben pada Bulan Februari lalu.

BMTNU Jombang Optimalkan Pendirian Sejumlah Cabang (Sumber Gambar : Nu Online)
BMTNU Jombang Optimalkan Pendirian Sejumlah Cabang (Sumber Gambar : Nu Online)


BMTNU Jombang Optimalkan Pendirian Sejumlah Cabang

Sekretaris BMTNU Jombang pusat, Muhammad Muchlis Irawan menyatakan bahwa pada tahun 2016 ini, pihaknya menargetkan dua hingga tiga pendirian cabang BMTNU di kecamatan-kecamatan tertentu. "Insyaallah pada tahun ini ada dua sampai tiga cabang lagi berdiri," katanya kepada KARTANU saat dihubungi, Jumat (19/3).

KARTANU

Sesuai dengan kebijakan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang untuk mendirikan lembaga keuangan sebagai strategi kesejahteraan warga nahdliyin, juga sebagai upaya mengembangkan dan memperkuat kelembagaan NU.

Selama dua periode dipimpin KH Isrofil Amar, memang ada target untuk mendirikan satu BMT di tingkat kabupaten dan tiga di MWCNU. Namun melihat rencana dan upaya pengurus BMTNU pusat tampak akan melebihi target tersebut. (Syamsul Arifin/Fathoni)

KARTANU

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/66639/bmtnu-jombang-optimalkan-pendirian-sejumlah-cabang

KARTANU

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KARTANU sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KARTANU. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KARTANU dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock