Tampilkan postingan dengan label Pustaka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pustaka. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Mei 2015

PWNU Sumut: Jaga Kesucian Ramadhan

Medan, KARTANU. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Propinsi Sumatera Utara (Sumut) mengimbau masyarakat menjaga kesucian dan kedamaian bulan Ramadhan, sehingga umat Islam dapat menjalankan ibadahnya dengan baik.

Imbauan itu disampaikan Rais Syuriyah PWNU Sumut Syekh H Mahmuddin Pasaribu dan Ketua Tanfidziyah PWNU Sumut H Ashari Tambunan, seusai memimpin rapat pembekalan tim Tim Safari Ramadhan PWNU Sumut, di kantor ormas Islam itu, Jalan Sei Batanghari Medan, Rabu (18/7) sore, sehubungan umat Islam akan melaksanakan puasa Ramadhan mulai 21 Juli.

PWNU Sumut: Jaga Kesucian Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Sumut: Jaga Kesucian Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)


PWNU Sumut: Jaga Kesucian Ramadhan

Hadir dalam rapat pembekalan itu, Sekretaris Tanfidziyah PWNU Sumut Drs H Misran Sihaloho, MPd, Wakil Sekretaris Drs H Khairuddin Hutasuhut, Katib Drs H Musaddad Lubis, MAg, Wakil Katib Abror M Dawud Faza MA, Ketua Lembaga Dakwah (LD) PWNU H Sori Monang Rangkuty MTh. Juga hadir sejumlah anggota Tim Safari Ramadhan PWNU di antaranya KH Asnan Ritonga MA, Drs H Adlin Damanik MAP, Prof Dr Katimin MAg, Drs H Abdullah Nasution, H Usman Lubis, Prof Dr H Pagar Hasibuan MA, H Syahrial Ams SH, MHum, Emir El Zuhdi Batubara, Dr H Hasan Mansur Nasution MA, H Darman Harahap dan anggota tim lainnya.

Syekh H Mahmuddin yang juga Tuan Guru di Ponpes Musthafawiyah Purba Baru Mandailing Natal (Madina) kemudian mengimbau umat Islam memanfaatkan Ramadhan seoptimal mungkin untuk melaksanakan ibadah, baik dari segi kuantitas maupun kualitas.

KARTANU

Umat Islam hendaknya dapat melakukan berbagai ibadah sunnah seperti yang dipraktekkan Rasulullah SAW dan sahabatnya, seperti itikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, berdoa qunut pada salat witir mulai tanggal 16 Ramadhan hingga akhir Ramadhan, tuturnya.

Kepada tim safari Ramadhan PWNU Sumut, Rais Syuriyah mengharapkan agar mlaksanakan tugasnya dengan baik, terutama memberi penjelasan menyangkut persoalan-persoalan Ramadhan yang dihadapi masyarakat sehari-hari, misalnya tata cara doa berbuka yang dilakukan setelah puasa dibatalkan terlebih dahulu.

KARTANU

Tingkatkan Kesalehan Sosial

Dalam kesempatan itu, Ketua Tanfidziyah PWNU Sumut H Ashari Tambunan meminta kepada Tim Safari Ramadhan PWNU agar mubalig NU yang tergabung dalam Tim Safari Ramadhan PWNU tidak semata-mata menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan persoalan ibadah, tapi juga menyampaikan pesan-pesan agama terhadap peningkatan kesalehan sosial umat Islam, misalnya tolong menolong dan kepedulian terhadap kesulitan sesama.

Mubalig NU harus mampu mengetuk hati umat Islam agar peduli sesama. Misalnya, jangan ada umat Islam yang kekenyangan saat makan sahur, sementara tetangganya tidak bisa makan sahur karena kemiskinan, ucap Ashari seraya menambahkan, mubalig NU harus menjadi lokomotif peningkatan ibadah sosial umat Islam.

Selain itu, Ashari mengingatkan, mubalig NU tidak berkutat pada persoalan ibadah yang mengandung khilafiyah, namun memberikan penjelasan yang mendamaikan dan mempererat ukhuwah islamiyah. Untuk itu, dia berharap program Ramadhan PWNU tahun ini lebih baik dan lebih bermanfaat bagi masyarakat.

Wakil Sekretars PWNU Sumut, Khairuddin Hutasuhut mengatakan, PWNU telah membentuk Tim Safari Ramadhan yang terbagi dalam tujuh zona. Yakni zona I Langkat Binjai dan Medan. Zona II Deli Serdang, Tebing Tinggi, dan Serdang Bedagai. Zona III Tanjung Balai, Asahan dan Batubara. Zona IV Paluta, Palas dan Labuhan Batu. Zona V Madina, P Sidimpuan, dan Tapsel. Zona VI P Siantar dan Simalungun, zonz VII Tapteng dan Sibolga.

Redaktur : Mukafi Niam

Kontributor: Hamdani Nasution

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/38840/pwnu-sumut-jaga-kesucian-ramadhan

KARTANU

Kamis, 09 Januari 2014

Menengok Kesiapan Pesantren Tebuireng untuk Muktamar

Jombang, KARTANU. Terpilihnya kota Jombang sebagai tuan rumah Muktamar ke-33 NU pada 1-5 Agustus mendatang merupakan suatu keistimewaan tersendiri. Lebih-lebih bagi Pesantren Tebuireng, pesantren rintisan pendiri NU, Hadratussyaikh KH M Hasyim Asyari.

Panitia dari Pesantren Tebuireng sendiri sudah memulai mempersiapkan diri khususnya dari segi infrastruktur untuk menyukseskan acara lima tahunan tersebut. Pelaksanaan Muktamar yang digelar di empat pesantren tersebut akan berbarengan dengan masa liburan santri.

Menengok Kesiapan Pesantren Tebuireng untuk Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)
Menengok Kesiapan Pesantren Tebuireng untuk Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)


Menengok Kesiapan Pesantren Tebuireng untuk Muktamar

Kita akan mempersiapkan sembilan asrama yang ada di Pesantren Tebuireng dan Madrasatul Quran, terang Ketua Panitia Lokal Pesantren Tebuireng H Abdul Ghofar ketika ditemui di kantor Yayasan Hasyim Asyari, Rabu (18/03).

Sekertaris Pesantren Tebuireng ini, juga menuturkan, lokasi salah satu sidang komisi pada Muktamar nanti akan dipusatkan di Gedung Yusuf Hasyim. Sarana MCK (mandi, cuci, dan kakus) juga sudah dipersiapkan.

KARTANU

KARTANU

Alhamdulillah di Pesantren Tebuireng, MCK juga memadahi. Jadi rata-ratanya satu kamar mandi untuk enam orang. Kalau di pesantren lain, sedang dibangun kamar mandi untuk memenuhi target kebutuhan MCK, ujarnya.

Jumlah Muktamirin yang menginap di Pesantren Tebuireng diperkirakan mencapai 1400 orang. Untuk itu, panitia lokal akan menyediakan relawan pemandu yang bertugas menjemput dan mengarahkan para muktamirin dari tempat pembukaan ke tempat penginapan. Mereka akan memandu para muktamirin dari awal kegiatan hingga usai.

Seperti direncanakan, Muktamar ke-33 NU akan dilaksanakan di lima titik lokasi, yaitu Alun-alun Kota Jombang dan empat pesantren besar, yakni di Tebuireng, Tambak Beras, Rejoso, dan Denanyar. Empat pesantren tersebut akan menjadi tempat penginapan muktamirin sekaligus lokasi sidang komisi dilaksanakan. Sedangkan Alun-alun Kota akan digunakan sebagai pusat kegiatan dan tempat pelaksanaan pembukaan, pleno, dan penutupan.

Kami belum bisa memastikan Tebuireng akan mendapatkan jatah komisi apa. Namun, informasi sementara adalah komisi rekomendasi. Sekali lagi itu masih belum pasti, ujar Gus Ghofar, sapaan akrabnya.

Panitia lokal akan terus berkordinasi dengan panitia daerah dan pantia pusat agar Muktamar NU ini berjalan dengan lancar. (Abror/Mahbib)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/58296/menengok-kesiapan-pesantren-tebuireng-untuk-muktamar

KARTANU

Kamis, 21 November 2013

Sutisna Senjaya, Tokoh Pers dari NU Jabar

Raden Sutisna Sendjaya lahir di Wanaraja, Garut, pada 27 Oktober tahun 1890 M dan wafat di Bandung pada 11 Desember tahun 1961. Selain sebagai tokoh NU, ia sangat dikenal sebagai tokoh pers di Jawa Barat.

Ia dikenal sebagai Pemimpin Redaksi Majalah al-Mawaidz; Pangrodjong Nahdlatoel Oelama yang diterbitkan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Tasikmalaya pada bulan Agustus 1933. Pengabdiannya di NU, ia lanjutkan hingga tingkat wilayah. Tahun 1948 menjadi ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Barat. Selain aktif di NU, ia juga salah seorang tokoh pergerakan di Paguyuban Pasundan.

Sutisna Senjaya, Tokoh Pers dari NU Jabar (Sumber Gambar : Nu Online)
Sutisna Senjaya, Tokoh Pers dari NU Jabar (Sumber Gambar : Nu Online)


Sutisna Senjaya, Tokoh Pers dari NU Jabar

Dalam dunia jurnalistik, selain di Al-Mawaidz, ia pernah menjadi redaktur di beberapa surat kabar pada masa penjajahan Belanda seperti Silliwangi (1921-1922). Aktif menulis di surat kabar Sipatahoenan (1923). Dalam menulis, ia sering menggunakan inisial Sutsen.

Pendidikan Sutsen ditempuh di Sakola Raja (KweekSchool) di Bandung pada tahun 1911. Sutsen pernah mengajar di HIS Banten kemudian di HIS Bandung. Kemudian ia melanjutkan belajar ke HKS, dan kemudian melanjutkan kembali kegiatan mengajar di HIS Pasundan 1 Tasikmalaya.

KARTANU

Pada zaman penjajahan Jepang, ia menjadi anggota Chuo Sangi in. Kemudian menjadi koordinator pergerakan perjuangan rakyat pada zaman revolusi fisik dan anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) Tasikmalaya.

Pada zaman penjajahan Belanda, Sutsen bersama pengurus NU Tasikmalaya seperti KH Ruhiat (ayah dari Rais Aam PBNU KH Ilyah Ruhiat), berpandangan, gelar ulil amri bagi pemerintah kolonial harus dipandang sebagai suatu siyasi (politik). Pemerintah Hindia Belanda sebagai pemerintahan yang sah, tetapi statusnya tetaplah penguasa asing yang hanya berkuasa secara politik.

KARTANU

Dengan demikian, pemerintah hanya berwenang mengatur masyarakat berkaitan urusan politik. Masalah lain seperti keagamaan, sejatinya diserahkan sepenuhnya kepada para ulama yang menjadi panutan rakyat.

Zaman kemerdekaan, pada tahun 1952, Sutsen menjadi Kepala Kantor Urusan Agama di Jakarta. Setelah pensiun pada tahun 1954, ia bergabung dengan Daya Sunda. Kemudian bersama teman-temannya kembali aktif dalam jurnalistik. Ia menerbitkan mingguan berbahasa Sunda Kalawarta Kudjang (1956) dan bertindak sebagai pemimpin redaksi. (Abdullah Alawi, dari berbagai sumber)

Dari (Tokoh) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/62679/sutisna-senjaya-tokoh-pers-dari-nu-jabar

KARTANU

Selasa, 19 November 2013

Habib Husain Muthohhar, Penyelamat Sang Saka Merah Putih

KARTANU - HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2016, tinggal menghitung hari. Terkait HUT RI, ada satu hal yang menjadi momen “suci” bangsa Indonesia, khususnya di saat detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI, yakni pengibaran bendera pusaka Sang Saka Merah Putih oleh Pasukan Pengibar Bendera Pusaka atau Paskibraka.

Sang Saka Merah Putih sebagai bendera pusaka ternyata mempunyai catatan sejarah yang cukup heroik sehingga harus diselamatkan dari penjajahan Belanda saat itu. Jika tidak, mungkin anak cucu keturunan bangsa Indonesia sekarang ini tidak dapat menyaksikan bendera pusaka sebagai salah satu bukti sejarah kemerdekaan Indonesia.

Habib Husain Muthohhar, Penyelamat Sang Saka Merah Putih - KARTANU
Habib Husain Muthohhar, Penyelamat Sang Saka Merah Putih - KARTANU


Habib Husain Muthohhar, Penyelamat Sang Saka Merah Putih

Tahukah Anda bahwa sang penyelamat bendera pusaka dari tangan penjajah saat itu adalah seorang habib, yang mempunyai darah pertalian keturunan dengan Sayyidina Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa alihi wa shohbihi wa sallam?

Sayyidil Habib Muhammad Husein Muthahar, beliau lah sang penyelamat bendera pusaka Sang Saka Merah Putih dari tangan penjajah. Tanpa jasa beliau, bangsa Indonesia sekarang mungkin sudah tidak dapat melihat lagi bendera pusaka yang dijahit oleh istri Presiden Soekarno, Ibu Fatmawati.

KARTANU

Saat itu, Presiden Soekarno menugaskan Habib Muhammad Husein Muthahar yang berpangkat mayor untuk menjaga dan menyelamatkan bendera pusaka dari tangan penjajahan Belanda meski harus dengan mengorbankan nyawanya. Amanah “menjaga bendera pusaka dengan nyawa” ini pun berhasil dilaksanakan dengan penuh perjuangan.

Inilah pesan Presiden Soekarno kepada Sang Habib: “Apa yang terjadi terhadap diriku, aku sendiri tidak tahu. Dengan ini aku memberikan tugas kepadamu pribadi. Dalam keadaan apapun juga, aku memerintahkan kepadamu untuk menjaga bendera kita dengan nyawamu. Ini tidak boleh jatuh ke tangan musuh. Di satu waktu, jika Tuhan mengizinkannya engkau mengembalikannya kepadaku sendiri dan tidak kepada siapa pun kecuali kepada orang yang menggantikanku sekiranya umurku pendek. Andaikata engkau gugur dalam menyelamatkan bendera ini, percayakanlah tugasmu kepada orang lain dan dia harus menyerahkannya ke tanganku sendiri sebagaimana engkau mengerjakannya.”

KARTANU

KH Achmad Chalwani Nawawi, pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan, Gebang, Purworejo yang juga Mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah menuturkan bahwa Habib Muhammad Husein Muthahar yang merupakan penyelamat bendera pusaka ini adalah paman dari Habib Umar Muthohar Semarang.

Kisah heroik sejarah penyelamatan bendera pusaka oleh Habib Muhammad Husein Muthahar ini mesti diketahui oleh bangsa Indonesia khsusunya umat Islam agar tahu bagaimana perjuangan para pendahulu bangsa ini dalam mempertahankan kemerdekan Republik Indonesia. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/habib-husain-muthohhar-penyelamat-sang-saka-merah-putih.html

Sabtu, 06 Juli 2013

Puisi Terakhir WS Rendra Bikin Merinding Baca Wasiatnya

KARTANU - Sastrawan WS Rendra telah meninggal tahun 2009 lalu (semoga Alloh merahmatinya). Namun sebelum meninggal dan saat terbaring sakit, beliau sempat menulis sebuah puisi.

Puisi ini sangat dalam maknanya. Bahwa sesungguhnya hidup ini adalah amanah, dan apa yang ada pada diri kita adalah titipan semata. Maka tidak boleh ada yang disombongkan sedikitpun dari kita, karena semua itu hanyalah titipan. Yang suatu saat akan diambil kembali oleh Nya. Hanya saja kita tidak pernah tahu, kapan Dia akan mengambilnya.

Puisi ini juga mengingatkan akan pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian. Seperti sabda Nabi “Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan, yakni kematian”.[HR. At-Tirmidziy (no. 2307), An-Nasa'iy (1824) dan Ibnu Majah (no. 4258). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Al-Irwa' (no. 682)].

Puisi Terakhir WS Rendra Bikin Merinding Baca Wasiatnya - KARTANU
Puisi Terakhir WS Rendra Bikin Merinding Baca Wasiatnya - KARTANU


Puisi Terakhir WS Rendra Bikin Merinding Baca Wasiatnya

Al-Imam Ath-Thibiy -rahimahullah- berkata, “Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- menyerupakan segala kelezatan yang fana dan segala keinginan duniawi dan kehancurannya dengan sebuah bangunan yang menjulang. Bangunan itu akan runtuh oleh berbagai goncangan hebat. Lalu Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- memerintahkan orang yang terlena dengan dunia untuk mengingat penghancur kelezatan tersebut (yakni, maut) agar ia tak terus-menerus condong kepadanya, (sehingga) ia pun menyibukkan diri dengan sesuatu yang wajib atas dirinya berupa penghadapan diri kepada kampung abadi (yaitu, akhirat)”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (6/92)]

KARTANU

Berikut adalah puisi terakhir dari WS Rendra, semoga bisa menjadi renungan dan peringatan:

KARTANU

Hidup itu seperti uap,

yang sebentar saja kelihatan, lalu lenyap!

Ketika orang memuji milikku,

aku berkata bahwa ini hanya titipan saja.

Bahwa mobilku adalah titipan-Nya,

Bahwa rumahku adalah titipan-Nya,

Bahwa hartaku adalah titipan-Nya,

Bahwa putra-putriku hanyalah titipan-Nya ...

Tapi mengapa aku tidak pernah bertanya,

"Mengapa Dia menitipkannya kepadaku?"

"Untuk apa Dia menitipkan semuanya kepadaku?"

Dan kalau bukan milikku, apa yang seharusnya aku lakukan untuk milik-Nya ini?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya? Malahan ketika diminta kembali,

kusebut itu musibah,

kusebut itu ujian,

kusebut itu petaka,

kusebut itu apa saja ...

Untuk melukiskan, bahwa semua itu adalah derita ...

Ketika aku berdo'a, kuminta titipan yang cocok dengan kebutuhan duniawi,

Aku ingin lebih banyak harta,

Aku ingin lebih banyak mobil,

Aku ingin lebih banyak rumah,

Aku ingin lebih banyak popularitas,

Dan kutolak sakit,

Kutolak kemiskinan,

Seolah semua derita adalah hukuman bagiku. Seolah keadilan dan kasih-Nya, harus berjalan seperti penyelesaian matematika dan sesuai dengan kehendakku.

Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita itu menjauh dariku,

Dan nikmat dunia seharusnya kerap menghampiriku ... Betapa curangnya aku,

Kuperlakukan Dia seolah "Mitra Dagang" ku dan bukan sebagai "Kekasih"!

Kuminta DIA membalas “perlakuan baikku” dan menolak keputusan-Nya yang tidak sesuai dengan keinginanku ...

Duh Allah ...

Padahal setiap hari kuucapkan,

“Hidup dan Matiku, Hanyalah untukMu ya Allah, ampuni aku, ya Allah ... Mulai hari ini, ajari aku agar menjadi pribadi yang selalu bersyukur dalam setiap keadaan dan menjadi bijaksana, mau menuruti kehendakmu saja ya Allah ...

Sebab aku yakin Engkau akan memberikan anugerah dalam hidupku .. Kehendakmu adalah yang terbaik bagiku ...

Semoga manfaat

Sahabatmu...

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/04/puisi-terakhir-ws-rendra-bikin-merinding-baca-wasiatnya.html

Jumat, 21 Desember 2012

Doktrin Sufi Revolusioner

Fenomena historis, simbol-simbol ritual keagamaan dan norma-norma konseptual ajaran agama mengandung pesan-pesan etika pembebasan bagi kehidupan manusia. Ruh agama mengajarkan perlawanan baik dalam bentuk perlawanan kultural, perlawanan politis, perlawanan psikologis, dan segala perlawan lainnya.

Fungsi agama adalah sebagai pembebas yakni wahana pemberontakan manusia dari berbagai ketertindasan karena pemberontakan adalah penolakan terhadap otoritas. Terkadang pemberontakan terjadi karena pergolakan sosial yang mendapatkan legitimasi keagamaan. Buku ini menjadi bukti bahwa agama tampil sebagai mozaik etis pembebasan dalam pemberontakan petani Banten pada 9 Juli 1888.

Doktrin Sufi Revolusioner (Sumber Gambar : Nu Online)
Doktrin Sufi Revolusioner (Sumber Gambar : Nu Online)


Doktrin Sufi Revolusioner

Dalam altar tahun 1870 hingga 1888, rakyat Banten tunduk dalam kuasa pamong pemerintahan. Para pamong praja menjadi agen-agen kolonial sebagai pemungut pajak rakyat Banten. Petani Banten tercekik karena kewajiban membayar pajak dan harus menjual hasil pertaniannya dengan harga yang rendah. Ditambah lagi wabah penyakit dan bencana alam yang semuanya berkelit kelindan menjadi sebuah penderitaan yang kompleks. Hal ini ikut mendorong para petani untuk mengakhiri segala penderitaannya dengan memberontak dan melawan pemerintahan yang berafiliasi dengan pejabat-pejabat Belanda.

KARTANU

Realitanya, walaupun rakyat Banten memiliki tradisi memberontak namun mereka tunduk oleh kedigdayaan pemerintah. Keresahan sosial memuncak tapi tak bergeming. Pemberontakan mulai muncul dari kalangan elite agama dan kaum aristokrat yang juga diperkuat oleh kebencian religius mereka terhadap kekuasaan orang-orang kafir (halaman 9).

Hendri F Isnaeni dalam buku ini dengan narasi hidup yang dingin, lebih berwarna dan tentu meyakinkan, mampu mengurai benang merah doktrin agama yang dijadikan legitimasi dalam pemberontakan petani Banten. Dalam penelitiannya, Hendri mengungkap fakta-fakta penting yang tak diketahui sebelumnya termasuk tokoh penting dalam pemberontakan petani Banten yaitu Syekh Abd al-Karim al-Bantani. Syekh Abdul Karim adalah seorang ulama tarekat Qadiriyyah Naqsyabandiyyah yang berperan penting menjadi perumus dan penyedia ideologi revolusi (halaman 22).

Ruh agama ditafsirkan secara imajinatif dan kreatif serta revolusioner yang diracik menjadi sebuah gugus ideologi perlawanan terhadap kolonial. Racikan ideologi itu menjelma menjadi doktrin sufi dalam gerakan revolusioner yang membangkitkan jiwa-jiwa masyarakat Banten untuk berdiri tegak menantang imperialis Belanda.

KARTANU

Doktrin-doktrin keagamaan yang disampaikan Syekh Abd al-Karim al-Bantani yaitu kedatangan Imam Mahdi, peringatan terakhir Nabi Muhammad, mendirikan negara Islam (dar al-Islam), dan Perang Sabil (Jihad fi sabilillah), yang kemudian disemaikan oleh murid-muridnya seperti Haji Marjuki, Haji Tubagus Ismail, dan Haji Wasid, telah menjadi landasan rasional untuk melakukan pemberontakaan. Doktrin keagamaan tersebut menjadi sangkakala Syekh Abd al-Karim dalam menginspirasi rakyat Banten untuk melakukan pemberontakan.

Yang menarik, Hendri menafsirkan maksud dari doktrin kedatangan Imam Mahdi yaitu ramalah seorang tokoh penyelamat yang akan muncul menyelamatkan dunia dari segala macam dosa. Rupanya hal itu menjadi sebuah misi dalam rangka menyebarkan ketakutan bagi penguasa Belanda (halaman 66).

Buku ini dengan sangat brilian menggambarkan pola-pola pemberantakan petani Banten yang berawal dari konsilidasi yang berkedok pertemuan-pertemuan seperti pesta, pesta perkawinan atau pesta sunatan. Pertemuan-pertemuan yang lebih kecil menggunakan kedok pertemuan zikir. Yang terjadi, pihak pamong praja serta pada pejabat-pejabat Eropa sama sekali tidak melihat sebuah kegiatan yang mencurigakan atau membahayakan.

Membaca buku ini akan disuguhkan dengan kenyataan sejarah bahwa kebangkitan agama telah menjadi gerakan revolusioner yang dibawa oleh para ulama dan para petani yang tertindas dalam kuasa pemerintahan Eropa dan pamong praja Banten. Sebuah buku yang ditulis oleh sejarawan muda yang prolifik turut mengungkap sejarah khazanah intelektual Islam nusantara dengan narasi yang brilian dan teori yang kokoh.

Judul : Doktrin Agama Syekh Abd Karim Al-Bantani Dalam Pemberontakan Petani Banten 1888

Penulis : Hendri F Isnaeni

Penerbit : Kreasi Cendikia Pustaka

Cetakan : I, September 2012

Tebal : x + 118 halaman

Peresensi: Wildani Hefni, Peneliti di Lembaga Kajian Pendidikan, Keislaman, dan Sosial (LekDiS), Jakarta

Dari (Pustaka) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/45505/doktrin-sufi-revolusioner

Selasa, 11 Oktober 2011

Kiai Said: NU Gerak Cepat Membangun Jejaring Bisnis

KARTANU - Nahdlatul Ulama (NU) harus terus berusaha mencari terobosan membantu ekonomi masyarakat. Meskipun bidang ekonomi ini sulit diwujudkan keberhasilannya, NU harus tetap optimis dan tidak boleh putus asa.

"Sebelum bekerja, lakukan identifikasi serta pemetaan program dan kegiatan yang sesuai dengan amanat Muktamar NU ke-33 Jombang," kata Ketum PBNU, Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, MA dalam sambutannya saat membuka Rapat Kerja (Raker) Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Jum'at (17/02/2017).

Kiai Said Aqil menegaskan, LPNU juga perlu secepatnya menindaklanjuti jejaring bisnis yang sudah terbentuk pasca NU-Expo di Surabaya bulan lalu dan expo-expo sebelumnya.

Kiai Said: NU Gerak Cepat Membangun Jejaring Bisnis - KARTANU
Kiai Said: NU Gerak Cepat Membangun Jejaring Bisnis - KARTANU


Kiai Said: NU Gerak Cepat Membangun Jejaring Bisnis

Untuk wilayah Kalimantan misalnya, potensi apa yang bisa diangkat hingga dapat meningkatkan daya ekonomi masyarakat. "Silakan bersinergi dengan pemerintah, saya siap menjembatani," kata kiai asal Cirebon ini.

KARTANU

Sementara, Ketua LPNU, Dr. H. Abidin HH akan menata dan mengevaluasi kinerja lembaganya.

KARTANU

"Kita akan evaluasi seluruhnya dan kita rencanakan untuk tahun mendatang terutama menentukan skala prioritas," kata H. Abidin dalam arahannya kepada peserta Raker.

Masih kata Abidin, potensi setiap daerah berbeda-beda, namun bukan berarti skala prioritas itu mengorbankan daerah tertentu. Skala prioritas didasarkan pada yang paling mungkin dan mendesak untuk dilakukan mulai tahun ini.

"Semua bisa dilakukan hanya saya akan fokus untuk kerja satu tahun mendatang," kata Abidin.[KARTANU/ anw/ksf/dan]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/kiai-said-nu-gerak-cepat-membangun-jejaring-bisnis.html

Senin, 30 Mei 2011

Ini Ijazah KH Syaroni Ahmadi Kudus Bisa Cepat Naik Haji

KARTANU - Suatu hari di tahun 1990-an, KH M Sya’roni Ahmadi mengadu kepada gurunya, KH Bisri Musthofa, ayahanda Gus Mus, tentang keinginan berangkat ke tanah suci yang belum juga terpenuhi. Singkat cerita, KH Bisri Musthofa memberikan trik khusus kepada murid kesayangannya itu supaya keinginan untuk beribadah ke tanah suci segera terwujud.

KH. Sya’roni pun segera mengamalkan apa yang dipesankan oleh sang guru, yakni salat Tahajjud setiap malam, cukup dua rakaat, membaca surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlas. Setelah salam mewirid istighfar 70 kali, selawat nabi 100 kali, serta lafadz “yaa syakuur” 1000 kali. KH. Sya’roni benar-benar mengamalkannya dengan istiqamah setiap malamnya.

Sampai tiba suatu hari, KH. Sya’roni didatangi tamu seorang lelaki muda, gagah dan tampan yang tak dikenal. Rupanya, ia merupakan alumni madrasah Qudsiyyah Kudus. Kepada beliau, lelaki ini mengaku bahwa saat itu tengah menjabat sebagai seorang petinggi kolonel.

Ini Ijazah KH Syaroni Ahmadi Kudus Bisa Cepat Naik Haji - KARTANU
Ini Ijazah KH Syaroni Ahmadi Kudus Bisa Cepat Naik Haji - KARTANU


Ini Ijazah KH Syaroni Ahmadi Kudus Bisa Cepat Naik Haji

Tiba-tiba lelaki tadi bertanya, apakah KH. Sya’roni masih mengajar di Qudsiyyah. Jawabannya “masih”. Lalu kolonel tadi kembali bertanya, “naik apa?”. KH. Sya’roni agaknya merasa aneh dengan pertanyaan ini, sebab dengan posisi tempat tinggal dan madrasah yang tak jauh, tentu saja tidak ada jawaban lain selain “sepeda,” yang pantas untuk jawaban saat itu.

KARTANU

Tak pernah menyana sebelumnya, setelah mendengar jawaban “sepeda”, kolonel muda itu berujar dengan nada yang amat serius, “Bagaimana kalau Bapak Sya’roni saya belikan mobil?”

KARTANU

KH. Sya’roni terdiam. Betapa berbudinya murid yang satu ini. Lama tidak pernah bertemu, kini jauh-jauh mendatangi guru masa kecilnya untuk menawari sebuah mobil gratis. Sebuah mobil yang dimaksud mengganti sepeda tua untuk berangkat mengajar ke madrasah. Cukup geli rasanya mengingat betapa biasanya murid di madrasahnya sering menunggak SPP. Sekarang malah ada murid yang menawari mobil baru gratis. KH. Sya’roni menangis, terharu dengan tingkah kolonel santun ini.

Tak ingin berlama-lama hanyut dalam keharuan, KH. Sya’roni kemudian memutuskan untuk ‘menawar’ bakal hadiahnya.

“Kalau misalkan saya minta ganti selain mobil, bisa nggak?” tawar KH. Sya’roni pada kolonel muda.

“Selain mobil, emm… apa itu?” tanya kolonel.

“Naik haji,” jawab KH. Sya’roni mantab.

“Oh, tentu saja bisa.”

Jawaban kolonel ini sekaligus menjawab doa KH Sya’roni selama bertahun-tahun. Akhirnya, beliau membuktikan sendiri bahwa lafal “yaa syakuur” yang diijazahkan oleh KH Bisri Musthofa memang mujarab.

Setelah sukses mengamalkan “yaa syakuur” sendiri, beliau mengajak keluarganya untuk turut juga mengamalkannya setiap malam. Dan benar, beberapa tahun kemudian, KH Sya’roni berangkat ke tanah suci untuk yang kedua kali. Beliau diajak oleh seorang aghniya’. Jika yang pertama dulu beliau berangkat sendiri, maka yang kedua ini beliau berangkat bersama istrinya. Dan tentunya, tanpa biaya, berkat “yaa Syakuur”. Begitu, Allah memberikan jalan bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya, dengan perantara yang kadang tak terduga, termasuk wirid “yaa Syakuur”.

Dan kini, Mustasyar PBNU itu mengajak kita untuk bersama-sama turut juga mengikuti jejaknya, mengamalkan wirid “yaa Syakuur”, agar segera memenuhi panggilan ke Baitullah. Tentu saja, dengan tanpa meninggalkan rangkaian amalan sebelumnya yang juga diamalkan oleh KH. Sya’roni secara tekun dan niat yang ikhlas. [KARTANU/ istahiyyah]

Keterangan:

Ditulis berdasarkan mauidhoh hasanah yang disampaikan KH Sya’roni Ahmadi pada peringatan harlah Madrasah NU Mu’allimat Kudus di gedung JHK, Kudus, Rabu Pon (12 Muharrom 1436 H).

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/ini-ijazah-kh-syaroni-ahmadi-kudus-bisa-cepat-naik-haji.html

Selasa, 14 September 2010

Mengungkap Keagungan dan Kemuliaan Rasulullah

Di zaman yang serba modern ini, segala hal dituntut harus sesuai dengan akal (rasio), sehingga apa-apa yang bertentangan dengan kaidah akal, hukumnya wajib ditolak. Hal ini pula yang melatarbelakangi muncul dan berkembangnya kaum-kaum modernis sebagai bentuk perlawanan dari kaum tradisional yang mereka pandang banyak amaliyah-amaliyahnya bertentangan dengan rasio, sehingga mereka mencap para kaum tradisionalis sebagai kaum yang gandrung pada Takhayyul, Bidah dan Churafat (TBC). Sehingga gerakan purifikasi mereka adalah Kembali kepada Al-Quran dan al-Hadist, padahal untuk kembali kepada dua sumber hukum tersebut tidak semudah apa yang mereka gembor-gemborkan. Dibutuhkan berbagai disiplin keilmuan untuk memahami apa yang ada dalam dua sumber tersebut,

Pada kesempatan ini, Abdul Aziz Sukarnawadi menulis sebuah karya yang mengupas tentang keagungan-keagungan yang dimiliki oleh Sayyidina Muhammad, yang selama ini banyak yang tidak diketahui oleh umat Islam pada umumnya. Dalam buku ini membahas tentang beberapa tema, contohnya tentang maulid, tentang Rasulullah sebagai ciptaan pertama Allah yang paling agung, dari dan untuk beliau terciptalah alam semesta beserta isinya, tentang memuji Rasulullah dapat menyembuhkan penyakit lumpuh dan membuka segala gerbang kebajikan, tawasul, keistimewaan dan kesaktian shalawat dan masih banyak yang lain. Namun di sini saya menjabarkan sedikit dari isi yang ada dalam buku ini.

Mengungkap Keagungan dan Kemuliaan Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengungkap Keagungan dan Kemuliaan Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)


Mengungkap Keagungan dan Kemuliaan Rasulullah

Sayyidina Muhammad, makhluk pertama

KARTANU

Jauh sebelum terwujud ruang dan masa, sebelum tercipta langit dan bumi, sebelum tergagas siang dan malam, sebelum terencana dunia dan akhirat, bahkan jauh sebelum terbina Arsyi, Kursi, Lauh dan Qalam. Ketika itu tiada satu pun bernama makhluk, yang ada hanyalah Sang Maha awal tanpa permulaan, Ialah Allah Swt. Lalu Allah Swt berfirman dalam hadis Qudsi: Pada awalnya Aku tidak diketahui, maka Aku menciptakan makhluk lalu aku memperkenalkan diri-Ku kepada mereka, dan dengan-Ku mereka mengenal-Ku. Maka bekehendaklah Dia untuk mencipta, Ia memulaikan kekhaliqan-Nya untuk yang pertama kalinya. Sehingga terciptalah sebuah cahaya sakti nan abadi yang amat dikasihiNya. Cahaya itu pun menjadi asal muasal segala makhluk sejagat raya dan alam semesta. Darinya, karenanya, dan untuknya lah tercipta segala yang ada. Cahaya keagungan yaitu Sayyidina Muhammad Saw. dengan simbol al-Haqiqoh al-Muhammadiyah atau an-Nur al-Muhammad. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bercerita: Aku telah menjadi cahaya di hadapan Tuhanku empat belas ribu tahun sebelum proses penciptaan adam dimulai dan dalam riwayat lain Aku telah menjadi hamba Allah dan penutup para nabi di saat Adam masih dalam proses penciptaannya.

Alasan merayakan maulid

Perayaan maulid nabi adalah salah satu sunah hasanah, yang berlandaskan tuntutan agama. Bahkan Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki menekankan bahwa Rasulullah lah yang pertama kali merayakan maulid tersebut dengan cara berpuasa. Oleh sebab itu, sebagai pengikut beliau, kitalah yang lebih pantas bersyukur dan berbahagia dengan berbagai cara yang mampu kita lakukan, sebab Rasulullah tidak pernah membatasi cara memperingati maulid beliau dengan cara puasa. Perayaan maulid tidak memiliki cara-cara yang khusus dan terbatas, melainkan bebas dilakukan dengan cara apapun selagi dalam koridor halal, positif dan bermanfaat bagi umat dalam rangka meningkatkan cinta dan taat kepada Rasulullah Saw.

KARTANU

Karunia dan rahmat Allah yang terbesar bagi umat manusia bahkan alam semesta adalah Rasulullah Saw. sehingga kegembiraan di musim maulid Nabi sesungguhnya merupakan aplikasi terhadap perintah Allah Swt. Meskipun beliau juga wafat di bulan, tanggal dan hari yang sama, akan tetapi bersuka cita memperingati rahmat di sisi Allah lebih baik daripada berduka cita memperingati sebuah musibah. Lagipula kepergian Rasulullah Saw. ke alam hakiki bukanlah musibah yang harus disedihkan, melainkan nikmat baru yang patut diraih kebaikannya, sebagaimana sabda beliau Wafatku baik buat kalian, karena amal perbuatan kalian diajukan kepadaku. Apabila aku melihat yang baik maka aku bersyukur, namun bila aku melihat yang buruk maka aku mintakan ampun dari Allah untuk kalian. (HR. al-Bazzar).

Di antara hal-hal yang dipermasalahkan oleh kelompok Wahabi dalam perayaan maulid antara lain, berdiri saat menceritakan kelahiran Rasulullah Saw. sambil membakar kemenyan, lalu meminum air yang tengah disuguhkan dalam majelis. Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki menjelaskan, semua itu hanyalah ekspresi penyambutan kepada Rasulullah Saw. yang didasari sebuah kepercayaan bahwa arwah beliau mampu menghadiri setiap majelis maulid yang dilangsungkan umat Islam di mana saja. Hal itu tidaklah wajib dan tidak pula haram, karena ia sebatas improvisasi etis dari para pecinta yang sedang membayangkan atau tepatnya merasakan kehadiran Baginda.

Raulullah mencintai muslim Indonesia

Alkisah, ketika pengasuh Pesantren asy-Syifa wa al-Mahmudiyah Sumedang KH Muhyidin Abdul Qadir al-Manafi bertemu dengan ulama-ulama besar di pinggir makam Rasulullah Saw. di Madinah, ada seorang guru Sufi bernama Syekh Utsman melihatnya lalu bertanya tentang nama dan asal-usulnya. Setelah Syekh Ustman mengetahuinya berasal dari Indonesia, Syekh Ustman kemudian menceritakan sebuah rahasia yang belum pernah dibuka kepada siapapun sebelumnya.

Syekh Ustman mengakatan, dulu ia bersama gurunya pernah berziarah ke makam Rasulullah Saw. Guru dimaksud memasuki ruangan makam dan bertemu langsung dengan Rasulullah Saw. dalam keadaan terjaga (bukan mimpi) lalu melihat lautan manusia yang sangat banyak terlihat sepanjang mata memandang. Dari lautan manusia yang tak terhingga Jumlahnya itu, ia melirik ke sekelompok orang dan jumlahnya terbanyak di antara sekian lautan manusia yang ada.

Guru Syekh Ustman pun tercengang dan bertanya kepada Rasulullah Saw: Ya Rasulullah, siapakah mereka?. Beliau menjawab: Mereka adalah kekasih-kekasihku dari Indonesia. Guru Syekh Ustman ini kemudian menangis terharu lalu keluar sembari bertanya kepada para Jamaah: Mana orang Indonesia? Aku sangat cinta kepada Indonesia.

Pada Sabtu malam, 15 Maret 2014, dalam acara rutin Majelis Riyadhul Jannah bertempat di kampus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang dihadiri puluhan ribu muslim, KH Abdul Qadir Manafi melakukan penjelasan atas berita gembira tersebut yang kemudian ramai disebar di beberapa media massa. Iapun menegaskan kebenaran kisah tersebut, dan ulama yang menerima kabar gembira dimaksud merupakan salah seorang guru Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki.

Dari beberapa bab yang disebutkan di atas bahwa tidak semua kebenaran harus didasarkan rasionalitas. Kabar gembira yang menyebutkan bahwa Rasulullah mencintai umat Islam Indonesia patut dijadikan kebahagiaan serta motivasi tersendiri agar kita selalu menjaga Indonesia dalam beraqidah Ahlussunnah wal Jamaah serta meneruskan dan memperjuangkan amaliyah-amaliyah yang telah ulama-ulama lakukan serta tidak terbuai oleh rayuan gombal dalam slogan yang indah tetapi hanya bualan belaka.

Data Buku

Judul : Di Bawah Lindungan Rasulullah Saw; Menyibak Tirai Keagungan Sang Manusia Cahaya

Penulis : H. Abdul Aziz Sukarnawadi, Lc. MA.

Penerbit : CV. Aswaja Pressindo

Terbitan : I, 2015

Tebal : xviii + 366 Halaman; 15 x 23 cm

ISBN : 602-14838-5-5

Peresensi : M Ichwanul Arifin, Mahasiswa FUF UIN Sunan Ampel Surabaya/Kader PC IPNU Kota Surabaya

Dari (Pustaka) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/63789/mengungkap-keagungan-dan-kemuliaan-rasulullah

KARTANU

Rabu, 16 September 2009

Mbah Sabilan, Dzurriyah Rasul ke-29 yang Berjuang Semasa Untung Suropati

KARTANU - Berawal dari keinginan warga Demaan, Jepara Kota, agar panitia menelusuri silsilah Mbah Sabilan, Habib Abu Bakar Assegaf, juru kunci makam, berniat melakukan sesuatu. Tapi apa yang harus diperbuat, ia tidak tahu. Menelusuri nasab bagi Bang Abu, sapaan akrabnya, bukan perkara mudah. Yang selama dipercaya masyarakat bisa menemukan nasab dan bahkan makam tua para wali adalah Habib Luthfi bin Yahya, Pekalongan. Tapi untuk langsung menghadirkan Habib Luthfi bukan perkara gampang.

Mbah Sabilan, Dzurriyah Rasul ke-29 yang Berjuang Semasa Untung Suropati - KARTANU
Mbah Sabilan, Dzurriyah Rasul ke-29 yang Berjuang Semasa Untung Suropati - KARTANU


Mbah Sabilan, Dzurriyah Rasul ke-29 yang Berjuang Semasa Untung Suropati

Buntu menemukan jalan tercepat menjawab keinginan warga yang ingin mengetahui nasab leluhurnya itu, Bang Abu datang sedirian ke makam Mbah Sabilan. Siang itu tidak ada orang ziarah. Juru kunci makam tersebut di sana bukan membaca tahlil dan wirid. Yang dilakukan justru meluapkan emosinya. Pintu makam digedor sekuat tenaga. Batu nisan makam Mbah Sabilan diokak-okak.

“Kamu ini siapa sih mbah kok bikin tugas berat menelusuri nasab. Saya tidak sanggup. Tapi kok ditunjuk juru makam, kenapa? Ini tugas berat yang bikin saya pusing, mbah!” katanya di makam.

Pulang ke rumah, ia merasa ringan. Hanya berharap semoga kelak dapat jawaban. Bagi Bang Abu, wali itu sangat welas asih kepada warga. Kemarahan yang kemarin dilakukan tidak akan dibalas kemarahan yang sama oleh Mbah Sabilan. “Wali itu memiliki mata kasih,” ujarnya kepada KARTANU, Kamis (13/04/2016), di rumahnya, Jl. Pesajen, Demaan, Jepara.

Sebelum membakar ikan, Bang Abu kirim Fatihah khusus kepada Mbah Sabilan. Kamis (17/03/2016) pagi itu, bau ikan laut yang dibakar menyengat hidung kemana-mana. Hendak disajikan bersama keluarga, seorang pengurus NU Jepara menelpon jika posisi Habib Luthfi sedang ada di makam Mbah Daeng, Krapyak, Jepara, sedang ziarah.

Seketika langsung menuju posisi Habib Luthfi yang kebetulan memang hanya berjarak 5 kilo dari tempat tinggal Bang Abu. Kepada angota Banser yang nderekke Habib Luthfi, ia tanya agenda habib setelah ziarah Mbah Daeng. Sedikit kecewa karena Habib Luthfi ternyata tidak ada rencana ziarah ke makam Mbah Sabilan.

Sebelum niat ketemu Habib Luthfi, Bang Abu sudah ziarah ke makam Mbah Sabilan. Kali ini tidak marah-marah di makam, tetapi tawassulan dan kirim doa. Saking semangatnya, Bang Abu ingin langsung menemui Habib Luthfi yang sedang di makam Mbah Daeng. Namun, sebelum keluar dari kompleks makam, seekor belalang menclok ke bahu kanan, lalu terbang lari ke arah makam Abah-nya yang bersebelahan dengan Makam Mbah Daeng, Krapyak. “Ya, Allah, saya ziarah ke Mbah Sabilan tapi belum ziarah maqbarah orang tua,” ungkapnya dalam hati.

Baginya, belalang adalah tanda agar sebelum ketemu Habib Luthfi, harus ziarah dulu kepada orang tua sebagai bentuk birrul walidain. Kebetulan hari Kamis memang sudah biasa ziarah orang tua. Beberapa saat ziarah dilakukan ke pusara Habib Sagaf, abah Bang Abu.

“Kalau Habib Luthfi memang kassyaf, dia pasti tahu krentek saya habis marah-marah di makam Mbah Sabilan kemarin karena harus menemukan nasabnya,” tutur Bang Abu menjelaskan maksud tawassul-nya tadi.

Sementara itu, keterangan yang didapat, sekeluarnya Habib Luthfi dari makam Mbah Daeng, ternyata tidak langsung jalan ke sebuah makam di Mlonggo sebagaimana agenda rombongan

yang nderekaken. Kata Bang Abu, Habib Luthfi justru ingin ziarah ke makam Sayyid Abdurrahman. Rombongan banyak yang bertanya: “Dimana itu, Bib?”

Bang Abu yang sudah di kompleks makam Mbah Daeng langsung mendekat, menyalami Habib Luthfi dan bersiap mengantarkan ke Makam Mbah Daeng ketika itu juga. “Alhamdulillah, Habib Luthfi kasyyaf,

tahu keinginan saya. Mungkin Mbah Sabilan bilang langsung ke Abah Luthfi kalau saya habis marah-marah tidak karuan di makamnya kemarin,” tuturnya.

Dalam ziarah pertama Habib Luthfi ke makam Mbah Sabilan itu, apa yang selama ini digelisahkan Bang Abu terjawab dengan mudah. Tanpa tirakat panjang, nasab itu diserahkan terbuka kepada Bang Abu dari Habib Luhti, dicatat Kyai Masduki, Sowan, Kedung, Jepara.

Nama asli Mbah Sabilan adalah Habib Abdurrahman Basyaiban. Sabilan adalah nama samaran yang digunakan untuk menghindari tekanan politik Belanda, yang berarti jalan. Ketika itu, keturunan Arab dianggap penjajah sebagai orang yang suka “meracuni” umat Islam. Penamaan tersebut terkait tentang apa, belum diketahui jelas. Yang pasti, Mbah Sabilan hidup 350 tahun lalu ketika Pahlawan Nasional yang legendaries bernama Untung Suropati masih hidup (1660-1706 M).

Silsilah lengkapnya: Abdurrahman bin Abdurrahim bin Abdullah bin Umar bin Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar, yang dikenal sebagai datuk marga Basyaiban. Habib Abu Bakar Basyaiban ini adalah putra dari Muhammad As’adillah bin Hasan Atturabi bin Ali bin Muhammad al-faqih Muqaddam bin Ali bin Muhammad Sahib Murbad bin Ali Khala’ Ghasam bin Alwi bin Muhammad bin Ali Alawiyyin bin Ubaidillah bin

Ahmad al-Muhajir bin Isa Arrumi bin Muhammad An-Nagieb bin Ali Uraidli bin Ja’far Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin al-Imam Husain bin Fatimah Zahra (zaujah Ali bin Abi thalib) binti Muhammad Rasulullah shallahu alaihi wa sallam. Ini peta makam Mbah Sabilan:

Menurut salah satu pembaca kami, keturunan Mbah Sabilan Abdurrahman ada yang tinggal di Desa Babalan, Kec. Wedung, Kab. Demak. Namanya adalah Kiai Ismail bin Umar Hamdan Basyaiban. Keterangan ini dikirim via email redaksidutaislam@gmail.com pada 6 Juli 2016.

Watu Bobot Jika diruntut, Mbah Sabilan adalah keturunan ke 29 dari Rasulullah. Menurut Habib Luthfi, Mbah Sabilan berasal dari Cirebon. Karena itulah, Bang Abu mengaku belum mengetahui makam ayahanda beliau, yakni Habib Abdurrahim Basyaiban. “Saya belum klarifikasi ke Rabithah (organisasi penashih jalur keturunan Rasulullah). Namun keturunannya ada banyak yang mukim di Magelang, Jawa Tengah,” kata Bang Abu.

Cerita yang beredar, dulu di makam Mbah Sabilan ada batu keramat yang disebut watu bobot. Yakni dua batu dengan berat yang sulit diangkat oleh perorangan jika ia tidak punya hajat. Panjanganya sekitar 40 cm dengan lebar 50 cm dan tinggi 60 cm. Dua batu itu, masing-masing disebut wadah kitab dan wadah gaman.

Bagi pezirah yang ingin tawassul agar pendidikannya lancar, ia bisa mengangkat wadah kitab. Jika kuat mengangakat, maka itu isyarah bahwa keinginnannya akan dikabulkan oleh Allah di kemudian hari. Jika tidak kuat mengangkat, maka tanda harus lebih bekerja keras lagi agar mendapatkan rejeki banyak. Ini untuk watu bobot wadah gaman.

Kini, batu itu sudah tidak ditemukan di kawasan makam. Bukan raib, tapi dicuri orang. Menurut Bang Abu, watu bobot itu ada di sebuah museum di Semarang. Walaupun begitu, Mbah Sabilan tetap masih diingat warga sebagai waliyullah penyebar agama Islam tiap minggu akhir bulan Rajab. Pada tahun ini, jatuh pada 1 Mei 2016. [KARTANU/ab]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/04/mbah-sabilan-dzurriyah-rasul-ke-29-yang-berjuang-semasa-untung-suropati.html

Senin, 13 April 2009

Suryadharma: Madrasah NU Turut Cerdaskan Bangsa

Jakarta, KARTANU. Menteri Agama RI Suryadharma Ali mengatakan, 90 persen pendidikan agama jenjang dasar dan menengah yang formal di Indonesia berstatus swasta dan 10 persen adalah negeri. Jumlah ini menunjukkan, peran masyarakat bagi pencerdasan bangsa sangat signifikan.

Menurut Suryadharma, dari 90 persen tersebut, 13 ribu lebih berada di bawah naungan Lembaga Pendidikan Maarif NU. Institusi pendidikan itu meliputi sekolah setingkat Raudlatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA).

Suryadharma: Madrasah NU Turut Cerdaskan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Suryadharma: Madrasah NU Turut Cerdaskan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)


Suryadharma: Madrasah NU Turut Cerdaskan Bangsa

Ditambah pesantren, sambung Suryadharma, peran ini menjadi semakin nyata. "Ini suatu yang luar biasa dan karenanya harus dijaga dengan baik dengan menjaga dan memelihara keberlangsungannya," katanya dalam pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) LP Maarif NU di Jakarta, Senin (21/1).

KARTANU

Suryadharma menilai, dengan potensi yang besar ini sudah semestinya madrasah-madrasah swasta mendapat perlakukan yang layak dari pemerintah.

"Oleh karenanya, saya berteriak-teriak meminta walikota, bupati, dan gubernur jangan haramkan APBD untuk membantu sekolah agama," sebut Menteri Agama Suryadharma Ali.

KARTANU

Dalam kesempatan itu, hadir Medikbud RI Mohammad Nuh, Sekretaris Jendral PBNU H Marsudi Syuhud, dan Ketua Pengurus Pusat LP Maarif NU HZ Arifin Junaidi. Usai memberi sambutan, Menteri Agama membuka secara resmi Rakernas LP Maarif NU.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis : Mahbib Khoiron

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/41977/suryadharma-madrasah-nu-turut-cerdaskan-bangsa

KARTANU

Kamis, 19 Februari 2009

Tingkatkan Kapasitas Penanganan Bencana, LPBI NU Gelar Pelatihan di Sulsel

Makassar, KARTANU. Nahdlatul Ulama melalui Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI NU) menyelenggarakan kegiatan peningkatan kapasitas aparatur dalam manajemen menanganan darurat bencana. Kegiatan ini dilaksanakan selama tujuh hari, (7-12/5) di Makassar.

Kegiatan ini diikuti oleh 56 peserta, terdiri atas BPBD, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Kodim, dan Polres, dari Kabupaten Barru, Wajo, Timur Tengah Selatan (TTS), Tana Toraja, dan Toraja Utara. Kegiatan ini juga diikuti oleh BPBD dari Provinsi Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur. Sementara dari komunitas, terlibat sebagai peserta perwakilan LPBI NU Kabupaten Barru dan Kabupaten Wajo, serta perwakilan CWS dari Kabupaten TTS, Tana Toraja, dan Toraja Utara. Kegiatan ini terlaksana atas kerjasama LPBI NU dengan BNPB dan CWS dengan dukungan dari Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia.

Tingkatkan Kapasitas Penanganan Bencana, LPBI NU Gelar Pelatihan di Sulsel (Sumber Gambar : Nu Online)
Tingkatkan Kapasitas Penanganan Bencana, LPBI NU Gelar Pelatihan di Sulsel (Sumber Gambar : Nu Online)


Tingkatkan Kapasitas Penanganan Bencana, LPBI NU Gelar Pelatihan di Sulsel

Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan ini, Sigit Padmono Dewo,M.Si (Kasubdit Peran Organisasi Sosial Masyarakat BNPB), Theodora Eva Y. Aritonang (Han) dan Henrikus Adi Hernanto (Tim PUSDIKLAT BNPB), Agung Wicaksono (Kasi Organisasi Internasional- Direktorat Pemberdayaan Masyarakat BNPB), Yus Rizal (Direktorat Tanggap Darurat BNPB), Regina Rahadi, Supriyati, dan Theophilus Yanuarto (Tim Master Trainer Incident Command System (ICS), Leonardi Sambo (DFAT), dan Reny Sri Ayu (Kompas).

Dalam kesempatan ini, Konsulat Jendral Australia di Makassar, Sean Turner menyampaikan rasa bangga atas kerjasama yang telah terjalin antara Pemerintah Indonesia dan Australia, yang di dalamnya melibatkan pemerintah dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Sementara itu, perwakilan DFAT, Henry Pirade mengatakan bahwa kerjasama dengan LPBI NU sebenarnya merupakan MoU yang kedua. DFAT telah menyetujui kerjasama dengan LPBI NU melalui program yang didalamnya terdapat kegiatan yang mendukung dan meningkatkan kapasitas dukungan pemerintah, masyarakat dalam ketangguhan menghadapi bencana. Pelatihan ini akan membahas sistem komando kesiapsiagaan. Kegiatan ini diharapkan bisa meningkatkan kemampuan dan dukungan semua pihak, khususnya aparatur yang terlibat dalam penanggulangan bencana.

KARTANU

KARTANU

Di sisi lain, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Sulawesi Selatan, Syamsibar menyampaikan bahwa hasil kajian indeks risiko di Indonesia sangat tinggi. Poin utama dalam penanggulangan bencana adalah sinergitas untuk membangun komunitas bukan hanya BNPB, tetapi kerjasama semua pihak. Syamsibar menyampaikan apresiasi dan berharap adanya peningkatan sinergitas dan kapasitas stakeholder terkait penanggulangan bencana. Lebih jauh, ia berharap keberhasilan yang dicapai kabupaten Barru, Wajo, Tana Toraja, Toraja Utara, dan TTS dapat dipraktekkan di kabupaten yang lain.

Kegiatan peningkatan kapasitas aparatur dalam manajemen penanganan darurat bencana dibuka oleh Kasubdit Peran Organisasi Sosial Masyarakat BNPB, Sigit Padmono Dewo. Dalam sambutannya menyampaikan bahwa bencana membutuhkan penanganan yang komprehensif dari semua pihak. Kegiatan ini juga dimaksudkan untuk investasi saat pra bencana, yang diharapkan dapat diimplementasikan saat terjadi bencana. Dalam kegiatan ini diberikan materi sistem komando yang diharapkan dapat menjadi pedoman bagi kabupaten dalam membuat struktur komando tanggap darurat di wilayah masing-masing. Selain itu, di sini akan diberikan materi kaji cepat, membuat posko serta peran lembaga dan masyarakat. Selanjutnya, Sigit menyampaikan pesan kepada BPBD, bahwa koordinasi memang sulit dilakukan, tetapiBPBD harus bisa menggandeng semua pihak. Sigit mengharapkan BPBD bisa merangkul lebih banyak instansi dalam melakukan penanggulanan bencana.

Menurut Yayah Ruchyati, Program Manajer Slogan-Steady LPBI NU, pelatihan ini merupakan rangkaian dari program Penguatan Kapasitas Pemerintah dan Masyarakat Lokal dalam Kesiapsiagaan Bencana untuk Respon Bencana yang Cepat dan Efektif (SLOGAN-STEADY) kerjasama LPBI NU dan DFAT Australia. Program ini dilaksanakan sejak Mei 2016 di Barru dan Wajo (Sulawesi Selatan), Kudus dan Jepara (Jawa Tengah). Tujuan utama program ini adalah meningkatnya kemampuan kesiapsiagaan pemerintah lokal dan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana di daerahnya masing-masing, sehingga diharapkan nantinya risiko bencana masing-masing daerah dapat diminimalisir. (Red-Zunus)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/77836/tingkatkan-kapasitas-penanganan-bencana-lpbi-nu-gelar-pelatihan-di-sulsel

KARTANU

Rabu, 20 Juli 2005

Keikhlasan Amal Ibadah Datangkan Kasih Sayang

Pringsewu, KARTANU. Saat Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) Kitab Bidayatul Hidayah karya Imam Ghazali, Mustasyar PCNU Kabupaten Pringsewu KH Anwar Zuhdi mengatakan bahwa Manusia tidak akan masuk ke surga kecuali harus masuk ke neraka terlebih dahulu.

"Yang akan masuk langsung ke surga adalah seorang hamba bukan manusia. Man itu orang Nusia itu dilupakan. Makanya manusia sering lupa banyak dosa sehingga harus masuk neraka untuk dibersihkan setelah bersih manusia akan menjadi hamba dan kemudian masuk ke surga," jelasnya pada kegiatan yang dilaksanakan rutin setiap pekan di Aula Gedung NU ini, Ahad (01/01).

Keikhlasan Amal Ibadah Datangkan Kasih Sayang (Sumber Gambar : Nu Online)
Keikhlasan Amal Ibadah Datangkan Kasih Sayang (Sumber Gambar : Nu Online)


Keikhlasan Amal Ibadah Datangkan Kasih Sayang

Lebih lanjut Abah Anwar, begitu Ia biasa disapa mengatakan bahwa prinsip seorang hamba sangat sulit sekali diraih. Hal ini karena hamba merupakan sosok yang ikhlas dalam beribadah tanpa pamrih dan tidak memperdulikan imbalan. "Mendapat pahala nggak mendapat pahala, seorang hamba tetap istiqomah beribadah," tegasnya.

KARTANU

Prinsip hidup seorang hamba dengan mengedepankan keikhlasan akan mendatangkan kasih sayang dari yang memiliki hidup. Ia mengibaratkan bila seorang pembantu rumah tangga bekerja sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh majikannya dan tidak peduli dengan pekerjaan lainnya maka Ia akan mendapatkan sebanyak yang Ia harapkan.

Namun sebaliknya, jika Ia bekerja dengan ikhlas, segala pekerjaan yang belum beres diselesaikan dengan baik tanpa menunggu perintah majikan maka terkadang Ia akan mendapatkan lebih dari yang biasa yang Ia terima.

"Kalau kita melakukan segala hal dengan ikhlas, maka kita akan di beri kasih sayang yang sebelumnya tidak pernah terfikirkan," ujarnya.

KARTANU

Oleh karenanya, Abah Anwar menghimbau agar dalam mengawali dalam melakukan segala sesuatu hendaknya selalu menata hati dan niat dengan benar. "Menata hati itu susah. Namun kita harus terus berusaha agar amal ibadah kita tidak sia-sia dengan selalu mengedepankan keikhlasan dalam melakukannya," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/74298/keikhlasan-amal-ibadah-datangkan-kasih-sayang

KARTANU

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KARTANU sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KARTANU. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KARTANU dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock