Tampilkan postingan dengan label Jawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Juni 2017

SMA NU Gratiskan SPP untuk Hafizh-hafizhoh

Malang, KARTANU. Para pelajar SMA yang hafal Al-Quran mendapat perhatian khusus di SMA NU, Pakis, Malang. siswa-siswi yang berprestasi akan mendapatkan keringanan membayar Sumbangan Penyelenggaraan Pendidikan (SPP), khusus siswa/i yang hafal al-Quran, mendapatkan beasiswa penuh, tanpa membayar SPP.

Diantara siswa-siswi yang berprestasi, selain pelajar yang hapal Al-Quran adalah pelajar yang mendapatkan peringkat satu, dua hingga tiga.

SMA NU Gratiskan SPP untuk Hafizh-hafizhoh (Sumber Gambar : Nu Online)
SMA NU Gratiskan SPP untuk Hafizh-hafizhoh (Sumber Gambar : Nu Online)


SMA NU Gratiskan SPP untuk Hafizh-hafizhoh

Selain untuk memprosikan Sekolah SMA NU, saya pikir sangat penting untuk memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya untuk para hafizh-hafizhoh, kita tidak dapat mepungkiri jika semua ilmu datangnya dari Al-Quran, ungkap Nanik Nurhayati, kepala SMA NU pada KARTANU, Senin (29/04).

Pengratisan SPP akan berlaku selama siswa masuk tahun ajaran pertama hingga lulus. Selain itu, Sekolah yang bertempat di Jalan Haji Mustofa 108, Malang ini memiliki 80 gedung dan Laboratorium IPA. Letaknya yang strategis dari pondok sekitarnya memudahkan para santri di pondok tersebut untuk sekolah di SMA NU.

KARTANU

Selain mencerdaskan dengan ilmu-ilmu pengetahuan yang kami bidik secara serius, kami juga ingin menanamkan aswaja pada generasi bangsa yang sangat perlu untuk kehidupan mereka kelak paparnya.

Tidak hanya proses belajar mengajar, beberapa ekskul (kkstrakurikuler) seperti Mading, al-Banjari, Thetre, Pencak silat juga digalakkan, Kami ingin mencetak Islam yang kompetitif, beraliran ahlussunnah, unggul dan profesional, imbuhnya lagi.

KARTANU

Redaktur : A. Khoirul Anam

Kontributor: Diana Manzila

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/44119/sma-nu-gratiskan-spp-untuk-hafizh-hafizhoh

KARTANU

Kamis, 02 Juli 2015

Akan Bangun Bank Otak, Fakultas Kedokteran UI Konsultasi ke NU

Jakarta, KARTANUPengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Kamis (16/6), sore menerima kunjungan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Rombongan FKUI datang dalam rangka mendiskusikan dan mengonsultasikan rencana mereka mendirikan Bank Otak Indonesia (Indonesia Brain Bank/IBB).

Rombongan disambut di kantor Lembaga Kesehatan PBNU, Lantai 7, Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta. Turut hadir sejumlah pengurus LK PBNU dan salah satu anggota Lembaga Bahtsul Masail PBNU. NU menjadi ormas Islam pertama yang dikunjungi mereka sejak rencana pendirian lembaga tersebut.

Akan Bangun Bank Otak, Fakultas Kedokteran UI Konsultasi ke NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Akan Bangun Bank Otak, Fakultas Kedokteran UI Konsultasi ke NU (Sumber Gambar : Nu Online)


Akan Bangun Bank Otak, Fakultas Kedokteran UI Konsultasi ke NU

IBB bergerak dibidang pengumpulan otak dari orang-orang yang secara resmi bersedia mendonorkan otak mereka. IBB didirikan dengan maksud sebagai sarana untuk pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya neurosains yang akan bermanfaat untuk penemuan obat, pendidikan dan lain-lain.

Budi Wikeko, Manajer Riset dan Pengabdian Masyarakat FKUI menjelaskan, di luar negeri seperti Australia bank otak sudah berkembang selama sekitar 20 tahun. Di Indonesia lembaga sejenis belum ada karena masih menyimpan sejumlah persoalan, di antaranya dari segi agama dan budaya.

KARTANU

Padahal, tambahnya, beberapa penyakit yang belum diketahui penyebabnya tak ada diagnosis yang pasti kecuali setelah dilakukan otopsi atau pembedahan langsung terhadap jaringan. Artinya, bank otak memiliki manfaat jangka panjang, ujarnya.

KARTANU

Martina W Nasrun, perwakilan dari FKUI lainnya, mengatakan bahwa tren pertumbuhan demensia yang merupakan penyakit akibat kelainan pada otak terus meningkat di Indonesia. Dari sekitar 1 juta penderita pada 2010 hingga diprediksi bertambah menjadi 2 juta pada 2030.

Sarmidi Husna, pengurus Lembaga Bahtusul Masail PBNU menjelaskan, NU pernah membahas Silent Mentor Program atau program bedah jenazah untuk keperluan pendidikan di dunia kedokteran dan keputusannya boleh. Namun Silent Mentor kan berbeda dengan bank otak ini, karena Silent Mentor tidak mengambil organ apa dari jenazah, ujarnya.

Dalam Islam, tuturnya, manusia tak hanya dihormati saat hidup tapi juga ketika sudah menjadi jenazah. Karenanya, soal lembaga bank otak yang akan mengambil organ tubuh manusia selambat-lambatnya enam jam setelah meninggal perlu mendapat kajian lebih dalam dari para kiai.

LBMNU dan FKUI berencana akan menggelar diskusi terbatas bersama para kiai-kiai NU untuk menjernihkan persoalan ini. November nanti, FKUI juga berencana menggelar lokakarya yang menghadirkan berbagai elemen masyarakat, baik ormas Islam, kelompok budaya, dan lainnya.

Martina menambahkan, nama IBB atau Bank otak Indonesia masih tentatif. Pihaknya akan memikirkan istilah yang paling tepat untuk masyarakat Indonesia. (Mahbib)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/69048/akan-bangun-bank-otak-fakultas-kedokteran-ui-konsultasi-ke-nu

KARTANU

Kamis, 21 November 2013

Sutisna Senjaya, Tokoh Pers dari NU Jabar

Raden Sutisna Sendjaya lahir di Wanaraja, Garut, pada 27 Oktober tahun 1890 M dan wafat di Bandung pada 11 Desember tahun 1961. Selain sebagai tokoh NU, ia sangat dikenal sebagai tokoh pers di Jawa Barat.

Ia dikenal sebagai Pemimpin Redaksi Majalah al-Mawaidz; Pangrodjong Nahdlatoel Oelama yang diterbitkan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Tasikmalaya pada bulan Agustus 1933. Pengabdiannya di NU, ia lanjutkan hingga tingkat wilayah. Tahun 1948 menjadi ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Barat. Selain aktif di NU, ia juga salah seorang tokoh pergerakan di Paguyuban Pasundan.

Sutisna Senjaya, Tokoh Pers dari NU Jabar (Sumber Gambar : Nu Online)
Sutisna Senjaya, Tokoh Pers dari NU Jabar (Sumber Gambar : Nu Online)


Sutisna Senjaya, Tokoh Pers dari NU Jabar

Dalam dunia jurnalistik, selain di Al-Mawaidz, ia pernah menjadi redaktur di beberapa surat kabar pada masa penjajahan Belanda seperti Silliwangi (1921-1922). Aktif menulis di surat kabar Sipatahoenan (1923). Dalam menulis, ia sering menggunakan inisial Sutsen.

Pendidikan Sutsen ditempuh di Sakola Raja (KweekSchool) di Bandung pada tahun 1911. Sutsen pernah mengajar di HIS Banten kemudian di HIS Bandung. Kemudian ia melanjutkan belajar ke HKS, dan kemudian melanjutkan kembali kegiatan mengajar di HIS Pasundan 1 Tasikmalaya.

KARTANU

Pada zaman penjajahan Jepang, ia menjadi anggota Chuo Sangi in. Kemudian menjadi koordinator pergerakan perjuangan rakyat pada zaman revolusi fisik dan anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) Tasikmalaya.

Pada zaman penjajahan Belanda, Sutsen bersama pengurus NU Tasikmalaya seperti KH Ruhiat (ayah dari Rais Aam PBNU KH Ilyah Ruhiat), berpandangan, gelar ulil amri bagi pemerintah kolonial harus dipandang sebagai suatu siyasi (politik). Pemerintah Hindia Belanda sebagai pemerintahan yang sah, tetapi statusnya tetaplah penguasa asing yang hanya berkuasa secara politik.

KARTANU

Dengan demikian, pemerintah hanya berwenang mengatur masyarakat berkaitan urusan politik. Masalah lain seperti keagamaan, sejatinya diserahkan sepenuhnya kepada para ulama yang menjadi panutan rakyat.

Zaman kemerdekaan, pada tahun 1952, Sutsen menjadi Kepala Kantor Urusan Agama di Jakarta. Setelah pensiun pada tahun 1954, ia bergabung dengan Daya Sunda. Kemudian bersama teman-temannya kembali aktif dalam jurnalistik. Ia menerbitkan mingguan berbahasa Sunda Kalawarta Kudjang (1956) dan bertindak sebagai pemimpin redaksi. (Abdullah Alawi, dari berbagai sumber)

Dari (Tokoh) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/62679/sutisna-senjaya-tokoh-pers-dari-nu-jabar

KARTANU

Rabu, 23 Januari 2013

Santunan Yatim Piatu Sertai PKD Ansor Genuk

Semarang, KARTANU. Ada beragam cara untuk mengisi bulan Ramadhan. Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Genuk, Kota Semarang memilih kegiatan kaderisasi untuk mengisi bulan suci ini. Melalui Perkaderan Tingkat Dasar (PKD) diharapkan akan lahir para kader yang berkualitas.

PKD yang digelar Sabtu (19/7) malam di kecamatan setempat itu diikuti seluruh utusan dari Pimpinan Ranting GP Ansor se-Kecamatan Genuk. Selain PKD bertajuk Militansi dalam Berorganisasi, GP Ansor Genuk juga menyelenggarakan buka puasa bersama dan santunan yatim piatu dan dhuafa.

Santunan Yatim Piatu Sertai PKD Ansor Genuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Santunan Yatim Piatu Sertai PKD Ansor Genuk (Sumber Gambar : Nu Online)


Santunan Yatim Piatu Sertai PKD Ansor Genuk

Ketua PAC GP Ansor Genuk Muslimin mengatakan, saat ini kita membutuhkan kader yang memiliki militansi tinggi, menyadari akan kediriannya dan perannya khususnya sebagai kader Nahdliyin.

Apalah arti sebagai mayoritas warga NU namun jika tidak memiliki keberpihakan kepada NU. Maka saatnya membangun kedirian salah satunya dengan mengikuti Perkaderan Tingkat Dasar, jelasnya

KARTANU

M. Afdlori, SH, MH salah satu mengatakan, pemimpin tidak ditemukan di sekolahan, kampus, universitas maupun yang memiliki gelar sarjana, tapi pemimpin lahir dari perjalanan. Ketika lahir ia memiliki kelebihan, mampu menggerakkan, kuat manajemennya dan mempu menjembatani.

Pemimpin dalam organisasi di lingkungan NU lebih tepatnya disebut Khodimul Umat yakni sebagai pelayan, tuturnya.

KARTANU

Pemimpin adalah pelayan sehingga ia melayani terhadap umatnya sehingga mengandung makna luas kalau sudah ditunjuk sebagai pemimpin harus mendengar, mengerti, dan melangkah lalu berbuat terhadap keberadaan jamaahnya, lanjutnya. (Lukni Maulana/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/53410/santunan-yatim-piatu-sertai-pkd-ansor-genuk

KARTANU

Selasa, 09 Oktober 2012

Banser Remaja Putri Ini Amankan Maulidan di Kota Banjar

Banjar, KARTANU. Puluhan anggota Banser Kota Banjar bersiap mengamankan kegiatan Maulid Nabi dan silaturahmi para habib serta ulama se-Kota Banjar di Pesantren Al-Hilal, Desa Rejasari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, Senin (25/4). Tetapi siapa kira ada seorang remaja putri berseragam Banser ikut berbaris mendengarkan instruksi serta arahan dari Kasatkoryon Banser Langensari.

Banser wanita ini adalah Eti Herlina (22). Warga Dusun Sukahurip, Desa dan Kecamatan Langensari, Kota Banjar ini tidak sekali terlibat dalam pengamanan yang pernah dilakukan Banser Kota Banjar.

Banser Remaja Putri Ini Amankan Maulidan di Kota Banjar (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Remaja Putri Ini Amankan Maulidan di Kota Banjar (Sumber Gambar : Nu Online)


Banser Remaja Putri Ini Amankan Maulidan di Kota Banjar

"Saya karyawan toko emas, sudah beberapa kali mengikuti pengamanan kegiatan keagamaan baik di Kota Banjar maupun di daerah lain," kata Eti kepada KARTANU.

KARTANU

Eti mengatakan menceritakan itikad baiknya mengabdikan diri kepada NU melalui cara yang ia lakukan sekarang. Sementara itu, hanya dia satu-satunya anggota Banser wanita di Banjar.

KARTANU

"Saya ingin banyak teman Banser perempuan. Sampai saat ini keluarga mendukung dan tidak ada komplain," ungkapnya.

Di tempat yang sama, Ketua GP Ansor Langensari Ihsan Hanafi menjelaskan, adanya Banser wanita ini merupakan upaya membangkitkan semangat mempertahankan NKRI.

"Kader putri NU baik di Fatayat, IPPNU harus diberi ruang gerak untuk berkhidmah kepada ulama. Jangan salah, pejuang perempuan sudah ada sejak zaman penjajahan. Makanya sekarang perlu ditumbuhkan, bukan dulu saja," pungkasnya. (Muhafid/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/67627/banser-remaja-putri-ini-amankan-maulidan-di-kota-banjar

KARTANU

Minggu, 11 Maret 2012

Semar Mencari Rejeki Halal dengan Mantra Mbergegeg

KARTANU - Kiai Lurah Semar Badranaya adalah nama tokoh punakawan paling utama dalam pewayangan Jawa dan Sunda. Tokoh ini dikisahkan sebagai pengasuh sekaligus penasihat para kesatria dalam pementasan kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana.

Tentu saja nama Semar tidak ditemukan dalam naskah asli kedua wiracarita tersebut yang berbahasa Sanskerta, karena tokoh ini merupakan asli ciptaan pujangga Jawa. (Sumber:Wikipedia)

Semar Mencari Rejeki Halal dengan Mantra Mbergegeg - KARTANU
Semar Mencari Rejeki Halal dengan Mantra Mbergegeg - KARTANU


Semar Mencari Rejeki Halal dengan Mantra Mbergegeg

Sebagai penjelmaan dewa, Semar dikenal juga sangat arif dan bijaksana. Bisa bergaul dengan siapa saja, baik dengan kalangan atas maupun kalangan bawah. Selain itu juga, ia tanggap terhadap perubahan jaman. Akan tetapi jika menemukan ketidakadilan dan tindakan sewenang-wenang, maka Semar akan dengan tegas melakukan tindakan preventif, persuasif dan represif. Bisa dikatakan kalau Semar ini rela mempertaruhkan segalanya demi amanat yang diterimanya dari Sang Maha Kuasa.

Sering dikisahkan juga bahwa senjata Semar adalah kentut. Konon kentut Semar ini bisa membuat pusing para punggawa keraton yang tidak menjalankan tugasnya sesuai ketentuan yang berlaku.

Bila kita cermati ucapan Semar setiap kali mengawali dialog: “mbergegeg, ugeg-ugeg, hmel-hmel, sak dulito, langgeng…” Yang artinya diam, bergerak atau berusaha, makan, walaupun sedikit, abadi, yang kira-kira maksudnya begini, "daripada diam (mbergegeg) lebih baik berusaha untuk lepas (ugeg-ugeg) dan mencari makan (hmel-hmel) walaupun hasilnya sedikit (sak ndulit) tapi akan terasa abadi (langgeng).

KARTANU

Benar-benar sebuah pesan moral yang sangat dalam agar kita selalu bekerja keras untuk mencari nafkah, walaupun hasilnya hanya cukup untuk makan namun kepuasan yang didapat, -karena mau berusaha,- akan abadi.

Rasul SAW jauh-jauh hari bersabda yang Artinya: "Sungguh sebaik-baik rizki yang dimakan oleh seorang laki-laki adalah dari usahanya sendiri".

KARTANU

Tuhan sang pencipta alam sendiri pun berfirman didalam al Qur'an, agar hambanya selepas melaksanakan ibadah di perintah untuk mencari reziki yang halal.

"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi (untuk mencari rezki dan usaha yang halal) dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung". (QS al-Jumu’ah: 10).

Karena itulah, tetaplah "mbergegeg, ugeg-ugeg, hmel-hmel, sak dulito, langgeng…". Bahasa gampangnya, sing penting barokah. [KARTANU]

Ahmad Zain Bad

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/semar-mencari-rejeki-halal-dengan-mantra-mbergegeg.html

Senin, 10 Agustus 2009

Sebut Pancasila Soekarno Ketuhanan Ada di Pantat, Habib Rizieq Dipolisikan Sukma

KARTANU – Puteri Proklamator Bung Karno Sukmawati Soekarnoputri melaporkan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq ke Bareskrim Polri atas tuduhan pelecehan Pancasila.‎ Dugaan pelecehan terhadap Pancasila dilakukan Habib Rizieq saat‎ gelaran Tabligh Akbar FPI.

“Saya datang sebagai ketua umum PNI Marhaenisme melaporkan Habib Rizieq perihal penodaan terhadap lambang dan dasar negara Pancasila. Serta menghina kehormatan martabat Dr. Ir Soekarno sebagai proklamator kemerdekaan Indonesia dan presiden pertama Republik Indonesia,” jelas Sukma di Gedung KKP Bahari II Bareskrim, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta, Kamis (27/10/2016).

Sebut Pancasila Soekarno Ketuhanan Ada di Pantat, Habib Rizieq Dipolisikan Sukma - KARTANU
Sebut Pancasila Soekarno Ketuhanan Ada di Pantat, Habib Rizieq Dipolisikan Sukma - KARTANU


Sebut Pancasila Soekarno Ketuhanan Ada di Pantat, Habib Rizieq Dipolisikan Sukma

Sebuah rekaman video berisi pernyataan Habib Rizieq yang menyebut ‘Pancasila Soekarno ketuhanan ada di pantat, sedangkan pancasila Piagam Jakarta ketuhanan ada di kepala’ menjadi barang bukti yang diajukan Sukma ke polisi.

Video Habib Rizieq

KARTANU

Rekaman itu sebenarnya sudah beredar sejak dua tahun lalu, namun Sukma mengaku baru melihatnya pada Juni 2016 lalu‎ atau tepat saat peringatan Hari Lahir Pancasila.

“Ya, saya baru terima di bulan Juni ketika itu bulan lahir Pancasila. Saat itu, teman saya teringat rekaman tentang komentar atau pernyataan Rizieq tentang Pancasila tersebut yang terkait dengan Proklamator Bung Karno,” tutur Sukma.

KARTANU

“Sebagai anak saya marah sekali. Tersinggung karena kata-katanya sangat tidak santun, tidak hormat sebagai pimpinan ormas FPI,” jelas puteri ketiga Bung Karno itu.

‎Untuk itu, Sukma mendesak kepolisian segera memanggil Habib Rizieq agar pentolan FPI itu bisa memberikan klarifikasi kepada masyarakat. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/sebut-pancasila-soekarno-ketuhanan-ada-di-pantat-habib-rizieq-dipolisikan.html

Minggu, 07 Juni 2009

Tagar #IstighotsahKubro Unggul di Jagat Maya

Jakarta, KARTANU. Perhelatan Istihotsah Kubro yang diselenggarakan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menarik ratusan ribu warga untuk memadati stadion Gelora Delta Sidoarjo, Sidoarjo, Jawa Timur, Ahad (9/4) sejak pagi. Tak hanya itu, suasana semarak juga berlangsung di dunia maya.

Hingga berita ini didimuat, tagar #IstighotsaKubro masuk dalam topik teratas di jagat Twitter lebih dari tiga jam. Tagar yang sama juga ramai disematkan para pengguna media sosial Instagram dan Facebook.

Tagar #IstighotsahKubro Unggul di Jagat Maya (Sumber Gambar : Nu Online)
Tagar #IstighotsahKubro Unggul di Jagat Maya (Sumber Gambar : Nu Online)


Tagar #IstighotsahKubro Unggul di Jagat Maya

Mereka mengunggah foto-foto, video, atau tulisan yang mengambarkan kemeriahan dan ketakjuban terhadap acara Istighotsah Kubro. Ungkapan simpati juga disampaikan orang-orang yang tak sempat hadir ke lokasi acara.

KARTANU

Walaupun tubuh ini tak di sana tetapi hati ini di sana, tulis akun Instagram @fuad_mosyofy saat mengomentari foto ratusan ribu warga NU hasil potret dari atas yang diunggah @nuonline_id.

Ketika akun Instagram @nuonline_id mengunggah video lantunan Ya Ahlal Wathan yang dikumandangkan peserta istighotsah, ratusan komentar positif juga muncul. Seperti yang dilontarkan akun @uswahhasana466 berikut ini.

KARTANU

Subhanallah, merinding mendengarnya. Semoga ulama dan para kiai NU semangat terus mengobarkan keimanan di hati setiap warga NU. Nasionalisme, NKRI harga mati. Ayo saatnya bersatu dan satu komando sampai bawah semoga yang dipanjatkan doa-doanya terkabul. Amiin.. al-Fatihah.

Di Twitter, akun andy_mi89 mengatakan, Mereka dtg tidak untuk memainkan isu-isu pilkada, tetapi mrk dtg untuk mendoakan Bangsa kita, Bangsa Indonesia #IstighotsahKubro.

Jamaah Istighotsah Kubro juga meluber hingga ke luar stadion Gelora Delta Sidoarjo. Sebagian datang dengan menggunakan bus rombongan, mobil pribadi, motor, bahkan jalan kaki. (Mahbib)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/76865/tagar-istighotsahkubro-unggul-di-jagat-maya

Senin, 13 April 2009

Suryadharma: Madrasah NU Turut Cerdaskan Bangsa

Jakarta, KARTANU. Menteri Agama RI Suryadharma Ali mengatakan, 90 persen pendidikan agama jenjang dasar dan menengah yang formal di Indonesia berstatus swasta dan 10 persen adalah negeri. Jumlah ini menunjukkan, peran masyarakat bagi pencerdasan bangsa sangat signifikan.

Menurut Suryadharma, dari 90 persen tersebut, 13 ribu lebih berada di bawah naungan Lembaga Pendidikan Maarif NU. Institusi pendidikan itu meliputi sekolah setingkat Raudlatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA).

Suryadharma: Madrasah NU Turut Cerdaskan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Suryadharma: Madrasah NU Turut Cerdaskan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)


Suryadharma: Madrasah NU Turut Cerdaskan Bangsa

Ditambah pesantren, sambung Suryadharma, peran ini menjadi semakin nyata. "Ini suatu yang luar biasa dan karenanya harus dijaga dengan baik dengan menjaga dan memelihara keberlangsungannya," katanya dalam pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) LP Maarif NU di Jakarta, Senin (21/1).

KARTANU

Suryadharma menilai, dengan potensi yang besar ini sudah semestinya madrasah-madrasah swasta mendapat perlakukan yang layak dari pemerintah.

"Oleh karenanya, saya berteriak-teriak meminta walikota, bupati, dan gubernur jangan haramkan APBD untuk membantu sekolah agama," sebut Menteri Agama Suryadharma Ali.

KARTANU

Dalam kesempatan itu, hadir Medikbud RI Mohammad Nuh, Sekretaris Jendral PBNU H Marsudi Syuhud, dan Ketua Pengurus Pusat LP Maarif NU HZ Arifin Junaidi. Usai memberi sambutan, Menteri Agama membuka secara resmi Rakernas LP Maarif NU.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis : Mahbib Khoiron

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/41977/suryadharma-madrasah-nu-turut-cerdaskan-bangsa

KARTANU

Sabtu, 28 Maret 2009

Konflik Politik: Dulu Musuhan Dengan Partai Itu, Sejak Ada Ini, Kok Ganti Lawan

KARTANU - Sewaktu kecil sekolah di SD, saya tiap hari berangkat dan pulang jalan kaki, bersama teman-teman maupun sendiri. Berbeda dengan pelajaran yang banyak telah lupa, saya masih ingat banyak peristiwa yang saya lihat ketika berjalan menuju dan dari sekolah tersebut. Di antara yang saya sangat ingat adalah peristiwa politik: Pemilu.

Saya titeni, setiap menjelang Pemilu, ada satu regu tentara Angkatan Darat didatangkan. Karena desa saya ada di pusat kecamatan, maka di desa saya itulah regu tentara ditempatkan. Biasanya diinapkan di rumah kedua milik Kepala Desa yang terletak persis di depan tanah pekarangan milik Bapak saya. Yaitu di rumah yang pernah jadi kantor Pos, dan sekarang ditinggali Sekretaris Desa Sedan.

Setiap pagi, para tentara itu dibariskan di lapangan yang berada persis di belakang SD saya. Mereka disuruh lari pagi, bernyanyi dengan nada sorak. Senam pagi mereka sambil mengangkat senapan laras panjang. Dari atributnya saya tahu, mereka dari Batalion Infantri Alugoro yang bermarkas di Blora, Jawa Tengah.

Konflik Politik: Dulu Musuhan Dengan Partai Itu, Sejak Ada Ini, Kok Ganti Lawan - KARTANU
Konflik Politik: Dulu Musuhan Dengan Partai Itu, Sejak Ada Ini, Kok Ganti Lawan - KARTANU


Konflik Politik: Dulu Musuhan Dengan Partai Itu, Sejak Ada Ini, Kok Ganti Lawan

Saya dan teman-teman melihat langsung bagaimana “ngerinya” tentara menggladi jasmaninya. Komandan regu tampak sering membentak. Wajah-wajah tentara itu juga tampak garang, membuat kami sangat takut tak berani mendekat apalagi bermain bersama tentara. Minimal saya sendiri takut, namun saya berani menonton (melihat seksama) aksi para tentara ketika berbaris itu. Karena memang pemandangan langka di desa.

KARTANU

Di luar urusan senam dan berbaris, ternyata regu tentara itu diberi tugas untuk menjaga stabilitas politik agar Pemilu lancar dan tidak ada masalah, begitu penjelasan yang saya terima dari sedulur saya yang jadi perangkat desa. Saya tidak mengerti apa itu stabilitas, namun yang saya lihat adalah para serdadu itu sangat rajin berpatroli.

Siang hari apalagi malam, mereka seperti tak pernah tidur mengitari seisi desa se-kecamatan Sedan untuk menjalankan tugas pengamanan atau pengawasan itu. Setiap ada orang berkerumun sebanyak lima orang atau lebih, di pasar atau di rondan (gardu ronda-tepatnya gubuk sederhana terbuat dari bambu atau kayu), para tentara itu langsung mendatanginya. Mereka meminta agar orang-orang bubar dan pulang ke rumah. Tidak boleh berkumpul sebanyak lima orang atau lebih. Meski Cuma rokok-rokokan dan mengobrol soal pertanian.

KARTANU

Saya lihat para tentara itu rajin sekali mendatangi setiap perkumpulan orang. Merekam setiap ada pengajian, membuat kelompok ronda untuk meminta bantuan masyarakat mengawasi lingkungannya. Polisi yang ada di Polsek juga turut diajak berpatroli dan menggerakkan apa yang disebut sistem keamanan lingkungan (siskamling).

Saya yang sering tidur di langgar (kebiasaan di desa saya, jika anak lelaki sudah sunat alias khitan, tidak lagi tidur bareng orang tua), pernah beberapa kali ikut ronda malam hari karena diajak orang-orang dewasa. Jadi, saya tahu persis betapa mencekamnya suasana menjelang Pemilu, tentara mengawasi begitu ketatnya.

Dari pembicaraan bapak-bapak tentara dan tim ronda, saya mendengar tentang operasi penggalangan kekuatan untuk kemenangan Golkar. Semua pegawai negeri sudah pasti wajib Golkar, tinggal para kepala desa dan perangkatnya yang hendak dipengaruhi.

Pendataannya sangat bagus, dicatat rapi oleh Pak Tentara. Saat itu memang ada aturan Dwi Fungsi ABRI, jadi tentara selain bertugas menjaga pertahanan dan keamanan negara, juga menjadi pembina politik dengan tugas khusus memenangkan Golkar. Agar pembangunan lancar dan stabil, maka negara harus dikuasai Golkar, begitu kampanye yang saya dengar.

Saya tahu, sejak orde baru berdiri, Golkar tidak pernah menang di kecamatan saya. Hanya menang di beberapa desa yang kepala desanya memang Pro Golkar secara sadar (bukan karena ketakutan). Maka Golkar menggunakan segala cara untuk menang. Saya tidak mengerti apakah itu buruk atau tidak, waktu itu. Wong memang Cuma bocah SD. Yang saya tahu, politik waktu itu penuh ketegangan.

Ketika kampanye Golkar digelar di lapangan, para jurkamnya berpidato begitu hebohnya. Didatangkan pula seorang kyai dari kota untuk mempengaruhi warga kecamatan saya yang 100% beragama Islam. Karena jelas kecamatan saya terkenal sebagai daerah santri, maka Golkar membagikan Al-Qur’an dan Turutan (mushaf juz amma) kepada warga. Saya ikut kebagian dua mushaf tersebut dengan mengambil di kantor Kepala Desa. Tentu saja ada warna kuning dan logo Golkarnya, namun di dover tambahan. Bukan cover tercetak yang permanen.

Di desa saya, kampanyenya masih damai, dengan teknik pendekatan keagamaan begitu, tapi di desa lain, saya dengar ada kekerasan. Ada sedulur saya seorang warga desa Sambiroto, dipukuli tentara karena terang-terangan memamerkan gambar PPP di depan kerumunan tentara yang sedang patroli.

Sedulur saya, secara berombongan, bahkan dikeroyok dengan senjata tajam kala mengikuti kampanye PPP dan melewati desa Menoro. Untunglah, Gusti Allah masih melindungi para sedulur saya sehingga selamat dari bacokan kepala Desa Sambiroto dan anak buahnya. Hanya saja, sepeda motor mereka hancur kecuali sepeda motornya Kak Imdad.

Meski aksi politik Golkar begitu kerasnya, nyatanya tetap tak pernah menang di kecamatan Sedan. PPP yang diidentifikasi sebagai partai Islam, selalu menang, meski, tak pernah boleh punya bupati atau wakil bupati. Maksimal hanya anggota dewan dengan kursi sedikit yang tidak kuat suaranya di gedung DPRD Kabupaten.

Dengan aksi kekerasan yang begitu ganas oleh Golkar, saya waktu itu menduga, para akvitis PPP akan dendam kepada partai berlambang pohon Beringin tersebut. Minimal mendoakan buruk.

Ternyata dugaan saya salah. Kala reformasi terjadi, demokrasi sudah tidak terkungkung lagi, orang bebas mendirikan partai, orang-orang PPP tidak menggunakan kesempatan untuk menghabisi Golkar, baik dengan cara halus atau kasar, malah energi kemarahan itu ditumpahkan kepada PKB.

Sungguh sulit masuk nalar saya kala itu, ketika dengan nyata saya lihat sendiri bagaimana begitu kejamnya orang PPP membuat ujaran kebencian kepada Gus Dur dan PKB. Dibilang PKB itu Partai Komunis Baru, Gus Dur itu si buta dari goa hantu, dan sebagainya. Sama sekali tidak saya dengar hujatan kepada Golkar yang jelas-jelas selama 32 tahun mendholimi PPP.

Bahkan saat Gus Dur difitnah dan dijatuhkan oleh Amien Rais dkk, PPP termasuk yang paling getol menebar fitnah itu dan baru reda hujatannya kepada Gus Dur setelah Ketum PPP, Hamzah Haz, jadi wakil presiden.

Saking bencinya PPP sama PKB, ada banyak kejadian memilukan di desa saya. Sedulur saya yang dulu pernah dibacoki orang Golkar, kini diancam bunuh juga oleh orang PPP karena beliau ngugemi dhawuh gurunya untuk menjadi pengurus PKB. Lalu, teman saya yang mondok di sebuah pesantren di desa saya, dicaci maki lalu disobek-sobek kaosnya karena yang dia pakai kaos bergambar PKB.

Saya sampai sekarang tidak berani bertanya mengapa dulu PPP begitu memusuhi PKB seperti seolah musuh kafir yang harus dimusnahkan. Padahal sesama muslim dan sama-sama satu perjuangan ketika ditindas Golkar. Sedulur-sedulur saya juga tidak berani bertanya. Kawan-kawan saya juga tidak berani bertanya. Kami semua memilih diam saja dan berdoa semoga anak-anak kami tidak mengalami kejadian begitu rupa. [KARTANU]

Keterangan: Status ini bukan untuk menguak luka lama atau bermaksud lain, hanya muhasabah setelah dinasehati sedulur saya yang pernah jadi korban itu. Beliau ngendika: tetaplah berjuang tanpa pamrih, Gusti Allah yang akan membalasnya. 

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/konflik-politik-dulu-musuhan-dengan-partai-itu-sejak-ada-ini-kok-ganti-lawan.html

Rabu, 25 Maret 2009

Yuk Kenal Pendiri Situs Fitnah Portal Piyungan!

KARTANU - Sukses melenggang menjadi media provokasi nomor wahid penyerang Jokowi-JK saat Pilpres 2014, pkspiyungan.org menjadi rujukan berita kader PKS di akar rumput. Hampir semua kader partai ekstrim kanan yang sangat fundamental itu berkiblat pada situs tersebut.

Dulu mereka bangga punya wesbite informasi berbasis blogspot yang banyak dishare bahkan oleh mereka yang bukan kader PKS sekalipun. Namun, setelah dianggap netizen sebagai situs penebar kabar hoax dan fitnah, rame-rame para petingginya tidak mengakui kalau portal itu berafiliasi langsung dengan PKS.

Puncaknya terjadi pada Desember 2015 lalu ketika website berganti domain, dari pkspiyungan.org ke portalpiyungan.com. Itu disebabkan karena Shohibul Iman, Presiden PKS terpilih sekarang, mendekat ke istana negara menemui Jokowi. Jonru (jongos PKS puritan) sempat mengancam keluar dari partai itu jika PKS benar-benar mendukung Jokowi, tokoh yang selalu jadi bahan hinaan (dia menyebutkan kritik) hingga modyar.

Yuk Kenal Pendiri Situs Fitnah Portal Piyungan! - KARTANU
Yuk Kenal Pendiri Situs Fitnah Portal Piyungan! - KARTANU


Yuk Kenal Pendiri Situs Fitnah Portal Piyungan!

Tapi, siapa sih yang sebetulnya mendirikan portal fitnah tersebut, dan hingga kini masih saja eksis menebar bencana berita hoax di media sosial? KARTANU mendapatkan bocoran dari seorang hacker di Jogja beberapa bulan lalu tentang percakapan yang sebetulnya rahasia namun harus dibuka ke publik, demi melawan hoax dan fitnah.

Dalam percakapan tersebut, pkspiyungan.com dulunya masuk kategori sebagai tim hore dari media-media yang berafiliasi ke IS atau Al-Qaeda. Ia bersama situs radikal nahimunkar.com, lppimakassar.com, gemaislam.com dan Jonru adalah pendukung gerakan radikal Timteng di Indonesia.

KARTANU

Sementara, media yang berafiliasi kepada IS langsung antara lain adalah voa-islam.com, arrahmah.com, kiblat.net, almustaqbal.net, sameeh.net, syamina.com, bumisyam.com dan shoutussalam.com. Ini screen percakapan yang didapatkan KARTANU.

Tim hore situs radikal Pkspiyungan Khusus untuk pkspiyungan, ia dimotori oleh para aktivis PKS. Nama penggeraknya adalah Abu Hasan Surhim, yang kemudian jadi pemimpin redaksi. Informasi yang didapatkan KARTANU, Hasan Surhim ini adalah lulusan SMAN 1 Tegal, dari desa Debong Tengah, Tegal, Jateng.

KARTANU

Ia menyebut keluarganya sebagai dedengkot Partai Keadilan (PK) di masa awal berdiri, karena ayahnya, Kiai Surhim bin Ratib pernah menjabat Ketua DPRa PK Desa Debong Tengah. Bersama kakaknya, Abdul Wahid Surhim, ia turut membantu kampanye PK di daerah hingga kemudian mukim di Piyungan, Yogyakarta. Ini foto keluarga Hasan Surhim yang diposting 23 September 2009.

Foto keluarga pendiri pkspiyungan.com Yang mengambil gambar di atas adalah kakak Hasan Surhim, yakni Wahid Surhim. Kini kakaknya adalah Pengajar di Teknik Kimia UI, Ketua Musholli Al-Ikhlas RW 08 Desa Waringin Jaya, Bojonggede, Kab. Bogor dan Pembina KSPM (Kelompok Studi Pelajar Muslim). Foto profil ini diambil dari akun tweet bersangkutan, di https://twitter.com/awahids:

Foto: Abdul Wahid Surhim Sengaja foto-foto disertakan demi menghindari sebutan hoax. Untuk informasi kepemilikan domain, sumber KARTANU menyarakan tidak perlu disertakan karena hal itu bukan bagian dari bukti kuat atau syawahid yang mumpuni. Bisa diganti sesuka hati.

Di pkspiyungan.org, Hasan Surhim dibantu oleh reporter dari masing-masing DPRa, yakni Sitimulyo, Srimulyo dan Srimartani. Awalnya portal itu bagian dari gerakan partai bernama PKS Go Blog. Pakai G yah, bukan K. Ini nama-nama yang disebutkan sumber KARTANU.

PKS Go Blog

Seiring waktu, portal kader PKS itu kemudian berubah jadi situs heroik yang punya kerjaan rutin sebagai haters Jokowi bersama Jonru yang saat itu jadi artis tenar baru berkat Fanpage provokatifnya. Kini, Anda tidak bisa lagi membuka situs itu dengan alamat lama karena sudah diblokir Menkominfo sejak digunakan provokasi Aksi Bela Islam III.

Setelah berubah dari pkspiyungan.blogspot.com ke pkspiyungan.org, ia pindah jadi portalpiyungan.com. Diblokir lagi, sekarang ganti ke 3 domain baru, yakni portalpiyungan.co, portalpiyungaan.ga, dan portalpiyungan.info. Isinya sama.

Keren kan cara taqiyahnya? Walau berganti domain, rasanya tetap sama; fitnah dan hoax adu domba sotara-sotara! Makanya, hati-hati menerima informasi dari para buzzer piyungan. Hati-hati. Salam waras! [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/yuk-kenal-pendiri-situs-fitnah-portal-piyungan.html

Kamis, 29 Mei 2008

Mengenal Kamus Al-Marbawi

Al-Marbawi adalah nama kamus Bahasa Arab-Melayu yang banyak dipakai kalangan santri nusantara beberapa dekade lalu. Lengkapnya Kamus Idris al-Marbawi karya Syaikh Muhammad Idris Abdul Rauf al-Marbawi.

Kamus ini terbit pertama kali tahun 1937, dengan aksara Arab dan berbahasa Melayu. Penyusun kamus ini, Syaikh Idris, lahir di Misfallah, Mekah, pada 28 Dzulqaidah 1313 H/ 10 Mei 1896. Kedua orang tuanya berasal dari Lubok Merbau, Kuala Kangsar, Perak Darul Ridzuan.

Mengenal Kamus Al-Marbawi (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenal Kamus Al-Marbawi (Sumber Gambar : Nu Online)


Mengenal Kamus Al-Marbawi

Ketika berusia 10 tahun, Idris sudah mampu menghafal 16 juz al-Quran dan beberapa kitab pelajaran lain. Setelah hampir sepuluh tahun berada di Mekah, pada 1906 Idris dibawa pulang orang tuanya ke Malaysia.

Sekembalinya ke Malaysia, Idris melanjutkan pelajarannya di Sekolah Melayu Lubok Merbau (kini dikenal sebagai Sekolah Kebangsaan Syaikh Mohd Idris al-Marbawi).

KARTANU

Lalu, beliau meneruskan di beberapa pesantren, di antaranya Pesantren Wan Mohammad, Bukit Chandan, Kuala Kangsar (sekarang Madrasah Idrisiah), Pesantren Tuan Hussien al-Masudi (Kedah), Pondok Syaikh Ahmad al-Fatani (Bukit Mertajam), dan Pondok Tok Kenali (Kelantan). Setelah menamatkan sekolah, Idris menjadi guru agama di Perak.

KARTANU

Tahun 1924, Idris melanjutkan sekolahnya ke Universitas al-Azhar dan ke Mekah. Pada masa inilah, Idris menyusun kamus al-Marbawi. Awalnya, kamus ini disusunnya bersama dua orang sahabatnya, Syaikh Juned Tola dan Syaikh Tahir Jalaluddin. Tetapi, karena kedua sahabatnya pulang kampung, dirinyalah yang kemudian menyelesaikannya.

Kamus al-Marbawi terdiri dari dua jilid. Jilid pertama memiliki tebal 384 halaman dan jilid kedua 401 halaman. Juz pertama, seperti dijelaskan di bagian cover dalam, berisi 18.000 kalimat Arab dengan terjemahan Melayu ditambah 700 gambar ilustrasi.

Juz kedua juga menghimpun 18.000 kalimat Arab disertai terjemahan Bahasa Melayu plus 500 gambar ilustrasi. Kamus ini disusun secara alfabetis Arab dari huruf alif hingga ya. Polanya berdasarkan fili (kata kerja) dan lengkap dengan segala kata turunannya. Selain makna, pada bagian-bagian tertentu, penyusun juga menampilkan contoh bagaimana pemakaian kata itu di dalam Bahasa Arab, khususnya seperti tertulis dalam kitab-kitab keagamaan (kitab kuning) atau kalimat dari ayat Al-Quran.

Sejak terbitnya tahun 1937, Kamus al-Marbawi setidaknya sudah dicetak 25 kali, dan telah mengalami penambahan-penambahan dan perbaikan-perbaikan dari penyusunnya.

Sebelum kemunculan kamus-kamus Arab-Indonesia yang baru dan menggunakan huruf latin, hingga setidaknya tahun 1980-an, al-Marbawi menjadi satu-satunya kamus yang menjadi pendamping kalangan santri ketika membaca dan mempelajari kitab kuning.

Bahasa Melayu yang digunakan dalam kamus ini memang merupakan lingua franca yang dipakai kalangan terpelajar di nusantara dan kawasan Melayu lainnya serta relatif masih dekat dengan Bahasa Indonesia yang dipakai sekarang.

Sebagai contoh: rais Madrasah = ketua atau kepala sekolah. Contoh lain lagi: akkad al-ahda = memperkukuh ikatan janji. Meski pemakaiannya berkurang, bukan berarti al-Marbawi hilang sama sekali, pencetakannya yang terus-menerus dan keberadaannya di toko-toko kitab, menunjukkan bahwa kamus ini masih cukup banyak digunakan.

Syaikh Idris sebenarnya mengarang banyak buku selain Kamus al-Marbawi, di antaranya sejumlah kitab tafsir seperti Tafsir Quran al-Marbawi, Tafsir Surah Yasin, Tafsir Nurul Yaqin, dan Tafsir Fathul Qadir.

Syaikh Idris wafat dalam usia 93 tahun pada hari Jumat, 13 Oktober 1989 di Ipoh, Perak, Malaysia. Makamnya terletak di Tanah Perkuburan Islam Kampung Lubok Merbau, Kuala Kangsar, Perak. (Ensiklopedi NU)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/41180/mengenal-kamus-al-marbawi

KARTANU

Minggu, 02 April 2006

Jabatan Ketua Umum Ansor Harus Dilepas

Jakarta, KARTANU. Keputusan Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Saifullah Yusuf untuk bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menuai tanggapan di internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)

Rais Syuriah PBNU KH Maruf Amin, misalnya, kemarin meminta kesadaran Saiful--sapaan akrab Saifullah Yusuf--untuk melepaskan jabatannya sebagai Ketua Umum Gerakan Pemuda (GP) Ansor jika kelak duduk di pengurus harian DPP PPP.

Menurut Maruf, ketentuan internal GP Ansor melarang pengurusnya menjabat pengurus harian sebuah partai politik. Memang, aturannya begitu. Kalau menjabat pengurus harian partai, yang bersangkutan harus melepaskan jabatannya sebagai ketua umum Ansor, katanya.

Jabatan Ketua Umum Ansor Harus Dilepas (Sumber Gambar : Nu Online)
Jabatan Ketua Umum Ansor Harus Dilepas (Sumber Gambar : Nu Online)


Jabatan Ketua Umum Ansor Harus Dilepas

Meski demikian, lanjut dia, PBNU tidak bisa serta merta mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan atau tidak. Sebab, GP Ansor merupakan badan otonom di bawah kepengurusan NU. Karena itu, akan ditempuh mekanisme musyawarah bersama antara pimpinan GP Ansor dan pengurus PBNU.

Kapan rapat PB NU membicarakan tentang Saiful? Secepatnya, setelah ada kejelasan tentang posisi Saiful, katanya. Meski demikian, ketua Dewan Fatwa MUI itu mengatakan bahwa pihaknya masih menungu keterangan Saiful mengenai posisi serta sikap politiknya sekarang.

Di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) belum ada satu pun pengurus DPP yang bersedia berkomentar tentang hijrahnya Saiful ke PPP. Tetapi, Wakil Ketua DPW PPP Jawa Barat Amin Suparmin berpendapat agar Saiful tegas tentang statusnya di PKB.

KARTANU

Menurut Suparmin, selama ini publik mempersepsikan Saiful masih sebagai representasi PKB. Paling tidak Saiful harus membuat pernyataan bahwa dirinya keluar dari PKB agar nanti di PPP tidak ada orang yang berstandar ganda, tuturnya. (gpa)

KARTANU

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/5845/jabatan-ketua-umum-ansor-harus-dilepas

KARTANU

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KARTANU sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KARTANU. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KARTANU dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock