Tampilkan postingan dengan label Sanad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sanad. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 November 2016

Ketum PBNU Tidak Tahu dan Tidak Hadir Acara Istighatsah dengan Ahok Malam Ini

KARTANU - Pada caption liputan Metro TV petang Ahad, 5 Februari 2017, disampaikan bahwa Ketum PBNU KH Said Aqil Siraj akan menghadiri sebuah acara istighatsah dimana Ahok juga hadir. Metro TV sempat membuat caption "Ketua Umum PBNU dan Ahok Direncanakan Hadir". Ini bukti caption hoax liputan Metro TV.

Ketum PBNU Tidak Tahu dan Tidak Hadir Acara Istighatsah dengan Ahok Malam Ini - KARTANU
Ketum PBNU Tidak Tahu dan Tidak Hadir Acara Istighatsah dengan Ahok Malam Ini - KARTANU


Ketum PBNU Tidak Tahu dan Tidak Hadir Acara Istighatsah dengan Ahok Malam Ini

Caption liputan yang membuat Ketum PBNU tidak nyaman Berita di atas cukup membuat tidak nyaman PBNU di tengah hiruk pikuk politik menjelang puncak hari Pilkada DKI beberapa hari mendatang, di mana NU memang dituntut netral kepada semua kandidat, apalagi memperhatikan kasus-kasus yang menyibukkan kandidat, NU memang harus netral agar tidak mudah dipolitisir untuk mendulang suara.

Ketum PBNU Tidak Tahu dan Tidak Hadir Acara Istighatsah dengan Ahok Malam Ini - KARTANU
Ketum PBNU Tidak Tahu dan Tidak Hadir Acara Istighatsah dengan Ahok Malam Ini - KARTANU


Ketum PBNU Tidak Tahu dan Tidak Hadir Acara Istighatsah dengan Ahok Malam Ini

Dalam berita yang dimuat Detikcom, foto acara "politis" bertajuk "Istigosah Kebangsaan Warga Nahdliyyin DKI Jakarta" yang digelar di Rumah Djian Farid (PPP) Jalan Talang, Jakarta Pusat (Ahad, 05/02/2017) itu, logo NU juga dibentang besar sebagai background.

Istigosah Kebangsaan Warga Nahdliyyin DKI Jakarta Memperhatikan perihal di atas, Ketum PBNU KH Said Aqiel Siraj melalui Ketua PBNU Bidang Hukum, KH Robikin menyampaikan bahwa Ketum PBNU tidak menghadiri acara tersebut dan PBNU tidak mengetahui atau terlibat dalam acara tersebut.

Demikian klarifikasi terhadap pemberitaan Metro TV, semoga memberikan kepahaman kepada masyarakat dengan jelas. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/ketum-pbnu-tidak-tahu-dan-tidak-hadir-acara-istighatsah-dengan-ahok.html

Jumat, 04 September 2015

Radio Pesantren Tak Mesti Siarkan Pengajian Melulu

Cirebon, KARTANU. Sebagian pesantren di Indonesia telah dilengkapi dengan teknologi komunikasi perangkat siar radio. Fungsinya adalah agar gerakan dakwah yang dilakukan mampu mencapai titik terluar pesantren dan masyarakat di sekitarnya.

Ketua Radio Komunitas (Rakom) Buntet Pesantren (Best FM) Ahmad Rovahan menilai radio pesantren merupakan media yang cukup strategis. Ia berpendapat, meski dari pesantren, siaran radio tidak mesti harus memutar pengajian dan ceramah keagamaan.

Radio Pesantren Tak Mesti Siarkan Pengajian Melulu (Sumber Gambar : Nu Online)
Radio Pesantren Tak Mesti Siarkan Pengajian Melulu (Sumber Gambar : Nu Online)


Radio Pesantren Tak Mesti Siarkan Pengajian Melulu

Pemutaran pengajian berupa ceramah dan pembacaan Al-Quran tentu baik, tapi hal ini jangan sampai dianggap sebagai cara tunggal untuk menyiarkan prinsip kepesantrenan secara lebih mengena kepada masyarakat luar, katanya saat dihubungi KARTANU melalui telepon.

Menurut Rovahan, banyak cara dilakukan untuk mengenalkan pesantren tidak dengan cara yang monoton. Di antaranya adalah membongkar kesan ketertutupan pesantren melalui pembacaan selera pendengar.

KARTANU

Kita tidak perlu antipati dengan karya seni yang lebih umum. Contoh pemutaran musik yang sedang marak di tengah masyarakat. Yang terpenting adalah sebisa mungkin para penggiat radio di dalamnya mampu mengemasnya seusai dengan prinsip-prinsip kepesantrenan, katanya.

KARTANU

Selain membuka diri dengan kegemaran masyarakat dengan tujuan membentengi mereka dengan prinsip-prinsip kepesantrenan, lanjut Rovahan, radio pesantren juga sebenarnya memiliki peluang untuk menggawangi pesan-pesan yang dibutuhkan bagi masyarakat. Misalnya, pembuatan Iklan Layanan Masyarakat (ILM) bertema kebhinekaan, anti korupsi, kenakalan remaja dan lain-lain.

Syaratnya hanya satu, prinsip kepesantrenan dan syiar Islam tersebut tidak dikemas dengan cara yang kaku. Bahkan, boleh juga diimbuhi nuansa guyon sesuai dengan adat pesantren dan masyarakat nahdliyin, pungkasnya.

Best FM meraih penghargaan membanggakan dengan mengalahkan ratusan radio lainnya. Radio tersebut juara 1 lomba pembuatan feature audio bertema Anti Korupsi yang diselenggarakan Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia (KPK RI) bekerja sama dengan Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI). Hadiah dianugerahkan di Museum Fatahilla, Kota Tua, Jakarta, Ahad (17/8).

Sebagai juara 2 diraih Taraktak FM Sumatera Barat, Wijaya FM Yogyakarta dan K-FM Magelang. Pemenang lomba mendapatkan hadiah berupa peralatan siar radio yang diserahkan langsung oleh para Pimpinan KPK diantaranya Ketua KPK Abraham Samad, Bambang Widjayanto, Adnan Pandu Praja, dan Juru Bicara KPK Johan Budi. (Sobih Adnan/Abdullah Alawi)

Dari (Pesantren) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/53897/radio-pesantren-tak-mesti-siarkan-pengajian-melulu

KARTANU

Rabu, 06 Mei 2015

NU Tetap Tunggu Rukyatul Hilal

Jakarta, KARTANU. Meskipun secara hisab kepastian hari raya Idul Fithri sudah bisa dipastikan, namun NU baru akan memutuskan kapan jatuhnya 1 Syawal setelah mengadakan Rukyatul hilal.

"Secara hisab memang 1 Syawal jatuh pada 3 Nopember, dan berdasarkan perhitungan itu, Insya Allah tidak ada perbedaan soal penetapan Idul Fithri, namun sikap NU tetap menunggu rukyatul hilal yang di gelar oleh cabang Falakiyah di seluruh Indonesia," ungkap Ketua Lembaga Falakiyah NU, KH.Gojali Masruri kepada KARTANU, Jumat (29/10).

Memang, lanjutnya berdasarkan hitungan hisab ijtima terjadi pada hari Rabu, 2 Nopember jam 8.16, 49 detik dan matahari terbenam ketika tinggi hilal berada pada 0,3 derajat 18 menit 29 detik, letak matahari terbenam di sebelah selatan titik barat pada 14 derajat, 57 menit, 55 detik, sedangkan kedudukan hilal sebelah selatan matahari pada, 0,3 derajat, 39 menit, 28 detik. Sedangkan keadaan hilal posisinya miring ke selatan dan lama hilal di atas wukuf 15 menit, 38 detik.

"Meskipun sudah ada perhitungan seperti itu, kedudukan hisab bukan sebagai penentu awal Idul Fithri. Hisab hanyalah sebagai pendukung rukyah, dengan lain perkataan hisab sebagai karya ilmiah itu perlu dikontrol tingkat akurasinya dengan observasi di lapangan yang dalam bahasa Nahdlatul Ulama disebut dengan rukyatul hilal," kata kyai lulusan Krapyak ini.

NU Tetap Tunggu Rukyatul Hilal (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Tetap Tunggu Rukyatul Hilal (Sumber Gambar : Nu Online)


NU Tetap Tunggu Rukyatul Hilal

Jadi, kalau rukyah berhasil, berdasarkan perhitungan hisab tersebut, Kamis sudah masuk Idul Fithri, kalau rukyah gagal karena mendung, kabut, dan sebab lainnya maka hitungan bulan digenapkan atau istikmal, jadi Idul Fithri jatuh pada hari Jumat. "Namun, meski hisabnya sudah ada, tetapi itu tidak digunakan, karena NU dalam menetapkan 1 Syawal tetap menunggu rukyah," tandasnya.

Ia menjelaskan Rasululah sendiri tidak pernah meramal jauh-jauh hari, tapi kalau sekadar ramalan jangankan besok, 10 tahun yang akan datang kapan hari raya juga bisa. Dalam konteks ini NU mempunyai azaz di dalam mengamalkan agama itu selalu mendahulukan azaz taabud (ketundukan, ketaatan dan penghambaan) artinya taat, lalu barulah taaqul (rasionalisasi) penggunaan rasio, rasio tidak boleh didahulukan, kalau Mutazilah kan rasio dulu. setelah itu baru kalau akalnya menerima barulah dia menyerahkan pilihan keputusan. "kalau NU tidak, kita taati dulu ajaran alquran dan sunnah untuk menyempurnakannya itu barulah akal kita mendasarkan pada akal supaya lebih sempurna ibadahnya," tegasnya.

Sedangkan ketika ditanyakan mengenai patokan dasar yang dapat dijadikan pijakan apakah NU sudah menetapkan, ia menjawab NU mendasarkan pada rukyatul bil fili sesuai dengan tuntutan rasullulah, yang menjelaskan tidak kurang ada 23 hadist yang menyuruh berpuasa ataupun berhari raya dengan terlebih dahulu melihat rukyatul hilal.

KARTANU

Lebih jauh ia mengatakan, sesuai dengan paham yang diyakini NU bahwa melakukan rukyah itu suatu kewajiban ibadah. "Jadi itu fardu kifayah, orang melihat bulan lalu berpuasa, kalau kewajiban berpuasa atau berhari raya menjadi keputusan pemerintah maka, harus berdasarkan pada rukyah," katanya. Dan kalau pemerintah memutuskan tidak berdasarkan pada rukyah NU pasti menolak dengan cara membuat siaran sendiri kepada seluruh wilayah dan cabang-cabangnya diseluruh Indonesia.

Dan hal itu, katanya pernah terjadi pada tahun 1984 dan tahun 1993, ketika itu NU berbeda dalam penentuan 1 Syawal dengan organisasai lain dan terjadi perbenturan yang sangat keras di tingkatan grass root karena pada saat itu kental nuansa politisnya, setalah NU kembali ke khittah. "NU berharap 1 Syawal bisa bersama, tetapi jika terjadi perbedaan harus disikapi secara wajar dan mengedepankan ukhuwah Islamiyah," paparnya.

Sementara itu, informasi yang dihimpun dari Humas Departemen Agama menyebutkan, Sidang Itsbath penetapan 1 Syawal akan dilakukan pada Rabu (2 Nopember) mulai jam 17.30 WIB, yang akan dihadiri MUI dan seluruh Ormas Islam.Seperti tahun-tahun sebelumnya, Sidang Istinbath akan didahului dengan "rukyatul hilal" (melihat bulan baru) yang dilakukan di 323 Pengadilan Agama dan 25 Pengadilan Tinggi Agama di seluruh Indonesia. (Cih)

KARTANU

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/3719/nu-tetap-tunggu-ampquotrukyatul-hilalampquot

KARTANU

Selasa, 03 Februari 2015

Awas, Setelah Usir Sinta Nuriyah, FPI Semarang Akan Sasar Diskusi di Ungaran

KARTANU - Sikap penolakan Front Pembela Islam (FPI) Jawa Tengah kepada Ibu Sinta Nuriyah Wahid (istri Gus Dur) pada acara buka puasa bersama di Gereja Kristus Raja Ungaran yang kemudian digeser ke Gereja Yakobus Pudak Payung Semarang pada Kamis (16 Juni 2016) sore tadi, adalah berlebihan.

Awas, Setelah Usir Sinta Nuriyah, FPI Semarang Akan Sasar Diskusi di Ungaran - KARTANU
Awas, Setelah Usir Sinta Nuriyah, FPI Semarang Akan Sasar Diskusi di Ungaran - KARTANU


Awas, Setelah Usir Sinta Nuriyah, FPI Semarang Akan Sasar Diskusi di Ungaran

Hanya dengan alasan khawatir terjadi gangguan keamanan karena menolak doa bersama lintas agama, FPI hendak melakukan kontrol tanpa wewenang di Semarang hingga mengusir tamu kehormatan yang diundang. Demikian dikatakan oleh Ubbadul Adzkiya’, aktivis Lembaga Studi Sosial dan Agama (Elsa) Semarang, sore tadi.

Bahkan, FPI Ungaran juga mengancam akan membubarkan diskusi dalam nobar “Pulau Buru Tanah Air Beta” dan lounching buku karya Tsabit Azinar Ahmad berjudul “Sejarah Kontroversial dalam Perspektif Pendidikan” yang rencananya akan diselenggarakan di Rumah Simpul Buku, Sekarang, Semarang pada 17-18 Juni 2016 besok.

Bukan tidak mungkin, setelah mengusir Sinta Nuriyah, FPI akan memblokir jalan dan mengancam acara diskusi. “Bedah buku Tan Malaka juga ditolak oleh FPI Semarang karena dianggap buku komunis padahal mereka tidak membaca,” kata Nafiul Haris, jurnalis, kepada KARTANU.

Sementara itu, Banser Jateng menyatakan tetap mengawal Ibu Sinta Nuriyah hingga aman dari makar FPI. “Di mana pun tempatnya, apa pun bentuknya, dan kapan pun waktunya, dalam rangka untuk mengawal Ibu Nyai Shinta Nuriyah, istri guru kita, kyai kita, Kyai Abdurrahman Wahid, silaturrahim keilmuan, ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah basyariyah,” kata Hasyim As’ary, Kasatkorwil Banser Jawa Tengah. [KARTANU/ m abdullah badri]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/06/awas-setelah-usir-sinta-nuriyah-fpi-semarang-akan-sasar-diskusi-di-ungaran.html

Kamis, 01 Januari 2015

NU to hold national congress in Jombang in August

Surabaya, KARTANU. Nahdlatul Ulama (NU) chairman Saifullah Yusuf, popularly known as Gus Ipul, said that the NUs 2015 muktamar (national congress) would be held in Jombang, East Java, from Aug.1 to 7.

We have prepared four pesantren [Islamic boarding schools], namely Cukir, Petorangan, Tambakberas and Tebuireng, to be used to accommodate the muktamar NU participants, said Saifullah, who is also East Java deputy governor, on Monday (26/01).

NU to hold national congress in Jombang in August (Sumber Gambar : Nu Online)
NU to hold national congress in Jombang in August (Sumber Gambar : Nu Online)


NU to hold national congress in Jombang in August

He said the 33th muktamar would take place at the Alun-alun Jombang, where the organizing committee would set up giant tents to accommodate thousands of participants attending the opening session, meetings and plenary sessions, NU chair election and closing ceremony.

For this years muktamar, especially in the election of the rois aam [law-making body leader], we will use the so-called ahlul hall wal aqdi election system. This method is used to differentiate the election of NU general chairman of lawmaking council (rais aam) and NU general chairman of executive council, said Saifullah.

KARTANU

KARTANU

In the ahlul hall wal aqdi election system, the rois aam will be elected by representatives of senior Islamic teachers so that fights between supporters of candidates can be avoided. Meanwhile, the election of the PBNU chair will be conducted via a direct election, said Saifullah.

Ahead of the muktamar, several people have been touted as PBNU chairman candidates. They include incumbent candidate KH Said Aqil Siroj and KH Sholahuddin Wahid or Gus Sholah, who reportedly will run for the NU chairmanship.

KH Mustofa Bisri or Gus Mus and KH Hasyim Muzadi, who is also former PBNU chairman, are considered strong candidates for rois aam.

NU Rais Syuriah (supreme council chairman) KH Mas Subadar said the Jombang muktamar was an important event as it would be used as to return to the true spirit of the NU, which celebrates its 100-year anniversary this year.

The participants can also make a devotional visit to the graves of NU founders and leaders such, as former president KH Abdurrahman Wahid or Gus Dur, he said.

Editing by Sudarto Murtaufiq

Dari (National) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/57370/nu-to-hold-national-congress-in-jombang-in-august

KARTANU

Minggu, 16 November 2014

Yenny Wahid: Jangan Jadikan NU sebagai Batu Loncatan Politik

Jombang, KARTANU. Memimpin organisasi sebesar Nahdlatul Ulama, tidak boleh asal-asalan. Apalagi hanya menjadikannya sebagai batu loncatan politik, harus dihindari oleh siapapun yang aktif di ormas keagamaan ini.

Hal tersebut dikatakan Zannuba Arifah Chafsoh (Yenny Wahid) usai berziarah di makam ayahnya, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di komplek Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur, Jumat (31/7) sore. Yenny didampingi suaminya, Dhohir Farisi.

Yenny Wahid: Jangan Jadikan NU sebagai Batu Loncatan Politik (Sumber Gambar : Nu Online)
Yenny Wahid: Jangan Jadikan NU sebagai Batu Loncatan Politik (Sumber Gambar : Nu Online)


Yenny Wahid: Jangan Jadikan NU sebagai Batu Loncatan Politik

Mimpin NU jangan sampai sebagai batu loncatan saja. Apalagi batu loncatan politik. Naudzubillah min dzalik, ujar putri kedua almarhum Gus Dur ini.

Menurut Yenny, NU rentan terhadap politik uang (money politics). Memang NU juga tidak lepas dari fenomena yang menjangkiti seluruh bangsa, yaitu soal politik uang. Harus ada mekanisme yang menjawab itu, tegasnya.

KARTANU

KARTANU

Disinggung soal pencalonan pamannya, KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah), Yenny tidak menyatakan mendukung atau menolak. Bagi kami, silakan saja. Siapapun berhak maju. Tapi persoalan tadi harus dijawab. Politik uang yang sudah menjangkiti warga NU harus dituntaskan, tandasnya.

Yenny menambahkan, jika NU sendiri dalam bermuktamar dan dalam pemilihannya cenderung pragmatis, masih juga tergiur dengan iming-iming pragmatisme dan uang, tentu sulit untuk membantu dalam pemberantasan korupsi.

Bagaimana bisa mendandani moral masyarakat, bagaimana mampu melawan korupsi di republik ini jika kita sendiri masih begitu, ujar Direktur The Wahid Institute Jakarta ini.

Ditanya tentang pro-kontra masalah mekanisme pemilihan melalui Ahlul Halli Wal Aqdi, Yenny memberi ruang para muktamirin untuk menentukannya. Soal itu, terserah mekanismenya seperti apa, ujarnya diplomatis. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/61209/yenny-wahid-jangan-jadikan-nu-sebagai-batu-loncatan-politik

KARTANU

Rabu, 13 Maret 2013

GP Ansor Pamekasan Ikuti Deklarasi Akbar Cinta Damai

Pamekasan, KARTANUGerakan Pemuda Ansor Kabupaten Pamekasan turut mewarnai deklarasi akbar kebhinekaan cinta damai yang digelar Forum Pimpinan Daerah (Forpimda) Pamekasan, Selasa (15/11). Bertempat di area monumen Arek Lancor, acara tersebut diikuti pengurus PAC GP Ansor di 13 kecamatan, Banser, Badan Ansor Anti Narkoba (Baanar), MDS Rijalul Ansor, Bupati Achmad Syafii, Kapolres, dan Dandim Pamekasan.

Ketua PC GP Ansor Pamekasan Dr Fathorrahman menegaskan, sehari sebelumnya, pihaknya sudah menginstruksikan kepada seluruh pengurus dan anggota GP Ansor sekabupaten untuk turut serta dalam deklarasi cinta damai tersebut. Pihaknya bersyukur instruksi tersebut dijalankan dengan baik.

GP Ansor Pamekasan Ikuti Deklarasi Akbar Cinta Damai (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Pamekasan Ikuti Deklarasi Akbar Cinta Damai (Sumber Gambar : Nu Online)


GP Ansor Pamekasan Ikuti Deklarasi Akbar Cinta Damai

"Saya bangga sahabat-sahabat tetap semangat meneguhkan perdamaian di negeri ini. Deklrasi ini sebagai wujud komitmen kita untuk terus menjaga kedaulatan bangsa," tegas Fathorrahman.

KARTANU

Dosen Universitas Madura tersebut menambahkan, kedaulatan bangsa dapat tercapai bilamana persatuan dan kesatuan dipelihara dan dipupuk dengan baik. Itu bisa terlaksana dengan mantap ketika cinta damai melekat dalam kehidupan masyarakat secara menyeluruh.

"Deklarasi ini mungkin memang terkesan seremonial. Kami berharap bisa lebih dari itu, takni menjadi pelecut semua lapisan masyarakat, utamanya GP Ansor untuk terus menjaga keutuhan NKRI," lanjutnya.

KARTANU

Dalam sambutannya, Bupati Achmad Syafii menyatakan sangat berterima kasih kepada semua elemen masyarakat yang masih setia menjaga kenyamanan dan keamanan di Kabupaten Pamekasan. Baginya, itu sudah wujud nyata betapa masyarakat Madura, khususnya di Kabupaten Pamekasan, sudah dewasa dalam berbangsa dan bernegara.

"Kedewasaan itu juga tercermin dari kelegowoan dalam menerima perbedaan. Itulah pengamalan dari Bhinneka Tunggal Ika," tukasnya. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/72937/gp-ansor-pamekasan-ikuti-deklarasi-akbar-cinta-damai

KARTANU

Sabtu, 16 Februari 2013

Nahdliyin told to be brilliant in dealing with the nations situation

Blitar, KARTANU. The Jihad resolution issued by Nahdlatul Ulama (NU), the countrys largest Muslim organization, on October 22, 1945, was a significant contribution of NU Muslim scholars (ulema) in dealing with the nations situation in the time. The NUs success should inspire all of the NU followers (Nahdliyin) to be capable of reading the current situation.

According to Ach. Dofir Zuhri that all NU cadres must restore their critical reasoning in reading the nations situation, since challenges faced by NU and the nation are highly complex such as economic, cultural, political, and so forth.

Nahdliyin told to be brilliant in dealing with the nations situation (Sumber Gambar : Nu Online)
Nahdliyin told to be brilliant in dealing with the nations situation (Sumber Gambar : Nu Online)


Nahdliyin told to be brilliant in dealing with the nations situation

"For that reason, restoring the critical reasoning is essential in todays conditions, namely the cold war or a war of ideology," he said at a meeting held by Lakpesdam NU of Blitar here on Saturday (26/10).

Meanwhile, Syaiful Maarif speaking at the forum said that now NU had not had ulema whose charisma and sufi attributes such as wara (scrupulous abstinence) are the same as such NU ulema as KH Hasyim Asyari, KH Wahab Hasbullah and KH Wahid Hasyim.

KARTANU

"Thats why, NU cadres, especially todays clerics must reflect and imitate the ulema personalities," he explained.

KARTANU

The Secretary Lakpesdam NU of Blitar Gigih Wardana said the commemoration of the NU jihad resolution should be annual agenda.

"The commemoration is a reflection momentum for NU cadres to continue the ulema and pesantren struggle in fighting for the Indonesian independence," he said.

As we know, the founder of Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asyari issued the jihad resolution for supporting and encouraging Muslims to join the battle and fight against the reoccupation of Indonesia by foreign troops.

The fatwa followed a meeting of ulema from Java and Madura in Surabaya to respond to the proclamation of Indonesias independence by Sukarno and Mohammad Hatta in Jakarta on Aug. 17, 1945.

The fatwa was written in pegon, an Arabic script but in Indonesian or Javanese (Amiq, 1998; 88). It says, among other things, that there is an obligation (fardlu ain) for Muslims to fight against infidels (the Dutch) in order to defend Indonesian independence, that those who died during the fight against NICA (Netherland Indies Civil Administration) would be considered martyrs and the killing of those who undermine the movement and break national unity is legitimate. This fatwa later on became well-known as the Jihad Resolution.

Naturally, the issuance of the fatwa stimulated fighters to stream into Surabaya and fight the Allied troops. The fighters included followers of the Hizbullah and Sabilillah groups from Surabaya and the surrounding cities such as Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Jombang and others.

Reporting by Imam Kusnin; Editing by Sudarto Murtaufiq

Dari (Regional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/47874/nahdliyin-told-to-039be-brilliant-in-dealing-with-the-nation039s-situation039

KARTANU

Kamis, 26 April 2012

Ini Pernyataan Sikap LP Maarif NU di Hari Pendidikan Nasional

Jakarta, KARTANU. Pengurus Pusat Lembaga Pendidikan Maarif Nahdlatul Ulama (PP LP Maarif NU) melayangkan sejumlah rekomendasi untuk khususnya Kemenag RI dan Kemendikbud RI sebagai penyelenggara pendidikan nasional. Catatan ini dibuat bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional 2016 untuk dunia pendidikan Indonesia yang lebih baik ke depan.

Mereka meminta dua kementerian negaraini untuk memberikan perhatian yang adil dan tidak diskriminatif dalam penyelenggaraan pendidikan, terutama dalam hal mendistribusikan anggaran negara/daerah terkait bantuan peningkatan sarana dan prasarana pendidikan.

Ini Pernyataan Sikap LP Maarif NU di Hari Pendidikan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Pernyataan Sikap LP Maarif NU di Hari Pendidikan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)


Ini Pernyataan Sikap LP Maarif NU di Hari Pendidikan Nasional

Pemerintah, kata Ketua PP LP Maarif NU H Z Arifin Junaidi, diharapkan memerhatikan terhadap keseimbangan pendapatan antara gaji guru negeri dan swasta.

Menurut Arifin Junaidi, rendahnya kesejahteraan guru akan berdampak pada rendahnya mutu para pendidiknya.

KARTANU

Dua kementerian ini diminta untuk memberikan akses dan kesempatan yang sama terhadap para pendidik di sekolah/madrasah untuk mengikuti pelbagai pendidikan dan pelatihan, baik guru negeri maupun swasta.

KARTANU

Pemerintah, menurutnya, mesti memberikan perhatian khusus kepada lembaga-lembaga pendidikan di daerah-daerah pedesaan, wilayah pinggiran, wilayah perbatasan, dan daerah-daerah di Indonesia yang masuk dalam kategori daerah tertinggal.

LP Maarif NU mendesak pemerintah dan parlemen untuk segera merevisi UU 20/2003 tentang sistem pendidikan nasional, terutama terkait Pasal 9 yang berbunyi masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumberdaya dalam penyelenggaraan pendidikan.

Kata wajib dalam pasal tersebut perlu diganti dengan kata dapat sehingga ada kepastian ketersediaan layanan pendidikan bermutu bagi seluruh warga Negara Indonesia di manapun berada. Persoalan ketidakhadiran pemerintah di beberapa daerah pinggiran dalam memberikan layanan pendidikan bermutu dinilai akibat dari ketergantungan pemerintah terhadap masyarakat setempat.

Negara mesti lebih serius memberi tekanan pada pendidikan karakter, kata H Arifin Junaidi yang disampaikannya dalam rangka peringatan Hardiknas 2016 di Jakarta, Senin (2/5) malam. (Alhafiz K)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/67857/ini-pernyataan-sikap-lp-maarif-nu-di-hari-pendidikan-nasional

KARTANU

Minggu, 08 Mei 2011

Ketua DPRD Nilai Ansor Way Kanan OKP Aktif

Way Kanan, KARTANU. Ketua DPRD Kabupaten Way Kanan Raden Adipati Surya pasca upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-86 tahun di Blambangan Umpu, Way Kanan, Lampung, Selasa (28/10), mengapresiasi Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor di daerah yang berbatasan dengan Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur Provinsi Sumatera Selatan itu.

"Ansor sebagai organisasi kepemudaan atau OKP yang hidup atau tidak mati. Kami membutuhkan bantuan Ansor untuk membangun Way Kanan dan organisasi kepemudaan yang lain. Sinergi dan silaturahim untuk pembangunan daerah dan bangsa senantiasa kita perlukan," kata Adipati yang juga Ketua DPD KNPI Way Kanan itu pula.

Ketua DPRD Nilai Ansor Way Kanan OKP Aktif (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua DPRD Nilai Ansor Way Kanan OKP Aktif (Sumber Gambar : Nu Online)


Ketua DPRD Nilai Ansor Way Kanan OKP Aktif

Pada pertemuan itu, sejumlah pengurus PC GP Ansor Way Kanan seperti Sekretaris Eko Wahyudi, Kasatkorcab Banser Alex Al Mukin mengucapkan selamat kepada Adipati yang baru saja dilantik menjadi pimpinan DPRD Way Kanan definitif itu.

KARTANU

"Terima kasih. Selamat juga untuk GP Ansor yang memiliki pemimpin baru, sahabat Gatot Arifianto, saya sudah lama kenal beliau. Saya optimistis GP Ansor akan semakin maju di bawah kepemimpinannya," ujar Adipati lagi.

KARTANU

Pemerintah Kabupaten Way Kanan memperingati Hari Sumpah Pemuda ke 86 tahun di lapangan Pemkab setempat. Bertindak sebagai Inspektur Upacara pada kegiatan dihadiri Kapolres AKBP Kunto Prasetya dan diikuti sekitar seribu peserta dari berbagai unsur seperti PNS, pelajar dan organisasi kepemudaan itu Raden Adipati Surya, adapun Komandan Upacara Rusli Ali Sadewa dari Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Satkoryon Pakuanratu.

"Kami berima kasih atas amanah dan penunjukan yang diberikan, semoga ke depan GP Ansor dipercaya kembali sebagai komandan upacara di hari-hari nasional lainya," ujar Rusli singkat.

Permintaan GP Ansor menjadi Komandan Upacara Sumpah Pemuda 28 Oktober disampaikan Bupati Way Kanan Bustami Zainudin. (Hasyim Asari/Mahbib)

Foto: Rusli Ali Sadewa anggota Banser Satkoryon Pakuan Ratu Way Kanan menjadi Komandan Upacara Sumpah Pemuda 28 Oktober 2014 yang ke-86 di Waykanan, Lampung.

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/55382/ketua-dprd-nilai-ansor-way-kanan-okp-aktif

KARTANU

Sabtu, 12 Juni 2010

Pergunu Desak Pemerintah Cairkan Dana BOS Madrasah

Mojokerto, KARTANU. Menjelang perhelatan Muktamar ke-33 nu di Jombang, Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama melaksanakan Rapat Kerja Nasional yang diikuti oleh Ketua dan Sekretaris Pergunu se-Indonesia di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto, Rabu-Kamis, (29-30/7).

Turut hadir dan menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut KH Mujib Qulyubi Katib Syuriah PBNU, Prof Furqon, PhD Rektor UPI Badung, dan Prof Dr Ir Muhammad Bisri, MS Rektor Universitas Brawijaya.

Pergunu Desak Pemerintah Cairkan Dana BOS Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Desak Pemerintah Cairkan Dana BOS Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)


Pergunu Desak Pemerintah Cairkan Dana BOS Madrasah

Dalam Rakernas tersebut, H Saepuloh, MPd Sekretaris Pergunu Jabar menyampaikan kepada Pimpinan Pusat Pergunu tentang belum cairnya dana BOS Madrasah yang berimplikasi terhadap tidak terpenuhinya hak-hak guru, salah satunya honorarium.

"Sudah 7 bulan dana BOS Madrasah, baik itu Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah belum cair. Sehingga banyak guru-guru Madrasah swasta belum menerima honor selama 7 bulan. Kami minta PP Pergunu mendesak Kementrian Agama untuk segera mencairkan dana BOS," tutur H Saepuloh

KARTANU

Menyikapi hal tersebut, Ketua Umum PP Pergunu Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA prihatin dan menyayangkan akan belum cairnya dana BOS Madrasah. Oleh karena itu, PP Pergunu akan desak Menteri Agama untuk segera cairkan dana BOS Madrasah.

KARTANU

"Kami akan segera surati Kemenag RI untuk segera mencairkan dana BOS, agar guru-guru madrasah mendapatkan honorarium yang belum dibayarkan oleh Madrasah srlama 7 bulan," tutur Kiai Asep. (Red: Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/61196/pergunu-desak-pemerintah-cairkan-dana-bos-madrasah

KARTANU

Sabtu, 17 April 2010

Kisah Wanita yang Jatuhkan Kuasa Raja dan Pesan Mbah Maimoen Memilih Istri

KARTANU - Setiap manusia pasti mempunyai cita-cita setinggi langit, begitu ketika diajarkan di TK (Taman Kanak-Kanak) dahulu. Ingin serba semuanya mewah dan tercapai, fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah.

Untuk menggapai semua itu tidak semudah tidur dalam mimpi, dan tidak semudah khayalan dan angan-angan. Butuh perjuangan dan doa, butuh pengorbanan dan kegigihahan bak sekuat baja dan selentur samurai jepang.

Kisah Wanita yang Jatuhkan Kuasa Raja dan Pesan Mbah Maimoen Memilih Istri - KARTANU
Kisah Wanita yang Jatuhkan Kuasa Raja dan Pesan Mbah Maimoen Memilih Istri - KARTANU


Kisah Wanita yang Jatuhkan Kuasa Raja dan Pesan Mbah Maimoen Memilih Istri

Wanita adalah tiang negara. Begitu kata pepatah.

المراة عماد البلا د اذا صلحت صلحت البلا د واذا فسدت فسدت البلا د

Artinya: "Wanita adalah tiang negara, apabila wanita itu baik maka negara akan baik,

dan apabila wanita itu rusak, maka Negara akan rusak pula".

Jika ingin kuat negara ini, maka perkuat pula wanitanya, dengan memperkuat sektor pendidikan dan agamanya. Maka tidaklah heran, jika disebuah negara bagian Asia, ada wanita wanita menjadi pejuang dengan melacurk4n diri demi mengorek informasi dan mengetahui seberapa besar kekuatan musuh.

Dalam sebuah penelitian wanita disebut sebagai yang paling dominan dalam membentuk karakter seorang anak. Sekuat apapun anak, pasti akan takluk kepada ibunya. Dan kesuksesan besar anak paling besar adalah pengaruh dari ibunya, pengaruh dari kekuatan doanya, karena bagaimanapun juga, derajat seorang ibu lebih tinggi tiga tingkat dibanding ayah.

Maka tidaklah heran jika Sayyiduna Umar bin Khattab pernah mengatakan, "jika ada orang sukses maka tanyalah, siapa ibunya dan siapa yang menjadi istrinya?"

Ken Dedes Direbut Ken Arok

Alkisah, pada suatu hari, Tunggul Ametung singgah ke Desa Panawijen, di sana, ia kemudian bertemu dengan Ken Dedes. Parasnya yang ayu dan tubuhnya yang molek membuat Tunggul Ametung terpesona.

Keinginannya untuk memperistri Ken Dedes begitu kuat. Ketika menyatakan keinginannya untuk membawa pulang Ken Dedes, wanita itu keberatan lantaran ayahnya belum pulang dari bertapa. Ken Dedes adalah putri satu-satunya pendeta Buddha aliran Mahayana, Mpu Purwa.

Tunggul Ametung tak kuasa untuk bersabar. Dibawalah paksa Ken Dedes kembali ke Tumapel untuk dinikahi. Ketika Mpu Purwa pulang dan mendapati putri satu-satunya diculik, ia marah besar. Sang pendeta lalu mengutuk, siapa pun yang telah menculik Ken Dedes akan mati terbunuh dengan keris dan tidak akan merasakan kenikmatan hidup.

Tunggul Ametung kembali ke pendopo dan memperkenalkan Ken Dedes sebagai istrinya kepada seluruh penghuni pendopo, termasuk Ken Arok. Kecantikan Ken Dedes juga menarik perhatian Ken Arok, tetapi bukan itu alasan Ken Arok kelak merebut dan memperistri Ken Dedes.

Kisah berlanjut. Ketika Ken Arok membantu Ken Dedes turun dari kereta, kain wanita itu tersingkap. Ken Arok terkesiap melihat pangkal p4h4 Ken Dedes yang bercahaya. Ia lalu bertanya kepada Lohgawe, apa arti dari kejadian tersebut.

Menurut sang pendeta, memperistri wanita dengan ciri-ciri seperti itu akan menjadi penguasa dan memberikan keturunan raja-raja Jawa. Atas dasar itulah kemudian timbul niat jahat Ken Arok untuk membunuh Tunggul Ametung.

Ken Arok menikahi Ken Dedes setelah membunuh Tunggul Ametung dengan keris sakti yang dipesannya pada Mpu Gandring. Malam itu, Ken Dedes menyaksikan sendiri bagaimana suaminya dibunuh oleh sang pengawal kepercayaan.

Namun entah karena bujuk rayu Ken Arok atau karena sedari awal Ken Dedes juga memiliki perasaan kepada Ken Arok, wanita itu mengiyakan saat Ken Arok memintanya menjadi istri.

Kisah Ken Arok dan Ken Dedes memang memiliki daya tarik tersendiri. Dan seperti yang diramalkan, Ken Dedes memang melahirkan keturunan yang menjadi raja-raja di Jawa, mulai dari Anusapati, Ranggawuni, dan Kertanegara yang merupakan pembesar di Kerajaan Singosari.

Selain itu, keturunan Ken Dedes juga sampai hingga pada Raden Wijaya, pendiri kerajaan Majapahit dan Hayam Wuruk. Cerita ini penulis ambil dari situs reidfile.com.

Walhasil dalam memilih istri, kita dianjurkan yang paling utama adalah agamanya, kemudian nasabnya, setelah itu kecantikannya, dan yang terakhir hartanya. Jika bisa memukan semuanya, maka itu adalah nikmat Allah yang teramat agung. Dengan demikian, kita bisa menurunkan anak-anak yang sholeh pula. Sebuah syair bijak mengatakan:

نعم الإله على العباد كثيرة ☆ وأجلها بنجابة الأولاد Nikmat tuhan yang diberikan begitu banyak # dan termasuk paling agungnya nikmat itu mempunyai anak-anak yang hebat.

Pesan Mbah Moen Memilih Istri

Saya akhiri tulisan ini dengan sebuah renungan inspirasi dari ulama' sepuh Nusantara, Simbah KH Maemon Zubair. Beliau pernah mengatakan, "Nek milih bojo iku sing ora patiyo ngerti dunyo. Mergo sepiro anakmu sholeh, sepiro sholehahe ibune. Sohabat Abbas iku nduwe bojo ora seneng dandan, nganti sohabat Abbas isin nek metu karo bojone. Tapi beliau nduwe anak ngalime poll, rupane Abdulloh bin Abbas," begitu wejangan Mbah Moen.

Mbah Moen melanjutkan, "Sayyidina Husain nduwe bojo anake Rojo Rustam (Rojo Persia). Walaupun asale putri Rojo, sakwise dadi bojone Sayyidina Husain wis ora patiyo seneng dunyo. Mulane nduwe putro Ali Zainal Abidin bin Husain, ngalim-ngalime keturunane Kanjeng Nabi. Kiai-Kiai Sarang ngalim-ngalim koyo ngono, mergo mbah-mbah wedo'e do seneng poso," imbuh pesannya dalam bahasa Jawa.

"Syekh Yasin Al Fadani (ulama' asal padang yang tinggal di Mekah) iku nduwe istri pinter dagang, nduwe putro loro. Sing siji dadi ahli bangunan sijine kerjo neng transportasi. Kabeh anake ora ono sing nerusake dakwahe Syekh Yasin," lanjut dawuh Mbah Moen.

"Neng Al Qur-an نساؤكم حرث لكم. Istri iku ladang kanggo suami. Sepiro apike bibit tapi nek tanahe atau ladange ora apik, ora bakal ngasilno pari apik. Intine iso nduwe anak ngalim, nek istrine ora patiyo ngurusi dunyo lan khidmah poll karo suamine. Nek kowe milih istri pinter dunyo, kowe sing kudu wani tirakat. Nek ora wani tirakat, yo lurune istri sing ahli dzikir, kowene sing mikir dunyo alias kerjo," Mbah Moen mengakhiri dawuh.

Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, kurang lebih seperti ini, "Ketika kamu memilih istri, carilah wanita yang tidak terlalu tahu akan dunia. Karena keshalihan anakmu bergantung pada seberapa shalihah ibunya. Shahabat Abbas ra. mempunyai istri yang tidak suka berhias, sampai membuatnya malu saat keluar dengan istrinya. Tapi beliau mempunyai anak yang sangat alim, yaitu Abdullah ibnu Abbas,

"Sayyid Husain cucu Rasulullah punya istri dari keturunan Raja Persia. Walaupun berasal dari Putri Raja, setelah menjadi istri Husain menjadi wanita yang tidak mencintai dunia. Maka mempunyai anak Ali Zainal Abidin bin Husain, paling alim dari keturunan Rasulullah Saw. Para kiai dari Sarang Jawa Tengah bisa menjadi alim seperti itu karena nenek-nenek mereka suka berpuasa,

"Syekh Yasin Al Fadani ulama dari Padang yang tinggal di Makkah mempunyai istri yang pandai berdagang, dan punya dua anak. Salah satu anaknya menjadi ahli bangunan dan yang satunya lagi bekerja di bagian transportasi. Kedua anaknya tidak ada yang bisa meneruskan dakwahnya Syekh Yasin,

"Di dalam Al-Qur'an disebutkan dalam sebuah ayat: نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ. Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam." (QS. Al Baqarah : 223) Istri itu ladang bagi suami. Seberapa bagusnya bibit ketika tanah atau ladangnya tidak bagus, maka tidak bisa menghasilkan padi (panen) yang bagus pula,

"Intinya, bisa mempunyai anak yang alim ketika istrinya tidak terlalu mengurusi dunia dan sangat taat atau patuh terhadap suaminya. Ketika kamu lebih memilih istri yang mengurusi dunia, maka kamu yang harus berani riyadhoh (berdoa). Jika tidak berani riyadhoh, maka carilah istri yang suka berdzikir dan kamu yang memikirkan dunia atau kerja." [KARTANU]

Ahmad Zain Bad

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/kisah-wanita-yang-jatuhkan-kuasa-raja-dan-pesan-mbah-maimoen-memilih-istri.html

Minggu, 19 Agustus 2007

Bershalawat di Kendeng, Nahdliyin Rembang Tolak Bala Semen Indonesia

Rembang, KARTANU. Usai putusan PTUN beberapa bulan lalu, rasa kecewa masih terasa di hati warga Rembang terutama warga desa Tegaldowo kecamatan Gunem kabupaten Rembang. Pada Kamis (23/7), ratusan warga menggelar aksi meminta maaf kepada alam karena mereka dikalahkan dalam sidang gugatan penolakan pabrik Semen Indonesia di Pengadilan Tata Usaha Negara.

Salah satu ulama asal desa Sidorejo kecamatan Pamotan kabupaten Rembang Gus Ubaid memimpin doa bersama. Mereka yakin pembangunan dan penambangan batu kapur di gunung Kendeng oleh Semen Indonesia membawa musibah dan menyengsarakan warga sekitar.

Bershalawat di Kendeng, Nahdliyin Rembang Tolak Bala Semen Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Bershalawat di Kendeng, Nahdliyin Rembang Tolak Bala Semen Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)


Bershalawat di Kendeng, Nahdliyin Rembang Tolak Bala Semen Indonesia

"Pembangunan pabrik semen yang disertai penambangan gunung Kendeng nanti tentu menimbulkan musibah dan menyengsarakan warga yang ada di sekitar area penambangan terutama para petani penggarap sawah.

KARTANU

Sejumlah ritual digelar. Mereka mengarak dua gunungan ketupat sebagai wujud kekecewaan masyarakat desa Tegaldowo dan sekitarnya atas tetap dilangsungkannya proyek penambangan batu kapur di Gunung Kendeng. Proyek semen ini dijalankan tanpa memerhatikan nasib para petani yang membela kelestarian area persawahan di area penambangan.

"Gunungan ketupat ini sebagai simbol kekecewaan kami, yang tetap dilaksanakannya penambangan gunung Kendeng sebagai bahan baku semen, tutur Sumarno salah satu tokoh warga yang menolak penambangan gunung Kendeng. (Ahmad Asmui/Alhafiz K)

KARTANU

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/61066/bershalawat-di-kendeng-nahdliyin-rembang-tolak-bala-semen-indonesia

KARTANU

Kamis, 17 Mei 2007

Sambut Hari Santri, Pawai Budaya Religi Pacitan Diikuti Ribuan Orang

Pacitan, KARTANU. Semarak peringatan Hari Santri Nasional 22 Oktober mulai terasa di beberapa daerah di Indonesia. Di Pacitan, Jawa Timur, ribuan warga NU mengawali rangkaian peringatan Hari Santri dengan melakukan Pawai Budaya Religi, Ahad (16/10).

Pelepasan pawai dilakukan pada pukul 08.00 di halaman Pesantren Nahdlatussubban, Arjowinangun. Rombongan pawai dilepas Ketua DPRD Jawa Timur H Halim Iskandar disaksikan jajaran pengurus PCNU Pacitan.

Sambut Hari Santri, Pawai Budaya Religi Pacitan Diikuti Ribuan Orang (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Hari Santri, Pawai Budaya Religi Pacitan Diikuti Ribuan Orang (Sumber Gambar : Nu Online)


Sambut Hari Santri, Pawai Budaya Religi Pacitan Diikuti Ribuan Orang

Rombongan pawai melewati jalan protokol menuju alun-alun Pacitan. Ribuan massa yang terdiri dari Pengurus PCNU, Badan otonom NU, MWCNU se-Pacitan, anggota Banser (Barisan Ansor Serbaguna) dan siswa siswi Madrasah Maarif se-Pacitan dengan semangat melantunkan shalawat dan sesekali meneriakkan yel-yel, seperti "Dari Santri untuk negeri", "Siapa Kita, Warga NU", "NKRI Harga Mati" "Pancasila Jaya", Ulama Santri, Pejuang Sejati".

KARTANU

Personel keamanan Polres Pacitan dibantu anggota Banser terpaksa melakukan sistem buka tutup kendaraan, pada jalur yang dilalui peserta pawai. Sepanjang jalan yang dilalui peserta pawai, masyarakat Pacitan tampak antusias menyambutnya hingga rombongan sampai alun-alun kota 1001 goa ini. Sesampainya di alun-alun, peserta pawai disuguhi penampilan kesenian reyog ponorogo dan pencak silat Pagar Nusa.

Sesampainya di alun-alun pacitan, selanjutnya dilakukan penyerahan pataka NU oleh Ketua DPRD Jawa Timur H Halim Iskandar, kepada ketua Hari Santri Pacitan Gus Muad Harits Dimyathi. Sebelumnya Pataka NU tersebut telah dikirab dari Pesantren Mambaul Maarif Denanyar Jombang menuju Pacitan pada Sabtu (15/10) malam. Selanjutnya, Pataka NU akan dikirabkan kembali dalam kegiatan Kirab Resolusi Jihad NU dari Pesantren Tremas menuju Alun-Alun Pacitan pada puncak peringatan Hari Santri 22 Oktober nanti.

KARTANU

Ketua DPRD Jawa Timur, H. Halim Iskandar, mengingatkan kembali tentang kronologis kenapa terjadi hari santri. Menurutnya, hari santri lahir dari semangat resolusi jihad NU yang dicetuskan oleh Hadratusyyekh Hasyim Asari pada tahun 1945. Resolusi jihad NU akhirnya menggerakkan ribuan santri, khususnya di Jawa Timur untuk maju ke medan pertempuran dalam rangka melawan penjajahan.

"Oleh karena itu, wajib bagi kita sebagai warga negara Indonesia utamanya warga Nahdlatul Ulama untuk terus mengingat sejarah ini. Karena bagaimanapun tidak akan ada perang 10 November 1945, kalau tidak ada Resolusi Jihad NU, jelas pria yang akrab disapa Pak Halim itu.

Perjuangan warga NU ke depan, imbuhnya, masih sangat panjang. Perjuangan menjaga dan mempertahankan keutuhan Negara kesatuan Republik Indonesia jauh lebih berat. Indonesia saat ini sedang diancam oleh kelompok-kelompok anti-Pancasila yang ingin merombak NKRI. Namun demikian, warga NU tidak boleh gentar. Siapa pun yang ingin merombak negara kesatuan Republik Indonesai yang sudah diperjuangkan oleh para ulama dan santri akan berhadapan dengan kader kader NU, tandasnya.

Sementara itu, selain pawai budaya religi, selama sepekan ke depan panitia hari santri nasional Kabupaten Pacitan juga menyiapkan berbagai bentuk kegiatan, seperti Bazar UMKM warga nahdliyin, aksi sosial donor darah, panggung budaya religi soko papat, lomba kajian kitab kuning, lomba cipta puisi dan esai.

Selain itu, pada puncak peringatan Hari Santri Nasional 22 Oktober akan digelar kirab resolusi jihad NU yang dilakukan dengan dengan jalan kaki dari Pesantren Tremas menuju alun-alun Pacitan, kemudaian ada Pembacaan 1 Miliar kali shalawat nariyah di seluruh pesantren dan MWCNU se-Pacitan, apel dan kirab hari santri serta pagelaran wayang kulit bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kata Ketua Hari Santri Pacitan Gus Muadz Harits Dimyathi. (Zaenal Faizin/Abdullah Alawi)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/72061/sambut-hari-santri-pawai-budaya-religi-pacitan-diikuti-ribuan-orang-

KARTANU

Rabu, 17 Mei 2006

ISNU Sumedang Gelar Lawatan Budaya Seni Tarawangsa Rancakalong

Sumedang, KARTANU. Pengurus Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Sumedang mengadakan kegiatan lawatan budaya kesenian tarawangsa atau jentreng di Dusun Cimanglid Desa Pasirbiru Kecamatan Rancakalong Sumedang, Jumat (17/2) malam. Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk pembinaan nilai kesejahteraan di kalangan generasi muda melalui budaya.

Seluruh pengurus ISNU Sumedang dengan didampingi jajaran pengurus PCNU Sumedang ikut hadir dalam lawatan budaya tersebut. Ketua PCNU Sumedang H Sadulloh mengatakan, sekarang ini banyak orang yang alergi terhadap budaya.

ISNU Sumedang Gelar Lawatan Budaya Seni Tarawangsa Rancakalong (Sumber Gambar : Nu Online)
ISNU Sumedang Gelar Lawatan Budaya Seni Tarawangsa Rancakalong (Sumber Gambar : Nu Online)


ISNU Sumedang Gelar Lawatan Budaya Seni Tarawangsa Rancakalong

"Banyak orang yang alergi terhadap budaya, padahal Rasulullah diutus ke dunia hanya untuk menyempurnakan akhlak manusia, bukan untuk mengubah budayanya," kata H Sadulloh.

KARTANU

Begitu juga ketika Islam datang ke Indonesia, bukan untuk mengubah budaya Indonesia menjadi budaya Arab. Tapi bagaimana budaya yang sudah ada dikelola dengan baik. Budaya yang tidak sesuai dengan syariat Islam jangan dihilangkan tapi harus diluruskan sehingga para pelaku budaya akhlaknya semakin baik, lanjut H Sadulloh.

Sementara salah satu pengurus ISNU Sumedang Hendra Hidayat mengatakan, kebudayaan merupakan suatu proses panjang melalui tahapan belajar yang berkelanjutan hingga menjadi pengalaman dengan melahirkan karya. Hal ini terlihat dari keanekaragaman hasil budaya Nusantara yang diwariskan kepada bangsa Indonesia secara turun temurun. Lingkungan yang berbeda akan melahirkan kebudayaan yang berbeda pula.

KARTANU

Hendra yang merupakan aktivis budaya di Sumedang secara lebih jauh mengatakan, budaya adalah etika dan estetika hidup suatu bangsa. Sedangkan seni adalah kristalisasi nilai-nilai filosofis, sikap mental, dan nilai-nilai luhur budaya itu sendiri dengan segenap unsur pembentuknya.

Sementara Tarawangsa merupakan salah satu jenis kesenian rakyat yang ada di Jawa Barat. Istilah Tarawangsa sendiri memiliki dua pengertian. Pertama, alat musik gesek yang memiliki dua dawai yang terbuat dari kawat baja atau besi dan yang kedua nama dari salah satu jenis musik tradisional Sunda.

Tarawangsa lebih tua keberadaannya daripada rebab, alat gesek yang lain. Naskah kuno Sewaka Darma dari awal abad ke-18 telah menyebut nama Tarawangsa sebagai nama alat musik. Rebab muncul di tanah Jawa setelah zaman Islam sekitar abad ke-15, merupakan adaptasi dari alat gesek bangsa Arab yang dibawa oleh para penyebar Islam dari tanah Arab dan India. Setelah kemunculan rebab, tarawangsa biasa pula disebut dengan nama rebab jangkung (rebab tinggi), karena ukuran tarawangsa umumnya lebih tinggi daripada rebab, lanjut Hendra.

Pada sumber lain dikatakan bahwa tarawangsa adalah salah satu alat musik tradisional masyarakat sunda, yang keberadaannya bahkan disebut dan telah tertulis dalam naskah-naskah sunda kuno yang ditulis pada masa Kerajaan Sunda Padjadjaran dulu. Hingga saat ini kesenian tarawangsa masih hidup di beberapa daerah seperti di Rancakalong Sumedang, Cipatujah Tasikmalaya, dan di beberapa daerah di Bandung dan Banten.

Kabarnya, sulit sekali melacak sejarah sejak kapan dan dimana alat musik tarawangsa ini lahir di tanah pasundan, karena memang kurangnya litelatur yang menjelaskannya secara pasti. Namun di Rancakalong terdapat sebuah tradisi lisan yang hidup hingga sekarang dan diceritakan secara turun temurun mengenai kisah awal mula kesenian tarawangsa, yang menurut cerita tersebut kesenian tarawangsa telah ada sejak masa kerajaan Mataram Kuno sekitar abad 8 masehi dan kesenian tersebut berkaitan erat dengan hubungan Sumedang dengan Mataram.

ISNU Sumedang merasa terpanggil untuk mencoba menggali berbagai kebudayaan dan kesenian yang ada di Sumedang, termasuk seni tarawangsa ini. Lawatan budaya seperti ini akan terus dilakukan untuk bahan kajian para sarjana di Sumedang. Ngamumule budaya sunda pancen urang sarerea (melestarikan budaya sunda tugas kita semua), kata Hendra. (Ayi Abdul Kahar/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/75488/isnu-sumedang-gelar-lawatan-budaya-seni-tarawangsa-rancakalong

KARTANU

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KARTANU sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KARTANU. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KARTANU dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock