Tampilkan postingan dengan label Pondok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pondok. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Juli 2016

Sembilan Perguruan Tinggi Islam Sepakat Tolak Kegiatan Anti-Pancasila dan NKRI

Jember, KARTANU. Sembilan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) sepakat menolak kegiatan-kegiatan yang bernada anti-Pancasila dan anti-NKRI diselenggarakan di kampus mereka. Kesepakatan tersebut termaktub dalam salah satu poin Piagam Sunan Ampel yang ditandatangani PTKIN Persemakmuran Sunan Ampil di IAIN Tulungagung, belum lama ini.

Kesembilan PTKIN tersebut adalah perguruan tinggi itu berdiri dari pengembangan IAIN Sunan Ampel. Perguruan tinggi itu adalah IAIN Tulungagung, UIN Sunan Ampel Surabaya, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Mataram, IAIN Jember, IAIN Ponorogo, IAIN Samarinda, STAIN Pamekasan dan STAIN Kediri.

Sembilan Perguruan Tinggi Islam Sepakat Tolak Kegiatan Anti-Pancasila dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Sembilan Perguruan Tinggi Islam Sepakat Tolak Kegiatan Anti-Pancasila dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)


Sembilan Perguruan Tinggi Islam Sepakat Tolak Kegiatan Anti-Pancasila dan NKRI

Menurut Rektor IAIN Jember Babun Suharto, dalam pertemuan tahunan tersebut disepakati tiga poin. Dua diantaranya adalah kesepakatan untuk membangun academic branding dengan penguatan Tridharma perguruan tinggi yang prima masing-masing PTKIN Persemakmuran Sunan Ampel sebagai tawaran alternatif guna menjawab tuntutan dan ekspektasi masyarakat Indonesia dan dunia.

Poin terakhir, lanjutnya, adalah melakukan sinergitas antar-PTKIN Persemakmuran Sunan Ampel dalam upaya pengembangan kelembagaan maupun mengampanyekan Islam Rahmatan Lil Alamin.

KARTANU

Babun menambahkan, dalam upaya membendung radikalisme dan terorisme PTKIN Persemakmuran Sunan Ampel sepakat agar segala kegiatan atau pendirian personal maupun kelompok yang anti-Pancasila dan anti-NKRI harus dibasmi. Jika tidak, dikhawatirkan akan memunculkan gerakan-gerakan perpecahan bangsa. Sikap itu diambil sebagai jawaban atas maraknya gerakan-gerakan yang tidak mau menjadikan Pancasila sebagai ideologi dan mau mengganti NKRI dengan model-model yang lain.

"Kita sepakat dan tegas dengan hal-hal semacam ini. Karena jika diberi ruang akan membahayakan negara ini. Untuk itu, PTKIN Persemakmuran Sunan Ampel sepakat juga mengawasi tiap sudut kampus terhadap potensi munculnya gerakan-gerakan anti-Pancasila dan anti-NKRI," ungkap Guru Besar Ekonomi Islam ini kepada KARTANU di Jember, Rabu (12/4).(Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

KARTANU

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/76990/sembilan-perguruan-tinggi-islam-sepakat-tolak-kegiatan-anti-pancasila-dan-nkri

KARTANU

Sabtu, 28 Mei 2016

Ibu Sinta hosts interfaith sahur

Jakarta, KARTANU. Sinta Nuriyah Wahid, well-known as Ibu Sinta former first lady of Indonesia, is determined to carry on the legacy of her late husband, Abdurrahman Wahid, popularly known as Gus Dur.

The longtime Nahdlatul Ulama leader, who served as Indonesias president from 1999 to 2001, is regarded as a father of pluralism and democracy, and a strong advocate of religious tolerance.

Ibu Sinta hosts interfaith sahur (Sumber Gambar : Nu Online)
Ibu Sinta hosts interfaith sahur (Sumber Gambar : Nu Online)


Ibu Sinta hosts interfaith sahur

Keeping his spirit alive, Sinta hosted a pre-dawn Ramadhan meal and dialogue to promote interfaith understanding at Pesantren Al Ghazaly in Bogor on July 11th.

"We always conducted similar activities when my husband was the president. Ramadan is a time when everyone gets together. I would like to continue these activities," Sinta said as quoted by Khabar Southeast Asia.

KARTANU

"We would like to interact with people from various backgrounds as a reminder that we are living among those with different faiths and ethnicities. We need to provide an example for our community that everyone can get together in peace regardless of our differences," she added.

The lessons of Ramadhan

KARTANU

About 300 people attended the pre-dawn meal, known as Sahur. Among them was Fransiscus Hari, who spoke with Khabar Southeast Asia a day after the event.

"I am really fortunate that I had an opportunity to attend this forum. Even though I am not a Muslim, everyone was friendly and greeted me warmly," he said. "We had good dialogues among followers of different religions. We forgot what conflicts had occurred [in West Java]. The event gave us a lot of room to learn from each other."

According to the former first lady, fasting teaches patience and the ability to withstand thirst, hunger and lust. "Various actions of corruption have been caused by an eroding faith, and now it is a time to leave any bad behaviours behind. We need to move forward," Sinta added.

She also asked everyone to embrace tolerance and peace, and to help those in need, including street children and the homeless.

The head of the Pesantren Al Ghazaly, Mustafa bin Abdullah bin Nuh, called for bringing all religious followers together as one nation.

"Islam is the religion of the majority in our country and in the past Islam was able to unite Indonesia under the Pancasila, the five philosophical pillars of Indonesia, and under the Indonesian constitution of 1945," he said.

"And I am sure it still does," he added.

Prophet teaches love, respect and harmony

Bogor city community leader Dody Rosadi praised the gathering as a positive development. "We need many more similar events in Bogor and other places, especially when the community has various religious followers," he told Khabar.

"We have to use the life of our Prophet as guidance for living. He teaches us love, respect, and harmony," he said. "Do not just perform acts of worship and religious rituals we must change our attitude and behaviour to be better."

Muhammad Akbar, an Al Ghazaly student, admitted that he became more open and tolerant after attending the event.

"Before attending this event, I only focused on Islam and was not very open to other religions. I just thought we are different. But with this event, I can see tolerance in practice," he said.

Alex Paul, a member of the GKI Yasmin church in Bogor, said such moments of togetherness are what Indonesia needs. "Events like this tear down the differences in society. Hopefully, this will be followed by other communities," Alex told Khabar.

John Naidoo, one of the interfaith leaders at the event, said that the religious differences in Indonesia are Gods beautiful creation, and that Indonesians must remember the national motto Bhinneka Tunggal Ika (unity in diversity).

"It is a powerful motto. It is telling you about Indonesia, and it is our identity," he said.

Editing by Sudarto Murtaufiq

Dari (National) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/46372/ibu-sinta-hosts-interfaith-sahur

KARTANU

Kamis, 10 Desember 2015

Dayah MUDI Tarik Minat Santri Baru Lewat Youtube

Bireuen, KARTANU. Dayah MUDI (Mahadal Ulum Diniyah Islamiah) Mesjid Raya Samalanga, Bireuen, Aceh, semakin diminati. Hal ini dapat dilihat dari kian banyaknya orang tua yang mendaftarkan putra-putri mereka di dayah yang berlokasi di Desa Mideun Jok Kemukiman Mesjid Raya ini.

Cara para wali santri mengenal dayah ini cukup bervariasi, salah satunya melalui informasi dari internet. Senin (11/8), ada seorang wali santri dari Banten mengantar anaknya ke Dayah MUDI lantaran tertarik setelah menonton video Pengajian Tastafi (Tasawuf, Tauhid dan Fiqih) melalui situs Youtube. Pengajian ini digelar bulanan di Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

Dayah MUDI Tarik Minat Santri Baru Lewat Youtube (Sumber Gambar : Nu Online)
Dayah MUDI Tarik Minat Santri Baru Lewat Youtube (Sumber Gambar : Nu Online)


Dayah MUDI Tarik Minat Santri Baru Lewat Youtube

Menurut Tgk. Mustafa, salah seorang staff Lajanah Pengembangan Dakwah MUDI Mesra (LPDM), video pengajian Tastafi di Mesjid Raya Baiturrahman yang diasuh oleh Abu MUDI telah tersebar dalam 55 website lebih.

KARTANU

Saat ini, tercatat lebih dari enam ribu santriwan dan santriwati yang menetap di Dayah MUDI baik dari Aceh maupun luar Aceh. Santri luar Aceh umumnya berasal dari Sumatera Utara, Jambi dan Malaysia. Bahkan, saat ini seorang santri dari Australia dan dua santriwati asal Norwegia juga sedang belajar di MUDI.

Selain dari Youtube, motivasi belajar di lembaga pendidikan ini juga ada yang karena mengenal MUDI lewat VCD Dalael dan Zikir, media online, forum pengajian Tastafi (tasawuf, tauhid, fiqih), dan ada juga karena orang tuanya adalah seorang alumni dari Dayah MUDI sendiri.

KARTANU

Saat ini, Dayah MUDI semakin dikenal seiring dengan kontribusi santri, alumni, LBM dan LPDM yang bekerja ektra keras dalam memperkenalkan MUDI kepada masyarakat. Hadirnya website mudimesra.com juga membuat akses Informasi tentang MUDI semakin meluas. (Iqbal Jalil/Mahbib)

Dari (Pesantren) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/53762/dayah-mudi-tarik-minat-santri-baru-lewat-youtube

KARTANU

Senin, 13 April 2015

Makna Haji Mabrur dan Kesalehan Sosial Kita

Oleh Chepry Hutabarat

Tidak ada balasan bagi Haji Mabrur kecuali Surga. (Muttafaqun Alaih)

Makna Haji Mabrur dan Kesalehan Sosial Kita (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna Haji Mabrur dan Kesalehan Sosial Kita (Sumber Gambar : Nu Online)


Makna Haji Mabrur dan Kesalehan Sosial Kita

Pada hakikatnya seluruh ibadah-ibadah yang diwajibkan atas manusia oleh Allah SWT adalah sebuah sarana untuk melatih kepekaan manusia atas keadaan di lingkungan sosialnya. Seperti shalat misalnya, dalam anjuran shalat berjamaah terkandung sebuah makna tentang bagaimana sikap seorang pemimpin (imam) dan orang yang dipimpin (makmum). Begitu pun ibadah zakat dan berpuasa, di dalamnya sarat dengan kandungan moral sosial. Puasa dan zakat adalah sarana untuk melatih dan membangun kepekaan sosial kita selaku umat Muslim atas apa yang dirasakan oleh mereka yang kehidupannya kurang beruntung. Lantas timbul pertanyaan, bagaimana dengan ibadah haji?

Seperti ibadah-ibadah lainnya, ibadah haji juga adalah sebuah praktik olahraga dan olah spiritual guna menjadikan kita melek atas kenyataan sehari-hari yang kita alami di sekitar kita selama hidup. Haji merupakan ibadah yang sangat penting bagi umat Muslim sedunia. Keutamaan ibadah haji salah satunya tercermin dari sabda Rasulullah, Sebaik-baik amal ialah; Iman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, kemudian jihad fi sabilillah, kemudian haji mabrur. Keberadaan haji sebagai ritual keagamaan pada akhirnya bertujuan untuk membuang sifat kebinatangan yang ada di dalam diri manusia, setelah melaksanakan haji diharapkan manusia menjadi lebih bersih dan suci.

KARTANU

Makna dari kata hilangnya sifat kebinatangan di dalam diri manusia dan menjadi pribadi yang lebih baik dan bersih inilah yang disebut sebagai mabrur dalam terminologi haji. Dilihat dari akar katanya, kata mabrur berasal dari kata barra yang berarti berbuat baik dan patuh. Dari kata barra ini kita bisa mendapatkan kata birrun, al-birru yang artinya kebaikan. Berangkat dari pemahaman ini, kita seharusnya menyadari dengan penuh, bahwasannya ibadah haji merupakan momentum bagi setiap pribadi Muslim untuk lebih meningkatkan kepedulian mereka atas lingkungan sekitarnya. Hal ini juga berarti, jika setelah melaksanakan ibadah haji seseorang tidak meningkat kesalehan sosialnya, maka dapat dikatakan bahwa ibadah haji yang telah dilaksanakanya belum berhasil atau haji yang mardud (ditolak).

KARTANU

Ibadah haji oleh para ulama ditempatkan sebagai rukun Islam yang kelima. Haji menjadi rukun terakhir ibadah seorang hamba pada Tuhan. Ibadah haji yang dilaksanakan atas dasar istithaah (mampu) ini jangan direduksi maknanya. Kata mampu (istithaah) bagi sebagian besar umat Muslim (di Indonesia khususnya), hanya diartikan sebagai kemampuan secara materi. Kita cenderung menghilangkan bahwa kata mampu juga bermakna kemampuan kita secara spiritual. Pemahaman yang parsial inilah yang menyebabkan ibadah haji seperti hilang hakikat spiritual dan fungsi sosialnya. Mereka yang berangkat haji, hanya menjadikan kemampuan materi sebagai standar untuk menjalankan ibadah haji. (Taufik Abdullah:1989)

Wajar jika di negeri ini banyak koruptor yang menggunakan uang hasil korupsinya untuk berhaji, dan hasilnya adalah tidak ada kesinambungan batiniyah yang berakibat langsung pada kehidupan sosial pasca mereka pulang dari berhaji. Sejatinya, sebagai rukun Islam terakhir, haji menjadi semacam perayaan dari perjalanan ruhaniah yang begitu panjang, yang dilakukan oleh umat Muslim. Ini menekankan kepada kita bahwa ibadah haji merupakan tahap akhir sekaligus titik awal bagi diri kita (kesalehan individual) menuju pribadi Muslim yang lebih baik sekaligus mampu memberikan kebaikan kepada orang lain (kesalehan sosial). (Amirul Ulum: 2015)

Kesalehan Sosial

Terdapat sebuah kisah tentang makna sosial haji yang terkenal dalam tradisi sufi. Alkisah ketika sedang menjalankan ibadah haji, ada seseorang yang tertidur ketika sedang melakukan wukuf di tengah panasnya padang Arafah. Dalam tidurnya seseorang itu kemudian bermimpi berjumpa dengan Rasulullah SAW. Menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan kekasih Allah SWT yang tidak tiap orang dapat menjumpainya, ia kemudian memberanikan diri bertanya kepada Rasulullah. Wahai kekasih Allah SWT, siapakah di antara kami semua yang sedang melaksanakan haji ini, diterima ibadahnya dan menjadi haji yang mabrur oleh Allah SWT? Rasulullah SAW kemudian dengan nada berat menjawab Tak seorang pun dari kalian yang diterima hajinya, kecuali seorang tukang cukur tetanggamu. Mendengar jawaban dari Baginda Rasululah SAW, orang tersebut termenung, betapa tidak, ia sadar bahwa tukang cukur yang dimaksud adalah tetangganya yang miskin dan tidak pergi berhaji saat ini.

Tak lama kemudian ia terbangun, dan dengan perasaan gundah gulana, ia merenung mencari makna di balik mimpi yang dialaminya itu. Sekembali dari Mekkah, segera ia menemui tukang cukur yang dimaksud Rasulullah SAW dalam mimpinya itu. Ia menceritakan segala pengalaman selama berhaji dan pengalaman spiritual lewat mimpi yang dialaminya itu. Lantas ia akhirnya bertanya pada tukang cukur itu, Amalan dan ibadah apakah yang telah anda lakukan, sehingga Baginda Rasulullah SAW mengatakan bahwa anda telah menjadi haji yang mabrur?

Mendapati cerita dan pertanyaan dari tetangganya itu, si tukang cukur kemudian terharu dan sujud syukur, kemudian dia menjelaskan bahwa sebenarnya ia telah lama mengidamkan untuk menunaikan ibadah haji. Bertahun-tahun ia menabung guna mewujudkan cita-citanya itu, dan pada saat tabungannya telah cukup untuk berangkat haji, bersiap-siaplah ia untuk berangkat melaksanakan haji. Tapi kemudian, belum lagi ia berangkat, ia mendapat kabar bahwa salah seorang tetangganya tertimpa musibah: seorang anak yatim sedang sangat membutuhkan pertolongan guna pengobatan atas sakit parah yang dialaminya. Mendapati kenyataan tersebut, ia kemudian mengurungkan niatnya untuk haji, dan menyumbangkan seluruh tabungannya guna menyelamatkan anak yatim tetangganya itu. (Said Agil Siroj: 2015)

Mendengar cerita si tukang cukur itu, orang yang baru selesai melaksanakan haji itu kemudian tertunduk malu. Ia sadar, kita kadang begitu mengebu-gebu dalam mencari ridha Allah SWT, dan karenanya menutup mata kita atas apa yang terjadi atas diri orang lain. Ibadah-ibadah kita kemudian menjadi tidak suci lagi, karena di dalamnya tersemat egoisme, ditumpangi nafsu dan jauh dari hakikat ibadah itu sendiri, yaitu rahmatan lilalamin.

Berangkat dari cerita di atas, kita seharusnya belajar, untuk kembali memaknai ibadah haji yang selama ini kita pahami. Ibadah haji dalam konteks hari ini, sangat naf jika hanya dipandang sebagai ritual keagamaan yang sifatnya individual, kita harus juga mampu menjadikan haji sebagai ibadah sosial. Di dalam ritual haji, semua umat Muslim menjadi sama, tidak ada yang membedakan secara tampilan fisik satu sama lain. Hal ini mengajarkan pada kita bahwa kita sebagai umat manusia pada satu titik adalah satu. Ke-satu-an di tengah pluralitas inilah yang seharusnya kita maknai untuk saling peduli dan memperhatikan satu sama lain. Pernahkah kita terpikir, di saat ratusan ribu umat Muslim di negeri ini melaksanakan ibadah haji, di sisi yang lain kebodohan dan kemiskinan masih juga menjadi masalah terbesar di republik ini. Terlebih kepada mereka yang melaksanakan haji lebih dari sekali, hal ini sungguh memilukan. Alangkah zalimmnya perbuatan tersebut. Di tengah krisis perekonomian negeri ini, masih begitu banyak yang umat Muslim yang tertutup pintu hatinya, semata hanya mengejar derajat kesalehan individualnya semata dengan berangkat berhaji. Alangkah bijak dan mabrurnya mereka yang menunda ritual haji mereka, kemudian menyumbangkan uang dan bekal untuk berhaji mereka guna kemaslahatan orang banyak.

Pada akhirnya penulis berharap agar kita terus memaknai keberadaan kita sebagai khalifah di muka bumi ini. Semoga dengan adanya ibadah haji yang tiap tahun dilaksanakan ini, mengajarkan kepada kita untuk terus meningkatkan kesalehan individual kita menuju kesalehan sosial, karena sebaik-baiknya manusia, adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain. Wallahualam.

Referensi

Shahih at-Targhib, No. 1096

Taufik Abdullah, Islam Dan Pembentukan Tradisi di Asia Tenggara, Jakarta: LP3ES, 1989, Cet. I, hlm. 58.

Amirul Ulum, Muassis Nahdhatul Ulama, Yogyakarta: Pustaka Musi, 2015, Cet I, hlm 45.

Baca KH said Agil Siroj, Urgensi Kajian Islam Nusantara dalam Harianto Oghie dan Fatkhu Yasik (ed.), Islam Nusantara: Meluruskan Kesalahpahaman, Jakarta: LP Maarif Pusat, 2015, Cet. I, hlm. 29.

* Penulis adalah Founder #PoskoNoesantara; tinggal di Sukarame, Bandarlampung

Dari (Opini) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/70473/makna-haji-mabrur-dan-kesalehan-sosial-kita

KARTANU

Sabtu, 21 September 2013

Pengelanaan dan Karya Kiai Ihsan Jampes

Syahdan, tidak lama dari mimpinya yang monumental itu, untuk pertama kali dalam hidupnya, Bakri keluar dari pesantren ayahnya untuk melanglang buana mencari ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain.

Beberapa pesantren yang sempat disinggahi Kiai Ihsan kecil adalah Pesantren Bendo Pare Kediri asuhan KH. Khozin (paman Bakri sendiri), Pondok Pesantren Jamseran Solo, Pondok Pesantren asuhan KH. Dahlan Semarang, Pondok Pesantren Mangkang Semarang, Pondok Pesantren Punduh Magelang, Pondok Pesantren Gondanglegi Nganjuk, dan Pondok Pesantren Bangkalan Madura asuhan KH. Kholil, sang Guru Para Ulama.

Dari rihlah ilmiah-nya, ada satu kebiasaan yang sering dilakukan Bakri, yakni ia tidak pernah menghabiskan banyak waktu di pesantren-pesantren tersebut. Misalnya, untuk belajar Alfiah Ibnu Malik yang berisi seribu bait tentang rumus dan teori Gramatika Arab (Nahwu dan Sharf) Bakri belajar dari KH. Kholil Bangkalan dan hanya menghabiskan waktu dua bulan; belajar ilmu falak (astronomi) kepada KH. Dahlan Semarang dan hanya tinggal di pesantrennya selama 20 hari; sedangkan di Pesantren Jamsaran Kediri ia hanya tinggal selama satu bulan. Namun demikian, ia selalu berhasil menguasai dan memboyong ilmu para gurunya tersebut dengan kemampuan di atas rata-rata.

Keunikan lainnya yang dapat disimak yaitu di setiap pesantren yang ia singgahi, Bakri selalu menyamar. Ia tidak mau dikenal sebagai gus (sebutan anak kiai); tidak ingin diketahui identitas aslinya sebagai putra kiai tersohor, KH. Dahlan Jampes. Bahkan, setiap kali kedoknya terbuka sehingga santri-santri tahu bahwa ia adalah gus dari Jampes, dengan serta merta ia akan segera pergi, menghilang dari pesantren tersebut untuk pindah pesantren lain. Alih-alih kebiasaan atau tradisi di dunia pesantren yang sering kali mengelu-elukan dan memanjakan para gus, anak kiai, seringkali memabukkan dan membius para gus, mereka kebal hukum dan peraturan pesantren, dan berujung pada ketidak seriusan belajar. Dan tradisi itulah yang hendak dihindari oleh Bakri, lantaran di mata Bakri tradisi itu tidak kondusif dalam proses belajar dan sering kali membentuk karakteristik feodal yang tidak baik.

Pengelanaan dan Karya Kiai Ihsan Jampes (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengelanaan dan Karya Kiai Ihsan Jampes (Sumber Gambar : Nu Online)


Pengelanaan dan Karya Kiai Ihsan Jampes

Pada tahun 1932, setelah selesai melalui tour ilmiyah itu, Bakri inobatkan menjadi pengasuh atau pemimpin Pondok Pesantren Jampes, Kediri. Sejak saat itulah Bakri terkenal sebagai pengasuh Pesantren Jampes. Ada banyak perkembangan yang signifikan di Pesantren Jampes setelah Syekh Ihsan diangkat sebagai pengasuh. Secara kuantitas, misalnya, jumlah santri terus bertambah dengan pesat dari tahun ke tahun, semula sekitar 150 santri menjadi sekitar 1000 santri lebih, sehingga Pesantren Jampes harus diperluas hingga memerlukan 1,5 hektar tanah. Secara kualitas, materi pelajaran juga semakin terkonsep dan terjadwal dengan didirikannya Madrasah Diniyah Mafatihul Huda pada 1942.

Sebagai seorang kiai, Syekh Ihsan mengerahkan seluruh perhatian, pikiran dan segenap tenaganya untuk diabdikan kepada santri dan pesantren. Hari-harinya hanya dipenuhi aktivitas spiritual dan intelektual; mengajar santri (ngaji), shalat jamaah, shalat malam, mutholaah (mengkaji) kitab, ataupun menulis kitab. Meskipun seluruh waktunya didesikannya untuk santri, Syekh Ihsan tidak melupakan masyarakat umum. Syekh Ihsan dikenal memiliki ilmu hikmah dan menguasai ketabiban. Hampir setiap hari, di sela-sela kesibukannya mengajar santri, Syekh Ihsan masih sempat menerima tamu dari berbagai daerah dan kalangan yang meminta bantuannya. Keilmuan hikmah yang dimilikinya ini berkat penguasaannya yang baik terhadap kitab-kitab hikmah seperti Syamsul-Maarif karya al-Buni, Mamba Ushul al-Hikmah, Kitab al-Aufaq karya Imam al-Ghazali, dan lain-lain. Bahkan keilmuan hikmah ini ia integrasikan dan kolaborasikan dengan ilmu falak yang telah difahaminya secara mendalam.

KARTANU

Pada masa revolusi fisik 1945, Syekh Ihsan juga memiliki andil penting dalam perjuangan bangsa. Pesantren Jampes selalu menjadi tempat transit para pejuang dan gerilyawan republik yang hendak menyerang Belanda. Di Pesantren Jampes, mereka meminta doa restu Syekh Ihsan sebelum melanjutkan perjalanan. Bahkan, beberapa kali Syekh Ihsan turut mengirim santri-santrinya untuk ikut berjuang di garis depan. Jika desa-desa di sekitar pesantren menjadi ajang pertempuran, penduduk yang mengungsi akan memilih Pesantren Jampes sebagai lokasi teraman, sementara Syekh Ihsan membuka gerbang pesantrennya lebar-lebar.

Sumbangan Syekh Ihsan yang sangat besar adalah karya-karya yang ditinggalkannya bagi masyarakat muslim Indonesia, bahkan umat Islam seluruh dunia. Sudah banyak pakar yang mengakui dan mengagumi kedalaman karya-karya Syekh Ihsan, khususnya karya magnum opus-nya, kitab yang berjudul Sirojut-Tholibin, kitab syarah (penjelasan) dari kitab Minhajul-Abidin karya Imam al-Ghazali, terbit pertama kali pada 1932 setebal sekitar 800 halaman. Kitab ini mengulas tasawuf. Syekh Ihsan mendapatkan penghargaan dan legitimasi ilmiyahnya di mata dunia Islam, ketika kitab tersebut diterbitkan oleh sebuah penerbit besar di Mesir, Musthafa al-Bab al-Halab, sebuah penerbit yang berorientasi menerbitkan kitab-kitab kuning (turats), yang sampai saat ini masih eksis. Di antara kitab tasawuf yang ditulis syekh Ihsan adalah kitab Manahijul-Imdad , sebuah syarah (penjelasan) dari kitab Irsyadul-Ibad karya Syekh Zainudin al-Malibari, terbit pertama kalinya pada tahun 1940 setebal sekitar 1088 halaman, mengulas tasawuf secara luas dan mendalam.

KARTANU

Sebelum menulis tentang tasawuf, syekh Ihsan berkelana mengelilingi tanah Jawa. Sebuah perjalanan apostolik sebagaimana tradisi para sufi darwis. Dalam perjalanan apostoliknya, ia menjumpai dan berdialog sekaligus menimba ilmu secara singkat dari hampir seluruh ulama tasawuf, mursid tharekat, dan para kiai yang terkenal keilmuan dan kezuhudannya. Bahkan, ia pun menjumpai para tokoh kejawen, pengikut kepercayaan, dan mengajak mendiskusikan secara mendalam persoalan filsafat, spiritual, dan pandangan-pandangan spiritual.

Lebih menakjubkan lagi, ia pun menjumpai para dukun dari berbagai jenisnya, lantaran para dukun dianggap memiliki pandangan dunianya sendiri yang harus diselami. Dari pengalaman perjalanan spiritualnya yang telah menggondol segudang informasi dan ilmu itu menjadi salah satu modal dalam mengkonsepsikan pandangan tasawufnya yang dielaborasikan dengan mengikutsertakan pengalaman pribadi, eksperimentasi spiritual, ritual, pandangan pewayangan, dan pentakwilan atas segenap teks normatif Islam, al-Quran dan hadits.

Pada saat-saat menulis karya-karyanya tersebut, syekh Ikhsan dengan tekun menuliskannya yang tak kenal lelah, tak kenal waktu, bergadang, malam yang hening dilaluinya dengan ditemani segelas kopi dan berbatang-batang rokok. Karena memiliki kebiasaan meminum kopi dan menghisap rokok, akhirnya menginspirasikan lahirnya sebuah kitab yang ditulisnya dengan judul kitab Irsyadul-Ikhwan fi Bayani Hukmi Syurbil-Qohwah wad-Dukhon. Kitab ini diadaptasi dari kitab kumpulan syair-syair atau puisi dari kitab Tadzkiratul-Ikhwan fi Bayanil-Qahwah wad-Dukhan karya KH. Ahmad Dahlan Semarang, yang kemudian diberi penjelasan (syarh), tebalnya 50 halaman. Buku ini berbicara tentang polemik hukum merokok dan minum kopi.

Disamping dikenal sebagai pakar tasawuf, syekh Ihsan juga merupakan ulama dan masuk dalam deretan nama pakar ilmu falak (astronomi). Salah satu karya akademik di bidang ini adalah kitab Tashrihl-Ibarot, syarah (penjelasan) dari kitab Natijatul-Miqot karya KH. Ahmad Dahlan Semarang, terbit pertama kali pada 1930, setebal 48 halaman.

Seorang sufi yang juga penuh karya akademiknya ini akhirnya pada Senin, 25 Dzul-Hijjah 1371 H. atau September 1952, dipanggil oleh Allah SWT. Usianya yang baru melewati setengan abad ini, 51 tahun, meninggalkan ribuan santri, seorang istri dan delapan putra-puteri. Kuburannya hingga saat ini ramai dikunjungi oleh para peziarah, khususnya dari warga NU.

Tak ada warisan yang terlalu berarti dibandingkan dengan ilmu yang telah dia tebarkan, baik ilmu yang kemudian tersimpan dalam korpus kitab-kitab karyanya yang abadi maupun yang terrekam dan tersimpan di dalam hati para murid-muridnya. Beberapa murid Syekh Ihsan yang mewarisi dan meneruskan perjuangannya dalam berdakwah melalui pesantren adalah Kiai Soim pengasuh pesantren di Tanggir Tuban, KH. Zubaidi di Mantenan Blitar, KH. Mustholih di Kesugihan Cilacap, KH. Busyairi di Sampang Madura, K. Hambali di Plumbon Cirebon, K. Khazin di Tegal, dan lain-lain.

Setahun yang lalu, penulis berziarah kemakamnya dan ke pesantren peninggalannya yang bersahaja dengan disambut oleh KH. Busyro, pengasuh pesantren peninggalan sang sufi kita. Kami berbincang-bincang di rumah KH. Busyro seputar karya-karya sang sufi. Beliau bercerita bahwa sejatinya Gus Dur, panggilan akrab mendiang KH. Abdurrahman Wahid, pernah ingin memperjuangkan salah satu naskah sang sufi yang belum sempat tersebar ke penjuru dunia Islam, yaitu kitab Manahijul -Imdad. Gus Dur meng-copy manuskrip (makhthuthat) kitab tersebut dan diserahkan ke Syekh Sayyed al-Maliki, dengan harapan mendapatkan tashih atau tahqiq dan diterbitkan di Arab. Akan tetapi dalam penantian yang panjang, kitab tidak kunjung diterbitkan. Akhirnya atas dasar inisiatif KH. Busyro sekeluarga, kitab tersebut telah diterbitkan oleh keluarga kiai Ihsan dengan dicetak cukup sederhana dan dalam jumlah terbatas. Tanpa disangka dan diduga, kitab tersebut dalam waktu singkat ludes dipasaran. Karena, rupa-rupanya para kiai dan santri betul-betul menanti-nantikan karya syekh Ihsan itu. Akhirnya ketika sudah ada di depan mata, mereka memburu dan berebut untuk mendapatkannya. Penulis sendiri pada waktu keliling pesantren salaf, tidak mendapatkan kitab tersebut. Dan penulis sempat mensarankan pada KH. Busyro agar kitab tersebut dicetak kembali.

Karya-karya syekh Ihsan sebagian besar telah dikaji dan dibaca oleh para kiai dan santri di pesantren salaf-tradisional. Khususnya kitab magnum opusnya, yaitu Sirojut-Tholibin. Bahkan sebagian kiai Lirboyo-Kediri membacanya setiap tahun sebagai ritual pengajian sehari-hari. Tidak diragukan lagi jika paradigma sufistiknya yang bernuansa Ghazalian yang mengusung perkawinan tasawuf dan syariah telah berpengaruh besar terhadap paradigma nalar sufisme kaum santri yang berbasis NU (Nahdlatul Ulama).

Mukti Ali

Program Officer Manuskrip Nusantara & Peneliti Rumah Kitab

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/48472/pengelanaan-dan-karya-kiai-ihsan-jampes

Selasa, 27 Agustus 2013

Stop Share Video Percakapan Habib Rizieq yang Sangat Tidak Pantas Dibaca

KARTANU - Beredarnya video yang mencatut nama imam besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab (HRS) terkait berita miring (perselingkuhan?) yang sangat tidak pantas dibaca dan ditonton oleh pembaca KARTANU, sungguh memprihatinkan.

Netizen NU yang selama ini sering melakukan counter kelompok radikal menghimbau kepada masyarakat luas, utamanya nahdliyyin, agar tidak ikut terlarut dalam arena yang dibuat kelompok-kelompok yang pada dasarnya tidak peduli NU, apalagi peduli kesatuan bangsa.

"Kita kritik FPI, tapi kita tidak anti Wan Rizieq. Kita tetap wajib menghormati beliau sebagai dzurriyah Nabi. Warga NU tetap wajib menahan diri untuk tidak terjebak ke dalam arena perang pembunuhan karakter," kata Zain, salah satu Netizen NU, Ahad (29/01/2017) di Jakarta.

Zain yang selama ini juga getol melakukan kritik dakwah ala FPI pun menyangsikan orisinalistas percakapan WhatsApp antara HRS dan Firza Husen (FH), Ketua Yayasan Solidaritas Keluarga Cendana.

Menurutnya, pengunggah video percakapan yang mengarah kepada perz1na4n tersebut mengajak pembaca untuk melakukan tabayun (klarifikasi) kepada pihak terkait, tapi lucunya, nomor berakhiran 770 yang ada di screenshoot chatingan sudah diberi nama terang Habib Rizieq.

"Yang nyecreenshoot kurang canggih. Harusnya dihapus dulu nama kontaknya," tandas Zain. Ia meyakini kalau hape yang digunakan upaya screenshoot percakapan itu hanya satu, "menunjukkan kalau ini 60% hoax," imbuhnya kepada KARTANU.

Netizen NU yang lain juga menyangsikan keaslian percakapan yang menghebohkan tersebut, "screen shoot percakapan WA itu mudah sekali dibuat. Jangan mudah percaya screen shoot yang tampak asli," ujar Ali, yang juga menyarankan agar aktivis dumay nahdliyyin tidak ikut menyebarkan video kurang ajar tersebut.

Walaupun tidak setuju dengan FPI dan HRS, walaupun HRS juga pernah menghina Gus Dur sebagai buta mata dan buta hati serta menyebut Islam Nusantara dengan akronim jelek "Anus", namun cara menghadapinya harus menggunakan etika agar tidak kebablasan kepada fitnah dan pembunuhan karakter.

"Walaupun saya tidak setuju sama HRS dan marah atas perbuatannya selama ini, termasuk hinaan HRS pada Gus Dur, menyebar video ini malah membuat khawatir kalau mereka juga akan membalas dengan memfitnah kiai-kiai NU dengan cara keji," tutur Okan, Netizen NU juga.

Kalaupun berita miring tentang HRS dan FH itu benar, pembaca juga tidak selayaknya ikut menyebarluaskan, "yang bisa negur dzurriyah Nabi ya dzurriyah Nabi sendiri," jelas Netizen NU lainnya, yang juga ustadz.

Kata ustadz tersebut, dulu pernah diceritakan ada seorang ustadz di Jakarta Timur yang marah kepada Habib Rizieq karena menghina Gus Dur, "tetapi oleh Gus Dur ya ditahan, karena darahnya Habib Rizieq harus dihormati, sedangkan Habib Mahdi keras mengkritisi Habib Rizieq," terang. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/stop-share-video-percakapan-habib-rizieq.html

Rabu, 23 Januari 2013

Santunan Yatim Piatu Sertai PKD Ansor Genuk

Semarang, KARTANU. Ada beragam cara untuk mengisi bulan Ramadhan. Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Genuk, Kota Semarang memilih kegiatan kaderisasi untuk mengisi bulan suci ini. Melalui Perkaderan Tingkat Dasar (PKD) diharapkan akan lahir para kader yang berkualitas.

PKD yang digelar Sabtu (19/7) malam di kecamatan setempat itu diikuti seluruh utusan dari Pimpinan Ranting GP Ansor se-Kecamatan Genuk. Selain PKD bertajuk Militansi dalam Berorganisasi, GP Ansor Genuk juga menyelenggarakan buka puasa bersama dan santunan yatim piatu dan dhuafa.

Santunan Yatim Piatu Sertai PKD Ansor Genuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Santunan Yatim Piatu Sertai PKD Ansor Genuk (Sumber Gambar : Nu Online)


Santunan Yatim Piatu Sertai PKD Ansor Genuk

Ketua PAC GP Ansor Genuk Muslimin mengatakan, saat ini kita membutuhkan kader yang memiliki militansi tinggi, menyadari akan kediriannya dan perannya khususnya sebagai kader Nahdliyin.

Apalah arti sebagai mayoritas warga NU namun jika tidak memiliki keberpihakan kepada NU. Maka saatnya membangun kedirian salah satunya dengan mengikuti Perkaderan Tingkat Dasar, jelasnya

KARTANU

M. Afdlori, SH, MH salah satu mengatakan, pemimpin tidak ditemukan di sekolahan, kampus, universitas maupun yang memiliki gelar sarjana, tapi pemimpin lahir dari perjalanan. Ketika lahir ia memiliki kelebihan, mampu menggerakkan, kuat manajemennya dan mempu menjembatani.

Pemimpin dalam organisasi di lingkungan NU lebih tepatnya disebut Khodimul Umat yakni sebagai pelayan, tuturnya.

KARTANU

Pemimpin adalah pelayan sehingga ia melayani terhadap umatnya sehingga mengandung makna luas kalau sudah ditunjuk sebagai pemimpin harus mendengar, mengerti, dan melangkah lalu berbuat terhadap keberadaan jamaahnya, lanjutnya. (Lukni Maulana/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/53410/santunan-yatim-piatu-sertai-pkd-ansor-genuk

KARTANU

Minggu, 06 November 2011

Gus Mus: Kalau Mau Bicara Islam, ya Mengaji, Jangan dari Buku Terjemahan

KARTANU - Pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak baru akan berlangsung 15 Februari mendatang. Akan tetapi, iklim politik sudah mulai memanas. Potensi penggunaan isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) dalam pilkada pun telah bermunculan. Salah satunya, meruaknya kontroversi terkait pidato Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Kepulauan Seribu beberapa waktu lalu.

Ahok pun belakangan dituduh menistakan agama Islam. KH Mustofa Bisri, pengasuh Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin atau Taman Pelajar Islam, Desa Leteh, Rembang, Jateng, yang karib disapa Gus Mus, melihat fenomena itu akibat kondisi masyarakat yang belum siap menerima perbedaan.

Gus Mus: Kalau Mau Bicara Islam, ya Mengaji, Jangan dari Buku Terjemahan - KARTANU
Gus Mus: Kalau Mau Bicara Islam, ya Mengaji, Jangan dari Buku Terjemahan - KARTANU


Gus Mus: Kalau Mau Bicara Islam, ya Mengaji, Jangan dari Buku Terjemahan

Untuk mengetahui lebih jauh pandangan Gus Mus, wartawan KARTANU, Furqon Ulya Himawan, mewawancarai kiai karismatik itu, Jumat (14/10). Berikut petikan wawancara, yang disajikan Duta Islam untuk memberikan pencerahan kepada umat Islam.

KARTANU: Kasus intoleransi kerap berlangsung. Apa yang salah?

Ahmad Mustofa Bisri: Menurut saya, itu akibat dari masa lalu yang tidak kunjung direformasi. Reformasi itu kan islah, ndandani kalau dalam bahasa Jawa. Ndandani atau memperbaiki itu harusnya dicari masalah-masalahmana yang rusak, yang diperbaiki itu mana, akar masalahnya apa, harus diteliti dulu baru direformasi.

Namun, sekarang yang terjadi, hiruk-pikuk reformasi itu ternyata melahirkan orang-orang yang seharusnya direformasi justru malah berteriak paling reformis. Jadi sebetulnya kan masalah itu terjadi pada saat dulu, yang akan kita reformasi.

KARTANU: Contohnya, Gus?

Ahmad Mustofa Bisri: Dulu ada kecenderungan zaman Orde Baru untuk menyeragamkan semua. Bukan hanya pakaian seragam, menanam padi, sampai-sampai mengecat pagar rumah sendiri juga harus seragam. Bahkan masjid pun diseragamkan semua, dengan alasan harmonis. Akibatnya, masyarakat tidak bisa berbeda karena terlalu lama diseragamkan, akhirnya masyarakat kita kaget-kaget kalau ada perbedaan.

KARTANU: Dampaknya terhadap keberagaman dan kebinekaan?

Ahmad Mustofa Bisri: Pertama, masyarakat kita susah menerima perbedaan. Beda sedikit marah, beda sedikit marah. Itu akibat menyeragamkan semua hal dan itu melawan fitrah. Padahal, Tuhan menciptakan alam semesta termasuk kita semua itu dalam kondisi berbeda-beda, jadi tidak akan bisa kalau memang mau disatukan atau diseragamkan.

Kedua, seperti burung yang lama dikurung dalam sangkar, ketika sangkar dibuka, dia malah kebingungan, nabrak sana-sini karena sudah lama tidak merasakan kebebasan. Ketika keran kebebasan dibuka, malah bingung. Padahal, dulu itu teriak saja susah, selalu bunyinya satu, setuju. DPR itu dulu kalau teriak ya setuju, apa saja pokoknya setuju. Sampai-sampai ada ledekan: ada kucing masuk parlemen, ngeong, langsung serempak setuju.

Setelah sekian lamanya hanya bisa bilang setuju, sampai saya bikin sajak 'Negeri Ya, Ya'. Terus sekarang, DPR isinya interupsi semua, ngomong semua, seperti burung yang baru dikeluarkan. Terus yang dulunya tiarap-tiarap, sekarang muncul semua. Ini gara-gara berbagai macam permasalahan islah yang masih belum dilakukan. Jadi banyak persoalan ini yang sumbernya dari reformasi yang tidak sungguh-sungguh.

KARTANU: Sekarang banyak yang bertindak intoleran, menganggap diri paling benar. Ada pula yang mengatasnamakan Islam. Menurut Gus Mus?

Ahmad Mustofa Bisri: Saya selalu mengatakan, harus terus belajar dan jangan berhenti belajar. Orang kalau mau terus belajar, nanti akan mengerti dan memahami apa-apa yang sebelumnya belum dimengerti dan dipahami. Namun, ini payahnya, orang berhenti belajar karena dia merasa sudah mengerti dan memahami. Padahal, sama sekali belum mengerti apa-apa, malah kadang-kadang sudah berfatwa ke sana kemari.

KARTANU: Caranya belajar?

Ahmad Mustofa Bisri: Ya, ini jadi harus terus belajar. Belajarlah supaya mengerti yang menyeluruh, kalau mau bicara Islam, ya mengaji, jangan mengambil Islam dari buku-buku terjemahan, Al-Quran terjemahan, hadis terjemahan. Ini tidak mungkin. Terus kadang orang bilang kembali ke Al-Quran dan Hadist, tapi orang salah memaknai maksud itu.

KARTANU: Maksudnya?

Ahmad Mustofa Bisri: Orang mengatakan kembali ke Al-Quran dan sunah Rasul itu kok malah maknanya kembali ke Al-Quran dan hadis terjemahan Depag, itu bagaimana, itu kacau! Orang bisa membaca terjemahan Depag asal dia bisa baca Latin, dan dikiranya kebenaran yang dibaca dan dipelajarinya itu kebenaran mutlak. Ia tidak tahu bahwa bahasa Arab Al-Quran tidak sama.

Jadi teruslah belajar bahasa Arab, harus belajar ilmu Balagoh, ilmu Badi' dan Bayan karena Al-Quran itu mengandung itu semua, sastranya tinggi sekali. Jadi, kalau orang hanya membaca terjemahan tidak tahu sastra ya tidak mungkin, tidak bisa, harus mengaji.

Jadi silakan mengatakan kembali ke Al-Quran dan hadist itu dijadikan semboyan, tapi ya kembali itu belajar dan terus belajar, harus mengaji. Tidak diartikan bacalah terjemahan Al-Quran, atau 40 hadist di buku-buku mutiara hadis, itu ngacau!

KARTANU: Menjelang pilkada, banyak konflik yang mengancam keberagaman dan berpotensi memecah kebinekaan. MUI sampai mengeluarkan fatwa. Menurut Gus Mus?

Ahmad Mustofa Bisri: Kita sekarang lupa, bahwa yang menentukan orang menjadi kaya, menjadi miskin, menang dan kalah, memiliki kekuasaan atau kehilangan kekuasaan, dan menjadi penguasa atau tidak, menjadi pangkat atau tidak, itu semua Allah Subhanahu wata'ala. Disangka kalau kita ngotot, berarti pasti jadi?!

KARTANU: Bagaimana agar tidak terjadi perpecahan di pilkada, Gus?

Ahmad Mustofa Bisri: Saya selalu mengatakan janganlah berlebih-lebihan dalam segala hal. Itu di Islam tidak boleh! Wala tusrifu, (jangan berlebihan), atau Ghuluw, banyak dalam ayat-ayat Al-Quran dan Sabda Rasullullah Sallahhu Alaihi Wassalam menyatakan tidak boleh, alguluw fiddin (berlebihan dalam agama), berlebih-lebihan itu tidak boleh. Karena berlebih-lebihan itu akibatnya orang tidak bisa berpikir adil, tidak bisa istiqomah, tidak bisa objektif.

Jadi, kalau selama kita masih bersikap berlebih-lebihan dalam segala aspek kehidupan kita, sangat sulit kita untuk berpikir jernih, tidak bisa. Sebab adil itu jejek (Gus Mus mengisyaratkan tangannya berdiri tegak, lurus), sedangkan berlebih-lebihan itu begini (Gus Mus mengisyaratkan tangannya berdiri condong ke kanan), atau begini (Gus Mus mengisyaratkan tangannya berdiri condong ke kiri), tidak bisa. Karena apa pun nanti akan dijadikan alasan untuk berkelahi.

Jadi, kalau kita misalnya senang berlebih-lebihan, benci berlebih-lebihan, senang dunia berlebihan, senang kekuasaan berlebihan, senang pangkat berlebihan, senang kedudukan berlebihan, apa pun itu yang berlebihan, itu semua sumber malapetaka. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/gus-mus-kalau-mau-bicara-islam-ya-mengaji.html

Minggu, 14 Agustus 2011

Senjata Teroris Bukan Lagi AK 47, Melainkan Media Massa

Media massa dinilai memiliki peran strategis untuk menjadi sarana pencegahan terorisme. Akan tetapi fungsi sebaliknya disebut juga menonjol. Ini disampaikan Anggota Dewan Pers, Jimmy Silalahi, saat menjadi narasumber dalam Media Visit Badan Nasional Penangulangan Terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalimantan Barat di TVRI Stasiun Regional Kalimantan Barat, Rabu (1/6/2016).

"AK 47, M 15 itu senjata konvensional teroris. Sekarang mereka memiliki senjata yang terbaru, lebih dalam penetrasinya dan lebih cepat tersebar, yaitu media massa," kata Jimmy.

Senjata Teroris Bukan Lagi AK 47, Melainkan Media Massa - KARTANU
Senjata Teroris Bukan Lagi AK 47, Melainkan Media Massa - KARTANU


Senjata Teroris Bukan Lagi AK 47, Melainkan Media Massa

Jimmy menambahkan, tujuan utama dari pelaku teror selain menciptakan kerusakan juga untuk menimbulkan ketakutan yang akut di masyarakat. "Dan itu bisa tercapai dengan cepat melalui media massa. Semakin masive pemberitaan terhadap peristiwa teror, maka semakin menang pelaku teror," tambahnya.

Untuk menghindari kemenangan pelaku teror tersebut, Jimmy mengajak media massa untuk memberitakan sisi positif dari kejadian teror.

KARTANU

"Media bisa lebih memberitakan kelompok penyintas, mereka yang yang menjadi korban dan bertahan hidup dengan segala perjuangannya. Yang seperti itu lebih menyentuh dan menggugah kesadaran kita bersama bahwa terorisme mengakibatkan kerusakan dan harus bersama-sama kita perangi. Tidak hanya BNPT, Polri, atau TNI, tapi kita semua warga masyarakat," tandas Jimmy.

Media Visit adalah bagian dari program Pelibatan Media Massa dalam Pencegahan Terorisme yang dilaksanakan BNPT dengan menggandeng FKPT. Satu kegiatan lain di program ini adalah Diseminasi Pedoman Peliputan Terorisme dan Peningkatan Profesionalisme Media Massa Pers dalam Meliput Isu-isu Terorisme. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/06/senjata-teroris-bukan-lagi-ak-47-melainkan-media-massa.html

KARTANU

Selasa, 17 Mei 2011

KQS, Warna Baru Musik Religi

Para penggemar musik religi islami pantas berbahagia karena sekarang telah terbentuk Komunitas Qasidah dan Shalawat (KQS). Beralamat di Jemursari, Surabaya, Jawa Timur, KQS didukung sejumlah seniman, qori qoriah, musisi musik religi, dan pecinta shalawat.

Tak hanya menampilkan musik kasidah, KQS juga piawai membawakan jenis-jenis musik seperti rebana, band, gambus, banjari, kontemporer, dan gending Jawa.

KQS, Warna Baru Musik Religi (Sumber Gambar : Nu Online)
KQS, Warna Baru Musik Religi (Sumber Gambar : Nu Online)


KQS, Warna Baru Musik Religi

Semuanya tersaji dengan indah, santun, dan berakhlak, kata Mubarok, salah satu penggerak KQS melalui pesan tertulis kepada KARTANU belum lama ini.

KARTANU

KQS yang kali pertama melakukan pentas di gedung TV9 pada 10 November 2016, kini semakin menunjukkan eksistensinya. KQS antara lain ikut menyukseskan Semarak Maulid di PWNU Jatim dan tampil di gelaran NU Expo beberapa waktu lalu.

Pada gelaran NU Expo di Surabaya misalnya, KQS membawakan judul-judul di antaranya Hubbul Wathon, Syiiran NU Versi Band, Cahaya di Atas Cahaya, Qasidah, Syiir Tanpo Wathon Gending Jawa, Syiiran NKRI Harga Mati.

KARTANU

KQS terbentuk berawal dari motivasi anggota Cyber NU Jatim. Teman-teman Cyber NU Jatim yang memberi motivasi kepada kami untuk mengumpulkan para musisi, biar ada wadah berkumpul, komunikasi, dan kreativitas, terang Mubarok.

Tampil di atas panggung musik religi hanya salah satu kegiatan KQS. Sebab KQS juga telah dan terus melakukan syiar keliling ke masjid-masjid untuk menebarkan shalawat, terlibat di kegiatan sosial seperti santunan yatim piatu dan bantuan bencana; kajian-kajian bersama para kiai dan habaib; dan pelatihan musik religi. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/74478/kqs-warna-baru-musik-religi

KARTANU

Selasa, 16 November 2010

Kivlan Zein, Apa Betul Pesantren Anti Pancasila?

Saya bukan jenderal, karena itu saya tidak berani menuduh seperti jenderal Kivlan Zen seperti di media "umat Islam" Panjimas. Saya seorang yang bekerja di UIN Walisongo yang terikat dengan prinsip dan aturan akademik, sehingga tidak boleh berbicara tanpa data yang benar. Sebagai seorang jenderal, sudah seharusnya menjaga ideologi Pancasila bersama para santri dan akademisi.

Pancasila harus selalu kita jaga bersama. Kenapa jenderal justru bersama para ustadz yang mendukung gerakan HTI, yang jelas jelas mengibarkan bendera khilafah islamiyah. Jendaral bisa bertanya kepada teman di HTI, apakah tujuan dari sistem yang akan dibangun oleh Khilafah Islamiyah? Tentu sudah banyak tertulis di spanduk dan selebaran, dan dengan jelas mereka menegaskan ingin mendirikan negara Islam dan mengganti ideologi Pancasila yang mereka sebut sebagai ideologi thagut.

Pantaskah seorang jenderal bersama para ustadz yang mendukung mereka yang mengatakan bahwa semua umat Islam yang mempercayai Pancasila akan masuk neraka semua? Banyak pidato-pidato propaganda HTI yang mengajak umat Islam membuat negara Islam di Indonesia.

Kivlan Zein, Apa Betul Pesantren Anti Pancasila? - KARTANU
Kivlan Zein, Apa Betul Pesantren Anti Pancasila? - KARTANU


Kivlan Zein, Apa Betul Pesantren Anti Pancasila?

Jendaral Kivlan Zen, semoga antum tidak berkepanjangan menyebarkan propaganda dengan menuduh UIN sarang komunis, pesantren sudah kemasukan komunis. Bagaimana mungkin pesantren menolak mereka yang ingin belajar dan menghayati ilmu hakikat dan ilmu kaweruh untuk mencapai manusia sejati?

Siapa pun tidak boleh menolak mereka yang akan belajar di pesantren. Karenanya, meski para kiai pernah dibenturkan dengan gerakan komunis oleh orang yang tidak bertanggung jawab, merekalah justru yang kali pertama membuka diri untuk saling memaafkan dan menerima anak-anak mereka belajar di pesantren. Jenderal, pahamilah jika ada dosa pada seseorang, maka pesantren tidak mengenal dosa turunan.

KARTANU

Jika belum ada kejahatan yang secara langsung dilakukan oleh seseorang, maka tidak boleh mengaitkan kejahatan yang dilakukan orang tua menjadi bentuk kejahatan anaknya. HTI sudah terus terang ingin membuat negara Islam, pantaskah jika ada seorang jenderal justru berbalik menuduh lembaga pesantren yang menerima ideologi Pancasila menjadi sarang ideologi komunis?

KARTANU

Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang berkarakter, sehingga semua yang masuk pesantren harus belajar dengan karakter pesantren dalam beragama dan membela bangsa. Karenaya, tepat jika ada hari santri di Indonesia, sebab jasa pesantren terhadap bangsa sangat besar.

Jenderal, saya tidak paham maksud pernyataan antum di Panjimas dan di beberapa seminar bersama umat Islam yang suka mengkafirkan dan menuduh bid'ah dlalalah pada sikap kiai dan santri itu. Sudah seharushya melakukan seleksi dengan penuh bijaksana, bagaimana keterlibatan berserikat seorang jenderal bersama masyarakat menjadi lebih bersahaja dan tepat? Sebab semua jenderal bersumpah akan menjaga ideologi Pancasila.

Sedangkan, para santri sepenuh hati menerima ideologi Pancasila. Ingat, jenderal berpegang pada ideologi kebangsaan bersama santri dan pesantren, bukan berarti tidak boleh membaca hikmah kehidupan dari siapa pun dan dari peristiwa apapun. Para pengasuh pesantren harus berjuang membela bangsa, membuka dialog dan menerima siapa pun yang ingin belajar, ternyata menjadi sasaran tuduhan antum yang tidak bertanggung jawab.

Berhentilah berkata sebelum memahami realitas di lapangan. Apakah karena sebuah kepentingan seseorang boleh berkata mengganggu ketenangan masyarakat? Pernahkah ada deklarasi pesantren anti Pancasila, perguruan tinggi anti Pancasila. Hingga kini, kita belum pernah melihat pesantren dan perguruan tinggi bersikap seradikal itu.

Justru, yang sudah jelas, adalah deklarasi HTI sebagai kelompok yang ingin mendirikan negara Islam. Kami, pesantren, dan UIN mencintai Pancasila. Mencintai Pancasila merupakan bentuk sikap bid'ah yang penuh dengan kenikmatan. Kami punya prinsip, hubbul wathan min al iman. Mencintai negara adalah sebagian dari iman. [KARTANU] 

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/06/kivlan-zein-apa-betul-pesantren-anti-pancasila.html

Jumat, 23 April 2010

Bacaan Dzikir Setelah Sholat Fardhu

KARTANU - Sebelum membaca doa, setelah sholat fardhu disunnahkan untuk membaca dzikir yang sudah muwarodah (terjamin sanadnya dari rasul). Ini adalah amalan yang biasa dilakukan oleh musholli (yang sholat) baik kala sendiri (munfarid) atau berjamaah.

Bacaan Dzikir Setelah Sholat Fardhu - KARTANU
Bacaan Dzikir Setelah Sholat Fardhu - KARTANU


Bacaan Dzikir Setelah Sholat Fardhu

Dzikir setelah sholat bisa menenangkan sejenak atas pikiran kita yang pada waktu sebelumnya penuh dan sesak dengan penat aktivitas sehari-hari. Masalah dzikir setelah sholat itu mau dibaca jahr (keras) atau sirr (lirih), itu pilihan sesuai situsasi dan kondisi.

Jika dzikir usai sholat itu Anda baca, sementara disamping Anda sedang ada yang melaksanakan sholat, misalnya, maka, dzikir tersebut supaya Anda baca pelan agar tidak mengganggu kekhusyu’an sholat orang di sebelah Anda tersebut.

Tidak masalah juga jika dzikir setelah sholat sebagaimana kami sajikan di bawah ini dibaca bersama-sama dengan hadirin yang berjama’ah, baik di masjid, mushalla maupun di tempat lain yang suci. Hanya wahabi yang menyebut hal itu bid’ah. Semua ada dalilnya kok.

Inilah dzikir setelah sholat yang bisa Anda baca:

ASTAGHFIRULLOHAL ADZHIIM, AL-LADZII LAA ILAAHA ILLAA

HUWAL HAYYUL QOYYUUMU WA ATUUBU ILAIH. (Dibaca 3x)

LA ILAHA ILLALLOHU WA’HDAHU LA SYARIIKALAHU, LAHUL MULKU

WALAHUL HAMDU YU’HYII WA YUMIITU WAHUWA ALA KULLI SYAI’IN QODIIR. (Dibaca

3x)

ALLOHUMMA ANTAS SALAM WA MINGKAS SALAM WA ILAIKA

YA’UWDUS SALAM, FAHAYYINA ROBBANA BI SSALAMU WA ADKHILNAL JANNATA

DAROS SALAM. TABAROKTA ROBBANA WA TA’ALAITA YA DZAL JALALI WAL IKROM.

A’UDZU BILLAHI MINASY SYAITHONIR ROJIIM

BISMILLAHIR RO’HMANIR RO’HIIM

AL’HAMDULILLAHIROBBIL’AaLAMIiN(i) – ARRO’HMANIRRO’HIM(i) –

MALIKI YAWMIDDIiN(i) – IYYAKA NA’BUDU WA IYYAKA NASTA’IiN(u) –

IHDINASH-SHIRO_THOLMUSTAQIiM(a) – SHIRO_THOLLADZIiNA AN’AMTA ‘ALAIHIM

GHOIRILMAGH-DHUuBI ‘ALAIHIM WALA_DHO_LLIiN(a) – AaMIiN(a).

WA ILAAHUKUM ILAAHUW WAA HIDU LAA ILAAHA ILLAA HUWAR

ROHMAANUR ROHIIMU. ALLAAHU LAA ILAAHA ILLAA HUWAL HAYYULQOYYUuM(u). LAA TA’KHUDZUHUU

SINATUW WA LAA NAUUM. LAHUU MAA FISSAMAAWAATI WA MAA FIL ARDHI. MAN DZAL LADZII

YASFA’U ‘INDAHUU ILLAA BI IDZNIHI. YA’LAMU MAA BAINA AIDIIHIM WA MAA KHALFAHUM.

WA LAA YUHITHUUNA BI SYAI-IN MIN ‘ILMIHII ILLAA BI MAASYAA-A. WASI’A

KURSIYYUHUSSAMAAWAATI WAL ARDHA. WA LAA YA-UDHUU HIFZHUHUMAA WAHUWAL ‘ALIYYUL

AZHIIM

ILAHANA ROBBANA ANTA MAULANA SUB’HANALLOH SUB’HANALLOH (Dibaca 33x)

SUB’HA NALLOHI WABI’HAMDIHI DAIMAN ABADAN

AL’HAMDULILLAH ALHAMDULILLAH (Dibaca 33x)

AL’HAMDULILLAHI ‘ALA KULLI’HA_LINN WAFIiKULLI’HALIN

WABINI’MATI YA_KARIiM(u). ALLAHU AKBAR (Dibaca 33x)

ALLOHU AKBAR KABIiRON WAL’HAMDULILLAHI KATSIiRON

WASUB’HA_NALLOHI BUKROTAN WA ASHIiLAN, LA_ILAHA ILLALLOHU

WA’HDAHULA_SYARIiKALAH, LAHULMULKU WALAHUL’HAMDU YU’HYIi WAYUMIiTU WAHUWA

‘ALA_KULLI SYAi IN QODIR. WALA HAULA WALA QUWWATA ILLA BI LLAHIL ALIYYIL ADZHIM.

ASTAGHFIRULLOHAL_’ADZHIIM(A) (Dibaca 3x), INNALLOHA GHOFUURURO’HIIM

AFDHOLUDZ DZIKRI FA’ LAM ANNAHU...

LA ILAHA ILLALLOH. (Dibaca 33x)

LA ILAHA ILLALLOH MU’HAMMADUROSUULULLOHI SOLLALLOHU ALAIHI

WA SALLAM, KALIMATU HAQQIN ALAIHA NA’HYA WA ‘ALAIHA NAMUUTU WA BIHA NUB’A-TSU INGSYA ALLOHU MINAL AMINIIN.

Jika ingin mendengarkan pelafalan dzikir setelah sholat fardhu di atas, silakan simak, dengarkan, lalu download. Pakai IDM bisa. Di hape, bisa pakai aplikasi Souncloud, tinggal klik, ulangi berkali-kali hingga hafal. Doa-doa lain ada di channel KARTANU.

Setelah dzikir, berdoalah. Kata Nabi, berdoa setelah usai melaksanakan sholat itu banyak diterimanya oleh Allah karena waktu habis sholat adalah salah satu waktu yang utama untuk berdoa, dan merupakan waktu mustajab doa. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/bacaan-dzikir-setelah-sholat-fardhu.html

Minggu, 05 April 2009

Ini Bukti Kalau Ormas HASMI Lumbung Kelompok Teroris Takfiri

KARTANU - Gerakan Takfiri di Indonesia makin terang-terangan menunjukan dirinya serta pemihakannya terhadap gerombolan teroris Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) dan al-Qaeda (yang sebenarnya merupakan produk, binaan, dan biaya AS-Arab Saudi). Menurut info, pada Januari 2014, dua organisasi gurem, FAKSI (Forum Aktivis Syariat Indonesia) dan KUIB (Komunitas Umat Islam Bekasi), mendelarasikan dukungan dan loyalitasnya pada gembong teroris ISIS.

Kedua organisasi abal-abal beranggotakan segelintir ekstrimis dan berorientasi teror-takfiri itu hadir menyusul beberapa organisasi senior lainnya yang senyatanya dijadikan kedok untuk mengusung misi takfiri dan menjalankan aksi-aksi teror. Salah satunya adalah organisasi HASMI (Harakah Sunniyyah Masyarakat Islami, atau Gerakan Sunni untuk Masyarakat Islami).

Ini Bukti Kalau Ormas HASMI Lumbung Kelompok Teroris Takfiri - KARTANU
Ini Bukti Kalau Ormas HASMI Lumbung Kelompok Teroris Takfiri - KARTANU


Ini Bukti Kalau Ormas HASMI Lumbung Kelompok Teroris Takfiri

Sekadar lebih mengenal dan menyegarkan ingatan, pada 7 Desember 2012, pasukan anti-teror Indonesia berhasil membekuk tiga terduga teroris di Jawa Tengah. Mereka disergap karena diduga menyimpan bahan peledak untuk Abu Hanifah, bos besar HASMI.

KARTANU

Ketiga terduga teroris yang bernama Winduro bin Nur Hadi (28), Feri Susanto (23), dan Bambang Kurmanto (45), itu ditangkap di Desa Sroyo Kabupaten Karanganyar. Penangkapan itu menyusul operasi kontraterorisme di Jawa pada akhir Oktober 2012 yang berhasil membekuk 11 anggota HASMI, termasuk Abu Hanifah, berikut bom rakitan, bahan peledak, amunisi, dan petunjuk perakitan bom.

Menurut pengamat terorisme, al-Chaidar, HASMI berasal dari Tim Hisbah, suatu jaringan yang bertanggung jawab atas aksi bom bunuh diri baru-baru ini di Cirebon dan Solo, serta berakar pada kelompok Darul Islam era 1950-an. "Abu Hanifah memulihkan gerakan Tim Hisbah setelah kematian Sigit Qurdowi, pimpinan Tim Hisbah," katanya.

Lalu Abu Hanifah merekrut anggota baru yang bukan berasal dari anggota Jamaah Islamiyah, lanjut al-Chaidar. Tidak seperti kebanyakan kelompok teroris yang terhubung ke Jemaah Islamiyah, jaringan Hanifah terhubung ke Darul Islam, yang muncul ke permukaan pada 1950 sebagai pemberontak yang berusaha mendirikan negara Islam," paparnya.

KARTANU

Target utama HASMI adalah pemerintah Indonesia yang dipandang menghambat upaya mendirikan negara Islam. "Jaringan Hanifah memiliki sekitar 70 anggota. Polisi telah menangkap 33 orang dari mereka," pungkas al-Chaidar. HASMI menjadikan Bogor sebagai basis dan sentra aktivitas takfirinya, di samping beberapa Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) dan Dewan Pimpinan Daerah (DPD).

Setelah penangkapan itu, polisi baru mengetahui bahwa jaringan Abu Hanifah telah melakukan pelatihan paramiliter di Gunung Wilis, Madiun--tidak seperti kelompok militan lain yang mendirikan kamp di daerah rawan konflik di luar Jawa, seperti Aceh dan Poso. Menurut Noor Huda Ismail, direktur eksekutif International Institute for Peace Building, jaringan teroris juga ada yang mendirikan kamp pelatihan paramiliter di Jawa karena Darul Islam telah melakukannya selama bertahun-tahun, seperti di Serang, Banten, juga Parangtritis, Yogyakarta.

Selain terlibat dalam sejumlah rencana dan aksi terorisme di tanah air, HASMI juga gencar memprovokasi konflik sektarian, Sunni-Syiah. Dalam serangkaian mobilisasi massa yang diklaim sepihak sebagai seminar atau diskusi ilmiah, HASMI yang mengatasnamakan dirinya perwakilan Sunni (yang sebenarnya menganut Saudisme bernama Wahhabi) itu mengangkat tema yang jelas-jelas memfitnah mazhab Islam Syiah dengan maksud memecah belah dan menghasut kaum Sunni agar membenci hingga memerangi saudara Muslimnya sendiri, yaitu kaum Syiah.

Berbeda dengan takfiri jihadi yang harus bertaruh nyawa dengan cara merampok untuk meraup "dana perjuangan", kelompok takfiri tablighi seperti HASMI yang didirikan pada 2006, justru menikmati kucuran dana tak terbatas dari sejumlah yayasan milik emir-emir Timur Tengah. Dari beberapa informasi kredibel yang diperoleh Islam Times, diketahui bahwa aktivitas dan kampanye takfiri HASMI selama ini, yang di kawasan Bogor dicorongkan radio mereka, Fajri FM dan Rodja FM (plus TV kabelnya), sepenuhnya didanai Muassasah (Yayasan) Jam’iyyah Ihya’ al-Turats yang berbasis Kuwait.

Dilaporkan dalam situs HASMI bahwa rombongan anggota organisasi ini yang dipimpin langsung ketua DPP-nya Muhammad Fatih Haidar al-Iltizam dan Muhammad Sarbini, pernah menemui Marzuki Alie pada 12 November 2013. Menurut pengakuan mereka, saat itu pihak HASMI yang diundang, bukan yang meminta bertemu dengan ketua DPR RI itu.

Menurut salah satu pentolan HASMI, Supendi, yang juga ikut dalam rombongan itu, Marzuki Alie (ketua DPR RI saat itu) sangat paham dan yakin bahwa Syiah merupakan aliran atau sekte sesat yang mengatasnamakan Islam. Fitnah pesanan apalagi wan badui? [KARTANU/IT/rj]

Keterangan:

Tulisan diatas disalin edit KARTANU dari situs islamtimes.org, dimuat pada 2 Maret 2014. 

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/ini-bukti-kalau-ormas-hasmi-lumbung-kelompok-teroris-takfiri.html

Sabtu, 31 Januari 2009

Penyebar Propaganda Radikalisme Adalah Musuh dalam Selimut

Jakarta, KARTANU. Akademisi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta Dr Waryono Abdul Ghofur menyebut warga negara Indonesia yang menjadi penyebar propaganda radikalisme dan pelaku teror sebagai "musuh dalam selimut".

"Musuh dalam selimut seperti itu justru lebih repot. Mereka seolah-olah bertindak atas nama negara dan agama, padahal tindakan mereka justru ingin menghancurkan agama dan negara," kata Waryono dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Jumat.

Penyebar Propaganda Radikalisme Adalah Musuh dalam Selimut (Sumber Gambar : Nu Online)
Penyebar Propaganda Radikalisme Adalah Musuh dalam Selimut (Sumber Gambar : Nu Online)


Penyebar Propaganda Radikalisme Adalah Musuh dalam Selimut

Dikatakannya, orang-orang yang terkena paham radikalisme dan terorisme perlu disadarkan. Mereka harus tahu bahwa paham itu salah.

"Mereka juga harus tahu tindakannya itu untuk membela siapa. Kalau mereka mengaku WNI, konsekuensinya mereka harus berperan menjaga keutuhan bangsa. Tapi sebaliknya, bila justru ingin menghancurkan NKRI, mereka jelas bukan orang Indonesia," tandas Waryono.

KARTANU

Ia menyayangkan adanya orang Indonesia yang menjadi pengikut ISIS, bahkan mereka rela melakukan tindakan-tindakan kekerasan, termasuk bom bunuh diri, yang korbannya justru saudara sesama bangsa Indonesia.

Menurut dia, tindakan itu jelas-jelas bertentangan dengan kewajiban sebagai warga negara dalam melindungi negaranya.

KARTANU

"Tugas warga negara itu membela negaranya agar tetap utuh dan tidak terganggu dengan berbagai hal yang membuat negara itu hancur," katanya.

Ia mengatakan bahwa Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi perbedaan dan menghormati kemajemukan suku dan budaya sesuai dengan ideologi Pancasila.

Oleh karena itu, semua warga negara Indonesia wajib saling menghormati serta menjaga keutuhan NKRI dari berbagai gangguan, baik dari dalam maupun dari luar negeri.

"Tidak hanya pengaruh dari luar seperti ISIS, pengaruh dari dalam pun juga harus diantisipasi," kata dia.

Sebagai orang yang setiap hari bergelut dengan bidang agama Islam, Waryono mengajak semua pihak, terutama bagi para pendidik, untuk menyebarkan pemahaman agama yang benar.

Pembantu Rektor II UIN Sunan Kalijaga itu menegaskan bahwa tidak ada satu pun agama yang mengajarkan kekerasan.

"Untuk dunia pendidikan, harus dibuat kurikulum mulai dari tingkat paling bawah sampai atas, tentang cinta tanah air, bangsa, dan agama. Semua itu untuk keutuhan dan perdamaian dan kesejahteraan NKRI," kata dia. (Antara/Mukafi Niam)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/67531/penyebar-propaganda-radikalisme-adalah-musuh-dalam-selimut-

KARTANU

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KARTANU sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KARTANU. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KARTANU dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock