Tampilkan postingan dengan label Dzikir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dzikir. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Desember 2016

Imam Condro, Pejuang dari Pekalongan yang Anti Bom Belanda

KARTANU - Di Desa Rowokembu, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan, dulu ada seorang pejuang kemerdekaan sekaligus bernama Imam Condro, komandan brigade Samber Nyawa. Lahir pada tahun 1926 dan wafat pada tahun 1966.

Imam Condro, Pejuang dari Pekalongan yang Anti Bom Belanda - KARTANU
Imam Condro, Pejuang dari Pekalongan yang Anti Bom Belanda - KARTANU


Imam Condro, Pejuang dari Pekalongan yang Anti Bom Belanda

Imam Condro merupakan anak pertama dari 14 bersaudara. Sejak kecil dikenal memiliki kelebihan dibandingkan anak sebayanya. Adiknya, Kolonel Syamsul Hadi mengisahkan, semasa kecilnya, Imam Condro gemar mencari ikan dan ular.

"Suatu saat beliau Imam Condro mencari ular dan digigit, namun gigitan itu tidak membekas di tubuhnya dan justru ular itu dapat dilumpuhkan," ujar Syamsul berkisah kehebatan kakaknya itu.

Pada masa perjuangan, atas perintah Pemerintah Indonesia waktu itu, Imam Condro diangkat menjadi seorang Brigadir dan membentuk pasukan dengan nama Brigade Samber Nyowo, yang berhasil mengusir kolonial Belanda dari wilayahnya.

"Namun setiap Imam Condro berjuang, ayahanda selalu ditangkap dan dimasukan ke penjara Kedungwuni masa itu," ungkap Syamsul Hadi.

“Belanda menangkap dan memenjarakan ayahanda karena ingin agar Imam Condro menyerahkan diri. Namun Imam Condro seperti yang pernah diamanatkan oleh ayahanda, agar tetap berjuang membela tanah air, apapun yang terjadi," kenang Syamsul Hadi dengan meneteskan air mata.

Atas pesan tersebut, Imam Condro tegar tidak mau menyerahkan diri ke penjajah walau apapun yang akan terjadi, termasuk soal keselamatan ayahnya. Justru yang terjadi, kata Syamsul, Imam Condro semakin ganas mengusir penjajah Belanda dari tanah air tercinta.

Suatu ketika Brigade Samber Nyowo dibombardir oleh Belanda. Saat itu anak buahnya kocar-kacir dan lari tunggang langgang. Namun dengan keberanian dan kelebihan yang dimilikinya, Imam Condro justru maju ke arah tentara Belanda yang membombardir dengan mortir, dan Imam Condro memegang mortir itu agar tidak mengenai anak buahnya.

"Dan aneh tapi nyata, mortir itu meledak digenggaman Imam Condro, pakaiannya compang-camping akibat ledakan mortir tersebut, namun badan Imam Condro tidak terluka sedikitpun," tandas Syamsul Hadi. "Sejak kejadian itu Imam Condro ditakuti oleh pasukan Belanda," imbuhnya.

Kolonel Syamsul Hadi juga mengatakan bahwa Imam Condro meninggal dunia pada tahun 1966. Disaksikan oleh seluruh keluarga, Imam Condro menghembuskan nafas terakhir pada saat berzikir setelah selesai sholat.

Imam Condro meninggalnya seperti ayahanda yang juga wafat kala sedang melakukan ibadah sholat. Bedanya, kalau ayahanda saat itu meninggal pada rakaat terakhir pada waktu sholat. [KARTANU]

Source: Kisah di atas disadur KARTANU dari tulisan Ustadz Amin Nur, santri senior PP. Attaufiqy Wonopringgo, Pekalongan, Jateng.

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/imam-condro-pejuang-dari-pekalongan-yang-anti-bom-belanda.html

Sabtu, 05 Juli 2014

IPNU Prihatin Publik Figur Terjerat Narkoba

Jakarta, KARTANU. Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) prihatin kepada para publik figur yang tidak memberikan teladan kepada masyarakat. Terutama yang terjerat penyalahgunaan Narkoba dan sejenisnya.

Ketua Umum PP IPPNU Khairul Anam HS mengatakan, seharusnya mereka memberikan contoh yang baik kepada masyarakat, apalagi publik figur yang sedang digandrungi anak muda, terutama kalangan pelajar.

IPNU Prihatin Publik Figur Terjerat Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Prihatin Publik Figur Terjerat Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)


IPNU Prihatin Publik Figur Terjerat Narkoba

Khawatirnya, dan itu sangat mungkin, prilaku buruk publik figur ditiru fans-nya, katanya di sekretariat PP IPNU, gedung PBNU, Jakarta, Rabu, (20/2).

Ia juga menyoroti media massa yang memberitakan prilaku buruk publik figur tersebut. Meskipun tugas media massa demikian, tapi jika diberitakan terus-menerus, bisa menjadi hal yang lumrah.

KARTANU

Media seharusnya memberikan pesan moral dengan melakukan kanalisasi berita, supaya jangan tidak mempengaruhi prilaku fans-nya.

Khairul Anam juga menyesalkan publik figur lain yang tidak memberikan contoh yang baik bagi kalangan pelajar seperti politikus, aktivis, agamawan dan lain-lain.

KARTANU

Sebagai sebuah organisasi penyiapan kader penerus bangsa yang memusuhi Narkoba, IPNU membentuk relawan Satria Anti-Narkoba di Gumiarti Camp, Bogor, pada tanggal 20 Mei 2012 lalu. Angkatan pertama berasal dari Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, dan Jawa Tengah.

Untuk memantapkan pemahaman dan seluk-beluk Narkoba, IPNU bekerjasama Badan Narkotika Nasional, mengumpulkan mereka di gedung PBNU, Jakarta, Rabu (20/2) dan Kamis (21/2). Mereka mendapat pengetahuan Sosialisasi pencegahan dan penyalahgunaan Narkoba, dan Peran teman sebaya dalam pencegahan penyalahgunaan Narkoba. Juga pengetahuan tes urine, strategi penyuluhan.

Penulis: Abdullah Alawi

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/42656/ipnu-prihatin-publik-figur-terjerat-narkoba

KARTANU

Sabtu, 12 Oktober 2013

Silakan yang Tertib Ketika Berqurban, Jangan Dhalim Kepada Panitia

KARTANU - Judul diatas tentu terkesan aneh, masak orang berqurban kok bisa dholim. Begini, dulu sekitar 40 tahun yang lalu, sebelum marak bermunculannya panitia-panitia Qurban, ketika itu siapa pun yang berqurban maka dia harus mengurus sendiri qurbannya, mulai dari beli hewan, merawatnya sebelum penyembelihan, proses penyembelihan yang melelahkan, sampai membagikannya kepada yang berhak menerima.

Sungguh ketika itu Qurban merupakan rangkaian ibadah yang membutuhkan kerja keras yang sangat melelahkan, dan disitulah makna Qurban itu begitu terasa, sehingga kata Qurban ْقُرْبَان yang aslinya bermakna dekat/mendekat dalam bahasa arabnya, tapi dalam bahasa kita berubah pengertian menjadi upaya berat atau kerja keras yang sulit dan melelahkan. Kemudian muncullah kalimat-kalimat seperti; 'sukses butuh pengorbanan' atau 'kita harus berkurban demi orang banyak'.

Silakan yang Tertib Ketika Berqurban, Jangan Dhalim Kepada Panitia - KARTANU
Silakan yang Tertib Ketika Berqurban, Jangan Dhalim Kepada Panitia - KARTANU


Silakan yang Tertib Ketika Berqurban, Jangan Dhalim Kepada Panitia

Atau ketika itu jika orang yang berqurban tidak sanggup, maka Qurban diserahkan kepada seorang kiai atau guru ngaji yang punya santri, tentunya disertai pemberian uang sebagai rasa terimakasih. Atau cara yang lain adalah orang yang berqurban itu menyuruh beberapa orang untuk mengurusi qurbannya hingga selesai dibagikan, seraya membayar tenaga mereka dengan uang.

Lalu sekarang ini, bermunculannya panitia-panitia Qurban itu sebenarnya adalah hal baru yang tidak wajib ada, tetapi itu sangat baik dan membantu sekali terhadap kita yang hendak berqurban, disamping menjadi syiar agama.

Maka pantaskah kiranya, jika kita yang beribadah Qurban, kita yang mengharap pahala Qurban, nama kita yang disebut saat penyembelihan Qurban, lalu ada orang lain yang tidak ikut Qurban, tetapi mereka dengan suka rela ikhlas membantu ibadah kita, dari awal hingga akhir, yang itu sungguh sangat melelahkan.

KARTANU

KARTANU

Selanjutnya kita hanya menyerahkan hewan Qurban saja kepada mereka, tanpa uang ongkos, tanpa uang lelah atau tanpa uang terimakasih. Bahkan semua biaya konsumsi, akomodasi dan distribusi, kita biarkan saja mereka yang menanggungnya, mereka yang memikulnya.

Tidak jarang mereka itu urunan (patungan), padahal bisa jadi mereka itu perekonomiannya di bawah kita sebagai orang yang berqurban. Terbayang kah dalam benak kita, ada orang kaya yang berqurban tapi ibadahnya itu dibiayai oleh orang miskin? Astaghfirullohal adhim.

Maka jangan salahkan, jika mereka terpikir menjual kulit, kepala dan kaki hewan Qurban kita, meski itu dilarang Rasulullah. Dalam hadits yang lain, beliau menyatakan lebih tegas lagi, bahwa yang menjual kulit Qurban berarti tidak dianggap Qurban.

مَنْ بَاعَ جِلْدَ أُضْحِيَتِهِ فَلَا أُضْحِيَةَ لَهُ

Artinya: "Barang siapa menjual kulit hewan qurbannya maka tidak ada qurban baginya"

Karena itulah, solusi atas semua ini: 1). Cukupilah kebutuhan mereka panitia-panitia Qurban itu yang telah membantu ibadah kita. 2). Tanyakan juga kepada mereka berapa kira-kira biaya yang mereka keluarkan untuk mengurusi Qurban kita.

3). Berikan tambahan uang sebagai hadiah terimakasih kita kepada mereka, meskipun mereka tidak meminta dan mengharapkannya. 4). Setelah tercukupi maka Panitia jangan lagi terpikir menjual kulit, kepala dan kaki hewan Qurban, sebab itu bukan hak mereka. Mereka hanya menjadi wakil dalam menyembelih dan menyalurkan Qurban, sebagaimana yang tertera dalam spanduk-spanduk itu. Bukan wakil menjual, karena pemilik Qurban saja dilarang menjualnya. Bagaimana mungkin sah, seseorang mewakilkan sesuatu yang dirinya sendiri saja tidak sah melaksanakannya.

5). Berikan saja kulit dan lain-lain yang biasa dijual itu kepada panti asuhan atau orang fakir miskin. Biarkan saja mereka yang menjualnya. Atau jika mereka itu minta tolong mewakilkan kepada panitia untuk menjualkannya, maka itu baru boleh dan sah. Sebab dari tiga kelompok yang bisa menerima Qurban yakni yang berqurban (sunnah untuk mengambil keberkahan), orang kaya (boleh sebagai hadiah) dan fakir miskin (wajib mendapatkannya).

Maka mereka yang fakir miskin (termasuk anak yatim) itulah yang sah menjual dari Qurban yang mereka terima, karena apa yang mereka terima itu otomatis menjadi hak milik mereka, mau dimakan, diberikan kepada orang lain atau dijual, semuanya adalah sah. Menjadi sah pula mereka itu mewakilkannya.

Sedangkan pemilik Qurban dan orang kaya itu, mereka itu bukan memilikinya, karena sudah diqurbankan jika ia yang punya hewan, atau karena mereka itu termasuk kaya yang hanya boleh memanfaatkannya saja, yaitu dengan memakannya atau memberikan lagi kepada yang lain. Mereka berdua tidaklah berhak menjualnya, karena apa yang mereka terima itu tidak menjadi milik bagi mereka berdua.

6). Adapun hielah/rekayasa hukum, dengan cara kulit - kepala dan kaki itu diberikan kepada salah satu panitia yang fakir atau yang miskin, lalu ia menjualnya, kemudian uangnya diberikan kepada kepanitiaan guna menutupi kekurangan biaya. Meskipun cara ini adalah sah secara fiqih, tapi tetap saja itu tidak mengurangi kedhaliman kita kepada mereka yang telah membantu kita.

25 Agustus 2016, Sidoarjo, Jatim

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/silakan-yang-tertib-ketika-berqurban-jangan-dhalim-kepada-panitia.html

Jumat, 21 Desember 2012

Doktrin Sufi Revolusioner

Fenomena historis, simbol-simbol ritual keagamaan dan norma-norma konseptual ajaran agama mengandung pesan-pesan etika pembebasan bagi kehidupan manusia. Ruh agama mengajarkan perlawanan baik dalam bentuk perlawanan kultural, perlawanan politis, perlawanan psikologis, dan segala perlawan lainnya.

Fungsi agama adalah sebagai pembebas yakni wahana pemberontakan manusia dari berbagai ketertindasan karena pemberontakan adalah penolakan terhadap otoritas. Terkadang pemberontakan terjadi karena pergolakan sosial yang mendapatkan legitimasi keagamaan. Buku ini menjadi bukti bahwa agama tampil sebagai mozaik etis pembebasan dalam pemberontakan petani Banten pada 9 Juli 1888.

Doktrin Sufi Revolusioner (Sumber Gambar : Nu Online)
Doktrin Sufi Revolusioner (Sumber Gambar : Nu Online)


Doktrin Sufi Revolusioner

Dalam altar tahun 1870 hingga 1888, rakyat Banten tunduk dalam kuasa pamong pemerintahan. Para pamong praja menjadi agen-agen kolonial sebagai pemungut pajak rakyat Banten. Petani Banten tercekik karena kewajiban membayar pajak dan harus menjual hasil pertaniannya dengan harga yang rendah. Ditambah lagi wabah penyakit dan bencana alam yang semuanya berkelit kelindan menjadi sebuah penderitaan yang kompleks. Hal ini ikut mendorong para petani untuk mengakhiri segala penderitaannya dengan memberontak dan melawan pemerintahan yang berafiliasi dengan pejabat-pejabat Belanda.

KARTANU

Realitanya, walaupun rakyat Banten memiliki tradisi memberontak namun mereka tunduk oleh kedigdayaan pemerintah. Keresahan sosial memuncak tapi tak bergeming. Pemberontakan mulai muncul dari kalangan elite agama dan kaum aristokrat yang juga diperkuat oleh kebencian religius mereka terhadap kekuasaan orang-orang kafir (halaman 9).

Hendri F Isnaeni dalam buku ini dengan narasi hidup yang dingin, lebih berwarna dan tentu meyakinkan, mampu mengurai benang merah doktrin agama yang dijadikan legitimasi dalam pemberontakan petani Banten. Dalam penelitiannya, Hendri mengungkap fakta-fakta penting yang tak diketahui sebelumnya termasuk tokoh penting dalam pemberontakan petani Banten yaitu Syekh Abd al-Karim al-Bantani. Syekh Abdul Karim adalah seorang ulama tarekat Qadiriyyah Naqsyabandiyyah yang berperan penting menjadi perumus dan penyedia ideologi revolusi (halaman 22).

Ruh agama ditafsirkan secara imajinatif dan kreatif serta revolusioner yang diracik menjadi sebuah gugus ideologi perlawanan terhadap kolonial. Racikan ideologi itu menjelma menjadi doktrin sufi dalam gerakan revolusioner yang membangkitkan jiwa-jiwa masyarakat Banten untuk berdiri tegak menantang imperialis Belanda.

KARTANU

Doktrin-doktrin keagamaan yang disampaikan Syekh Abd al-Karim al-Bantani yaitu kedatangan Imam Mahdi, peringatan terakhir Nabi Muhammad, mendirikan negara Islam (dar al-Islam), dan Perang Sabil (Jihad fi sabilillah), yang kemudian disemaikan oleh murid-muridnya seperti Haji Marjuki, Haji Tubagus Ismail, dan Haji Wasid, telah menjadi landasan rasional untuk melakukan pemberontakaan. Doktrin keagamaan tersebut menjadi sangkakala Syekh Abd al-Karim dalam menginspirasi rakyat Banten untuk melakukan pemberontakan.

Yang menarik, Hendri menafsirkan maksud dari doktrin kedatangan Imam Mahdi yaitu ramalah seorang tokoh penyelamat yang akan muncul menyelamatkan dunia dari segala macam dosa. Rupanya hal itu menjadi sebuah misi dalam rangka menyebarkan ketakutan bagi penguasa Belanda (halaman 66).

Buku ini dengan sangat brilian menggambarkan pola-pola pemberantakan petani Banten yang berawal dari konsilidasi yang berkedok pertemuan-pertemuan seperti pesta, pesta perkawinan atau pesta sunatan. Pertemuan-pertemuan yang lebih kecil menggunakan kedok pertemuan zikir. Yang terjadi, pihak pamong praja serta pada pejabat-pejabat Eropa sama sekali tidak melihat sebuah kegiatan yang mencurigakan atau membahayakan.

Membaca buku ini akan disuguhkan dengan kenyataan sejarah bahwa kebangkitan agama telah menjadi gerakan revolusioner yang dibawa oleh para ulama dan para petani yang tertindas dalam kuasa pemerintahan Eropa dan pamong praja Banten. Sebuah buku yang ditulis oleh sejarawan muda yang prolifik turut mengungkap sejarah khazanah intelektual Islam nusantara dengan narasi yang brilian dan teori yang kokoh.

Judul : Doktrin Agama Syekh Abd Karim Al-Bantani Dalam Pemberontakan Petani Banten 1888

Penulis : Hendri F Isnaeni

Penerbit : Kreasi Cendikia Pustaka

Cetakan : I, September 2012

Tebal : x + 118 halaman

Peresensi: Wildani Hefni, Peneliti di Lembaga Kajian Pendidikan, Keislaman, dan Sosial (LekDiS), Jakarta

Dari (Pustaka) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/45505/doktrin-sufi-revolusioner

Kamis, 23 Agustus 2012

Rudi Tri Wahid Pimpin Ansor Jatim 2013-2017

Lamongan, KARTANU. Mantan Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Ngawi, Rudi Tri Wahid, memimpin Ansor periode 2013-2017 setelah unggul dalam pemilihan suara terbanyak pada Konferensi Wilayah yang digelar di Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan, Ahad dini hari.

"Calonnya ada dua, yakni Rudi Tri Wahid yang memperolah 348 suara dan calon lainnya, Sholahul am Notobuwono hanya meraup 225 suara," ujar Ketua Panitia Konferwil, Abdussalam, kepada wartawan.

Rudi Tri Wahid Pimpin Ansor Jatim 2013-2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
Rudi Tri Wahid Pimpin Ansor Jatim 2013-2017 (Sumber Gambar : Nu Online)


Rudi Tri Wahid Pimpin Ansor Jatim 2013-2017

Dalam pemungutan suara yang diikuti 573 pemilih tersebut terdapat tiga suara yang tidak sah. Sedangkan, selisih keduanya terpaut 123 suara. Dengan demikian, periode empat tahun mendatang dipercayakan kepada Rudi Tri Wahid sebagai pengganti Alfa Isnaeni.

KARTANU

Sebelum dilakukan pemungutan suara, sempat terjadi perdebatan sengit saat membahas peraturan tata tertib pemilihan serta verifikasi calon ketua. Tim dari kedua calon silih berganti beradu argumen demi memuluskan calonnya melenggang.

Hanya saja, sidang yang dipimpin langsung oleh Pengurus Pusat GP Ansor dan mendapat pantauan langsung oleh Ketua Umum PP GP Ansor Nusron Wahid tersebut bisa dikendalikan dan peserta konferwil menerima keputusan pemilihan diikuti oleh dua calon.

KARTANU

Keikutsertaan Rudi Tri Wahid menjadi calon ketua sempat diprotes karena yang bersangkutan belum memiliki sertifikat Pelatihan Kadet Nasional (PKN). Namun, karena testimoni PP GP Ansor periode sebelumnya yang dikuatkan dengan surat pernyataan Rudi untuk mengikuti PKN setelah terpilih membuat namanya berhak menjadi salah satu calon.

"Kalau Rudi tidak mengikuti PKN paling lama sebulan setelah terpilih maka akan dilepas mandatnya sebagai Ketua PW GP Ansor Jatim. Bahkan, jika dia mengikuti dan dinyatakan tidak lulus maka Ansor Pusat tetap mencabut mandatnya," kata Nusron Wahid.

Sebenarnya, jumlah suara yang mengikuti pemilihan sebanyak 666 suara dari PC maupun PAC se-Jatim. Hanya saja, setelah dilakukan verifikasi maka yang berhak memilih hanya 573 suara.

Sementara itu, sebelum konferwil digelar sudah muncul dugaan kemenangan Rudi Tri Wahid. Tokoh muda yang digadang-gadang jago Wakil Gubernur Jatim, Saifullah Yusuf, itu diperkirakan unggul telak karena telah mengantongi banyak rekomendasi dari PC maupun PAC.

Bahkan, Rudi mengaku sudah berusaha keras menggalang dukungan dari PC-PC dan PAC-PAC. Hal itu bisa dibuktikan saat memenuhi persyaratan pendaftaran calon dengan modal dukungan 30 PC dan ratusan PAC.

"Saya sudah berusaha yang terbaik sehingga tinggal pasrah kepada takdir," kata alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Di lain pihak, Sholihul Amanullah Notobuwono atau akrab disapa Gus Aam mengaku juga optimistis bakal menang. Kendati demikian, cucu pendiri GP Ansor, KH Wahab Chasbullah tersebut tetap memberikan selamat kepada kompetitornya dalam konferwil. (antara/mukafi niam)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/48927/rudi-tri-wahid-pimpin-ansor-jatim-2013-2017

KARTANU

Sabtu, 26 November 2011

Cerita Jokowi Diberi Peci Mantan Presiden Gus Dur

KARTANU - Presiden Joko Widodo selalu berusaha meneladani sikap hidup dan laku perjuangan Alm. K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang sejalan dengan misi utama kelahiran Nabi Muhammad SAW, dalam menuntun manusia menuju akhlak mulia dan menebarkan rahmat bagi seluruh alam.

Hal ini disampaikan Presiden Joko Widodo dalam peringatan Haul Ke-7 K.H. Abdurrahman Wahid sekaligus Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1438 H yang digelar pada Jumat, 23 Desember 2016, di Komplek Al-Munawwaroh, Jalan Warung Silah No. 10, Ciganjur, Jakarta Selatan.

Cerita Jokowi Diberi Peci Mantan Presiden Gus Dur - KARTANU
Cerita Jokowi Diberi Peci Mantan Presiden Gus Dur - KARTANU


Cerita Jokowi Diberi Peci Mantan Presiden Gus Dur

"Meneladani ketulusan beliau yang menjaga silaturahim, melampaui sekat-sekat primordial yang ada. Meneladani kesederhanaan beliau, meneladani kesukarelaan beliau dalam melayani masyarakat, dan kerelaan berkorban untuk bangsa dan negara sampai akhir hayatnya," ujar Presiden Joko Widodo.

Terlebih lagi Presiden teringat dengan peristiwa ketika Ibu Sinta Nuriyah, istri Gus Dur memberikan peci yang biasanya dipakai Gus Dur pada hari Kamis, 26 September 2013, di Wahid Institute. Tapi sayangnya peci itu disimpan Presiden di Solo. “Jadi tidak bisa saya pakai tahun ini. Insya Allah tahun depan," kata Presiden.

"Pada khaul 7 tahun wafatnya Gus Dur sekarang, pemberian peci itu menjadi pengingat-ingat buat saya, menjadi pengingat-ingat buat kita semua untuk selalu berusaha meneladani Gus Dur,” ucap Presiden.

Menurut Presiden Joko Widodo, Gus Dur yang wafat pada 30 Desember 2009 lalu, dalam sepanjang hidupnya selalu menekankan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah milik seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali, milik bersama, bukan milik golongan dan bukan milik perseorangan.

“Saya percaya Gus Dur pasti gemes gregetan kalau melihat ada kelompok atau orang-orang yang meremehkan konstitusi, yang mengabaikan kemajemukan kita, yang memaksakan kehendak dengan aksi-aksi kekerasan, radikalisme, terorisme,” ujar Presiden.

Melihat situasi sekarang ini, lanjut Presiden, bangsa Indonesia seharusnya merasa bersyukur. Ketika banyak negara lain goyah mencari pedoman hidup, bangsa Indonesia memiliki Pancasila. “Ketika negara-negara lain kebingungan mencari panduan berbangsa dan bernegara, kita mempunyai Pancasila.

Seharusnya kita bisa membangun lebih cepat, bergerak lebih cepat, sehingga kita bisa menjadi negara pemenang, agar kita menjadi bangsa yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian,” kata Presiden.

Lebih lanjut, Presiden Joko Widodo juga mengagumi sikap optimisme Gus Dur dalam memandang bangsa Indonesia ke depan. “Gus Dur itu selalu optimis dalam memandang Indonesia ke depan. Tidak kagetan, tidak gumunan. Itu Gus Dur,” ucap Presiden.

Bahkan dalam menyelesaikan permasalahan bangsa, Gus Dur selalu berpegang teguh pada sebuah kaidah fiqih 'Yassirru wala Tuasirru' yang memiliki makna permudahlah dan jangan dipersulit.

"Ketika mengambil keputusan yang rumit, saya suka teringat kata-kata beliau (Gus Dur), 'Gitu saja kok repot!?," ucap Presiden Joko Widodo.

Dalam Haul ke-7 kali ini Presiden Joko Widodo berkesempatan menyaksikan pembacaan dan penandatangan Ikrar Damai Ummat Beragama Indonesia oleh 9 Pemuka Agama, sebagai bentuk persatuan atas kemajemukan negara Indonesia.

Presiden Ingatkan Pesan Gus Dur pada Cagub DKI Jakarta Sebagai sosok yang dicintai berbagai kalangan masyarakat, peringatan Haul ke-7 Gus Dur dihadiri pula oleh sejumlah pimpinan lembaga negara, tokoh masyarakat, pemuka agama, para kyai, para ulama hingga para santri. Namun, tiga pasang calon Gubernur DKI Jakarta yang akan berkompetisi dalam Pilkada DKI 2017 mendatang juga tampak hadir di tengah para undangan.

Atas permintaan para undangan, Presiden Joko Widodo menyempatkan diri mengabsen kehadiran ketiga pasangan calon Gubernur DKI Jakarta tersebut. Ketiga cagub dan cawagub yang hadir adalah Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni, Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat, serta Anies Baswedan.

"Nih sekarang hadir disini tiga calon pasangan calon Gubernur DKI hadir semuanya. Diabsen dulu, katanya tadi yang di sana minta di absen. Silahkan berdiri semuanya," ujar Presiden Joko Widodo. Melihat keakraban ketiganya, Presiden Joko Widodo pun mengapresiasi solidaritas dan kerukunan yang ditunjukkan oleh ketiga pasangan calon Gubernur DKI Jakarta.

"Lha mbok ya begitu yang rukun, wong kita ini kan saudara, saudara sebangsa dan setanah air. Persaudaraan itu yang diajarkan oleh Gus Dur," ucap Presiden.

Turut hadir dalam acara tersebut, di antaranya Wakil Presiden RI ke-11 Boediono, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, anggota Wantimpres Sidarto Danusubroto dan Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid serta Yenny Wahid selaku tuan rumah. [KARTANU]

Keterangan:

Laporan diatas ditulis oleh Kepala Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden, Bey Machmudin, 23 Desember 2016.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/cerita-jokowi-diberi-peci-mantan-presiden-gus-dur.html

Selasa, 11 Oktober 2011

Kiai Said: NU Gerak Cepat Membangun Jejaring Bisnis

KARTANU - Nahdlatul Ulama (NU) harus terus berusaha mencari terobosan membantu ekonomi masyarakat. Meskipun bidang ekonomi ini sulit diwujudkan keberhasilannya, NU harus tetap optimis dan tidak boleh putus asa.

"Sebelum bekerja, lakukan identifikasi serta pemetaan program dan kegiatan yang sesuai dengan amanat Muktamar NU ke-33 Jombang," kata Ketum PBNU, Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, MA dalam sambutannya saat membuka Rapat Kerja (Raker) Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Jum'at (17/02/2017).

Kiai Said Aqil menegaskan, LPNU juga perlu secepatnya menindaklanjuti jejaring bisnis yang sudah terbentuk pasca NU-Expo di Surabaya bulan lalu dan expo-expo sebelumnya.

Kiai Said: NU Gerak Cepat Membangun Jejaring Bisnis - KARTANU
Kiai Said: NU Gerak Cepat Membangun Jejaring Bisnis - KARTANU


Kiai Said: NU Gerak Cepat Membangun Jejaring Bisnis

Untuk wilayah Kalimantan misalnya, potensi apa yang bisa diangkat hingga dapat meningkatkan daya ekonomi masyarakat. "Silakan bersinergi dengan pemerintah, saya siap menjembatani," kata kiai asal Cirebon ini.

KARTANU

Sementara, Ketua LPNU, Dr. H. Abidin HH akan menata dan mengevaluasi kinerja lembaganya.

KARTANU

"Kita akan evaluasi seluruhnya dan kita rencanakan untuk tahun mendatang terutama menentukan skala prioritas," kata H. Abidin dalam arahannya kepada peserta Raker.

Masih kata Abidin, potensi setiap daerah berbeda-beda, namun bukan berarti skala prioritas itu mengorbankan daerah tertentu. Skala prioritas didasarkan pada yang paling mungkin dan mendesak untuk dilakukan mulai tahun ini.

"Semua bisa dilakukan hanya saya akan fokus untuk kerja satu tahun mendatang," kata Abidin.[KARTANU/ anw/ksf/dan]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/kiai-said-nu-gerak-cepat-membangun-jejaring-bisnis.html

Rabu, 11 Mei 2011

Inilah Akhlaq: Presiden yang Mendatangi Ulama, Bukan Sebaliknya

KARTANU - Sebuah pemandangan penuh adab ini ada dalam video KARTANU yang didapatkan dari seorang kolega. Dalam video tersebut, seorang umaro' (pejabat) yang justru tawadlu' kepada ulama (ahli ilmu pewaris Nabi), bukan sebaliknya.

Adalah Ramzan Kadyrov, presiden Chechnya yang ketika datang dalam majelis ilmu Habib Ali Al Jufri langsung bersalaman dan tidak meminta Habib (ulama') untuk berdiri, hanya ingin menghormati kehadiran dirinya atas nama umaro'. Subhanallah. Tonton video kedua tokoh Aswaja ini.

Inilah Akhlaq: Presiden yang Mendatangi Ulama, Bukan Sebaliknya - KARTANU
Inilah Akhlaq: Presiden yang Mendatangi Ulama, Bukan Sebaliknya - KARTANU


Inilah Akhlaq: Presiden yang Mendatangi Ulama, Bukan Sebaliknya

Setelah itu, sang presiden langsung mundur, dan merapat ke barisan jama'ah pengajian yang lain. Lesehan. Masyaallah. Inilah harusnya sikap umaro' kepada ulama. Harusnya pula, ulama tidak perlu mendatangi umaro' hanya untuk mengurus dirinya. Ulama' lah yang harus disowani (ditamu) oleh penguasa.

Jika Habib Ali Al Jufri adalah ulama' yang takut umaro' karena alasan kuasa, dunia atau pengaruhnya, tentu ia yang akan lebih dulu menyambut Presiden Ramzan Kadyrov. Tapi ternyata tidak. Ini tanda tak terbantah kalau Habib Ali Al Jufri adalah ulamaul khoir dan ulama akhirat, bukan ulama dunia, apalagi ulama politik.

KARTANU

Beliau adalah contoh ulama akhirat, bukan ulama penjilat yang bisa dibungkam dengan uang dan jabatan serta mencari muka di hadapan pejabat dengan menjual agama dengan dunia yang hina ini.

Pemandangan tersebut hanya bisa kita temui dalam literatur kitab-kitab salaf berbasis ahlus sunnah wal jamaah yang menceritakan bagaimana seorang pemimpin negara yang tawadhu' mau mendatangi ulama.

Kita tidak terlalu mengaharap hadirnya pemimpin yang selalu disebut-sebut seperti Sayyidina Umar bin Abdul Aziz. Itu hampir ibarat mimpi dan tamnni. Paling tidak, kita mengharapkan tumbuhnya pemimpin yang menghargai dan menghormati ulama, dan juga mengharapkan hadirnya ulama yang tidak mudah dibeli umaro' su'. [KARTANU/ab]

KARTANU

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/inilah-akhlaq-presiden-yang-mendatangi-ulama-bukan-sebaliknya.html

Rabu, 01 September 2010

Ketika KH Hasyim Asyari Mengharamkan Kenthongan Masjid

KARTANU - KH Hasyim Asy’ari pernah menulis sebuah artikel dalam majalah Suara Nahdlatul Ulama pada tahun 1926 M, beberapa bulan setelah NU didirikan.

Dalam artikel tersebut, beliau mengajukan argumentasi tentang hukum menggunakan kenthongan. Karena kentongan tidak disebutkan dalam hadis Nabi, maka tentunya diharamkan dan tidak dapat digunakan untuk menandakan waktu shalat. Demikian pendapat Mbah Hasyim.

Ketika KH Hasyim Asyari Mengharamkan Kenthongan Masjid - KARTANU
Ketika KH Hasyim Asyari Mengharamkan Kenthongan Masjid - KARTANU


Ketika KH Hasyim Asyari Mengharamkan Kenthongan Masjid

Sebulan setelah dipublikasikan, seorang kiai senior lainnya, yakni Kiai Faqih Maskumambang (Guru Kyai Zubair Sarang) menulis sebuah artikel untuk menentang artikel Kiai Hasyim itu. Beliau berpendapat, Kiai Hasyim dianggap salah karena prinsip yang digunakan dalam masalah ini adalah masalah qiyas, atau kesimpulan yang didasarkan atas prinsip yang sudah ada. Atas dasar ini, maka kentongan di Asia Tenggara memenuhi syarat untuk digunakan sebagai penanda masuknya waktu shalat.

Sebagai tanggapannya, Kiai Hasyim mengundang ulama Jombang untuk bertemu dengan beliau di rumahnya dan kemudian meminta agar kedua artikel itu dibaca keras. Ketika hal itu dilakukan, beliau mengumumkan kepada mereka yang hadir.

KARTANU

“Anda bebas mengikuti pendapat yang mana saja, karena kedua-duanya benar. tetapi saya tekankan bahwa di pesantren saya kentongan tidak digunakan,” kata Kiai Hasyim.

Beberapa bulan kemudian, Kiai Hasyim diundang untuk menghadiri perayaan Maulid Nabi di Gresik. Tiga hari sebelum tiba, Kiai Faqih yang merupakan kiai senior di Gresik, membagikan surat kepada semua masjid dan mushalla untuk meminta mereka menurunkan kentongan demi menghormati Kiai Hasyim dan tidak menggunakannya selama kunjungan Kiai Hasyim di Gresik.

KARTANU

Ulama dulu telah memberikan tauladan bagaimana pola pikir saat menyikapi perbedaan. Perbedaan bukan media pertengkaran dan permusuhan, tetapi sebagai perekat ukhuwah dan memupuk sikap toleransi dan menghargai pendapat orang lain.

Sungguh indah jika para pemimpin dan elit politik di negara kita tercinta ini bisa meneladani pesan moral dari kisah di atas. Kisah ini dikutip dari Biografi Gus Dur karya Greg Barton. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/ketika-kh-hasyim-asyari-mengharamkan-kenthongan-masjid.html

Minggu, 26 April 2009

Ini Jawaban Untuk Mereka yang Anti Madzhab

KARTANU - Assalamu 'alaikum wr. wb. Mohon izin bertanya terkait dengan mazhab-mazhab, ustadz. Sebenarnya mazhab itu apa sih? Dan mengapa kita harus bermazhab, bukankah sudah cukup kita berpegang kepada Al-Quran dan As-Sunnah? Bukankah mazhab itu hanya pendapat dan perkataan manusia yang bisa benar dan bisa salah. Kenapa harus dipegang dan dirujuk? Mohon maaf kalau redaksi saya agak kurang baik dalam bertanya. Sebelumnya terima kasih atas penjelasan ustadz. Wassalam

Jawaban:

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Sebelum kita bahas pertanyaan ini lebih lanjut, ada baiknya kita sepakati terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan 'mazhab' dan istilah 'bermazhab'. Sebab jangan-jangan kita tidak sepakat tentang pengertiannya, tetapi sudah terlanjur perang opini.

Ini Jawaban Untuk Mereka yang Anti Madzhab - KARTANU
Ini Jawaban Untuk Mereka yang Anti Madzhab - KARTANU


Ini Jawaban Untuk Mereka yang Anti Madzhab

KARTANU

A. Mazhab adalah penjelasan paling sah atas isi Al-Quran dan as-Sunnah Yang kita sepakati dari istilah mazhab adalah penjelasan yang asli, otentik, baku dan ilmiyah tentang kandungan hukum Allah yang tertuang di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Ternyata Al-Quran dan As-Sunnah yang kita warisi dari Rasulullah SAW itu masih harus dijelaskan dulu sebelum kita laksanakan.

Kenapa harus ada penjelasan? Bukankah Al-Quran dan hadits itu sendiri sudah merupakan penjelasan buat orang yang bertaqwa?

Pertanyaan agak-agak lugu tapi polos ini mungkin sering kita dengar dari mulut saudara-saudara kita yang sedang belajar ilmu agama. Tidak apa-apa, namanya saja masih belajar. Wajarlah kalau pertanyaannya agak polos.

KARTANU

Jawabannya adalah bahwa orang-orang terbaik dari generasi terbaik saja masih bermazhab dan tidak sok tahu menafsir-nafsirkan ayat-ayat Allah SWT dengan akal pikiran dan nalar mereka sendiri. Mereka masih tetap bertanya tentang Al-Quran, as-Sunnah dan hukum-hukum syariah kepada Rasulullah SAW.

1. Shahabat masih harus minta penjelasan Al-Quran dari Rasulullah SAW Pertanyaannya, mereke orang sekelas shahabat itu masih harus bertanya tentang Al-Quran, padahal mereka mengalami turunnya Al-Quran. Dan bahkan Al-Quran turun dalam bahasa mereka, yaitu bahasa Arab?

a. Kendala Bahasa dan Istilah Memang benar ayat-ayat Al-Quran turun dalam bahasa Arab yang khas di masa Nabi SAW. Namun yang harus diketahui dengan kualitas level bahasa yang teramat tinggi sastranya. Sehingga terkadang tidak semua shahabat mampu memahami kata per kata, kalimat per kalimat serta redaksi-redaksi di ayat Al-Quran itu sendiri.

Seringkali mereka harus bertanya lagi kepada Rasulullah SAW tentang apa maksud suatu ayat. Jadi Al-Quran itu tidak otomatis jelas dan mudah dipahami, bahkan oleh mereka yang selevel para shahabat sekalipun. Tetap saja mereka masih harus mendapatkan penjelasan dulu dari Rasulullah SAW.

Bayangkan kalau sekelas shahabat saja masih harus bertanya tentang isi Al-Quran dan kandungan hukumnya, bagaimana mungkin orang di masa kini 15 abad setelah turunnya Al-Quran, tidak paham bahasa Arab, tidak tahu asal muasal turunnya ayat, tidak tahu jeluntrungannya, tiba-tiba mereka berhak untuk menafsirkan sendiri? Lalu bikin fatwa aneh-aneh sambil melarang orang bertanya kepada sumber rujukan aslinya, yaitu para shahabat? Sungguh aneh dan tidak masuk akal, bukan?

b. Nasikh Wal Mansukh Syariat Islam di dalam Al-Quran tidak turun sekaligus, tetapi berproses. Berproses di sini bukan sekedar ayat turun satu persatu, tetapi lebih dari itu, kadang ada proses perubahan hukum seiring dengan semakin banyaknya turun ayat.

Hukum yang sudah ditetapkan pada satu ayat bisa saja dianulir dan diubah menjadi hukum yang lain oleh ayat yang turun kemudian. Keharaman yang dibawa oleh suatu ayat bisa diubah menjadi kehalalan oleh turunnya ayat berikutnya. Sebaliknya, kehalalan yang didasarkan pada satu ayat, kemudian diharamkan oleh ayat yang turun kemudian.

Banyak sekali orang awam di masa kini yang sama sekali tidak tahu adanya ayat yang dinasakh atau dibatalkan hukumnya. Dengan segala keluguannya mereka mengira semua ayat itu berlaku hukumnya sama rata. Mereka tentu harus bertanya dulu kepada sumber rujukan utama yaitu para shahabat. Tidak boleh asal main keluarkan fatwa dan hukum seenaknya.

c. Tidak semua shahabat merupakan ahli hukum Satu hal lagi yang harus dicatat juga bahwa tidak semua shahabat itu ahli dalam hukum agama, meskipun mereka hidup bersama Rasulullah SAW. Ibnul Qayyim Al-Jauziyah di dalam kitab I'lamul Muwaqqi'in memperkirakan hanya sekitar 130-an orang saja dari para shahabat yang punya kapasitas dalam mengistimbath hukum.

Padahal kita tahu bahwa jumlah shahabat itu mencapai angka 124 ribu orang. Dibandingkan yang ahli dalam istinbath hukum, ternyata jauh lebih banyak mereka yang bukan ahlinya.

Oleh karena itu, tidak bisa kita pungkiri bahwa sesungguhnya para shahabat itu meski bisa bahasa Arab, mengalami proses turunnya Al-Quran, bahkan menjadi tokoh langsung di dalam ayat yang diturunkan, namun tetap tetap saja mereka harus bertanya kepada Rasulullah SAW atau kepada shahabat senior yang sudah berlevel ahli istimbath hukum. Maksudnya tetap harus bertanya kepada ahlinya tentang isi kandungan hukum di dalam Al-Quran. Dan proses bertanya itu yang kita sebut bermazhab.

Mereka yang hidup bersama Rasulullah SAW saja masih harus bermazhab, bagaimana mungkin orang di zaman sekarang merasa sudah pintar dan mereka berhak menafsir-nafsirkan ayat Al-Quran seenaknya? Apakah mereka merasa lebih pintar dan lebih tinggi ilmunya dari para shahabat?

2. Para shahabat mendapat legalisasi dari Rasulullah SAW untuk berfatwa Menarik untuk dicermati, para sebagian shahabat yang memang telah mendapatkan pendididukan khusus untuk menjadi ahli istimbath hukum ini kemudian mendapatkan legalitas dari Rasulullah SAW. Tentu tidak semua mereka mendapatkannya, melainkan hanya yang sudah mencapai derajat ilmunya. 

Wajiblah atas kalian untuk berpegang pada sunnahku dan sunnah para penggantiku yang lurus. Pegang erat sunnah itu dan gigitlah dengan geraham. (HR. Ahmad)

Dengan hadits ini maka para shahabat ahli istimbath hukum itu telah menjadi juru fatwa resmi yang telah menandatangani 'kontrak' sebagai wakil Allah di muka bumi. Jabatannya tentu bukan sebagai pembawa wahyu tetapi sebagai juru tafsir resmi dari Al-Quran dan As-Sunnah.

Siapa saja yang mencoba menafsir-nafsirkan ayat Al-Quran ataupun sunnah Rasulullah SAW semata-mata hanya lewat akalnya sendiri, maka sudah dipastikan sesat, keliru dan tidak bisa diterima. Anehnya di zaman sekarang bisa-bisanya ada orang yang tidak mengerti Al-Quran dan As-Sunnah, tetapi malah mengaku-ngaku sebagai ahli fatwa, lalu bikin fatwa seenaknya. Lucunya sampai bilang begini:

"Tinggalkan semua perkataan manusia dan cukup Al-Quran dan As-Sunnah saja yang kita pegang. Tidak usah merujuk kepada shahabat, tabi'in atau fuqaha, karena mereka manusia dan sangat mungkin mengalami kesalahan".

Ungkapan ini kelihatannya benar, tetapi sekaligus juga banyak pesan menyesatkan tersirat di dalamnya. Di antarnya kesesatannya adalah sebagai berikut:

a. Sama saja mendustai kenabian Muhammad SAW Dengan mencoret peran para shahabat, tabi'in dan para fuqaha, otomatis kita menutup penjelasan, ilmu dan pesan-pesan penting dari Rasulullah SAW yang dititipkan kepada mereka. Dan itu berarti sama saja kita mendustakan kenabian Muhammad SAW.

b. Bikin agama baru mendompleng agama Islam Bila kita perpegang pada Al-Quran dan Sunnah, lalu kita tafsiri sendiri semua isi kandungannya, seenak kita dan sesuai dengan selera kita sendiri, maka sesungguhnya kita telah menciptakan agama baru. Agama itu sama sekali bukan agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW, tetapi kita cuma mendompleng saja, sementara isi dan ajarannya 100% buatan akal kita sendiri.

3. Para Shahabat Boleh Berbeda Pendapat Dan yang sangat menarik adalah meski sudah sah menjadi juru tafsir resmi Al-Quran dan As-Sunnah oleh Rasulullah SAW, namun para shahabat ahli istimbath hukum tetap diberi 'kebebasan' untuk saling berbeda pendapat.

Dan sudah pasti bahwa perbedaan pendapat di tengah para shahabat tentu tidak datang dari hawa nafsu pribadi, atau kepentingan kelompok tertentu, atau motivasi uang, jabatan, kekayaan, popularitas dan hal-hal rendah lainnya. Tentu saja mereka suci dari semua tuduhan itu. Sebab Allah SWT menjamin bahwa mereka itu mendapat ridha dari Allah SWT dan dalam hadits yang shahih mereka 100% dipastikan masuk surga.

Dari Said bin Zaid bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Ada sepuluh orang di dalam surga : Abu Bakar di dalam surga, Umar di dalam surga, Utsman di dalam surga, Ali di dalam surga, Thalhah di dalam surga, Az-Zubair di dalam surga, Abdurrahman bin Auf di dalam surga, Said bin Malik di dalam surga, Abu Ubaidah Ibnul Jarrah di dalam surga, kemudian Said terdiam. Orang-orang bertanya,”Siapa yang kesepuluh?”. Said menjawab,”Said bin Zaid”- yaitu dirinya sendiri. (HR. Ahmad dan Abu Daud)

4. Boleh memilih mazhab shahabat yang mana saja Ketika para shahabat yang sudah menjadi derajat ahli istimbath hukum ini punya pendapat yang berbeda satu dengan yang lainnya, maka para shahabat yang lain boleh memilih pendapat yang mana saja dari mereka.

Para shahabatku bagaikan gemintang di langit. Pendapat siapapun yang kamu ambil tetap dapat petunjuk. Perbedaan pendapat mereka jadi rahmat bagi kamu. (HR. Al-Baihaqi)

Dalam kenyataannya ada mazhab Abu Bakar, mazhab Umar, mazhab Ustman, mazhab Ali, mazhab Ibnu Abbas, mazhab Ibnu Umar, mazhab Ibnu Mas'ud, mazhab Aisyah, mazhab Ummu Salamah dan lainnya. Mereka bisa saja berbeda pendapatnya, namun semuanya berada di dalam wilayah kebenaran dan petunjuk dari Rasulullah SAW.

Maka kepada pendapat, fatwa serta mazhab para shahabat itulah kita wajib berpegang-teguh. Sebab pada hakikatnya kita sedang kembali kepada Al-Quran. KARTANU

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/03/ini-jawaban-untuk-mereka-yang-anti-mazhab.html

Kamis, 21 Juni 2007

Kesadaran Kirim Anak ke Pesantren Masih Tinggi

Semarang, KARTANU. Pengasuh Pondok Pesantren Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah KH Yusuf Chudlori mengatakan, hari ini ada kesadaran di masyarakat bahwa punya anak kalau hanya sekolah formal tinggal menunggu kerusakannya.

Menurut dia, banyak orang tua sadar bahwa anaknya, disamping sekolah formal, harus di pesantren. Animo masyarakat mengembalikan anak ke pesantren ini sebetulnya luar biasa, katanya pada diskusi rutin yang diselenggarakan Fraksi Kebangkitan Bangsa Jawa Tengah pada (25/11).

Kesadaran Kirim Anak ke Pesantren Masih Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesadaran Kirim Anak ke Pesantren Masih Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)


Kesadaran Kirim Anak ke Pesantren Masih Tinggi

Pada kesempatan itu kiai yang akrab disapa Gus Yusuf didaulat membincang pesantren dengan tema "Pesantren Minim Perhatian Dimana Peran Pemerintah?". Gus Yusuf hadir sebagai Wakil Ketua Pengurus Pusat Rabithah Maahid Islamiyyah.

Menurut Gus Yusuf, keadaan tersebut sebagai perhatian masyarakat terhadap kemerosotan moral bangsa. Kesadaran itu muncul karena lembaga pendidikan pesantren tidak hanya menjadi lembaga talim namun juga melakukan tarbiyyah kepada santrinya.

KARTANU

Masyarakat, tambah dia, sebagai orang tua santri akan merasakan rugi bila tidak menyantrikan anaknya di pondok pesantren.

KARTANU

Masih menurut Gus Yusuf, ada berbagai macam pilihan pondok pesantren yang bisa dipilih wali santri dalam menyelamatkan akhlak anaknya. Bahkan ada beberapa wali santri yang hanya memondokkan anaknya tidak diimbangi dengan sekolah formal terlebih dahulu.

Ia berharap ke depan pesantren masih menjadi penjaga moral bangsa. "Tidak hanya sebatas pinter tetapi juga melahirkan orang-orang bener," ungkap Gus Yusuf.

Ia juga mendukung dengan kerja yang dilakukan PW RMI Jateng yang melakukan database pesantren di provinsi tersebut.

Hal ini juga dikuatkan Muh Zen Adv sebagai bagian dari FKB Jateng. Database pesantren menjadi dasar untuk menentukan berbagai macam kebijakan organisasi. (M. Zulfa/Abdullah Alawi)

Dari (Pesantren) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/55985/kesadaran-kirim-anak-ke-pesantren-masih-tinggi

KARTANU

Selasa, 21 Februari 2006

Pagar Nusa Sukoharjo Prioritaskan Pengkaderan

Sukoharjo, KARTANU. Beberapa pemuda berpakaian serba hitam terlihat di beberapa sudut acara Sukoharjo Bersolawat, Jumat kemarin (11/1). Sebagian dari mereka, membentuk kelompok dan berjalan berkeliling memantau keamanan acara. Mereka adalah para pemuda yang tergabung dalam organisasi Pencak Silat Nadlatul Ulama Pagar Nusa Kabupaten Sukoharjo.

Hampir setiap ada kegiatan baik pengajian atau yang lainnya, Pagar Nusa bersama Banser, siap mengawal jalannya acara dan keamanan khususnya bagi para kiai.

Pagar Nusa Sukoharjo Prioritaskan Pengkaderan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Sukoharjo Prioritaskan Pengkaderan (Sumber Gambar : Nu Online)


Pagar Nusa Sukoharjo Prioritaskan Pengkaderan

Di Sukoharjo sendiri, Pagar Nusa, dalam dua tahun belakangan ini mengalami perkembangan yang cukup bagus bila dibandingkan dengan kurun waktu sebelumnya. Organisasi beladiri yang didirikan kiai-kiai NU tanggal 3 Januari 1986 ini, mendapat respon yang baik, khususnya di kalangan pelajar. Sejumlah anggota yang aktif sekarang, kebanyakan berusia antara SMP hingga mahasiswa. Mereka tersebar di berbagai daerah di Kota Makmur.

KARTANU

Ketua Pagar Nusa Kab. Sukoharjo saat ini, Edy Rusmidi, saat ditemui KARTANU usai acara Sukoharjo Bersolawat, ia menjelaskan mengenai tantangan ke depan Pagar Nusa di Sukoharjo, yang terpenting saat ini yakni masalah kaderisasi. Ini yang akan kita prioritaskan

Menurut Leneng, sapaan Edy, dirinya beserta pengurus yang lain membidik para remaja untuk direkrut dan dilatih di Pagar Nusa. Mereka perlu diarahkan. Daripada terjerumus ke hal yang negatif, mending kita arahkan kepada kegiatan beladiri yang positif.

KARTANU

Setiap latihan kita juga menyisipi dengan pengajian agama. Jadi secara tidak langsung mereka juga kita arahkan untuk menjalankan agama dengan benar. Imbuhnya.

Saat ini, anggota Pagar Nusa Sukoharjo baru berjumlah kurang lebih 60 anggota aktif. Jumlah tersebut mungkin sedikit bila dibandingkan dengan daerah lain, yang mayoritas warganya NU.

Salah satu anggota, Imam (16), menuturkan motivasinya untuk masuk Pagar Nusa, ya suka saja dengan beladiri. Lain lagi dengan Syamsul, mahasiswa IAIN Surakarta ini beralasan mengikuti organisasi ini untuk menunjukkan identitasnya sebagai pemuda NU, ndisamping saya memang suka pencak silat, dan sebagai pemuda NU, ya semestinya inilah wadah kita.

Sedangkan untuk jadwal latihan, tiap daerah memiliki rutinan sendiri. Seperti di daerah Tawangsari dan Bulu terjadwal setiap Rabu malam. Sedangkan di Kartasura, biasanya mereka berlatih di sekitar kompleks IAIN Surakarta. Jadi mulai sekarang, anda yang tinggal di sekitar daerah tadi, tak perlu takut bila menemui sekelompok pemuda berpakaian serba hitam yang tengah berlatih ilmu kanuragan, sebab mereka adalah pendekar Pagar Nusa. Pagar NU dan Bangsa!

Redaktur : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/41749/pagar-nusa-sukoharjo-prioritaskan-pengkaderan

KARTANU

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KARTANU sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KARTANU. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KARTANU dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock