Tampilkan postingan dengan label Hadis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hadis. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Juli 2016

Kenapa Bung Karno Diziarahi Kirab Resolusi Jihad NU?

Jakarta, KARTANU. PBNU menggelar Kirab Resolusi Jihad NU 2016 untuk memperingati Hari Santri Nasional pada bulan Oktober nanti. Kirab yang akan dimulai dari Banyuwangi (Jawa Timur) sampai Cilegon (Banten) tersebut diperkirakan akan menempuh jarak 2000 km.

Peserta kirab akan berziarah ke makam wali, kiai, bersilaturahim ke pesantren dan pengurus NU. Salah satu destinasi Kirab Resolusi Jihad NU 2016 adalah makam Prklamator Kemerdekaan RI Soekarno di Blitar, Jawa Timur.

Kenapa Bung Karno Diziarahi Kirab Resolusi Jihad NU? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenapa Bung Karno Diziarahi Kirab Resolusi Jihad NU? (Sumber Gambar : Nu Online)


Kenapa Bung Karno Diziarahi Kirab Resolusi Jihad NU?

Bung Karno merepresentasikan tokoh nasionalis, kata Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Ishfah Abidal Aziz ketika ditanya alasan kenapa makam Bung Karno diziarahi, di gedung PBNU, Jakarta Senin (19/9).

KARTANU

Menurut dia, di Indonesia, kalangan nasionalis dan agamis berkaitan erat, bisa bekerja sama. Dan itu terbukti dalam sejarah ketika Soekrno menjadi presiden, ulama-ulama dekat dengannya. Bahkan jauh sebelum ia menjadi presiden.

KARTANU

Islam di Indonesia, sebagaimana tercermin dalam tokoh utama NU, Hadrotusyekh KH Hasyim Asyari, bisa memadukan agama dan nasionalisme.

Lebih lanjut, alasan menziarahinya karena Resolusi Jihad itu bermula dari pertanyaan Soekarno, bagaimana hukumnya membela tanah air. Maka NU mengumpulkan kiai se-Jawa dan Madura. Hasilnya keluarlah Resolusi Jihad yang menyebutkan bahwa membela tanah air itu wajib bagi umat Islam. (Abdullah Alawi)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/71389/kenapa-bung-karno-diziarahi-kirab-resolusi-jihad-nu-

Jumat, 10 Juni 2016

Pelajar NU Gandrungmangu Isi Pesantren Ramadhan dengan Lakmud

Cilacap, KARTANU. Sebanyak 125 pelajar mengikuti pelatihan kader muda (Lakmud) yang diselenggarakan IPNU-IPPNU Gandrungmangu di MI Maarif NU 1 Layansari kecamatan Gandrungmangu kabupaten Cilacap. Pelatihan selama dua hari, Sabtu-Ahad (5-6/7) ini, mempersiapkan peserta menjadi kader NU berwawasan Aswaja.

Peserta Lakmud yang dimulai Sabtu (5/7) pagi ini ialah utusan dari empat belas ranting dan enam komisariat IPNU-IPPNU sekecamatan. Mereka juga mempelajari sejumlah keterampilan dalam kaderisasi ini seperti pelatihan Jurnalistik, seminar Kepemimpinan Masa Depan, dan praktik amaliyah Ramadhan.

Pelajar NU Gandrungmangu Isi Pesantren Ramadhan dengan Lakmud (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Gandrungmangu Isi Pesantren Ramadhan dengan Lakmud (Sumber Gambar : Nu Online)


Pelajar NU Gandrungmangu Isi Pesantren Ramadhan dengan Lakmud

Keluar dari sini, peserta harus sudah siap menjadi pemimpin dan pelopor masa depan pada masing-masing ranting dan komisariat, kata Ketua IPNU Gandrungmangu, Ali Mahfudz.

KARTANU

Kaderisasi ini berakhir Ahad (6/7) petang. Kegiatan yang diakhiri doa bersama dengan pengurus MWCNU Gandrungmangu beserta lembaga dan banom NU, menutup rangkaian kegiatan pesantren Ramadhan. (Ulun Najah-Amaliyatun Khofifah/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/53122/pelajar-nu-gandrungmangu-isi-pesantren-ramadhan-dengan-lakmud

KARTANU

KARTANU

Sabtu, 04 Juli 2015

Kader PMII UMI Pimpin KNPI Sulsel

Makassar, KARTANU. Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Selawesi Selatan menggelar Musyawarah Daerah yang diikuti puluhan organisasi kepemudaan yang tegabung dalam KNPI Sulsel. Dalam musyawarah tersebut Yasir Mahmud terpilih menjadi pemimpin.

Yasir Mahmud merupakan salah satu Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) komisariat UMI dari Fakultas Ekonomi UMI.

Kader PMII UMI Pimpin KNPI Sulsel (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader PMII UMI Pimpin KNPI Sulsel (Sumber Gambar : Nu Online)


Kader PMII UMI Pimpin KNPI Sulsel

Ketua PMII Komisariat UMI Cabang Makassar Fajar Rakasiwi mengucapkan selamat atas kemenangan tersebut. "Semoga dengan terpilihnya beliau dapat membawa perubahan di dunia pemuda khususnya di Sulsel," ujarnya.

KARTANU

Lanjut Fajar, kami yakin sahabat Yasir Mahmud dapat mempersatukan pemuda Sulawesi Selatan guna dapat berkonstribusi dalam pengawalan kebijakan di daerah. Kami dari PMII UMI siap mengawal sahabat Yasir Mahmud, tegas Fajar.

Dalam musyawarah di Hotel Clarion Rabu (14/12) tersebut, terdapat 4 kandidat calon ketua. Mereka diantaranya Arsoni, Yasir Mahmud, Ramanda Manji, dan Mujiburrahman.

Yasir Mahmud terpilih secara aklamasi kerena ketiga kandidat mengundurkan diri saat musyawarah berlangsung. "Semoga kepemimpinan Yasir Mahmud dapat mendapatkan legalitas secepatnya agar dapat menjalankan kepengurusan KNPI Sulsel," jelas Fajar. (Muhammad Aras Prabowo/Abdullah Alawi)

KARTANU

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/73871/kader-pmii-umi-pimpin-knpi-sulsel

KARTANU

Jumat, 23 November 2012

Ijazah Sholawat Agar Sanad Guru Sambung ke Rasulullah

KARTANU - Sholawat mulia ini telah diijazahkan oleh Habib Quraisy Baharun untuk setiap muslimin yang mau mengamalkannya. Beliau mendapatkan ijazah langsung dari Guru Mulia Maulana Habib Umar bin Hafidz.

Silahkan dishare dan diamalkan, dan komen di bawah ini: "Qabiltu Ijazataha" (saya terima ijazahnya).

Ijazah Sholawat Agar Sanad Guru Sambung ke Rasulullah - KARTANU
Ijazah Sholawat Agar Sanad Guru Sambung ke Rasulullah - KARTANU


Ijazah Sholawat Agar Sanad Guru Sambung ke Rasulullah

اللهم صل على سيدنا محمد النبي الأمي و على آله بعدد علمك

Cara bacanya: "Allahumma Sholli ala Sayyidina Muhammadinin Nabiyyil Ummiyyi wa Ala Alihi Biadadi Ilmik"

Aturannya: Dibaca 10.000 kali selama bulan Dzulhijjah.

KARTANU

Di luar bulan Dzulhijjah di baca 100 kali. Ketika di tanah Haram, Habib Umar mengatakan tentang sholawat ini, "Barang siapa mengamalkannya maka sanad gurunya adalah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam".

Hendaknya sholawat ini bisa dijadikan wirid harian. Sholawat yang kita baca akan sampai kepada Rasulullah. dan sekaligus bagian dari kita untuk bertawassul kepada Baginda Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wa sallam. [KARTANU]

KARTANU

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/ijazah-sholawat-agar-sanad-guru-sambung-ke-rasulullah.html

Selasa, 16 Oktober 2012

Cara Mbah Sholeh Darat Mendidik Orang Awam

KARTANU - Membincang figur KH Sholeh bin Umar bin Sholeh as Samarani (dikenal Mbah Sholeh Darat) tidak akan selesai dalam satu dua bulan. Banyak sisi menarik dari sosok pejuang ilmu dan Grand Syaikh ulama Jawa ini. Apalagi jika mendiskusikan karya-karya yang telah dicetak sebagai peninggalan pemikirannya.

Dari sisi ketokohan, Mbah Sholeh Darat bukan ulama biasa. Ia tergolong luar biasa karena merasakan betapa hidupnya diabadikan untuk dunia ilmu dan kebangsaan.

Cara Mbah Sholeh Darat Mendidik Orang Awam - KARTANU
Cara Mbah Sholeh Darat Mendidik Orang Awam - KARTANU


Cara Mbah Sholeh Darat Mendidik Orang Awam

Dalam dunia ilmu, Mbah Sholeh dikenal sebagai sosok yang konsisten dalam mencari ilmu dari ulama yang sangat otoritatif memiliki sanad ilmu yang bersambung hingga Rasulullah. Gurunya yang ada di Jawa dan Makkah juga bukan ulama biasa, melainkan ulama besar yang memiliki kapasitas keilmuan yang luar biasa.

Dari sisi kebangsaan, sosok Mbah Sholeh Darat hadir memberikan contoh dalam menghadang kolonisasi. Itu dilakukan karena ayah Mbah Sholeh adalah pasukan perang Diponegoro yang berjuang bersama dengan Kyai Darda' dan Kyai Sada'. Jika ayahnya melawan penjajah, Kyai Sholeh melawan penjajah dengan keilmuan.

KARTANU

Nalar keilmuan dan kebangsaan Mbah Sholeh menyatu menjadi keteguhan dalam membela masyarakat awam untuk tetap teguh berilmu dan berani menentang penjajah.

Meniru gaya pakaian penjajah saja bagi Mbah Sholeh itu haram. Maka para murid beliau KHR Asnawi Kudus dan KH Hasyim Asy'ari juga ikut menggelorakan haramnya memakai dasi, celana dan pakaian yang menyamai Belanda.

Dalam 13 naskah karya yang ditinggalkan Mbah Sholeh Darat yang saya miliki, semuanya disusun dengan bahasa Jawa dan huruf pegon (almarikiyyah). Secara tegas Mbah Sholeh menyatakan bahwa dengan bahasa Jawa itu akan mudah dipahami oleh orang awam.

KARTANU

Inilah yang menjadikan tanda nyata bahwa Mbah Sholeh hadir sebagai gurunya orang Jawa karena kitabnya dihadirkan dengan bahasa orang Jawa. Namun Mbah Sholeh masih tetap menuliskan kalimat-kalimat awalnya berasal dari bahasa Arab.

Jadi dapat diambil benang merah bahwa Mbah Sholeh masih konsisten menjaga originalitas bahasa Arab dan kemudian menerjemahkan dengan bahasa Jawa yang mudah dimengerti oleh orang awam. Dalam kondisi penjajahan Belanda saat itu, Mbah Sholeh dengan gigihnya menerjemahkan al-Qur'an, fiqh, tauhid, tasawwuf dan lainnya. Dan ini cukup kuat meyakinkan bahwa masyarakat Jawa didorong untuk kuat dalam menguasai ilmu-ilmu agama.

Mendidik orang awam memang butuh menggunakan bahasa orang awam. Begitu pula cara Mbah Sholeh Darat mendidik orang Jawa juga dengan bahasa Jawa.

Mbah Sholeh Darat sukses menjawakan al-Qur'an dalam karyanya Tafsir Faidlu al Rahman, dengan tetap menjaga dan mencantumkan ayat al Qur'an yang aslinya berbahasa Arab. Terjemahan al Qur'an karya Mbah Sholeh juga terdapat di dalam Kitab Fashalatan yang menjelaskan ayat-ayat juz 30 untuk bacaan shalat.

Betapa indah pilihan bahasa yang dipakai oleh Mbah Sholeh dalam mendidik dan menjelaskan pada orang awam. Tidak nampak sedikitpun cara ia mendikte orang awam, karena dengan ketawadlua'annya Mbah Sholeh menyebut dirinya juga sebagai orang awam.

Cukup kita tegaskan bahwa Mbah Sholeh Darat adalah guru sejati bagi orang awam. Guru yang ingin memandaikan orang-orang di kampung agar paham agama. Ilmu yang mendalam darinya dimanfaatkan untuk mencerdaskan orang awam.

Semoga kita semua bisa meneladani dan mampu membaca karya-karya yang ditinggalkan Mbah Sholeh Darat. KARTANU

Oleh M Rikza Chamami, dosen dan mahasiswa Program Doktor UIN Walisongo. Dapat dihubungi via email: rikzakudus@gmail.com

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/02/cara-mbah-sholeh-darat-mendidik-orang-awam-di-masa-kolonial.html

Senin, 16 Januari 2012

Sahabat Nabi Tidak Rayakan Maulid, Bidah Dong!

KARTANU - Umat Islam yakin seyakin-yakinnya bahwa para sahabat adalah sekelompok manusia mulia yang tidak diragukan kadar cinta mereka kepada Nabi Muhammad SAW. Pertanyaan muncul, mengapa kita saat ini melakukan Maulid Nabi, padahal sahabat tidak melakukannya. (Silakan dikorekasi jika ternyata ada riwayat sahabat merayakan maulid Nabi).

Apakah peringatan maulid yang dilakukan umat Islam saat ini bisa jadi tolak ukur cintanya kepada Nabi Muhammad? Bahkan ditanyakan juga, apakah cinta sebagian umat Islam yang ikut memeringati Maulid Nabi saat ini melebihi cinta para sahabat yang pernah hidup bersama Nabi, hanya karena umat saat ini memperingati kelahiran Nabi, sedang sahabat tidak?

Sahabat Nabi Tidak Rayakan Maulid, Bidah Dong! - KARTANU
Sahabat Nabi Tidak Rayakan Maulid, Bidah Dong! - KARTANU


Sahabat Nabi Tidak Rayakan Maulid, Bidah Dong!

Jawabannya, justru karena umat saat ini yang tak pernah berjumpa dengan Nabi itulah yang seharusnya memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dengan cara membaca kembali kisah hidup perjuangan beliau, sejak lahir hingga wafat.

Apakah salah kita membaca kisah hidup sang Nabi akhir zaman kekasih Allah ini? Harusnya, kita wajib membaca dan mempelajari sejarah hidup Nabi Muhamad SAW, agar tumbuh cinta dan sayang kapada Nabi.

KARTANU

Bukankah peribahasa mengatakan, tak kenal maka tak sayang? Lalu dengan cara apa lagi kita bisa mengenal Nabi jika tidak pernah membaca sejarah hidup beliau, akhi? Maka sangat patut dan harus membacanya, sebagaimana banyak ditulis oleh para ulama dalam berbagai kitab sirah dan kitab maulid seperti Simtud Duror karangan Assayyidil Habib Ali bin Muhammad Alhabsy, Barzanji, Addiba’i dan juga Qashidah Burdah karya Assyekh Abi Abdillah Muhammad Albushiry.

Kita yang tidak pernah hidup dan melihat langsung Nabi Muhammad Saw. inilah yang harus dibangkitkan cintanya. Adapun para sahabat Nabi adalah saksi yang melihat langsung bagaimana Nabi Muhammad SAW berjuang dan berdakwah, sehingga tidak diragukan lagi rasa cintanya kepada Nabi.

Disamping itu, buku-buku tentang kisah hidup Nabi ditulis jauh masanya setelah para sahabat meninggal. Bahkan buku-buku kisah Nabi itu bersumber dari keterangan lisan para sahabat yang kemudian ditulis oleh para ulama.

KARTANU

Allah juga memerintahkan kepada kita untuk mempelajari kisah hidup para Nabi sebelum Nabi Muhammad SAW, sebagaimana ayat-ayat berikut ini:

1. Surat Maryam ayat 41:  “Ceritakanlah (Hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al-Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi.”

2. Surat Maryam ayat 51: Dan ceritakanlah (Hai Muhammad kepada mereka), kisah Musa di dalam Al-Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang dipilih dan seorang rasul dan nabi.

3. Surat Maryam ayat 54: Dan ceritakanlah (Hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi.

4. Surat Maryam ayat 56: Dan ceritakanlah (Hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi.

Coba perhatikan ayat-ayat di atas, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk menceritakan kisah para Nabi terdahulu dalam rangka menguatkan iman dan islamnya para sahabat ketika itu. Mengapa? Karena para sahabat tidak pernah tahu apalagi melihat langsung kehidupan Nabi terdahulu.

Karena itulah kisah hidup perjuangan Nabi Muhammad SAW patut juga kita pelajari dan baca kembali, melalui berbagai media apapun, termasuk dengan cara membaca Kitab Maulid seperti sudah disebutkan di atas.

Jika masih ada saja yang membenci perayaan maulid Nabi, melarangnya, bahkan mensyirikkannya, maka firman Allah di bawah ini rasanya tepat dijadikan jawaban,

Artinya: "Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: "Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil". (QS. al-Qoshos: 55). Wallahu’alam. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/sahabat-nabi-tidak-rayakan-maulid-bidah-dong.html

Minggu, 06 November 2011

Masjid adalah Pusat Peradaban

Semarang, KARTANU. Masjid adalah pusat peradaban. Bukan semata tempat sholat berjamaah atau ibadah ritual semata. Dari masjidlah peradaban Islam dibangun dan dikembangkan.

Dalam sejarahnya, masjid pertama yang didirikan oleh Nabi Muhammad, yaitu Masjid Quba, difungsikan sebagai tempat bermusyawarah untuk membahas soal ekonomi, masalah masyarakat, strategi perang dan sebagainya. Juga masjid kedua, yaitu Masjid Nabawi di Madinah, juga berfungsi luas. Semua persoalan umat dirembug di masjid oleh Nabi dan para sahabatnya.

Masjid adalah Pusat Peradaban (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid adalah Pusat Peradaban (Sumber Gambar : Nu Online)


Masjid adalah Pusat Peradaban

Hal itu disampaikan pengasuh Ponpes Al-Fadlu wal Fadilah Kaliwungu Kendal, KH Dimyati Rois, dalam Peringatan Tahun Baru Hijriyah 1433 di Masjid Agung Jawa Tengah, Senin (6/12) malam.

Acara dihadiri ketua BP MAJT Ali Mufiz dan jajarannya, Kepala Biro Bintal Pemprov Jateng Sunarto, ketua Takmis Masjid Agung Semarang KH Hanief Ismail, anggota DPRD Jateng Gatyt Sari Chotijah, serta ratusan kaum muslimin dan tamu undangan.

KARTANU

Islam itu agama universal. Mencakup semua aspek kehidupan. Pusatnya ada di masjid. Dari masjidlah peradaban Islam dibangun dan dikembangkan, tutur Kiai Dimyati.

KARTANU

Dikatakannya, masjid besar seperti MAJT harus bisa meniru masjid buatan Rasul. Yaitu menjadi pusat dakwah, pusat pendidikan, serta pusat membangun peradaban Islam. Tidak boleh tabu membahas soal ekonomi, politik, dan lainnya.

Ia juga mengingatkan bahwa tidak ada urusan yang tidak wajib dalam Islam. Ada yang fardhu ain (semua orang wajib menguasainya), ada pula fardhu kifayah (cukup dikuasai oleh para ahli).

Mengutip Imam Al-Ghazali Mbah Dim menjelaskan, sudah lebih dari seribu tahun lalu, saat sebelum orang Eropa mengenal industri, Imam Ghazali sudah mengajarkan bahwa umat Islam harus menguasai industri dan teknologi. Dan ilmu itu diolah dan diajarkan di dalam masjid.

Semua urusan umat harus diurus oleh Islam, melalui pusatnya yaitu masjid. Industri dan teknologi sudah diajarkan Imam Ghazali lebih seribu tahun lalu, ujarnya.

Mbah Dim, panggilan akrabnya, juga menguraikan sejarah hijrah Nabi Muhammad. Dia sebutkan, sebelum Nabi mendirikan Masjid Nabawi, di tengah antara Quba dan Yatsrib (sekarang Madinah), Nabi menunaikan sholat Jumat di tanah lapang di sebuah lembah bernama Ranunah. Dari tempat itulah Bani Sulaim yang menghuni kawasan situ mendirikan masjid yang kemudian disebut Masjid Jumah.

Kepala Biro Bintal pemprov Jateng Sunarto yang membacakan sambutan gubernur menyampaikan, pengajian ini dapat memberikan pencerahan bagi jamaah tentang makna tahun baru Islam. Dia mengharapkan momentum itu membuat kondisi Jawa Tengah yang aman, tentram dan berkah.

Redaktur : Mukafi Niam

Kontributor: Muhammad Ichwan

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/35172/masjid-adalah-pusat-peradaban

KARTANU

Minggu, 09 Oktober 2011

Inilah Alasan-Alasan Mengapa NU Menolak FPI?

KARTANU - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Denpasar (Bali) dan Nusa Tenggara Barat secara resmi menolak kehadiran Front Pembela Islam (FPI) di kedua daerah masing-masing. Keduanya mempunyai alasan yang berbeda-beda. NU Denpasar menolak FPI karena dinilai bisa merusak kebhinnekaan dan harmoni. Sedangkan NU NTB tidak ingin masalah politik yang berkecamuk di Jakarta dibawa-bawa ke NTB, sehingga mengganggu situasi masyarakat yang aman, damai, dan kondusif.

Sikap NU ini sebenarnya bukan hal baru. Pada tahun 2014, KH Malik Madani, Katib ‘Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, dalam rapat gabungan antara Syuriah dan Tanfidziyah secara tegas menolak dakwah FPI karena dianggap bertentangan dengan metode dakwah Ahlussunnah wal-Jamaah, yang dikenal toleran, moderat, dan elegan (http://www.nu.or.id/post/read/51730/nu-tolak-tegas-gerakan-hti-dan-fpi). Pertanyaannya, kenapa NU menolak FPI?

Inilah Alasan-Alasan Mengapa NU Menolak FPI? - KARTANU
Inilah Alasan-Alasan Mengapa NU Menolak FPI? - KARTANU


Inilah Alasan-Alasan Mengapa NU Menolak FPI?

Penjelasan di bawah ini teramat penting untuk menjawab kebingungan di tengah-tengah masyarakat, karena FPI selalu dikaitkan dengan NU atau beberapa pahamnya dianggap sejalan dengan tradisi NU, sehingga ada anggapan seolah-olah FPI bagian dari NU.

Maka, sikap NU Denpasar dan NU NTB tersebut sebenarnya memberikan garis demarkasi dan diferensiasi antara NU dan FPI. Bahkan, NU sebenarnya menolak FPI, karena sepak terjangnya dianggap bertentangan dakwah Ahlussunnah wal-Jamaah yang dipedomani NU, yang dikenal ramah, toleran, dan moderat.

Sebagai organisasi yang dinakhodai para ulama dan kiai, NU ingin memastikan bahwa Islam rahmatan lil ‘alamin dapat menjadi ruh yang memperkokoh bangsa dan memperkuat hubungan antara sesama (hablum minan nas). Sebab itu, untuk mencapai tujuan yang mulia mesti diperlukan strategi dakwah yang merangkul, bukan dakwah yang memukul.

KARTANU

Masih segar melekat dalam ingatan publik bagaimana FPI kerapkali melukai perasaan warga NU saat Rizieq Shihab menyebut Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dengan buta mata dan buta hati dalam sebuah wawancara yang disiarkan live di sebuah stasiun televisi swasta.

KARTANU

Bagi kami, kader muda NU, ujaran Rizieq Shihab tersebut sangat melukai warga NU yang sangat menghormati Gus Dur.

Gus Dur adalah mantan Ketua Umum PBNU, Presiden RI ke-3, dan cucu pendiri NU, yang pengabdiannya kepada NU dan bangsa sangat besar. Bahkan, hingga sekarang ribuan orang setiap hari masih menziarahi kuburan Gus Dur.

Kita juga menonton Youtube di mana Rizieq Shihab secara terbuka menyebut kata-kata yang tidak pantas terhadap Ketua Umum PBNU KH Prof. Dr. Said Aqil Siradj. Berbeda pendapat adalah hal yang biasa, termasuk di dalam lingkungan NU, bahkan perbedaan pendapat menjadi salah satu khazanah NU. Tapi melontarkan kata-kata yang tidak pantas dan tidak etis terhadap Ketua Umum PBNU tentu merupakan salah satu tindakan yang secara moral tidak bisa diterima.

Selain hal yang bisa dilihat secara visual, sebenarnya ada hal-hal yang bersifat prinsipil yang menjadi landasan NU menolak FPI. Pertama, Islam adalah agama yang membawa rahmat dan kasih sayang kepada siapa pun. Karena itu, inti dari Islam adalah persaudaraan (al-ukhuwwah). Persaudaraan merupakan tiang Islam, negara, dan kemanusiaan.

Untuk itu, ulama NU menggarisbawahi tiga model pesaudaraan: persaudaraan keislaman (al-ukhuwwah al-islamiyyah), persaudaraan kebangsaan (al-ukhuwwah al-wathaniyyah), dan persaudaraan kemanusiaan (al-ukhuwwah al-basyariyyah).

Karenanya, jika ada pihak-pihak yang ingin menampilkan wajah Islam yang penuh amarah, apalagi menebarkan kebencian dan kekerasan, sebenarnya dapat mengganggu persaudaraan. NU bertahun-tahun menjadi “jimat bangsa” dengan membangun harmoni antara sesama warga negara, apa pun agama dan keyakinannya. Sebab, sebuah bangsa tidak akan berdiri tegak jika harmoni di antara warganya tidak terwujud.

Kedua, paham Ahlussunnah wal-Jamaah NU mempunyai karakteristik tersendiri. Menurut KH Achmad Siddiq dalam Khitthah Nahdliyyah, ada dua karakteristik Ahlussunnah wal-Jamaah NU, yaitu moderat, memilih jalan tengah (al-tawassuth), tidak ekstrem, baik ekstrem kanan maupun ekstrem kiri. Selain itu, karakter yang menonjol adalah menebar rahmat kepada siapa pun (rahmatan lil ‘alamin).

Karena itu, dakwah-dakwah NU mengutamakan kearifan, nasihat yang santun, dan debat yang rasional-konstruktif. Jihad yang dilakukan oleh NU adalah jihad kebangsaan dalam rangka mewujudkan kemerdekaan dan jihad kemanusiaan dengan melakukan pendidikan dan pelayanan masyarakat melalui pesantren-pesantren dan ekonomi kerakyatan.

Ketiga, sebagai organisasi yang dipimpin oleh para ulama, NU sangat mengedepankan keteladanan dan akhlak mulia. Ulama adalah pewaris para Nabi, karenanya ia mewarisi akhlak mulia, yang ucapan-ucapannya harus menginspirasi, bukan memprovokasi. Menurut KH Achmad Siddiq, ciri-ciri ulama antara lain: takwa kepada Allah SWT; mewarisi ucapan, perbuatan, dan akhlak Nabi Muhammad SAW; tekun beribadah, asketis, berilmu luas, mengedepankan kemaslahatan umum, dan mengabdikan ilmunya untuk Allah SWT.

Keempat, NU akan selalu mematuhi pemimpin yang dipilih secara sah, tidak melakukan makar, meski tidak kehilangan sikap kritis. Sikap ini diambil dalam rangka memastikan negara dalam keadaan kondusif, tidak dalam keadaan turbulen, dan penuh gonjang-gonjing.

Kelima, NU akan menjadi menjaga Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika. Dalam Muktamar NU 1984, NU menerima Pancasila sebagai asas tunggal. Lalu, pada Musyawarah Alim Ulama 2006 di Surabaya, NU menegaskan kembali Pancasila sebagai dasar negara yang bersifat final.

Sikap NU yang demikian ini penting untuk diketahui publik, khususnya warga NU agar senantiasa menjadi kelompok mayoritas yang melindungi kelompok minoritas. Bukan hanya itu, NU dapat menjadi pelopor bagi kokohnya solidaritas kebangsaan.

Ibu Megawati Soekarnoputri menyampaikan pesan yang sangat baik dalam Hari Ulang Tahun PDI Perjuangan ke-44, agar kelompok mayoritas tidak boleh diam. NU sebagai salah satu ormas Muslim terbesar di negeri ini harus menyampaikan sikapnya agar Islam terus menjadi faktor yang memperkokoh kebangsaan.

Apa yang dilakukan NU Denpasar dan NU NTB adalah sikap yang tepat sebagai upaya untuk mengingatkan dalam kebajikan (tawashaw bil haqq) dan mengingatkan dalam kesabaran (tawashaw bi al-shabri). [KARTANU]

Zuhairi Misrawi, Ketua Moderate Muslim Society, Alumnus Universitas al-Azhar, Kairo Mesir. Intelektual Muda Nahdlatul Ulama. Ketua Pengurus Pusat Baitul Muslimin Indonesia. Menulis sejumlah buku: Al-Quran Kitab Toleransi: Inklusivisme, Pluralisme, dan Multikulturalisme (2008), Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari: Keindonesiaan dan Keumatan (2012), Mekkah: Kota Suci, Kekuasaan, dan Teladan Ibrahim (2010), Madinah: Kota Suci, Piagam Madihan, dan Teladan Muhammad (2011), Al-Azhar: Menara Ilmu, Reformasi, dan Kiblat Keulamaan (2011)

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/inilah-alasan-alasan-mengapa-nu-menolak-fpi.html

Kamis, 25 Agustus 2011

Dilinggis Hingga Roboh di Tengah Ceramah, Ini yang Dikatakan KH Ali Makshum Krapyak

KARTANU - Pada Malam Jumat Kliwon, 08 Desember 1989, seiring matahari tenggelam di ufuk barat, KH. Ali Maksum menghadap kepada Sang Kholiq, innalillahi wainna ilahi roojiun.

Beliau adalah Putra Mbah KH Makshum Lasem yang pernah menjabat Rais Aam PBNU satu periode (1980-1984).

KH Ali Makshum adalah kepemimpinan Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, peninggalan pendirinya, almaghfurlahu waliyullah Simbah KH. Munawwir Krapyak, guru KH Arwani Amin Kudus. Banyak teladan kisah yang bisa dijadikan ibrah (cermin sejarah) untuk kita, terutama di tengah makin mudahnya umat Islam tersulut amarah dan kebencian.

Dilinggis Hingga Roboh di Tengah Ceramah, Ini yang Dikatakan KH Ali Makshum Krapyak - KARTANU
Dilinggis Hingga Roboh di Tengah Ceramah, Ini yang Dikatakan KH Ali Makshum Krapyak - KARTANU


Dilinggis Hingga Roboh di Tengah Ceramah, Ini yang Dikatakan KH Ali Makshum Krapyak

Selain alim dan keramat, Kiai Ali Makshum dikenal sangat dermawan. Beliau mengikhlaskan semua barang-barangnya yang pernah diambil oleh para santri. Suatu kali, Kiai Ali Makshum dawuh begini, "Semua barangku yang diambil oleh santri, saya halalkan. Asalkan tidak ketahuan". Dawuh ini diriwayatkan dari Sakhowatin Nafsi, santriwati.

KH Ali Maksum ini lebih suka dipanggil Pak Ali daripada Mbah Yai, sebagaimana lazimnya di tradisi penghormatan santri kepada pengasuh pesantren. Beliau tidak berjumawa sebagai kiai besar yang punya posisi paling terhormat di Nahdlatul Ulama (NU), sebagai Rais Aam. Dan semua santri memang memanggilnya "Pak Ali" karena beliau lebih suka dianggap sebagai orang tua oleh santrinya. Sangat rendah hati sekali.

KARTANU

Kata santri-santri, beliau ini disebut kiai yang "m-bapak-i" (berperan laiknya bapak) dan tidak "ngiyaini" (menganggap dirinya kiai). Singkatnya, beliau adalah sosok kiai yang bersedia mendengar dan selalu melakukan tabayun ketika ada persoalan umat, Jarang sekali beliau menghakimi orang dari jarak jauh, Selalu melakukan tabayyun (klarifikasi) atas kabar yang diterima. Bijak dan tidak gegabah.

KARTANU

Dilinggis

Ketika KH Ali Makshum ceramah dalam sebuah acara haul, tiba-tiba muncul orang yang membawa sesuatu dibungkus kain surban berwarna putih. Ia naik ke panggung. Secara cepat pula, orang tersebut langsung memukulkan benda itu ke Kiai Ali membabi buta, ba bi bu!

Kiai Ali pun roboh karena benda tersebut sangat tajam dan berat, linggis. Sempat rawat inap di rumah sakit hingga dua bulan lamanya. Sungguh perbuatan yang tidak bisa dimaafkan. Beliau rubuh karena bukan pendekar sakti yang mudah pemer kekebalan.

Para santri pun marah tak karuan. Menurut mereka, laki-laki itu sudah layak dipenjara karena perbuatannya sangat sadis dan keterlaluan. Namun kiai meredam amarah para santrinya itu, "kabeh anak-anak ku lan santriku ora keno dendam lan ora keno anyel/ semua anakku dan para santriku, tidak boleh dendam dan benci," begitu pesan luhurnya.

Kekuatan sabar, meredam amarah dan tidak mendendam itulah yang nampaknya justru terlihat lebih sakti daripada kanuragan dan kekebalan. Beliau memaafkan pelaku pemukulan dengan linggis tersebut, tanpa balasan, tanpa dendam. Subhanallah bukan main sabarnya kiai kita ini. [KARTANU/ab]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/dilinggis-hingga-roboh-di-tengah-ceramah-ini-yang-dikatakan-kh-ali-makshum-krapyak.html

Senin, 08 Agustus 2011

Terbitkan Buku, Habib Luthfi Apresiasi Ketua Lesbumi Tegal

Tegal, KARTANU. Kerja kreatif Ketua Lembaga Seni Budaya Indonesia (Lesbumi) PCNU Kota Tegal, Jawa Tengah, Drs Atmo Tan Sidik dengan menerbitkan buku karyanya mendapat apresiasi dari Rais Aam Idarah Aliah Jamiyyah Ahlit Thariqah al-Mutabarah an-Nahdliyah (Jatman) Habib Muhammad Luthfi bin Yahya.

Lanjutkan, Bang Atmo, dengan buku-buku lainnya, pesan Habib saat menerima silaturahmi Atmo ke kediaman Habib di Pekalongan Ahad (24/2).

Terbitkan Buku, Habib Luthfi Apresiasi Ketua Lesbumi Tegal (Sumber Gambar : Nu Online)
Terbitkan Buku, Habib Luthfi Apresiasi Ketua Lesbumi Tegal (Sumber Gambar : Nu Online)


Terbitkan Buku, Habib Luthfi Apresiasi Ketua Lesbumi Tegal

Habib Luthfi memberikan pujian kepada Atmo tentang konsistensinya pada dunia kebudayaan Pantura. Termasuk membukukan hasil pemikirannya dalam sebuah buku. Apalagi dengan menggunakan bahasa Brebesan yang menyentuh masyarakat.

Buku berjudul Dikendangi Wong Edan, Aja Njoged diluncurkan di Kampung Seni kawasan Pantai Alam Indah (PAI) Kota Tegal, Jumat (21/2). Menurut Atmo, buku tersebut sengaja dirilis pada 21 Februari, karena bertepatan dengan peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional.

KARTANU

Buku Dikendangi Wong Edan, Aja Njoged berisi kumpulan kolom tulisan lama Atmo yang pernah diterbit di berbagai media dan majalah. Buku ini berisi esai-esai dalam bahasa brebes-tegal yang menyinggung kehidupan sosial kemasyarakatan, termasuk sentilan-sentilan politik.

KARTANU

Budayawan Pantura ini sudah lama malang melintang di dunia penulisan, termasuk mengasuh Lha Kiyeh, kolom berbahasa brebes-tegal yang terbit secara reguler di majalah Berita Berhias milik Pemkab Brebes.

Buku berisi 38 kolom dengan 180 halaman ini mencantumkan komentar sederet tokoh, mulai dari nama ulama kharismatik, Habib Lutfi bin Yahya dari Pekalongan; musisi sekaligus budayawan, Emha Ainun Najib; sastrawan Ahmad Tohari; hingga penulis sekaligus pengasuh pesantren, Hj. Masriyah Amva.

Saat luncuran buku tersebut, turut hadir Wali Kota Tegal Ikmal Jaya, Wakil Bupati Tegal Hj Umi Azizah, Budayawan Internasional Ahmad Tohari, Ketua PCNU Kota Tegal Abdal Hakim dan sejumlah pegiat seni dan budaya Brebes Tegal Slawi serta undangan lainnya. (Wasdiun/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/50379/terbitkan-buku-habib-luthfi-apresiasi-ketua-lesbumi-tegal

KARTANU

Senin, 30 Mei 2011

Ini Ijazah KH Syaroni Ahmadi Kudus Bisa Cepat Naik Haji

KARTANU - Suatu hari di tahun 1990-an, KH M Sya’roni Ahmadi mengadu kepada gurunya, KH Bisri Musthofa, ayahanda Gus Mus, tentang keinginan berangkat ke tanah suci yang belum juga terpenuhi. Singkat cerita, KH Bisri Musthofa memberikan trik khusus kepada murid kesayangannya itu supaya keinginan untuk beribadah ke tanah suci segera terwujud.

KH. Sya’roni pun segera mengamalkan apa yang dipesankan oleh sang guru, yakni salat Tahajjud setiap malam, cukup dua rakaat, membaca surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlas. Setelah salam mewirid istighfar 70 kali, selawat nabi 100 kali, serta lafadz “yaa syakuur” 1000 kali. KH. Sya’roni benar-benar mengamalkannya dengan istiqamah setiap malamnya.

Sampai tiba suatu hari, KH. Sya’roni didatangi tamu seorang lelaki muda, gagah dan tampan yang tak dikenal. Rupanya, ia merupakan alumni madrasah Qudsiyyah Kudus. Kepada beliau, lelaki ini mengaku bahwa saat itu tengah menjabat sebagai seorang petinggi kolonel.

Ini Ijazah KH Syaroni Ahmadi Kudus Bisa Cepat Naik Haji - KARTANU
Ini Ijazah KH Syaroni Ahmadi Kudus Bisa Cepat Naik Haji - KARTANU


Ini Ijazah KH Syaroni Ahmadi Kudus Bisa Cepat Naik Haji

Tiba-tiba lelaki tadi bertanya, apakah KH. Sya’roni masih mengajar di Qudsiyyah. Jawabannya “masih”. Lalu kolonel tadi kembali bertanya, “naik apa?”. KH. Sya’roni agaknya merasa aneh dengan pertanyaan ini, sebab dengan posisi tempat tinggal dan madrasah yang tak jauh, tentu saja tidak ada jawaban lain selain “sepeda,” yang pantas untuk jawaban saat itu.

KARTANU

Tak pernah menyana sebelumnya, setelah mendengar jawaban “sepeda”, kolonel muda itu berujar dengan nada yang amat serius, “Bagaimana kalau Bapak Sya’roni saya belikan mobil?”

KARTANU

KH. Sya’roni terdiam. Betapa berbudinya murid yang satu ini. Lama tidak pernah bertemu, kini jauh-jauh mendatangi guru masa kecilnya untuk menawari sebuah mobil gratis. Sebuah mobil yang dimaksud mengganti sepeda tua untuk berangkat mengajar ke madrasah. Cukup geli rasanya mengingat betapa biasanya murid di madrasahnya sering menunggak SPP. Sekarang malah ada murid yang menawari mobil baru gratis. KH. Sya’roni menangis, terharu dengan tingkah kolonel santun ini.

Tak ingin berlama-lama hanyut dalam keharuan, KH. Sya’roni kemudian memutuskan untuk ‘menawar’ bakal hadiahnya.

“Kalau misalkan saya minta ganti selain mobil, bisa nggak?” tawar KH. Sya’roni pada kolonel muda.

“Selain mobil, emm… apa itu?” tanya kolonel.

“Naik haji,” jawab KH. Sya’roni mantab.

“Oh, tentu saja bisa.”

Jawaban kolonel ini sekaligus menjawab doa KH Sya’roni selama bertahun-tahun. Akhirnya, beliau membuktikan sendiri bahwa lafal “yaa syakuur” yang diijazahkan oleh KH Bisri Musthofa memang mujarab.

Setelah sukses mengamalkan “yaa syakuur” sendiri, beliau mengajak keluarganya untuk turut juga mengamalkannya setiap malam. Dan benar, beberapa tahun kemudian, KH Sya’roni berangkat ke tanah suci untuk yang kedua kali. Beliau diajak oleh seorang aghniya’. Jika yang pertama dulu beliau berangkat sendiri, maka yang kedua ini beliau berangkat bersama istrinya. Dan tentunya, tanpa biaya, berkat “yaa Syakuur”. Begitu, Allah memberikan jalan bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya, dengan perantara yang kadang tak terduga, termasuk wirid “yaa Syakuur”.

Dan kini, Mustasyar PBNU itu mengajak kita untuk bersama-sama turut juga mengikuti jejaknya, mengamalkan wirid “yaa Syakuur”, agar segera memenuhi panggilan ke Baitullah. Tentu saja, dengan tanpa meninggalkan rangkaian amalan sebelumnya yang juga diamalkan oleh KH. Sya’roni secara tekun dan niat yang ikhlas. [KARTANU/ istahiyyah]

Keterangan:

Ditulis berdasarkan mauidhoh hasanah yang disampaikan KH Sya’roni Ahmadi pada peringatan harlah Madrasah NU Mu’allimat Kudus di gedung JHK, Kudus, Rabu Pon (12 Muharrom 1436 H).

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/ini-ijazah-kh-syaroni-ahmadi-kudus-bisa-cepat-naik-haji.html

Selasa, 17 Agustus 2010

Hal-Hal yang Tidak Disadari oleh Habib Rizieq Ketika Mengendarai FPI

KARTANU - Pertama kali saya tahu nama beliau pada tahun 1996 di salah satu Masjid di Kawasan Roxy. Beberapa kali saya melihat nama beliau terpasang di spanduk acara-acara keislaman di Kawasan Petojo dan Roxy. Pada waktu itu, nama beliau belumlah setenar sekarang. Ceramah-ceramah beliau masih kalah pamor dibandingkan ceramah da'i sejuta umat, alm KH Zainuddin MZ, yang memang mendominasi di mana-mana.

Saya sering bertanya kepada kawan yang tinggal di Kawasan Petojo perihal nama Habib Rizieq, siapa beliau dan bagaimana penyampaian ceramah beliau. Beberapa kawan yang berlatar belakang Persis menganggap bahwa ceramah Habib Rizieq agak berbeda dengan kebanyakan habib di Jakarta, yang lebih suka mengangkat persoalan fadhoil (keutamaan ibadah) dibandingkan persoalan umat.

Hal-Hal yang Tidak Disadari oleh Habib Rizieq Ketika Mengendarai FPI - KARTANU
Hal-Hal yang Tidak Disadari oleh Habib Rizieq Ketika Mengendarai FPI - KARTANU


Hal-Hal yang Tidak Disadari oleh Habib Rizieq Ketika Mengendarai FPI

Sementara itu, beberapa lagi berpendapat bahwa isi ceramah Habib Rizieq tidak berbeda dengan Habib Alwi Jamalullail atau puteranya Habib Idrus Jamalul Lail.

Memang pada masa-masa itu nama Habib Rizieq belum dikenal luas, di samping karena beliau juga baru kembali dari menuntut ilmu di Riyadh Saudi Arabia. Pasca lengsernya Soeharto dari kekuasaan, tepatnya pada tahun 1998, nama Habib Rizieq mulai muncul ke permukaan.

KARTANU

Naiknya nama beliau menyertai beberapa isu, di antaranya adalah dibentuknya organisasi milisi oleh salah seorang petinggi ABRI ketika itu, yang diberi nama PAM SWAKARSA, isu Rusuh AMBON dan terakhir berdirinya FPI yang menjadi "kendaraan politik"--jika boleh dikatakan begitu--Habib Rizieq.

KARTANU

Ingatan ini masih menyimpan informasi bahwa kemunculan nama beliau terkait dengan peristiwa pembunuhan di Cawang dan bentrokan massa di Tugu Proklamasi berkaitan dengan akan diadakannya Sidang Istimewa MPR 1998.

Momentum-momentum itu yang "memaksa" Habib Rizieq tampil ke gelanggang politik massa untuk pertama kalinya. Bisa dikatakan bahwa Habib Rizieq ketika itu "dipaksa matang" untuk berpolitik. Tanpa bekal pengalaman politik yang mapan, Habib Rizieq seakan harus muncul untuk memperjuangkan kepentingan politik yang dihubungkan dengan kepentingan umat Islam.

Pada saat yang bersamaan, di sisi lain Poros Tengah yang dikomando oleh Amien Rais, Akbar Tanjung, dan Hamzah Haz juga sedang memainkan nama yang sama untuk menjegal Megawati dan kawan-kawan menempati kursi kekuasaan.

Saya bukan pakar politik atau pengamat politik, tapi secara pribadi saya merasakan betapa panasnya situasi saat itu, sehingga berita bentrokan massa hampir setiap hari menghiasi headline media cetak atau elektronik.

Tanpa bekal jam terbang yang cukup, publik bertanya-tanya atas dukungan siapa Habib Rizieq tampil ke gelanggang politik pada waktu itu? Apakah ada korelasi antara manuver yang dilakukan Habib Rizieq dengan manuver yang dilakukan poros tengah di parlemen? Banyak spekulasi bermunculan.

Tapi, yang pasti ketika Poros Tengah berhasil menjegal Megawati dan kawan-kawan untuk menduduki kursi kekuasaan, padahal PDIP adalah pemenang PEMILU 1999, Habib Rizieq tidak mendapatkan bagian apapun dari manuver yang pernah dilakukannya.

Pasca perhelatan Sidang Istimewa MPR yang menghantarkan Gus Dur sebagai Presiden RI, nama Habib Rizieq mulai jarang muncul. Namun gosip tentang beliau pun terus beredar di tengah masyarakat. Ada yang mengatakan bahwa Habib Rizieq memberi support kepada Ust. Ja'far Umar Thalib yang membentuk Laskar Ahlussunnah wal Jama'ah, untuk "berjihad" di Ambon dan sekitarnya.

Ada pula yang mengatakan bahwa Habib Rizieq kembali ke aktivitas sebelumnya, yaitu berdakwah dan menyampaikan ta'lim di masjid-masjid. Bisa dikatakan, dalam kurun waktu satu atau dua tahun (1999-2000) nama Habib Rizieq jarang tampil di media.

Namun demikian, spanduk, baliho dan plang bertuliskan FPI menjamur di beberapa kantong jamaah para habib di kota Jakarta. Agaknya, media tidak begitu tertarik untuk memberitakan konsolidasi internal Habib Rizieq di beberapa tempat di ibu kota. Karena memang pada saat itu, fokus pemberitaan media lebih banyak menyoroti persoalan komposisi kabinet dan peta politik yang riuh oleh manuver Gus Dur sebagai Presiden RI yang keempat.

Setelah Era Gus Dur Sempat luput dari pemberitaan media, nama Habib Rizieq dan FPI kembali muncul. Kali ini bukan karena isu politik, tapi karena persoalan sosial, yaitu razia miras dan pelacuran. Media massa memberitakan kegiatan laskar FPI yang memburu peredaran miras di beberapa titik di Ibu Kota dan daerah penyangga, mulai dari Mangga Besar dan Depok.

Dari berbagai liputan media yang memberitakan bentrok antara FPI dengan beberapa preman diskotik, berita penyerangan FPI di Kemang pada tahun 2001, mungkin yang paling heboh. Apa pasal? Selama masa Orde Baru Kemang dianggap sebagai daerah elit yang "untouchable". Bukan rahasia lagi, jika peredaran narkoba dan miras di Kemang berlangsung aman-aman saja tanpa ada aparat yang berani menghentikannya. Kedatangan laskar FPI melabrak kawasan Kemang tentu mengagetkan banyak orang.

Berbagai spekulasi pun bermunculan. Habib Rizieq dianggap sedang melakukan testing the water dengan membidik Kemang sebagai garapan gerakan Nahyu Munkar-nya. Di sinilah kemudian, Habib Rizieq mulai berhadap-hadapan dengan kalangan elit, yang menganggapnya sebagai ancaman.

Cukup banyak pemberitaan yang disajikan tentang Habib Rizieq. Dan bisa dikatakan semua pemberitaan tentang beliau berwarna kontraproduktif. Secara pribadi saya pun terbawa oleh atmosfer yang dibangun oleh media massa ketika itu.

Beberapa pertanyaan muncul di benak ini, untuk apa FPI melakukan tindakan-tindakan extra law seperti itu? Kenapa Habib Rizieq dan FPI tidak berkoordinasi dengan pihak kepolisian sekiranya memang ingin membantu aparat di dalam melaksanakan penegakkan hukum? Kenapa pula FPI memainkan peran seperti FBI yang memang bekerja sebagai penegak hukum? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang muncul di benak ini, sebagai usaha saya untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi di belakang Habib Rizieq.

Secara jujur saya sempat surprised dengan Habib Rizieq. Secara nasabiah, beliau memang keturunan Sayyidina Husain, yang berarti juga keturunan Baginda Rasulullah, Nabi yang diimani oleh semua umat Islam.

Dalam sebuah obrolan dengan seorang teman, saya pernah ditanya kenapa tidak ada seorang Habib yang berpikiran revolusioner seperti datuk mereka Rasulullah? Kenapa para Habib lebih suka memainkan posisi safety player, padahal dahulu datuk mereka Rasulullah adalah pribadi yang berani menghadapi risiko dan tidak risih berada di stretch zone (zona tegang). Ketika pertama kali melihat Habib Rizieq ceramah, saya berpikir mungkin ini dzurriyyah yang ditanyakan oleh teman saya tempo hari.

Namun, dengan tidak mengurangi sikap hormat kepada beliau, sebagai dzurriyatur rasul, perkenankan saya ingin memberi catatan terhadap Habib Rizieq:

1. Beliau bertolak dari garis start yang keliru ketika mengusung ide-ide revolusionernya. Berbeda dengan Rasulullah yang selalu menolak afiliasi politik sejak awal membangun gerakan dakwahnya, Habib Rizieq justru memulai gerakan dakwahnya dengan dibalut oleh pertanyaan-pertanyaan politis.

Sebagai contoh, hingga saat ini Sang Habib tidak pernah menjawab dengan tuntas pertanyaan tentang kedekatan beliau dengan beberapa bintang ABRI pada masa awal reformasi, yang dianggap menjadi preseden berdirinya FPI. Pertanyaan ini semakin carut marut setelah Habib Husein al-Habsyi pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin Indonesia pernah menyebut kedekatan Habib Rizieq dengan salah satu elit tentara.

2. Jika Rasulullah berdakwah melawan totalitarianisme dengan menumbuhkan semangat egalitarianisme, semangat ini agak sulit untuk dijumpai dari isi pidato yang sering disampaikan oleh Habib Rizieq. Saya tidak mengatakan bahwa Habib Rizieq adalah pribadi yang "kasar". Beliau adalah pribadi yang tegas. Bahwa kualitas ketegasan tiap orang itu berbeda-beda karena perbedaan gen dan lingkungan tempat dibesarkan, itu adalah sesuatu yang sifatnya alamiah (nature).

Namun, ketika persoalan kasar dan halus itu dibawa ke ranah ide atau isu, saya kira di sini kita semua bisa membaca dari gesture penyampaiannya. Barangkali ini disebabkan oleh dorongan politik yang memang dipaksakan di bagian awal. Seperti sangat mudah terbaca bahwa FPI berdiri tanpa kesiapan dan kematangan ideologi. Seakan persoalan ideologi bisa dibenahi sambil organisasi ini berjalan.

3. Saya agak tidak sepakat jika dikatakan bahwa Habib Rizieq mengikuti pola Umar ibnu al-Khatthab atau seputar sahabat agung tersebut, hanya karena ketegasan dan keberanian beliau berbicara di hadapan para penguasa. Ketidaksepakatan saya itu didasarkan kepada hal-hal berikut:

a. Bahwa karakter keras Umar ibnu al-Khatthab adalah karakter bawaan orang Arab yang memang "dipaksa" keras oleh situasi dan kondisi di mana mereka tinggal.

b. Bahwa sikap keras Umar ibnu al-Khatthab selalu dikaitkan dengan kewenangan yang beliau miliki sebagai utusan Rasulullah dan sebagai pemegang kekuasaan tertinggi pemerintahan.

c. Bahwa Umar ibnu al-Khatthab di dalam memperjuangkan cita-cita politik mengutamakan pendekatan ilmu, dibandingkan pendekatan kekuasaan. Ini misalnya bisa kita baca dari pernyataan beliau:

"Dalamilah dulu pemahaman (ilmu) sebelum kalian memimpin."

juga pernyataan yang lain:

"Tidak ada Islam kecuali dengan berjamaah dan tidak ada jamaah kecuali dengan kepemimpinan."

Dari pernyataan-pernyataan yang disampaikannya, dapat terbaca bahwa Umar bukan semata-mata orang yang katakanlah "keras" tanpa konsep. Ucapannya tentang relasi Islam dan jama'ah serta kepemimpinan, menunjukkan bahwa Umar adalah seorang perencana yang sangat matang dan cermat di dalam melihat masalah. Seakan Sayyidina Umar ingin mengatakan bahwa perjuangan Islam ini tidak akan menghasilkan apa-apa jika tidak diawali dengan penguatan kohesi sosial di antara umat Islam itu sendiri

Tanpa kohesi di antara sesama umat Islam, perjuangan politik hanya akan berujung kepada perebutan kekuasaan politik di antara elemen-elemen pendukungnya. Saya tidak mengerti apakah ini disadari atau tidak oleh Habib Rizieq.

Setidaknya Habib Rizieq telah membuang kesempatan emas yang pernah ada dihadapannya untuk membangun kohesi di antara umat Islam, yaitu ketika memperjuangkan Gus Dur sebagai presiden untuk menjegal Megawati dan ketika umat Islam mau berkumpul dalam jumlah yang sangat fantastis--meskipun ini diragukan oleh beberapa media--pada bulan Desember yang lalu.

Mungkin akan berbeda ceritanya, ketika di dalam aksi 212 kemarin, Habib Rizieq mengakui kekhilafannya bertahan di Istana Merdeka hingga melewati batas jam malam yang ditentukan Kapolri pada aksi 411 beberapa waktu yang lalu. Jika opini saya ini dianggap sebagai bentuk ketakutan terhadap rezim berkuasa, saya hanya ingin bertanya pula apakah kepatuhan Rasulullah terhadap Perjanjian Hudaibiyyah yang melarangnya masuk ke Makkah itu, juga merupakan bentuk ketakutan Rasulullah terhadap penguasa Makkah?

4. Siapa yang tidak setuju dengan perjuangan mempertahankan kemuliaan ajaran Islam? Saya kira semua umat Islam setuju. Namun, dalam kaitannya dengan perjuangan tersebut, perlu pula diperhatikan beberapa irisan yang sangat sensitif dan berpotensi merusak elan perjuangan politik itu sendiri. Perjuangan mempertahankan kemuliaan ajaran Islam, khususnya di Indonesia, beririsan dengan isu nasionalisme, demokrasi, dan cita kestabilan politik yang kini tampaknya tengah diupayakan untuk mengejar ketertinggalan di bidang ekonomi.

Menyikapi irisan-irisan tersebut, dibutuhkan kecermatan, ketelitian dan kehati-hatian. Secara teoritis, saya mengakui setiap perjuangan politik mempunyai cita, manuver dan gestur gerakan yang sifat khas dan membedakan satu gerakan politik dengan gerakan politik lainnya. Namun, yang menjadi pertanyaan bagaimana ketika itu dinisbahkan kepada perjuangan politik Islam? Jawabannya tidak mudah.

Penggunaan nama Islam pada masa sekarang, berbeda dengan penggunaan nama Islam pada masa Nabi atau pada masa sahabat. Pada masa keemasan itu, penggunaan nama Islam bersifat tunggal. Dalam arti, yang dinamakan Islam itu adalah kelompok yang mengikuti Nabi Muhammad dan para sahabatnya secara definitif yang tinggal di Madinah--sebagai pusat kekuasaan--, Makkah, Yaman, Mesir, Syam, dan Irak.

Di luar wilayah-wilayah itu, agak sulit--bukan tidak ada--menjumpai komunitas Islam sebagaimana yang dimaksud di atas. Sehingga dengan begitu, penggunaan nama Islam berikut derivaat-nya tidak akan menimbulkan masalah dan pertanyaan sebagaimana terjadi hari ini.

Dalam konteks sekarang, penggunaan nama Islam tidak lagi bersifat monolitik. Pasca perang antara Ali ibnu Abu Thalib dan Mu'awiyah penggunaan nama Islam menjadi bersifat pluralistik. Artinya setiap faksi umat Islam merasa mempunyai hak untuk menggunakan klaim Islam untuk menamakan pemikiran atau perjuangan politiknya. Kondisi seperti itu yang kini sedang dan mungkin akan terus berlangsung di Indonesia.

Masalah penggunaan nama Islam akan semakin meruncing ketika tiap-tiap faksi umat Islam merasa tidak terwakili oleh perjuangan politik yang mengatasnamakan Islam oleh kelompok lain. Sebagai contoh, ketika PKS memposisikan diri sebagai Partai Dakwah, tidak semua umat Islam merasa menjadi bagian dari perjuangan dakwah PKS.

Pun begitu juga ketika PKB dan NU mengangkat tema Islam Nusantara sebagai identitas keislaman di Indonesia, semua simpatisan PKS, warga Muhammadiyah, apalagi jamaah Wahabi merasa tidak terwakili dengan identitas Islam yang diusung NU tersebut.

Masalah fragmentasi di tubuh umat Islam, sebagai konsekuensi dari tumbuh berkembangnya ragam penafsiran ini, yang sepertinya tidak begitu dicermati oleh Habib Rizieq. Seruan-seruan Habib Rizieq tentang perjuangan politik Islam, seperti menisbikan fenomena fragmentasi dan menafikan realitas multitafsir tentang Islam yang sudah ada di tengah-tengah umat Islam tersebut.

Ditambah lagi dengan belum terlihatnya di hadapan publik, usaha Habib Rizieq membangun komunikasi dengan ormas-ormas Islam, terutama NU dalam rangka membangun saling pemahaman terhadap tafsir yang digunakan di masing-masing organisasi.

Kondisi seperti itu diperparah lagi dengan sikap Habib Rizieq yang seperti "memusuhi" Ketua Tanfidziyah NU, yang merupakan simbol kehormatan warga NU. Bisa jadi, Habib Rizieq lupa bahwa kultur Islam tradisional lebih bercorak patronisme dibandingkan dengan kultur Islam moderen yang cenderung egaliter dan bebas. Padahal, jika kita lihat dari dekat kultur seperti NU pun juga berkembang di lingkungan FPI.

Tulisan ini saya coba sajikan secara obyektif, dengan tidak bermaksud men-diskredit-kan al-Mukarram Habib Rizieq Shihab. Terlepas dari kontroversi yang muncul dari manuver politik beliau, saya tetap menaruh hormat kepada beliau. Doa saya yang terbaik semoga Allah selalu menjaga dan melindungi beliau. Semoga Allah membuka pintu kebaikan bagi umat ini. [KARTANU] َ KH. Abdi Kurnia Djohan, MA, Pengurus LD NU Pusat, Pengasuh Ponpes Al-Hikam Depok dan Dosen Pasca Sarjana UI.

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/hal-hal-yang-tidak-disadari-oleh-habib-rizieq-ketika-mengendarai-fpi.html

Rabu, 26 Mei 2010

Jebakan Batman Freeport, Akankah Jatuh ke Raja Salman dan Al-Abraj?

KARTANU - Kalau pemerintah memutus kontrak dengan Freeport (PTFI), Indonesia kalah. Freeport pasti mengambil pasal 340 WTO. Dengan demikian, pemerintah harus mengembalikan investasinya, ditambah denda dan kerugian (termasuk saham-sahamnya yang fall).

Bangkrut APBN untuk bayar itu. Makanya Freeport cuma psywar agar Indonesia menerbitkan pemutusan kontrak dengan alasan tak memenuhi perjanjian tambahan, pelepasan 51% sahamnya, tak bikin smelter, dua syarat yang membutuhkan persetujuan stake holder, dan melanggar UU Minerba.

Jebakan Batman Freeport, Akankah Jatuh ke Raja Salman dan Al-Abraj? - KARTANU
Jebakan Batman Freeport, Akankah Jatuh ke Raja Salman dan Al-Abraj? - KARTANU


Jebakan Batman Freeport, Akankah Jatuh ke Raja Salman dan Al-Abraj?

Maka saya yakin, sikap PTFI kini adalah sikap stake holder. Kalau sahamnya didivestasi hingga 51%, kepemilikannya sudah beralih ke pihak lain. Hanya orang dungu saja yang mau melakukannya. Sudah diambil alih, disuruh lagi bikin smelter yang biayanya tak tanggung-tanggung. Anda mau tidak dibegitukan? Jika tidak, pilih opsi kedua maju ke Panel WTO. Setidaknya lolos dari perampokan.

KARTANU

Mengubah KK menjadi IUPK adalah melanggar kontrak perdata sekaligus pidana. Sebab, KK itu dikunci pula dengan pasal pidana, pengubahnya diancam hukuman 5 tahun penjara, kejahatan berat. Yang dilewatkan awam, seolah UU Minerba lebih tinggi daripada Aggreement (perjanjian, termasuk KK). Salah berat, aggreement lebih tinggi derajatnya daripada hukum positif (UU).

Opini yang berkembang, seolah kebijakan pemerintah dapat mengatasi aggreement KK Freeport vs Indonesia karena kacamatanya bukan hukum. Jika bisa diubah, sudah dilakukan oleh Sudirman Said, Men ESDM sebelum Jonan.

Tak bisa menggunakan hukum kekuasaan (souvereignity law) dalam hal ini hukum publik, yaitu UU Minerba untuk membypass hukum kontrak perdata dengan cara memutus kontrak, sementara pemerintah adalah para pihak langsung.

KARTANU

Beda masalah jika berangkat dari hukum pidana yang ada dalam klausul kontrak. Mestinya jika ingin memutus kontrak, berangkat dari issu kasus pidana "papa minta saham" dan lain sebagainya.

Tambang Irian Barat itu adalah tambang emas dan uranium terbesar dunia. Dulu Freeport semasa bernama Freeport Sulphur, perannya mondial di era perang bintang Uni Soviet (Blok Timur) versus Blok Barat yang dipimpin Amerika dalam perlombaan senjata nuklir yang butuh uranium di mana Freeport Indonesia menjadi sarang CIA.

Setelah Perang Bintang berlalu 1989, harga zirkonium dan emas jatuh, CIA hengkang, perannya mengecil. Kini, saham Freeport Amerika jatuh, harga komoditas tambang turun, ditambah ketidakpastian Pemerintahan Trump dengan American First, hambatan oleh problem UU Minerba, social cost yang tinggi, smelter lokal yang membuatnya tak bisa mendulang bahan strategis (seperti uranium), kian tak jelas masa depan Freeport. Jauh lebih menguntungkan menangguk hasil berperkara di WTO yang jelas jelas menangnya.

Desain kini dari Menko Maritim, Luhut Binsar Pandjaitan (LBP) kontrak diputus dengan Freeport untuk diserahkan kepada perusahaan grup China Resources Limited. Tampaknya oke. Namun hitung dulu costing penalti Panel WTO seperti saya kemukakan tadi. Saya kok yakin, LBP tak berani. LBP terlalu licin untuk dijebak.

Kehebatan Archandra Tahar mana? Katanya pelobi Barat yang hebat. Lebih cocok jadi ustadz. Men ESDM Ignatius Jonan yang direkom Vatikan, mana pula lobi Baratnya? Sri Mulyani yang orangnya globalis Freemason Barat, mana pula?

Kalau mau dijual jangan ke Cina, lebih berbahaya. Sudah pasti manajemen dan buruh Freeport yang 132.000 diimpor dari Cina Daratan dan menjadi kaukus politik proxy war Hoaqiau dan OBOR Cina. Jual ke Al Abradj saja lebih aman sekaligus untuk melebarkan sayap Freemason Asia itu di Indonesia. Mumpung Raja Salman, pentolan Al Abradj, akan anjangsana ke Ibukota bulan ini. Saya dengar cuma Rp 500 triliun. Pasti punyalah Al Abradj kalau cuma Rp 1 biliun.

Tapi kalau ganti rugi tanpa melalui Panel WTO, niscaya Freeport tak akan mau. Saya tak yakin pernyataan bahwa mereka menerima ganti rugi. Mereka mestinya maunya lewat putusan hukum. Sebab, hengkangnya PTFI dari Indonesia mendatangkan klaim hukum dari partner dan nasabahmya di luar negeri. Kalau via putusan hukum, Freeport tak menanggung resiko klaim hukum. [KARTANU]

Djoko Edhi Abdurrahman, mantan anggota Komisi Hukum DPR

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/jebakan-batman-freeport-akankah-jatuh-ke-raja-salman-dan-al-abraj.html

Rabu, 16 September 2009

Mbah Sabilan, Dzurriyah Rasul ke-29 yang Berjuang Semasa Untung Suropati

KARTANU - Berawal dari keinginan warga Demaan, Jepara Kota, agar panitia menelusuri silsilah Mbah Sabilan, Habib Abu Bakar Assegaf, juru kunci makam, berniat melakukan sesuatu. Tapi apa yang harus diperbuat, ia tidak tahu. Menelusuri nasab bagi Bang Abu, sapaan akrabnya, bukan perkara mudah. Yang selama dipercaya masyarakat bisa menemukan nasab dan bahkan makam tua para wali adalah Habib Luthfi bin Yahya, Pekalongan. Tapi untuk langsung menghadirkan Habib Luthfi bukan perkara gampang.

Mbah Sabilan, Dzurriyah Rasul ke-29 yang Berjuang Semasa Untung Suropati - KARTANU
Mbah Sabilan, Dzurriyah Rasul ke-29 yang Berjuang Semasa Untung Suropati - KARTANU


Mbah Sabilan, Dzurriyah Rasul ke-29 yang Berjuang Semasa Untung Suropati

Buntu menemukan jalan tercepat menjawab keinginan warga yang ingin mengetahui nasab leluhurnya itu, Bang Abu datang sedirian ke makam Mbah Sabilan. Siang itu tidak ada orang ziarah. Juru kunci makam tersebut di sana bukan membaca tahlil dan wirid. Yang dilakukan justru meluapkan emosinya. Pintu makam digedor sekuat tenaga. Batu nisan makam Mbah Sabilan diokak-okak.

“Kamu ini siapa sih mbah kok bikin tugas berat menelusuri nasab. Saya tidak sanggup. Tapi kok ditunjuk juru makam, kenapa? Ini tugas berat yang bikin saya pusing, mbah!” katanya di makam.

Pulang ke rumah, ia merasa ringan. Hanya berharap semoga kelak dapat jawaban. Bagi Bang Abu, wali itu sangat welas asih kepada warga. Kemarahan yang kemarin dilakukan tidak akan dibalas kemarahan yang sama oleh Mbah Sabilan. “Wali itu memiliki mata kasih,” ujarnya kepada KARTANU, Kamis (13/04/2016), di rumahnya, Jl. Pesajen, Demaan, Jepara.

Sebelum membakar ikan, Bang Abu kirim Fatihah khusus kepada Mbah Sabilan. Kamis (17/03/2016) pagi itu, bau ikan laut yang dibakar menyengat hidung kemana-mana. Hendak disajikan bersama keluarga, seorang pengurus NU Jepara menelpon jika posisi Habib Luthfi sedang ada di makam Mbah Daeng, Krapyak, Jepara, sedang ziarah.

Seketika langsung menuju posisi Habib Luthfi yang kebetulan memang hanya berjarak 5 kilo dari tempat tinggal Bang Abu. Kepada angota Banser yang nderekke Habib Luthfi, ia tanya agenda habib setelah ziarah Mbah Daeng. Sedikit kecewa karena Habib Luthfi ternyata tidak ada rencana ziarah ke makam Mbah Sabilan.

Sebelum niat ketemu Habib Luthfi, Bang Abu sudah ziarah ke makam Mbah Sabilan. Kali ini tidak marah-marah di makam, tetapi tawassulan dan kirim doa. Saking semangatnya, Bang Abu ingin langsung menemui Habib Luthfi yang sedang di makam Mbah Daeng. Namun, sebelum keluar dari kompleks makam, seekor belalang menclok ke bahu kanan, lalu terbang lari ke arah makam Abah-nya yang bersebelahan dengan Makam Mbah Daeng, Krapyak. “Ya, Allah, saya ziarah ke Mbah Sabilan tapi belum ziarah maqbarah orang tua,” ungkapnya dalam hati.

Baginya, belalang adalah tanda agar sebelum ketemu Habib Luthfi, harus ziarah dulu kepada orang tua sebagai bentuk birrul walidain. Kebetulan hari Kamis memang sudah biasa ziarah orang tua. Beberapa saat ziarah dilakukan ke pusara Habib Sagaf, abah Bang Abu.

“Kalau Habib Luthfi memang kassyaf, dia pasti tahu krentek saya habis marah-marah di makam Mbah Sabilan kemarin karena harus menemukan nasabnya,” tutur Bang Abu menjelaskan maksud tawassul-nya tadi.

Sementara itu, keterangan yang didapat, sekeluarnya Habib Luthfi dari makam Mbah Daeng, ternyata tidak langsung jalan ke sebuah makam di Mlonggo sebagaimana agenda rombongan

yang nderekaken. Kata Bang Abu, Habib Luthfi justru ingin ziarah ke makam Sayyid Abdurrahman. Rombongan banyak yang bertanya: “Dimana itu, Bib?”

Bang Abu yang sudah di kompleks makam Mbah Daeng langsung mendekat, menyalami Habib Luthfi dan bersiap mengantarkan ke Makam Mbah Daeng ketika itu juga. “Alhamdulillah, Habib Luthfi kasyyaf,

tahu keinginan saya. Mungkin Mbah Sabilan bilang langsung ke Abah Luthfi kalau saya habis marah-marah tidak karuan di makamnya kemarin,” tuturnya.

Dalam ziarah pertama Habib Luthfi ke makam Mbah Sabilan itu, apa yang selama ini digelisahkan Bang Abu terjawab dengan mudah. Tanpa tirakat panjang, nasab itu diserahkan terbuka kepada Bang Abu dari Habib Luhti, dicatat Kyai Masduki, Sowan, Kedung, Jepara.

Nama asli Mbah Sabilan adalah Habib Abdurrahman Basyaiban. Sabilan adalah nama samaran yang digunakan untuk menghindari tekanan politik Belanda, yang berarti jalan. Ketika itu, keturunan Arab dianggap penjajah sebagai orang yang suka “meracuni” umat Islam. Penamaan tersebut terkait tentang apa, belum diketahui jelas. Yang pasti, Mbah Sabilan hidup 350 tahun lalu ketika Pahlawan Nasional yang legendaries bernama Untung Suropati masih hidup (1660-1706 M).

Silsilah lengkapnya: Abdurrahman bin Abdurrahim bin Abdullah bin Umar bin Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar, yang dikenal sebagai datuk marga Basyaiban. Habib Abu Bakar Basyaiban ini adalah putra dari Muhammad As’adillah bin Hasan Atturabi bin Ali bin Muhammad al-faqih Muqaddam bin Ali bin Muhammad Sahib Murbad bin Ali Khala’ Ghasam bin Alwi bin Muhammad bin Ali Alawiyyin bin Ubaidillah bin

Ahmad al-Muhajir bin Isa Arrumi bin Muhammad An-Nagieb bin Ali Uraidli bin Ja’far Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin al-Imam Husain bin Fatimah Zahra (zaujah Ali bin Abi thalib) binti Muhammad Rasulullah shallahu alaihi wa sallam. Ini peta makam Mbah Sabilan:

Menurut salah satu pembaca kami, keturunan Mbah Sabilan Abdurrahman ada yang tinggal di Desa Babalan, Kec. Wedung, Kab. Demak. Namanya adalah Kiai Ismail bin Umar Hamdan Basyaiban. Keterangan ini dikirim via email redaksidutaislam@gmail.com pada 6 Juli 2016.

Watu Bobot Jika diruntut, Mbah Sabilan adalah keturunan ke 29 dari Rasulullah. Menurut Habib Luthfi, Mbah Sabilan berasal dari Cirebon. Karena itulah, Bang Abu mengaku belum mengetahui makam ayahanda beliau, yakni Habib Abdurrahim Basyaiban. “Saya belum klarifikasi ke Rabithah (organisasi penashih jalur keturunan Rasulullah). Namun keturunannya ada banyak yang mukim di Magelang, Jawa Tengah,” kata Bang Abu.

Cerita yang beredar, dulu di makam Mbah Sabilan ada batu keramat yang disebut watu bobot. Yakni dua batu dengan berat yang sulit diangkat oleh perorangan jika ia tidak punya hajat. Panjanganya sekitar 40 cm dengan lebar 50 cm dan tinggi 60 cm. Dua batu itu, masing-masing disebut wadah kitab dan wadah gaman.

Bagi pezirah yang ingin tawassul agar pendidikannya lancar, ia bisa mengangkat wadah kitab. Jika kuat mengangakat, maka itu isyarah bahwa keinginnannya akan dikabulkan oleh Allah di kemudian hari. Jika tidak kuat mengangkat, maka tanda harus lebih bekerja keras lagi agar mendapatkan rejeki banyak. Ini untuk watu bobot wadah gaman.

Kini, batu itu sudah tidak ditemukan di kawasan makam. Bukan raib, tapi dicuri orang. Menurut Bang Abu, watu bobot itu ada di sebuah museum di Semarang. Walaupun begitu, Mbah Sabilan tetap masih diingat warga sebagai waliyullah penyebar agama Islam tiap minggu akhir bulan Rajab. Pada tahun ini, jatuh pada 1 Mei 2016. [KARTANU/ab]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/04/mbah-sabilan-dzurriyah-rasul-ke-29-yang-berjuang-semasa-untung-suropati.html

Minggu, 15 Oktober 2006

BMTNU Jombang Optimalkan Pendirian Sejumlah Cabang

Jombang, KARTANU. Baitul Maal wat Tamwil (BMTNU) Jombang pusat terus mengoptimalkan pendirian-pendirian cabang BMTNU di sejumlah kecamatan di Jombang. Hal ini merupakn upaya warga nahdliyin setempat untuk menjembatani perekonomian masyarakat.Gambar sisip 1

Sebelumnya, 2 cabang BMTNU sudah berdiri dan beroperasi di masing-masing kantor Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) terkait. Yaitu di Kecamatan Bareng sebagai cabang perdana BMTNU Jombang, kemudian disusul Kecamatan Kesamben pada Bulan Februari lalu.

BMTNU Jombang Optimalkan Pendirian Sejumlah Cabang (Sumber Gambar : Nu Online)
BMTNU Jombang Optimalkan Pendirian Sejumlah Cabang (Sumber Gambar : Nu Online)


BMTNU Jombang Optimalkan Pendirian Sejumlah Cabang

Sekretaris BMTNU Jombang pusat, Muhammad Muchlis Irawan menyatakan bahwa pada tahun 2016 ini, pihaknya menargetkan dua hingga tiga pendirian cabang BMTNU di kecamatan-kecamatan tertentu. "Insyaallah pada tahun ini ada dua sampai tiga cabang lagi berdiri," katanya kepada KARTANU saat dihubungi, Jumat (19/3).

KARTANU

Sesuai dengan kebijakan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang untuk mendirikan lembaga keuangan sebagai strategi kesejahteraan warga nahdliyin, juga sebagai upaya mengembangkan dan memperkuat kelembagaan NU.

Selama dua periode dipimpin KH Isrofil Amar, memang ada target untuk mendirikan satu BMT di tingkat kabupaten dan tiga di MWCNU. Namun melihat rencana dan upaya pengurus BMTNU pusat tampak akan melebihi target tersebut. (Syamsul Arifin/Fathoni)

KARTANU

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/66639/bmtnu-jombang-optimalkan-pendirian-sejumlah-cabang

KARTANU

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KARTANU sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KARTANU. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KARTANU dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock