Tampilkan postingan dengan label Habib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Habib. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Mei 2015

Ke PBNU, Jokowi Diminta Sabar dan Tawakal

Jakarta, KARTANU. Calon presiden H Joko Widodo bersilaturrahim ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jalan Kramat Raya No 164 Jakarta Pusat, Jumat (11/7) siang. Kehadiran Jokowi disambut hangat oleh Wakil Ketua Umum PBNU H Asad Said Ali bersama beberapa pengurus lainnya.

Pertemuan berlangsung tertutup di ruang rapat lantai 3 kantor PBNU selama sekitar setengah jam. Usai pertemuan Jokowi langsung berpamitan pulang. Wakil Ketua Umum PBNU H Asad Ali bersama Ketua PP LAZISNU KH Masyhuri Malik mengantar Jokowi sampai ke pintu keluar lantai dasar dan mereka langsung diserbu puluhan wartawan.

Ke PBNU, Jokowi Diminta Sabar dan Tawakal (Sumber Gambar : Nu Online)
Ke PBNU, Jokowi Diminta Sabar dan Tawakal (Sumber Gambar : Nu Online)


Ke PBNU, Jokowi Diminta Sabar dan Tawakal

Kepada wartawan, Asad mengatakan, PBNU berharap Jokowi bersabar dan tawakkal menunggu penetapan hasil Pilpres oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 22 Juli mendatang.

KARTANU

Kami menyampaikan pesan Rais Aam KH Mustofa Bisri (Gus Mus) agar Bapak Jokowi sabar dan tawakkal menunggu penetapan KPU, kata Asad.

KARTANU

Beberapa wartawan meminta Asad menanggapi hasil hitung cepat (quick count). Ada dua hasil penghitungan cepat yang berbeda di mana sebagian besar mengunggulkan pasangan Jokowi-Kalla. Kata Asad, hitung cepat itu didasarkan pada metode ilmiah tertentu dan hasilnya tergantung pada metode yang dipakai.

Para ahli survei dan quick count itu lebih bisa menjelaskan hasilnya, kata asad. Wartawan terus mendesak, PBNU mendukung hasil survei yang mana? Ya yang terbanyak lah, katanya.

Jokowi sendiri tidak memberikan banyak komentar terkait hasil quick count dan soal kunjungannya ke PBNU. Ya kita bersilaturrahim sambil menunggu tanggal 22 Juli, katanya singkat. (anam)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/53203/ke-pbnu-jokowi-diminta-sabar-dan-tawakal

KARTANU

Minggu, 22 September 2013

Norma Agama dan Tradisi Berdamai dalam Adat

Pohuwato, KARTANU. Selain tampilan yang serba Muslim, toleransi adalah salah satu ciri khas kawasan santri. Toleransi ini menjadi salah satu syarat dalam menjaga perdamaian dan perayaan serta peraturan-peraturan agama.

"Agama-agama bersatu dalam tradisi dan norma-norma sosial yang disepakati tanpa perjanjian tertulis. Inilah yang disebut sebagai adat, yang menjamin terciptanya kerukunan dalam masyarakat yang heterogen," tutur Abu Bakar Polutu, salah seorang Imam Wilayah di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, Kamis (5/4).

Norma Agama dan Tradisi Berdamai dalam Adat (Sumber Gambar : Nu Online)
Norma Agama dan Tradisi Berdamai dalam Adat (Sumber Gambar : Nu Online)


Norma Agama dan Tradisi Berdamai dalam Adat

Menurut Abu Bakar, masyarakat Pohuwato sadar bahwa ajaran-ajaran agama harus dijalankan dengan tidak mengganggu umat yang beragama lain. Lebih dari itu, para pemeluk agama harus tetap saling membantu dalam kehidupan sosial keseharian, meskipun mereka menganut agama yang berbeda-beda.

"Tradisi saling membantu inilah yang disebut sebagai adat. Meski mungkin saja, saling membantu adalah ajaran di masing-masing agama, namun Adat menjadikan masyarakat yang homogen sebagai benar-benar saudara," tutur pria berusia 81 tahun ini.

KARTANU

Lebih lanjut Abu Bakar menjelaskan, sebagai seorang Imam, dirinya berkewajiban untuk memimpin umat Islam dalam beribadah. Namun ada beberapa ritual ibadah yang pelaksanaannya telah menjadi bagian dari tradisi, karenanya perayaan tersebut dipimpin oleh seorang tokoh adat.

KARTANU

"Ritual-ritual keagamaan yang telah menjadi tradisi, seperti perayaan maulid Nabi, maka tidak bisa hanya dipimpin oleh seorang imam. Perayaan maulid dipimpin oleh tokoh adat karena melibatkan berbagai simbol lokal dan berbagai aspek kehidupan," tandasnya.

Di Gorontalo, Masyarakat Muslim dipimpin oleh para imam yang menjadi pemimpin ibadah di setiap level. Setiap Jamaah memiliki Imam, jamaah bisa terdiri dari jamaah musholla atau Masjid. Para imam jamaah ini dipimpin oleh seorang Imam Kelurahan. Para imam kelurahan di pimpin oleh Imam Kecamatan. Para imam kecamatan dipimpin oleh seorang Imam kabupaten dan para imam kabupaten dipimpin oleh seorang imam di tingkat provinsi.

Seorang Imam Jamaah bertanggungjawab sepenuhnya untuk memimpin pelaksanaan ibadah jamaahnya, termasuk memimpin sholat lima waktu. Imam jamaah diangkat oleh jamaahnya masing-masing, imam kelurahan, kecamatan, kabupaten dan provinsi diangkat oleh masing-masing level pejabat.

Khusus pada tingkat kabupaten dan provinsi, selain terdapat seorang imam, juga memiliki seorang kadi yang bertugas untuk menyelesaikan masalah-masalah yang menyangkut keagamaan di masyarakat.

Dalam setiap pelaksanaan ritual adat, para pemimpin adat akan selalu berkonsultasi dan berdampingan dengan imam dalam memimpin ritual. Demikian sebaliknya, bila para imam jamaah menggelar acara-acara hari besar keagamaan, mereka pun akan selalu berdampingan dengan para pemimpin adat.

Penulis : Syaifullah Amin

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/37328/norma-agama-dan-tradisi-berdamai-dalam-adat

KARTANU

Kamis, 05 Juli 2012

Ini yang Terjadi Jika Setiap Cabang NU Punya Minimarket

KARTANU - NU adalah jam'iyyah yang punya jamaah paling banyak di negeri ini dan juga mungkin di dunia. Kalau seius mau bergerak di bidang ekonomi, NU akan menjadi kekuatan besar dan bermanfaat bagi jamaahnya. Umpama NU menggerakkan bisnis jejaring dengan membuka mini market di setiap cabang dan MWC, maka hasilnya akan luar biasa.

Di Jawa, mulai dari Banten sampe Jatim, jumlah kabupaten dan kota ada 119. Jumlah kecamatan ada 2116. Maka kalau setiap kabupaten dan kota serta kecamatan memiliki pengurus cabang dan kecamatan jumlah keseluruhan di pulau Jawa ini akan ada 2235 kepengurusan. Jika masing-maasing PC dan MWC punya satu saja mini market, NU akan memiliki gerai sejumlah 2235 buah.

Kalau setiap mini market dalam sehari mengumpulkan uang kembalian dari pembeli yang tidak diambil karena nilainya hanya 100 perak atau 200 perak, dengan hitungan transaksi perharinya pada satu minimarket Rp. 10.000, maka setiap hari akan terkumpul uang Rp. 22.350.000. Hitungan pukul rata itu jika dikalikan sebulan ketemu angka Rp. 670.500.000. Setahun jumlahnya bisa mencapai Rp. 8.046.000.000. Dahsyat.

Ini yang Terjadi Jika Setiap Cabang NU Punya Minimarket - KARTANU
Ini yang Terjadi Jika Setiap Cabang NU Punya Minimarket - KARTANU


Ini yang Terjadi Jika Setiap Cabang NU Punya Minimarket

Jelas angka itu sangat fantastis karena dikumpulkan dari uang yang sudah tidak dianggap. Rp. 100 atau Rp. 200. Jumlah itu jauh lebih besar dari sumbangan Hary Tanu ke pesantren-pesantren melalui YPP-nya.

Ini baru bergerak di satu bisnis, coba kalau NU punya banyak bisnis nasional. Maka hasilnya akan luar biasa dan orang akan berusaha menjadi anggota NU karena banyak manfaatnya. Tidak hanya manfaat akhirat, tapi juga manfaat di dunia.

KARTANU

Sekali lagi, ini hanya hayalan dan hanya berharap semoga menjadi kenyataan. Semoga yang di struktural NU tidak hanya mengurusi dan mengembangkan bisnis pribadinya saja, tapi juga mengurusi bagaimana caranya NU ini bisa menjadi organisasi yang punya manfaat besar di dunia dan akhirat.

KARTANU

Yang fakta, NU bukan ormas bisnis memang. Ia adalah ormas sosial keagamaan yang kelak memang diharapkan jadi penopang perdamaian dunia. Tapi tidak ada salahnya jika mimpi di atas jadi kenyataan. Toh semua orang sukses berawal dari mimpi dan impian besar. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/ini-yang-terjadi-jika-setiap-cabang-nu-punya-minimarket.html

Senin, 07 Mei 2012

Jasa Shooting dan Live Streaming Pengajian Paling Murah

KARTANU - Zaman modern saat ini semua pondok pesantren sedang gencar-gencarnya menyebarkan syiar islam ke dunia maya, pasti dibutuhkan Jasa Shooting dan Live Streaming Pengajian Paling Murah di daerah anda. Untuk itu silahkan simak video shooting yang memberikan pelayanan paling bagus.

Mungkin anda sering menyaksikan acara bersholawat bersama habib syech, atau sholawat bersama gus ali gondrong mafiasholawat, atau ulama besar lainnya di internet atau langsung hadir di tempat. Pasti di acara tersebut ada layar besar yang menayangkan VT atau siaran langsung di acara pengajian bersholawat tersebut. Berapa biaya untuk sewa video shooting?

Pertanyaan umum yang ditanyakan setiap orang yang akan mengadakan sebuah acara (pengajian akbar, khaul, promosi, ziareah, dll) yaitu berapa biaya untuk sewa video shooting? Sebelum kita masuk membahas harga, perlu anda ketahui bahwa Pasti.In Video Shooting memberikan Jasa Fotografi dan Video Shooting Tegal Semua Moment dengan harga paling murah se Tegal.

Jasa Shooting dan Live Streaming Pengajian Paling Murah - KARTANU
Jasa Shooting dan Live Streaming Pengajian Paling Murah - KARTANU


Jasa Shooting dan Live Streaming Pengajian Paling Murah

Jangan langsung berfikiran bahwa murah tapi tidak berkualitas, karena itu salah besar.

Dalam kenyataannya, Video Shooting Tegal ini mampu bersaing dengan shootingan yang ada di semarang atau jakarta. Karena tim dari Pasti.In sudah berpengalaman dalam mengelola acara dan sangat baik dalam Teknik dan Peralatan Studio Shooting. Jadi [Namamedia] bisa pastikan bahwa Pasti.In Video Shooting itu Murah Berkualitas.

Arif Lukman Hakim Pasti.In Video Shooting

Arif Lukman Hakim Pasti.In Video Shooting


KARTANU

Cakupan wilayah Pastiin Shooting tidak hanya di dalam kota Tegal, tapi juga ke berbagai kota, diantaranya Brebes, Pemalang, Pekalongan dan sekitarnya. Dan produk hasil dari shootingan tegal ini juga tidak sedikit, sudah banyak yang menggunakan jasa video shooting slawi ini, tinggal anda yang belum menggunakan pelayanan jasa rekam acara ini.

Video Shooting Tegal

Seputar info tegal mengenai jasa video dan fotografi tegal murah sudah bukan rahasia lagi, karena peralatan editing video dan live streaming lengkap harga murah cuma pastiin saja. Komputer video live streaming atau siaran langsung menggunakan V-mix seri terbaru dengan lisensi legal alias bukan bajakan, dan juga anda dapat mengadakan siaran langsung live melalui internet dan bisa tayang di Youtube, Facebook, dll.

Anda dapat mengunjungi website resmi Pasti.in di www.pasti.in

Memang sangat aneh dan sangat tidak familiar sekali nama website dengan akhiran .in karena domain tersebut berasal dari india. Namun menurut Arif, itu sengaja untuk memudahkan dan sebagai brand Pasti.In itu sendiri.

Studio Pasti.In Video Shooting

KARTANU

Studio Pasti.In Video Shooting


Pastiin video shooting sangat dipercaya untuk handle acara seperti pengajian pondok pesantren, acara ngaji rutin, pertemuan di gedung, birthday party, wedding / pernikahan, sholawat dan masih banyak lagi.

Tunggu apa lagi, cari :

Video Shooting Tegal Murah Berkualitas? Pasti.In Dulu

Jasa Fotografi Tegal Murah Professional? Pasti.In Dulu

Informasi lebih lanjut, kunjungi website WWW.PASTI.IN

Facebook : https://www.facebook.com/ariepsetoe

No HP : 0878-3000-1575

Arif Lukman Hakim

Dari : http://bangroyhan.pasti.in

Sabtu, 25 Desember 2010

KH Idrus Ali Jabat Ketua FKUB Kabupaten Probolinggo

Probolinggo, KARTANU. Setelah sempat kosong karena KH Mahfudz Syamsul Hadi meninggal dunia, posisi Ketua FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) Kabupaten Probolinggo akhirnya terisi. Penggantinya adalah KH. Idrus Ali yang dipandang telah memenuhi persyaratan untuk diangkat sebagai pengganti Ketua FKUB Kabupaten Probolinggo masa khidmat 2011-2014.

KH Idrus Ali dikukuhkan sebagai Ketua FKUB Kabupaten Probolinggo oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Probolinggo yang juga Dewan Penasehat FKUB Kabupaten Probolinggo H.M. Nawi di Gedung Djojolelono Kabupaten Probolinggo. Dalam kesempatan tersebut juga dikukuhkan Lailatul Jumah sebagai anggota FKUB Kabupaten Probolinggo.

KH Idrus Ali Jabat Ketua FKUB Kabupaten Probolinggo (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Idrus Ali Jabat Ketua FKUB Kabupaten Probolinggo (Sumber Gambar : Nu Online)


KH Idrus Ali Jabat Ketua FKUB Kabupaten Probolinggo

Pengukuhan KH Idrus Ali dan Lailatul Jumah ini didasarkan pada Keputusan Bupati Probolinggo Nomor: 450/909/426.12/2012 Tentang Peresmian dan Pengangkatan Pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Probolinggo Tahun Anggaran 2012 Tanggal 3 Agustus 2012. Pengukuhan ini digelar disela-sela rapat koordinasi (rakor) FKUB Kabupaten Probolinggo terkait kerukunan umat beragama.

KARTANU

Hadir dalam pengukuhan tersebut Rais Syuriyah PCNU Kraksaan KH Munir Kholili, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Probolinggo KH Saiful Hadi, Kepala Bakesbangpol & Linmas (Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat) Imam Mulhuda, Kabag Kesra Syafiudin dan perwakilan sejumlah majelis agama se Kabupaten Probolinggo.

Sekretaris Daerah Kabupaten Probolinggo HM Nawi dalam sambutannya menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada para pimpinan majelis agama dan tokoh agama yang ada di Kabupaten Probolinggo untuk berkumpul yang merupakan cerminan bahwa kebersamaan dan keharmonisan masyarakat Kabupaten Probolinggo telah terwujud dengan baik.

KARTANU

Tentunya kondisi ini merupakan salah satu faktor penting bagi terwujudnya kondusifitas daerah yang merupakan kebutuhan kita semua, bukan saja di Kabupaten Probolinggo tetapi di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai. Dan saya kira inilah hal yang paling mendasar dari tujuan kita mengamalkan ajaran agama yaitu untuk mencapai kebahagiaan hidup dari dunia sampai akhirat nantinya, ujarnya.

Kepada KH Idrus Ali dan Lailatul Jumah yang baru saja dikukuhkan Nawi menyampaikan ucapan selamat dengan diiringi harapan semoga dapat mengemban amanah dengan sebaik-baiknya sesuai dengan harapan bersama.

Pembentukan FKUB ini merupakan salah satu amanat dari peraturan bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri RI Nomor 9 Tahun 2006 dan Nomor 8 Tahun 2006 Tentang pedoman pelaksanaan tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dalam pemeliharaan kerukunan umat beragama, pemberdayaan forum kerukunan umat beragama dan pendirian rumah ibadat, jelasnya.

Tidak lupa Nawi juga menegaskan bahwa FKUB ini bukan dibentuk oleh pemerintah, tetapi dibentuk oleh masyarakat yang difasilitasi oleh pemerintah sebab umat beragama bukanlah objek, tetapi menjadi subjek atau pelaku utama dalam upaya memelihara kerukunan nasional.

Sehebat apapun program pemerintah untuk mewujudkan ketertiban dan ketenteraman, jika tidak didukung oleh masyarakat maka tidak akan memiliki arti apa-apa, terangnya.

Sementara Ketua FKUB Kabupaten Probolinggo KH Idrus Ali mengaku amanah yang diberikan kepadanya merupakan sebuah kepercayaan yang harus dijalankan dengan baik sesuai keinginan masyarakat Kabupaten Probolinggo.

Langkah pertama yang akan saya lakukan adalah melakukan koordinasi intern dahulu. Setelah itu baru akan membahas program kerja untuk membantu Pemerintah Daerah. Mohon dukungan dari semua pengurus FKUB Kabupaten Probolinggo, ujarnya singkat.

Redaktur : Mukafi Niam

Kontributor : Syamsul Akbar

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/40009/kh-idrus-ali-jabat-ketua-fkub-kabupaten-probolinggo

KARTANU

Rabu, 01 September 2010

Ketika KH Hasyim Asyari Mengharamkan Kenthongan Masjid

KARTANU - KH Hasyim Asy’ari pernah menulis sebuah artikel dalam majalah Suara Nahdlatul Ulama pada tahun 1926 M, beberapa bulan setelah NU didirikan.

Dalam artikel tersebut, beliau mengajukan argumentasi tentang hukum menggunakan kenthongan. Karena kentongan tidak disebutkan dalam hadis Nabi, maka tentunya diharamkan dan tidak dapat digunakan untuk menandakan waktu shalat. Demikian pendapat Mbah Hasyim.

Ketika KH Hasyim Asyari Mengharamkan Kenthongan Masjid - KARTANU
Ketika KH Hasyim Asyari Mengharamkan Kenthongan Masjid - KARTANU


Ketika KH Hasyim Asyari Mengharamkan Kenthongan Masjid

Sebulan setelah dipublikasikan, seorang kiai senior lainnya, yakni Kiai Faqih Maskumambang (Guru Kyai Zubair Sarang) menulis sebuah artikel untuk menentang artikel Kiai Hasyim itu. Beliau berpendapat, Kiai Hasyim dianggap salah karena prinsip yang digunakan dalam masalah ini adalah masalah qiyas, atau kesimpulan yang didasarkan atas prinsip yang sudah ada. Atas dasar ini, maka kentongan di Asia Tenggara memenuhi syarat untuk digunakan sebagai penanda masuknya waktu shalat.

Sebagai tanggapannya, Kiai Hasyim mengundang ulama Jombang untuk bertemu dengan beliau di rumahnya dan kemudian meminta agar kedua artikel itu dibaca keras. Ketika hal itu dilakukan, beliau mengumumkan kepada mereka yang hadir.

KARTANU

“Anda bebas mengikuti pendapat yang mana saja, karena kedua-duanya benar. tetapi saya tekankan bahwa di pesantren saya kentongan tidak digunakan,” kata Kiai Hasyim.

Beberapa bulan kemudian, Kiai Hasyim diundang untuk menghadiri perayaan Maulid Nabi di Gresik. Tiga hari sebelum tiba, Kiai Faqih yang merupakan kiai senior di Gresik, membagikan surat kepada semua masjid dan mushalla untuk meminta mereka menurunkan kentongan demi menghormati Kiai Hasyim dan tidak menggunakannya selama kunjungan Kiai Hasyim di Gresik.

KARTANU

Ulama dulu telah memberikan tauladan bagaimana pola pikir saat menyikapi perbedaan. Perbedaan bukan media pertengkaran dan permusuhan, tetapi sebagai perekat ukhuwah dan memupuk sikap toleransi dan menghargai pendapat orang lain.

Sungguh indah jika para pemimpin dan elit politik di negara kita tercinta ini bisa meneladani pesan moral dari kisah di atas. Kisah ini dikutip dari Biografi Gus Dur karya Greg Barton. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/ketika-kh-hasyim-asyari-mengharamkan-kenthongan-masjid.html

Kamis, 03 Juni 2010

Nyata: Gus Dur Mengislamkan 100 Romo Katolik Sebulan

KARTANU - Ini adalah catatan Dr Syaltout, dosen Universitas Indonesia dalam sekolah Ansos yang pernah diadakan pada tahun 1997 silam. Tentang dakwah Romo Mangun dan KH Abdurrahman Wahid dalam merancang startegi masing-masing melakukan misionarisasi, baik Kristen maupun Islam.

Untuk memberikan keterangan kepada hadirin, Romo Mangun mengutip ayat Qur'an Ali Imran ayat 110 dan menginterpretasinya. Ini bunyi ayat tersebut:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آَمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Nyata: Gus Dur Mengislamkan 100 Romo Katolik Sebulan - KARTANU
Nyata: Gus Dur Mengislamkan 100 Romo Katolik Sebulan - KARTANU


Nyata: Gus Dur Mengislamkan 100 Romo Katolik Sebulan

Artinya: Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Ali Imran: 110)

KARTANU

Ayat di atas biasanya dipahami cukup chauvinis (kesetiaan ekstrim tanpa mau melihat pandangan alternatif lain) di sebagian besar Islam.

Dalam kesempatan tersebut, Romo Mangun memberikan pengantar tentang pola "dakwah" nya yang terinspirasi dari Ali Imran 110 itu. Di situ ada alur logika yang imanen dan ilahiyah tentang bagaimana melakukan advokasi yang baik. Berikut ada 4 tahapan dakwah yang diulas Romo Mangun dari ayat di atas:

1). Kuntum khoira ummah (kamu adalah ummat terbaik). Yakni, umat harus disapa pertama kali dengan mentalitas superior (percaya diri), bukan inferior. Inferiority complex itu bahaya. Dendam, butuh pengakuan, butuh pujian itu tidak sehat.

KARTANU

Dalam tradisi Katolik, sapaan awal "mentalitas superior" ini dimulai dengan kalimat "saudara-saudaraku terkasih dosa kalian sudah ditebus Tuhan Yesus". Perasaan bebas dari dosa dan salah bisa menciptakan mentalitas superior itu.

2. Ta'muruna bil ma'ruf (mengajak berbuat baik). Dan logisnya, sebelum mengajak tentu harus berbuat baik dulu. Saat umat lapar, kita beri makan. Kita buat mereka kenyang. Saat umat butuh tempat bernaung, kita buatkan tempat itu. Kita cukupi kebutuhan mereka. Kita jadikan diri kita sebagai teladan bagi umat. Dengan begitu, umat jadi ikut, mau diajak dan kemudian juga mengajak yang lain untuk berbuat kebaikan.

3. Tanhauna 'anil munkar (cegah kerusakan atau perbuatan yang tidak pinter, tidak bener, dan tidak pener), yang logisnya tentu kita kasih teladan dulu bahwa kita tidak berbuat buruk, tidak berbuat yang tidak pinter, tidak bener dan tidak pener. Dengan demikian, sistem dan ekosistem yang sudah baik (karena sudah melewati tahap 1 dan 2) bisa terjaga dari pengaruh yang buruk.

4. Yu'minuna billah (beriman kepada Allah, percaya kepada Tuhan Yang Maha Kasih - atau dalam bahasa Romo Mangun "tahap penginjilan" - percaya pada kristus).

Menurut Romo Mangun, banyak dakwah atau advokasi gagal karena nalarnya loncat. Kalau buru-buru masuk tahap 4, tentu yang ada ialah perang. Jika masuk tahapan ke-3, tanpa melalui tahapan ke-1 dan ke-2, tentu yang terjadi adalah kekerasan.

Ini adalah kritik terhadap gerakan-gerakan dakwah "nahi munkar" yang menumbuhkan bibit kekersaan ala FPI. Termasuk kritik terhadap saran almarhum KH. Zaunuddin MZ yang pernah melarang dakwah terhadap orang beragama, melarang umat Islam yang miskin diberi Indomie, beras dan kebutuhan harian lainnya.

Yang menarik adalah tahapan dakwah antara Romo Mangun dan Gus Dur. Mereka ini sudah pada tahapan dakwah dengan dialog dan bercanda lintas iman. Akhirnya, semua bisa disampaikan secara baik-baik.

Gus Dur bertanya kepada Romo Mangun, dengan cara menerapkan Qur'an seperti itu (4 tahapan dakwah dari surat Ali Imron 110), Romo berhasil menginjilkan berapa orang?

Romo Mangun menjawab, "sekitar 30-50 orang per bulan, mereka umat yang miskin, yang teraniaya, lapar, tinggal di bantaran kali, dan hampir terlupakan," katanya.

Mendengar jawaban tersebut, beberapa kawan NU ada yang sempat emosi. Mereka kemudian bertanya kepada Gus Dur terkait "kristenisasi" Romo Mangun itu.

"Alhamdulillah mereka masih pindah agama, daripada mereka pindah ke alam baka," jawab Gus Dur selengekan. Hadirin tertawa tapi tetap masih resah.

Saat semua grundel, Gus Dur melanjutkan, "saya senang ayat Qur'an dipakai Romo, daripada nganggur. Ya, saya mirip Romo juga sebenarnya. Saya bisa mengislamkan 30-50 bahkan pernah 100 orang dalam sebulan. Tapiii... itu Romo semua!".

Semua hadirin tertawa, Romo Mangun dan Gus Dur berpelukan hangat. Ah, jadi kangen Gus Dur yang selalu punya cara unik menyelesaikan masalah tanpa basi-basi. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/rahasia-gus-dur-mengislamkan-100-romo-katolik-sebulan.html

Sabtu, 17 April 2010

Kisah Wanita yang Jatuhkan Kuasa Raja dan Pesan Mbah Maimoen Memilih Istri

KARTANU - Setiap manusia pasti mempunyai cita-cita setinggi langit, begitu ketika diajarkan di TK (Taman Kanak-Kanak) dahulu. Ingin serba semuanya mewah dan tercapai, fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah.

Untuk menggapai semua itu tidak semudah tidur dalam mimpi, dan tidak semudah khayalan dan angan-angan. Butuh perjuangan dan doa, butuh pengorbanan dan kegigihahan bak sekuat baja dan selentur samurai jepang.

Kisah Wanita yang Jatuhkan Kuasa Raja dan Pesan Mbah Maimoen Memilih Istri - KARTANU
Kisah Wanita yang Jatuhkan Kuasa Raja dan Pesan Mbah Maimoen Memilih Istri - KARTANU


Kisah Wanita yang Jatuhkan Kuasa Raja dan Pesan Mbah Maimoen Memilih Istri

Wanita adalah tiang negara. Begitu kata pepatah.

المراة عماد البلا د اذا صلحت صلحت البلا د واذا فسدت فسدت البلا د

Artinya: "Wanita adalah tiang negara, apabila wanita itu baik maka negara akan baik,

dan apabila wanita itu rusak, maka Negara akan rusak pula".

Jika ingin kuat negara ini, maka perkuat pula wanitanya, dengan memperkuat sektor pendidikan dan agamanya. Maka tidaklah heran, jika disebuah negara bagian Asia, ada wanita wanita menjadi pejuang dengan melacurk4n diri demi mengorek informasi dan mengetahui seberapa besar kekuatan musuh.

Dalam sebuah penelitian wanita disebut sebagai yang paling dominan dalam membentuk karakter seorang anak. Sekuat apapun anak, pasti akan takluk kepada ibunya. Dan kesuksesan besar anak paling besar adalah pengaruh dari ibunya, pengaruh dari kekuatan doanya, karena bagaimanapun juga, derajat seorang ibu lebih tinggi tiga tingkat dibanding ayah.

Maka tidaklah heran jika Sayyiduna Umar bin Khattab pernah mengatakan, "jika ada orang sukses maka tanyalah, siapa ibunya dan siapa yang menjadi istrinya?"

Ken Dedes Direbut Ken Arok

Alkisah, pada suatu hari, Tunggul Ametung singgah ke Desa Panawijen, di sana, ia kemudian bertemu dengan Ken Dedes. Parasnya yang ayu dan tubuhnya yang molek membuat Tunggul Ametung terpesona.

Keinginannya untuk memperistri Ken Dedes begitu kuat. Ketika menyatakan keinginannya untuk membawa pulang Ken Dedes, wanita itu keberatan lantaran ayahnya belum pulang dari bertapa. Ken Dedes adalah putri satu-satunya pendeta Buddha aliran Mahayana, Mpu Purwa.

Tunggul Ametung tak kuasa untuk bersabar. Dibawalah paksa Ken Dedes kembali ke Tumapel untuk dinikahi. Ketika Mpu Purwa pulang dan mendapati putri satu-satunya diculik, ia marah besar. Sang pendeta lalu mengutuk, siapa pun yang telah menculik Ken Dedes akan mati terbunuh dengan keris dan tidak akan merasakan kenikmatan hidup.

Tunggul Ametung kembali ke pendopo dan memperkenalkan Ken Dedes sebagai istrinya kepada seluruh penghuni pendopo, termasuk Ken Arok. Kecantikan Ken Dedes juga menarik perhatian Ken Arok, tetapi bukan itu alasan Ken Arok kelak merebut dan memperistri Ken Dedes.

Kisah berlanjut. Ketika Ken Arok membantu Ken Dedes turun dari kereta, kain wanita itu tersingkap. Ken Arok terkesiap melihat pangkal p4h4 Ken Dedes yang bercahaya. Ia lalu bertanya kepada Lohgawe, apa arti dari kejadian tersebut.

Menurut sang pendeta, memperistri wanita dengan ciri-ciri seperti itu akan menjadi penguasa dan memberikan keturunan raja-raja Jawa. Atas dasar itulah kemudian timbul niat jahat Ken Arok untuk membunuh Tunggul Ametung.

Ken Arok menikahi Ken Dedes setelah membunuh Tunggul Ametung dengan keris sakti yang dipesannya pada Mpu Gandring. Malam itu, Ken Dedes menyaksikan sendiri bagaimana suaminya dibunuh oleh sang pengawal kepercayaan.

Namun entah karena bujuk rayu Ken Arok atau karena sedari awal Ken Dedes juga memiliki perasaan kepada Ken Arok, wanita itu mengiyakan saat Ken Arok memintanya menjadi istri.

Kisah Ken Arok dan Ken Dedes memang memiliki daya tarik tersendiri. Dan seperti yang diramalkan, Ken Dedes memang melahirkan keturunan yang menjadi raja-raja di Jawa, mulai dari Anusapati, Ranggawuni, dan Kertanegara yang merupakan pembesar di Kerajaan Singosari.

Selain itu, keturunan Ken Dedes juga sampai hingga pada Raden Wijaya, pendiri kerajaan Majapahit dan Hayam Wuruk. Cerita ini penulis ambil dari situs reidfile.com.

Walhasil dalam memilih istri, kita dianjurkan yang paling utama adalah agamanya, kemudian nasabnya, setelah itu kecantikannya, dan yang terakhir hartanya. Jika bisa memukan semuanya, maka itu adalah nikmat Allah yang teramat agung. Dengan demikian, kita bisa menurunkan anak-anak yang sholeh pula. Sebuah syair bijak mengatakan:

نعم الإله على العباد كثيرة ☆ وأجلها بنجابة الأولاد Nikmat tuhan yang diberikan begitu banyak # dan termasuk paling agungnya nikmat itu mempunyai anak-anak yang hebat.

Pesan Mbah Moen Memilih Istri

Saya akhiri tulisan ini dengan sebuah renungan inspirasi dari ulama' sepuh Nusantara, Simbah KH Maemon Zubair. Beliau pernah mengatakan, "Nek milih bojo iku sing ora patiyo ngerti dunyo. Mergo sepiro anakmu sholeh, sepiro sholehahe ibune. Sohabat Abbas iku nduwe bojo ora seneng dandan, nganti sohabat Abbas isin nek metu karo bojone. Tapi beliau nduwe anak ngalime poll, rupane Abdulloh bin Abbas," begitu wejangan Mbah Moen.

Mbah Moen melanjutkan, "Sayyidina Husain nduwe bojo anake Rojo Rustam (Rojo Persia). Walaupun asale putri Rojo, sakwise dadi bojone Sayyidina Husain wis ora patiyo seneng dunyo. Mulane nduwe putro Ali Zainal Abidin bin Husain, ngalim-ngalime keturunane Kanjeng Nabi. Kiai-Kiai Sarang ngalim-ngalim koyo ngono, mergo mbah-mbah wedo'e do seneng poso," imbuh pesannya dalam bahasa Jawa.

"Syekh Yasin Al Fadani (ulama' asal padang yang tinggal di Mekah) iku nduwe istri pinter dagang, nduwe putro loro. Sing siji dadi ahli bangunan sijine kerjo neng transportasi. Kabeh anake ora ono sing nerusake dakwahe Syekh Yasin," lanjut dawuh Mbah Moen.

"Neng Al Qur-an نساؤكم حرث لكم. Istri iku ladang kanggo suami. Sepiro apike bibit tapi nek tanahe atau ladange ora apik, ora bakal ngasilno pari apik. Intine iso nduwe anak ngalim, nek istrine ora patiyo ngurusi dunyo lan khidmah poll karo suamine. Nek kowe milih istri pinter dunyo, kowe sing kudu wani tirakat. Nek ora wani tirakat, yo lurune istri sing ahli dzikir, kowene sing mikir dunyo alias kerjo," Mbah Moen mengakhiri dawuh.

Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, kurang lebih seperti ini, "Ketika kamu memilih istri, carilah wanita yang tidak terlalu tahu akan dunia. Karena keshalihan anakmu bergantung pada seberapa shalihah ibunya. Shahabat Abbas ra. mempunyai istri yang tidak suka berhias, sampai membuatnya malu saat keluar dengan istrinya. Tapi beliau mempunyai anak yang sangat alim, yaitu Abdullah ibnu Abbas,

"Sayyid Husain cucu Rasulullah punya istri dari keturunan Raja Persia. Walaupun berasal dari Putri Raja, setelah menjadi istri Husain menjadi wanita yang tidak mencintai dunia. Maka mempunyai anak Ali Zainal Abidin bin Husain, paling alim dari keturunan Rasulullah Saw. Para kiai dari Sarang Jawa Tengah bisa menjadi alim seperti itu karena nenek-nenek mereka suka berpuasa,

"Syekh Yasin Al Fadani ulama dari Padang yang tinggal di Makkah mempunyai istri yang pandai berdagang, dan punya dua anak. Salah satu anaknya menjadi ahli bangunan dan yang satunya lagi bekerja di bagian transportasi. Kedua anaknya tidak ada yang bisa meneruskan dakwahnya Syekh Yasin,

"Di dalam Al-Qur'an disebutkan dalam sebuah ayat: نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ. Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam." (QS. Al Baqarah : 223) Istri itu ladang bagi suami. Seberapa bagusnya bibit ketika tanah atau ladangnya tidak bagus, maka tidak bisa menghasilkan padi (panen) yang bagus pula,

"Intinya, bisa mempunyai anak yang alim ketika istrinya tidak terlalu mengurusi dunia dan sangat taat atau patuh terhadap suaminya. Ketika kamu lebih memilih istri yang mengurusi dunia, maka kamu yang harus berani riyadhoh (berdoa). Jika tidak berani riyadhoh, maka carilah istri yang suka berdzikir dan kamu yang memikirkan dunia atau kerja." [KARTANU]

Ahmad Zain Bad

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/kisah-wanita-yang-jatuhkan-kuasa-raja-dan-pesan-mbah-maimoen-memilih-istri.html

Sabtu, 28 Maret 2009

Konflik Politik: Dulu Musuhan Dengan Partai Itu, Sejak Ada Ini, Kok Ganti Lawan

KARTANU - Sewaktu kecil sekolah di SD, saya tiap hari berangkat dan pulang jalan kaki, bersama teman-teman maupun sendiri. Berbeda dengan pelajaran yang banyak telah lupa, saya masih ingat banyak peristiwa yang saya lihat ketika berjalan menuju dan dari sekolah tersebut. Di antara yang saya sangat ingat adalah peristiwa politik: Pemilu.

Saya titeni, setiap menjelang Pemilu, ada satu regu tentara Angkatan Darat didatangkan. Karena desa saya ada di pusat kecamatan, maka di desa saya itulah regu tentara ditempatkan. Biasanya diinapkan di rumah kedua milik Kepala Desa yang terletak persis di depan tanah pekarangan milik Bapak saya. Yaitu di rumah yang pernah jadi kantor Pos, dan sekarang ditinggali Sekretaris Desa Sedan.

Setiap pagi, para tentara itu dibariskan di lapangan yang berada persis di belakang SD saya. Mereka disuruh lari pagi, bernyanyi dengan nada sorak. Senam pagi mereka sambil mengangkat senapan laras panjang. Dari atributnya saya tahu, mereka dari Batalion Infantri Alugoro yang bermarkas di Blora, Jawa Tengah.

Konflik Politik: Dulu Musuhan Dengan Partai Itu, Sejak Ada Ini, Kok Ganti Lawan - KARTANU
Konflik Politik: Dulu Musuhan Dengan Partai Itu, Sejak Ada Ini, Kok Ganti Lawan - KARTANU


Konflik Politik: Dulu Musuhan Dengan Partai Itu, Sejak Ada Ini, Kok Ganti Lawan

Saya dan teman-teman melihat langsung bagaimana “ngerinya” tentara menggladi jasmaninya. Komandan regu tampak sering membentak. Wajah-wajah tentara itu juga tampak garang, membuat kami sangat takut tak berani mendekat apalagi bermain bersama tentara. Minimal saya sendiri takut, namun saya berani menonton (melihat seksama) aksi para tentara ketika berbaris itu. Karena memang pemandangan langka di desa.

KARTANU

Di luar urusan senam dan berbaris, ternyata regu tentara itu diberi tugas untuk menjaga stabilitas politik agar Pemilu lancar dan tidak ada masalah, begitu penjelasan yang saya terima dari sedulur saya yang jadi perangkat desa. Saya tidak mengerti apa itu stabilitas, namun yang saya lihat adalah para serdadu itu sangat rajin berpatroli.

Siang hari apalagi malam, mereka seperti tak pernah tidur mengitari seisi desa se-kecamatan Sedan untuk menjalankan tugas pengamanan atau pengawasan itu. Setiap ada orang berkerumun sebanyak lima orang atau lebih, di pasar atau di rondan (gardu ronda-tepatnya gubuk sederhana terbuat dari bambu atau kayu), para tentara itu langsung mendatanginya. Mereka meminta agar orang-orang bubar dan pulang ke rumah. Tidak boleh berkumpul sebanyak lima orang atau lebih. Meski Cuma rokok-rokokan dan mengobrol soal pertanian.

KARTANU

Saya lihat para tentara itu rajin sekali mendatangi setiap perkumpulan orang. Merekam setiap ada pengajian, membuat kelompok ronda untuk meminta bantuan masyarakat mengawasi lingkungannya. Polisi yang ada di Polsek juga turut diajak berpatroli dan menggerakkan apa yang disebut sistem keamanan lingkungan (siskamling).

Saya yang sering tidur di langgar (kebiasaan di desa saya, jika anak lelaki sudah sunat alias khitan, tidak lagi tidur bareng orang tua), pernah beberapa kali ikut ronda malam hari karena diajak orang-orang dewasa. Jadi, saya tahu persis betapa mencekamnya suasana menjelang Pemilu, tentara mengawasi begitu ketatnya.

Dari pembicaraan bapak-bapak tentara dan tim ronda, saya mendengar tentang operasi penggalangan kekuatan untuk kemenangan Golkar. Semua pegawai negeri sudah pasti wajib Golkar, tinggal para kepala desa dan perangkatnya yang hendak dipengaruhi.

Pendataannya sangat bagus, dicatat rapi oleh Pak Tentara. Saat itu memang ada aturan Dwi Fungsi ABRI, jadi tentara selain bertugas menjaga pertahanan dan keamanan negara, juga menjadi pembina politik dengan tugas khusus memenangkan Golkar. Agar pembangunan lancar dan stabil, maka negara harus dikuasai Golkar, begitu kampanye yang saya dengar.

Saya tahu, sejak orde baru berdiri, Golkar tidak pernah menang di kecamatan saya. Hanya menang di beberapa desa yang kepala desanya memang Pro Golkar secara sadar (bukan karena ketakutan). Maka Golkar menggunakan segala cara untuk menang. Saya tidak mengerti apakah itu buruk atau tidak, waktu itu. Wong memang Cuma bocah SD. Yang saya tahu, politik waktu itu penuh ketegangan.

Ketika kampanye Golkar digelar di lapangan, para jurkamnya berpidato begitu hebohnya. Didatangkan pula seorang kyai dari kota untuk mempengaruhi warga kecamatan saya yang 100% beragama Islam. Karena jelas kecamatan saya terkenal sebagai daerah santri, maka Golkar membagikan Al-Qur’an dan Turutan (mushaf juz amma) kepada warga. Saya ikut kebagian dua mushaf tersebut dengan mengambil di kantor Kepala Desa. Tentu saja ada warna kuning dan logo Golkarnya, namun di dover tambahan. Bukan cover tercetak yang permanen.

Di desa saya, kampanyenya masih damai, dengan teknik pendekatan keagamaan begitu, tapi di desa lain, saya dengar ada kekerasan. Ada sedulur saya seorang warga desa Sambiroto, dipukuli tentara karena terang-terangan memamerkan gambar PPP di depan kerumunan tentara yang sedang patroli.

Sedulur saya, secara berombongan, bahkan dikeroyok dengan senjata tajam kala mengikuti kampanye PPP dan melewati desa Menoro. Untunglah, Gusti Allah masih melindungi para sedulur saya sehingga selamat dari bacokan kepala Desa Sambiroto dan anak buahnya. Hanya saja, sepeda motor mereka hancur kecuali sepeda motornya Kak Imdad.

Meski aksi politik Golkar begitu kerasnya, nyatanya tetap tak pernah menang di kecamatan Sedan. PPP yang diidentifikasi sebagai partai Islam, selalu menang, meski, tak pernah boleh punya bupati atau wakil bupati. Maksimal hanya anggota dewan dengan kursi sedikit yang tidak kuat suaranya di gedung DPRD Kabupaten.

Dengan aksi kekerasan yang begitu ganas oleh Golkar, saya waktu itu menduga, para akvitis PPP akan dendam kepada partai berlambang pohon Beringin tersebut. Minimal mendoakan buruk.

Ternyata dugaan saya salah. Kala reformasi terjadi, demokrasi sudah tidak terkungkung lagi, orang bebas mendirikan partai, orang-orang PPP tidak menggunakan kesempatan untuk menghabisi Golkar, baik dengan cara halus atau kasar, malah energi kemarahan itu ditumpahkan kepada PKB.

Sungguh sulit masuk nalar saya kala itu, ketika dengan nyata saya lihat sendiri bagaimana begitu kejamnya orang PPP membuat ujaran kebencian kepada Gus Dur dan PKB. Dibilang PKB itu Partai Komunis Baru, Gus Dur itu si buta dari goa hantu, dan sebagainya. Sama sekali tidak saya dengar hujatan kepada Golkar yang jelas-jelas selama 32 tahun mendholimi PPP.

Bahkan saat Gus Dur difitnah dan dijatuhkan oleh Amien Rais dkk, PPP termasuk yang paling getol menebar fitnah itu dan baru reda hujatannya kepada Gus Dur setelah Ketum PPP, Hamzah Haz, jadi wakil presiden.

Saking bencinya PPP sama PKB, ada banyak kejadian memilukan di desa saya. Sedulur saya yang dulu pernah dibacoki orang Golkar, kini diancam bunuh juga oleh orang PPP karena beliau ngugemi dhawuh gurunya untuk menjadi pengurus PKB. Lalu, teman saya yang mondok di sebuah pesantren di desa saya, dicaci maki lalu disobek-sobek kaosnya karena yang dia pakai kaos bergambar PKB.

Saya sampai sekarang tidak berani bertanya mengapa dulu PPP begitu memusuhi PKB seperti seolah musuh kafir yang harus dimusnahkan. Padahal sesama muslim dan sama-sama satu perjuangan ketika ditindas Golkar. Sedulur-sedulur saya juga tidak berani bertanya. Kawan-kawan saya juga tidak berani bertanya. Kami semua memilih diam saja dan berdoa semoga anak-anak kami tidak mengalami kejadian begitu rupa. [KARTANU]

Keterangan: Status ini bukan untuk menguak luka lama atau bermaksud lain, hanya muhasabah setelah dinasehati sedulur saya yang pernah jadi korban itu. Beliau ngendika: tetaplah berjuang tanpa pamrih, Gusti Allah yang akan membalasnya. 

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/konflik-politik-dulu-musuhan-dengan-partai-itu-sejak-ada-ini-kok-ganti-lawan.html

Senin, 14 April 2008

KH Syukron Mamun: Islam Hidup karena Banyak Bidah

Jakarta, KARTANUPengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman Jakarta KH Syukron Mamun menjelaskan, bidah berasal dari bahasa Arab badaa yang memiliki arti barang baru yang tidak ada sebelumnya. Lebih khususnya, bidah adalah amalan yang tidak ada pada zaman Nabi Muhammad. Menurutnya, bidah itu ada dua, yaitu bidah yang baik dan bidah yang tercela.

Imam Syafii mengatakan bahwa bidah itu ada dua, bidah yang terpuji dan bidah yang tercela. Bidah yang terpuji adalah yang sesuai dengan Al-Quran dan hadis. Sedangkan, yang tercela adalah yang bertentangan dengan Al-Quran dan hadis, terang Kiai Syukron saat berceramah pada Peringatan Haul Ke-1 KH Ali Musthafa Yaqub di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (15/4) malam.

KH Syukron Mamun: Islam Hidup karena Banyak Bidah (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Syukron Mamun: Islam Hidup karena Banyak Bidah (Sumber Gambar : Nu Online)


KH Syukron Mamun: Islam Hidup karena Banyak Bidah

Maka dari itu, ia menilai, tidak semua bidah itu jelek dan tercela. Ia mecontohkan, Khalifah Umar bin Khattab juga melakukan dan menganjurkan bidah yang baik seperti mengadakan Shalat Terawih berjamaah.

KARTANU

Sebelumnya Shalat Terawih itu sendiri-sendiri. Kemudian Umar melakukan Shalat Terawih berjamaah. Adapun yang menjadi imamnya adalah Ubay bin Kaab. Umar pun berkata inilah sebagus-bagusnya nikmat, urai Kiai Syukron.

Lebih jauh, ia mengkritik mereka yang melarang orang melaksanakan bidah hasanah seperti tahlil, maulid, shalawatan, dan lainnya. Menurutnya, orang tersebut adalah mereka yang memahami Al-Quran dan hadis secara sepotong-sepotong.

KARTANU

Dalam memahami agama itu itu, tidak cukup satu dua ayat Al-Quran. Tidak hanya cukup satu dua hadis, tegasnya.

Hanya modal dua ayat tiga ayat menganggap kiai salah semua, lanjutnya.

Ia menilai, Nabi Muhammad menyuruh umatnya untuk membuat bidad yang baik sebanyak-banyaknya. Karena semakin banyak bidah yang baik maka itu akan semakin bagus dan membuat Islam semakin hidup.

Hidupnya Islam karena banyaknya bidah. Bidah yang ada sandarannya dalam Al-Quran dan hadis, pungkasnya. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/77043/kh-syukron-mamun-islam-hidup-karena-banyak-bidah

KARTANU

Rabu, 20 Juli 2005

Keikhlasan Amal Ibadah Datangkan Kasih Sayang

Pringsewu, KARTANU. Saat Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) Kitab Bidayatul Hidayah karya Imam Ghazali, Mustasyar PCNU Kabupaten Pringsewu KH Anwar Zuhdi mengatakan bahwa Manusia tidak akan masuk ke surga kecuali harus masuk ke neraka terlebih dahulu.

"Yang akan masuk langsung ke surga adalah seorang hamba bukan manusia. Man itu orang Nusia itu dilupakan. Makanya manusia sering lupa banyak dosa sehingga harus masuk neraka untuk dibersihkan setelah bersih manusia akan menjadi hamba dan kemudian masuk ke surga," jelasnya pada kegiatan yang dilaksanakan rutin setiap pekan di Aula Gedung NU ini, Ahad (01/01).

Keikhlasan Amal Ibadah Datangkan Kasih Sayang (Sumber Gambar : Nu Online)
Keikhlasan Amal Ibadah Datangkan Kasih Sayang (Sumber Gambar : Nu Online)


Keikhlasan Amal Ibadah Datangkan Kasih Sayang

Lebih lanjut Abah Anwar, begitu Ia biasa disapa mengatakan bahwa prinsip seorang hamba sangat sulit sekali diraih. Hal ini karena hamba merupakan sosok yang ikhlas dalam beribadah tanpa pamrih dan tidak memperdulikan imbalan. "Mendapat pahala nggak mendapat pahala, seorang hamba tetap istiqomah beribadah," tegasnya.

KARTANU

Prinsip hidup seorang hamba dengan mengedepankan keikhlasan akan mendatangkan kasih sayang dari yang memiliki hidup. Ia mengibaratkan bila seorang pembantu rumah tangga bekerja sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh majikannya dan tidak peduli dengan pekerjaan lainnya maka Ia akan mendapatkan sebanyak yang Ia harapkan.

Namun sebaliknya, jika Ia bekerja dengan ikhlas, segala pekerjaan yang belum beres diselesaikan dengan baik tanpa menunggu perintah majikan maka terkadang Ia akan mendapatkan lebih dari yang biasa yang Ia terima.

"Kalau kita melakukan segala hal dengan ikhlas, maka kita akan di beri kasih sayang yang sebelumnya tidak pernah terfikirkan," ujarnya.

KARTANU

Oleh karenanya, Abah Anwar menghimbau agar dalam mengawali dalam melakukan segala sesuatu hendaknya selalu menata hati dan niat dengan benar. "Menata hati itu susah. Namun kita harus terus berusaha agar amal ibadah kita tidak sia-sia dengan selalu mengedepankan keikhlasan dalam melakukannya," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/74298/keikhlasan-amal-ibadah-datangkan-kasih-sayang

KARTANU

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KARTANU sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KARTANU. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KARTANU dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock