Tampilkan postingan dengan label Seni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Februari 2016

Cinta Lingkungan, Madrasah NU Wonosobo Tanam 1000 Pohon

Wonosobo, KARTANU. Cara sekolah mengajarkan sesuatu pada muridnya tak mesti dilaksanakan di kelas. Madrasah Tsanawiyah (MTs) Maarif NU Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, melatih siswa-siswinya secara rutin melakukan aksi tanam 1000 pohon di Desa Kreo, Kecamatan Kejajar.

Kegiatan ini guna menanamkan jiwa cinta terhadap lingkungan dan juga merawat lingkungan. Harapan kami agar para siswa cinta terhadap lingkungan, terang Supriyadi, pembina Pramuka MTs Maarif NU Kejajar kepada KARTANU, Kamis (13/11).

Cinta Lingkungan, Madrasah NU Wonosobo Tanam 1000 Pohon (Sumber Gambar : Nu Online)
Cinta Lingkungan, Madrasah NU Wonosobo Tanam 1000 Pohon (Sumber Gambar : Nu Online)


Cinta Lingkungan, Madrasah NU Wonosobo Tanam 1000 Pohon

Disebutkan pula, 1000 pohon yang ditanam itu merupakan hasil dari pembibitan di sekolah. Setelah tumbuh agak besar, ditanamlah di beberapa lokasi di Desa Kreo. Semoga saja setelah ditanam, nantinya bisa dirawat hingga tumbuh dan hidup menjadi lebih besar serta bermanfaat, jelasnya.

Aksi tanam pohon ini terangkai dalam agenda rutin Perkemahan Sabtu-Minggu (Persami). Secara rutin MTs Maarif Kejajar melakukan Persami. Namun, Persami kali ini berbeda dengan persami sebelumnya. Persami kali ini para melakukan aksi tanam 1000 pohon di desa Kreo Kecamatan Kejajar, tambah Supriyadi.

KARTANU

KARTANU

Pihak sekolah berharap, aksi yang diikuti sekitar 250 siswa dari kelas VII sampai IX ini berlanjut hingga ke tingkat perawatan dan penjagaan sehingga jerih payah peserta dalam gerakan cinta lingkungan tidak sia-sia. (Fathul Jamil/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/48191/cinta-lingkungan-madrasah-nu-wonosobo-tanam-1000-pohon

KARTANU

Kamis, 16 April 2015

Visualisasi Sejarah yang Coba Mengangkat Citra NU

Pemahaman yang mudah dicerna oleh siapa pun, baik anak-anak maupun orang dewasa dengan tanpa celah, melahirkan pikiran untuk memvisualisasikan sejarah dalam bentuk sesuatu yang disenangi. Jadilah, komik berjudul: NU You Know? Cikal Bakal dan Kelahiran.

Seperti apakah Nahdlatul Ulama (NU) itu? Sosok Lolo yang orang kota mencoba menggambarkannya. NU itu hebat ya, tidak hanya menembus dinding asrama saja, melainkan juga pesantren. Selain itu, orang-orang NU itu sangat dihormati dan disegani siapa saja, paparnya.

Lolo adalah salah satu tokoh utama dalam serial komik sejarah NU terbitan Bedug Aswaja. Ia diceritakan pergi ke Bali dan mendapat masalah sewaktu menabrak ayam di sekitar pesantren.

Visualisasi Sejarah yang Coba Mengangkat Citra NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Visualisasi Sejarah yang Coba Mengangkat Citra NU (Sumber Gambar : Nu Online)


Visualisasi Sejarah yang Coba Mengangkat Citra NU

Selain Lolo, ada tokoh lain dalam serial komik berjudul, NU You Know ? Cikal Bakal dan Kelahiran. Komik ini mengupas secara detil cikal bakal dan kelahiran NU, yakni Lola Acun, anak Kiai Tabrani di salah satu Pondok Pesantren.

Contoh-contoh itu mengilhami tokoh muda NU, yang dimotori oleh Arif Junaidi selaku Ketua Dewan Pembina Bedug Aswaja, untuk memberitahukan tentang NU secara utuh kepada generasi muda.

"Masyarakat dan anak-anak Indonesia umumnya dan Jawa Timur (Jatim) khususnya, yang dengan mudah mencerna, memahami, dan menyukai sesuatu ketika diwujudkan secara visual," ungkap Arif Junaidi di sela peluncuran komik sejarah NU di Gedung Museum NU, Jalan Gayungsari Timur, Surabaya, Minggu (17/9) lalu.

Visualisasi itu sekaligus menepis citra bahwa masyarakat NU itu tradisional, yang secara gaya berpikir kalah atau tertinggal dibanding kelompok lain. Bersama enam orang lainnya, terdiri dari tiga peneliti dan pengumpul data, satu komikus, satu penulis narasi dan satu bagian umum, mereka mulai mencetuskan ide pada bulan Agustus 2004.

KARTANU

Banyak buku-buku tentang NU di pasaran yang bahasanya sulit dicerna masyarakat umum. Untuk itu, kami bekerja keras dan berpikir untuk membuat sebuah bacaan tentang NU yang digambarkan melalui media komik. Ini supaya mudah dipahami, baik dari kalangan muda maupun tua, ujar Arif mengisahkan awal mula dibuatnya komik tersebut.

KARTANU

Tidak terlalu mudah untuk menuangkan gagasan cemerlang tersebut. Kendala pun mulai datang, seperti bagaimana memvisualisasikan sejarah dari perkataaan satu tokoh dengan tokoh lainnya. Rentang masa yang sangat jauh, antara pembuatan komik dengan sejarah yang diangkat juga menjadi masalah berikutnya yang cukup serius.

Hal tersulit yang dihadapi tim adalah proses penggambaran suasana pondok pesantren dan visualisasi Mekah sebelum tahun 1926. Tim pembuat komik rela duduk berjam-jam dan berhari-hari di beberapa Ponpes di Jombang. Ponpes Tebuireng, Tambak Beras, Denanyar, sehingga bisa menggambarkan suasana pada masa itu. Sedangkan untuk kondisi Mekah didapat dari Habaib di Surabaya yang punya gambar Mekah tahun 1900-an, lanjut Arif yang juga anggota DPRD Jatim.

Ia menambahkan, komik hasil karya Media Komunikasi Nahdliyin yang tergabung dalam Bedug Aswaja ini tidak seperti komik pada umumnya yang banyak menonjolkan khayalan. Komik NU justru membutuhkan data, referensi yang valid dan interview berbagai tokoh NU.

Komik NU ini bukan sembarang komik. Sebab proses pembuatannya membutuhkan waktu yang cukup panjang dan membutuhkan data, referensi yang valid. Bahkan untuk literaturnya saja banyaknya sa-gledekan. Selain itu, data juga diperkuat dengan interview dengan tokoh NU dan keturunan Hadratus Syekh KH Hasyim Asyari, yakni Pak Ud, terangnya.

Untuk komik edisi pertama, pihaknya mengetengahkan tentang cerita sejarah NU mulai sebelum berdiri hingga kemerdekaan. "Edisi kedua, kami mengangkat NU pada masa kemerdekaan sampai NU menjadi partai tahun 1952," terang Arif yang tengah menyiapkan seri komik tersebut hingga edisi keenam, sampai NU kembali ke khittah. (bersambung/Arief Hidayat)

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/5333/visualisasi-sejarah-yang-coba-mengangkat-citra-nu

KARTANU

Kamis, 23 Januari 2014

Ini Dalil Mahallul Qiyam Maulid

KARTANU - Mahallul Qiyam atau berdiri ketika tengah membaca shalawat itu sangat-sangat dibolehkan. Jika ada yang membid'ahkan mahallul qiyam ketika kita sedang membaca sirah nabawiyah dalam bentuk syair berbait macam Al Barzanji, Diba', Burdah, SImtut Duror dan lainnya, maka ia sebetulnya sedang melarang kita untuk berdzikir, padahal, berdzikir kepada Allah dapat dilakukan dalam posisi apapun, sebagaimana dalam ayat berikut:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ ... (ال عمران ١٩١)

"(Ulul Albab yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring..." (Ali Imran: 191)

Ini Dalil Mahallul Qiyam Maulid - KARTANU
Ini Dalil Mahallul Qiyam Maulid - KARTANU


Ini Dalil Mahallul Qiyam Maulid

KARTANU

Dan kita ketahui bahwa shalawat adalah dzikir karena diperintahkan dalam Al-Quran dan banyak hadist. Dengan demikian, membaca shalawat tetap boleh, baik dengan cara duduk atau berdiri.

Amaliah di lingkungan kita berupa berdiri saat mengisahkan kelahiran Nabi Muhammad shalla Allahu alaihi wa sallama telah dilakukan sejak abad pertengahan Islam yang dilakukan seorang ulama yang bertaraf mujtahid di lingkungan Madzhab Syafiiyah, yaitu Imam As-Subki, sebagaimana disampaikan oleh ulama ahli sejarah Syekh Ali Al-Halabi dalam kitabnya "Insan al-Uyun Fi Sirat Al-Amin Al-Ma'mun":

ﻭﻗﺪ ﻭﺟﺪ اﻟﻘﻴﺎﻡ ﻋﻨﺪ ﺫﻛﺮ اﺳﻤﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻣﻦ ﻋﺎﻟﻢ اﻷﻣﺔ ﻭﻣﻘﺘﺪﻱ اﻷﺋﻤﺔ ﺩﻳﻨﺎ ﻭﻭﺭﻋﺎ اﻹﻣﺎﻡ ﺗﻘﻲ اﻟﺪﻳﻦ اﻟﺴﺒﻜﻲ، ﻭﺗﺎﺑﻌﻪ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﻣﺸﺎﻳﺦ اﻹﺳﻼﻡ ﻓﻲ ﻋﺼﺮﻩ، ﻓﻘﺪ ﺣﻜﻰ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺃﻥ اﻹﻣﺎﻡ اﻟﺴﺒﻜﻲ اﺟﺘﻤﻊ ﻋﻨﺪﻩ ﺟﻤﻊ ﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﻋﻠﻤﺎء ﻋﺼﺮﻩ ﻓﺄﻧﺸﺪ ﻣﻨﺸﺪ ﻗﻮﻝ اﻟﺼﺮﺻﺮﻱ ﻓﻲ ﻣﺪﺣﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ:

KARTANU

"Bentuk berdiri semacam ini ketika menyebut nama Nabi shalla Allahu alaihi wa sallama (mahallul qiyam) sungguh telah ditemukan dari ulamanya umat Islam dan panutan para imam, dari segi agamisnya dan kewara'annya (menjauhi hal-hal yang haram dan syubhat), yaitu Imam As-Subki dan diikuti oleh para ulama di masanya.

Sebagian ulama menceritakan bahwa Imam Subki dan para ulama berkumpul, lalu seorang penyair melantunkan syair pujian karya Ash-Sharshari untuk Nabi shalla Allahu alaihi wa sallama [bahr thawil] :

ﻗﻠﻴﻞ ﻟﻤﺪﺡ اﻟﻤﺼﻄﻔﻰ اﻟﺨﻂ ﺑﺎﻟﺬﻫﺐ ... ﻋﻠﻰ ﻭﺭﻕ ﻣﻦ ﺧﻂ ﺃﺣﺴﻦ ﻣﻦ ﻛﺘﺐ ﻭﺃﻥ ﺗﻨﻬﺾ اﻷﺷﺮاﻑ ﻋﻨﺪ ﺳﻤﺎﻋﻪ ... ﻗﻴﺎﻣﺎ ﺻﻔﻮﻓﺎ ﺃﻭ ﺟﺜﻴﺎ ﻋﻠﻰ اﻟﺮﻛﺐ

Artinya: "Sedikit sekali tulisan yang memuji Nabi pilihan dengan tinta emas di atas lembaran perak dalam tulisan terbaik. Hendaklah orang-orang mulia berdiri ketika mendengarnya, berdiri bershaf-shaf, atau berlutut diatas kendaraan"

ﻓﻌﻨﺪ ﺫﻟﻚ ﻗﺎﻡ اﻹﻣﺎﻡ اﻟﺴﺒﻜﻲ ﺭﺣﻤﻪ اﻟﻠﻪ ﻭﺟﻤﻴﻊ ﻣﻦ ﻓﻲ اﻟﻤﺠﻠﺲ، ﻓﺤﺼﻞ ﺃﻧﺲ ﻛﺒﻴﺮ ﺑﺬﻟﻚ اﻟﻤﺠﻠﺲ، ﻭﻳﻜﻔﻲ ﻣﺜﻞ ﺫﻟﻚ ﻓﻲ اﻻﻗﺘﺪاء.

Saat itulah Imam As-Subki berdiri bersama orang yang hadir dalam majelis. Keharuan yang besar terdapat dalam mejelis tersebut. Hal semacam ini sudah cukup [boleh] untuk diikuti" (As-Sirah Al-Halabiyah, 1/123 dikutip oleh banyak para ulama termasuk pengarang kitab Ianah Ath-Thalibin). [KARTANU]

Ma'ruf Khozin, Aswaja NU Center PWNU Jatim.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/ini-dalil-mahallul-qiyam-maulid.html

Selasa, 14 Januari 2014

Orang Wahabi Ini Tidak Mau Naik Mobil Karena Bidah

KARTANU - Foto di atas adalah penampakan seorang wahabi di Kota Paris, Perancis yang sedang mengendarai keledai di tengah padatnya lalu lintas mobil di sekitarnya, (31/04/2016) pagi, ketika menuju tempat kerja.

Alasan yang digunakan agar nyaman mengendarai keledai adalah untuk menjaga kemurnian akidahnya dari tindakan menyerupai orang kafir. Kata lelaki bernama Wahab Asani Khan itu, menumpang mobil tidak ada di zaman Rasulullah. Karena itulah, ia menganggapnya bid'ah.

Orang Wahabi Ini Tidak Mau Naik Mobil Karena Bidah - KARTANU
Orang Wahabi Ini Tidak Mau Naik Mobil Karena Bidah - KARTANU


Orang Wahabi Ini Tidak Mau Naik Mobil Karena Bidah

Jika mobil yang menciptakan adalah orang kafir, maka mobil identik dengan orang kafir sehingga menumpang produk orang kafir adalah tasyabbuh bil kuffar, yang artinya sama dengan mereka, kafir juga.

Ia memilih menunggang keledai karena hal itu adalah syariat yang dilakukan di masa Nabi Muhammad SAW masih hidup. Sayangnya, ia masih menggunakan sepatu dan tas ransel untuk membawa keperluannya. Duh.

KARTANU

Padahal, jika dia benar-benar murni, ia bisa dapat predikat orang wahabi aliran Najed yang patut ditiru oleh muslimin wahabi lainnya di muka bumi. Benar ingin murni atau marni sih tuh orang? [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/wow-orang-wahabi-ini-tidak-mau-naik-mobil-karena-bidah.html

KARTANU

Jumat, 21 Desember 2012

Ketangguhan Maritim Akan Dibahas Komisi Rekomendasi

Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2014 antara lain membincang pembangunan industri maritim yang tangguh. Sebagai negara kepulauan dengan sumber daya kelautan yang sangat melimpah, Indonesia sudah seharusnya menjadi negara dengan isndustri maritim yang tangguh.

Pengembangan industri maritim dimaksudkan untuk meningkatkan nilai tambah produksi hasil-hasil perikanan dan kelautan rakyat yang selama ini lebih banyak diekspor dalam bentuk mentah, demikian dalam draft materi Munas-Konbes NU 2014 pada komisi rekomendasi.

Ketangguhan Maritim Akan Dibahas Komisi Rekomendasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketangguhan Maritim Akan Dibahas Komisi Rekomendasi (Sumber Gambar : Nu Online)


Ketangguhan Maritim Akan Dibahas Komisi Rekomendasi

Konektivitas yang baik antar daerah di negara kepulauan seperti Indonesia menjadi syarat mutlak untuk mengembangkan ekonomi dan pembangunan industri maritim nasional yang tangguh. Koneksivitas Indonesia dengan kawasan regional dan global yang berbasis kelautan juga perlu lebih ditingkatkan.

KARTANU

Beberapa hal yang akan dibahas di Komisi Rekomendasi pada bagian adalah lingkungan hidup, percepatan pembangunan infrastruktur fisik yang berwawawasan lingkungan, meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi penyelenggaraan pembangunan ekonomi yang berkualitas.

KARTANU

NU juga akan mendorong sektor rill yang memihak rakyat, memprioritaskan peningkatan kesejahteraan perempuan miskin, reformasi birokrasi untuk meningkatkan kepercayaan investor dengan keadilan sosial.

Pelaksanaan reformasi agraria secara konsekuen, renegosiasi kontrak-kontrak pemanfaatn sumber daya alam yang tidak menguntungkan rakyat dan negara, memberdayakan koperasi UMKM, dan industri kreatif sebagai tulang punggung ekonomi, menciptakan struktur ekonomi yang berkeadilan, membangun kedaulatan pangan dan energi, serta membangun kedaulatan ekonomi juga akan dibincang dalam komisi rekomendasi.

Selain Komisi Rekomendasi, ada Komisi Bahsul Matsail dan Komisi Organisasi. Munas dan Konbes bertema mengkonsolidasi Keorganisasian NU untuk memperkokoh kedaulatan RI tersebut akan berlangsung 1-2 November 2014. (Abdullah Alawi)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/55437/ketangguhan-maritim-akan-dibahas-komisi-rekomendasi

KARTANU

Senin, 30 Mei 2011

Ini Ijazah KH Syaroni Ahmadi Kudus Bisa Cepat Naik Haji

KARTANU - Suatu hari di tahun 1990-an, KH M Sya’roni Ahmadi mengadu kepada gurunya, KH Bisri Musthofa, ayahanda Gus Mus, tentang keinginan berangkat ke tanah suci yang belum juga terpenuhi. Singkat cerita, KH Bisri Musthofa memberikan trik khusus kepada murid kesayangannya itu supaya keinginan untuk beribadah ke tanah suci segera terwujud.

KH. Sya’roni pun segera mengamalkan apa yang dipesankan oleh sang guru, yakni salat Tahajjud setiap malam, cukup dua rakaat, membaca surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlas. Setelah salam mewirid istighfar 70 kali, selawat nabi 100 kali, serta lafadz “yaa syakuur” 1000 kali. KH. Sya’roni benar-benar mengamalkannya dengan istiqamah setiap malamnya.

Sampai tiba suatu hari, KH. Sya’roni didatangi tamu seorang lelaki muda, gagah dan tampan yang tak dikenal. Rupanya, ia merupakan alumni madrasah Qudsiyyah Kudus. Kepada beliau, lelaki ini mengaku bahwa saat itu tengah menjabat sebagai seorang petinggi kolonel.

Ini Ijazah KH Syaroni Ahmadi Kudus Bisa Cepat Naik Haji - KARTANU
Ini Ijazah KH Syaroni Ahmadi Kudus Bisa Cepat Naik Haji - KARTANU


Ini Ijazah KH Syaroni Ahmadi Kudus Bisa Cepat Naik Haji

Tiba-tiba lelaki tadi bertanya, apakah KH. Sya’roni masih mengajar di Qudsiyyah. Jawabannya “masih”. Lalu kolonel tadi kembali bertanya, “naik apa?”. KH. Sya’roni agaknya merasa aneh dengan pertanyaan ini, sebab dengan posisi tempat tinggal dan madrasah yang tak jauh, tentu saja tidak ada jawaban lain selain “sepeda,” yang pantas untuk jawaban saat itu.

KARTANU

Tak pernah menyana sebelumnya, setelah mendengar jawaban “sepeda”, kolonel muda itu berujar dengan nada yang amat serius, “Bagaimana kalau Bapak Sya’roni saya belikan mobil?”

KARTANU

KH. Sya’roni terdiam. Betapa berbudinya murid yang satu ini. Lama tidak pernah bertemu, kini jauh-jauh mendatangi guru masa kecilnya untuk menawari sebuah mobil gratis. Sebuah mobil yang dimaksud mengganti sepeda tua untuk berangkat mengajar ke madrasah. Cukup geli rasanya mengingat betapa biasanya murid di madrasahnya sering menunggak SPP. Sekarang malah ada murid yang menawari mobil baru gratis. KH. Sya’roni menangis, terharu dengan tingkah kolonel santun ini.

Tak ingin berlama-lama hanyut dalam keharuan, KH. Sya’roni kemudian memutuskan untuk ‘menawar’ bakal hadiahnya.

“Kalau misalkan saya minta ganti selain mobil, bisa nggak?” tawar KH. Sya’roni pada kolonel muda.

“Selain mobil, emm… apa itu?” tanya kolonel.

“Naik haji,” jawab KH. Sya’roni mantab.

“Oh, tentu saja bisa.”

Jawaban kolonel ini sekaligus menjawab doa KH Sya’roni selama bertahun-tahun. Akhirnya, beliau membuktikan sendiri bahwa lafal “yaa syakuur” yang diijazahkan oleh KH Bisri Musthofa memang mujarab.

Setelah sukses mengamalkan “yaa syakuur” sendiri, beliau mengajak keluarganya untuk turut juga mengamalkannya setiap malam. Dan benar, beberapa tahun kemudian, KH Sya’roni berangkat ke tanah suci untuk yang kedua kali. Beliau diajak oleh seorang aghniya’. Jika yang pertama dulu beliau berangkat sendiri, maka yang kedua ini beliau berangkat bersama istrinya. Dan tentunya, tanpa biaya, berkat “yaa Syakuur”. Begitu, Allah memberikan jalan bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya, dengan perantara yang kadang tak terduga, termasuk wirid “yaa Syakuur”.

Dan kini, Mustasyar PBNU itu mengajak kita untuk bersama-sama turut juga mengikuti jejaknya, mengamalkan wirid “yaa Syakuur”, agar segera memenuhi panggilan ke Baitullah. Tentu saja, dengan tanpa meninggalkan rangkaian amalan sebelumnya yang juga diamalkan oleh KH. Sya’roni secara tekun dan niat yang ikhlas. [KARTANU/ istahiyyah]

Keterangan:

Ditulis berdasarkan mauidhoh hasanah yang disampaikan KH Sya’roni Ahmadi pada peringatan harlah Madrasah NU Mu’allimat Kudus di gedung JHK, Kudus, Rabu Pon (12 Muharrom 1436 H).

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/ini-ijazah-kh-syaroni-ahmadi-kudus-bisa-cepat-naik-haji.html

Senin, 02 Agustus 2010

Secara Ilmiah Idul Adha 17 November

Jakarta, KARTANU. Hari Raya Idul Adha tahun 2010 ini kembali berbeda. Namun berdasarkan perhitungan ilmiah seharusnya memang jatuh pada Rabu (17/11). Karena, tidak mungkin ada rukyat hilal di Indonesia maupun Saudi pada 6 November. Sehingga 1 Dzulhijjah bertepatan dengan 8 November dan Idul Adha jatuh pada Rabu, 17 November 2010 ini.

Saya memilih Idul Adha Rabu, 17 November berdasarkan sidang isbat dan memiliki dasar ilmiah paling kuat,tutur peneliti senior astronomi dan astrofisika di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin, Senin (15/11).

Secara Ilmiah Idul Adha 17 November (Sumber Gambar : Nu Online)
Secara Ilmiah Idul Adha 17 November (Sumber Gambar : Nu Online)


Secara Ilmiah Idul Adha 17 November

Mengapa? Tidak adanya sistem penanggalan yang disepakati secara internasional, serta banyaknya kepentingan, menyebabkan perbedaan jatuhnya tanggal Hari Raya itu terjadi.

Muhammadiyah, mereka ini menggunakan kriteria wujud hilal. Asal bulan sudah berwujud maka positif. Namun NU, mereka didasarkan inkanur rukyiat atau kemungkinan bisa dirukyat dengan ketinggian bulan minimal dua derajat.

KARTANU

Karena itu ketika posisi bulan positif, tapi kurang dari dua derajat, seperti awal Zulhijjah sekarang maka sudah pasti terjadi perbedaan saat ada ketinggian bulan yang kritis.

KARTANU

Yang pasti secara astronomi, dua-duanya punya kelemahan. Baik wujud hilal dan ketinggian dua derajat. Terlalu rendah sehingga tidak bisa dirukyat. Ketinggian bulan minimal itu 4 derajat. Jarak bulan dan matahari lebih dari 6,4 derajat.

Tapi, yang benar adalah Rabu, 17 November berdasarkan sidang isbat dan memiliki dasar ilmiah paling kuat. Secara ilmiah misalnya, tidak mungkin ada rukyat hilal di Indonesia maupun Arab Saudi pada 6 November. Sehingga 1 Dzulhijjah bertepatan pada 8 November dan Idul Adha bertepatan pada 17 November 2010. (amf/ini)

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/25542/secara-ilmiah-idul-adha-17-november

Minggu, 11 April 2010

Ternyata Nyamuk Memiliki 100 Mata dan 3 Jantung

KARTANU - Seekor nyamuk diletakkan di bawah mikroskop, diperbesar 400 kali! Apa yang nampak? Ternyata, di kepalanya terdapat 100 mata. Padahal berat nyamuk itu hanya ada 0,001 gram. Subhanallah.

Di mulut nyamuk ada 48 gigi. Di dadanya pula terdapat tiga buah jantung yang pada tiap-tiap jantung ada dua atrium, dua bilik jantung serta dua katup jantung untuk bernafas. Sekecil apa ukuran jantung makhluk Allah Swt bernama nyamuk ini?

Selain itu, untuk mempertahankan diri, nyamuk dilengkapi oleh Allah Swt dengan alat pendeteksi panas. Nyamuk bisa mendeteksi lingkungan dan segala sesuatunya dengan pendeteksi panas tersebut.

Nyamuk juga memiliki alat pencair darah karena darah manusia itu terlalu kasar baginya. Darah dicairkan agar bisa mengalir ke belalai nyamuk. Nyamuk mengambil contoh darah manusia terlebih dahulu dengan mulai menggigit kita, manusia.

Indahnya lagi, nyamuk ternyata memiliki alat pembius sehingga orang yang diambil darahnya tidak selalu merasa sakit saat proses pengambilan darah. Beberapa detik kemudian, barulah efek bius itu hilang. Dan, kita seperti tercubit.

Jumlah belalai nyamuk ada 6 buah, semua berbetuk pisau. Empat buah pisau belalai nyamuk digunakan untuk membuat luka berbentuk segi empat ketika menggigit. Sedangkan dua pisau lainnya membentuk lubang sesuai besaran tabung penghisap darah.

Agar mengena korbannyya, di kaki nyamuk terdapat cakar. Di sana terdapat alat seperti bekam sehingga dapat menempel di tempat yang licin. Ajib.

MasyaAllah, semoga nyamuk yang kecil ini bisa menambah keimanan kita kepada penciptanya Allah Subhanahu wa ta'ala, walau kadang membuat kita sakit karena tidak mau bersih-bersih rutin.

Dalam Al-Qur'an, Allah Swt berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka tahu bahwa itu kebenaran dari Maha Pencipta. Tetapi mereka yang kafir berkata, "apa maksud Allah dengan perumpamaan ini? Dengan perumpamaan itu, banyak orang yang dibiarkan-nya sesat dan dengan itu banyak pula orang yang diberi-nya petunjuk. Tetapi tidak ada yang dia sesatkan dengan perumpamaan itu selain orang-orang fasik". (QS. al-Baqarah: 26)

MasyaAllah. Nyamuk adalah bukti bahwa Allah tidak pernah mendzolimi mahluknya. Di balik senjata nyamuk untuk menghisap darah, Allah memberi obat bius untuk menjaga supaya manusia tidak merasa sakit karena Allah Maha Tahu bahwa manusia sulit sekali menghindar dari gigitan nyamuk. Berbeda dengan hewan lainnya, di mana manusia masih bisa menghindar dari gigitan, misalnya kalajengking, ular dan lainnya. Wallahu a'lam. [KARTANU/ syaiful rosyid]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/menyibak-kebesaran-allah-lewat-nyamuk-yang-memiliki-100-mata-dan-bius.html

Selasa, 06 April 2010

Pola Dakwah Wali Songo Perlu Diteladani

Blitar, KARTANU. Pola dakwah wali Sembilan (wali songo) perlu diteladani oleh para kader dan penerus NU. Karena, pola yang dijalankan oleh para wali sederhana. Namun mengandung hikmah dan motivasi yang sangat tinggi.

Dalam berdakwah para wali ini tidak terlalu muluk-muluk dalam penyampaian. Namun, dinamis dalam pelaksanaannya," ujar Wakil Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Blitar, KH Noer Hidaytulloh Dawami kepada NU Onlie tadi pagi (10/1), usai melakukan ziarah makam dan pendiri NU di Jatim, tadi pagi.

Pola Dakwah Wali Songo Perlu Diteladani (Sumber Gambar : Nu Online)
Pola Dakwah Wali Songo Perlu Diteladani (Sumber Gambar : Nu Online)


Pola Dakwah Wali Songo Perlu Diteladani

Sitem dakwah para wali, lanjut Kiai Noer, tidak macem-macem. Baik pola maupun bahasanya. Sehingga masyarakat luas mudah menerima apa yang disampaikan.

KARTANU

Para wali itu semua hafal Quran dan hadits. Tapi mereka tidak banyak mengunakan dalil-dalil itu untuk disampaikan ke umatnya. Namun kandungannya yang dijlentrehkan berfaedah. Misalnya kenduri. Dulu kenduri itu bentuknya sesaji kepada mahluk gaib. Namun oleh wali diluruskan bahwa kenduri itu bagian dari shodaqoh. La shodaqoh itu bagian dari li dafil balak (menjauhkan dari mara bahaya)," ungkap Kiai Noer yang juga pengasuh pesantren Darur Roja Selokajang ini.

Jadi dakwahnya sangat sederhana. Namun mengena. Para wali tahu ini Jawa bukan Arab. Sehingga melalui tradisi dan buya itulah para wali bisa menyebarkan Islam di Jawa secara damai. Ini yang perlu diteladani," tambahnya.

KARTANU

Sebagimana diketahui, sukses pelaksanaan dan hasil dalam konfercab NU Kabupaten Blitar. Panitia konfercab, melakukan safari ziarah wali dan pendiri NU di Jatim. Acara dilaksanakan, 8-9 Januari 2013 kemarin. Ziarah yang diikuti anggota panitia berjumlah sekitar 55 orang itu mengambil rute, Tuban, Lamongan, Gresik, Bangkalan, Surabaya dan Jombang.

Ziarah kita mulai dari Tuban, lalu ke Lamongan, terus Gresik. Tiba di Gresik pas waktu subuh. Habis Subuhan, kita ziarah ke makam Sunan Giri. Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Bangkalan untuk ziarah ke makam Syakhona Cholil. Usai dari Bangkalan, rombongan menuju ke Ampel Surabaya, jelas Masduki, ketua panitia.

Tiba di Ampel, lanjut Masduki, waktu sudah menunjukkan pukul 14.00. Padahal, rombongan masih belum ke Troloyo Mojokerto dan Tebuireng Jombang. Karena waktunya mepet, maka perjalanan dilanjutkan ke Jombang. Untuk ziarah ke makam KH Hasyim Asyari, KH Wahid Hasyim dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Namun sayang, tiba di Tebuireng waktu sudah menunjukkan pukul 17.15 menit. Pintu gerbang pesarehan sudah tutup. Yak arena tutup kit abaca tahlil di depan pintu masuk di sebelah barat. Toh hal ini tidak mengurangi pahala tahlil," ujar Masduki menghibur. Setelah itu, rombongan pulang ke Blitar melalui jalur Pare dan Kediri. Tadi malam sekitar jam 22.00 kita sampai di Blitar," tambahnya.

Redaktur : Hamzah Sahal

Kontributor : Imam Kusnin

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/41694/pola-dakwah-wali-songo-perlu-diteladani

KARTANU

Selasa, 25 Agustus 2009

Pertemuan 200 Ulama, Habib dan Akademisi di Mojokerto: Apa Saja Hasilnya?

KARTANU - Pertemuan para ulama, habaib, profesional dan tokoh-tokoh di Pesantren Raudlatul Jannah, Pacet, Mojokerto, sangat luar biasa.

Dari sisi yang hadir, ada ulama-ulama sepuh seperti KH. Maruf Amin, KH. Sholahuddin Wahid, KH. Soleh Al-Qasim, KH. Maksum (Bondowoso), KH. Nasiruddin (Tuban), Gus Munip (Langitan), Gus Zaim (Lasem), Gus Akomadhien (Brebes), Dr. KH. Fauzi Tidjani (Madura), dan puluhan ulama lainnya. Ada pula para habaib: Habib Husen Al-Idrus, Habib Soleh, Habib Muhsin Al-Jufri, dan lain-lain.

Beberapa akademisi, rektor dan tokoh: Prof. Dr. Muhammad Nuh (Mantan Mendiknas), Prof. Dr. M. Bisri (Rektor Univ. Brawijaya), Prof. Dr. Imam Suprayogo (mantan Rektor UIN Malang), Prof. Dr. Ahmad Zahro, Dr. H. Marzuki Ali, Ir. H. Heppy Trenggono, dan lain-lainnya. Sekitar 200-an ulama, habaib dan akademisi berkumpul dari segala penjuru tanah air.

Diskusinya sangat produktif, dinamis dan semua kalimat yang keluar dari para ulama-ulama benar-benar visioner, nasionalis dan kental sekali komitmen keumatan dan kebangsaannya. Saya merasakan suasana kebatinan yang luar biasa dahsyat, ada energi yg sedang bergerak melalui para ulama pengasuh pesantren ini.

Saya melihat juga suatu sinergi yang mulai dibangun dan dirancang yang menembus batas sekat golonganisme umat: tidak ada sekat ormas, sekat salaf-modern, dll. Semuanya berbicara ke depan untuk umat dan bangsa: untuk Indonesia.

Beberapa rumusan dan 'teriakan' telah didengungkan menyikapi kondisi terkini keumatan dan kebangsaan: politik, sosial, budaya, ekonomi bahkan hingga keamanan dan pertahanan bangsa.

Prof. Dr. Bisri, Rektor Univ. Brawijaya Malang mengatakan perlunya sinergi akademisi perguruan tinggi dan santri. Banyak hasil riset perguruan tinggi yang bisa dimanfaatkan oleh pesantren. Beliau juga menegaskan bahwa akses pesantren kepada perguruan tinggi harus dibuka, karena menurut pengakuannya, SDM pesantren rata-rata lebih unggul. Selama ini mereka tidak banyak diberi kesempatan. Ini tidak adil.

Sementara itu, Prof. Dr. M. Nuh menyoroti tentang pentingnya pemetaan peran dan strategi keumatan. Potensi besar jika pemetaannya tidak tepat dan tidak strategis maka selamanya umat Islam akan kalah. Ia juga menandaskan lagi perlunya sinergi perguruan tinggi dengan pesantren hukumnya adalah wajib. Maka, ia mendorong para rektor untuk membuka akses seluas-luasnya kepada santri. Salah satu harapan bangsa ini ke depan adalah para santri.

Habib Muhsin Al-Hamid dalam sambutannya menginginkan agar forum-forum seperti ini harus terus digalakkan. Menurutnya, ini adalah jembatan hati umat, yang jika kiblatnya adalah Rasulullah akan ketemu dan bersatu. Tapi jika kiblatnya adalah semata akal pikiran, pasti akan berbeda.

Habib juga menyoroti bahwa umat Islam ini punya masalah, tapi tidak pernah selesai, karena ulamanya tidak pernah ketemu. Yang penting adalah ketemu hati, baru pikiran. Maka, harus ada orang yang amanah untuk menghimpun potensi dan mempersatukan umat ini.

Potensi umat yang harus digarap adalah maritim, peternakan, dan agrobisnis. Bidang-bidang ini yang selama ini diabaikan umat, padahal kita punya kekuatan di situ dan strategis. Ini soal kedaulatan bangsa dan umat sekaligus.

Habib yang punya TV Nabawi ini menyoroti pula tentang lemahnya umat dalam media. Sehingga, umat selalu menjadi korban media dan semua yang terjadi pada umat dikapitalisasi oleh media mereka.

KH. Maruf Amin mengingatkan para ulama tentang dua tanggung jawab: yaitu tanggung jawab keumatan dan kebangsaan. Ia pun menegaskan bahwa jika dulu merunut kemerdekaan melalui gerakan politik, sekarang ini umat gerakannya adalah politik dan ekonomi.

Umat melalui saluran yang ada harus mendesak pemerintah untuk membuat regulasi yang berpihak pada umat. Pemerintah harus didesak dan dikawal terus dalam hal ini. Gerakan yang dilakukan oleh ulama ada 4, yaitu: gerakan perlindungan, gerakan penguatan, gerakan penyatuan dan gerakan pengabdian. Ulama jangan melepaskan diri pada gerakan kebangsaan.

Suasana negeri saat ini memprihatinkan. Maka, perlu mendesak Presiden untuk menyelenggarakan dialog nasional untuk menyelamatkan negeri. Jika Presiden tidak berkenan, maka MUI dan para ulama yang akan adakan. Akan ada deklarasi semua ormas Islam komitmen pada NKRI dan Pancasila.

Telah pula dibentuk Dewan Tinggi Ekonomi Umat terdiri dari para kiai pengasuh pesantren berkolaborasi dengan para pengusaha dan profesional. Suatu gerakan pemberdayaan ekonomi yang berbasis pesantren.

KH. Mahfudz Syubari, pengasuh PP Raudhatul Jannah bersama Prof. Dr. KH. Muhammad Nuh (mantan Mendiknas), Prof. Dr. Imam Suprayogo (Mantan Rektor UIN Malang), Habib Muhsin (Owner Nabawi TV), KH. Maksum (Bondowoso), Dr. H. Marzuki Ali, Heppy Trenggono, dan lain-lain didaulat untuk mengawal gerakan ini.

Telah pula dibentuk formatur sementara Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia (YP3I), sebuah Yayasan yang nanti akan mendorong kemajuan pesantren dan memobilisasi potensi pesantren baik dari sisi pendidikan, SDM, ekonomi dan jejaring kerjasam-kerjasama.

KH. DR (HC) Sholahuddin Wahid didaulat menjadi Ketua Dewan Pembina bersama Prof. Dr. KH. Amal Fathullah Zarkasyi (Gontor), KH. Mahfudz Syubari (Mojokerto), Habib Soleh Al-Jufri, KH. Akbar, Dr. KH. Muzammil Basyuni dan Prof. Dr. KH. Ahmad Zahro.

Sedangkan Dr. H. Marzuki Ali dan Ir. Heppy Trenggono didaulat sebagai Ketua Umum dan Wakil Ketum. Adapun Sekretaris Umum dipercayakan kepada KH. Bahrul Hayat, Ph.D (Mantan Sekjen Kemenag) dan Drs. KH. Rusli Effendi, M.Si sebagai Wakil Sekum. Bendahara Umum diamanatkan kepada KH. Anang Rikza Masyhadi, MA dari PM Tazakka Batang.

Disepakati pula tentang perlunya penguatan karakter dan mental umat melalui pendidikan keagamaan yang berkesinambungan baik melalui jalur formal pendidikan dan pesantren maupun melalui informal. Ulama harus menjadi kendali moral dan karakter kebangsaan. Ulama harus ambil peran strategis. Ulama harus dijaga muru'ah dan wibawanya.

Banyak hal didiskusikan, yang tidak mungkin disebut satu per satu di sini. Namun, pertemuan selama kurang lebih 6 jam baik pada sesi umum maupun sesi khusus terbatas, saya menyaksikannya sebagai suatu komitmen yang luar biasa.

Ya, intinya para ulama menyerukan kepada semua elemen bangsa khususnya Pemerintah untuk mengembalikan lagi kedaulatan bangsa.

Ya Robb, berilah kami kekuatan untuk mengemban amanah ini; mengawal dan membimbing umat dan bangsa yang besar ini. [KARTANU]

Anang Rikza Masyhadi, Pondok Modern Tazakka Batang Jawa Tengah

Keterangan:

Ditulis di Pacet, Mojokerto, 23 Robiuts Tsani 1438/ 21 Januari 2017

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/hasil-pertemuan-ulama-di-mojokerto-apa-saja-hasilnya.html

Senin, 02 Maret 2009

Doa Rutin Setelah Sholat yang Dibidahkan Wahabi

KARTANU - Setelah Ustadz Idrus Romli menulis bantaham ilmiah terhadap Wahabi tentang dzikir bersama dan Tahlilan, ada seorang Wahabi menulis komentar, dengan mengutip dari fatwa Ibnu Taimiyah, fatwa Imam Ahmad bin Hanbal dan pernyataan al-Syathibi dalam al-I’tisham.

Doa Rutin Setelah Sholat yang Dibidahkan Wahabi - KARTANU
Doa Rutin Setelah Sholat yang Dibidahkan Wahabi - KARTANU


Doa Rutin Setelah Sholat yang Dibidahkan Wahabi

Hanya saja, si Wahabi tersebut hanya mengutip pernyataan Ibnu Taimiyah yang disukainya, dan membuang pernyataan Ibnu Taimiyah yang tidak sesuai dengan selera Wahabi masa sekarang. Berikut ulasannya.

Doa Rutin Setelah Sholat yang Dibidahkan Wahabi - KARTANU
Doa Rutin Setelah Sholat yang Dibidahkan Wahabi - KARTANU


Doa Rutin Setelah Sholat yang Dibidahkan Wahabi



Doa Rutin Setelah Sholat yang Dibidahkan Wahabi - KARTANU
Doa Rutin Setelah Sholat yang Dibidahkan Wahabi - KARTANU


Doa Rutin Setelah Sholat yang Dibidahkan Wahabi

Baca KARTANU: Bacaan Dzikir Setelah Sholat Fardlu

Ibnu Taimiyah berkata:

وأما دعاء الإمام والمأمومين بعد الصلاة جميعا رافعين أصواتهم أو غير رافعين فهذا ليس من سنة الصلاة الراتبة لم يكن يفعله النبي صلى الله عليه وسلم وقد استحسنه طائفة من العلماء من أصحاب الشافعي وأحمد في وقت صلاة الفجر وصلاة العصر لأنه لا صلاة بعدها.

Adapun doa imam bersama makmum setelah shalat lima waktu secara berjamaah dengan mengeraskan suara atau boleh jadi suaranya tidak dikeraskan, maka ini bukanlah sunnahnya shalat yang dirutinkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah sama sekali melakukan seperti itu. Sebagian ulama dari kalangan Syafi’iyah dan Hanbali memang menganjurkan yang demikian, namun itu hanya di waktu shalat Shubuh dan Ashar karena setelah itu tidak ada lagi shalat. [Al Majmu’atul ‘Aliyyah min Kutub wa Rosail wa Fatawa Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, Dar Ibnil Jauzi, hal. 134-135]

Tanggapan: Pernyataan Ibnu Taimiyah di atas menafikan beberapa hal: Berdoa setelah shalat maktubah, bukan termasuk sunnah rutin dan tidak perlah dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Menolak membaca doa tersebut secara bersama-sama Tentu fatwa Ibnu Taimiyah di atas sangat tertolak dengan hadits-hadits shahih, antara lain: 1) Hadits Sayyidina Mu’adz bin Jabal radhiyallaahu ‘anhu

عن معاذ بن جبل ان النبي صلى الله عليه و سلم قال له يا معاذ اني والله لاحبك فلا تدع دبر كل صلاة ان تقول اَللّهمَّ اَعِنِّيْ عَلىَ ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ أَخْرَجَهُ أَبُو داود والنسائي وصححه ابن حبان والحاكم

“Dari Mu’adz bin Jabal, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Wahai Mu’adz, demi Allah aku benar-benar mencintaimu. Maka janganlah kamu tinggalkan setiap selesai shalat untuk berkata: “Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur dan beribadah dengan baik kepada-Mu.” (HR. Abu Dawud 2/115, al-Nasa’i 3/53 dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban 5/364-366 dan al-Hakim 1/273 dan 3/273).

Dalam hadits di atas jelas sekali ada perintah membaca doa tersebut setiap selesai shalat maktubah secara rutin.

2) Hadits Sayyidina Abu Bakrah radhiyallaahu ‘anhu

عن مسلم بن أبي بكرة - رحمه الله - : قال : «كانَ أبي يقولُ في دُبُرِ الصلاةِ : اللهم إني أَعوذُ بك من الكُفْرِ والفَقْرِ وعذابِ القَبرِ ، فكنتُ أقُولُهنَّ ، فقال : أي بُنيَّ، عَمَّنْ أَخَذْتَ هذا ؟ قُلْتُ : عنك ،قال:إنَّ رسولَ الله -صلى الله عليه وسلم- كانَ يقولُهُنَّ في دُبُرِ الصلاةِ فَالزَمهنَّ يا بُنيَّ». أخرجه احمد والترمذي والنسائي وصححه الحاكم

Dari Muslim bin Abi Bakrah rahimahullaah, berkata: “Ayahku selalu berkata setelah selesai shalat: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran, kefakiran dan azab kubur.” Maka akupun selalu membacanya. Lalu ayah berkata: “Wahai anakku, dari siapa bacaanmu kamu peroleh?” Aku menjawab: “Darimu.” Ia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mengucapkannya setelah selesai shalat. Maka rutinkanlah wahai anakku.” (HR. Ahmad 5/39, al-Tirmidzi, al-Nasa’i 3/73, dan dishahihkan oleh al-Hakim 1/252-253).

3) Hadits Sayyidina Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallaahu ‘anhu

وَعَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ - رضي الله عنه - قَالَ : - إِنَّ رَسُولَ اَللهِ - صلى الله عليه وسلم - كَانَ يَتَعَوَّذُ بِهِنَّ دُبُرَ اَلصَّلاةِ : " اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ اَلْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ اَلْجُبْنِ , وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ اَلْعُمُرِ , وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ اَلدُّنْيَا , وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ اَلْقَبْرِ - رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ

“Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu memohon perlindungan dari beberapa perkara setelah selesai shalat: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut, aku berlindung kepada-Mu dari dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia dan aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur.” (HR al-Bukhari 11/174 dan 178).

4) Hadits Sayyidina Zaid bin Arqam radhiyallaahu ‘anhu

عن زيد بن أرقم قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يدعو في دبر الصلاة يقول اللهم ربنا ورب كل شيء انا شهيد أنك الرب وحدك لا شريك لك.. الحديث أخرجه أحمد وأبو داود والنسائي

Zaid bin Arqam berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa setelah selesai shalat, seraya berkata: “Ya Allah, Tuhan kami dan Tuhan segala-galanya. Aku bersaksi bahwa Engkau-lah Tuhan semata, tidak ada sekutu bagi-Mu….” (HR. Ahmad, Abu Dawud 2/111, dan al-Nasa’i).

5) Hadits Sayyidina Shuhaib radhiyallaahu ‘anhu

عن صهيب أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان ينصرف بهذا الدعاء من صلاته: اللهم أصلح لي ديني الذي جعلته عصمة أمري وأصلح لي دنياي الذي جعلت فيها معاشي اللهم إني أعوذ برضاك من سخطك وأعوذ بعفوك من نقمتك وأعوذ بك منك لا مانع لما أعطيت ولا معطي لما منعت ولا ينفع ذا الجد منك جده أخرجه النسائي وصححه ابن حبان

“Dari Shuhaib, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selesai dengan doa berikut ini dari shalatnya: “Ya Allah, perbaikilah agamaku bagiku yang merupakan pelindung urusanku. Perbaikilah duniaku yang Engkau jadikan tempat kehidupanku. Ya Allah, aku berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu. Aku berlindung dengan ampunan-Mu dari siksa-Mu. Aku berlindung dari kepada-Mu dari-Mu. Tidak ada yang dapat menolak apa yang Engkau berikan. Tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau cegah. Tidak akan bermanfaat kesungguhan seseorang pada dirinya dari-Mu.” (HR al-Nasa’i 3/73 dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban 5/373).

Hadits-hadits di atas menjelaskan tentang doa-doa yang dibaca dan dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setiap selesai shalat lima waktu. Demikian yang kami kutip dari al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari. Sementara itu, kesunnahan doa rutin setiap selesai shalat, juga diterangkan dalam hadits-hadits lain, misalnya:

6) Hadits Sayyidina Abu Umamah radhiyallaahu ‘anhu

عن أبي أمامة قال قلت : يا رسول الله أي الدعاء أسمع قال جوف الليل الآخر ودبر الصلوات المكتوبات أخرجه الترمذي والنسائي

“Abu Umamah berkata: “Aku berkata: “Wahai Rasulullah, di mana doa itu paling cepat dikabulkan?” Beliau menjawab: “Doa pada waktu tengah malam, dan setelah selesai menunaikan shalat maktubah.” (HR. al-Tirmidzi 5/188, dan al-Nasa’i).

Hadits di atas memberikan kesimpulan tentang anjuran berdoa pada waktu tengah malam dan setiap selesai shalat lima waktu.

7) Hadits Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallaahu wajhah

عَنْ عَلِىِّ بْنِ أَبِى طَالِبٍ قَالَ كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا سَلَّمَ مِنَ الصَّلاَةِ قَالَ « اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَسْرَفْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ». رواه أبو داود

Ali bin Abi Thalib berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila mengucapkan salam dari shalat, maka berdoa: “Ya Allah ampunilah bagiku, apa yang telah aku kerjakan, apa yang akan aku kerjakan, apa yang aku sembunyikan, apa yang aku lakukan terang-terangan, apa yang aku lakukan berlebih-lebihan, dan apa yang Engkau lebih tahu dariku. Engkau lah yang Maha Mendahulukan dan Maha Mengakhirkan. Tidak ada tuhan melainkan Engkau.” (HR. Abu Dawud 2/111).

Hadits-hadits di atas, sangat tegas memberikan penjelasan bahwa setiap selesai shalat maktubah, terdapat doa-doa ratibah (yang dianjurkan dibaca secara rutin). Umat Islam tidap perlu terpengaruh dengan fatwa Ibnu Taimiyah yang sangat mudah menafikan hadits-hadits shahih dan sangat popular di kalangan para ulama dan penuntut ilmu.

Memang Ibnu Taimiyah, dan diikuti oleh kaum Wahabi dewasa ini sering menafikan hadits-hadits shahih yang telah diamalkan secara rutin oleh umat Islam. Lalu dengan ulah tersebut, Wahabi membid’ahkan umat Islam yang senang berdzikir setiap selesai shalat. Mereka malas berdzikir, malah membid’ahkan orang yang berdzikir dan mengamalkan sunnah.

Sedangkan hukum membaca doa secara bersama-sama dengan mengeraskan suara, atau dipimpin oleh seorang imam, yang sepertinya dinafikan dalam fatwa Ibnu Taimiyah di atas, Anda bisa baca di postingan berjudul: Dalil Dzikir Berjamaah Setelah Sholat. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/doa-rutin-setelah-sholat-yang-dibidahkan-wahabi.html

Selasa, 27 Mei 2008

Pilkada Datang, Muncul Politisi Bermodal Banner Mimpikan Kekuasaan

Pringsewu, KARTANUFenomena munculnya beberapa orang yang tidak dikenal masyarakat dan secara tiba-memasang banner atau spanduk untuk berkompetisi dalam Pilkada mendapat perhatian dari kiai asal Pringsewu, Lampung, yang juga Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin.

Fenomena ini juga terlihat di Kabupaten Pringsewu, Lampung yang pada 2017 akan menggelar pesta demokrasi Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati untuk 5 tahun ke depan. Berdasarkan pengamatan di jalan raya di Kabupaten Pringsewu, sudah banyak para "kontestan" yang memasang banner bergambar wajah mereka.

Pilkada Datang, Muncul Politisi Bermodal Banner Mimpikan Kekuasaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pilkada Datang, Muncul Politisi Bermodal Banner Mimpikan Kekuasaan (Sumber Gambar : Nu Online)


Pilkada Datang, Muncul Politisi Bermodal Banner Mimpikan Kekuasaan

Menurut Gus Ishom, sapaan akrabnya, setiap orang sebenarnya memerlukan kekuasaan, oleh karena itu kekuasaan selalu dicarinya, bahkan diperebutkan. Kompetisi dalam rangka perebutan kekuasaan di negeri ini terlihat jelas dari sebaran banner kampanye dari setiap bakal calon kepala daerah jauh-jauh hari sebelum pesta demokrasi itu sendiri dilangsungkan.

KARTANU

"Banyaknya orang yang menginginkan atau berebut jabatan itu tentulah karena kedahagaannya akan kekuasaan. Hanya dengan kekuasaan seseorang dapat melakukan perubahan dan bahkan mewujudkan cita-cita mulianya atau obsesi tersembunyinya," jelasnya, Rabu (30/3).

Dilihat dari sisi positif, katanya, semakin banyak mereka yang berkompetisi dalam perebutan kekuasaan, dapat berarti bahwa kita tidak akan pernah kehabisan kader-kader yang "mampu" memimpin dan membawa rakyat ke arah perubahan yang lebih baik.

KARTANU

Namun, tambahnya, dilihat dari sisi lainnya bisa berarti semakin banyak orang yang "sakit jiwa" karena terobsesi dan tertipu oleh perasaannya sendiri yang terjangkiti penyakit panjang angan-angan, yakni berkompetisi tanpa perhitungan yang matang alias bermodal banner dan nekad saja.

"Kekuasaan yang banyak diperebutkan itu merupakan sesuatu yang abstrak, tidak kasat mata, karena itu hanya dampaknya saja yang bisa dirasakan, misalnya berpengaruh positif atau tidak, apakah menyejahterakan atau tidak," terangnya.

Oleh karena itu, sarannya, setiap kompetisi perebutan kekuasaan itu idealnya hanya diikuti oleh orang-orang yang telah benar benar melakukan persiapan, punya kapasitas, kapabilitas dan sudah terbukti berpengaruh terhadap orang lain dalam hal yang tujuannya diinginkan atau tidak.

Selain itu, jelas wawasan dan etika politik sangatlah diperlukan. Bahkan bukan hanya itu saja, kompetisi tersebut sangat mungkin menguras modal finansial yang tidak sedikit dan modal sosial berupa jaringan yang kokoh demi merawat, meraih dan menjaga keutuhan suara dari para pendukungnya.

"Terjun ke dunia politik untuk tujuan meraih kekuasaan tanpa persiapan yang memadai alias bermodal nekat dengan hanya bermodal banner misalnya, hanyalah dilakukan oleh politisi gadungan, bukan politisi sungguhan. Perlu tekad yang kuat, perencanaan yang matang dan kalkulasi dukungan rill, bukannya klaim potensi dukungan, jika ingin menang dalam setiap kompetisi dan pertarungan meraih kekuasaan," ingatnya.

Menurutnya, meraih suara terbanyak adalah pekerjaan berat yang mustahil dikerjakan sendiri, tetapi untuk itu perlu jaringan berbasis massa yang solid dan kuat, memanfaatkan jaringan media massa dan meningkatkan intensitas komunikasi yang efektif dengan setiap orang yang nyata-nyata berpengaruh untuk konsolidasi dan menggalang dukungan.

"Terjun berkompetisi ke dunia politik tanpa persiapan untuk meraih kekuasaan hanyalah menimbulkan kegaduhan dan berujung pada penyesalan. Bukankah jika tidak kuat melawan, sebaiknya bergabung saja?," ajaknya kepada para politikus untuk instropeksi diri. (Muhammad Faizin/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/66936/pilkada-datang-muncul-politisi-bermodal-banner-mimpikan-kekuasaan

KARTANU

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KARTANU sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KARTANU. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KARTANU dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock