Tampilkan postingan dengan label Muslim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muslim. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Juli 2016

Meriahnya Festival Tongtek, dari Kentongan sampai Kaleng Biskuit

Kudus, KARTANUFestival Tongtek yang diselenggarakan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor-Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah berlangsung sangat meriah. Kegiatan yang baru dihelat kali pertama ini diikuti 33 kontingen dari berbagai kecamatan se-Kabupaten Kudus.

Di sepanjang jalan dari start Lapangan Kongsi Desa Loram hingga Masjid Wali, mereka Sabtu (25/6) malam itu memainkan musik kentongan yang dipadukan alat-alat seadanya lainya seperti galon, kaleng biskuit, tong, dan lainnya. Dengan berjalan kaki, tetabuhan musik kentongan ini mengiringi lagu-lagu religi yang mereka nyanyikan.

Festival yang dimulai selepas tarawih ini mendapat sambutan warga dan tokoh masyarakat desa setempat. Ratusan masyarakat berjajar di pinggir jalan menanti kontingen tongtek melewati jalan raya Desa Loram.

Meriahnya Festival Tongtek, dari Kentongan sampai Kaleng Biskuit (Sumber Gambar : Nu Online)
Meriahnya Festival Tongtek, dari Kentongan sampai Kaleng Biskuit (Sumber Gambar : Nu Online)


Meriahnya Festival Tongtek, dari Kentongan sampai Kaleng Biskuit

Ketua panitia Syaifuddin Najib mengatakan, kegiatan ini merupakan upaya melestarikan musik kentongan yang belakangan ini hampir punah. Musik kentongan, katanya, memiliki manfaat sebagai perangkat untuk kepentingan patroli (ronda) malam menjaga keamanan desa.

KARTANU

"Ansor ingin mencoba menumbuhkan kembali melalui lomba tongtek sehingga musik tradisional tetap lestari. Apalagi selama Ramadhan seringkali dimanfaatkan untuk membangunkan orang sahur puasa," katanya.

Melihat antusiasme warga dan peserta, kata dia, kegiatan festival tongtek menunjukkan adanya respon positif. Karenanya, kegiatan ini akan menjadi kegiatan budaya yang diagendakan rutin setiap tahun. "Kita akan melanjutkan festival tongtek ini sebagai kegiatan rutin setiap tahun di Kecamatan Jati," tutur Najib.

KARTANU

Pembina Banser Kudus H.Akhwan Sukandar mengapresiasi kegiatan bernuansa seni tradisional ini. Menurutnya, kesenian tongtek sudah berlangsung lama muncul di lingkungan masyarakat pedesaan sebagai musik ronda. Namun belakangan musik seperti ini hampir hilang.

"Kegiatan festival tongktek patut didukung sehingga musik tradisional ini tetap lestari," ujar Akhwan yang juga mantan Komandan Satkorcab Banser Kudus ini.

Pernyataan senada juga disampaikan Kapolsek Jati yang hadir mulai awal hingga selesainya acara pukul 24.00 WIB. Dikatakan, sejarah musik tongtek berawal dari cerita adanya orang bermain judi gaple. Karena judi mengganggu masyarakat, akhirnya para pemainnya diusir oleh para pemain tongtek.

"Oleh karena itu saya sangat berharap kegiatan tongtek tetap dilaksanakan dengan kemeriahan," katanya seraya meminta masyarakat menjaga lingkungan sekitarnya.

Festival tongtek ini diikuti 33 kontingen yang berasal dari 6 kecamatan yakni Gebog, Jati, Bae, Kaliwungu, Mejobo dan Undaan. Dari hasil penilaian juri terpilih kontingen terbaik masing-masing juara 1 grup dari Kaliwungu, Juara 2 (Jepang Pakis, Jati), Juara 3 (Payaman, Mejobo), Juara harapan 1 dan 2 adalah Loram Wetan dan Undaan Lor. Masing-masing juara mendapat penghargaan piala dan uang pembinaan yang nilainya beragam. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/69322/meriahnya-festival-tongtek-dari-kentongan-sampai-kaleng-biskuit

KARTANU

Jumat, 04 September 2015

Radio Pesantren Tak Mesti Siarkan Pengajian Melulu

Cirebon, KARTANU. Sebagian pesantren di Indonesia telah dilengkapi dengan teknologi komunikasi perangkat siar radio. Fungsinya adalah agar gerakan dakwah yang dilakukan mampu mencapai titik terluar pesantren dan masyarakat di sekitarnya.

Ketua Radio Komunitas (Rakom) Buntet Pesantren (Best FM) Ahmad Rovahan menilai radio pesantren merupakan media yang cukup strategis. Ia berpendapat, meski dari pesantren, siaran radio tidak mesti harus memutar pengajian dan ceramah keagamaan.

Radio Pesantren Tak Mesti Siarkan Pengajian Melulu (Sumber Gambar : Nu Online)
Radio Pesantren Tak Mesti Siarkan Pengajian Melulu (Sumber Gambar : Nu Online)


Radio Pesantren Tak Mesti Siarkan Pengajian Melulu

Pemutaran pengajian berupa ceramah dan pembacaan Al-Quran tentu baik, tapi hal ini jangan sampai dianggap sebagai cara tunggal untuk menyiarkan prinsip kepesantrenan secara lebih mengena kepada masyarakat luar, katanya saat dihubungi KARTANU melalui telepon.

Menurut Rovahan, banyak cara dilakukan untuk mengenalkan pesantren tidak dengan cara yang monoton. Di antaranya adalah membongkar kesan ketertutupan pesantren melalui pembacaan selera pendengar.

KARTANU

Kita tidak perlu antipati dengan karya seni yang lebih umum. Contoh pemutaran musik yang sedang marak di tengah masyarakat. Yang terpenting adalah sebisa mungkin para penggiat radio di dalamnya mampu mengemasnya seusai dengan prinsip-prinsip kepesantrenan, katanya.

KARTANU

Selain membuka diri dengan kegemaran masyarakat dengan tujuan membentengi mereka dengan prinsip-prinsip kepesantrenan, lanjut Rovahan, radio pesantren juga sebenarnya memiliki peluang untuk menggawangi pesan-pesan yang dibutuhkan bagi masyarakat. Misalnya, pembuatan Iklan Layanan Masyarakat (ILM) bertema kebhinekaan, anti korupsi, kenakalan remaja dan lain-lain.

Syaratnya hanya satu, prinsip kepesantrenan dan syiar Islam tersebut tidak dikemas dengan cara yang kaku. Bahkan, boleh juga diimbuhi nuansa guyon sesuai dengan adat pesantren dan masyarakat nahdliyin, pungkasnya.

Best FM meraih penghargaan membanggakan dengan mengalahkan ratusan radio lainnya. Radio tersebut juara 1 lomba pembuatan feature audio bertema Anti Korupsi yang diselenggarakan Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia (KPK RI) bekerja sama dengan Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI). Hadiah dianugerahkan di Museum Fatahilla, Kota Tua, Jakarta, Ahad (17/8).

Sebagai juara 2 diraih Taraktak FM Sumatera Barat, Wijaya FM Yogyakarta dan K-FM Magelang. Pemenang lomba mendapatkan hadiah berupa peralatan siar radio yang diserahkan langsung oleh para Pimpinan KPK diantaranya Ketua KPK Abraham Samad, Bambang Widjayanto, Adnan Pandu Praja, dan Juru Bicara KPK Johan Budi. (Sobih Adnan/Abdullah Alawi)

Dari (Pesantren) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/53897/radio-pesantren-tak-mesti-siarkan-pengajian-melulu

KARTANU

Rabu, 04 Desember 2013

Ciri Santri Itu Tidak Kagetan

KARTANU - Kalau kita kaya wawasan, tidak akan gumunan atau kagetan. Itulah salah satu ciri santri yang diutarakan oleh Nur Said, M. Ag dalam bedah buku Santri Membaca Zaman yang diselenggarakan oleh PC IPNU Pati di aula Institut Pesantren Mathaliul Falah (IPMAFA), Pati, Sabtu (24/09/2016) pagi.

Ciri Santri Itu Tidak Kagetan - KARTANU
Ciri Santri Itu Tidak Kagetan - KARTANU


Ciri Santri Itu Tidak Kagetan

Diskusi bedah buku dalam rangka memperingati 1000 hari wafatnya KH Sahal Mahfudz tersebut menghadirkan KH Abdul Ghoffar Rozin (Rektor IPMAFA), H. Nur Said, M.Ag (Penulis buku), Hasan Habibie, S.T, MSi (Pustekkom Kemendikbud RI) dan A. Dimyati, M. Ag.

Dalam diskusi ihwal konten buku, Nur Said sebagai penulis menjelaskan singkat latar belakang terbitnya buku yang ditulis keroyokan 25 penulis alumni Madarasah Tsyawiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus itu. “Hanya lewat wahtsapp, dalam waktu sekitar 2 minggu terkumpul 25 tulisan, langsung edit, layout dan terbit,” terang Said.

Ia juga menyebut bahwa hadirnya buku yang dibidani oleh SantriMenara.Com tersebut memberikan efek akademis dan intelektual bagi kalangan pesantren karena dengan buku, akan hadir dunia pembaca, ruang diskusi dan dinamika pemikiran. “Adanya buku, melahirkan ruang diskusi bahkan sampai kapanpun,” katanya.

Intinya, dalam buku yang dilaunching berberengan dengan Ngaji Bareng Masyayikh Madrasah TBS beberapa waktu lalu itu berisi kegelisahan para penulis santri atas apa yang mereka lihat pasca mondok dan boyong dari pesantren.

Diungkapan oleh Said, buku Santri Membaca Zaman adalah ruang para santri melakukan counter culture kepada paham-paham ideologis Islam puritan dan radikal yang selama ini sering mengganggu muslimin ahlus sunnah wal jama’ah.

“Teman-teman yang menulis ternyata sudah mulai prihatin batas gerakan wahabi yang puritan dan radikal,” ungkap Said. Buku yang dibedah itu, lanjutnya, adalah bagian cara para santri memperteguh semangat dan kekuatan santri.

“Tidak ada motivasi apa-apa, hanya ungkapan cinta kepada masyayikh dan semangat iqra’ dalam momentum harlah madrasah kemarin,” tambah Said. Nampak dalam buku ini, ujarnya, ciri-ciri santri, antara lain “santri itu teguh memegang akidah aswaja, toleran, dan kaya sudut pandang,” tandasnya di forum.

Keterangan tentang sejarah terbitnya buku tersebut ditanggapai positif oleh reviewer buku pertama, yakni Hasan Chabibie. Mantan Ketua IPNU Jawa Tengah ini berharap buku terbitan para Santri Menara ini paling tidak bisa menyumbang peningkatan literasi masyarakat kita yang masih lemah, peringkat ke 60 dari negara-negara yang disurvei. “Masyarakat kita sering tidak lengkap membaca konflik,” jelas Hasan.

Ia juga mengingatkan kalau literasi teknologi komunikasi dan informasi dunia santri dan pesantren saat ini sudah bergerak luar biasa sejak 10 tahun. “Orang mulai bangga memposting foto-foto di pesantren. Orang mulai bangga mempublikasi nadzom-nadzom yang dibaca di bilik-bilik kecil di pesantren,” terang Hasan berharap buku Santri Membaca Zaman bisa meneguhkan kebanggaan identitas santri seperti bangganya pemilik akun instagram santri memposting kegiatan mereka di pondok pesantren.

Meski begitu, A Dimyati, M.Ag, Rektor 1 IPMAFA yang menjadi pengulas kedua menyebut bahwa judul buku yang lebih pas adalah “Santri di Pusaran Zaman.” Alasannya, para santri di buku tersebut gelisah atas apa yang ia baca dan ditafsirkan setelah jadi alumni pondok. Itu kritik pertama dari Dimyati.

Menurut Dimyati, santri selama ini mengalami kesenjangan dengan realitas. Seakan-akan santri terpisah dari dunia nyata. Ia juga mengkritik cara berpikir santri yang mudah menerima tanpa kritis karena kagetan dan mudah kagum.

Selain itu, kesenjangan eknomi ternyata tidak membuat santri gelisah dan bergerak secara makro dan tersistem. Sistem ekonomi yang menidas pada kenyataannya memang tidak membuat para santri merasa terancam.

Ini karena di kalangan para santri masih belum ada kesadaran massif untuk melakukan perubahan sosial. Padahal, dalam sejarahnya, santri zaman dulu adalah penggerak masyarakat sehingga menjadi berdaya.

“Santri itu tidak cukup hanya pintar, sholih dan jadug. Santri juga harus ada yang punya kemampuan untuk mengorganisir, mengonsolidasi untuk menggerakkan masyarakat,” kata Dimyati.

“Terus santri itu tugasnya apa sih sebetulnya, kok semuanya kayaknya dibebankan kepada santri semua seperti di buku ini?” tanya Gus Rozin, reviewer terakhir dari buku yang disebut Dimyati sebagai otokritik dari alumni kepada santri, pesantren dan sistem pendidikan di dalamnya itu. Duh. Berat juga jadi santri. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/ciri-santri-itu-tidak-kagetan.html

Sabtu, 21 September 2013

Pengelanaan dan Karya Kiai Ihsan Jampes

Syahdan, tidak lama dari mimpinya yang monumental itu, untuk pertama kali dalam hidupnya, Bakri keluar dari pesantren ayahnya untuk melanglang buana mencari ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain.

Beberapa pesantren yang sempat disinggahi Kiai Ihsan kecil adalah Pesantren Bendo Pare Kediri asuhan KH. Khozin (paman Bakri sendiri), Pondok Pesantren Jamseran Solo, Pondok Pesantren asuhan KH. Dahlan Semarang, Pondok Pesantren Mangkang Semarang, Pondok Pesantren Punduh Magelang, Pondok Pesantren Gondanglegi Nganjuk, dan Pondok Pesantren Bangkalan Madura asuhan KH. Kholil, sang Guru Para Ulama.

Dari rihlah ilmiah-nya, ada satu kebiasaan yang sering dilakukan Bakri, yakni ia tidak pernah menghabiskan banyak waktu di pesantren-pesantren tersebut. Misalnya, untuk belajar Alfiah Ibnu Malik yang berisi seribu bait tentang rumus dan teori Gramatika Arab (Nahwu dan Sharf) Bakri belajar dari KH. Kholil Bangkalan dan hanya menghabiskan waktu dua bulan; belajar ilmu falak (astronomi) kepada KH. Dahlan Semarang dan hanya tinggal di pesantrennya selama 20 hari; sedangkan di Pesantren Jamsaran Kediri ia hanya tinggal selama satu bulan. Namun demikian, ia selalu berhasil menguasai dan memboyong ilmu para gurunya tersebut dengan kemampuan di atas rata-rata.

Keunikan lainnya yang dapat disimak yaitu di setiap pesantren yang ia singgahi, Bakri selalu menyamar. Ia tidak mau dikenal sebagai gus (sebutan anak kiai); tidak ingin diketahui identitas aslinya sebagai putra kiai tersohor, KH. Dahlan Jampes. Bahkan, setiap kali kedoknya terbuka sehingga santri-santri tahu bahwa ia adalah gus dari Jampes, dengan serta merta ia akan segera pergi, menghilang dari pesantren tersebut untuk pindah pesantren lain. Alih-alih kebiasaan atau tradisi di dunia pesantren yang sering kali mengelu-elukan dan memanjakan para gus, anak kiai, seringkali memabukkan dan membius para gus, mereka kebal hukum dan peraturan pesantren, dan berujung pada ketidak seriusan belajar. Dan tradisi itulah yang hendak dihindari oleh Bakri, lantaran di mata Bakri tradisi itu tidak kondusif dalam proses belajar dan sering kali membentuk karakteristik feodal yang tidak baik.

Pengelanaan dan Karya Kiai Ihsan Jampes (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengelanaan dan Karya Kiai Ihsan Jampes (Sumber Gambar : Nu Online)


Pengelanaan dan Karya Kiai Ihsan Jampes

Pada tahun 1932, setelah selesai melalui tour ilmiyah itu, Bakri inobatkan menjadi pengasuh atau pemimpin Pondok Pesantren Jampes, Kediri. Sejak saat itulah Bakri terkenal sebagai pengasuh Pesantren Jampes. Ada banyak perkembangan yang signifikan di Pesantren Jampes setelah Syekh Ihsan diangkat sebagai pengasuh. Secara kuantitas, misalnya, jumlah santri terus bertambah dengan pesat dari tahun ke tahun, semula sekitar 150 santri menjadi sekitar 1000 santri lebih, sehingga Pesantren Jampes harus diperluas hingga memerlukan 1,5 hektar tanah. Secara kualitas, materi pelajaran juga semakin terkonsep dan terjadwal dengan didirikannya Madrasah Diniyah Mafatihul Huda pada 1942.

Sebagai seorang kiai, Syekh Ihsan mengerahkan seluruh perhatian, pikiran dan segenap tenaganya untuk diabdikan kepada santri dan pesantren. Hari-harinya hanya dipenuhi aktivitas spiritual dan intelektual; mengajar santri (ngaji), shalat jamaah, shalat malam, mutholaah (mengkaji) kitab, ataupun menulis kitab. Meskipun seluruh waktunya didesikannya untuk santri, Syekh Ihsan tidak melupakan masyarakat umum. Syekh Ihsan dikenal memiliki ilmu hikmah dan menguasai ketabiban. Hampir setiap hari, di sela-sela kesibukannya mengajar santri, Syekh Ihsan masih sempat menerima tamu dari berbagai daerah dan kalangan yang meminta bantuannya. Keilmuan hikmah yang dimilikinya ini berkat penguasaannya yang baik terhadap kitab-kitab hikmah seperti Syamsul-Maarif karya al-Buni, Mamba Ushul al-Hikmah, Kitab al-Aufaq karya Imam al-Ghazali, dan lain-lain. Bahkan keilmuan hikmah ini ia integrasikan dan kolaborasikan dengan ilmu falak yang telah difahaminya secara mendalam.

KARTANU

Pada masa revolusi fisik 1945, Syekh Ihsan juga memiliki andil penting dalam perjuangan bangsa. Pesantren Jampes selalu menjadi tempat transit para pejuang dan gerilyawan republik yang hendak menyerang Belanda. Di Pesantren Jampes, mereka meminta doa restu Syekh Ihsan sebelum melanjutkan perjalanan. Bahkan, beberapa kali Syekh Ihsan turut mengirim santri-santrinya untuk ikut berjuang di garis depan. Jika desa-desa di sekitar pesantren menjadi ajang pertempuran, penduduk yang mengungsi akan memilih Pesantren Jampes sebagai lokasi teraman, sementara Syekh Ihsan membuka gerbang pesantrennya lebar-lebar.

Sumbangan Syekh Ihsan yang sangat besar adalah karya-karya yang ditinggalkannya bagi masyarakat muslim Indonesia, bahkan umat Islam seluruh dunia. Sudah banyak pakar yang mengakui dan mengagumi kedalaman karya-karya Syekh Ihsan, khususnya karya magnum opus-nya, kitab yang berjudul Sirojut-Tholibin, kitab syarah (penjelasan) dari kitab Minhajul-Abidin karya Imam al-Ghazali, terbit pertama kali pada 1932 setebal sekitar 800 halaman. Kitab ini mengulas tasawuf. Syekh Ihsan mendapatkan penghargaan dan legitimasi ilmiyahnya di mata dunia Islam, ketika kitab tersebut diterbitkan oleh sebuah penerbit besar di Mesir, Musthafa al-Bab al-Halab, sebuah penerbit yang berorientasi menerbitkan kitab-kitab kuning (turats), yang sampai saat ini masih eksis. Di antara kitab tasawuf yang ditulis syekh Ihsan adalah kitab Manahijul-Imdad , sebuah syarah (penjelasan) dari kitab Irsyadul-Ibad karya Syekh Zainudin al-Malibari, terbit pertama kalinya pada tahun 1940 setebal sekitar 1088 halaman, mengulas tasawuf secara luas dan mendalam.

KARTANU

Sebelum menulis tentang tasawuf, syekh Ihsan berkelana mengelilingi tanah Jawa. Sebuah perjalanan apostolik sebagaimana tradisi para sufi darwis. Dalam perjalanan apostoliknya, ia menjumpai dan berdialog sekaligus menimba ilmu secara singkat dari hampir seluruh ulama tasawuf, mursid tharekat, dan para kiai yang terkenal keilmuan dan kezuhudannya. Bahkan, ia pun menjumpai para tokoh kejawen, pengikut kepercayaan, dan mengajak mendiskusikan secara mendalam persoalan filsafat, spiritual, dan pandangan-pandangan spiritual.

Lebih menakjubkan lagi, ia pun menjumpai para dukun dari berbagai jenisnya, lantaran para dukun dianggap memiliki pandangan dunianya sendiri yang harus diselami. Dari pengalaman perjalanan spiritualnya yang telah menggondol segudang informasi dan ilmu itu menjadi salah satu modal dalam mengkonsepsikan pandangan tasawufnya yang dielaborasikan dengan mengikutsertakan pengalaman pribadi, eksperimentasi spiritual, ritual, pandangan pewayangan, dan pentakwilan atas segenap teks normatif Islam, al-Quran dan hadits.

Pada saat-saat menulis karya-karyanya tersebut, syekh Ikhsan dengan tekun menuliskannya yang tak kenal lelah, tak kenal waktu, bergadang, malam yang hening dilaluinya dengan ditemani segelas kopi dan berbatang-batang rokok. Karena memiliki kebiasaan meminum kopi dan menghisap rokok, akhirnya menginspirasikan lahirnya sebuah kitab yang ditulisnya dengan judul kitab Irsyadul-Ikhwan fi Bayani Hukmi Syurbil-Qohwah wad-Dukhon. Kitab ini diadaptasi dari kitab kumpulan syair-syair atau puisi dari kitab Tadzkiratul-Ikhwan fi Bayanil-Qahwah wad-Dukhan karya KH. Ahmad Dahlan Semarang, yang kemudian diberi penjelasan (syarh), tebalnya 50 halaman. Buku ini berbicara tentang polemik hukum merokok dan minum kopi.

Disamping dikenal sebagai pakar tasawuf, syekh Ihsan juga merupakan ulama dan masuk dalam deretan nama pakar ilmu falak (astronomi). Salah satu karya akademik di bidang ini adalah kitab Tashrihl-Ibarot, syarah (penjelasan) dari kitab Natijatul-Miqot karya KH. Ahmad Dahlan Semarang, terbit pertama kali pada 1930, setebal 48 halaman.

Seorang sufi yang juga penuh karya akademiknya ini akhirnya pada Senin, 25 Dzul-Hijjah 1371 H. atau September 1952, dipanggil oleh Allah SWT. Usianya yang baru melewati setengan abad ini, 51 tahun, meninggalkan ribuan santri, seorang istri dan delapan putra-puteri. Kuburannya hingga saat ini ramai dikunjungi oleh para peziarah, khususnya dari warga NU.

Tak ada warisan yang terlalu berarti dibandingkan dengan ilmu yang telah dia tebarkan, baik ilmu yang kemudian tersimpan dalam korpus kitab-kitab karyanya yang abadi maupun yang terrekam dan tersimpan di dalam hati para murid-muridnya. Beberapa murid Syekh Ihsan yang mewarisi dan meneruskan perjuangannya dalam berdakwah melalui pesantren adalah Kiai Soim pengasuh pesantren di Tanggir Tuban, KH. Zubaidi di Mantenan Blitar, KH. Mustholih di Kesugihan Cilacap, KH. Busyairi di Sampang Madura, K. Hambali di Plumbon Cirebon, K. Khazin di Tegal, dan lain-lain.

Setahun yang lalu, penulis berziarah kemakamnya dan ke pesantren peninggalannya yang bersahaja dengan disambut oleh KH. Busyro, pengasuh pesantren peninggalan sang sufi kita. Kami berbincang-bincang di rumah KH. Busyro seputar karya-karya sang sufi. Beliau bercerita bahwa sejatinya Gus Dur, panggilan akrab mendiang KH. Abdurrahman Wahid, pernah ingin memperjuangkan salah satu naskah sang sufi yang belum sempat tersebar ke penjuru dunia Islam, yaitu kitab Manahijul -Imdad. Gus Dur meng-copy manuskrip (makhthuthat) kitab tersebut dan diserahkan ke Syekh Sayyed al-Maliki, dengan harapan mendapatkan tashih atau tahqiq dan diterbitkan di Arab. Akan tetapi dalam penantian yang panjang, kitab tidak kunjung diterbitkan. Akhirnya atas dasar inisiatif KH. Busyro sekeluarga, kitab tersebut telah diterbitkan oleh keluarga kiai Ihsan dengan dicetak cukup sederhana dan dalam jumlah terbatas. Tanpa disangka dan diduga, kitab tersebut dalam waktu singkat ludes dipasaran. Karena, rupa-rupanya para kiai dan santri betul-betul menanti-nantikan karya syekh Ihsan itu. Akhirnya ketika sudah ada di depan mata, mereka memburu dan berebut untuk mendapatkannya. Penulis sendiri pada waktu keliling pesantren salaf, tidak mendapatkan kitab tersebut. Dan penulis sempat mensarankan pada KH. Busyro agar kitab tersebut dicetak kembali.

Karya-karya syekh Ihsan sebagian besar telah dikaji dan dibaca oleh para kiai dan santri di pesantren salaf-tradisional. Khususnya kitab magnum opusnya, yaitu Sirojut-Tholibin. Bahkan sebagian kiai Lirboyo-Kediri membacanya setiap tahun sebagai ritual pengajian sehari-hari. Tidak diragukan lagi jika paradigma sufistiknya yang bernuansa Ghazalian yang mengusung perkawinan tasawuf dan syariah telah berpengaruh besar terhadap paradigma nalar sufisme kaum santri yang berbasis NU (Nahdlatul Ulama).

Mukti Ali

Program Officer Manuskrip Nusantara & Peneliti Rumah Kitab

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/48472/pengelanaan-dan-karya-kiai-ihsan-jampes

Jumat, 02 Agustus 2013

Pemuda Islam dan Komitmen Kebangsaan

Oleh: A Muchlishon Rochmat

Tahun 2011, Survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) mengeluarkan data yang cukup mencengangkan. Disebutkan bahwa 25% siswa dan 21% guru menyatakan bahwa Pancasila sudah tidak relevan lagi. Bahkan, 84,8% siswa dan 76,2% guru setuju dan mendukung untuk mendirikan negara yang berdasarkan syariat Islam di Indonesia.

Pemuda Islam dan Komitmen Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemuda Islam dan Komitmen Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)


Pemuda Islam dan Komitmen Kebangsaan

Di tahun yang sama, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) juga merilis sebuah penelitian tentang radikalisme di kampus-kampus besar Indonesia. Di situ disebutkan bahwa ada peningkatan paham radikalisme di universitas-universitas elit Indonesia seperti UGM, UI, IPB, Undip, dan Unair. Tahun 2013, penelitian yang dilakukan oleh Maarif Institute juga menunjukkan bahwa meluasnya paham radikal di kampus berdampak pada meningkatnya gerakan untuk mendirikan negara Islam di Indonesia.

Sementara tahun 2015, Pew Research Center menyebutkan bahwa 4% atau setara dengan 10 juta penduduk Indonesia setuju dan mendukung pandangan dan gerakan yang dilakukan oleh ISIS termasuk diantaranya adalah mendirikan negara khilafah Islam di Indonesia. Ironisnya, mayoritas dari empat persen itu adalah pemuda Islam yang berada dalam usia produktif.

KARTANU

Kalau kita simak pemberitaan yang tersebar di media massa akhir-akhir ini, gerakan-gerakan untuk mendirikan khilafah seperti pawai, seminar, penerbitan buku, menyebarkan propaganda dengan selebaran di masjid-masjid, dan konferensi nasional bahkan internasional- begitu marak dan masif dilaksanakan di berbagai daerah di Indonesia. Lagi-lagi mayoritas pelakunya adalah pemuda dan pemudi Islam.

KARTANU

Meski gerakan-gerakan khilafah tersebut mendapatkan penolakan dan kecaman dari berbagai pihak seperti Banser GP Ansor, kepolisian, pimpinan kampus, pejabat, pimpinan beberapa ormas Islam yang moderat, beberapa pejabat negara, dan masyarakat, namun mereka seolah-olah tidak kapok dan tidak berhenti untuk mendengungkan konsep khilafah sampai apa yang mereka cita-citakan itu terwujud.

Bahkan, mereka menawarkan sistem negara khilafah yang berdasarkan syariat Islam dan menghujat Negara Indonesia yang berlandaskan Pancasila secara terang-terangan (tanpo tedeng aling-aling). Mereka tidak lagi sembunyi-sembunyi dalam berdakwah sebagaimana yang mereka lakukan pada beberapa tahun yang lalu. Menariknya, pemerintah pun menganggap enteng dan terkesan lamban dalam membendung segala macam aktifitas dan kegiatan yang dilakukan oleh gerakan pengusung khilafah itu.

Meneguhkan Komitmen Kebangsaan

Berdasarkan hasil penelitian yang ada, memang masih banyak yang mendukung Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila jika dibandingkan dengan mereka yang mendukung khilafah. Tetapi, hasil survei di atas tidak bisa dianggap enteng. Apalagi yang disasar adalah remaja dan pemuda Islam utamanya yang berada di sekolah dan kampus umum. Saya rasa mereka itu seperti virus. Sekarang kelihatan kecil, tetapi kalau tidak ditangani dengan serius maka mereka akan menyebar dan mempengaruhi organ masyarakat yang lainnya.

Kita tidak bisa terus menerus menunggu datangnya bola, yakni dengan terus melakukan penolakan atas kegiatan yang mereka gelar di berbagai tempat. Saya yakin, mereka akan terus melakukan propaganda-propaganda, baik ke lapisan atas maupun ke masyarakat tingkat bawah (grassroot).

Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk menjaga dan meneguhkan eksistensi Indonesia? Setidaknya ada dua hal yang bisa dilakukan untuk meredam gerakan pengusung khilafah. Pertama, ketegasan pemerintah. Di beberapa Negara Islam seperti Arab Saudi, Tunisia, Turki, Libya, Yordanis, Mesir, Syuriah, Malaysia, dan lainnya melarang gerakan pengusung khilafah. Mereka tidak diizinkan masuk dan beranak-pinak di negara-negara tersebut.

Dalam hal ini, pemerintah Indonesia terlihat tidak memiliki ketegasan dalam melarang gerakan-gerakan khilafah. Mereka seakan-akan dibiarkan tumbuh subur dan menggerogoti pondasi kebangsaan kita.

Kedua, memasifkan gerakan Islam kebangsaan (nasionalisme). Indonesia dibangun dengan semangat kebangsaan dan keberagamaan. Indonesia ada karena adanya perbedaan agama, suku, budaya, dan bahasa. Sedangkan Pancasila adalah pemersatunya (kalimatun sawa). Sedangkan Islam -sebagai agama mayoritas- menjadi ruh dan semangat dalam menjalankan pemerintahan, bukan menggantikan Pancasila sebagai konsesi bersama. Kalau seandainya Dasar Negara Indonesia berdasarkan golongan tertentu, maka tentu golongan yang lain tidak akan mau menerimanya.

Harus kita akui, Islam yang berkembang di sebagian sekolah-sekolah dan kampus-kampus kita itu adalah Islam yang normatif dan tidak memiliki dimensi komitmen kebangsaan. Komitmen untuk menjaga keutuhan dan persatuan NKRI. Maka tidak mengherankan jika gerakan-gerakan pengusung khilafah itu tumbuh subur di lorong-lorong kampus sebagaimana yang disebutkan oleh LIPI di atas. Lagi-lagi, sasarannya adalah pemuda-pemudi Islam yang sedang studi di kampus-kampus besar itu.

Saya rasa mereka nihil akan Islam kebangsaan karena mereka tidak memahami secara holistik sejarah perkembangan umat Islam di Nusantara ini. Maka dari itu, menjadi tugas kita semua untuk memasifkan gerakan Islam kebangsaan. Yaitu dengan memberikan pemahaman secara intensif kepada mereka tentang wawasan Islam kebangsaan. Islam yang mengedepankan keutuhan dan persatuan bangsa Indonesia. Bukan malah mencerai-beraikan dan memonopoli bangsa ini.

Walhasil, sembari mendorong pemerintah untuk berlaku tegas kepada kelompok-kelompok pengusung khilafah, kita masifkan dan teguhkan komitmen kebangsaan pemuda-pemudi Islam kita agar mereka tidak tergiur dengan dagangan khilafah.

Penulis adalah Wasekjen Majelis Pemuda Islam Indonesia (MPII) Pusat

Dari (Opini) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/77770/pemuda-islam-dan-komitmen-kebangsaan

KARTANU

Rabu, 06 Februari 2013

Adakah Hafidz Quran yang Berprofesi Tukang Sapu Rendahan?

KARTANU - Sekitar empat tahun yang lalu tepatnya di awal Ramadhan 1433 H, saya mengikuti kuliah subuh di Masjid dekat rumah. Ustadz yang berceramah menceritakan kisah nyata dari seorang rektor salah satu perguruan tinggi swasta di Indonesia yang sedang mencari sistem pendidikan terbaik yang dapat menghasilkan dan mencetak generasi yang cerdas, bermartabat dan bisa bermanfaat bagi bangsa dan agama.

Untuk mencari sistem pendidikan terbaik, rektor tersebut pergi ke Timur Tengah untuk meminta nasihat dari seorang ulama terkemuka di sana.

Adakah Hafidz Quran yang Berprofesi Tukang Sapu Rendahan? - KARTANU
Adakah Hafidz Quran yang Berprofesi Tukang Sapu Rendahan? - KARTANU


Adakah Hafidz Quran yang Berprofesi Tukang Sapu Rendahan?

Ketika bertemu dengan ulama yang ingin ditemuinya, lalu dia menyampaikan maksudnya untuk meminta saran bagaimana menciptakan sistem pendidikan terbaik untuk kampus yang dipimpinnya saat ini.

Sebelum menjawab pertanyaan dari rektor, ulama tersebut bertanya bagaimana sistem pendidikan saat ini di Indonesia mulai dari tingkat bawah sampai paling atas?

Rektor menjawab, "paling bawah mulai dari SD selama 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, D3 3 tahun atau S1 4 tahun, S2 sekitar 1.5 - 2 tahun, dan setelah itu S3 untuk yang paling tinggi."

KARTANU

"Jadi untuk sampai S2 saja butuh waktu sekitar 18 tahun ya?" Tanya Sang Ulama.

KARTANU

"Iya,", jawab rektor tersebut.

"Lalu bagaimana jika hanya lulus sampai di SD saja selama 6 tahun, pekerjaan apa yang akan bisa didapat?"

"Kalau hanya SD paling hanya buruh lepas atau tukang sapu jalanan, tukang kebun dan pekerjaan sejenisnya."

" Tidak ada pekerjaan yang bisa diharapkan jika hanya lulus SD di negeri Kami." Jawab si rektor. "Jika Lulus SMP bagaimana?"

"Untuk SMP mungkin jadi office boy (OB) atau cleaning service," jawab kembali si rektor.

"Kalau SMA bagaimana?"

"Kalau lulus SMA masih agak mending pekerjaan nya di negeri Kami, bisa sebagai operator di perusahaan-perusahaan," lanjut rektor.

"Kalau lulus D3 atau S1 bagaimana?"

"Klo lulus D3 atau S1 bisa sebagai staff di kantor dan S2 bisa langsung jadi manager di sebuah perusahaan"

"Berarti untuk mendapatkan pekerjaan yang enak di negeri Anda minimal harus lulus D3/S1 atau menempuh pendidikan selama kurang lebih 15-16 tahun ya?"

"Iya betul"

"Sekarang coba bandingkan dengan pendidikan yang Islam ajarkan."

"Misal selama 6 tahun pertama (SD) hanya mempelajari dan menghapal Al-Qur'an, apakah bisa hapal 30 juz?"

"In shaa Alloh bisa" jawab si rektor dengan yakin.

"Apakah ada hafidz Qur'an di negeri Anda yang bekerja sebagai buruh lepas atau tukang sapu seperti yang Anda sebutkan tadi untuk orang yang hanya Lulus SD?"

"Tidak ada", jawab si rektor.

"Jika dilanjut 3 tahun berikutnya mempelajari dan menghapal hadis apakah bisa menghapal ratusan hadis selama 3 tahun?"

"Bisa."

"Apakah ada di negara Anda orang yang hapal Al-Qur'an 30 juz dan ratusan hadis menjadi OB atau cleaning service?"

"Tidak ada."

"Lanjut 3 tahun setelah itu mempelajari tafsir Al-Qur'an, apakah ada di negara Anda orang yang hafidz Qur'an, hapal hadis dan bisa menguasai tafsir yang kerjanya sebagai operator di pabrik?" Tanya kembali ulama tersebut.

"Tidak ada."

Rektor tersebut mengangguk mulai mengerti maksud sang ulama. "Anda mulai paham maksud Saya?"

" Ya".

"Berapa lama pelajaran agama yang diberikan dalam seminggu?"

" Kurang lebih 2-3 jam."

Sang ulama melanjutkan pesannya kepada si rektor, "jika Anda ingin mencetak generasi yang cerdas, bermartabat, bermanfaat bagi bangsa dan agama, serta mendapatkan pekerjaan yang layak setelah lulus nanti, Anda harus merubah sistem pendidikan Anda dari orientasi dunia menjadi mengutamakan orientasi akhirat karena jika Kita berfokus pada akhirat inshaa Alloh dunia akan didapat. Tapi jika sistem pendidikan Anda hanya berorientasi pada dunia, maka dunia dan akhirat belum tentu akan didapat. Pelajari Al-Qur'an karena orang yang mempelajari Al-Qur'an, Alloh akan meninggikan derajat orang tersebut di mata hamba-hambaNya."

"Itulah sebabnya Anda tidak akan menemukan orang yang hafidz Qur'an di negara Anda atau di negara manapun yang berprofesi sebagai tukang sapu atau buruh lepas walaupun orang tersebut tidak belajar sampai ke jenjang pendidikan yang tinggi karena Alloh yang memberikan pekerjaan langsung untuk para hafidz Qur'an.Hafidz Qur'an adalah salah satu karyawan Alloh dan Alloh sayang sama mereka dan akan menggajinya lewat cara-cara yang menakjubkan."

"Tidak perlu gaji bulanan tapi hidup berkecukupan."

Semoga bermanfaat, dan dapat dijadikan rujukan bagi guru dan orang tua kaum muslimin. Silahkan dishare agar semakin banyak yang terinspirasi untuk mempelajari dan menghapal Al-Qur'an dan as sunnah. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/adakah-hafidz-quran-yang-berprofesi-tukang-sapu-rendahan.html

Sabtu, 16 Juni 2012

Pekalongan Dibanjiri Ulama Peserta Konferensi Internasional Belanegara

KARTANU - Para tamu dari berbagai daerah telah sampai di Pekalongan untuk mengikuti berbagai rangkaian acara Konferensi Internasional Bela Negara. Nampak di antara para tamu tersebut ialah ulama sepuh kharismatis, KH Maimun Zubair, pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang.

Para tamu siang ini sudah mulai melakukan registrasi dan mendapat ID Card resmi untuk mengikuti Konferensi Internasional Bela Negara yang akan digelar pada 27-29 Juli 2016 di kota Pekalongan. Menurut salah satu panitia, Dani, pada siang hari ini registrasi peserta dilakukan di dua tempat.

Pekalongan Dibanjiri Ulama Peserta Konferensi Internasional Belanegara - KARTANU
Pekalongan Dibanjiri Ulama Peserta Konferensi Internasional Belanegara - KARTANU


Pekalongan Dibanjiri Ulama Peserta Konferensi Internasional Belanegara

“Hari ini, registrasi peserta konferensi dilaksanakan di dua tempat, sebagian tamu melakukan registrasi di Hotel Santika, sedangkan sebagian lagi melakukan registrasi di Gedung Kanzus Sholawat,” ujarnya.

KARTANU

Untuk peserta yang sudah melakukan registrasi di antaranya peserta dari Jakarta, Banten, Papua, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat. Untuk wilayah Bali, Maluku , dan lain-lain diperkirakam akan sampai sore ini.

Sebelumnya, panitia Konferensi Internasional Bela Negara mengirim undangan acara kepada para ulama, mursyid, muqoddam, khalifah, pengasuh pesantren, pengurus JATMAN, TNI, POLRI, dan tokoh masyarakat dari dalam maupun luar negeri.

KARTANU

Ada beberapa persyaratan yang harus diserahkan oleh para tamu untuk melakukan registrasi. Di antaranya, harus membawa surat mandat dari panitia. Menurut Nala Riskiati, salah satu panitia registrasi, setelah melakukan registrasi peserta akan diantar ke penginapan.

Lokasi acara registrasi cukup kondusif dan aman. Bapak Sugianto, salah satu personil Polsek Pekalongan Timur, menyatakan telah menerjunkan 15 personil untuk membantu kelancaran registrasi di Gedung Kanzus Sholawat. Sementara di Hotel Santika, pengamanan tak kalah ketat. Nampak belasan personil polisi dan jibom yang diturunkan untuk mengamankan lokasi.

KH. Dr. Hamdani, pengurus JATMAN yang ikut mengawasi proses registrasi, sangat antusias atas acara yang digagas oleh Al-Habib Lutfi Bin Yahya ini.

“Saya pikir ini adalah sejarah, sehingga thariqah tidak hanya dikonotasikan sebagai orang-orang yang ahli dzikir, tetapi juga memiliki komitmen nasionalisme. Bahkan ini mendunia! Dengan acara Konferensi Internasional Ulama Thariqah sedunia ini menunjukan bahwa ahli thariqah itu juga berkontribusi kepada dunia dalam hal peradaban, dan kemanusiaan yang berdasarkan atas perdamaian dunia. Dan itu adalah suatu sejarah yang mungkin belum terjadi sebelumnya. Kita patut mengapresiasi kegiatan ini, terutama kepada Habib Lutfi sebagai Rais ‘Aam JATMAN yang memelopori dan menggagas acara ini. Patut kita syukuri dan teladani," ujarnya.

Ia juga berharap, acara ini bisa ditindaklanjuti dari apa yang dibahas dalam konfrensi. “Harapan saya, kita bisa melanjutkan dan menindaklanjuti acara semacam ini, sebagaimana dhawuh Habib Lutfi, bahwa thariqah harus memberikan keteladanan di tengah konflik yang banyak terjadi saat ini,” pungkasnya.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/07/pekalongan-dibanjiri-ulama-peserta-konferensi-internasional-bela-negara.html

Sabtu, 26 November 2011

Cerita Jokowi Diberi Peci Mantan Presiden Gus Dur

KARTANU - Presiden Joko Widodo selalu berusaha meneladani sikap hidup dan laku perjuangan Alm. K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang sejalan dengan misi utama kelahiran Nabi Muhammad SAW, dalam menuntun manusia menuju akhlak mulia dan menebarkan rahmat bagi seluruh alam.

Hal ini disampaikan Presiden Joko Widodo dalam peringatan Haul Ke-7 K.H. Abdurrahman Wahid sekaligus Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1438 H yang digelar pada Jumat, 23 Desember 2016, di Komplek Al-Munawwaroh, Jalan Warung Silah No. 10, Ciganjur, Jakarta Selatan.

Cerita Jokowi Diberi Peci Mantan Presiden Gus Dur - KARTANU
Cerita Jokowi Diberi Peci Mantan Presiden Gus Dur - KARTANU


Cerita Jokowi Diberi Peci Mantan Presiden Gus Dur

"Meneladani ketulusan beliau yang menjaga silaturahim, melampaui sekat-sekat primordial yang ada. Meneladani kesederhanaan beliau, meneladani kesukarelaan beliau dalam melayani masyarakat, dan kerelaan berkorban untuk bangsa dan negara sampai akhir hayatnya," ujar Presiden Joko Widodo.

Terlebih lagi Presiden teringat dengan peristiwa ketika Ibu Sinta Nuriyah, istri Gus Dur memberikan peci yang biasanya dipakai Gus Dur pada hari Kamis, 26 September 2013, di Wahid Institute. Tapi sayangnya peci itu disimpan Presiden di Solo. “Jadi tidak bisa saya pakai tahun ini. Insya Allah tahun depan," kata Presiden.

"Pada khaul 7 tahun wafatnya Gus Dur sekarang, pemberian peci itu menjadi pengingat-ingat buat saya, menjadi pengingat-ingat buat kita semua untuk selalu berusaha meneladani Gus Dur,” ucap Presiden.

Menurut Presiden Joko Widodo, Gus Dur yang wafat pada 30 Desember 2009 lalu, dalam sepanjang hidupnya selalu menekankan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah milik seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali, milik bersama, bukan milik golongan dan bukan milik perseorangan.

“Saya percaya Gus Dur pasti gemes gregetan kalau melihat ada kelompok atau orang-orang yang meremehkan konstitusi, yang mengabaikan kemajemukan kita, yang memaksakan kehendak dengan aksi-aksi kekerasan, radikalisme, terorisme,” ujar Presiden.

Melihat situasi sekarang ini, lanjut Presiden, bangsa Indonesia seharusnya merasa bersyukur. Ketika banyak negara lain goyah mencari pedoman hidup, bangsa Indonesia memiliki Pancasila. “Ketika negara-negara lain kebingungan mencari panduan berbangsa dan bernegara, kita mempunyai Pancasila.

Seharusnya kita bisa membangun lebih cepat, bergerak lebih cepat, sehingga kita bisa menjadi negara pemenang, agar kita menjadi bangsa yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian,” kata Presiden.

Lebih lanjut, Presiden Joko Widodo juga mengagumi sikap optimisme Gus Dur dalam memandang bangsa Indonesia ke depan. “Gus Dur itu selalu optimis dalam memandang Indonesia ke depan. Tidak kagetan, tidak gumunan. Itu Gus Dur,” ucap Presiden.

Bahkan dalam menyelesaikan permasalahan bangsa, Gus Dur selalu berpegang teguh pada sebuah kaidah fiqih 'Yassirru wala Tuasirru' yang memiliki makna permudahlah dan jangan dipersulit.

"Ketika mengambil keputusan yang rumit, saya suka teringat kata-kata beliau (Gus Dur), 'Gitu saja kok repot!?," ucap Presiden Joko Widodo.

Dalam Haul ke-7 kali ini Presiden Joko Widodo berkesempatan menyaksikan pembacaan dan penandatangan Ikrar Damai Ummat Beragama Indonesia oleh 9 Pemuka Agama, sebagai bentuk persatuan atas kemajemukan negara Indonesia.

Presiden Ingatkan Pesan Gus Dur pada Cagub DKI Jakarta Sebagai sosok yang dicintai berbagai kalangan masyarakat, peringatan Haul ke-7 Gus Dur dihadiri pula oleh sejumlah pimpinan lembaga negara, tokoh masyarakat, pemuka agama, para kyai, para ulama hingga para santri. Namun, tiga pasang calon Gubernur DKI Jakarta yang akan berkompetisi dalam Pilkada DKI 2017 mendatang juga tampak hadir di tengah para undangan.

Atas permintaan para undangan, Presiden Joko Widodo menyempatkan diri mengabsen kehadiran ketiga pasangan calon Gubernur DKI Jakarta tersebut. Ketiga cagub dan cawagub yang hadir adalah Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni, Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat, serta Anies Baswedan.

"Nih sekarang hadir disini tiga calon pasangan calon Gubernur DKI hadir semuanya. Diabsen dulu, katanya tadi yang di sana minta di absen. Silahkan berdiri semuanya," ujar Presiden Joko Widodo. Melihat keakraban ketiganya, Presiden Joko Widodo pun mengapresiasi solidaritas dan kerukunan yang ditunjukkan oleh ketiga pasangan calon Gubernur DKI Jakarta.

"Lha mbok ya begitu yang rukun, wong kita ini kan saudara, saudara sebangsa dan setanah air. Persaudaraan itu yang diajarkan oleh Gus Dur," ucap Presiden.

Turut hadir dalam acara tersebut, di antaranya Wakil Presiden RI ke-11 Boediono, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, anggota Wantimpres Sidarto Danusubroto dan Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid serta Yenny Wahid selaku tuan rumah. [KARTANU]

Keterangan:

Laporan diatas ditulis oleh Kepala Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden, Bey Machmudin, 23 Desember 2016.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/cerita-jokowi-diberi-peci-mantan-presiden-gus-dur.html

Kamis, 25 Agustus 2011

Dilinggis Hingga Roboh di Tengah Ceramah, Ini yang Dikatakan KH Ali Makshum Krapyak

KARTANU - Pada Malam Jumat Kliwon, 08 Desember 1989, seiring matahari tenggelam di ufuk barat, KH. Ali Maksum menghadap kepada Sang Kholiq, innalillahi wainna ilahi roojiun.

Beliau adalah Putra Mbah KH Makshum Lasem yang pernah menjabat Rais Aam PBNU satu periode (1980-1984).

KH Ali Makshum adalah kepemimpinan Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, peninggalan pendirinya, almaghfurlahu waliyullah Simbah KH. Munawwir Krapyak, guru KH Arwani Amin Kudus. Banyak teladan kisah yang bisa dijadikan ibrah (cermin sejarah) untuk kita, terutama di tengah makin mudahnya umat Islam tersulut amarah dan kebencian.

Dilinggis Hingga Roboh di Tengah Ceramah, Ini yang Dikatakan KH Ali Makshum Krapyak - KARTANU
Dilinggis Hingga Roboh di Tengah Ceramah, Ini yang Dikatakan KH Ali Makshum Krapyak - KARTANU


Dilinggis Hingga Roboh di Tengah Ceramah, Ini yang Dikatakan KH Ali Makshum Krapyak

Selain alim dan keramat, Kiai Ali Makshum dikenal sangat dermawan. Beliau mengikhlaskan semua barang-barangnya yang pernah diambil oleh para santri. Suatu kali, Kiai Ali Makshum dawuh begini, "Semua barangku yang diambil oleh santri, saya halalkan. Asalkan tidak ketahuan". Dawuh ini diriwayatkan dari Sakhowatin Nafsi, santriwati.

KH Ali Maksum ini lebih suka dipanggil Pak Ali daripada Mbah Yai, sebagaimana lazimnya di tradisi penghormatan santri kepada pengasuh pesantren. Beliau tidak berjumawa sebagai kiai besar yang punya posisi paling terhormat di Nahdlatul Ulama (NU), sebagai Rais Aam. Dan semua santri memang memanggilnya "Pak Ali" karena beliau lebih suka dianggap sebagai orang tua oleh santrinya. Sangat rendah hati sekali.

KARTANU

Kata santri-santri, beliau ini disebut kiai yang "m-bapak-i" (berperan laiknya bapak) dan tidak "ngiyaini" (menganggap dirinya kiai). Singkatnya, beliau adalah sosok kiai yang bersedia mendengar dan selalu melakukan tabayun ketika ada persoalan umat, Jarang sekali beliau menghakimi orang dari jarak jauh, Selalu melakukan tabayyun (klarifikasi) atas kabar yang diterima. Bijak dan tidak gegabah.

KARTANU

Dilinggis

Ketika KH Ali Makshum ceramah dalam sebuah acara haul, tiba-tiba muncul orang yang membawa sesuatu dibungkus kain surban berwarna putih. Ia naik ke panggung. Secara cepat pula, orang tersebut langsung memukulkan benda itu ke Kiai Ali membabi buta, ba bi bu!

Kiai Ali pun roboh karena benda tersebut sangat tajam dan berat, linggis. Sempat rawat inap di rumah sakit hingga dua bulan lamanya. Sungguh perbuatan yang tidak bisa dimaafkan. Beliau rubuh karena bukan pendekar sakti yang mudah pemer kekebalan.

Para santri pun marah tak karuan. Menurut mereka, laki-laki itu sudah layak dipenjara karena perbuatannya sangat sadis dan keterlaluan. Namun kiai meredam amarah para santrinya itu, "kabeh anak-anak ku lan santriku ora keno dendam lan ora keno anyel/ semua anakku dan para santriku, tidak boleh dendam dan benci," begitu pesan luhurnya.

Kekuatan sabar, meredam amarah dan tidak mendendam itulah yang nampaknya justru terlihat lebih sakti daripada kanuragan dan kekebalan. Beliau memaafkan pelaku pemukulan dengan linggis tersebut, tanpa balasan, tanpa dendam. Subhanallah bukan main sabarnya kiai kita ini. [KARTANU/ab]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/dilinggis-hingga-roboh-di-tengah-ceramah-ini-yang-dikatakan-kh-ali-makshum-krapyak.html

Rabu, 13 Oktober 2010

Gus Dur Menemukan Makam Syeikh Abdullah Qutbuddin Wonosobo

KARTANU - Di Desa Candirejo Kecamatan Mojotengah Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah terdapat sebuah makam kuno. Konon, makam tersebut bersemayam jasad seorang tokoh pembawa alirah Tarekat Naqsbandiyah pertama kali di tanah Jawa. Syekh Abdullah Qutbudin namanya. Dia berasal dari Iran. Menyebarkan Islam dengan membawa bendera tarekat yang kemudian menyatu dengan kehidupan masyarakat Jawa. Bahkan diyakini, Candirejo sendiri merupakan desa Islam pertama di Jawa karena kedatangan Syekh Abdullah Qutbudin ini.

Belum ada penelitian ilmiah yang mengupas Syekh Abdullah Qutbudin ini. Siapa dirinya, bagaimana sepak terjangnya dalam menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa, khususnya di Wonosobo. Hingga kini, cerita tentang tokoh tersebut masih dari mulut ke mulut.

Gus Dur Menemukan Makam Syeikh Abdullah Qutbuddin Wonosobo - KARTANU
Gus Dur Menemukan Makam Syeikh Abdullah Qutbuddin Wonosobo - KARTANU


Gus Dur Menemukan Makam Syeikh Abdullah Qutbuddin Wonosobo



Gus Dur Menemukan Makam Syeikh Abdullah Qutbuddin Wonosobo - KARTANU
Gus Dur Menemukan Makam Syeikh Abdullah Qutbuddin Wonosobo - KARTANU


Gus Dur Menemukan Makam Syeikh Abdullah Qutbuddin Wonosobo

Sejak dikunjungi Gus Dur, makam Syekh Abdullah Qutbudin mulai ramai peziarah. Gus Dur yang menemukan makam tokoh yang bersejarah dalam perkembangan Islam di Jawa ini. Menurut cerita KH Chabibullah Idris, ulama terkenal di Wonosobo, Gus Dur tahun 1994 meminta dirinya untuk menemani mencari makam Syekh Abdullah Qutbudin yang berada di Candi.

Peristiwa itu jauh sebelum Gus Dur menjadi Presiden RI. Tokoh kharismatik ini memang memiliki kepedulian tinggi terhadap peninggalan bersejarah. Termasuk mencari makam-makam yang memiliki nilai sejarah tinggi. Seperti halnya makam Syekh Abdullah Selomanik di Dusun Kalilembu, Dieng Wetan yang merupakan tokoh religius juga. Tak peduli di tengah hutan atau di atas gunung, jika ada makam wali, Gus Dur akan berusaha menziarahinya. Sekalipun dengan segala keterbatasan fisik yang dialaminya. Dengan tekad kuatnya tersebut, segala rintangan dapat dilaluinya.

Diungkapkan Edi dan Afif Mustofa, tokoh pemuda Candirejo. Sebelumnya masyarakat tidak mengetahui siapa yang dikuburkan di makam tersebut. Sehingga makam tersebut dibiarkan saja. Sampai akhirnya pada tahun 1994, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur datang ke Desa Candirejo mengunjungi makam.

“Kami tidak tahu ada makam tokoh terkenal Islam. Karena makamnya tidak sendirian, tapi menjadi satu dengan kuburan masyarakat desa. Tidak seperti tokoh-tokoh lain, yang makamnya berada di ketinggian atau sendirian. Makam Syekh Qutbudin ini campur dengan makam desa,” ungkap pemuda lulusan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang itu.

Dirinya tidak paham betul, yang dimaksud candi itu nama desa atau kawasan candi di Dataran Tinggi Dieng. “Kata Gus Dur, Islam pertama kali masuk ke Jawa di candi. Kita ini tidak tahu candi itu mana, apakah komplek candi Dieng atau di mana. Beliau datang ke Wonosobo. Saya diminta menemaninya mencari makam tokoh Islam ini,” jelasnya.

KH Chabibullah Idris bersama kru Gus Dur memburu makam kuna tersebut. KH Chabib ditemani anaknya mengendarai sepeda motor dini hari. Sementara rombongan Gus Dur berangkat sendiri. Mereka berpencar.

“Akhirnya sampai di Desa Candirejo. Saya tanya apakah ada makam kuna di desa itu. Kata warga memang ada, tapi tidak jelas makam siapa. Letak makam di tengah-tengah sawah. Tidak ada akses jalan ke sana. Hanya jalan setapak, bisa dikatakan jalan lembu. Wong blekuk-blekuk susah sekali. Saya berharap, Gus Dur jangan sampai ke situ karena jalannya mengerikan kayak gitu. Begitu saya sampai di lokasi, mencari mana yang dimaksud makam tua. Eh ternyata Gus Dur lebih dulu tiba di makam,” jelasnya panjang lebar.

Menurut keterangan Sastro Al Ngatawi, mantan asisten pribadi Gus Dur menuturkan, bersama Gus Dur, ketika mereka sampai di Wonosobo hampir Subuh, lalu mampir di salah satu pesantren (Ponpes Al-Asy’ariyyah) di kota tersebut. Ditemani beberapa Gus (putra kiai), mereka berangkat ke sebuah daerah yang diyakini masyarakat menjadi makam wali tersebut, posisinya tepat di bawah sebuah pohon besar, tetapi Gus Dur tak menghiraukannya.

Lalu mereka segera berjalan menuju lokasi lain. Di tengah-tengah perjalanan tersebut, rombongan tersebut bertemu dengan orang tua. Dalam suasana yang masih sepi tersebut, mereka mengamati orang tua yang terus berjalan di tengah-tengah sawah. Tiba-tiba saja, ketika di tengah sawah itu orang tua tersebut menghilang. Gur Dur pun berujar, “Ya itu tadi Syeikh Hubbuddin dan di tengah-tengah sawah tadi makamnya,” katanya.

Lanjut KH Chabib, begitu sampai ke makam yang dituju, mendadak Gus Dur jatuh terduduk. Dhalab. Menyatu dengan arwah dan mengucapkan istigfar seperti tanpa sadar. Mengetahui itu, para pengikut segera merubungnya. Ternyata makam kuna yang sebelumnya tidak dikenal, merupakan tempat bersemayam Syekh Abdullah Qutbudin.

“Menurut cerita Gus Dur, Syekh Abdullah ini mendirikan pesantren di Desa Candirejo. Karena tidak memiliki keturunan, lama-kelamaan pesantrennya hancur. Ini bisa dilihat dari banyaknya batu-batu candi yang berada di sekitar makam,”tutur Ketua Majelis Ulama Indonesia Jateng tersebut.

Diawali dari kedatangan Gus Dur itulah, makam akhirnya banyak diziarahi masyarakat. Terutama kalangan pondok pesantren. Dikatakan KH Chabib, mengutip pengakuan warga Candirejo, bertahun-tahun lalu, makam itu pernah didatangi orang asing. Tampaknya dia adalah seorang antropolog dari Eropa yang tengah mengadakan penelitian.

Orang Eropa heran dengan keberadaan Islam di Indonesia. Disebarkan sekian ratus tahun, tapi sampai saat ini tidak bisa hilang, bahkan semakin berkembang. Karena penyebaran agama Islam salah satu caranya dengan tarekat. Sebuah metode yang mengedepankan keimanan. Hal-hal keduniawian ditinggalkan. Hal inilah yang membuat Islam mendapat tempat di hati masyarakat.

Muncul Cahaya di Atas Makam Desa Candirejo Kecamatan Mojotengah tidak terlalu jauh dari Kota Wonosobo. Hanya sekitar 8 kilometer, dapat ditempuh dengan mobil maupun kendaraan roda dua. Jalan menuju desa tersebut cukup bagus, sudah beraspal meskipun tidak terlalu lebar.

Namun ada sebagian jalan desa yang masih berbatu-batu. Makam Syekh Abdullah Qutbudin sendiri berada agak jauh dari desa. Lokasinya di tengah-tengah areal persawahan bercampur dengan makam umum warga setempat.

Jalan menuju makam belum bagus, berupa batu-batu. Bahkan sebelumnya, kata Edi, jalan tersebut berupa setapak. Sejak Gus Dur kerap mendatangi makam, dibuat jalan lebar. Meskipun berbatu-batu namun dapat dilewati sepeda motor. Letak makam dari perkampungan Candirejo sekitar 1 kilometer. Sepanjang jalan menuju makam, disuguhi pemandangan hamparan tanah pertanian. Tanaman kol, padi dan jagung. Banyak juga pohon-pohon albasia yang tumbuh subur.

Di dekat makam terdapat sumber air yang sangat jernih. Airnya begitu dingin. Mengalir sepanjang waktu, tak pernah kering meskipun musim kemarau. Memasuki makam terkesan dingin dan sunyi. Maklum saja, komplek tersebut termasuk makam kuna. Ditumbuhi banyak pohon-pohon besar berusia ratusan tahun. Akar serabutnya menjalar ke mana-mana memenuhi makam. Sedangkan makam Syekh Abdullah Qutbudin berada persis di sebelah kiri pintu masuk. Berada di tengah-tengah akar yang bertonjolan. Sangat sederhana. Tidak ada cungkup atau kijing mewah. Berupa gundukan tanah yang pinggir-pinggirnya diberi batu-batu. Terdapat dua batu nisan berukir di kanan dan kirinya. Ada dua makam di situ yang berdampingan. Menurut warga, satunya adalah makam istri Syekh Abdullah Qutbudin.

Di sekitarnya, berserakan batu-batu tua berbentuk persegi panjang seperti bata. Diyakini batu tersebut adalah bekas bangunan pondok pesantren milik Syekh Abdullah. Konon, Syekh Abdullah tidak mau makamnya dibangun mewah. Dia memilih apa adanya berupa batu nisan yang berbentuk seperti candi.

“Masyarakat sini sering melihat ada cahaya yang muncul dari makam. Pernah petani cabe menunggui tanamannya, tiba-tiba ada cahaya terbang dari makam. Pernah juga ada seorang pimpinan pondok pesantren bersama 12 santrinya berziarah. Lalu hujan sangat deras. Anehnya, mereka tidak kehujanan sama sekali,” imbuh KH Chabibullah Idris.

Kini makam mulai ramai pengunjung. Sebelum Lebaran kemarin, ada sekitar 13 mobil yang datang berziarah. Mereka berasal dari Wonosobo. Kadang, peziarah memilih waktu malam hari, agar tak banyak orang tahu. Dan lebih khusuk berdoa. Suasana alami ini sangat mendukung peziarah religius.

Jalan menuju makam akan diaspal. Agar memudahkan peziarah datang ke makam. Sekaligus didirikan tempat representatif. Apabila mulai ramai, diharapkan direspon warga dengan mendirikan tempat berjualan baik makanan maupun suvenir. Tidak ketinggalan dibangun juga tempat parkir yang memadai. Pemerintah Kabupaten Wonosobo saat ini berusaha mengembangkan wisata religius dengan mengangkat potensi lokal setempat.

Sekilas Tentang Syekh Qutbudin Syaikh Qutbudin yang asli Persia itu dimakamkan di Desa Candirejo, Kecamatam Mojotengah, Wonosobo. Kondisi makam yang terletak di pinggir desa itu terkesan wingit karena ditumbuhi pepohonan yang umurnya mencapai ratusan tahun. Di sebelah makam terdapat sumber air yang sangat jernih. Mata air tersebut mengalir sepanjang tahun, tidak peduli musim kemarau panjang.

Di sekitar makam terdapat bebatuan kuno persegi dengan ukuran tertentu. Menurut penelitian tim sejarah Wonosobo yang berkunjung ke makam tersebut pertengahan September 2007 lalu, batu tersebut diduga merupakan reruntuhan candi atau tempat ibadah lainya.

Menurut Edi Masrukhin SAg, tokoh agama Desa Candirejo, makam tua tersebut telah lama dikunjungi orang. Bahkan pernah menjadi objek penelitian dua orang antropolog dari Eropa. Namun warga tidak mengetahui kalau makam tersebut merupakan salah satu tokoh penting dalam penyebaran agama Islam di Jawa. Masyarakat baru mengerti setelah KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) berziarah pada tahun 1994.

“Kami kira hanya makam kuno biasa. Tetapi setelah Gus Dur datang kami menjadi tahu kalau makam tersebut cukup bersejarah dalam penyebaran ajaran Islam di Jawa,” ujar Edi Masrukhin.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Dur menjelaskan riwayat Syaikh Qutbudin. Menurut Gus Dur, Islam yang pertama kali datang ke Indonesia beraliran thoriqoh yang lebih mudah beradaptasi dengan budaya masyarakat setempat dari pada aliran fiqh yang cenderung lebih kaku.

Setelah berdakwah di banyak tempat, Syaikh Qutbudin bermukim (tinggal) dan membuat pesantren di Desa Candirejo. Karena tidak ada anak turun yang meneruskan, setelah ratusan tahun pesantren itu hilang dan tinggal puing-puing. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/05/gus-dur-menemukan-makam-syeikh-abdullah-qutbuddin-wonosobo.html

Rabu, 31 Maret 2010

Awas, Meletakkan Al-Quran di Lantai Bisa Murtad

KARTANU - Al-Quran adalah Kalamullah, maka setiap mukmin wajib memuliakan Kalamullah. Allah Ta'ala mewahyukan: "Demikianlah (perintah Allah). dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, Maka Sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati." (QS. al-Hajj, 22:32). Dan juga pada ayat "Sesungguhnya Al-Quran Ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada Kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan." (QS. al-Waqia'ah, 56:77-79).

Awas, Meletakkan Al-Quran di Lantai Bisa Murtad - KARTANU
Awas, Meletakkan Al-Quran di Lantai Bisa Murtad - KARTANU


Awas, Meletakkan Al-Quran di Lantai Bisa Murtad

Memuliakan dan mengagungkan Mushaf Al-Quran merupakan salah satu bentuk pengagungan terhadap syiar-syiar Allah, dan sekaligus bukti keimanan dan ketakwaan seseorang. Oleh karena itu, kita wajib memperlakukan Mushaf Al-Quran dengan penuh adab, sopan santun yang tinggi.

Dan hendaknya kita juga mendidik anak-anak kita agar tidak meletakkan AlQuran secara langsung di lantai tanpa alas apa pun yang mengangkatnya agak tinggi dari atas lantai. Karena, barang siapa meletakkan Mushaf secara langsung di lantai dengan niat untuk menghinakannya, maka dia menjadi murtad dan kufur, keluar dari Islam, semoga Allah melindungi kita semua dari perbuatan semacam ini.

Dan jika seseorang meletakkan Mushaf Al-Quran di lantai secara langsung tanpa niat menghinakan Al-Quran, kendati tidak menjadi murtad, akan tetapi ia sangat tidak beradab kepada Al-Qur'an, telah memperlakukan Kitabullah dengan sangat buruk. (Diasarikan dari Fatwa Habib Umar bin Hafidz).

Syaikh Sulaiman bin Muhammad Al-Bujairimi dalam kitab Tuhfatul Habib menyatakan:

وَ يَحْرُمُ وَضْعُ الْمُصْحَفِ عَلَى اْلأَرْضِ بَلْ لاَ بُدَّ مِنْ رَفْعِهِ عُرْفاً وَلَوْ قَلِيْلاً

"Haram hukumnya meletakkan mushaf di lantai, harusnya mushaf tersebut harus diangkat, meskipun hanya sedikit."

Rasulullah saw tidak pernah meletakkan lembaran-lembaran mushaf di lantai, bahkan ketika sejumlah Yahudi memberikan kepada beliau kitab Taurat, Rasulullah saw meletakkan Taurat tersebut di atas bantal.

أَتَى نَفْرٌ مِنْ يَهُودَ فَدَعُوا رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلّم إلَى الْقُفِّ، فأتَاهُمْ في بَيْتِ المِدْرَاسِ، فقالُوا: يَا أبَا الْقَاسِمِ إنَّ رَجُلاً مِنَّا زَنَى بامْرَأَةٍ فاحْكُمْ بَيْنَهُمْ، فَوَضَعُوا لِرَسُولِ الله صلى الله عليه وسلّم وِسَادَةً فَجَلَسَ عَلَيْهَا ثُمَّ قالَ: ائْتُونِي بالتَّوْرَاةِ، فأُتِيَ بِهَا، فَنَزَعَ الْوِسَادَةَ مِنْ تَحْتِهِ وَوَضَعَ التَّوْرَاةَ عَلَيْهَا وقالَ: آمَنْتُ بِكَ وَبِمَنْ أنْزَلَكَ.....

"Beberapa orang Yahudi datang dan mengundang Rasulullah saw untuk hadir ke Quff (tempat dekat Madinah), lalu beliau mendatangi mereka di tempat yang biasa mereka gunakan untuk mengaji. Mereka berkata, "Wahai Abul Qasim, seorang laki-laki di antara kami berzina dengan seorang wanita, maka tetapkanlah hukum bagi mereka." Mereka lantas memberi bantal Rasulullah saw untuk digunakan duduk, beliau pun duduk. Kemudian beliau minta diambilkan Taurat, naskah Taurat itu lalu diberikan kepada beliau. Beliau menarik bantal yang didudukinya dan meletakkan Taurat tersebut di atasnya seraya bersabda: "Aku beriman kepadamu dan kepada Dzat Yang menurunkanmu....." (Sunan Abu Dawud, no.4443)

Hadits di atas secara jelas memperlihatkan bagaimana Rasulullah saw memperlakukan kitab Taurat yang telah diubah oleh orang Yahudi tersebut di atas bantal, tentunya Al-Qur'an lebih utama untuk diperlakukan seperti itu. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/06/awas-meletakkan-al-quran-di-lantai-bisa-murtad.html

Minggu, 12 April 2009

Yang Terjadi Setelah Wahabi Membunuh Setengah Juta Muslim

KARTANU - Kalau mau diruntut, akar ideologi Wahabi itu Ibn Taymiyyah. Dari Ibnu Taymiyyah, mengalir ke murid-muridnya generasi awal, yaitu: Ibnu Qayyim al-Jawziyyah.

Yang Terjadi Setelah Wahabi Membunuh Setengah Juta Muslim - KARTANU
Yang Terjadi Setelah Wahabi Membunuh Setengah Juta Muslim - KARTANU


Yang Terjadi Setelah Wahabi Membunuh Setengah Juta Muslim

Selang generasi kemudian, muncul Muhammad ibn Abdul Wahhab. Orang ini, menurut Hamid Alghar, bukan ulama besar, tapi ideolog yang bersekutu dengan penguasa suku Dariyah, namanya Ibn Saud. Dari aliansi ini, kelak terbentuk Saudi Arabia.

Pada fase-fase konsolidasi awal, sekitar 1920-an, aliansi ideolog dan kepala suku kasar ini telah membunuh hampir setengah juta muslim yang tidak sealiran. Selang generasi kemudian, muncul ideolog-ideolog lain seperti Taqyuddin Nabhani (pendiri Hizbut Tahrir di Palestina) dan muridnya Nashiruddin al-Albani.

Albani ini bekas tukang servis jam, namun terus nulis kitab tentang silsilah hadis sahih dan dhaif. Kitab ini jadi pegangan Wahabi untuk menilai kriteria hadis yang bisa dipakai menurut madzhab mereka sendiri. Banyak hadist yang selama ini dipakai NU, didhaifkan atau dimaudhu'kan oleh Albani.

Jadi, kalau kita temukan buku, pamflet, majalah, narasi, dan tayangan yang mengutip hadist lalu dberikan keterangan "disahihkan atau di-dhaifkan oleh Albani", itu ciri-ciri aliran wahabi. Kalau di kalangan NU dikenal kutub sittah (Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Turmudzi, Nasa'i, dan Ibn Majah), mereka mengangkat imam hadis, namanya Mbah Albani. Hadist-hadits yang dinyatakan sahih atau hasan oleh keenam perawi hebat itu belum cukup sebelum ditashih oleh Mbah Albani yang wahabi itu.

Pada generasi mutakhir, kerajaan Arab Saudi mengangkat 'polisi fatwa' untuk mengawasi ajaran Islam, antara lain Bin Baz dan kemudian digantikan Utsaimin. Hati-hati kalau beli kitab. Lihat cetakannya. Sekarang ini banyak kitab-kitab yang jadi rujukan kalangan NU yang diberi anotasi (ditahqiq atau diberi syarah) oleh Wahabi.

Riyadhus Salihin karya Imam Nawawi misalnya, disyarah oleh Utsaimin. Bagian-bagian yang tidak cocok, ia 'disortir'. Kalaupun dipertahankan, ya diberi catatan-catatan jelek. Itulah cara-cara wahabi untuk mendikite umat mengikuti mereka. Pintar sekali orang-irang wahabi mempengaruhi orang untuk ikut ajaran mereka. Yang tidak sesuai mereka, akan dituduh murtad, sesat dan bid'ah. Orang awam agama akan berpikir, daripada dianggap sesat lebih baik mereka nurut saja.

Ada yang menyebut, wahabisme adalah bentukan Inggris. Sebenarnya, wahabisme pada awalnya bukan bentukan Inggris. Ia lahir tahun 1700-an (Muhammad ibn Abdul Wahab lahir tahun 1703). Dalam perjalanan, Inggris mendekati Asia Barat Daya yang kaya minyak. Ketika itu, Inggris perlu resources utk menghadapi kekuatan lain, yaitu Perancis, Jerman, Rusia, dan Turki.

Pada 1865, seorang kolonel Inggris menemui Raja di Istana Saud di Riyadh menawarkan uang dan bantuan. Deal yang lebih jelas diteken pada tahun 1915. Ada operator luar biasa, namanya John Philby, yang memerankan upaya hebat Inggris dalam rangka mengontrol Saudi.



Philby ini bahkan berpura-pura menjadi mu'allaf, berganti nama menjadi Abdullah. Philby menggerakkan para petarung wahabisme yang direkrut dari orang-orang Badui yang kemudian diberi nama al-Ikhwan, untuk membantu Inggris menguasai Teluk Persia.

Salah satu maha karyanya berpuncak pada keruntuhan Khilafah Turki Usmani pada 1924. Maunya Inggris, kekhilafahan Islam harus pindah pusat ke Saudi, yang sudah dalam cengkeraman Inggris. Dengan menguasai Saudi dan memindahkan kekhilafahan Islam ke jazirah Arab, Inggris berharap dapat menguasai seluruh dunia Islam yang rata-rata kaya SDA.

Dari 1920-an hingga awal 1940-an, Asia Barat Daya praktis berada dalam cengkeraman skenario imperialisme Inggris. AS mulai masuk ke jazirah, dibrokeri oleh John 'Abdullah' Philby tadi. Setelah pura-pura menajdi mu'allaf, dia menjadi agen lepasan. Dia menjadi konsultan Socal (Standard Oil of California).

Mengaku dekat dengan keluarga Raja, Philby membantu perusahaan-perusahaan minyak AS (Socal, Texaco, Exxon- Mobil, dan Aramco) dan berhasil mendapatkan konsesi ladang-ladang minyak Saudi pada 1933.

Pada 1945, di sebuah geladak kapal yang berlabuh di Great Bitter Lake, di atas Terusan Suez, Franklin Delano Roosevelt bertemu dengan Raja Abdul Aziz bin Saud. Pertemuan ini menjadi semacam inagurasi dari konsesi minyak yang sudah diteken pada 1933.

Setelah pertemuan tersebut, FDR dengan lantang berkata: "Dengan ini saya menyatakan bahwa pertahanan Saudi Arabia sangat penting bagi pertahanan Amerika Serikat." Sejak saat itulah, AS berhasil menggeser dominasi Inggris. AS mulai terlibat dalam petualangan maut, membina dan menggandeng kelompok Islam militan yang kelak menyebar prahara di dunia Islam.

Dalam bahasa Robert Dreyfuss, AS telah menabuh dan memainkan permainan iblis (devil's game) selama 60 tahun, sebelum akhirnya mereka terhenyak oleh peristiwa 9/11/2001. Osama, yang dulu menikmati proyek-proyek bantuan AS di Arab Saudi, tiba-tiba nekat menyuruh orang menabrak menara kembar WTC dan Pentagon. Sejak saat itulah, AS terus memproduksi dalih untuk mewujudkan skenario benturan.

Gagal Paham Tentang Saudi di Indonesia

Tradisi wahabi adalah penghancuran. Menurut Oalgrave, dalam menaklukkan, mereka memilih membantai dan menghancurkan, ketimbang menyasar barang rampasan. Pada 1802, mereka menyerbu Karbala, menghancurkan kubah di atas makam imam-imam Syiah dan membunuh sebagian besar penduduk kota. Jadi kalau sekarang Wahabi mau basmi Syiah, itu hanya memutar kembali cerita lama, kesumat yang tidak ada habis-habisnya.

Provokasi perpecahan yang ditimbulkan kian meluas. Indonesia sudah darurat wahabi. Semua harus bangkit mencegah dengan cara cerdas dan beradab sebelum NKRI porak-poranda seperti Timur Tengah. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/yang-terjadi-setelah-wahabi-membunuh-setengah-juta-muslim.html

Senin, 20 Juni 2005

Kini Terbit Buku Fiqih Jenazah ala NU

Surabaya, KARTANU. Tidak banyak yang bisa merawat jenazah. Praktis dalam keseharian, "tugas" ini hanya dibebankan kepada para modin dan tokoh agama setempat. Inilah yang mendorong Kiai Maruf Khozin menulis buku tentang itu agar semua orang mudah melaksanakannya dan tetap sesuai syariat.

Ia menerbitkan buku berjudul "Fikih Jenazah An-Nadliyah". Kelebihannya antara lain di samping berbicara teknis pelaksanaan, juga mengulas dalil amaliah, baik sebelum serta sesudah kematian. "Melengkapi dan penyempurnaan dari sejumlah buku serupa yang beredar di pasaran," kata Kiai Maruf Khozin saat dihubungi KARTANU, Senin (23/2).

Kini Terbit Buku Fiqih Jenazah ala NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kini Terbit Buku Fiqih Jenazah ala NU (Sumber Gambar : Nu Online)


Kini Terbit Buku Fiqih Jenazah ala NU

Keterpanggilan menerbitkan buku ini juga berdasarkan masukan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak. "Bahan yang saya peroleh adalah dari sejumlah pengajian ke sejumlah masjid, mushalla maupun pengurus MWCNU serta bahan tambahan dari pertanyaan yang disampaikan jamaah," kata salah seorang fungsionaris Lembaga Bahtsul Masail PWNU Jatim ini.

KARTANU

"Buku ini juga secara khusus dijadikan sebagai bantahan terhadap maraknya buku-buku Wahabi tentang masalah kematian," terangnya. Pada saat yang sama, buku yang diterbitkan Muara Progresif Surabaya ini diharapkan kian memantapkan bagi warga NU bahwa apa yang dilakukan selama ini memiliki keabsahan dalil sehingga diamalkan oleh ulama salaf, lanjutnya.

Dalam pandangan aktivis PW Aswaja NU Center Jatim tersebut, "Justru seperti kelompok Wahabi lah yang tidak memiliki catatan historis dengan ulama salaf dan cenderung memutus amaliah dari ulama terdahulu," ungkapnya.

KARTANU

Kiai Maruf Khozin menandaskan bahwa amaliah yang dilakukan Nahdliyin cukup banyak, mulai membacakan Yasin, kesaksian, tahlilan, membaca al-Quran di makam, sedekah atas nama al-marhum dan sebagainya.

"Tujuan utamanya yaitu agar mendapat ampunan karena orang meninggal sangat membutuhkan rahmat dari Allah, terlebih lagi kuburan adalah jalan penentu keselamatan seseorang ke alam barzah," katanya sembari menyitir hadits shaheh dari Turmudzi.

Kiai Maruf Khozin menyadari bahwa sejumlah dalil dan hujjah yang dicantumkan dalam bukunya adalah rangkuman dari beberapa kitab ulama salaf. Tidak berhenti sampai di situ, sebelum buku diterbitkan, naskah yang ada dimintakan tashih kepada sejumlah kiai dan ulama terkemuka.

"Khusus kepada KH Muhyiddin Abdusshomad yang juga menjabat Rais Syuriah PCNU Jember serta KH Asyhar Shafwan selaku Ketua LBM PWNU Jatim saya mengucapkan terima kasih karena berkenan memberi kata sambutan," katanya.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada KH Abdurrahman Navis (Direktur PW Aswaja NU Center Jatim), Ustadz Idrus Ramli, serta sejumlah pihak yang telah mendukung percepatatan bagi terbitnya buku tersebut.

Tirmidzi Munahwan selaku pemilik Penerbit Muara Progresif menandaskan bahwa kehadiran buku dengan muatan fikih praktis sangat ditunggu masyarakat. "Apalagi dengan disertai dalil baik dari al-Quran maupun hadits, serta pendapat ulama tentu sangat bermanfaat bagi umat," katanya.

Bagi Tirmidzi, sapaan akrabnya, warga NU dan juga umat Islam harus selalu diberikan pendampingan dan pengetahuan atas sejumlah amaliyah yang selama ini menjadi kebiasaan sehari-hari. "Agar ada kemantapan dalam menjalankan ibadah, bukan semata ikut-ikutan," pungkas alumnus Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ini. (Syaifullah/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/57796/kini-terbit-buku-fiqih-jenazah-ala-nu

KARTANU

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KARTANU sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KARTANU. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KARTANU dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock