Tampilkan postingan dengan label Risalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Risalah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Desember 2016

Imam Condro, Pejuang dari Pekalongan yang Anti Bom Belanda

KARTANU - Di Desa Rowokembu, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan, dulu ada seorang pejuang kemerdekaan sekaligus bernama Imam Condro, komandan brigade Samber Nyawa. Lahir pada tahun 1926 dan wafat pada tahun 1966.

Imam Condro, Pejuang dari Pekalongan yang Anti Bom Belanda - KARTANU
Imam Condro, Pejuang dari Pekalongan yang Anti Bom Belanda - KARTANU


Imam Condro, Pejuang dari Pekalongan yang Anti Bom Belanda

Imam Condro merupakan anak pertama dari 14 bersaudara. Sejak kecil dikenal memiliki kelebihan dibandingkan anak sebayanya. Adiknya, Kolonel Syamsul Hadi mengisahkan, semasa kecilnya, Imam Condro gemar mencari ikan dan ular.

"Suatu saat beliau Imam Condro mencari ular dan digigit, namun gigitan itu tidak membekas di tubuhnya dan justru ular itu dapat dilumpuhkan," ujar Syamsul berkisah kehebatan kakaknya itu.

Pada masa perjuangan, atas perintah Pemerintah Indonesia waktu itu, Imam Condro diangkat menjadi seorang Brigadir dan membentuk pasukan dengan nama Brigade Samber Nyowo, yang berhasil mengusir kolonial Belanda dari wilayahnya.

"Namun setiap Imam Condro berjuang, ayahanda selalu ditangkap dan dimasukan ke penjara Kedungwuni masa itu," ungkap Syamsul Hadi.

“Belanda menangkap dan memenjarakan ayahanda karena ingin agar Imam Condro menyerahkan diri. Namun Imam Condro seperti yang pernah diamanatkan oleh ayahanda, agar tetap berjuang membela tanah air, apapun yang terjadi," kenang Syamsul Hadi dengan meneteskan air mata.

Atas pesan tersebut, Imam Condro tegar tidak mau menyerahkan diri ke penjajah walau apapun yang akan terjadi, termasuk soal keselamatan ayahnya. Justru yang terjadi, kata Syamsul, Imam Condro semakin ganas mengusir penjajah Belanda dari tanah air tercinta.

Suatu ketika Brigade Samber Nyowo dibombardir oleh Belanda. Saat itu anak buahnya kocar-kacir dan lari tunggang langgang. Namun dengan keberanian dan kelebihan yang dimilikinya, Imam Condro justru maju ke arah tentara Belanda yang membombardir dengan mortir, dan Imam Condro memegang mortir itu agar tidak mengenai anak buahnya.

"Dan aneh tapi nyata, mortir itu meledak digenggaman Imam Condro, pakaiannya compang-camping akibat ledakan mortir tersebut, namun badan Imam Condro tidak terluka sedikitpun," tandas Syamsul Hadi. "Sejak kejadian itu Imam Condro ditakuti oleh pasukan Belanda," imbuhnya.

Kolonel Syamsul Hadi juga mengatakan bahwa Imam Condro meninggal dunia pada tahun 1966. Disaksikan oleh seluruh keluarga, Imam Condro menghembuskan nafas terakhir pada saat berzikir setelah selesai sholat.

Imam Condro meninggalnya seperti ayahanda yang juga wafat kala sedang melakukan ibadah sholat. Bedanya, kalau ayahanda saat itu meninggal pada rakaat terakhir pada waktu sholat. [KARTANU]

Source: Kisah di atas disadur KARTANU dari tulisan Ustadz Amin Nur, santri senior PP. Attaufiqy Wonopringgo, Pekalongan, Jateng.

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/imam-condro-pejuang-dari-pekalongan-yang-anti-bom-belanda.html

Kamis, 22 Mei 2014

Bocor, Percakapan Grup Garis Lurus Penuh Bahasa Binatang

KARTANU – Situs nu garis lurus itu penuh konten beracun. Mengganggap sebelah mata dan menyebutnya guyon atau semacam mencari perhatian lebih kepada khalayak agar dianggap sebagai kelompok alumni pondok pesantren –sebagaimana selama ini diucapkan oleh pendukungnya, paling lurus menegakkan ahlussunnah, itu salah besar.

Bocor, Percakapan Grup Garis Lurus Penuh Bahasa Binatang - KARTANU
Bocor, Percakapan Grup Garis Lurus Penuh Bahasa Binatang - KARTANU


Bocor, Percakapan Grup Garis Lurus Penuh Bahasa Binatang

Di Pontianak, ketika KH Ma’ruf Khozin melaksanakan safari dakwah, hadirin dalam acara sering ada yang mengangkat tangan menanyakan apa dan siapa itu nu garus lurus (selanjutnya kami sebut GGL: Gerombolan Garis Lurus, agar tidak mencatut nama NU). Demikian keterangan yang didapatkan Duta Islam.

Apa artinya? Nama GGL sudah masuk dalam alam pikiran banyak orang dan menjadi semacam noktah hitam bagi NU secara jamiyyah dan struktural. Hadirnya GGL di dunia maya yang enteng menyebarkan propaganda untuk menjauhkan warga nahdliyyin dari ulama dan habaib NU tanpa membuka identitas mereka kepada publik, jelas merupakan cara-cara culas yang biasa dilakukan oleh kalangan teroris ISIS.

Perlu diketahui, cara ISIS menyebarkan propagandanya bukan melalui masjid, lembaga pendidikan atau titik-titik startegis yang biasa dikunjungi banyak orang. Website dan media sosial dijadikan alat propaganda paling efektif karena mampu menyebar tanpa batas dan berbiaya murah. Selain tentu karena ISIS tidak punya basis massa yang diakui oleh negara. Modal sosial mereka memang media sosial. 

Langkah yang ditempuh ISIS inilah yang dikloning oleh GGL. Kalau mengaku pejuang aswaja yang paling lurus sedunia, mereka tak perlu malu-malu kucing menampakkan diri. Justru transparansi identitas itulah yang tidak akan membuat banyak orang bertanya, sebagaimana terjadi di beberapa daerah laiknya di Pontianak tadi.

Berawal dari Grup Caci Maki Serapat apapun bangkai ditutup, akan tercium juga. GGL pun gerah setelah ada salah seorang bernama Moch Zainul Abidin As-Syuja'i membongkar data admin pasca digelar sebuah acara di Cirebon, yang mengatasnamakan aktivis Aswaja. Dalam acar itu, para aktivis mulai terang-terangan berani membeberkan nama-nama yang selama ini dikenal Zain, panggilan Zainul Abidin As-Sujai’i, sebagai admin grup Brigade Aswaja, yakni grup WhatsApp para pengelola dan muqollidin situs nu garis lurus.

Kepada KARTANU, Zain tidak mengenal sama sekali orang-orang di grup tersebut. Dia mengaku nomornya diseret masuk tanpa konfirmasi kepadanya. Sudah sejak lama Zain nongkrong di grup yang menurutnya penuh dengan caci-maki kepada kyai dan ulama di Nahdlatul Ulama.

Bahkan, pasca publikasi identitas admin, Zain Suja’i dibully dalam grup. . KARTANU mendapatkan screen shoot caci maki anggota GGL ini. Oleh Syaraf, salah satu anggota grup, Zain disebut ngegustad, pura-pura jadi gus dan ustadz.

“Ilmunya mentok ke nasi goreng. Malam jadi germo di WhastApp saling kirim-kiriman gambar telanjang nggak pantes. Siang ceramah di WhatsApp sok suci dan sok ngustadz. Tulisannya belepotan jauh dari ranah ilmu. Jamane wong munafik bertopeng di dunia maya. Di dunia nyata, gorengan nggak laku-laku,” tulis Syaraf. (Kami simpan foto si Syaraf ini).

Soal Zain adalah tukang nasi goreng memang diakui. Ia berjualan di Jakarta Barat. Tapi kalau menuduh ilmunya Zain hanya sampai nasi goreng dan munafik serta menyerapahi gorengan tidak laku-laku apalagi menyebut germo, baginya itu sudah keterlaluan, tidak nyambung dan lepas dari etika santri.

Dalam percakapan grup khusus mencaci Zain itu, admin lain ada yang menyebut “asu”, “babi”, “monyet”, “najis”, dan lainnya. Adam, admin grup, pendiri Grup Brigade Aswaja, menanyakan di grup: “Sebenarnya dia itu siapa sih? Asu atau monyet? Saya bingung sendiri,” tulis Adam.

Dengan enteng, pertanyaan itu dijawab oleh Naquib, anggota lain di grup: “Babi mas.” Naquib ini yang menulis: “Waduh…dia sibuk cari tulang ke SAS (Said Aqil Siraj, red) nggak sempet ganti nama. Ya…namanya juga asuuuu….”.

Anggota itu gayeng dan terkesan senang membully Zain di grup karena di sana nama Zain diganti Asu Pa’i. “Makanya, rupa, nama dan hatinya sama (anjing, asu, red). Ngalah-ngalahi assu,” tulis Naguib, yang langsung ditanggapi oleh Faiz, anggota GGL lain yang ikutan mencaci: “Masih ada waktu untuk tobat. Daripada jadi assu,” tulisnya.

Menanggapi percakapan penuh caci maki itu, seorang aktivis Aswaja NU, Arief, mengaku miris. “Wah, ini lebih mirip grup kumpulnya para begundal daripada grup santri. Nggak pantes blas kelompok ini namanya disandarkan dengan nama besar NU. Su'ul adab semua,” tulisnya, dikutip KARTANU (17/04).

Kelimpungan, anggota grup tersebut kembali melancarkan fitnah dengan meme. Status David Fuadi, seorang yang dulu pernah menghidupkan situs sarkub.com, dijadikan bahan mementahkan Zain as-Suja’i. Menurut orang yang di kalangan GGL dipanggil KH David Fuadi itu, Zain adalah orang yang tidak punya ilmu agama.

Ustadz Hasbullah, dalam meme yang beredar itu juga menulis kalau tulisan-tulisan Sujai’i itu bukan dari tulisannya sendiri. “Bisa jadi syujai hanya atas nama saja. Sebab saya segrup dengan Syujai. Kerjaanya hanya kirim gambar porno,” tuduh ustadz.

Tuduhan-tuduhan semacam ini, menurut Zain, mudah keluar di grup yang ia sebut kenthir (kemayu) itu. “Ada Group kenthir khusus para Admin Group WA Aswaja. Di sana memang kalau kenthir suka selingan kirim Gambar Porno. Nah dari sanalah Fitnah ini beredar,” jelas Zain.

Jika Anda berakal sehat, etika macam apakah yang layak disematkan kepada kelompok GGL itu? Bahasa apakah yang mudah keluar dari “santri” GGL itu? Bahasa pondok pesantren mana yang menghalalkan saudaranya sendiri disebut anjing, babi, monyet, najis, germo dan munafik? Ajaran Qanun Asasi NU sebelah mana yang memerintahkan umat Islam mencaci maki dengan sebutan binatang untuk saudaranya muslim?

Kepada KARTANU, Zain memang jualan nasi goreng. Tapi ia juga santri di sebuah majelis ta’lim yang banyak orang tahu. Ia menunjukkan bukti bahwa dia rutin di majelis ta’lim. Namun tidak berkenan ditulis.

Yang pasti, kelompok GGL memasukkan nomornya ke grup karena nomor yang ia pegang ada dimana-mana. Dikenal sebagai penggerak aswaja. Duta Islam menyimpan buktinya. Zain As-Suja’i itu orang biasa yang dicaci-maki oleh kelompok yang mengaku santri di ujung sana. Duh Gusti... [KARTANU/luqman segaf]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/04/bocor-percakapan-grup-garis-lurus-penuh-bahasa-binatang.html

Minggu, 22 September 2013

Norma Agama dan Tradisi Berdamai dalam Adat

Pohuwato, KARTANU. Selain tampilan yang serba Muslim, toleransi adalah salah satu ciri khas kawasan santri. Toleransi ini menjadi salah satu syarat dalam menjaga perdamaian dan perayaan serta peraturan-peraturan agama.

"Agama-agama bersatu dalam tradisi dan norma-norma sosial yang disepakati tanpa perjanjian tertulis. Inilah yang disebut sebagai adat, yang menjamin terciptanya kerukunan dalam masyarakat yang heterogen," tutur Abu Bakar Polutu, salah seorang Imam Wilayah di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, Kamis (5/4).

Norma Agama dan Tradisi Berdamai dalam Adat (Sumber Gambar : Nu Online)
Norma Agama dan Tradisi Berdamai dalam Adat (Sumber Gambar : Nu Online)


Norma Agama dan Tradisi Berdamai dalam Adat

Menurut Abu Bakar, masyarakat Pohuwato sadar bahwa ajaran-ajaran agama harus dijalankan dengan tidak mengganggu umat yang beragama lain. Lebih dari itu, para pemeluk agama harus tetap saling membantu dalam kehidupan sosial keseharian, meskipun mereka menganut agama yang berbeda-beda.

"Tradisi saling membantu inilah yang disebut sebagai adat. Meski mungkin saja, saling membantu adalah ajaran di masing-masing agama, namun Adat menjadikan masyarakat yang homogen sebagai benar-benar saudara," tutur pria berusia 81 tahun ini.

KARTANU

Lebih lanjut Abu Bakar menjelaskan, sebagai seorang Imam, dirinya berkewajiban untuk memimpin umat Islam dalam beribadah. Namun ada beberapa ritual ibadah yang pelaksanaannya telah menjadi bagian dari tradisi, karenanya perayaan tersebut dipimpin oleh seorang tokoh adat.

KARTANU

"Ritual-ritual keagamaan yang telah menjadi tradisi, seperti perayaan maulid Nabi, maka tidak bisa hanya dipimpin oleh seorang imam. Perayaan maulid dipimpin oleh tokoh adat karena melibatkan berbagai simbol lokal dan berbagai aspek kehidupan," tandasnya.

Di Gorontalo, Masyarakat Muslim dipimpin oleh para imam yang menjadi pemimpin ibadah di setiap level. Setiap Jamaah memiliki Imam, jamaah bisa terdiri dari jamaah musholla atau Masjid. Para imam jamaah ini dipimpin oleh seorang Imam Kelurahan. Para imam kelurahan di pimpin oleh Imam Kecamatan. Para imam kecamatan dipimpin oleh seorang Imam kabupaten dan para imam kabupaten dipimpin oleh seorang imam di tingkat provinsi.

Seorang Imam Jamaah bertanggungjawab sepenuhnya untuk memimpin pelaksanaan ibadah jamaahnya, termasuk memimpin sholat lima waktu. Imam jamaah diangkat oleh jamaahnya masing-masing, imam kelurahan, kecamatan, kabupaten dan provinsi diangkat oleh masing-masing level pejabat.

Khusus pada tingkat kabupaten dan provinsi, selain terdapat seorang imam, juga memiliki seorang kadi yang bertugas untuk menyelesaikan masalah-masalah yang menyangkut keagamaan di masyarakat.

Dalam setiap pelaksanaan ritual adat, para pemimpin adat akan selalu berkonsultasi dan berdampingan dengan imam dalam memimpin ritual. Demikian sebaliknya, bila para imam jamaah menggelar acara-acara hari besar keagamaan, mereka pun akan selalu berdampingan dengan para pemimpin adat.

Penulis : Syaifullah Amin

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/37328/norma-agama-dan-tradisi-berdamai-dalam-adat

KARTANU

Minggu, 17 Februari 2013

Ini Akhir Perdebatan Maulid Nabi Bidah

KARTANU - Dari dahulu sejak Ibnu Al-Haj dan ulama lainnya yang tidak setuju dengan Maulid Nabi -sebagaimana dilakukan oleh banyak umat Islam Sunni,- berargumen karena Maulid Nabi tidak dilakukan oleh Nabi, para Sahabat maupun Tabiin. Para ulama ahli hadis yang beristinbath dengan hadist bahwa Nabi berpuasa di hari Senin karena di hari itu beliau dilahirkan [HR Muslim], masih juga belum diterima.

Al-Hafidz Ibnu Hajar dan ahli hadist lainnya pun juga beristinbath dengan pelbagai hadist, namum masih belum memuaskan diri mereka yang memang tidak mau dengan Maulid. Di bawah ini dijelaskan dua hal yang tidak dilakukan Nabi, tapi oleh muslimin dunia dan sahabat Nabi.

Ini Akhir Perdebatan Maulid Nabi Bidah - KARTANU
Ini Akhir Perdebatan Maulid Nabi Bidah - KARTANU


Ini Akhir Perdebatan Maulid Nabi Bidah

- Masa Pelaksanaan Umrah yang Tidak Dilakukan Nabi

Jalan fikiran Anti Maulid adalah karena tidak ada contoh dari Nabi. Kalau memang demikian semestinya umat Islam meniru Nabi melakukan Umrah di bulan Dzulqa'dah saja, sebab Nabi melaksanakan Umrah di bulan tersebut:

KARTANU

ﻋﻦ ﻗﺘﺎﺩﺓ، ﺃﻥ ﺃﻧﺴﺎ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ، ﺃﺧﺒﺮﻩ ﻗﺎﻝ: " اﻋﺘﻤﺮ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﺭﺑﻊ ﻋﻤﺮ، ﻛﻠﻬﻦ ﻓﻲ ﺫﻱ اﻟﻘﻌﺪﺓ، ﺇﻻ اﻟﺘﻲ ﻛﺎﻧﺖ ﻣﻊ ﺣﺠﺘﻪ . رواه البخاري

Artinya:

KARTANU

"Dari Anas bahwa Nabi melakukan Umrah 4 kali, semuanya di bulan Dzulhijjah, kecuali Umrah yang bersamaan dengan Haji Nabi [haji wada']" (HR al-Bukhari)

Mestinya, menurut mereka, Umrah di bulan Muharram, Shafar dan lainnya juga bid'ah dengan alasan Nabi tidak pernah melakukan. Tapi nyatanya, hingga saat ini umat Islam sepakat membolehkan Umrah sepanjang tahun.

- Mengumpulkan Al-Quran

"Itu, Demi Allah, adalah baik", adalah sebuah penggalan kalimat dari Sayyidina Umar untuk meyakinkan Sayyidina Abu Bakar agar mau melakukan pembukuan Al-Quran yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi (HR Al-Bukhari)

Sayyidina Abu Bakar lalu menunjuk Zaid bin Tsabit untuk membukukan Al-Quran;

ﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ: ﺇﻧﻚ ﺭﺟﻞ ﺷﺎﺏ ﻋﺎﻗﻞ ﻻ ﻧﺘﻬﻤﻚ، ﻭﻗﺪ ﻛﻨﺖ ﺗﻜﺘﺐ اﻟﻮﺣﻲ ﻟﺮﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻓﺘﺘﺒﻊ اﻟﻘﺮﺁﻥ ﻓﺎﺟﻤﻌﻪ

Artinya:

"Abu Bakar berkata: "Engkau (Zaid) adalah pemuda cerdas, kami tidak menaruh prasangka buruk padamu. Engkau juga mencatat wahyu bagi Nabi. Maka telitilah Al-Quran lalu kumpulkan""

Zaid berkata:

«ﻓﻮاﻟﻠﻪ ﻟﻮ ﻛﻠﻔﻮﻧﻲ ﻧﻘﻞ ﺟﺒﻞ ﻣﻦ اﻟﺠﺒﺎﻝ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﺃﺛﻘﻞ ﻋﻠﻲ ﻣﻤﺎ ﺃﻣﺮﻧﻲ ﺑﻪ ﻣﻦ ﺟﻤﻊ اﻟﻘﺮﺁﻥ»،

Artinya:

"Demi Allah, andai mereka memaksaku memindah gunung tidaklah lebih berat bagiku dari pada perintah Abu Bakar untuk mengumpulkan Al-Quran"

Zaid kemudian menjawab:

ﻗﻠﺖ: «ﻛﻴﻒ ﺗﻔﻌﻠﻮﻥ ﺷﻴﺌﺎ ﻟﻢ ﻳﻔﻌﻠﻪ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ؟»، ﻗﺎﻝ: ﻫﻮ ﻭاﻟﻠﻪ ﺧﻴﺮ، "

Artinya:

"Bagaimana kalian melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallama? Abu Bakar menjawab: "Itu, demi Allah, adalah baik" (HR Al-Bukhari)

Amaliah dalam Maulid adalah membaca shalawat, menyampaikan sejarah keteladanan Nabi dan sedekah. Hanya ini saja, dan tidak ada kemungkaran. Rangkaian yang ada dalam Maulid ini sangat baik semua, seperti halnya kalimat 'Baik' menjadi dalil bagi para Sahabat untuk melakukan sesuatu yang tidak ada di masa Nabi. Dan Allah berfirman:

وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya:

"... dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan." (Al-Haj: 77). [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/ini-akhir-perdebatan-maulid-nabi-bidah.html

Senin, 19 November 2012

Kalau Hanya Belajar Islam, Ngapain ke Timur Tengah?

KARTANU - Dengan ini saya anjurkan kepada para bapak dan ibu kaum muslim/ muslimah di Indonesia tidak perlu repot-repot menyekolahkan anak-anaknya ke negara-negara Arab kalau tujuannya hanya sekedar untuk mempelajari Islam, belajar Bahasa Arab atau mengaji kitab-kitab keislaman.

Sekali lagi, kalau tujuannya hanya untuk belajar masalah ini (kalau punya tujuan lain ya lain lagi persoalannya), di Indonesia saja sudah cukup. Pondok-pondok pesantren, khususnya milik Nahdlatul Ulama (NU) sudah melimpah-ruah di kota maupun desa. Indonesia kini juga sudah surplus kiai, baik tua maupun muda, yang sangat mumpuni dalam masalah ini.

Kalau Hanya Belajar Islam, Ngapain ke Timur Tengah? - KARTANU
Kalau Hanya Belajar Islam, Ngapain ke Timur Tengah? - KARTANU


Kalau Hanya Belajar Islam, Ngapain ke Timur Tengah?

Lagi pula, untuk apa menyekolahkan anak jauh-jauh ke Arab untuk "belajar Islam" kalau pada akhirnya kelak ketika selesai sekolah malah menjadi "malin kundang" yang, atas nama "kemurnian Islam" dan "tegaknya tauhid", berani melawan orang tua, mengafirsesatkan mereka, membidahkan amalan-amalan keagamaan mereka dan seterusnya. Nanti Anda sendiri yang akan kerepotan loh: mau dibiarkan kurang ajar, mau digampar itu anak sendiri. Repot kan?

Bukan hanya melawan orang tua saja loh. Para ulama dan kiai yang kebetulan berbeda pemikiran juga dikapir-kapirkan oleh "anak kemarin sore" yang baru sunat ini. Tidak sebatas itu. Sebagian mereka bahkan tega untuk mengpitnah dan mengungkapkan kata-kata kotor dengan beliau-beliau. Padahal beliau-beliau itu masya Allah ulama yang sangat rendah hati, alim dan saleh dalam segala hal. Kok tega ya mereka melakukan itu?

KARTANU

Terus? Sudah jauh-jauh sekolah dan "menuntut ilmu keislaman", pulang-pulang malah menjadi "provokator kebencian" yang anti-pati terhadap tetangga, non-muslim dan bahkan terhadap sesama muslim itu sendiri yang hanya secara kebetulan berbeda mazhab, pandangan, pemikiran, dan praktek keagamaan dengan mereka. Repot kan? Hidup di dunia yang warna-warni kok "kaku-regeng" kayak tiang listrik, tidak mau toleran dengan keragaman. Emang bumi ini milik engkong mereka apa?

Sudah cukup? Belum. Mereka juga mengharamkan bendera merah-putih, memusyrikkan penghormatan terhadapnya, mengthogutkan Pancasila dan Konstitusi, "menerakakan" para pejuang dan pahlawan bangsa. Wis embuh lah. Banyak pokoknya yang aneh-aneh dan "unyu-unyu" dari tingkah-polah mereka. Tapi sebagian loh, tidak semua alumni Timur Tengah yang belajar Islam bersikap seperti ini. Entar ada yang ngamuk-ngamuk lagi.

KARTANU

Nah, kalau mondok di pesantren-pesantren NU, nanti akan lain ceritanya. Anak-anak nanti diajari untuk mencitai ulama, mencintai bangsa, negara dan Tanah Air, menghormati orang tua, toleran terhadap sesama manusia, ramah terhadap tetangga, mencitai tradisi dan budaya bangsa. Pokoknya banyak deh yang baek-baek.

Dan sudah barang tentu, para santri akan mendapatkan pelajaran-pelajaran keislaman yang "yahud" (tanpa "i"), keislaman yang ramah dan respek dengan kemajemukan pemikiran, keragaman mazhab, dan perbedaan pendapat. Yuk, kita semarakkan gerakan cinta Pokemon (Pokoke Mondok). [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/kalau-hanya-belajar-islam-ngapain-ke-timur-tengah.html

Jumat, 05 Oktober 2012

Kata Ustadz, Lima Hal Ini Bisa Menjadikan Orang Muslim Auto Kafir

KARTANU - Sudah tiga bulan ini ada seorang yang menurut saya aneh. Beliau tidak saya kenal di dunia nyata. Hanya karena sama-sama anggota sebuah grup WA, beliau hampir tiap hari mengirimi pesan pribadi ke saya.

Saya sendiri diseret masuk grup itu tanpa meminta kesediaan. Hanya karena nama saya mengandung istilah Arab, dan sy diketahui beragama Islam, maka saya pun dimasukkan grup tersebut. Serta dikirimi pesan pribadi beliau.

Di grup, beliau ini dipanggil Ustad, bahkan kyai. Saya sangat jarang membuka grup tersebut karena tidak punya waktu. Kesibukan saya jelas menghalangi saya membuka grup tersebut maupun grup lain. Mungkin perlu saya beritahukan, saya tergabung dalam 34 grup WA. Itupun sudah saya kurangi (saya left) dari sebelumnya 44 grup.

Kata Ustadz, Lima Hal Ini Bisa Menjadikan Orang Muslim Auto Kafir - KARTANU
Kata Ustadz, Lima Hal Ini Bisa Menjadikan Orang Muslim Auto Kafir - KARTANU


Kata Ustadz, Lima Hal Ini Bisa Menjadikan Orang Muslim Auto Kafir

Beliau yang njapri saya itu selalu mengirimkan tulisan dari entah siapa saja, yang isinya pada pokoknya adalah Islam itu banyak musuh. Islam dalam bahaya besar. Umat Islam berada dalam kondisi sangat bahaya. Bahkan mungkin darurat. Siapa yang membahayakan Islam dan umat Islam itu? Pokoknya siapa saja dan apa saja. Saya bisa sebutkan satu persatu kiriman beliau:

KARTANU

1. Calon gubernur DKI beragama non Islam itu musuh, membahayakan aqidah umat Islam. Umat Islam harus waspada, jangan sampai memilih calon gubernur tersebut. Haram memilih si calon. Barangsiapa mengaku muslim tapi memilih si cagub itu, maka rusak akidahnya, batal imannya. Munafiq minimalnya. Dasarnya ada di Al-Qur'an. Yaitu adanya larangan memilih orang Nasrani sebagai pemimpin.

Saya tidak ahli agama, maka saya hanya bisa bertanya kepada beliau. "Ya Ustad, apakah calon gubernur di Propinsi Papua, Papua Barat, Sulawesi Utara, Kalimatan Barat, Kalimantan Tengah, NTT, atau juga Walikota Solo yang jelas-jelas beragama Kristen, itu tidak pemimpin? Kenapa tidak ditolak juga? Apakah ayat Al-Qur'an hanya berlaku di Jakarta?"

KARTANU

Lha partai-partai Islam yang mendukung FX Hadi Rudyatmo si Katholik sebagi walikota Solo, itu hukumnya bagaimana? Sayang sekali, beliau tidak menjawab, sehingga saya masih tetap bodoh tidak tahu apa-apa tentang agama.

2. Syiah itu sesat, Syiah itu jahat. Said Aqil Siradj itu Syiah, maka NU harus dibersihkan dari Said Aqil dan orang syiah lainnya. Jika NU tidak mau dibersihkan, berarti NU itu organisasinya orang sesat karena dipimpin orang Syiah. Kata beliau, MUI pernah mengeluarkan fatwa bahwa Syiah itu sesat. (tapi saya sendiri belum baca fatwa MUI itu ada atau tidak).

Saya hanya bisa bertanya. "Ya Ustadz. Apa kriteria atau parameter seseorang bisa disebut Syiah? Dan bagaimana mengetahui bahwa Syiah itu sesat? Lalu, mengapa vonis Syiah sesat itu baru ada semenjak Israel dan Saudi bersekutu memusuhi Iran? Padahal Syiah sudah ada sejak ratusan tahun, dan bahkan di Indonesia sudah ada puluhan tahun lalu?" Sayang sekali beliau tidak menjawab.

3. Kristen itu musuh. Kristen itu kafir. Maka meniru segala atribut yang dipakai orang Kristen itu haram. Itu membahayakan aqidah, merusak iman. Dasarnya hadis: barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka termasuk kaum tersebut. MUI, kata beliau, sudah mengeluarkan fatwa yang tegas bahwa memakai topi Santa Klaus itu haram.

Saya tambah bingung. Lalu bertanya: Pelajaran tauhid darimana, ajaran dari imam siapa yang menyebut Nasrani atau Kristen sebagai kafir? Sedangkan kafir sendiri ada yang dzimmi dan harby?

Kali ini, beliau tidak menjawab. Pertanyaan saya ganti yang mudah, apakah topi Santa Klaus itu artibut ritual? Apakah orang memakai topi Santa sudah pasti berniat meniru dan menyetujui keimanan orang Kristen? Bukankah yang disebut menyerupai itu berarti sengaja mengidentifikasi diri dengan orang kafir dengan maksud mengidolakan dan menjadikan sebagai pedoman perilaku dalam beragama? Bukankah topi Santa itu hanya produk budaya, bukan atribut keagamaan seperti Salib?

Tidak dijawab juga. Saya tambah mumet bin bingung. Lalu, pertanyaan saya ganti dengan lontaran diskusi saja, "Ya Ustadzi rohimakallah, kalau setiap orang yang memakai atribut budaya tertentu yang dianggap bukan budaya Islam, dan itu divonis meniru kaum kafir, lantas dihukumi haram, lalu bagaimana dengan perbuatan Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, yang memakai udheng dan pakaian yang biasa dipakai orang Hindu?

Bahkan para wali zaman itu juga membangun menara masjid persis seperti Pura milik orang Hindu? Apakah beliau itu wali yang sesat dan menyesatkan? Juga akan masuk neraka karena telah melanggar melakukan perbuatan haram sebagaimana difatwakan oleh MUI tersebut?" Lagi-lagi tidak dijawab.

4. Merayakan malam tahun baru masehi itu haram, bahkan merusak akidah. Hilang Iman. Perbuatan itu mengikuti Yahudi, Nasrani dan Majusi sekaligus. Kafir kuadrat jadinya. Dikatakan, meniup terompet adalah perbuatan orang Yahudi, menyalakan kembang api adalah perbuatan orang Majusi, membunyikan lonceng atau klakson adalah perbuatan orang Nasrani. Lengkap sudah kerusakan akidahnya.

Saya bengong. Karena orang awam tak tahu apa-apa soal agama, ya hanya mampu bertanya, "Ya Ustad, apakah semua orang yang melakukan perbuatan tersebut sudah pasti berniat meniru dan menjadikan orang Majusi, Yahudi dan Nasrani sebagai panutan dalam beragama? Apakah Malaikat Isrofil nanti juga akan langsung auto kafir karena beliau dapat tugas menirup terompet?

Apakah sopir bus yang membunyikan klakson juga auto kafir jika memencet bel telolet? Apakah seluruh ulama dan kaum muslim di Kota Semarang juga akan auto kafir atau auto murtad setiap menjelang Ramadhan, karena mereka selalu membunyikan meriam berbunyi Dheer, yakni tradisi Dugder, menabuh bedug dan menyalakan meriam? Bukankah meriam itu lebih besar apinya ketimbang kembang api? Bagaimana cara tobatnya kaum muslimin Semarang ya, Ustadz?" Sampai sekarang saya masih menunggu jawabannya.

5. Ada teman yang memprotes status saya yang dia anggap mendukung kaum kafir. Yaitu tidak ikut menolak pemakaian topi Santa Klaus dan tidak ikut menolak kegembiraan malam tahun baru. Kata dia, saya orang liberal dan tidak patuh pada ulama, yaitu MUI.

Saya jawab, "sy orang bodoh, jahil dalam agama. Makanya tidak tahu mana yang haram dan yang halal. Saya awam dalam ilmu kalam, maka tidak mengerti mana yang merusak akidah dan mana yang tidak. Maka mohon beritahu saya. Tunjukkanlah saya ke jalan yang benar. Mohon beritahu saya, apakah semua yang menyerupai itu neniru, dan apakah tasyabbuh itu dalam segala hal, lantas dinilai sebagai tindakan toleransi yang kebablasan, lalu diharamkan?

Kalau memakai topi Santa adalah tasyabuh dan itu dihukumi haram, lantas bagaimana dengan Rasulullah Muhammad SAW yang memakai jubah dan sorban, sedangkan semua orang kafir Arab waktu itu menyembah berhala memakai busana itu? Nabi Muhammad mengajarkan toleransi yang kebablasan? Melanggar fatwa MUI? Di mana beda antara budaya dan agama? Mengapa segala yang berbau budaya dimusuhi oleh Islam Anda? [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/kata-ustadz-empat-hal-ini-bisa-menjadikan-orang-islam-auto-kafir.html

Senin, 08 Agustus 2011

Terbitkan Buku, Habib Luthfi Apresiasi Ketua Lesbumi Tegal

Tegal, KARTANU. Kerja kreatif Ketua Lembaga Seni Budaya Indonesia (Lesbumi) PCNU Kota Tegal, Jawa Tengah, Drs Atmo Tan Sidik dengan menerbitkan buku karyanya mendapat apresiasi dari Rais Aam Idarah Aliah Jamiyyah Ahlit Thariqah al-Mutabarah an-Nahdliyah (Jatman) Habib Muhammad Luthfi bin Yahya.

Lanjutkan, Bang Atmo, dengan buku-buku lainnya, pesan Habib saat menerima silaturahmi Atmo ke kediaman Habib di Pekalongan Ahad (24/2).

Terbitkan Buku, Habib Luthfi Apresiasi Ketua Lesbumi Tegal (Sumber Gambar : Nu Online)
Terbitkan Buku, Habib Luthfi Apresiasi Ketua Lesbumi Tegal (Sumber Gambar : Nu Online)


Terbitkan Buku, Habib Luthfi Apresiasi Ketua Lesbumi Tegal

Habib Luthfi memberikan pujian kepada Atmo tentang konsistensinya pada dunia kebudayaan Pantura. Termasuk membukukan hasil pemikirannya dalam sebuah buku. Apalagi dengan menggunakan bahasa Brebesan yang menyentuh masyarakat.

Buku berjudul Dikendangi Wong Edan, Aja Njoged diluncurkan di Kampung Seni kawasan Pantai Alam Indah (PAI) Kota Tegal, Jumat (21/2). Menurut Atmo, buku tersebut sengaja dirilis pada 21 Februari, karena bertepatan dengan peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional.

KARTANU

Buku Dikendangi Wong Edan, Aja Njoged berisi kumpulan kolom tulisan lama Atmo yang pernah diterbit di berbagai media dan majalah. Buku ini berisi esai-esai dalam bahasa brebes-tegal yang menyinggung kehidupan sosial kemasyarakatan, termasuk sentilan-sentilan politik.

KARTANU

Budayawan Pantura ini sudah lama malang melintang di dunia penulisan, termasuk mengasuh Lha Kiyeh, kolom berbahasa brebes-tegal yang terbit secara reguler di majalah Berita Berhias milik Pemkab Brebes.

Buku berisi 38 kolom dengan 180 halaman ini mencantumkan komentar sederet tokoh, mulai dari nama ulama kharismatik, Habib Lutfi bin Yahya dari Pekalongan; musisi sekaligus budayawan, Emha Ainun Najib; sastrawan Ahmad Tohari; hingga penulis sekaligus pengasuh pesantren, Hj. Masriyah Amva.

Saat luncuran buku tersebut, turut hadir Wali Kota Tegal Ikmal Jaya, Wakil Bupati Tegal Hj Umi Azizah, Budayawan Internasional Ahmad Tohari, Ketua PCNU Kota Tegal Abdal Hakim dan sejumlah pegiat seni dan budaya Brebes Tegal Slawi serta undangan lainnya. (Wasdiun/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/50379/terbitkan-buku-habib-luthfi-apresiasi-ketua-lesbumi-tegal

KARTANU

Selasa, 17 Mei 2011

KQS, Warna Baru Musik Religi

Para penggemar musik religi islami pantas berbahagia karena sekarang telah terbentuk Komunitas Qasidah dan Shalawat (KQS). Beralamat di Jemursari, Surabaya, Jawa Timur, KQS didukung sejumlah seniman, qori qoriah, musisi musik religi, dan pecinta shalawat.

Tak hanya menampilkan musik kasidah, KQS juga piawai membawakan jenis-jenis musik seperti rebana, band, gambus, banjari, kontemporer, dan gending Jawa.

KQS, Warna Baru Musik Religi (Sumber Gambar : Nu Online)
KQS, Warna Baru Musik Religi (Sumber Gambar : Nu Online)


KQS, Warna Baru Musik Religi

Semuanya tersaji dengan indah, santun, dan berakhlak, kata Mubarok, salah satu penggerak KQS melalui pesan tertulis kepada KARTANU belum lama ini.

KARTANU

KQS yang kali pertama melakukan pentas di gedung TV9 pada 10 November 2016, kini semakin menunjukkan eksistensinya. KQS antara lain ikut menyukseskan Semarak Maulid di PWNU Jatim dan tampil di gelaran NU Expo beberapa waktu lalu.

Pada gelaran NU Expo di Surabaya misalnya, KQS membawakan judul-judul di antaranya Hubbul Wathon, Syiiran NU Versi Band, Cahaya di Atas Cahaya, Qasidah, Syiir Tanpo Wathon Gending Jawa, Syiiran NKRI Harga Mati.

KARTANU

KQS terbentuk berawal dari motivasi anggota Cyber NU Jatim. Teman-teman Cyber NU Jatim yang memberi motivasi kepada kami untuk mengumpulkan para musisi, biar ada wadah berkumpul, komunikasi, dan kreativitas, terang Mubarok.

Tampil di atas panggung musik religi hanya salah satu kegiatan KQS. Sebab KQS juga telah dan terus melakukan syiar keliling ke masjid-masjid untuk menebarkan shalawat, terlibat di kegiatan sosial seperti santunan yatim piatu dan bantuan bencana; kajian-kajian bersama para kiai dan habaib; dan pelatihan musik religi. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/74478/kqs-warna-baru-musik-religi

KARTANU

Selasa, 11 Mei 2010

Muskercab NU Sumedang, Ajang Perkuat Aswaja dan Kaderisasi

Sumedang, KARTANUPengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sumedang pada Ahad (18/12) melaksanakan kegiatan musyawarah kerja cabang (Muskercab) II. Forum yang bertempat di Aula PCNU Sumedang ini dihadiri 100 peserta yang mewakili dari pengurus PCNU Sumedang, ketua dan sekretaris Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Se-Kabupaten Sumedang, serta perwakilan dari tiap lembaga dan badan otonom NU.

Rais Syuriyah PCNU Sumedang KH A Furqon menyampaikan bahwa Muskercab II menjadi forum untuk menentukan program kerja PCNU Sumedang ke depan. Menurutnya, di antara program penting yang perlu digulirkan adalah penguatan paham Ahlussunnah wal Jamaah.

Muskercab NU Sumedang, Ajang Perkuat Aswaja dan Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Muskercab NU Sumedang, Ajang Perkuat Aswaja dan Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)


Muskercab NU Sumedang, Ajang Perkuat Aswaja dan Kaderisasi

Penguatan paham aswaja itu perlu ada kesepakatan, istiqamah, dan konsistensi dalam pengerjaanya. Mudah-mudahan hasil muskercab ini bisa diamalkan oleh semua pengurus, ujarnya.

KARTANU

Sementara Ketua PCNU Sumedang H Sadulloh mengatakan bahwa tahun depan di Sumedang menghadapi tahun politik. Salah satu pembahasan program kerja muskercab ini yaitu bagaimana menyikapi tahun politik tersebut. Para peserta akan membahas secara detail hal-hal yang harus dikerjakan oleh pengurus PCNU Sumedang di tahun depan secara terperinci.

KARTANU

Selain itu, tambahnya, ada tiga tugas yang harus dikerjakan oleh NU ke depan. Yang pertama NU harus memperkuat gerakan Aswaja bagi warga Nahdliyin. Kedua, NU harus terus memperkokoh sistem kaderisasi untuk menumbuhkan semangat militansi para kadernya. Dan yang ketiga, NU harus memperkuat di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Ketiga hal tersebut akan menjadi bahan kajian dalam Muskercab PCNU Sumedang saat ini.

NU itu organisasi besar. Organisasi besar itu harus bisa mewarnai, jangan mau diwarnai oleh organisasi kecil. Mudah-mudahan PCNU Sumedang ke depan bisa mewarnai wajah Sumedang ke depan, tuturnya. (Ayi Abdul Kohar/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/73897/muskercab-nu-sumedang-ajang-perkuat-aswaja-dan-kaderisasi

KARTANU

Selasa, 25 Agustus 2009

Pertemuan 200 Ulama, Habib dan Akademisi di Mojokerto: Apa Saja Hasilnya?

KARTANU - Pertemuan para ulama, habaib, profesional dan tokoh-tokoh di Pesantren Raudlatul Jannah, Pacet, Mojokerto, sangat luar biasa.

Dari sisi yang hadir, ada ulama-ulama sepuh seperti KH. Maruf Amin, KH. Sholahuddin Wahid, KH. Soleh Al-Qasim, KH. Maksum (Bondowoso), KH. Nasiruddin (Tuban), Gus Munip (Langitan), Gus Zaim (Lasem), Gus Akomadhien (Brebes), Dr. KH. Fauzi Tidjani (Madura), dan puluhan ulama lainnya. Ada pula para habaib: Habib Husen Al-Idrus, Habib Soleh, Habib Muhsin Al-Jufri, dan lain-lain.

Beberapa akademisi, rektor dan tokoh: Prof. Dr. Muhammad Nuh (Mantan Mendiknas), Prof. Dr. M. Bisri (Rektor Univ. Brawijaya), Prof. Dr. Imam Suprayogo (mantan Rektor UIN Malang), Prof. Dr. Ahmad Zahro, Dr. H. Marzuki Ali, Ir. H. Heppy Trenggono, dan lain-lainnya. Sekitar 200-an ulama, habaib dan akademisi berkumpul dari segala penjuru tanah air.

Diskusinya sangat produktif, dinamis dan semua kalimat yang keluar dari para ulama-ulama benar-benar visioner, nasionalis dan kental sekali komitmen keumatan dan kebangsaannya. Saya merasakan suasana kebatinan yang luar biasa dahsyat, ada energi yg sedang bergerak melalui para ulama pengasuh pesantren ini.

Saya melihat juga suatu sinergi yang mulai dibangun dan dirancang yang menembus batas sekat golonganisme umat: tidak ada sekat ormas, sekat salaf-modern, dll. Semuanya berbicara ke depan untuk umat dan bangsa: untuk Indonesia.

Beberapa rumusan dan 'teriakan' telah didengungkan menyikapi kondisi terkini keumatan dan kebangsaan: politik, sosial, budaya, ekonomi bahkan hingga keamanan dan pertahanan bangsa.

Prof. Dr. Bisri, Rektor Univ. Brawijaya Malang mengatakan perlunya sinergi akademisi perguruan tinggi dan santri. Banyak hasil riset perguruan tinggi yang bisa dimanfaatkan oleh pesantren. Beliau juga menegaskan bahwa akses pesantren kepada perguruan tinggi harus dibuka, karena menurut pengakuannya, SDM pesantren rata-rata lebih unggul. Selama ini mereka tidak banyak diberi kesempatan. Ini tidak adil.

Sementara itu, Prof. Dr. M. Nuh menyoroti tentang pentingnya pemetaan peran dan strategi keumatan. Potensi besar jika pemetaannya tidak tepat dan tidak strategis maka selamanya umat Islam akan kalah. Ia juga menandaskan lagi perlunya sinergi perguruan tinggi dengan pesantren hukumnya adalah wajib. Maka, ia mendorong para rektor untuk membuka akses seluas-luasnya kepada santri. Salah satu harapan bangsa ini ke depan adalah para santri.

Habib Muhsin Al-Hamid dalam sambutannya menginginkan agar forum-forum seperti ini harus terus digalakkan. Menurutnya, ini adalah jembatan hati umat, yang jika kiblatnya adalah Rasulullah akan ketemu dan bersatu. Tapi jika kiblatnya adalah semata akal pikiran, pasti akan berbeda.

Habib juga menyoroti bahwa umat Islam ini punya masalah, tapi tidak pernah selesai, karena ulamanya tidak pernah ketemu. Yang penting adalah ketemu hati, baru pikiran. Maka, harus ada orang yang amanah untuk menghimpun potensi dan mempersatukan umat ini.

Potensi umat yang harus digarap adalah maritim, peternakan, dan agrobisnis. Bidang-bidang ini yang selama ini diabaikan umat, padahal kita punya kekuatan di situ dan strategis. Ini soal kedaulatan bangsa dan umat sekaligus.

Habib yang punya TV Nabawi ini menyoroti pula tentang lemahnya umat dalam media. Sehingga, umat selalu menjadi korban media dan semua yang terjadi pada umat dikapitalisasi oleh media mereka.

KH. Maruf Amin mengingatkan para ulama tentang dua tanggung jawab: yaitu tanggung jawab keumatan dan kebangsaan. Ia pun menegaskan bahwa jika dulu merunut kemerdekaan melalui gerakan politik, sekarang ini umat gerakannya adalah politik dan ekonomi.

Umat melalui saluran yang ada harus mendesak pemerintah untuk membuat regulasi yang berpihak pada umat. Pemerintah harus didesak dan dikawal terus dalam hal ini. Gerakan yang dilakukan oleh ulama ada 4, yaitu: gerakan perlindungan, gerakan penguatan, gerakan penyatuan dan gerakan pengabdian. Ulama jangan melepaskan diri pada gerakan kebangsaan.

Suasana negeri saat ini memprihatinkan. Maka, perlu mendesak Presiden untuk menyelenggarakan dialog nasional untuk menyelamatkan negeri. Jika Presiden tidak berkenan, maka MUI dan para ulama yang akan adakan. Akan ada deklarasi semua ormas Islam komitmen pada NKRI dan Pancasila.

Telah pula dibentuk Dewan Tinggi Ekonomi Umat terdiri dari para kiai pengasuh pesantren berkolaborasi dengan para pengusaha dan profesional. Suatu gerakan pemberdayaan ekonomi yang berbasis pesantren.

KH. Mahfudz Syubari, pengasuh PP Raudhatul Jannah bersama Prof. Dr. KH. Muhammad Nuh (mantan Mendiknas), Prof. Dr. Imam Suprayogo (Mantan Rektor UIN Malang), Habib Muhsin (Owner Nabawi TV), KH. Maksum (Bondowoso), Dr. H. Marzuki Ali, Heppy Trenggono, dan lain-lain didaulat untuk mengawal gerakan ini.

Telah pula dibentuk formatur sementara Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia (YP3I), sebuah Yayasan yang nanti akan mendorong kemajuan pesantren dan memobilisasi potensi pesantren baik dari sisi pendidikan, SDM, ekonomi dan jejaring kerjasam-kerjasama.

KH. DR (HC) Sholahuddin Wahid didaulat menjadi Ketua Dewan Pembina bersama Prof. Dr. KH. Amal Fathullah Zarkasyi (Gontor), KH. Mahfudz Syubari (Mojokerto), Habib Soleh Al-Jufri, KH. Akbar, Dr. KH. Muzammil Basyuni dan Prof. Dr. KH. Ahmad Zahro.

Sedangkan Dr. H. Marzuki Ali dan Ir. Heppy Trenggono didaulat sebagai Ketua Umum dan Wakil Ketum. Adapun Sekretaris Umum dipercayakan kepada KH. Bahrul Hayat, Ph.D (Mantan Sekjen Kemenag) dan Drs. KH. Rusli Effendi, M.Si sebagai Wakil Sekum. Bendahara Umum diamanatkan kepada KH. Anang Rikza Masyhadi, MA dari PM Tazakka Batang.

Disepakati pula tentang perlunya penguatan karakter dan mental umat melalui pendidikan keagamaan yang berkesinambungan baik melalui jalur formal pendidikan dan pesantren maupun melalui informal. Ulama harus menjadi kendali moral dan karakter kebangsaan. Ulama harus ambil peran strategis. Ulama harus dijaga muru'ah dan wibawanya.

Banyak hal didiskusikan, yang tidak mungkin disebut satu per satu di sini. Namun, pertemuan selama kurang lebih 6 jam baik pada sesi umum maupun sesi khusus terbatas, saya menyaksikannya sebagai suatu komitmen yang luar biasa.

Ya, intinya para ulama menyerukan kepada semua elemen bangsa khususnya Pemerintah untuk mengembalikan lagi kedaulatan bangsa.

Ya Robb, berilah kami kekuatan untuk mengemban amanah ini; mengawal dan membimbing umat dan bangsa yang besar ini. [KARTANU]

Anang Rikza Masyhadi, Pondok Modern Tazakka Batang Jawa Tengah

Keterangan:

Ditulis di Pacet, Mojokerto, 23 Robiuts Tsani 1438/ 21 Januari 2017

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/hasil-pertemuan-ulama-di-mojokerto-apa-saja-hasilnya.html

Kamis, 09 Juli 2009

Kewajiban Ulama dan Fitnah Dunia Islam

Oleh: Syekh Taufiq Ramadhan al-Buthi

Muncul pada hari-hari ini di Timur Tengah sejumlah gerakan berturut-turut dimulai dari Tunisia yang menyebabkan jatuhnya sang presiden, lalu di Mesir dan tumbangnya presiden, kemudian terjadi di Yaman yang memakan waktu lama sehingga menyebabkan intervensi negara-negara kerjasama teluk, dan kemudian disepakati pengunduran diri presiden dan kekuasaan dilanjutkan oleh Presiden al Hadi.

Kewajiban Ulama dan Fitnah Dunia Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Kewajiban Ulama dan Fitnah Dunia Islam (Sumber Gambar : Nu Online)


Kewajiban Ulama dan Fitnah Dunia Islam

Di Libya, yang kasusnya juga berlarut-larut, dan saat itu menjadi bahan ejekan dan hasutan dari Presiden Muammar Gaddafi serta intervensi dari Barat dan Qatar dan negara-negara lain, dan gerakan itu menjalar ke tempat lain sampai ke Syria apa yang mereka sebut dengan Musim Semi Arab (Arab Spring), lalu Gaddafi pun terbunuh. Namun hal ini tidaklah mengakhiri masalah bahkan menjadi lebih buruk dan terus memburuk meninggalkan banyak orang mati dan pengungsi, ditambah lagi kehancuran massal dan tersebarnya rasa kebencian.

Dari hal di atas kita mencatat dua hal: Hal pertama menyangkut peran media, terutama sekali stasiun televisi Al-Jazeera dan al Arabiyyah, di mana peran mereka tidak terbatas pada penyebaran fakta-fakta apa yang terjadi, bahkan beralih perannya untuk mengarahkan dan menciptakan peristiwa, dan mengharuskan stasiun televisi dan saluran-saluran yang mengikutinya untuk menguasai seni berbohong, berlebihan dalam menyampaikan serta fabrikasi berita.

KARTANU

Dan peran dua saluran televisi berubah menjadi industri berita. Yang membuat orang Arab dan mereka yang mengikuti saluran ini terpengaruh terhadap apa yang disampaikan oleh saluran-saluran itu. Tampaknya pihak-pihak yang dimaksud telah mempercayakan kepada dua saluran ini untuk memimpin gerakan tersebut atas nama media tertentu.

Hal kedua adalah bahwa sebahagian tokoh-tokoh agama sebelumnya telah banyak disorot dan diberi posisi istimewa, ditambah pula orang-orang yang menempuh cara ini dari para sheikh/tetua (saya tidak mengatakan ilmuwan) berkontribusi dalam mempengaruhi publik dan mengarahkan peristiwa-peristiwa tersebut. Bahkan salah satu dari mereka meneriakkan hasutan untuk membunuhnya; dan mengeluarkan fatwa untuk membunuh orang lain. Apa yang terjadi sebagai akibat dari itu?

KARTANU

Para Pemberontak itu tidak mencapai tujuan mereka, akan tetapi mereka yang telah merancang hal tersebut telah mendapatkan sebagian target yang mereka tuju. Yaitu terjadinya kekacauan di wilayah ini dan menjadi rebutan dan santapan lezat mereka yang rakus dan tamak.

Saya berdiri disini bukan untuk menceritakan tragedi yang menyedihkan/memilukan. Saya hanya ingin -melalui keterangan ini- menjelaskan tanggungjawab seorang Aalim yang bertaqwa kepada Allah Taala dan sikapnya terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi. Terutama sekali ketika ia melihat pertumpahan darah dan kerusakan yang luas, dan perpindahan jutaan orang dari rumah dan desa mereka, serta mereka kehilangan tempat tinggal, makanan, minuman dan pakaian. Lalu dirampas rasa aman dari mereka. Ditambah lagi penistaan kehormatan dan harga diri serta eksploitasi kebutuhan oleh orang-orang yang tidak bermoral dan tidak memeiliki hati nurani dan bersukacita dalam kubangan fitnah ini.

Sungguh, beberapa tokoh ilmu kebanggaan umat telah jatuh ke dalam fitnah ini, menjadi penyebab banyak masyarakat tersesat jalan. Dan mereka ikut menjadi sebab terjadinya kekacauan ini yang mereka sebut sebagai jihad, padahal mereka adalah korban yang disebabkan kesesatan dan ketertipuan mereka sendiri.

Agar mereka bisa menempuh cara tersebut, mereka melandaskannya kepada beberapa hal. Pertama, mengkafirkan orang-orang yang berbeda (pendapat) dengan mereka, sebagaimana kaum khawarij mengkafirkan orang banyak dan menghalalkan darah mereka.

Kedua, menghembuskan problem pemilahan sectarian, yang juga berakhir dengan pengkafiran sekte yang berbeda. Kemudian seruan untuk memerangi mereka yang akan mengakibatkan perang saudara yang memanas.

Ketiga, dalam rangka untuk mencari jalan pintas dan mencari sutradara pertikaian ini, mereka menuduh para ulama yang konsisten (istiqomah) dengan berbagai macam tuduhan keji agar umat hilang kepercayaan. Dan mereka tidak ragu-ragu untuk memfitnah mereka dengan banyak kebohongan, dan mengejek mereka sebagai bentuk penghancuran karakter dan figur yang bisa mengembalikan situasi kepada takarannya dan dapat mengklarifikasi fakta.

Hal ini sengaja dibuat agar umat kehilangan kepercayaan terhadap ulamanya dan hilang pula sopan santun terhadap para pemimpin dan orang-orang sholeh. Menjadikan mereka semakin jauh dari sisi kebenaran ditengah-tengah badai perbedaan yang menghantam. Bahkan, mereka ikut menghasut untuk membunuh para ulama tersebut.

Peran institusi dan ilmuwan di tengah perselisihan

Jika sebahagian ilmuwan kebanggaan merupakan bagian dari provokator dan promotor yang telah menyesatkan banyak masyarakat, maka para ulama yang mukhlishin yang harus meluruskan, dan menjaga agar tidak terjadi pertumpahan darah, dan mengawal rambu-rambu kebenaran.

Saya ingin katakan: seluruh Ulama memiliki tanggung jawab menjelaskan dan memunculkan kebenaran, dan memberikan nasehat kepada umat serta menjelaskan hukum serta sikap yang benar terhadap setiap peristiwa dan kejadian. Dan jangan ragu untuk memikul tanggung jawab ini, karena ancaman terhadap kehancuran bangsa dan membuat agama yang benar ini menjadi jelek dan terdistorsi merupakan hal yang sudah dirancang oleh musuh-musuh Islam, dan mereka memperalat para ilmuwan untuk mencapai tujuannya.

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran: (Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul dan para pemimpin di antara kalian. Dan jika kalian berselisih paham akan suatu hal, maka kembalikanlah (merujuklah) kepada Allah dan Rasul-Nya, jika Anda beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu (adalah) lebih baik dan sebaik-baik tempat kembali) An-Nisa: 59 , yakni Allah Taala telah memerintahkan kita -ketika terjadi perbedaan- untuk kembali kepada apa yang telah dijelaskan di dalam Quran dan Nabi Muhammad SAW yang mulia dalam sunnahnya. Dan Dia Allah tidak pernah menyerahkan (penyelesaiannya) kepada hawa nafsu dan fanatisme buta.

Sesungguhnya Fenomena yang disebut (Arab Spring/Musim Semi Arab) tidak lain hanyalah membuka jalan bagi munculnya kelompok-kelompok radikal yang menebar teror pembunuhan dan perusakan atas nama Islam.

Oleh karena itu, pengakuan beberapa pihak yang mengatakan bahwa mereka berjuang memerangi kelompok-kelompok teroris, bagi saya merupakan sikap bersikeras untuk tetap pada kesalahan pertama, dengan cara menyulut api fitnah dan memancing kekacauan, sebagai bentuk pelaksanaan langkah-langkah Free Masonry Internasional/Global, yang disebut oleh Rice dengan kekacauan kreatif.

Situasi ini mengharuskan para ilmuwan untuk melakukan peran dan tanggungjawab yang telah dipercayakan Allah Taala kepada mereka, baik dari sisi amar maruf nahyi munkar, atau dari sisi dakwah kepada Allah dengan cara yang bijaksana dan nasihat yang baik, atau dari sisi menjelaskan kebenaran dan menghapus kebingungan/kecauan pikiran yang menimpa pikiran orang-orang yang mengetahuinya.

Sungguh diamnya seorang Aalim atas apa yang terjadi merupakan suatu kekurangan dan menyembunyikan kebenaran, dan merupakan salah satu sebab terus berlakunya kebathilan. Dan hal itu tidak pantas terjadi kecuali jika seseorang itu takut untuk melawan kebathilan. Atau barangkali dia termasuk orang-orang yang disifati oleh Allah SWT dalam firman-Nya: {dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; Maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam Keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. rugilah ia di dunia dan di akhirat. yang demikian itu adalah kerugian yang nyata} al-Hajj: 11.

Dan selayaknyalah seorang Aalim memiliki sifat sebagaimana firman-Nya: (... dan akan Allah datangkan kaum yang Dia cinta mereka dan mereka juga mencintai-NYA. Mereka lemah lembut terhadap orang mukmin dan keras terhadap orang kafir. Mereka berjuang di jalan Allah dan tidak takut siapa pun yang mencela mereka. Demikian itulah karunia Allah yang Dia berikan kepada siapa saja yang IA kehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberiannya) lagi Maha Mengetahui} al-Maaidah: 54.

Seorang Aalim harus cemburu jika hilang rambu-rambu kebenaran dan khawatir jika umat tersesat. takut jika terjadi perselisihan dan konsekuensinya ... dari pertumpahan darah, kehancuran, dan perpindahan. Bukan ini yang telah terjadi??

Ini merupakan perbuatan dari sekelompok pemilik ilmu serta para ilmuwan yang rela menjadi alat menebar fitnah dan menjadi pengawalnya karena rakus dengan godaan keserakahan atau dengki pada orang-orang yang melihat mereka sebagai pesaing bagi mereka atau iri atas apa yang mereka dapatkan dari penerimaan di seluruh bumi.

Sesungguhnya hal yang lebih berbahaya dan lebih mengkhawatirkan lagi yaitu merajalelanya hawa nafsu pribadi di tengah-tengah masyarakat. Ini terkait dengan masa depan bangsa dan pernyataan kebenaran yang telah ternoda oleh gerakan-gerakan ini ...Ini juga terkait dengan kewajiban untuk menjelaskan dan tidak menyembunyikan kebenaran.

Bukan kah Allah telah berfiman dalam kitab-Nya: dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): "Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya," lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima) Ali Imran: 187. Dan bukan kah Allah telah mengingatkan para ulama tentang menyembunyikan kebenaran dengan firman-Nya: ((Sesungguhnya orang-orang yang Menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilanati Allah dan dilanati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melanati)) al-Baqarah: 159.

Penulis adalah Ketua Persatuan Ulama Suriah, Dekan Fakultas Syariah Universitas Damaskus, Putra Sayyid Muhammad Said Ramadhan al-Buthi.

*) Makalah ini disampaikan dalam Seminar Internasional Peran Ulama dalam Meredam Krisis Politik dan Ideologi di Timur Tengah yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Suriah Indonesia (Al-Syami), Kamis (10/3/2016) di Gedung Pascasarjana UI Salemba Jakarta.

Dari (Opini) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/66458/kewajiban-ulama-dan-fitnah-dunia-islam

KARTANU

Kamis, 06 November 2008

Muslims declare support for Ahok

Jakarta, KARTANU. Prior to his inauguration as new Jakarta governor, acting governor Basuki Ahok Tjahaja Purnama, has received support from various Muslim communities online and offline despite his minority status.

A movement expressing support for Ahok, I am Muslim and I support Ahok has circulated on social media, in an apparent effort to counter the anti-Ahok movement launched by hard-line group the Islam Defenders Front (FPI).

Muslims declare support for Ahok (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslims declare support for Ahok (Sumber Gambar : Nu Online)


Muslims declare support for Ahok

Over the weekend a group calling itself the Indonesia Volunteers Front unfolded a giant banner at the car-free day at the Hotel Indonesia traffic circle and invited Jakarta residents to sign the banner, showing support for Ahok. Hundreds of signatures were collected on the day.

On Monday, representatives of an Islamic group, Dzikrul Ghofilin, which claims to have thousands of followers, came to meet Ahok and directly conveyed their support for Ahok, a Christian of Chinese descent. Group representative Muhammad Subchi said the group had decided to stand up and directly convey their support out of fears that the anti-Ahok movement would tarnish the image of Islam.

KARTANU

The media has focused on the anti-Ahok movement launched by the FPI. It has tarnished Islam and is very bothering. Islam loves and teaches peace. I think I also have the right to explain about peaceful Islam so people wont be confused, he told reporters upon arrival at City Hall.

KARTANU

He said the group opposed the FPIs stance, saying that the latter had violated the Constitution. We have to abide by the rules in managing the state, he said, adding that the state guaranteed each citizens rights regardless of religious background.

Later in the day, Ahok attended a meeting at Uhamka University in East Jakarta and was deliberately invited as a keynote speaker.

However, he declined to deliver a speech and instead asked the forum to ask him questions. Hundreds of audience members were enthusiastic, asking him various questions on leadership, corruption and politics.

A female student from Depok, West Java, for example, asked him how the younger generation could contribute to society amid growing political indifference caused by rampant corruption involving politicians. Ahok used the occasion to persuade the students to consider entering politics.

I was also skeptical at first. But history has shown that everywhere in the world including in Indonesia, the youth were the ones who brought about changes. I am here today, partly because I want to persuade you to enter politics in the future. We need young politicians who are clean and honest to make changes. We cant continue to help the underprivileged by ourselves because we have limited resources, he said, adding that Indonesia needed good leaders.

He also impressed the audience by asking thought-provoking questions regarding the Prophet Muhammads sayings and even citing Koranic verses occasionally while explaining his political philosophy.

He also highlighted the fact that he enrolled in Islamic schools and learned about Islam from a local religious leader back in his hometown of East Belitung, Bangka Belitung, a predominantly Muslim province.

People say that I am a lot like a Muslim. What I lack is merely hidayah [the calling], he said, to which several members of the audience responded by asking why he had not already converted.

Ahok calmly answered, even the Prophet Muhammad wept as he himself was unable to convert his uncle Abu Tholib until his death, this was followed by Allah saying the calling is all Mine, he said, to which the audience responded with applause.

Raja Juli Antoni, who led the forum, said the enthusiasm expressed by the audience was a sign that society longed for honest leaders, regardless of their religious backgrounds.

Editing by Sudarto Murtaufiq

Dari (National) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/55825/muslims-declare-support-for-ahok

KARTANU

Kamis, 29 Mei 2008

Mengenal Kamus Al-Marbawi

Al-Marbawi adalah nama kamus Bahasa Arab-Melayu yang banyak dipakai kalangan santri nusantara beberapa dekade lalu. Lengkapnya Kamus Idris al-Marbawi karya Syaikh Muhammad Idris Abdul Rauf al-Marbawi.

Kamus ini terbit pertama kali tahun 1937, dengan aksara Arab dan berbahasa Melayu. Penyusun kamus ini, Syaikh Idris, lahir di Misfallah, Mekah, pada 28 Dzulqaidah 1313 H/ 10 Mei 1896. Kedua orang tuanya berasal dari Lubok Merbau, Kuala Kangsar, Perak Darul Ridzuan.

Mengenal Kamus Al-Marbawi (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenal Kamus Al-Marbawi (Sumber Gambar : Nu Online)


Mengenal Kamus Al-Marbawi

Ketika berusia 10 tahun, Idris sudah mampu menghafal 16 juz al-Quran dan beberapa kitab pelajaran lain. Setelah hampir sepuluh tahun berada di Mekah, pada 1906 Idris dibawa pulang orang tuanya ke Malaysia.

Sekembalinya ke Malaysia, Idris melanjutkan pelajarannya di Sekolah Melayu Lubok Merbau (kini dikenal sebagai Sekolah Kebangsaan Syaikh Mohd Idris al-Marbawi).

KARTANU

Lalu, beliau meneruskan di beberapa pesantren, di antaranya Pesantren Wan Mohammad, Bukit Chandan, Kuala Kangsar (sekarang Madrasah Idrisiah), Pesantren Tuan Hussien al-Masudi (Kedah), Pondok Syaikh Ahmad al-Fatani (Bukit Mertajam), dan Pondok Tok Kenali (Kelantan). Setelah menamatkan sekolah, Idris menjadi guru agama di Perak.

KARTANU

Tahun 1924, Idris melanjutkan sekolahnya ke Universitas al-Azhar dan ke Mekah. Pada masa inilah, Idris menyusun kamus al-Marbawi. Awalnya, kamus ini disusunnya bersama dua orang sahabatnya, Syaikh Juned Tola dan Syaikh Tahir Jalaluddin. Tetapi, karena kedua sahabatnya pulang kampung, dirinyalah yang kemudian menyelesaikannya.

Kamus al-Marbawi terdiri dari dua jilid. Jilid pertama memiliki tebal 384 halaman dan jilid kedua 401 halaman. Juz pertama, seperti dijelaskan di bagian cover dalam, berisi 18.000 kalimat Arab dengan terjemahan Melayu ditambah 700 gambar ilustrasi.

Juz kedua juga menghimpun 18.000 kalimat Arab disertai terjemahan Bahasa Melayu plus 500 gambar ilustrasi. Kamus ini disusun secara alfabetis Arab dari huruf alif hingga ya. Polanya berdasarkan fili (kata kerja) dan lengkap dengan segala kata turunannya. Selain makna, pada bagian-bagian tertentu, penyusun juga menampilkan contoh bagaimana pemakaian kata itu di dalam Bahasa Arab, khususnya seperti tertulis dalam kitab-kitab keagamaan (kitab kuning) atau kalimat dari ayat Al-Quran.

Sejak terbitnya tahun 1937, Kamus al-Marbawi setidaknya sudah dicetak 25 kali, dan telah mengalami penambahan-penambahan dan perbaikan-perbaikan dari penyusunnya.

Sebelum kemunculan kamus-kamus Arab-Indonesia yang baru dan menggunakan huruf latin, hingga setidaknya tahun 1980-an, al-Marbawi menjadi satu-satunya kamus yang menjadi pendamping kalangan santri ketika membaca dan mempelajari kitab kuning.

Bahasa Melayu yang digunakan dalam kamus ini memang merupakan lingua franca yang dipakai kalangan terpelajar di nusantara dan kawasan Melayu lainnya serta relatif masih dekat dengan Bahasa Indonesia yang dipakai sekarang.

Sebagai contoh: rais Madrasah = ketua atau kepala sekolah. Contoh lain lagi: akkad al-ahda = memperkukuh ikatan janji. Meski pemakaiannya berkurang, bukan berarti al-Marbawi hilang sama sekali, pencetakannya yang terus-menerus dan keberadaannya di toko-toko kitab, menunjukkan bahwa kamus ini masih cukup banyak digunakan.

Syaikh Idris sebenarnya mengarang banyak buku selain Kamus al-Marbawi, di antaranya sejumlah kitab tafsir seperti Tafsir Quran al-Marbawi, Tafsir Surah Yasin, Tafsir Nurul Yaqin, dan Tafsir Fathul Qadir.

Syaikh Idris wafat dalam usia 93 tahun pada hari Jumat, 13 Oktober 1989 di Ipoh, Perak, Malaysia. Makamnya terletak di Tanah Perkuburan Islam Kampung Lubok Merbau, Kuala Kangsar, Perak. (Ensiklopedi NU)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/41180/mengenal-kamus-al-marbawi

KARTANU

Jumat, 31 Agustus 2007

Korps Pelajar NU Lasem Didik 40 Kadernya dalam Diklatama Perdana

Rembang, KARTANU. Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Lasem mengadakan Pendidikan Latihan Pertama (Diklatama) di kantor LP Maarif NU Lasem, Rembang, Rabu-Jumat (25-27/6). Kegiatan yang melibatkan 40 pelajar yang mewakili segenap pengurus anak cabang di Lasem, merupakan kali pertama yang selama beberapa periode terhenti.

Pembukaan Diklatama ini dihadiri PCNU Lasem beserta banomnya, Kapolsek, Koramil, Dandim, dan dinas kemiliteran terkait.

Korps Pelajar NU Lasem Didik 40 Kadernya dalam Diklatama Perdana (Sumber Gambar : Nu Online)
Korps Pelajar NU Lasem Didik 40 Kadernya dalam Diklatama Perdana (Sumber Gambar : Nu Online)


Korps Pelajar NU Lasem Didik 40 Kadernya dalam Diklatama Perdana

Diklatama CBP-KPP Lasem diadakan dengan maksud menghidupkan kembali kepanduan IPNU-IPPNU Lasem. Kegiatan kepanduan ini diharapkan dapat meningkatkan kedisipilinan anggota pada khususnya dan pengurus IPNU-IPPNU Lasem pada umumnya.

DKC CBP IPNU Lasem Sholikul Hadi menyampaikan, Diklatama ini bertujuan menciptakan kader yang tanggap dan tangguh di IPNU-IPPNU Lasem. 40 peserta ini selanjutnya akan mengader pelajar NU di tingkat anak cabang dan ranting.

KARTANU

KARTANU

Sementara DKC KPP IPPNU Lasem Siti Qoshidah mengharapkan peserta Diklatama kali ini memiliki jiwa jiwa sosial yang tinggi dan tanggap akan lingkungan juga bencana.

Peserta Diklatama akan menunjukkan kualitasnya dalam berorganisasi dan tentunya di tengah masyarakat, harap Ketua IPPNU Lasem Azizah. (Akhmad Sayuti/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/52937/korps-pelajar-nu-lasem-didik-40-kadernya-dalam-diklatama-perdana

KARTANU

Sabtu, 31 Maret 2007

IPNU Tasik Inisiasi Dakwah Kreatif

Tasikmalaya, KARTANU. Pengurus Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PC IPNU) Kabupaten Tasikmalaya menginisiasi dakwh kreatif, melalui pembelajaran internet pada anakmuda khususnya, dan masyarakat pada umumnya.

"Dakwah kreatif lewat internet. Kami belajar menulis, belajar seluk beluk internet. Internet kini sudah masuk ke saku anak-anak muda. Bahaya kalau mereka tidak bisa mengambil manfaat, jadi konsumen saja," jelas Fikry Syamsie kepada KARTANU siang tadi (6/11).

IPNU Tasik Inisiasi Dakwah Kreatif (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Tasik Inisiasi Dakwah Kreatif (Sumber Gambar : Nu Online)


IPNU Tasik Inisiasi Dakwah Kreatif

Fikry mengaku, awalnya rekan-rekan IPNU ragu dengan mewujudkan program dakwah kreatif, tapi karena terus didesak keadaan, maka dilaksanakan juga. PC IPNU Kabupaten Tasikmalaya menggalang sepulah aktivis IPNU untuk menyiapkan peluncuran program tersebut.

Berbekal semangat dan cita-cita, peluncuran program Dakwah Kreatif digelar, di Pondok Pesantren Manarul Hikam, Kampung Tampiaan Ciseda Desa Sukaasih Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, 14 Oktober 2012. 150 orang dari 24 pesantren menghadiri peluncuran acara tersebut. Para peserta rata-rata berumur 15-22 tahun. Sebagian mereka anggota IPNU atau IPPNU, santri pesantren dan sebagian sekolah umum. Yang bersarung, bercelana, yang pakai kerudung berkumpul, tekun duduk dari pukul delapan hingga lima sore, menerima materi dan indormasi. Mereka betah duduk lesehan di ubin, memandangi layar kecil dibentangkang di aula pesantren.

KARTANU

Kegiatan seperti ini merupakan kegiatan yang pertama kali buat saya, meskipun tadinya saya kira ini adalah acara yang klasik, tapi setelah saya diam beberapa saat banyak ilmu yang saya dapat terutama dalam bidang teknologi,

KARTANU

Sementara itu, KH Chobir ketua RMI Jawa Barat, yang hadir dalam acara tersebut, mengingatkan pada peserta bahwa yang paling penting adalah bagaimana kita memilih teknologi yang mana yang menguntungkan bagi kita.

"Kuncinya adalah mencari dan belajar dan terus belajar karena orang yang berilmu tidak pernah berhenti untuk belajar, karena semakin ilmu itu digali semakin kita tidak tahu, jadi filosofinya ilmu itu adalah rendah hati. Nabi Muhammad SAW bersabda orang yang pintar dan banyak ilmunya dan dia merasa pintar maka dia itulah yang termasuk orang bodoh," jelas Kiai Chobir yang juga salah satu pengasuh Pesantren Cipasung.

Sementara itu, Ketua PC IPNU Kab. Tasikmalaya Fahmi Siddiq mengatakan, sebetulnya acara tersebut bermula dari obrolan ringan di antara rekan-rekan IPNU dan para santri. "Kita sering para santri dan anak-anak remaja ngobrol tentang status di facebook, tapi kita lebih banyak main-main saja. Eman-eman kalau tidak ditemani. Sebetulnya kata kuncinya yang menemani, dakwah terlalu berat, meski akhirnya kita pakai juga. Semoga kami belum terlambat," paparnya.

Program IPNU tersebut didukung oleh Pengurus Cabang NU Kab. Tasikmalaya, Pikiran Rakyat, dan pesantren. "Kami Senang semua mendukung. Tapi kami juga deg-degan, cemas dengan sikap konsistensi rekan-rekan," ujar Fikry Syamsie.

Penulis: Hamzah Sahal

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/40654/ipnu-tasik-inisiasi-dakwah-kreatif

KARTANU

Senin, 20 Juni 2005

Kini Terbit Buku Fiqih Jenazah ala NU

Surabaya, KARTANU. Tidak banyak yang bisa merawat jenazah. Praktis dalam keseharian, "tugas" ini hanya dibebankan kepada para modin dan tokoh agama setempat. Inilah yang mendorong Kiai Maruf Khozin menulis buku tentang itu agar semua orang mudah melaksanakannya dan tetap sesuai syariat.

Ia menerbitkan buku berjudul "Fikih Jenazah An-Nadliyah". Kelebihannya antara lain di samping berbicara teknis pelaksanaan, juga mengulas dalil amaliah, baik sebelum serta sesudah kematian. "Melengkapi dan penyempurnaan dari sejumlah buku serupa yang beredar di pasaran," kata Kiai Maruf Khozin saat dihubungi KARTANU, Senin (23/2).

Kini Terbit Buku Fiqih Jenazah ala NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kini Terbit Buku Fiqih Jenazah ala NU (Sumber Gambar : Nu Online)


Kini Terbit Buku Fiqih Jenazah ala NU

Keterpanggilan menerbitkan buku ini juga berdasarkan masukan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak. "Bahan yang saya peroleh adalah dari sejumlah pengajian ke sejumlah masjid, mushalla maupun pengurus MWCNU serta bahan tambahan dari pertanyaan yang disampaikan jamaah," kata salah seorang fungsionaris Lembaga Bahtsul Masail PWNU Jatim ini.

KARTANU

"Buku ini juga secara khusus dijadikan sebagai bantahan terhadap maraknya buku-buku Wahabi tentang masalah kematian," terangnya. Pada saat yang sama, buku yang diterbitkan Muara Progresif Surabaya ini diharapkan kian memantapkan bagi warga NU bahwa apa yang dilakukan selama ini memiliki keabsahan dalil sehingga diamalkan oleh ulama salaf, lanjutnya.

Dalam pandangan aktivis PW Aswaja NU Center Jatim tersebut, "Justru seperti kelompok Wahabi lah yang tidak memiliki catatan historis dengan ulama salaf dan cenderung memutus amaliah dari ulama terdahulu," ungkapnya.

KARTANU

Kiai Maruf Khozin menandaskan bahwa amaliah yang dilakukan Nahdliyin cukup banyak, mulai membacakan Yasin, kesaksian, tahlilan, membaca al-Quran di makam, sedekah atas nama al-marhum dan sebagainya.

"Tujuan utamanya yaitu agar mendapat ampunan karena orang meninggal sangat membutuhkan rahmat dari Allah, terlebih lagi kuburan adalah jalan penentu keselamatan seseorang ke alam barzah," katanya sembari menyitir hadits shaheh dari Turmudzi.

Kiai Maruf Khozin menyadari bahwa sejumlah dalil dan hujjah yang dicantumkan dalam bukunya adalah rangkuman dari beberapa kitab ulama salaf. Tidak berhenti sampai di situ, sebelum buku diterbitkan, naskah yang ada dimintakan tashih kepada sejumlah kiai dan ulama terkemuka.

"Khusus kepada KH Muhyiddin Abdusshomad yang juga menjabat Rais Syuriah PCNU Jember serta KH Asyhar Shafwan selaku Ketua LBM PWNU Jatim saya mengucapkan terima kasih karena berkenan memberi kata sambutan," katanya.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada KH Abdurrahman Navis (Direktur PW Aswaja NU Center Jatim), Ustadz Idrus Ramli, serta sejumlah pihak yang telah mendukung percepatatan bagi terbitnya buku tersebut.

Tirmidzi Munahwan selaku pemilik Penerbit Muara Progresif menandaskan bahwa kehadiran buku dengan muatan fikih praktis sangat ditunggu masyarakat. "Apalagi dengan disertai dalil baik dari al-Quran maupun hadits, serta pendapat ulama tentu sangat bermanfaat bagi umat," katanya.

Bagi Tirmidzi, sapaan akrabnya, warga NU dan juga umat Islam harus selalu diberikan pendampingan dan pengetahuan atas sejumlah amaliyah yang selama ini menjadi kebiasaan sehari-hari. "Agar ada kemantapan dalam menjalankan ibadah, bukan semata ikut-ikutan," pungkas alumnus Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ini. (Syaifullah/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/57796/kini-terbit-buku-fiqih-jenazah-ala-nu

KARTANU

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KARTANU sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KARTANU. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KARTANU dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock