Tampilkan postingan dengan label Dalil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dalil. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Juli 2013

Abbas Undang Paus Ke Yerussalem

Vatikan, KARTANU. Presiden Palestina Mahmoud Abbas pada Kamis (17/10), mengundang Paus Francis untuk mengunjungi tanah suci Yerussalem, katanya selama audiensi di Vatikan, seperti dilaporkan oleh AFP dan dilansir oleh al arabiya.

Abbas berbicara dengan pejabat hubungan luar negeri Vatikan Dominique Mambert setelah audiensi dan mengatakan, merupakan kehormatan untuk mengundang beliau di tanah suci.

Abbas Undang Paus Ke Yerussalem (Sumber Gambar : Nu Online)
Abbas Undang Paus Ke Yerussalem (Sumber Gambar : Nu Online)


Abbas Undang Paus Ke Yerussalem

Dalam kunjungan yang dilakukan oleh Presiden Israel Simon Peres April lalu, ia juga mengundang Paus untuk berkunjung ke Yerussalem.

KARTANU

Francis telah mengatakan, dia berkeinginan untuk melakukan perjalanan ke Yerussalem, tetapi Vatikan belum mengkonfirmasikan rencana perjalanan tersebut, meskipun TV Israel Channel 2 melaporkan kunjungan tersebut akan dilakukan pada Maret.

KARTANU

Francis telah mengatakan dia ingin berkunjung dengan patriark Konstantinopel Bartholomew I, pemimpin spiritual Kristen Ortodoks.

Abbas merupakan pemimpin Timur Tengah keempat yang bertemu dengan Paus Francis setelah Peres, presiden Lebanon Michel Suleiman dan Raja Abdullah dari Yordania.

Dalam pertemuan tersebut Abbas dan Francis membahas perang sipil di Suriah dan prospek perdamaian antara Palestina dan Isreal, kata sumber dari Vatikan seperti dikutip oleh Arabnews.

Vatikan mendesak kedua belah pihak untuk membuat keputusan lebih berani dan lebih dekat menuju perdamaian, dengan bantuan komunitas internasional. (Mukafi Niam)

Foto: AP

Dari (Internasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/47694/abbas-undang-paus-ke-yerussalem

KARTANU

Jumat, 12 April 2013

Ketum PBNU Dianggap Tidak Tegas oleh ICMI dalam Kasus Ahok-Kiai Maruf, Ente Umat Kompor?

KARTANU - Muhammad Nasih, doktor pengajar Ilmu Politik di Universitas Indonesia Jakarta menyebut kalau jamaah NU di semua tingkatan marah atas sikap Ahok yang menyerang Ketua Umum MUI KH Ma'ruf Amin di persidangan.

Karena itulah, Nasih yang bicara atas nama anggota Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) itu, menyayangkan sikap Ketum PBNU KH Said Aqil Siraj yang dianggapnya diam, bungkam.

Ketum PBNU Dianggap Tidak Tegas oleh ICMI dalam Kasus Ahok-Kiai Maruf, Ente Umat Kompor? - KARTANU
Ketum PBNU Dianggap Tidak Tegas oleh ICMI dalam Kasus Ahok-Kiai Maruf, Ente Umat Kompor? - KARTANU


Ketum PBNU Dianggap Tidak Tegas oleh ICMI dalam Kasus Ahok-Kiai Maruf, Ente Umat Kompor?

"Yang dilakukan Ahok itu jelas-jelas melakukan penistaan. Mestinya, Ketua Umum PBNU mengambil sikap yang tegas terhadap Ahok," tuduh Nasih, sebagaimana dimuat situs kanigoro.com, dengan judul "Tokoh ICMI Ini Sayangkan Sikap Ketum PBNU yang Bungkam Sikapi Ahok vs Ma’ruf Amin", Kamis (02/02/2017).

"PBNU sudah bersikap kok," bantah Agus, pengurus LTN PBNU, atas kompor komentar tokoh ICMI muda pendiri Monas Institute Semarang itu, Kamis (02/02/2017) petang. Cara yang dilakukan Ketum PBNU untuk mengatasi masalah kecil soal Ahok, katanya, tidak pakai pengerahan massa seperti FPI tentunya.

KARTANU

Cara seorang tokoh yang paham politik semacam Kiai Said adalah menginisiasi silaturrahim antara Menko Kemaritiman Luhut B Pandjaitan, Kapolda Metro Jaya Irjen M Iriawan, dan Pangdam Jaya Mayjen TNI Teddy Lhaksmana dengan Ma'ruf Amin.

KARTANU

"Kita menyayangkan, kita sangat menyayangkan kiai sepuh, simbol NU simbol ulama Indonesia, kedatangan jadi saksi harus kita hargai," kata Kiai Said, sebagaimana dimuat Detikcom, Kamis (02/02/2017).

Sekjend PBNU Helmy Faishal juga melakukan langkah yang sama. Dalam kasus ini, banyak pihak menyayangkan sikap-sikap kompor yang sengaja disulut untuk memancing amarah nahdliyyin. Berita pertemuan antar tokoh yang diinisiasi Kiai Said pun digoreng situs kompor abadkini.com dengan judul, "Apa Pangkat Ahok Sehingga Tiga Jenderal Mewakilinya Minta Maaf ke KH Ma’ruf?".

Umat kompor sebelah, kata Abdullah Hamid, Netizen NU di Surabaya, selalu membuat gaduh tiap langkah PBNU yang dianggap kurang tegas seperti tuduhan tokoh muda ICMI itu. "Gus Dur pernah bilang, wala ta'awanu alal ICMI wal udwan/ jangan saling tolong menolong atas perbuatan (dosa) ICMI dan permusuhan," katanya kepada KARTANU, Kamis (02/02/2017) petang. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/ketum-pbnu-dianggap-tidak-tegas-oleh-icmi-dalam-kasus-ahok-kiai-maruf.html

Sabtu, 16 Februari 2013

Nahdliyin told to be brilliant in dealing with the nations situation

Blitar, KARTANU. The Jihad resolution issued by Nahdlatul Ulama (NU), the countrys largest Muslim organization, on October 22, 1945, was a significant contribution of NU Muslim scholars (ulema) in dealing with the nations situation in the time. The NUs success should inspire all of the NU followers (Nahdliyin) to be capable of reading the current situation.

According to Ach. Dofir Zuhri that all NU cadres must restore their critical reasoning in reading the nations situation, since challenges faced by NU and the nation are highly complex such as economic, cultural, political, and so forth.

Nahdliyin told to be brilliant in dealing with the nations situation (Sumber Gambar : Nu Online)
Nahdliyin told to be brilliant in dealing with the nations situation (Sumber Gambar : Nu Online)


Nahdliyin told to be brilliant in dealing with the nations situation

"For that reason, restoring the critical reasoning is essential in todays conditions, namely the cold war or a war of ideology," he said at a meeting held by Lakpesdam NU of Blitar here on Saturday (26/10).

Meanwhile, Syaiful Maarif speaking at the forum said that now NU had not had ulema whose charisma and sufi attributes such as wara (scrupulous abstinence) are the same as such NU ulema as KH Hasyim Asyari, KH Wahab Hasbullah and KH Wahid Hasyim.

KARTANU

"Thats why, NU cadres, especially todays clerics must reflect and imitate the ulema personalities," he explained.

KARTANU

The Secretary Lakpesdam NU of Blitar Gigih Wardana said the commemoration of the NU jihad resolution should be annual agenda.

"The commemoration is a reflection momentum for NU cadres to continue the ulema and pesantren struggle in fighting for the Indonesian independence," he said.

As we know, the founder of Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asyari issued the jihad resolution for supporting and encouraging Muslims to join the battle and fight against the reoccupation of Indonesia by foreign troops.

The fatwa followed a meeting of ulema from Java and Madura in Surabaya to respond to the proclamation of Indonesias independence by Sukarno and Mohammad Hatta in Jakarta on Aug. 17, 1945.

The fatwa was written in pegon, an Arabic script but in Indonesian or Javanese (Amiq, 1998; 88). It says, among other things, that there is an obligation (fardlu ain) for Muslims to fight against infidels (the Dutch) in order to defend Indonesian independence, that those who died during the fight against NICA (Netherland Indies Civil Administration) would be considered martyrs and the killing of those who undermine the movement and break national unity is legitimate. This fatwa later on became well-known as the Jihad Resolution.

Naturally, the issuance of the fatwa stimulated fighters to stream into Surabaya and fight the Allied troops. The fighters included followers of the Hizbullah and Sabilillah groups from Surabaya and the surrounding cities such as Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Jombang and others.

Reporting by Imam Kusnin; Editing by Sudarto Murtaufiq

Dari (Regional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/47874/nahdliyin-told-to-039be-brilliant-in-dealing-with-the-nation039s-situation039

KARTANU

Sabtu, 16 Juni 2012

Pekalongan Dibanjiri Ulama Peserta Konferensi Internasional Belanegara

KARTANU - Para tamu dari berbagai daerah telah sampai di Pekalongan untuk mengikuti berbagai rangkaian acara Konferensi Internasional Bela Negara. Nampak di antara para tamu tersebut ialah ulama sepuh kharismatis, KH Maimun Zubair, pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang.

Para tamu siang ini sudah mulai melakukan registrasi dan mendapat ID Card resmi untuk mengikuti Konferensi Internasional Bela Negara yang akan digelar pada 27-29 Juli 2016 di kota Pekalongan. Menurut salah satu panitia, Dani, pada siang hari ini registrasi peserta dilakukan di dua tempat.

Pekalongan Dibanjiri Ulama Peserta Konferensi Internasional Belanegara - KARTANU
Pekalongan Dibanjiri Ulama Peserta Konferensi Internasional Belanegara - KARTANU


Pekalongan Dibanjiri Ulama Peserta Konferensi Internasional Belanegara

“Hari ini, registrasi peserta konferensi dilaksanakan di dua tempat, sebagian tamu melakukan registrasi di Hotel Santika, sedangkan sebagian lagi melakukan registrasi di Gedung Kanzus Sholawat,” ujarnya.

KARTANU

Untuk peserta yang sudah melakukan registrasi di antaranya peserta dari Jakarta, Banten, Papua, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat. Untuk wilayah Bali, Maluku , dan lain-lain diperkirakam akan sampai sore ini.

Sebelumnya, panitia Konferensi Internasional Bela Negara mengirim undangan acara kepada para ulama, mursyid, muqoddam, khalifah, pengasuh pesantren, pengurus JATMAN, TNI, POLRI, dan tokoh masyarakat dari dalam maupun luar negeri.

KARTANU

Ada beberapa persyaratan yang harus diserahkan oleh para tamu untuk melakukan registrasi. Di antaranya, harus membawa surat mandat dari panitia. Menurut Nala Riskiati, salah satu panitia registrasi, setelah melakukan registrasi peserta akan diantar ke penginapan.

Lokasi acara registrasi cukup kondusif dan aman. Bapak Sugianto, salah satu personil Polsek Pekalongan Timur, menyatakan telah menerjunkan 15 personil untuk membantu kelancaran registrasi di Gedung Kanzus Sholawat. Sementara di Hotel Santika, pengamanan tak kalah ketat. Nampak belasan personil polisi dan jibom yang diturunkan untuk mengamankan lokasi.

KH. Dr. Hamdani, pengurus JATMAN yang ikut mengawasi proses registrasi, sangat antusias atas acara yang digagas oleh Al-Habib Lutfi Bin Yahya ini.

“Saya pikir ini adalah sejarah, sehingga thariqah tidak hanya dikonotasikan sebagai orang-orang yang ahli dzikir, tetapi juga memiliki komitmen nasionalisme. Bahkan ini mendunia! Dengan acara Konferensi Internasional Ulama Thariqah sedunia ini menunjukan bahwa ahli thariqah itu juga berkontribusi kepada dunia dalam hal peradaban, dan kemanusiaan yang berdasarkan atas perdamaian dunia. Dan itu adalah suatu sejarah yang mungkin belum terjadi sebelumnya. Kita patut mengapresiasi kegiatan ini, terutama kepada Habib Lutfi sebagai Rais ‘Aam JATMAN yang memelopori dan menggagas acara ini. Patut kita syukuri dan teladani," ujarnya.

Ia juga berharap, acara ini bisa ditindaklanjuti dari apa yang dibahas dalam konfrensi. “Harapan saya, kita bisa melanjutkan dan menindaklanjuti acara semacam ini, sebagaimana dhawuh Habib Lutfi, bahwa thariqah harus memberikan keteladanan di tengah konflik yang banyak terjadi saat ini,” pungkasnya.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/07/pekalongan-dibanjiri-ulama-peserta-konferensi-internasional-bela-negara.html

Rabu, 28 Desember 2011

Penting bagi Guru PAI Perkuat Paham Islam Moderat

Jakarta, KARTANU. Saat ini radikalisme sudah pada taraf menyasar anak-anak usia sekolah. Hal ini memberikan konsekuensi kepada guru PAI agar lebih memperkuat dan membekali diri dengan pemahaman Islam moderat atau Al-Wasathiyah.

Hal ini disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam KH Hasyim Muzadi dalam kegiatan Sarasehan Nasional bertajuk Potensi Pendidikan Islam menjadi Rujukan Pendidikan Moderat Dunia, Senin (13/6) di Hotel Mercure Ancol, Jakarta Utara yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama.

Penting bagi Guru PAI Perkuat Paham Islam Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)
Penting bagi Guru PAI Perkuat Paham Islam Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)


Penting bagi Guru PAI Perkuat Paham Islam Moderat

Kiai Hasyim menjelaskan bahwa istilah moderat jika merujuk kepada Hadis yaitu Al-Hanifiyah Samhah. Istilah ini bisa diartikan sebagai agama yang baik dan lurus namun tidak meninggalkan identitas dan menolak tradisi.

KARTANU

Rasulullah SAW diutus untuk membawa agama yang Al-Hanifiyah Samhah. Hal ini dipraktikkan oleh sahabat dan ulama-ulama terdahulu. Ulama dulu sangat Hanif, mendalam agamanya tetapi moderat dalam berdakwah, jelas Kiai Hasyim ini di hadapan sekitar 400 instruktur PAI nasional.

Para ulama terdahulu, lanjut Hasyim, dalam berdakwah sangat terbuka. Jika ada perbedaan pendapat, mereka menyikapinya dengan arif dan bijak. Mereka melakukan dakwah dengan ramah dan sejuk, tidak memaksakan kehendak dalam masalah agama.

KARTANU

Jika bisa ditarik syukur, tapi kalau tidak bisa ya tidak memaksakan kehendak. Jadi ulama zaman dulu itu banyak mengislamkan orang kafir dengan dakwah ramahnya. Tapi zaman sekarang kebalik, kelompok Islam tertentu malah mengafirkan sesama Islam. Inilah bedanya Waliyullah dengan Wali Jenggot, ucap Hasyim diikuti riuh tawa peserta.

Lebih jauh, Ketua Umum PBNU periode 2000-2010 ini mendorong kepada seluruh instruktur PAI, baik dari unsur guru, kepala sekolah, dan pengawas untuk memperkuat paradigma Al-Hanifiyah Samhah ini.

Hal ini, kata Hasyim, mengingat paham radikal telah sampai pada taraf aksi bukan lagi wacana. Dalam hal inilah menurutnya, guru harus mampu menjadi jembatan untuk para generasi muda untuk menyambungkan sumber-sumber hukum Islam dengan realitas zaman yang selalu berubah dengan tidak meninggalkan tradisi. (Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/68962/kiai-hasyim-penting-bagi-guru-pai-perkuat-paham-islam-moderat

KARTANU

Selasa, 15 November 2011

Akhirnya Habib Rizieq Ditetapkan Tersangka Penodaan Pancasila oleh Polda Jabar

KARTANU - Polda Jabar menetapkan imam besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab (HRS) sebagai tersangka kasus dugaan penodaan Pancasila. Penetapan HRS sebagai tersangka berdasarkan hasil rangkaian gelar perkara tahap penyidikan yang dilakukan tim penyidik Ditreskrimum Polda Jabar.

Akhirnya Habib Rizieq Ditetapkan Tersangka Penodaan Pancasila oleh Polda Jabar - KARTANU
Akhirnya Habib Rizieq Ditetapkan Tersangka Penodaan Pancasila oleh Polda Jabar - KARTANU


Akhirnya Habib Rizieq Ditetapkan Tersangka Penodaan Pancasila oleh Polda Jabar

"Penyidik meningkatkan status Rizieq Syihab dari saksi terlapor menjadi tersangka," kata Kabidhumas Polda Jabar Kombes Yusri Yunus di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Senin (30/1/2017), sebagaimana diberitakan Detikcom.

Gelar perkara ketiga ini berlangsung hari ini selama tujuh jam atau sejak pukul 11.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB. Sebelumnya, pagi hari tadi, penyidik minta keterangan tambahan kepada satu saksi ahli. Tercatat, menurut Yusri, sebanyak 18 saksi sudah didengarkan keterangannya oleh penyidik berkaitan dengan kasus tersebut.

Yusri menjelaskan pihak penyidik Ditreskrimum Polda Jabar melakukan analisis dan evaluasi dalam gelar perkara. Tim penyidik, lanjut Yusri, bekerja mengumpulkan keterangan saksi-saksi dan alat bukti untuk menguatkan sangkaan terhadap HRS.

HRS disangkakan melanggar Pasal 154 a KUHP tentang Penodaan terhadap Lambang Negara dan Pasal 320 KUHP tentang Pencemaran terhadap Orang yang Sudah Meninggal. "Perkara penistaan Pancasila dan pencemaran proklamator ini seluruhnya sudah masuk unsur dan alat bukti yang cukup," tutur Yusri.

Kasus yang menjerat Rizieq merupakan buntut dari pelaporan Sukmawati Soekarnoputri. Ketua Partai Nasional Indonesia (PNI) Marhaenisme tersebut menganggap Rizieq melakukan penodaan terhadap lambang dan dasar negara Pancasila serta menghina kehormatan martabat Sukarno selaku proklamator kemerdekaan Indonesia dan presiden pertama Indonesia.

Bareskrim Mabes Polri semula menerima laporan Sukmawati, lalu melimpahkan perkara tersebut kepada Polda Jabar. Alasannya, tempat kejadian atau area ceramah HRS yang dianggap melecehkan Pancasila ini berlokasi di Lapangan Gasibu, Kota Bandung, atau masuk wilayah hukum Polda Jabar. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/akhirnya-habib-rizieq-ditetapkan-tersangka-penodaan-pancasila-oleh-polda-jabar.html

Minggu, 06 November 2011

Gus Mus: Kalau Mau Bicara Islam, ya Mengaji, Jangan dari Buku Terjemahan

KARTANU - Pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak baru akan berlangsung 15 Februari mendatang. Akan tetapi, iklim politik sudah mulai memanas. Potensi penggunaan isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) dalam pilkada pun telah bermunculan. Salah satunya, meruaknya kontroversi terkait pidato Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Kepulauan Seribu beberapa waktu lalu.

Ahok pun belakangan dituduh menistakan agama Islam. KH Mustofa Bisri, pengasuh Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin atau Taman Pelajar Islam, Desa Leteh, Rembang, Jateng, yang karib disapa Gus Mus, melihat fenomena itu akibat kondisi masyarakat yang belum siap menerima perbedaan.

Gus Mus: Kalau Mau Bicara Islam, ya Mengaji, Jangan dari Buku Terjemahan - KARTANU
Gus Mus: Kalau Mau Bicara Islam, ya Mengaji, Jangan dari Buku Terjemahan - KARTANU


Gus Mus: Kalau Mau Bicara Islam, ya Mengaji, Jangan dari Buku Terjemahan

Untuk mengetahui lebih jauh pandangan Gus Mus, wartawan KARTANU, Furqon Ulya Himawan, mewawancarai kiai karismatik itu, Jumat (14/10). Berikut petikan wawancara, yang disajikan Duta Islam untuk memberikan pencerahan kepada umat Islam.

KARTANU: Kasus intoleransi kerap berlangsung. Apa yang salah?

Ahmad Mustofa Bisri: Menurut saya, itu akibat dari masa lalu yang tidak kunjung direformasi. Reformasi itu kan islah, ndandani kalau dalam bahasa Jawa. Ndandani atau memperbaiki itu harusnya dicari masalah-masalahmana yang rusak, yang diperbaiki itu mana, akar masalahnya apa, harus diteliti dulu baru direformasi.

Namun, sekarang yang terjadi, hiruk-pikuk reformasi itu ternyata melahirkan orang-orang yang seharusnya direformasi justru malah berteriak paling reformis. Jadi sebetulnya kan masalah itu terjadi pada saat dulu, yang akan kita reformasi.

KARTANU: Contohnya, Gus?

Ahmad Mustofa Bisri: Dulu ada kecenderungan zaman Orde Baru untuk menyeragamkan semua. Bukan hanya pakaian seragam, menanam padi, sampai-sampai mengecat pagar rumah sendiri juga harus seragam. Bahkan masjid pun diseragamkan semua, dengan alasan harmonis. Akibatnya, masyarakat tidak bisa berbeda karena terlalu lama diseragamkan, akhirnya masyarakat kita kaget-kaget kalau ada perbedaan.

KARTANU: Dampaknya terhadap keberagaman dan kebinekaan?

Ahmad Mustofa Bisri: Pertama, masyarakat kita susah menerima perbedaan. Beda sedikit marah, beda sedikit marah. Itu akibat menyeragamkan semua hal dan itu melawan fitrah. Padahal, Tuhan menciptakan alam semesta termasuk kita semua itu dalam kondisi berbeda-beda, jadi tidak akan bisa kalau memang mau disatukan atau diseragamkan.

Kedua, seperti burung yang lama dikurung dalam sangkar, ketika sangkar dibuka, dia malah kebingungan, nabrak sana-sini karena sudah lama tidak merasakan kebebasan. Ketika keran kebebasan dibuka, malah bingung. Padahal, dulu itu teriak saja susah, selalu bunyinya satu, setuju. DPR itu dulu kalau teriak ya setuju, apa saja pokoknya setuju. Sampai-sampai ada ledekan: ada kucing masuk parlemen, ngeong, langsung serempak setuju.

Setelah sekian lamanya hanya bisa bilang setuju, sampai saya bikin sajak 'Negeri Ya, Ya'. Terus sekarang, DPR isinya interupsi semua, ngomong semua, seperti burung yang baru dikeluarkan. Terus yang dulunya tiarap-tiarap, sekarang muncul semua. Ini gara-gara berbagai macam permasalahan islah yang masih belum dilakukan. Jadi banyak persoalan ini yang sumbernya dari reformasi yang tidak sungguh-sungguh.

KARTANU: Sekarang banyak yang bertindak intoleran, menganggap diri paling benar. Ada pula yang mengatasnamakan Islam. Menurut Gus Mus?

Ahmad Mustofa Bisri: Saya selalu mengatakan, harus terus belajar dan jangan berhenti belajar. Orang kalau mau terus belajar, nanti akan mengerti dan memahami apa-apa yang sebelumnya belum dimengerti dan dipahami. Namun, ini payahnya, orang berhenti belajar karena dia merasa sudah mengerti dan memahami. Padahal, sama sekali belum mengerti apa-apa, malah kadang-kadang sudah berfatwa ke sana kemari.

KARTANU: Caranya belajar?

Ahmad Mustofa Bisri: Ya, ini jadi harus terus belajar. Belajarlah supaya mengerti yang menyeluruh, kalau mau bicara Islam, ya mengaji, jangan mengambil Islam dari buku-buku terjemahan, Al-Quran terjemahan, hadis terjemahan. Ini tidak mungkin. Terus kadang orang bilang kembali ke Al-Quran dan Hadist, tapi orang salah memaknai maksud itu.

KARTANU: Maksudnya?

Ahmad Mustofa Bisri: Orang mengatakan kembali ke Al-Quran dan sunah Rasul itu kok malah maknanya kembali ke Al-Quran dan hadis terjemahan Depag, itu bagaimana, itu kacau! Orang bisa membaca terjemahan Depag asal dia bisa baca Latin, dan dikiranya kebenaran yang dibaca dan dipelajarinya itu kebenaran mutlak. Ia tidak tahu bahwa bahasa Arab Al-Quran tidak sama.

Jadi teruslah belajar bahasa Arab, harus belajar ilmu Balagoh, ilmu Badi' dan Bayan karena Al-Quran itu mengandung itu semua, sastranya tinggi sekali. Jadi, kalau orang hanya membaca terjemahan tidak tahu sastra ya tidak mungkin, tidak bisa, harus mengaji.

Jadi silakan mengatakan kembali ke Al-Quran dan hadist itu dijadikan semboyan, tapi ya kembali itu belajar dan terus belajar, harus mengaji. Tidak diartikan bacalah terjemahan Al-Quran, atau 40 hadist di buku-buku mutiara hadis, itu ngacau!

KARTANU: Menjelang pilkada, banyak konflik yang mengancam keberagaman dan berpotensi memecah kebinekaan. MUI sampai mengeluarkan fatwa. Menurut Gus Mus?

Ahmad Mustofa Bisri: Kita sekarang lupa, bahwa yang menentukan orang menjadi kaya, menjadi miskin, menang dan kalah, memiliki kekuasaan atau kehilangan kekuasaan, dan menjadi penguasa atau tidak, menjadi pangkat atau tidak, itu semua Allah Subhanahu wata'ala. Disangka kalau kita ngotot, berarti pasti jadi?!

KARTANU: Bagaimana agar tidak terjadi perpecahan di pilkada, Gus?

Ahmad Mustofa Bisri: Saya selalu mengatakan janganlah berlebih-lebihan dalam segala hal. Itu di Islam tidak boleh! Wala tusrifu, (jangan berlebihan), atau Ghuluw, banyak dalam ayat-ayat Al-Quran dan Sabda Rasullullah Sallahhu Alaihi Wassalam menyatakan tidak boleh, alguluw fiddin (berlebihan dalam agama), berlebih-lebihan itu tidak boleh. Karena berlebih-lebihan itu akibatnya orang tidak bisa berpikir adil, tidak bisa istiqomah, tidak bisa objektif.

Jadi, kalau selama kita masih bersikap berlebih-lebihan dalam segala aspek kehidupan kita, sangat sulit kita untuk berpikir jernih, tidak bisa. Sebab adil itu jejek (Gus Mus mengisyaratkan tangannya berdiri tegak, lurus), sedangkan berlebih-lebihan itu begini (Gus Mus mengisyaratkan tangannya berdiri condong ke kanan), atau begini (Gus Mus mengisyaratkan tangannya berdiri condong ke kiri), tidak bisa. Karena apa pun nanti akan dijadikan alasan untuk berkelahi.

Jadi, kalau kita misalnya senang berlebih-lebihan, benci berlebih-lebihan, senang dunia berlebihan, senang kekuasaan berlebihan, senang pangkat berlebihan, senang kedudukan berlebihan, apa pun itu yang berlebihan, itu semua sumber malapetaka. [KARTANU]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/gus-mus-kalau-mau-bicara-islam-ya-mengaji.html

Minggu, 09 Oktober 2011

Inilah Alasan-Alasan Mengapa NU Menolak FPI?

KARTANU - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Denpasar (Bali) dan Nusa Tenggara Barat secara resmi menolak kehadiran Front Pembela Islam (FPI) di kedua daerah masing-masing. Keduanya mempunyai alasan yang berbeda-beda. NU Denpasar menolak FPI karena dinilai bisa merusak kebhinnekaan dan harmoni. Sedangkan NU NTB tidak ingin masalah politik yang berkecamuk di Jakarta dibawa-bawa ke NTB, sehingga mengganggu situasi masyarakat yang aman, damai, dan kondusif.

Sikap NU ini sebenarnya bukan hal baru. Pada tahun 2014, KH Malik Madani, Katib ‘Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, dalam rapat gabungan antara Syuriah dan Tanfidziyah secara tegas menolak dakwah FPI karena dianggap bertentangan dengan metode dakwah Ahlussunnah wal-Jamaah, yang dikenal toleran, moderat, dan elegan (http://www.nu.or.id/post/read/51730/nu-tolak-tegas-gerakan-hti-dan-fpi). Pertanyaannya, kenapa NU menolak FPI?

Inilah Alasan-Alasan Mengapa NU Menolak FPI? - KARTANU
Inilah Alasan-Alasan Mengapa NU Menolak FPI? - KARTANU


Inilah Alasan-Alasan Mengapa NU Menolak FPI?

Penjelasan di bawah ini teramat penting untuk menjawab kebingungan di tengah-tengah masyarakat, karena FPI selalu dikaitkan dengan NU atau beberapa pahamnya dianggap sejalan dengan tradisi NU, sehingga ada anggapan seolah-olah FPI bagian dari NU.

Maka, sikap NU Denpasar dan NU NTB tersebut sebenarnya memberikan garis demarkasi dan diferensiasi antara NU dan FPI. Bahkan, NU sebenarnya menolak FPI, karena sepak terjangnya dianggap bertentangan dakwah Ahlussunnah wal-Jamaah yang dipedomani NU, yang dikenal ramah, toleran, dan moderat.

Sebagai organisasi yang dinakhodai para ulama dan kiai, NU ingin memastikan bahwa Islam rahmatan lil ‘alamin dapat menjadi ruh yang memperkokoh bangsa dan memperkuat hubungan antara sesama (hablum minan nas). Sebab itu, untuk mencapai tujuan yang mulia mesti diperlukan strategi dakwah yang merangkul, bukan dakwah yang memukul.

KARTANU

Masih segar melekat dalam ingatan publik bagaimana FPI kerapkali melukai perasaan warga NU saat Rizieq Shihab menyebut Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dengan buta mata dan buta hati dalam sebuah wawancara yang disiarkan live di sebuah stasiun televisi swasta.

KARTANU

Bagi kami, kader muda NU, ujaran Rizieq Shihab tersebut sangat melukai warga NU yang sangat menghormati Gus Dur.

Gus Dur adalah mantan Ketua Umum PBNU, Presiden RI ke-3, dan cucu pendiri NU, yang pengabdiannya kepada NU dan bangsa sangat besar. Bahkan, hingga sekarang ribuan orang setiap hari masih menziarahi kuburan Gus Dur.

Kita juga menonton Youtube di mana Rizieq Shihab secara terbuka menyebut kata-kata yang tidak pantas terhadap Ketua Umum PBNU KH Prof. Dr. Said Aqil Siradj. Berbeda pendapat adalah hal yang biasa, termasuk di dalam lingkungan NU, bahkan perbedaan pendapat menjadi salah satu khazanah NU. Tapi melontarkan kata-kata yang tidak pantas dan tidak etis terhadap Ketua Umum PBNU tentu merupakan salah satu tindakan yang secara moral tidak bisa diterima.

Selain hal yang bisa dilihat secara visual, sebenarnya ada hal-hal yang bersifat prinsipil yang menjadi landasan NU menolak FPI. Pertama, Islam adalah agama yang membawa rahmat dan kasih sayang kepada siapa pun. Karena itu, inti dari Islam adalah persaudaraan (al-ukhuwwah). Persaudaraan merupakan tiang Islam, negara, dan kemanusiaan.

Untuk itu, ulama NU menggarisbawahi tiga model pesaudaraan: persaudaraan keislaman (al-ukhuwwah al-islamiyyah), persaudaraan kebangsaan (al-ukhuwwah al-wathaniyyah), dan persaudaraan kemanusiaan (al-ukhuwwah al-basyariyyah).

Karenanya, jika ada pihak-pihak yang ingin menampilkan wajah Islam yang penuh amarah, apalagi menebarkan kebencian dan kekerasan, sebenarnya dapat mengganggu persaudaraan. NU bertahun-tahun menjadi “jimat bangsa” dengan membangun harmoni antara sesama warga negara, apa pun agama dan keyakinannya. Sebab, sebuah bangsa tidak akan berdiri tegak jika harmoni di antara warganya tidak terwujud.

Kedua, paham Ahlussunnah wal-Jamaah NU mempunyai karakteristik tersendiri. Menurut KH Achmad Siddiq dalam Khitthah Nahdliyyah, ada dua karakteristik Ahlussunnah wal-Jamaah NU, yaitu moderat, memilih jalan tengah (al-tawassuth), tidak ekstrem, baik ekstrem kanan maupun ekstrem kiri. Selain itu, karakter yang menonjol adalah menebar rahmat kepada siapa pun (rahmatan lil ‘alamin).

Karena itu, dakwah-dakwah NU mengutamakan kearifan, nasihat yang santun, dan debat yang rasional-konstruktif. Jihad yang dilakukan oleh NU adalah jihad kebangsaan dalam rangka mewujudkan kemerdekaan dan jihad kemanusiaan dengan melakukan pendidikan dan pelayanan masyarakat melalui pesantren-pesantren dan ekonomi kerakyatan.

Ketiga, sebagai organisasi yang dipimpin oleh para ulama, NU sangat mengedepankan keteladanan dan akhlak mulia. Ulama adalah pewaris para Nabi, karenanya ia mewarisi akhlak mulia, yang ucapan-ucapannya harus menginspirasi, bukan memprovokasi. Menurut KH Achmad Siddiq, ciri-ciri ulama antara lain: takwa kepada Allah SWT; mewarisi ucapan, perbuatan, dan akhlak Nabi Muhammad SAW; tekun beribadah, asketis, berilmu luas, mengedepankan kemaslahatan umum, dan mengabdikan ilmunya untuk Allah SWT.

Keempat, NU akan selalu mematuhi pemimpin yang dipilih secara sah, tidak melakukan makar, meski tidak kehilangan sikap kritis. Sikap ini diambil dalam rangka memastikan negara dalam keadaan kondusif, tidak dalam keadaan turbulen, dan penuh gonjang-gonjing.

Kelima, NU akan menjadi menjaga Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika. Dalam Muktamar NU 1984, NU menerima Pancasila sebagai asas tunggal. Lalu, pada Musyawarah Alim Ulama 2006 di Surabaya, NU menegaskan kembali Pancasila sebagai dasar negara yang bersifat final.

Sikap NU yang demikian ini penting untuk diketahui publik, khususnya warga NU agar senantiasa menjadi kelompok mayoritas yang melindungi kelompok minoritas. Bukan hanya itu, NU dapat menjadi pelopor bagi kokohnya solidaritas kebangsaan.

Ibu Megawati Soekarnoputri menyampaikan pesan yang sangat baik dalam Hari Ulang Tahun PDI Perjuangan ke-44, agar kelompok mayoritas tidak boleh diam. NU sebagai salah satu ormas Muslim terbesar di negeri ini harus menyampaikan sikapnya agar Islam terus menjadi faktor yang memperkokoh kebangsaan.

Apa yang dilakukan NU Denpasar dan NU NTB adalah sikap yang tepat sebagai upaya untuk mengingatkan dalam kebajikan (tawashaw bil haqq) dan mengingatkan dalam kesabaran (tawashaw bi al-shabri). [KARTANU]

Zuhairi Misrawi, Ketua Moderate Muslim Society, Alumnus Universitas al-Azhar, Kairo Mesir. Intelektual Muda Nahdlatul Ulama. Ketua Pengurus Pusat Baitul Muslimin Indonesia. Menulis sejumlah buku: Al-Quran Kitab Toleransi: Inklusivisme, Pluralisme, dan Multikulturalisme (2008), Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari: Keindonesiaan dan Keumatan (2012), Mekkah: Kota Suci, Kekuasaan, dan Teladan Ibrahim (2010), Madinah: Kota Suci, Piagam Madihan, dan Teladan Muhammad (2011), Al-Azhar: Menara Ilmu, Reformasi, dan Kiblat Keulamaan (2011)

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/inilah-alasan-alasan-mengapa-nu-menolak-fpi.html

Senin, 18 Juli 2011

Dari Pesantren, Revolusi Sepakbola Dimulai

KARTANU - Dari Pesantren untuk Timnas Indonesia yang lebih baik, ya kalimat itu mungkin terlalu mengada-ada tapi ini menjadi mungkin ketika kita benar-benar meyakinininya seperti halnya sebuah doa. Ketika yakin dengan doa yang kita panjatkan, maka Allah akan mengabulkan doa kita.

Liga Santri di Jateng sudah mulai menggeliat. Ratusan pesantren ikut ambil bagian dalam ajang Liga Santri Nusantara 2016. Selama dua bulan bergelut mengurusi liga santri ini, ada harapan besar dipundak para Santri mendatang akan mengambil bagian kostum Timnas Garuda Muda. Begitu bangganya kita melihat mereka bisa berlaga di ajang sepakbola nasional dan international.

Dari Pesantren, Revolusi Sepakbola Dimulai - KARTANU
Dari Pesantren, Revolusi Sepakbola Dimulai - KARTANU


Dari Pesantren, Revolusi Sepakbola Dimulai

Mimpi itu semakin di depan mata ketika melihat semangat para santri berlatih sepakbola, meski tanpa sepatu dan kaos kaki. Mereka memiliki impian untuk menjadi pemain profesional seperti Bambang Pamungkas misalnya. Kegembiraan santri menendang bola terpancar sebuah harapan dari kaki merekalah nantie kejayaan sepakbola Indonesia itu berkibar.

Sepekan setelah lebaran kemarin ketika para santri kembali ke pesantren, langsung merumput. Bukan ngarit cari rumput, tapi ini benar-benar merumput, main sepakbola tanpa sepatu tanpa kostum. Ya begitu memang alamiyah tak takut ada paku atau pecahan kaca di lapangan, langsung tancap gas menendang bola.

KARTANU

Tanpa sepatu, ada saja keajaiban yang datang. Mereka akhirnya bisa bersepatu, berkaos kaki dan pakai kaos tim. Itulah keadilan Tuhan yang sesungguhnya ada kemurahan bagi mereka yang bersabar.

Misalnya saja API Tegalrejo FC, awalnya nyeker (tanpa sepatu), akhirnya mereka jadi keren pakai kostum sepakbola lengkap. Tak tanggung-tanggung, tim ini diampu pelatih senior berlabel bayak prestasi nasional dan international, namanya Edi Prayitno, biasa disapa Coach EP, mantan pelatih PPLP Salatiga Diklat Salatiga yang menjuarai liga antar PPLP se Indonosia dua kali berturut-turut. Dia juga membawa Timnas Pelajar Kemenpora meraih juara 2 di tingkat Asia.

Ini sebuah kegilaan pada bola, bukan lagi sebuah rutinitas agenda Liga Santri yang sudah bergulir 2015 dan 2016. Manajer tim nya adalah M Yusuf Chudlory, kyai muda yang gila bola, CEO PPSM Magelang, klub profesional yang merumput di Divisi Utama. Gus Yusuflah yang berani memegang tim PPSM ketika tidak lagi dibiyayai APBD (revolusi sepakbola). Dari 80 santri API itu, disaring lagi menjadi 20 pemain yang memiliki talenta bola di atas rata-rata menurut pilihan Coach EP.

KARTANU

Jika memang di Magelang kiyainya asli gila bola, apakah di pesantren lain juga demikian? Mereka semangat dan antusias ternyata. Misalnya saja di Pesantren Khozainatul Ulum, pengelola timnya Gus Zaki Muharror yang memiliki semangat luar biasa. Ketika Panpel Liga Santri sowan ke sana, dia menceritakan kegembiraannya menyambut liga ini.

Hampir semua peserta LSN ini menyambut positif liga, semua larut dalam kegembiraan bersepakbola. [KARTANU]

Sholahuddin Al-Ahmadi, Ketua Panpel Liga Santri Reg 2 Jateng

(Sampai artikel ini diturunkan terdapat 27 club yang bersedia untuk mengikuti LSN zona Jateng region 2; semoga tak ada yang gugur dipertengahan jalan hingga kick off berlangsung)

Oleh Sholahuddin Al-Ahmadi

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/dari-pesantren-revolusi-sepakbola-dimulai.html

Sabtu, 12 Juni 2010

Pergunu Desak Pemerintah Cairkan Dana BOS Madrasah

Mojokerto, KARTANU. Menjelang perhelatan Muktamar ke-33 nu di Jombang, Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama melaksanakan Rapat Kerja Nasional yang diikuti oleh Ketua dan Sekretaris Pergunu se-Indonesia di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto, Rabu-Kamis, (29-30/7).

Turut hadir dan menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut KH Mujib Qulyubi Katib Syuriah PBNU, Prof Furqon, PhD Rektor UPI Badung, dan Prof Dr Ir Muhammad Bisri, MS Rektor Universitas Brawijaya.

Pergunu Desak Pemerintah Cairkan Dana BOS Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Desak Pemerintah Cairkan Dana BOS Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)


Pergunu Desak Pemerintah Cairkan Dana BOS Madrasah

Dalam Rakernas tersebut, H Saepuloh, MPd Sekretaris Pergunu Jabar menyampaikan kepada Pimpinan Pusat Pergunu tentang belum cairnya dana BOS Madrasah yang berimplikasi terhadap tidak terpenuhinya hak-hak guru, salah satunya honorarium.

"Sudah 7 bulan dana BOS Madrasah, baik itu Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah belum cair. Sehingga banyak guru-guru Madrasah swasta belum menerima honor selama 7 bulan. Kami minta PP Pergunu mendesak Kementrian Agama untuk segera mencairkan dana BOS," tutur H Saepuloh

KARTANU

Menyikapi hal tersebut, Ketua Umum PP Pergunu Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA prihatin dan menyayangkan akan belum cairnya dana BOS Madrasah. Oleh karena itu, PP Pergunu akan desak Menteri Agama untuk segera cairkan dana BOS Madrasah.

KARTANU

"Kami akan segera surati Kemenag RI untuk segera mencairkan dana BOS, agar guru-guru madrasah mendapatkan honorarium yang belum dibayarkan oleh Madrasah srlama 7 bulan," tutur Kiai Asep. (Red: Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/61196/pergunu-desak-pemerintah-cairkan-dana-bos-madrasah

KARTANU

Selasa, 11 Mei 2010

Muskercab NU Sumedang, Ajang Perkuat Aswaja dan Kaderisasi

Sumedang, KARTANUPengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sumedang pada Ahad (18/12) melaksanakan kegiatan musyawarah kerja cabang (Muskercab) II. Forum yang bertempat di Aula PCNU Sumedang ini dihadiri 100 peserta yang mewakili dari pengurus PCNU Sumedang, ketua dan sekretaris Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Se-Kabupaten Sumedang, serta perwakilan dari tiap lembaga dan badan otonom NU.

Rais Syuriyah PCNU Sumedang KH A Furqon menyampaikan bahwa Muskercab II menjadi forum untuk menentukan program kerja PCNU Sumedang ke depan. Menurutnya, di antara program penting yang perlu digulirkan adalah penguatan paham Ahlussunnah wal Jamaah.

Muskercab NU Sumedang, Ajang Perkuat Aswaja dan Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Muskercab NU Sumedang, Ajang Perkuat Aswaja dan Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)


Muskercab NU Sumedang, Ajang Perkuat Aswaja dan Kaderisasi

Penguatan paham aswaja itu perlu ada kesepakatan, istiqamah, dan konsistensi dalam pengerjaanya. Mudah-mudahan hasil muskercab ini bisa diamalkan oleh semua pengurus, ujarnya.

KARTANU

Sementara Ketua PCNU Sumedang H Sadulloh mengatakan bahwa tahun depan di Sumedang menghadapi tahun politik. Salah satu pembahasan program kerja muskercab ini yaitu bagaimana menyikapi tahun politik tersebut. Para peserta akan membahas secara detail hal-hal yang harus dikerjakan oleh pengurus PCNU Sumedang di tahun depan secara terperinci.

KARTANU

Selain itu, tambahnya, ada tiga tugas yang harus dikerjakan oleh NU ke depan. Yang pertama NU harus memperkuat gerakan Aswaja bagi warga Nahdliyin. Kedua, NU harus terus memperkokoh sistem kaderisasi untuk menumbuhkan semangat militansi para kadernya. Dan yang ketiga, NU harus memperkuat di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Ketiga hal tersebut akan menjadi bahan kajian dalam Muskercab PCNU Sumedang saat ini.

NU itu organisasi besar. Organisasi besar itu harus bisa mewarnai, jangan mau diwarnai oleh organisasi kecil. Mudah-mudahan PCNU Sumedang ke depan bisa mewarnai wajah Sumedang ke depan, tuturnya. (Ayi Abdul Kohar/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/73897/muskercab-nu-sumedang-ajang-perkuat-aswaja-dan-kaderisasi

KARTANU

Jumat, 02 Januari 2009

PMII Jombang Bagi-bagi Takjil untuk Pengguna Jalan

Jombang, KARTANU. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jombang, Jawa Timur, Kamis (3/7), menebar berkah Ramadhan dengan membagi-bagikan takjil untuk pengguna jalan. Pembagian menu buka puasa ini dimulai pukul 17.00 sore menjelang berbuka puasa.

Sekitar 25 kader PMII menyebar disudut perempatan Jalan Wahid Hasyim depan Masjid Ar-Raudloh Jombang. Hanya berselang 20 menit 500 bungkus kurma dan 500 gelas minuman ludes.

PMII Jombang Bagi-bagi Takjil untuk Pengguna Jalan (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Jombang Bagi-bagi Takjil untuk Pengguna Jalan (Sumber Gambar : Nu Online)


PMII Jombang Bagi-bagi Takjil untuk Pengguna Jalan

Alhamdulillah, kami hari ini bisa membagi-bagikan rezeki kepada sesama yang ternyata diterima dengan baik oleh masyarakat. Bahkan, beberapa jamaah masjid ada yang tidak kebagian karena memang masih sebatas itu kemampuan kami, terang Mahmudi, Ketua PC PMII Jombang.

Aksi bagi-bagi takjil mereka mendapat apresiasi dari masyarakat dan para pengguna jalan setempat. Mereka bersyukur kader mahasiswa Islam Nahdhlatul Ulama tersebut masih peduli sosial meski di tengah keterbatasan yang PMII Jombang miliki.

KARTANU

Mahasiswa seperti mereka sangat baik sudah mempunyai rasa saling mengasihi. Saya dan jamaah yang lain senang kalau tiap hari ada yang mau seperti mereka. Kan yang tidak dapat hari ini, bisa dapat besok, kata salah satu penerima takjil, Urifah, sembari tersenyum. (Romza M Gawat/Mahbib)

KARTANU

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/53054/pmii-jombang-bagi-bagi-takjil-untuk-pengguna-jalan

KARTANU

Jumat, 31 Agustus 2007

Korps Pelajar NU Lasem Didik 40 Kadernya dalam Diklatama Perdana

Rembang, KARTANU. Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Lasem mengadakan Pendidikan Latihan Pertama (Diklatama) di kantor LP Maarif NU Lasem, Rembang, Rabu-Jumat (25-27/6). Kegiatan yang melibatkan 40 pelajar yang mewakili segenap pengurus anak cabang di Lasem, merupakan kali pertama yang selama beberapa periode terhenti.

Pembukaan Diklatama ini dihadiri PCNU Lasem beserta banomnya, Kapolsek, Koramil, Dandim, dan dinas kemiliteran terkait.

Korps Pelajar NU Lasem Didik 40 Kadernya dalam Diklatama Perdana (Sumber Gambar : Nu Online)
Korps Pelajar NU Lasem Didik 40 Kadernya dalam Diklatama Perdana (Sumber Gambar : Nu Online)


Korps Pelajar NU Lasem Didik 40 Kadernya dalam Diklatama Perdana

Diklatama CBP-KPP Lasem diadakan dengan maksud menghidupkan kembali kepanduan IPNU-IPPNU Lasem. Kegiatan kepanduan ini diharapkan dapat meningkatkan kedisipilinan anggota pada khususnya dan pengurus IPNU-IPPNU Lasem pada umumnya.

DKC CBP IPNU Lasem Sholikul Hadi menyampaikan, Diklatama ini bertujuan menciptakan kader yang tanggap dan tangguh di IPNU-IPPNU Lasem. 40 peserta ini selanjutnya akan mengader pelajar NU di tingkat anak cabang dan ranting.

KARTANU

KARTANU

Sementara DKC KPP IPPNU Lasem Siti Qoshidah mengharapkan peserta Diklatama kali ini memiliki jiwa jiwa sosial yang tinggi dan tanggap akan lingkungan juga bencana.

Peserta Diklatama akan menunjukkan kualitasnya dalam berorganisasi dan tentunya di tengah masyarakat, harap Ketua IPPNU Lasem Azizah. (Akhmad Sayuti/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/52937/korps-pelajar-nu-lasem-didik-40-kadernya-dalam-diklatama-perdana

KARTANU

Jumat, 06 Juli 2007

RMI Kumpulkan Pengasuh Pondok Pesantren Se-Indonesia

Jakarta, KARTANU. Rabithah Maahid Islamiyah (RMI) atau asosiasi pondok pesantren di bawah naungan Nahdlatul Ulama mengumpulkan para kiai pesantren se-Indonesia dalam acara Silaturrahmi pengasuh Pondok Pesantren Se-Indonesia dan Rapat Kerja Rabithah Maahid Islamiyah (RMI) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang akan digelar di Asrama haji Pondok Gede Jakarta, 18-21 Mei mendatang.

Acara silaturahmi akan diikuti oleh 350 peserta yang terdiri dari para kiai pengasuh pondok pesantren se-Indonesia dari Jawa dan luar Jawa serta para ketua dan sekretaris pengurus wilayah RMI se-Indonesia.

Menurut Ketua Panitia Penyelenggara Abdul Adhim, rapat kerja RMI mengambil tiga pembahasan pokok yakni peningkatan kualitas keilmuan santri, pengembangan potensi ekonomi pesantren dan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesantren.

Rapat kerja itu akan diawali dengan pemaparan program dari para menteri terkait seperti Mendiknas Bambang Sudibyo, Menteri Agama Maftuh Basyuni, Menkominfo Muhammad Nuh, Menko Kesra Abu Rizal Bakrie, Menteri Koperasi dan UKM Surya Dharma Ali, Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi, Menteri Pertanian Anton Apriantono, Menteri kesehatan Siti fadillah Supari, dan Menteri Perumahan Rakyat Yusuf Asyari yang dipandu oleh para pengurus PBNU dan RMI.

RMI Kumpulkan Pengasuh Pondok Pesantren Se-Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
RMI Kumpulkan Pengasuh Pondok Pesantren Se-Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)


RMI Kumpulkan Pengasuh Pondok Pesantren Se-Indonesia

Sekarang ini kontribusi pesantren terhadap pembangunan nasional tetap menempati posisi yang sangat penting. Pesantren harus menjadi tempat simulasi terjadinya pembaharuan pemikiran islam yang dapat memberikan sumbangannya dalam peningkatan sumber daya manusia, kata Abul Adhim di sela-sela persiapan acara di kantor PBNU Jakarta, Kamis (10/5).

Dikatakan, upaya penanaman kembali nilai-nilai pesantren sebagai ikon peradapan merupakan agenda penting yang harus dilakukan dengan cermat dan seksama, agar keberadaan pesantren tidak menguap di telan gerak peradapan yang terus melaju cepat

Pesantren sebagai basis dari akar budaya bangsa ini, harus terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan sarananya agar mampu menjadi agen perubahan dan pembangunan di masyarakat, kata Sekretaris Panitia Acara Abdullah Masud.

KARTANU

Penutupan acara akan diadakan di pada Senin (21/5) siangdi Istana Negara bersama presiden Susilo Bambang Yudhoyono.(nam)

KARTANU

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/8944/rmi-kumpulkan-pengasuh-pondok-pesantren-se-indonesia

KARTANU

Kamis, 11 Agustus 2005

Diklatsar, Banser Berlatih Tenaga Dalam hingga Bakti Sosial

Pacitan, KARTANU. Sebanyak 80 peserta mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) Barisan Ansor Serbaguna (Banser NU) yang diadakan oleh Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Arjosari, Pacitan, Jawa Timur.

Peserta ditempa dengan berbagai bentuk pelatihan fisik dan mental, seperti kemampuan bela diri, ilmu tenaga dalam, ke-NUan, ke-Indonesiaan, bela negara, peraturan baris berbaris, kelalulintasan, dan kedaruratan bencana.

Diklatsar, Banser Berlatih Tenaga Dalam hingga Bakti Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Diklatsar, Banser Berlatih Tenaga Dalam hingga Bakti Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)


Diklatsar, Banser Berlatih Tenaga Dalam hingga Bakti Sosial

Mereka juga melakukan aksi sosial dengan melakukan penanaman 9999 bibit pohon sengon. Diklatsar digelar Jumat-Ahad (29-31/1) di lapangan Desa Sedayu, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan.

Pada kesempatan itu, Katib Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Luqman Harits Dimyathi secara khusus membaiat 80 peserta Diklatsar, Ahad dini hari (31/1). Sebelum membaiat, Kiai Luqman memberikan pertanyaan apakah mereka siap untuk berjuang membesarkan Jamiyyah Nahdlatul Ulama. Secara serentak, mereka menjawab,siap!

KARTANU

Kalian adalah Banser Ansor, kalian kader NU yang tangguh. Apakah kalian siap memnbela NU? Apakah kalian siap berjuang demi NU, tanya Kiai Luqman.

KARTANU

Selanjutnya dengan diawali pembacaan kalimat syahadat, Kiai Luqman yang merupakan pengasuh Pesantren Tremas ini membimbing pembacaan baiat yang diikuti oleh semua peserta. Dalam baiatnya, para peserta berjanji akan berjuang mengembangkan ajaran Islam Aswaja, membesarkan NU dan menjaga keutuhan NKRI.

Alfatihah, semoga Allah meridhai kita semua, amin, pintanya.

Sementara itu dalam acara penutupan Diklatsar, Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Arjosari Hamka Hakim berharap, anggota Banser NU agar saling menjaga kekompakan. Anggota Banser NU harus mau mengabdikan diri di tengah masyarakat. Karena anggota Banser NU akan terlibat aktif dalam berbagai kegiatan sosial, pengamanan dan lainya. Tunjukan kemampuan kalian untuk membantu masyarakat, katanya.

Selepas Diklatsar, imbuh Hamka Hakim, PAC GP Ansor Arjosari segera menyusun rencana tindak lanjut (RTL). Di antarnya, pembentukan koordinator Banser antardesa, konsolidasi anggota Banser tiap sebulan sekali, menziarahi makam tokoh NU Pacitan dan kegiatan bakti sosial.

Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) Barisan Ansor Serbaguna (Banser NU) mengusung tema "Banser Benteng Ulama, Pembela Negara dan Penegak Agama". Diklatsar Banser NU digelar sebagai bentuk kaderisasi di tubuh organanisasi Gerakan Pemuda Ansor NU. (Zaenal Faizin/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/65455/diklatsar-banser-berlatih-tenaga-dalam-hingga-bakti-sosial

KARTANU

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KARTANU sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KARTANU. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KARTANU dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock