Tampilkan postingan dengan label Nu Online. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nu Online. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Juni 2017

SMA NU Gratiskan SPP untuk Hafizh-hafizhoh

Malang, KARTANU. Para pelajar SMA yang hafal Al-Quran mendapat perhatian khusus di SMA NU, Pakis, Malang. siswa-siswi yang berprestasi akan mendapatkan keringanan membayar Sumbangan Penyelenggaraan Pendidikan (SPP), khusus siswa/i yang hafal al-Quran, mendapatkan beasiswa penuh, tanpa membayar SPP.

Diantara siswa-siswi yang berprestasi, selain pelajar yang hapal Al-Quran adalah pelajar yang mendapatkan peringkat satu, dua hingga tiga.

SMA NU Gratiskan SPP untuk Hafizh-hafizhoh (Sumber Gambar : Nu Online)
SMA NU Gratiskan SPP untuk Hafizh-hafizhoh (Sumber Gambar : Nu Online)


SMA NU Gratiskan SPP untuk Hafizh-hafizhoh

Selain untuk memprosikan Sekolah SMA NU, saya pikir sangat penting untuk memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya untuk para hafizh-hafizhoh, kita tidak dapat mepungkiri jika semua ilmu datangnya dari Al-Quran, ungkap Nanik Nurhayati, kepala SMA NU pada KARTANU, Senin (29/04).

Pengratisan SPP akan berlaku selama siswa masuk tahun ajaran pertama hingga lulus. Selain itu, Sekolah yang bertempat di Jalan Haji Mustofa 108, Malang ini memiliki 80 gedung dan Laboratorium IPA. Letaknya yang strategis dari pondok sekitarnya memudahkan para santri di pondok tersebut untuk sekolah di SMA NU.

KARTANU

Selain mencerdaskan dengan ilmu-ilmu pengetahuan yang kami bidik secara serius, kami juga ingin menanamkan aswaja pada generasi bangsa yang sangat perlu untuk kehidupan mereka kelak paparnya.

Tidak hanya proses belajar mengajar, beberapa ekskul (kkstrakurikuler) seperti Mading, al-Banjari, Thetre, Pencak silat juga digalakkan, Kami ingin mencetak Islam yang kompetitif, beraliran ahlussunnah, unggul dan profesional, imbuhnya lagi.

KARTANU

Redaktur : A. Khoirul Anam

Kontributor: Diana Manzila

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/44119/sma-nu-gratiskan-spp-untuk-hafizh-hafizhoh

KARTANU

Senin, 10 April 2017

Perlu Pahami Islam Secara Lentur

Jakarta, KARTANU. Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Saifuddin Amsir mengajarkan kelenturan dalam memahami dan menjalankan ajaran Islam. Kitab fiqih dan tasawuf yang dibacanya di majelis taklim cukup efektif mendidik perbedaan pandangan keagamaan yang ada.

Selain kitab Arrisalah Alqusyairiyah, KH Saifuddin mengajar kitab Rahmatul Ummah Fikhtilafil Aimmah. Kitab itu memaparkan pandangan fiqih dari pandangan empat mazhab.

Perlu Pahami Islam Secara Lentur (Sumber Gambar : Nu Online)
Perlu Pahami Islam Secara Lentur (Sumber Gambar : Nu Online)


Perlu Pahami Islam Secara Lentur

Kitab itu mengajarkan para pelajar agar mereka mengerti bahwa di kalangan ulama terjadi perbedaan pandangan, kata KH Saifuddin di kediamannya di bilangan Cipinang Melayu kecamatan Makassar Jakarta Timur, Selasa, (24/9) malam.

KARTANU

Kitab ini menanamkan kesadaran bahwa pemikiran-pemikiran itu pada dasarnya merupakan rahmat dari Allah. rahmat Allah ini tidak bisa dipungkiri.

Bayangkan saja kalau hanya ada satu pandangan keagamaan tanpa alternatif, bisa celaka kita semua. Kita akan menjadi susah karenanya, tegasnya.

KARTANU

Hadis Rasulullah SAW yang berbunyi Ikhtilafu ummati rahmah perbedaan umatku meruapakan sebuah rahmat, dapat dilihat kebenarannya secara nuraniyah. Bukti-bukti dari kebenarannya sudah jelas.

"Kita tidak bisa memaksakan kebenaran perihal peribatan kita kepada orang lain. Karena, mereka juga mengkuti mazhab yang diakui ulama. Kearifan ulama ini patut menjadi bahan pelajaran bagi umat Islam."

"Saya menyayangkan fenomena umat Islam belakangan ini yang cenderung menjadi kaku dalam beragama. Karenanya, saya anjurkan masyarakat untuk mengkaji lagi sebanyak-banyak kitab kuning. Darinya kita dapat petunjuk-petunjuk keagamaan secara matang," tutup KH Saifuddin. (Alhafiz Kurniawan)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/47259/perlu-pahami-islam-secara-lentur

KARTANU

Rabu, 22 Maret 2017

Banser Sawangan Jingkang Bantu Korban Rumah Roboh

Banyumas, KARTANU. Sainah (54) janda 3 anak itu hanya bisa pasrah, melihat rumahnya di RT 01/5 Desa Jingkang Kecamatan Ajibarang porak-poranda diterpa angin kencang yang menerpa desa Jingkang Senin (21/3). Seketika itu juga, puluhan anggota banser dari ranting Sawangan dan Jingkang langsung terjun kelokasi kejadian.

Banser dibantu warga bahu membahu membereskan rumah Sainah yang hancur tersebut. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, karena saat kejadian Sainah sedang tidak rumah.

Banser Sawangan Jingkang Bantu Korban Rumah Roboh (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Sawangan Jingkang Bantu Korban Rumah Roboh (Sumber Gambar : Nu Online)


Banser Sawangan Jingkang Bantu Korban Rumah Roboh

"Saat kejadian, saya sedang berada di sawah, tiba-tiba tetanga saya ngabarin kalo rumah saya roboh," tutur Sainah dengan wajah sedih.

"Dua anak saya sedang sekolah, dan yang paling kecil ikut saya ke sawah," lanjutnya.

KARTANU

KARTANU

Puluhan personil Banser dari Sawangan dan Jingkang yang dihubungi lewat telefon langsung terjun ke lokasi kejadian.

"Saya di telepon sahabat Tarno, lalu saya langsung menghubungi yang lain juga," kata Pujianto

"Kami semua datang sekitar jam 13:00, dan langsung bergerak memberskan puing-puing yang berserakan," lanjutnya.

Jafar, ketua RW setempat mengungkapkan bahwa rumah Sainah memang sudah rusak berat, kayu-kayunya banyak yang keropos.

Banser juga langsung membuatkan gubug sementara untuk keluarga sainah tinggal. (Kifayatul Akhyar/Mukafi Niam)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/76380/banser-sawangan-jingkang-bantu-korban-rumah-roboh

KARTANU

Kamis, 23 Februari 2017

Habib Luthfi Hadiri Maulid Akbar Hari Jadi Wonogiri

Wonogiri, KARTANU. Maulid Akbar membuka perayaan Hari Jadi Kabupaten Wonogiri yang ke -272 yang digelar semalam (4/5) di Alun-alun Giri Kridha Bhakti Wonogiri.

Pengajian Akbar tersebut dihadiri Rais Aam Jamiyyah Ahlith Thoriqah Al Mutabaroh An Nahdliyyah (JATMAN), Habib Muhammad Luthfi bin Yahya.

Habib Luthfi Hadiri Maulid Akbar Hari Jadi Wonogiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi Hadiri Maulid Akbar Hari Jadi Wonogiri (Sumber Gambar : Nu Online)


Habib Luthfi Hadiri Maulid Akbar Hari Jadi Wonogiri

Ribuan jamaah yang hadir memadati lapangan lokasi pengajian. Mereka hadir dari berbagai daerah.

KARTANU

Selain maulid akbar, berbagai rangkaian acara juga diselenggarakan guna menyambut Hari Jadi Kota Gaplek itu, diantaranya Napak Tilas Pangeran Sambernyawa di Monumen Watu Gilang, Tasyarub Gerakan 1 Miliar untuk anak yatim, dan Doa syukur antar umat beragama.

Hari Jadi Wonogiri sendiri sebetulnya baru akan jatuh pada tanggal 19 Mei nanti. Bupati Wonogiri Danar Rahmanto, dalam sambutannya mengatakan,ia berharap dengan momentum ini segenap unsur dapat membantu untuk mewujudkan keadaan masyarakat berdasarkan semboyan SUKSES.

KARTANU

SUKSES sebagai kepanjangan Stabilitas, Undang-undang, Koordinasi, Sasaran, Evaluasi, Semangat. Berarti pula upaya mewujudkan keadaan masyarakat yang penuh semangat dan bekerja bersama segenap elemen berdasarkan rel regulasi agar tujuan kesejahteraan dan kemakmuran dapat tercapai dengan kestabilan, ujarnya.

Redaktur : Mukafi Niam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/44238/habib-luthfi-hadiri-maulid-akbar-hari-jadi-wonogiri

KARTANU

Sabtu, 18 Februari 2017

Sambut Resolusi Jihad, NU Jatim Adakan Lomba Sastra

Surabaya, KARTANU. Sejumlah lomba dalam rangkaian Hari Santri sekaligus peringatan Resolusi Jihad pada 22 Oktober mendatang akan digelar oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur.

"Lomba yang dapat diikuti adalah cipta dan baca puisi, cipta dan baca pantun serta penulisan esai kebudayaan," kata Ketua Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) PWNU Jatim Nonot Sukrasmono, Rabu (12/10). Sedangkan tema besar lomba adalah "Merajut Kebhinnekaan, Menjaga Kedaulatan Indonesia".

Sambut Resolusi Jihad, NU Jatim Adakan Lomba Sastra (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Resolusi Jihad, NU Jatim Adakan Lomba Sastra (Sumber Gambar : Nu Online)


Sambut Resolusi Jihad, NU Jatim Adakan Lomba Sastra

Dalam penjelasannya, lomba ini akan melewati sejumlah tahapan. "Tahap penyisihan dilaksanakan di 4 zona," terang Nonot, sapaan akrabnya. Zona 1 dipusatkan di PCNU Kabupaten Situbondo dengan tanggal pelaksanaan 13 Oktober.

"Untuk zona 2 akan dipusatkan di PCNU Kabupaten Malang dan dilaksanakan 16 Oktober," jelasnya. Sedangkan zona 3 akan dilaksanakan di PCNU Kota Kediri, bersamaan dengan pelaksanaan di zona 2. Dan untuk zona 4 dilaksanakan 20 Oktober di PCNU Kab Bangkalan.

KARTANU

KARTANU

"Nantinya, tiga peserta terbaik untuk setiap lomba dari masing-masing zona berhak mengikuti babak final yang akan digelar Sabtu, 22 Oktober 2016 di Kantor PWNU Jawa Timur," katanya.

Lebih lanjut, Nonot menjelaskan bahwa para peminat lomba harus mengetahui aturan yang ditentukan panitia. "Yang pasti, seluruh karya yang diikutkan lomba adalah buatan sendiri bukan jiplakan," katanya. Untuk pantun minimal 9 bait, dan puisi minimal 45 kata. Nantinya, pantun dan puisi dibuat dan dibaca sendiri, lanjutnya.

Untuk lomba esai, panjang tulisan antara 800 hingga 1000 karakter. "Sedangkan untuk lomba orasi kebangsaan, peserta harus menyerahkan abstraksi pokok pikiran sebanyak 2 paragraf," jelasnya.

"Ini saatnya mengekspresikan kesantrian sekaligus membuktikan nasionalisme," katanya. Karenanya peserta dapat segera mendaftar melalui PCNU terdekat di wilayah Jatim. "Nantinya peserta akan memperebutkan hadiah menarik dari PWNU dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur," pungkasnya. Informasi lebih lengkap dapat menghubungi call center panitia, di nomor 0822 3202 0447. (Ibnu Nawawi/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/71943/sambut-resolusi-jihad-nu-jatim-adakan-lomba-sastra

KARTANU

Sabtu, 15 Oktober 2016

Adakah Kelompok Aswaja di Luar NU?

Mojokerto, KARTANU. Buku Khazanah Aswaja dibedah di kampus Institut Pesantren KH Abdul Chalim (IKHAC) Pacet, Mojokerto, Jawa Timur. Buku itu dibedah tiga narasumber yaitu Ustadz Fathul Qadir dan Ustadz Yusuf Suharto. Keduanya adalah tim penulis buku itu. Sementara sebagai pembedah utama dan pembanding, adalah Pengurus Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Dr. Rudolf. Acara ini dibuka oleh Dr. Sukadir, dekanat yang mewakili Rektor.

Di hadapan peserta, Yusuf Suharto yang tampil pertama, menyatakan, buku Khazanah Aswaja terdiri dari enam bab itu bisa menjadi buku pegangan para mahasiwa di perguruan tinggi NU maupun kampus berbasis pesantren.

Adakah Kelompok Aswaja di Luar NU? (Sumber Gambar : Nu Online)
Adakah Kelompok Aswaja di Luar NU? (Sumber Gambar : Nu Online)


Adakah Kelompok Aswaja di Luar NU?

"Buku ini terdiri dari enam bab dan ini seperti kebutuhan akan mata kuliah Aswaja yang di kampus NU dan juga di kampus IKHAC diterapkan selama enam semester," ujarnya diamini para narasumber pada bedah buku yang berlangsung pada Ahad (22/1).

KARTANU

Di buku ini, lanjutnya, ada bab tentang aliran dan kelompok di luar NU. Aliran klasik bukan bagian dari Aswaja yang disebut di buku ini antara lain Mutazilah, Syiah, dan Khawarij. Sementara itu ada kelompok-kelompok umat Islam yang juga dibahas di buku ini. Kelompok di luar NU ini ada yang Aswaja dan ada yang tidak.

KARTANU

Sementara Ustadz Fathul Qodir mengatakan, Aswaja itu salah satu cirinya adalah tidak mudah mengkafirkan dan tidak mudah membidahkan sesama umat Islam.

Karena untuk mengkategorikan itu harus pakai kaidah-kaidah, tidak bisa serampangan," ungkap tim penulis yang kerap muncul di TV 9.

Ustadz Rudolf mengapresiasi buku ini. "Buku ini enak dibaca. Ini saya rekomendasikan agar dibaca. Kalau bisa, jumlah oplah cetaknya diperbanyak sehingga semakin banyak orang yang bisa membacanya. Namun saya memberi masukan, agar tim 8 ini ditambah satu lagi menjadi tim 9," ujar pria yang mengaku sebagai Aswaja dari Jember ini.

Di akhir acara, Ustadz Fathul Qodir menyerukan kepada para peserta bedah buku untuk mantap dengan NU, sembari dikutipnya kata pengantar dari Rais Aam PBNU KH Maruf Amin di buku ini.

"Hadirnya buku Khazanah Aswaja yang mengulas seluruh aspek Aswaja, sejarah, akidah, fikih, tasawuf, dan implementasinyadi lingkungan NU, secara konkret membuktikan konsistensi Aswaja NU Center PWNU Jatim dalam mengemban amanah ilmiah untuk menghadapi tantangan kekinian. Harapannya, kehadiran buku ini menjadi langkah strategis dan secara substansif dapat diserap oleh NU di seluruh level secara nasional, sesuai kondisi dan tantangan yang dihadapi," demikian kutipan sambutan Rais Aam. (Red: Abdullah Alawi)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/74863/adakah-kelompok-aswaja-di-luar-nu

KARTANU

Selasa, 06 September 2016

Ekonomi Ditata dari Orientasinya

Oleh KH Abdurrahman Wahid

Sejak kemerdekaan di tahun 1945, orientasi ekonomi kita banyak ditekankan pada kepentingan para pengusaha besar dan modern. Di tahun 1950-an, dilakukan kebijakan Benteng, dengan para pengusaha pribumi atau nasional memperoleh hampir seluruh lisensi, kredit dan pelayanan pemerintah untuk mengangkat mereka. Hasilnya adalah lahir perusahaan Ali-Baba , yaitu dengan mayoritas pemilikan ada di tangan para pengusaha pribumi (Ali) dan pelaksana perusahaan seperti itu dipimpin oleh keturunan Tionghoa (Baba). Ternyata, kebijakan itu gagal. Si Baba atau pengusaha keturunan Tionghoa, karena ketekunan dan kesungguhannya mulai menguasai dunia usaha, baik yang bersifat peredaran/perdagangan barang-barang maupun pembuatan/produksinya, walau adanya pembatasan ruang gerak warga negara keturunan Tionghoa, untuk tidak aktif/memimpin di bidang-bidang selain perdagangan.

Demikian pula dengan sistem quota dalam pendidikan, mau tidak mau mempengaruhi ruang gerak warga negara keturunan Tionghoa di bidang perdagangan saja. Mereka dengan segera memanfaatkan kelebihan uang mereka, untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka di luar negeri. Karena tidak terikat dengan sistem beasiswa yang disediakan pemerintah untuk berbagai bidang studi, mereka lalu memanfaatkan pendidikan luar negeri yang memberikan perhatian lebih besar kepada pendidikan berbagai bidang seperti, teknologi, produksi, kimia, komunikasi terapan, kemasan (package), pemasaran, penciptaan jaringan (networking) dan permodalan. Di tahun-tahun terakhir ini, para pengusaha keturunan Tionghoa itu bahkan sudah mencapai tingkatan kesempurnaan (excellence) dalam bidang-bidang tersebut, seperti terbukti dari hasil-hasil yang dicapai anak-anak mereka di luar negeri.

Ekonomi Ditata dari Orientasinya (Sumber Gambar : Nu Online)
Ekonomi Ditata dari Orientasinya (Sumber Gambar : Nu Online)


Ekonomi Ditata dari Orientasinya

Karena itu tidaklah mengherankan, jika lalu dunia usaha (bisnis) mereka kuasai. Para manager/pimpinan usaha ada di tangan mereka, bahkan hal itu terasa pada tingkat usaha di bidang keuangan/finansial. Bahkan Bulog dan Dolog hampir seluruhnya berhutang uang pada mereka. Sehingga praktis merekalah yang menentukan jalannya kebijakan teknis, dalam hal-hal yang menyangkut sembilan macam kebutuhan pokok bangsa. Tidak mengherankan jika lalu ada pihak yang merasa, ekonomi negeri kita dikuasai oleh keturunan Tionghoa. Itu wajar saja. Bahkan lontaran emosional itu akan menjadi sangat berbahaya, jika ditutup- tutupi oleh pemerintah dan media dalam negeri. Namun, harus segera ditemukan sebuah kerangka lain, untuk menghindarkan lontaran-lontaran perasaan yang emosional seperti itu. Janganlah berbagai reaksi itu, lalu berkembang karena dipercaya oleh orang banyak.

KARTANU

Kesenjangan kaya-miskin yang terus menjadi besar dalam kenyataan, maka diperlukan sebuah penataan ekonomi bangsa kita. Bagaimanapun juga harus diakui, bahwa apa-apa yang terbaik di negeri kita, dikuasai/dimiliki oleh mereka yang kaya, baik golongan pribumi maupun golongan keturunan Tionghoa. Namun untuk menyelamatkan diri dari kemarahan orang melarat, baik yang merasa miskin ataupun yang memang benar-benar tidak menguasai/memiliki apa-apa, maka elite ekonomi/orang kaya kalangan pribumi selalu meniup-niupkan bahwa perekonomian nasional kita dikuasai/dimiliki para pengusaha golongan keturunan Tionghoa. Karena memang selama ini media nasional dan kekuasaan politik selalu berada di tangan mereka, dengan mudah saja pendapat umum dibentuk dengan menganggap golongan keturunan Tionghoa, yang lazim disebut golongan non-pribumi, sebagai penguasa perekonomian bangsa kita.

Kesan salah itu dapat segera dibetulkan dengan sebuah koreksi total atas jalannya orientasi perekonomian kita sendiri. Koreksi total itu harus dilakukan. Orientasi yang lebih mementingkan pelayanan kepada pengusaha besar dan raksasa, apapun alasannya, termasuk klaim pertolongan kepada pengusaha nasional pribumi, haruslah disudahi. Sebenarnya yang harus ditolong adalah pengusaha kecil dan menengah, seperti yang diinginkan oleh Undang-undang Dasar kita, maupun berbagai peraturan yang lain. Dengan demikian tidaklah tepat mempersoalkan pribumi dan non-pribumi, karena persoalannya bukan terletak di situ, masalahnya adalah kesenjangan antara kaya dan miskin.

KARTANU

Jadi, yang harus dibenahi, adalah orientasi yang terlalu melayani kepentingan orang-orang kaya, atas kerugian orang miskin. Kita harus jeli melihat masalah ini dengan kacamata yang jernih. Perubahan orientasi itu terletak pada dua bidang utama, yaitu pertolongan kepada UKM, Usaha Kecil dan Menengah dan upaya mengatasi kemiskinan. Kedua langkah itu harus disertai pengawasan yang ketat, disamping liku-liku birokrasi, yang memang merupakan hambatan tersendiri bagi upaya memberikan kredit murah kepada UKM. Padahal saat ini, apapun upaya yang dilakukan untuk menolong UKM, selalu menghadapi hambatan. Jadi, haruslah dirumuskan kerangka yang tepat untuk tujuan ini. Dan tentu saja, upaya mengatasi kemiskinan menghadapi begitu banyak rintangan dan hambatan, terutama dari lingkungan birokrasi sendiri.

***

Padahal tujuan pemerintah dan kepemimpinan dalam pandangan Islam adalah maslahah mmah, yang secara sederhana diterjemahkan dengan kata kesejahteraan. Kata kesejahteraan ini, dalam Undang-undang Dasar kita, dinamakan keadilan dan kemakmuran. Sekaligus dalam pembukaan UUD 1945 diterangkan, bahwa tujuan bernegara bagi kita semua diibaratkan menegakkan masyarakat yang adil dan makmur. Ini juga menjadi sasaran dari ketentuan Islam itu, dengan pengungkapan kebijakan dan tindakan seorang pemimpin atas rakyat yang dipimpinnya, terkait langsung dengan kepentingan rakyat yang dipimpinnya (tasharruful imm alr-raiyyah manthun bil- mashlahah).

Dalam bahasa sekarang, sikap agama seperti itu dirumuskan sebagai titik yang menentukan bagi orientasi kerakyataan. Itulah yang seharusnya menjadi arah kita dalam menyelenggarakan perekonomian nasional. Bukannya mempersoalkan asli dan tidak dengan latar belakang seorang pengusaha. Pandangan picik seperti itu, sudah seharusnya digantikan oleh orientasi perekonomian nasional kita yang lebih sesuai dengan kebutuhan mayoritas bangsa.

Masalahnya sekarang, perekonomian nasional kita terkait sepenuhnya dengan persaingan bebas, keikutsertaan dalam perdagangan internasional yang bebas dan mengutamakan efisiensi rasional. Karenanya orientasi ekonomi rakyat harus difokuskan kepada prinsip menjaga dan mendorong UKM. Namun sebelumnya dalam hal ini adalah, keharusan merubah orientasi perekonomian nasional itu sendiri.

*) Diambil dari Abdurrahman Wahid, Islamku Islam Anda Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi, 2006 (Jakarta: The Wahid Institute). Tulisan ini pernah dimuat di Memorandum, 3 Januari 2003.

Dari (Taushiyah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/52751/ekonomi-ditata-dari-orientasinya

KARTANU

Senin, 11 Juli 2016

Kenapa Bung Karno Diziarahi Kirab Resolusi Jihad NU?

Jakarta, KARTANU. PBNU menggelar Kirab Resolusi Jihad NU 2016 untuk memperingati Hari Santri Nasional pada bulan Oktober nanti. Kirab yang akan dimulai dari Banyuwangi (Jawa Timur) sampai Cilegon (Banten) tersebut diperkirakan akan menempuh jarak 2000 km.

Peserta kirab akan berziarah ke makam wali, kiai, bersilaturahim ke pesantren dan pengurus NU. Salah satu destinasi Kirab Resolusi Jihad NU 2016 adalah makam Prklamator Kemerdekaan RI Soekarno di Blitar, Jawa Timur.

Kenapa Bung Karno Diziarahi Kirab Resolusi Jihad NU? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenapa Bung Karno Diziarahi Kirab Resolusi Jihad NU? (Sumber Gambar : Nu Online)


Kenapa Bung Karno Diziarahi Kirab Resolusi Jihad NU?

Bung Karno merepresentasikan tokoh nasionalis, kata Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Ishfah Abidal Aziz ketika ditanya alasan kenapa makam Bung Karno diziarahi, di gedung PBNU, Jakarta Senin (19/9).

KARTANU

Menurut dia, di Indonesia, kalangan nasionalis dan agamis berkaitan erat, bisa bekerja sama. Dan itu terbukti dalam sejarah ketika Soekrno menjadi presiden, ulama-ulama dekat dengannya. Bahkan jauh sebelum ia menjadi presiden.

KARTANU

Islam di Indonesia, sebagaimana tercermin dalam tokoh utama NU, Hadrotusyekh KH Hasyim Asyari, bisa memadukan agama dan nasionalisme.

Lebih lanjut, alasan menziarahinya karena Resolusi Jihad itu bermula dari pertanyaan Soekarno, bagaimana hukumnya membela tanah air. Maka NU mengumpulkan kiai se-Jawa dan Madura. Hasilnya keluarlah Resolusi Jihad yang menyebutkan bahwa membela tanah air itu wajib bagi umat Islam. (Abdullah Alawi)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/71389/kenapa-bung-karno-diziarahi-kirab-resolusi-jihad-nu-

Minggu, 10 Juli 2016

Sembilan Perguruan Tinggi Islam Sepakat Tolak Kegiatan Anti-Pancasila dan NKRI

Jember, KARTANU. Sembilan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) sepakat menolak kegiatan-kegiatan yang bernada anti-Pancasila dan anti-NKRI diselenggarakan di kampus mereka. Kesepakatan tersebut termaktub dalam salah satu poin Piagam Sunan Ampel yang ditandatangani PTKIN Persemakmuran Sunan Ampil di IAIN Tulungagung, belum lama ini.

Kesembilan PTKIN tersebut adalah perguruan tinggi itu berdiri dari pengembangan IAIN Sunan Ampel. Perguruan tinggi itu adalah IAIN Tulungagung, UIN Sunan Ampel Surabaya, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Mataram, IAIN Jember, IAIN Ponorogo, IAIN Samarinda, STAIN Pamekasan dan STAIN Kediri.

Sembilan Perguruan Tinggi Islam Sepakat Tolak Kegiatan Anti-Pancasila dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Sembilan Perguruan Tinggi Islam Sepakat Tolak Kegiatan Anti-Pancasila dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)


Sembilan Perguruan Tinggi Islam Sepakat Tolak Kegiatan Anti-Pancasila dan NKRI

Menurut Rektor IAIN Jember Babun Suharto, dalam pertemuan tahunan tersebut disepakati tiga poin. Dua diantaranya adalah kesepakatan untuk membangun academic branding dengan penguatan Tridharma perguruan tinggi yang prima masing-masing PTKIN Persemakmuran Sunan Ampel sebagai tawaran alternatif guna menjawab tuntutan dan ekspektasi masyarakat Indonesia dan dunia.

Poin terakhir, lanjutnya, adalah melakukan sinergitas antar-PTKIN Persemakmuran Sunan Ampel dalam upaya pengembangan kelembagaan maupun mengampanyekan Islam Rahmatan Lil Alamin.

KARTANU

Babun menambahkan, dalam upaya membendung radikalisme dan terorisme PTKIN Persemakmuran Sunan Ampel sepakat agar segala kegiatan atau pendirian personal maupun kelompok yang anti-Pancasila dan anti-NKRI harus dibasmi. Jika tidak, dikhawatirkan akan memunculkan gerakan-gerakan perpecahan bangsa. Sikap itu diambil sebagai jawaban atas maraknya gerakan-gerakan yang tidak mau menjadikan Pancasila sebagai ideologi dan mau mengganti NKRI dengan model-model yang lain.

"Kita sepakat dan tegas dengan hal-hal semacam ini. Karena jika diberi ruang akan membahayakan negara ini. Untuk itu, PTKIN Persemakmuran Sunan Ampel sepakat juga mengawasi tiap sudut kampus terhadap potensi munculnya gerakan-gerakan anti-Pancasila dan anti-NKRI," ungkap Guru Besar Ekonomi Islam ini kepada KARTANU di Jember, Rabu (12/4).(Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

KARTANU

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/76990/sembilan-perguruan-tinggi-islam-sepakat-tolak-kegiatan-anti-pancasila-dan-nkri

KARTANU

Sabtu, 09 Juli 2016

Meriahnya Festival Tongtek, dari Kentongan sampai Kaleng Biskuit

Kudus, KARTANUFestival Tongtek yang diselenggarakan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor-Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah berlangsung sangat meriah. Kegiatan yang baru dihelat kali pertama ini diikuti 33 kontingen dari berbagai kecamatan se-Kabupaten Kudus.

Di sepanjang jalan dari start Lapangan Kongsi Desa Loram hingga Masjid Wali, mereka Sabtu (25/6) malam itu memainkan musik kentongan yang dipadukan alat-alat seadanya lainya seperti galon, kaleng biskuit, tong, dan lainnya. Dengan berjalan kaki, tetabuhan musik kentongan ini mengiringi lagu-lagu religi yang mereka nyanyikan.

Festival yang dimulai selepas tarawih ini mendapat sambutan warga dan tokoh masyarakat desa setempat. Ratusan masyarakat berjajar di pinggir jalan menanti kontingen tongtek melewati jalan raya Desa Loram.

Meriahnya Festival Tongtek, dari Kentongan sampai Kaleng Biskuit (Sumber Gambar : Nu Online)
Meriahnya Festival Tongtek, dari Kentongan sampai Kaleng Biskuit (Sumber Gambar : Nu Online)


Meriahnya Festival Tongtek, dari Kentongan sampai Kaleng Biskuit

Ketua panitia Syaifuddin Najib mengatakan, kegiatan ini merupakan upaya melestarikan musik kentongan yang belakangan ini hampir punah. Musik kentongan, katanya, memiliki manfaat sebagai perangkat untuk kepentingan patroli (ronda) malam menjaga keamanan desa.

KARTANU

"Ansor ingin mencoba menumbuhkan kembali melalui lomba tongtek sehingga musik tradisional tetap lestari. Apalagi selama Ramadhan seringkali dimanfaatkan untuk membangunkan orang sahur puasa," katanya.

Melihat antusiasme warga dan peserta, kata dia, kegiatan festival tongtek menunjukkan adanya respon positif. Karenanya, kegiatan ini akan menjadi kegiatan budaya yang diagendakan rutin setiap tahun. "Kita akan melanjutkan festival tongtek ini sebagai kegiatan rutin setiap tahun di Kecamatan Jati," tutur Najib.

KARTANU

Pembina Banser Kudus H.Akhwan Sukandar mengapresiasi kegiatan bernuansa seni tradisional ini. Menurutnya, kesenian tongtek sudah berlangsung lama muncul di lingkungan masyarakat pedesaan sebagai musik ronda. Namun belakangan musik seperti ini hampir hilang.

"Kegiatan festival tongktek patut didukung sehingga musik tradisional ini tetap lestari," ujar Akhwan yang juga mantan Komandan Satkorcab Banser Kudus ini.

Pernyataan senada juga disampaikan Kapolsek Jati yang hadir mulai awal hingga selesainya acara pukul 24.00 WIB. Dikatakan, sejarah musik tongtek berawal dari cerita adanya orang bermain judi gaple. Karena judi mengganggu masyarakat, akhirnya para pemainnya diusir oleh para pemain tongtek.

"Oleh karena itu saya sangat berharap kegiatan tongtek tetap dilaksanakan dengan kemeriahan," katanya seraya meminta masyarakat menjaga lingkungan sekitarnya.

Festival tongtek ini diikuti 33 kontingen yang berasal dari 6 kecamatan yakni Gebog, Jati, Bae, Kaliwungu, Mejobo dan Undaan. Dari hasil penilaian juri terpilih kontingen terbaik masing-masing juara 1 grup dari Kaliwungu, Juara 2 (Jepang Pakis, Jati), Juara 3 (Payaman, Mejobo), Juara harapan 1 dan 2 adalah Loram Wetan dan Undaan Lor. Masing-masing juara mendapat penghargaan piala dan uang pembinaan yang nilainya beragam. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/69322/meriahnya-festival-tongtek-dari-kentongan-sampai-kaleng-biskuit

KARTANU

Jumat, 10 Juni 2016

Pelajar NU Gandrungmangu Isi Pesantren Ramadhan dengan Lakmud

Cilacap, KARTANU. Sebanyak 125 pelajar mengikuti pelatihan kader muda (Lakmud) yang diselenggarakan IPNU-IPPNU Gandrungmangu di MI Maarif NU 1 Layansari kecamatan Gandrungmangu kabupaten Cilacap. Pelatihan selama dua hari, Sabtu-Ahad (5-6/7) ini, mempersiapkan peserta menjadi kader NU berwawasan Aswaja.

Peserta Lakmud yang dimulai Sabtu (5/7) pagi ini ialah utusan dari empat belas ranting dan enam komisariat IPNU-IPPNU sekecamatan. Mereka juga mempelajari sejumlah keterampilan dalam kaderisasi ini seperti pelatihan Jurnalistik, seminar Kepemimpinan Masa Depan, dan praktik amaliyah Ramadhan.

Pelajar NU Gandrungmangu Isi Pesantren Ramadhan dengan Lakmud (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Gandrungmangu Isi Pesantren Ramadhan dengan Lakmud (Sumber Gambar : Nu Online)


Pelajar NU Gandrungmangu Isi Pesantren Ramadhan dengan Lakmud

Keluar dari sini, peserta harus sudah siap menjadi pemimpin dan pelopor masa depan pada masing-masing ranting dan komisariat, kata Ketua IPNU Gandrungmangu, Ali Mahfudz.

KARTANU

Kaderisasi ini berakhir Ahad (6/7) petang. Kegiatan yang diakhiri doa bersama dengan pengurus MWCNU Gandrungmangu beserta lembaga dan banom NU, menutup rangkaian kegiatan pesantren Ramadhan. (Ulun Najah-Amaliyatun Khofifah/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/53122/pelajar-nu-gandrungmangu-isi-pesantren-ramadhan-dengan-lakmud

KARTANU

KARTANU

Kamis, 02 Juni 2016

STAINU Malang Ingin Santri Bisa Kuliah

Malang, KARTANU. Menyertakan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai bagian dari nama perguruan tinggi mungkin dianggap dapat membatasi ruang karena seakan hanya spesifik bagi kalangan NU dan pondok pesantren. Namun bagi Rais Syuriyah Pengurus Cabang NU Kabupaten Malang, KH Muh. Mansjur, pemberian nama NU didasari cita-cita ingin membantu para santri atau alumni pondok pesantren yang ingin menempuh jalur pendidikan tinggi. Maka sekolah tinggi yang didirikannya di daerah Karangploso, Malang, dinamai Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Malang.

Hampir semua sekolah NU baik di tingkat dasar, menengah maupun tinggi tidak mau memakai nama NU. Mungkin ini karena persaingan. Pemberian nama NU seakan-sekan-akan sekolah itu hanya spesifik untuk kalangan NU saja. Namun kata Kiai (KH Muh. Mansjur), kita tetap pakai nama NU, demikian disampaikan Pujiono Pembantu Ketua III, kepada KARTANU di kampus STAINU Malang, Ahad (5/2).

STAINU Malang Ingin Santri Bisa Kuliah (Sumber Gambar : Nu Online)
STAINU Malang Ingin Santri Bisa Kuliah (Sumber Gambar : Nu Online)


STAINU Malang Ingin Santri Bisa Kuliah

STAINU Malang baru berdiri pada 2010 lalu dengan membuka dua jurusan, yakni Ekonomi Syariah (Fak. Syariah) dan Manajemen Pendidikan Islam (Fak. Tarbiyah), dua jurusan yang saat ini diminati dan diharapkan dapat meningkatkan peran para alumni pesantren. Namun sebenarnya proses perkuliahan sudah dimulai pada 2003, bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Tarbiyah (STIT) Raden Rahmat, Kepanjen, Malang.

Selama dua tahun berjalan, dari 160 mahasiswa yang terdaftar di dua angkatan ini banyak juga mahasiswa yang berasal dari kalangan luar NU atau pesantren, bahkan ada yang lulusan dari sekolah Muhammdiyah. Jadi anggapan bahwa STAINU hanya diminati kalangan NU ternyata tidak sepenuhnya benar, dan STAINU akan terus berbenah dalam rangka meningkatkan kualitas di ri di tengah persaingan.

KARTANU

Di luar urusan persaingan, pemberian nama STAINU juga ada untungnya. Dengan memakai nama NU, STAINU Malang lebih bisa bekerjasama dengan pondok-pondok pesantren di Malang dan sekitarnya.

Kami sering bersilaturahmi dan bersosialisasi ke pondok-pondok pesantren di Malang dan kami disambut baik, karena sangat jelas identitas ke-NU-annya. Banyak pengasuh pesantren dan orang tua santri yang khawatir jika ke-NU-an anaknya hilang ketika masuk perguruan tinggi lain, kata Pujiono.

KARTANU

Selain materi-materi perkuliahan pada umumnya, di STAINU ini ada materi khusus mengenai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) atau ke-NU-an yang rencananya akan diajarkan sampai sampai tiga kali, yakni Aswaja 1, 2 dan 3 pada semester II, IV dan VI.

Saat ini STAINU Malang juga berkerjasama dengan Pondok Pesantren Al-Yasini Pasuruan. Pesantren ini mengirimkan 48 mahasiswanya karena izin pendirian perguaruan tinggi yang diajukan hingga saat ini belum keluar, sementara perkuliahan sudah berlangsung dua tahun ini.

STAINU Malang berdekatan dengan Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan salah satu universitas NU yang sudah lebih dulu berdiri yakni Universitas Islam Malang (Unisma). Namun secara geografis STAINU terletak di posisi yang cukup strategi di jalan utama dari arah Surabaya atau Malang Kota ke Batu dan Kediri. STAINU berharap diminati oleh para calon mahasiswa dari Kota Batu.

Di Batu jarang ada madrasah Aliyah (MA), sementara program Paket C digalakkan di sana. Namun yang lebih penting kami ingin memfasilitasi para alumni pesantren di eilayah Batu dan sekitarnya. Banyak alumni pesantren yang tersandung persoalan formalitas, kata Pujiono.

Menurut Puji, salah satu keinginan STAINU adalah memfasilitasi alumni pesantren yang hanya punya ijazah paket C. Dari seluruh mahasiswa yang terdaftar, sekitar 10 persennya berijazah Paket C. Intinya kami ingin santri kuliah, kata Puji.

Para alumni pesantren atau para siswa yang menempuh Paket C umumnya tidak terlalu akrab dengan materi-materi umum, namun para lulusan pesantren mempunyai kemampuan pemahaman ilmu-ilmu keislaman dengan sangat baik, terutama yang berasal dari literatur Arab. Singkatnya, STAINU ini dimaksudkan untuk membebaskan santri dari belenggu formalitas pendidikan.

Penulis : A. Khoirul Anam

STAINU Malang Berharap Santri Bisa Kuliah

Malang, KARTANU. Menyertakan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai bagian dari nama perguruan tinggi mungkin dianggap

dapat membatasi ruang karena hanya spesifik bagi kalangan NU dan pondok pesantren. Namun

bagi Rais Syuriyah Pengurus Cabang NU Kabupaten Malang, KH Muh. Mansjur, pemberian nama NU

didasari cita-cita ingin membantu para santri atau alumni pondok pesantren yang ingin

menempuh jalur pendidikan tinggi. Maka sekolah tinggi yang didirikannya di daerah

Karangploso, Malang, dinamai Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Malang.

Hampir semua sekolah NU baik di tingkat dasar, menengah maupun tinggi tidak mau memakai

nama NU. Mungkin ini karena persaingan. Pemberian nama NU seakan-sekan-akan sekolah itu

hanya spesifik untuk kalangan NU saja. Namun kata Kiai kita tetap pakai nama NU, kata

Pujiono Pembantu Ketua III, kepada KARTANU di kampus STAINU, Malang, Ahad (5/2).

STAINU Malang baru berdiri pada 2010 lalu dengan membuka dua jurusan, yakni Ekonomi Islam

dan Manajemen Pendidikan Islam, dua jurusan yang saat in diminati dan diharapkan dapat

meningkatkan peran para alumni pesantren. Namun sebenarnya proses perkuliahan sudah dimulai

pada 2003, bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Tarbiyah (STIT) Raden Rahmat, Kepanjen, Malang.

Dari 160 mahasiswa yang terdaftar di dua angkatan ini banyak juga mahasiswa yang berasal

dari kalangan luar NU atau pesantren, bahkan ada yang lulusan dari sekolah Muhammdiyah. Jadi

anggapan bahwa STAINU hanya diminati kalangan NU ternyata tidak sepenuhnya benar, dan STAINU

akan terus berbenah dalam rangka meningkatkan kualitas di ri di tengah persaingan.

Di luar urusan persaingan, pemberian nama juga ada untungnya. Dengan memakai nama NU, STAINU

Malang lebih bisa bekerjasama dengan pondok-pondok pesantren di Malang dan sekitarnya.

Kami sering bersilaturahmi dan bersosialisasi ke pondok-pondok pesantren di Malang dan kami

disambut baik karena mungkin sangat jelas identitas ke-NU-annya. Banyak pengasuh pesantren

dan orang tua santri yang khawatir jika ke-NU-an anaknya hilang ketika masuk perguruan

tinggi lain, kata Pujiono.

Selain materi-materi perkuliahan pada umumnya, di STAINU ini ada materi khusus mengenai

Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) atau ke-NU-an yang rencananya akan diajarkan sampai sampai

tiga kali, yakni Aswaja 1, 2 dan 3 pada semester II, IV dan VI.

Saat ini STAINU Malang juga berkerjasama dengan Pondok Pesantren Al-Yasini Pasuruan.

Pesantren ini mengirimkan 48 mahasiswanya karena izin pendirian perguaruan tinggi yang

diajukan hingga saat ini belum keluar, sementara perkuliahan sudah berlangsung dua tahun

ini.

STAINU Malang berdekatan dengan Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Universitas

Muhammadiyah Malang (UMM) dan salah satu universitas NU yang sudah lebih dulu berdiri yakni

Universitas Islam Malang (Unisma). Namun secara geografis STAINU terletak di posisi yang

cukup strategi di jalan utama dari arah Surabaya atau Malang Kota ke Batu dan Kediri. STAINU

berharap diminati oleh para calon mahasiswa dari Kota Batu.

Di Batu jarang ada madrasah Aliyah (MA), namun program Paket C digalakkan di sana. Namun

yang lebih penting kami ingin memfasilitasi para alumni pesantren di eilayah Batu dan

sekitarnya. Banyak alumni pesantren yang tersandung persoalan formalitas , kata Pujiono.

Menurut Puji, salah satu keinginan STAINU adalah memfasilitasi alumni pesantren yang hanya

punya ijazah paket C. Dari seluruh mahasiswa yang terdaftar, sekitar 10 persennya berijazah

Paket C. Intinya kami ingin santri kuliah, kata Puji.

Para alumni pesantren atau para siswa yang menempuh PC umumnya tidak terlalu akrab dengan

materi-materi umum, namun para lulusan pesantren mempunyai kemampuan pemahaman ilmu-ilmu

keislaman dengan sangat baik, terutama yang berasal dari literatur Arab. Singkatnya, dengan

STAINU ini dimaksudkan untuk membebaskan santri dari belenggu formalitas.

Penulis : A. Khoirul Anam

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/36202/stainu-malang-ingin-santri-bisa-kuliah

Sabtu, 28 Mei 2016

Ibu Sinta hosts interfaith sahur

Jakarta, KARTANU. Sinta Nuriyah Wahid, well-known as Ibu Sinta former first lady of Indonesia, is determined to carry on the legacy of her late husband, Abdurrahman Wahid, popularly known as Gus Dur.

The longtime Nahdlatul Ulama leader, who served as Indonesias president from 1999 to 2001, is regarded as a father of pluralism and democracy, and a strong advocate of religious tolerance.

Ibu Sinta hosts interfaith sahur (Sumber Gambar : Nu Online)
Ibu Sinta hosts interfaith sahur (Sumber Gambar : Nu Online)


Ibu Sinta hosts interfaith sahur

Keeping his spirit alive, Sinta hosted a pre-dawn Ramadhan meal and dialogue to promote interfaith understanding at Pesantren Al Ghazaly in Bogor on July 11th.

"We always conducted similar activities when my husband was the president. Ramadan is a time when everyone gets together. I would like to continue these activities," Sinta said as quoted by Khabar Southeast Asia.

KARTANU

"We would like to interact with people from various backgrounds as a reminder that we are living among those with different faiths and ethnicities. We need to provide an example for our community that everyone can get together in peace regardless of our differences," she added.

The lessons of Ramadhan

KARTANU

About 300 people attended the pre-dawn meal, known as Sahur. Among them was Fransiscus Hari, who spoke with Khabar Southeast Asia a day after the event.

"I am really fortunate that I had an opportunity to attend this forum. Even though I am not a Muslim, everyone was friendly and greeted me warmly," he said. "We had good dialogues among followers of different religions. We forgot what conflicts had occurred [in West Java]. The event gave us a lot of room to learn from each other."

According to the former first lady, fasting teaches patience and the ability to withstand thirst, hunger and lust. "Various actions of corruption have been caused by an eroding faith, and now it is a time to leave any bad behaviours behind. We need to move forward," Sinta added.

She also asked everyone to embrace tolerance and peace, and to help those in need, including street children and the homeless.

The head of the Pesantren Al Ghazaly, Mustafa bin Abdullah bin Nuh, called for bringing all religious followers together as one nation.

"Islam is the religion of the majority in our country and in the past Islam was able to unite Indonesia under the Pancasila, the five philosophical pillars of Indonesia, and under the Indonesian constitution of 1945," he said.

"And I am sure it still does," he added.

Prophet teaches love, respect and harmony

Bogor city community leader Dody Rosadi praised the gathering as a positive development. "We need many more similar events in Bogor and other places, especially when the community has various religious followers," he told Khabar.

"We have to use the life of our Prophet as guidance for living. He teaches us love, respect, and harmony," he said. "Do not just perform acts of worship and religious rituals we must change our attitude and behaviour to be better."

Muhammad Akbar, an Al Ghazaly student, admitted that he became more open and tolerant after attending the event.

"Before attending this event, I only focused on Islam and was not very open to other religions. I just thought we are different. But with this event, I can see tolerance in practice," he said.

Alex Paul, a member of the GKI Yasmin church in Bogor, said such moments of togetherness are what Indonesia needs. "Events like this tear down the differences in society. Hopefully, this will be followed by other communities," Alex told Khabar.

John Naidoo, one of the interfaith leaders at the event, said that the religious differences in Indonesia are Gods beautiful creation, and that Indonesians must remember the national motto Bhinneka Tunggal Ika (unity in diversity).

"It is a powerful motto. It is telling you about Indonesia, and it is our identity," he said.

Editing by Sudarto Murtaufiq

Dari (National) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/46372/ibu-sinta-hosts-interfaith-sahur

KARTANU

Selasa, 26 April 2016

Kontras Pesimis Masa Depan Toleransi Beragama di Indonesia

Bandung, KARTANU. Dari data yang diperoleh Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), angka kasus pelanggaran toleransi di Indonesia mengalami lonjakan dan penurunan. Tahun 2010 ada 34 peristiwa, tapi 2011 melonjak lima kali lipat hingga 174 kasus. Lalu tahun 2012 mengalami penurunan menjadi 117 kasus, sementara tahun 2013 terdapat 118 kasus, dan 116 kasus di tahun 2014.

Fenomena ini menunjukkan persoalan toleransi beragama bukanlah persoalan yang timbul tahap demi tahap, tapi persoalan yang awalnya adem, damai, tenang, tiba-tiba terbakar begitu saja. Ada hal yang perlu diperhatikan untuk melihat lonjakan drastis tentang perubahan apa yang terjadi di negeri ini sehingga menimbulkan permasalahan toleransi beragama yang terjadi hingga saat ini.

Kontras Pesimis Masa Depan Toleransi Beragama di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kontras Pesimis Masa Depan Toleransi Beragama di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)


Kontras Pesimis Masa Depan Toleransi Beragama di Indonesia

Demikian disampaikan Satrio Wiratanu, Divisi Hak Sipil dan Politik Kontras, sebagai pemateri dalam acara Diskusi Publik bertajuk "Masalah dan Masa Depan Toleransi Beragama di Indonesia" yang berlangsung di aula fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Jumat siang (13/3).

Satrio menjelaskan, pelanggaran toleransi beragama pada tahun 2011 motifnya cenderung berbentuk kekerasan, penganiayaan, pengrusakan harta benda, penutupan hingga pembekaran tempat ibadah, bahkan sampai pembunuhan terhadap kelompok-kelompok minoritas.

KARTANU

"Setelah tahun 2011, pelanggaran lebih cenderung pada bentuk ucapan atau seruan penyesatan yang secara akademis dinamakan hate speech (syiar kebencian). Misalnya memvonis kafir atau sesat yang disertai dengan pernyataan (fatwa) layak dibunuh atau halal darahnya," sambungnya dalam acara yang bekerja sama dengan PC PMII Kota Bandung itu.

KARTANU

Dalam konteks internasional, mengutip data yang diperoleh Kontras, Satrio mengungkapkan hasil penelitian tentang kadar konflik keagamaan di suatu Negara. Dari 198 negara pada tahun 2012, Indonesia menempati posisi kesepuluh dalam hal konflik keagamaan. Sedangkan Pakistan berada di posisi pertama, disusul Afghanistan dan India di tempat kedua dan ketiga. Sementara tahun 2013, Indonesia turun pada posisi ketiga belas.

Sedangkan dalam hal pembatasan praktik keagamaan yang dilakukan Pemerintah, tahun 2012 Indonesia tercatat posisi kelima, di bawah Mesir, China, Iran dan Saudi Arabia. Namun Indonesia naik di peringkat kedua pada tahun 2013, dan China menduduki posisi pertama.

Tapi saya ragu, misalkan (posisi) kita akan turun pada tahun-tahun setelahnya. Karena melihat pada tahun 2014, banyak bermunculan peraturan-peraturan syariah yang sifatnya banyak membatasi praktik-praktik atau hak-hak keagamaan. Dalam posisi kita, bagaimana cara memperbaikinya? ujarnya di hadapan puluhan mahasiswa yang memenuhi diskusi tersebut.

Usai pemateri menyampaikan paparannya, peserta diskusi publik yang didominasi kader-kader PMII Kota Bandung itu menanyakan berbagai hal terkait fenomena inteloransi beragama, cara menangani konflik keagaman, maupun soal pengalaman Kontras dalam mengadvokasi kelompok minoritas yang mengalami diskriminasi. (Muhammad Zidni Nafi/Mahbib)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/58190/kontras-pesimis-masa-depan-toleransi-beragama-di-indonesia

KARTANU

Kamis, 17 Maret 2016

Kewalian Gus Dur Dibedah di Ajang Munas

Cirebon, KARTANU. Ketika Jalaluddin Rumi meninggal, kucing di rumahnya terlihat sedih berhari-hari, dan lalu meninggal pula. Ketika KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) wafat, juga demikian, beberapa hari kemudian kucing di rumahnya meninggal, kata Kiai Husein Muhammad.

Dalam acara bedah bukunya yang berjudul Sang Zahid: Mengarungi Sufisme Gus Dur yang diselenggarakan Intelektual Muhajirin NU (IMNU) Cirebon, di Yayasan Khatulistiwa Kempek, Ahad (16/9), ia membandingkan Gus Dur dengan Jalaluddin Rumi.

Kewalian Gus Dur Dibedah di Ajang Munas (Sumber Gambar : Nu Online)
Kewalian Gus Dur Dibedah di Ajang Munas (Sumber Gambar : Nu Online)


Kewalian Gus Dur Dibedah di Ajang Munas

Kiai Husein mengatakan, situasi yang sosial politik yang melingkupi saat wafatnya wali besar Jalaluddin Rumi, dimana waktu itu banyak konflik, dimana keragaman terus diperjuangkan, tetapi konflik sosial juga sangat rawan. Ini sama persis dengan situasi sosial politik di saat Gus Dur wafat.

KARTANU

Pernyataan Kiai Husein ini dilontarkannya untuk menegaskan bahwa apa yang dilakukan Gus Dur selama ini memiliki dasar yang kuat dalam Islam, khususnya spiritualitas Islam.

KARTANU

Buku Sang Zahid ini, sesungguhnya hasil refleksi saya atas kebersamaan saya dengan Gus Dur sejak 1997. Saat itu beliau mulai sakit-sakitan, stroke, saya paling tidak waktu itu dua kali sekali dalam sebulan berkunjung ke rumah beliau. Saya menyaksikan sendiri bagaimana Gus Dur berperilaku setiap hari, demikian jelas Kiai Husein.

Gus Dur bukanlah budayawan, bukan seorang pembela HAM, bukan pembela minoritas, bukan politikus, bukan pemikir Islam dan bukan ulama, tetapi Gus Dur adalah menjadi semuanya itu. Gus Dur selama ini banyak bergerak di berbagai bidang, dan memiliki effek bagi orang banyak. Apakah yang melandasi semua gerakan itu. Yang menggerakkannya adalah spiritualitas Gus Dur, yang memiliki rujukan pada spritualitas Islam (tasawuf), katanya.

Gus Dur sering dianggap aneh, dan ucapannya baru dianggap benar, karena ternyata di kemudian hari ucapan Gus Dur malah terbukti. Hal ini sesuai dengan spiritualitas Ibnu Athaillah Sakandari dalam kita Hikamnya yang mengatakan bahwa bagi orang-orang suci yang dekat dengan Allah, kata-katanya bisa mendahului zamannya. Ini bukan sesuatu yang aneh menurutnya, karena sering juga dialami oleh para Wali Allah. Demikianlah Kiai Husein, secara panjang lebar menjelaskan tentang sisi-sisi kewalian Gus Dur.

Sementara itu pembanding, rektor IAIN Syeikh Nurdjati Cirebon, Prof Dr Maksum Mochtar, menyampaikan, tidak cukup untuk hanya mengagumi Gus Dur. Yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa seperti Gus Dur.

Dan ini bisa saja, melalui pendidikan dengan basis penguatan neurosains mungkin saja kecerdasan kita bisa meningkat sebagaiman Gus Dur. Kita jangan lihat Gus Dur sekarang, tetapi lihatlah prosesnya menjadi sebesar itu.

Pembanding lainnya, rektor ISIF, Prof Dr Chozin Nashuha, mengusulkan adanya pemetaan posisi Gus Dur di antara sufi-sufi besar yang ada.

Mari kita lihat, bila dibanding dengan tokoh-tokoh sufi yang ada, maka Gus Dur itu adalah salah satu produsen pemikiran-pemikiran tasawuf, atau agen penyalur saja, ata bahkan hanya konsumen saja? katanya, seraya melempar pertanyaan ke forum.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ali Mursyid

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/39828/quotkewalianquot-gus-dur-dibedah-di-ajang-munas

KARTANU

Minggu, 06 Maret 2016

1000 Hari KH Habib Thoyib Hasan Diperingati

Pacitan, KARTANU. Pembacaan tahlil, maulidurrosul dan rotibul hadad mengawali rangkaian malam peringatan 1000 hari wafatnya ulama kharismatik asal Pondok Tremas, Al Magfurlah KH Habib Toyyib Hasan Babud di Desa Tremas Arjosari Pacitan Jawa Timur, Selasa (21/5) malam lalu.

Tampak hadir dalam malam peringatan 1000 hari tersebut, Alim ulama dan habaib diantaranya KH Luqman Harist Dimyathi, KH Asif Hasyim, KH Rotal Amin, para pengurus NU Pacitan dan Kapolres Pacitan Serta Jamaah Majlis Al Mukarromah Pacitan.

1000 Hari KH Habib Thoyib Hasan Diperingati (Sumber Gambar : Nu Online)
1000 Hari KH Habib Thoyib Hasan Diperingati (Sumber Gambar : Nu Online)


1000 Hari KH Habib Thoyib Hasan Diperingati

Acara dibuka dengan muqoddimah oleh KH Luqman Harist, pengasuh Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan yang mewakili sohibul bait sekaligus menyampaikan rasa terima kasihnya atas kehadiran para muhibbin dari berbagai daerah pada peringatan 1000 hari wafatanya cucu dari Simbah KH Dimyathi Abdulloh Bin Abdul Manan Dipomenggelo tersebut.

KARTANU

Gema sholawat dan senandung pujian kepada nabi Muhammad SAW dibacakan oleh muhibbin yang memenuhi halaman Kediaman Al Magfurlah KH Toyyib Hasan Babud.

KARTANU

Acara tersebut juga diisi dengan mauidoh hasanah yang disampaikan oleh yang pertama KH Mamik dari Nganjuk yang menyampaikan tentang hikmah dari sebuah ayat Al-Quran tentang kasih sayang Qul in kuntum tuhibbu-na Allaha fattabi u-ni yuhbibkumullahu, atas cintanya Allah kepada baginda nabi Muhammad SAW.

Mauidhoh kedua disampaikan oleh Habib Mustofa Al Idrus, dari Tuban. Dalam ceramahnya ia menyampaikan agar kaum muslimin kususnya para santri untuk selalu mencintai nabi dan hormat kepada para pewarisnya.

Karena pewaris nabi adalah para ulama , para kyai, semua orang harus hormat kepada ulama, karena ulama adalah pembawa cahaya kehidupan setelah nabi, katanya.

Peringatan 1000 hari digelar untuk mendoakan dan mengenang jasa serta meneladani seorang ulama sepuh pacitan yang wafat pada tahun 2011 silam.

Almagfurlah KH Habib Toyyib Hasan Babud semasa hidupnya menjabat sebagai mustasyar Pondok Tremas dan Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Pacitan.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Kontributor: Zaenal Faizin

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/44662/1000-hari-kh-habib-thoyib-hasan-diperingati

KARTANU

Kamis, 25 Februari 2016

Cinta Lingkungan, Madrasah NU Wonosobo Tanam 1000 Pohon

Wonosobo, KARTANU. Cara sekolah mengajarkan sesuatu pada muridnya tak mesti dilaksanakan di kelas. Madrasah Tsanawiyah (MTs) Maarif NU Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, melatih siswa-siswinya secara rutin melakukan aksi tanam 1000 pohon di Desa Kreo, Kecamatan Kejajar.

Kegiatan ini guna menanamkan jiwa cinta terhadap lingkungan dan juga merawat lingkungan. Harapan kami agar para siswa cinta terhadap lingkungan, terang Supriyadi, pembina Pramuka MTs Maarif NU Kejajar kepada KARTANU, Kamis (13/11).

Cinta Lingkungan, Madrasah NU Wonosobo Tanam 1000 Pohon (Sumber Gambar : Nu Online)
Cinta Lingkungan, Madrasah NU Wonosobo Tanam 1000 Pohon (Sumber Gambar : Nu Online)


Cinta Lingkungan, Madrasah NU Wonosobo Tanam 1000 Pohon

Disebutkan pula, 1000 pohon yang ditanam itu merupakan hasil dari pembibitan di sekolah. Setelah tumbuh agak besar, ditanamlah di beberapa lokasi di Desa Kreo. Semoga saja setelah ditanam, nantinya bisa dirawat hingga tumbuh dan hidup menjadi lebih besar serta bermanfaat, jelasnya.

Aksi tanam pohon ini terangkai dalam agenda rutin Perkemahan Sabtu-Minggu (Persami). Secara rutin MTs Maarif Kejajar melakukan Persami. Namun, Persami kali ini berbeda dengan persami sebelumnya. Persami kali ini para melakukan aksi tanam 1000 pohon di desa Kreo Kecamatan Kejajar, tambah Supriyadi.

KARTANU

KARTANU

Pihak sekolah berharap, aksi yang diikuti sekitar 250 siswa dari kelas VII sampai IX ini berlanjut hingga ke tingkat perawatan dan penjagaan sehingga jerih payah peserta dalam gerakan cinta lingkungan tidak sia-sia. (Fathul Jamil/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/48191/cinta-lingkungan-madrasah-nu-wonosobo-tanam-1000-pohon

KARTANU

Jumat, 25 Desember 2015

People told not to use Quran to justify disgraceful actions

Jakarta, KARTANU. The people should not use the Quran for justifying disgraceful actions similar to those done by the supporters of ISIS, urged Indonesian Religious Affairs Minister Lukman Hakim Saifuddin as reported by republika.co.id.

"Do not use the Quran to justify radical actions alike those done by the ISIS group," he stated while opening the 18th anniversary commemoration of Bayt Alquran and Istiqlal Museum at the Indonesia in Miniature Garden (TMII) here on Wednesday (6/5).

People told not to use Quran to justify disgraceful actions (Sumber Gambar : Nu Online)
People told not to use Quran to justify disgraceful actions (Sumber Gambar : Nu Online)


People told not to use Quran to justify disgraceful actions

He noted that the Quran actually serves as a reference for Muslims to determine laws to settle various problems.

The holy Quran is also a reference for Muslims of various schools and sects, he pointed out.

KARTANU

The minister affirmed that a radical movement would only hurt Islam, adding that Islam is a civilized religion, and hence, any radical response to any act of provocation would not be recommended.

KARTANU

He lauded the graceful response by Muslims to a provocative Prophet Muhammad cartoon contest in the United States recently.

"Muslims must not be overly provoked to commit violence in response to such activities. That is not an Islamic teaching," he emphasized.

He noted that if Muslims wanted to protest against such an activity, they should do it in a civil manner.

"Muslims could launch a protest in a civil manner and not through violence or other forms of disgraceful acts," he remarked.

The minister affirmed that they could launch a protest through a dialog with the organizing committee of the activity to explain about the issue and why Muslims have deplored the activity.

Editing by Sudarto Murtaufiq

Dari (National) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/59428/people-told-not-to-use-quran-to-justify-disgraceful-actions

KARTANU

Kamis, 10 Desember 2015

Dayah MUDI Tarik Minat Santri Baru Lewat Youtube

Bireuen, KARTANU. Dayah MUDI (Mahadal Ulum Diniyah Islamiah) Mesjid Raya Samalanga, Bireuen, Aceh, semakin diminati. Hal ini dapat dilihat dari kian banyaknya orang tua yang mendaftarkan putra-putri mereka di dayah yang berlokasi di Desa Mideun Jok Kemukiman Mesjid Raya ini.

Cara para wali santri mengenal dayah ini cukup bervariasi, salah satunya melalui informasi dari internet. Senin (11/8), ada seorang wali santri dari Banten mengantar anaknya ke Dayah MUDI lantaran tertarik setelah menonton video Pengajian Tastafi (Tasawuf, Tauhid dan Fiqih) melalui situs Youtube. Pengajian ini digelar bulanan di Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

Dayah MUDI Tarik Minat Santri Baru Lewat Youtube (Sumber Gambar : Nu Online)
Dayah MUDI Tarik Minat Santri Baru Lewat Youtube (Sumber Gambar : Nu Online)


Dayah MUDI Tarik Minat Santri Baru Lewat Youtube

Menurut Tgk. Mustafa, salah seorang staff Lajanah Pengembangan Dakwah MUDI Mesra (LPDM), video pengajian Tastafi di Mesjid Raya Baiturrahman yang diasuh oleh Abu MUDI telah tersebar dalam 55 website lebih.

KARTANU

Saat ini, tercatat lebih dari enam ribu santriwan dan santriwati yang menetap di Dayah MUDI baik dari Aceh maupun luar Aceh. Santri luar Aceh umumnya berasal dari Sumatera Utara, Jambi dan Malaysia. Bahkan, saat ini seorang santri dari Australia dan dua santriwati asal Norwegia juga sedang belajar di MUDI.

Selain dari Youtube, motivasi belajar di lembaga pendidikan ini juga ada yang karena mengenal MUDI lewat VCD Dalael dan Zikir, media online, forum pengajian Tastafi (tasawuf, tauhid, fiqih), dan ada juga karena orang tuanya adalah seorang alumni dari Dayah MUDI sendiri.

KARTANU

Saat ini, Dayah MUDI semakin dikenal seiring dengan kontribusi santri, alumni, LBM dan LPDM yang bekerja ektra keras dalam memperkenalkan MUDI kepada masyarakat. Hadirnya website mudimesra.com juga membuat akses Informasi tentang MUDI semakin meluas. (Iqbal Jalil/Mahbib)

Dari (Pesantren) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/53762/dayah-mudi-tarik-minat-santri-baru-lewat-youtube

KARTANU

Senin, 16 November 2015

Pagar Nusa Jember Bina 400 Pelajar di Pesantren

Jember, KARTANU. Aktivitas pencak silat Pagar Nusa Kabupaten Jember, Jawa Timur, terus bergeliat. Badan Otonom NU yang membidangi olah raga bela diri ini terus menyemai bibit baru pesilat, utamanya di kalangan para pelajar.

Sejak Sabtu (15/2) kemarin, sekitar 400 pelajar mengikuti pembinaan pencak silat yang dipusatkan di Pesantren Nurul Qarnain Kecamatan Sukowono, Jember.

Pagar Nusa Jember Bina 400 Pelajar di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Jember Bina 400 Pelajar di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)


Pagar Nusa Jember Bina 400 Pelajar di Pesantren

Ini sebenarnya realisasi hasil keputusan rapat beberapa hari lalu di kantor NU, bahwa kami akan memberi pembinaan bagi kader-kader NU yang cinta pencak silat, khususnya Jember bagian utara-timur, jelas Wakil Ketua Pimpinan Cabang Pencak Silat NU Pagar Nusa Kabupaten Jember H Fathurrosi kepada KARTANU.

KARTANU

Menurut alumni Pesantren Salafiyah-Syafiiyah Sukorejo, Situbondo, itu, ratusan pelajar tersebut akan dilatih silat minimal dua kali dalam seminggu. Tujuannya adalah untuk mencari bibit-bibit baru, yang diharapkan kelak menjadi kader NU yang tangguh baik secara psikis maupun fisik. Ini juga bisa jadi syiar dakwah Islam, tuturnya.

Selain itu, PC Pagar Nusa Kabupaten Jember saat ini juga tengah menggembleng 15 santri, yang latihannya dipusatkan di Pesantren Darussholah. Mereka dilatih tiap setelah jam pelajaran berakhir. Tiga di antara mereka dipersiapkan untuk mengikuti Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Jember. (Aryudi A Razaq/Mahbib)

KARTANU

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/50209/pagar-nusa-jember-bina-400-pelajar-di-pesantren

KARTANU

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KARTANU sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KARTANU. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KARTANU dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock